Syi'ah Ahl Bayt
Pengelompokan Rasulullah & Ahlulbait
sang penulis Muhammad Mahdi Al-Ashifi
Bahasa buku اندونزیایی
tahun cetak 1404

SYI’AH

AHLULBAIT AS

MUHAMAD MAHDI AL-ASHIFI


Dengan Nama Allah Yang Maha

Pengasih Maha Penyayang

Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allah hanyalah hendak

membersihkan noda dari kalian,

Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-

sucinya”. (Al-Ahzab:33)

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya telah aku tinggalkan untuk

kalian dua pusaka berharga; Kitab Allah dan

Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada

keduanya, kalian tidak akan tersesat selamalamanya.

Dan keduanya tidak akan terpisah

sampai menjumpaiku di telaga (kelak pada

Hari Kiamat)”.

(H.R. Sahih Muslim; Jil. 7:122, Sunan Ad-Darimi;

Jil. 2:432, Musnad Ahmad; Jil. 3:14, 17, 26;

Jil. 4:371; Jil. 5:182, 189. Mustadrak Al-Hakim;

Jil. 3:109, 147, 533, dan kitab-kitab induk hadis

yang lain).


Prakata Penerbit

Berbeda pendapat merupakan fitrah manusia. Sebagai Sang

Pencipta, Allah swt. menghendaki fitrah itu tetap berjalan

dalam koridor keimanan yang benar. Oleh karena itu,

adanya sebuah tolok ukur yang menjadi rujukan semua

pihak adalah satu keniscayaan yang tidak dapat dielakkan

lagi. Allah swt. telah menurunkan kitab pedoman dengan

kebenaran yang akan menjadi penengah bagi umat manusia

dalam berbagai hal yang diperselisihkan (QS.2:213).

Tanpa kenyataan di atas, kehidupan yang sehat tidak

akan dapat berlangsung. Ini adalah ketentuan yang telah

ditegaskan oleh al-Qur’an di atas Tauhid yang absolut. Lalu,

penyimpangan, mitos dan kebohongan terus menerus

dilakukan oleh anak cucu Adam, hingga akhirnya mereka

mulai menjauh dari asas yang kuat ini. Dari sini jelas, bahwa

manusia tidak akan sanggup menjadi penengah antara

kebenaran dan kebatilan selagi mereka masih menjadi abdi

hawa nafsu dan budak kesesatan. Al-Qur’an telah datang,

namun hawa nafsu masih saja mencabik-cabik manusia dari

berbagai arah. Ambisi, maksiat, keresahan dan kesesatan

telah jauh menyeret manusia dari menerima hukum dan

arahan al-Qur’an dan memalingkan mereka dari merujuk

kebenaran yang telah jelas.

Menurut al-Qur’an, maksiat adalah perbuatan yang

telah menggiring manusia kepada perselisihan, kecongkakan

dan ketidakacuhan (Ibid). Di samping itu, kebodohan

turut pun memperparah keadaaan buruk ini. Hanya saja,

bukankah telah dipesankan bahwa seorang jahil hendaknya bertanya kepada orang yang tahu, sebagaimana Allah swt.

berfirman:

“Maka bertanyalah kalian kepada orang-orang yang

tahu jika kalian tidak mengetahui.” (QS.21:7, 16:43).

Oleh karena itu, tindakan menerjang yang dilakukan oleh

seorang yang bodoh terhadap asas yang diterima akal dan

diterapkan oleh para akil ini adalah pelanggaran terhadap

kaidah dan jalan paling jelas dalam rangka menutup celah

perselisihan.

Islam adalah agama abadi yang terangkum dalam teksteks

al-Qur’an dan sunah Rasulullah; sosok yang tak pernah

mengucapkan satu kata pun dari mulutnya kecuali wahyu

Tuhan semata. Allah swt. dan Rasul-Nya telah mengetahui

bahwa umatnya akan bersilisih pendapat setelah kepergian

beliau, sebagaimana hal tersebut telah terjadi saat beliau

masih hidup dan berada di tengah-tengah mereka.

Atas dasar ini, al-Qur’an telah menurunkan pedoman

kepada umat yang dapat dipegang selepas kepergian Rasulullah;

pelita yang dapat menuntun manusia sehingga

menapaki jejak yang pernah ditinggalkan oleh beliau, dan

dapat membantu mereka dalam rangka memahami dan

menafsir-kan arahan-arahannya. Pelita itu tak lain adalah

Ahlul Bait a.s. Merekalah pribadi-pribadi yang telah disucikan

dari segala kotoran dan noda, manusia-manusia

yang kepada kakek mereka al-Qur’an diturunkan. Mereka

menerima langsung ajaran ilahi dari beliau dan memahaminya

dengan penuh kesadaran dan amanah Dan mereka

telah dianugerahi hal-hal yang tidak diberikan kepada siapa

pun.

Sebagaimana Rasulullah saw. telah menegaskan kepemimpinan

mereka secara global dalam hadis Tsaqalain yang

sangat masyhur, mereka telah berupaya semaksimal mungkin menjaga syariat Islam dan al-Qur’an dari pemahaman

dan interpretasi yang keliru. Mereka juga tekun menjelaskan

konsep-konsep agung agama. Maka itu, mereka aktif sebagai

rujukan umat Islam.

Ahlul Bait a.s. telah menepis segala kerancuan, menyambut

pertanyaan, meredam berbagai provokasi dengan penuh

ketabahan dan kemurahan hati. Riwayat dan kebajikan mereka

adalah bukti atas sikap dan perlakuan mereka yang luar

biasa agung terhadap para penanya dan tukang dongeng,

sebagaimana sejarah juga menunjukkan ketajaman dan kedalaman

jawaban-jawaban mereka sebagai bukti lain atas

kepemimpinan unggul mereka di bidang intelektualitas.

Sebagai pusaka yang tersimpan utuh dalam madrasah

mereka dan hingga sekarang tetap terpelihara dengan baik,

khazanah Ahlul Bait a.s. merupakan universitas lengkap

yang meliputi berbagai cabang ilmu-ilmu Islam, yang telah

mampu mendidik jiwa-jiwa yang siap menggali pengetahuan

dari khazanah itu dan mengetengahkannya kepada

umat dan ulama-ulama besar Islam, dan tampil sebagai

pembawa risalah Ahlul Bait a.s. yang mampu menjawab

secara argumentatif segala keraguan dan persoalan yang

dilontarkan oleh berbagai mazhab dan aliran pemikiran,

baik dari dalam maupun dari luar Islam.

Berangkat dari tugas-tugas mulia yang diemban, Lembaga

Internasional Ahlul Bait (Majma Jahani Ahlul Bait)

berusaha mempertahankan kemuliaan risalah dan hakikatnya

dari serangan berbagai golongan dan aliran yang

memusuhi Islam; dengan cara mengikuti jejak Ahlul Bait a.s.

dan penerus mereka yang senantiasa berusaha menjawab

berbagai tantangan dan tuntutan, serta berdiri tegak di garis

depan perlawanan sepanjang masa.

Khazanah yang terpelihara di dalam kitab-kitab ulama

Ahlul Bait a.s. itu tidak ada tandingannya, karena kitab-kitab tersebut disusun di atas landasan logika dan argumentasi

yang kokoh, bebas dari sentuhan hawa nafsu dan

fanatisme buta. Kepada kalangan ulama dan pakar, Mereka

pun mengetengahkan karya-karya ilmiah yang dapat diterima

oleh akal dan fitrah yang bersih.

Berbekal kekayaan pengalaman, Lembaga Internasional

Ahlul Bait berupaya mengajukan metode baru kepada para

pencari kebenaran melalui berbagai tulisan dan karya ilmiah

yang disusun oleh para penulis kontemporer yang komit

pada khazanah Ahlul Bait a.s., dan oleh para penulis yang

telah mendapatkan karunia Ilahi untuk mengikuti ajaran

mulia tersebut. Di samping itu, Lembaga ini berupaya

meneliti dan menyebarkan berbagai tulisan bermanfaat dan

karya ulama Syi'ah terdahulu, agar kekayaan ilmiah ini

men-jadi mata air bagi pencari kebenaran yang mengalir ke

segenap penjuru dunia, di era kemajuan intelektual yang

telah mencapai kematangannya, sementara interaksi antarindividu

semakin terjalin demikian cepatnya, hingga

terbuka pintu hatinya dalam menerima kebenaran tersebut

melalui madrasah Ahlul Bait a.s.

Akhirnya, kami mengharap kepada para pembaca yang

mulia; kiranya sudi menyampaikan berbagai pandangan,

gagasan dan kritik konstruktif demi berkembangan lembaga

ini di masa-masa mendatang. Kami juga mengajak kepada

berbagai lembaga ilmiah, ulama, penulis dan penerjemah

untuk bekerja sama dengan kami dalam upaya menyebarluaskan

ajaran dan khazanah Islam yang murni. Semoga

Allah swt. berkenan menerima usaha sederhana ini, melimpahkan

taufik-Nya, serta senantiasa menjaga Khalifah-

Nya, Imam Mahdi afs. di muka bumi ini.

Kami ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan

yang setinggi-tingginya kepada Syeikh Muhammad Husein

Falah Zadeh yang telah berupaya menulis buku ini, dan kepada Sdr. Nasir Dimyati yang telah bekerja keras menerjemahkan

ke dalam bahasa Indonesia, juga kepada semua

pihak yang telah berpartisipasi di dalam penerbitannya.[]

Divisi Kebudayaan

Lembaga Internasional Ahlul Bait


Mukadimah

SIAPAKAH SYI’AH AHLULBAIT AS.?

Syi’ah berasal dari kata tasyayyu’ yang bersinonim dengan

kata Arab lainnya seperti; intima’, musyaya’ah, mutaba’ah dan

wala’; yang masing-masing berarti keberpihakan, dukungan,

ikut dan tunduk atau cinta. Kata syi’ah juga disinyalir dalam

Al-Qur’an demikian:

﴿ وَ إ م ن مِن شِيعَتِهِ لََبرَاهيمَ ﴾ ﴿ إذ جَاءَ رَبمهُ بِقَلبٍ سَلِيمٍ ﴾

“Dan sesungguhnya Ibrahim tergolong pengikutnya

(Nuh), karena dia menghadap Tuhannya dengan hati

yang murni” (As-Shaffat: 83-84).

Allah swt. menyatakan bahwa Nabi Ibrahim as. adalah

syi’ah Nabi Nuh as. yang sebenar-benarnya; dia mengikuti

jejak dan petunjuk Nuh as. dalam dakwah kepada tauhid

dan keadilan.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa secara historis,

kata tasyayyu’ atau wala’ di sini berarti mendukung dan

mengikuti Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as. dan

imam-imam suci setelahnya yang juga dari keturunannya.

Mereka adalah Ahlulbait atau keluarga Rasulullah saw.

yang dimaksudkan oleh dua ayat, yaitu ayat Tathhir dan

ayat Mawaddah.[1]

Dalam sejarah Islam, kata tasyayyu’ secara umum berarti

dukungan atau kesetiaan pada Ahlulbait Rasulullah

saw. dan ajaran mereka. Dari sini dapat dimengerti dua

makna pengikutan tersebut. Makna pertama adalah dukungan

politis dalam konteks kepemimpinan politik. Dan

makna kedua yaitu pengikutan kultural dan intelektual;

atau fikih. Dua makna inilah yang kemudian menjadi identitas

atau kriteria paling menonjol Syi’ah (pengikut) Ahlul-bait as. dan membedakan mereka dari Muslimin lainnya.

Uraian dua makna ini dapat disimak sebagai berikut:

1. Kepemimpinan Politis Ahlulbait as.

Rasulullah saw. telah melantik Ali bin Abi Thalib as. sebagai

imam atau pemimpin Muslimin ketika pulang dari haji

Wada’, yaitu haji perpisahan sekaligus terakhir beliau,

tepatnya di sebuah tempat bernama Ghadir Khum, sebelum

persimpangan jalan yang memisahkan para musafir dari

berbagai kota dan negeri. Beliau memerintahkan orang yang

telah mendahului untuk kembali dan menanti mereka yang

masih di belakang sampai lokasi. Hingga berkumpullah

halayak yang begitu besar dan ramai. Peristiwa ini tepatnya

terjadi pada siang hari yang panas sekali, dan menurut

catatan sejarah, mereka tidak pernah mengalami hari yang

lebih panas daripada hari itu.

Dalam situasi demikian, Rasulullah saw. memerintahkan

sahabat untuk mempersiapkan pohon-pohon besar.

Mereka menyapu tanah dan menyiraminya kemudian berteduh

di bawah naungan pakaian yang dibentangkan.

Beliau memimpin shalat Dzuhur, setelah itu berpidato

di hadapan halayak sahabat dan mengingatkan mereka akan

kematian yang semakin dekat. Kemudian beliau mengangkat

tangan Ali bin Abi Thalib as. sehingga putih ketiak Ali

as. terlihat oleh hadirin seraya bersabda: “Wahai umat manusia!

Bukankah aku lebih berhak atas kalian daripada diri

kalian sendiri?

“Ya”, jawab mereka.

Rasulullah saw. melanjutkan: “Barang siapa yang aku

sebagai pemimpinnya (dan lebih berhak pada dirinya dari

pada diri dia sendiri) maka Ali adalah pemimpinnya. Ya

Allah! Dukunglah orang yang mendukungnya, musuhilah orang yang memusuhinya, tolonglah orang yang menolongnya,

dan terlantarkanlah orang yang mengkhianatinya!”

Sebelum peristiwa agung itu, Allah swt. telah memerintahkan

Rasulullah saw. agar menyampaikan wahyu Ilahi ini

kepada umat:

﴿ يََ أيُّ هَا المرسُولُ بَ ل غ مَا اُنزِلَ اِلَيكَ مِن رَب كَ وَ اِن لََ تَفعَل فَمَ ا بَ لمغتَ

رِسَالَتَهُ وَ اللهُ يَعصِمُكَ مِنَ النماسِ ﴾

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan

ke atasmu dari Tuhanmu, dan seandainya kamu tidak melakukannya

niscaya kamu tidak menyampaikan risalahmu

sama sekali, dan sesungguhnya Allahlah yang menjagamu

dari manusia”. (QS. Al-Maidah: 67)

Allah swt. memerintahkan Rasul-Nya agar menyampaikan

pesan suksesi dan khilafah setelah beliau kepada umatnya.

Redaksi ayat di atas ini sangat kuat dan keras; kita tidak

menemukan nada firman Allah swt. kepada beliau sedemikian

ini di tempat lain dari al-Qur’an, yaitu: “Apabila kamu

tidak melakukannya niscaya kamu tidak menyampaikan risalahmu

sama sekali”.

Lalu ayat ini dilanjutkan dengan kalimat penenang yang

memberikan jaminan kepada Rasulullah saw. Karena pada

waktu itu, beliau khawatir terhadap situasi dan firman itu

sendiri Beliau merasa tidak tenang akan reaksi masyarakat

dalam menyikapi risalah yang akan beliau sampaikan ini,

maka Allah swt. berfirman: “… dan sesungguhnya Allahlah yang

menjagamu dari umat manusia”.

Ketika Rasulullah saw. telah menyampaikan perkara

kepemimpinan dan suksesi itu kepada umatnya secara

sempurna, turunlah ayat ikmal:

  ﴿أليَومَ أكمَلتُ لَكُم دِينَكُم وَ أتََمتُ عَلَيكُم نِعمَتِِ وَ رَضِيتُ لَكُمُ الاِسلََمَ

دِينًا﴾

“Hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian,

dan telah Kulengkapi nikmat-Ku pada kalian, dan telah

Kurelakan Islam sebagai agama untuk kalian”. (QS. Al-

Maidah: 3)

Riwayat peristiwa besar ini tercatat dalam sejarah secara

mutawatir[2] di semua tingkatan (generasi) dan sanad perawi,

mulai dari zaman sahabat sampai detik ini.

Dari generasi pertama, lebih dari seratus sahabat nabi

yang meriwayatkannya, adapun dari generasi kedua, lebih

dari delapan puluh empat tabi’in yang meriwayatkan peristiwa

ini, jumlah ini terus meningkat sejalan dengan luasnya

generasi perawi berikutnya. Syaikh Abdul Husain Amini

telah menghitung perawi-perawi itu pada jilid pertama dari

karya spektakulernya yang bernama Al-Ghadir. Usaha ini

disempurnakan oleh sahabat karib saya; Sayid Abdul Aziz

Thabathaba’i setelah menjumpai sejumlah nama-nama

sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in serta menambahkan

beberapa referensi yang lain.

Dari sekian jalur yang disebutkan untuk hadis Ghadir,

terdapat beberapa jalur yang sahih bahkan di puncak

kesahihan; sehingga tidak ada alasan dan cela sedikitpun

untuk meragukannya, sebagaimana telah disinyalir oleh

para penghafal al-Qur’an, ahli hadis, para mufassir, ahli

sejarah dan sejumlah besar pakar lainnya yang tidak bisa

dimuat di sini. Di antara mereka adalah: at-Tirmidzi dalam

as-Sahih, Ibn Majah dalam as-Sunan, Admad bin Hanbal  dalam al-Musnad, Nasa’i dalam al-Khasa’is, al-Hakim dalam

al-Mustadrak, al-Muttaqi dalam Kanzul Ummal, al-Manawi

dalam Faidlul Qodir, al-Haytsami dalam Majmauz Zawaid,

Muhib at-Thabari dalam ar-Riyadlun Nadliroh, al-Khatib al-

Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, Ibnu al-Asakir dalam

Tarikhu Dimisyq, Ibnu Atsir al-Jazri dalam Usudul Ghabah,

ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar, Abu Na’im dalam

Hilyatul Awliya’, Ibnu Hajar dalam as-Showa’iq al-Muhriqoh,

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari dan nama-nama

lain yang tidak mungkin disebutkan semuanya dalam pengantar

ringkas ini.

Ibnu Hajar mencatat sejumlah nama sahabat yang meriwayatkan

Hadis Ghadir dalam kitabnya berjudul Tah-dzib at-

Tahdzib, kemudian menulis demikian: “Ibnu Jarir at-Thabari

mengumpulkan hadis muwalat (kepemimpinan) dalam karyanya

yang mencakup berapa kali lipat lebih banyak dari

yang saya catat. Dia juga membenarkan hadis ini dan

menyatakannya sebagai hadis sahih…”.

Ibnu Hajar melanjutkan: “Dan setelah memperhatikan

pengumpulan jalur Abul Abbas bin Uqdah, dia meriwayatkannya

dari tujuh puluh sahabat bahkan lebih”.[3]

Ibnu Hajar berkata dalam karyanya yang bernama

Fathul Bari sebagai berikut: “Adapun hadis “man kuntu maulahu

fa hadza Aliyun maulauhu” (barang siapa aku adalah

pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya) telah diriwayatkan

oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa’i. Hadis ini diriwayatkan

dari jalur yang sangat banyak, dan Ibnu Uqdah

mengumpulkannya dalam kitab tersendiri. Mayoritas sanad

dari hadis ini adalah sahih atau hasan”.[4]

Oleh karena itu, dari sisi sanad, hadis Ghadir tidak bisa

disanggah dan diragukan lagi. Begitu pula dari sisi makna

lantaran arahan-arahan yang menyertainya. Maka, begitu

jelasnya kandungan hadis ini sehingga tidak meninggalkan

peluang sedikitpun untuk diragukan.

Bahwa tidak mungkin Rasulullah saw. mengumpulkan

sahabat sebanyak itu di siang hari yang menyengat, di

persimpangan jalan, dan memerintahkan orang yang telah

lewat untuk kembali dan menunggu mereka yang belum

sampai kecuali untuk suatu kepentingan yang luar biasa

yang menentukan nasib umat manusia sepanjang masa.

Sebelum mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib as. dan

menyatakan pelantikannya; “man kuntu maulahu fa hadza

aliyun maulahu”, mula-mula Rasulullah saw. menegaskan

satu permasalahan dengan bertanya pada hadirin: “Bukankah

aku lebih berhak atas diri kalian daripada diri kalian

sendiri?” Mereka menjawab positif pertanyaan itu sebagai

penegasan atas kepemimpinan dan otoritas Rasulullah saw.

atas seluruh umat Islam. Baru saat itulah beliau melanjutkan

pesan intinya: “Barangsiapa aku adalah pemimpinnya (yang

berhak atas dirinya daripada atas dirinya sendiri) maka Ali

adalah pemimpinnya”.

Seketika itu juga para sahabat besar Rasul saw. menemui

Ali bin Abi Thalib as. untuk mengucapkan selamat atas

suksesi dan pelantikan ini, termasuk di antara mereka Abu

Bakar dan Umar bin Khaththab.

Sebenarnya, sebagian dari sikap dan hadis ini, termasuk

beberapa arahan, kemutawatiran dan kesaksian serta penjelasan

yang ada, sudah lebih dari cukup untuk menerangkan

suksesi dan kepemimpinan setelah Rasulullah saw., dan

bahwasanya beliau menyampaikan sabda-sabda itu tidak

lain untuk melantik Ali bin Abi Thalib as. sebagai imam dan

pemimpin umat Islam sepeninggal beliau. Semua ini akan ⌂⌂⌂

berjalan normal seandainya situasi politik tidak menjadi

kendala yang akan mengaburkan makna hadis Ghadir di

benak masyarakat, dan setelah diketahui dari sisi sanad

bahwa semua pintu keraguan tertutup rapat bagi mereka.

Bertolak dari hadis ini juga hadis-hadis lain yang sharih

dan sahih,[5] Syi’ah Ahlulbait as. meyakini bahwa kepemimpinan

politis setelah Rasulullah saw. adalah hak dan

atau tugas Ali bin Abi Thalib as. dan imam-imam setelahnya

dari keturunannya.

2. Ahlulbait Sebagai Rujukan Hukum dan Peradaban

Makna kedua dari dua makna utama pengikutan ini merupakan

ciri khas yang membedakan Syi’ah Ahlulbait as.

dari komunitas Muslim yang lain.

Ketika masih hidup, Rasulullah saw. sudah menentukan

Ahlulbait as. sebagai rujukan Muslimin sepeninggal

beliau, tempat bertanya tentang hukum syiariat, dan sumber

penyelesaian segala perkara, jalan yang mengarahkan mereka

kepada hidayah dan menjaga mereka dari kesesatan.

Ahlulbait as. adalah rujukan kedua yang ditentukan oleh

beliau setelah al-Qur’an.

Rasulullah saw. memposisikan Ahlulbait as. sebagai

pasangan al-Qur’an, tepatnya dalam sabda beliau yang

dikenal dengan hadis Tsaqalain (dua pusaka). Hadis ini

populer sekali di kalangan ahli hadis dan dinyatakan sahih;

baik menurut Syi’ah maupun Ahli Sunnah. Bahkan hadis ini

diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah saw. Hal itu karena perhatian beliau yang sangat besar akan penyebaran

hadis ini ke generasi Muslim berikutnya.

Termasuk ahli hadis yang meriwayatkan hadis ini ialah

Muslim bin Hajjaj dalam Shahih-nya di bab keutamaan Ali

bin Abi Thalib as. Dia meriwayatkannya dari Zaid bin Arqam

berkata: “Suatu hari, Rasulullah saw. berdiri di tengah

kita, di lembah bernama Khum yang terletak di antara

Mekkah dan Madinah. Setelah ber-hamdalah, memanjatkan

puja dan puji kehadirat Allah swt., beliau memberikan

nasihat dan peringatan, kemudian bersabda:

‘Amma ba’du, wahai umat manusia! Sesungguhnya aku

adalah manusia yang tak lama lagi akan dijemput oleh

utusan Tuhanku, aku pun akan memenuhi panggilan-Nya.

Sesungguhnya telah aku tinggalkan dua pusaka besar untuk

kalian, pusaka pertama adalah kitab Allah swt. yang di dalamnya

terdapat petunjuk dan cahaya, maka raihlah kitab

Allah swt. dan peganglah seteguh-teguhnya!’

“Beliau melanjutkan pesan tentang al-Qur’an dan

memberi motivasi untuk merujuknya, kemudian bersabda:

‘Pusaka kedua adalah Ahlulbaitku. Kuingatkan kalian

akan Ahlulbaitku, kuingatkan kalian akan Ahlulbaitku, dan

kuingatkan kalian akan Ahlulbaitku!’”[6]

Juga at-Tirmidzi dalam Shahih-nya meriwayatkan hadis

Ghadir dari Zaid bin Arqam yang berkata: “Rasulullah saw.

Bersabda:

‘Sungguh telah aku tinggalkan pada kalian dua pusaka

yang apabila berpegang teguh padanya, kalian tidak akan

sesat sepeninggalku; pusaka pertama lebih agung dari yang

kedua, yaitu kitab Allah swt. (al-Qur’an), tali yang memanjang

dari langit sampai ke bumi, adapun pusaka keduaku

adalah keluargaku; Ahlulbaitku. Kedua pusaka ini tidak akan berpisah sampai menjumpaiku di telaga kelak. Maka

perhatikanlah bagaimana kalian akan memperlakukan dua

pusaka ini setelahku!’”[7]

At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadis ini dari Jabir bin

Abdillah berkata: “Aku melihat Rasulullah saw. di hari

Arafah ketika beliau berada di atas unta paling tinggi seraya

berceramah dan aku menyimak: ‘Wahai umat manusia!

Telah aku tinggalkan pada kalian pusaka yang apabila

kalian pegang, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu kitab

Allah (al-Qur’an) dan keluargaku; Ahlulbaitku’”.[8]

Hakim Naisyaburi dalam Mustadrak ash-Shahihain meriwayatkan

hadis ini dari Zaid bin Arqam dengan berbagai

sanadnya.[9]

Ahmad bin Hanbal di beberapa tempat dari Musnadnya

pun meriwayatkan hadis ini dari Abi Said al-Khudri,[10] Zaid

bin Arqam,[11] dan lewat dua jalur dari Zaid bin Tsabit.[12]

Sebenarnya hadis ini memiliki jalur periwayatan yang

sangat banyak dengan sanad yang sahih sehingga terhitung

sebagai hadis mustafidh..[13] Tampak begitu besar nilai hadis ini

dengan berbagai penukilan ahli hadis besar seperti Muslim

dan at-Tirmidzi dalam kitab Sahih mereka.

Allamah Mir Hamid Husein al-Lakhnuwi mengumpulkan

jalur-jalur hadis ini secara terperinci sehingga menjadi buku yang berjilid besar. Dalam buku lain, dia juga membahas

arti hadis ini secara teliti. Belakangan ini, dua jilid

bukunya dicetak satu dalam sepuluh jilid. Semoga Allah

swt. memberi rahmat pada Sayid Mir Hamid Husein dan

menerima kontribusi ilmiahnya yang besar dan berharga.

Alhasil, dalam hadis ini disebutkan:

1. Rasulullah saw. mendampingkan Ahlulbait as. di sisi

al-Qur’an.

2. Beliau menerangkan dua pusaka ini secara bersamaan

(dan tidak secara terpisah atau sendiri-sendiri) untuk

menjaga manusia dari kesesatan.

3. Beliau memerintahkan umatnya agar berpegang teguh

pada dua pusaka itu. Beliau juga memberikan penekanan

terhadap hal itu.

4. Beliau memberitakan bahwa kedua pusaka itu (al-

Qur’an dan Ahlulbait as.) tidak akan terpisah sampai

mereka menjumpai beliau di telaga yang disebutkan.

Maka dua hal itu secara bersamaan menjadi rujukan

umat setelah Rasulullah saw. dalam semua perkara

yang berkaitan dengan agama, seperti dalam prinsipprinsipnya,

hukum-hukumnya, pokok-pokok dan

cabang-cabangnya.

Haytsami dalam kitab ash-Shawa’iq al-Muhriqoh menuliskan:

“Ada arahan yang bisa ditangkap dari hadis-hadis yang

menganjurkan umat Muhammad saw. agar berpegang

teguh pada Ahlulbait as., yaitu kesinambungan Ahlulbait as.

yang dapat dipegang sampai Hari Kiamat, sebagaimana al-

Qur’an yang senantiasa ada dan terjaga sampai hari yang

sama. Oleh karena itu, mereka adalah keamanan bagi bumi.

Dan bukti lain atas arahan ini adalah hadis yang berbunyi:

“Di setiap generasi umatku terdapat orang adil dari

Ahlulbaitku”.[14] &[15]

Inilah uraian yang sangat ringkas tentang beberapa poin

penting yang merupakan kriteria Syi’ah Ahlulbait as. sekaligus

sebagai ciri-ciri pembeda antara mereka dari komunitas

Muslim lainnya.

Sampai di sini, kami rasa sudah saatnya memasuki pembahasan

utama kita, karena buku ini tidak terfokus pada

pembahasan tentang identitas ideologis Syi’ah Ahlulbait as.

Hanya saja kita berbicara tentang dua poin penting di atas

secara singkat sebagai mukadimah untuk mengantarkan

kita ke empat poin besar berikutnya seputar wilayah dan

pengikutan kepada Ahlulbait as.. Poin-poin itu adalah

sebagai berikut:

o Nilai wilayah dan kesetiaan kepada Ahlulbait as.

o Syarat-syarat umum dalam kesetiaan dan keberpihakan

pada Ahlulbait as.

o Unsur-unsur yang membentuk wilayah dan kesetiaan

pada Ahlulbait as.

o Tingkatan dan raihan kesetiaan dan keberpihakan pada

ajaran Ahlulbait as.

Selanjutnya kita akan membahas satu per satu dari empat

poin di atas, insya-Allah ta’ala.[]


NILAI WILAYAH KEPADA

AHLULBAIT AS.

Wilayah kepada Ahlulbait dalam Al-Qur’an dan Hadis

Berikut ini akan kami bawakan teks-teks literal Islam yang

menjelaskan nilai pendukung dan pengikut Ahlulbait as.:

Syi’ah Ali as. Sebagai Pemenang

Pada kesempatan menafsirkan firman Allah swt.:

﴿ اِ م ن المذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا ال م صالَِْاتِ اُولئِكَ هُم خَيرُ البََِيمةِ ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal

perbuatan-perbuatan yang baik adalah manusiamanusia

terbaik” (Al-Bayyinah: 7).

As-Suyuthi dalam ad-Durul Mantsur membawakan sebuah

riwayat dari Ibnu Asakir meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah

Ansari berkata: “Suatu hari, kami bersama Rasulullah

saw., tiba-tiba Ali as. datang, maka beliau bersabda: “Demi

Allah Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Sesungguhnya

dia—Ali—dan Syi’ahnya adalah pemenang dan orang beruntung

di Hari Kiamat”. Kemudian turunlah ayat di atas.

Maka, sejak itu setiap saat Ali as. datang, sahabat Nabi

mengucapkan: “Manusia terbaik telah datang”. Hadis ini

juga diriwayatkan oleh Allamah Abdurrauf al-Manawi dalam kitab Kunuzul Haqaiq (hal. 82) dengan redaksi

 شيعة علي

هم الفائزون

(Syi’ah Ali adalah para pemenang), kemudian berkata:

“Ad-Dailami juga meriwayatkan hadis ini”.

Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id bab Manaqib ketika

sampai pada manaqib Ali bin Abi Thalib as. (9/131) meriwayatkan

sebuah hadis dari Ali bin Abi Thalib as. berkata:

“Kekasihku Rasulullah saw. bersabda: ‘Wahai Ali! Sesungguhnya

kamu akan menghadap Allah swt. bersama Syi’ah

(pengikutmu) dalam keadaan rela dan diridhoi, sementara

musuhmu akan menghadap-Nya dalam keadaan marah dan

dimurkai’”. Hadis ini juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani

dalam al-Awsath.

Ibnu Hajar al-Haytsami dalam ash-Shawa’iq al-Muhriqoh

(hal. 96) meriwayatkan dari ad-Dailami yang berkata: “Rasulullah

saw. bersabda:

‘Wahai Ali! Sesungguhnya Allah swt. memberi ampunan

padamu, keturunanmu, anak cucumu, keluarga-mu,

Syi’ahmu dan pecinta Syi’ahmu, maka bergembiralah!’”[16]

Ayyub as-Sajestani meriwayatkan dari Abu Qulabah

berkata: “Ummu Salamah ra. mengatakan: ‘Aku mendengar

Rasulullah saw. bersabda: “Pengikut Ali as. adalah para

pemenang di Hari Kiamat’”.[17]

Ali dan Syi’ahnya sebagai Manusia Terbaik

Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan dari

Abul Jarud dari Muhammad bin Ali saat menafsirkan

firman Allah swt.:

﴿ اُولئِكَ هُمُ خَيرُ البََِيمةِ ﴾َ

“Sungguh Mereka adalah sebaik-baiknya makhluk.”

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Maksud ayat ini adalah

kamu, wahai Ali!, dan Syi’ahmu”.[18]

As-Suyuthi dalam Durul Mantsur meriwayatkan hadis

dari Jabir bin Abdillah al-Anshari yang menurut dia diriwayatkan

juga oleh Ibnu Adiy dan Ibnu Asakir secara marfu’.[19]

Hadis itu berbunyi:علي خير البَية , bahwa Ali adalah sebaik-baik

manusia.

As-Suyuthi juga berkata: “Ibnu Adiy meriwayatkan dari

Ibnu Abbas yang berkata: ‘Ketika turun ayat:

﴿ اِ م ن المذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا ال م صالَِْاتِ اُولئِكَ هُم خَيرُ البََِيمةِ ﴾

‘Rasulullah saw. bersabda kepada Ali as.: “Pada hari

Kiamat, kamu dan Syi’ahmu adalah orang-orang yang

bahagia dan diridhai’”.[20]

As-Suyuthi juga mengatakan bahwa Ibnu Mardiwaih

meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib as. berkata:

“Rasulullah saw. bersabda padaku: ‘Tidakkah kau mendengar

firman Allah azza wa jalla yang berbunyi:

﴿ اِ م ن المذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا ال م صالَِْاتِ اُولئِكَ هُم خَيرُ البََِيمةِ ﴾

‘Maksud dari firman ini adalah kamu dan Syi’ahmu, tempat

yang dijanjikan untukku dan untukmu adalah telaga, ketika

umat-umat berdatangan untuk hisab, kalian akan dipanggil

dan didudukkan secara mulia’”.

Ibnu Hajar dalam as-Shawa’iq al-Muhriqoh berkata seputar

ayat kesebelas surah Bayyinah: “Jamaluddin az-Zarandi

meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata: ‘Tatkala ayat ini turun,

Rasulullah saw. bersabda pada Ali: “Maksud dari ayat

ini adalah kamu, wahai Ali, dan Syi’ahmu yang bahagia dan

diridhai di Hari Kiamat nanti, sedangkan musuhmu datang

dalam keadaan marah dan dimurkai’”.[21] Hadis ini juga dicatat

Syablanji dalam Nurul Abshar[22] .

Kedudukan Wilayah Ahlulbait as. dalam Islam

Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan dari Abu

Hamzah Tsumali dari Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir as.

berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara: shalat, zakat,

puasa, haji dan wilayah, dan—di Hari Pembalasan—seseorang

tidak akan dipanggil karena sesuatu yang lebih penting

daripada panggilan karena wilayah”.[23]

Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan dari

Ajlan Abu Shaleh berkata: “Aku berkata pada Abu Abdillah

Ja’far Ash-Shadiq as.: ‘Beritahulah aku akan batas-batas

iman!’ Maka beliau berkata: “Kesaksian bahwa tiada Tuhan

selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan

Allah (syahadah), percaya dan mengakui apa yang datang

dari Allah (swt.), shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan,

haji di rumah Tuhan, berpihak pada wali kita dan melawan

musuh kita serta masuk bersama orang-orang yang tulus

(shodiqin)”.[24]

Al-Kulaini juga mriwayatkan melalui jalur sanad yang

sampai ke Zurarah bin A’yun dari Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir as. berkata: “Islam terbangun di atas lima perkara:

shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah”.[25]

Siapakah Rafidhah?

Seorang sahabat bercerita pada Imam Ja’far Ash-Shadiq as.

tentang Ammar Duhuni yang hadir suatu hari di pengadilan

hakim Kufah, Ibnu Abi Laila, untuk memberikan kesaksian.

Hakim memintanya agar bangkit: “Pergilah wahai Ammar,

karena kita telah mengenal siapa dirimu, kesaksianmu tidak

bisa diterima karena kamu seorang Rafidhah”. Ammar pun

segera bangkit hendak meninggalkan majelis dalam keadaan

urat-urat leher dan di sekitar pundaknya bergetar

kuat seraya tenggelam dalam isak tangis.

Ibnu Abi Laila berkata padanya: “Kamu orang alim dan

ahli hadis, jika kamu kesal karena dituduh sebagai Rafidhah

lalu kamu menghindar dari tuduhan itu, tentu kamu termasuk

saudara-saudara kita”.

Ammar menjawab: “Wahai Ibnu Abi Laila, aku tidak

seperti yang kau bayangkan. Aku menangisimu dan menangisi

diriku. Aku menangisi diriku karena kamu telah

menisbatkanku pada kedudukan mulia yang tidak pantas

bagiku ketika kamu menganggapku sebagai rafidhi (orang

Rafidhah). Celakalah dirimu! Sesungguhnya Imam Ja’far

Ash-Shadiq as. berkata: ‘Sesungguhnya orang pertama yang

diberi nama Rafidhah adalah para penyihir yang beriman

kepada Nabi Musa as. dan mengikutinya seketika menyaksikan

mukjizatnya, mereka menolak perintah Fir’aun dan

pasrah terhadap apa saja yang akan menimpa diri mereka,

maka Fir’aun menamakan mereka Rafidhah karena menolak

agamanya. Oleh karena itu, rafidhi adalah setiap orang yang

menolak segala apa yang dilarang oleh Allah swt. Dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya. Coba katakan

padaku, siapa orang seperti ini sekarang? ‘

“Dan aku menangisi diriku karena aku takut Allah swt.

Yang Tahu akan apa yang terlintas di hatiku pada saat aku

senang menerima nama yang mulia ini, niscaya Dia akan

mencercaku dan berkata: ‘Wahai Ammar! Apakah kamu

orang yang menolak kebatilan dan taat sepenuhnya sebagaimana

apa yang dia katakan?’ Maka itu, kalaupun aku

masih dipersilahkan untuk menempati derajat tertentu,

sebetulnya aku adalah orang yang gagal dan tidak pantas

untuk itu. Dan kalau aku tergolong orang yang Dia cela dan

dijerumuskan ke dalam siksa, niscaya hal itu menambah

dahsyatnya siksa, kecuali apabila para Imam menutupi

kekurangan itu dengan syafaat mereka.

“Adapun kenapa aku menangisimu, karena besarnya

kebohongan yang kau katakan saat menyebutku dengan selain

namaku yang sebenarnya, juga karena simpati atau

sayangku padamu akan siksa Allah swt. ke atas orang yang

menggunakan nama yang termulia bagiku. Dan jika kamu

anggap itu sebagai nama yang paling rendah, bagaimana

kamu bisa tahan akan siksa Tuhan atas ucapanmu itu?”

Maka Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Andaikan

Ammar memiliki dosa yang lebih besar dari semua langit

dan bumi, niscaya akan terhapus oleh kata-katanya ini, dan

niscaya catatan kebaikannya akan bertambah di sisi Allah

swt. sampai setiap kesan baik dari pahala yang dia peroleh

lebih besar dari dunia seribu kali lipat”.[26]

Pecinta yang bukan Syi’ah

Seorang berkata pada Imam Musa bin Ja’far as.: “Suatu saat

kami berjalan bersama seorang lelaki di pasar yang sedang berserapah: ‘Aku adalah Syi’ah tulus Muhammad dan keluarga

Muhammad’. Dia berteriak di atas kain jualannya:

‘Siapa yang ingin tambah?’

“Maka Imam Musa as. berkata: ‘Orang yang sadar akan

nilai dirinya tidak akan bodoh dan kehilangan diri, tahukah

kalian siapakah orang seperti ini? (menunjuk lelaki di atas

tadi). Dialah adalah orang yang menyatakan dirinya seperti

Salman, Abu Dzar, Miqdad dan Ammar, pada saat yang

sama dia mengurangi hak orang lain dalam berjual beli, dia

menyembunyikan cacat barang jualannya dari pembeli, dia

menjual barang dengan harga tertentu tapi menawarkannya

dengan harga yang jauh lebih tinggi kepada pendatang

asing, dia meminta dan memaksa pendatang asing itu untuk

membayar lebih mahal, dan jika pendatang asing itu telah

pergi, dia katakan pada warga setempat bahwa aku tidak

menjual pada kalian dengan harga yang aku tawarkan

kepada pendatang asing tadi.

“Apakah orang semacam ini sama dengan Salman, Abu

Dzar, Miqdad, dan Ammar?! Maha Suci Allah! Tentu dia

tidak bisa disamakan dengan para sahabat besar Nabi ini.

Namun demikian dia tidak dilarang untuk menyatakan

bahwa dirinya adalah pecinta Muhammad saw. dan keluarganya

serta termasuk pendukung para pengikut mereka

dan melawan musuh-musuh mereka’”.[27]

Orang-orang Mukmin sebagai Pelita Penghuni Surga Selaksa

Langit yang Terang karena Bintang

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin as. berkata: “Sesungguhnya

penduduk surga melihat Syi’ah kami sebagaimana

orang-orang melihat bintang di langit”.[28]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Sesungguhnya cahaya

seorang mukmin bersinar bagi penduduk langit

sebagaimana bintang bersinar bagi penduduk bumi”.[29]

Imam Musa bin Ja’far as. bercerita: “Suatu saat, sebagian

orang-orang khusus Imam Ja’far Ash-Shadiq as. duduk di

hadapan beliau di malam purnama yang terang benderang

sehingga membuat orang terjaga, mereka berkata: ‘Wahai

putera Rasulullah saw.! Betapa indahnya permukaan langit

dan cahaya bintang-bintang itu!’

“Maka Imam Ash-Shadiq as. menanggapi: ‘Kalian berkata

demikian sementara empat malaikat pengatur alam,

yaitu Jibril, Mika’il, Israfil dan malaikat maut mengawasi

penduduk bumi, mereka melihat kalian dan saudarasaudara

kalian di segala penjuru bumi bersinar dan cahaya

kalian sampai ke langit. Bagi mereka, bahkan cahaya kalian

lebih indah daripada cahaya bintang, dan sungguh mereka

mengatakan seperti yang telah kalian katakan: ‘Alangkah

indahnya cahaya orang-orang beriman!’”[30]

Melihat dengan Cahaya Allah swt.

Abu Najran meriwayatkan bahwa saya mendengar Abul

Hasan as. berkata: “Barangsiapa memusuhi Syi’ah kami, dia

telah memusuhi kami, dan barang siapa mendukung mereka,

dia telah mendukung kami, karena mereka adalah dari

kami; mereka diciptakan dari tanah kami. Maka barangsiapa

yang mencintai mereka, dia dari kita, dan barangsiapa yang

membenci mereka maka dia bukan dari kita. Syi’ah kami

melihat dengan cahaya Allah, bergelimang dalam rahmat-

Nya dan menjadi pemenang bersama kemuliaan-Nya.

Sungguh tak seorang pun dari Syi’ah kami yang bersedih melainkan kami juga berduka cita karena dirinya, dan tidak

seorang pun dari Syi’ah kami yang bergembira kecuali kami

juga berbahagia karena dirinya”.[31]

Kedudukan Syi’ah di Sisi Ahlulbait as.

Ahlulbait as. Mencintai Syi’ah Mereka

Sebagaimana Syi’ah (pengikut Ahlulbait as.) mencintai

Ahlulbait as., begitu juga sebaliknya Ahlulbait as. sangat

mencintai Syi’ah dan pendukung mereka. Bahkan mereka

as. mencintai aroma dan arwah Syi’ah. Ahlulbait as. senang

melihat dan menziarahi mereka, Ahlulbait as. merindukan

mereka seperti dua pasang kekasih yang saling merindukan.

Hal ini wajar, karena cinta adalah hubungan imbal balik.

Cinta yang sejati tidak akan ada pada satu pihak melainkan

di pihak lain juga terdapat cinta yang sepadan.

Ishaq bin Ammar meriwayatkan dari Ali bin Abdul Aziz

berkata: “Saya mendengar Abu Abdillah as. berkata: ‘Demi

Allah! Aku sungguh mencintai aroma kalian, arwah kalian,

penampilan kalian, dan menziarahi kalian. Dan sesungguhnya

aku berada di atas agama Allah dan agama malaikat-

Nya, maka bantulah dengan hidup warak (karakter menghindari

dosa). Di Madinah aku seperti sya’ir, aku berbolak

balik sampai aku melihat salah satu dari kalian dan menjadi

tenang dengan penglihatan ini”.[32]

“Seperti sya’ir”; maksud dari sya’ir atau sya’roh di sini

adalah uban putih yang jarang dan sedikit sekali di tengah

lebatnya rambut hitam. Oleh karena itu, ia akan senang dan

merasa tenang apabila melihat ada pendukung yang menyerupainya.

Abdullah bin Walid berkata: “Aku mendengar Abu Abdillah

(Imam Ja’far) as. berkata saat kita berkumpul: “Demi

Allah! Sesungguhnya aku mencintai pemandangan kalian

dan merindukan komunikasi bersama kalian”[33] .

Nasr bin Muzahim meriwayatkan dari Muhammad bin

Imran bin Abdillah dari ayahnya dari Imam Ja’far bin

Muhammad as. berkata: “Suatu saat ayahku masuk masjid,

ternyata di sana ada sekelompok orang dari Syi’ah kami.

Beliau pun mendekati mereka seraya mengucapkan salam

lalu berkata:

“Demi Allah! Aku mencintai bau dan arwah kalian, dan

sesungguhnya aku di atas agama Allah swt. Jarak antara

kalian dengan detik-detik yang sangat membahagiakan sehingga

membuat orang lain iri pada kalian tidak lebih jauh

dari sampainya ruh ke sini (beliau menunjuk dengan tangannya

ke arah tenggorokan, artinya saat kematian), maka

bantulah aku dengan hidup warak dan usaha keras! Barangsiapa

dari kalian mengikuti seorang imam, hendaknya dia

beramal bersamanya. Kalian adalah pasukan Allah, kalian

adalah pendukung Allah, dan kalianlah pembela Allah”.[34]

Muhammad bin Imran meriwayatkan dari ayahnya dari

Abu Abdillah as. berkata: “Suatu hari aku bersama ayahku

keluar menuju masjid, ternyata di sana ada sekelompok dari

sahabat ayahku, tepatnya di antara kuburan dan mimbar.

Beliau menghampiri mereka, bersalam lalu berkata: “Demi

Allah! Aku mencintai aroma dan ruh kalian, maka bantulah

aku untuk hal itu dengan hidup warak dan usaha keras!”[35]

Barang kali kalimat di atas ini menimbulkan beberapa

pertanyaan di benak seseorang:

Kalimat pertama, “Sesungguhnya aku mencintai aroma

dan ruh kalian”.

Kalimat kedua, “Bantulah aku dengan hidup warak dan

usaha keras!”

Maksud dari kalimat imam yang pertama adalah ungkapan

mengenai puncak tertinggi dari kecintaan dan

kerinduan sampai seakan-akan Ahlulbait as. menghirup

aroma pintu surga dari Syi’ah mereka”. Justru saya tidak

menemukan kalimat yang lebih eksperesif dan lebih fasih

dari ini untuk mengungkapkan klimaks cinta dan kerinduan.

Adapun maksud dari kalimat imam yang kedua adalah

cara menentukan standar cinta tersebut, karena cinta ini

berbeda dengan cinta biasa pada umumnya antarmanusia

biasa. Cinta ini merupakan perpanjangan (perluasan) dari

cinta Allah, dan cinta demi Allah adalah kualitas terkuat

dari makna cinta. Tentunya, cinta ini tunduk pada standarstandar

yang berbasis pada dalam ketaatan dan pengabdian,

warak dan takwa. Cinta ini terus mengembang sejalan dengan

peningkatan tingkat warak dan takwa seseorang. Oleh

karena itu, Imam as. meminta Syi’ahnya agar membelanya

dalam kecintaan dengan hidup warak, takwa, ketaatan dan

pengabdian pada Allah swt.

Sesungguhnya merekalah Syi’ah Ahlulbait as., dan

Ahlulbait as. tahu persis seberapa tulus cinta Syi’ah pada

mereka. Ahlulbait as. ingin sekali menimpal balik cinta

Syi’ah mereka dengan cinta yang sepadan bahkan lebih dalam.

Maka itu, Ahlulbait as. meminta Syi’ah mereka untuk

mempersiapkan diri sehingga layak menerima cinta Ahlulbait

as. tersebut. Persiapan ini akan terpenuhi dengan

warak, takwa, ketaatan dan pengabdian pada Allah swt.

Saat itulah cinta Ahlulbait as. pada Syi’ah mereka merupakan

kepanjangan dan perluasan dari cinta demi Allah swt.

Perumpamaan Ahlulbait as. dalam cinta tak ubahnya

orang tua yang mencintai anaknya, dan seyogyanya si anak

menjaga statusnya sebagai orang yang layak mendapatkan

cinta orang tua dengan budi pekerti yang mulia, dan dia

tidak melakukan perbuatan seperti durhaka yang menyebabkan

mereka berdua mencabut cinta itu dari hatinya.

Musuh Syi’ah adalah Musuh Ahlulbait dan Cinta Syi’ah adalah

Cinta Ahlulbait

Cinta dan benci adalah dua perkara yang berelasi secara

imbal balik. Maka dari itu, tidak ada cinta bagi satu pihak

pada pihak yang lain kecuali pihak kedua ini memiliki cinta

yang seimbang dengan cinta yang dimiliki pihak pertama

itu.

Begitu pula pembelaan dan perlawanan adalah dua perkara

yang juga bersifat imbal balik. Yakni, sebagaimana kita

menentang musuh Ahlulbait as. dan membenci mereka serta

mendukung pecinta Ahlulbait as. dan mencintai mereka,

begitupula Ahlulbait as. menentang orang yang memusuhi

Syi’ah mereka dan membela orang yang mencintai Syi’ah

mereka.

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Najran: “Aku mendengar

Abul Hasan as. selalu berkata: “Barangsiapa memusuhi

Syi’ah kami maka telah memusuhi kami, dan barangsiapa

mendukung mereka maka dia telah mendukung kami,

karena Syi’ah kami adalah dari kami; mereka diciptakan

dari tanah kami. Barangsiapa mencintai mereka maka dia

juga dari kami, dan barangsiapa membenci mereka maka

dia bukanlah dari kami. Syi’ah kami melihat dengan cahaya

Allah swt., mereka bergelimang dalam rahmat-Nya dan

menjadi pemenang dengan kemuliaan-Nya”.[36]

Diriwayatkan pula[37] bahwa Abul Hasan as. berkata: “Barang

siapa memusuhi Syi’ah kami maka dia telah memusuhi

kami, dan barang siapa yang mendukung mereka maka dia

telah mendukung kami, karena mereka dari kami, mereka

diciptakan dari tanah kami. Barang siapa mencintai mereka

berarti dia dari kami, dan barang siapa membenci mereka

berarti dia bukan dari kami. Syi’ah kami melihat dengan

cahaya Allah swt., mereka bergelimang dalam rahmat Allah

dan menjadi pemenang dengan kemuliaan-Nya.

“Tak seorang pun dari Syi’ah kami yang sakit melainkan

kami juga sakit karena dia, tak ada seorang pun dari Syi’ah

kita yang bersedih melainkan kami juga berduka karena dia,

tak ada seorang pun dari Syi’ah kami yang gembira melainkan

kami pun bergembira karena dia, dan tak ada seorang

pun dari Syi’ah kami yang meninggal dunia di manapun dia

berada, di timur bumi maupun di barat, dan dia masih

berhutang kepada orang lain melainkan hutangnya menjadi

tanggungan kami, dan jika dia meninggalkan kekayaan

maka kekayaan itu untuk para pewarisnya.

“Syi’ah kami adalah orang-orang yang menegakkan

shalat, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji, berpuasa

di bulan Ramadhan, membela Ahlulbait as. dan

menentang musuh-musuh mereka. Syi’ah kami adalah

mereka yang kuat iman, takwa, dan warak.

“Barang siapa menolak mereka berarti menolak Allah

swt., dan barang siapa memfitnah mereka dia telah memfitnah

Allah swt., karena mereka adalah hamba-hamba

Allah yang sebenarnya, mereka adalah wali-wali Allah yang

sejujurnya. Demi Allah! Tiap-tiap mereka memberi syafaat

kepada sekian penduduk suku Rabi’ah dan Madhar (baca:

banyak sekali), maka Allah menerima mereka sebagai pem beri syafaat karena kedudukan mereka yang mulia di sisi-

Nya”.

Imbal Balik Hak-hak antara Ahlulbait as. dan Syi’ah

Ahlulbait as. dan Syi’ah tidak hanya berimbal balik untuk

membela mereka dan pecinta mereka. Selain dalam kebencian

dan penentangan terhadap musuh, di antara Ahlulbait

as. dan Syi’ah juga terdapat imbal balik dalam hak. Yakni,

sebagaimana Ahlulbait as. menanggung hak-hak yang harus

mereka penuhi untuk Syi’ah seperti memberi petunjuk dan

jalan yang benar menuju Allah swt., penhajaran hudud atau

undang-undang Allah, ibadah kepada Allah… Begitu pula

Syi’ah menanggung hak-hak yang harus mereka penuhi

untuk Ahlulbait as.

Abu Qatadah meriwayatkan dari Abu Abdillah Imam

Ja’far as. berkata: “Hak-hak Syi’ah kami yang harus kami

penuhi lebih wajib dari hak-hak kami yang harus mereka

penuhi”.

“Seseorang bertanya kepada Imam Ja’far as.: ‘Bagaimana

demikian itu terjadi, wahai putera Rasulullah saw.?’

Beliau menjawab: ‘Ya, karena mereka menimpa kita

sementara kita tidak menimpa mereka’”.[38] []


SYARAT-SYARAT SYI’AH

AHLULBAIT AS.

Syarat Umum Syi’ah Ahlulbait as.

Nilai yang kita perbincangkan seputar kepengikutan kepada

Ahlulbait as. dan penerimaan wilayah mereka tidak lepas

dari syarat-syarat umum. Wilayah dan dukungan itu tidak

membuahkan hasil kecuali dengan terealisasinya syaratsyarat

tersebut. Termasuk di antaranya adalah pengetahuan

tentang hukum agama atau fikih, ibadah, takwa, warak,

pertalian dan komunikasi bersama orang-orang mukmin

pada khususnya dan semua orang muslim pada umumnya,

disiplin, adab, budi pekerti dan pergaulan yang baik dengan

masyarakat, amanat, dan jujur dalam bertutur.

Tanpa semua itu, kepengikutan seseorang kepada Ahlulbait

as. bukanlah syi’ah dan wilayah yang sebenarnya,

karena syi’ah yang sejati adalah kepengikutan yang nyata

dan tulus bersama mereka as.

Berikut ini beberapa poin penting dari ajaran Ahlulbait

as. berkaitan dengan Syi’ah atau pengikut mereka:

Jadilah Hiasan, bukan Coreng

Imam-imam suci Ahlulbait as. memerintahkan Syi’ah agar

menjadi perhiasan bagi mereka dan bukan sebaliknya;

menjadi noda dan coreng bagi mereka, karena jika mereka

(Syi’ah) berbuat dengan akhlak Islam dan beradab sesuai

kesantunan Islam niscaya masyarakat akan menyanjung

Ahlul-bait as. seraya berkata: “Betapa indahnya Ahlulbait

as. mendidik dan menyucikan Syi’ah mereka”. Ini tentu

berbeda jika masyarakat menjumpai keburukan mereka

dalam pergaulan dan perilaku, juga tidak menegakkan

hukum Allah swt. serta halal dan haram-Nya, niscaya

masyarakat akan mencemooh Ahlulbait as. karena kelakuan

buruk mereka tersebut.

Sulaiman bin Mihran menceritakan: “Suatu hari aku

menemui Imam Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq as. yang

kebetulan pada saat itu ada beberapa orang dari pengikut

beliau di situ, beliau memanggil: ‘Wahai sekalian Syi’ah!

Jadilah kalian hiasan bagi kami dan jangan menjadi coreng

bagi kami, bertuturlah yang sopan dengan masyarakat,

jagalah lidah kalian, hindarilah campur tangan dan tutur

kata yang buruk”.

Diriwayatkan dari Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as.

berkata: “Wahai orang-orang Syi’ah! Sesungguhnya kalian

dikaitkan kepada kami, maka jadilah hiasan bagi kami dan

jangan jadi noda untuk kami…”.[39]

Diriwayatkan pula dari beliau berkata: “Sesungguhnya

Allah merahmati hamba-Nya yang menyebabkan kami

tercinta di tengah masyarakat, dan tidak menjadikan kami

dibenci mereka. Demi Allah, andaikan hamba-hamba Allah

itu meriwayatkan keindahan tutur kata kami, niscaya

mereka lebih mulia dan terhormat, dan tidak akan ada

seorangpun yang dapat menyanggah mereka”.[40]

Beliau juga berkata: “Allah swt. merahmati orang yang

menyebabkan kami tercinta di tengah masyarakat dan tidak

menjadikan kami dibenci mereka. Sungguh demi Allah! Andaikan

hamba-hamba Allah itu (Syi’ah) meriwayatkan keindahan

bicara kami, niscaya mereka lebih mulia dan

terhormat, serta tidak akan ada seorangpun yang mampu

menyanggah mereka. Namun sayang! Sebagian dari mereka

mendengar satu kata dan menambahkan puluhan kata (saat

menukilnya)”.[41]

Dalam riwayat lain beliau berkata: “Wahai Abdul A’la!

Sampaikan salamku kepada mereka (Syi’ah) wa rahmatullah

dan katakan kepada mereka: ‘Allah swt. merahmati orang

yang memikat cinta masyarakat pada dirinya juga pada

kami dengan cara menampilkan sesuatu yang makruf pada

mereka, dan menghindarkan sesuatu yang munkar dari

mereka’”.[42]

Diriwayatkan juga bahwa Imam Ja’far Ash-Shadiq as.

berkata: “Wahai orang-orang Syi’ah, jadilah hiasan bagi

kami dan jangan menjadi noda untuk kami, berbicaralah

santun kepada masyarakat, jagalah lidah kalian, dan hindarilah

campur tangan dalam urusan orang lain dan perkataan

yang buruk”[43]

Ahulbait as. Memberi Syafaat di Sisi Allah swt. dan

Senantiasa Bergantung kepada-Nya

Sesungguhnya Ahlulbait as. tidak butuh kepada selain Allah

swt., tetapi mereka senantiasa bergantung sepenuhnya

kepada-Nya. Mereka memberi syafaat dengan izin Allah

dan tidak akan pernah memberi syafaat pada siapapun

tanpa seizin-Nya.

Maka barang siapa yang ingin merasa cukup dan tidak

butuh ketaatan kepada Allah, ibadah kepada-Nya, takwa

dan warak serta hanya bermodalkan cinta dan wilayah

Ahlulbait as., maka ketahuilah dia telah menapaki jalan

selain Ahlulbait as. dan mengikuti mazhab selain mereka.

Dan dengan demikian, dia tidak akan memetik buah yang

diharapkan dari kecintaannya pada Ahlulbait as.

Amr bin Sa’id bin Bilal berkata: “Suatu saat aku menemui

Abu Ja’far Muhammad Baqir as. Di sekitar beliau

tampak ada sekelompok orang. Kepada mereka Imam berkata:

‘Ambillah jalan tengah! Orang yang berlebihan akan

kembali pada kalian dan orang yang akan datang akan

bergabung bersama kalian. Ketahuliah wahai Syi’ah dan

pengikut keluarga Muhammad saw.! Tidak ada kekerabatan

antara kami dengan Allah swt., diri kami juga tidak menjadi

hujah di hadapan Allah, dan kedekatan pada Allah tidak

akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan pada-Nya. Maka

barang siapa yang taat pada Allah, maka wilayah dan

cintanya pada kami akan bermanfaat baginya, dan barangsiapa

yang menentang maka cintanya tak lagi berarti sama

sekali’.

“Kemudian beliau mengalihkan perhatian kepada kami

seraya berkata: ‘Jangan memperdaya dan jangan berdusta

atau membuat-buat’”.[44]

Maka itu, barang siapa yang menghendaki Ahlulbait as.

dan ingin mengikuti ajaran mereka serta berwilayah kepada

mereka, maka dia harus sadar bahwa Ahlulbait as. tidak

memiliki keuntungan maupun bahaya, baik pada diri mereka

sendiri maupun untuk orang lain, kecuali dengan izin

Allah swt. dan kehendak-Nya. Mereka hanyalah hambahamba

ciptaan Allah yang dekat pada-Nya.

Sudah barang tentu, orang yang menghendaki Ahlulbait

as. dan berharap kedekatan diri pada Allah dan syafaat di

sisinya melalui cinta pada mereka, maka seyogyanya dia

bertakwa kepada Allah dan menempuh jalan orang-orang

saleh.

Diriwayatkan bahwa Imam Ali as. berkata: “Bertakwalah

pada Allah, janganlah kalian terperdaya oleh orang lain,

janganlah kalian termakan dusta orang lain. Ketahuilah

bahwa agamaku adalah agama yang satu, agama (Nabi)

Adam yang diridhai Allah swt.; aku hanyalah hamba ciptaan-

Nya, dan aku tidak memiliki jaminan atau bahaya pada

diriku sendiri kecuali apa yang dikehendaki Allah, dan aku

tidak berkehendak kecuali apa yang Allah kehendaki”.[45]

Warak dan Takwa

Kita tidak menemukan wasiat Ahlulbait as. kepada Syi’ah

mereka yang lebih banyak dari wasiat mereka tentang takwa

dan warak dalam kehidupan. Syi’ah Ahlulbait as. adalah

orang yang mengikuti dan menyertai mereka dalam hal

takwa dan warak. Merekalah orang yang lebih bertakwa

dan warak serta lebih dekat atau mirip pada Ahlulbait as.,

bukankah inti tasyayyu’ adalah kepengikutan dan peneladanan.

Maka orang yang ingin mengikuti dan meneladani

Ahlulbait as. tidak akan menemukan jalan selain ketaatan

kepada Allah, warak dan takwa kepada-Nya.

Abu Shabah al-Kanani meriwayatkan: “Aku katakan

kepada Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as.: ‘Di Kufah, kita

dicemooh karena nama kalian (Ahlulbait). Mereka memanggil

kita dengan sebutan Ja’fariyah’. Maka beliau marah

seraya berkata: “Sesungguhnya sahabat Ja’far di antara

kalian tidaklah banyak, karena sahabat Ja’far adalah orang yang waraknya sangat kuat dan hanya beramal untuk

Penciptanya; Allah swt. ‘”.[46]

Amr bin Yahya bin Bisam berkata aku mendengar Abu

Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as. berkata demikian: “Sesungguhnya

orang yang benar-benar warak adalah keluarga

Muhammad saw. dan Syi’ah mereka”.[47]

Diriwayatkan pula dari Imam Ja’far Ash-Shadiq: “Syi’ah

kami adalah warak dan pekerja, mereka adalah orang-orang

yang percaya dan terpercaya, ahli zuhud dan ibadah, senantiasa

menunaikan lima puluh satu rakaat shalat sehari

semalam, orang-orang yang terjaga di malam hari dan

berpuasa di siang hari. Mereka menunaikan ibadah haji ke

Baitul Haram … dan menjaga diri dari segala yang haram”.[48]

Beliau juga berkata: “Demi Allah, Syi’ah Ali as. tidak

lain adalah orang yang suci perut dan kemaluannya, orang

yang beramal hanya untuk Penciptanya, dan mengharapkan

pahala-Nya serta takut akan siksa-Nya”.[49]

Dalam riwayat yang lain beliau berkata: “Wahai Syi’ah

keluarga Muhammad saw.! Sesungguhnya bukanlah dari

kami orang yang tidak menguasai dirinya pada saat marah,

tidak berkata sopan pada orang yang berbicara dengannya,

tidak menjaga persahabatannya dengan orang yang bersamanya,

dan tidak memegang janji perdamaian dengan

orang yang mengajaknya berdamai”.[50]

Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata: “Bukan dari

Syi’ah kami orang yang berada di kota atau sebuah daerah

dan dia memiliki ribuan harta sementara di sana terdapat

orang yang lebih warak dari dia”.[51]

Kalib bin Muawiyah al-Asadi berkata saya mendengar

Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Demi

Allah! Sesungguhnya kalian berada di atas agama Allah dan

agama malaikat-Nya, maka bantulah kami dengan warak

dan usaha yang sungguh-sungguh!”[52]

Perawi yang sama juga melaporkan: “Aku mendengar

Imam Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq as. berkata: ‘Demi

Allah, sesungguhnya kalian di atas agama Allah dan

malaikatNya, maka bantulah kami dalam hal itu dengan

warak dan usaha keras. Perhatikanlah shalat malam dan

ibadah kalian, perhatikanlah warak kalian!’”[53]

Penulis buku Bashairu Darajat meriwayatkan dari

Murazim berkata: “Suatu hari aku memasuki kota Madinah,

aku melihat seorang wanita di rumah yang aku tempati saat

itu, aku begitu tertarik padanya tapi dia menolak untuk

menikah denganku”.

Murazim melanjutkan: “Maka aku mendatangi wanita

itu di petang hari. Kuketuk pintu kamarnya, ternyata dia

sendiri yang membukakan pintu. Segera dia letakkan tanganku

di atas dadanya dan dia bersegera sampai aku

masuk. Pagi harinya aku datang pada Abul Hasan as, maka

dia berkata: ‘Wahai Murazim! Bukanlah dari Syi’ah kami

orang yang sendirian namun tidak menjaga hatinya’”.[54]

Dalam sebuah riwayat disebutkan, ada seorang berkata

kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, si fulan melihat

kehormatan (keluarga) tetangganya, dan apabila dia berkesempatan

untuk melakukan perbuatan haram, niscaya dia

tidak akan menjaga diri dari hal itu”. Mendengar itu, Rasulullah

saw. marah. Lalu orang itu menambahkan: “Meski

begitu, dia termasuk orang yang meyakini dirinya berwi layah kepadamu, mendukung Ali dan menentang musuhmusuh

kalian”. Maka Rasulullah saw. bersabda: “Jangan

katakan dia dari Syi’ah kami! Sungguh dia telah berdusta.

Syi’ah kami adalah orang yang mengikuti perilaku kami,

dan apa yang kamu katakan tadi tentang perbuatan orang

itu tidak termasuk dari perilaku kami”.[55]

Seorang berkata pada Imam Hasan bin Ali as.: “Aku

adalah salah satu dari Syi’ah kalian”. Maka Imam Hasan bin

Ali as. berkata padanya: “Wahai hamba Allah! Jika kamu

mengikuti kami dan mentaati perintah dan larangan kami,

berarti kamu benar, dan jika ternyata kamu bertentangan

dengan itu, maka janganlah menambah dosamu dengan

pengakuanmu akan derajat mulia yang bukan milikmu.

Jangan katakan pada kami bahwa aku adalah Syi’ah kalian,

tapi katakanlah bahwa aku adalah salah satu pecinta dan

pendukung kalian serta musuh lawan kalian”.[56]

Seorang lagi berkata pada Imam Husain as.: “Wahai

putra Rasul, aku adalah Syi’ahmu”. Husain as. berkata:

“Sesungguhnya Syi’ah kami adalah orang yang hatinya

bersih dari pengkhianatan dan kedengkian yang terselubung”.

Disebutkan dalam kitab Abul Qasim bin Qoulawaih,

riwayat dari Muhammad bin Umar bin Handzalah berkata:

“Abu Abdillah as. berkata: “Bukan dari Syi’ah kami orang

yang mengucapkan dengan lidahnya—bahwa aku adalah

Syi’ah Ahlulbait as.—tetapi tingkah laku dan sikapnya bertentangan

dengan adab dan perilaku kami. Syi’ah kami

adalah orang yang menyerupai kami dengan mulut dan

hatinya, mengikuti adab kami serta meneladani amal perbuatan

kami, mereka adalah Syi’ah kami yang sebenarnya”.[57]

Ibadah

Abul Miqdam meriwayatkan bahwa Abu Ja’far Imam Muhammad

Baqir as. berkata padanya: “Wahai Abul Miqdam,

sesungguhnya Syi’ah Ali as. adalah orang-orang yang pucat,

kurus kerontang, lemas, bibirnya kering, perutnya langsing,

warnanya berubah-ubah, wajahnya kuning. Apabila malam

telah menyelimuti mereka, mereka jadikan bumi sebagai

tempat tidur dan mengalasinya dengan dahi. Mereka adalah

orang yang banyak sujud, bercucuran air mata, banyak

berdoa, dan meratap. Mereka bersedih di saat orang-orang

bergembira”.[58]

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di suatu

malam yang terang dan cerah, Amirul Mukminin Ali bin

Abi Thalib as. keluar dari masjid menuju gurun sahara. Dari

belakang, sekelompok orang mengikuti jejak beliau. Beliau

berhenti menghadap mereka dan bertanya: “Siapa kalian?”

Mereka menjawab: “Kami adalah Syi’ahmu, wahai

Amirul Mukminin!”

Maka beliau meneliti dengan cermat wajah-wajah mereka

lalu berkata: “Lalu kenapa saya tidak melihat tandatanda

Syi’ah pada kalian?”.

Mereka balik bertanya: “Apa tanda orang Syi’ah, wahai

Amirul Mukminin?”.

Beliau pun menjawab: “Wajah mereka kuning pucat

karena terjaga di malam hari, mata mereka buram karena

menangis, punggung mereka bongkok karena berdiri shalat,

perut mereka kosong karena puasa, bibir mereka kering

karena berdoa, dan pada mereka terdapat debu-debu orang

yang khusyuk”.[59]

Abu Nashir meriwayatkan dari Imam Ja’far Ash-Shadiq

as. berkata: “Syi’ah kami adalah ahli warak dan usaha keras,

orang-orang yang setia dan terpercaya, ahli zuhud dan

ibadah, pelaku lima puluh satu rakaat shalat dalam sehari

semalam, berjaga di malam hari untuk melaksanakan shalat

tahajud, berpuasa di siang hari, mengeluarkan zakat dari

harta mereka, menunaikan haji ke Baitul Haram, dan menghindari

semua yang haram”.[60]

Syaikh Shaduq dalam Shifatus Syi’ah meriwayatkan dari

Muhammad bin Shaleh, dari Abul Abbas ad-Dainuri, dari

Muhammad bin al-Hanafiah berkata: “Ketika Amirul Mukminin

as. datang ke Basrah setelah perang Jamal, Ahnaf bin

Qais ingin mengundang dan menjamu beliau. Dia mengutus

seseorang kepada beliau dan sahabatnya. Amirul Mukminin

as. datang memenuhi undangan dan berkata: “Wahai Ahnaf,

panggillah sahabat-sahabatku!” Maka masuklah sekelompok

orang dalam keadaan tunduk seperti geriba yang telah

usang. Segera Ahnaf bin Qais berkata keheranan: “Wahai

Amirul Mukminin, apa yang telah menimpa mereka sampai

seperti ini? Apakah karena kurang makan? Atau karena

dahsyatnya peperangan?”

Maka Amirul Mukminin as. berkata padanya: “Tidak

wahai Ahnaf! Sesungguhnya Allah swt. meperlakukan[61] kelompok

orang yang beramal ibadah di dunia terhina seperti

orang yang sedang menyergap Hari Kiamat sebelum mereka

menyaksikannya secara langsung, maka mereka memaksa

diri sekuat tenaga. Mereka adalah orang-orang yang jika

diingatkan Hari Pengajuan di hadapan Allah swt. membayangkan

keluarnya buku amal mereka yang menampilkan

dosa-dosa mereka pada juru-juru kesaksian, dengan begitu diri mereka menjadi luluh, hati mereka terbang melesat

dengan sayap-sayap keresahan, dan akal mereka meninggalkan

diri mereka menuju Allah dalam keadaan mendidih.

“Mereka menangis seperti orang yang tersesat di malam

yang gelap, mereka risau karena takut akan apa yang telah

direncanakan pada diri mereka. Karena itu, mereka berjalan

dengan tubuh lunglai, hati yang sedih, wajah yang muram,

bibir yang kering dan perut yang kosong. Kalian saksikan

mereka seperti orang mabuk, terpaku di malam yang mengerikan,

tunduk seakan geriba yang telah usang. Mereka

ikhlaskan hanya demi Allah swt. seluruh perbuatan mereka,

baik yang rahasia maupun yang terang-terangan. Hati mereka

tidak pernah merasa aman karena takut pada Allah.

Apabila kau lihat mereka di tengah malam, di saat mata

telah tidur lelap, keadaan telah sunyi, gerakan telah diam

dan tenang, namun Hari Kiamat beserta janji-janjinya

sungguh menghantui dan menahan mereka dari tidur,

seperti janji dalam al-Qur’an:

﴿ أفَأمِنَ أهلُ القُ رَی أن يََتِيَهُم بََسُنَا بَ يَاتًَ وَ هُم نَائِمُونَ ﴾ “Apakah penduduk daerah merasa aman dari siksa yang

akan menyergap mereka di malam hari saat mereka tidur

lelap”.[62]

“Mereka terjaga di waktu malam dengan penuh rasa takut,

mereka bangkit untuk menunaikan shalat sambil meratap

dan menangis, kadang kala mereka bertasbih dan menangis

dengan suara keras di mihrab-mihrab, berbaris (shalat dan

beribadah) di malam yang gelap gulita sambil mecucurkan

air mata.

“Wahai Ahnaf! Jika kamu melihat mereka di waktu

malam, mereka berada dalam keadaan tubuh berdiri tegak

dengan punggung membongkok, membaca ayat-ayat al-

Qur’an dalam shalat, tangis dan ratapan, serta nafas panjang

mereka semakin meningkat. Apabila mereka menarik napas

panjang, seakan api telah menjilat sampai ke tenggorokan

mereka. Dan mereka menangis seakan-akan rantai sedang

membelenggu leher mereka.

“Di waktu siang, kamu akan melihat mereka berjalan di

muka bumi dengan tenang dan merendah, bertutur manis

dengan masyarakat “dan sewaktu orang-orang bodoh mencemooh

mereka, mereka mengucapkan salam, dan sewaktu menemui kesiasiaan

mereka melewatinya dengan mulia”[63] , menahan setiap

langkah dari prasangka. Mereka membungkam mulut dari

perbincangan tentang kehormatan keluarga orang. Mereka

penuhi telinga mereka untuk diselami para penyelam, mereka

hiasi mata dengan mencegah pandangan dari maksiat,

mereka terobos darussalam (istana keselamatan); barangsiapa

memasukinya niscaya akan terjaga dari keraguan dan bebas

dari kesedihan”.[64]

Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata:

“Suatu hari Ali bin Husain as. duduk di rumahnya. Tibatiba

seseorang mengetuk pintu, maka beliau menyuruh

pembantunya seraya berkata: ‘Lihatlah siapa gerangan di

depan pintu’. Dia berkata: “Sekelompok dari Syi’ahmu”.

Mendengar itu, beliau bergegas bangkit sehingga nyaris

terjatuh. Ketika pintu terbuka dan beliau memandang

mereka yang datang, beliau berbalik seraya berkata: ‘Lalu

mana tanda-tanda Syi’ah di wajah-wajah itu? Mana pengaruh

ibadah pada diri mereka? Mana tanda sujud itu?

Sesungguhnya Syi’ah kami dikenal dengan ibadah dan

tampang mereka yang kusut. Ibadah telah melukai hidung

mereka (berarti sangat banyak beribadah), dahi dan anggota

sujud lainnya tebal dan tertutup, perut yang kosong, bibir

yang kering, wajah mereka berkobar karena ibadah, begadang

malam dan usaha keras di waktu siang yang panas

membuat tubuh mereka jadi usang. Mereka adalah orangorang

yang bertasbih di saat orang lain diam, yang melakukan

ibadah shalat di saat orang lain tidur. Mereka adalah

orang-orang yang sedih di saat orang lain gembira’”.[65]

Nauf bin Abdillah al-Bakkali meriwayatkan bahwa

Imam Ali as. berkata padanya: “Wahai Nauf, kami—Ahlulbait—

diciptakan dari tanah yang terbaik, dan Syi’ah kami

diciptakan dari tanah itu. Maka ketika Hari Kiamat datang,

mereka akan disatukan bersama kami”.

Nauf melanjutkan dengan sebuah permintaan: “Jelaskan

sifat-sifat Syi’ahmu kepadaku, wahai Amirul Mukminin!”

Seketika itu pula Imam Ali as. menangis karena teringat

Syi’ahnya seraya berkata: “Wahai Nauf, demi Allah Syi’ahku

adalah orang-orang yang murah hati, ulama yang

mengenal Allah dan agamanya, yang bertindak di jalan

ketaatan dan perintah-Nya, orang yang memperoleh hidayah

dengan cinta-Nya. Mereka kurus lantaran ibadah,

warna mereka hitam kemerah-merahan karena zuhud,

wajah mereka pucat karena tahajud, mata mereka cekung

dan samar karena tangis, bibir mereka kering karena zikir,

perut mereka kosong karena lapar. Ketuhanan dan kesalehan

tampak pada wajah-wajah mereka di samping kerahiban

yang turut menandai. Mereka adalah lentera-lentera

yang menerangi segala kegelapan, kembang setiap kabilah,

perbuatan buruk mereka terhindar dari masyarakat, hati mereka sedih, jiwa mereka suci, kebutuhan mereka sederhana,

diri mereka selalu dalam kesulitan karena diri mereka

sendiri, akan tetapi masyarakat senantiasa tenang dengan

keberadaan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pandai

yang berakal, tulus dan mulia. Di kala hadir mereka tak

dikenal, di kala absen orang-orang tak merasa kehilangan.

Mereka adalah Syi’ahku yang terbaik dan saudaraku yang

termulia. Ah…sungguh aku sangat merindukan mereka”.[66]

Rahib di Waktu Malam dan Tuan di Waktu Siang

Nauf bercerita suatu malam dia pernah tidur bersama

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. di loteng rumahnya,

beliau bangkit untuk shalat malam dan melihat ke arah

bintang-bintang seperti orang yang bingung kemudian

bertanya: “Hai Nauf, apakah kamu sedang tidur atau

terjaga?”

Nauf menjawab bahwa dirinya terjaga. Maka beliau

melanjutkan perkataanya wahai Nauf: “Tahukah siapakah

Syi’ahku? Syi’ahku adalah orang-orang yang berbibir kering

dan memiliki perut kosong. Mereka ditandai dengan

kerahiban dan kesalehan atau ketuhanan di wajah mereka,

rahib di waktu malam dan tuan di saat siang. Ketika malam

telah tiba, mereka melingkarkan kain di pinggang mereka

dan kembali ke posisi tubuh yang tegak. Mereka bariskan

kaki, mereka tapakkan dahi. Mereka cucurkan air mata di

pipi, berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah agar diselamatkan

dari siksa. Adapun di siang hari, mereka begitu

bermurah hati, alim, baik dan bertakwa”.[67]

Kalimat “rahib di waktu malam dan tuan di waktu

siang” adalah ungkapan lembut yang ingin menyampaikan kondisi yang betul-betul stabil dalam tingkah laku mereka

di malam dan siang hari. Mereka adalah penguasa negeri

malam saat gelap datang. Kita akan menyaksikan mereka

dalam keadaan rukuk dan sujud, khusyuk di hadapan Allah

swt. dan berdoa kepada-Nya agar dibebaskan dari neraka.

Tatkala siang menjelang, mereka tampil bak pahlawan

di semua medan. Mereka sungguh cendekiawan yang

santun dan saleh, melawan tantangan, sabar dan tangguh.

Tanda seorang hamba adalah ketika sahar mengapit,

mereka sibuk khusyuk di hadapan Allah

Dan ketika waktu dhuha terbit, pedang-pedang tajam

melihat mereka laksana manusia merdeka

Mereka adalah perwujudan dari zikir di waktu malam dan

takwa di waktu siang. Di sinilah inti keseimbangan antara

malam dan siang dalam kehidupan Syi’ah Ahlulbait as.

Pelaku Lima Puluh Satu Rakaat Shalat di Siang dan Malam

Diriwiayatkan dari Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata:

“Syi’ah kami adalah orang-orang yang warak dan bersungguh-

sungguh, setia dan terpercaya, zahid dan abid, pelaku

lima puluh satu rakaat shalat di setiap hari dan malam,

orang yang berpuasa di waktu siang, mengeluarkan zakat

dari harta-harta mereka, menunaikan ibadah haji di baitul

haram, dan menghindari segala hal yang haram”.[68]

Imam Muhammad Baqir as. berkata: “Syi’ah kami tidak

lain adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan

taat pada-Nya, tidak lain mereka dikenal dengan rendah

diri, khusyuk, menjaga amanat dan banyak berzikir kepada

Allah serta …”.[69]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Syi’ah kami adalah

orang-orang yang kurus kering dan lesu, apabila malam

menyelimuti mereka, mereka menyambutnya dengan kesedihan”.[70]

Abu Hamzah Tsumali meriwayatkan dari Yahya bin

Ummu Thawil yang menceritakan kisah Nauf al-Bakkali

berkata: “Suatu saat aku hendak menjumpai Amiril Mukminin

Ali bin Abi Thalib as. untuk suatu keperluan. Untuk

itu, aku mengajak Jundub bin Zuhair, Rabi’ bin Khaitsam

dan keponakannya yang bernama Hammam bin Ubadah bin

Khaitsam. Kita bertiga menghadap beliau dan ternyata kita

mendapatkan beliau keluar menuju masjid, dan secara

bersamaan kita semua sampai di suatu tempat dan menyaksikan

sekelompok orang gendut yang banyut dalam

perbincangan panjang lebar sambil mengunyah buahbuahan.

Sebagian dari mereka meledek sebagian yang lain.

Namun ketika Amirul Mukminin as. tiba, mereka bergegas

bangkit dan mengucapkan salam, beliau pun menjawab

salam seraya bertanya: ‘Siapakah mereka?’ Dijawab oleh

sebagian orang: ‘Mereka dari Syi’ahmu, wahai Amirul

Mukminin as.’. Beliau berkata santun dan melanjutkan:

‘Tapi kenapa aku tidak melihat tanda-tanda Syi’ah pada diri

mereka, begitu pula tidak tampak hiasan kekasih-kekasih

kami Ahlulbait as.? Memestinya mereka malu!’

Nauf melanjutkan: “Jundub dan Rabi’ membuka mulut

dan menimpali perkataan Imam Ali tersebut: ‘Apakah tanda

dan sifat Syi’ah Ahlulbait, wahai Amirul Mukminin?’ Beliau

agak keberatan untuk menjawab pertanyaan ini seraya

berkata singkat: ‘Bertakwalah kepada Allah, wahai dua pria

dan berbuatlah baik! Sesungguhnya Allah bersama orangorang

yang bertakwa dan mereka yang berbuat baik’.

﴿ وا اَم حَسِبَ المذِينَ اجتَََحُوا ال م سي ئَاتِ أن نََعَلَهُم كَالمذِينَ آمَنُوا وَ عَمِلُ

ال م صالَِْاتِ سَوَاءً مَحيَاهُم وَ مَََاتُ هُم سَاءَ مَا يََكُمُونَ ﴾

“Apakah kalian sangka orang-orang yang melakukan

perbuatan-perbuatan buruk akan kami jadikan mereka

seperti orang-orang yang beriman dan beramal saleh, baik

kehidupan maupun kematian mereka, sungguh buruk apa

yang mereka putuskan”.[71]

“Kemudian Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. meletakkan

tangannya di pundak Hammam bin Ubadah seraya

berkata:

“Perhatikanlah, siapa yang bertanya tentang Syi’ah

Ahlulbait as. yang telah dijauhkan oleh Allah swt. dari noda

dan menyucikan mereka sebagaimana disinyalir dalam al-

Qur’an bersama Nabi-Nya. Mereka (Syi’ah Ahlulbait as.)

adalah orang yang mengenal Allah swt., pelaksana perintah

Allah, pemilik keutamaan dan anugerah Tuhan. Ucapan

meraka benar, pakaian mereka hemat dan sederhana, jalan

mereka rendah diri. Mereka patuh pada Allah swt. dan

mentaati-Nya, tunduk dengan menyembah-Nya.

“Mereka berjalan dalam keadaan menutup mata dari

semua yang dilarang oleh Allah atas mereka, mengendalikan

indra pendengar di atas kesadaran akan agama

mereka, kondisi sebagian dari mereka yang tertimpa bencana

seperti orang yang berlimpah kemakmuran. Mereka

rela atas ketentuan Allah, andai bukan karena ajal yang

telah ditetapkan Allah atas mereka, niscaya arwah mereka

tidak akan menetap dalam tubuh walau hanya sekejap mata,

karena mereka betul-betul rindu untuk bertemu Allah swt.

dan meraih pahala dari-Nya serta karena takut akan siksa-Nya.

“Sang Pencipta begitu agung dalam diri mereka. Selain

Dia, semua kecil di mata mereka. Hubungan mereka dengan

surga seperti orang yang melihatnya secara langsung. Di

saat berada di dalamnya, mereka bersandar pada bantalbantal.

Dan hubungan mereka dengan neraka seperti orang

yang memasukinya di saat-saat mereka tersiksa di dalamnya.

Hati mereka sedih, orang lain terjamin dari perbuatan

buruk mereka, tubuh mereka ramping, kebutuhan mereka

ringan, jiwa mereka suci dan bakti mereka terhadap Islam

sungguh besar. Mereka bersabar hanya untuk beberapa hari

yang tidak banyak, setelah itu menemui kebahagiaan yang

panjang sebagai perniagaan untung yang telah dimudahkan

oleh Tuhan Yang Mulia untuk mereka. Mereka adalah orang

yang sopan dan pandai. Dunia menghendaki mereka namun

mereka sendiri tidak menginginkannya, dunia menuntut

mereka namun mereka kalahkan dunia.

“Adapun di waktu malam, kaki mereka berbaris, membaca

ayat-ayat al-Qur’an begitu indah dan tartil, menasihati

diri mereka sendiri dengan perumpamaan-perumpamaan

yang diutarakan al-Qur’an, mengobati penyakit mereka

dengan obat yang ditawarkan al-Qur’an. Kadang kala di

waktu malam, mereka tapakkan dahi, telapak tangan, lutut

dan ujung jari kaki mereka. Air mata mengalir deras di permukaan

pipi mereka. Mereka mengagungkan Allah Yang

Maha Perkasa dan Besar. Mereka berdoa sepenuh hati pada-

Nya agar diselamatkan dari siksa api neraka.

“Itulah mereka di waktu malam. Adapun di waktu siang

maka mereka adalah orang yang murah hati, cendekiawan,

baik dan bertakw. Ketakutan mereka pada Allah swt. telah

menguruslemahkan diri mereka. Mereka seperti anak-anak

panah, setiap orang yang memandang mereka menyangka

mereka sakit padahal mereka tidaklah demikian, atau mengira

mereka tidak normal, padahal mereka hanya terlihat ⌂⌂⌂

seperti itu karena keagungan Tuhan yang mereka saksikan.

Kerajaan-Nya yang telah menguasai mereka adalah perkara

agung yang membuat hati mereka luluh dan menjadikan

akal mereka lumpuh di hadapan-Nya.

“Ketika mereka kembali tegak seperti semula, segera

mereka menuju Allah dengan amalan yang suci. Mereka

tidak pernah rela atas perbuatan yang sedikit demi Dia, dan

tidak menuntut pahala yang berlimpah atas perbuatan yang

banyak.

“Mereka senantiasa menuduh diri mereka sendiri dan

takut akan apa yang mereka lakukan. Apabila seseorang

dari mereka dipuji, niscaya dia akan takut atas apa yang

mereka katakan berupa pujian seraya berkata: ‘Aku lebih

tahu diriku sendiri daripada orang lain, dan Tuhanku Maha

Tahu dariku. Ya Allah, janganlah Engkau panggil dan siksa

aku karena apa yang mereka katakan, jadikanlah yang

terbaik dari apa yang mereka sangka, ampunilah dosadosaku

yang tidak mereka ketahui. Sesungguhnya Engkau

Maha Tahu hal-hal yang gaib dan Maha Penutup segala aib’.

“Itulah mereka. Salah satu tanda mereka adalah kamu

melihatnya kokoh dalam agama, waspada dalam kelembutan,

mukmin dalam keyakinan, serakah akan ilmu,

mengerti dalam ketelitian fikih, pandai dalam kemurahan

hati, hemat dalam kekayaan, indah dalam kefakiran, sabar

dalam kesulitan, khusyuk dalam ibadah, memberi dalam

hak yang semestinya milik dia, bersahabat dalam perniagaan,

mencari nafkah dalam perkara yang halal, bergairah

dalam hidayah, menjaga diri dalam syahwat dan berbakti

dalam istiqomah.

“Dia tidak terperdaya oleh apa yang tidak diketahuinya,

tidak melupakan perhitungan apa yang dilakukannya,

senantiasa menganggap dirinya lambat dalam beramal, dan

acap malu bahkan atas amal saleh yang telah dia lakukan.

“Mereka memulai pagi hari dengan kesibukan berzikir,

memasuki sore hari dengan kegelisahan bersyukur, dan

tidur dalam keadaan waspada dan takut akan kantuk

kelalaian, kemudian kembali bangun pagi dengan bahagia

atas anugerah dan rahmat yang diberikan Allah.

“Ketika merasa sulit dan berat terhadap apa yang tidak

disenanginya, mereka tidak akan pernah memenuhi permintaannya

atas apa yang dikehendaki. Keinginan mereka

berpusat pada hal-hal yang kekal, dan kezuhudan mereka

seputar hal-hal yang fana dan hilang.

“Mereka dampingkan amal dan ilmu, jodohkan ilmu

dan kemurahan hati. Ketekunan mereka langgeng, kemalasan

mereka jauh, angan-angan mereka pendek, ketergilinciran

mereka langka, ajal mereka senantiasa dinantikan,

hati mereka khusyuk mengingat Tuhan, diri mereka rela

dan puas, kebodohan mereka membujang, agama mereka

terjaga, penyakit mereka mati, amarah mereka terpendam,

budi pekerti mereka jernih, tetangga merekea aman dari

ulahnya, urusan mereka mudah, kesombongan mereka tak

tersisa, kesabaran mereka jelas, zikir mereka banyak, tidak

beramal baik secara riya’ atau karena pujian orang lain, juga

tidak meninggalkan amal baik itu hanya karena malu.

Kebaikan mereka selalu diharapkan dan keburukan mereka

selalu teredam.

“Apabila berada di antara orang-orang yang lalai,

mereka akan ditulis di kelompok orang-orang yang ingat,

dan apabila berada di tengah orang-orang yang ingat,

mereka tidak akan ditulis di kelompok mereka yang lalai.

Mereka memaafkan orang yang telah berlaku zalim terhadap

mereka, santun kepada orang yang enggan memberi

mereka, dan menyambung hubungan silaturahmi dengan

orang yang memutusnya.

“Amal makruf mereka santun, tutur kata mereka jujur,

perilaku mereka mulia, kebaikan mereka terdepan, keburukan

mereka terbelakang, tipu daya mereka terjauhkan.

Mereka tegar di tengah bencana, sabar di tengah kesulitan,

bersyukur di tengah kemudahan, tidak berbuat semenamena

terhadap orang yang dibenci, tidak menyakiti orang

yang dicintai, tidak mengaku apa yang bukan miliknya dan

tidak menolak hak orang lain terhadap dirinya. Mereka

mengakui hak tertentu sebelum dihadirkan saksi untuk itu,

mereka tidak menyia-nyiakan apa yang harus dijaga dan

tidak bermain-main dengan nama panggilan atau sebutan.

“Mereka tidak bertindak sewenang-wenang terhadap

orang lain, tidak dikuasai oleh iri dan dengki, tidak membahayakan

tetangga dan tidak mengutuk musibah yang menimpa.

Mereka menjalankan amanat secara baik, bertindak

penuh taat, bergegas pada kebajikan dan lambat pada

keburukan. Mereka mengajak yang makruf sekaligus melakukannya,

mereka melarang yang munkar sekaligus menghindarinya,

mereka tidak memasuki perkara secara bodoh

dan tidak keluar dari kebenaran karena lemah.

“Apabila diam, sungguh mereka tidak gelisah akan

keadaan diam itu, begitu pula saat berbicara, mereka tidak

gundah akan kata-kata yang telah diucapkan. Dan jika mereka

tertawa, tidak terbahak-bahak.

“Mereka adalah orang yang qana’ah atau rela atas takdirnya,

tidak dikendalikan oleh amarah, tidak dikuasai oleh

hawa nafsu, tidak didominasi oleh kikir. Mereka bergaul

dengan masyarakat atas dasar pengetahuan dan berpisah

dari mereka atas dasar kedamaian. Mereka berbicara untuk

mendapatkan manfaat, bertanya agar faham. Mereka susah

atas diri mereka sendiri sementara orang lain nyaman dengan

keberadaan mereka. Mereka menjamin orang lain dari diri mereka, dan mereka susahkan diri sendiri untuk meraih

akhirat yang utama.

“Mereka bersabar apabila diperlakukan mazlum oleh

orang lain sampai Allah menjadi penolong dan pembalas

dendamnya. Mereka meneladani orang-orang mulia sebelum

mereka, dan teladan bagi orang-orang setelah mereka.

“Mereka adalah pekerja-pekerja Allah, kendaraan titah

dan ketaatan-Nya, lentera bumi dan makhluk-Nya. Mereka

adalah Syi’ah dan kekasih kami, mereka dari kami dan

bersama kami. Oh …Bbetapa kami merindukan mereka!”

Tiba-tiba Hammam bin Ubadah berteriak histeris sampai

terjatuh pingsan. Orang-orang pun menggerak-gerakkan

tubuhnya, namun begitu cepat ia meninggalkan dunia fana.

Semoga Allah merahmatinya!

Melihat demikian, Rabi’ menangis bercucuran air mata

seraya berkata: “Andaikan aku lebih cepat memintamu

untuk menasihatiku, wahai Amirul Mukminin, daripada

keponakanku! Andai aku menghendakinya lebih dulu dan

aku berada di posisi dia!”

Maka Amirul Mukminin as. berkata: “Beginilah apa

yang dilakukan oleh nasihat yang sempurna dan fasih terhadap

penerimanya. Sungguh demi Allah, sejak awal aku

sudah mengkhawatirkan hal ini”.

Maka seorang menimpali perkataan beliau: “Lalu bagaimana

(nasihat itu) dengan dirimu sendiri wahai Amirul

Mukminin (kenapa tidak berpengaruh seperti itu pada

beliau)?”

Beliau menjawab: “Celakalah dirimu, sesungguhnya setiap

orang memiliki ajalnya sendiri dan dia tidak akan

melampaui ajalnya itu. Masing-masing menghadapi sebab

tertentu yang tidak akan dia lewati. Maka diamlah dan

jangan ulangi lagi kata-kata seperti itu, karena sesungguh nya setan telah menghembuskan kata-kata itu keluar dari

lidahmu”.

Perawi berkata: “Kemudian Amirul Mukminin Ali bin

Abi Thalib as. melakukan shalat pada sore itu lalu menghadiri

jenazah Hammam, dan kami menyertai beliau”.[72]

Silaturahmi dan Simpati di antara Mereka

Syarat berikutnya adalah saling menyambung dan memperkuat

silaturahmi, simpati dan kasih sayang serta saling

menolong antarsesama. Semakin mereka kuat dalam hal

tersebut di atas, pertolongan Allah pada mereka semakin

besar dan niscaya Dia menjamin keamanan dari musuh,

menlindungi dan membantu mereka. Kekuasaan Allah di

atas dan bersama tangan atau kekuasaan mereka, karena

tangan mereka telah berjabatan dan terpadu.

Suatu hari Sudair as-Sairufi menemui Abu Abdillah

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. Di sana, dia menjumpai sekelompok

sahabat beliau yang mengelilinginya. Beliau berkata:

“Wahai Sudair, Syi’ah kami senantiasa terlindung dan

aman. Betapa indahnya pemandangan diri mereka dan

hubungan mereka dengan Sang Pencipta! Mereka menumpahkan

ketulusan pada para imam, berbakti pada saudarasaudara

mereka, condong kepada yang lemah dan bersedekah

pada yang membutuhkan.

“Sesungguhnya kami tidak memerintahkan kezaliman,

kami memerintahkan mereka agar hidup warak dan menghindari

dosa. Warak dan warak! Penawar duka sungguh

penawar duka bagi saudara-saudara mereka, karena kekasih-

kekasih Allah selalu tertindas sejak Dia menciptakan

Adam”.[73]

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ajlan, dia berkata:

“Suatu saat, aku bersama Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq

as., tiba-tiba datang seseorang masuk seraya mengucapkan

salam. Kepadanya Imam bertanya: ‘Bagaimana keadaan saudara-

saudara yang kamu tinggalkan di sana?’ Orang itu

menyempurnakan pujiannya untuk mereka, mengindahkan

dan mengungkapkan sanjungan. Imam Ja’far as. kembali

bertanya: ‘Bagaimana kunjungan orang kaya mereka kepada

orang yang miskin?’ ‘Jarang’, jawab orang itu. Imam as.

bertanya lagi: ‘Bagaimana silaturahmi orang kaya mereka

dengan orang-orang miskin dari keluarga mereka sendiri?’

Dia menjawab: ‘Anda menanyakan akhlak yang tidak ada di

antara kami’. Maka Imam as. menukas: ‘Lalu bagaimana

mereka menganggap diri mereka sebagai Syi’ah’.[74]

Imam Hasan Askari as. berkata: “Syi’ah Ali bin Abi

Thalib as. adalah orang-orang yang di jalan Allah tidak

peduli apakah kematian akan menghampiri mereka atau

mereka menghampiri kematian itu sendiri. Syi’ah Ali bin

Abi Thalib as. adalah mereka yang mendahulukan saudarasaudara

mereka di atas diri sendiri pada saat mereka sendiri

sangat membutuhkan. Mereka adalah orang-orang yang

tidak dilihat oleh Allah swt. saat Dia melarang mereka, tidak

kehilangan saat Dia memerintahkan mereka. Syi’ah Ali bin

Abi Thalib as. adalah orang yang meneladani Ali as. dalam

hal memuliakan saudara-saudara mukmin mereka”.[75]

Diriwayatkan dari Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata:

“Salinglah berhubungan, salinglah berbakti dan jadilah kalian

saudara-saudara yang baik sebagaimana Allah swt.

perintahkan kepada kalian”.[76]

Beliau juga berkata: “Bertakwalah kepada Allah, dan

jadilah kalian saudara-saudara yang saleh, saling mencintai

karena Allah, saling bersilaturahmi dan mengasihi”.[77]

Ala’ bin Fudlail meriwayatkan dari Abu Abdillah Imam

Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Abu Ja’far Imam Muhammad

Baqir as. selalu berkata demikian: ‘Agungkan dan wibawakanlah

sahabat-sahabatmu! Janganlah sebagian dari kalian

menyerang sebagian yang lain, jangan saling mengancam,

jangan saling berdengki. Hati-hatilah kalian dari kikir dan

jadilah kalian hamba-hamba Allah yang tulus’”.[78]

Abu Ismail meriwayatkan bahwa dia pernah berkata

pada Abu Ja’far Imam Muhammad Baqir as.: “Ada banyak

orang Syi’ah di antara kita”. Maka beliau berkata: “Apakah

yang kaya dari mereka menganyayangi yang faqir miskin?

Apakah yang baik dari mereka memaafkan yang bersalah

dan saling melipur lara?” Kukatakan pada beliau: “Tidak”.

Maka beliau berkata: “Mereka bukanlah Syi’ah, karena

Syi’ah adalah orang yang melakukan perbuatan ini”.[79]

Imbal Balik Hak-hak di antara Syi’ah

Tsiqotul Islam al-Kulaini meriwayatkan dari Abul Ma’mun

al-Haritsi berkata: “Aku katakan pada Abu Abdillah Imam

Ja’far Ash-Shadiq as.: ‘Apakah hak seorang mukmin kepada

mukmin yang lain?’ Beliau menjawab: ‘Termasuk hak seorang

mukmin kepada mukmin yang lain adalah memupuk

cinta di dada kepadanya, menolong dia dalam harta, menggantikan

dia sebagai penanggung jawab atas keluarganya,

membelanya melawan orang yang menzaliminya. Apabila

ada bagian dari Muslimin untuknya sedangkan dia dalam

keadaan absen, maka dia mengambilkan bagiannya. Jika dia meninggal, mukmin lain menziarahi makamnya. Dan

hendaknya seorang mukmin tidak menzalimi mukmin yang

lain, tidak menipunya, tidak mengkhianatinya, tidak menghinakannya,

tidak membohonginya, tidak berkata kasar dan

kotor kepadanya. Apabila dia mengeluarkan kata-kata itu

kepadanya, niscaya hubungan wilayah di antara mereka

tidak ada lagi. Apabila dia berkata padanya ‘kamu adalah

musuhku’. maka salah satu dari mereka telah kafir, dan

apabila dia menuduhnya maka meleburlah iman dalam

hatinya sebagaimana garam melebur dalam air”.[80]

Al-Kulaini juga meriwayatkan dari Aban bin Thalib berkata:

“Suatu saat aku berthawaf bersama Imam Ja’far as.

Tiba-tiba datang seorang teman menghampiriku dan mengajakku

pergi bersamanya untuk keperluan tertentu. Dia

menunjukku tapi aku enggan untuk meninggalkan Imam

Ja’far as. dan pergi bersamanya. Maka ketika kita sedang

bertawaf dia terus mengisyaratkanku, sampai akhirnya Abu

Abdillah juga melihatnya, segera beliau berkata padaku:

‘Wahai Aban, apakah dia menginginkanmu dengan isyarat

itu?’ Kujawab iya. Beliau bertanya lagi: ‘Siapakah dia?’

Kukatakan: ‘Salah seorang sahabatku’. Maka beliau berkata:

‘Kalau begitu, datangilah dia!’ Kukatakan pada beliau: ‘Lalu

apakah aku putus thawafku ini?’ Beliau menjawab: ‘Iya’.

Kembali kubertanya: ‘Walaupun thawaf wajib?’ Beliau

menjawab: ‘Iya’. Aban berkata: ‘Akhirnya, aku pun pergi

bersama sahabatku itu’.

“Setelah itu aku menemui Imam Ja’far as. dan bertanya:

‘Beritahu aku akan hak seorang mukmin kepada mukmin

yang lain?’ Maka beliau berkata: “Wahai Aban, janganlah

kamu menolaknya!” Kukatakan padanya: “Baiklah, semoga

aku menjadi tebusan untukmu!” Beliau berkata lagi: “Wahai Aban, janganlah kamu menolaknya”. Kuulang: “Baiklah,

semoga aku menjadi tebusan dan korban untukmu!”, dan

belum sempat aku berbicara lagi beliau kembali berkata:

“Wahai Aban, hendaknya kamu bagi separuh dari hartamu

untuk dia”. Kemudian beliau melihat reaksi pada diriku

seraya melanjutkan perkataannya: “Wahai Aban, bukankah

kamu tahu bahwa Allah swt. menyinggung orang-orang yang

berkorban mendahulukan orang lain daripada diri mereka

sendiri?”[81] Kukatakan: “Baiklah, semoga aku menjadi tebusan

dan korban untukmu!” Maka beliau berkata: “Adapun jika

kamu membagi separuh hartamu untuk dia, kamu masih

belum mengutamakan dia di atas dirimu sendiri karena

kamu dan dia masih sama; kamu baru terhitung telah

mendahulukan dia atas dirimu sendiri jika kamu berikan

separuhnya lagi padanya”.[82]

Pernah Imam Ali Ridha as. ditanya: “Apakah hak

seorang mukmin kepada mukmin yang lain?”. Beliau

menjawab: “Termasuk hak mukmin kepada mukmin yang

lain adalah merengkuh cinta di dada kepadanya, menolongnya

dengan harta, membelanya melawan orang yang

berlaku zalim terhadap dirinya. Dan apabila ada pembagian

untuk Muslimin di saat saudaranya absen, hendaknya dia

mengambilkan jatah itu untuknya, jika wafat dia menziarahi

kuburnya. Hendaknya dia tidak berbuat zalim padanya,

tidak memperdayanya, tidak mengkhianatinya, tidak menghinakannya,

tidak mengumpatnya di belakang, tidak membohonginya,

dan tidak berkata kasar atau kotor kepadanya.

Jika dia mengeluarkan kata-kata itu kepadanya, niscaya

hubungan wilayah di antara mereka gugur, dan apabila dia

mengatakan padanya kamu adalah musuhku, maka salah satu dari mereka telah kafir, dan jika dia menuduhnya maka

iman dalam hatinya telah melebur sebagaimana garam melebur

dalam air.

“Barangsiapa yang memberi makan orang mukmin,

baginya lebih utama dari membebaskan budak. Barangsiapa

yang memberi minum orang mukmin, Allah memberinya

minuman dari rahiqun makhtum (anggur surga yang

murni). Barangsiapa yang memberi pakaian orang mukmin

dan menyelamatkannya dari ketelanjangan, Allah akan memakaikannya

sutera sundus dan harir surgawi. Barangsiapa

memberi hutang kepada orang mukmin dengan niat tulus

demi Allah swt., maka Allah akan menghitungnya sederajat

dengan sedekah sampai dia membayarnya. Barangsiapa

yang menyelesaikan salah satu kesulitan orang mukmin di

dunia, Allah akan menyelesaikan salah satu kesulitannya di

akhirat. Barangsiapa memenuhi kebutuhan orang mukmin,

baginya lebih utama dari puasa-puasa dan i’tikafnya di

Masjidil Haram. Sungguh posisi seorang mukmin seperti

betis dan tulang punggung pada tubuh”.

Suatu saat Abu Ja’far Imam Muhammad Baqir as. pergi

menghadap Ka’bah seraya berkata: “Puja dan puji ke hadirat

Allah yang telah memuliakanmu, menghormatkanmu,

mengagungkanmu, dan menjadikanmu tempat pertemuan

umat manusia yang aman, tapi demi Allah kehormatan

orang mukmin jauh lebih agung dari kehormatanmu”.

Pernah seorang baduwi Arab menghampiri beliau dan

mengucapkan salam, lalu saat akan berpisah dia berkata

kepada beliau: “Wasiatilah aku!” Maka beliau berkata: “Aku

berwasiat kepadamu dengan takwa kepada Allah dan bakti

pada saudara mukminmu. Maka cintailah untuknya apa

yang kamu cintai untuk dirimu. Apabila dia memintamu

berilah, jika dia mencegah diri darimu maka berlapanglah

padanya, janganlah kamu membosankannya maka dia tidak akan mebosankanmu. Jadilah kamu lengan dan pembela

dia, apabila dia mendapatimu dalam keadaan tidak senang

jangan berpisah darinya sampai dia keluarkan dengki dan

iri dari hatinya. Jika dia tidak ada di tempat, jagalah dia

dalam ketiadaannya. Jika dia hadir, maka lindungilah dia,

bantulah dia, kunjungi dan muliakanlah dia serta berbelas

kasih kepadanya, karena sesungguhnya dia adalah darimu

dan kamu dari dirinya. Hendaknya kamu rela membatalkan

puasa dan berbuka karena ingin menyenangkan saudara

mukminmu, karena memasukkan kebahagiaan ke dalam

hati seorang mukmin lebih utama dari puasa dan lebih besar

pahalanya”.[83]

Ada juga riwayat tentang hak-hak antara saudara

dengan saudaranya yang lain. Dari Ibrahim bin Umar al-

Yamani meriwayatkan dari Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-

Shadiq as. berkata: “Janganlah dia kenyang saat saudaranya

lapar, janganlah dia lega saat saudaranya kehausan,

janganlah dia berpakaian saat saudaranya telanjang. Apabila

kamu membutuhkan sesuatu maka pintalah dia, jika dia

memintamu maka berilah dia. Jangan bosan berbuat baik

padanya dan hendaknya dia juga demikian padamu. Jadilah

kamu tulang punggungnya karena dia pun tulang punggung

bagimu. Apabila dia absen jagalah dia dalam ketiadaannya,

jika dia hadir maka kunjungilah dia, besarkan dan

muliakan dia, karena sesungguhnya dia darimu dan kamu

dari dia. Apabila dia mencela maka jangan berpisah darinya

sampai dia keluarkan dengki dan dendamnya dari hatinya.

Jika dia mendapatkan kebaikan maka pujilah Allah, jika dia

ditimpa bencana maka bantulah dia, dan jika dia terperdaya

maka tolonglah dia. Apabila salah seorang berkata kasar

atau kotor pada saudaranya maka tidak ada lagi hubungan wilayah antara mereka berdua, dan jika dia berkata ‘kamu

adalah musuhku’ maka salah satu dari mereka berdua telah

kafir, dan jika dia menuduhnya maka iman di hatinya telah

larut sebagaimana garam larut dalam air”.[84]

Mu’alla bin Khunais meriwayatkan: “Aku katakan pada

Abu Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as.: ‘Apakah hak seorang

mukmin kepada mukmin yang lain?’ Beliau menjawab: ‘Ada

tujuh hak dan kewajiban, tak satu pun dari hal-hak itu

kecuali juga wajib bagi dirinya. Apabila dia melanggarnya

maka dia telah keluar dari wilayah Allah dan meninggalkan

ketaatan pada-Nya serta tidak akan mendapatkan apa-apa

di sisi-Nya’. Kukatakan kepadanya: ‘Semoga aku jadi

tebusanmu! Katakanlah kepadaku tujuh hak dan kewajiban

itu?’ Beliau berkata: ‘Wahai Mua’lla, Sungguh aku sayang

padamu, aku khawatir kamu menghilangkan dan tidak

menjaganya, aku khawatir kamu tahu tapi tidak mengamalkannya’.

Aku katakan: ‘Tiada kekuatan kecuali milik Allah’.

Beliau melanjutkan: ‘Hak paling ringan dari semua itu

adalah hendaknya kamu mencintai untuk dia apa yang kamu

cintai untuk dirimu sendiri, dan kamu benci bagi dia

apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri.

“Hak kedua, hendaknya kamu berusaha memenuhi kebutuhannya,

memuaskan keridhoannya dan tidak menentang

ucapannya.

“Hak ketiga, hendaknya kamu menyambungnya dengan

jiwa dan hartamu, tangan dan kakimu serta lidahmu.

“Hak keempat, hendaknya kamu menjadi mata, petunjuk

dan cermin bagi dirinya.

“Hak kelima, hendaknya kamu tidak kenyang di saat

dia lapar, tidak berpakaian di saat dia telanjang, tidak lega

di saat dia kehausan.

“Hak keenam, apabila kamu memiliki perempuan dan

pelayan, sementara saudaramu tidak memiliki baik perempuan

sebagai istri maupun pelayan, maka kirimlah pelayanmu

untuk mencucikan bajunya, menyediakan makanannya

dan merapikan ranjangnya, semua itu ditetapkan antara

kamu dan dia.

“Hak ketujuh, hendaknya kamu bebaskan sumpahnya,

kamu balas undangannya, kamu hadiri jenazahnya, kamu

jenguk di kala dia sakit, kamu kerahkan tubuhmu untuk

memenuhi kebutuhannya. Jangan biarkan dia kekurangan

sehingga memintamu, tetapi bergegaslah terlebih dahulu

untuk memenuhi kebutuhannya sebelum dia meminta.

Apabila ini dilakukan, sungguh kamu telah menyambungkan

wilayahmu dengan wilayahnya, dan sungguh kamu

telah menyambungkan wilayahnya dengan wilayah Allah”.[85]

Diriwayatkan dari Amirul Mukminin as. berkata: “Seorang

mukmin ketika mengetahui saudara mukmin yang

lain membutuhkan tidak akan membiarkannya sampai

terpaksa meminta kepadanya. Saling berkunjunglah kalian,

saling mengasihilah kalian, saling berimbal baliklah kalian!

Janganlah kalian menjadi orang munafik yang menguraikan

apa yang pada hakikatnya tidak dia lakukan”[86] .

Muhammad bin Muslim meriwayatkan: “Ada seorang

Baduwi mendatangiku, lalu kami bersama-sama menemui

Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. Ketika hendak

berpisah, orang Baduwi itu berkata: “Wasiatilah aku!” Abu

Abdillah berkata: “Aku berwasiat kepadamu agar bertakwa

kepada Allah swt. dan berbakti pada saudara muslimmu,

cintailah untuknya apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri,

bencilah untuknya apa yang kamu benci untuk dirimu sendiri. Apabila dia memintamu berilah, Jika dia tidak sudi

memberimu tetaplah lapang untuk memberinya! Janganlah

kamu bosan untuk berbuat santun kepadanya, karena

sesungguhnya dia tidak akan bosan berbuat baik kepadamu.

Jadilah tangan pembela baginya, karena sesung-guhnya dia

adalah lengan pembela bagimu. Apabila dia mendapatkan

darimu sesuatu yang tidak berkenan, maka janganlah berpisah

darinya sampai kekecewaannya hilang dari hatinya,

jika dia absen jagalah dia dalam ketiadaannya, jika dia hadir

bantulah, tolonglah dan kunjungilah dia! Bersikaplah lemah

lembut kepadanya dan muliakanlah dia, karena sungguh

dia dari kamu dan kamu dari dia”.[87]

Jabir meriwayatkan dari Abu Ja’far Imam Muhammad

Baqir as. berkata: “Hendaknya orang kuat dari kalian membela

orang yang lemah, orang yang kaya dari kalian berbelas

kasih kepada orang yang faqir, hendaknya setiap orang dari

kalian menasihati saudaranya sebagaimana menasihati diri

sendiri, simpanlah rahasia-rahasia kami, dan jangan kalian

bebankan masyarakat pada leher kami”.[88]

Kehormatan, Cinta, Nasihat dan Belas Kasih

Imam Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq as. berkata: “Tidak

ada sesuatu yang lebih utama bagi hamba Allah daripada

menjalankan hak seorang mukmin”.

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya Allah swt. memiliki

beberapa hal yang harus dijaga: kehormatan kitab Allah,

kehormatan Rasulullah, kehormatan Baitul Maqdis dan kehormatan

orang Mukmin”.[89]

Abdul Mukmin Anshari meriwayatkan: “Aku menemui

Abul Hasan Imam Musa Kadzim as dan saat itu Abdullah bin Muhammad Ju’fi bersamanya. Maka aku ter-senyum

padanya. Abul Hasan berkata: “Apakah kamu mencintainya?”.

Kujawab: “Iya, dan aku mencintai dia tidak lain

karena kalian, Ahlulbait.” Maka beliau berkata: “Dia adalah

saudaramu, sesungguhnya orang mukmin adalah saudara

mukmin yang lain seibu dan seayah”.[90]

Dalam Nawadirnya Rawandi disebutkan: “Dengan sanad

Rawandi dari Imam Musa bin Ja’far as., dari ayahayahnya

as. berkata: ‘Rasulullah saw. bersabda: “Seorang

Mukmin adalah cermin bagi saudara mukmin yang lain; dia

menasihatinya ketika absen, dan dia jauhkan apa yang

dibencinya ketika hadir serta melapangkan tempat duduk

baginya”.

Dalam kitab al-Mukmin karya Abu Said al-Husain al-

Ahwazi disebutkan dengan sanadnya dari Abu Abdillah as.

berkata: “Tidak, demi Allah, sampai kapanpun seorang

mukmin tidak akan menjadi mukmin sejati sampai dia seumpama

satu tubuh dengannya, apabila satu otot darinya

terpukul maka otot-otot yang lain pun terganggu”.[91]

Toleransi di antara Syi’ah

Disinyalir dalam tafsir Imam Hasan Askari as.: “Tak seorang

pun lelaki atau perempuan yang berwilayah pada Muhammad

saw. dan keluarganya serta memusuhi lawan-lawan

mereka kecuali dia telah mengambil benteng yang kokoh

dan perisai yang kuat dari siksa Allah, dan tak seorang pun

lelaki atau perempuan yang ramah tamah terhadap hamba

Allah dengan sebaik-baik pergaulan dan tidak terjerumus

dalam kebatilan serta tidak keluar dari kebenaran karena

pergaulan tersebut melainkan Allah swt. telah menjadikan nafasnya sebagai tasbih, membersihkan dan mengembangkan

amalnya, memberinya anugerah karena kesabarannya

dalam menyimpan rahasia kami dan menahan amarah dari

apa yang didengarnya dari musuh-musuh kami, serta menjadikan

bajunya seperti baju orang yang berlumuran darah

di jalan Allah swt.

“Dan tidak ada seorang pun yang menerima hak-hak

saudara atas dirinya kemudian memenuhi hak-hak itu

sekuat tenaga, dan memberi saudara-saudaranya apa yang

dia bisa, merestui dengan memaafkan mereka serta meninggalkan

penyelidikan yang merugikan mereka sehingga

tidak ada satu kesalahan pun dari mereka yang tidak dia

ampuni, melainkan Allah swt. akan berkata padanya di Hari

Kiamat: ‘Wahai hamba-Ku, kamu telah memenuhi hak-hak

saudaramu dan kamu tidak mencari-cari kesalahan mereka

yang merupakan hakmu atas mereka, maka Aku lebih

derma, mulia dan layak untuk berupa kemurahan dan

kemuliaan serta kedermawanan yang kamu lakukan. Maka

hari ini Aku akan penuhi hak yang telah Kujanjikan padamu

dan Aku Kutambahkan anugerah-Ku yang luas kepadamu,

dan Aku tidak akan menyelidiki kekuranganmu padaKu di

sebagian hak-hak-Ku’.

“Beliau (Imam Hasan Askari as.) berkata: “Maka Allah

menggabungkan orang itu bersama Nabi Muhammad saw.

dan keluarga serta sahabatnya, dan menjadikannya dari

Syi’ah yang terbaik”.[92]

Tidak Mengganggu Para Setia Kami dan Tidak Saling Melukai

Diriwayatkan dari Imam Hasan bin Ali as., beliau berkata:

“Sesungguhnya taqiyah adalah sesuatu yang dengannya

Allah memperbaiki umat. Pelaku taqiyah mendapatkan pa hala yang setimpal dengan pahala amal mereka, sedangkan

meninggalkan taqiyah adalah perbuatan yang menghancurkan

umat, peninggal taqiyah seperti sekutu musuh dalam

menghancurkan mereka. Sesungguhnya seseorang yang

mengenal hak-hak saudara akan membuatnya tercinta di sisi

Allah Yang Maha Pengasih, dan akan mengagungkan kedekatannya

di sisi Allah Maha Raja lagi Maha Penguasa. Dan

apabila seseorang meninggalkan tugas untuk memenuhi

hak-hak tersebut, Allah Yang Mahakasih akan murka padanya

dan merendahkan kedudukannya di sisi-Nya, Zat Yang

Maha Mulia lagi Maha Pengasih”.[93]

Abduladzim Husaini meriwayatkan dari Abul Hasan

Imam Ridho as. berkata: “Wahai Abdul Adzim, sampaikan

salam pada wali-waliku dan katakan pada mereka, janganlah

kalian membuka jalan bagi setan terhadap diri mereka

sendiri, perintahkan mereka untuk berbicara jujur dan

melaksanakan amanat dengan setia, perintahkan mereka

untuk diam dan menghindari perdebatan dalam hal-hal

yang tidak penting. Hendaknya mereka saling peduli satu

sama yang lain dan saling mengunjungi, karena sesungguhnya

itu adalah kedekatan padaku. Jangan menyibukkan

diri dengan memecah belah, karena sesungguhnya aku

bersumpah pada diriku, barangsiapa yang melakukan hal

itu dan membuat marah salah seorang dari pengikutku, aku

akan berdoa kepada Allah agar menyiksa dia di dunia

sepedih-pedihnya dan semoga di akhirat kelak tergolong

orang yang merugi.

“Beritahu mereka bahwa Allah mengampuni orang yang

berbuat baik dari mereka, dan memaafkan mereka yang

bersalah! Perhatikanlah bahwa siapa saja yang mengganggu

salah seorang pengikutku atau berniat jahat padanya, maka Allah tidak akan mengampuninya sampai dia berbalik dari

perbuatan dan niat jahat tersebut, dan akan lebih baik baginya

jika dia berpaling, namun jika tidak, hakikat iman akan

tercabut dari hatinya, dia telah keluar dari wilayahku, dan

tidak akan mendapatkan bagian apa pun dari wilayah kami,

Ahlulbait, dan aku berlindung kepada Allah dari hal itu”.[94]

Diriwayatkan dalam kitab Qodlo’ul Huquq bahwa Ali bin

Abi Thalib as. berkata dalam surat wasiatnya kepada Rifa’ah

bin Syidad al-Bajli yang pada waktu itu bertugas sebagai

hakim di Ahwaz: “Lemah lembutlah kepada orang mukmin

selama kamu mampu, karena sesung-guhnya punggung dia

adalah lindungan Allah, jiwanya mulia di sisi Allah, orang

yang berbakti padanya akan mendapatkan pahala Allah,

orang yang berbuat dzalim padanya adalah musuh Allah,

maka janganlah kamu menjadi musuhnya!”

Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah orang mukmin

membiarkan saudaranya terpaksa meminta padanya ketika

mengetahui dia punya keperluan”.[95]

Mukmin bagi Mukmin yang Lain Seperti Satu Tubuh

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Bagi segala sesuatu

terdapat hal yang membuatnya tenang, dan sesungguhnya

orang mukmin akan tenang dengan saudara mukminnya

sebagaimana burung merasa tenang dengan sejenisnya”.[96]

Abu Ja’far Imam Muhammad Baqir as. berkata: “Orangorang

mukmin dalam bakti, kasih sayang dan lemah lembut

lakasana satu tubuh, apabila satu bagiannya mengaduh

seluruh anggota tubuh yang lain juga terpanggil, terjaga dan

demam”.[97]

Mu’alla bin Khunais meriwayatkan dari Abu Abdillah

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Cintailah untuk saudara

muslimmu apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri,

apabila kamu butuh mintalah kepadanya, dan apabila dia

memintamu maka berilah dia! Janganlah kamu bosan untuk

berbuat baik padanya dan hendaknya dia juga tidak bosan

padamu dalam kebaikan, jadilah punggung baginya karena

sesungguhnya dia adalah punggung bagimu, jagalah dia

dalam ketiadaannya, dan apabila dia hadir kunjungilah dia.

Agungkan dan muliakanlah dia, karena sesungguhnya dia

adalah darimu dan kamu adalah dari dia. Apabila dia mencelamu

jangan berpisah darinya sampai kesal itu keluar dari

hatinya, jika dia memperoleh kebaikan pujilah Allah swt.,

dan jika dia tertimpa bencana santunilah dia, tanggunglah

dia dan tolonglah”.[98]

Bersilaturahmi dan Bergaul Baik dengan Seluruh Muslimin

Ahlulbait as. betul-betul memperhatikan masalah ini. Ahlulbait

tidak rela bila Syi’ah mereka mengisolir diri dari lingkungan

umum umat Islam yang luas. Mereka adalah bagian

yang tak terpisahkan dari umat ini, adapun perbedaan

dalam pokok, cabang, golongan dan wilayah jangan sampai

menyebabkan keterpisahan dari masyarakat muslim yang

lain … Karena umat ini, dengan segala kecenderungan dan

mazhab di dalamnya, adalah umat yang satu.

﴿ اِ م ن هذِهِ اُممتُكُم اُممةً وَاحِدَةً وَ أنَا رَبُّكُم فَاعبُدُونَ ﴾

“Sesungguhnya umat kalian ini adalah satu umat dan

Aku adalah Tuhan kalian maka sembahlah Aku”[99] .

Mereka merupakan kekuatan besar di muka bumi yang

menghadapi tantangan-tantangan besar, dan sesungguhnya

tantangan-tantangan itu tidak bisa dihadapi dan dituntaskan

begitu saja kecuali hanya umat yang satu ini mampu

menghadapinya dengan satu sikap dalam satu barisan.

Sejarah mencatat bagaimana para imam Ahlulbait as.

senantiasa hidup bersama masyarakat muslim yang lain.

Dengan berbagai mazhab dan kecenderungan masingmasing,

masyarakat berkumpul bersama di seputar imam

as. dan belajar dari Ahlulbait as. Jika kita hitung ulama yang

belajar pada Imam Muhammad Baqir dan Imam Ja’far Ash-

Shadiq as., kita akan mendapatkan mereka dalam jumlah

yang sangat besar. Majelis dan pertemuan mereka penuh

dengan ulama muslim dan perawi hadis nabi serta alim

ulama dengan berbagai bidang dari berbagai negeri Hal

ini diketahui dengan jelas oleh siapa saja yang melakukan

telaah atas sejarah dan hadis imam-imam Ahlulbait as.

Selain itu, fakta ini menunjukkan keterbukaan dan pergaulan

religius yang bebas dari segala kecenderungan dan

aliran-aliran Islam manakala Ahlulbait as. senantiasa menjelaskan

garis pemikiran yang benar kepada kaum Muslimin,

khususnya kepada Syi’ah, serta memperinci pokok dan

cabang pemikiran tersebut secara teliti.

Hadis Ahlulbait as. penuh dengan anjuran yang terangterang

mengajak pada sikap terbuka dengan Muslimin dan

pergaulan positif, silaturahmi, kasih sayang dan gotong

royong bersama mereka. Berikut ini beberapa contoh hadis

Ahlulbait as. tentang ajakan tersebut:

Muhammad bin Ya’qub Kulaini dengan silsilah sanad

yang sahih dalam kitab al-Kafi meriwayatkan hadis dari Abu

Usamah Zaid as-Syahham berkata, bahwa Abu Abdillah

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Sampaikanlah salam

kepada siapa saja dari mereka yang kamu pandang patuh padaku dan mendengarkan kata-kataku, wasiatkanlah pada

mereka takwa kepada Allah swt., warak dalam beragama,

usaha keras demi Allah, jujur dalam berbicara, menjalankan

amanat, lama dalam sujud dan baik dalam bertetangga,

karena Nabi saw. datang dengan membawa ajaran-ajaran

tersebut. Laksanakanlah amanat kalian secara penuh untuk

orang yang mempercayakanmu agar menjaganya, baik dia

orang yang saleh maupun orang yang jahat, karena Nabi

saw. senantiasa menganjurkan masyarakat agar menyelesaikan

kontrak yang telah disepakati bersama.

“Jagalah silaturahmimu dengan keluarga, hadirilah jenazah

mereka, jenguklah mereka yang sakit, penuhilah hakhak

mereka, karena orang yang warak dalam beragama,

jujur dalam bertutur kata, setia dalam amanat dan berbudi

pekerti kepada masyarakat, niscaya orang lain akan menyebutnya

sebagai Ja’fari (pengikut Imam Ja’far Ash-Shadiq as.),

dengan begitu dia telah menggembirakanku dan membuat

hatiku senang. Mereka akan mengatakan, inilah kader Ja’far

as. Demi Allah, ayahku bercerita kepadaku bahwa pernah

ada seorang Syi’ah (pengikut Ali as.) yang hidup di sebuah

suku dan dia menjadi kebanggaannya, karena dia orang

yang paling terpercaya, orang yang paling menjaga hak-hak

orang lain, orang yang paling jujur dalam bertutur, dan

kepadanyalah masyarakat mempercayakan wasiat dan

amanat mereka, apabila kamu bertanya pada suku itu niscaya

mereka akan menjawab: ‘Siapakah orang sepertinya!

Sungguh dia paling terpercaya dalam menjaga amanat dan

paling jujur dalam bertutur’”.[100]

Demikian juga diriwayatkan dengan sanad yang sahih

dari Muawiyah bin Wahab berkata: “Kukatakan pada Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as.: ‘Bagaimana seyogyanya

kita berbuat dengan kaum kita sendiri, dan antara kita

dengan teman pergaulan di masyarakat umum?’ Beliau

menjawab: ‘Tunaikanlah amanat kalian kepada mereka,

berilah kesaksian untuk dan terhadap mereka, tengoklah

mereka yang sakit dan hadirilah jenazah mereka!”[101]

Begitu juga diriwayatkan dengan sanad yang sahih dari

Muawiyah bin Wahab berkata: “Kukatakan pada Imam

Ja’far Ash-Shadiq as.: ‘Bagaimana seyogyanya kita berbuat

dengan suku kita serta teman bergaul di masyarakat sedangkan

mereka yang tidak sepaham dengan kita?’ Beliau

menjawab: “Lihatlah imam-imam yang kalian ikuti dan

berbuatlah seperti yang mereka perbuat. Demi Allah,

mereka menjenguk orang yang sakit di tengah masyarakat,

menghadiri jenazah mereka, memberikan kesaksian untuk

dan terhadap mereka serta menepati amanat mereka”.[102]

Kulaini dalam al-Kafi menukil sebuah riwayat dengan

sanad yang sahih dari Habib Hanafi berkata: “Aku mendengar

Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata:

‘Hendaknya kalian warak dan aktif, hadirilah jenazah

masyarakat, jenguklah orang sakit, hadirlah bersama dalam

masjid-masjid mereka, cintailah untuk mereka apa yang

kalian cintai untuk diri kalian sendiri. Tidakkah malu bila

tetangga seorang dari kalian menjaga haknya sementara dia

tidak memperhatikan hak tetangga tersebut!’”[103]

Riwayat lain dengan sanad yang sahih juga dari Murazim

yang melaporkan bahwa Abu Abdillah Imam Ja’far

Ash-Shadiq as. berkata: “Hendaknya kalian shalat di masjidmasjid,

bertetangga yang baik dengan masyarakat, memberikan

kesaksian, dan menghadiri jenazah. Semua itu ke wajiban kalian terhadap masyarakat umum, karena setiap

orang membutuhkan masyarakat sepanjang hidupnya, dan

sesungguhnya sebagian dari masyarakat adalah untuk sebagian

yang lain”.[104]

Adil dan Seimbang

Salah satu kriteria Syi’ah Ahlulbait as. adalah adil dalam

segala hal, seimbang, dan selalu menjaga keseimbangan

dalam pemikiran, pemahaman dan obyektifitas. Seorang

Syi’ah akan menghindari sikap yang ekstrim, berkurangan

dan berlebihan, kelemahan emosional dan reaktivitas.

Umar bin Said bin Hilal berkata: “Jadilah kelompok

menengah, orang yang kelewatan akan kembali pada kalian

dan orang yang belum sampai akan bergabung bersama

kalian. Ketahuilah wahai Syi’ah keluarga Muhammad saw.,

tidak ada hubungan kekeluargaan antara kami dan Allah

swt., tidak ada hujjah pada kami atas Allah,karena sesungguhnya

kedekatan pada Allah tidak akan diperoleh kecuali

dengan ketaatan pada-Nya, maka barang siapa yang patuh

pada-Nya niscaya wilayah kami akan bermanfaat baginya,

dan barang siapa yang bermaksiat padanya niscaya wilayah

kami tidak akan bermanfaat baginya”.

Perawi berkata: “Kemudian beliau mengalihkan perhatiannya

padaku seraya berkata: “Jangan terperdaya, jangan

pula berpecah belah!”[105]

Kedisiplinan Sosial-Politik

Sepanjang sejarah, Syi’ah Ahlulbait as. telah melewati masamasa

politik yang sangat menekan, khususnya di era dinasti

Umayyah dan Abbasiyah. Situasi yang betul-betul krisis ini menuntut kedisiplinan yang ketat dalam urusan politik dan

keamanan, serta mengharuskan mereka untuk menerapkan

arahan-arahan politis. Imam-imam Ahlulbait as. juga selalu

menganjurkan mereka untuk komit dan disiplin.

Andai saja Ahlulbait as. tidak memberikan arahanarahan

tersebut, dan andai saja pengikut Ahlulbait as. tidak

komit pada arahan-arahan itu, tentu dinasti Umayyah dan

Abbasiyah telah mengubur habis mazhab Ahlulbait as. sehingga

warisan budaya, pemikiran dan tata hukum mazhab

yang besar ini tidak tersisa lagi sekarang ini.

Maka itu taqiyah merupakan salah satu yang terutama

dari sekian arahan mereka, sebagaimana juga menyimpan

rahasia, bersembunyi, menahan diri dari obrolan yang tidak

terarah, diam, dan terlihat lengah. Semua ini adalah arahanarahan

penting dari ajaran Ahlulbait as. untuk melindungi

kelestarian madrasah Syi’ah.

Kerugian yang ditanggung oleh mazhab Ahlulbait dan

Syi’ah mereka tidaklah kecil, lantaran sebagian kelompok

dari mereka tidak mengindahkan arahan-arahan tersebut di

atas. Berikut ini kami ingin menyebutkan beberapa contoh

dari arahan Ahlulbait as. untuk Syi’ah mereka dalam rangka

menjaga kedisiplinan politik.

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Ujilah Syi’ah kami

di waktu shalat; bagaimana mereka menjaga waktu-waktunya?

Dan bagaimana mereka menjaga rahasia kami dari

musuh-musuh kita?”.[106]

Sulaiman bin Mihran meriwayatkan: “Ketika aku menemui

Imam Ja’far Ash-Shadiq as., ada beberapa orang Syi’ah

bersama beliau, dan beliau berkata: ‘Wahai orang-orang

Syi’ah, jadilah kalian hiasan bagi kami dan janganlah men jadi noda atas kami, jagalah lidah kalian, katuplah mulut

kalian dari turut campur dan ingin tahu urusan orang lain!”[107]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Ingin sekali kutebus

dua karakter dalam Syi’ah kami, Ahlulbait as. dengan

daging tanganku. Kedua karakter itu adalah cepat bereaksi,

dan lemahnya penyimpanan rahasia”.

Beliau juga berkata: “Ada sebuah kelompok yang menganggapku

sebagai imam mereka. Demi Allah, aku bukanlah

imam mereka, setiap kali aku menutupi sesuatu mereka

membongkarnya, aku katakan demikian dan demikian tapi

mereka mengatakan bukan begitu tetapi demikian dan demikian”.[108]

Imam Muhammad Baqir as. berkata: “Wahai Muyassar,

maukah kamu kuberi tahu siapa Syi’ah kami?” Dia menjawab:

“Tentu, semoga diriku menjadi tebusan jiwamu!”

Beliau melanjutkan: “Mereka adalah benteng-benteng yang

kokoh, perbatasan yang aman, pemurah hati yang teguh.

Mereka tidak menyingkap rahasia dan menyebarkannya

dan bukan orang kasar yang mencari perhatian orang lain.

Merekalah rahib di malam hari dan tuan di siang hari”[109] .

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Bertakwalah kepada

Allah dan lindungilah agamamu dengan taqiyah!”[110]

Beliau juga berkata: “Demi Allah, Dia tidak disembah

dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya daripada khib’”.

“Apakah khib’ itu”, tanyaku. Beliau menjawab: “Taqiyah”.[111]

Diriwayatkan dari Imam Ali Zainul Abidin berkata:

“Ingin sekali kutebus dua sifat kaum Syi’ah kami dengan sebagian daging hastaku. Dua karakter itu adalah cepat

bereaksi dan lemah dalam menyembunyikan rahasia”.[112]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Masyarakat dianjurkan

untuk menjaga dua karakter namun mereka mengacuhkannya

sehingga mereka tidak memperoleh apa pun.

Dua karakter itu adalah sabar dan menjaga rahasia”.[113]

Salman meriwayatkan dari Khalid berkata: “Abu Abdillah

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: ‘Wahai Sulaiman,

sesungguhnya kalian berada di atas agama. Maka barangsiapa

yang menjaga rahasia niscaya Allah akan memuliakan

dia, dan barang siapa yang menyingkapkannya, Allah akan

menghinakannya”.[114]

Imam Muhammad Baqir as. berkata: “Demi Allah, sahabat

tercintaku adalah dia yang lebih amanat, lebih fakih

dan pandai dalam agama, dan lebih menjaga atau menyimpan pembicaraan kami”.[115]

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Cukup kalian katakan

apa yang kami katakan dan diam terhadap apa yang

kami diamkan”.

Beliau juga berkata: “Kami tidak membunuh orang yang

mengungkapkan rahasia pembicaraan kami secara salah,

melainkan kami membunuhnya secara sengaja”.[116] Kalimat

ini sungguh mengherankan; setiap orang yang membacanya

akan berhenti di hadapannya.

Mereka yang menyebarluaskan rahasia pengikut Ahlulbait

as. di tengah masyarakat luas dan menebar di basisbasis

kezaliman dinasti Abbasiyah sama seperti orang yang

secara sengaja menyodorkan Syi’ah dan pengikut Ahlulbait as. kepada mereka untuk diburu dan dikejar oleh penguasa

zalim.

Boleh jadi hal itu sugguh-sungguh tidak berangkat dari

niat yang jahat. Terkadang mereka lakukan demikian atas

dasar cinta dan suka berbicara kepada semua orang tentang

Ahlulbait as. dengan harapan: masyarakat menyambut baik

kedatangan Ahlulbait as., menerima ajaran mereka, menyebarluaskan

mazhab mereka. Semua itu hanya didasari oleh

cinta serta kasih sayang.

Namun demikian, menyingkapkan rahasia komunitasi

Syi’ah Ahlulbait as. dan basis-basis kekuatan mereka secara

tidak bertanggung jawab senantiasa membuat penguasa

memburu kelompok-kelompok kecil Syi’ah dalam rangka

menghancurkan dan memberhangus mereka. Karena itu,

Ahlulbait as. sering mengkhawatirkan penyebaran rahasia

dan pendirian lemah dalam menjaga rahasia yang ada pada

diri sahabat dan Syi’ah mereka. Padahal, Ahlulbait as. sudah

berulang kali menekankan pentingnya menjaga rahasia dan

menahan diri dari ingin tahu atau terlibat dalam urusan

orang lain.[]


ELEMEN-ELEMEN WILAYAH

KEPADA AHLULBAIT AS.

Pembicaraan kita selanjutnya akan berkisar tentang elemenelemen

keberwilayahan (berpegang teguh) pada Ahlulbait

as. Kita usahakan untuk lebih sering menarik unsur-unsur

itu dari teks-teks doa ziarah Ahlulbait as. itu sendiri. Karena

teks-teks yang diriwayatkan dari mereka as. ini kaya akan

muatan pemikiran dan konsep tentang wilayah atau kepengikutan

terhadap Ahlulbait as. dan baro’ah atau penolakan

musuh-musuh mereka. Dengan merenungkan teks-teks doa

ziarah itu, kita akan dapat menarik sebuah pandangan yang

menyempurna dari wilayah dan baro’ah tersebut.

Namun pada bagian ini kita tidak ingin mempelajarinya

secara luas. Tulisan ringkas ini tidak cukup ruang untuk

mempelajarinya secara detail dan mengajukan konsep yang

terperinci tentang dua hal di atas. Kita hanya mengisyaratkan

beberapa elemen wilayah atau kepengikutan terhadap

Ahlulabait as. yang dimengerti dari teks doa ziarah dan

hadis Ahlulbait yang lain.

Kesadaran Berwilayah

Elemen pertama wilayah kepada Ahlulbait as. ialah kesadaran,

dan nilai pengikutan seseorang terhadap mereka

dihitung sesuai kadar pengetahuan dan kesadarannya akan wilayah itu sendiri. Maka itu, orang yang lebih sadar akan

konsep wilayah tentu lebih kokoh dalam berwilayah kepada

Ahlulbait as.

Disinyalir dalam doa ziarah Jami’ah: “Aku bersaksi kepada

Allah dan bersaksi kepada kalian (Ahlulbait as.) bahwasanya

aku beriman pada kalian dan pada apa yang kalian

imani, aku ingkar terhadap musuh kalian dan terhadap apa

yang kalian ingkari, aku sadar akan kedudukan dan urusan

kalian, begitu juga mawas akan kesesatan mereka yang

menentang kalian, aku beriman pada rahasia dan kejelasan

kalian, beriman pada kehadiran dan kegaiban kalian”.

Kami bersaksi pada Allah dan pada Ahlulbait as. atas

pengetahuan dan kesadaran ini, karena kami yakin penuh

dan beriman akan hal itu, serta sama sekali tidak ada keraguan

terhadapnya.

Wilayah dalam penggalan kalimat di atas tersusun dari

dua sisi:

Pertama, sisi positif, yaitu: “beriman pada kalian dan

pada apa yang kalian imani”.

Kedua, sisi negatif, yaitu: “ingkar terhadap musuh kalian

dan terhadap apa yang kalian ingkari”. Ingkar berarti penolakan.

Oleh karena itu, maksud dari kalimat di atas adalah

aku menolak musuh kalian dan menolak apa yang kalian

tolak.

Nilai wilayah terbentuk dari dua sisi positif dan negatif

tersebut secara bersamaan; penerimaan sekaligus penolakan.

Penerimaan semata—tanpa penolakan—tidak menentukan

banyak tugas bagi seseorang selama tidak dibarengi dengan

penolakan terhadap lawannya.

Oleh karena itu, penerimaan dan penolakan harus sekaligus

serta dilandasi oleh pengetahuan dan kesadaran,

bukan sekedar ikut-ikutan seperti sebagian orang yang mengikuti

sebagian lainnya, melainkan “sadar akan kedudukan kalian Ahlulbait dan mawas terhadap kesesatan mereka

yang menentang kalian”.

Penerimaan di sini adalah penerimaan penuh yang

mencakup tiga poin di bawah ini sebagaimana juga termuat

dalam penggalan doa ziarah di atas itu:

Pertama, penerimaan mutlak; “iman pada apa yang

rahasia dan tersembunyi dari kalian”.

Kedua, penolakan mutlak; “menolak musuh kalian serta

apa yang kalian tolak”.

Ketiga, penerimaan dan penolakan ini akan lengkap

apabila didasari oleh pengetahuan dan kesadaran; “sadar

akan kedudukan kalian dan mawas terhadap kesesatan

mereka yang menentang kalian”.

Pengakuan

Wilayah dan kepengikutan pada Ahlulbait as. tidak bisa

dipisahkan dari pengakuan. Tidak ada sesuatu yang lebih

merusak daripada ragu dan bimbang terhadap wilayah, dan

Allah swt. sama sekali tidak meninggalkan kesamaran di

dalamnya. Sungguh Allah telah mengaitkan wilayah dengan

tauhid, menetapkan wilayah sebagai poros gerakan, baik

individu maupun sosial, dan mengarahkan umat manusia

kepada wilayah setelah menyeru mereka kepada pengesaan-

Nya. Dia berfirman:

﴿ اِمنََّا وَلِيُّكُمُ الله وَ رَسُولُهُ وَ المذِينَ آمَنُوا﴾ ...

“Sesungguhnya wali dan pemimpin kalian adalah Allah

dan Rasul-Nya serta mereka yang beriman yang…”[117]

Dia juga berfirman:

﴿ اَطِيعُوا اللهَ وَ اَطِ يعُوا المرسُولَ وَ اُولِِ الأمرِ مِنكُم ﴾

“Taatilah Allah dan Rasul-Nya serta ulul amr (pemimpin)

dari kalian”[118]

Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bahwa jalan

menuju wilayah mesti jelas, sehingga umat manusia berwilayah

atas dasar bukti yang kuat. Singkatnya, wilayah

tidak terpisahkan dari pengakuan, dan pengakuan tidak

terpisahkan dari keyakinan dan keyakinan tidak terpisahkan

dari bukti.

Ziarah Jami’ah memperlihatkan kedudukan Ahlulbait

as. sebagai berikut: “Beruntunglah orang yang berwilayah

pada kalian, binasalah orang yang memusuhi kalian, sengsaralah

orang yang mengingkari kalian, tersesatlah orang

yang berpisah dari kalian, menanglah orang yang berpegang

teguh pada kalian, amanlah orang yang berlindung

pada kalian, selamatlah orang yang membenarkan kalian,

dan berpetunjuklah orang yang memegang erat kalian”.

Ikatan Organik

Untuk berbicara tentang elemen-elemen yang membentuk

wilayah kepada Ahlulbait as., terlebih dahulu kita harus

menerangkan arti harfiah wala’ sebagaimana mestinya dalam

literatur kontemporer. Hal itu penting sekali dan tidak

mudah. Literatur sosial kontemporer kita sekarang tidak

sanggup menjangkau arti kata ini,. Maka dari itu, kita tidak

menemukan hubungan erat antar manusia selain wala’

dalam dua dimensi sekaligus, yaitu hubungan secara

vertikal dan secara horisontal dalam kepemimpinan politik,

hukum, peradaban, ketaatan, pengikutan dan … Hubungan

wilayah adalah hubungan khas di tengah umat manusia

secara vertikal dan horisontal:

Wilayah secara vertikal adalah hubungan antara umat

dengan Allah swt., Rasulullah dan wali amr atau pemimpin

Islam. Hubungan ini akan mengejewantah dalam ketaatan,

cinta, pembelaan, nasihat, pengikutan dan … Semua itu berarti

apabila kita memandang wilayah vertikal ini dari bawah

ke atas. Allah berfirman:

“Taatilah Allah dan taatilah Raslulullah dan wali amr

kalian”.

Sementara, jika kita mengamati wilayah vertikal ini dari atas

ke bawah. yang tampak adalah kekuasaan, pemerintahan

dan perlindungan. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya wali dan pemimpin kalian adalah Allah,

Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat

dan memberi zakat saat mereka rukuk”.[119]

Inilah arti singkat dari wilayah vertikal yang dipandang dari

dua arah atas dan bawah. Yang dimaksud dari arah ke atas

adalah hubungan umat dengan pemimpin-pemimpinnya.

Sedangkan maksud dari arah ke bawah adalah hubungan

para pemimpin Islam dengan umatnya. Dengan demikian,

hubungan wilayah di satu sisi adalah kepemimpinan, dan di

sisi lain adalah kepatuhan.

Adapun wilayah secara horisontal adalah hubungan

yang mengikat manusia antara satu sama yang lain dalam kehidupan sosial mereka. Al-Qur’an mengungkapkan hal ini

dalam kalimat yang singkat, padat dan teliti:

﴿ اِمنََّا المؤُمِنُونَ اِخوَة ﴾

“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah saudara”.[120]

Imam Hasan Askari as. menerangkan ayat ini kepada penduduk

kota Abah dan Qom dalam sebuah kalimat yang juga

singkat: “Seorang mukmin adalah saudara seibu dan seayah orang

mukmin yang lain”.[121]

Ini merupakan jalinan istimewa yang tidak kita dapatkan

padanannya di tengah umat, agama dan syariat yang

lain.

Diriwayatkan dari Rasulullah saw. bersabda: “Orangorang

mukmin adalah saudara yang berdarah sama. Mereka

adalah tangan bagi yang lain, yang-di-atas berusaha untuk

menanggung mereka yang-di-bawahnya”[122] .

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Mukmin adalah

saudara mukmin lainnya. Mereka seperti satu tubuh; apabila

salah satu anggotanya mengadu, maka dia akan merasakan

derita itu pada seluruh anggota tubuhnya yang lain”[123] .

Beliau mewasiatkan orang-orang berimana seraya

berkata: “Hendaknya kalian saling bersilaturrahmi, saling

berbakti dan saling menyayangi, jadilah kalian saudara yang

rukun sebagaimana Allah swt. perintahkan pada kalian”[124] .

Inilah penjelasan tentang wilayah secara horisontal. Dan

berulang kali disebutkan bahwa kita tidak menemukan ikatan sosial di tengah kehidupan manusia yang lebih kuat

dan kokoh dari pada ikatan wilayah.

Uraian di atas menjelaskan bahwa ikatan wilayah merupakan

ikatan organik pada satu bangunan keluarga yang

kokoh bertautan seperti benteng yang kuat, sebagaimana

disinyalir al-Qur’an dengan ibarat bunyanun marshush. Dan

hubungan antara individu-individunya seperti hubungan

yang terjalin antarorgan tubuh. Dan tentunya, hubungan ini

jauh lebih kuat daripada hubungan antaranggota keluarga

biasa.

Dengan demikian, wilayah adalah struktur yang khas

dalam sebuah hubungan umat manusia yang merupakan

ikatan organik bagi seseorang dengan sebuah keluarga atau

anggota dengan satu tubuh.

Pilar-pilar wilayah secara horisontal adalah gotong

royong, silaturahmi, nasihat, kebajikan, persaudaraan, kemurahan,

kasih sayang, bantuan, solidaritas, penyempurnaan

dan … Adapun pilar-pilar wilayah secara vertikal

adalah ketaatan, kepatuhan, kepasrahan, cinta, pembelaan,

pengikutan, komitmen, peneladanan, keakraban, cinta pada

mereka dan pada wali-wali mereka, benci dan perlawanan

terhadap musuh-musuh mereka, dan lain sebagainya.

Tersisa satu poin yang penting untuk disampaikan di

akhir pembahasan tentang ikatan organik ini, bahwa

wilayah atau pengikutan kepada Ahlulbait as. dan baro’ah

atau pelepasan diri dan perlawanan terhadap musuh-musuh

mereka bukan merupakan kasus sejarah yang sama sekali

terputus hubungan dari kehidupan politik dan peradaban

kita sekarang. Jelas wilayah yang dilukiskan oleh Imam

Ja’far Ash-Shadiq as.—begitu besar dalam ucapannya: “Di

Hari Kiamat nanti, tidak ada panggilan yang lebih penting

daripada panggilan mengenai wilayah”, tidak mungkin sebatas kepercayaan yang sama sekali terputus dari realitas

dan gerakan politik yang kita jalani sekarang.

Wilayah adalah ketaatan, cinta, keanggotaan, perlawanan

terhadap musuh, damai, perang, dan penentuan sikap

sosial politik kontemporer di bawah naungan pemimpin

penerus yang sah. Maka selama wilayah dan baro’ah tersebut

tidak berbasis pada kepercayaan akan sebuah gerakan,

tindakan, sikap politik damai atau perang yang menjadi

ketentuan wilayah lanjutan atau pengganti yang sah untuk

masa sekarang niscaya wilayah dan baro’ah tersebut tidak

memiliki nilai yang besar seperti apa yang kita simak dalam

teks-teks riwayat dari Ahlulbait as.

Berikut ini kita akan membicarakan elemen-elemen lain

wilayah secara ringkas yang kita tarik dari teks doa ziarah

Ahlulbait as., karena sungguh doa-doa yang diriwayatkan

dari mereka penuh dengan konsep dan elemen wilayah.

Baro’ah

Wajah lain dari wilayah adalah baro’ah itu sendiri. Wilayah

dan baro’ah merupakan dua wajah dari satu permasalahan

yaitu keterikatan dan keanggotaan pada Ahlulbait as. Bedanya

baro’ah adalah wajah dan dimensi yang lebih berat

dalam keanggotaan tersebut. Wilayah tanpa baro’ah adalah

wilayah yang kurang dan buta.

Ada seorang lelaki mendatangi Amirul Mukminin Ali

as. seraya berkata kepada beliau: “Sungguh aku mencintaimu

juga mencintai musuh-musuhmu”. (Inilah yang kami

maksud dari wilayah yang kurang dan buta).

Amirul Mukminin Ali as. menukas: “Namun sampai ini

kamu masih juling dan bermata satu (pandangan orang

bermata satu adalah pandangan yang setengah dan kurang).

Berikutnya, tidak ada kecuali dua pilihan bagimu yaitu buta

(maka di samping kehilangan wilayah dia juga kehilangan baro’ah) atau melihat (yakni berwilayah kepada Ahlulbait

as. sekaligus menentang musuh-musuh mereka)”.

Dalam ziarah Jami’ah disebutkan: “Aku bersaksi kepada

Allah dan bersaksi kepada kalian (Ahlulbait as.), sesungguhnya

aku beriman pada kalian dan pada apa yang kalian

imani, aku menolak musuh kalian dan apa yang kalian

kafirkan. Aku sadar akan perkara dan kedudukan kalian

dan mawas akan kesesatan mereka yag menentang kalian.

Aku berwilayah dan mendukung kalian serta wali-wali

kalian, aku benci dan melawan musuh-musuh kalian”.

Ziarah Asyura terhitung sebagai ziarah yang paling

banyak menyatakan penolakan dan perlawanan terhadap

musuh-musuh Allah swt., seperti penggalan berikut ini:

“Semoga Allah melaknat umat yang membunuh kalian

(Ahlulbait as.), semoga Allah mengutuk orang-orang yang

membuka jalan bagi mereka dengan cara pengerahan massa

untuk memerangi kalian, aku berlindung dari mereka di

bawah naungan Allah dan kalian, sungguh aku berlindung

dari mereka, dari pengikut dan wali-wali mereka serta siapa

saja yang ikut bersama mereka”.

Teks di atas menyatakan baro’ah bukan hanya terhadap

musuh-musuh Allah, melainkan juga penolakan terhadap

sekutu dan pengikut musuh-musuh Allah serta siapa saja

yang setuju dengan perbuatan mereka. Maka sebagaimana

kita mendekatkan diri pada Allah melalui wilayah, pengikutan

dan cinta terhadap wali-wali Allah, kita juga mendekatkan

diri pada-Nya dan pada wali-Nya melalui perlawanan

terhadap musuh-musuh Allah beserta pengikut mereka.

Disebutkan juga dalam ziarah Asyura sebagai berikut:

“Sesungguhnya aku mendekatkan diri pada Allah dan pada

Rasul-Nya … dengan berwilayah pada kalian, juga dengan

penolakan terhadap mereka yang memerangi kalian, menabuh

genderang pertempuran melawan kalian, dan dengan penolakan terhadap siapa saja yang menyediakan basis

perlawanan serta menyusun barisan penentang kalian”.

Ikatan Imbal Balik Tauhid dalam Kerangka Wilayah

Pada hakikatnya, wilayah masuk kategori tauhid, sebagaimana

berulang kali kita ingatkan sebelum ini. Dan sebetulnya,

nilai wilayah dalam Islam mengalir turun dari

tauhid dan merupakan perpanjangan dari pengesaan Tuhan

itu sendiri. Oleh karena itu, tiada wilayah bagi selain Allah

kecuali dengan seijin dan perintah-Nya. Allah berfirman:

﴿ اَللهُ وَلُِِّ المذِينَ آمَنُوا ﴾

“Allah adalah wali orang-orang yang beriman”.[125]

Adapun wilayah Rasulullah saw. dan para imam atau wali

amr adalah wajib di bawah wilayah Allah dan atas dasar

perintah-Nya. Maka, barang siapa yang berwilayah pada

Allah dalam artian hanya Dia pemimpin jagat raya, maka

dia juga harus menerima wilayah Rasulullah saw. dan para

imam as. setelahnya. Tidak bisa dipisahkan atara wilayah

Rasulullah saw. dengan wilayah Allah, begitu pula tidak

mungkin dipisahkan antara wilayah Ahlulbait as. dan wilayah

Rasulullah saw. Allah berfirman:

﴿ إمنََّا وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُولُهُ وَ المذِينَ آمَنُوا المذِينَ يُقِيمُونَ ال م صلََةَ وَ يُؤتُونَ المزكَاةَ

وَ هُم رَاكِعُونَ ﴾

[126]

“Sesungguhnya wali kalian adalah Allah dan Rasul-Nya

serta orang-orang beriman yang menegakkan shalat dan

memberi zakat ketika rukuk”.

Hadis-hadis yang mengatakan ayat ini turun mengenai Ali

bin Abi Thalib as. mencapai tingkat mustafidh.[127] Hadis-hadis

itu menegas bahwa yang dimaksud oleh al-Qur’an sebagai

orang yang menegakkan shalat dan memberi zakat dalam

keadaan rukuk adalah Ali bin Abi Thalib as.

Dalam ayat itu Allah menegaskan wilayah adalah milik

Dia dan Rasul-Nya serta orang beriman yang menegakkan

shalat dan memberi zakat dalam keadaan rukuk. Mereka

adalah wali amr ‘imam segenap Muslimin’.

Hanya saja, wilayah Rasulullah saw. dan Ahlulbaitnya

hanyalah sebagai lanjutan dari wilayah Allah swt. dan tidak

sejajar, sebagaimana ketaatan kepada Rasulullah dan para

wali amr setelahnya merupakan kelanjutan dari ketaatan

kepada Allah.

Inilah wilayah dan ketaatan. Hal yang sama juga berlaku

dalam cinta. Diriwayatkan dari Rasulullah saw. bersabda:

“Cintailah Allah yang telah memberi nikmat pada

kalian, cintailah aku karena cinta Allah dan cintailah Ahlulbaitku

karena cinta padaku”[128] .

Rasulullah saw. juga bersabda: “Cintailah Allah yang

telah memberi nikmat pada kalian, dan cintailah aku karena

kalian mencintai Allah, dan cintailah Ahlulbaitku karena

kalian mencintaiku”[129] .

Jadi, barang siapa yang berwilayah pada Allah maka dia

juga harus berwilayah pada Rasulullah dan keluarganya.

Dan barang siapa yang mentaati Allah maka dia juga harus

mentaati mereka. Dan barang siapa yang mencintai Allah

maka dia juga harus mencintai mereka.

Ini salah satu sisi keseimbangan tauhid. Adapun sisi

lainnya menyatakan adalah barang siapa yang berwilayah

kepada mereka berarti dia berwilayah kepada Allah, dan

barang siapa mentaati mereka maka dia mentaati Allah, dan

barang siapa yang mencintai mereka maka dia mencintai

Allah Dengan demikian sempurnalah keseimbangan tauhid

tersebut dalam jalinan wilayah dari dua belah pihak.

Coba renungkan teks-teks berikut ini yang menunjukkan

kedua sisi keseimbangan tauhid tersebut:

Dalam ziarah Jami’ah disebutkan: “Barang siapa yang

berwilayah kepada kalian maka dia telah berwilayah kepada

Allah, dan barang siapa yang memusuhi kalian maka dia

telah memusuhi Allah”.

Disebutkan juga di dalamnya: “Barangsiapa yang mentaati

kalian maka dia telah mentaati Allah dan barangsiapa

yang membangkang pada kalian maka dia telah bermaksiat

pada Allah”.

Disebutkan pula di sana: “Barang siapa yang mencintai

kalian maka dia telah mencintai Allah, dan barang siapa

membenci kalian maka dia telah membenci Allah”. Dan kita

semua seyogyanya mendekatkan diri pada Allah swt. melalui

wilayah dan dukungan kita terhadap Rasulullah serta

Ahlulbaitnya serta menolak musuh-musuh mereka.

Disebutkan dalam ziarah Asyura sebagai berikut: “Sesungguhnya

aku mendekatkan diri kepada Allah dengan

berwilayah kepadamu (wahai Imam Husain as.), begitu pula

dengan menentang orang-orang yang membunuhmu dan

menyulut api peperangan melawanmu”.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah

saw. bersabda: “Barang siapa mentaatiku, dia telah mentaati

Allah, dan barang siapa bermaksiat padaku, dia telah bermaksiat

pada Allah, dan barang siapa bermaksiat pada Ali

dia telah bermaksiat padaku”.[130]

Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah kejadian; ketika itu

Rasulullah saw. melihat Ali as. seraya bersabda: “Wahai Ali,

aku adalah tuan di dunia dan di akhirat, kekasihmu adalah

kekasihku, dan kekasihku adalah kekasih Allah, musuhmu

adalah musuhku dan musuhku adalah musuh Allah”.[131]

Satu poin yang amat penting dari konsep wilayah dan

baro’ah dalam Islam terletak pada kecermatan kita akan

ikatan tauhid yang berbasis pada wilayah Allah dan wilayah

wali amr (Ahlulbait as). Kita harus mengerti keseimbangan

tauhid yang membaur-utuh antara dua wilayah ini. Dan

wilayah hakiki dalam Islam harus tumbuh sebagai konsekuensi

dari wilayah Allah, dan selain itu hanyalah wilayah

yang batil. Begitu pula ketaatan dan cinta yang sebenarnya,

menurut Islam, harus digenggam sebagai konsekuensi dari

ketaatan dan cinta pada Allah. Maka selain itu sama sekali

tidak berarti menurut tolok ukur dan timbangan Allah swt.

Atas dasar ini, Ahlulbait as. adalah rambu-rambu petunjuk

menuju Allah. Mereka adalah pemimpin sesuai dengan perintah-Nya. Mereka memasrahkan segala urusan kepada

Allah dan orang yang memberi hidayah menuju Allah swt.

Ini dari satu sisi. Adapun di sisi lain, orang yang menghendaki

Allah, jalan, keridhaan, hukum dan batas-batas-

Nya, dia harus menapaki jalan mereka dan menyerap ajaran

mereka.

Untuk lebih jelasnya, marilah kita perhatikan dua sisi

keseimbangan tauhid ini dalam teks-teks berikut:

Disebutkan dalam ziarah Jami’ah: “Kepada Allah kalian

mengajak, kepada-Nya kalian menunjukkan, kepada-Nya

kalian beriman, untuk Dia kamu pasrahkan, sesuai perintah-

Nya kalian beramal, kepada jalan-Nya kalian arahkan, dan

dengan firman-Nya kalian menghakimi”.

Berikut ini dua sisi permasalahan dalam satu kalimat

singkat yang disinyalir juga oleh ziarah Jami’ah: “Barang

siapa menghendaki Allah, dia harus memulainya dengan

kalian, dan barang siapa yang mengesakan-Nya dia harus

menerima dari kalian, dan barang siapa yang menuju-Nya

maka dia harus memperhatikan kalian”.

Saya tekankan untuk kesekian kalinya bahwa kita tidak

akan bisa mengerti wilayah kecuali dari sudut pandang

tauhid, dan bahwa wilayah Ahlulbait as. adalah kelanjutan

dari wilayah Allah swt.. Bentuk apapun dari pemahaman

wilayah, ketaatan dan cinta pada Ahlulbait as. yang tidak

bersaambung dengan wilayah Allah, maka itu bertentangan

dengan ucapan dan ajaran Ahlulbait itu sendiri.

Salam dan Nasihat

Dua aspek berikutnya dari wilayah adalah salam dan nasihat

dalam kaitannya dengan wali amr atau para imam.

Salam adalah sisi negatif dari hubungan ini, sedangkan

nasihat adalah sisi positif jalinan bersama pemimpin Islam.

Berikut ini penjelasannya:

Salam

Arti salam kepada wali amr ‘para imam as.’ yaitu hendaknya

kita tidak membiarkan mereka sendiri dalam kesulitan dan

bahaya, hendaknya kita tidak melawan, tidak berontak atau

berdurhaka kepada mereka, tidak mengusir mereka, tidak

menentang mereka dalam urusan apa pun, tidak memihak

pada yang lain dalam mengambil keputusan, tidak menghinakan

mereka, tidak mengharapkan keburukan menimpa

mereka, tidak merusak kehormatan mereka baik saat hadir

ataupun gaib, tidak berbuat makar dan tipu daya terhadap

mereka, tidak berjalan bersama musuh-musuh mereka, tidak

memperdaya mereka, tidak merekayasa mereka, tidak

melangkahi mereka, tidak menelantarkan mereka, tidak menyerahkan

mereka kepada musuh, tidak menzalimi mereka,

tidak berkedok di hadapan mereka dan lain sebagainya.

Itu aspek peniadaan dari hubungan dan pergaulan

dengan Ahlulbait as. sebagai wali amr dan pemimpin Islam.

Salam kepada wali amr as. memanjang dari salam dalam

hubungan kita dengan Allah swt. Dan seperti halnya elemen

lain, salam juga masuk dalam kategori tauhid, karena

salam kepada wali-wali amr as. adalah juga salam kepada

Allah, dan sungguh Allah telah memerintahkan kita untuk

menyikapi-Nya dengan salam dan damai serta hendaknya

kita tidak masuk ke lingkungan musuh-Nya atau orang

yang memihak kepada selain-Nya. Allah swt. berfirman:

﴿يََ أيُّ هَا المذِينَ آمَنُوا ادخُلُوا فِِ ال سلمِ كَافمةً وَ لَا تَ تمبِعُوا خُطُوَاتِ ال م شيطَان﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah dalam

kedamaian dan Islam secara utuh, dan janganlah kalian

mengikuti langkah-langkah setan”.[132]

Silm ‘salam’ yang dianjurkan oleh Allah dalam ayat di atas

adalah salam itu sendiri dalam hubungan kita dengan-Nya.

Dan lawan dari salam dalam berhubungan dengan Allah

adalah memerangi, memihak pada yang lain dan menentang-

Nya. Allah berfirman:

﴿ فَإن لََ تَفعَلُوا ف أذَنُوا بَِِربٍ مِنَ اللهِ وَ رَسُولِهِ ﴾ََ

“Apabila kalian tidak melakukannya, maka ijinkan peperangan

Allah dan Rasul-Nya”.[133]

﴿ اِمنََّا جَزَاءُ المذِينَ يََُارِبُونَ اللهَ وَ رَسُولَهُ وَيَسعَونَ فِِ الاَرضِ فَسَادًا أن

يُقتَلُوا ...﴾َ

“Sesungguhnya balasan orang-orang yang memerangi

Allah dan Rasul-Nya dan berusaha menebarkan kerusakan

di muka bumi ialah dibunuh dan diperangi …”.[134]

﴿ وَ ذلِكَ بَِنم هُم شَاقُّوا اللهَ وَ رَسُولَهُ وَ مَن يُشَاقِقِ اللهَ وَ رَسُولَهُ فَإ م ن اللهَ شَدِيدُ

العِقَاب ﴾

“Hal itu karena mereka telah memihak pada selain Allah

dan Rasul-Nya, dan barang siapa memihak pada yang

lain dan menentang Allah dan Rasul-Nya, maka Allah

sungguh keras dalam siksa-Nya”.[135]

﴿ اَلََ تَعلَمُوا أنمهُ مَن يََُادِدِ اللهَ وَ رَسُولَهُ فَإ م ن لَهُ نَا رَ جَهَنممَ خَالِدًا فِيهَا ذلِكَ هُوَ

الخِزيُ العَظِيمُ ﴾

“Tidakkah kalian tahu bahwa orang yang menentang

keras Allah dan Rasul-Nya akan masuk neraka jahanam

selama-lamanya dan itu kehinaan yang sangat besar”.[136]

Maksud dari kata muhadadah dalam ayat ini adalah sikap

seseorang yang berpihak pada selain garis dan batas yang

ditentukan Allah swt.

Demikian arti salam kita kepada Allah swt. Adapun

salam antara kita dan pemimpin-pemimpin Islam atau wali

amr as. adalah kepanjangan dari salam kita kepada Allah

dan bagian dari prinsip tauhid.

Secara umum, semua elemen wilayah kepada Ahlulbait

as. sebagai pemimpin Islam berpijak pada asas tauhid; pengesaan

Allah dan menolak wujud sesuatu yang independen

dari ijin dan perintah Allah swt.

Salam kepada wali amr atau pemimpin Islam (yaitu

Rasulullah dan Ahlulbaitnya), sebagaimana termuat dalam

teks-teks ziarah, bukan dari kategori sapa dan pesan, tetapi

dari kategori sikap, pergaulan dan hubungan.

Kedalaman arti dari salam kepada mereka yaitu hendaknya

kita tidak mengusik mereka dengan tingkah laku yang

buruk, karena sesungguhnya mereka hadir dalam tindakan

kita sebagaimana ditegaskan oleh surah al-Qadr dan hadis.

Oleh karena itu, perilaku buruk, maksiat dan dosa pengikut

Rasulullah saw. dan Ahlulbait as. akan mengganggu mereka

sebagaimana mengganggu dua malaikat pencatat amal.

Sebaliknya, perbuatan saleh akan menyenangkan mereka.

Kiranya cukup sampai di sini saja perbincangan kita

seputar salam kepada wali amr dan tidak perlu diperpanjang

lebih dari ini.

Ziarah-ziarah para iamam maksum penuh dengan salam

dan pengulangan salam kepada mereka, seperti dalam

ziarah Jami’ah Kedua yang tidak begitu populer, yaitu

ziarah Jami’ah yang diriwayatkan oleh Syaikh Shaduq dari

Imam Ali Ridha as. dalam kitab Man La Yahdluruhul Faqih,

terdapat sekelompok salam kepada mereka. Berikut ini kami

akan menyebutkan sebagian salam-salam itu sebagai bukti:

“Salam kepada wali-wali Allah dan pilihan-pilihan-Nya,

salam kepada orang-orang terpercaya Allah dan kekasihkekasih-

Nya, salam kepada penolong-penolong Allah dan

para khalifah-Nya (khalifah artinya pemimpin yang dilantik

Allah untuk mengatur urusan umat manusia, bukan khalifah

yang dicatat dalam sejarah pasca wafat Rasul), salam

kepada ruang-ruang makrifat Allah, salam kepada rumahrumah

zikir Allah, salam kepada pemenang perintah Allah

dan larangan-Nya, salam kepada penuntun-penuntun yang

mengajak kepada Allah, salam kepada mereka yang

bersemayam dalam keridhaan Allah, salam kepada mereka

yang ikhlas dalam ketaatan Allah, salam kepada petunjukpetunjuk

Allah, salam kepada mereka yang barang siapa

berwilayah kepada mereka niscaya Allah berwilayah kepadanya

dan mencintainya, salam kepada mereka yang

barang siapa memusuhi mereka Allah akan memusuhinya,

salam kepada mereka yang barang siapa yakin pada mereka

niscaya telah yakin pada Allah, salam kepada mereka yang

barang siapa bodoh akan mereka ia telah bodoh akan Allah,

salam kepada mereka yang barang siapa berpegang teguh

pada mereka dia telah berpegang teguh pada Allah, dan

salam kepada mereka yang barang siapa menyempal dari

mereka dia telah menyempal dari Allah”.

Nasihat

Nasihat adalah aspek positif dari hubungan manusia dengan

wali amr ‘pemimpin Islam’ as. Nasihat pada mereka

juga masuk kategori tauhid, dan merupakan kepanjangan

dari nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya. Nasihat adalah

salah satu dari tiga perkara politik yang diumumkan oleh

Rasulullah di masjid Khif, di Mina, kepada mayoritas Muslimin

yang hadir di tahun Haji Wada’ atau Haji Perpisahan.

Syaikh Shaduq meriwayatkan dalam kitab Khisal dari

Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Rasulullah saw. Berpidato

pada Haji Wada’ di Mina tepatnya di masjid Khif.

Beliau memuja dan memuji Allah kemudian bersabda:

‘Semoga Allah menyegarkan dan peduli pada hamba-Nya

yang mendengar sabdaku kemudian menyadarinya, lalu

menyampaikan sabdaku ini pada orang yang belum mendengarnya.

Dan betapa banyak pembawa ilmu agama atau

fiqih yang tidak alim dan faqih, dan betapa banyak pembawa

ilmu agama kepada orang yang lebih alim dan faqih

daripada dirinya. Ada tiga perkara yang tidak akan menimbulkan

dengki pada hati seorang Muslim: pertama, ikhlas

dalam beramal hanya demi Allah. Kedua, nasihat terhadap

pemimpin-pemimpin Muslimin. Ketiga, komitmen terhadap

masyarakat Islam. Sesungguhnya dakwah dan doa mereka

mencakup masyarakat Muslim yang lain. Dan orang-orang

Muslim adalah saudara yang berdarah sama, orang yang

unggul berupaya untuk menanggung orang yang di bawahnya,

dan mereka adalah tangan bagi yang lain’”.[137]

Nasihat untuk wali amr dan pemimpin Muslimin as.

yaitu seorang Muslim harus menjadi pembela dan mata bagi

mereka mengajukan aspirasi dan konsultasi yang tulus kepada

mereka, melindungi mereka, memaparkan problem,

kegelisahan dan penderitaan Muslimin pada mereka, dan

inilah sisi positif yang dimaksudkan.

Figur Keteladanan

Salah satu elemen wilayah kepada Ahlulbait as. adalah

peneladanan pada mereka. Allah swt. telah menjadikan

Nabi Ibrahim as. sampai Rasulullah saw. sebagai teladan

yang unggul bagi umat manusia. Mereka harus mengikuti figur-figur teladan tersebut dan mengukur diri dengan

keutamaan mereka. Allah berfirman:

﴿ قَد كَانَت لَكُم اُسوَةٌ حَسَنَةٌ فِِ اِبرَاهِيمَ وَ المذِينَ مَعَه ﴾

“Sungguh terdapat teladan yang baik bagi kalian pada

diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya”.[138]

﴿ لَقَد كَانَ لَكُم فِِ رَسُولِ اللهِ اُسوَةٌ حَسَنَة ﴾

“Sungguh, sungguh dan sungguh terdapat teladan yang

baik bagi kalian pada diri Rasulullah”.[139]

Adapun setelah Rasulullah saw., teladan baik yang harus

kita panuti dalam hidup ini adalah Ahlulbait sebagai

pengganti beliau, baik dalam hubungan kita bersama

keluarga maupun hubungan kita dengan diri kita sendiri.

Tentunya, awal dari semua hubungan ini adalah hubungan

kita dengan Allah swt.

Peneladanan bukan pelajaran. Di samping sebagai guru

kita, Ahlulbait as. juga teladan kita. Mereka adalah guru

yang kita serap anjuran dan ajaran mereka, teladan yang

kita tapaki bekas-bekas langkah mereka, kita jalani jalur

mereka, kita ikuti aliran mereka dalam kehidupan, dan kita

hidup sebagaimana mereka hidup serta bergaul bersama

masyarakat dan keluarga sebagaimana mereka bergaul.

Imam-imam Ahlulbait as. adalah maksum atau suci dari

dosa dan kesalahan. Artinya, mereka adalah model yang

sempurna bagi kemanusiaan. Allah telah menjadikan mereka

sebagai tolok ukur dan timbangan yang harus kita

gunakan untuk mengukur diri kita dengan mereka. Maka,

apa yang sesuai dengan mereka dalam praktek, ucapan, diam, gerak perilak serta sikap kita adalah kebenaran. Dan

sebaliknya, segala hal yang bertentangan dengan mereka

adalah kesalahan, entah itu karena berlebihan atau kekurangan.

Hakikat ini juga termuat dalam ziarah Jami’ah:

“Orang yang tertinggal dari kalian adalah celaka, dan orang

yang melampaui kalian adalah binasa, sedangkan orang

yang bersama kalian adalah ikut bergabung”.

Marilah kita membaca sejarah dan tradisi Ahlulbait as.

untuk menyesuaikan perilaku kita dengan mereka. Amirul

Mukminin as. sering berkata: “Sadarlah bahwa kalian tidak

akan mampu untuk itu, tapi bantulah aku dengan warak

dan kesungguhan”.

Ziarah Jami’ah menyifati Ahlulbait as. dengan matsal a’la

atau model tertinggi, yaitu standar yang benar bagi umat

manusia untuk mengukur dirinya dengan mereka sebisa

mungkin untuk berjalan bersama mereka.

Ahlulbait as. mewarisi hal-hal berharga dari Nabi Ibrahim

dan Rasulullah saw., seperti akhlak, penyembahan,

ikhlas, ketaatan dan takwa. Dengan demikian, orang yang

ingin mendapatkan petunjuk para nabi dan mengikuti jalan

mereka, dia bisa mendapatkannya dengan mengikuti petunjuk

Ahlulbait as. dan meneladani mereka. Ziarah Jami’ah

membawakan sebuah doa yang berbunyi: “Semoga Allah

menggolongkanku bersama orang yang mengikuti jejak

mereka, menempuh jalur mereka, dan mengambil petunjuk

hidayah mereka”.

Sedih dan Gembira

Sedih dan gembira adalah kondisi kejiwaan dalam berwilayah

dan merupakan tanda-tanda cinta. Orang yang mencintai

seseorang secara alami akan sedih karena kesedihan

kekasihnya, dan gembira karena kegembiraannya. Imam

Ja’far Ash-Shadiq as. berkata: “Syi’ah kami adalah dari kami, apa-apa yang menyakitkan kami akan menyakitkan

mereka dan apa-apa yang menggembirakan kami juga akan

menggembirakan mereka”.[140]

Ada sebuah riwayat sahih dari Rayyan bin Syabib,

paman Mu’tasim Abbasi dari ibunya; dia meriwayatkan dari

Imam Ali Ar-Ridha as. yang berkata: “Wahai putera Syabib,

apabila kamu ingin bersama kami pada derajat-derajat

tertinggi di surga maka bersedihlah karena kesedihan kami,

dan bergembiralah karena kegembiraan kami, dan hendaknya

kamu berwilayah kepada kami dan mencintai kami,

karena sesungguhnya seseorang mencintai batu sekalipun,

niscaya Allah akan mengumpulkannya bersama batu itu di

Hari Kiamat nanti”.[141]

Masma’ meriwayatkan: “Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-

Shadiq as. berkata kepadaku: ‘Wahai Masma’ kamu adalah

orang Irak, apakah kamu mendatangi kuburan Husain bin

Ali?’ Aku menjawab: “Tidak, aku dikenal dari kota Basrah

dan di tengah kita ada orang-orang yang menuruti keinginan

khalifah sekarang, musuh-musuh kita banyak dari

berbagai kabilah; mulai dari mereka yang mencaci maki

keluarga Nabi sampai yang lain. Aku tidak aman dari

mereka yang kapan saja melaporkan keadaanku ini pada

putera Sulaiman sehingga mereka pun mengejarku”.

“Maka beliau berkata kepadaku: “Apakah kamu ingat

apa yang telah diperbuat terhadap Husain bin Ali?”

“Iya”, jawabku pendek.

Beliau berkata lagi: “Apakah kamu sedih?”

Aku menjawab: “Demi Allah iya, aku menangis karenanya

sehingga keluargaku melihat bekas tangisan itu pada diriku sampai-sampai aku meninggalkan makan sehingga

tanpak kelesuan pada wajahku”.

“Imam as. berkata: ‘Semoga Allah merahmati tetesan air

matamu! Sungguh kamu dari orang-orang yang gelisah

karena kami, gembira karena kami gembira, sedih karena

kami sedih, takut karena kami takut, aman karena kami

aman. Sungguh kamu akan menyaksikan kehadiran ayahayahku

untukmu, mereka mewasiatkan pada malaikat maut

untukmu, dan apa yang mereka kabarkan baik kepadamu

akan menjadi cendra matamu sebelum mati, malaikat maut

akan lebih lembut dan sayang padamu daripada seorang ibu

yang sayang pada anaknya’”.[142]

Aban bin Taghlib meriwayatkan dari Imam Ja’far Ash-

Shadiq as.: “Nafas orang yang sedih karena ketertindasan

kami adalah tasbih, kegelisahan karena kami adalah ibadah,

dan menjaga rahasia kami adalah jihad fi sabilillah”.[143]

Kita adalah bagian dari keluarga ini; kita beranggota

bersama mereka dalam keyakinan, asas-asas agama, cinta,

kebencian, wilayah dan baro’ah. Tanda kecintaan dan wilayah

itu adalah kesedihan kita atas kesedihan mereka dan

kegembiraan kita atas kegembiraan mereka.

Hanya pertanyaan yang muncul di sini: kenapa kita

menampakkan kesedihan dan kegembiraan kita serta mengeluarkannya

dari kondisi subjektif menjadi slogan dan

syiar yang kita tunjukkan di ruang sosial di hadapan kawan

dan lawan? Dan kenapa hadis-hadis Ahlulbait menekankan

agar kita menampakkan kesedihan dan tangisan itu, khususnya

dalam menangisi kesyahidan Imam Husain as.?

Bakar bin Muhammad Azdi meriwayatkan: “Berkata

Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. kepada Fudlail:

“Apakah kalian duduk (membuat majlis) dan membicarakan?”

Dia menjawab: “Iya, semoga aku menjadi tebusan

untukmu!”

Beliau berkata: “Sungguh aku mencintai majlis-majlis

itu. Maka hidupkanlah urusan kami, dan semoga Allah

merahmati orang yang menghidupkan urusan kami!”[144]

Motif penampakkan dan penyi’aran itu dalam rangka

menyatakan identitas iman kita; yaitu keanggotaan kita

dalam peradaban, politik dan kultur Ahlulbait as. Penampakkan

seperti inilah yang telah mampu menjaga kita

sepanjang abad, dan melindungi kita dari gelombang peradaban

serta politik zalim musuh-musuh sampai detik ini.

Kebersamaan dan Keikutsertaan

Mungkin kata kebersamaan merupakan ungkapan terindah

tentang keanggotaan dalam mazhab Ahlulbait as. Kebersamaan

dalam suka dan duka, kesulitan dan kemudahan,

kedamaian dan peperangan. Kata-kata ini juga dimuat oleh

ziarah Jami’ah dengan alunan syahdu yang menggairahkan

seakan lirik-lirik dari lagu wilayah:

مَعَكُ ن م مَعَكُ ن م لَا مَعَ عَدُ وِكُ ن م

“Bersama kalian, bersama kalian tidak bersama musuh

kalian”.

Di doa ziarah yang lain disebutkan:

لَا مَعَ غَنيرِكُ ن م

“Tidaklah bersama selain kalian”.

Kalimat ini lebih luas daripada kalimat pertama itu, yakni

“Tidak bersama musuh kalian”.

Kesertaan Kultural

Kesertaan dan pengikutan adalah konsep yang luas dalam

berwilayah; mencakup ikut serta dalam perang dan damai,

ikut serta dalam cinta dan benci, ikut serta dalam pemikiran,

budaya, makrifat dan hukum.

Kita bebas mengambil pengetahuan dari mana saja kita

temukan, baik dari timur maupun dari barat. Akan tetapi,

tidak dibenarkan kita mengambil peradaban dan makrifat

kecuali dari sumber wahyu. Nah, Ahlulbait as. menyerap

jernihnya makrifat dan peradaban dari sumber wahyu

tersebut. Mereka adalah rumah kenabian, wadah kerasulan,

tempat kunjung malaikat, alamat turunnya wahyu dan

penyimpan ilmu sebagaimana disebutkan juga dalam ziarah

Jami’ah.

Berbeda antara pengetahuan dan peradaban. Pengetahuan

tidak memiliki hasil yang secara langsung berhubungan

dengan perilaku manusia, kepercayaan atau akidah,

metode berpikir, cara beribadah, relasi, pergaulan, gerakan,

aksi sosial, aktivitas politik dan komunikasi serta hal-hal

lain yang berkaitan. Adapun peradaban dan budaya

memiliki hasil yang secara langsung berhubungan dengan

perilaku manusia, intelektualitas, gaya hidup dan pergaulan,

ibadah, dan gambarannya tentang Allah, jagat raya

serta manusia … dan seterusnya.

Ilmu pengetahuan banyak sekali seperti kedokteran,

bisnis, ekonomi, akuntansi, matematika, teknik arsitektur,

elektronika, ilmu atom, bedah, kedokteran, fisiologi, mekanik,

fisika dan lain sebagainya. Manusia bebas mengambil

pengetahuan dari sumber ilmu manapun yang dia dapatkan.

Bahkan dari orang kafir sekalipun, dia bebas mempelajari

ilmu pengetahuan, karena ilmu adalah senjata dan

kekuatan. Dan seyogyanya orang mukmin menerima senjata

dan kekuatan itu dari musuh mereka juga.

Adapun peradaban adalah seperti etika, irfan, filsafat,

akidah, fikih atau hukum, doa, pendidikan, pembersihan,

tradisi pergaulan, gaya hidup sosial, perjalanan spiritual,

adab dan lain sebagainya.

Peradaban tidak seperti pengatahuan. Seyogyanya kita

tidak mengambil peradaban dan makrifat kecuali dari

sumber wahyu. Hal itu karena peradaban memiliki pengaruh

yang secara langsung berhubungan dengan perilaku

manusia, pemahamannya, jalan hidupnya, pengalaman

spiritualnya, hubungannya dengan Allah swt, hubungannya

dengan masyarakat, hubunganya dengan diri sendiri dan

dengan alam. Peradaban menjaga ilmu pengetahuan. Ilmu

pengetahuan yang tidak disertai peradaban dan budaya

yang saleh serta terarah akan berubah fungsi menjadi alat

dekonstruksi dan perusak. Sedangkan peradaban yang dewasa

dan berhidayah akan menjaga ilmu pengetahuan dan

menjadikannya sebagai sarana efektif bagi umat manusia.

Al-Qur’an adalah kitab peradaban bagi kehidupan

manusia. Allah swt. menurunkannya untuk mengarahkan

pikiran manusia dan perilakunya. Al-Qur’an bukan buku

ilmu pengetahuan, kendatipun ulama mendapatkan banyak

ilmu di sana seperti astronomi, ilmu bintang, ilmu tumbuhtumbuhan,

ilmu binatang, kedokteran, fisiologi dan lain

sebagainya. Namun, tetap saja al-Qur’an adalah kitab peradaban

dan hidayah. Salah bila kita menerimanya sebagai

buku ilmu pengetahuan yang diturunkan oleh Allah swt.

untuk mengajarkan ilmu fisika, kimia dan ilmu tumbuhtumbuhan

pada manusia. Tidak lain, al-Qur’an adalah kitab

peradaban dan budaya yang diturunkan oleh Allah untuk

membina manusia bagaimana hidup, bagaimana mengenal

Tuhan, alam dan manusia, dan bagaimana menilai sesuatu,

tradisi dan pemikiran. Allah swt. berfirman:

﴿ شَهرُ رَمَضَانَ المذِي اُنزِلَ فِيهِ القُرآنَ هُدًی لِلنماسِ وَ بَ ي نَاتٍ مِنَ الهدَُی وَ

الفُرقَانَ ﴾

“Bulan Ramadhan yang padanya al-Qur’an diturunkan

sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan bukti-bukti

dari hidayah dan pemisah antara yang baik dan buruk”.[145]

﴿ وَ اذكُرُوا نِعمَةَ اللهِ عَلَيكُم وَ مَا اُنزِلَ عَلَيكُم مِنَ الكِتَابِ وَ الِْكمَةِ

يَعِظُكُم بِهِ ﴾

“Dan ingatlah kalian pada nikmat Allah terhadap kalian,

dan apa yang telah diturunkan pada kalian berupa kitab

dan hikmah yang menasihati kalian denganya”.[146]

﴿ هذَا بَ يَانٌ لِلنماسِ وَ هُدًی وَ مَوعِظَةً لِلمُتمقِيَْ ﴾

“Ini adalah keterangan bagi umat manusia dan petunjuk

serta nasihat bagi orang-orang yang bertakwa”.[147]

﴿ يََ أيُّ هَا النماسُ قَد جَاءكَُم بُرهَانٌ مِن رَب كُم وَ أنزَلنَا إلَيكُم نُورًا مُبينًا ﴾ “Wahai umat manusia sungguh telah datang pada kalian

bukti dari Tuhan kalian, dan telah kami turunkan pada

kalian cahaya yang menerangi”.[148]

﴿ وَ لَقَد جِئنَاهُم بِكِتَابٍ فَ م صلنَاهُ عَلَی عِلمٍ هُدًی وَ رَحمَةً لِقَومٍ يُؤمِنُ ونَ ﴾ “Dan sungguh telah kami datangkan pada mereka kitab

yang telah kami perinci atas dasar ilmu sebagai hidayah

dan rahmat bagi kaum yang beriman”.[149]

﴿ هذَا بَصَائِرُ مِن رَب كُم وَ هُدًی وَ رَحمَةٌ لِقَومٍ يُؤمِنُونَ ﴾ََ

“Ini adalah saksi-saksi dari Tuhan kalian, dan hidayah

serta rahmat bagi kaum yang beriman”.[150]

Oleh karena itu, al-Qur’an adalah kitab peradaban, cahaya

kehidupan manusia, saksi kebajikan bagi manusia, petunjuk

dan nasihat. Kendatipun dibenarkan bagi kita untuk mengambil

ilmu pengetahuan dari sumber mana saja, dan dari

tangan siapa pun walau dari tangan musuh kita sendiri.

Akan tetapi tidak dibenarkan bagi kita untuk mengambil

peradaban dan budaya kecuali dari media yang suci. Allah

menyampaikannya kepada kita dari sumber wahyu, karena

sesungguhnya kemungkinan salah dan penyimpangan dalam

peradaban adalah malapetaka yang besar, bukan seperti

ilmu pengetahuan.

Rasulullah saw. adalah sumber maksum atau suci yang

kepadanya wahyu diturunkan. Beliau menyampaikannya

kepada kita, dan wahyu itu terputus setelah wafatnya. Akan

tetapi, beliau mengangkat khalifah dari Ahlulbaitnya untuk

kita; mereka adalah padanan-padanan al-Qur’an. Mereka

telah mengambil peradaban dan makrifat dari Rasulullah

saw., mereka telah mewarisi makrifat, budaya, batas-batas

ketentuan Allah, halal dan haram, tradisi dan adab, akhlak,

pokok agama dan cabangnya dari Rasulullah saw. Beliau

melantik mereka sebagai tempat umat merujuk setelah ketiadaannya

dalam segala urusan tersebut di atas. Beliau juga

mengumumkan mereka sebagai padanan al-Qur’an dari

generasi demi generasi sampai akhirnya Allah swt.

mewariskan bumi dan seisinya pada mereka. Kandungan ini

terdapat dalam hadis yang sahih, baik menurut Ahli Sunnah

maupun Syi’ah, yaitu hadis yang dikenal dengan nama

hadis Tsaqalain (dua pusaka). Di sana Rasulullah saw. memerintahkan

umat Islam untuk kembali pada al-Qur’an dan Ahlulbaitnya setelah kepergian beliau sampai Hari Kiamat.

Beliau menetapkan bahwa berpegang teguh pada dua

pusaka itu menjamin manusia keamanan dari kesesatan dan

penyimpangan:[151]

إ نّ تََرِكٌ فِيكُمُ الثمقَلَيِْ كِتَابَ اللهِ وَ عِتََتِِ أهلَ بَيتِِ وَ انم هُمَا لَن يَفتََِقَا حَتمی

يَرِدَا عَلَ م ي الَْوضََ ما إن تَََ م سكتُم بِِِمَا لَن تَضِلُّوا بَعدِي

“Sesungguhnya aku tinggalkan dua pusaka pada kalian,

yaitu kitab Allah dan keluargaku, Ahlulbaitku, dan

sesungguhnya dua pusaka itu tidak akan berpisah sampai

keduanya menjumpaiku di telaga. Selama berpegang

teguh pada keduanya, kalian tidak akan pernah tersesat

setelahku”.

Hadis ini diriwayatkan dengan redaksi-redaksi yang mirip

antara satu dengan yang lain dalam referensi-referensi yang

ada. Dan dari perbedaan literal hadis ini, kita pahami bahwa

Rasulullah saw. telah mengulangnya beberapa kali di

berbagai tempat dan kesempatan, salah satunya di Ghadir

Khum (lembah Khum) seperti yang disinyalir oleh Shahih

Muslim menurut riwayat Zaid bin Arqam.

Rasulullah saw. juga bersabda:

م َثَلُ أهلِ بَيتِِ مَثَلُ سَفِينَةِ نُوحٍ مَن رَكِبَهَا نَََا وَ مَن تَََلمفَ عَنهَا غَرِقَ

“Perumpamaan Ahlulbaitku adalah bahtera Nabi Nuh,

barang siapa yang menaikinya akan selamat dan barang

siapa tertinggal darinya akan tenggelam”.[152]

Beliau juga bersabda:

أهلُ بَيتِِ أمَانٌ لِاُممتِِ مِنَ الَختِلََفِ

“Keluargaku adalah jaminan bagi umatku dari perselisihan”.[153]

Begitu pula hadis-hadis lain yang secara jelas meriwayatkan

bahwa Rasulullah saw. senantiasa mewasiatkan umat Islam

setelahnya agar kembali pada Ahlulbaitnya dan mengambil

ajaran-ajaran agama, makrifat, batas-batas ketentuan Allah,

sunnah nabi, halal dan haram dari mereka as. Fairuz Abadi

mengumpulkan hadis-hadis ini dalam kitabnya yang

berharga Fadlail Khamsah min Shihah Sittah (keutamaankeutaman

lima manusia dari enam kitab Shihah). Karena itu,

kita tidak perlu lagi membahasnya panjang lebar.

Dari uraian di atas, jelas sudah bahwa Ahlulbait as.

adalah ‘wadah kerasulan, tempat kunjung malaikat, alamat

turunnya wahyu, khazanah ilmu Illahi, lentera kegelapan, panji ketakwaan, pemimpin hidayah, pewaris para nabi,

bukti-bukti Allah terhadap penghuni dunia”, sebagaimana

pula termuat dalam ziarah Jami’ah.

Disebutkan juga di sana bahwa mereka adalah “tempattempat

makrifat pada Allah, tambang-tambang hikmah

Allah, pemikul kitab Allah, mereka adalah bukti, shirat,

cahaya dan burhan Allah”.

Maka, orang yang berpisah dari mereka pasti masuk

jalur kesesatan, cepat ataupun lambat, karena shirat Allah

tidak lebih dari satu dan tidak beragam. Orang yang menapaki

jalan mereka menuju Allah akan memperoleh hidayah,

dan orang yang beralih dari mereka dalam suluk tidak akan

pernah mencapai apa yang Dia kehendaki. Sungguh Rasulullah

telah berulang kali mengumumkan hal ini di berbagai

tempat dan kesempatan. Yang kita sebutkan di sini hanya

satu contoh dari semua itu, yaitu hadis Tsaqalain ‘dua

pusaka’; “Yang apabila kalian berpegang teguh pada dua

pusaka itu niscaya kalian tidak akan sesat setelahku”.

Tidak seperti yang mereka katakan. Masalah ini tidaklah

termasuk dalam medan ijtihad sehingga sebagian orang

terarah secara benar dan sebagian yang lain tersesat,

kemudian Allah memberi dua pahala pada mereka yang

benar dan memberi satu pahala pada yang salah.

Maka dari itu, tidak dibenarkan bagi seseorang untuk

berijtihad di saat ada teks yang jelas, dan sungguh Rasulullah

saw. telah bersabda secara nash (teks harfiah yang

jelas, tegas, tidak ambigu atau berkemungkinan lebih dari

satu arti)[154] agar umat manusia merujuk Ahlulbaitnya dalam

segala perkara yang mereka perselisihkan setelah beliau.

Dalam ziarah Jami’ah disebutkan bahwa: “Yang benci

kalian adalah pembangkang, yang bersama kalian adalah

gabung, orang yang lalai akan hak kalian adalah binasa, dan

kebenaran bersama kalian, di dalam kalian, dari kalian, dan

untuk kalian. Kalianlah tambang kebenaran dan keputusan

akhir ada pada kalian, ayat-ayat Allah di sisi kalian, cahaya

dan burhan Allah ber-sama kalian”.

Siapa saja yang hendak menuju Allah dan menginginkan

jalan, hidayah dan sabil-Nya, ia harus mengambil semua

itu dari Ahlulbait as. dan mengikuti jalan mereka, karena

Ahlulbait as. tidak mengajak selain kepada Allah, dan tidak

menunjukkan kecuali kepada-Nya.

Disebutkan dalam ziarah Jami’ah: “Kepada Allah kalian

mengajak, kepada-Nya kalian tunjukkan, untuk-Nya kalian

pasrahkan, sesuai perintah-Nya kalian bertindak, ke jalan-

Nya kalian arahkan, dan atas dasar firman-Nya kalian

menghakimi. Sungguh bahagia orang yang berwilayah pada

kalian, dan celakalah orang yang memusuhi kalian, merugilah

orang yang mengingkari kalian, tersesatlah orang yang

berpisah dari kalian, menanglah orang yang berpegang

teguh pada kalian, amanlah orang yang berlindung pada

kalian, selamatlah orang yang membenarkan kalian dan

terarahlah orang yang memegang erat kalian”.

Ketaatan

Inti sari wilayah adalah ketaatan dan kepasrahan. Ketaatan

akan bernilai positif apabila dilakukan pada tempatnya, dan

sebaliknya akan bernilai negatif apabila bukan pada tempatnya.

Begitu pula maksiat atau pembangkangan dan

penolakan bernilai positif apabila terhadap tiran, dan bernilai

negatif apabila terhadap Allah, Rasulullah dan Ahlulbaitnya

sebagai pemimpin urusan Muslimin.

Ayat ketujuh belas dari surah Az-Zumar mengumpulkan

dua masalah di atas dalam satu firman sebagai berikut:

﴿ وَ المذِينَ اجتَنَبُوا الطماغُوتَ أن يَعبُدُوهَا وَ أنَابُوا إلَی اللهِ لهَمُُ البُشرَی﴾

“Orang-orang yang menghindari pengabdian dari penguasa

zalim dan kembali kepada Allah maka bagi mereka

berita gembira”.

Dalam surah an-Nahl disebutkan:

﴿ أنِ اعبُدُوا اللهَ وَ اجتَنِبُوا الطماغُوتَ ﴾

“Dan hendaknya kalian menyembah Allah dan menghindari

penguasa zalim”.[155]

Taat dan ibadah, penolakan dan penghindaran adalah satu

hal, Allah telah memerintahkan kita untuk taat kepada-Nya,

kepada Rasul-Nya, dan kepada wali amr (imam maksum)

setelah Rasul-Nya:

﴿ أطِيعُوا اللهَ وَ أطِيعُوا المرسُولَ وَ اُولِِ الأمرِ مِنكُم ﴾

“Taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasulullah serta

ulul amr (pemimpin-pemimpin Islam) dari kalian”.

Dia juga memerintahkan kita agar menolak orang-orang

zalim dan melawan mereka.

﴿ يُرِيدُونَ أن يَ تَحَاكَمُوا إلَی الطماغُوتِ وَ قَد اُمِرُوا أن يكفُرُوا بِه ﴾

“Mereka ingin mempercayakan pemerintahan kepada

pemimpin zalim padahal mereka diperintahkan untuk

mengingkarinya”.[156]

Ahlulbait as. adalah para wali amr tersebut setelah Rasulullah

saw. yang harus dipatuhi dan pasrah terhadap apa

yang mereka tuntut. Mereka adalah “pemimpin-pemimpin

hamba Allah dan pilar negara”, dan mereka adalah “buktibukti

Allah atas penghuni dunia”.

Tauhid dalam Ketaatan

Kita memiliki iman tertentu. Tidak ada iman yang lebih

tinggi dari itu, yaitu bahwa ketaatan hanya untuk Allah

semata, dan sama sekali tidak ada ketaatan untuk selain

Allah kecuali dengan seijin dan perintah Dia, dan sesungguhnya

ketaatan kepada Rasulullah dan keluarganya adalah

termasuk ketaatan kepada Allah swt.

مَن أطَاعَكُم فَ قَد أطَاعَ اللهَ وَ مَن عَصَاكُم فَ قَد عَصَی الله

“Barangsiapa yang taat pada kalian sungguh dia taat

pada Allah dan barang siapa membangkang pada kalian

sungguh dia membangkang pada Allah”.[157]

Pasrah

Salah satu bukti ketaatan adalah pasrah, yaitu kondisi

kepatuhan yang seutuhnya tanpa perlawanan dan penolakan

sedikitpun. Dan salah satu kepasrahan yang paling

menonjol adalah kepasrahan hati: “Dalam hal itu aku pasrah

pada kalian, kuserahkan hatiku sepenuhnya untuk kalian dan kuikutkan

pendapatku pada kalian”.[158]

Damai dengan Siapa yang Damai dengan Kalian dan Perang dengan Siapa yang Memerangi Kalian

Damai dan perang juga merupakan dua wajah wilayah dan

baro’ah. Wilayah bukan hanya damai dengan para wali amr dan pemimpin Islam, melainkan ada dua kelanjutan yang

sulit yaitu damai dengan mereka dan dengan siapa saja

yang damai dengan mereka. Bahkan ini tidak cukup hanya

dengan mereka saja, tetapi juga perang melawan siapa saja

yang memerangi mereka as.

Pengertian yang dalam akan wilayah dan baro’ah ini,

“silmun li man salamakum wa harbun li man harabakum”, akan

mengatur peta politik masyarakat dalam sistem yang baru

menuju kawasan damai dan kawasan perang. Dan bila saja

diteliti lebih cermat, kata harb berarti pemisahan diri dari

sesuatu, bukan pertempuran, tentu beda antara pemisahan

atau penghindaran diri dari sesuatu dengan pertempuran.

Sesungguhnya hubungan sosial kita tidak tersistem

sesuai dengan maslahat material dan politik, melainkan atas

dasar wilayah dan baro’ah. Maka dari itu, ada kalanya kita

memutuskan hubungan dari kerabat atau tetangga sendiri,

sementara kita mempererat hubungan kita dengan orangorang

yang jauh secara ruang dan waktu.

Dalam ziarah Asyura disebutkan bahwa:

إ نّ سِلمٌ لِمَن سَالَمَكُم وَ حَربٌ لِمَن حَارَبَكُم وَ وَلٌِِّ لِمَن وَالَاكُم وَ عَدُوٌّ لِمَن

عَادَاكُم

“Sesungguhnya aku damai dengan siapa saja yang damai

pada kalian, aku putus dari siapa saja yang memutuskan

hubungan dengan kalian (perang), aku mendukung dan

mencintai siapa yang mendukung kalian, dan aku musuh

bagi siapa saja yang memusuhi kalian”.

Ada sebuah hadis musnad[159] dari Ammar yang meriwayatkan

Rasulullah saw. bersabda tentang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as.: “Sesungguhnya dia dariku dan aku darinya …

melawan dia berarti melawanku, damai dan pasrah padanya berarti

pasrah padaku, dan pasrah padaku berarti pasrah pada Allah”.

Tirmidzi dalam Shahihnya meriwayatkan dari Zaid bin

Arqam bahwa Rasulullah saw. bersabda tentang Amirul

Mukminin Ali bin Abi Thalib as., Siti Fatimah, Imam Hasan

dan Imam Husain sebagai berikut: “Aku lawan mereka yang

menentang kalian, dan damai dengan mereka yang damai dengan

kalian”.[160]

Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunan,

Rasulullah bersabda: “Aku damai dengan siapa saja yang damai

dengan kalian dan lawan bagi siapa saja yang melawan kalian”.[161]

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Hakim dalam Mustadrak[162]

Begitu pula Ibnu Atsir Jazri dalam Usud ul-Ghabah,[163] Muttaqi

dalam Kanzul Ummal,[164] Suyuthi dalam Durul Mantsur ketika menafsirkan ayat Tathhir dari surah al-Ahzab, juga Haitsami dalam Majma’ Zawa’id..[165]

Inilah arti tauhid dalam perlawanan dan damai. Maka

perlawanan terhadap Ahlulbait as. dan damai dengan mereka

berarti perlawanan terhadap Rasulullah saw. dan damai

dengan beliau. Dan, perlawanan terhadap beliau dan damai

adalah perlawanan terhadap Allah dan pasrah pada-Nya,

begitulah seterusnya unsur-unsur wilayah dan baro’ah yang

merupakan kategori pengesaan Tuhan.

Pembelaan dan Penuntutan

Masalah wilayah adalah masalah yang berat. Ia adalah sikap

damai disertai perlawanan baik dalam kemudahan maupun

dalam kesulitan. Andaikan masalah wilayah terbatas hanya

pada kedamaian dan kemudahan niscaya ia sebagai perkara

yang ringan. Akan tetapi, salah satu tuntutan wilayah yang

berat ini adalah pertolongan dan penuntutan hak. Wilayah

tidak akan berarti tanpa pembelaan sebagaimana Allah swt.

berfirman:

﴿ وَ المذُينَ آوَوا وَ نَصَرُوا اُولئِكَ بَعضُهُم أولِيَاءُ بَعضٍ ﴾

“Orang-orang yang kembali dan membela; sebagian

adalah wali bagi sebagian yang lain”.[166]

Wilayah yang benar juga tidak terlepas dari penuntutan

balas. Wilayah yang tidak menugaskan pemiliknya untuk

bertempur, melawan, memutus hubungan, usaha dan menghadapi

bahaya bukanlah wilayah yang sebenarnya, dan

wilayah seperti itu tidak lebih hanya sebuah gambar saja.

Kita berharap dan meminta pada Allah dalam ziarah

Asyura agar Dia memberi kesempatan kepada kita akan

penuntutan balas darah-darah suci yang tumpah secara

terzalimi di padang Karbala:

فَاسألُ اللهَ ال ذي أكرَمَ مَقَامَكَ وَ أكرَمَنِِ بِكَ أن يَرزُقَنِِ طَلَبَ ثََرِكَ مَعَ إمَامٍ

مَنصُورٍ مِن أهلِ بَيتِ مُحَممدٍ صَلمی اللهُ عَلَيهِ وَ آلِه

“Maka aku memohon pada Allah Yang telah memuliakan

kedudukanmu dan memuliakanku karena dirimu agar

Dia memberiku rejeki menuntut balas darahmu bersama

imam yang tertolong dari Ahlulbait Rasululullah saw.”

Disebutkan juga di sana yang artinya: “Dan aku memohon

Dia agar menyampaikanku pada kedudukan yang termulia (maqom mahmud) bagi kalian di sisi Allah, dan semoga Dia

memberiku rejeki menuntut balas darah kalian bersama

imam pembawa hidayah yang akan menang dan berbicara

secara benar dari Ahlulbait as.”.

Dan di ziarah Jami’ah kita mengikrarkan secara jelas

akan kesiapan kita yang seutuhnya dalam membela: “Dan

pembelaanku terhadap kalian sudah siap”.

Cinta dan Kasih Sayang

Unsur wilayah terhadap Ahlulbait yang berikutnya adalah

cinta dan kasih sayang. Turun satu firman Allah mengenai

masalah ini yang dimuat oleh al-Qur’an dan senantiasa

dibaca oleh orang, yaitu:

﴿ قُل لَا أسألُكُم عَلَيهِ أجرًا إملا الموََمدةَ فِِ القُربَی ﴾

“Katakanlah—wahai Muhammad—aku tidak meminta

kalian upah kecuali cinta kasih terhadap kerabatku”.[167]

Maksud dari kerabat Rasulullah adalah Ahlulbait beliau,

dan tidak ada perselisihan pendapat dalam hal ini.

Inilah cinta kasih yang wajib yang diisyaratkan oleh teks

ziarah Jami’ah: “Dan bagi kalian cinta kasih yang wajib dan

kedudukan-kedudukan yang sangat tinggi”. Taat dan cinta

merupakan ruh wilayah itu sendiri. Pernah suatu saat Imam

Ja’far Ash-Shadiq as. ditanya tentang cinta; apakah cinta

termasuk agama? Beliau menjawab: “Tiada lain agama

adalah cinta, dan andaikan seseorang mencintai batu niscaya

Allah akan mengumpulkannya bersama batu itu di Hari

Kiamat nanti”.

Telah disebutkan berulang kali sebelum ini, cinta juga

masuk dalam kategori tauhid. Barang siapa mencintai Allah

dia harus mencintai Rasulullah dan Ahlulbaitnya. Demikian

juga sebaliknya, orang yang mencintai Rasulullah saw. dan

Ahlulbaitnya, maka dia mencintai Allah swt.

Rasulullah saw. bersabda tentang bagian pertama di

atas: “Cintailah aku karena cinta Allah, dan cintailah Ahlulbaitku

karenca cinta aku”.[168] Dan mengenai bagian kedua

cinta beliau menyebutkan: “Barang siapa mencintai kalian

sungguh dia telah mencintai Allah, dan barang siapa yang

membenci kalian sungguh dia telah membenci Allah”.[169]

Begitu pula, orang yang mencintai Allah tentu mencintai

orang-orang mukmin karena cinta mereka pada Allah, dan

orang yang mencintai orang-orang beriman pasti mencintai

Allah. Sudah barang tentu, seyogyanya kecintaan kepada

Allah berada pada tingkat yang tertinggi dan terkuat dalam

diri manusia. Dan hendaknya cinta kepada Allah mendominasi

kehidupan manusia sehingga dia tidak lagi mencintai

yang lain; hanya di jalan Allah.

Tentang bagian pertama di atas Allah berfirman sebagai

berikut:

﴿ قُل إن كَانَ آبَاؤُكُم وَ أبنَاؤُكُم... أحَ م ب إلَيكُم مِن اللهِ وَ رَسُولِهِ وَ جِهَادٍ فِِ

سَبِيلِهِ فَ تَََبمصُوا حَتمی يََتَِِ اللهُ بَِمرِهِ وَ اللهُ لَا يَهدِي القَومَ الفَاسِقِيَْ ﴾

“Katakanlah –wahai Muhammad- apabila orang-orang

tua dan anak-anak kalian serta… lebih kalian cintai dari

pada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya

maka nantikanlah sampai Allah mendatangkan perkara-

Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk pada kaum yang

fasiq”.[170]

Adapun cinta sadar yang berkembang dari cinta pada Allah

adalah cinta yang kita perbincangkan tentang cinta kepada

Ahlulbait as.. Cinta ini bukanlah cinta biasa yang dangkal

sebagaimana dirasakan manusia dalam kehidupan mereka

pada umumnya. Cinta sadar kepada Ahlulbait as. adalah

cinta yang berawal dari cinta Allah swt.

Cinta sadar ini memiliki beberapa kriteria yang menonjol

sebagai berikut:

Kriteria pertama: cinta sadar tidak terpisah dari baro’ah

dan perlawanan. Semua cinta bersisipan dengan permusuhan

dan kebencian, rela dengan amarah, wilayah dengan

baro’ah dan penentangan. Adapun cinta tanpa permusuhan

dan kebencian hanyalah cinta sederhana yang dangkal.

Ada seorang lelaki menemui Amirul Mukminin Ali bin

Abi Thalib as. dan berkata: “Aku mencintaimu dan mencintai

musuh-musuhmu”. Maka beliau berkata padanya: “Adapun

sekarang kamu juling dan bermata satu (kamu melihat

dengan pandangan yang kurang), kamu antara dua pilihan;

buta atau melihat”.

Disebutkan juga dalam ziarah: “Aku berwilayah pada

kalian dan pada wali-wali kalian, dan aku benci pada musuh

kalian serta melawannya”.

Kriteria kedua: cinta sadar memiliki perpanjangan dan

perluasan di tengah masyarakat sebagaimana dia adalah

kelanjutan dari cinta Allah, karena sesungguhnya cinta pada

Allah meluas pada mereka dan juga pada kekasih mereka;

“berwilayah pada kalian dan pada wali atau kekasih kalian”.

Tidak mungkin manusia mencintai seseorang di jalan

Allah tapi tidak mencintai orang yang dicintai-Nya.

Kriteria ketiga: cinta sadar akan berevolusi menjadi sikap

praktis di medan peperangan dan perdamaian; “aku damai

dengan siapa saja yang damai bersama kalian, dan aku

melawan siapa saja yang melawan kalian”.

Kriteria keempat: cinta pada Allah dan benci di jalan Allah

menggariskan peta politik yang sempurna dalam hubungan

sosial, baik konstruktif atau destruktif, damai atau permusuhan,

penyambungan atau pemutusan hubungan di tengah

masyarakat yang luas secara terperinci.

Pembenaran dan Pembatilan

Wilayah kepada Ahlulbait as. mengharuskan kita untuk

melindungi kehormatan budaya dan khazanah ilmu mereka.

Oleh karena itu, kita harus membenarkan apa yang mereka

benarkan dan menyalahkan apa yang mereka salahkan.

Area peradaban dan pemikiran dalam sejarah Ahlulbait

as. merupakan sasaran utama bagi serangan yang dilancarkan

musuh-musuh mereka. Dan para faqih Ahlulbait as.

dan ulama mazhab ini bertanggung jawab menjaga ajaran,

budaya, sistem hukum dan khazanah mereka demi Islam.

Pembenaran dan pembatilan dalam kerangka ini akan

terealisasi dalam bentuk jihad, perlawanan, damai dan

peperangan, sebagaimana dilukiskan juga oleh ziarah

Jami’ah: “Aku damai dengan siapa saja yang damai dengan

kalian, aku lawan siapa saja yang melawan kalian, aku

pembenar apa yang kalian benarkan dan aku penyalah apa

yang kalian batilkan”.

Pusaka dan Penantian

Wilayah dan berwilayah senantiasa berlangsung sepanjang

sejarah sampai masa depan. Jaman tidak akan pernah

mengalami kekosongan dari wilayah sejak awal sejarah

manusia, yaitu Nabi Adam dan Nabi Nuh as. sampai

penghujung sejarah nanti di saat Imam Mahdi af, putera

Nabi, muncul kembali dan memenuhi muka bumi dengan

keadilan serta mewarisi bumi dengan mengambilnya dari

tangan orang-orang yang zalim. Semua itu adalah realisasi dari janji Allah swt. sebagaimana dimuat dalam Taurat dan

Injil.

﴿وَ لَقَد كَتَب نَا فِِ المزبُورِ مِن بَعدِ ال ذِكرِ أ م ن الأرضَ يَرِثُ هَا عِبَادِيَ ال م صالُِْونَ ﴾

“Telah Kami tetapkan dalam Zabur setelah kami

tetapkan juga dalam Taurat, bahwa bumi akan diwarisi

oleh hamba-hambaku yang saleh”.[171]

Kata dzikr dalam ayat itu ialah Taurat. Ini janji Allah dalam

Taurat, Zabur dan al-Qur’an, bahwa Ahlulbait as. mewarisi

para nabi dan orang-orang saleh sepanjang sejarah. Mereka

mewarisi shalat, puasa, zakat, haji dan dakwah kepada

Allah. Ziarah Warits kepada Imam Husain as. mengutarakan

dengan baik kepewarisan ilmu, peradaban, budaya, jihad

dan risalah untuk beliau dari para nabi as. Ziarah ini

memaparkan konsep peradaban dan khazanah yang dalam:

“Salam bagimu—Imam Husain—wahai pewaris Adam,

pilihan Allah. Salam bagimu wahai pewaris Nuh, nabi

Allah. Salam bagimu wahai pewaris Ibrahim, kekasih Allah.

Salam bagimu wahai pewaris Musa, kalimullah. Salam bagimu

wahai pewaris Isa, ruh Allah…!”

Pewarisan ini terus berdenyut di sepanjang nadi sejarah

semenjak Nabi Adam dan Nuh as. sampai Rasulullah saw.

dan Ali bin Abi Thalib as. Sedangkan Imam Husain as. di

padang Karbala, di Hari Asyura, telah mengejewantahkan

semua warisan dan pusaka tersebut; warisan khazanah,

kultur, peradaban dan jihad yang tegar.

Maka dari itu, seperti yang kita amati di atas, wilayah

memiliki gugusan historis yang tertanam sangat dalam di

lubuk sejarah. Ahlulbait as. adalah orang yang mewarisi

perjalanan panjang dan saleh ini dari para nabi. Sementara

kita mewarisi sejarah ini dari Ahlulbait as.

Kita mewarisi shalat, puasa, haji, zakat, amar makruf

dan nahi munkar, jihad, dakwah pada Allah, zikir, ikhlas,

dan seluruh nilai-nilai tauhid yang lain. Dengan demikian

kita tidak menjadi seperti orang yang difirmankan Allah:

﴿ فَخَلَفَ مِن بَعدِهِم خَلفٌ اَضَاعُوا ال م صلََةَ ﴾

“Maka datang generasi berikutnya setelah mereka yang

menghilangkan shalat”.[172]

Melainkan kita senantiasa menjaga dan mendirikan shalat

dan mengajak orang lain kepadanya, sebagaimana ulamaulama

dulu kita menjaganya sebelum kita, dan semoga kita

tergolong orang yang menerima firman Allah swt. ini:

﴿ وَأمُر أهلَكَ بِال م صلََةِ وَ اصطَبَِ عَلَيهَا ﴾

“Dan perintahkan keluargamu untuk shalat dan sabarlah

untuk itu”.[173]

Maka itu, kita akan senantiasa menjaga warisan Ilahi yang

agung ini dan yang telah kita warisi dari salaf kita yang

saleh, dari generasi ke generasi, baik di dalam diri kita

sendiri maupun di tengah keluarga dan masyarakat. Inilah

perjalanan wilayah sepanjang sejarah dan ini adalah warisan

kita dari sejarah masa lalu.

Di samping itu, wilayah juga memiliki perjalanan ke

masa depan menusuk sampai ke era mendatang, di saat kita

menantikan munculnya Imam Mahdi as. dan menunggu

kelapangan serta kemenangannya yang besar. Yaitu sebuah

revolusi universal sebagaimana diberitakan oleh Allah kepada

kita dalam al-Qur’an juga dalam Taurat serta Zabur:

﴿وَ لَقَد كَتَبنَا فِِ المزبُورِ مِن بَعدِ ال ذِكرِ أ م ن الأرضَ يَرِثُها عِبَادِيَ ال م صالُِْونَ ﴾

“Telah Kami tetapkan dalam Zabur setelah kami tetapkan

juga dalam Taurat, bahwa bumi akan diwarisi oleh

hamba-hambaku yang saleh”.

Penantian tidak berarti pasif seperti orang yang menunggu

gerhana bulan atau matahari, akan tetapi aktif dan positif

sebagaimana yang tampak dari teks-teks yang menjelaskan

konsep penantian tersebut; yaitu penyiapan secara politis,

kultur dan aktif di bumi ini demi mempersiapkan tanah air

dan masyarakat untuk kehadiran Imam Mahdi af. sebagai

pemimpin revolusi universal yang besar.

Berdasarkan arti positif, penantian ialah amar makruf

dan nahi munkar, menyeru kepada Allah, berjihad melawan

orang-orang dzalim, mengangkat kalimat Allah, menegakkan

shalat, nilai-nilai Ilahi di bumi dan hal-hal lain yang

berperan dalam persiapan revolusi universal yang besar.

Ziarah Jami’ah juga mengisyaratkan aspek masa depan

dari wilayah ini: “Aku menanti pemerintahan dan negara

kalian”, “Sampai akhirnya Allah menghidupkan agama-Nya

dengan kalian, mengembalikan kalian di hari-hari-Nya,

memenangkan kalian demi keadilan-Nya, dan memudahkan

kalian di muka bumi-Nya”. Kalimat terakhir ini

mengacu pada bagian pertama surah al-Qashash:

﴿وَ نُرِيدُ أن نََُّ م ن عَلَی المذِينَ استُضعِفُوا فِِ الأرضِ وَ نََعَلَهُم أئِممةً وَ نََعَلَهُمُ

الوَارِثِيَْ ﴾﴿ وَ نََُّ كِنَ لهَمُ فِِ الأرضِ ...﴾

“Dan kami hendak memberi anugerah pada mereka yang

tertindas di bumi dan kami jadikan mereka sebagai

pemimpin serta kami jadikan mereka pewaris, dan kami

mudahkan bagi mereka di muka bumi…”.[174]

Penantian ini mengkristal secara praktis dalam gerakan,

kesungguhan, kesabaran, ketegaran, penghancuran, pembangunan,

upaya ke arah penegakan agama Allah di muka

bumi, dan persiapan untuk berdirinya daulat Ilahi di atas

bumi. Caranya ialah mengajak kepada Allah, memerintahkan

yang makruf dan mencegah yang munkar, memerangi

kebatilan dan kemunkaran serta berjuang melawan

pemerintahan dan pemimpin yang kafir.

Berikut ini nada syahdu dari ratapan kaum mukmin

karena berpisah dari imam dan menanti kedatangannya:

Di manakah baqiyyatullah yang tidak akan pernah

kosong dari keluarga pemberi hidayah

Di manakah dia yang dipersiapkan untuk menumpas

pangkal kedzaliman?

Di manakah dia yang dinanti untuk meluruskan yang

simpang?

Di manakah dia yang diharapkan untuk memusnahkan

kezaliman dan kejahatan?

Di manakah dia yang disimpan untuk menghidupkan

kewajiban dan sunnah?

Di manakah dia yang dipilih untuk mengembalikan

agama dan syariat?

Di manakah dia yang didambakan untuk menghidupkan

kitab dan batas-batasnya?

Di manakah dia sang penghidup ajaran-ajaran agama

dan penganutnya?

Di mana dia penghantam kekuatan manusia-manusia

jahat?

Di manakah dia sang penghancur kesyirikan dan

kemunafikan?

Di manakah dia sang pemusnah kaum fasik, durjana

dan tiran?

Di manakah dia sang pemutus jaring kebohongan dan

fitnah?

Di manakah dia sang pemusnah kaum penerjang, sang

pencabut akar para perusak, sesat dan kafir?

Di manakah dia yang memuliakan para wali dan

menghinakan semua lawan?

Di manakah dia sang penghimpun kata takwa?

Di manakah dia sang gerbang Allah yang harus

dimasuki?

Di manakah dia sang pemilik hari kejayaan dan

pengibar bendera hidayah?

Di manakah dia sang penyusun damai dan rela?

Di manakah dia sang penuntut balas para nabi dan

anak-anak mereka?

Di manakah dia sang penuntut darah Husain yang

terbunuh di Karbala?

Di manakah dia yang dibantu melawan para pembangkang

dan penebar fitnah?

Di manakah orang terdesak yang dikabulkan jika

berdoa?

Di manakah dia sang putera Nabi Mustafa, putera

Ali Murtadha, putera Khadijah yang mulia, putera

Fathimah yang agung?”[175]

Penantian adalah gabungan antara ratapan syahdu dan

praktek yang serius dalam amar makruf dan nahi munkar

serta jihad melawan orang-orang zalim demi mempersiapkan

bumi untuk kemunculan, kelapangan dan kebangkitan

Imam Mahdi af.

Ratapan syahdu dalam hati orang mukmin akan berubah

menjadi tindakan, gerakan, usaha keras, revolusi,

kebangkitan, kesabaran, keteguhan, perlawanan, ketabahan,

perjuangan, dakwah, penghancuran dan pembangunan.

Semua itu untuk mempersiapkan bumi untuk kemunculan

Imam Mahdi af. dan kebangkitannya dalam rangka mendirikan

kedaulatan Ilahi yang universal sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam al-Qur’an: “wa laqod katabna fiz zaburi min

ba’diz dzikri”.

Sudah barang tentu, kebangkitan Imam Mahdi af. akan

berlangsung pasca generasi yang melapangkan bumi untuk

kemunculan dan kebangkitan tersebut. Hal ini dipertegas

oleh teks-teks Islam yang mutawatir. Generasi itulah yang

mempersiapkan bumi sehingga Imam Mahdi af. muncul.

Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa penantian

adalah gerak mempercepat persiapan tersebut dengan caracara:

amar makruf, nahi munkar, jihad, gerakan dan amal.

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, wilayah

adalah pusaka sekaligus juga penantian. Pusaka, karena

wilayahlah yang menarik kita ke perjalanan para nabi dan

orang-orang saleh sepanjang sejarah silam. Dan penantian,

karena wilayahlah mengajak kita menuju harapan cerah

yang akan dibuka lebar oleh Allah di hadapan kita di masa

yang akan datang. Namun begitu, harapan itu harus selalu

dibarengi dengan usaha keras, jihad dan amal sehingga

dengan ijin Allah menjadi kenyataan, tidak sekedar menanti

dan menunggu tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi af.

Ziarah

Elemen dan pengaruh lain dari wilayah adalah ziarah. Yang

dimaksud dengan ziarah di sini adalah kondisi yang sudah

jelas saat kita menjalin hubungan dengan Ahlulbait as. Kita

komitmen pada mereka, mengajak orang lain agar mengikuti

mereka. Ziarah dalam ruang lingkup wilayah memuat

budaya, tradisi, dan teks-teks yang selalu kita baca dan kaya

akan pemikiran serta konsep peradaban tentang wilayah

yang mendalam dan luas dalam kehidupan manusia.

Tujuan dari ziarah adalah solidarisasi organik dan kultural

melalui pembinaan yang terarah sepanjang sejarah.

Dan kita adalah bagian dari perjalanan yang sarat dengan nilai-nilai tauhid ini; penuh ikhlas, takwa, shalat, jihad,

zakat, amar makruf, zikir, syukur, sabar, kekuatan dan…

Kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan

penuh berkah ini, yang berawal dari Ahlulbait as. dan

bersambung sampai ke gerakan para nabi; mulai dari Nabi

Adam sampai Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan nabi-nabi

yang lain … Ya, inilah bagian dari gugusan panjang, bagian

dari pergulatan sejarah antara Islam dan Jahiliyah, antara

tauhid dan syirik pada setiap fase perjalanan, dan bagian

dari pohon mulia yang akarnya terhujam di lubuk sejarah

yang paling dalam.

Kita adalah dahan-dahan pohon itu, dan sepantasnya

kita menjaga keanggotaan kita dalam pohon tersebut:

﴿ ألََ تَ رَ كَيفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلًَ كَلِمَةً طَي بَةً كَشَجَرَةٍ طَي بَةٍ أصلُهَا ثََبِتٌ وَ

فَرعُهَا فِِ ال م سمَاءِ ﴾

“Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah membawakan

perumpamaan kalimat yang indah dengan pohon mulia

yang pokoknya kokoh dan cabangnya di langit”.[176]

Kita harus memperdalam komitmen kita pada keanggotaan

pohon tersebut dalam intuisi, hati dan akal kita. Sejauh

komitmen organik dengan syajarah thayyibah dan Keluarga

penuh berkah ini menguat dan mendalam, sejauh itu pula

kita akan bertambah kesabaran dan kesolidan kita melawan

tantangan yang bertubi-tubi, dan kita akan bertambah teguh

dalam menjalani lintas yang berduri dan melampaui krisis

yang kita hadapi sepanjang jalan.

Dan ziarah merupakan bagian dari faktor utama dalam

upaya penguatan tersebut. Ziarah menciptakan atmosfir

emosional yang kental sehingga keanggotaan kita bersama Keluarga penuh berkah ini dalam peradaban, pergerakan

dan perjalanan yang mulia menjadi lebih kuat.

Teks-teks yang datang dari Ahlulbait untuk berziarah

kepada Rasulullah saw., Imam Ali bin Abi Thalib as.,

Fatimah Az-Zahra, Imam Hasan, Imam Husain dan Imamimam

yang lain serta para nabi, wali Allah dan orang-orang

mukmin yang saleh, penuh dengan kekayaan peradaban

dan budaya yang jelas, memuat konsep-konsep penguatan

jalan yang lurus, keanggotaan dalam Keluarga yang penuh

berkah, dan penegasan atas perlawanan terhadap musuhmusuh

mereka, terhadap siapa saja yang anti mereka serta

yang menyulut api permusuhan terhadap mereka.

Sebelumnya, saya telah menulis kajian seputar ziarah di

pasal akhir dari buku yang berjudul ad-Du’a ‘Inda Ahlilbait

as. (doa menurut Ahlulbait as.), dan saya cukupkan sampai

di sini sekilas tentang ziarah. Adapun perinciannya, pembaca

bisa merujuk buku tersebut.[]


TINGKATAN DAN RAIHAN

WILAYAH KEPADA AHLULBAIT AS.

Di pasal ini kita akan berbicara tentang poin terakhir dari

rangkaian pembahasan sebelumnya, yaitu tangga wilayah

dan raihannya.

Wilayah dan baro’ah adalah dua tangga pendakian

manusia menuju Allah swt. Dengannya manusia dapat naik

peringkat dekat di sisi Allah serta meraih keridhaan-Nya.

Kedekatan dan keridhaan Allah tidak mungkin tercapai

kecuali dengan dua tangga dan sarana tersebut. Di bawah

ini marilah kita perhatikan beberapa hadis dari Ahlulbait as.

berkaitan dengan tangga wilayah dan baro’ah.

Kehidupan Rasulullah dan Keluarganya di Dunia dan Akhirat

Abdullah bin Walid meriwayatkan bahwa: “Suatu hari kami

menemui Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as.. Pada

masa itu Marwan berada di puncak kekuasaan. Beliau berkata

pada kami: 'Kalian datang dari mana?'

"'Kami dari warga Kufah', jawab kami singkat.

"Beliau berkata: 'Tidak ada negeri yang lebih banyak

pecinta Ahlulbaitnya daripada Kufah, khususnya kelompok

ini. Sesungguhnya Allah telah menuntun kalian kepada hal

yang tidak diketahui oleh masyarakat umum. Oleh karena

itu, kalian mencintai dan mengikuti kami di saat mereka

memusuhi, kalian membenarkan kami di saat mereka menentang, dan di saat mereka mendustakan kami, justru

kalian dihidupkan oleh Allah sebagaimana hidup kami dan

dimatikan oleh Allah sebagaimana mati kami. Maka aku

bersaksi atas nama ayahku bahwa dia senantiasa berkata:

'Jarak antara kalian dengan saat kebahagiaan yang membuat

orang lain iri terhadap kalian tidak lebih dari sampainya ruh

ke sini (beliau menunjuk ke tenggorokan dengan tangannya;

artinya saat kematian). Sungguh Allah swt. berfirman dalam

kitab-Nya:

﴿ وَ لَقَد أرسَل نَا رُسُلًَ مِن قَبلِكَ وَ جَعَلنَا لهَمُ أزوَاجًا وَ ذُ ريمة ﴾

“Dan sungguh telah kami utus para rasul sebelum kamu

serta kami berikan pada mereka istri dan keturunan”.[177]

"'Dan kami adalah keturunan Rasulullah saw'".[178]

Dalam ziarah Asyura disebutkan:

وَ أحيِنَا مَحيَا مُحَممدٍ وَ آلِ مُحَممد وَ أمِتنَا مَََاتَ مُحَممدٍ وَ آلِ مُحَممد

“Ya Allah! Hidupkanlah kami sebagaimana kehidupan

Nabi Muhammad dan keluarganya, matikanlah kami sebagaimana

kematian Nabi Muhammad dan keluarganya”.

Allah Menebarkan Kemuliaan pada Mereka

Rasulullah saw. bersabda: “Allah swt. berfirman kepada

Syi’ahku (pengikutku) dan Syi’ah Ahlulbaitku (pengikut

keluargaku) di Hari Kiamat kelak: ‘Kemarilah wahai hambahamba-

Ku, akan Kutebarkan kemuliaan pada kalian, karena kalian

sungguh telah teraniaya di dunia’”.[179]

Mereka Berpegang Teguh pada Kami, Ahlulbait as., dan Kami Berpegang Teguh pada Rasulullah saw.

Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata bahwa

ayahnya; Imam Muhammad Baqir as. sering berkata:

اِ ن شيعتَنا آخِذُون بِجزَتِنا و نحنُ آخذون بِجزةِ نبي نا ونبيُنا آخذون بِجزةِ الله

“Sesungguhnya Syi’ah kita berpegang teguh pada kita

dan kita berpegang teguh pada Nabi, dan Nabi berpegang

teguh pada Allah”.[180]

Allamah Majlisi mengatakan: akhodztu bihujzatir rohman

sama dengan I’tashomtu, yakni aku berpegang teguh pada-

Nya.[181]

Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata:

“Tatkala Hari Kiamat datang, Rasulullah berpegang teguh

pada Allah, Amirul Mukminin Ali berpegang teguh pada

Rasulullah, kami berpegang teguh pada Ali, dan Syi’ah

kami berpegang teguh pada kami. Maka ke manapun kalian

melihat, niscaya Rasulullah mendatangkan kami”[182] .

Imam Ali bin Husain Zainul Abidin as. berkata: “Orang

yang paling berhak untuk warak dan berupaya keras meraih

cinta dan keridhaan Allah adalah para wasi dan pengikut

mereka. Tidakkah kalian rela ketika tiba-tiba sesuatu yang

sangat menakutkan datang dari langit, lalu setiap kaum

berlindung ke tempat-tempat aman mereka, adapun kalian

berlindung pada kami, dan kami berlindung pada Rasulullah.

Sungguh Rasulullah berpegang teguh pada Allah, dan

kami berpegang teguh padanya dan Syi’ah kami berpegang

teguh pada kami”.

 

Rejeki Allah pada Mereka di Akhirat

Jabir bin Abdillah Ansari berkata: “Suatu hari aku bersama

Rasulullah saw., tiba-tiba Ali bin Abi Thalib as. mengampiri.

Lalu beliau bersabda: 'Apakah kamu tidak ingin berita

gembira dariku wahai Abul Hasan (Ali)?' Ali pun berkata:

'Tentu wahai Rasulullah!' Beliau bersabda: 'Jibril membawa

berita untukku dari Allah, bahwa Dia telah memberikan

sembilan keistimewaan kepada Syi’ahmu dan orang-orang

yang mencintaimu: kelembutan saat mati, kesenangan saat

terasing, cahaya saat kegelapan, aman saat ketakutan, bagian

yang banyak saat timbangan, melintasi shirot (dengan

selamat), masuk surga sebelum semua orang, dan cahaya

mereka bersinar menyelimuti dari depan dan samping”.[183]

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. berkata: “Di

Hari Kiamat nanti, orang yang berwilayah pada kami akan b

bangkit dari kuburnya dalam keadaan wajah bersinar, aurat

tertutup, aman dari segala hal yang menakutkan, lapang

dari semua kesulitan, mudah dalam segala urusan, orangorang

pada ketakutan tapi mereka tidak takut, orang-orang

pada bersedih tapi mereka tidak bersedih”.[184]

Ibnu Abbas berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah

saw. tentang firman Allah yang berbunyi:

﴿ وََ ال م سابِقُونَ ال م سابِقُونَ ﴾َ﴿ اَُولئِكَ المقَُمربُونَ ﴾َ﴿ فَِِ جَنماتِ النمعِيم ﴾َََ

“Dan orang-orang yang mendahului, orang-orang yang

mendahului, mereka adalah orang-orang yang terdekat, di

dalam surga-surga Na’im”.[185]

"Lalu beliau bersabda: 'Jibril as. berkata; mereka adalah Ali

dan Syi’ahnya. Merekalah orang-orang yang mendahului masuk surga dan terdekat di sisi Allah dengan kemuliaan

yang Dia berikan kepada mereka'”.[186]

Bersama dan Dari Kami

Imam Ali Ridha as. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Aku dan dia, maksud beliau adalah Ali, seperti dua

ini (beliau menggabungkan dua jarinya) dan Syi’ah kami

akan bersama kami, dan orang yang membantu orang zalim

juga bersama kami”.[187]

Umar bin Yazid berkata: "Imam Ja’far Ash-Shadiq as.

berkata: “Wahai Ibnu Yazid, demi Allah kamu termasuk

dari kami Ahlulbait”. Kukatakan pada beliau: “Semoga aku

menjadi tebusan untukmu! Benarkah aku dari keluarga

Muhammad (saw.)?”. Beliau menjawab: “Iya, demi Allah

kamu dari diri mereka sendiri. Tidakkah kamu membaca

firman Allah swt. yang berbunyi:

﴿ اِ م ن اَولَی النماسِ بِِبرَاهِيمَ لَلمذِينَ اتم بَعُوهُ وَ هذَا النم ب الاُ ميُّ ﴾َ

“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan

Ibrahim adalah mereka yang mengikutinya dan Nabi

ini”.[188]

Dan tidakkah kamu membaca firman-Nya:

﴿ فَمَن تَبِعَنِِ فَإ نمهُ مِ نِ ﴾

“Dan barangsiapa yang mengikutiku maka dia adalah

dariku”.[189]

Diriwayatkan juga dari Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata:

“Syi’ah kami adalah bagian dari kami. Apa yang mengganggu mereka juga mengganggu kami, dan apa yang

menyenangkan mereka juga menyenangkan kami. Karena

itu, apabila seorang dari mereka menghendaki kami, maka

hendaknya dia menuju ke arah mereka, karena merekalah

yang mengantarkannya sampai kepada kami”.[190]

Abu Abdillah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. berkata:

“Siapa yang mendukung keluarga Muhammad dan mendahulukan

mereka dari semua orang sebagaimana Allah

mendahulukan mereka bersama kerabat Rasulullah saw.,

maka dia termasuk keluarga Muhammad karena kedudukannya

di sisi keluarga Muhammad. Kedudukan itu diperoleh

karena dia mendukung dan mencintai serta mengikuti

mereka, begitulah Allah menentukan dalam firman-Nya:

﴿ وَ مَن يَ تَوَملهمُ مِنكُم فَإنمهُ مِنهُم ﴾

“Dan siapa dari kalian yang mencintai dan mendukung

mereka maka dia termasuk golongan mereka”.[191]

“Begitu pula tutur Nabi Ibrahim yang disinyalir al-Qur’an:

﴿ فَمَن تَبِعَنِِ فَإنمهُ مِ نِ ﴾

“Dan orang yang mengikutiku sungguh dia dariku”.[192]

Menang dan Bahagia

Jabir bin Yazid meriwayatkan dari Imam Muhammad Baqir

as., dari Ummu Salamah istri Rasulullah saw. berkata: “Aku

mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Ali dan

Syi’ahnya adalah orang-orang yang menang”.[193]

Bersama Syuhada’ karena Wilayah dan Baro’ah

Dalam sebuah hadis shahih, Rayyan bin Syubaib, paman

Mu’tashim, berkata: “Di hari pertama Bulan Muharram, aku

menemui Abul Hasan Imam Ali Ridha as. Setelah perbincangan

panjang beliau berkata kepadaku: “Wahai Ibnu

Syubaib, jika kamu menangis karena sesuatu, tangisilah

karena Husain bin Ali bin Abi Thalib as.. Karena sesungguhnya

dia disembelih seperti domba dan (delapan belas)

pria dari keluarga beliau yang tidak ada padanannya di

muka bumi ini telah dibunuh bersamanya.

“Wahai Ibnu Syubaib, jika kamu ingin tinggal bersama

Rasulullah saw. di kamar-kamar surga, maka laknatlah

orang yang memerangi dan membunuh Husain as.

“Wahai Ibnu Syubaib, jika kamu ingin mendapatkan

pahala seperti pahala orang yang syahid bersama Husain

as., maka katakanlah setiap kali mengingatnya:

يََ لَيتَنِِ كُنتُ مَعَهُم فَأفُوزَ فَوزًا عَظِيمًا

“Sekiranya aku bersama mereka sehingga aku pun mendapatkan

kemenangan yang agung!"

“Wahai Ibnu Syubaib, jika kamu ingin bersama kami di

derajat-derajat tinggi surga, maka bersedihlah karena

kesedihan kami, bergembiralah karena kegembiraan kami,

dan berwilayalah kepada kami. Karena seorang yang

mencintai batu pun niscaya dikumpulkan oleh Allah bersama

batu itu di Hari Kiamat”.[194]

Hadis di atas ini shahih dan, tentunya, mengejutkan

setiap pembacanya dan membuatnya tertegun. Kalau bukan

karena keshahihan silsilah sanad hadis ini, niscaya kita akan

mengategorikannya sebagai suatu yang dilebih-lebihkan seperti yang kita dapatkan dalam hadis-hadis mursal dan

dha’if.[195]

Coba bacalah kembali kalimat yang menarik dari hadis

di atas, “Wahai Ibnu Syubaib, jika kamu ingin mendapatkan

pahala seperti pahala orang yang syahid bersama Husain

as., maka katakanlah setiap kali mengingatnya:

يََ لَيتَنِِ كُنتُ مَعَهُم فَأفُوزَ فَوزًا عَظِيمًا

“Seandainya aku bersama mereka sehingga aku pun

mendapatkan kemenangan yang agung”.

Apabila harapan seperti ini tulus dan sungguh-sungguh,

dan jika benar kerelaan terhadap tindakan Imam Husain as.

beserta sahabatnya dan murka atas kejahatan Bani Umayyah

beserta pengikut mereka adalah tulus dan nyata, maka

orang yang berharap, rela dan murka tersebut akan terhitung

sebagai orang yang berwilayah dan mencintai Imam

Husain as., dan mendapatkan pahala sebagaimana sahabat

beliau yang syahid bersamanya. Dengan begitu, niat dan

kesadaran berevolusi menjadi tindakan demi Allah swt.

Yakni; niat digabungkan dengan tindakan demi Allah.

Tentunya, apabila niat itu benar-benar jujur maka ini merupakan

revolusi yang sangat menakjubkan. Hubungan antara

niat dan tindakan dan revolusi niat menjadi tindakan dalam

hal pahala dan balasan. Ini adalah hukum dan satu sistem

sebagaimana terdapat juga perubahan materi menjadi energi

dalam ilmu Fisika. Ini merupakan kaidah yang aneh dalam

segi positif dan negatif, dalam pahala dan siksa dalam arti

yang sesungguhnya.

Sebagaimana niat beramal saleh akan menggabungkan

pemiliknya dengan pahala amal orang saleh, niat berbuat zalim atau rela akan kezaliman juga akan menggabungkan

pemiliknya dengan siksa orang yang zalim.

Muhamad bin Arqath berkata: “Aku menjumpai Imam

Ja’far Ash-Shadiq as. di Madinah”. Beliau berkata: “Apakah

kamu singgah di Kufah?”

Kujawab: “Iya”.

Kemudian beliau bertanya lagi: “Berarti kamu melihat

orang-orang yang memerangi Husain as.?”

Kukatakan padanya: “Semoga diriku menjadi tebusan

untukmu, aku tidak melihat seorang pun dari mereka”.

Beliau menimpali jawabanku: “Itu berarti kamu tidak

melihat pembunuh—atau orang yang memerangi—kecuali

hanya orang yang secara langsung membunuh atau mendukung

pembunuhan itu? Bukankah kamu dengar firman

Allah swt. yang berbunyi:

﴿ قَد جَائَكُم رُسُلٌ مِن قَبلِي بِالبَي نَاتِ وَ بِالمذِي قُلتُم فَلِمَ قَ تَلتُمُوهُم إن كُنتُم

صَادِقِيَْ ﴾

“Telah datang pada kalian utusan-utusan Tuhan sebelumku

dengan membawa bukti-bukti dan dengan apa

yang kalian katakan, lalu kenapa kalian bunuh mereka

jika memang kalian benar”.

“Siapa utusan Allah (rasul) yang telah dibunuh oleh orangorang

yang dihadapi Rasulullah saw., sementara tidak ada

satu utusan pun di masa antara Nabi Isa as. dan Rasulullah

saw.? Sesungguhnya mereka adalah orang yang rela atas

pembunuhan rasul-rasul Tuhan tersebut. Oleh karena itu,

mereka disebut sebagai orang yang zalim dan pembunuh”.

Ayat yang diisyaratkan oleh Imam Ja’far Ash-Shadiq as.

adalah ayat 82 dan 83 dari surah Al-Imran, lengkapnya

adalah sebagai berikut:

اَلمذِينَ قَالُوا إ م ن اللهَ عَهِدَ إلَينَا أملا نُؤمِنَ بِرَسُولٍ حَتمی يََتينَا بِقُربَانٍ تََكُلُهُ

النمارُ قُل قَد جَائَكُم رُسُلٌِ من قَبلِي بِالبَي نَاتِ وَ بِالمذِي قُلتُم فَلِمَ قَ تَلتُمُوهُم إن

كُنتُم صَادِقِيَْ ﴾

“Orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah telah

mengambil janji dari kita untuk tidak beriman pada

seorang utusanpun sampai dia bawakan—mukjizat—

korban yang disambar api [semacam petir], katakanlah—

kepada mereka wahai Muhammad—telah datang

kepada kalian utusan-utusan Tuhan sebelumku

dengan membawa bukti-bukti dan dengan apa yang

kalian katakan, lalu kenapa kalian bunuh mereka jika

memang kalian benar”.

Sudah pasti maksud yang dituju oleh firman Allah “lalu

kenapa kalian bunuh mereka jika memang kalian benar” adalah

orang Yahudi yang hidup pada zaman Rasulullah saw. Juga

sudah pasti, mereka tidak membunuh seorang nabi pun.

Ada jarak enam abad antara mereka dengan orang yang

membunuh serta memerangi utusan Allah. Kendatipun

begitu al-Qur’an tetap menisbatkan pembunuhan itu kepada

mereka secara harfiah, bukan secara metaforis seperti ayat

“fas’alul qoryah”.

Tidak ada satu pun alasan atau penafsiran yang dapat

membenarkan penisbatan ini kecuali apabila kita mengerti

dan menerima kaidah umum berupa kesamaan niat, rela

dan murka dengan perbuatan yang diniatkan, direstui atau

dimurkai.

Niat dan harapan yang benar, rela dan murka yang

benar, semua itu bernilai penuh seperti amal yang diniatkan,

diharapkan, diridhoi dan dimurkai. Penisbatan amal pada

orang yang meniatkan, mengharapkan, dan merestuinya

secara sungguh-sungguh adalah benar, sebagaimana disinyalir

oleh al-Qur’an.

Syarif Radhi meriwayatkan dalam Nahjul Balaghah: “Setelah

Allah swt. memenangkan Amirul Mukminin as. terhadap

pasukan musuh di Perang Jamal, sebagian sahabatnya

berkata kepada beliau: ‘Sungguh aku menginginkan saudaraku

juga turut hadir menyaksikan kemenangan yang

diberikan Allah kepadamu atas musuh-musuhmu’. Beliau

berkata: ‘Apakah hati saudaramu bersama kita?’ Dia menjawab:

‘Iya’. Maka beliau berkata: ‘Berarti dia bersama kita,

sungguh telah hadir di tengah pasukan kita suatu kaum

yang masih berada di tulang rusuk pria dan rahim wanita,

zaman akan menjadi baik dengan keberadaan mereka dan

iman akan menguat karena mereka’”.

Ini adalah hukum Allah yang mengumpulkan kita

bersama amal orang yang saleh, dan menggabungkan kita

bersama mereka dalam pahala. Oleh karena itu, kita akan

dipertemukan bersama para nabi, wali Allah, dan orang

yang beramal saleh apabila kita betul-betul meniatkan,

merestui, mencintai, dan mengharapkan amal perbuatan

mereka.

Sebaliknya juga demikian, yakni barang siapa yang

merestui, meniatkan, dan membela perbuatan orang-orang

zalim, kedurjanaan mereka, kesewanangan dan kerusakan

mereka, niscaya akan dikumpulkan oleh Allah bersama

mereka, dan Allah akan menyiksanya, meskipun dia tidak

hadir di sana.

Dalam riwayat tentang Imam Mahdi af. disebutkan,

ketika muncul nanti, beliau akan membunuh orang-orang

yang memerangi Imam Husain as., mendata dan membinasakan

mereka. Itu artinya beliau memburu orang yang

sehati dengan siapa yang membunuh dan memerangi Imam

Husain as. Imam Mahdi af. akan membinasakan mereka

lantaran telah memerangi Imam Husain, sehingga bumi ini

suci dari kebusukan dan kezaliman mereka.

Ziarah Warits; ziarah yang populer untuk Imam Husain

as., menjelaskan ketetapan dan tugas ini secara teliti dan

cermat; melaknat pembunuh Imam Husain as., melaknat

orang yang menzaliminya dan mengutuk orang yang merestui

pembunuhan atau peperangan itu.

Perhatikanlah teks ziarah berikut ini:

“Semoga Allah melaknat umat yang memerangi kalian,

semoga Allah melaknat umat yang menzalimi kalian,

dan semoga Allah melaknat umat yang mendengar hal

itu dan merestui”.

Kelompok pertama, mereka yang secara langsung merupakan

pelaku kriminal pembunuhan.

Kelompok kedua, mereka yang membela, mendukung dan

membekali kelompok pertama.

Kelompok ketiga, mereka yang merestui perbuatan tersebut.

Kelompok ini paling banyak bertebaran sampai

dataran yang sangat luas secara historis dan geografis.

Saya tertarik sekali untuk menutup topik ini dengan

sebuah riwayat dari Athiyyah al-Aufi yang meriwayatkan

dari sahabat besar Rasulullah saw., yaitu Jabir bin Abdillah

Anshari tatkala menzirahi kuburan Imam Husain as. pasca

tragedi Karbala. Berikut ini teks hadis tersebut:

Dalam kitab Bisyaratul Musthafa dinukil dari Athiyah

Aufi berkata: “Aku keluar bersama Jabir bin Abdillah Al-

Anshari untuk ziarah ke makam putra Ali bin Abi Thalib as.;

Imam Husain as. pasca kebangkiran Asyura. Ketika kami

sampai ke Karbala, Jabir mendekati sungai Furat. Di sana ia

mandi lalu mengenakan kain dan pakaian. Setelah itu ia

membuka bungkusan yang di dalamnya terdapat rumput

alang-alang lalu ia taburkan di sekujur tubuhnya. Ia tidak

menginjakkan satu langkah pun kecuali dengan zikir pada

Allah sampai mendekati makam Imam Husain as.”.

Athiyyah melanjutkan: “Jabir memegangku untuk bersandar,

aku pun memegangnya sampai dia bungkuk di atas

kuburan dan pingsan. Aku percikkan air padanya sampai

dia siuman dari pingsan sambil berkata: "Ya Husain’, tiga

kali. Kemudian dia berkata: 'Duhai kekasih yang tidak menjawab

kekasihnya'.

"Jabir berkata lagi: 'Ada apa dengan dirimu, sungguh

urat-urat leher di atas belikatmu telah disembelih secara

keji, antara tubuh dan kepalamu dipisahkan wahai putra

penghulu para nabi dan putera penghulu para mukmin,

putra sekutu takwa, anak keturunan hidayah, anggota kelima

dari pemilik Kisa’[196], putra penghulu para imam, dan

putra Fatimah penghulu para wanita, bagaimana mungkin

engkau tidak seperti itu ketika telapak tangan penghulu

para rasul yang memberimu makan, dan engkau terdidik di

pangkuan orang-orang yang bertakwa, disusui dengan air

iman, dan disapih bersama Islam. Maka sungguh engkau

mulia saat hidup dan mulia pula saat mati. Hanya saja hatihati

orang mukmin yang tidak mulia untuk berpisah darimu,

dan tidak ragu dalam pilihan terbaik untukmu, salam

dan restu Allah semoga senantiasa tercurahkan padamu.

“Engkau telah menjalani apa yang telah dilalui oleh saudaramu,

Yahya bin Zakaria.

“Kemudian Jabir mengelilingkan pandangannya ke sekitar

kuburan seraya berkata: ‘Salam padamu wahai arwah

yang melebur bersama Husain dan menderumkan kendaraan-

Nya. Aku bersaksi bahwa kalian telah mendirikan

shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf dan

mencegah yang munkar, berjuang melawan orang kafir dan menyembah Allah sampai datang yakin. Demi Allah Yang

telah mengutus Muhammad secara benar sebagai nabi,

sungguh aku ikut serta bersama kalian dalam hal yang

kalian masuki’.

“Kukatakan pada Jabir: “Bagaimana mungkin di saat

kita tidak menelusuri lembah, mendaki gunung akan melancarkan

satu pukulan pedang sedangkan mereka telah terpisahkan

tubuh dari kepala, anak-anak mereka jadi yatim

dan istri-istri mereka jadi janda?!”

“Maka Jabir menjawab: ‘Wahai Athiyyah, aku dengar

kekasihku Rasulullah saw. bersabda: ‘Barangsiapa mencintai

sebuah kaum niscaya dia akan dikumpulkan bersama kaum itu, dan

barangsiapa mencintai perbuatan sebuah kaum maka dia akan

diikutsertakan bersama perbuatan mereka’. Demi Allah yang

telah mengutus Muhammad sebagai nabi secara benar,

sesungguhnya niatku dan niat sahabat-sahabatku sesuai dan

bersama dengan niat Imam Husain as. dan sahabatnya.

Bawalah aku ke pemukiman kota Kufah’.

“Ketika kami sampai di pertengahan jalan, Jabir berkata:

‘Wahai Athiyyah, apakah kamu ingin aku mewasiatkan

sesuatu padamu? Karena, firasatku mengatakan setelah

perjalanan ini aku tidak lagi bertemu denganmu! Cintailah

apa yang dicintai keluarga Muhammad saw., dan bencilah

apa yang dibenci oleh keluarga Muhammad saw.. Karena

sesungguhnya apabila satu langkah tergelincir karena dosa,

akan diangkat karena cinta pada mereka. Sesungguhnya pecinta

mereka akan kembali ke surga dan pembenci mereka

ke neraka”.[197] []


Apendiks

SIAPAKAH AHLULBAIT AS.?

Di akhir pembahasan ini, tepat kiranya kita angkat kembali

pertanyaan yang sempat muncul di sela-sela pembahasan

sebelumnya, seperti dalam mukadimah, yaitu siapakah

Ahlulbait as. yang mewarisi imamah atau kepemimpinan

politik, ideologi, hukum dan peradaban dari Rasulullah

saw. sampai Hari Kiamat?

Saya katakan, sebetulnya masalah ini terlalu jelas sehingga

tidak ada alasan lagi bagi seseorang untuk ragu di

sana. Karena tidak mungkin Rasulullah saw. menyerahkan

kepemimpinan umat Islam ke dalam urusan halal, haram,

pokok-pokok agama dan cabangnya sepanjang zaman sampai

Hari Kiamat nanti kepada umat yang tak terbatas. Maka

dari itu, sudah menjadi kelaziman bahwa umat itu harus

terbatas, jelas dan populer.

Sepanjang sejarah Islam, kita tidak melihat sekelompok

manusia dari keluarga Rasulullah saw. yang secara jelas dan

tegas menyatakan kepemimpinannya kepada umat Islam

selain dua belas imam yang masyhur dari Ahlulbait as. Dua

belas imam ini yang diyakini oleh pengikut Syi’ah. Ilmu,

perjuangan, pemahaman, dan literatur warisan mereka telah

sampai pada kita dalam ratusan jilid kitab yang diwariskan

oleh ulama mazhab Ahlulbait as. dari generasi ke generasi.

Mereka yakin bahwa imam dua belas itulah pewaris

Rasulullah saw. dalam kepemimpinan politik dan hukum.

Merekalah manusia-manusia suci setelah beliau.

Hadis-hadis Dua Belas Imam setelah Rasul saw.

Terdapat hadis dari Rasulullah saw. yang diriwayatkan

secara sahih dengan berbagai jalur yang tidak bisa diragukan

lagi bahwa keimaman atau kepemimpinan hidayah

yang bijak berada pada dua belas imam setelah Rasulullah

saw., dan mereka semua dari Quraisy. Riwayat-riwayat ini

sahih juga diakui kebenarannya oleh Muhammad bin Ismail

Bukhari dalam Shahih[198] , Muslim bin Hajjaj Nisyaburi dalam

Shahih[199] , Tirmidzi dalam Shahih[200] , Hakim dalam Mustadrak[201] ,

Ahmad bin Hanbal di berbagai tempat dalam Musnad[202] dan

penghafal-penghafal hadis nabi yang lain.

Di samping itu, kita tidak menemukan di dalam sejarah

Islam dua belas amir atau imam yang adil secara berturutturut,

“Perkara ini tidak akan berakhir sebelum bilangan mereka

sempurna”, “Dan agama senantiasa tegak sampai dua belas imam

ini ada”, “Bilangan mereka seperti bilangan naqib atau pemimpin

bani Israel” dan ibarat lainnya yang disinyalir oleh riwayatriwayat

yang shahih…

Saya katakan bahwa kita tidak melihat dua belas imam

atau amir yang adil dalam sejarah Islam dengan kriteria

yang jelas selain imam-imam Ahlulbait as. yang berjumlah

dua belas dan sudah dikenal serta diyakini oleh Syi’ah

Ahlulbait as. Apabila ini kita tolak, maka hadis Rasulullah

saw. ini tidaklah benar dan tidak berfakta, dan tak seorang pun yang masih shalat ke arah Ka'bah akan mengatakan

Rasulullah saw. berkata salah dan dusta.

Ayat Thathhir (Penyucian)

Bukti lain atas apa yang telah kami sebutkan sebelumnya

adalah ayat penyucian (tathhir) sebagaimana terdapat dalam

surah al-Ahzab:

﴿ اِمنََّا يُرِيدُ اللهُ لِيُذهِبَ عَنكُمُ ال رِجسَ أهلَ البَيتِ وَ يُطَ هرَكُم تَطهِيرًا ﴾

“Sesungguhnya Allah hanya hendak menyingkirkan noda

dari kalian, Ahlulbait, dan menyucikan kalian sesucisucinya”.[203]

Muslimin sepakat bahwa ketika ayat penyucian ini turun,

Rasulullah saw. hanya memasukkan Ali bin Abi Thalib as.,

Fathimah Zahra sa., Hasan as. dan Husain as. ke dalam

selimut.[204]

Banyak sekali hadis-hadis yang diriwayatkan secara

shahih dari Rasulullah saw. yang mengatakan bahwa beliau

mendefinisikan Ahlulbait as. pada saat itu hanya pada mereka

berlima. Beliau bersabda saat firman penyucian ini

turun: “Ya Allah, mereka adalah Ahlulbaitku—beliau menunjuk

pada Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husain as.—maka

hilangkan noda dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”.

Segera Ummu Salamah menimpali dengan sebuah pertanyaan:

“Apakah aku bersama mereka wahai Nabi Allah?”. Beliau

menjawab: “Kamu tetaplah pada tempatmu, sesungguhnya kamu di

atas kebaikan”.[205]

Hadis-hadis yang membatasi Ahlulbait ini hanya pada

lima manusia suci tersebut banyak sekali, dan banyak juga dari riwayat-riwayat itu yang sahih. Namun, bukan tempatnya

di sini untuk mendiskusikannya. Hadis-hadis itu

diriwayatkan oleh Tirmidzi, Thahawi, Ibn Atsir Jazri, Hakim

Nisyaburi dalam Mustadrak, dan Suyuthi dalam Durul Mantsur

meriwayatkannya dari berbagai jalur. Hadis-hadis itu

adalah sahih, jelas dan secara tegas menentukan bahwa

Ahlulbait tersebut adalah manusia-manusia yang beliau

kumpulkan di bawah kisa'.

Pada waktu itu, selama enam bulan, Rasulullah saw.

setiap kali keluar rumah untuk shalat subuh dan melewati

pintu rumah Fatimah Zahra sa. berhenti di depan pintu itu

seraya bersabda: “Shalat wahai Ahlulbait, innama yuridullohu

liyudzhba ankumur rijsa ahlalbaiti wa yutohhirokum tathhiro”.[206]

Suyuthi ketika menafsirkan ayat “Wa’mur ahlaka bis

sholati” dalam Durul Mantsur, meriwayatkan hadis dari Abu

Sa’id Khudri yang berkata: “Ketika ayat “Innama yuridullohu

liyudzhiba ankumur rijsa ahlalbaiti wa yutohhirokum tathhiro”

turun, delapan bulan Rasulullah saw. selalu datang ke pintu

rumah Ali bin Abi Thalib as. menjelang waktu shalat Subuh

seraya bersabda: “Perhatian! Kini tibalah waktu shalat,

semoga Allah merahmati kalian innama yuridullohu liyudzhiba

ankumur rijsa ahlalbaiti wa yutohhirokum tathhiro.[207]

Semua itu berlangsung di hadapan sahabat-sahabat

Rasulullah saw. Dengan cara ini, beliau hendak menentukan

maksud dari Ahlulbait dalam ayat tersebut yang Allah swt.

telah membersihkan mereka dari segala noda dan menyucikan

mereka sesuci-sucinya. Dan ketika sudah jelas bahwa

mereka berempat (Ali, Fatimah, Hasan dan Husain) termasuk

Ahlulbait as. yang dibersihkan dari noda dan disucikan

sesuci-sesucinya, maka melalui mereka juga kita dapat mengetahui ihwal Ahlulbait as. yang melanjutkan serta

meluaskan imamah dan kepemimpinan hukum sampai

akhir zaman. Mereka berlima adalah yang orang-orang

dinyatakan oleh al-Qur’an sebagai manusia-manusia suci.

Itu berarti mereka tidak akan berkata kecuali kebena-ran

dan kenyataan. Keimaman atau kepemimpinan hukum dan

peradaban akan bersambung dengan adanya mereka secara

berantai dan beurutan, sebagaimana diwasiatkan oleh imam

sebelumnya sampai berujung pada imam pertama, yaitu Ali

bin Abi Thalib as.

Dengan demikian, tampak jelas siapa imam dua belas

yang dimaksudkan oleh hadis Rasulullah saw. tersebut.[]


Daftar Isi :

SYI’AH 1

AHLULBAIT AS 1

MUHAMAD MAHDI AL-ASHIFI1

Prakata Penerbit3

Mukadimah 10

SIAPAKAH SYI’AH AHLULBAIT AS.? 10

1. Kepemimpinan Politis Ahlulbait as 12

2. Ahlulbait Sebagai Rujukan Hukum dan Peradaban 19

NILAI WILAYAH KEPADA 26

AHLULBAIT AS 26

Wilayah kepada Ahlulbait dalam Al-Qur’an dan Hadis 26

Syi’ah Ali as. Sebagai Pemenang 26

Ali dan Syi’ahnya sebagai Manusia Terbaik 28

Kedudukan Wilayah Ahlulbait as. dalam Islam 30

Siapakah Rafidhah? 31

Pecinta yang bukan Syi’ah 33

Orang-orang Mukmin sebagai Pelita Penghuni Surga Selaksa  35

Melihat dengan Cahaya Allah swt 36

Kedudukan Syi’ah di Sisi Ahlulbait as 37

Imbal Balik Hak-hak antara Ahlulbait as. dan Syi’ah 44

SYARAT-SYARAT SYI’AH 46

AHLULBAIT AS 46

Syarat Umum Syi’ah Ahlulbait as 46

Jadilah Hiasan, bukan Coreng 46

Ahulbait as. Memberi Syafaat di Sisi Allah swt. dan 49

Senantiasa Bergantung kepada-Nya 49

Warak dan Takwa 51

Ibadah 56

Rahib di Waktu Malam dan Tuan di Waktu Siang 64

Pelaku Lima Puluh Satu Rakaat Shalat di Siang dan Malam   66

Silaturahmi dan Simpati di antara Mereka 77

Imbal Balik Hak-hak di antara Syi’ah 80

Kehormatan, Cinta, Nasihat dan Belas Kasih 91

Toleransi di antara Syi’ah 92

Tidak Mengganggu Para Setia Kami dan Tidak Saling Melukai94

Bersilaturahmi dan Bergaul Baik dengan Seluruh Muslimin  98

Adil dan Seimbang 103

Kedisiplinan Sosial-Politik 104

ELEMEN-ELEMEN WILAYAH   110

KEPADA AHLULBAIT AS 110

Kesadaran Berwilayah 110

Pengakuan 113

Ikatan Organik 114

Baro’ah 119

Ikatan Imbal Balik Tauhid dalam Kerangka Wilayah 122

Salam dan Nasihat128

Salam 129

Nasihat134

Figur Keteladanan 135

Sedih dan Gembira 138

Kebersamaan dan Keikutsertaan 141

Kesertaan Kultural142

Ketaatan 152

Tauhid dalam Ketaatan 154

Pasrah 154

Damai dengan Siapa yang Damai dengan Kalian dan Perang dengan Siapa yang Memerangi Kalian 155

Pembelaan dan Penuntutan 158

Cinta dan Kasih Sayang 159

Pembenaran dan Pembatilan 164

Pusaka dan Penantian 164

Ziarah 172

TINGKATAN DAN RAIHAN 176

WILAYAH KEPADA AHLULBAIT AS 176

Kehidupan Rasulullah dan Keluarganya di Dunia dan Akhirat176

Allah Menebarkan Kemuliaan pada Mereka 178

Mereka Berpegang Teguh pada Kami, Ahlulbait as., dan Kami Berpegang Teguh pada Rasulullah saw 178

Rejeki Allah pada Mereka di Akhirat179

Bersama dan Dari Kami181

Menang dan Bahagia 183

Bersama Syuhada’ karena Wilayah dan Baro’ah 183

Apendiks 195

SIAPAKAH AHLULBAIT AS.? 195

Hadis-hadis Dua Belas Imam setelah Rasul saw 196

Ayat Thathhir (Penyucian)197



[1]Ayat Tathhir adalah ayat yang menjelaskan kesucian mereka dari dosa

dan kesalahan, yaitu ayat yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah hanyalah hendak membersihkan noda dari

kalian, Ahlul-bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya” (QS.

Al-Ahzab: 33).

Adapun ayat Mawaddah adalah ayat yang menerangkan bahwa balasan

atas jerih payah tabligh Rasulullah saw. dari umatnya ialah mencintai

Ahlulbait atau keluarga beliau, yaitu ayat yang berbunyi:

“Katakanlah (wahai Muhammad) aku tidak meminta balasan

dari kalian atas jasaku kecuali kecintaan pada kerabatku

(Ahlulbait)” (QS. Asy-Syura: 23).

Mungkin Anda bertanya, kenapa beliau meminta balasan atas jerih

payah yang ditugaskan oleh Allah swt. sedangkan Nabi Nuh as. sama

sekali tidak mengharapkan balasan kecuali hanya dari Allah swt.?

Jawaban singkatnya, permintaan balasan itu merupakan puncak belas

kasih Rasulullah saw. kepada umatnya; karena balasan yang diminta

beliau tidak lain adalah untungan yang kembali kepada mereka; bukan

kepada beliau sendiri. Yakni, beliau tidak hanya menyampaikan materi

tabligh dan misi Ilahi, tapi juga membuka peluang bagi kita untuk senantiasa

mendapatkan anugerah Tuhan sebanyak mungkin. Misal yang

bisa mendekatkan masalah ini adalah dokter sukarelawan yang menginginkan

pasiennya selalu sehat, hanya saja satu-satunya jalan yang

menjamin kesehatan pasien tadi adalah—misalnya—jalan kaki di ruang

terbuka selama satu jam, sementara pasien tidak akan pernah mengerti

pentingnya jalan kaki tersebut. Dan berangkat dari perhatian dan kasih

sayangnya, dokter meminta upah dari pasien yang tak mampu itu, pasien

pun pasrah karena tidak memiliki uang sehingga dia mengatakan,

“Apa saja yang dokter minta dari yang saya pasti akan saya kabulkan

semampunya”. Maka dokter memintanya berjanji jalan kaki sehari sekali

satu jam di ruang terbuka, sementara pasien mengabulkan permintaan

itu secara tidak sadar bahwa upah itu hanya demi keselamatan dia

sendiri dan sama sekali bukan keuntungan untuk dokter.

[2]Hadis mutawatir yaitu hadis yang jumlah perawinya dalam setiap tingkatan

mencapai batas yang—biasanya—mustahil mereka semua akan

bersepakat untuk dusta.

[3]Tahdzibut Tahdzib: 7/339, tarjumatu Ali bin Abi Thalib (riwayat hidup Ali

bin Abi Thalib).

[4]Fathul Bari: 8/76 bab ke9 berjudul Manaqibu Ali bin Abi Thalib

[5]Sarih yaitu jelas dan tegas makna. Adapun sahih—dalam terminologi

Ahli Sunnah—yaitu hadis yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang

adil, cermat dalam mencatat dan bersambung sampai kepada Rasulullah

saw. Dan Syi’ah menambahkan satu sarat lagi, yaitu perawi harus

bermazhab Syi’ah.

[6]Shahih Muslim; kitab fadhoil al-Shahabah, bab fadhoil Ali bin Abi Thalib.

[7]Sunan Tirmidzi: 2/308, Kitabul Manaqib, Manaqibu Ahli An-Nabi, hadis

3788.

[8]Sunan Tirmidzi: 2/308.

[9]Mustadrakus Sahihain: 3/109,148.

[10]Musnad Ahmad: 3/17.

[11]Ibid: 4:371.

[12]Ibid: 5/181.

[13]Hadis mustafidh yaitu hadis yang tingkat periwayatannya di bawah hadis

mutawatir dan di atas hadis-hadis wahid yang hanya diriwayatkan oleh

satu perawi. Dengan kata lain, mustafidh ialah hadis yang jumlah

perawinya banyak di setiap tingkatan. Umumnya, ahli hadis mengatakan

harus ada minimal tiga perawi di setiap tingkatan dan generasi.

[14]As-Saw.a’iq al-Muhriqah: 151, cetakan Mesir tahun 1965.

[15]Mungkin setelah membaca pengantar ini pembaca bertanya: siapakah

Ahlul-bait yang dimaksudkan itu? Pada dasarnya, penanya meminta

spesifikasi yang lebih rinci tentang identitas mereka. Untuk menjawab

pertanyaan ini, kami lampirkan jawaban itu di bagian akhir (apendiks)

dari buku ini, agar pembaca tidak kehilangan rangkaian logis dari subjek

utama.

[16]Fadhoilul Khomsah minas Shihahis Sittah: 2/117-118.

[17]Bisyarotul Musthofa: 197.

[18]Tafsir Thabari: 30/171, tafsir surah al-Bayyinah.

[19]Marfu' ialah hadis yang dinisbatkan kepada manusia suci (Rasulullah

dan imam setelahnya) dan bukan yang dinisbatkan pada sahabat atau

tabi’in. Istilah kedua dari marfu' adalah hadis yang di tengah atau akhir

silsilah sanadnya ada satu perawi atau lebih yang terbuang, dan secara

terang-terangan menggunakan kata rafa'ahu.

[20]Ad-Durul Mantsur, tafsir surah al-Bayyinah.

[21]As-Shawaiq al-Muhriqoh: 96.

[22]Nurul Abshar: 7/70, 110. Hadis-hadis ini dinukil dari Fadhoilul Khomsah

minas Shihahis Sittah: Fairuz Abadi: 1/327-329, cet. Al-Majma’ Al-‘Alami

li Ahlil Bait as.

[23]Biharul Anwar: 68/329 dinukil dari Usul Kafi: 2/18.

[24]Ibid: 68/329 dinukil dari Usul Kafi: 2/18.

[25]Ibid: 2/332 dari Usul Kafi: 2/21.

[26]Ibid: 68/156-157.

[27]Biharul Anwar: 68/156-157.

[28]Ibid: 68/18 diriwayatkan juga dari Khishal, karya Syaikh Shaduq: 167.

[29]Ibid: 74/243, diriwayatkan juga dari Ushul Kafi: 2/170.

[30]Ibid: 68/243, diriwayatkan juga dari ‘Uyunu Akhbarir Ridha: 2/2.

[31]Ibid: 68/167 hadis 25, diriwayatkan juga dari Shifatus Syi’ah: 163.

[32]Al-Mahasin: 163, Biharul Anwar: 68/28.

[33]Biharul Anwar: 68/29.

[34]Ibid: 68/43-44, Bisyarotul Musthofa: 16.

[35]Ibid: 68/65 hadis 118.

[36]Ibid: 68/168.

[37]Ibid: 68/168 dinukil dari Shifatus Syi’ah: hal. 163.

[38]Ibid: 68/24, diriwayatkan dari Amali Syaikh Thusi: 1/363.

[39]Misykatul Anwar, hal. 67

[40]Ibid, hal. 180.

[41]Raudlatul Kafi, hal. 293.

[42]Biharul Anwar, Jil. 2/77.

[43]Ibid, Jil. 71/310.

[44]Ibid: Jil. 68/178.

[45]Ibid: Jil. 68/89 dinukil dari al-Mahasin; al-Barqi: 148.

[46]Ibid: Jil. 68/166.

[47]Bisyarotul Musthofa: hal. 171

[48]Biharul Anwar: Jil. 68/167.

[49]Ibid: Jil. 68/168.

[50]Ibid: Jil. 78/266.

[51]Ibid: Jil. 68/164.

[52]Ibid: Jil. 68/78

[53]Bisyarotul Musthofa: hal. 55 & 174; Biharul Anwar: Jil. 68/87.

[54]Biharul Anwar: Jil. 68/153 dinukil dari Bashairud Darajat: hal. 247.

[55]Ibid: Jil. 68/155.

[56]Ibid: Jil. 68/156.

[57]Ibid: Jil. 68/164, hadis 13.

[58]Al-Khishol: Jil. 2/58; Biharul Anwar: Jil. 68/149-150.

[59]Biharul Anwar: Jil. 68/150-151; al-Amali: Syaikh Thusi; Jil. 1/219.

[60]Ibid: Jil. 68/167; Shifatus Syi’ah: hal. 162-164.

[61]Di naskah lain, “memberi pahala atau mencintai”. Ini karena perbedaan

kata-kata Arab yang agak mirip: ajaba, atsaba, ahabba.

[62]QS. al-A'raf: 97.

[63]QS. Al-Furqan: 63.72.

[64]Biharul Anwar: Jil. 68/170-171; dinukil dari Sifatus Syi’ah: hal. 183.

[65]Ibid: Jil. 68/169, hadis 30.

[66]Ibid: Jil. 68/177, dinukil dari al-Amali: Syaikh Thusi; Jil. 2/188.

[67]Ibid: Jil. 68/191.

[68]Ibid: Jil. 68/167.

[69]Tuhaful Uqul: hal. 251.

[70]Ibid: Jil. 68/186.

[71]QS. Al-Jatsiyah: 21.

[72]Ibid: Jil. 68/192-195, diriwayatkan pula oleh Syarif Radhi dengan sedi-kit

perbedaan.

[73]Al-Mahasin: hal. 158, Biharul Anwar: Jil. 68/153-154.

[74]Biharul Anwar: Jil. 68/168.

[75]Mizanul Hikmah: Jil. 5/231.

[76]Ushul Kafi: Jil. 2/175.

[77]Ibid: Jil. 2/120.

[78]Ibid: Jil. 2/173.

[79]Biharul Anwar: Jil. 74/154.

[80]Ushul Kafi: Jil. 2/171, Biharul Anwar: Jil. 74/248.

[81]Kalimat beliau mengacu pada ayat 9 dari surah al-Hasyr.

[82]Ushul Kafi: Jil. 2/171, Biharul Anwar: Jil. 74/249.

[83]Biharul Anwar: Jil. 74/233.

[84]Ibid: Jil. 74/234.

[85]Al-Khishal: Jil. 2/6.

[86]Ibid: Jil. 2/157.

[87]Al-Amali: Syaikh Thusi; Jil. 1/95.

[88]Ibid: Jil. 1/236.

[89]Biharul Anwar: Jil. 74/232.

[90]Ibid

[91]Ibid: Jil. 74/233.

[92]Tafsir Imam Hasan al-Askari: hal. 16, Biharul Anwar: Jil. 74/238.

[93]Jamiul Akhbar: hal. 110, Biharul Anwar: Jil. 74/230.

[94]Al-Ikhtishash: hal. 227, Biharul Anwar: Jil. 74/230.

[95]Ibid: hal. 227.

[96]Biharul Anwar: Jil. 74/234.

[97]Ibid: Jil. 74/234.

[98]Ibid.

[99]QS. Anbiya' 92.

[100]Wasail Syi’ah: Jil. 8/398, kitabul hajj, adab ahkamil isyroti, bab pertama,

hadis pertama.

[101]Ibid: Jil. 8/398.

[102]Ibid: Jil. 8/398.

[103]Ibid

[104]Ibid.

[105]Biharul Anwar: Jil. 68/178; dinukil dari Misykatul Anwar: hal. 60.

[106]Ibid: Jil. 68/149.

[107]Ibid: Jil. 68/151.

[108]Ibid: Jil. 2/80.

[109]Ibid: Jil. 68/180.

[110]Al-Amali: Syaikh Mufid: hal. 59.

[111]Usul Kafi: Jil. 2/218.

[112]Ibid: Jil. 2/221; Biharul Anwar: Jil. 75/72, al-Khishal: Shaikh Shaduq: hal.

44.

[113]Al-Kafi: Jil. 2/222.

[114]Ibid: Jil. 2/226.

[115]Biharul Anwar: Jil. 75/76.

[116]Ibid: Jil.2/74.

[117]QS. Maidah: 55.

[118]QS. Al-Nisa': 59.

[119]Al-Thabari dalam tafsirnya meriwayatkan dari dua sanad bahwa ayat ini

turun pada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as: Jil. 6/186. Fakhruddin

Razi dalam Tafsir Kabir: Jil. 12/26. Suyuthi dalam tafsir Durul Mantsur:

Jil. 3/104. Wahidi dalam Asbabun Nuzul: hal. 137, dan lain-lain. Penulis

buku Fadhoil Khamsah: Jil. 2/13, menghumpun riwayat-riwayat yang

berkaitan dengan masalah ini.

[120]QS. Hujurat 10.

[121]Biharul Anwar: 50/317.

[122]Amali karya Syaikh Mufid: 110.

[123]Biharul Anwar: 74/268.

[124]Ushul Kafi: 2/175.

[125]QS. Al-Ma’idah 55.

[126]Ayat ini turun berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib as., sebagaimana dicatat

Fakhruddin Razi dalam tafsirnya tepat di bawah ayat ini. Diriwayatkan

pula dalam Nurul Abshar; Syablanji, hal. 170, Al-Kasyyaf; Zamakhsyari,

Tafsir Al-Baidhawi, tafsir Abu Sa’ud dari berbagai jalur, Durul

Mantsur: As-Suyuthi dari berbagai jalur, Asbabun Nuzul; Al-Wahidi, hal.

148, Kanzul Ummal; Al-Muttaqi, Jil. 6/319 dan 7/305, Majma’; Haitsami,

Jil. 7/17, Dakhoirul ‘Uqba; Muhib Ath-Thabari, Jil. 8/102, dan Fadlail al-

Khamsah Min Sihah Sittah; Al-Fairuz Abadi: Jil. 2/18-24.

[127]Tentang hadis mustafidh, silakan merujuk hal. 24 dari buku ini!

[128]Shahih Tirmidzi: Jil. 13/261, Tarikh Baghdad: Jil. 4/160. Syaikh Amini

meriwayatkan hadis ini dari keduanya dalam kitabnya yang berharga

yaitu Siratuna wa Sunnatuna.

[129]Shahih Tirmidzi, kitab al-manaqib, babu manaqib Ahlilbait as. Dalam al-

Mustadrak: Jil. 3/149, al-Hakim menegaskan kesahihan hadis ini.

[130]Dalam Mustadrak Shahihain: Jil. 3/121-128, hadis ini diriwayatkan oleh

al-Hakim sebagai hadis shahih. Juga diriwayatkan oleh Muhib Thabari

dalam Riyadlun Nadlirah: Jil. 2/167. Rujuk Fadlail Khamsah; Firuz Abadi:

Jil. 2/118.

[131]Dalam Mustadrak Shahihain: Jil. 3/127, hadis ini dikuatkan oleh al-

Hakim, baik dengan syarat Bukhari maupun dengan syarat Muslim. Juga

diriwayatkan oleh Khatib dalam Tarikh Baghdad: Jil. 3/40 dengan lima

jalur dari Ibn Abbas. Di dalam riwayatnya termaktub: “Barang siapa

mencintaimu maka dia mencintaiku, dan cinta kepadaku adalah cinta

kepada Allah”. Ini juga dibawakan oleh Muhib dalam Riyadl Nadlirah: Jil.

2/166. Fairuz Abadi dalam Fadlail Khamsah: Jil. 2/244, menyebutkan

beberapa jalur hadis ini.

[132]QS. al-Baqarah: 208.

[133]QS. al-Baqarah: 279.

[134]QS. al-Ma’idah: 33.

[135]QS. al-Anfal: 13.

[136]QS. at-Taubah: 63.

[137]Biharul Anwar: Jil. 27/68.

[138]QS. Al-Mumtahanah: 4.

[139]QS. Al-Ahzab: 21.

[140]Al-Amali: Syaikh Thusi: Jil. 1/305.

[141]Al-Amali: Syaikh Shaduq: hal. 79, majlis ke-27.

[142]Kamil Ziarat: 101.

[143]Amali Syaikh Mufid: 200, Biharul Anwar: 44/278.

[144]Biharul Anwar: 44/282.

[145]QS. Al-Baqarah: 185.

[146]QS. Al-Baqarah: 231.

[147]QS. Al-Imran: 138.

[148]QS. Al-Nisa': 174.

[149]QS. Al-A’raf: 52 .

[150]

[151]Hadis ini diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya pada bab fadlail

sahabah, Tirmidzi dalam Shahih: Jil. 2/308, Ahmad bin Hanbal dalam

Musnad pada beberapa tempat, Darami dalam Sunan: Jil. 2/431 dengan

berbagai sanad, al-Hakim an-Nisyaburi dalam Mustadrak dengan

berbagai sanad dan meyakininya sebagai hadis yang shahih baik

menurut syarat Bukhari maupun menurut syarat Muslim: Jil. 3/109,

Baihaqi dalam Sunan: Jil. 2/148 dan Jil. 7/30, diriwayatkan pula oleh Ibn

Hajar dalam Shawa’iq: hal. 89, dan meyakininya sebagai hadis shahih,

Ibn Atsir Jazri dalam Usudul Ghabah: Jil. 2/12, dll. Kita tidak perlu lagi

memperpanjang data-data seputar sanad hadis ini ataupun penshahihannya,

karena masalah ini jauh lebih utama dari itu semua, sudah

cukup sebetulnya dengan apa yang dibawakan oleh Muslim dan Tirmidzi

dalam Sahih mereka.

[152]Hadis ini diriwayatkan al-Hakim sebagai hadis shahih menurut syarat

Muslim dalam Mustadrak: Jil. 2/343, al-Muttaqi dalam Kanzul Ummal: Jil.

6/216, Haitsami dalam Majma’: Jil. 9/18, Abu Na’im dalam Hilyatul

Awliya’: Jil. 4/306, Khatib dalam Tarikh Baghdad: Jil. 12/19, Shuyuthi dalam

Durul Mantsur tentang ayat dari surah al-Baqarah, “wa idza qulnad

khulu hadzihil qoryata fa kulu minha haytsu syi’tum”, ath-Thabari dalam

Dzakhair Uqba, al-Manawi dalam Kasyful Haqa’iq: hal. 132, Ibn Hajar

dalam Shawa’iq, dan Sayid Fairuz Abadi menyebutkan sanad-sanadnya

dalam Fadlail Khamsah: Jil. 2/67-71.

[153]Hadis ini diriwayatkan Mustadrak: Jil. 3/149 sebagai hadis shahih, Ibn

Hajar dalam Shawa’iq: hal. 111, Haitsami dalam Majma’: Jil. 9/174, al-

Manawi dalam Faidlul Qadir: Jil. 6/297, al-Muttaqi dalam Kanzul Ummal:

Jil. 7/217 dan referensi-referensi lain. Fairuz Abadi menyebutkan sebagian

jalur-jalur riwayat ini dalam Fadlail Khamsah: Jil. 2/71-73.

[154]Nash ialah maksud sebuah teks yang sebegitu jelasnya sehingga tidak

memungkinkan maksud yang lain. Dan dzohir yaitu maksud sebuah teks

yang tidak sejelas nash dan masih memungkinkan maksud yang lain,

walaupun kemungkinan itu kecil.

[155]QS. Al-Nahl: 36.

[156]QS. Al-Nisa’: 60.

[157]Ziarah Jami’ah.

[158]Ibid.

[159]Musnad ialah hadis yang silsilah sanad dan perawinya di setiap tingkatan

bersambung sampai ke Rasulullah saw.

[160]Shahih Tirmidzi, kitabul manaqib, bab ke16, mengenai keutamaan Fatimah

binti Muhammad saw.: Jil. 2/319, cet. 1292 H.

[161]Sunan karya Ibn Majah, muaqoddimah, bab 11, hal. 145.

[162]Mustadrak Shahihain karya Hakim Nisyaburi: Jil. 13/149, kitab ma’rifatis

shaha-bah “mubghilu Ahlilbaiti yadkhulun naro wa law shoma wa sholla”

(pembenci Ahlulbait as akan masuk neraka meskipun dia berpuasa dan

shalat).

[163]Usudul Ghabah: Jil. 5/523.

[164]Kanzul Ummal: Jil. 6/216.

[165]Majma’ Zawa’id: Jil. 9/169, dinukil dalam kitab Fadlail Khmasah, Firuz

Abadi: Jil. 1/396-399.

[166]QS. Al-Anfal: 74.

[167]Asy-Syura’: 23. Untuk mengetahui sumber-umber yang menerangkan

bahwa ayat ini turun mengenai Ahlulbait as., silakan merujuk Dala’il

Shaduq: Jil. 2/120-126 cet. Cairo. Ghadir: Jil. 2/306-310 dan Jil. 3/171

cet. Teheran.

[168]Shahih Tirmidzi: 13/261.

[169] Kalimat ini disebutkan dua kali dalam Ziarah Jami’ah.

[170]QS. At-Taubah: 24.

[171]QS. Al-Anbiya’: 105.

[172]QS. Maryam: 59.

[173]QS. Taha: 132.

[174]QS. Al-Qashas: 5-6.

[175]Petikan dari doa Nudbah.

[176]QS. Ibrahim: 24.

[177]QS. ar-Ra'd: 38.

[178]Biharul Anwar: Jil. 65/20-21, hadis 34.

[179]Ibid: Jil. 65/19 hadis ke-2, diriwayatkan juga dalam Uyunu Akhbarir

Ridha: Jil. 2/60, dengan sedikit perbedaan redaksi.

[180]Biharul Anwar: Jil. 65/30 hadis ke-60, dinukil dari Al-Mahasin: hal. 183

[181]Ibid: Jil. 65/30.

[182]Ibid: Jil. 68/30 hadis ke-61, dinukil dari Al-Mahasin: hal. 183

[183]Ibid: Jil. 68/11.

[184]Ibid: Jil. 68/15, hadis ke-17.

[185]QS. Al-Waqi'ah: 10-12.

[186]Biharul Anwar: Jil. 68/20, hadis ke-33.

[187]Ibid: Jil. 68/19, Uyunul Akhbari Ridha: Jil. 2/58, Al-Amali: Syaikh Thusi:

Jil. 1/70.

[188]QS. Ali Imran: 68

[189]QS. Ibrahim: 36.

[190]Biharul Anwar: Jil. 68/19, Uyun Akhbar Ridha: Jil. 2/58, Al-Amali: Syaikh

Thusi: Jil. 1/70.

[191]QS. Al-Maidah: 51.

[192]Biharul Anwar: Jil. 68/35, hadis ke72, dinukil dari Tafsir Ayasyi: Jil. 2/32.

[193]Irsyad, dan telah ditegaskan sebelumnya bahwa kita bawakan hadis ini

juga dari Shuyuthi dalam Durul Mantsur dan dari yang lain, juga banyak

sekali riwayat yang memiliki kandungan serupa dengan hadis ini.

[194]Al-Amali; Syaikh Shaduq: hal. 79, majlis ke-27.

[195]Mursal ialah hadis yang mengalami kekosongan atau pemotongan

silsilah sanad perawi, baik semuanya maupun sebagiannya. Adapun

Hadis dhaif yaitu hadis yang lemah.

[196]

[197]Bisyaratul Musthafa: 74, cet. Haidariah, 1383 HS.

[198]Shahih Bukhari, kitabul ahkam.

[199]Shahih Muslim, kitabul imarah: Jil. 12/201-204 cetakan 1972 dengan

syarahnya Nawawi.

[200]Shahih Tirmidzi: 7/35 kitabul fitan.

[201]Mustadrak Shahihain: 4/501.

[202]Musnad Ahmad: 5/86,92,106.

[203]QS. al-Ahzab: 33.

[204]Shahih Muslim, kitabu fadlail shahabah, bab fadlail Hasan wa Husain.

Mustadrak Shahihain: Jil. 3/147. Sunan Baihaqi: Jil. 2/149 dan referensireferensi

lainnya.

[205]Shahih Tirmidzi: Jil. 2/209.

[206]Shahih Tirmidzi: Jil. 2/209.

[207]Tafsir Durul Mantsur, di bawah penjelasan ayat 132 dari surah Thaha.