Majelis Duka Asyura
Oleh
Ismail Amin Pasannai
KATA PENGANTAR PENULIS
Syahid Murtadha Muthahari, pemikir Islam dari Iran pernah
mengatakan dalam ceramahnya (kumpulan ceramahnya
dihimpun dalam buku "Hamaseh Husaini" (Kebangkitan
Husaini)) bahwa ada tiga kelompok yang membunuh Imam
Husain as.
Pertama, mereka yang membunuh jasad Imam Husain as di
Padang Karbala, yaitu mereka yang tergabung dalam
pasukan Yazid dan Ibnu Ziyad, yang melakukan pembantaian
sadis secara fisik atas Imam Husain as.
Kedua, mereka yang membunuh kehormatan dan nama baik
Imam Husain as, yaitu kelompok yang menganggap kematian
Imam Husain as adalah kematian biasa, sebagaimana
umumnya kematian yang harus diterima para pemberontak
dihadapan penguasa. Termasuk dalam kelompok ini, mereka
yang meyakini Imam Husain as berada pada pihak yang
benar dan gugur sebagai syuhada, namun tetap memberi
pembelaan kepada para pembunuhnya dan menekankan
kepada ummat untuk melupakan saja peristiwa itu. Lebih jauh
lagi, memusuhi dan menghalangi mereka yang mengadakan
atau ingin mengadakan majelis-majelis duka mengenang
tragedi sejarah 10 Muharam 61 H tersebut.
Ketiga, mereka yang membunuh spirit dan cita-cita Imam
Husain as, yaitu mereka yang mengaku sangat mencintai
Imam Husain as, mengadakan majelis duka untuk beliau,
namun sikap dan perilaku sehari-harinya justru bertentangan
dengan nilai-nilai yang dibawa dan diperjuangkan oleh Imam
Husain as. di Karbala.
Dengan dasar, mengajak untuk kita tidak tergabung dalam
dua kelompok terakhir pembunuh Imam Husain as, buku kecil
dan sederhana ini disusun dan dihadirkan kehadapan
pembaca. Karena itu, alasan dan falsafah memperingati
tragedi Asyura perlu kami sampaikan. Buku ini tidak
dimaksudkan untuk memperkenalkan mazhab atau ideologi
tertentu, Imam Husain as adalah milik semua umat Islam
apapun mazhabnya, bahkan lebih dari itu, ia adalah milik
semua umat manusia yang mencintai kemerdekaan dan
tegaknya nilai-nilai kemanusian.
Mencintai Imam Husian as bukan hanya panggilan
kemanusiaan tapi juga sudah menjadi kewajiban agama,
sebagaimana ditegaskan dalam teks-teks agama, baik dalam
ayat Alquran maupun hadis Rasulullah saw. Karena itu,
mengetahui alasan dibalik kebangkitannya, yang itu dapat
menumbuhkan kecintaan kepada al-Husain, turut menjadi kewajiban pula. Sebagaimana kaidah fikih, maa laa yatimmul
wajiba illa bihi, fahuwa wajib, suatu kewajiban yang tidak bisa
dilakukan kecuali dengan pelaksanaan sesuatu, maka
sesuatu itu hukumnya wajib.
Bagaimana kita bisa mencintai Imam Husain as, jika
pengenalan kita terhadapnya hanya secuil? Sekedar
mengetahui bahwa ia cucu Nabi saw, tidak akan membuat
seorang muslim mencapai derajat kecintaan semestinya
padanya. Sebab, ia diminta untuk dicintai dan diteladani,
bukan semata karena ia keturunan biologis Nabi, tapi apa
yang telah ia persembahkan dan korbankan demi menjaga
nyala Islam sehingga sampai pada generasi kita.
Apa yang terdapat dalam buku elektronik ini, adalah
kumpulan tulisan yang sebelumnya telah disebar melalui
akun pribadi saya di Facebook. Dihimpun dan dikumpulkan
oleh sahabat saya, Abu Mukhtar dan istri beliau Indah
Hauzah, untuk dapat memberi lebih banyak manfaat. Karena
itu, saya mengucapkan terimakasih kepada keduanya,
semoga menjadi amal jariah.
Buku ini, bukan buku daras, tapi hanya sekedar buku yang
berisi ajakan, untuk kita tidak melupakan apa yang telah
terjadi pada 1382 tahun lalu. Ajakan untuk kita merenungi dan mengambil hikmah dan pelajaran besar dari madrasah
Karbala.
Sekali lagi, semoga risalah kecil ini memberi manfaat dan
bisa menjadi bukti kelak di mahkamah Ilahi, bahwa saya
pribadi tidak mengabaikan dan menganggap kecil peristiwa
tragedi Karbala. Mohon maaf jika dalam buku ini
mengandung kesalahan.
Mohon doanya selalu.
Qom, 12 Muharram 1443 H
Ismail Amin Pasannai
Setiap memasuki bulan Muharram, segelintir manusia
Indonesia mulai was-was. Muballigh-muballigh anti Syiah
memenuhi mimbar-mimbar masjid dengan secara provokatif
menyatakan permusuhan dan kebencian pada peringatan
Asyura yang disebutnya ala Syiah. Mereka juga menyebar
secara massif tulisan-tulisan baik secara online ataupun
berupa jurnal dan selebaran untuk dibaca umat agar
menjauhi dan mewaspadai Syiah dan peringatan Asyura.
Berikut diantara alasan-alasan yang kerap kali mereka
sampaikan, yang hampir semuanya hoax dan tidak sesuai
fakta.
Pertama, peringatan Asyura, ajang Syiah mempromosikan
ajarannya. Perlu saya tekankan, peringatan Asyura bukan
hanya milik Syiah, namun juga milik umat Islam keseluruhan,
bahkan milik seluruh umat manusia yang masih memiliki
naluri kemanusiaan.
Asyura diperingati untuk mengenang peristiwa tragis yang
merenggut nyawa Imam Husain as cucu Nabi Muhammad
saw di Padang Karbala. Pada 10 Muharram 61 H, Imam
Husain as beserta keluarga dan para pembelanya dibantai
oleh ribuan pasukan atas perintah Yazid bin Muawiyah.
Dengan terjadinya peristiwa yang mencoreng sejarah Islam
ini, apa salahnya untuk kemudian diperingati? Apa
memperingati peristiwa penting masa lalu secara mutlak
dilarang dalam Islam? Bukankah Alquran sendiri sarat
dengan kisah-kisah masa lalu yang itu tujuannya agar diingat
dan diambil darinya ibrah dan pelajaran?
Banyak kisah yang dipaparkan dalam Alquran dengan tujuan
untuk mendidik. Yang dari kisah-kisah tersebut, kita jadi tahu
mana kelompok yang diridhai Allah swt dan mana kelompok
yang dimurkai-Nya.
Dan tentu saja kisah-kisah umat terdahulu yang bisa diambil
ibrahnnya bukan hanya yang terdapat dalam Alqurah saja,
namun juga kisah-kisah umat terdahulu secara keseluruhan
termasuk pasca turunnya Alquran.
Kalau pesantren-pesantren meminta santri-santrinya
mengadakan haul setiap tahunnya untuk memperingati
wafatnya sang kyai pendiri pesantren, kalangan Habaib pun bukan menjadi persoalan dan tidak perlu dikhawatirkan ketika
memperingati haul habib-habib yang dianggap punya
pengaruh besar, setiap keluarga juga sah-sah saja
memperingati setiap tahun kematian anggota keluarga yang
penting dan negara boleh-boleh saja memperingati hari
Pahlawan untuk mengenang gugurnya ribuan pejuang yang
gugur dalam mempertahankan kemerdekaan, termasuk
memperingati Hari Kesaktian Pancasila untuk mengenang
gugurnya pahlawan revolusi, lantas mengapa memperingati
haul dan hari kesyahidan cucu Nabi mejadi terlarang?
Tidak ada satupun kelompok Islam yang memungkiri
terjadinya tragedi Asyura. Tidak ada sejarawan Islam yang
menolak memberi pengakuan, bahwa memang kepala Imam
Husain as dipenggal, dipisahkan dari tubuhnya, diarak dan
dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah.
Dengan kematian yang sedemikian tragis, salahkah jika
peristiwa tersebut diperingati untuk disampaikan kepada
setiap generasi muslim, bahwa sejarah Islam pernah ternoda
dengan terjadinya peristiwa tersebut?
Tujuannya diperingati, ya agar umat Islam tidak lagi
mengalami kejadian serupa. Sedang diperingati saja, masih
tetap terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah antar sesama muslim, apalagi jika memang sengaja kisah Asyura
tersebut ditutup-tutupi.
Sekali lagi, peringatan Asyura bukan hanya milik muslim
Syiah, tapi juga milik umat Islam secara keseluruhan. Ada
beban sejarah yang harus dipikul umat Islam untuk
menceritakan peristiwa tragis ini kepada umat disetiap
generasi, agar umat Islam tidak menjadi umat yang
kehilangan sejarahnya. Karena itu tidak harus menjadi Syiah
untuk memperingati Asyura.
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran
bagi orang yang mempunyai akal." (QS. Yusuf: 111).
Kedua, mengadakan peringatan Asyura tidak ada contohnya
sehingga terhukumi bid'ah dhalalah, bid'ah yang sesat. Dalil
penolakannya secara umum sama dengan dalil penolakan
terhadap peringatan Maulid Nabi dan peringatan hari-hari
besar Islam lainnya.
Karena itu, menjawab poin kedua ini sama jawabannya ketika
memberikan argumen akan kebolehan mengadakan Maulid
Nabi. Peringatan Asyura tidak ada contohnya, tapi ada
anjurannya. Hari Asyura adalah diantara hari-hari Allah.
"Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang
benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah."
(QS. Ibrahim: 5)
Para mufassir sepakat menafsirkan hari-hari Allah adalah
hari-hari agung dengan segala rangkaian peristiwa dan
kejadian yang diciptakan Allah sejak penciptaan bumi dan
langit hingga hari kiamat.
Terdapat banyak kesamaan dari peristiwa Karbala dengan
yang dialami umat-umat terdahulu yang diceritakan dalam
Alquran.
Pada peristiwa Karbala juga terdapat kelompok yang setia
mengikuti kebenaran, kelompok yang mendengarkan dan
mengikuti ajakan dan seruan Imam Husain as meski jumlah
mereka hanya segelintir dan juga terdapat kelompok orangorang yang durhaka, pembangkang dan secara terangterangan menentang dakwah Ilahi yang diserukan wali Allah,
yang meski awalnya secara lahiriah kelompok orang-orang
durhaka dan zalim tersebut mampu menaklukkan pasukan
pembela kebenaran, namun di penghujungnya kelompok
pendurhaka tersebut berakhir dengan mendapat azab yang
pedih.
Pelajaran moralnya persis dengan kisah umat-umat terdahulu
yang diabadikan Alquran.
Dengan tidak ada pemungkiran bahwa hari Asyura adalah
termasuk diantara hari-hari Allah, yang dari Alquran
ditegaskan untuk mengingatkan umat kepada hari-hari Allah,
maka memperigati hari Asyura menjadi sebuah keniscayaan.
Karenanya sangat mengherankan jika ada kelompok Islam
yang melarang-larang bahkan phobia terhadap peringatan
Asyura. Bisa tidak sepakat terhadap diadakannya peringatan
Asyura, tapi jangan sampai pada tingkat melarang apalagi
mempersekusi dan membubarkan peringatan Asyura yang
diadakan.
Pengadaan majelis peringatan Asyura hanyalah metode
untuk mengingatkan umat akan hari-hari Allah. Peringatan
Asyura adalah pengejewantahan perintah Ilahi kepada umat
agar tidak mengabaikan dan melupakan peristiwa masa silam
yang mengandung banyak pelajaran dan pesan-pesan moral.
Silakan tidak sepakat dengan cara Syiah memperingati
Asyura, tapi jangan memprovokasi umat Islam di atas
mimbar, untuk jangan mengingat peristiwa tragis yang terjadi
di Karbala, apalagi sampai mengidentikkan bahwa yang
memperingati Asyura sudah pasti Syiah.
Silakan tidak sepakat dengan cara Syiah memperingati
Asyura, tapi jangan mengatakan bahwa peringatan Asyura
adalah kesia-siaan, tidak ada gunanya dan haram. Apalagi
sampai membuat puisi segala, bahwa hari Asyura adalah hari
kebahagiaan.
Ketiga, mengapa yang diperingati hanya syahidnya Imam
Husain? padahal ayahnya dan Imam Hasan saudaranya juga
syahid dan lebih layak diperingati, mengapa tidak diperingati?
Saya jawab: Di Iran tempat saya menetap sementara saat ini,
hari-hari wiladah 14 maksum (Nabi Muhammad saw, Sayidah
Fatimah sa dan 12 imam) serta hari syahadah mereka yang
telah tutup usia diperingati secara nasional bahkan dikedua
hari tersebut (wiladah dan syahadah) pemerintah
menetapkannya secara nasional sebagai hari libur.
Begitu juga komunitas Syiah di negara lainnya, meski tidak
diperingati secara nasional sebagaimana di Iran. Jadi
anggapan bahwa Syiah hanya memperingati syahidnya Imam
Husain as tidak benar.
Memang peringatan syahadah lainnya tidak sesemarak
peringatan Asyura sebab peristiwa syahidnya Imam Husain
as memberi pelajaran pada semua dimensi.
Madrasah Karbala mengajarkan bagaimana sikap muslim
bersikap ketika diperhadapkan dengan penguasa yang zalim,
bagaimana untuk bisa tetap konsisten dan komitmen pada
ajaran Islam ketika terjadi banyak penyelewengan oleh
penguasa, dan bagaimana untuk tetap setia pada pemimpin
meski dalam kondisi kritis dan berada di ambang maut.
Berbeda dengan syahadah 10 imam lainnya, syahadah Imam
Husain as disertai 72 orang pembelanya yang turut mereguk
cawan syahadah bersama imamnya.
Dengan spektrum yang lebih luas, wajar jika peringatan
Asyura yang diadakan umat Islam Syiah jauh lebih ramai
dibanding hari syahadah Nabi dan imam lainnya.
Intinya, pertanyaan, mengapa hanya syahidnya Imam Husain
as yang diperingati, hanya akan diajukan oleh orang-orang
yang pengetahuannya sebatas dengan apa yang dilihat dan
didengarnya saja.Tidak disiarkan di TV dan tidak ramai
dibahas media-media Barat, bukan berarti tidak ada.
Justru, kita malah jadi penasaran, untuk hanya memperingati
haulnya Imam Husain as saja sudah tidak sedikit yang panas
dingin dan menyebut peringatan Asyura sebagai ajang
promosi ajaran Syiah yang karena itu kelabakan sampai
harus main larang-larang, bagaimana kalau komunitas muslim Syiah di Indonesia juga memperingati haul Nabi
Muhammad saw, haul Sayidah Fatimah sa dan haul 10 imam
Syiah lainnya sebagaimana di Iran dan sebagaimana
tuntutan mereka untuk tidak hanya haulnya Imam Husain
saja? Bisa sibuk luar biasa ANNAS itu.
Al Husain tidak lama bersama Nabi. Diusianya baru
menginjak 6 tahun, sang kakek meninggal dunia. Betapa
sedihnya al Husain kecil. Terus terbayang masa kecil yang
indah bersama sang kakek. Betapa kakeknya selalu hanya
ingin membuatnya senang. Sedikit luka saja, sang kakek
sudah sedemikian risaunya.
Dia hanya berjarak setahun dengan abangnya, al Hasan.
Sebagaimana abangnya, namanya juga adalah pemberian
Allah Swt melalui malaikat Jibril As yang meminta Nabi Saw
menyebutnya al Husain, yaitu Hasan kecil. Dihari ketujuh
kelahirannya, sebagaimana juga abangnya, dia diaqiqah
dengan sembelihan satu ekor kambing.
Para sahabat sang Kakek juga turut merasakan kebahagiaan
akan kelahirannya. Dalam mazhab Syiah dan juga Maliki,
aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan tidak ada
bedanya, masing-masing dengan sembelihan satu ekor
kambing. Islam yang datang dengan doktrin laki-laki dan perempuan sama derajatnya, mustahil membeda-bedakan
laki-laki dan perempuan justru dihari-hari awal kelahirannya.
Suka cita dalam penyambutan kelahiran anak, sama, anak
laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Islam datang
justru hendak merombak tradisi yang membeda-bedakan
anak laki-laki dengan perempuan.
Masa kecil al-Husain diliputi kebahagiaan dan keceriaan
masa anak-anak. Dia tidak pernah terlihat berpisah dengan
kakeknya. Sahabat-sahabat Nabi Saw ketika menceritakan
tentang al Husain, mereka akan berkata, “Selalu saja kulihat
al Husain itu duduk dipangkuan Nabi, sambil sesekali diciumi
Nabi.” Bahkan ada salah seorang sahabat yang merasa risih,
saking seringnya dia melihat Nabi menciumi al Husain.
“Ya Rasulullah, saya mempunyai 10 anak laki-laki dan tidak
seorangpun dari mereka yang pernah kucium.”
“Kenapa?”
“Kami tidak mencium anak laki-laki.”
“Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.
Saya tidak bisa berbuat apa-apa, kalau Allah akan mencabut
rasa sayang dari hatimu.”
Tidak hanya diwaktu senggang, Nabi selalu bersama al
Husain. Bahkan diwaktu sedang memimpin jamaah shalat
sekalipun. Al Husain dan abangnya berkejaran diantara
kedua kaki Nabi yang sedang shalat. Ketika Nabi sujud,
keduanya bergantian menunggangi pundak Nabi. Akibatnya,
Nabi memperlama sujudnya. Sehabis shalat, para sahabat
bertanya, apa gerangan yang terjadi mengapa sampai sujud
Nabi sedemikian lama. Nabi menjawab, “Kedua cucuku ini
menunggangi punggungku, dan kubiarkan keduanya
menyelesaikan keinginannya.”
Salah seorang sahabat pernah mendapati Nabi sedang asyik
bermain dengan kedua cucunya. Al Husain dan al Hasan naik
dipunggung Nabi bersamaan. Sahabat itu turut tersenyum
melihat tingkah keduanya, sambil berkata, “Amat beruntung
kalian berdua, memiliki tunggangan yang paling baik.” Nabi
berkata, “Dan keduanya adalah penunggang terbaik.”
Pernah Nabi sedang berkhutbah. Diatas mimbar beliau
melihat al Husain dan abangnya berkejar-kejaran. Karena
baju yang dipakai al Husain kepanjangan, ia menginjaknya
sendiri, dan terjatuh. Nabi spontan melompat dari mimbar dan
menggendong cucunya itu, kemudian melanjutkan
khutbahnya kembali. Nabi tidak ingin al Husain terluka sedikitpun, apalagi sampai menangis. Menenangkan hati
cucunya itu, lebih utama bagi Nabi dibanding khutbah yang
disampaikannya.
Berkali-kali sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kami melihat,
begitu besar kecintaanmu pada al Husain.” “Iya, al Husain
dari aku, dan aku dari al Husain. Mencintai aku siapa yang
mencintainya, dan memusuhi aku siapa yang memusuhinya.”
Mendengar sabda itu, sahabat-sahabat Nabipun berlombalomba menunjukkan kecintaan yang serupa kepada al
Husain.
Setiap Nabi usai menyampaikan khutbah atau nasehat
kepada sahabat-sahabatnya, al Husain dan al Hasan segera
berlomba berlari kembali ke rumah. Keduanya adu cepat
untuk menyampaikan apa yang dikatakan Nabi kepada
ibunya, Fatimah az Zahra. Begitu Imam Ali datang dan
hendak bercerita kepada istrinya tentang apa yang telah
disampaikan Nabi tadi, Sayyidah Fatimah segera memotong,
“Sudah saya tahu.”
Imam Ali hanya keheranan, “Kamu tahu dari mana?”. Sang
Bunda tersenyum sambil menunjuk kedua anak laki-lakinya
yang cekikan senang.
Pernah, ada seorang kakek tua sedang berwudhu, namun
caranya salah. Al Husain dan al Hasan melihat kejadian itu.
Al Husain segera berkata kepada abangnya, “Bang, yuk kita
bertanding, siapa yang wudhunya paling benar.”
Al Hasan menyanggupi tantangan itu. “Tapi siapa yang
menjadi jurinya?” Al Husain pun meminta kepada kakek yang
hadir disitu. “Kek, siap jadi juri ya..”
Sang kakek mengiyakan.
Keduanyapun melakukan wudhu dihadapan kakek itu. Dan
begitu usai, kakek ditanya siapa yang wudhunya paling
benar. Sang kakek berujar, “Wudhu kalian berdua benar.
Saya yang salah.”
Al Husain sukses memberitahu cara wudhu yang benar
kepada si kakek, tanpa merasa digurui.
Al Husain tidak lama bersama Nabi. Diusianya baru
menginjak 6 tahun, sang kakek meninggal dunia. Betapa
sedihnya al Husain kecil. Terus terbayang masa kecil yang
indah bersama sang kakek. Betapa kakeknya selalu hanya
ingin membuatnya senang. Sedikit luka saja, sang kakek
sudah sedemikian risaunya.
Tapi tahukah kau akhir hidup cucu yang begitu disayangi
Nabi itu? Tahukah kau bagaimana kisah selanjutnya dari
penunggang Nabi itu?
Tahukah kau apa yang terjadi dengan
leher dan bibir al Husain yang sering dikecup oleh Nabi itu?
Ia mati dalam keadaan lehernya tersembelih, dan bibirnya
ditusuk-tusuk pedang.
Ketika kepala al Husain yang telah terpisah dari tubuhnya
dibawa kehadapan Yazid. Yazid memukul-mukul batok
kepala itu dengan tongkat, dan mempermain-mainkan bibir di
kepala itu.
Sahabat-sahabat Nabi yang telah tua renta histeris melihat
kejadian itu.
“Hentikan wahai Yazid, aku melihat dengan mata kepala
sendiri, bibir itu sering diciumi oleh Nabi.”
Kau mungkin tidak tahu banyak mengenai itu, sebab cerita
yang kau dapati tentang al Husain, dia yang sedang tertawa
senang sedang menunggangi Nabi, kakeknya.
Hanya itu… seolah-olah al Husain, hanyalah cucu Nabi, yang
sepanjang usianya adalah cucu yang larut dalam
kegembiraan masa kanak-kanak.
Mana masa muda al Husain, yang diminta ayahnya untuk
melindungi khalifah Utsman dari pembunuhan? Mana masa
muda al Husain yang ikut membela ayahnya dalam perangperang melawan kaum pemberontak? dan mana masa akhir
al Husain, yang syahid di Karbala menjaga nyala agama yang
disiarkan kakeknya?
Nabi bersabda tentangnya, “Al Husain adalah pemimpin
pemuda di surga…”
Kau tahu dimana kepalanya yang sempat dipermainkan itu
dikubur?
Secuil itukah yang kau tentangnya?
Di Muharram ini, berusahalah tahu banyak tentangnya, kau
akan mengenal agama ini lebih dekat...
Disetiap bersama Al-Husain, Nabi saw bersabda
mengingatkan para sahabatnya, "Husain dariku dan aku dari
Husain, Allah mencintai siapa yang mencintai Al-Husain, dan
Allah memusuhi siapa yang memusuhi Al-Husain."
Tidak ada yang memungkiri besarnya kecintaan dan kasih
sayang Nabi Muhammad saw kepada cucunya Al-Husain.
Lembar-lembar kitab sejarah dan hadis mengabadikan
kedekatan dan luapan ekspresi kecintaan Nabi kepada AlHusain, sampai pada tingkat Nabiullah Muhammad saw
bersabda, "Husain dariku dan aku dari Husain".
Hanya Husainlah yang membuat Nabi saw pernah
menghentikan khutbahnya dan memperlama sujudnya saat
mengimami salat berjamaah.
Diriwayatkan, disaat Nabi Muhammad saw berkhutbah,
Husain kecil sedang bermain kejar-kejaran bersama
kakaknya Al-Hasan. Tidak lama, karena mengenakan pakaian yang panjang, Al-Husain terjatuh menginjak
pakaiannya sendiri dan akhirnya menangis kesakitan.
Sang kakek dengan sigap segera turun dari mimbar,
mengambil Al-Husain dan kembali melanjutkan khutbahnya
dengan Al-Husain digendongannya. Nabi menghentikan
khutbahnya untuk menghentikan tangis Al-Husain.
Diriwayatkan pula, Nabi saw pernah mengimami salat, dan itu
menjadi salat jamaah terlama, karena Nabi Muhammad sujud
sedemikian lama. Sampai-sampai para sahabat mengira,
wahyu sedang turun ketika Nabi sedang dalam keadaan
sujud. Seusai salat, para sahabat bertanya, "Ada apa
gerangan ya Rasulullah, mengapa sujud kali ini sedemikian
lama?" Nabi menjawab singkat, "Tadi Al-Husain sedang
bermain di punggungku Kubiarkan ia tetap di punggungku,
karena aku tidak ingin ia terjatuh."
Simak, sedemikian besarnya cinta dan kasih sayang Nabi
saw pada cucunya tersebut. Nabi jadi gusar hatinya ketika
melihat Al-Husain menangis. Nabi lebih memilih memperlama
sujudnya, hanya agar Al-Husain tidak terusik kesenangannya
bermain. Rumah Fatimah sa, putri Nabi tidak jauh dari
kediaman Nabi saw, dan setiap Al-Husain kecil menangis dan
terdengar oleh Nabi, Nabi Muhammad saw akan bergegas mengunjungi putrinya dan berkata, "Duhai Fatimah, bukankah
engkau tahu bahwa aku terganggu dan sedih apabila aku
mendengar Al-Husain menangis?".
Berkali-kali Nabi Muhammad saw memperlihatkan
kecintaannya pada kedua cucunya Al-Hasan dan Al-Husain
dihadapan sahabat-sahabatnya.
Ia ekspresikan tidak hanya dengan ucapan tapi juga dengan
tindakan, merangkul, mengecup, memangku dan tidak segansegan menjadikan dirinya kuda tunggangan oleh kedua
cucunya, sampai sahabat berkata, "Betapa beruntung
keduanya, menunggangi kuda tunggangan terbaik di dunia
dan akhirat."
Disetiap bersama Al-Husain, Nabi saw bersabda
mengingatkan para sahabatnya, "Husain dariku dan aku dari
Husain, Allah mencintai siapa yang mencintai Al-Husain, dan
Allah memusuhi siapa yang memusuhi Al-Husain."
Mengapa Nabi saw sedemikian ekspresif terkait dengan Al-Husain? Nabi saw secara demonstratif menunjukkan kasih
sayang dan kecintaannya kepada Al-Husain, untuk
dijadikannya hujjah kelak di Mahkamah Ilahi, dan mengukur
keorisinalan cinta umat padanya dengan melihat bagaimana
umat Islam sepeninggalnya mencintai dan bersikap pada Al-Husain. Benarkah umat Islam tulus kecintaannya kepada
Nabi saw disaat yang sama abai terhadap apa-apa yang
cintai Nabi saw? Bukankah termasuk abai, ketika sejarah
terbantainya Al-Husain di Karbala sengaja ditutup-tutupi dan
seolah-olah tidak pernah terjadi bahkan menghalang-halangi
peringatannya?
Apakah bisa disebut kecintaan pada Nabi saw namun sama
sekali tidak pernah mencari tahu penyebab sampai cucu
kesayangan Nabi saw tersebut harus disembelih dan
kepalanya dipermainkan oleh juga yang mengaku sebagai
umat Muhammad?
Pernah suatu hari Imam Ali as mendapati Nabi Muhammad
saw sedang menangis, dan matanya tak henti-hentinya
menangis (tafiidhaan). Imam Ali as berkata, "Wahai Nabi
Allah, apakah seseorang telah membuatmu marah? apa yang
membuat matamu terus menerus menangis?" Nabi saw
menjawab, "Tidak. Jibril baru saja pergi. Dia memberitahuku
bahwa Husain akan dibunuh di tepi sungai Eufrat." Dan yang
membuat Nabi tidak bisa menahan tangisnya, ketika
diberitahu oleh Jibril as bahwa cucunya tersebut dibunuh
dalam keadaan haus tanpa air.
Riwayat-riwayat yang menuliskan besarnya kecintaan Nabi
saw kepada Al-Husain serta tangisnya yang meledak ketika
diberitahu langsung oleh malaikat Jibril as bahwa cucunya
tersebut akan dibunuh dengan cara sadis oleh ummatnya
sendiri di Karbala termuat tidak hanya dalam kitab-kitab Syiah
namun juga kitab-kitab Sunni.
Sehingga memperingati tragedi Asyura bukanlah milik
kelompok Syiah saja, namun milik umat Islam bahkan umat
manusia secara keseluruhan. Kecuali oleh mereka yang
menjadi pengikut ideologis Bani Umayyah yang memang
sejak awal tidak memandang penting keluarga Nabi saw
bahkan dengan segenap upaya sepanjang sejarah
mengecilkan nilai dan pentingnya peristiwa Karbala untuk
dijadikan pelajaran oleh umat Islam.
Setiap menjelang Asyura, pengikut ideologi Bani Umayyah
akan berupaya menjauhkan umat Islam dari mengingat
Tragedi Karbala.
Dengan kedok khawatir dengan penyebaran ideologi Syiah,
melalui kekuatan media mereka mengerdilkan pentingnya
memperingati gugurnya cucu Nabi saw yang telah
mengorbankan jiwa dan raganya demi tetap terjaganya Islam.
Mereka begitu semangat mengajak umat untuk berpuasa di
hari Asyura dengan ganjaran pahala dihapuskannya dosadosa selama setahun namun abai bahwa umat sampai hari ini
bisa mengenal salat, puasa dan haji karena pengorbanan
darah putra-putra terbaiknya, termasuk oleh kesyahidan AlHusain as.
Berpuasalah di hari Asyura ini, harapkanlah dengan puasa itu
dosa-dosa setahun bisa terhapus sebagaimana diriwayatkan
bahwa itu sabda Nabi Muhammad saw, namun jangan abai,
di hari Asyura 1382 tahun lalu, Al-Husain, cucu kesayangan
Nabi itu mati tersembelih dalam keadaan kehausan.
Sempatkanlah untuk merenungkan betapa besarnya
kepedihan dan terlukanya hati Nabi disaat tubuh cucu
kesayangannya itu diinjak-injak kaki kuda dan dilecehkan.
Shalawat dan salam teriring untukmu ya Imam Husain
'alaihissalam.
Bulan Agustus adalah bulan yang keramat dan penting bagi
bangsa Indonesia, sebab menjadi momentum berdirinya
sebuah negara yang berdaulat dan mengatur dirinya sendiri,
bukan di bawah penguasaan dan didikte bangsa lain.
Begitu memasuki bulan Agustus, kita bisa tiba-tiba
sentimental, tiba-tiba semua merasa nasionalis, dan begitu
mencintai negara ini. Kita jadi ingin mendengarkan lagu-lagu
nasional dengan penghayatan yang tidak biasa, tidak
sebagaimana bulan-bulan yang lain.
Kisah kepahlawanan dan heroisme para pejuang di situasi
genting ingin memproklamasikan kemerdekaan, seolah baru
terdengar di telinga atau baru kita baca, padahal sudah
berulang kali disampaikan, tapi ketika itu kita dapatkan di
bulan Agustus, seolah itu terpampang nyata dan kita turut
berada di barisan pemuda yang tegang bersama tokoh-tokoh
revolusi.
Dulu, di masa Orba, Agustus menjadi bulan yang membuat
kita kembali bernostalgia dengan masa-masa revolusi
kemerdekaan dengan film-film perang yang ditayangkan.
Efouria perayaan atas kemerdekan turut kita rasakan dengan
kesemarakan lomba-lomba Agustusan yang diadakan sampai
ke pelosok-pelosok kampung. Bendera merah putih ditambah
dengan umbul-umbul memenuhi jalan-jalan dan menjadi
ornamen yang dipasang di bangunan-bangunan.
TV dan radio-radio selama Agustus gandrung
memperdengarkan lagu-lagu nasional dengan aransemen
musik yang lebih gempita. Kesemua itu, bukan hadir serta
merta dan begitu saja, tapi memang direkayasa, agar bangsa
ini, khususnya generasi muda, tahu dan mengenal sejarah.
Bangsa ini didesain agar di bulan Agustus mendapat suntikan
semangat agar nyala api revolusi kemerdekaan 17 Agustus
tetap berkobar disanubari anak-anak bangsa.
Tujuannya apa? agar kira merawat ingatan, bahwa bangsa ini
merdeka bukan dari hadiah dan pemberian. Negara ini
dibentuk bukan serba tiba-tiba, tapi lahir dari perjuangan
panjang para pahlawan.
Betapa banyak darah yang tertumpah dan nyawa yang
melayang demi tercapainya kemerdekaan. Itu semua harus diingat, agar generasi sekarang bisa terus punya tekad dan
keinginan kuat untuk menjaga eksistensi negara ini.
Kita bisa melihat betapa menderitanya rakyat yang menjadi
pengungsi di negara lain, karena negara mereka terusterusan dirundung konflik dan perang. Memiliki negara yang
berdaulat dan aman, adalah anugerah besar yang harus
disyukuri dan dijaga.
Dari sinilah, mengapa peringatan hari besar nasional itu
penting. Kita memperingati hari kemerdekaan yang menandai
berdirinya republik ini, hari sumpah pemuda, hari lahirnya
Pancasila, hari kesaktian Pancasila, hari kebangkitan
nasional dan lain-lain adalah agar bangsa ini disetiap
generasinya tidak kehilangan pengetahuan akan sejarah
perjalanan bangsanya.
Kealpaan akan sejarahnya, akan membuat sebuah bangsa
gampang diombang-ambingkan dan kehilangan identitas.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah, pesan Bung Karno
yang akan terus relevan disetiap masa.
Diluar itu, peristiwa-peristiwa tragis, juga tidak boleh
dilupakan. Tiap tahun warga China peringati Tragedi
Tiananmen 1989, warga AS peringati tragedi runtuhnya
menara kembar WTC, Eropa tiap tahun peringati tragedi holocaust, Palestina peringati tragedi Nakba 1948, Indonesia
peringati tragedi G 30 S dan masyarakat Sulawesi-Selatan
peringati tragedi korban 40 ribu jiwa. Tragedi-tragedi itu
diingat dan dikenang bukan untuk merawat dendam, atau
mengajarkan ratapan dan menyesali nasib, melainkan
mengingatkan kita untuk tidak lupa pada nyawa-nyawa yang
menjadi korban pada tragedi-tragedi itu. Pada altruisme dan
pengorbanan mereka.
Untuk kita yang hidup bisa menghargai kehidupan ini. Untuk
kita tahu alasan dan mengapa mereka menjadi korban. Untuk
kita memahami betapa sejarah penuh dengan pergolakan
antara kebenaran dengan kebatilan, pertarungan antara
kelompok penindas dengan mustadafin, agar kita menjadi
tahu kemana kita harus berpihak dan di garis mana kita harus
berpijak.
Prinsip ini pulalah, mengapa tragedi Asyura penting untuk
diperingati dan menghidupkan majelis-majelis yang
mengenang kedukaannya. Majelis Asyura mengingatkan,
disetiap hari akan bermunculan Yazid-Yazid baru, dan
disetiap tempat akan berkuasa Yazid-Yazid baru, karena itu
Majelis Asyura penting dihidupkan, disemarakkan dan
diramaikan, yang darinya diharap bisa lahir Husain-Husain baru, yang tidak hanya berdiri tegak menentang kezaliman
Yazid namun menjadi pioner keruntuhan otoritarianisme.
Bung Karno, pendiri negara ini, dari pengakuannya belajar
banyak dari revolusi Al-Husain. Perlawanan dan
penentangannya pada kerakusan dan kebengisan penjajah
terinspirasi dari perjuangan Imam Husain dan pasukannya di
Padang Karbala.
Kalimat yang populer di kalangan pejuang, "Lebih baik mati
berkalang tanah, daripada hidup dijajah!" adalah semboyan
yang diajarkan Imam Husain as.
Soekarno dalam bukunya, "Di Bawah Bendera Revolusi",
menulis, "Husain adalah panji berkibar yang diusung oleh
setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, di
mana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia
serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan
kekejaman."
Jadi, bisa dikatakan perjuangan Soekarno dalam melawan
penindasan kolonialisme dan imperialisme, diilhami oleh
perjuangan Imam Husain.
Perjuangan Imam Husain dan Soekarno bersandar pada
prinsip yang sama, keberanian melawan kezaliman. Peristiwa Karbala itu adalah madrasah bagi para pemberani. Imam
Husain dan para pengikutnya adalah pemberani.
Dan bangsa ini juga melahirkan banyak pemberani. Apa yang
dilakukan Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Tan
Malaka dan lain-lain dalam menentang kolonialisme dan
imperialisme adalah keberanian. Keberanian itulah yang
membuat Indonesia bisa merdeka.
Dirgahayu RI ke-76, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh!!!
Karbala, nama hamparan sahara dekat sungai Eufrat yang
menjadi panggung drama nyata tragedi kemanusiaan
terbesar sepanjang sejarah. Sebuah padang pasir yang di
beritakan dalam Al-Kitab, bahwa di tempat ini terjadi
penyembelihan yang teramat dahsyat, yang digambarkan
pedang akan makan sampai kenyang dan akan puas minum
darah mereka (Yeremia 46:1).
Dari sekian tragedi kemanusiaan yang terjadi, tragedi di
Karbalalah yang terbesar. Bukan dilihat dari jumlah korban,
melainkan siapa yang telah menjadi korban dan bergelimang
darah. Jumlah mereka tidak seberapa, 'hanya' kurang lebih
72 orang. Yang menjadikan peristiwa ini sulit untuk terlupakan
adalah Karbala menjadi samudera pasir yang menyuguhkan
genangan darah dan air mata suci putera-puteri Rasul. 10
Muharram 61 Hijriah, Imam Husain bersama 72 pengikutnya -
termasuk di dalamnya anak-anak - syahid dibantai oleh
sekitar 30.000 tentara Yazid bin Muawiyyah di padang
Karbala , Irak. Kepala Imam dan para syuhada dipenggal dan
diarak keliling kota.
Peristiwa ini merupakan tragedi terbesar sepanjang sejarah
Islam. Bisa jadi ada yang mempersoalkan mengapa kisah
tentang tragedi ini harus selalu dikenang, harus selalu diingat
dan ditangisi.
Bukankah peristiwa ini hanya akan menyulut benih-benih
perpecahan antara kaum muslimin, antara kelompok yang pro
dengan kebangkitan dan kesyahidan Imam Husain ra dan
dengan kelompok yang kontra dan menganggap Imam
Husain ra adalah agitor dan pemberontak terhadap penguasa
yang sah?
Masihkah relevan kita memperbincangkan tentang
kesyahidan Imam Husain di padang Karbala di abad yang
justru orang-orang membincangkan perdebatan antar budaya
dan peradaban melalui dunia maya? Apa faedah kita
mengungkit-ngungkit tragedi yang telah menjadi masa lalu ini,
dan buat apa kita menangisinya ?. Bukankah semestinya kita
duduk bersama berbicara tentang perdamaian dunia untuk
kehidupan yang lebih baik?
Saya pribadi, menganggap hal ini sangat penting untuk kita
perbincangkan. Terlepas dari tragedi Karbala, di Indonesia,
atas nama suku, agama, ras dan golongan, nyawa manusia
tidak lebih mahal dari sebungkus rokok. Aceh, Ambon , Sambas, Sampit, Poso, Papua adalah sedikit saksi atas
kebiadaban segelintir manusia atas manusia lainnya. Tidak
sulit kita menemukan orang-orang bergelimpangan meregang
nyawa, baik karena dibunuh ataupun menghabisi nyawa
sendiri. Lalu, di manakah kemanusiaan kita? Tersentuhkah
kita dengan derita-derita mereka?
Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah pernah berkata,
"Mereka yang tidak pernah tersentuh dengan tragedi Karbala
, tidak akan pernah tersentuh dengan tragedi kemanusiaan
yang lain." Tragedi Karbala menjadi ukuran.
Kepedulian kita atas tragedi kemanusiaan, khususnya di bumi
Nusantara ini akan terukur dari kepedulian kita pada Karbala.
Imam Khomeini pernah berkata, "Sungguh kesyahidan
Husain senantiasa membakar hati orang-orang yang
beriman." Dari sini, saya melihat tragedi Karbala sangat
relevan untuk kita kenang.
Pertama-tama, kami tegaskan bahwa masalah memperingati
tragedi Karbala (10 Muharram) bukanlah masalah khas Syi'ah
saja, tetapi masalah islami. Meskipun muslim yang
bermadhzab Syi'ah lebih memberikan prioritas terhadap
peristiwa ini dibanding kelompok muslim lainnya. Sebab, Imam Husain ra tokoh utama dibalik tragedi ini, bukanlah
pelita bagi kaum Syi'ah saja, melainkan lentera hati setiap
mukmin, apapun madhzabnya.
Karenanya, kami tegaskan lagi, apapun yang berkaitan
dengan peristiwa karbala pada hakikatnya adalah fenomena
islami. Yang akan saya ketengahkan adalah, tangisan dan
perilakunya terhadap manusia.
Telah sering diajukan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar
tangisan yang biasa dilakukan orang-orang Syi'ah saat
mengenang peristiwa Karbala. Peringatan akan tragedi
Karbala dengan tangisan dan ratapan yang mereka lakukan
bagi sebagian muslim yang lain adalah bid'ah bahkan
cenderung kepada kesyirikan.
Manusia manapun pasti mengalami kegetiran hidup yang
membuatnya harus menangis. Bahkan lembaran kehidupan
manusia diawali dengan tangisan dan diakhiri pula dengan
tangisan perpisahan.
Tangisan sesuatu yang alamiah, sesuatu yang telah menjadi
fitrah kemanusiaan. Menurut Syaikh Taqi Misbah Yazdi,
menangis disebabkan empat tingkatan spiritual : keridhaan
(ar-rida'), kebenaran (ash-shidiq), petunjuk (al-hidayah) dan pemilihan (al-isthifa'). Dan para nabi telah mencapai empat
tingkatan spiritual yang tinggi ini.
"Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan
sebelumnya apabila Al-Qur'an al-Karim dibacakan kepada
mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil
bersujud, dan mereka berkata, "Maha Suci Tuhan kami,
sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi." Dan mereka
menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka
bertambah khusyuk." (Qs. Al-Isra' : 107-109).
Melalui ayat ini, disimpulkan bahwa ilmu dan makrifat adalah
penyebab timbulnya tangisan. Setiap orang yang mengetahui
hakikat sesuatu, mengetahui hakikat kenabian Rasulullah
SAW dan mengetahui hakikat kesyahidan Imam Husain ra,
maka hatinya sangat peka dan matanya muda mengucurkan
air mata.
Rasul bersabda, "Seandainya kalian mengetahui apa yang
aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak
menangis. " Di ayat lain Allah SWT berfirman, "Dan apabila
mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul,
kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata
disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui”
(Qs. Al-Maidah : 83)
Seseorang yang menjadikan Imam Husain sebagai
kekasihnya dan mendengar sang kekasih mengalami
musibah dan bencana, apa layak hanya menanggapinya
dengan dingin dan tidak menangis?
Imam Husain adalah adalah kekasih bagi setiap muslim,
beliau gugur dalam keadaan kehausan dan tidak cukup
dibantai, tapi kepala beliau dipisahkan dari tubuhnya dan
ditancapkan di atas tombak serta di bawa untuk
dipersembahkan kepada raja Yazid yang bermukim di
Syuriah.
Oleh karenanya bagi yang ingin menziarahi tubuh Imam
Husain, maka hendaknya pergi ke Karbala Irak dan bagi yang
ingin menziarahi kepalanya, maka hendaknya pergi ke
Suriah. Ini bukan cerita dongeng, sejarahnya sangat masyhur
dan ditulis dalam kitab-kitab ahli sejarah.
Tidak ada yang memungkiri, Imam Husain adalah cucu
kesayangan nabi, dan berkali-kali menyampaikan kepada
para sahabat untuk juga menyayanginya.
Abu Hurairah bercerita, "Rasulullah saw datang kepada kami
bersama kedua cucu beliau, Hasan dan Husain. Yang pertama di bahu beliau yang satu, yang kedua di bahu beliau
yang lain. Sesekali Rasulullah saw menciumi mereka, sampai
berhenti di tempat kami berada.
Kemudian beliau bersabda, ‘Barang siapa mencintai
keduanya (Hasan dan Husain) berarti juga mencintai daku;
barang siapa membenci keduanya berarti juga membenci
daku." Imam Husain adalah kekasih setiap mukmin dan
mukminah dan teman dekat setiap Muslim dan Muslimah,
sehingga setiap orang mukmin akan merasa sedih atas
kepergiannya.
Tidak sedikit rakyat Pakistan yang menangisi kematian
Benazir Bhutto yang tragis ataupun mahasiswa Makassar
yang tidak bosan-bosannya memperingati tragedi AMARAH
tiap tahunnya, maka bagaimana mungkin kita tidak menangis
atas kematian Imam Husain yang mengajari dan menjaga
nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran!
Seandainya kalau bukan karena jihad sucinya, niscaya Islam
akan lenyap bahkan namanya pun tidak akan terdengar.
"Jikalau raga diciptakan untuk menyongsong kematian, maka
kematian di ujung pedang di jalan Allah jauh lebih baik dan
mulia ketimbang mati di atas ranjang." (Al-Husain bin Ali bin
Abi Thalib)
Allah Swt berfirman tentang nabi Yaqub as yang menangisi
kepergian anaknya, Nabi Yusuf as, "...Aduhai duka citaku
terhadap Yusuf; dan kedua matanya menjadi putih (buta)
karena kesedihan dan dialah yang menahan amarahnya
(terhadap anak-anaknya)." (Qs. Yusuf : 85).
Dari ayat ini, kita bisa bertanya, apakah tangisan Nabi Yaqub
as karena terpisah dengan anaknya sampai matanya menjadi
buta adalah bentuk jaza' (keluh kesah) yang dilarang ?
apakah Nabi Yaqub as melakukan sesuatu yang
menjemuruskan dia dalam kebinasaan sampai anak-anaknya
bertanya, " Demi Allah, senantiasa kamu mengingat Yusuf,
sehingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk
orang yang binasa ?" (Qs. Yusuf : 86).
Alhasil, Al-Qur'an menceritakan bahwa ketika Yusuf dijauhkan
Allah Swt dari pandangan Yaqub serta merta Yaqub
menangis sampai air matanya mengering karena sangat
sedihnya. Tentu saja tangisan Nabi Yaqub as bukanlah
tangisan keluh kesah yang sia-sia, melainkan ungkapan
kesedihan atas kebenaran yang telah dikotori, atas anaknya
Yusuf yang telah dizalimi. Hakim an-Naisaburi dalam
Mustadrak Shahih Muslim dan Bukhari meriwayatkan, bahwa Rasulullah keluar menemui para sahabatnya setelah malaikat
Jibril memberitahunya tentang terbunuhnya Imam Husain dan
ia membawa tanah Karbala. Beliau menangis tersedu-sedu di
hadapan para sahabatnya sehingga mereka menanyakan hal
tersebut.
Beliau memberitahu mereka, "Beberapa saat yang lalu Jibril
mendatangiku dan membawa tanah Karbala , lalu ia
mengatakan kepadaku bahwa di tanah itulah anakku Husain
akan terbunuh." Kemudian beliau menangis lagi, dan para
sahabatpun ikut menangis. Oleh karena itu, para ulama
mengatakan bahwa inilah acara ma'tam (acara kesedihan
dan belasungkawa untuk Imam Husain).
Jika ketika mendengar kisah terbunuhnya Imam Husain lalu
tidak mengucurkan air mata, maka kitapun akan dingin
terhadap tragedi-tragedi kemanusiaan lainnya.
Karenanya wajar, hati masyarakat kita tidak tersentuh ketika
mendengar berita seorang suami membakar istrinya,
seseorang membunuh dengan dalih yang sepele dan
sebagainya. Masyarakat kita tidak terbiasa menangis tetapi
terbiasa untuk tertawa. Hati kita cenderung keras dan
menganggap tangisan adalah bentuk kekalahan.
Tangisan atas Imam Husain bukanlah tangisan kehinaan dan
kekalahan, namun adalah protes keras atas segala bentuk
kebatilan dan sponsornya di sepanjang masa.
Orang-orang mukmin merasakan gelora dalam jiwanya ketika
mengenang terbunuhnya Imam Husain, bahkan Mahatma
Ghandi berkali-kali mengatakan semangat perjuangannya
terinspirasi dari revolusi Imam Husain ra. Kullu yaumin
Asyura, kullu ardin Karbala, semua hari adalah Asyura,
semua tempat adalah Karbala.
Hari Asyura termasuk hari-hari Allah, tentangnya Allah
berfirman : "Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada
cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada
hari-hari Allah." (Qs. 14:5). Meskipun ada usaha-usaha untuk
memadamkan gelora perlawanan akan ketertindasan dan
kedzaliman.
Tetapi Allah Maha Perkasa, Dia tetap menyempurnakan
cahaya-Nya meskipun musuh-musuh-Nya tidak suka. Allah
tetap menjaga gelora spiritual itu tetap menyala di hati-hati
orang mukmin dan tidak akan pernah padam sampai hari
kiamat Semua mukminin wajib mengenang tragedi ini dan menangis
atasnya, "Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan
ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis?"
(QS. An-Najm: 59-60)
Wallahu a'alam bishshawwab.
Melarang diadakannya majelis peringatan Asyura adalah
bentuk penodaan pada agama. Islam meminta umatnya untuk
memperingati peristiwa-peristiwa penting masa lalu untuk bisa
dijadikan pelajaran dan diambil ibrahnya untuk menyesuaikan
dengan konteks sekarang sehingga arah perjalanan umat
Islam tetap sesuai dengan jalur yang diinginkan Alquran dan
Assunnah, yang tidak terlepas dengan peristiwa masa silam.
Kalau umat Islam meyakini pada hari Asyura (10 Muharram)
terjadi banyak peristiwa penting yang tidak hanya terkait
dengan Nabi-Nabi Allah namun juga dengan keluarga Nabi
Muhammad saw dengan terbantainya Imam Husain as di
Karbala, maka sudah semestinya hari Asyura diperlakukan
beda dengan hari-hari pada umumnya.
Hari Asyura adalah momen yang sudah sewajarnya
dimanfaatkan untuk mengingatkan ummat, akan peristiwaperistiwa penting yang terjadi pada 10 Muharram tersebut,
terutama kisah tragedi Asyura yang tidak boleh diabaikan.
Oke, terdapat penyikapan dan pandangan berbeda antara Sunni dan Syiah mengenai peristiwa Karbala, namun tidak
lantas tragedi terkelam dalam sejarah Islam tersebut
ditenggelamkan begitu saja dan melewatkan hari Asyura
setiap tahunnya seolah-olah pada 10 Muharram tidak pernah
terjadi apa-apa. Sebab, baik Sunni maupun Syiah sepakat
bahwa tragedi Asyura benar-benar terjadi, dan kepala Imam
Husain as benar-benar dipisahkan dari tubuhnya.
Perbedaannya pada dimana kepala Imam Husain as
dimakamkan. Setidaknya ada enam tempat kemungkinan,
kepala Imam Husain as dimakamkan: Damaskus, Karbala,
Raqqa, Ashkelon, Kairo atau Madinah.
Pertanyaannya, pantaskah cucu Nabi Muhammad saw
tersebut mendapatkan perlakuan sedemikian keji dan
pantaskah itu diabaikan begitu saja oleh ummatnya, dan
dengan enteng menyebutkan, biarlah menjadi peristiwa masa
lalu dan tidak perlu dikorek-korek lagi?
Memperingati hari Asyura dengan menjadikannya sebagai
momen memperingati hari kesyahidan Imam Husain as
penting untuk merawat ingatan dan mengingatkan pada
ummat, bahwa kebencian dan permusuhan pada Islam yang
diajarkan Nabi Muhammad saw dan keluarganya telah ada
tidak lama dari wafatnya Nabi Muhammad saw dan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang mengaku dari kalangan umat
Islam sendiri. Memberlakukan larangan secara serampangan
dan menuding setiap penyelenggaraan majelis peringatan
Asyura adalah bentuk kesesatan dan penodaan pada agama
adalah hakekatnya adalah penodaan pada agama itu sendiri.
Jika negeri ini merasa perlu memperingati tragedi G 30 S
secara nasional untuk mengingatkan rakyat akan bahaya
komunisme sembari menjaga kesetiaan rakyat pada
Pancasila, maka Islam tentu jauh lebih butuh pada adanya
majelis-majelis peringatan serupa untuk menjaga ummat ini
tetap berada pada rel perjuangan Islam yang sesungguhnya.
Jika ada yang disampaikan dan disebarkan dalam majelis
duka Imam Husain as yang bertentangan dengan fakta
sejarah, itu yang diluruskan, dibantah dan diprotes, sekeraskerasnya kalau perlu.
Tapi jangan pernah melarang, majelis memperingati tragedi
Asyura untuk diadakan. Indonesia tidak lebih Islami dari Arab
Saudi, Mesir dan Turki yang diketiga negara tersebut, majelis
memperingati Asyura bahkan diselenggarakan secara massif
dan terbuka dan di Arab Saudi sendiri tidak pernah
menerapkan larangan memperingati Asyura. Apa Indonesia merasa lebih menjaga dan membela Islam dengan melaranglarang penyelenggaraan peringatan Asyura?
Ramaikanlah majelis-majelis peringatan Asyura, jika ada yang
bertanya, kalian mau kemana? Jawablah, "Kami mau ke
Karbala!!!"
Karbala terletak beberapa kilo meter dari hulu sungai Eufrat di
barat laut Kufah. Tanah Karbala awalnya bernama Kur Babal
lalu disingkat menjadi Karbala untuk memudahkan
pengucapan. Kata Babal dalam nubuat Yesaya berarti gurun
laut (shahra' al bahr) sebuah lembah luas yang dibelah oleh
sungai Eufrat. Versi lainnya, disebut Karbala karena pada
zaman Babilonia disana terdapat tempat penyembahan. Karb
berarti tempat penyembahan, tempat sembahyang dan
tempat suci dan kata 'Abala dalam bahasa Aramea berarti
Tuhan, sehingga Karbala artinya tanah suci Tuhan.
Kitab-kitab samawi sebelumnya menyebut tanah tersebut
Karbala, karena dinubuatkan di tempat inilah terjadi kesulitan
dan bencana yang sangat memilukan hati. Karb dalam
bahasa Arab artinya kesulitan dan bala artinya bencana. AlKitab, memberitakan bahwa di Karbala inilah terjadi
penyembelihan yang teramat dahsyat, yang digambarkan
pedang akan makan sampai kenyang dan akan puas minum
darah mereka (Yeremia 46:1)
Sejarah pun mengabadikan, Karbala adalah hamparan
sahara yang menyuguhkan genangan darah dan air mata
suci putera-puteri Rasul. 10 Muharram 61 Hijriah, Imam
Husain bersama 72 pengikutnya - termasuk di dalamnya
anak-anak - syahid dibantai oleh sekitar 30.000 tentara Yazid
bin Muawiyyah di padang Karbala, Irak. Kepala Imam dan
para syuhada dipenggal dan diarak keliling kota. Sangat
disayangkan, peristiwa tragis ini kurang mendapat apresiasi
bahkan dari kaum muslimin sendiri.
Diantara buku-buku sejarah yang menumpuk diperpustakaan
kita, sulit kita temukan buku yang membahas pembantaian
Karbala, seakan-akan peristiwa ini tidak ada pentingnya untuk
dikaji dan diapresiasi, sedangkan yang dibantai secara tragis
adalah Imam Husain, cucu Rasulullah yang tersisa.
Rasul bersabda tentangnya, "Husain berasal dariku dan aku
berasal darinya. Allah mencintai siapa yang mencintainya.
Siapa menyakitinya berarti menyakitiku" Karbala bukanlah
sebuah peristiwa sejarah yang berhenti pada 10 Muharram,
tetapi merupakan titik balik yang sangat penting bagi aqidah
Islam yang agung. Yang dilakukan Imam Husain as di
Karbala adalah revolusi tauhid, yakni revolusi yang ûmenurut
Ali Syariati- gugusannya dimulai oleh nabi Ibrahim as diledakkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad saww,
dipertahankan hidup oleh Imam Husain as dan berakhir pada
Imam Mahdi.
Ali Syariati merasa perlu mengingatkan, bahwa melupakan
riwayat Imam Husain as sebagai mata rantai yang lepas dari
rangkaian sejarah tidak bedanya memotong bagian tubuh
manusia yang masih hidup untuk dilakukan penelitian
atasnya. Perlawanan yang dikobarkan Imam Husain adalah
hikayat kebebasan yang dikubur hidup-hidup oleh pisau
kezaliman pada setiap zaman dan tempat. Karenanya
semangat itu perlu kita hidupkan kembali. (bersambung)
Kebijakan Muawiyah bin Abu Sufyan mengangkat Yazid
putranya sendiri sebagai khalifah atas kaum muslimin adalah
awal pemicu prahara tak berkesudahan dalam tubuh umat
Islam. Pengangkatan ini tidak hanya mengakhiri keagungan
dan kecemerlangan Daulah Islamiyah yang telah dibangun
oleh Rasulullah saww dan dijaga oleh keempat sahabat
beliau yang mulia namun juga telah mengoyak-ngoyak
tatanan politik Islam yang berkeadilan.
Para sejarahwan menuliskan Yazid bukanlah orang yang
layak menjadi khalifah, ia dzalim dan sering tampak secara
terang-terangan menginjak-injak sunnah Rasulullah. Untuk
memutlakkan kekuasaannya atas kaum muslimin, Yazid bin
Muawiyah meminta baiat dan pengakuan dari Imam Husain
as, sebagai orang yang paling alim dimasanya.
Disinilah kondisi lebih pelik bermula, berhadapan dengan
kekuatan besar dan kekuasaan Yazid, kematian adalah
sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi ketika memilih menolak
berbaiat.
Sebenarnya bisa saja Imam Husain as menganggap jalan
menuju surga tidak hanya terbatas pada berjuang di bawah
kilatan pedang. Jihad bukanlah satu-satunya jalan menuju
surga, bukankah dengan hidup zuhud, menyingkirkan diri dari
keramaian, menyibukkan diri dengan ibadah di sudut-sudut
mesjid adalah jalan yang lebih mudah dan aman menempuh
surga? Tetapi tidak bagi al-Husain, surga bukanlah satusatunya tujuan dan impiannya. Beliau harus melaksanakan
tugas yang diemban dan taklif yang saat itu berada
dipundaknya, mempertahankan kebenaran dan revolusi Islam
yang telah diledakkan sang kakek.
Menurut Imam Husain as, dasar kepercayaan Islam adalah
kekuatan perlawanan dan pembebas. Islam tidak sematamata memuat deretan do'a dan ibadah melainkan perlawanan
yang bergelora.
Mungkin dengan semangat itulah, Islam hakiki akan tampak,
sebagaimana diturunkan pertama kali, menjadi pembebas
bagi mereka yang berada dalam ketertindasan. Baginya,
mengosentrasikan jiwa dan pikiran di sudut-sudut mesjid dan
rumah-rumah kosong adalah pengkhianatan terhadap
revolusi Islam.
Dengan kekuatan yang tersisa, Imam Husain as mengajak
keluarganya untuk memilih kematian daripada harus
mengakui kekuasaan Yazid yang menumpahkan tinta lain
selain Islam dalam pemerintahannya.
Imam Husain berangkat melawan untuk membela kebenaran,
yakni kebenaran bagi semua umat manusia. Jadi perlawanan
tersebut dengan esensinya akan terus berlangsung selamalamanya.
Dimanapun seorang melakukan perlawanan terhadap
kezaliman, disitulah Karbala. Setiap tusukan pedang pada
hari Asyura adalah tusukan terhadap penguasa yang dzalim
pada periode kapanpun. Itulah perlawanan yang mulai
membara dan terus membara selama masih ada kedzaliman
di atas muka bumi, selama masih ada pemerintah yang
dzalim, selama masih ada aqidah dipermainkan. Itulah
perlawanan yang takkan mereda, terutama saat ini ketika
intimidasi menimpa banyak bangsa, aqidah dan agama
dipermainkan untuk mengokohkan kezaliman, pengrusakan
dan membenarkan kebiadaban segelintir manusia atas
manusia lainnya.
Antoane Bara dalam bukunya The Saviour Husain dalam
Kristinitas (Citra, 2007) menulis, Al-Husain adalah pelita Islam
yang menerangi batin agama-agama hingga akhir zaman.
Ajaran-ajaran revolusi Imam Husain, perlawanan terhadap
ketidak adilan, kebebasan dan kemerdekaan jiwa, altruisme
(ajaran rela berkorban) bukankah ini batin agama-agama
sepanjang masa? Revolusi Al-Husain adalah lompatan
keberanian dalam penjara-penjara hegemoni pada
zamannya. Sebuah citarasa yang tinggi.
Kalimat syahadat, La ila haillallah adalah simbol universitas
kesyahidan, yakni kebebasan, tidak ada ketundukan kepada
selain Allah. Allah SWT berfirman, "Janganlah kalian mengira
bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati,
tetapi mereka hidup" Demikianlah Al Husain tetap hidup, hidup di sisi Allah, di dalam hati, jiwa dan pikiran orang-orang
yang memerdekakan jiwanya. Hidup dalam perasaan, di atas
mimbar, di dalam majelis-majelis, dalam slogan-slogan
perlawanan, hidup dalam buku. Gerakan, semangat dan misi
Al-Husain di Karbala, di hari Asyura akan selalu
menginspirasi setiap gerakan revolusi di dunia, di setiap
masa.
Revolusi Al-Husainlah yang menginspirasi Mahatma Ghandi
membawa rakyat India menuju pembebasan dari penjajahan
Inggris. Kebangkitan al-Husainlah yang menginspirasi
Soekarno untuk bangkit melawan imperialisme dan
kolonialisme. Di penghujung abad 20 Imam Khomeini telah
menuntun kafilah dan semangat Asyura meruntuhkan
Imperium yang berkuasa 2.500 tahun membuktikan Revolusi
Al-Husain mengungguli dunia dan zaman.
Kullu Yaumin As-Syura , Kullu ardin Karbala, semua hari
adalah As-Syura, semua tempat adalah Karbala.
Wallahu 'alam bishshawwab.
Kalau sejumlah kaum muslimin di Negara lain menyambut
kedatangan bulan Muharram dengan bersuka cita dan saling
mengucapkan selamat akan bergantinya tahun, masyarakat
Iran justru melarutkan diri dalam majelis-majelis duka. Bulan
Muharram bagi masyarakat Iran yang mayoritas bermazhab
Syiah adalah bulan duka, bulan yang mengharu biru, bulan
yang menggoreskan kenangan akan peristiwa paling pahit
dalam sejarah Islam.
Karena itu, bergantinya tahun hijriah yang seringkali dijadikan
momen untuk bergembira dan saling mengucapkan selamat,
tidak akan ditemukan dilakukan oleh warga Iran. Rasa
belasungkawa akan syahidnya Imam Husain AS beserta
keluarga dan sahabatnya yang terbantai di Karbala mereka
tunjukkan bukan hanya dengan pakaian serba hitam yang
mereka kenakan, namun juga pemasangan umbul-umbul
bendera hitam, ornamen-ornamen yang dipasang di tepi-tepi
jalan, masjid dan tempat-tempat umum yang berisi pesan
duka Asyura, termasuk mencat mobil-mobil mereka dengan
tulisan Husain, Zainab, Ali Asghar, Aba al-Fadhl dan nama
tokoh-tokoh lainnya dalam peristiwa Karbala.
Secara resmi, warga Iran memperingati peristiwa Asyura
selama sepuluh hari berturut-turut, dari tanggal 1 sampai 10
Muharram
Hari kesembilan dan hari kesepuluh dijadikan hari libur
nasional. Selama kesepuluh hari tersebut, setiap sehabis
shalat Isya berjama’ah, diadakan majelis-majelis duka.
Ratusan warga berbondong-bondong memadati masjidmasjid dan Husainiyah tempat diadakannya majelis-majelis
duka tersebut.
Acara dibuka dengan tilawah al-Qur’an dan dilanjutkan
dengan ceramah agama yang berisi pesan dan hikmah dari
kisah-kisah kepahlawanan Imam Husain As beserta keluarga
dan sahabatnya di padang Karbala. Disaat Khatib
menyampaikan ceramahnya, tidak jarang terdengar suara
isak tangis dari para jama’ah. Peristiwa kematian Imam
Husain AS meski sudah berlalu 1400 tahun lalu, namun bagi
mereka tampak seolah-olah baru terjadi kemarin sore.
Setelah mendengarkan ceramah, lampu-lampu dipadamkan,
dan hanya menyisakan sedikit cahaya.
Dalam suasana nyaris gelap itu, seseorang tampil untuk
membacakan maqtal atau syair-syair duka. Pada prosesi ini,
para jama’ah dilibatkan. Kesemuanya berdiri dan mengiringi
kidung duka yang dinyanyikan sembari menepuk-nepuk dada.
Suasana haru semakin menyeruak setiap disebutkan nama al
Husain. Diakhir acara, panitia akan membagikan kotak
makanan dan disantap bersama. Majelis ini berlangsung
selama sepuluh malam berturut-turut.
Dalam majelis ini tidak adegan melukai diri, tidak ada aksi
memukul badan dengan benda tajam hingga berdarah-darah.
Ulama-ulama Iran memberikan fatwa akan keharaman
melukai diri apalagi sampai berdarah-darah dalam
memperingati hari Asyura.
Fatwa itupun menjadi hukum postif bagi kepolisian Iran untuk
membubarkan dan menangkapi mereka yang melakukan aksi
melukai diri dalam majelis Husaini. Sayang, karena perbuatan
segelintir Syiah di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang masih juga memperingati Asyura dengan tradisi melukai diri, Syiah
pun diidentikkan dengan perbuatan irasional tersebut.
Patut diketahui, kalau memang melukai diri dianggap ibadah
yang afdhal dilakukan pada peringatan Asyura, maka yang
paling pertama melakukannya adalah ulama-ulama dan kaum
terpelajar dari kalangan Syiah, dan itu harusnya bermula dari
Iran, sebagai sentral keilmuan penganut Syiah. Faktanya,
tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya, yang ada
justru memfatwakan keharamannya. Dan kalau memang itu
sudah menjadi bagian dari tradisi Syiah, maka tentu jumlah
orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih banyak dari
yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa,
dan itu hanya ada diluar Iran, tidak di Iran.
Pada hari Jum’at pagi, dari kesepuluh hari awal Muharram itu,
diperingati secara khusus kesyahidan Ali Asghar, putra Imam
Husain As yang masih berusia beberapa bulan namun turut
menjadi korban kebengisan tentara-tentara Yazid.
Dikisahkan, bayi Imam Husain AS tersebut dalam kondisi
kehausan, sebab sumber mata air berada dalam penguasaan
tentara Yazid dan tidak mengizinkan kafilah Imam Husain
untuk mengambil airnya barang setetes pun.
Kasihan dengan bayinya yang merengek kehausan, Imam
Husain AS pun memeluk dan menggedongnya. Beliau
menghadap pasukan Yazid untuk diizinkan mengambil air, setidaknya untuk menghilangkan dahaga bayinya tersebut,
sembari memperlihatkan kondisi Ali Asghar yang dicekik
kehausan. Bukannya iba, seorang tentara Yazid malah
melezatkan anak panah yang tepat mengenai leher bayi
Imam Husain AS tersebut, yang kemudian mati seketika
dipelukan ayahnya.
Kejadian tragis ini secara khusus diperingati pada hari Jum’at
pertama bulan Muharram. Ribuan ibu dengan bayi-bayinya
yang berkostum pakaian Arab paduan warna hijau dan putih
lengkap dengan surban dan ikat kepala yang bertuliskan Ali
Asghar, memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang.
Ditempat itu mereka mendengarkan ceramah khusus
mengenai kisah kesyahidan Ali Asghar dan betapa pedihnya
hati Imam Husain AS melihat kematian bayinya yang tragis di
pelukan sendiri, justru oleh mereka yang mengaku sebagai
muslim dan pengikut Nabi Muhammad SAW.
Suasana haru dan emosional tidak terhindarkan ketika kisah
yang menyayat hati itu kembali disuguhkan. Ibu-ibu tersebut menangis sambil mendekap bayi mereka masing-masing
sembari membayangkan kesedihan dan kepiluan hati Imam
Husain melihat bayinya tergeletak tanpa nyawa.
Dalam acara ini tidak ada adegan orangtua mengiris bayinya
dengan pedang hingga berdarah, hanya sekedar untuk
merasakan kepedihan Imam Husain Foto yang beredar di media sosial yang menggambarkan
kepala seorang anak yang berdarah-darah karena dilukai
oleh orangtuanya sendiri, kejadiannya bukan di Iran. Itu
adalah kelakuan orang-orang yang ekstrim yang justru
mendapat kecaman dari ulama Syiah sendiri, yang tidak bisa
menjadi representatif semua Syiah pasti melakukan itu.
Pada hari kesembilan Muharram -yang dikenal juga dengan
sebutan Tasu’a Husaini- dan pada hari kesepuluh –dikenal
dengan sebutan hari Asyura- karena menjadi hari libur
nasional, jalan-jalan raya dipadati oleh ribuan warga dengan
pakaian serba hitam yang berjalan kaki.
Disepanjang jalan, terdapat posko-posko yang menyediakan
minuman panas dan makanan ringan secara gratis. Satu-dua
jam menjelang shalat dhuhur masjid-masjid dan juga kantorkantor resmi ulama-ulama Marja dipadati lautan manusia.
Ditempat-tempat itu mereka berkumpul untuk menumpahkan
rasa haru dan kesedihan yang sama.
Suara isak tangis yang tak tertahan terdengar dimana-mana
disaat khatib menyampaikan detik demi detik proses
terbantainya Imam Husain AS di Karbala.
Bagaimana saat dadanya yang telah penuh dengan sayatan
pedang ditindih dan kemudian kepalanya dengan tebasan
pedang dipisahkan dari tubuhnya. Tangisan mereka dengan
tragedi memilukan yang menimpa cucu Nabi Muhammad
SAW tersebut bukan untuk menyesal atas apa yg telah terjadi
melainkan upaya merawat dan menjaga ingatan dan
kenangan atas perjuangan dan pengorbanan keluarga Nabi
dalam menjaga eksistensi agama ini.
Bangsa kita juga punya tradisi yg sama dalam mengenang
pengorbanan para pahlawan bangsa?
Ada upacara bendera, ada hening cipta, ada ziarah kemakam
pahlawan, ada pembuatan film perang melawan penjajah,
ada pementasan drama, ada pembacaan puisi dan
seterusnya. Yang tentu tujuannya bukan untuk mengorek luka
sejarah, bukan pula untuk menyimpan dendam, melainkan
untuk menghidupkan semangat kepahlawanan, patriotisme
dan pengorbanan para pejuang terdahulu supaya generasi
sekarang juga punya smangat yang sama.
Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain bukanlah
tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar
semangat perlawanan terhadap penindasan dan
kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam
Husain AS melalui tragedi Karbala.
Rakyat Iran menyodorkan bukti, bahwa bermula dari tangisan
itulah, revolusi besar yang mengubah takdir Iran dengan
menjungkalkan rezim Shah Pahlevi telah mereka rancang
dan ledakkan. Imperium Persia yang berusia 2.500 tahun
beralih menjadi Republik Islam, dimulai dari tangisan
mengenang al Husain.
Daftar Isi:
Majelis Duka Asyura 1
Oleh 1
Ismail Amin Pasannai 1
KATA PENGANTAR PENULIS 2
Menjawab Kelompok Anti Peringatan Asyura 6
Kenalkah Kau dengan al Husain, Cucu Kesayangan Nabi? 14
Cucu Kesayangan Nabi yang Diabaikan Umat 21
Revolusi Kemerdekaan Indonesia dan Revolusi Asyura 27
Falsafah Menangis atas Imam Husain 33
Hakekat Tangisan 35
Mengapa Menangis atas Imam Husain? 39
Menangis atas Imam Husain, Sunnah atau Bid'ah? 42
Jangan Kau Larang Umat Islam Merawat Ingatan pada Tragedi Asyura! 46
Revolusi Al-Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis 50
Pentingnya Mengenang Karbala 53
PERINGATAN ASYURA DI IRAN, ANTARA FAKTA DAN FITNAH 58
Mengenang Ali Asghar 62