Debu padang pasir menari, diterbangkan ribuan kaki yang melangkah dari Madinah menuju Tanah Suci. Di bawah langit Dzulqa’dah yang terik pada tahun 632 Masehi, Nabi Muhammad SAW, Sang Pembawa Rahmat Semesta, memimpin lebih dari seratus ribu jiwa—lautan umat yang bergetar oleh iman—dalam perjalanan suci: Haji Wada’, Haji Perpisahan. Mekah, kota kelahiran beliau, telah disucikan dan menyambut kafilah agung itu dengan khidmat, bagaikan pelukan hangat bagi anak yang pulang.
Haji ini bukan sekadar ritual. Ia adalah puncak penyampaian risalah, sebuah orkestrasi ilahi yang menanti klimaksnya. Dari kejauhan Yaman, Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah, mendengar panggilan suci ini. Dengan setia, beliau dan rombongannya menyusuri jalan berdebu, bergegas menyatu dengan lautan manusia itu tepat sebelum ritual agung dimulai, menjadi bagian dari momen sakral yang akan mengukir sejarah.
Setelah rangkaian ibadah haji dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan, kafilah agung itu berbalik arah, meninggalkan Mekah, menyusuri gurun gersang menuju Madinah. Namun, takdir telah menyiapkan perhentian monumental. Pada Kamis, 18 Dzulhijjah tahun yang sama (sekitar 19 Maret 632 M), di tempat bernama Ghadir Khum, wahyu turun membelah kesunyian perjalanan. Malaikat Jibril menyampaikan perintah tegas melalui Ayat Tabligh (QS. Al-Maidah: 67): “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika tidak, maka engkau tidak menyampaikan risalah-Nya…” Pesan ini jelas: Nabi SAW diperintahkan mengumumkan Ali sebagai wali—pemimpin dan pelindung umat—sepeninggal beliau, sebuah amanah yang tak boleh ditunda. Menurut ulama seperti Jalaluddin as-Suyuthi dan Fakhruddin ar-Razi, ayat ini terkait erat dengan peristiwa Ghadir Khum, menegaskan urgensi penyampaian pesan tersebut.
Mendengar titah Ilahi, Nabi SAW memerintahkan kafilah berhenti. Penyeru bergema, memanggil yang telah berlalu untuk kembali dan menanti yang tertinggal untuk menyusul. Seketika, Ghadir Khum menjadi panggung terbuka, disaksikan langit dan bumi. Shalat berjamaah digelar di bawah naungan sederhana, menyiapkan hati untuk sabda agung. Nabi berdiri tegak, suaranya menggetarkan udara gurun.
Pidatonya diawali puji syukur kepada Allah, pengakuan akan dekatnya ajal beliau yang mengguncang hati, dan peringatan tentang tanggung jawab di akhirat. Lalu, tiba momen yang dinanti semesta. Dengan pertanyaan retoris yang menusuk, “Bukankah aku lebih berhak atas kalian daripada diri kalian sendiri?” seruan bulat umat menggema laksana guruh: “Betul, wahai Rasulullah!”
Dengan penuh wibawa, Nabi mengangkat tangan Ali, memperlihatkannya kepada hadirin. Sabda agung diikrarkan tiga kali, mengukuhkan keputusan Ilahi: “Allah adalah waliku, dan aku adalah wali orang-orang beriman. Barang siapa menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali adalah walinya.” Doa pun dipanjatkan, mengguncang semesta: “Ya Allah, jadilah wali bagi yang menjadikan Ali sebagai wali, musuhilah yang memusuhinya, tolonglah yang menolongnya, dan tinggalkanlah yang meninggalkannya. Sebelum kafilah bergerak, perintah terakhir bergema: “Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” Deklarasi Ghadir telah terukir dalam tinta emas sejarah, sebuah prasasti keabadian.
Kesuksesan seorang pendidik, terutama pendidik umat, tidak diukur oleh sorak sorai atau gemerlap panggung dunia. Ia teruji dalam kesunyian rumah tangga, miniatur masyarakat pertama. Di sanalah karakter dan kebijaksanaan diuji tanpa topeng. Keberhasilan seorang pendidik terletak pada kemampuannya menjadikan keluarga sebagai teladan hidup, bukti nyata kepekaan dan keampuhan metodenya. Kegagalan mendidik mereka yang terdekat—yang menyerap teladan setiap hari, menyaksikan kebenaran dari dekat—adalah kegagalan menjadi pendidik sejati. Buah pendidikan yang matang, yang mewarisi akhlak mulia dan kejernihan nalar sang guru, itulah ukuran keberhasilan hakiki.
Di puncak teladan pendidik, berdiri agungnya Nabi Muhammad SAW. Rumah tangga beliau adalah madrasah pertama yang mencetak insan termulia. Keberhasilan beliau mendidik keluarga—saksi hidup pertama risalah, yang menyaksikan wahyu mengalir dalam keseharian—menjadi fondasi kokoh bagi pendidikan umat. Keyakinan mutlak pada kelayakan Imam Ali sebagai penerus, sebagaimana ditegaskan di Ghadir Khum, adalah bukti nyata keberhasilan Nabi sebagai pendidik paripurna. Pendidikan intensif dalam rumah tangga beliau melahirkan kader sekaliber Ali, melampaui pendidikan terputus-putus.
Memperingati Idul Ghadir bukan sekadar memuliakan Ali atau merayakan suksesi. Ia adalah perayaan atas kesempurnaan Nabi Muhammad SAW sebagai Sang Pendidik Agung. Pelantikan Ali di Ghadir adalah puncak misi kenabian, bukti bahwa benih risalah yang ditanam dengan sabar di keluarga dan sahabat telah berbuah, siap meneruskan cahaya keabadian. Dalam banyak tafsir Sunni, Ayat Ikmal (QS. Al-Maidah: 3) yang diturunkan pada Hari Arafah saat Haji Wada’—“…pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu…”—menandai finalisasi syariat. Bersama Ayat Tabligh, Ghadir menjadi pengamalan sempurna risalah, sebuah drama ilahi yang menggetarkan jiwa setiap mukmin.
Referensi:
1. Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad;
2. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi;
3. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah;
An-Nasa’i, Khashaish Amiri Mu'minin Ali bin Abi Thalib;
4. Al-Hakim an-Naisaburi, Al-Mustadrak ’ala Ash-Shahihain;
5. Jalaluddin as-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur;
6. Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib (Tafsir al-Kabir).
7. Ayat Tabligh (QS. Al-Maidah: 67): Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib; As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur.
8. Ayat Ikmal (QS. Al-Maidah: 3): Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari; Muslim, Shahih Muslim.