“To write is to reveal the world and to reveal oneself. It is to project the world and oneself into the future.” – Jean-Paul Sartre
Dalam wajah Pramoedya Ananta Toer, sejarah Indonesia menemukan seorang saksi yang tak sekadar merekam waktu, tapi melawannya. Ia tidak memilih diam, sekalipun tubuhnya dikurung, suaranya dibungkam, dan bukunya dilarang. Ia menulis karena tahu bahwa diam berarti menghapus diri dari sejarah. Ia percaya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Bagi Pramoedya, menulis bukan hanya kerja estetika atau keterampilan bahasa. Menulis adalah keberanian, kerja kemanusiaan, dan panggilan eksistensial.
Keyakinan Pramoedya itu bergema kuat dalam pemikiran Jean-Paul Sartre, terutama dalam esainya yang monumental, “Why Write?”, bagian dari buku What Is Literature?. Bagi Sartre, menulis adalah tindakan yang hanya mungkin dilakukan oleh makhluk yang menyadari keberadaannya: manusia. Menulis berarti mengungkap dunia, sekaligus mengungkap diri. Dalam proses itu, manusia tidak hanya mencerminkan kenyataan, tapi menciptakan makna, menegaskan eksistensi, dan mengambil posisi dalam dunia yang tak netral.
Sartre menegaskan bahwa manusia, sebagaimana diuraikannya dalam Being and Nothingness, adalah makhluk yang bebas karena ia “bukan apa yang ia ada, tetapi menjadi apa yang ia pilih.” Kebebasan ini bukan hadiah, melainkan beban. Dan menulis adalah cara manusia menanggung beban itu secara sadar. Ketika seseorang menulis, ia sedang memilih untuk bertindak. Ia tidak hanya menggambarkan kenyataan, tetapi memberi dunia makna baru, meretas kemungkinan lain. Inilah yang membuat menulis menjadi tindakan eksistensial.
Pramoedya melakukannya sepanjang hayatnya. Ia tidak menulis untuk menyenangkan, apalagi untuk menyelamatkan dirinya. Ia menulis dalam pengasingan, dalam represi, bahkan dalam bisu. Tapi justru karena itulah tulisannya membebaskan. Ia tahu bahwa menulis bisa membahayakan, tetapi ia tetap melakukannya. Dalam hal ini, pemikirannya serupa dengan yang dikemukakan oleh Albert Camus dalam esai “Create Dangerously”. Camus menyebut bahwa dalam zaman yang kejam, tugas seniman bukanlah berlindung dalam estetika murni, melainkan menciptakan dengan kesadaran akan bahaya. Ia harus menulis dengan keyakinan bahwa kata-kata bisa membuatnya terancam, dan bahwa kejujuran adalah sikap yang tidak populer dalam masyarakat yang menyangkal kebenaran.
“Create dangerously” bukan sekadar seruan heroik, tetapi diagnosis tajam tentang zaman yang murung. Dalam dunia seperti itu, seorang penulis tidak lagi punya kemewahan untuk sekadar bermain-main dengan metafora. Ia harus memilih: menjadi bagian dari mesin pembungkam, atau menjadi suara yang menggugah. Pramoedya memilih yang kedua. Ia menulis tentang bangsa yang terjajah, tentang manusia yang dilucuti martabatnya, tentang perempuan yang tak diizinkan berpikir, dan tentang sejarah yang dipalsukan oleh kekuasaan. Ia menulis dengan seluruh dirinya, karena baginya, sejarah bukan milik pemenang, melainkan milik siapa saja yang bersedia mengingat.
Bersambung...