@laravelPWA
KLAIM KEBENARAN MUTLAK
  • Judul: KLAIM KEBENARAN MUTLAK
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 14:53:38 8-6-1404

Dalam bentangan pemikiran keagamaan, seringkali muncul klaim yang begitu meyakinkan di seluruh komunitas penganut agama juga mazhab: "Keyakinan kami adalah kebenaran mutlak, seratus persen identik dengan wahyu yang diterima Nabi dan dijaga oleh para imam suci." Klaim ini, meskipun lahir dari keinginan untuk menjaga kemurnian ajaran, justru menyimpan paradoks logika dan konsekuensi teologis yang dalam. Pada hakikatnya, hanya pikiran yang mati nalar-lah yang dapat memastikan semua ajaran dalam agamanya persis sama dengan wahyu asli.

Mengapa demikian? Anggapan bahwa pemahaman atau penafsiran seseorang atau kelompok saat ini persis sama dengan wahyu yang turun kepada Nabi adalah klaim yang luar biasa. Ini bukan sekadar keyakinan akan kebenaran, tetapi pengakuan bahwa apa yang diyakini tersebut sekualitas dengan wahyu itu sendiri, bahkan setara dengan otoritas kenabian dalam menerima dan memahami pesan Ilahi. Sadar atau tidak, klaim semacam ini berarti menempatkan diri setara dengan Nabi, bahkan secara implisit merasa diri sebagai penerus wahyu atau pemegang otoritas kenabian yang baru.

Konsekuensi logis dari klaim absolut semacam ini sangat serius. Pertama, ia mengabsurdkan pewahyuan. Jika setiap generasi atau kelompok dapat mengklaim pemahamannya identik dengan wahyu asli, maka pewahyuan khusus kepada Nabi menjadi kehilangan keunikannya dan maknanya. Untuk apa wahyu diturunkan kepada seorang Nabi yang memiliki otoritas khusus, jika semua orang kemudian bisa mencapai pemahaman yang identik dengan wahyu itu sendiri tanpa melalui pengalaman kenabian? Kedua, ia melenyapkan urgensi kenabian. Fungsi sentral Nabi adalah sebagai penerima, penyampai, dan penjelas wahyu. Jika semua orang bisa secara langsung memahami wahyu dengan sempurna dan identik, maka peran Nabi sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan yang unik menjadi tidak lagi penting. Kenabian kehilangan urgensi historis dan teologisnya. Ketiga, klaim absolut mengabaikan realitas sejarah dan manusia. Wahyu turun dalam konteks sejarah, bahasa, dan budaya tertentu. Pemahaman dan transmisi wahyu melewati proses penafsiran, periwayatan, kodifikasi, dan pemahaman oleh manusia yang tidak ma'shum (terjaga dari salah dan dosa) setelah Nabi dan para Imam Suci (dalam tradisi yang meyakini konsep Imamah). Proses ini secara inherent mengandung potensi gradasi dalam pemahaman.

Mengakui bahwa agama yang diterima dan dipahami oleh manusia selain Nabi dan Imam Suci bergradasi dalam kualitas kebenaran dan kemurniannya bukanlah bentuk skeptisisme atau pengingkaran. Ini justru merupakan pengakuan jujur atas keterbatasan manusia, di mana akal dan pemahaman manusia terbatas, serta jarak waktu, perbedaan budaya, dan kerumitan bahasa menjadi filter yang mempengaruhi bagaimana wahyu dipahami dan diwariskan. Ini juga mengakui dinamika penafsiran, di mana wahyu seringkali mengandung lapisan makna yang dalam dan penafsiran adalah upaya manusiawi untuk menggali makna tersebut, yang bisa bervariasi dalam kedekatannya dengan maksud asli, menghasilkan gradasi pemahaman. Lebih jauh, ini mengakui kontekstualitas ajaran; banyak ajaran memiliki aspek universal dan aspek yang terkait konteks spesifik, sehingga memahami gradasi ini membantu membedakan prinsip abadi dari aplikasi temporal. Terakhir, ini menegaskan peran usaha manusia (ijtihad); dalam tradisi Islam, misalnya, konsep ijtihad (upaya sungguh-sungguh untuk menetapkan hukum dari sumbernya) mengakui adanya ruang bagi penalaran manusia yang hasilnya bisa benar atau salah, atau memiliki tingkat kebenaran yang berbeda-beda.

Pengakuan akan gradasi kebenaran ini sangat penting. Ia menumbuhkan kerendahan hati spiritual, menyadarkan bahwa pemahaman kita mungkin tidak 100% sempurna, sehingga kita terbuka untuk belajar, berdialog, dan mengoreksi diri, tanpa merasa paling benar secara mutlak.