“Demi Allah, aku hanya mengeluh dan bertawakal kepadaNya; kemudian apa saja rekapedaya yang ingin kalian lakukan, lakukanlah! Dan apa saja usaha yang ingin kalian lakukan, lakukan saja! Dan kalian tak akan pernah bisa menghilangkan kami dari ingatan orang-orang (wa laa tamhuu dzikrona). Dan kalian kalian tidak akan mampu menghancurkan wahyu kami. Dan kalian tidak pernah bisa mencapai kebesaran dan keagungan yang kami miliki. Tak akan mampu membersihkan noda buruk dari baju kalian. Segala pendapat kalian akan segera dianggap cacat dan dilecehkan. Kekuasaan kalian tak akan bertahan lama, orang-orang di majelis kalian akan segera tercerai berai.” (Cuplikan dari Khutbah Sayyidah Zainab putri Amirul Mukminin dan Sayyidah Zahra salamullah ‘alaihim di hadapan Yazid di Syam /Damaskus)
Khutbah sangat fasih dan tajam Sayyidah Zainab putri Ali di hadapan Yazid mengandung gagasan penting tentang rekapedaya hegemoni Bani Umayah untuk mencoba menghapus memoria collectiva (ingatan kolektif) ummat pada Ahlubait Nabi Sas. Sesungguhnya dzikr pada Ahlubait Nabi Saw memiliki beberapa unsur. Dzikru ‘Aliyyin ‘ibaadah. Dzikr pada Ali adalah ibadah. Mengingat kesetiaan dan kesiapan ‘Ali bin Abi Thalib untuk berkorban demi Nabi Saw adalah ibadah. Demikian pula majelis yang di dalamnya diingat dan dirawat kecintaan pada Nabi Saw dan keluarganya yang suci Saw seperti halnya majelis Shalawatan, majelis Maulid Nabi, majelis haul dan duka cita keluarga Nabi. Namun demikian dzikrona yang disebutkan Sayyidah Zainab dalam khutbahnya tidak hanya bersifat spiritual, sesungguhnya ingatan kolektif pada Ahlubait Nabi Saw merangkum juga perlawanan dan resistensi terus menerus pada kuasa hegemonik sepanjang sejarah manusia .
Frasa “wa laa tamhuu dzikrona” (kalian tidak akan mampu menghapus ingatan tentang kami) bukan sekadar pernyataan emosional, melainkan manifestasi dari kesadaran kolektif yang dibangun atas dasar: dzikrullah (mengingat Allah melalui Ahlul Bait sebagai Imago Dei atau pengemban wasiat Rasulullah Saw); al-Wafa’ (kesetiaan pada Allah melalui kesetiaan pada Rasul dan Ahlubaitnya salamullah’alaihim); penentangan terhadap hegemoni (dekonstruksi narasi penguasa).
Meminjam Pierre Hadot, filsuf Prancis yang mempelajari spiritualitas kuno, “wa laa tamhuu dzikrona” (kalian tidak akan mampu menghapus ingatan tentang kami) ini tidak lain adalah resep utama “latihan spiritual” untuk membangun subjek-subjek yang siap melawan kekuasaan yang zalim.
Mencoba menelisik khutbah suci di hadapan penguasa di Syams ini dengan gaya kritis linguistik Noam Chomsky , kita akan memperoleh suatu gagasan yang menarik. “Tak akan mampu membersihkan noda buruk dari baju kalian. Segala pendapat kalian akan segera dianggap cacat dan dilecehkan. Kekuasaan kalian tak akan bertahan lama, orang-orang di majelis kalian akan segera tercerai berai” tak lain merupakan kritik tajam terhadap manufactured consent—cara rezim menciptakan persetujuan palsu melalui manipulasi informasi.
Meminjam gaya analisis tajam Ali Syari’ati, frasa khutbah”Demi Allah, aku hanya mengeluh dan bertawakal kepadaNya” menunjukkan spiritualitas perlawanan. Ali Syariati dalam Red Shi’ism vs. Black Shi’ism menjelaskan bahwa tawakal bukan pasivitas, melainkan energi revolusi. Atau, meminjam dari bahasa Cornel West, ini tidak lain adalah “prophetic resistance“—perlawanan yang berakar pada iman. Musa dan Harun salamullah ‘alaihim tidak melawan hegemoni Fir’aun dengan kekuatan militer raksasa, namun mereka benar-benar membawa resistensi profetik yang maharaksasa. Melalui resistensi ini, dengan perjalanan yang panjang, akhirnya Pertolongan Langit pun menenggelamkan pasukan Fir’aun di Laut Merah.
Bersambung...