Istilah “Syiah Salafiyah” atau yang lebih dikenal sebagai Syirazisme merujuk pada aliran neo-Akhbari kontemporer dalam masyarakat Syiah, yang kini diwakili oleh beberapa tokoh dan pengikut keluarga terkemuka Syirazi secara global. Pola aliran ini dianggap oleh banyak ulama menyerupai Salafi-Wahabi di kalangan Ahlussunnah karena fanatismenya terhadap teks-teks tertentu yang sering kali bertentangan dengan nalar kemaslahatan dalam interpretasi dan implementasi.
Seperti Wahabisme, yang dianggap menyimpang oleh sebagian ulama Sunni meskipun secara doktrinal masih sejalan dengan mayoritas Ahlussunnah, Syirazisme juga memunculkan ekstremisme dalam tubuh Syiah. Gerakan ini aktif menyebarkan narasi-narasi ofensif terhadap internal (Syiah) terkait pandangan-pandangan moderat Imam Khomeini (Khomeinisme) juga konsep otoritas Wilayatul Faqih dan terhadal eksternal (Sunni).terutama akibat penentangan kecemburuan terhadap otoritas agama, khususnya konsep Wilayatul Faqih yang dianggap sebagai konsep buatan Imam Khomeini yang mengubah konsep otorotas marja'iyah. Sebagian marja’ da'i dalam lingkaran Syirazisme memandang ide persatuan umat melalui Taqrib bainal Madzahib yang dikumandangkan Imam Khomeini dan dilanjutkan oleh Imam Khamenei sebagai pelemahan doktrin Syiah. Sebagian yang ultra ekstrem mencibirnya sebagai sunni.
Syirazisme berakar dari pemikiran Sayyid Muhammad al-Husayni al-Syirazi, tokoh utama yang mewariskan otoritas marja’iyah kepada adiknya, Sayyid Sadiq al-Syirazi, setelah kematian Sayyid Hasan di Beirut. Keluarga Syirazi memiliki sejarah panjang dalam Syiah modern, mulai dari peran mereka dalam Revolusi Irak 1920 melawan penjajahan Inggris di bawah Sayyid Muhammad Taqi al-Ha’iri al-Syirazi, hingga pendirian “Harakah al-Risaliyyin” (1965–1967) dan “Organisasi Amal Islam” pada 1979 di Iran. Aliran ini mulai menonjol pada 1970-an dari Karbala, Irak, kemudian menyebar ke Iran, Kuwait, Arab Saudi, Lebanon, Suriah, dan bahkan menguasai Bahrain melalui marja’iyah yang berafiliasi dengan Syirazi.
Berbeda dengan marja’ Syiah lainnya yang berfokus pada akidah atau fikih semata, Syirazisme mengusung filosofi “universalitas risalah” dengan pendekatan organisasi yang terstruktur. Mereka menekankan pendidikan agama melalui majelis Husainiyah, madrasah, sekolah tahfiz Al-Qur’an, serta media seperti majalah “Afaf” dan saluran televisi satelit untuk menyebarkan pemikiran mereka. Syirazisme juga dikenal karena ritual-ritual seperti pawai Husainiyah dan takziyah yang membangkitkan emosi, yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik massa.
Syirazisme dibangun di atas dua prinsip utama: al-Wala’ (kesetiaan kepada Ahlulbait) dan al-Bara’ al-Jahri (pemutusan hubungan secara terang-terangan dengan musuh Ahlulbait, termasuk simbol-simbol Ahlussunnah seperti sahabat Nabi dan Ummul Mukminin).
Pendekatan ini memperdalam jurang permusuhan dengan Sunni, berbeda dengan marja’ seperti Sayyid Ali Khamenei yang mengutamakan persatuan umat. Syirazisme bahkan menganggap sebagian Syiah yang menolak praktik seperti tatbir (melukai diri saat Asyura) sebagai “Batariyin” (kurang sempurna imannya), dan menyebut Sunni secara umum sebagai “pihak yang berbeda,” bahkan mengeluarkan fatwa yang mengharamkan pernikahan antara Syiah dan Sunni dengan alasan bahwa Sunni bukan Muslim.
Tokoh paling kontroversial dari aliran ini adalah Yaser al-Habib, pengelola kanal “Fadak” yang terkenal sektarian. Pidato-pidatonya yang memicu sentimen anti-Sunni menyebabkan pengusirannya dari Kuwait, termasuk pencabutan kewarganegaraan, di negara yang dikenal harmonis antara Sunni dan Syiah. Kini bermukim di Inggris, al-Habib terus menebar provokasi sektarian, sementara saluran-saluran Salafi dari negara Teluk juga memanaskan ketegangan dari kubu Sunni. Pengikut Syirazisme tidak hanya menyerang Ahlussunnah, tetapi juga tokoh-tokoh moderat Syiah seperti Sayyid Ali Khamenei, almarhum Sayyid Muhammad Husein Fadlallah, dan Sayyid Kamal al-Haydari, yang mereka anggap melemahkan doktrin Syiah.
Musuh-musuh Syiah sering memanfaatkan pernyataan ekstrem Syirazisme atau penceramah Husainiyah yang terpaku pada teks tradisional seperti Bihar al-Anwar karya al-Majlisi untuk menyerang mazhab Ahlulbait.
Klaim-klaim aneh dari kelompok ini tidak mewakili mayoritas Syiah, yang justru mengikuti marja’ kompeten seperti Sayyid Ali al-Sistani, Sayyid Ali Khamenei, Syekh Makarim Syirazi dan Nuri Hamadani.
Para marja’ ini kerap menyanggah teks-teks menyimpang dan khurafat yang digunakan untuk membenarkan praktik tidak sesuai dengan akal, etika, atau Al-Qur’an.
Namun, Syirazisme tetap aktif dalam aktivitas sosial, seperti pendirian lembaga budaya, keagamaan, dan Hauzah Ilmiah, serta fokus pada pembinaan individu sebagai “dakwah yang berjalan di atas dua kaki.”
Meski demikian, lima tahun terakhir menunjukkan kelemahan dalam pendekatan mereka. Banyak tokoh Syirazi beralih ke pendekatan yang lebih moderat, mengadopsi reformasi yang mendukung persatuan umat dan menjauh dari retorika agresif yang memperdalam permusuhan Sunni-Syiah.
Banyak kalangan Sunni kurang mengenal tokoh-tokoh moderat Syiah yang memperjuangkan prinsip Ahlulbait secara bijak, seperti:
1 Sayyid Muhammad Baqir al-Shadr (Irak), pelopor perbankan syariah dan penulis karya lintas mazhab yang melawan materialisme, kapitalisme, dan sosialisme.
2 Dr. Ali Shariati, intelektual Revolusi Iran yang menentang khurafat dan ekstremisme.
3 Dr. Ahmad al-Waeli (Irak), penceramah yang membersihkan ajaran Ahlulbait dari bid’ah.
4 Imam Musa al-Sadr (Lebanon), pendiri Gerakan Amal dan pionir dialog Sunni-Syiah.
5 Sayyid Muhammad Hussein Fadlallah, tokoh pemersatu yang menolak praktik radikal seperti tatbir.
6 Muhammad Mahdi Syamsuddin (Lebanon), cendekiawan yang merajut dialog antaragama.
7 Murtadha Mutahhari, agamawan dan filsuf dengan karya-karya yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk Indonesia.
Moderasi sebagai Jalan Tengah.
Ekstremisme, khurafat, dan eksploitasi agama adalah kelemahan manusiawi yang dapat melekat pada mazhab apa pun. Al-Qur’an dan akal sehat harus menjadi pedoman utama dalam menimbang perbedaan, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 143, yang menegaskan Islam sebagai agama moderasi. Imam Ja’far ash-Shadiq juga melarang ekstremisme, menasihati pengikutnya untuk menjaga akhlak, memenuhi amanah, dan hanya menyampaikan ajaran Ahlulbait yang benar tanpa memutarbalikkan. Beliau menegaskan, “Katakanlah apa yang kami katakan, dan kerjakanlah apa yang kami perintahkan, niscaya kalian akan menjadi pengikut kami.”
Syirazisme, meskipun aktif dan berpengaruh, menghadapi tantangan karena pendekatannya yang potensial memicu konflik intra Syiah dan Syiah - Sunni. Di sisi lain, tokoh-tokoh moderat Syiah terus memperjuangkan dialog dan persatuan, menunjukkan bahwa mazhab Ahlulbait sebagai peradaban Islam mitra peradanan Islam Sunni dapat berperan sebagai dua sayap yang melambungkan Islam.