Manusia tak lain adalah “hewan yang mengingat” (animal symbolicum/memoria). Memoria atau ingatan sungguh merupakan inti pembentuk identitas, makna, dan perlawanan.
Aristoteles dalam De Anima menyebut memori (mneme) dan pengalaman lampau sebagai fondasi pengetahuan. Manusia berbeda dari hewan karena kemampuannya menyusun narasi dari ingatan. Sedangkan, Giambattista Vico dalam Scienza Nuova menegaskan bahwa sejarah manusia adalah produk ingatan kolektif yang membangun peradaban melalui mitos, bahasa, dan institusi. Friedrich Nietzsche dalam On the Use and Abuse of History for Life seolah meluaskan Vico. Ia menekankan bahwa ingatan bukan sekadar rekam jejak, tapi kekuatan aktif untuk membentuk masa depan. Tanpa ingatan, manusia kehilangan “duri” yang mendorong perlawanan.
Bagaimana ingatan bisa membentuk makna? Dalam Time and Narrative, Ricoeur menjelaskan bahwa identitas diri adalah “narasi” yang dirajut dari ingatan. Kita menjadi diri dengan menyusun fragmen ingatan menjadi kisah koheren. Lebih lanjut, menurut Mircea Eliade dalam The Sacred and the Profane, ingatan religius menciptakan “hierofani” — momen ketika yang sakral hadir dalam ingatan kolektif (ritual, mitos penciptaan), menghubungkan manusia dengan kosmos dan transendensi. Sedangkan, mengenai makna Sejarah, Maurice Halbwach mengatakan bahwa ingatan kolektif (mémoire collective) adalah kerangka sosial yang membentuk sejarah. Sejarah resmi seringkali merupakan ingatan penguasa, sementara ingatan rakyat tersubordinasi.
Lebih lanjut, kekasih dan keluarga pun muncul dari jalinan ingatan. Dalam The Human Condition, Hannah Arendt memaparkan bahwa cinta dan ikatan keluarga lahir dari “janji” yang diingat bersama. Ingatan menjadi ruang privat tempat keintiman dan kesetiaan dipupuk.
Menyeberang dari makna-makna privatnya menuju ruang yang lebih luas, Antonio Gramsci menjelaskan bagaimana ingatan bisa melanggengkan atau meruntuhkan kuasa besar hegemonik. Suatu hegemoni bisa bertahan dengan mengontrol narasi dominan. Ingatan yang terpinggirkan (subaltern) berpotensi meruntuhkannya ketika kisah-kisah dan ingatan-ingatan yang disembunyikan dihidupkan kembali. Selaras dengan itu, dalam Theses on the Philosophy of History, Walter Benjamin menyeru: “Setiap zaman bermimpi akan zaman berikutnya.” Ingatan tentang penderitaan masa lalu (misalnya, korban kolonialisme) adalah “mesin waktu” untuk membangunkan kesadaran revolusioner.
Gagasan Gramsci juga beresonansi dengan Michael Foucault. Menurut Foucault, kuasa dominan mengontrol melalui “regime of truth”. Dalam Archaeology of Knowledge, ia menunjukkan bahwa menggali ingatan yang terpendam (sejarah lokal, ingatan tubuh) adalah bentuk perlawanan terhadap wacana resmi. Selaras dengan itu , menurut Frantz Fanon dalam The Wretched of the Earth, ingatan kolektif tentang penindasan kolonial menjadi bahan bakar dekolonisasi. Mengingat adalah langkah pertama merebut kembali kemanusiaan yang dirampas.
Bersambung...