Yazid, setelah mendengar cerita budak itu berteriak: “ Laknat kau! Omong kosong apa yang telah kau ucapkan? Apakah kau bermaksud menghinaku di depan orang-orang ini?” Dia segera memberi perintah agar kepala budak Perempuan itu dipisah dari tubuhnya. (Riyadh Al-Ahzan, hal. 122, dikutip dari Munfarid dan Alamdar, Karbala, hal 477-478)
Sang budak menggabungkan diri dalam barisan orang-orang Merdeka, bersama Al-Hurr. Ketika datang petunjuk dan ayat yang nyata. Sang budak memilih Jalan Cinta. Nabi Saw dan keluarganya yang suci adalah cahaya. Perilaku Yazid mempermainkan kepala suci Al Husain as adalah kebiadaban. Bahkan bila ditinjau dari sudut pandang etika perang manapun. Sang budak , – karena tafakkur sesaat- , memilih untuk Jatuh Cinta pada Al Husain as dan mengorbankan segalanya bagi Al Husain as. Keberanian, spontanitas, ketulusan, dan kekuatan kalam yang menggoncang kepongahan hegemoni, semua bersatu Demikianlah Cinta pada Al Husain. Demikian mendalam, menggugah, menyadarkan, memberikan satu hal yang paling mendasar yang dibutuhkan manusia. Kemerdekaan. Jalan Cinta yang menyampaikan budak ini pada Kemerdekaan kadang di sebut thariq al-ahrar.
Di tengah reruntuhan kepongahan Yazid, kita melihat seorang budak Perempuan. Ia menyaksikan pemandangan yang mengubah hidupnya selamanya: sang penguasa sedang menghina gigi mulia Imam Husain as. Gigi mulia kepala Cucu Nabi saw yang telah terlepas dari tubuhnya. Dalam sekejap, tanpa perhitungan duniawi, ia memilih protes—dan syahid. Peristiwa ini bukan sekadar kisah heroik, melainkan fenomena psikospiritual yang kompleks, layaknya “pengalaman religius genuin” yang digambarkan William James dalam The Varieties of Religious Experience. Seperti kilatan cahaya yang menyadarkan, sang budak mengalami apa yang dalam fenomenologi Husserl disebut epoché—penangguhan seluruh sistem keyakinan lamanya untuk menerima kebenaran baru.
Mimpi sang budak perempuan di istana Yazid bukan sekadar bunga tidur, melainkan pengalaman transformatif yang menggetarkan jiwa—seperti yang dijelaskan Carl Jung sebagai “visi numinus”, pertemuan dengan yang sakral yang menghancurkan kesadaran lama. Dalam mimpinya, ia menyaksikan Nabi saw, Fatimah az-Zahra, dan para nabi turun dari langit, sebuah gambaran arketipe “kolektif bawah sadar” tentang kemenangan kebenaran atas kezaliman. Psikolog modern seperti Stanley Krippner , – tokoh parapsikologi- menyebut pengalaman seperti ini sebagai “mimpi transformatif”—mimpi yang tidak hanya merefleksikan perubahan internal, tetapi juga menjadi katalis untuk tindakan nyata. Ketika sang budak menyadari mimpinya sebagai anugerah Tuhan, ia mencapai apa yang Abraham Maslow sebut “puncak pengalaman” (peak experience), saat seseorang tiba-tiba memahami tujuan hidupnya dengan jelas dan berani memilih jalan yang benar, meski harus mengorbankan segalanya.
Jalan yang ditempuh sang budak mencerminkan esensi kemerdekaan sejati menurut psikologi eksistensial Viktor Frankl: kebebasan untuk memilih respons kita dalam situasi apa pun. Seperti Al-Hurr dan Zuhair bin Qain, ia memilih cinta dan kebenaran di atas segala kenikmatan duniawi—sebuah keputusan yang menurut Rollo May berasal dari “keberanian untuk menjadi” (the courage to be). Mimpi transformatifnya menjadi jembatan antara kesadaran individu dan kebenaran transendental, sebagaimana dijelaskan Irvin D. Yalom dalam teori psikoterapi eksistensial. Inilah yang membedakan mimpi biasa dengan visi ilahiah: yang pertama berlalu seperti kabut, sedangkan yang kedua mengubah pelakunya menjadi pemberani yang siap syahid demi kebenaran.
Psikolog positif Martin Seligman akan melihat kisah ini sebagai contoh “kehidupan yang bermakna” (meaningful life), di mana seseorang menemukan tujuan melampaui kepentingan dirinya sendiri. Mimpi sang budak mengingatkan kita pada kata-kata Jung: “Siapa yang melihat ke luar, bermimpi; siapa yang melihat ke dalam, terjaga.” Dalam keadaan antara tidur dan terjaga itulah ia “terbangun” secara spiritual, memilih jalan orang-orang merdeka yang—seperti dikatakan Ali Syariati—”menyatakan kebenaran meski langit akan runtuh.” Kisahnya membuktikan bahwa mimpi transformatif bukanlah pelarian, melainkan senjata revolusi kesadaran yang diberikan Tuhan kepada mereka yang hatinya siap berubah.
Dari sudut psikologi cinta modern, kisah Zuhair bin Qain dan budak perempuan ini menunjukkan karakteristik “cinta transformatif” (Sternberg, 1986)—jenis cinta yang tidak hanya mengubah objek yang dicintai, tetapi juga subjek yang mencintai. Ketika Zuhair—mantan pendukung Utsman—berbalik membela Husain setelah satu pertemuan singkat, kita melihat “efek Damaskus” (analogi dari “efek Paulus” dalam psikologi konversi) di mana perubahan radikal terjadi dalam sekejap.
Dekonstruksi Jacques Derrida menyoroti “budak vs merdeka” dalam narasi ini. Sang budak—yang secara sosial adalah pihak terpinggirkan—justru mencapai kemerdekaan hakiki melalui tindakan protesnya. Sementara Yazid—sang penguasa—ternyata adalah “budak” sejati dari nafsunya sendiri. Ini mengingatkan pada analisis Bertrand Russell tentang “kebebasan positif”—kebebasan bukan sekadar tidak adanya hambatan eksternal, melainkan kemampuan untuk bertindak sesuai nilai tertinggi.
Meminjam dari Hans-Georg Gadamer, penglihatan mistik sang budak sebagai “fusi horizon”—pertemuan antara horizon pemahman duniawi dan transendental. Visi tentang Nabi saw dan Fatimah az-Zahra bukan halusinasi, melainkan “penyingkapan kebenaran” (aletheia) yang memutus rantai kesadaran palsu. Mengikuti ürgen Habermas perlawanan sang budak adalah contoh “tindakan komunikatif” yang ideal—ucapannya yang jujur meruntuhkan seluruh legitimasi kekuasaan Yazid. Dalam terminologi Hegel, ini adalah momen dialektika di mana “roh budak” (thesis) bertemu dengan “kebenaran Husain” (antithesis) melahirkan “kemerdekaan sejati” (synthesis).
Murtadha Mutahari dalam Man and Universe menjelaskan bahwa sejarah manusia adalah medan pertempuran antara “kebenaran yang tertindas” (mustadafin) dan “kekuasaan palsu” (mustakbirin). Kisah budak perempuan ini adalah mikrokosmos dari pertarungan tersebut—seperti gerakan pembebasan Ali Syariati yang melihat agama sebagai “senjata kaum tertindas”. Apa yang dialami sang budak adalah “ledakan kesadaran” (explosion of consciousness) sebagaimana digambarkan Frantz Fanon—saat seseorang tiba-tiba menyadari hakikat penindasan dan memilih melawan. Dalam bahasa Foucault, ini adalah “momen subversif” ketika wacana kekuasaan dominan (Yazid) dihancurkan oleh suara yang paling tak terduga (seorang budak).
Kisah ini mengajarkan bahwa cinta sejati—seperti cinta pada Husain—selalu bersifat pembebas. Ia adalah “thariq al-ahrar” (jalan orang merdeka) yang ditunjukkan Al-Hurr, Zuhair, dan budak perempuan ini. Seperti kata Ali Syariati: “Cinta tanpa pengorbanan adalah omong kosong, pengorbanan tanpa cinta adalah tragedi.”
Di dunia yang dibelenggu oleh hegemoni materialisme, kisah-kisah Karbala ini tetap relevan. Menjadi al Hurr , Zuhair dan Sang Budak Perempuan di Jalan Cinta dan bergabung dengan mereka yang mengorbankan segalanya demi Yang Benar, Yang Suci dan Yang Indah; atau duduk menjadi penonton yang berpangku tangan dalam beribu kezaliman para kuasa yang semakin pongah? Sungguh pilihan ada pada diri kita sendiri. Dan sungguh Taufik kita hanya dari Allah, kepadanya kita bertawakkal dan kepadaNya kita akan kembali.
Wa maa taufiiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib