Dalam upaya memahami kedalaman makna sebuah frasa, kita sering kali dihadapkan pada keterbatasan bahasa. Setiap kata, dalam konteks tertentu, membawa bobot filosofis dan teologis yang tak selalu dapat diterjemahkan secara harfiah tanpa kehilangan esensinya.
Salah satu contoh paling mencolok adalah frasa "Allahu Akbar" dalam tradisi Islam. Ada perbedaan mendasar antara menyebut Allah sebagai Al-Kabir (Yang Maha Besar) dan melafalkan Allahu Akbar. Yang pertama adalah penetapan sifat, sementara yang kedua adalah deklarasi transendensi. Al-Kabir dalam Asmaul Husna merujuk pada kebesaran yang meliputi segala dimensi: zat, sifat, dan kekuasaan. Namun, Allahu Akbar — yang sering diterjemahkan sebagai "Allah Maha Besar" — mengandung makna yang lebih radikal. Kata akbar adalah bentuk komparatif (af'al al-tafdhil) dalam tata bahasa Arab, tapi dalam konteks ketuhanan, ia bukan perbandingan dengan sesuatu yang lain, melainkan penghancuran seluruh kerangka berpikir yang membayangkan "besar" sebagai konsep terukur.
Allahu Akbar berarti: "Allah lebih besar dari apa pun yang bisa disebut 'besar' oleh manusia". Ia adalah pengingat bahwa segala atribut yang kita sematkan pada Tuhan — termasuk kata "Maha" — hanyalah simbol ketidakmampuan bahasa untuk menangkap hakikat-Nya. Ketika kita mengucapkannya, kita sedang meruntuhkan seluruh konsep "kebesaran" yang terlintas di benak. Bahkan "kebesaran" Tuhan itu sendiri bukanlah sifat yang bisa didefinisikan, melainkan realitas yang melampaui semua definisi.
Inilah keunikan bahasa Arab sebagai bahasa primer Islam. Dengan menggunakan bentuk komparatif (akbar), ia sebenarnya sedang melakukan dekomparasi. Logikanya: jika kita mengatakan "A lebih besar dari B", maka Akbar dalam Allahu Akbar adalah "A yang melampaui semua kemungkinan A dan B". Ia adalah negasi terhadap seluruh sistem pengukuran. Sementara terjemahan "Maha Besar" dalam bahasa Indonesia berisiko memenjarakan makna ke dalam kategori superlatif yang masih bersifat hierarkis — seolah ada tingkatan "besar", lalu Allah ada di puncaknya.
Perbedaan ini penting karena menyangkut cara kita memahami tanzih (penyucian Tuhan dari segala kemiripan dengan makhluk). Ketika Al-Qur'an menyebut laysa kamitslihi syai'un (tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya), itu termasuk keserupaan dalam bahasa. Kata akbar dalam Allahu Akbar adalah pisau yang memotong kecenderungan manusia untuk membuat Tuhan "mirip" dengan konsep-konsep duniawi, sekalipun dalam bentuknya yang paling mulia.
Lantas, bagaimana dengan penggunaan "Maha" dalam bahasa Indonesia? Di sinilah diperlukan kesadaran kolektif bahwa kata "Maha" bukanlah terjemahan, melainkan sinyal ketidakcukupan bahasa. Ia harus dibaca sebagai upaya manusia untuk bersujud lewat diksi, bukan sebagai klaim pengertian. Ketika kita mengucap "Allah Maha Besar", itu seharusnya dibarengi dengan kesadaran bahwa "Maha" di sini adalah tanda baca yang mengarahkan pikiran pada kehampaan makna. Seperti jari yang menunjuk bulan — "Maha" adalah jari itu, bukan bulannya sendiri.
Bahasa Arab menjaga ini dengan rigor. Kata Al-Kabir (Maha Besar) dan Allahu Akbar (Allah Lebih Besar) dipisahkan secara konseptual. Yang pertama adalah nama, yang kedua adalah pekik tauhid. Allahu Akbar bukanlah deskripsi, melainkan alat penghancur deskripsi. Setiap kali diucapkan, ia mengingatkan: "Segala yang kau pikirkan tentang Tuhan, Ia lebih besar dari itu".
Maka, problem penerjemahan "Allahu Akbar" ke dalam "Allah Maha Besar" adalah pengurangan dimensi transendensi menjadi sekadar superlatif. Tapi di balik semua keterbatasan bahasa, ada rahmat tersembunyi: justru dalam kegagapan terjemahan