Walaupun barangkali kita datang menziarahi Al Husain dengan bertumpuk dosa dan kesalahan, selayaknya kita memiliki harapan. Moga dengan menghadiri majelis-majelis duka Al Husain as ini, kita beroleh anugrah masuk dalam barisan Al Hurr. Barisan orang-orang Merdeka.
Di barisan Al Hurr ada salah satu komandan Al Husain as. Zuhair bin Qain Al Bajali. Ibnu Thawus mengisahkan. Dulunya ia pengikut Utsman. Takdir membuat kafilahnya bertemu dengan kafilah Al Husain as. Setelah bertemu dengan Al Husain as, Zuhair memutuskan dengan sebulat keputusan untuk membela Al Husain as hingga titik darah penghabisan. W ikishia mengisahkan dengan indah. “ Zuhair dulunya adalah pendukung Utsman. Pada tahun 60 H/680, saat pulang dari ibadah haji menuju Kufah, di sebuah peristirahatan ia bersama istri, sebagian keluarga, dan orang-orang dari kabilahnya bertemu dengan Imam Husain as dan rombongannya yang juga hendak menuju Kufah. Menurut kutipan al-Dinawari, pertemuan itu terjadi di peristirahatan bernama Zarud. Imam Husain as mengutus seseorang kepada Zuhair untuk mengabarkan bahwa ia ingin menjumpainya. Zuhair awalnya enggan berjumpa dengan Imam as, namun atas saran istrinya, Dilam atau Dalham binti Amr, [2] akhirnya ia menjumpai Imam Husain as. Perjumpaan tersebut ternyata merubah jalan hidup Zuhair. Setelah berjumpa dengan Imam as, dengan gembira ia kembali kepada keluarga dan rombongannya lalu menyuruh mereka memindahkan kemah dan barang bawaan ke dekat kemah Imam Husain as. Zuhair lalu menemui istrinya untuk berpamitan. Seusai berpamitan kepada istri, Zuhair menyampaikan kepada rombongannya, “Barang siapa yang ingin meraih kesyahidan hendaknya ikut denganku, kalau tidak maka kalian boleh pergi dan ini adalah perjumpaan terakhir kita.”
Sesungguhnya, apa isi pembicaraan Imam Al Husain as pada Zuhair? Yang mengubah Zuhair demikian dahsyat? Dari seorang Utsmani menjadi siap mengorbankan segalanya demi Al Husain as?
Ibrahim Ibn Sa’id lah yang menemani Zuhair dalam perjalanan Zuhair meriwayatkan: “ Imam (as) berkata ketika Zuhair pergi mengunjunginya: “ Aku akan terbunuh di Karbala, dan Hurr Ibn Qais yang berrap mendapatkan hadiah, akan membawa kepalaku ini ke hadapan Yazid, tetapi Yazid tak memberikan apa pun kepadanya!”
Bila hari demi hari Zuhair telah berlimpah harta, sesaat perjumpaan dengan Al Husain as telah mengubah hidupnya. Bila para pedagang berlomba meraih untung, namun Kilatan Cinta yang telah masuk ke jantung Zuhair membuatnya memilih tegas: terbunuh bersama Al Husain as sungguh jauh lebih indah ketimbang melihat kepala Al Husain as dipersembahkan pada Yazid, dan ia berpangku tangan.
Di malam Asyura, saat Al Hurr dengan tafakkurnya memutuskan untuk Jatuh Cinta pada Al Husain as; di malam itu pula Zuhair bangkit ketika Al Husain berkhotbah membebaskan keluarganya dan para sahabatnya untuk meninggalkannya melewati padang yang gelap. Zuhair bangkit dan berkata: “ Demi Allah, aku suka terbunuh, hidup kembali, dibunuh lagi sampai seribu kali, sehingga Allah melindungimu dan keluargamu dari pembunuhan!”
Seorang Budak Merdeka di Damaskus
Seorang budak di istana Yazid yang sedang keluar dari istana , melihat pemandangan yang memilukan; Yazid sedang memukuli gigi-gigi dari kepala suci Al-Husain as yang sudah terpisah dari tubuh sucinya.
Budak wanita itu berkata, “ Semoga Allah memotong tangan dan kakimu, membakarnya dalam api Neraka di dunia ini sebelum api di akhirat kelak. Wahai orang sesat, kau telah memukul gigi yang berkali-kali telah diciumi Nabi itu dengan tongkat!”
Yazid berkata: “ Omong kosong apa yang sedang kau ucapkan di tempat ini. Semoga Allah memisahkan epalamu dari tubuhmu!”
Budak wanita itu segera menjawab: “ Wahai Yazid! Saat aku sedang dalam keadaan antara tidur dan terbangun, tiba-tiba kulihat gerbang Surga dibuka lebar-lebar. Sebuah anak tangga cahaya diturunkan ke Bumi ini, dan lewat tangga itu, turunlah dua anak muda yang menggunakan dua buah baju berwarna hijau, megaratna cempaka Surga membentang menyambut mereka, dan cahaya mereka menyinari seluruh bagian barat dan timur. Tiba-tiba seorang laki-laki dengan tinggi rata-rata, wajahnya bersinar laksana bulan, juga turun dari anak tangga tersebut, duduk di dekat alas meja dan dengan suara yang amat keras berkata: “ Wahai ayahku Adam, turunlah ! Wahai ayahku Ibrahim, wahai Saudaraku Musa, dan saudaraku Isa, turunlah!” Dan kemudian aku lihat seorang Perempuan, rambutnya terurai dan berteriak: “ Wahai Hawa, wahai saudariku Maryam, wahai ibu Khadijah, turunlah!” Dan sebuah suara gaib berkata: “ Ini adalah Fathimah az-Zahra Putri Muhammad al Mustafa (saw), istri dari ‘ Ali al-Murtadha (as) dan ibu dari Penghulu Para Syuhada-orang yang telah terbunuh di Karbala, semogaAllah memberikan karunia kepada mereka!”
Kemudian Fathimah (as) berkata: “ Wahai ayahku, tidakkah kau lihat apa yang telah diakukan olehumatmu terhadap putraku al-Husain?” Nabi Suci (saw) meratap memilukan, dan semua yang hadir di situ juga ikut menangis meneteskan air mata kesedihan, dan menatap Adam, dia berkata: “ Ayahku Adam! Tidakkah kau lihat apa yang dilakukan orang-orang biadab itu kepada anakku al-Husain? Pada hari Kebangkitan kelak, syafaatku tak akan berlaku bagi mereka. “
Adam menjerit memilukan dan bahkan malaikat-malaikat juga ikut meratap. Dan aku kemudian melihat rombongan berjumlah delapan orang. Di depan mereka, seorang anak muda memegang bendera hijau, dan masing-masing lainnya memegang api di tangan mereka, bergerak dan berkata: “ Wahai Api, bakar pemilik rumah ini-Yazid Ibn Mu’awiyah1” Waktu itulah aku lihat engkau menjerit: “ Api, di mana tempat meloloskan diri dari api!”
Bersambung....