Kedermawanan bahkan pada musuh-musuhnya. Imam Husain memberi kesempatan berkali-kali kepada musuh untuk sadar dan memaafkan. Pada tanggal 27 Dzulhijjah 60 H, rombongan tentara musuh yang dipimpin oleh Al Hurr tiba di Dzu Husm. Sebagian sahabat Imam Husain menganjurkan untuk menyerang, karena mereka dalam keadaan lemah dan haus. Namun Imam Husain as malahan memberi minum mereka semua, bahkan kuda-kudanya. Kasih Sayang: Bahkan pada malam Asyura, Husain as menyuruh para pengikutnya pergi jika ingin menyelamatkan diri. Ini bukan perang ego, tapi cinta murni.
Pemaafan yang indah. Komandan pasukan musuh yang menggiring Imam Husain as dan rombongan ke Karbala, pada Malam Asyura jatuh cinta pada Imam Husain as. Dan pada Hari Asyura, ia menunduk menghadap Imam dan mohon maaf dan mohon diijinkan berjuang bersama Imam. Imam Husain as tanpa ragu langsung memaafkan dan malah meminta komandan tersebut, – Al Hurr-, tidak menunduk. Mereka yang sudah kembali ke jalan yang benar tidak perlu malu dan tidak perlu menunduk.
Karbala dan Asyura adalah pentas pentingnya dialog , diskusi dan upaya terus menerus pencerahan pemikiran. Imam Husain as berdialog panjang dengan musuh, menjelaskan posisinya dan menyerukan kebenaran. Di Hari Asyura, tercatat beberapa kali Imam berdialog dan menyampaikan berbagai pesan-pesan suci penuh kasih ke tentara musuh.
Pencerahan Ilmiah dan Spiritualitas: Doa Arafah dan khutbah-khutbah Husain sarat dengan kedalaman filsafat, cinta ilahi, dan makna hidup.Di tengah desing panah dan ribuan musuh, Imam Husain as dan rombongannya melakukan shalat Zuhur. Beberapa sahabat Imam Husain as terbunuh karena menjadi tameng hidup yang melindungi Imam Husain as yang sedang shalat.“
Konsistensi dalam menjalankan akhlak muhammadiyah dalam bentuk paling puncak. Di tengah kecamuk perang yang demikian dahsyat, Al Husain as masih mencoba untuk mengupayakan bayinya beroleh air. Ia sampaikan berupaya berdialog dengan pihak musuh dan kembali ia mencoba mengetuk nurani dan potensi empatik terdalam yang ada dalam diri mereka. Dan tentara musuh membalas dengan panah yang membuat bayi tersebut terbunuh dan mencapai syahadah.
Ketangguhan, kesabaran , kedermawanan, akhlaqul karimah, ketaatan padaNya, tidak tunduk pada kezaliman yang dibangun oleh Nabi saw, disempurnakan oleh Ali as, dikuatkan oleh Fathimah as, diteruskan oleh Hasan as, dan dipuncakkan oleh Husain as di Karbala, adalah sistem etika manusia yang mengarah ke summum bonum—kebaikan tertinggi. Dalam pandangan Prigoginian, sistem ini adalah sistem terbuka spiritual yang mampu menyerap kekacauan dan mentransformasikannya menjadi lompatan moral. Sunnah Nabawiyah berupa ketangguhan, kesabaran , kedermawanan, akhlaqul karimah, ketaatan total padaNya, tidak tunduk pada kezaliman sungguh adalah kekuatan yang mampu mendisipasi , menyerap berbagai energi negatif dari kuasa hegemonik Bani Umayah. Energi negatif hegemonik yang dibangun oleh Muawiyah dan dilanjutkan oleh Yazid merupakan proyek sistemik pembusukan nilai Islam melalui penyelewengan kekuasaan, manipulasi agama, dan kekerasan terstruktur yang menjadikan kekuasaan dinasti sebagai tujuan tertinggi, bukan keadilan atau kebenaran ilahi.
Setelah terbunuhnya Utsman, Muawiyah secara licik memanfaatkan kematian khalifah itu untuk menggugat kepemimpinan Imam Ali as, bukan demi keadilan, melainkan untuk melanggengkan ambisi pribadi, dengan menolak berbai’at, menyulut Perang Shiffin, dan mengangkat Alquran di ujung tombak untuk mengecoh opini umat. Ia membangun infrastruktur propaganda besar-besaran yang menyebarkan kebencian terhadap keluarga Nabi, termasuk menjadikan kutukan terhadap Imam Ali sebagai kebijakan resmi dari mimbar-mimbar jum’at selama puluhan tahun. Muawiyah juga menginisiasi labelisasi sesat terhadap pengikut Ahlul Bayt, seperti menyebut mereka “syi’ah rafidhah” yang membuka jalan bagi persekusi brutal terhadap para sahabat setia Nabi saw,ataupun Imam Alli as seperti Hujr bin Adi yang dibunuh bersama para sahabatnya karena menolak mencaci Ali, Amr bin Humq yang dikejar hingga tewas, dan Maitsam at-Tammar yang disalib karena kesetiaannya pada Ahlul Bayt. Yazid mewarisi energi negatif ini dan membawanya ke puncaknya: ia memaksakan bai’at atas kekuasaannya yang batil, mengancam, menangkap, dan menindas para tokoh suci, hingga akhirnya membantai Imam Husain as dan keluarganya di Karbala—sebuah tragedi yang bukan hanya pembunuhan jasad, tapi pembantaian terhadap jiwa Islam itu sendiri. Penerus mereka seperti Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi melanjutkan pola teror ini dengan genosida terhadap ribuan pengikut Ahlul Bayt, menumpahkan darah atas nama stabilitas, dan mengubah Islam menjadi instrumen dominasi negara, bukan jalan pembebasan ruhani. Energi negatif hegemonik ini tidak sekadar menindas tubuh-tubuh yang saleh, tapi berusaha memadamkan cahaya hakikat Islam yang dibawa Nabi saw dan keluarganya as. Dan , Imam Husain as bangkit, dengan darah spiritual Akhlaq Nabawiyah yang sempurna.
Keindahan laku dan laga Sunnah Nabawiyah dari Imam Husain as dan para pembelanya berupa ketangguhan, kesabaran , kedermawanan, akhlaqul karimah, ketaatan total padaNya, tidak tunduk pada kezaliman , keberanian serta kesiapan untuk berkorban (itsar) demi kebahagiaan sesame, ternyata mampu mendisipasi dan meruntuhkan struktur hegemoni yang dibangun Bani Umayah. Dan selanjutnya juga darah Al Husain as dan Cinta pada Al Husain serta semangat Karbala ternyata menjadi stuktur disipatif yang mempu mendisipasi dan meruntuhkan struktur hegemoni dari kuasa-kuasa pongah di sepanjang sejarah manusia.
Nilai-nilai seperti keadilan ilahiah (adl), cinta universal (rahmah), pengorbanan tanpa pamrih (itsar), dan penolakan terhadap hegemoni zalim adalah prinsip-prinsip disipatif yang menjadikan Islam bukan sistem stagnan, tapi sistem hidup yang terus berevolusi secara spiritual.
Membaca Karbala melalui Prigogine kita menemukan siluet baru: bahwa tragedi bisa menjadi sumber tatanan yang lebih tinggi dan lebih indah, bahwa kesabaran dan cinta bisa menciptakan sejarah baru. Karbala mengajarkan bahwa bahkan dalam kegaduhan chaos yang trgis, cahaya bisa menyala indah. Dan dalam bahasa Prigogine: out of chaos, a new order emerges. Maka, kita pun diajak menjadi bagian dari struktur disipatif itu—menolak stagnasi, menghadapi kekacauan, dan melampaui diri menuju kemanusiaan yang lebih luhur. Dinisbatkan pada Al Husain, sebuah ucapan inspiratif, “ Jika Agama Muhammad tidak tegak kecuali dengan darahku, wahai pedang-pedang ambilah aku”. Apakah kita memilih menjadi bagian dari prinsip disipatif, – mengorbankan segalanya bersama Al Husain as- atau memilih berpangku tangan dan tidak ikut membela Al Husain as? Jawabannya ada pada kita masing-masing.
Wa maa taufiiqii illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib