Peristiwa Karbala, yang terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriyah, secara lahiriah adalah tragedi besar, bahkan mungkin puncak dari penderitaan manusia dalam sejarah spiritualitas. Sayyid al-Shuhada Imam Husain bin Ali as, cucu Nabi Muhammad saw, bersama keluarganya dan para sahabat setianya, dibantai secara kejam di padang tandus Karbala oleh rezim Umayyah. Peristiwa ini tampak seperti kehancuran total dari segala cita-cita kenabian: keadilan, cinta kasih, dialog, dan martabat manusia. Namun, dalam cahaya filsuf dan saintis pemenang Nobel Ilya Prigogine, kita justru bisa melihat peristiwa ini sebagai titik lecut dari sebuah struktur disipatif—yakni sistem terbuka yang melewati krisis untuk mencapai tingkat tatanan yang lebih tinggi.
Prigogine, penerima Nobel dalam bidang kimia tahun 1977, memperkenalkan konsep dissipative structure—struktur disipatif—dalam termodinamika non-linear. Ia menunjukkan bahwa dalam sistem terbuka jauh dari kesetimbangan, kekacauan dan fluktuasi justru dapat memicu lahirnya keteraturan baru. Sebuah sistem tidak hanya bisa bertahan dalam kekacauan, tetapi justru melampaui dirinya, membentuk order through fluctuation.
Dalam konteks ini, Karbala adalah fluktuasi mahadahsyat dalam sejarah umat Islam: kekacauan moral, kezaliman politik, dan pengkhianatan sosial serta kejahatan perang yang melampaui batas. Namun dari pusaran yang bergejolak hebat ini inilah muncul keteraturan moral baru, bahkan hingga kini.
Karbala adalah titik entropi maksimum dalam sejarah Islam—energi moral dan spiritual seakan hancur tak tersisa. Seorang cucu Nabi saw dibantai tanpa air, bersama anak-anak, wanita, dan para sahabat setianya. Tetapi dari peristiwa ini justru muncul energi kesadaran baru. Dari reruntuhan tubuh para syuhada, bangkitlah arus spiritual, sosial, dan bahkan politik yang menolak dominasi tirani.
Zainab binti Ali as dan Imam Ali Zainal Abidin as tidak hanya bertahan, tetapi menyulut revolusi abadi, suatu bara perlawanan dengan kata-kata dan doa. Mereka meletakkan fondasi dasar ingatan kolektif ummat Islam maupun ummat manusia secara keseluruhan tentang Karbala , Al Husain dan patron suci kemanusiaan. Inilah bentuk restrukturisasi nilai setelah kekacauan: sistem etika dan spiritual umat mengalami bifurkasi menuju kesadaran yang lebih tinggi.
Struktur disipatif ala Priogine dalam peristiwa Karbala bisa kita lihat dari beberapa fakta berikut. Fakta Sosio-Historis Pasca Asyura Kebangkitan Tawwabun dan Mukhtar al-Tsaqafi: Dalam waktu singkat, masyarakat Kufah yang tadinya pasif mengalami kesadaran kolektif.
Kelompok Tawwabun—para penyesal—melakukan revolusi demi menebus kelalaian mereka. Gerakan Mukhtar melahirkan sistem perlawanan terhadap rezim Umayyah dan menuntut balas atas para pembunuh Karbala.
Transmisi Nilai Asyura dalam Budaya: Ritual-ritual Asyura bukan sekadar ekspresi duka, melainkan pelestarian nilai keberanian, kejujuran, cinta ilahi, dan solidaritas terhadap tertindas. Dari Persia, India, Irak, Suriah hingga Indonesia, Asyura membentuk struktur sosial disipatif yang menyuntikkan kesadaran moral ke dalam budaya.
Inspirasi Gerakan Kemanusiaan Global: Tokoh-tokoh besar seperti Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela menyatakan bahwa mereka belajar dari Husain as tentang makna pengorbanan dan perlawanan tanpa kekerasan. Gandhi menyatakan: “I learned from Husayn how to achieve victory while being oppressed.”
Mengapa Imam Husain as dan Karbala bisa menjadi struktur disipatif yang melejitkan ummat ke derajat eksistensi atau derajat tatanan yang lebih luhur dan mulia? Kekuatan disipatif apa yang dimiliki oleh Imam Husain as , keluarganya, sahabatnya sehingga bisa meredam kejadian chaotic yang luar biasa, dan berhasil melejit ke kemunculan tatanan baru? Apa yang membuat Karbala bertahan sebagai struktur disipatif bukan hanya tragedinya, tapi karena Imam Husain as dan pengikutnya dan sahabatnya terhubung terus menerus dengan nilai-nilai Ilahiah dan Profetik yang transenden.
Bersambung...