Dalam ayat lain Allah Swt berfirman, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung."[5]
Akhlak Nabi Muhammad Saw begitu mencengangkan akal manusia. Karena sebelum mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah, beliau telah terlebih dahulu melakukannya. Ketika melarang manusia melakukan keburukan, beliau telah terlebih dahulu meninggalkannya. Mereka mengganggunya, tapi beliau tetap menasihati. Mereka memakinya, tapi beliau justru mendoakan kebaikan untuk mereka. Mereka melemparinya dan menyiram pasir panas ke atas kepalanya, tapi beliau mengangkat tangannya dan meminta agar mereka mendapat hidayah.
Selama mampu raihlah simpati
Menyakiti hati bukan kelebihan
Satu contoh dari akhlak Nabi Muhammad Saw ditampilkan dengan sempurna di masa Fathu Makkah atau pembebasan kota Mekah. Ketika orang-orang Musyrik pelaku kejahatan selama bertahun-tahun terhadap umat Islam telah dikalahkan oleh Muslimin, bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh teman dan musuh, Nabi Saw mengeluarkan perintah untuk memaafkan mereka semua dan melupakan segala kejahatan yang selama ini dilakukan. Perbuatan beliau inilah yang membuat mereka, "Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong."[6]
Diriwayatkan dari Imam Husein bin Ali as, "Saya bertanya kepada Amirul Mukminin as tentang perilaku Rasulullah Saw dengan orang-orang yang bersamanya. Beliau menjawa, ‘Beliau senantiasa bersikap ramah, toleran dan lembut. Bukan seorang yang kasar, keras, pemarah, pemaki, tidak mencari aib dan tidak memuji-muji. Membiarkan sesuatu yang tidak disukainya. Tidak seorang pun yang putus asa bila berurusan dengan beliau. Ada tiga hal yang beliau tinggalkan; berdebat, banyak bicara dan mencampuri urusan orang. Ada tiga hal terkait orang lain yang ditinggalkan, tidak pernah menghina, tidak menyalahkan dan tidak mencari aib orang lain."[7]
Sangat banyak riwayat yang membicarakan tentang perilaku dan akhlak Rasulullah Saw, tapi akan disebutkan beberapa darinya:
1. Nabi Muhammad Saw bersabda, "Seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang melalui malamnya dengan ibadah dan siangnya dengan berpuasa."[8]
2. Nabi Muhammad Saw bersabda, "Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal manusia di Hari Kiamat dari akhlak yang baik."[9]
3. Di tempat lain beliau bersabda, "Sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke surga adalah takwa dan akhlak yang baik."[10]
4. Imam Ali bin Musa ar-Ridha as menukil dari Rasulullah Saw beliau bersabda, "Hendaknya kalian berakhlak yang baik. Karena akhlak yang baik sudah pasti akan berada di surga. Berhati-hatilah dengan akhlak yang buruk. Karena akhlak buruk sudah pasti akan berada di neraka."[11]
Satu wasiat akhlak dari Rasulullah Saw kepada Imam Ali as adalah tiga perbuatan yang tidak dapat dilakukan secara sempurna oleh umatku; bersikap adil dan sama dengan saudara seiman dalam harta, memberikan hak orang lain dengan menghukumi secara adil terhadap diri sendiri dan orang lain dan mengingat Allah dalam segala hal.[12]
Tentu saja yang dimaksud dengan mengingat Allah dalam segala hal bukan terbatas pada mengatakan Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illaah dan Allahu Akbar saja, tapi ketika seseorang mendapati perbuatan haram dihadapannya, maka segera ia takut kepada Allah dan meninggalkannya.