Di antara para sahabat Imam Husain, Habib bin Mazahir al-Asadi menempati tempat istimewa. Ia adalah sahabat lama Imam Ali a.s., seorang alim, tokoh terhormat di Kufah, dan telah berusia lanjut saat tragedi Karbala terjadi. Namun usia senja tidak mengurangi semangatnya untuk mempersembahkan nyawa demi Imam zamannya.
Ketika menerima surat panggilan dari Imam Husain, ia menangis haru. Tanpa ragu, ia tinggalkan segalanya demi bergabung di Karbala. Ia berkata kepada keluarganya:
“Demi Allah, tidak ada yang lebih kucari dalam hidup ini selain menemani putra Zahra di jalan syahadah.”
Habib menjadi simbol keistiqamahan. Ia menunjukkan bahwa cinta kepada Ahlul Bait bukan sekadar emosi sesaat, tetapi komitmen seumur hidup. Ia gugur dengan senyuman, membawa serta doa-doa orang saleh dan harapan seluruh pecinta keadilan.