@laravelPWA
Perjuangan Husein di Karbala dalam Akal dan Cinta (2)
  • Judul: Perjuangan Husein di Karbala dalam Akal dan Cinta (2)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 19:9:39 8-6-1404

Imam Hussein juga mendengarkan nasihat welas asih dari Abdullah bin Ja'far, suami Sayidah Zainab, dan saudaranya Muhammad bin Hanafiyah dan lainnya - yang didasarkan pada alasan yang kemaslahatan akal. Tetapi Imam Husein tetap melanjutkan perjuangan dengan menggunakan pertimbangan dengan cinta dan jihad di jalan Tuhan. Beliau berkata, "Siapapun yang ingin mewakafkan hidupnya di jalan ini dan telah mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Tuhan, maka bergeraklah bersama kami."

Dalam perjalanan dari Mekah ke Kufah dan Karbala, Imam Hussein juga berseru "Ina lillahi waina ilahi rajiun (Kami dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya)" sebagai bentuk kesadaran beliau menyadari kondisi yang sedang terjadi. Beliau bertindak demi menghadapi penyimpangan pemikiran dan kemerosotan moral masyarakat yang berada di bawah rezim lalim.

Kebangkitan Imam Husein untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang telah diselewengkan penguasa Bani Umayah ketika itu. Hal ini disampaikan Imam Husein dalam surat wasiat yang disampaikan kepada saudaranya Muhammad bin Hanafiyah, "Saya tidak meninggalkan kota ini karena keegoisan dan mencari kesenangan, atau melakukan dan penindasan. Tetapi tujuan  perjalanan ini untuk memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan, amr maruf dan nahi munkar. Gerakan ini sebagai perbaikan, dan menghidupkan kembali ketentuan sesuai Sunnah Rasulullah Saw, dan  ayahku, Ali bin Abi Thalib."

Selain itu, sampai saat-saat terakhir hidupnya, Imam Husein secara eksplisit menyatakan posisinya melawan Yazid dengan mengatakan, "Jika tidak ada tempat yang aman bagiku di bumi, aku tetap tidak akan berbaiat kepada Yazid." Semua ini menunjukkan rasionalitas yang bernas dari  peristiwa Asyura.

Salah satu ciri rasional dari kebangkitan Imam Hussein adalah keberanian beliau mengungkap kerusakan dan kebobrokan dinasti Umayyah dan menanamkan semangat komitmen terhadap kebenaran. Penekanan khusus Imam terhadap Alquran dan sunah Nabi Muhammad Saw  dalam perjuangannya melawan penindasan demi menegakkan keadilan dan kebenaran.

Tentunya, Imam Husein adalah manifestasi sempurna dari akal ilahi, sekaligus juga cinta ilahi. Jika tidak memiliki kecerdasan ilahi, beliau tidak akan memiliki cinta ilahi, dan keduanya tidak akan bisa dipisahkan satu sama lain. Cinta terhadap ibadah dan munajat kepada Allah swt menjadi dasar dari pengorbanan demi menegakkan nilai-nilai Islam.

Kebangkitan Imam Hussein merupakan manifestasi dari surat Al-Ahzab ayat 23 yang berbunyi:

مِّنَ الْمُؤْمِنِینَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّـهَ عَلَیْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن یَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِیلً

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya)".

Fisuf dan penulis Iran, Mohammad Reza Hakimi berkata, "Ketika seseorang memandang peristiwa Karbala, dia melihatnya sebagai sebuah manifestasi cinta yang indah dan pengorbanan diri maka akan terpesona. Sebab, menghadapi tangan kejam penindas yang penuh kebencian, ia melihat jiwa ksatria Imam Hussein yang rela berkorban dengan penuh cinta.

Di satu sisi gerakan Imam Hussein sangat logis dan diperhitungkan, dengan metode tertentu dan hasil tertentu. Jalan sejarah Islam, yang dimulai dengan perang menegakkan kebenaran melawan kebatilan diwujudkan dalam kebangkitan Imam Hussein. Dengan pertemuan akal dan cinta, gerakan Husseini menghapus tabir kemunafikan dan menghidupkan kembali Islam sejati.

Rahasia keabadian perjuangan Karbala tergambar dalam slogan "Setiap hari adalah Asyura, setiap tanah adalah Karbala" yang menyatukan akal dan cinta dalam perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran.

Imam Hussein lebih menyukai kematian dengan kehormatan daripada hidup dengan penghinaan, sehingga kebebasan dan keadilan akan tetap hidup selamanya. Semoga kita juga bisa mereguk manfaat dari setetes kecil lautan ilmu Imam Hussein dan menyerap keagungan jiwanya yang berjuang tanpa pamrih hingga mempersembahkan kesyahidannya.