@laravelPWA
Bani Umayah Cegah Imam Husain a.s. Menuju Kufah (2)
  • Judul: Bani Umayah Cegah Imam Husain a.s. Menuju Kufah (2)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 19:9:31 8-6-1404

Bismillahirrahmanirrahim. Amma ba’du..
Telah datang kepada kami berita buruk tentang penangkapan dan kematian Muslim, Hani bin Urwah, dan Abdullah bin Yaqthir. Kami pun diberitahu bahwa pendukung kita di Kufah telah melemah dan berubah. Oleh karena itu, siapa yang ingin berpisah dengan kami dan tidak mampu melanjutkan perjalanan, pergilah tanpa harus malu dan merasa keberatan. (al-Bidayah wa al-Nihayah, 8/182)

Mendengar khotbah Imam Husain as ini, banyak orang yang semula bergabung bersama beliau keluar dari barisan, ke arah kanan, kemudian meninggalkan beliau. Hanya segelintir orang yang masih bersama beliau, yakni mereka yang berasal dari Madinah yang bergabung di tengah jalan. Beliau sengaja melakukan itu karena tahu bahwa kebanyakan dari mereka berasal dari Arab, orang gunung yang menyangka bahwa mereka akan masuk ke kota dan mendapatkan banyak bantuan dari para pendukung Imam Husain a.s. Beliau tidak ingin mereka mengikuti beliau tanpa memahami apa misi yang dibawanya.

Pada malam itu rombongan Imam Husain a.s. beristirahat di tempat tersebut. Ketika tiba waktu sahur Imam menyuruh sahabatnya yang tersisa untuk meminum air secukupnya dan melanjutkan perjalanan.

Ketika Imam Husain bersama beberapa orang pengikut setia dan anggota keluarganya berada dalam perjalanan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh rombongan yang terlihat dari kejauhan. Sebagian mengira itu adalah bayangan pohon kurma. Tak lama kemudian tampak bahwa yang terlihat itu adalah pasukan berkuda. Semakin lama semakin jelas. Mereka terdiri dari seribu orang penunggang kuda, pasukan Ibnu Ziyad yang dipimpin Hurr bin Yazid Riyahi.

Pasukan itu diperintah untuk menghadang rombongan Imam Husain dan menggiringnya sesuai dengan kehendak Ibnu Ziyad. Setelah mendekat, Imam Husain a.s. bertanya tentang apa yang mereka inginkan dari beliau. Hurr menjawab, “Kami diperintah untuk menggiring kalian ke tempat yang kering tanpa air dan tanpa tempat bernaung. Jika kalian tidak menginginkan, bergabunglah bersama kami di bawah kepemimpinan Yazid dan Ubaidillah bin Ziyad.” (Tarikh al-Thabari, 3/305; Bihar al-Anwar, 44/375)

Imam Husain a.s. dan Hurr terlibat dalam diskusi panjang tanpa hasil yang dapat disepakati oleh kedua belah pihak. Hurr tidak bersedia melepaskan Imam Husain kembali ke Hijaz atau meneruskan perjalanannya ke Kufah. Sementara Imam Husain tetap tidak bersedia berbaiat kepada Yazid dan Ibnu Ziyad.

Terhenti Di Tanah yang Dijanjikan

Berita tentang semakin merapatnya Imam Husain a.s. ke Kufah semakin menyesakkan dada Ubaidillah bin Ziyad dan aparatur istana Bani Umayah. Dia menulis surat kepada Hurr untuk menghadang jalan Imam Husain agar tidak memasuki kota Kufah.

Pasukan Bani Umayah yang menghadang Imam Husain a.s. bertambah banyak. Ibnu Ziyad khawatir penduduk Kufah akan bangkit lagi dengan kedatangan Imam Husain a.s. Pada saat yang sama Ibnu Ziyad ingin memanfaatkan situasi dan kondisi yang sulit bagi Imam Husain dan rombongan agar menerima tawaran baiat.

Pasukan yang baru dikirim Ibnu Ziyad terus menghalangi Imam Husain dan rombongan untuk memasuki kota Kufah. Demikian juga pasukan Hurr yang berusaha menghalau rombongan Imam Husain menuju daerah yang tandus, kering, tanpa air dan pohon.

Pada saat itu Zuhair bin Qain bersemangat memerangi pasukan Hurr sebelum pasukan Bani Umayah yang lebih kuat tiba, namun Imam Husain tidak menyetujui usulan tersebut dengan alasan mereka belum menyatakan perang dan beliau tidak mau dianggap sebagai pihak yang memulai peperangan. Ini merupakan bukti dari ketinggian akhlak dan keluasan dada beliau. Betapa agung risalah yang beliau perjuangkan dan nilai-nilai yang beliau angkat untuk membangun umat.

Imam Husain pun tiba di tempat yang dijanjikan itu pada hari Kamis tanggal 2 Muharam tahun 61 H. Kemudian Zuhair mengusulkan lagi kepada Imam Husain a.s. agar berhenti di tempat yang jauh dari tempat tersebut karena di sana lebih layak untuk berlindung dari pasukan Bani Umayah jika mereka menyerang.

Imam Husain a.s. kemudian bertanya tentang nama tempat tersebut. Dijawab bahwa tempat itu bernama Karbala. Ketika mendengar itu Imam a.s. menangis dan berdoa: “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari duka dan bencana. Karbala adalah tempat duka dan bencana. Ketika dalam perjalanan menuju Shiffin aku dan ayahku beserta rombongannya melewati tempat ini. Setelah diberitahu nama tempat ini beliau berkata, ‘Di sinilah rombongan mereka akan berhenti dan di sinilah darah mereka akan ditumpahkan.’”

Sebagian rombongan beliau bertanya tentang siapa yang beliau maksud. Beliau menjawab: “Mereka adalah pusaka keluarga Muhammad Saw.” (Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 406)

Imam Husain a.s. lalu mengambil segenggam tanah di tempat itu dan menciumnya sembari berkata: “Demi Allah! Inilah tanah yang kakekku, Rasulullah Saw, diberitahu oleh Jibril bahwa aku akan dibunuh di tempat ini. Ummu Salamahlah yang memberitahukan berita ini kepadaku.” (Tadzkirah al-Khawash, hal. 260)