@laravelPWA
Misteri Syahid Hari ‘Arafah (1)
  • Judul: Misteri Syahid Hari ‘Arafah (1)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 19:9:29 8-6-1404

Kisah Heroik Muslim bin ‘Aqil di Kufah

Siapakah ia yang syahid di Hari ‘Arafah? Kisah hidup Muslim bin ‘Aqil sebelum diangkat sebagai wakil Imam al-Husain di Kufah masih tersisa dalam catatan sejarah yang tersebar dan tidak lengkap. Namun, beberapa peristiwa penting tetap tercatat dan memiliki makna besar dalam konteks peristiwa Karbala.

Salah satu peristiwa yang tercatat adalah keikutsertaan Muslim dalam penaklukan wilayah Afrika Utara pada tahun 21 H / 641–642 M. Ia, bersama saudara-saudaranya seperti Ja’far dan ‘Ali, turut serta dalam penaklukan kota al-Bahnasa di Mesir. Selain itu, beberapa sumber sejarah juga menyebut keterlibatan Muslim dalam Perang 
Shiffin—konflik besar antara pasukan Imam Ali dan Mu’awiyah—yang menegaskan loyalitasnya terhadap Ahlulbait sejak awal.

Muslim bin ‘Aqil turut menyertai Imam Husain saat meninggalkan Madinah menuju Mekkah. Ketika surat-surat dari penduduk Kufah membanjiri Imam dengan ajakan agar datang dan memimpin mereka melawan kekuasaan Yazid, Imam al-Husain mengutus Muslim untuk memverifikasi kesungguhan mereka dan menilai kondisi di sana. Menurut riwayat lain, Imam juga mengirim Qays bin Mushir al-Saydawi, ‘Amarah bin ‘Abd al-Saluli, dan ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd Allah al-Arhabi bersama Muslim, dengan pesan agar ia berhati-hati, menyembunyikan misinya, bersikap sabar, dan bila melihat kesatuan umat, segera memberitahukan Imam.

Muslim berangkat dari Mekkah pada tanggal 15 Ramadan 60 H / 19 Juni 680 M. Ia terlebih dahulu menuju Madinah dan mengatur dua pemandu untuk perjalanan ke Kufah. Tujuan awal ke Madinah tampaknya untuk menyamarkan misinya. Namun, dalam perjalanan, mereka tersesat di padang pasir. Kedua pemandu meninggal karena kelaparan dan kehausan, sementara Muslim selamat dan tiba di sebuah oasis. Ia mengirim pesan kepada Imam agar membatalkan misinya, menganggap kejadian tersebut sebagai pertanda buruk. Namun, Imam al-Husain tetap memintanya untuk melanjutkan perjalanan. Menurut pengisahan dari Ayatullah Jawadi ‘Amuli, Said bin ‘Abdullah Al-Hanafi, salah satu yang mengantar surat-surat terakhir dari Kufah juga memandu Muslim bin ‘Aqil, dan Said juga mengantarkan surat dari Muslim bin ‘Aqil pada Imam Husain as sebelum akhirnya Said bergabung dengan Imam Husain ke Karbala dan syahid di Karbala pada hari Asyura.

Muslim tiba di Kufah pada 5 Syawwal / 9 Juli, dan tinggal di rumah Mukhtar bin Abi ‘Ubayd, atau menurut riwayat lain, di rumah Muslim bin ‘Awsajah. Para pengikut Imam Husain as secara aktif mengunjungi rumah tempat Muslim tinggal, di mana ia membacakan surat Imam Husain kepada mereka.

Dalam waktu singkat, Muslim mulai menerima baiat dari penduduk Kufah atas nama Imam al-Husain as. Isi baiat tersebut mencerminkan ajaran Ahlulbait: kesetiaan kepada Kitab Allah dan Sunnah Nabi, melawan kezaliman, membela yang tertindas, menolong kaum miskin, dan mendukung perjuangan Ahlulbait.

Jumlah orang yang berbaiat kepada Muslim disebutkan bervariasi: 12.000, 18.000, bahkan 30.000 orang, tergantung sumbernya. Namun, beberapa peneliti modern meragukan jumlah ini. Dari estimasi populasi Kufah kala itu yang mencapai lebih dari 60.000 laki-laki yang mampu berperang, jumlah pendukung Muslim hanya sekitar sepertiganya. Meski begitu, jumlah tersebut dianggap cukup untuk mendukung keputusan Imam Husain berangkat ke Kufah.

Pada tanggal 11 Dzulqa’dah / 13 Agustus, Muslim mengirim surat kepada Imam Husain, melaporkan besarnya dukungan masyarakat Kufah dan mengundangnya untuk datang. Surat ini menjadi dasar penting dalam keputusan Imam menuju Kufah.

Pada saat Muslim tiba, gubernur Kufah adalah Nu‘man bin Basyir, yang dikenal lembut dan cenderung menghindari kekerasan. Namun, para pendukung Yazid seperti ‘Umar bin Sa‘d dan Muhammad bin al-Asy’ats mengirim surat ke Syam, menyatakan bahwa Nu‘man terlalu lemah. Akhirnya, Yazid menunjuk Ubayd Allah bin Ziyad—gubernur Basrah yang terkenal bengis—untuk menggantikannya.

Kedatangan Ibn Ziyad mengubah segalanya. Ia menekan para kepala suku untuk menarik dukungan dari Muslim, dengan ancaman kekerasan dan perampasan harta. Akibatnya, Muslim harus meninggalkan tempat persembunyiannya dan berpindah ke rumah Hani bin ‘Urwah, seorang tokoh Syiah yang berani memberikan perlindungan, meski dengan risiko besar.

Dalam satu riwayat terkenal, Sharik bin al-A‘war—sahabat Imam Ali yang sedang sakit di rumah Hani—menyarankan agar Muslim membunuh Ibn Ziyad saat ia datang menjenguk. Namun, Muslim menolak karena Hani tidak ingin rumahnya ternodai darah, dan karena adanya hadits Nabi yang melarang pembunuhan secara mendadak. Beberapa sejarawan modern meragukan keaslian kisah ini. Namun demikian, dalam pengisahan maqtal Al-Husain as , kejadian ini menjadi menarik yang menunjukkan keksatriaan Muslim serta ketaatan Muslim pada Kanjeng Nabi saw , sehingga tidak mau mengambil kesempatan untuk membunuh Ibn Ziyad dengan cara membokongnya.
Ibn Ziyad mengutus mata-mata bernama Ma’qil untuk mencari lokasi Muslim. Setelah informasi terkumpul, ia memanggil Hani dan memaksanya menyerahkan Muslim. Ketika Hani menolak, ia ditangkap. Mendengar kabar tersebut, Muslim memimpin pemberontakan. Sekitar 4.000 orang berkumpul meneriakkan “Yā Manṣūr, Amīt!” (Wahai yang menang, hantamlah!). Mereka mengepung istana Ibn Ziyad.

Namun, Ibn Ziyad memainkan strategi politik. Ia mengirim para tokoh Kufah untuk membujuk dan menakut-nakuti massa dengan ancaman pasukan Syam. Perlahan, semangat pemberontakan meredup dan satu per satu mereka meninggalkan Muslim hingga ia sendirian pada malam hari.

Muslim lalu bersembunyi di rumah seorang wanita bernama Taw‘a. Namun, putra wanita tersebut melaporkan keberadaan Muslim kepada pemerintah. Ibn Ziyad mengirim pasukan untuk menangkapnya. Setelah pertempuran singkat, Muslim menyerah setelah dijanjikan keselamatan oleh Muhammad bin al-Asy’ats. Namun, janji itu dilanggar. Setelah perdebatan panjang, Ibn Ziyad memerintahkan eksekusinya.

Muslim dibawa ke atap istana dan dipenggal. Tubuhnya dilempar dari atas gedung. Dalam detik-detik terakhirnya, Muslim berwasiat pada Umar bin Sa’ad agar Imam Husain tidak melanjutkan perjalanannya ke Kufah, agar jasadnya dikuburkan, dan agar utangnya dibayar dengan menjual pedang serta barang-barang miliknya. Namun, berdasarkan buku Karbala (Munfarid & Alamdar), Umar bin Sa’ad malah menceritakan wasiat Muslim agar Imam Husain as tidak melanjutkan perjalanannya ke Kufah pada Ubaidillah bin Ziyad.

Setelah itu, Ibn Ziyad juga memerintahkan pembunuhan Hani bin ‘Urwah, dan kepala mereka dikirim ke Syam sebagai hadiah kepada Yazid bin Muawiyah.
Berikut di bawah ini adalah narasi Syahadah Muslim bin ‘Aqil yang dikutip dari buku Jalan Cinta. Semoga menambah hikmah ‘Arafah. Dan melalui berwasilah pada Muslim bin ‘Aqil dan Hani bin ‘Urwah semoga kita beroleh kecintaan pada Imam Husain as dan keluarganya as dan sahabatnya as. Dan melalui cinta pada Nabi saw dan keluarganya yang suci as yang diwujudkan dalam kesedihan abadi dan tangis abadi bagi Al Husain as dan keluarganya as dan sahabatnya as dan para Ahli Karbala as, semoga kita beroleh derajat wa fadaynaahu bi dzibhin ‘azhiim (“dan Kami gantikan ia dengan sembelihan yang agung”).

Bersambung...