@laravelPWA
Makna dan Filosofi Idul Adha: Pengorbanan sebagai Jalan Menuju Ketuhanan dan Kemanusiaan (1)
  • Judul: Makna dan Filosofi Idul Adha: Pengorbanan sebagai Jalan Menuju Ketuhanan dan Kemanusiaan (1)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 15:15:8 8-6-1404

Idul Adha, atau Hari Raya Kurban, adalah salah satu hari besar dalam Islam yang penuh makna spiritual. Dirayakan setiap 10 Zulhijjah, bertepatan dengan puncak ibadah haji, Idul Adha menjadi momen refleksi tentang pengorbanan, ketundukan kepada Allah, dan solidaritas antarsesama. Kata “Id” berasal dari akar Arab ‘aada (kembali), menandakan hari raya yang hadir setiap tahun dengan sukacita yang diperbarui. Tulisan ini akan mengulas makna dan filosofi Idul Adha, mulai dari arti istilah “Id”, nilai spiritual kurban, kisah Nabi Ibrahim, hubungan dengan ibadah haji, hingga pesan ketakwaan dan kebersamaan umat.

Idul Adha, juga disebut “Lebaran Haji”, dirayakan bertepatan dengan puncak ibadah haji pada 10 Zulhijjah. Hari ini dikenal sebagai “Id al-Adha” atau “Hari Raya Kurban”, karena jamaah haji di Mina menyembelih hewan sebagai bagian dari manasik. Kata al-Adha berasal dari dhuha (waktu pagi), merujuk pada waktu penyembelihan yang dimulai setelah matahari terbit. Maka, Idul Adha dinamai demikian karena kurban dilaksanakan pada pagi hari tanggal 10 Zulhijjah.

Secara spiritual, Idul Adha mengajarkan ketakwaan, keikhlasan, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Inti filosofi kurban adalah menyembelih ego dan nafsu rendah, sebagaimana Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya demi ketaatan mutlak. Penyembelihan hewan kurban menjadi simbol kesiapan manusia mengorbankan hal paling dicintai jika diperintahkan oleh Tuhan.

Idul Adha mengingatkan bahwa kedekatan dengan Allah hanya dapat diraih melalui keikhlasan, pengorbanan, dan hati yang bersih dari cinta duniawi. Inilah bentuk kepasrahan spiritual tertinggi yang menjadi ruh dari perayaan Idul Adha.

Idul Adha tak lepas dari kisah agung pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Dalam Al-Qur’an (QS. Ash-Shaffat: 102), Allah menguji Nabi Ibrahim dengan perintah menyembelih putranya. Dengan ikhlas, Ismail meminta ayahnya melaksanakan perintah itu. Ketika Ibrahim hampir menyembelihnya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba melalui malaikat Jibril sebagai bukti kasih sayang-Nya.

Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban. Umat Islam mengenangnya setiap Idul Adha sebagai simbol keteguhan iman dan ketaatan mutlak kepada Allah. Kisah ini mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus mengalahkan cinta kepada harta dan keluarga, serta menanamkan nilai keikhlasan dan tawakal yang mendalam.

Idul Adha memiliki kaitan mendalam dengan puncak manasik haji yang jatuh pada 10 Zulhijjah. Sehari sebelumnya, jamaah wukuf di Arafah (maqam ma’rifah dan penyadaran diri), lalu bermalam di Muzdalifah (tempat kesadaran spiritual), dan pagi harinya menuju Mina untuk melempar jumrah dan menyembelih kurban – simbol pengusiran ego dan penyerahan total kepada Allah.

Dalam pandangan tasawuf, Mina adalah tanah harapan, tempat meraih cinta Ilahi. Hari Idul Adha menjadi titik kulminasi: jamaah menyembelih hewan kurban sebagai simbol pengorbanan terhadap hal-hal duniawi yang paling dicintai—“Ismail” dalam diri mereka—sebagai wujud ketakwaan.

Seperti Nabi Ibrahim yang diuji dengan putranya, setiap Muslim diuji keikhlasannya lewat kurban harta yang dicintai. Maka, Idul Adha dalam konteks haji adalah manifestasi nyata pelajaran spiritual: menghapus ego, menaati perintah Allah tanpa syarat, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Idul Adha tidak hanya dirayakan oleh jamaah haji, tetapi juga oleh seluruh umat Muslim di dunia. Bagi yang tidak berhaji, disunnahkan menyembelih hewan kurban pada 10 Zulhijjah hingga hari tasyrik (11–13 Zulhijjah). Ini mencerminkan semangat kolektif dalam meneladani ketaatan Nabi Ibrahim dan memperkuat solidaritas umat melalui ibadah kurban.

Ibadah kurban mengandung hikmah luas dalam aspek spiritual, sosial, dan ekonomi. Secara spiritual, kurban adalah latihan kepatuhan dan simbol ketakwaan. Allah menegaskan dalam QS. Al-Hajj: 37 bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darah, melainkan ketulusan niat dan takwa. Karena itu, kurban harus dilakukan dengan ikhlas, bukan sekadar rutinitas. Mengeluarkan harta terbaik untuk kurban adalah bentuk pengikisan sifat kikir dan cinta dunia, serta sarana meningkatkan kepasrahan dan ketakwaan kepada Allah.

Bersambung...