@laravelPWA
Makna Esoteris Haji dalam Perspektif Imam Ali Zainal Abidin as (2)
  • Judul: Makna Esoteris Haji dalam Perspektif Imam Ali Zainal Abidin as (2)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 19:8:8 8-6-1404

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau begitu engkau belum melaksanakan thawaf, belum menyentuh semua sudut Ka’bah dan belum melaksanakan sa’i. Apakah engkau telah menyentuh dan bersalaman dengan Hajar Aswad? Apakah engkau telah berdiri di Maqam Ibrahim dan melaksanakan salat dua rakaat di tempat tersebut?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah”

Tiba-tiba Imam Ali Zainal Abidin as berteriak sampai-sampai kita merasa takut dengan teriakannya yang seakan dapat memisahkan ruh dari badan hingga mati. Lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang bersalaman (menyentuh) dengan Hajar Aswad berarti ia telah bersalaman dengan Allah SWT. Wahai manusia lemah, sadarlah, jangan-jangan engkau telah menghancurkan kehormatan perihal yang besar ini. Melakukan dosa dengan tangan yang telah engkau berikan kepada Allah SWT, dan melalui penentanganmu terhadap-Nya engkau telah menyia-nyiakan pahala dan balasan-Nya”.

Lantas beliau berkata lagi, “Apakah niatmu ketika mendirikan salat di Maqam Ibrahim adalah supaya engkau seperti Ibrahim, dan melalui salat itu berarti engkau telah memoles hidung setan dengan tanah?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau seperti itu berarti engkau belum bersalaman dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqam Ibrahim dan belum melaksanakan salat. Apakah engkau telah pergi ke sumur Zam-zam dan meminum airnya?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah niatmu ketika itu untuk mentaati-Nya, dan tidak akan menentang-Nya?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau begitu engkau belum pergi ke sumur Zam-zam, dan belum meminum airnya. Apakah engkau telah ber-sa’i antara Shafa dan Marwah?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah niatmu ketika ber-sa’i antara Shafa dan Marwah, adalah untuk memendarkan perasaan pada dirimu antara rasa takut dan pengharapan”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau seperti itu berarti engkau belum ber-sa’i antara Shafa dan Marwah. Lalu apakah engkau telah pergi ke Mina”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah niatmu ketika keluar dari Makkah, lalu pergi menuju Mina, adalah supaya orang-orang aman dari tangan, lisan dan hatimu?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau begitu engkau belum keluar dari Makkah, dan belum pergi ke Mina. Apakah engkau telah wuquf di Arafah, dan mendaki ke atas Jabal Rahmah? Apakah engkau telah mendatangi Wadi Numrah? Apakah engkau memohon kepada Allah di Mil dan Hamarat?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika wukuf di Arafah engkau mengetahui bahwa semua pengetahuan dan makrifah berasal dari-Nya, dan berada di sisi-Nya? Apakah engkau mengetahui bahwa keberadaan ada pada tangan-Nya, dan Dia mengetahui semua yang terdapat pada dirimu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah”.

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah niatmu ketika menaiki Jabal Rahmah karena Allah akan memberikan rahmat kepada setiap mukmin lelaki dan perempuan, Dia mencintai setiap muslim lelaki dan perempuan, serta melindungi mereka?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah niatmu ketika di masjid Namrah supaya dirimu mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, serta tidak memerintah dan melarang kepada orang lain”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika berhenti di antara dua “tanda” (‘alam) dan masjid Namrah, engkau ingat bahwa semua itu merupakan saksi atas segala ketaatanmu dan senantiasa menjagamu bersama para penjaga Tuhan”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau begitu engkau belum wukuf di Arafah, belum menaiki Jabal Rahmah, belum mengenal masjid Namrah, belum tinggal di Namrah dan belum berdoa. Apakah engkau telah melewati antara dua tanda (alam), dan sebelum melewatinya engkau melaksanakan salat dua rakaat? Apakah engkau telah pergi ke Muzdalifah dan telah mengambil kerikil? Apakah engkau telah pergi ke Masy’aril-Haram?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau melaksanakan salat (pada malam ke sepuluh) niatmu adalah, bahwa salat ini merupakan salat syukur, karena Dia telah menghilangkan kesulitan darimu dan mendatangkan kemudahan?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika melewati dua ‘alam dimana engkau berusaha supaya tidak melenceng ke arah kanan dan kiri, niatmu adalah melalui hati, lisan dan badanmu supaya dirimu tidak melenceng dari kebenaran?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau mengambil batu dari Muzdalifah, niatmu adalah menjauhkan segala penentangan dan kebodohan dari dirimu. Lalu, mendatangkan setiap ilmu dan amal perbuatan bagi dirimu?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau pergi ke Masy’aril-Haram, niatmu adalah untuk menanamkan pada dirimu rasa sebagaimana orang yang bertakwa dan pribadi yang takut kepada Allah?”

As-Syibli, “Tidak wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau begitu engkau belum melewati diantara dua alam, belum mendirikan salat, belum pergi ke Muzdalifah untuk mengumpulkan batu kerikil dan belum pergi ke Masy’aril Haram. Apakah engkau telah pergi ke Mina? Apakah engkau telah melempar jumrah? Apakah engkau telah mencukur rambutmu? Apakah engkau telah berkorban? Apakah engkau telah salat di masjid Khaif, lalu kembali ke Makkah dan melakukan tawaf?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah.”

As-sajjad (as) : Apakah ketika engkau telah sampai di Mina dan telah melempar jumrah, niatmu adalah engkau telah sampai ke tujuanmu dan Allah telah memenuhi semua hajatmu?

As-Syibli, “Tidak wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau melempar jumrah, niatmu adalah untuk melempari Setan dan mengusirnya dari dirimu?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau mencukur rambutmu, niatmu adalah untuk membersihkan dirimu dari segala kotoran dan keburukan, serta melepaskan semua hak-hak orang lain yang ada pada dirimu, seperti ketika engkau baru terlahir dari ibumu dan engkau lepaskan dirimu dari dosa-dosa?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau salat di masjid Khaif, niatmu adalah engkau tidak takut dari sesuatupun kecuali takut dari Allah dan dosa-dosamu, serta tidak akan mengharapkan rahmat kecuali dari-Nya?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau menyembelih binatang korbanmu, niatmu adalah dengan wara’ (keterjagaan) dan ketakwaan engkau sembelih tenggorokan kerakusan dan ketamakan dirimu, dan untuk menghidupkan sunah Ibrahim yang telah mengorbankan anak dan belahan jiwanya?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau kembali ke Makkah dan telah melaksanakan tawaf, niatmu adalah dengan rahmat dan ketaatan kepada-Nya engkau telah kembali serta berpegang erat pada kecintaan-Nya. Dan engkau telah melaksanakan perintah-Nya serta telah dekat kepada-Nya?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, Kalau seperti itu engkau belum sampai ke Mina, belum melempar jumrah, belum mencukur rambutmu, belum mendirikan salat di masjid Khaif, belum berkorban, belum melaksanakan thawaf dan belum dekat dengan-Nya. Kembalilah engkau, karena engkau belum menunaikan haji.”

Dengan rasa penuh penyesalan, As-Syibli menangisi semua kekurangan yang terdapat pada ibadah hajinya, lantas ia pun berjanji akan berusaha untuk mempelajari dan menghayati seluruh rahasia haji, sehingga ia dapat melakukan haji selanjutnya dengan penuh makrifat dan dapat melaksanakan ibadah haji yang sebenarnya, dengan memperhatikan makna batin badah haji.[]