@laravelPWA
Makna Esoteris Haji dalam Perspektif Imam Ali Zainal Abidin as (1)
  • Judul: Makna Esoteris Haji dalam Perspektif Imam Ali Zainal Abidin as (1)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 15:15:14 8-6-1404

Haji bukan hanya bentuk ibadah ritual keagamaan belaka, namun ia pun memiliki muatan politis yang harus dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh pelaksananya. Konsep bara’ah min al-musyrikin (berlepas tangan dari kaum musyrik) yang ditekankan dalam Al-Quran merupakan bukti akan ungkapan di atas. Oleh karena itu, imam Khomeini ra menyatakan bahwa haji adalah peribadatan yang bernuansa politik. Sebagaimana dalam hukum Islam, haji tanpa bara’ah dihukumi buntung dan tidak sempurna, maka benar jika dinyatakan bahwa ia adalah ritus peribadatan bernuansa politik.

Secara tekstual, begitu banyak hadis yang menjelaskan tentang keutamaan haji. Di sisi lain, terdapat banyak juga hadis yang berkenaan dengan ancaman bagi pribadi yang telah mampu melaksanakannya namun ia tidak melakukannya, dan meremehkan pelaksanaan ibadah haji.

Dalam banyak hadis disebutkan, al-Quran memiliki makna zahir dan batin. Sehingga dari situ dapat dipastikan bahwa semua ayat-ayat yang tercantum di dalamnya pun terkandung muatan zahir dan batin pula. Perintah ibadah haji juga tertera dalam Al-Quran, oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa sebagaimana haji memiliki tata cara zahir yang jelas seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, haji pun memiliki pemaknaan batin yang sangat berpengaruh pada kesempurnaan batin manusia. Alhasil, ibadah haji bukan hanya sekedar melibatkan jasad zahir dan lahiriah manusia belaka, namun ia juga melibatkan batin manusia. Sehingga dari situ kesempurnaan zahir dan batin manusia seusai melaksanakan ibadah haji akan terwujud dengan sempurna. Ini jika ditinjau dari sisi ritual keagamaannya.

Untuk menyingkap lebih jauh tentang makna esoteris (batin) haji, berikut akan dinukil ungkapan irfani Imam Ali Zainal Abidin ad dari kitab Mustadrak al-Wasa’il karya Muhaddits an-Nuri tentang rahasia haji yang dinarasikan secara dialogis. Dalam narasi itu, dituturkan bahwa Imam as ketika berwasiat kepada salah seorang sahabat beliau bernama As-Syibli yang baru saja usai melaksanakan ibadah haji.

Imam Ali Zainal Abidin as, “Wahai As-Syibli, apakah engkau telah menunaikan ibadah haji?”

As-Syibli, “Ya, kami telah menunaikan ibadah haji, wahai putra Rasulullah!?”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah engkau telah beranjak di Miqat? Sudahkah engkau lepaskan pakaian berjahit lalu mengenakan pakaian Ihram? Dan apakah engkau telah mandi?”

As-Syibli, “ Ya, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah niatmu ketika beranjak di Miqat adalah untuk melepaskan pakaian dosa, lalu menggantinya dengan pakaian takwa?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau melepaskan pakaian berjahit, niatmu adalah untuk melepaskan baju riya (ingin pujian manusia), bermuka dua dan segala perbuatan yang menjadi penyebab keraguan?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau melaksanakan mandi dan membersihkan badanmu, niatmu adalah untuk bertaubat dari segala salah dan dosa, lalu mensucikan dan membersihkan dirimu dengan cahaya taubat?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau seperti itu, berarti engkau tidak melaksanakan miqat, tidak melepaskan pakaian berjahit dan tidak mandi. Sekarang katakanlah, apakah engkau telah membersihkan dirimu, memakai baju ihram dan berniat untuk melakukan haji?”

As-Syibli. “Ya, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau membersihkan badanmu dan menghilangkan daki dan kotoran dari badanmu, niatmu adalah melalui taubat, engkau pun turut hilangkan segala kotoran (batin) dari dirimu?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasululullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah sewaktu engkau berniat untuk pergi ke haji dan mengadakan perjanjian dengan Allah, niatmu adalah untuk membatalkan semua perjanjian dengan selain-Nya, lalu melepaskan diri dari segala ikatan dengan selain-Nya?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau seperti itu, berarti engkau belum membersihkan diri, berihram dan belum berjanji untuk berhaji. Sebenarnya apakah engkau telah masuk miqat? Apakah engkau telah melaksanakan salat dua rakaat dan telah mengucapkan talbiyah?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau masuk ke miqat, niatmu adalah untuk menziarahi-Nya?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau melaksanakan salat ihram, niatmu adalah melalui salat tadi  untuk mendekatkan diri kepada-Nya?

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau mengucapkan talbiyah, niatmu adalah hanya dalam ketaatan-Nya, engkau menggunakan lisan-mu dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau begitu engkau belum masuk miqat, belum melaksanakan salat ihram dan belum mengucapkan talbiyah. Apakah engkau telah masuk Haram (pelataran suci)? Apakah engkau telah melihat Ka’bah dan melaksanakan salat?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau masuk Haram, niatmu adalah untuk mengharamkan dirimu dari ghibah kepada setiap pribadi muslim?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau sampai di Makkah, engkau mengingat bahwa engkau sedang menghadap-Nya?”

As-Syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Kalau begitu engkau belum pergi ke Haram, belum melihat Ka’bah dan belum melaksanakan salat. Apakah engkau telah memutari Ka’bah? Apakah engkau telah mengusap semua sudut (rukun) Ka’bah? Apakah engkau telah melaksanakan sa’i dari Shafa menuju Marwah?”

As-Syibli, “Ya, wahai putra Rasulullah”

Imam Ali Zainal Abidin as, “Apakah ketika engkau melaksanakan sa’i, niatmu untuk berlari menuju Tuhan dan hidup di bawah naungan dan lindungan keamanan-Nya, dan Dia yang mengetahui rahasia menyaksikan hal ini?”

As-syibli, “Tidak, wahai putra Rasulullah.”

Bdersambung...