Tafakkur
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa salah satu prinsip ajaran al-Quran adalah menyeru manusia untuk berpikir dan merenung. Manusia yang berpikir akan mampu menyingkap tirai kebodohannya; artinya pada tingkat pertama ia akan mengkaji tentang hal yang ingin dicapainya dan ia temukan hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak diketahuinya kemudian ia pergi melalui pendahuluan-pendahuluannya lalu menyusunnya dari sudut pandang forma dan materinya, dan dari pendahuluan-pendahuluan yang telah ditata dengan baik ia sampai kepada tujuan yang ingin dicapainya.
Dengan demikian tafakkur adalah sebuah perjalanan dalam batin atau gerak dari pendahuluan menuju kesimpulan dan dari ma’lum kepada majhul dimana yang menjadi asasnya adalah ilmu. Dengan kata lain tafakkur adalah sebuah fakultas yang terdapat dalam diri manusia yang kerjanya melakukan inferensi dan penyimpulan berdasarkan hal-hal yang diketahui yang berujung pada pengenalan dan pengetahuan bagi manusia.
Al-Quran pada beberapa ayat menyebutkan tentang kedudukan tinggi para pemikir dan cendekia, “Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang hanya dapat menerima pelajaran.” (Qs. Al-Zumar [39]:9) atau pada ayat lainnya, “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Qs. Al-Zumar [39]:18)
Al-Quran melarang manusia untuk berkata-kata atas apa yang tidak diketahuinya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Qs. Al-Isra [17]:36)
Al-Quran sendiri tidak menyisakan keburaman dalam masalah-masalah tafakkur, bahkan menyeru manusia untuk berpikir dan merenung. Terkadang al-Quran dengan menyebut tafakkur dan ta’aqqul sejatinya menyeru manusia untuk berpikir dan merenung seperti pada ayat, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan membawa apa yang berguna bagi manusia, air yang Allah turunkan dari langit, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering-kerontang), dan Dia tebarkan segala jenis hewan di atas bumi itu, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Qs. Al-Baqarah [2]:164
Pada keseluruhan ayat-ayat dan tanda-tanda ini terdapat pelajaran namun untuk mereka yang berpikir dan menggunakan akalnya.
Terkadang juga tanpa menyebut tafakkur dan ta’aqqul yaitu terkadang pada sebuah ayat, al-Quran tidak mengemukakan ungkapan tafakkur dan ta’aqqul, namun pada ayat tersebut terdapat argumen-argumen rasional dimana penalaran (reasoning) merupakan sejenis motivasi untuk berpikir. Karena itu tidak mesti digunakan misalnya ungkapan, “inna fi dzâlika laâyatin liqaumin yatafakkarun.
Ayat-ayat yang dapat dijadikan sebagai contoh di sini misalnya:
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arasy dari apa yang mereka sifatkan.” (Qs. Al-Anbiya [21]:22)
Dalam beberapa riwayat juga demikian; yaitu sebagaimana al-Quran yang banyak menyeru manusia untuk berpikir seperti “Berpikir sejenak lebih baik daripada ibadah setahun.”[3]
Penegasan yang dilakukan al-Quran untuk membina dan mengembangkan fakultas akal manusia juga menunjukkan bahwa dari sudut pandang al-Quran seorang manusia yang matang adalah seseorang yang banyak berpikir dan mampu mengidentifikasi yang terbaik untuknya. Dari sudut pandang al-Quran, apabila seseorang menggunakan pikiran dan gagasannya dengan baik dan tepat serta bertujuan untuk memahami sebuah hakikat maka ia dapat membedakan antara petunjuk dan kesesatan.[4] Atas dasar itu kita saksikan bahwa penerimaan prinsip-prinsip agama merupakan konklusi dari berpikir secara benar dan tepat,
“Tiada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Oleh karena itu, barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah [2]:256)
Dari ayat ini dapat disimpulkan bahwa faktor utama penyimpangan dan kesesatan manusia adalah karena mereka tidak menggunakan pikiran dan gagasannya dengan tepat dan benar.