Tahun 2025 belum sampai pertengahan, tetapi dunia telah menyaksikan pemandangan yang mencengangkan: langit di atas Israel memerah, bukan karena perang, bukan karena roket atau drone, tapi karena api yang menjalar cepat, membakar hutan, rumah, dan kota-kota mereka. Dalam sekejap, negeri yang selama ini membanggakan sistem keamanannya, teknologi militernya, dan keberpihakan dunia Barat padanya, porak-poranda oleh kobaran api dari bumi sendiri. Ratusan petugas pemadam dikerahkan. Dua belas pesawat pengebom air dikerahkan dari udara. Warga Yahudi di Beit Meir dan Shoeva mengungsi dengan tergesa. Jalan tol antara Tel Aviv dan Yerusalem ditutup. Tak ada yang menyangka: bukan serangan Hamas, bukan rudal dari Hizbullah—melainkan bumi itu sendiri yang seakan murka.
Dan dunia bertanya: mungkinkah ini sekadar bencana alam biasa? Ataukah ini adalah suara langit yang selama ini bungkam, kini mulai bersuara?
Sejak Oktober 2023, Gaza berubah menjadi lautan darah. Lebih dari 42.000 nyawa melayang, sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak. Sebagian dibakar hidup-hidup dalam tenda pengungsian, sebagian hancur di bawah puing-puing rumah mereka. Israel mengklaim sedang membela diri, tapi yang mereka lakukan adalah membunuh seluruh peradaban dalam satu wilayah kecil yang diblokade. Sekolah, rumah sakit, masjid, bahkan tempat ibadah Kristen pun dibom. Itu bukan perang. Itu adalah genosida yang dilakukan secara terang-terangan. Dunia Barat melihatnya, tetapi memilih diam. Organisasi internasional melihatnya, tetapi membatasi diri pada kutukan simbolik. Tetapi bumi melihat semuanya. Langit pun mencatat.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini terasa seperti kenyataan yang diputar ulang di depan mata kita hari ini. Israel merusak tanah Palestina, menghancurkan peradaban, menumpahkan darah tak berdosa, lalu bumi pun menjawab dengan kobaran api. Langit menunjukkan bahwa semua kezaliman, sekuat apa pun ditutupi oleh propaganda dan diplomasi, tetap punya akibat.
Kita sering membayangkan azab Tuhan sebagai kiamat mendadak, petir dari langit, atau air bah yang menenggelamkan segalanya. Padahal Rasulullah bersabda, “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka.” (HR. al-Hakim). Dan dalam hadis lain disebutkan, “Apabila manusia menampakkan kemaksiatan, maka Allah akan menurunkan azab dari langit kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Bukankah yang dilakukan Israel hari ini lebih dari sekadar maksiat? Bukankah mereka membunuh, menyiksa, dan menghancurkan atas nama hukum buatan manusia yang zalim?
Dunia menutup mata ketika anak-anak Gaza gugur setiap hari. Tapi langit tidak. Dan ketika api membakar tanah Israel, itu bukan sekadar insiden iklim. Itu adalah peringatan bahwa keadilan Tuhan tidak pernah tertidur. Api itu datang bukan dari musuh luar. Api itu muncul dari dalam, dari hutan mereka sendiri, dari panas yang menyelimuti, dari udara yang seolah ingin berkata: “cukup.”
Allah berfirman, “Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56). Bumi ini, sebagaimana kehidupan, memiliki ruh dan keadilan tersendiri. Ketika manusia melampaui batas dan membiarkan penindasan menjadi hukum, maka bumi pun akan bereaksi. Kebakaran itu adalah bentuk dari perlawanan semesta terhadap mereka yang merusak dan menumpahkan darah. Tanah yang mereka klaim sebagai “Tanah yang Dijanjikan” menolak mereka. Langit yang mereka sombongi sebagai pelindung, kini justru menurunkan panas dan api.
Ada pesan dalam api. Bahwa kejahatan, sebesar atau sekecil apa pun, tidak akan lepas dari perhitungan Tuhan. Dunia boleh diam. Media boleh dibeli. Hukum bisa dimanipulasi. Tapi hukum Tuhan tidak bisa dibungkam. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Takutlah terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada hijab antara doa itu dengan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan doa jutaan anak yatim Gaza, para ibu yang kehilangan anaknya, para ayah yang kehilangan seluruh keluarganya—doa-doa mereka naik ke langit, dan kini langit menjawab.
Ketika dunia berkata “Israel sedang terbakar,” kita seharusnya tidak sekadar berkata “kasihan.” Kita seharusnya merenung: inilah hukum Tuhan yang hidup. Mereka yang menyulut api di Gaza, kini hidup dalam kepungan api di tanah mereka sendiri. Mereka yang membakar tenda pengungsi, kini lari terbirit-birit dari kobaran api yang tidak bisa dikendalikan. Mereka yang menggusur rakyat Palestina dari rumahnya, kini kehilangan rumah di hadapan panas yang menyengat.
Allah berfirman, “Dan tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kalian, kecuali karena ulah tangan kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30). Api yang turun hari ini bukanlah bentuk pembalasan penuh. Itu hanyalah pengingat. Masih ada waktu untuk bertaubat, bagi siapa pun yang bersedia mendengar suara hati.
Bagi kita umat Islam, ini adalah refleksi besar. Bahwa dunia boleh tidak adil, tetapi Tuhan selalu adil. Bahwa jika hari ini kita menyaksikan bencana di tanah musuh, itu bukan karena kita hebat, tapi karena Allah masih menunjukkan kepada kita tanda-tanda kekuasaan-Nya. Agar kita tidak lengah. Agar kita tetap berpihak pada keadilan. Agar kita tahu bahwa doa-doa kita, sekecil apa pun, punya gema di langit.
Bumi sedang berbicara. Langit sedang menegur. Api sedang memberi pesan: bahwa darah 42.000 jiwa tidak mengalir sia-sia. Bahwa genosida tidak akan pernah dibiarkan tak dihukum. Bahwa kezaliman, sekuat apa pun ia menindas, tetap akan jatuh—kalau bukan oleh manusia, maka oleh semesta.