@laravelPWA
Dimensi Teologis Hadis Silsilah Emas: Tauhid dan Ketaatan Ilahiah
  • Judul: Dimensi Teologis Hadis Silsilah Emas: Tauhid dan Ketaatan Ilahiah
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 2:38:1 9-6-1404

Riwayat ini sangat penting, baik dari sisi periwayatan maupun dari sisi isi kandungan teologisnya. Imam menekankan bahwa Tauhid adalah fondasi dari seluruh struktur iman. Ketika seseorang mengucapkan ‘tiada Tuhan selain Allah’, maka itu berarti tidak ada yang layak ditaati secara mutlak selain Allah. Segala bentuk ketaatan dalam hidup harus kembali kepada prinsip ini. Bahkan ketaatan kepada Rasulullah pun bukan karena pribadi beliau, tetapi karena perintah dari Allah. Selama tidak ada otoritas Ilahi yang memerintahkan ketaatan, maka tidak ada satu pun makhluk yang berhak ditaati mutlak.

Tauhid dan Imamah: Dua Pilar Kesempurnaan Iman

Apa yang disampaikan Imam ar-Ridha a.s, tersebut sejatinya sejalan dengan prinsip-prinsip utama dalam Al-Quran, seperti yang terdapat dalam QS. Fussilat: 30:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka dan berkata: ‘Janganlah kalian takut dan bersedih hati, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian.”

Ayat ini menegaskan bahwa Tauhid sejati tidak cukup dengan pengakuan lisan, tetapi harus disertai dengan istiqamah atau konsistensi. Konsistensi itu berarti menjadikan Tauhid sebagai bingkai seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam relasi sosial, sikap politik, dan pilihan spiritual.

Konsistensi Tauhid dalam Jalan Imamah

Tauhid kepada Allah berkonsekuensi pada ketaatan kepada Rasulullah S.A.W. Menerima risalah adalah bentuk istiqamah. Demikian pula, menerima penerus risalah dalam bentuk Imamah juga bagian dari istiqamah. Artinya, menerima Allah sebagai Tuhan berarti menerima seluruh konsekuensi Tauhid, termasuk Risalah dan Imamah.

Keimanan kepada Allah menuntut kita untuk menerima segala bentuk perintah dan garis keturunan otoritas Ilahi. Imam ar-Ridha dalam hal ini menegaskan bahwa menerima Risalah Rasulullah Saw. adalah bentuk istiqamah, dan menerima para penerus risalah (para Imam a.s.) adalah konsekuensi logis dari komitmen Tauhid. Dengan demikian, Wilayah dan Imamah merupakan bagian tak terpisahkan dari Tauhid yang kita imani dan ikuti. []