@laravelPWA
Bagaimana Masyarakat Indonesia Tetap Setia pada Warisan Evolusi Rasa (1)
  • Judul: Bagaimana Masyarakat Indonesia Tetap Setia pada Warisan Evolusi Rasa (1)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 20:51:15 8-6-1404

Preferensi rasa manusia bukan sekadar soal pilihan pribadi—rasa ini memiliki akar yang mendalam dalam sejarah evolusi kita dan dibentuk oleh naluri bertahan hidup. Sejak lahir, indra pengecap kita membimbing kita menuju makanan yang memastikan kelangsungan hidup sambil menjauhkan kita dari bahaya potensial. Di Indonesia, cetak biru evolusi ini terus memengaruhi kehidupan modern, mulai dari tradisi kuliner hingga bahkan rasa rokok. Sementara banyak negara lain telah beradaptasi dengan pengaruh eksternal seperti pemasaran atau globalisasi, masyarakat Indonesia tetap teguh pada selera yang dianggap penting oleh evolusi untuk bertahan hidup: preferensi kuat terhadap rasa manis dan penolakan terhadap rasa pahit.

Akar Evolusi dari Rasa Manis

Sejak lahir, manusia menunjukkan preferensi universal terhadap rasa manis. Ketertarikan bawaan ini bukanlah kebetulan—ini berevolusi sebagai mekanisme bertahan hidup. Rasa manis mengindikasikan makanan padat energi seperti buah matang, air susu ibu dan sumber kalori tinggi lainnya yang esensial untuk pertumbuhan dan pemenuhan gizi. Studi oleh Birch & Marlin (1982) menunjukkan bahwa bayi baru lahir di semua budaya merespons positif terhadap rasa manis, menghisap lebih kuat pada dot yang diberi larutan manis dan menunjukkan tanda-tanda jelas kepuasan.

Di Indonesia, dorongan evolusioner terhadap rasa manis meresap ke setiap aspek kehidupan sehari-hari. Hidangan tradisional sering kali menyeimbangkan rasa manis, asam, asin dan umami, namun rasa manis memainkan peran utama. Masakan ikonik seperti rendang, gado-gado dan martabak menggunakan gula aren, santan atau kecap manis untuk menciptakan cita rasa kaya dan lezat. Bahkan camilan seperti pisang goreng dan klepon merayakan rasa manis sebagai fondasi kuliner Indonesia.

Keluarga juga memainkan peran penting dalam memperkuat preferensi ini. Anak-anak diajarkan untuk menyukai makanan manis sejak dini melalui resep turun-temurun yang dilestarikan oleh ibu dan nenek mereka. Pasar tradisional menjadi ruang bagi pelestarian selera ini, di mana bahan-bahan seperti gula merah, santan dan rempah-rempah segar masih mendominasi, memastikan bahwa rasa manis tetap menjadi inti dari identitas kuliner bangsa.

Manifestasi Budaya di Indonesia

Preferensi terhadap rasa manis tidak hanya terlihat dalam kuliner, tetapi juga dalam kebiasaan merokok. Tidak seperti banyak negara lain di mana rokok cenderung memiliki rasa pahit dan keras, perokok Indonesia lebih menyukai opsi yang lebih manis. Merek-merek seperti Dji Sam Soe dan Sampoerna A Mild diberi sedikit rasa manis, membuatnya lebih enak dan menarik. Aroma manis dari rokok kretek, yang menggabungkan tembakau dengan cengkeh dan rempah-rempah, semakin memperkuat afinitas budaya Indonesia terhadap rasa manis. Bagi orang Indonesia, tindakan merokok menjadi kurang tentang menahan kepahitan dan lebih tentang menikmati pengalaman sensorik yang sesuai dengan preferensi rasa evolusioner mereka.

Faktor sosial dan budaya juga memperkuat preferensi ini. Acara adat seperti hajatan atau syukuran kerap menyajikan hidangan manis sebagai lambang kebahagiaan dan keberkahan. Hal ini membuat rasa manis tidak hanya sekadar pilihan rasa, tetapi juga bagian dari identitas sosial masyarakat Indonesia.