@laravelPWA
Sikap Toleransi dan Moderasi dalam Beragama: Bukti Maturitas dari Sebuah Bangsa (1)
  • Judul: Sikap Toleransi dan Moderasi dalam Beragama: Bukti Maturitas dari Sebuah Bangsa (1)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 2:7:22 10-6-1404

Pendahuluan

Indonesia, sebagai negara dengan keberagaman agama, suku, dan budaya, telah membuktikan kepada dunia bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun dan menciptakan kedamaian. Prinsip ini berakar dari nilai-nilai Pancasila, terutama sila pertama yang menegaskan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pancasila bukan sekadar warisan sejarah, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman, sebagaimana tercermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika—”Berbeda-beda tetapi tetap satu.”

Melalui refleksi sejarah, bangsa Indonesia telah menunjukkan semangat patriotisme, persatuan, dan toleransi dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Nilai-nilai ini tetap relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, di mana sikap toleransi dan moderasi beragama menjadi kunci utama dalam membangun masyarakat yang harmonis.

Toleransi dan Moderasi Beragama dalam Kehidupan Bermasyarakat

Agama, bagi banyak orang, bukan sekadar tuntunan spiritual, tetapi juga pedoman dalam mengatur seluruh aspek kehidupan. Dalam konteks bernegara, ajaran agama sering kali berpengaruh terhadap hukum dan kebijakan. Filsuf politik Leaman mengungkapkan bahwa bahkan dalam modernisme, kecenderungan terhadap teokrasi masih ada—menunjukkan betapa eratnya hubungan antara agama dan tata kelola negara.

Di Indonesia, toleransi dan moderasi beragama menjadi strategi kebudayaan dalam merawat perdamaian. Sikap ini tidak hanya mencegah konflik akibat perbedaan keyakinan, tetapi juga mencerminkan kedewasaan suatu bangsa dalam menghadapi keberagaman. Dengan populasi yang pluralistik, mencakup berbagai suku, bahasa, dan agama, Indonesia membutuhkan kesadaran kolektif untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam keberagaman agar dapat saling mengenal, sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Ayat ini menegaskan bahwa keberagaman bukan alasan untuk berpecah belah, melainkan sebagai peluang untuk saling mengenal, berinteraksi, dan membangun kebersamaan. Sikap toleransi dalam beragama menjadi bagian dari karakter bangsa, khususnya bagi generasi muda yang rentan terhadap perpecahan akibat fanatisme sempit.

Prestasi Indonesia dalam Menerapkan Toleransi Beragama

Komitmen Indonesia terhadap toleransi beragama diakui di tingkat global. Pada 1 Juni 2023, Indonesia meraih predikat “Top Muslim Friendly Destination of The Year 2023” dalam ajang Mastercard Crescent Rating Global Muslim Travel Index 2023 di Singapura. Penghargaan ini menunjukkan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, mampu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua agama.

Faktor utama di balik pencapaian ini adalah budaya gotong royong dan keramahan masyarakat Indonesia. Sikap inklusif ini tidak hanya menjaga keharmonisan internal, tetapi juga menarik perhatian dunia, terutama wisatawan mancanegara yang mencari destinasi dengan tingkat toleransi yang tinggi.