@laravelPWA
Saling Menyapa dengan Mesra dan Sopan
  • Judul: Saling Menyapa dengan Mesra dan Sopan
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 2:7:22 10-6-1404

Imam Shadiq a.s. berkata, “Senyum dan bermuka ramah terhadap sesama muslim memiliki pahala satu kebaikan.” (Biharul Anwar, jilid 75, hal 145)

Sayangnya, banyak dari kita yang  terbiasa obral senyum dan bermuka ramah kepada orang lain, namun justru pelit senyum dan bermuka masam kepada belahan jiwa, suami atau istri. Di masa bulan madu, ungkapan, panggilan, dan kata-kata yang keluar dari pasangan suami istri biasanya penuh kasih sayang, kemesraan, dan kesopanan, yayangku, cintaku, jantung hatiku, belahan jiwaku, istriku tersayang, suamiku tersayang, istriku tercinta, suamiku tercinta… Pengantin baru biasanya sangat menjaga perasaan pasangannya sehingga menghindari kata-kata dan panggilan yang menyakitkan dan sinis.

“Tolong ambilkan bajuku dong, Say..!”

“Tolong antarkan aku ke pasar ya, Yang?”

“Yayang tidak sedang repot kan? Tolong buatkan teh hangat buatku ya?”

“Darling, kalau sudah tidak capek lagi, tolong angkatin jemuran ya…”

Seiring dengan berlalunya waktu, terjadi pula perubahan dalam gaya bicara.

“Ma! Bajuku mana?! Cepetan! Udah hampir telat nih!”

“Ayo dong Pa! Lama amat?! Anterin Mama ke pasar!”

“Tehnya mana? Dari tadi ditungguin!”

“Paaa..! Angkatin jemuraaan..! Keburu hujan tuh!”

Ketika usia bertambah, anak-anak juga semakin besar, mungkin muncul perasaan sungkan, “Masa sih sudah  tua harus panggil sayang-sayangan…malu dong sama anak-anak!” Padahal kita bisa menyiasatinya. Bila ketika belum punya anak, ungkapan yang digunakan, “Sayangku…!”, ketika sudah ada anak, kita bisa menggunakan ungkapan “Mama sayang…”  atau  “Papa sayang…”.

Ungkapan-ungkapan mesra seperti ini kendati kelihatannya sepele, namun dampaknya sangat luar biasa dalam membina rumah tangga yang harmonis. Selain memberikan dampak positif terhadap pasangan suami-istri, yaitu menambah rasa cinta dan kasih sayang, juga akan memberi pengaruh terhadap anak-anak. Anak-anak akan merasa bahagia bila melihat kedua orang tuanya senantiasa rukun dan saling mencintai. Mereka juga belajar untuk saling menyayangi sesama anggota keluarga. Kelak ketika menikah, mereka pun terbiasa untuk berkata-kata yang baik kepada pasangan.

Bersambung ...