Imbauan tersebut membuat Jabir menghadiri pertemuan dan
diskusi ilmiah Imam Muhammad Baqir as. Sepeninggal Imam
Muhammad Baqir as, Jabir menangis kala mengingat kasih
sayang beliau dan mengenang kembali pesan-pesan lain
Imam. Imam Muhammad Baqir as berkata, “Wahai Jabir,
orang yang merasakan kenikmatan mengingat Allah Swt
dalam dirinya, maka hatinya tidak akan terjerat (cinta)
dengan sesuatu yang lain. Para pencari Allah tidak
mengandalkan dunia ini dan tidak pula bergantung
padanya. Maka berusahalah menjaga apa yang telah
diamanatkan oleh Allah Swt dari agama dan hikmah-Nya
kepadamu.”
Tugas terpenting Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as
adalah membimbing umat manusia menuju jalan
kebahagiaan. Oleh karena itu, masing-masing mereka
melaksanakan tugas tersebut dengan cara yang berbeda
sesuai dengan kondisi sosial dan politik pada masa itu.
Pada masa kepemimpinan Imam Muhammad Baqir as yang
berlangsung selama 19 tahun, kondisi memungkinkan
beliau untuk beraktivitas menjelaskan dan memperluas
maarif Islam. Beliau diberi gelar nama “Baqir al-Ulum”
yang berarti pemecah ilmu-ilmu.
Gelar tersebut diberikan langsung oleh Rasulullah Saw.
Hal ini disebutkan dalam berbagai riwayat baik dari
Syiah maupun Sunni. Bihar al-Anwar, Amali (Syeikh
Saduq) dan Uyun al-Akhbar, adalah di antara sumber-
sumber riwayat tersebut dari kalangan Syiah. Sementara
dari Ahlusunnah, riwayat tersebut bersumber dari kitab
sejarah milik Ibn Asakir dan Tadzkira al-Khawas ibn
Juzi.
Diriwayatkan salah seorang sahabat Rasulullah Saw
bernama Jabir bin Abdullah Ansari mengatakan, suatu
hari, Rasulullah Saw berkata kepadaku: “Sepeninggalku,
kau akan melihat akan ada seseorang dari keturunanku
yang namanya sama dengan namaku. Dia akan memecah ilmu
dan membuka pintu ilmu bagi masyarakat.”
Imam Muhammad Baqir as sangat memperhatikan masalah
belajar dan perluasan ilmu pengetahuan. Pada
hakikatnya, dapat dikatakan beliau adalah peletak
pondasi gerakan ilmiah dan budaya dunia Islam. Imam
Muhammad Baqir as dengan sangat teliti dan terperinci,
memilah-milah dan menganalisa berbagai masalah ilmiah
dan fikih. Menurut para perawi sejarah Islam, melalui
berbagai aktivitas ilmiah yang yang sangat luas dan
mendalam, Imam Muhamamd Baqir as menghembuskan semangat
baru untuk kehidupan ilmiah dan maarif Islam.
Di antara upaya Imam Muhammad Baqir as adalah
penjelasan masalah-masalah teologi dalam berbagai acara
diskusi dengan para ulama dan ilmuwan di masanya.
Metode diskusi termasuk di antara metode efektif untuk
menumbuhkan dan meningkatkan gerakan ilmiah dalam
masyarakat Islam. Diskusi itu dilakukan berdasarkan
asas perhatian dan penghormatan terhadap pendapat pihak
lawan dan juga pemberian kesempatan untuk mengemukakan
pendapat.
Imam Baqir as dalam hal ini mengatakan, “Para ilmuwan
harus lebih tamak untuk mendengar pendapat. Selain
mengasah kepiawaian berbicara, mereka juga harus
meningkatkan kemampuan untuk mendengar dengan baik.”
Beliau juga mengatakan, “Ketika kamu duduk bersama
seorang ilmuwan, maka hendaknya kau belajar untuk lebih
tamak dalam mendengar ketimbang berbicara serta
menyimak dengan baik. Sebagaimana kau mempelajari
berbicara dengan baik, jangan kamu potong ucapan siapa
pun.” Oleh karena itu, dengan menggelar berbagai acara
diskusi dengan para ilmuwan bahkan dari kelompok
penentang, Imam Muhammad Baqir as telah memperluas
ilmu-ilmu Islam.
Dengan kata lain, Imam Muhammad Baqir as bukan hanya
menjadi peletak pondasi metode perspektif baru dalam
sejarah Islam. Beliau juga memiliki program untuk
perluasan ilmu pengetahuan serta memberikan mekanisme
rapi dan rasional untuk menjelaskan dan memaparkan ilmu
dan maarif agama.
Di antara perjuanan ilmiah Imam Muhammad Baqir as
adalah pembentukan universitas maarif Islam dan
pendidikan banyak murid di berbagai cabang ilmu. Jumlah
murid Imam Muhammad Baqir as mencapai 465 orang.
Masing-masing sahabat dan murid beliau menghafal ribuan
hadis dan dalam banyak kesempatan, hadis-hadis tersebut
disusun dan dikumpulkan.
Asas dan prinsip setiap aksi dan amal adalah wacana dan
perspektif. Jika ilmu pengetahuan diharapkan meluas
dalam masyarakat, maka tahap awalnya adalah menekankan
pentingnya mencari ilmu, nilai dan kemuliaan para guru
dan ulama, tujuan menimba ilmu serta pengaruhnya. Imam
Muhammad Baqir as dalam menyebarkan wacana serta
mempersiapkan penimbaan ilmu, telah mengambil langkah-
langkah efektif dan mengemukakan hadis-hadis berharga
untuk menciptakan semangat menimba ilmu. Untuk hal ini,
beliau mengatakan, “Ilmu adalah khazanah dan kuncinya
adalah pertanyaan. Maka bertanyalah sehingga Allah Swt
akan merahmati kalian; karena bertanya akan
mendatangkan pahala untuk empat orang: penanya, guru,
pendengar, dan orang yang menjawab.”
Salah satu langkah lain Imam Muhammad Baqir as dalam
jihad ilmiah adalah upaya untuk menjaga budaya dan
maarif agama dengan mengabadikannya dalam buku dan
catatan. Keistimewaan langkah Imam Muhammad Baqir as
menunjukkan pengaruhnya pada masa gerakan ilmiah Imam
Ja’far Sadiq as.
Beliau juga menunjukkan perjuangan gigih untuk menajga
ilmu pengetahuan tetap berada di luar jangkauan rezim
berkuasa, para khalifah Bani Umayah. Tidak boleh
dilupakan bahwa para Khalifah Bani Umayah berusaha
menisbatkan gerakan ilmiah dalam masyarakat Islam itu
kepada istana. Akan tetapi cara yang ditempuh Imam
Muhammad Baqir as melawan upaya tersebut adalah
memperkokoh pondasi gerakan ilmiah di seluruh wialyah
umat Islam. Demi mengacu tujuan tersebut, beliau juga
meningkatkan gerakan penerjemahan. Perlu diingat pula
bahwa Imam Muhammad Baqir as juga sangat menekankan
perluasan dan pengembangan ilmu. Beliau mengatakan,
“Zakat ilmu adalah dengan mengajarkannya kepada para
hamba Allah.”
Imam Muhammad Baqir as, di samping berbagai aktivitas
ilmiah, beliau juga berjuang untuk mengislah urusan
sosial dan menentang kezaliman. Oleh karena itu, beliau
selalu menjadi target kebencian dan makar para penguasa
Bani Umayah, yaitu Hisham bin Abdulmalik. Permusuhan
itu sedemikian rupa sehingga beliau secara paksa
direlokasi ke pusat pemerintahan Bani Umayah, yaitu di
Syam (Suriah sekarang). Dengan demikian, rezim penguasa
dapat dengan ketat mengawasi seluruh aktivitas beliau.
Belum cukup, Imam Baqir as juga sempat dijebloskan ke
penjara.
Namun cara-cara itu terbukti tidak efektif dalam
mencegah perjuangan ilmiah dan anti-kezaliman Imam
Muhammad Baqir as. Bahkan kehadiran beliau di Syam
justru berdampak negatif bagi kekuasaan Hisham bin
Abdulmalik. Oleh karena itu dia memutuskan untuk
memulangkan Imam ke Madinah. Namun, di mana pun beliau
berada, beliau bersinar bak matahari yang menerangi
jalan umat Islam. Sebab itu pula, Hisham akhirnya
membunuh Imam Baqir as dengan racun.