@laravelPWA
Imam Muhammad Baqir as, Peletak Pondasi Gerakan Ilmiah Islam
  • Judul: Imam Muhammad Baqir as, Peletak Pondasi Gerakan Ilmiah Islam
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 20:17:59 9-6-1404

Imbauan tersebut membuat Jabir menghadiri pertemuan dan

diskusi ilmiah Imam Muhammad Baqir as. Sepeninggal Imam

Muhammad Baqir as, Jabir menangis kala mengingat kasih

sayang beliau dan mengenang kembali pesan-pesan lain

Imam. Imam Muhammad Baqir as berkata, “Wahai Jabir,

orang yang merasakan kenikmatan mengingat Allah Swt

dalam dirinya, maka hatinya tidak akan terjerat (cinta)

dengan sesuatu yang lain. Para pencari Allah tidak

mengandalkan dunia ini dan tidak pula bergantung

padanya. Maka berusahalah menjaga apa yang telah

diamanatkan oleh Allah Swt dari agama dan hikmah-Nya

kepadamu.”

 

Tugas terpenting Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as

adalah membimbing umat manusia menuju jalan

kebahagiaan. Oleh karena itu, masing-masing mereka

melaksanakan tugas tersebut dengan cara yang berbeda

sesuai dengan kondisi sosial dan politik pada masa itu.

Pada masa kepemimpinan Imam Muhammad Baqir as yang

berlangsung selama 19 tahun, kondisi memungkinkan

beliau untuk beraktivitas menjelaskan dan memperluas

maarif Islam. Beliau diberi gelar nama “Baqir al-Ulum”

yang berarti pemecah ilmu-ilmu.

 

Gelar tersebut diberikan langsung oleh Rasulullah Saw.

Hal ini disebutkan dalam berbagai riwayat baik dari

Syiah maupun Sunni. Bihar al-Anwar, Amali (Syeikh

Saduq) dan Uyun al-Akhbar, adalah di antara sumber-

sumber riwayat tersebut dari kalangan Syiah. Sementara

dari Ahlusunnah, riwayat tersebut bersumber dari kitab

sejarah milik Ibn Asakir dan Tadzkira al-Khawas ibn

Juzi.

 

Diriwayatkan salah seorang sahabat Rasulullah Saw

bernama Jabir bin Abdullah Ansari mengatakan, suatu

hari, Rasulullah Saw berkata kepadaku: “Sepeninggalku,

kau akan melihat akan ada seseorang dari keturunanku

yang namanya sama dengan namaku. Dia akan memecah ilmu

dan membuka pintu ilmu bagi masyarakat.”

 

Imam Muhammad Baqir as sangat memperhatikan masalah

belajar dan perluasan ilmu pengetahuan. Pada

hakikatnya, dapat dikatakan beliau adalah peletak

pondasi gerakan ilmiah dan budaya dunia Islam. Imam

Muhammad Baqir as dengan sangat teliti dan terperinci,

memilah-milah dan menganalisa berbagai masalah ilmiah

dan fikih. Menurut para perawi sejarah Islam, melalui

berbagai aktivitas ilmiah yang yang sangat luas dan

mendalam, Imam Muhamamd Baqir as menghembuskan semangat

baru untuk kehidupan ilmiah dan maarif Islam.

 

Di antara upaya Imam Muhammad Baqir as adalah

penjelasan masalah-masalah teologi dalam berbagai acara

diskusi dengan para ulama dan ilmuwan di masanya.

Metode diskusi termasuk di antara metode efektif untuk

menumbuhkan dan meningkatkan gerakan ilmiah dalam

masyarakat Islam. Diskusi itu dilakukan berdasarkan

asas perhatian dan penghormatan terhadap pendapat pihak

lawan dan juga pemberian kesempatan untuk mengemukakan

pendapat.

 

Imam Baqir as dalam hal ini mengatakan, “Para ilmuwan

harus lebih tamak untuk mendengar pendapat. Selain

mengasah kepiawaian berbicara, mereka juga harus

meningkatkan kemampuan untuk mendengar dengan baik.”

Beliau juga mengatakan, “Ketika kamu duduk bersama

seorang ilmuwan, maka hendaknya kau belajar untuk lebih

tamak dalam mendengar ketimbang berbicara serta

menyimak dengan baik. Sebagaimana kau mempelajari

berbicara dengan baik, jangan kamu potong ucapan siapa

pun.” Oleh karena itu, dengan menggelar berbagai acara

diskusi dengan para ilmuwan bahkan dari kelompok

penentang, Imam Muhammad Baqir as telah memperluas

ilmu-ilmu Islam.

 

Dengan kata lain, Imam Muhammad Baqir as bukan hanya

menjadi peletak pondasi metode perspektif baru dalam

sejarah Islam. Beliau juga memiliki program untuk

perluasan ilmu pengetahuan serta memberikan mekanisme

rapi dan rasional untuk menjelaskan dan memaparkan ilmu

dan maarif agama.

 

Di antara perjuanan ilmiah Imam Muhammad Baqir as

adalah pembentukan universitas maarif Islam dan

pendidikan banyak murid di berbagai cabang ilmu. Jumlah

murid Imam Muhammad Baqir as mencapai 465 orang.

Masing-masing sahabat dan murid beliau menghafal ribuan

hadis dan dalam banyak kesempatan, hadis-hadis tersebut

disusun dan dikumpulkan.

 

Asas dan prinsip setiap aksi dan amal adalah wacana dan

perspektif. Jika ilmu pengetahuan diharapkan meluas

dalam masyarakat, maka tahap awalnya adalah menekankan

pentingnya mencari ilmu, nilai dan kemuliaan para guru

dan ulama, tujuan menimba ilmu serta pengaruhnya. Imam

Muhammad Baqir as dalam menyebarkan wacana serta

mempersiapkan penimbaan ilmu, telah mengambil langkah-

langkah efektif dan mengemukakan hadis-hadis berharga

untuk menciptakan semangat menimba ilmu. Untuk hal ini,

beliau mengatakan, “Ilmu adalah khazanah dan kuncinya

adalah pertanyaan. Maka bertanyalah sehingga Allah Swt

akan merahmati kalian; karena bertanya akan

mendatangkan pahala untuk empat orang: penanya, guru,

pendengar, dan orang yang menjawab.”

 

Salah satu langkah lain Imam Muhammad Baqir as dalam

jihad ilmiah adalah upaya untuk menjaga budaya dan

maarif agama dengan mengabadikannya dalam buku dan

catatan. Keistimewaan langkah Imam Muhammad Baqir as

menunjukkan pengaruhnya pada masa gerakan ilmiah Imam

Ja’far Sadiq as.

 

Beliau juga menunjukkan perjuangan gigih untuk menajga

ilmu pengetahuan tetap berada di luar jangkauan rezim

berkuasa, para khalifah Bani Umayah. Tidak boleh

dilupakan bahwa para Khalifah Bani Umayah berusaha

menisbatkan gerakan ilmiah dalam masyarakat Islam itu

kepada istana. Akan tetapi cara yang ditempuh Imam

Muhammad Baqir as melawan upaya tersebut adalah

memperkokoh pondasi gerakan ilmiah di seluruh wialyah

umat Islam. Demi mengacu tujuan tersebut, beliau juga

meningkatkan gerakan penerjemahan. Perlu diingat pula

bahwa Imam Muhammad Baqir as juga sangat menekankan

perluasan dan pengembangan ilmu. Beliau mengatakan,

“Zakat ilmu adalah dengan mengajarkannya kepada para

hamba Allah.”

 

Imam Muhammad Baqir as, di samping berbagai aktivitas

ilmiah, beliau juga berjuang untuk mengislah urusan

sosial dan menentang kezaliman. Oleh karena itu, beliau

selalu menjadi target kebencian dan makar para penguasa

Bani Umayah, yaitu Hisham bin Abdulmalik. Permusuhan

itu sedemikian rupa sehingga beliau secara paksa

direlokasi ke pusat pemerintahan Bani Umayah, yaitu di

Syam (Suriah sekarang). Dengan demikian, rezim penguasa

dapat dengan ketat mengawasi seluruh aktivitas beliau.

Belum cukup, Imam Baqir as juga sempat dijebloskan ke

penjara.

 

Namun cara-cara itu terbukti tidak efektif dalam

mencegah perjuangan ilmiah dan anti-kezaliman Imam

Muhammad Baqir as. Bahkan kehadiran beliau di Syam

justru berdampak negatif bagi kekuasaan Hisham bin

Abdulmalik. Oleh karena itu dia memutuskan untuk

memulangkan Imam ke Madinah. Namun, di mana pun beliau

berada, beliau bersinar bak matahari yang menerangi

jalan umat Islam. Sebab itu pula, Hisham akhirnya

membunuh Imam Baqir as dengan racun.