Banyak dari kalangan orientalis yang mengakui bahwa
ajaran yang dibawakan oleh Al-Qur’an jauh lebih tinggi
dari pemikiran manusia biasa. Namun mereka keberatan
mengakui bahwa Al-Qur’an memang wahyu. Akhirnya mereka
beranggapan bahwa Al-Qur’an menjiplak wahyu-wahyu dalam
kitab Taurat.
Padahal, jika seandainya semua ajaran langit terjaga
kemurniannya hingga saat ini, kita akan mendapati inti
dari ajaran-ajaran tersebut sama; karena semua berasal
dari satu sumber: Tuhan yang Maha Kuasa. Namun bukan
berarti kemiripan dan kesamaan itu adalah dalil bahwa
yang satu berasal dari yang lainnya.
Para orientalis yang berpandangan demikian di
antaranya:
1. Montgomery Watt
Dia seorang orientalis Inggris dan guru bahasa Arab di
Universitas Edinburgh. Dia menulis: Muhammad memandang
baik ajaran-ajaran Yauhdi dan dia juga memanfaatkan
wahyu-wahyu dari Injil dengan baik. Tapi ia sering kali
berusaha untuk mendekatkan ajaran-ajaran yang dia bawa
dengan ajaran Yahudi.
2. Bernard Lewis
Seorang orientalis Yahudi yang berpendapat tentang
sumber Al-Qur’an demikian: Jelas bahwa nabi umat Islam
menerima banyak pengaruh dari ajaran-ajaran Yahudi dan
Kristen. Ajaran-ajaran tauhid yang ada dalam Al-Qur’an
adalah termasuk dari bukti-buktinya. Selain itu, Al-
Qur’an juga sering kali menukil kisah-kisah yang memang
ada di Taurat dan Injil. Jelas Muhammad sering
mendengar kisah-kisah tersebut dari para pedagang yang
pernah mempelajarinya dari kaum Yahudi.
3. Loot
Salah seorang orientalis yang berpendapat tentang
Huruf-Huruf Terpotong Al-Qur’an demikian: Sepertinya
Muhammad berhutang budi kepada kaum Yahudi Madinah
dalam mendesain Huruf-Huruf Terpotong Al-Qur’an. Karena
saat ia berhijrah ke Madinah, ada kemungkinan ia
mempelajari hal itu lalu mempraktekkannya pada surah-
surah Madaniah.
Pendapatnya begitu aneh. Karena di antara 29 surah yang
di awalnya terhadap Huruf-Huruf Terpotong 27 darinya
adalah surah Makkiyah.
4. Richard Bell
Ia pernah menulis sebuah buku yang berjudul Mukadimah
Qur’an. Ia menulis: Dalam urusan kisah-kisah, Al-Qur’an
bertumpu pada Perjanjian Lama. Kisah-kisah seperti kaum
‘Ad dan Tsamud, sebelumnya memang sudah tercatat dalam
literatur berbahasa Arab. Namun kebanyakan kisah-kisah
yang dibawakan Muhammad berasal dari kitab-kitab Yahudi
dan Kristen. Saat Muhammad ada di Madinah, ia memiliki
banyak kesempatan untuk mengenal ajaran Yahudi,
berbincang-bincang dengan minoritas umat Yahudi
setempat dan bahkan mempelajari sebagian dari kitab-
kitab nabi Musa.
5. Yusuf Haddad,
seorang pendeta Kristen dalam
Mukadimah Qur’an, yang berpendapat hampir sama dengan
orienali lainnya.
Selain lima orientlis di atas, masih banyak di kalangan
mereka yang melontarkan syubhat demikian.
JAWABAN :
Menjawab syubhat di atas
Memang tidak ada yang mengingkari bahwa Tuarat lebih
dahulu diturunkan ketimbang Al-Qur’an. Banyak juga
persamaan isi kitab Taurat dan Al-Qur’an. Namun
kemiripan dan persamaan tersebut bukan saksi
bersumbernya Al-Qur’an dari Taurat. Ya, hal itu bisa
dijadikan bukti bahwa sumber Taurat dan Al-Qur’an
adalah satu: Tuhan.
Di masa hayat Rasulullah saw, Taurat dan Injil masih
belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Bukan hanya
nabi Muhammad saw tidak mengerti bahasa Ibrani, bahkan
beliau pun tidak bisa membaca. Lagi pula tidak ada
fakta sejarah yang membuktikan bahwa Rasulullah saw
mempelajari ajaran-ajaran Yahudi dan Kristen.
Al-Qur’an pernah meminta para penganut ajaran kitab-
kitab suci untuk menujukkan kitab-kitab mereka itu
kepadas sang nabi, agar beliau membuktikan di mana
letak tahrif dalam kitab-kitab mereka. Hal ini
membuktikan ketidaksamaan Al-Qur’an dengan kitab-kitab
suci itu.
Bagaimana mungkin Al-Qur’an berasal dari Taurat
sedangkan Al-Qur’an sering kali mencela dan
mengkafirkan Bani Israil seburuk-buruknya.
Sebagian dari orientalis membuktikan pendapat mereka
dengan mengatakan bahwa Rasulullah banyak berhubungan
dengan Rahib Buhaira dan Waraqah bin Naufal. Namun hal
itu bisa ditepis dengan fakta bahwa pertemuan beliau
dengan keduanya tidaklah sedemikian lama yang sekiranya
Rasulullah saw bisa mempelajari ajaran-ajaran Yahudi
dan Kristen dari mereka.
Pada dasarnya kriteria-kriteria dan etika para nabi
mirip dan sama. Hal itu dikarenakan mereka adalah
utusan satu Tuhan dan satu ajaran Tauhid.
Jika memang Al-Qur’an bersumber dari Perjanjian Lama,
atau bahkan jika Al-Qur’an disebut “Taurat Versi Arab”
sebagaimana yang disebutkan oleh Yusuf Darrah Haddad,
lalu mengapa terjemahan bahasa Arab dari kitab Taurat
itu sendiri tidak dsiebut sebagai wahyu tersendiri?
Alhasil adanya persamaan dalam kandungan-kandungan yang
dibawa oleh kitab suci Al-Qur’an dan kitab-kitab suci
lainnya tidak bisa dijadikan bukti bahwa Al-Qur’an
adalah jiplakan kitab suci sebelumnya. Hal itu hanya
bisa dijadikan bukti adanya Satu Sumber yang mana Al-
Qur’an dan kitab-kitab suci berasal dari-Nya.