@laravelPWA
Nilai Kehidupan Menurut Al-Quran
  • Judul: Nilai Kehidupan Menurut Al-Quran
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 20:17:59 9-6-1404

Untuk menganalisa pandangan al-Quran tentang kehidupan,

maka pada langkah awal, penting bagi kita untuk

mengetahui bagaimana al-Quran memberikan pandangannya

tentang dunia. Sehubungan dengan ini, ada dua pendapat

penting yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:
Salah satunya adalah teori-teori yang dilontarkan oleh

kebanyakan pemeluk agama Hindu dan mayoritas pengikut

tasawuf, mereka beranggapan bahwa dunia tidaklah

memiliki nilai dan arti apapun serta bukan merupakan

suatu hal yang penting dan fundamental untuk

diperhatian, dengan keyakinan dan kepercayaan yang

dimilikinya ini mereka mengajarkan kepada murid-murid

dan para pengikutnya untuk menyepi, bertapa,

mengasingkan diri, dan menghindarkan diri dari

keramaian masyarakat. Menurut kelompok ini, dunia

secara esensial merupakan sebuah fenomena dan realitas

yang buruk dan tercela dimana apabila manusia

memberikan nilai dan perhatian kepadanya, maka hal ini

akan menjerumuskan mereka ke arah kerusakan,

penderitaan, kesengsaraan, dan penyesalan.
Solusi serta jalan yang bisa dilakukan untuk mencapai

keselamatan, puncak kesempurnaan, serta kebahagiaan

hanyalah dengan cara mengesampingkan diri dan alienasi

dari dunia dan kepentingan-kepentingannya serta tidak

memberikan perhatian sedikitpun terhadap persoalan-

persoalan keduniaan. Andai saja para pengikut teori-

teori ini hanya mencukupkan diri hingga batasan ini,

mungkin kita masih bisa merasionalisasikan pandangan-

pandangan mereka, akan tetapi, sayangnya kelompok ini

telah melangkahkan kakinya dan mengambil sikap praktis

yang terlalu jauh hingga sampai pada batasan dimana

untuk melepaskan diri mereka dari keterikatan dan

ketergantungan dunia ini, mereka rela melakukan

riyadah-riyadah dan olah batin yang susah dan berat,

sebuah riyadah yang tidak bisa dan sulit diterima oleh

akal sehat dan logika yang manapun, akan tetapi, mereka

kokoh dan bersungguh-sungguh untuk mempertahankan

pandangan dan sikapnya tersebut. Perbuatan-perbuatan

yang dilakukan oleh para pertapa India serta riyadah-

riyadah yang kebanyakan dilakukan oleh para ahli sufi

dan tarekat yang memunculkan dan menampakkan diri

mereka sebagai darwis-darwis serta pengemis-pengemis di

negara-negara Islam, merupakan manifestasi dan

penampakan yang nyata dari metode dan tafakkur yang

mereka hasilkan tersebut.

Tentu saja, al-Quranul Karim dengan keras menentang

pendapat-pendapat seperti ini, dalam begitu banyak

ayatnya al-Quran mengisyaratkan bahwa dunia dan segala

isinya ini diciptakan dan diwujudkan oleh Tuhan Sang

Pencipta untuk dimanfaatkan oleh manusia pada dimensi-

dimensi yang mengantarkannya pada tujuan penciptaan dan

puncak kesempurnaannya, yakni perjumpaan dan kedekatan

dengan Tuhan. Dengan demikian, manusia pun harus mampu

memanfaatkan dunia ini secara benar sesuai dengan

petunjuk-petunjuk suci agama.

Di antara ayat-ayat-Nya, Allah Swt berfirman,  

“Dia-lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu

dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan)

dari langit, lalu Dia menumbuhkan dengan hujan itu

segala jenis buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Oleh

karena itu, janganlah kamu menjadikan sekutu-sekutu

bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”[1]  

“Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu. Maka

berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari

sebagian rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu

(kembali setelah) dibangkitkan”[2]  

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah

kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah

kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan

berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah

telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat

kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak

menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”[3]

Teori lain yang dilontarkan sehubungan dengan masalah-

masalah duniawi adalah teori yang dikemukakan oleh kaum

materialis, berdasarkan teori ini kehidupan materi

merupakan segala-galanya dan bersifat prinsipil serta

mereka juga berpendapat bahwa tidak ada kehidupan lain

selain kehidupan yang ada di dunia ini, oleh karena

itulah, sehingga manusia harus memanfaatkan dan

menghabiskan waktunya di dunia ini dengan sebaik-

baiknya dan sebesar-besarnya untuk memperoleh manfaat

dan keuntungan serta mengeksploitasi dunia ini

semaksimal mungkin.

Para pengikut teori ini beranggapan bahwa tujuan

tertinggi dari kehidupan manusia adalah memperoleh

kesenangan, kenikmatan, dan kelezatan dunia sebanyak-

banyaknya dan semaksimal mungkin, dan mereka

berkeyakinan bahwa semakin banyak seseorang mampu

memperoleh dan memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang

terdapat di alam ini maka dia akan menjadi manusia yang

semakin sempurna. Bagi sebagian pengikut teori ini,

bagaimana cara dan metode memperoleh segala

keuntungan-keuntungan dan kelezatan-kelezatan duniawi

tidaklah terlalu penting, karena yang terpenting bagi

mereka adalah bagaimana memuaskan keinginan-keinginan

dan hasrat-hasrat internalnya. Dengan demikian, mereka

menghalalkan segala cara dan metode untuk menggapai dan

meraih apa yang mereka kehendaki di alam dan dunia ini.

Tidak diragukan lagi bahwa metode berpikir seperti ini

sama sekali tidak logis, tidak benar, dan tidak bisa

dijelaskan dengan akal, karena kehidupan semacam ini

hanya terjadi pada kehidupan binatang. Apabila

keinginan dan kehendak manusia adalah mengarungi

kehidupannya seperti ini, lalu dimanakah letak

perbedaan antara binatang dengan manusia? Al-Quran

memberikan perumpamaan yang sangat menarik untuk

kelompok manusia seperti ini. Allah Swt Berfirman,  

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman

dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir

di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir

bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan persis

sebagaimana binatang-binatang makan, nerakalah tempat

tinggal mereka.” [4]

Problematika yang akan muncul dari cara pandang

terhadap dunia dan alam yang semacam ini adalah tidak

saja mereka salah dalam mengevaluasi diri mereka

sendiri, melainkan mereka juga salah dalam mencermati

dan menganalisa dunia ini, karena apabila seseorang

memberikan perhatian terhadap potensi dan kelebihan-

kelebihan yang ada dalam dirinya serta mencermati dunia

dengan cara yang benar dan proporsional yaitu mampu

menyimpulkan bahwa dunia dan kehidupan duniawi bisa

mempunyai dimensi-dimensi yang positif dan juga

dimensi-dimensi yang negatif, maka dia akan mendapatkan

bahwa selain manusia memiliki kemampuan untuk

melangkahkan kakinya dengan mempergunakan perangkat-

perangkat yang ada untuk diarahkan ke dimensi-dimensi

positif tak terbatas yang dimiliki dunia, pada saat

yang sama, mereka sekaligus juga bisa jatuh terjerembab

ke arah ketakterbatasan yang dimiliki oleh dimensi-

dimensi negatif dunia ini.

Dengan dasar ini, mereka sama sekali tidak akan

meletakkan potensi-potensi yang ada dalam wujudnya

untuk kelezatan-kelezatan yang sesaat. Kaum materialis

yang mempunyai pandangan terhadap dunia semacam itu

tidak akan benar dalam menafsirkan dan

mengintepretasikan kehidupan duniawi dan mereka tidak

mampu memahami dan menyimpulkan bahwa kehidupan manusia

itu memiliki nilai yang lebih tinggi dan jauh lebih

berarti dari hal-hal tersebut.

Untuk menafikan dan menolak perspektif materialisme

tersebut, al-Quranul Karim menyandarkannya pada

ketidakabadian dan kepunahan kehidupan dunia. Al-Quran

menggambarkan ketidakabadian kehidupan dunia ini dengan

salah satu ayat-Nya, Allah Swt berfirman,  
“(Hai Muhammad), berilah perumpamaan kepada mereka

(manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan

yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuh-tumbuhan di

muka bumi menjadi subur karenanya, kemudian tumbuh-

tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh

angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala

sesuatu.”[5]

Ayat di atas mengumpamakan kehidupan dunia sebagai

tetesan air hujan yang diturunkan oleh Allah Swt dari

langit, tetesan-tetesan air yang mencurahkan sari

kehidupan ini mampu menyembulkkan bebijian yang semula

tersembunyi di dalam tanah lalu mengubahnya menjadi

pepohonan yang berdaun rimbun dan menghijau. Tentunya

keadaan seperti ini akan segera berubah ketika angin

keras berhembus ke pepohonan tersebut dan dalam waktu

sesaat telah mengubahnya menjadi batang-batang kayu

yang kering dan tak berdaun. Batang-batang yang semula

kokoh, rimbun, serta memiliki kehidupan dan mampu

bertahan dalam menghadapi tiupan angin keras ini, kini

bahkan sebuah hembusan angin yang sangat lembut

sekalipun telah mampu menggoyangkan pohon tersebut ke

segala arah.

Setiap tahun dalam sepanjang hidupnya, manusia

senantiasa menyaksikan keadaan seperti ini. Keempat

musim yang datang dan pergi silih berganti

memperlihatkan adegan kehidupan dan kematian ini dengan

sangat baik dan mempesona. Pada musim semi, kita

menyaksikan salah satu fenomena yang sangat indah dan

menakjubkan yang ditampakkan oleh pepohonan sebagai

manifestasi dari karya kehidupan, dan kebalikannya,

pada musim gugur kita akan menyaksikan fenomena

kematian mengerikan yang dihadapi oleh pepohonan

tersebut yang dalam waktu tak seberapa lama telah

berubah dalam bentuknya yang kering kerontang tanpa

daun sama sekali.

Dengan memproyeksikan fenomena “kehidupan” dan

“kematian” yang terdapat pada kedua musim semi dan

gugur tersebut, seakan-akan ayat di atas hendak

mengatakan bahwa kehidupan duniawi yang dialami dan

dijalani oleh manusia pun persis sebagaimana kehidupan

yang dialami pepohonan tersebut, yakni sama sekali

tidak memiliki keabadian, dengan arti bahwa pada suatu

saat manusia berada dalam masa kanak-kanaknya, pada

hari lain mereka pasti akan memasuki masa remaja yang

penuh canda dan tawa, akan tetapi masa remaja yang

menyenangkan ini tidak akan berlangsung abadi karena

dengan berlalunya waktu, mereka akan berubah menjadi

manusia-manusia lansia yang pada hakekatnya merupakan

sebuah masa yang akan mengantarkan manusia ke arah

akhir kehidupan dan akhirnya sebagaimana pepohonan,

yang bahkan dengan hembusan angin yang tidak terlalu

kencang sekalipun akan mampu mencerabut kehidupan yang

mereka miliki selama ini dari akarnya.

Sekarang, setelah kita menganalisa prosesi-prosesi yang

terjadi di atas dengan cermat, maka kita akan

mengetahui dengan jelas bahwa al-Quranul Karim sama

sekali tidak memberikan pembenaran dan legitimasinya

bahkan terhadap satupun dari kedua pendapat tentang

dunia sebagaimana yang tersebut di atas. Lalu

pertanyaannya, apakah pendapat al-Quran tentang masalah

ini?

Al-Quran al-Karim memberikan pandangan yang khusus

tentang dunia yaitu dengan tidak menafikan dunia secara

mutlak dan tidak pula memberikan pembenaran secara

mutlak kepadanya, melainkan pada kondisi tertentu, al-

Quran menafikan dunia dan pada kondisi lainnya

memberikan pembenaran padanya. Dari sinilah, kemudian

pandangan yang dimiliki oleh al-Quran ini tidak bisa

dikomparasikan dengan pandangan yang manapun.

Karena manusia telah diciptakan di dunia ini dan secara

alami memiliki kecintaan terhadap lingkungannya serta

pada sisi lain al-Quran pun memberikan perhatiannya

terhadap kelembutan dan kecintaan yang secara fitrah

dimiliki oleh manusia, maka al-Quran tidak menafikan

adanya kebergantungan alamiah manusia kepada dunia ini,

akan tetapi, apabila manusia menggantungkan dirinya

secara mutlak kepada dunia dan menjual hakikat

kediriannya untuk perkara-perkara duniawi dan

mengokohkan interaksinya terhadap dunia sebagaimana

ikatan mata rantai yang membelenggu dan memenjara

dirinya, maka bentuk pandangan dan penyikapan terhadap

dunia yang semacam ini tidak mungkin bisa diterima

karena bertolak belakang dengan fitrah dan hakikat

penciptaan manusia.
Dalam pandangan al-Quran, dunia merupakan sebuah alat,

media, dan fasilitas dimana apabila kita memandangnya

sebagai sebuah tujuan hakiki lalu meletakkannya sebagai

tempat kebergantungan secara mutlak, maka yakinlah

bahwa pada hakikatnya kita telah kehilangan hakikat dan

kepribadian diri kita.

Dengan ungkapan lain, dalam logika Quran, kehidupan

duniawi ini mempunyai dua penampakan dan realitas

(seperti dua sisi mata uang), penampakan yang pertama

merupakan penampakan yang kosong dan negatif, dan yang

lainnya adalah sebuah penampakan hakiki dan positif:

1. Penampakan Majasi Kehidupan Duniawi
Yang dimaksud dengan penampakan majasi dari kehidupan

ini ialah bahwa manusia menganggap kehidupan sebagai

sebuah tempat bermain dan menganggap dunia ini tidak

lebih sebagai sebuah tempat yang tidak bernilai apa-apa

selain untuk makan, tidur, dan menikmati segala

kelezatan yang terdapat di dalamnya. Oleh karena itu,

apabila manusia meletakkan kehidupannya hanya dalam

batasan alami dan fisikal itu sendiri, maka berarti dia

hanya memberikan perhatian dan penekanannya pada

dimensi kosong dari sebuah kehidupan duniawi.

Di dalam al-Quran terdapat begitu banyak ayat yang

mengisyaratkan tentang dimensi negatif dari kehidupan

dunia ini, sebagaimana firman Allah Swt,  

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan

yang memperdayakan.”[6]

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan

senda gurau.” [7]  

“Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka

menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka

adalah orang-orang yang kafir.”[8]  

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu

hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan

dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga

tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang

tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian

tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya

kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab

yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya.

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang

menipu.”[9]


Ayat-ayat di atas menampakkan dengan jelas kepada kita

tentang berbagai dimensi negatif yang dimiliki oleh

kehidupan duniawi, di antaranya:

a. Tempat Bermain: Al-Quran menganggap bahwa kehidupan

duniawi tak lebih dari sekedar tempat untuk bermain dan

bersenang. Dengan memperhatikan kata “bermain” ini,

maka kita dengan jelas akan mampu meraba apa pandangan

dan perspektif yang dimiliki oleh al-Quran terhadap

kehidupan yang ada di dunia ini.

Kita mengetahui bahwa kata “bermain” senantiasa

dipergunakan untuk sebuah aktivitas dan kegiatan yang

tidak memberikan manfaat dan hasil yang logis dan

hakiki, sebagaimana kebanyakan aktivitas yang dilakukan

oleh anak-anak, karena mereka masih belum memiliki

perkembangan akal dan pikiran yang mamadai dan

sempurna, maka mereka akan bergabung dan berkumpul

untuk kemudian mengisi dan menghabiskan waktu-waktunya

untuk bermain dan bersenang-senang.

Demikian juga orang-orang yang hanya memperhatikan

dimensi kosong dari kehidupan dunia ini, pada

hakikatnya mereka telah mengisi dan memenuhi kehidupan

mereka hanya dengan bermain dan bersenang-senang, tak

lebih dan tak kurang. Yaitu dalam sepanjang usianya

mereka senantiasa berusaha mencurahkan seluruh energi

dan kekuatan yang dimilikinya hanya untuk melakukan

hal-hal dan aktivitas-aktivitas yang tidak memiliki

dimensi logis, hakiki, dan rasional sedikitpun, maka

dari sinilah kita bisa memberikan pembenaran dan

justifikasi bahwa aktivitas bermain ternyata tidak

hanya menjadi milik anak-anak saja, karena bisa jadi

orang-orang dewasa pun, tanpa mereka sadari telah

menghabiskan pula waktu-waktu dan kesempatan-kesempatan

berharganya hanya untuk melakukan permainan-permainan

yang tak bermakna sama sekali, dan sesungguhnyalah

mereka ini (orang dewasa) tak lain dan tak lebih

hanyalah anak-anak yang telah berumur 40, 50, 60 ….

tahun, yakni dari segi umur mereka dikategorikan

sebagai orang dewasa, namun dari dimensi kejiwaan

mereka belum dewasa dan sama saja dengan anak-anak.

b. Tempat untuk bersenang-senang: Kesenangan merupakan

dimensi lain dari kehidupan duniawi, dalam istilah

lain, kesenangan merupakan aktivitas yang menyibukkan

manusia dan melalaikannya dari melakukan berbagai

aktivitas lainnya yang lebih penting dan hakiki.

Perbedaan yang ada antara bermain dan bersenang-senang

adalah bahwa yang dihasilkan dari aktivitas dan

kegiatan bermain adalah terbuang dan tersia-sianya

waktu dan kesempatan, sedangkan yang dihasilkan oleh

kegiatan bersenang-senang selain menyia-nyiakan waktu

yang berharga ini, juga akan menghalangi dan melalaikan

seseorang dari melakukan aktivitas lainnya yang lebih

penting dan bermakna.

c. Perhiasan: Dimensi lain dari kehidupan duniawi yang

disebutkan dalam al-Quran adalah sebagai perhiasan atau

seperangkat perhiasan. Untuk menarik perhatian para

manusia secara lebih baik dan efektif terhadap

kehidupan duniawi, dunia ini memerlukan perhiasan untuk

menghiasi dan memperindah wajah-wajah dan penampakan-

penampakan yang dimilikinya. Pada hakikatnya, mayoritas

mereka yang memberikan perhatiannya secara khusus

kepada dimensi negatif dunia ini senantiasa akan

berusaha untuk mencari keindahan dan perhiasan tersebut

untuk menghiasi dan memperindah lahiriahnya. Mereka

senantiasa akan berusaha untuk membangun rumah dengan

bangunan yang megah dan bertingkat-tingkat kemudian

mengisinya dengan segala bentuk kemewahan supaya mampu

dengan semaksimal mungkin memanfaatkan usianya yang

terbatas dan menceburkan dirinya dalam memperindah

penampakan-penampakan lahiriahnya untuk menutupi segala

kekurangan yang ada dalam dirinya.

Bisa jadi seseorang akan bertanya, apabila al-Quran

senantiasa memberikan pandangan yang negatif serta

menganggap perhiasan duniawi sebagai suatu hal yang

tidak bermakna sama sekali, lantas kenapa Allah Swt

bersusah payah untuk menciptakan dan mewujudkannya?

Al-Quranul Karim dalam masalah ini memberikan jawaban

dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan

apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar

Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang

terbaik perbuatannya.”[10]

Berdasarkan ayat di atas, perhiasan merupakan sebuah

alat dan fasilitas dimana dengannya Allah swt ingin

menguji apa bentuk pilihan yang diambil oleh manusia

sehingga menjadi jelas manakah di antara manusia-

manusia tersebut yang mampu mempergunakan perhiasan

tersebut sebagai alat dan media untuk mengembangkan

kehidupan hakikinya dan manakah dari mereka yang

menjadikannya sebagai sasaran dan tujuan kemudian

mempergunakannya untuk mematikan kehidupan hakikinya

(yakni kehidupan akhirat). Dengan ibarat lain, manakah

dari mereka yang meletakkan perhiasan sebagai

manifestasi positif kehidupan dan manakah yang

mempergunakannya pada dimensi negatif kehidupan.

d. Tempat berbangga-bangga: Dimensi lain yang dimiliki

oleh kehidupan duniawi adalah menjadikannya sebagai

media kebanggaan antara satu dengan lainnya. Mereka

yang hanya memberikan perhatiannya kepada dimensi

kosong dari kehidupan dunia ini akan senantiasa berada

dalam pencarian untuk mendapatkan kebanggaan serta

kemasyhuran, yang dengannya, mereka bisa saling

berbangga-bangga dengan yang lainnya. Bagi mereka,

karunia Ilahi berupa kehidupan di dunia ini yang

sebenarnya bisa dijadikan sebagai alat dan sarana untuk

melakukan perjalanan spiritual (seir dan suluk) ke

arah-Nya, malah telah mereka jadikan sebagai perantara

untuk berkhidmat dan memuaskan nafsu ammarahnya serta

menjadikannya sebagai alat untuk mengembangkan

keinginan-keinginan alamiahnya, mereka ini, yang

seharusnya memanfaatkan kondisi yang dimilikinya dalam

kehidupan duniawi itu untuk membantu menggapai puncak

kesempurnaan dirinya dan selainnya, malah menghancurkan

daya dan kekuatan serta potensi yang dimilikinya dengan

mencurahkan seluruh kecintaannya terhadap kondisi-

kondisi yang dimilikinya dan mengangap hal tersebut

sebagai tujuan dari hidupnya. Sayangnya dengan

perbuatannya ini mereka tidak saja telah menghancurkan

diri mereka sendiri melainkan dengan sikap egois yang

mereka miliki ini orang lainpun sudah pasti akan

terkena pengaruh dan imbasnya. Orang-orang semacam ini,

selain mampu menghancurkan dirinya sendiri juga dapat

menyeret orang-orang di sekitarnya untuk menikmati

kehancuran sebagaimana yang terjadi pada dirinya

sendiri.

e. Tempat untuk Memperbanyak Harta dan Keturunan:

Dimensi lain dari kehidupan duniawi adalah tempat untuk

semakin memperbanyak harta dan keturunan. Manusia yang

hanya memperhatikan dimensi negatif dari kehidupan

dunia ini, maka tujuannya tidak lebih hanyalah untuk

melakukan penambahan kuantitas lahiriah saja, karena

apabila tujuan yang lebih tinggi dan suci telah

dilupakan dan dimensi positif dari kehidupan duniawi-

pun telah dikesampingkan, maka mereka ini tidak

mempunyai tujuan lain selain melakukan sesuatu untuk

menambah dan memperbanyak harta atau keturunan.

Ayat di atas bisa diintepretasikan pula dengan warna

yang berbeda, dengan arti bahwa berdasarkan ayat di

atas maka kehidupan dunia bisa dibagi menjadi beberapa

tahap:
a. Masa bermain, yang pada hakikatnya merupakan masa

kanak-kanak, dimana kita ketahui bahwa anak-anak tidak

pernah memikirkan sesuatu yang lain selain bermain.
b. Masa bersenang-senang, yang bisa dinisbatkan pada

masa remaja, dimana pada masa ini para remaja

menyenangi petualangan, bepergian, belajar, serta

mencoba mengenal alam.
c. Masa berhias, yang biasanya berada pada masa muda,

dimana pada masa ini kebanyakan para pemuda-pemudi

mengarungi dan manjalani kehidupan mereka dengan

memberikan perhatian yang lebih terhadap keindahan dan

kecantikan mereka secara lahiriah.
d. Masa berbangga diri, dengan adanya instink untuk

mencari gengsi dan harga diri maka orang yang

menggantungkan dirinya kepada dunia akan sombong dan

bangga dengan segala apa yang dimilikinya.
e. Masa memperbanyak harta, seseorang yang meletakkan

kehidupan dunia sebagai tujuan dan sasaran yang paling

tinggi dari kehidupannya, maka dalam salah satu tahapan

dan tangga dari kehidupannya adalah mereka akan

mempergunakandan memanfaatkan waktu-waktunya untuk

mengumpulkan harta dan kekayaan sebanyak dan semaksimal

mungkin.
f. Masa memperbanyak keturunan, pada salah satu dari

tahapan kehidupannya, manusia memiliki kecenderungan

untuk memperbanyak keturunannya, pada masa ini manusia

akan mengecimpungkan dirinya dalam usaha untuk

memperbanyak keturunan.

Pada hakikatnya, dengan menjelaskan adanya tahapan-

tahapan kehidupan tersebut, aya-ayat tersebut ingin

mengisyaratkan topik berikut dan menjelaskan suatu

hakikat bahwa hasil dari seluruh keterikatan dan

kebergantungan manusia kepada kehidupan duniawi tidak

lain adalah memperindah diri mereka secara lahiriah,

memperbanyak harta, dan menambah keturunan dimana pada

akhirnya masing-masing hal tersebut merupakan sesuatu

yang fana, punah, dan akan hancur serta tidak memiliki

keabadian, hal ini karena waktu, masa bermain, masa

foya-foya yang ada pada masa kanak-kanak, dan masa muda

pasti akan berlalu, kemudian setelah itu, masa

mempercantik diri dan membanggakan diri pun akan

mengalami kesirnaan dan kepunahan yang pasti, maka

tidak diragukan lagi bahwa harta dan keturunan pun akan

mengalami perubahan-perubahan dan tidak akan luput dari

segala kehancuran.

“Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami

berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa

menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula)

kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan

kepada orang-orang yang bersyukurَ.”[11]

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan

perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka

balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan

mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”[12]

Ayat-ayat tersebut di atas telah mengisyaratkan tentang

hakikat mendasar berikut ini bahwa apabila seseorang

hanya memberikan perhatiannya pada dimensi kosong

kehidupan duniawi ini dan tidak memiliki tujuan lain

untuk dirinya selain hidup untuk makan, tidur,

mengarungi kehidupannya untuk memuaskan hawa nafsunya

dan senantiasa dalam usahanya untuk mencari kelezatan

dan memanfaatkan perhiasan lahiriah kehidupan, maka

tanpa diragukan lagi karena mereka telah menghabiskan

seluruh energinya untuk mendapatkan hal-hal tersebut,

sudah pasti mereka akan mendapatkan hasilnya sesuai

dengan apa-apa yang mereka inginkan.

Akan tetapi, al-Quran dalam masalah bahwa apakah pada

dasarnya orang-orang semacam ini telah melakukan

perbuatan-perbuatan yang tidak seharusnya ataukah

tidak? Dan pada masa mendatang imbalan apakah yang akan

mereka dapatkan dari perbuatan-perbuatan mereka ini,

al-Quran memberikan jawaban sebagai berikut,  

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat,

kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang

telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang

telah mereka kerjakan.”[13]

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat,

akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang

siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami

berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan

tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.”[14]

Kesimpulannya, apabila kehidupan duniawi dijadikan

tujuan dan sasaran satu-satunya dan manusia sama sekali

tidak memiliki tujuan kehidupan yang lebih tinggi,

hakiki, dan suci, maka kehidupan dunia ini akan menjadi

suatu kehidupan yang sia-sia, kosong, dan tidak

bermakna sama sekali.
Berbagai ayat dalam al-Quran menjelaskan

tentang,dimensi kosong dan aspek kesia-siaan dari

kehidupan dunia ini sebagai berikut,  
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan

pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan

dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu, dan

orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”[15]

Dengan mencermati ayat di atas, kita bisa menyimpulkan

bahwa dimensi negatif dari kehidupan duniawi memiliki

karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

  1.  Ketiadaan perhatian kepada hari kebangkitan

(akhirat);
  2.  Keterikatan hati kepada dunia dan penyandaran diri

secara mutlak kepadanya;
  3.  Lalai terhadap ayat-ayat Tuhan.

Sebagaimana tersebut di atas, al-Quran berabad-abad

sebelum ditemukannya Nihilisme, telah mengisyaratkan

terhadap adanya dimensi negatif dari kehidupan dunia

dengan menggunakan dalil-dalil dan argumentasi-

argumentasi yang kuat, di antaranya dengan motivasi

ketidakabadian kehidupan dunia. Tentunya tidak

diragukan lagi bahwa al-Quran dengan pandangannya yang

khas terhadap dunia ini, selain mengetengahkan tentang

dimensi negatif kehidupan dunia juga berusaha

memberikan pemahaman kepada manusia supaya mereka

merekonstruksi dan merenovasi kembali kehidupannya

dengan kehidupan yang lebih tinggi, lebih suci, lebih

hakiki, dan lebih bermakna. Karena apabila manusia

beranggapan bahwa kehidupan duniawi merupakan alat dan

sarana untuk menggapai kehidupan hakiki di alam akhirat

kelak, maka sesungguhnya mereka telah mendapatkan

manfaat dan faedah dari kehidupan yang ada di dunia ini

secara maksimal.

Dengan menyajikan pandangan dunia (word view) inilah

al-Quran kemudian sangat mengecam perbuatan-perbuatan

yang menyebabkan terputusnya kehidupan seseorang atau

bunuh diri, al-Quran menganggap perbuatan-perbuatan

semacam ini merupakan suatu hal yang sangat buruk dan

tercela. Sebagaimana dalam ayat-Nya, Dia berfirman,  

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah

adalah Maha Penyayang kepadamu.”[16]  

“dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke

dalam jurang kebinasaan“[17]

Oleh karena itu, terdapat perbedaan yang jelas antara

pandangan al-Quran dengan pandangan para Nihilisme

terhadap masalah keduniaan, karena menurut pandangan

para penganut Nihilisme, ketika manusia memiliki

kehidupan dan mendapatkan kesempatan untuk

berkehidupan, berarti pada saat itu pula mereka pun

memiliki kesempatan dan hak untuk menghilangkan dan

memusnahkan kehidupannya tersebut, yaitu mengarahkan

dirinya sendiri pada kematian, sementara itu menurut

pandangan al-Quran manusia sama sekali tidak mempunyai

hak untuk menghancurkan dan menghilangkan kehidupannya,

meskipun kehidupan dunia itu senantiasa diliputi dan

diwarnai dengan kemalangan, kefakiran, dan

ketakberuntungan-ketakberuntungan lainnya, manusia

tetap saja harus bersemangat, tak putus asa, dan

melangkahkan kakinya ke arah sebuah kehidupan mendatang

yang lebih ideal dan sempurna.

2. Penampakan Hakiki Kehidupan Duniawi

Dan yang dimaksud dengan penampakan hakiki kehidupan

duniawi adalah manusia mengarahkan pikirannya kepada

tujuan riil dan hakiki dari kehidupan yang dimilikinya,

dan memandang kehidupan duniawi ini dari sudut yang

lebih tinggi dari sekedar mencari kelezatan,

kenikmatan, dan kebebasan di dalamnya. Manusia-manusia

dari golongan ini akan meletakkan Tuhan sebagai satu-

satunya tujuan hidup dan berusaha sehingga setiap

saatnya mereka pergunakan untuk berjalan dan melangkah

ke arah-Nya, hanya Dia-lah satu-satunya yang layak

disembah, hanya di jalan-Nya dan untuk-Nya mereka

beraktivitas, hanya untuk-Nya dan hanya ke arah-Nya

mereka bergerak, mereka mengintepretasikan dan

menafsirkan kehidupan dunia ini dalam interaksi dengan

Tuhan Sang Pencipta, dan dia memiliki pandangan-

pandangan yang sangat bernilai dimana hakikat dari

semuanya adalah Tuhan.

Manusia yang berpikir terhadap penampakan hakiki

seperti ini, tidak lagi memadang kehidupannya hanya

sebagai sebuah interaksi dan hubungan antara dunia

dengan tabiat dirinya. Mereka tentu saja juga meyakini

akan keberadaan kehidupan dunia ini, akan tetapi,

mereka menggunakannya sebagai alat dan sarana untuk

menuju sebuah kesempurnaan dan kebahagiaan yang hakiki,

bukannya mengorbankan kehidupan akhiratnya untuk

membangun kehidupan duniawi. Mereka mengetahui kedua

interaksi ini dengan baik dan mereka menganggap bahwa

kehidupan akhirat sebagai kelanjutan dari kehidupan

dunia.

Pada banyak ayat disebutkan bahwa kehidupan akhirat

sebagai kehidupan yang hakiki dan dalam perbandingannya

dengan hal ini, kehidupan duniawi merupakan sesuatu

yang tidak bermakna dan tidak berharga sama sekali. Hal

ini sebagaimana Allah Swt berfirman dalam al-Quran,

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan main-main

dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu

lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka

tidakkah kamu berpikir?”[18]

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka,

“Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu

menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya?”

Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah,

“Segala puji bagi Allah.” Tetapi kebanyakan mereka

tidak memahami(nya).”[19]

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah

kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah

negeri yang kekal.”[20]

Ayat-ayat al-Quran di atas meletakkan manusia itu

sebagai subjek pembicaraan dan memperingatkan bahwa

jangan sampai mereka meletakkan kehidupan dunia ini

sebagai tujuan dan sasarannya yang lebih tinggi, karena

apabila manusia menganggap kehidupan dunia sebagai

sasaran dan fokus utamanya, maka kehidupannya tidak

akan pernah keluar dari keterbatasan alami yang

dimilikinya. Akan tetapi, apabila manusia meletakkan

kehidupan akhirat yang memiliki mekanisme dan

keteraturan khas yang sangat berbeda dengan kehidupan

dunia sebagai tujuan hidupnya yang lebih tinggi, maka

yakinlah bahwa dia tidak akan pernah terjatuh dan

terjerembab ke arah ketakberuntungan dan tidak akan

pernah terseret ke arah aliran Nihilisme tersebut.

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila

kamu diseru, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan

Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di

tempatmu? Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di

dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal

kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan

kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit?”[21]

Pada ayat-ayat di bawah ini pun, kehidupan ukhrawi

dikatakan sebagai kehidupan yang hakiki, dan kehidupan

dunia apabila dikomparasikan dengan kehidupan ukhrawi

merupakan sebuah kehidupan yang sama sekali tak

bermakna dan tak bernilai, Allah Swt,  

“Kamu menghendaki harta benda duniawi (dengan menangkap

tawanan yang banyak dan menerima harta tebusan untuk

setiap kepala tawanan itu), sedangkan Allah menghendaki

(pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi

Maha Bijaksana.”[22]  

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan

kepada mereka (di Mekah), “(Sementara ini), tahanlah

tanganmu (dari berjihad), dirikanlah salat, dan

tunaikanlah zakat!” (Tetapi mereka marah atas perintah

ini). Setelah jihad diwajibkan kepada mereka (di

Madinah), tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan

munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya

kepada Allah, bahkan ketakutan mereka lebih sangat dari

itu. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau

wajibkan jihad kepada kami? Mengapa tidak Engkau

tangguhkan (kewajiban berjihad ini) kepada kami

beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia

ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk

orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya

sedikit pun.“[23]

“Itulah orang-orang yang telah (rela) membeli kehidupan

dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka siksa mereka

tidak akan diringankan dan mereka tidak akan mendapat

pertolongan.”[24]  

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa

yang Dia kehendaki. Mereka (orang-orang kafir)

bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan

dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat,

hanyalah kesenangan (yang sedikit).”[25]

“(Yaitu) Allah yang memiliki segala apa yang di langit

dan di bumi. Dan celakalah orang-orang kafir karena

siksaan yang sangat pedih.”[26]

“(Yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan

dunia daripada kehidupan akhirat, menghalang-halangi

(manusia) dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan

Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan

yang jauh.”[27]  

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan

duniawi.. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik

dan lebih kekal.”[28]

“Dan kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan

lebih besar keutamaannya.”[29]

Berdasarkan ayat-ayat di atas, kita bisa menyimpulkan

bahwa kehidupan akhirat merupakan batin dan hakikat

dari kehidupan dunia serta memiliki kedudukan yang

lebih tinggi, lebih sempurna, dan lebih baik. Kehidupan

akhirat adalah kehidupan yang hakiki, karena di alam

akhirat ini manusia akan berhadapan dengan realitas-

realitas dan hakikat-hakikat, bukannya persoalan-

persoalan yang nisbi dan relatif. Kehidupan akhirat

merupakan sebuah  kehidupan yang di dalamnya tidak

terdapat efek-efek keburukan, kerusakan, kesusahan,

sakit, ataupun gangguan-gangguan, yang hal ini bertolak

belakang secara total dengan kehidupan dunia, dimana di

dalamnya senantiasa dipenuhi dengan persoalan-persoalan

tersebut.

Tentunya untuk sampai pada kehidupan akhirat dan hakiki

tersebut, manusia harus melakukan usaha dan upayanya

dengan sebaik-baiknya dalam kehidupan yang dimilikinya

saat ini, karena kehidupan di alam tersebut merupakan

hasil dari kehidupan di alam ini, dengan kata lain

kehidupan dunia merupakan pendahuluan dan mukadimah

dari kehidupan ukhrawi. Sebagaimana Rasulullah saww

bersabda: “Kehidupan dunia merupakan lahan bagi

kehidupan akhirat.”

Oleh karena itu, karena al-Quran menganggap kehidupan

ukhrawi sebagai hasil dan buah dari kehidupan dunia,

maka al-Quran tidak bisa mengesampingkan kehidupan

dunia begitu saja. Dan apa yang dimaksud oleh al-Quran

bahwa kehidupan duniawi merupakan sebuah kehidupan yang

tak bermakna dan tak bernilai adalah bahwa dimensi

negatif yang dimiliki oleh kehidupan dunia yang

dipandang tanpa adanya interaksi dengan kehidupan

ukhrawi. Yaitu manusia malah menghabiskan waktu

berharganya yang seharusnya bisa dipergunakan untuk

menggapai kehidupan ukhrawi secara lebih baik dengan

mengisi kehidupan dunianya hanya untuk mengikuti

keinginan-keinginan negatif dan kecenderungan-

kecenderungan hawa nafsunya, tanpa memikirkan kehidupan

ukhrawinya.

Dari sinilah kita bisa mengatakan bahwa manusia yang

dijadikan teladan dalam al-Quran bukan saja manusia

yang tidak bertentangan dengan kehidupan duniawi,

bahkan mereka selain berusaha dengan segala

kemampuannya untuk memperoleh kesejahteraan-

kesejahteraan di dalam kehidupan dunianya dengan

landasan gerak yang Qurani, mereka juga mempersiapkan

diri mereka untuk kehidupan ukhrawinya. Sebagaimana

yang difirmankan oleh Allah Swt,

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami,

berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,

dan peliharalah kami dari siksa neraka.”[30]   

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan

di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat)

kepada-Mu.” Allah berfirman, “Siksa-Ku akan Kutimpakan

kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi

segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk

orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan

orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”[31]

Tentu saja untuk bisa menggapai kehidupan abadi dengan

baik niscaya memerlukan terpenuhinya persyaratan-

persyaratan tertentu, dimana al-Quran telah

mengisyaratkan hal tersebut di dalam banyak ayat-ayat-

Nya, di antaranya adalah ayat berikut, “Dan barang

siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha

ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah

mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang

usahanya dibalas dengan baik.”[32]

Berdasarkan ayat di atas, untuk mendapatkan kehidupan

ukhrawi memerlukan terpenuhinya tiga persyaratan

berikut:

 1.   Manusia mesti memiliki kehendak dan iradah terhadap

kehidupan abadi di akhirat, yaitu manusia sungguh-

sungguh menghendaki kehidupan ukhrawi tersebut,

bukannya hanya memberikan perhatiannya pada kehidupan

duniawi;
 2.   Manusia mesti melakukan usaha dan upayanya, yaitu

tidak menghentikan amal-amal perbuatannya untuk

mendapatkan kehidupan abadi tersebut;
  3.  Usaha dan upaya yang dilakukan oleh manusia harus

diiringi dengan keimanan, yaitu motivasi perbuatan dan

usahanya hanyalah karena Allah Swt.


Referensi:
[1] . Qs. Al-Baqarah: 22.
[2] . Qs. Al-Mulk: 15.
[3] . Qs. Qhashash: 77.
[4] . Qs. Muhamad: 12.
[5] .  Qs. Al-Kahf:45.
[6] . Qs. Ali Imran: 185.
[7] . Qs. Muhammad: 36.
[8] . Qs. Al-An’am: 130.
[9] . Qs. Al- Hadid: 20.
[10] . Qs. Al-Kahfi: 7.
[11] . Qs.Ali Imran: 145.
[12] . Qs. Hud: 15.
[13]. Qs. Hud: 16.
[14] . Qs. Syura: 20.
[15] . Qs. Yunus: 7.
[16] . Qs. An-Nisa: 29.
[17] . Qs. Al-Baqarah: 195.
[18] . Qs. Al-An’am: 32.
[19] . Qs. Ankabut: 64.
[20] . Qs. Mukmin: 39.
[21] . Qs. At-Taubah: 38.
[22] . Qs. Al-Anfal: 67.
[23] . Qs. An-Nisa: 77.
[24]. Qs. Al-Baqarah: 86.
[25] . Qs. Ar-Raad: 26.
[26] . Qs. Ibrahim: 2.
[27] . Qs. Ibrahim: 3..
[28] . Qs. Al-A’la: 16-17.
[29] . Qs. Al-Isra': 21.
[30] . Qs. AL-Baqarah: 201.
[31] . Qs. Al-A’raf: 156.
[32] . Qs. Al-Isra': 19.