@laravelPWA
Bersama Kafilah Ramadhan (25)
  • Judul: Bersama Kafilah Ramadhan (25)
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 20:16:53 9-6-1404

Agama Islam sangat menganjurkan untuk melatih ibadah bagi anak-anak.

Terkait hal ini, Imam Shadiq berkata, "Di sebagian hari, ajaklah

anak-anak untuk berpuasa. Tapi ketika terlihat rasa lapar dan haus

melilitnya, perintahkan mereka untuk berbuka puasa".

 

Mengajarkan puasa kepada anak-anak tidak boleh menyengsarakan mereka,

dan harus disesuaikan dengan kemampuannya. Latihlah anak untuk

berpuasa dan shalat serta ibadah lainnya secara bertahap. Pada tahap

awal ajak mereka makan sahur, kemudian berilah makan siang sebagai

buka puasa, biarkan mereka melanjutkan puasa lagi disesuaikan dengan

kemampuan fisiknya. Lambat laun, anak akan terbiasa untuk menjalankan

puasa sebagaimana orang dewasa yang meyakininya sebagai kewajiban

ilahi.

 

Salah satu sarana yang tepat untuk mengenalkan anak-anak dnegan masjid

dan masalah keagamaan adalah bulan suci Ramadhan. Berkaitan dengan

masalah ini, Syahid Muthahhari berkata,"...pengalaman membuktikan jika

anak-anak tidak dikenalkan dengan masjid, jika mereka tidak berkumpul

dan mengerjakan shalat berjamaah, maka mereka didukung untuk

mengerjakannya. Padahal prinsipnya kehadiran bersama orang lain

merupakan stimulus bagi manusia. Orang dewasa pun jika beribadah

berjamaah memiliki semangat yang lebih besar untuk beribadah. Tentu

saja anak-anak lebih terpengaruh..."

 

Mengenalkan anak-anak dan remaja dengan masjid dan tradisi ibadah

berjamaah di masjid merupakan kewajiban orang tua. Ketidakhadiran

anak-anak di masjid dan tidak tumbuhnya kecintaan mereka terhadap

tempat ibadah ini akan menyebabkan mereka lambat laun semakin menjauh

dari agama. Oleh karena itu, orang tua harus mengenalkan mereka dengan

masjid secara bertahap dan tidak melelahkan mereka. Selain itu,

kehadiran anak-anak dalam tradisi keagamaan sangat penting seperti

berbuka puasa dan makan sahur, dengan mengajak mereka

mempersiapkannya. Kehadiran anak-anak di masjid untuk menunaikan

shalat dan menghadiri acara keagamaan membutuhkan teladan dari orang

tua. Selain itu, mereka juga butuh dukungan seperti pujian dan hadiah

yang akan mendorong mereka rajin beribadah.

 

Salah satu pelajaran penting dan berpengaruh dari bulan suci Ramadhan

adalah persahabatan dan kasih sayang terhadap sesama. Berpuasa

mengajarkan manusia untuk saling berbagi dengan sesama. Sejatinya,

ketika berpuasa kita merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan.

Pengalaman merasakan lapar bersama ini diharapkan akan meningkatkan

empati dan kepekaan terhadap penderitaan yang dialami oleh sesama

manusia.

 

Dalam hidup ini, ada sebagian orang yang menderita penyakit parah dan

kritis. Sebagian orang menghadapi bencana. Tapi penderitaan yang

paling luas di dunia modern dewasa ini adalah kelaparan. Orang tidak

boleh menyakiti dirinya sendiri dengan melaparkan diri di luar puasa

yang telah ditetapkan dalam ketentuan agama. Sebab, dalam ajaran

Islam, haram hukumnya menyakiti diri sendiri dan orang lain. Tapi di

bulan suci Ramadhan, Allah swt justru mewajibkan Mukmin untuk berpuasa

supaya bisa merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan. Jika

tidak ada bulan suci Ramadhan, barangkali orang kaya tidak bisa

merasakan pedihnya lapar dan dahaga.

 

Dengan berpuasa semua orang diajak untuk merasakan penderitaan orang

lain dan berempati untuk saling berbagi dan menyayangi sesama. Terkait

hal ini, Nabi Muhammad Saw dalam khutbah Syabaniah menjelaskan

keutamaan berpuasa di bulan suci Ramadhan. Beliau bersabda,"Pada bulan

[Ramadhan] ini diri kita merasakan lapar dan dahaga yang akan

mengingatkan kita kepada lapar dan dahaga di hari Kiamat kelak.

Bantulah orang miskin dan yang membutuhkan pertolongan." Selain itu,

Rasulullah juga bersabda, "Wahai manusia! Barang siapa dari kalian

yang berpuasa dan memberikan makanan berbuka kepada orang lain, maka

pahalanya sama seperti membebaskan budak dan dosa kalian akan

diampuni,".

 

Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, "Wahai Rasulullah,

bagaimana jika tidak mampu memberikan makanan untuk berbuka kepada

orang lain ?". Beliau menjawab, "Selamatkan diri kalian dari api

neraka. Meskipun sedikit dengan sebutir kurma atau separuhnya atau

segelas air kepada orang yang berpuasa maka akan mendapatkan pahala

yang besar." Dari sini jelas kiranya bahwa berpuasa mengajarkan

manusia untuk peduli dan membantu sesama setelah merasakan penderitaan

orang yang lapar dan dahaga. Mengenai sebab berpuasa, Imam Shadiq

berkata, "Allah swt mewajibkan berpuasa untuk menciptakan persamaan di

antara sesama makhluk,".

 

Suatu hari Nabi Ibrahim as keluar dari rumahnya menuju gurun dan

pantai untuk menyaksikan keindahan alam ciptaan Allah swt. Dalam

hatinya, Nabi Ibrahim berkata,"Seluruh makhluk yang beraneka ragam,

bunga yang bermekaran, kicauan burung, air dan pepohonan serta gunung,

akan mengenalkan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan bertasbih

kepada-Nya.Tapi mengapa manusia tidak meninggalkan penyembahan

terhadap berhala."

 

Ketika tenggelam dalam pemikiran, seketika matanya mengarah kepada

manusia yang sedang menunaikan shalat. Lalu, Ibrahim mendekati orang

itu. Setelah ia selesai shalat, Ibrahim bertanya kepadanya, "Kepada

siapa engkau menyembah ? Ia menjawab, "Aku menyembah Tuhan." Kemudian

Ibrahim kembali bertanya. "Siapa Tuhan ?" Ia menjawab, "Tuhan yang

menciptakan aku dan dirimu".

 

Ibrahim mengetahui Tuhan sejati yang disembah. Ia berkata kepadanya,

"Aku menyukaimu, menyukai caramu. Bolehkan aku mengetahui di mana

rumahmu? Supaya aku bisa berkunjung.

Abid tersebut menjawab, "Rumahku melewati laut, engkau tidak bisa

menuju ke sana".

Ibrahim balik bertanya, "Bagaimana engkau melewati air ?"

"Aku meminta kepada Tuhan supaya bisa berjalan di atas air dan tidak

tenggelam," jawab sang Abid.

Ibrahim menukas,"Barangkali Tuhan akan menganugerahkan kepadaku bisa

berjalan di atas air, dan malam ini aku bisa mengunjungi rumahmu,".

 

Lalu abid itu berdiri dan berjalan bersama Ibrahim hingga mendekati

laut. Kemudian abid itu mengucapkan nama Tuhan dan berjalan di atas

air. Lalu, Ibrahim melakukan hal yang sama dan ia pun berjalan di atas

air hingga sampai di rumah abid itu.

 

Ibrahim bertanya, "Apa makananmu ?"

Abid itu menunjuk pohon, seraya berkata, "Aku mengumpulkan buah dari

pohon ini dan cukup untuk hidup setiap tahun,".

Ibrahim bertanya, "Hari apa yang paling besar ?"

Abid menjawab, "Hari ketika Tuhan menghitung amal seluruh makhluk dan

memberikan ganjaran sesuai perbuatannya masing-masing".

 

Ibrahim kembali berkata,"Kemarilah kita berdoa bersama supaya orang-

orang Mukmin diselamatkan dari kesulitan."

"Sudah tiga tahun doaku tidak dikabulkan oleh Tuhan. Aku tidak mau

berdoa lagi", ujar sang abid.

 

Ibrahim menimpali, "Jangan putus asa. Terkadang Tuhan sangat mencintai

makhluknya, tapi doanya tidak dikabulkan dalam waktu singkat supaya ia

terus bermunajat kepada Tuhan. Sebaliknya, terkadang Tuhan cepat

mengabulkan doa orang yang dimurkainya. Oleh karena itu, jangan

berputus asa dan tetap berdoa. Kalau boleh tahu, apa doamu ?"

 

Abid menjawab, "Suatu hari aku shalat. Ketika itu mataku tertuju ke

arah seorang remaja dengan wajah berseri-seri dan beberapa sapi yang

digembalainya. Kulit sapi itu dibalur minyak sehingga mengkilat.

Bersamanya ada beberapa kambing. Aku berjalan menuju ke arahnya sambil

berkata, siapa namamu?" ia menjawab, "Aku putra Ibrahim Khalil". Kini,

selama tiga tahun aku memohon kepada Tuhan supaya dipertemukan dengan

Ibrahim dan kini doaku dikabulkan.

 

Ibrahim menjawab, "Ya, aku adalah Ibrahim dan remaja itu adalah

anakku. Mendengar jawaban itu, abid mengangkat tangannya dan mencuim

Ibrahim. Ia berkata, "Aku bersyukur kepada Tuhan karena doaku

dikabulkan. Ketika itu, Ibrahim memohon abid untuk mendoakan seluruh

mukmin dan ia mengamininya.