Agama Islam sangat menganjurkan untuk melatih ibadah bagi anak-anak.
Terkait hal ini, Imam Shadiq berkata, "Di sebagian hari, ajaklah
anak-anak untuk berpuasa. Tapi ketika terlihat rasa lapar dan haus
melilitnya, perintahkan mereka untuk berbuka puasa".
Mengajarkan puasa kepada anak-anak tidak boleh menyengsarakan mereka,
dan harus disesuaikan dengan kemampuannya. Latihlah anak untuk
berpuasa dan shalat serta ibadah lainnya secara bertahap. Pada tahap
awal ajak mereka makan sahur, kemudian berilah makan siang sebagai
buka puasa, biarkan mereka melanjutkan puasa lagi disesuaikan dengan
kemampuan fisiknya. Lambat laun, anak akan terbiasa untuk menjalankan
puasa sebagaimana orang dewasa yang meyakininya sebagai kewajiban
ilahi.
Salah satu sarana yang tepat untuk mengenalkan anak-anak dnegan masjid
dan masalah keagamaan adalah bulan suci Ramadhan. Berkaitan dengan
masalah ini, Syahid Muthahhari berkata,"...pengalaman membuktikan jika
anak-anak tidak dikenalkan dengan masjid, jika mereka tidak berkumpul
dan mengerjakan shalat berjamaah, maka mereka didukung untuk
mengerjakannya. Padahal prinsipnya kehadiran bersama orang lain
merupakan stimulus bagi manusia. Orang dewasa pun jika beribadah
berjamaah memiliki semangat yang lebih besar untuk beribadah. Tentu
saja anak-anak lebih terpengaruh..."
Mengenalkan anak-anak dan remaja dengan masjid dan tradisi ibadah
berjamaah di masjid merupakan kewajiban orang tua. Ketidakhadiran
anak-anak di masjid dan tidak tumbuhnya kecintaan mereka terhadap
tempat ibadah ini akan menyebabkan mereka lambat laun semakin menjauh
dari agama. Oleh karena itu, orang tua harus mengenalkan mereka dengan
masjid secara bertahap dan tidak melelahkan mereka. Selain itu,
kehadiran anak-anak dalam tradisi keagamaan sangat penting seperti
berbuka puasa dan makan sahur, dengan mengajak mereka
mempersiapkannya. Kehadiran anak-anak di masjid untuk menunaikan
shalat dan menghadiri acara keagamaan membutuhkan teladan dari orang
tua. Selain itu, mereka juga butuh dukungan seperti pujian dan hadiah
yang akan mendorong mereka rajin beribadah.
Salah satu pelajaran penting dan berpengaruh dari bulan suci Ramadhan
adalah persahabatan dan kasih sayang terhadap sesama. Berpuasa
mengajarkan manusia untuk saling berbagi dengan sesama. Sejatinya,
ketika berpuasa kita merasakan penderitaan orang lain yang kelaparan.
Pengalaman merasakan lapar bersama ini diharapkan akan meningkatkan
empati dan kepekaan terhadap penderitaan yang dialami oleh sesama
manusia.
Dalam hidup ini, ada sebagian orang yang menderita penyakit parah dan
kritis. Sebagian orang menghadapi bencana. Tapi penderitaan yang
paling luas di dunia modern dewasa ini adalah kelaparan. Orang tidak
boleh menyakiti dirinya sendiri dengan melaparkan diri di luar puasa
yang telah ditetapkan dalam ketentuan agama. Sebab, dalam ajaran
Islam, haram hukumnya menyakiti diri sendiri dan orang lain. Tapi di
bulan suci Ramadhan, Allah swt justru mewajibkan Mukmin untuk berpuasa
supaya bisa merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan. Jika
tidak ada bulan suci Ramadhan, barangkali orang kaya tidak bisa
merasakan pedihnya lapar dan dahaga.
Dengan berpuasa semua orang diajak untuk merasakan penderitaan orang
lain dan berempati untuk saling berbagi dan menyayangi sesama. Terkait
hal ini, Nabi Muhammad Saw dalam khutbah Syabaniah menjelaskan
keutamaan berpuasa di bulan suci Ramadhan. Beliau bersabda,"Pada bulan
[Ramadhan] ini diri kita merasakan lapar dan dahaga yang akan
mengingatkan kita kepada lapar dan dahaga di hari Kiamat kelak.
Bantulah orang miskin dan yang membutuhkan pertolongan." Selain itu,
Rasulullah juga bersabda, "Wahai manusia! Barang siapa dari kalian
yang berpuasa dan memberikan makanan berbuka kepada orang lain, maka
pahalanya sama seperti membebaskan budak dan dosa kalian akan
diampuni,".
Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, "Wahai Rasulullah,
bagaimana jika tidak mampu memberikan makanan untuk berbuka kepada
orang lain ?". Beliau menjawab, "Selamatkan diri kalian dari api
neraka. Meskipun sedikit dengan sebutir kurma atau separuhnya atau
segelas air kepada orang yang berpuasa maka akan mendapatkan pahala
yang besar." Dari sini jelas kiranya bahwa berpuasa mengajarkan
manusia untuk peduli dan membantu sesama setelah merasakan penderitaan
orang yang lapar dan dahaga. Mengenai sebab berpuasa, Imam Shadiq
berkata, "Allah swt mewajibkan berpuasa untuk menciptakan persamaan di
antara sesama makhluk,".
Suatu hari Nabi Ibrahim as keluar dari rumahnya menuju gurun dan
pantai untuk menyaksikan keindahan alam ciptaan Allah swt. Dalam
hatinya, Nabi Ibrahim berkata,"Seluruh makhluk yang beraneka ragam,
bunga yang bermekaran, kicauan burung, air dan pepohonan serta gunung,
akan mengenalkan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan bertasbih
kepada-Nya.Tapi mengapa manusia tidak meninggalkan penyembahan
terhadap berhala."
Ketika tenggelam dalam pemikiran, seketika matanya mengarah kepada
manusia yang sedang menunaikan shalat. Lalu, Ibrahim mendekati orang
itu. Setelah ia selesai shalat, Ibrahim bertanya kepadanya, "Kepada
siapa engkau menyembah ? Ia menjawab, "Aku menyembah Tuhan." Kemudian
Ibrahim kembali bertanya. "Siapa Tuhan ?" Ia menjawab, "Tuhan yang
menciptakan aku dan dirimu".
Ibrahim mengetahui Tuhan sejati yang disembah. Ia berkata kepadanya,
"Aku menyukaimu, menyukai caramu. Bolehkan aku mengetahui di mana
rumahmu? Supaya aku bisa berkunjung.
Abid tersebut menjawab, "Rumahku melewati laut, engkau tidak bisa
menuju ke sana".
Ibrahim balik bertanya, "Bagaimana engkau melewati air ?"
"Aku meminta kepada Tuhan supaya bisa berjalan di atas air dan tidak
tenggelam," jawab sang Abid.
Ibrahim menukas,"Barangkali Tuhan akan menganugerahkan kepadaku bisa
berjalan di atas air, dan malam ini aku bisa mengunjungi rumahmu,".
Lalu abid itu berdiri dan berjalan bersama Ibrahim hingga mendekati
laut. Kemudian abid itu mengucapkan nama Tuhan dan berjalan di atas
air. Lalu, Ibrahim melakukan hal yang sama dan ia pun berjalan di atas
air hingga sampai di rumah abid itu.
Ibrahim bertanya, "Apa makananmu ?"
Abid itu menunjuk pohon, seraya berkata, "Aku mengumpulkan buah dari
pohon ini dan cukup untuk hidup setiap tahun,".
Ibrahim bertanya, "Hari apa yang paling besar ?"
Abid menjawab, "Hari ketika Tuhan menghitung amal seluruh makhluk dan
memberikan ganjaran sesuai perbuatannya masing-masing".
Ibrahim kembali berkata,"Kemarilah kita berdoa bersama supaya orang-
orang Mukmin diselamatkan dari kesulitan."
"Sudah tiga tahun doaku tidak dikabulkan oleh Tuhan. Aku tidak mau
berdoa lagi", ujar sang abid.
Ibrahim menimpali, "Jangan putus asa. Terkadang Tuhan sangat mencintai
makhluknya, tapi doanya tidak dikabulkan dalam waktu singkat supaya ia
terus bermunajat kepada Tuhan. Sebaliknya, terkadang Tuhan cepat
mengabulkan doa orang yang dimurkainya. Oleh karena itu, jangan
berputus asa dan tetap berdoa. Kalau boleh tahu, apa doamu ?"
Abid menjawab, "Suatu hari aku shalat. Ketika itu mataku tertuju ke
arah seorang remaja dengan wajah berseri-seri dan beberapa sapi yang
digembalainya. Kulit sapi itu dibalur minyak sehingga mengkilat.
Bersamanya ada beberapa kambing. Aku berjalan menuju ke arahnya sambil
berkata, siapa namamu?" ia menjawab, "Aku putra Ibrahim Khalil". Kini,
selama tiga tahun aku memohon kepada Tuhan supaya dipertemukan dengan
Ibrahim dan kini doaku dikabulkan.
Ibrahim menjawab, "Ya, aku adalah Ibrahim dan remaja itu adalah
anakku. Mendengar jawaban itu, abid mengangkat tangannya dan mencuim
Ibrahim. Ia berkata, "Aku bersyukur kepada Tuhan karena doaku
dikabulkan. Ketika itu, Ibrahim memohon abid untuk mendoakan seluruh
mukmin dan ia mengamininya.