
Mengenai doktrin keadilan sahabat, jika dikatakan bahwa semua sahabat adil tanpa terkecuali maka hal ini keliru. Dalam salah satu tulisan, saya pernah mengisyaratkan bahwa keadilan sahabat yang saya yakini adalah tidak semua sahabat adil, para sahabat adil kecuali jika ditunjukkan dalil yang menjatuhkan keadilannya. Terdapat bukti shahih yang menunjukkan jatuhnya kedudukan sahabat tertentu, contohnya banyak ditulis dalam blog ini diantaranya
Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sahabat Nabi yang dikatakan berdusta atas Allah SWT dan Rasul-Nya dan dikatakan bahwa ia mati tidak dalam keadaan islam.
Samurah bin Jundub, Abu Ghadiyah Al Juhaniy, Walid bin Uqbah dan Umarah bin Uqbah yang dinyatakan sebagai ahli neraka
Mughirah bin Syu’bah yang mencaci Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] padahal jelas dalam hadis shahih tidak membenci Aliy kecuali orang munafik.
Selagi tidak ada bukti kuat yang menjatuhkan kedudukan sahabat tertentu maka tidak ada halangan bagi saya untuk menerima hadis dari para sahabat Nabi. Tentu saja para nashibi tidak akan menerima pandangan ini. Saya tidak peduli dengan perkataan mereka, karena pandangan saya memiliki landasan yang shahih.
Dalam Al Qur’an, Ayat-ayat yang memuji sahabat tidak ditujukan untuk semua sahabat tanpa terkecuali karena diantara para sahabat di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] terdapat orang munafik sebagaimana Al Qur’an telah menyatakan bahwa diantara penduduk Madinah yang bersama Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] terdapat orang-orang munafik yang hanya Allah SWT yang mengetahui siapa mereka.
Hadis Al Haudh juga menjadi bukti bahwa ayat Al Qur’an yang memuji sahabat tidak ditujukan untuk semua sahabat tanpa terkecuali. Hadis Al Haudh menunjukkan bahwa terdapat sebagian sahabat yang murtad sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan tentu saja di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wassalam] mereka tidak diragukan adalah sahabat Nabi bahkan dalam sebagian riwayat, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “mereka bagian dariku”. Para sahabat yang akhirnya murtad tersebut jelas tidak layak dimasukkan dalam ayat Al Qur’an yang memuji sahabat. Maka kesimpulannya ayat Al Qur’an yang memuji para sahabat tidak ditujukan untuk semua sahabat pada saat itu tanpa terkecuali.
Walaupun demikian saya tidak pernah menyatakan bahwa semua sahabat itu tidak adil, munafik, murtad atau tercela. Jelas jika ada yang menganggap demikian berarti ia telah mengalami kesesatan dalam berpikir dan mengambil kesimpulan. Saya hanya membantah klaim dari sebagian orang bahwa semua sahabat tanpa terkecuali adalah adil dan terpuji karena bukti shahih menunjukkan tidak semua sahabat seperti itu.
Ada sebagian orang yang sebenarnya memahami pandangan saya tetapi pikiran busuk mereka menganggap bahwa jika ada satu sahabat saja dicela maka itu akan merambat ke para sahabat lainnya. Dan sebagian orang lain yang kerdil akalnya menganggap bahwa mencela siapapun dari sahabat Nabi sama halnya dengan mendustakan Al Qur’anul Kariim. Orang-orang seperti ini tidak berhujjah dengan landasan shahih melainkan dibutakan oleh waham khayal mereka sendiri. Merekalah yang lebih pantas dikatakan mendustakan Al Qur’an dan Hadis shahih. Apakah pandangan saya tentang sahabat ini berasal dari Syi’ah?. Saya jawab tidak, karena landasan yang menjadi dasar saya adalah Al Qur’an dan Hadis shahih Ahlus Sunnah yang menjadi pegangan saya.