@laravelPWA
(MERASA) BENAR SAJA TAK CUKUP
  • Judul: (MERASA) BENAR SAJA TAK CUKUP
  • Sumber:
  • Tanggal Rilis: 13:10:37 8-6-1404

Banyak orang menyamakan benar dan tepat sebagai sinonim, sehingga menganggap sesuatu yang benar pasti tepat—dan karenanya, selalu bermanfaat atau berpahala—tanpa mempedulikan kapan, di mana, bagaimana, atau oleh siapa diterapkan dan terhadap siapa. Padahal, benar dan tepat adalah dua hal berbeda yang saling melengkapi.

Benar adalah soal konsep, hidup di ranah ide yang ideal. Ia bersifat universal dan tetap: sebuah rumus matematika benar karena logikanya akurat; hukum sains benar karena terbukti melalui eksperimen; ajaran agama benar karena selaras dengan doktrin kitab suci. Kebenaran adalah soal validitas, ditentukan oleh parameter logika, fakta, atau keyakinan yang diterima.

Tepat, sebaliknya, adalah soal pelaksanaan, berpijak pada dunia nyata yang penuh variabel. Ketepatan lahir dari kemampuan membaca konteks: waktu, tempat, metode, dan pelaku. Obat yang benar untuk suatu penyakit bisa tak tepat jika pasien alergi terhadapnya. Strategi bisnis yang benar secara teori bisa gagal jika diterapkan di tengah krisis ekonomi. Acara keagamaan yang benar menurut doktrin bisa memicu konflik jika tak mempertimbangkan sensitivitas sosial. Dengan kata lain, kebenaran adalah soal validitas konsep; ketepatan adalah soal efektivitas penerapan.

Karenanya, kita membutuhkan keduanya:

1. Benar sebagai kompas, memberikan arah dan prinsip dasar.

2. Tepat sebagai kemudi, menavigasi realitas yang kompleks dan tak terduga.
Kebenaran tanpa ketepatan ibarat mobil sport melaju kencang di jalan berlubang: secara teori mumpuni, namun hancur di praktik. Kebijaksanaan sejati terletak pada perpaduan keduanya:
• Teguh memegang prinsip yang benar sebagai fondasi.
• Lentur dalam penerapannya, selaras dengan dinamika kehidupan aktual.

Dengan menyatukan kebenaran dan ketepatan, kita tidak hanya mengejar idealisme, tetapi juga menghasilkan dampak yang nyata dan bermakna.