Sejarah Hidup Imam Ali ra
Pengelompokan Imam Ali as
sang penulis H.M.H. ALHAMID ALHUSAINI
Bahasa buku اندونزیایی
tahun cetak 1404

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Oleh

H.M.H. Al Hamid Al Husaini


M U Q A D D I M A H

Usaha menyingkat sejarah kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dalam

lembaran-lembaran buku, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak semula telah

terbayang kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi. Betapa tidak!

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir,

sejak terbai'atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid,

bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain

daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan

syaraf istimewa pula.

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar

biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu

juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian.

Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah.

Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik

dalam memujinya maupun dalam mencacinya.

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau

secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: "Ada dua fihak

yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan

pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala

kebohongan tentang diriku."

Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: "Ada segolongan orang yang demi cintanya

kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya

kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka."

Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya pertentangan penilaian mengenai menantu dan

sekaligus saudara misan Rasul Allah s.a.w. itu. Dua faktor itu ialah sifat atau watak pribadi

Imam Ali r.a. sendiri dan situasi serta kondisi kehidupan Islam pada zaman hidupnya tokoh

penting Islam itu.

Faktor mana yang lebih dominan, sehigga pribadi Imam Ali r.a. mempunyai kedudukan yang

unik dalam sejarah Islam sulit dikatakan. Yang jelas kedua faktor itu memegang peran penting

dan memberi arti khusus yang pengaruhnya hingga kini masih terasa. Bahkan sejak

meninggalnya pada tahun 40 Hijriyah pendapat yang kontroversial mengenai dirinya itu tidak mereda, malahan makin berkembang sehingga sangat mewarnai sejarah Islam sampai abad ke-

15 Hijriyah sekarang ini.

Periode kehidupan Imam Ali r.a. ditandai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh

ummat Islam, terutama setelah wafatnya Rasul Allah s.a.w. Belum lagi jenazah Rasul Allah

s.a.w. dimakamkan telah muncul krisis. Dan krisis itu disusul pula oleh krisis-krisis lain.

Ancaman dari dalam dan dari luar sangat membahayakan kedudukan Islam yang masih muda

itu.

Pertentangan pribadi, qabilah, suku, golongan, bangsa dan antar-negara bermunculan hampir

secara simultan. Keseimbangan kehidupan rohani dan jasmani, masalah keagamaan dan

kenegaraan yang serasi dan seimbang di bawah satu pimpinan, yaitu di tangan Rasul Allah

s.a.w. semasa hidupnya, tiba-tiba saja mengalami kegoncangan, ketidak-seimbangan dan

ketidak-serasian.

Proses kristalisasi dan disintegrasi yang menyusul wafatnya Rasul Allah s.a.w. dihadapkan pada

tokoh-tokoh terkemuka ummat Islam, yang selama itu merupakan pembantu-pembantu

terdekat Rasul Allah s.a.w. Diantaranya Imam Ali r.a. sebagai salah satu tokoh yang menonjol

dan dekat sekali dengan Rasul Allah s.a.w. Dan dialah salah seorang yang paling merasa

berkepentingan terhadap kemaslahatan Islam dan ummatnya. Sebab dialah yang paling dini

melibatkan diri sebagai pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w.

Awal tahun Hijriyah ditandai oleh peranan Imam Ali r.a. Malam sebelum Rasul Allah s.a.w.

melakukan hijrah ke Madinah, yang sangat bersejarah itu, rumah kediaman beliau dikepung

rapat oleh para pemuda Qureiys: Mereka bertekad hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w.

Pada saat itulah Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya mengenakan mantel

hijau buatan Hadramaut dan agar saudara misannya itu berbaring di tempat tidur beliau. Imam

Ali r.a. dengan kebanggaan dan keberaniannya melaksanakan tugas tersebut.

Ketika para pemuda Qureisy yang berniat jahat itu mengintip, mereka mengira Rasul Allah

s.a.w. berada di dalam. Padahal sebenarnya saat itu Rasul Allah s.a.w. telah berhasil

menyelinap keluar menuju ke rumah Abu Bakar r.a.

Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya pada malam hijrah itu bukan

merupakan kasus tersendiri. Pada masa-masa hidupnya lebih lanjut, faktor keberanian ini

sangat mewarnai kehidupan Imam Ali r.a. Dasar-dasar keberanian ini tambah diperkuat oleh

keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah s.a.w. dan ketaqwaannya

pada Allah s.w.t.

Ketaatannya pada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya dalam membela serta menegakkan

kebenaran-kebenaran agama Allah merupakan pendorong utama, sehingga kemudian ia

diagungkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai pahlawan besar ummat Islam.

Hal itulah yang antara lain telah menimbulkan perbedaan penilaian yang hasilnya melahirkan

perselisihan pendapat. Yang menilai positif melambangkan Imam Ali r.a. sebagai contoh tokoh

yang paling ideal, pelanjut cita-cita dan perjuangan Rasul Allah. Kemudian eksesnya menjadi

berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak disukai oleh yang bersangkutan sendiri.

Sebaliknya mereka yang menilai negatif, Imam Ali r.a. mereka anggap sebagai tokoh yang amat

berambisi untuk mendapat kedudukan memimpin ummat Islam. Penilaian terakhir ini

mengundang sifat-sifat kebencian dan menjurus ke permusuhan, dan akhirnya memuncak dalam

bentuk peperangan melawan Imam Ali r.a.

Kepribadian dan watak Imam Ali r.a. yang unik itulah yang mengembangkan pendapat ekstrim

tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali r.a. akhirnya secara sadar atau tidak sadar

golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah s.a.w. Sebaliknya yang membenci Imam Ali

r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya.

Dua fihak yang sangat bertentangan penilaian terhadap Imam Ali r.a. tercermin pada dua

kelompok yang terkenal dalam sejarah Islam.

Kaum Rawafidh bukan saja pengagum Imam Ali r.a., malahan boleh dibilang sebagai "kaum

penyembah Imam Ali r.a." Semasa hidupnya, Imam Ali r.a. sendiri sudah berulang kali melarang

tindak dan sikap mereka yang sangat keliru itu, tetapi sikap Imam Ali r.a. yang tidak mau

disanjung dan disembah itu bahkan mereka nilai sebagai sikap yang agung. Imam Ali r.a.

sampai-sampai mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu syirik. Peringatan itu

sama sekali tidak menyurutkan pendirian mereka.

Begitu fanatiknya mereka kepada Imam Ali r.a. sehingga mereka bersedia mengorbankan

segala-galanya demi tegaknya pendirian itu. Bahkan ketika mereka dijatuhi hukuman dengan

dibakar hidup-hidup, hukuman itu mereka terima dengan penuh ketaatan. Di tengah kobaran

api unggun yang membakar diri mereka di depan umum, dengan penuh gairah mereka berseru:

"Dia (Imam Ali) adalah tuhan. (Sebab) dialah yang menetapkan adzab neraka ini". Mereka rela

mati dibakar dengan penuh keikhlasan. Mereka memandang layak hukuman demikian

dijatuhkan oleh "tuhan" mereka sendiri.

Sangat berlawanan dengan kaum Rawafidh ini, adalah pendirian golongan Nawasib dan

Khawarij yang sangat benci kepada Imam Ali r.a. Ironisnya, kaum Khawarij ini sebelumnya

justru merupakan pengikut Imam Ali r.a. yang paling setia dan taat. Mulamula mereka sangat

cinta, kagum, taat dan setia. Lalu berbalik 180 derajat menjadi muak, benci, mengutuk,

bahkan mengkafirkan Imam Ali r.a. Itu terjadi ketika tokoh yang mereka kagumi itu bersedia

menerima "perdamaian" dengan Muawiyah. Peristiwa yang dalam sejarah terkenal sebagai

"Tahkim bi Kitabillah".

Kaum Khawarij itu menuntut kepada Imam Ali r.a. agar ia bertaubat kepada Allah atas

perbuatan salah yang dilakukannya (mengadakan perdamaian dengan Muawiyah). Begitu

mendalamnya kebencian mereka sehingga pada kesempatan apa, kapan dan di mana saja

mereka melancarkan kecaman pedas dan memaki habis. Bahkan sejarah mencatat, Imam Ali

r.a. wafat akibat pembunuhan yang dilakukan golongan Khawarij.

Sulit untuk dicari bahan bandingan bagi seorang tokoh yang begitu hebat menimbulkan

pertentangan pendapat seperti yang ada pada diri Imam Ali r.a. Lebih sulit lagi untuk menarik

kesimpulan dari kenyataan ini. Apakah karena ia orang besar, maka timbul pertentangan

pendapat yang begitu hebat? Ataukah karena adanya pertentangan pendapat itu hingga ia

menjadi mitos. Kenyataan adanya pertentangan pendapat itu sendiri sudah mengungkapkan,

bahwa Imam Ali r.a. adalah tokoh potensial sekali, khususnya bagi ummat Islam.

Juga merupakan ironi sejarah, salah seorang yang pertama-tama berperan vital dalam membela

Islam, akhirnya dijatuhkan oleh seorang yang ayahnya justru paling memusuhi Islam ketika

Rasul Allah s.a.w. mulai dengan da'wahnya. Orang yang sejak masa anak-anak sudah

mempertaruhkan segala-galanya demi tegak dan berkembangnya Islam, kepemimpinannya

direbut oleh orang-orang yang pada awal Islam paling gigih menentang.

Lebih menyedihkan lagi karena orang yang melawan Imam Ali r.a. menempuh segala usaha dan

tipu-daya "dengan mengatas-namakan Islam". Lebih parah lagi karena dengan "mengatasnamakan

Islam" selama 136 tahun, kekuasaan Bani Umayyah, nama Imam Ali ditabukan,

direndahkan dan dihina. Pada setiap khutbah, pada setiap doa sehabis shalat tidak pernah

ditinggalkan cacian dan kutukan terhadap Imam Ali agar ia disiksa Allah.

Bahkan nama Imam Ali digunakan oleh dinasti Bani Umayyah untuk menegakkan kekuasaan

otoriter. Tiap orang atau kelompok yang berani menentang, atau tidak sependapat dengan

kebijaksanaan penguasa Bani Umayyah dapat ditindak dengan menggunakan dalih "pengikut

Imam Ali" (Pecinta Ahlulbait).

Siapa yang mempelajari sejarah Imam Ali r.a. dengan jujur, pasti akan menemukan pada

dirinya salah satu segi yang khas ada pada kehidupan tokoh legendaris itu. Nama Imam Ali r.a.

identik dengan sifat-sifat manusiawi yang mendalam. Baik sejarah sendiri, maupun sejarawan

tidak cukup mampu mengungkapkannya. Kaitan yang seperti itu biasanya oleh seorang penulis

terpaksa dikesampingkan saja dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.

Makin berkurangnya faktor-faktor kejiwaan yang menyulitkan pembahasan dan makin

dibatasinya segi-segi sejarah yang hendak ditulis, bisa jadi lebih mendekati objektivitas. Tetapi

apakah begitu jadinya?

Para sejarawan mengungkapkan bahwa pada ghalibnya makin lama seorang telah meninggal

akan lebih mudah ditemukan objektivitas untuk pengungkapan riwayat orang yang

bersangkutan. Akan tetapi kalau menyangkut Imam Ali r.a. hal itu masih dipertanyakan.

Dalam batas-batas pengungkapan yang demikianlah, buku "Imam Ali bin Abi Thalib r.a." ini

mengetengahkan riwayat kehidupan Imam Ali pada masa asuhan, keluarganya, rumahtangganya,

peranan kepahlawanannya semasa Rasul Allah masih hidup, wafatnya Rasul Allah

s.a.w., masa-masa kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., delapan hari tanpa

khalifah, Perang Unta, Perang Shiffin, Gerakan Khawarij, keutamaan, pintu ilmu dan sebuah

kenangan.


Bab I : Masa Asuhan

Dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal tokok-tokoh pembela

kebenaran dan keadilan: yang lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan

pribadi, tanpa pamrih dan bersedia mengorbankan diri untuk membela keyakinan yang dirasa

benar dan adil.

Juga dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal orang-orang yang

senantiasa memusuhi kebenaran dan keadilan, yang lebih mementingkan kepentingan pribadi

daripada kepentingan umum dan hanya memikirkan keuntungan saja tanpa memperdulikan

halal atau haramnya sesuatu.

Dua macam sifat atau watak seperti di atas, tidak mungkin mendadak lahir setelah dewasa

saja. Sifat tersebut lahir melalui proses. Hal ini juga berlaku bagi Imam Ali r.a.

Untuk mengetahui bagaimana proses Imam Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi seorang pahlawan

Islam yang tangguh, hingga dijadikan suri-tauladan oleh para pejuang Islam, marilah kita ikuti

sejak kelahirannya, masa kanak-kanaknya, masa remajanya dan kemudian setelah dewasa.

Putera Ka'bah

Telah menjadi keyakinan orang yang beragama, bahwa manusia dapat merencanakan sesuatu

dan berusaha mewujudkan rencananya. Akan tetapi apakah rencana tersebut akan tercapai

atau gagal, manusia yang merencanakan tadi tak dapat menentukannya. Penentuan terakhir di

tangan Allah s.w.t.

Banyak orang yang ingin agar isterinya dapat melahirkan putera atau puteri di tempat tertentu

dan disaksikan oleh keluarga yang lengkap. Apakah keinginan atau rencana orangtua itu akan

tercapai, Allah s.w.t. yang menentukan.

Bagaimana halnya dengan kelahiran Imam Ali r.a.? Di mana beliau dilahirkan? Di rumah Abu

Thalib atau di tempat lain?

Tentang tempat kelahiran Imam Ali r.a., A1 Hakim dalam buku "Al Mustadrak", jilid III, halaman

483, antara lain mengemukakan: Ketika itu hari Jum'at, 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi

Muhammad s.a.w. mendapat risalah. Seorang wanita, meskipun perutnya nampak besar sekali,

bersama suaminya melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Wanita yang bernama Fatimah itu

tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan

kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng

isterinya masuk ke dalam Ka'bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Diharapkan dengan

beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang.

Kenyataannya tidak seperti yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit.

Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang

dialaminya. Sebagai seorang wanita yang shaleh, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada

suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan

terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan

tawafnya.

Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah

mulas. Disaat itu yang teringat di hati Fatimah ialah bahwa rasa sakitnya akan berkurang

dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya

memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayu tersengal-sengal berucap:

"Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab

yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim, pendiri rumah ini. Maka

demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada di dalam perutku, aku mohon kepada-Mu

untuk dimudahkan kelahirannya".

Beberapa saat seusai mengucapkan doa, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra keempat

dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita

melahirkan puteranya dalam Ka'bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya

saja.

Kejadian yang luar biasa ini, beritanya segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondongbondonglah

mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka'bah, guna menyaksikan bayi

yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad s.a.w. Bayi ini saudara misan

beliau sendiri. Beliau menggendong bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke

rumah Abu Thalib.

Meskipun bayi ini merupakan putera keempat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia

besar yang dilimpahkan Allah s.w.t. kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalib ini tercermin

dari perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta walimah. Guna

memeriahkan pesta itu, beberapa ekor ternak dipotong. Pemuka-pemuka Qureiys diundang

mengunjungi pesta itu, sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan

itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama "Ali" kepada puteranya yang baru lahir. "Ali"

berarti "luhur".

Nama dan Gelarnya

Sesungguhnya, sebelum berlangsung pesta walimah, di mana Abu Thalib mengumumkan nama

"Ali" bagi puteranya yang keempat itu, Fatimah telah memberi nama "Haidarah", yang berarti

"Singa". Satu nama yang diambil persamaannya dari nama Asad, nama datuknya dari pihak ibu,

yang juga berarti "Singa".

Sementara orang mengatakan, bahwa yang memberi nama "Haidarah" ialah orang-orang

Qureiys. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa nama "Haidarah" itu sesungguhnya pemberian

ibunya sendiri.

Bukti sejarah ini dapat diketahui dari peristiwa perang-tanding, seorang lawan seorang, antara

Imam Ali r.a. melawan Marhaban. Dalam perang-tanding itu Marhaban mengagul-agulkan diri

dengan bait syairnya: "Aku inilah yang diberi nama Marhaban oleh ibuku!" Imam Ali r.a. segera

menukas dan melanjutkan bait syair itu dengan kata-katanya: "Aku inilah yang diberi nama

Haidarah oleh ibuku!"

Hanya saja nama yang diberikan ibunya menjadi tenggelam sesudah pengumuman ayahnya

dalam pesta walimah, yaitu "Ali". Ia lebih terkenal dengan nama Ali bin Abi Thalib.

Ketika di bawah asuhan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. pernah diberi julukan "Abu Turab",

yang artinya "Si Tanah". Pemberian julukan itu erat kaitannya dengan peristiwa ditemuinya

Imam Ali r.a. di satu hari sedang tidur berbaring di atas tanah. Yang menemuinya Nabi

Muhammad s.a.w. sendiri. Beliau menghampirinya dan duduk dekat kepalanya sambil

mengusap-usap punggungnya guna membuang debu-tanah. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w.

membangunkannya seraya berkata: "Duduklah, engkau hai Abu Turab!"

Nama Abu Turab ini paling disukai oleh Imam Ali r.a. Ia sangat bangga bila dipanggil dengan

nama itu. Menurut Al Bashri, nama Abu Turab ini di kemudian hari oleh orang-orang Bani

Umayyah dijadikan bahan ejekan guna merendahkan martabat Khalifah Imam Ali r.a. Mereka

mengatakan, bahwa pemberian nama Abu Turab" oleh Rasul Allah s.a.w. merupakan bukti

tentang kekurangan dan kelemahan fitrahnya.

Disamping nama-nama tersebut di atas, Imam Ali r.a. juga terkenal dengan panggilan Abul

Hasan. Ini terjadi, setelah kelahiran putera beliau, Al Hasan. Selain dari nama-nama tersebut di

atas; Imam Ali r.a. banyak sekali mendapat gelar dan yang paling populer hingga sekarang ialah

"Imam".

Di bawah Naungan Wahyu

Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 6 tahun, Makkah dan sekitarnya dilanda paceklik hebat.

Sebagai akibatnya, kebutuhan pangan sehari-hari sulit diperoleh. Bagi mereka yang berkeluarga

besar dan ekonomi lemah, seperti keluarga Abu Thalib, pukulan paceklik terasa parah sekali.

Pada masa paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. telah berumah tangga dengan Sitti Khadijah

binti Khuwalid r.a. Beliau tak dapat melupakan budi pamannya yang telah memelihara dan

mengasuh beliau sejak kecil hingga dewasa. Bertahun-tahun beliau hidup di tengah-tengah

keluarga Abu Thalib, mengikuti suka-dukanya dan mengetahui sendiri bagaimana keadaan

penghidupannya.

Dalam suasana paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. menyadari betapa beratnya beban yang

dipikul pamannya, Abu Thalib, yang sudah lanjut usia. Hati beliau terketuk dan segera

mengambil langkah untuk meringankan beban pamannya.

Nabi Muhammad s.a.w. mengetahui, bahwa Abbas bin Abdul Mutthalib, juga paman beliau,

adalah seorang terkaya di kalangan Bani Hasyim. Dibanding dengan saudara-saudaranya, Abbas

mempunyai kemampuan ekonomis yang lebih baik. Dengan tujuan untuk meringankan beban

Abu Thalib, beliau temui Abbas bin Abdul Mutthalib. Kepada pamannya itu beliau kemukakan

betapa berat derita yang ditanggung Abu Thalib sebagai akibat paceklik. Kemudian, dalam

bentuk pertanyaan, Nabi Muhammad s.a.w berkata: "Bagaimana paman, kalau kita sekarang ini

meringankan bebannya? Kusarankan agar paman mengambil salah seorang anaknya. Aku pun

akan mengambil seorang."

Abbas bin Abdul Mutthalib menyambut baik saran Nabi Muhammad s.a.w. Setetah melalui

perundingan dengan Abu Thalib, akhirnya terdapat kesepakatan: Ja'far bin Abi Thalib

diserahkan kepada Abbas, sedang Ali bin Abi Thalib r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Sejak itu Imam Ali r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan isteri beliau, Sitti Khadijah binti

Khuwailid r.a. Bagi Imam Ali r.a. sendiri lingkungan keluarga yang baru ini, bukan merupakan

lingkungan asing. Sebab Nabi Muhammad sendiri dalam masa yang panjang pernah hidup di

tengah-tengah keluarga Abu Thalib. Malahan yang menikahkan Nabi Muhammad s.a.w. dengan

Sitti Khadijah binti Khuwalid r.a., juga Abu Thalib.

Bagi Nabi Muhammad s.a.w., Imam Ali r.a. bukan hanya sekedar saudara misan, malahan dalam

pergaulan sudah merupakan saudara kandung. Lebih-lebih setelah dua orang putera lelaki

beliau, Al Qasim dan Abdullah, meninggal. Betapa besar kasih sayang yang beliau curahkan

kepada putera pamannya itu dapat diukur dari berapa besarnya kasih-sayang yang ditumpahkan

Abu Thalib kepada beliau. Bahkan pada waktu dekat menjelang bi'tsah, Nabi Muhammad s.a.w.

sering mengajak Imam Ali r.a. menyepi di gua Hira, yang terletak dekat kota Mekkah. Ada

kalanya Imam Ali r.a. diajak mendaki bukit-bukit sekeliling Makkah guna menikmati keindahan

dan kebesaran ciptaan Allah s.w.t.

Sejak usia muda Imam Ali r.a. sudah menghayati indahnya kehidupan di bawah naungan wahyu

Illahi, sampai tiba saat kematangannya untuk menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa.

Selama masa itu beliau mengikuti perkembangan yang dialami Rasul Allah s.a.w. dalam

kehidupannya.

Sungguh merupakan saat yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jiwa Imam Ali r.a.

dengan berada di dalam lingkungan keluarga termulia itu. Periode yang paling berkesan dalam

kehidupan Imam Ali r.a. adalah dimulai dari usia 6 tahun sampai Nabi Muhammad s.a.w.

menerima wahyu pertama dari Allah s.w.t. Imam Ali r.a. mendapat kesempatan yang paling

baik, yang tidak pernah dialami oleh siapa pun juga, ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang

dipersiapkan Allah s.w.t. untuk mendapat tugas sejarah yang maha penting itu.

Imam Ali r.a. menyaksikan dari dekat saudara misannya melaksanakan ibadah kepada Allah

s.w.t dengan cara yang berbeda sama sekali dari tradisi dan kepercayaan orang-orang Makkah

ketika itu. Imam Ali r.a. menyaksikan juga betapa saudara misannya menjauhi kehidupan

jahiliyah, menjauhi kebiasaan minum khamar, menjauhi perzinahan. Selain itu, dengan mata

kepala sendiri Imam Ali r.a. menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan fikiran Nabi

Muhammad s.a.w.

Semua warisan yang telah diterima Imam Ali r.a. dari para orangtuanya, kini berkembang

mekar di hadapan seorang maha guru yang cakap dan bijaksana, yaitu putera pamannya

sendiri. Manusia terbesar di dunia itulah yang menghubungkan diri Imam Ali r.a. dengan Allah

s.w.t.

Masa Kanak-kanak

Tentang usia Imam Ali r.a. ketika Rasul Allah s.a.w. mulai melakukan da'wah risalah, terdapat

riwayat yang berlainan. Sebagian riwayat mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. pada waktu itu

masih berusia 10 tahun. Sementara ahli sejarah lain mengatakan, Imam Ali r.a. ketika itu telah

berusia 13 tahun. Yang terakhir ini antara lain ditegaskan oleh Syeikh Abul Qasyim Al Balakhiy.

Masalah usia Imam Ali r.a. ini banyak dipersoalkan oleh penulis sejarah, karena ada kaitannya

dengan penilaian: apakah Imam Ali memeluk agama Islam di masa kanak-kanak ataukah setelah

akil baligh. Tampaknya riwayat yang lebih kuat mengatakan bahwa Imam Ali r.a. telah berusia

13 tahun pada waktu Rasul Allah s.a.w. memulai da'wahnya.

Pada waktu Nabi Muhammad s.a.w. menerima tugas da'wah Ilahiyah, Imam Ali r.a.

menyambutnya tanpa bimbang dan ragu. Hal itu dimungkinkan karena lama sebelumnya ia

telah langsung hidup di bawah naungan Rasul Allah s.a.w. Bila ada hal yang ketika itu tidak

mudah difahami Imam Ali r.a. hanyalah mengenai cara-cara pelaksanaan risalah dan beban

tanggung jawab yang harus dipikulnya sebagai orang beriman.

Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya melakukan da'wah secara

terbuka dan terang-terangan, Imam Ali r.a. ikut ambil bagian sebagai pembantu. Imam Ali r.a.

antara lain menyampaikan seruan-seruan Rasul Allah s.a.w. kepada sejumlah orang tertentu di

kalangan anggota-anggota keluarganya.

Tentang hal yang terakhir ini, ibnu Hisyam dalam riwayatnya mengemukakan, bahwa Imam Ali

r.a. pernah mengatakan dengan jelas, bahwa Rasul Allah s.a.w. secara rahasia memberi tahu

kepada siapa saja yang mau menerima dari kalangan anggota-anggota keluarga dan familinya,

mengenai nikmat kenabian yang dilimpahkan Allah kepada beliau dan kepada umat manusia

melalui beliau.

Untuk itu Rasul Allah s.a.w. menyampaikan da'wahnya lebih dahulu kepada anggota-anggota

keluarga yang paling dekat, yaitu isterinya sendiri Sitti Khadijah r.a. dan saudara misan

asuhannya, Imam Ali r.a. Setelah kepada dua orang itu, barulah kepada Zaid bin Haritsah,

putera angkatnya.

Imam Ali r.a. sendiri sebagai orang yang paling dini melakukan tugas da'wah membantu Rasul

Allah s.a.w. pernah menerangkan, bahwa pada masa itu tidak ada satu rumah pun yang

menghimpun anggota-anggota keluarga dalam agama Islam, selain rumah-tangga Rasul Allah

s.a.w. dan Khadijah r.a. "Dan akulah orang ketiga dalam rumah itu. Aku menyaksikan langsung

cahaya wahyu dan risalah serta mencium semerbaknya bau kenabian" demikian kata Imam Ali

r.a.

Ali bin Al Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Imam Ali r.a., melalui sebuah riwayat

memberitahukan kapan datuknya mulai memeluk agama Islam. Ia mengatakan: "Ia beriman

kepada Allah dan Rasul-Nya tiga tahun lebih dulu sebelum orang lain."

Masa Remaja

Dari sejarah hidupnya, sejak usia kanak-kanak langsung menerima asuhan Rasul Allah s.a.w.,

tidak ada keraguan lagi, bahwa Imam Ali r.a. merupakan orang yang paling dini menerima

hidayah Ilahi, paling dulu beriman dan bersujud kepada-Nya. Para peneliti buku-buku riwayat

akan menemukan kenyataan tersebut dan dapat mengetahuinya dengan jelas.

Dalam masa remaja, Imam Ali r.a. sudah aktif membantu da'wah Rasul Allah s.a.w. Menurut

Abdullah bin Abbas, Imam Ali r.a. sendiri pernah menceritakan tentang hal itu sebagai berikut:

"Setelah turun ayat 214 Surah Asy Syura (perintah Allah kepada Rasul-Nya supaya

memperingatkan kaum kerabat yang terdekat), beliau memanggil aku. Kemudian berkata: "Hai

Ali, Allah telah memerintahkan supaya aku memberi peringatan kepada kaum kerabatku yang

terdekat. Aku merasa agak sedih, sebab aku tahu, jika aku berseru kepada mereka

melaksanakan perintah itu, aku akan mengalami sesuatu yang tidak kusukai. Oleh karena itu

aku diam saja sampai datanglah Jibril yang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, jika engkau

tidak berbuat seperti yang diperintahkan kepadamu, Tuhan akan menjatuhkan adzab

kepadamu." Oleh karena itu, hai Ali, buatlah makanan. Masaklah paha kambing dan sediakan

untuk kita susu sewadah besar. Setelah itu kumpulkan keluarga Bani Abdul Mutthalib. Mereka

hendak kuajak bicara dan akan kusampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku."

"Semua yang diperintahkan beliau kepadaku, kukerjakan segera. Kemudian anggota-anggota

keluarga Bani Abdul Muttalib kuundang supaya hadir. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih 40

orang. Di antara mereka itu terdapat para paman Rasul Allah s.a.w., seperti Abu Thalib,

Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Setelah semuanya berkumpul, Rasul Allah s.a.w. memanggilku

dan memerintahkan supaya makanan segera dihidangkan. Hidangan itu kusajikan. Rasul Allah

s.a.w. mengambil sepotong daging, lalu diletakkan kembali pada tepi baki. Beliau

mempersilakan mereka mulai menikmati hidangan: 'Silakan kalian makan, Bismillah!' Mereka semua makan dan minum sekenyang-kenyangnya. Demi Allah, mereka masing-masing makan

dan minum sebanyak yang kuhidangkan."

"Ketika Rasul Allah s.a.w. hendak mulai berbicara beliau didahului oleh Abu Lahab. Abu Lahab

berkata kepada hadirin dengan sinis: "Kalian benar-benar sudah disihir oleh saudara kalian!"

"Karena ucapan Abu Lahab semua yang hadir pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya aku

diperintahkan lagi oleh Rasul Allah s.a.w. supaya mempersiapkan segala sesuatunya seperti

kemarin. Setelah semua makan minum secukupnya, Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada

mereka: "Hai Bani Abdul Mutthalib. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui ada seorang

pemuda dari kalangan orang Arab, yang datang kepada kaumnya membawa sesuatu yang lebih

mulia daripada yang kubawa kepada kalian. Untuk kalian aku membawa kebajikan dunia dan

akhirat. Allah memerintahkan aku supaya mengajak kalian ke arah itu. Sekarang, siapakah di

antara kalian yang mau membantuku dalam persoalan itu dan bersedia menjadi saudaraku,

penerima wasiatku dan khalifahku?"

"Semua yang hadir bungkam. Hanya aku sendiri yang menjawab: "Aku !" Waktu itu aku seorang

yang paling muda usianya dan masih hijau. Kukatakan lagi: "Ya, Rasul Allah, akulah yang

menjadi pembantumu!" Beliau mengulangi ucapannya dan aku pun mengulangi kembali

pernyataanku. Rasul Allah s.a.w. kemudian memegang tengkukku, seraya berseru kepada

semua yang hadir: "Inilah saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku atas kalian!" Semua

yang hadir berdiri sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berkata hampir serentak kepada Abu

Thalib: "Hai Abu Thalib! Dia (yakni Muhammad) menyuruhmu supaya taat kepada anakmu!"

Hadits yang senada dengan apa yang dikemukakan Abdullah bin Abbas, juga diriwayatkan oleh

Abu Ja'far At Thabary dalam bukunya "At Tarikh".

Itulah sekelumit riwayat tentang seorang muda remaja yang kemudian hari bakal menjadi

pemimpin ummat Islam. Seorang pemimpin yang dihormati tidak saja oleh kaum muslimin,

tetapi juga oleh para ahludz dzimmah, yaitu kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang bersedia

hidup damai di bawah pemerintahan Islam.

Di depan Abu Lahab, orang yang selama ini selalu mengancam-ancam dan menuntut supaya

Rasul Allah s.a.w. menghentikan da'wahnya, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu berani

menyatakan dukungan dan bantuannya kepada Nabi Muhammad s.a.w.


Bab II : Lingkungan Keluarga

Pemimpin, yang riwayatnya kita bicarakan ini berasal dari lingkungan keluarga terkemuka

qabilah Qureiys, yaitu Abul Hasan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi

Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Ayah Imam Ali r.a., yakni Abu Thalib, adalah saudara kandung

Abdullah bin Abdul Mutthalib, ayah Nabi Muhammad s.a.w. Jadi, Nabi Muhammad s.a.w. dan

Imam Ali r.a. sama-sama berasal dari satu tulang sulbi seorang datuk: Abdul Mutthalib bin

Hasyim. Jelasnya, baik Rasul Allah s.a.w. maupun Imam Ali r.a., dua-duanya termasuk keluarga

Bani Abdul Mutthalib. Atau jika ditarik lebih ke atas lagi, dua-duanya termasuk keluarga Bani

Hasyim. Dalam sejarah sebutan "keluarga Bani Hasyim" lebih populer dibanding dengan sebutan

"Bani Abdul Mutthalib".

Hingga akhir hayatnya, Abdul Mutthalib merupakan pimpinan tertinggi qabilah Qureiys di

Makkah. Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menggantikan kedudukan ayahnya sebagai

pemimpin Qureiys dan kepala kota Makkah. Abu Thalib juga merangkap sebagai pemimpin

terkemuka Bani Hasyim.

Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang putera. Tiga di antaranya ialah Abbas, Abu Thalib dan

Abdullah. Nabi Muhammad s.a.w., manusia termulia di dunia, adalah putera Abdullah bin Abdul

Mutthalib. Ia menjadi mundzir (juru ingat) bagi segenap

ummat manusia. Sedang Imam Ali r.a., seorang pemimpin kaum muslimin yang tiada taranya, adalah putera Abu Thalib bin Abdul Mutthalib. Ia jadi penuntun kaum muslimin sedunia.

Imam Ali r.a. mempunyai 3 orang saudara lelaki, yaitu Ja'far, 'Aqil dan Thalib. Di suatu medan

pertempuran di Tabuk, Ja'far gugur sebagai pahlawan dalam perjuangan membela Nabi

Muhammad s.a.w. dan Islam. 'Aqil dikurniai usia panjang hingga sempat mengalami zaman

kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedang Thalib, anak sulung Abu Thalib, wafat mendahului

saudara-saudaranya.

Ibunda

Nama lengkap ibunda Imam Ali r.a. ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin

Qushaiy bin Kilab. Fatimah binti Asad adalah seorang puteri dari Bani Hasyim yang pertama

bersuamikan seorang berasal dari Bani Hasyim juga. Ia termasuk yang paling dini memeluk

agama Islam, serta memberikan dukungan kepada da'wah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad

s.a.w. Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya

dengan sebutan "Bunda" dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri.

Pada waktu Fatimah binti Asad wafat, Nabi Muhammad s.a.w. bersembahyang untuk

jenazahnya. Di saat pemakamannya, Nabi Muhammad s.a.w. turun sendiri ke liang lahad dan

setelah jenazahnya diselimuti dengan baju beliau, beliau berbaring sejenak di samping

jenazahnya.

Mengetahui hal itu, beberapa orang sahabat sambil keheran-heranan bertanya: "Ya Rasul Allah,

kami tidak pernah melihat anda berbuat seperti itu terhadap orang lain!"

"Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia", jawab Nabi Muhammad s.a.w.

dengan segera. "Kuselimutkan bajuku, agar kepadanya diberi pakaian indah di dalam sorga, Aku

berbaring di sampingnya, agar ia terhindar dari jepitan dan tekanan kubur."

Ayahanda

Ayahanda Imam Ali r.a. adalah seorang pemimpin Qureisy. Ia sangat terpandang, dicintai,

dihormati dan disegani oleh penduduk Makkah. Beliau dihormati bukan semata-mata karena

kedudukannya, tetapi lebih-lebih karena budi pekertinya yang luhur, jiwanya yang besar,

kepribadiannya yang tinggi dan tindakannya yang senantiasa adil. Satu pribadi yang

mengungguli semua orang pada zamannya. Baik dalam soal kesanggupannya, kemantapannya

maupun dalam kegigihannya membela sesuatu yang diyakininya benar.

Tentang kesanggupan, kemantapan dan kegigihan Abu ThalIib dapat disaksikan dari

penampilan-penampilan beliau menghadapi orang-orang kafir Qureiys. Dengan kekuatan sendiri

ia memikul beban membela Nabi Muhammad s.a.w. dari tantangantantangan dan perlawanan

orang-orang Qureiys. Satu beban yang tak pernah dipikul oleh paman-paman serta keluarga

atau kerabat Nabi Muhammad s.a.w. yang lain. Penilaian yang semacam itu terhadap Abu

Thalib, diterima bulat oleh para sejarawan dari segala mazhab.

Abu Thalib adalah orang yang teguh berdiri membentengi Nabi Muhammad s.a.w. dari segala

bentuk rongrongan komplotan kafir Qureiys. Abu Thalib berbuat demikian didorong oleh

pandangannya yang luas, penglihatan hati dan fikirannya yang tajam, tekad serta semangatnya

yang tak terpatahkan.

Hal ini tercermin pula ketika untuk pertama kalinya Abu Thalib melihat puteranya, Imam Ali

r.a., secara diam-diam bersembahyang di belakang Rasul Allah s.a.w. Diamatinya putera yang

masih muda belia itu telah menjadi pengikut Nabi Muhammad s.a.w. Diperhatikan pula

puteranya itu tidak gelisah bersembahyang meskipun dilihat ayahnya.

Malahan Imam Ali r.a. setelah mengetahui ayahnya melihat ia bersembahyang di belakang Rasul

Allah, segera menghadap kepadanya, kemudian berkata: "Ayah, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku mempercayai dan membenarkan agama yang dibawa olehnya dan aku

bertekad hendak mengikuti jejaknya!"

Mendengar pernyataan puteranya yang terus terang tanpa dibikin-bikin, Abu Thalib berkata:

"Sudah pasti ia mengajakmu ke arah kebajikan, oleh karena itu tetaplah engkau bersama dia!"

Lain kali Abu Thalib melihat puteranya sedang berdiri di sebelah kanan Nabi Muhammad s.a.w.

yang siap menunaikan sembahyang. Dari kejauhan Abu Thalib melihat puteranya yang seorang

lagi yaitu Ja'far. Ja'far segera dipanggil, kemudian diperintahkan: "Bergabunglah engkau

menjadi sayap putera pamanmu di sebelah kiri, dan bersembahyanglah bersama dia!"

Abu Thalib seorang pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan tinggi. Ia tidak bersitegang leher

mempertahankan kebekuan zaman dan tidak menghalang-halangi hadirnya masa mendatang

yang lebih cemerlang. Kebijaksanaan yang tinggi itu tercermin benar dari wasiyat yang

diucapkannya pada detik-detik menjelang ajalnya, ditujukan kepada orang-orang Qureiys:

"…Wahai orang-orang Qureiys. Kuwasiatkan agar kalian senantiasa mengagungkan rumah itu

(Ka'bah). Sebab di sanalah tempat keridhoan Tuhan dan sekaligus juga merupakan tiang

penghidupan… Eratkanlah hubungan silaturrahmi, janganlah sekali-kali kalian putuskan.

Jauhilah perbuatan dzalim… Betapa banyaknya sudah generasi-generasi terdahulu hancur

binasa karena dzalim...!

"Wahai orang-orang Qureiys. Sambutlah dengan baik orang yang mengajak ke jalan yang benar,

dan berikanlah pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan... Sebab dua perbuatan

terpuji itu merupakan kemuliaan bagi seseorang, selagi ia masih hidup dan sesudah mati…

Hendaknya kalian selalu berkata benar dan setia menunaikan amanat…!

"Kuwasiatkan kepada kalian supaya berlaku baik terhadap Muhammad. Sebab ia orang yang

paling terpercaya di kalangan Qureiys dan tidak pernah berdusta…!

"Apa yang kuwasiatkan kepada kalian, semuanya telah terhimpun padanya. Kepada kita ia

datang membawa missi yang sebenarnya dapat diterima oleh hati-sanubari, tetapi diingkari

dengan ujung lidah, hanya karena takut akan tidak disukai orang lain. Demi Allah, aku seakanakan

dapat melihat bahwa orang-orang Arab lapisan bawah, orang-orang yang hidup terluntalunta,

dan orang-orang yang lemah tidak berdaya, sudah siap menyambut baik seruannya,

membenarkan tutur-katanya, dan menjunjung tinggi missi yang di bawanya. Bersama mereka

itulah Muhammad mengarungi ancaman gelombang maut!

"Namun aku juga seolah-olah sudah melihat, bahwa orang-orang Arab akan dengan tulus hati

mengikhlaskan kecintaan mereka dan mempercayakan kepemimpinan kepadanya."

"Demi Allah, barang siapa yang mengikuti jejak langkahnya, ia pasti akan menemukan jalan

yang benar. Dan barang siapa yang mengikuti petunjuk serta bimbingannya, ia pasti selamat!"

"Seandainya aku masih mempunyai sisa umur, semua rong-rongan yang mengganggu dia, pasti

akan kuhentikan dan kucegah, dan ia pasti akan kuhindarkan dari tiap marabahaya yang akan

menirnpanya…"

Wasiat yang gamblang itu tidak memerlukan ulasan lagi. Dari wasiyat yang diucapkan sesaat

sebelum ajalnya datang, orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, siapa sebenarnya Abu

Thalib itu, bagaimana sikapnya terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dan sejauh mana pandangan

dan fikirannya terhadap Islam.

Sikap, pandangan dan fikiran yang sangat positif itulah yang memberi kesanggupan kepadanya

untuk mencurahkan seluruh hidupnya melindungi pembawa da'wah yang mengajak manusia ke jalan yang benar.

Abu Thalib bukan hanya mengenal kebenaran Nabi Muhammad s.a.w., tetapi juga mengenal

pribadi beliau dengan baik. Ia paman beliau, pengasuh dan pemelihara beliau sejak kanakkanak

sampai dewasa. Dalam waktu yang amat panjang, Abu Thalib menyaksikan sendiri

bagaimana praktek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. sehari-hari. Abu Thalib rindu sekali ingin

melihat hakekat kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Hatinya pedih dan kesal

menyaksikan kaumnya menyia-nyiakan akal fikiran dan hidup mereka di depan tumpukan batu,

yang dianggapnya sebagai sesembahan dan tuhan-tuhan.

Dengan tangguh Abu Thalib menghadapi tantangan-tantangan kafir Qureiys serta menggagalkan

rencana-rencana jahat yang mereka tujukan terhadap Rasul Allah s.a.w. Ketika orang-orang

kafir Qureiys sudah merasa putus asa dan tidak sanggup lagi membendung da'wah risalah Nabi

Muhammad s.a.w., dan tidak berdaya lagi menggertak Abu Thalib supaya menghentikan

perlindungan dan pembelaannya kepada Rasul Allah s.a.w., maka tokoh-tokoh mereka

mengambil keputusan: melancarkan blokade dan pemboikotan total terhadap semua orang Bani

Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib.

Blokade dan pemboikotan total yang demikian itu adalah cara-cara yang di cela oleh tradisi dan

moral bangsa Arab sendiri. Tetapi bagi kaum kafir Qureiys, itu bukan soal. Yang penting, tujuan

harus tercapai. Segala cara atau jalan mereka halalkan demi tujuan.

Blokade kafir Qureiys itu ternyata lebih mendorong orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul

Mutthalib untuk bertambah cenderung dan berfihak kepada Abu Thalib. Orang-orang Bani

Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib berhimpun dalam sebuah Syi'ib (lembah di antara dua bukit).

Dengan semangat baja mereka hadapi kepungan ketat serta pemboikotan total di bidang

ekonomi dan sosial. Selama lebih kurang 3 tahun mereka menahan penderitaan dan kelaparan.

Mereka sampai terpaksa menelan dedaunan sekedar untuk mengganjel perut yang lapar.

Selama masa yang penuh derita dan sengsara itu, Abu Thalib tetap tegak berdiri laksana gunung

raksasa yang kokoh-kuat, tak tergoyahkan oleh gelombang badai dan tiupan angin ribut.

Dengan tegas Abu Thalib menolak setiap kompromi dan tawar-menawar yang diajukan oleh

orang-orang kafir Qureiys. Penolakkannya itu diucapkan dengan bait-bait syair. Inilah di antara

syair-syair tersebut :

"Sadarlah kalian, sadarlah,

sebelum banyak liang digali orang,

dan orang-orang tak bersalah diperlakukan sewenang-wenang.

Janganlah kalian ikuti perintah orang jahat tiada berakhlaq

untuk memutuskan tali persahabatan

dan persaudaraan dengan kita.

Demi Tuhan Penguasa Ka'bah,

Kami tak akan menyerahkan Muhammad ke dalam marabahaya

yang dirajut orang-orana penentang zaman,

sebelum terbedakan mana leher kami dan mana leher kalian,

dan sebelum tangan berjatuhan ditebas pedang mengkilat tajam!"

Ya… benarlah. Jika Abu Thalib sudah mempercayai suatu kebenaran, kepercayaannya itu benar benar

keras dan mantap. Sekeras dan semantap kepercayaan yang diwariskan kepada putera

bungsunya, Imam Ali r.a., bahkan sampai kepada anak cucu keturunan Imam Ali r.a.!

Abu Thalib bergerak membela Nabi Muhammad s.a.w. bukan disebabkan karena beliau putera

saudaranya sendiri. Abu Thalib menyingsingkan lengan baju, karena Nabi Muhammad s.a.w.

seorang yang menyerukan kebenaran dan mengajak manusia ke arah kebajikan! Ia membela kebenaran dan bukan membela kekerabatan. Ia menentang dan melawan saudaranya sendiri,

Abu Lahab, karena ia tahu, Abu Lahab berada di atas kebatilan.

Tentang betapa adil dan jujurnya Abu Thalib dapat pula disaksikan dari peristiwa berikut. Pada

suatu hari Rasul Allah s.a.w. memberitahukan kepada Abu Thalib, bahwa naskah pemboikotan

yang ditempelkan oleh orang-orang kafir Qureiys pada dinding Ka'bah sudah hancur di makan

rayap, sehingga tak ada lagi bagian yang tinggal selain yang bertuliskan: "Dengan Nama Allah."

Setelah mendengar keterangan Rasul Allah s.a.w., Abu Thalib segera mendatangi sejumlah

tokoh Qureiys. Kepada tokoh-tokoh kafir Qureiys itu, Abu Thalib berkata dengan lantang: "Hai

orang-orang Qureiys, putera saudaraku telah memberitahu kepadaku, bahwa naskah

pemboikotan yang kalian tulis dan kalian gantungkan pada Ka'bah, sekarang sudah hancur.

Tengoklah naskah kalian itu! Kalau benar terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad,

hentikanlah pemboikotan kalian terhadap kami. Tetapi jika Muhammad ternyata berdusta, ia

akan kuserahkan kepada kalian!"

Abu Thalib mengatakan semuanya itu hanya berdasarkan kepercayaan yang penuh kepada Nabi

Muhammad s.a.w. Ia sendiri belum pernah melihat bagaimana keadaan naskah yang tergantung

pada dinding Ka'bah.

Tokoh-tokoh Qureiys merasa puas dengan kesediaan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad

s.a.w., bila terbukti beliau berdusta. Mereka segera pergi menuju Ka'bah untuk menengok

naskah pemboikotan dan ternyata benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad s.a.w. Tokohtokoh

kafir Qureiys lemas, tak berdaya dan terpaksa mengumumkan penghentian pemboikotan

pada hari itu juga. Aksi komplotan mereka berakhir dengan kegagalan.

Dari peristiwa tersebut Abu Thalib memperoleh pembuktian langsung dari Allah s.w.t. tentang

benarnya kepercayaan yang selama ini dipertahankan dan dijaganya baik-baik. Pembuktian

yang didapatnya sebagai mu'jizat Rasul Allah s.a.w. itu datang dari kekuasaan Allah dan bukan

datang dari seorang famili yang harus diikuti.

Jauh sebelum kejadian di atas, orang-orang kafir Qureiys sudah berkali-kali menghimbau Abu

Thalib baik dengan bujuk rayu, maupun dengan ancaman kekerasan. Orang-orang kafir Qureiys

pernah mengancam Abu Thalib dengan kata-kata:

"Hai Abu Thalib, engkau orang yang sudah lanjut usia, terhormat dan mempunyai kedudukan

terpandang… Kami telah berkali-kali meminta kepadamu supaya engkau melarang putera

saudaramu terus menerus berda'wah, tetapi engkau tidak mau melarangnya… Kami tidak dapat

lagi menahan kesabaran mendengar orangtua kami dicerca, tuhan-tuhan kami dicela, dan

orang-orang arif kami dijelek-jelekkan... Silakan engkau pilih… Apakah engkau bersedia

mencegah Muhammad supaya tidak terus menerus menyerang kami, atau, kamilah yang akan

bertindak memerangi dia, termasuk engkau sekaligus, sampai salah satu fihak binasa…"

Mendengar ancaman itu, Abu Thalib bukannya menjadi mundur dalam membela kebenaran Nabi

Muhammad s.a.w., malahan justru bertambah teguh pendiriannya, semakin tinggi semangatnya

dan merasa lebih mampu memberikan tamparan keras terhadap muka orang Qureiys yang sudah

semakin nekad. Melalui syairnya dengan tegas Abu Thalib menjawab:

"Aku tahu bahwa agama Muhammad, agama terbaik bagi segenap manusia. Demi Allah, hai

Muhammad, mereka tak akan dapat menyentuhmu, sebelum aku terkapar berkalang tanah."

Pada suatu hari Abu Thalib sedang duduk santai di rumah. Tiba-tiba datang Rasul Allah s.a.w.

kelihatan sedih dan kesal. Setelah duduk, Rasul Allah s.a.w. segera menyampaikan

persoalannya. Mendengar keterangan beliau, Abu Thalib segera mengerti, bahwa orang-orang

kafir Qureiys telah berhasil membujuk salah seorang yang berperangai jahat di kalangan mereka melemparkan kotoran ternak dan gumpalan darah beku ke atas kepala Rasul Allah

s.a.w. Pelemparan itu dilakukan, di saat Nabi Muhammad s.a.w. sedang sujud bermunajat ke

hadirat Allah s.w.t.

Dengan tidak menunggu waktu lagi Abu Thalib bangkit. Dengan tangan kanan membawa pedang

terhunus dan tangan kiri menggandeng Nabi Muhammad s.a.w., ia berangkat mendatangi

gerombolan Qureiys yang telah mengganggu Nabi Muhammad s.a.w. Setiba di depan

gerombolan itu, Abu Thalib berhenti sejenak. Diperhatikannya gerak-gerik gerombolan itu.

Seorang demi seorang mereka mundur. Rupanya di luar perkiraan mereka, bahwa Nabi

Muhammad s.a.w. akan datang kembali bersama pamannya.

Abu Thalib terus berteriak kepada gerombolan itu: "Demi Allah, yang Muhammad beriman

kepada-Nya. Jika ada seorang dari kalian yang berani melawan, akan kupersingkat umurnya

dengan pedang ini!"

Setelah itu Abu Thalib dengan tangannya sendiri membersihkan tubuh Nabi Muhammd s.a.w.

dari kotoran ternak dan darah. Semua kotoran itu dikumpulkan, digenggam, lalu dilemparkan

ke wajah orang-orang Qureiys yang sedang siap hendak lari. Di hadapan Abu Thalib kelihatan

sekali kekerdilan gerombolan itu.

Dalam membela dan melindungi Rasul Allah s.a.w. dari marabahaya keteguhan Abu Thalib

dapat diandalkan benar. Keteguhannya itu tercermin juga dari syair-syair yang diucapkannya

sendiri:

Janganlah kalian sulut api pengobar perang,

Yang akibat-pahitnya akan ditelan semua orang!

Demi Allah, Muhammad tak nanti 'kan kuserahkan

Kepada tangan pencetus bencana mengerikan.

Kenalkah kalian siapa Hasyim,

Ksatria yang pernah berpesan,

Agar kami berani berperang dengan semangat jantan?

Kami bukan pejuang-pejuang yang jemu perang,

Tak'kan kami sesali yang gugur di medan juang!

Kubela Rasul, utusan Penguasa Maha Kuasa,

Pembawa amanat berkilauan laksana kilat bercahaya,

Kubela dan kulindungi utusan Tuhan Ilahi,

Karena ia manusia kesayanganku sendiri,

Kulindungi ia dari serangan musuh-musuhnya,

Laksana gadis kulindungi dari gangguan pria!

Hai Abu Ya'la,

Teguh dan sabarlah dalam agama Muhammad,

Nyatakan dirimu terang-terangan sebagai muslim yang mantap,

Bulatkan tekad mendampingi pembawa kebenaran Tuhan,

Betapa riang hatiku mendengar engkau beriman,

Janganlah engkau menjadi kafir tidak bertuhan,

Jadikan dirimu pembela Rasul dan pembela Tuhan,

Tunjukkan agamamu di mata Qureiys terang-terangan,

Katakanlah: Muhammad Saw bukan si tukang sihir!

Datukanda

Pada waktu jemaah haji berjubel tiap tahun di sekitar sumur Zamzam, tentu mereka teringat

kepada nama seorang terhormat yang dikagumi rakyatnya. Nama seorang yang dengan tangan

dan keringat sendiri menggali sumur itu hingga airnya memancar, setelah sekian abad lamanya

tertutup. Sumur Zamzam tak dapat dipisahkan dari nama Abdul Mutthalib.

Pada satu malam, di kala Abdul Mutthalib sedang tidur, jiwanya yang putih bersih menyongsong

suara orang berseru: "Galilah Thaibah!" Abdul Mutthalib terjaga. Ia tak mengerti takwil

mimpinya. Pada malam berikutnya orang yang bersuara itu muncul kembali dalam mimpi.

"Galilah barrah!".

Abdul Mutthalib terbangun. Ia masih tak dapat memahami apa yang harus dilakukan. Pada

malam ketiga, sekali lagi ia mendengar suara itu di dalam mimpi: "Galilah Zamzam!" Abdul

Mutthalib bertanya: "Apakah arti Zamzam?" orang yang berseru itu menjelaskan: "Ia tidak

kunjung kering dan tak berkurang airnya, sanggup memberi minum kepada jemaah haji betapa

pun besar jumlahnya!" Kemudian ditunjukkan tempatnya.

Pagi-pagi buta, dengan disertai puteranya, Al Harits, ia berangkat menuju letak sumur yang

ditunjuk dalam mimpi. Bersama puteranya ia bekerja menggali. Tak lama kemudian memancar

air dari sumber yang abadi. Sebenarnya tempat itu dahulunya merupakan sumur. Hanya dalam

kurun waktu yang panjang telah tertimbun oleh batu-batu besar dan pasir. Dahulu kala sumur

itu merupakan kurnia Allah s.w.t. kepada Nabi Isma'il a.s. bersama bundanya.

Abdul Mutthalib atau Syaibah (nama aslinya) adalah seorang yang mempunyai type cemerlang.

Sukar ditemukan bandingannya. Keharuman namanya menjadi buah bibir orang di segenap

penjuru gurun sahara Semenanjung Arabia. Karena banyak pekerjaan terpuji yang

dilakukannya, sehingga ia disebut dengan nama panggilan "Syaibatul Hamd". Bahkan banyak

yang menyebutnya sebagai "Pemberi makan manusia di dataran dan pengumpan margasatwa di

pegunungan!"

Abdul Mutthalib seorang yang memiliki kebijaksanaan yang luas dan iman yang dalam. Hal ini

tercermin dengan jelas, tatkala Abrahah datang ke Makkah membawa pasukan yang luar biasa

besarnya guna menghancurkan Ka'bah. Setelah Abdul Mutthalib mengetahui bahwa kaumnya

tidak sanggup menghadapi pasukan penyerbu, maka diperintahkan supaya masing-masing pergi

mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Tinggalkan kota Makkah sebagai kota kosong. Anak

dan isteri serta hak miliknya masing-masing supaya dibawa. Mengenai keselamatan Ka'bah

diserahkan kepada Pemilik rumah suci itu.

Pada suatu hari, Abdul Mutthalib pergi menemui Abrahah. Ketika Abdul Mutthalib ditanya oleh

Abrahah tentang maksud kedatangannya, Abdul Mutthalib dengan tegas menjawab: "Aku datang

kepada tuan untuk meminta kembali unta-untaku yang tuan ambil."

Abrahah menyatakan keheranannya karena Abdul Mutthalib sebagai penguasa Makkah tidak

memikirkan Ka'bah yang akan dihancurkannya itu, tetapi hanya memikirkan unta-untanya saja.

Guna menghilangkan keheranan Raja Yaman itu, Abdul Mutthalib dengan jelas mengatakan,

bahwa unta-unta yang kalian ambil adalah milikku, sedang Ka'bah yang hendak dihancurkan itu

mempunyai pemiliknya sendiri yang akan melindungi keselamatannya.

Itulah pendirian seorang yang benar-benar berketuhanan. Seorang yang hidup di tengah-tengah

gelombang penyembahan berhala. Jiwa dan hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh perasaan

halus yang tersembunyi, yang mengakui dengan haqqul yakin, bahwa di sana terdapat Tuhan

Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha Kuasa.

Kemurnian iman Abdul Mutthalib tampak jelas sekali. Walaupun ia tahu, bahwa di sekitar

Ka'bah bercokol 300 buah lebih berhala, tidak kepada sebuah berhala pun ia meminta

pertolongan guna menyelamatkan Ka'bah. Ia tidak meminta kepada si Hubal, tidak kepada Laat

dan tidak pula kepada si Uzza! Meskipun tidak ada jarak pemisah antara berhala-berhala itu

dengan Ka'bah, Abdul Mutthalib sama sekali tidak sudi meminta sesuatu kepada patung

sembahan jahiliyah itu!

Tidak lain ia hanya memohon kepada Allah, tunduk dan khusuk kepada-Nya, serta hanya mau

berlindung kepada Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sesuai dengan isyarat yang diberikan oleh

perasaan halus yang tersembunyi di dalam hati nuraninya: "Ya Tuhan, tiap orang

mempertahankan rumahnya, oleh karena itu pertahankanlah Rumah-Mu!" Alangkah sederhana

dan mantapnya doa seperti itu.

Doa Abdul Mutthalib ternyata bukan seperti melempar batu ke lubuk. Pukulan yang mematikan

dialami oleh balatentara Abrahah. Dengan suatu "pasukan" yang paling lemah berupa burungburung

Ababil, Allah s.w.t. menghancurkan mereka. Burung-burung menyebarkan maut di

kalangan balatentara Abrahah. Bangkai mereka bergelimpangan menjadi cerita sejarah.

Sifat pasrah diri Abdul Mutthalib kepada Allah seperti di atas seakan-akan kekanak-kanakan.

Sungguh tidaklah demikian. Pasrah diri Abdul Mutthalib bukan pasrah diri orang yang sama

sekali tak berdaya, melainkan karena keyakinan imannya, bahwa di sana ada Allah Maha Kuasa,

Tuhan yang senantiasa berada di belakang setiap gerak dan perbuatan. Abdul Mutthalib yakin,

sesuatu yang tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan kebajikan yang ada pada manusia akan

ditentukan persoalannya oleh Dia sendiri Yang Maha Kuasa. Sungguh, suatu kepasrahan yang

sangat polos, indah dan murni.

Melalui Abdul Mutthalib Allah s.w.t. melimpahkan kemudahan dan keberkahan kepada

penduduk Makkah. Lebih dari satu kali langit dan udara Makkah sedemikian gersangnya. Tidak

setetes air hujan pun yang turun membasahi bumi. Hampir saja penduduk mati kekeringan dan

dilanda paceklik amat berat. Pada saat yang berat itu, penduduk mendatangi Abdul Mutthalib.

Abdul Mutthalib mengajak mereka berbondong-bondong menuju sebuah puncak bukit. Di

puncak bukit itulah dengan khusyu' Abdul Mutthalib berdoa: "Ya Tuhan, mereka itu adalah

hamba-hamba-Mu. Engkau mengetahui apa yang sedang menimpa kami semua. Oleh karena itu

jauhkanlah kegersangan dari kami, turunkanlah hujan membawa rahmat dan berkah,

menumbuhkan tetanaman, memberi kehidupan dan penghidupan."

Iman Abdul Mutthalib kelihatannya memang lain dari yang yang lain. Iman seorang yang hidup

di masa penyembahan berhala masih menjadi agama peribadatan di mana-mana. Namun Abdul

Mutthalib mengenal Allah melalui setiap nikmat yang terlimpah kepadanya dan dari tiap

langkah yang berhasil ditempuhnya.

Ketika ia mendengar kelahiran cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., segera diemban dan dibawa

masuk ke dalam Ka'bah. Disana ia memanjatkan puji syukur dalam bentuk syair:

"Puji syukur bagi Allah yang mengaruniakan kepadaku,

seorang anak yang baik susunan bentuknya ini,

selagi dalam buaian ia mengungguli anak yang lain.

Ia kulindungkan pada Tuhan Maha Perkasa

sampai kusaksikan masa dewasanya."

Abdul Mutthalib ditunjukkan oleh penglihatan batinnya sendiri, sehingga dapat mengetahui

bahwa anak yang baru lahir itu akan memainkan peranan besar di kemudian hari. Oleh karena

itu ia mencintai Nabi Muhammad s.a.w. melebihi kecintaan yang diberikannya kepada

siapapun.

Tiap kali Abdul Mutthalib bertemu dengan Abu Thalib, tangan puteranya itu selalu ditarik,

kemudian dilekatkan pada tangan cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., sambil berkata: "Hai Abu

Thalib, di kemudian hari anak ini akan mempunyai kedudukan, oleh karena itu jagalah dia baikbaik.

Jangan kaubiarkan ada sesuatu yang tidak baik menyentuhnya!"

Amanat ayahnya dipenuhi dengan baik oleh Abu Thalib. Ia jaga dan pelihara putera saudaranya

itu sebagaimana mestinya. Ia mengasuh anak itu sesuai dengan kematangan berfikirnya, ketinggian martabat keturunannya dan kebesaran sifat keutamaannya.

Abdul Mutthalib adalah datukanda Nabi Muhammd s.a.w., juga datukanda Imam Ali r.a.

Setelah keluarga besar itu ditinggal wafat oleh Abdul Mutthalib dan Abu Thalib, Imam Ali r.a.

sebagai cucu Abdul Mutthalib dan putera Abu Thalib mewarisi budi pekerti luhur dan kebesaran

jiwa yang sukar ditemukan bandingannya. Ia benar-benar mewarisi dua hal sekaligus: akhlaq

utama dan darah mulia.


Bab III : Rumah Tangga Serasi

Lahirnya Sitti Fatimah Azzahra r.a. merupakan rahmat yang dilimpahkan llahi kepada Nabi

Muhammad s.a.w. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana benih yang

akan menumbuhkan pohon besar pelanjut keturunan Rasul Allah s.a.w. Ia satu-satunya yang

menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenal umat Islam di seluruh dunia. Sitti Fatimah

Azzahra r.a. dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jumadil Akhir, kurang lebih lima tahun

sebelum bi'tsah.

Sitti Fatimah Azzahra r.a. tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah

kancah pertarungan sengit antara Islam dan Jahiliyah, di kala sedang gencar-gencarnya

perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.

Dalam keadaan masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. sudah harus mengalami

penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Ia berkenalan dengan pahit getirnya

perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun ia bersama ayah

bundanya hidup menderita di dalam Syi'ib, akibat pemboikotan orang-orang kafir Qureiys

terhadap keluarga Bani Hasyim.

Setelah bebas dari penderitaan jasmaniah selama di Syi'ib, datang pula pukulan batin atas diri

Sitti Fatimah Azzahra r.a., berupa wafatnya bunda tercinta, Sitti Khadijah r.a. Kabut sedih

selalu menutupi kecerahan hidup sehari-hari dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih

sayang ibu.

Puteri Kesayangan

Rasul Allah s.a.w. sangat mencintai puterinya ini. Sitti Fatimah Azzahra r.a. adalah puteri

bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasul Allah s.a.w. Nabi Muhammad

s.a.w. merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan yang paling

dekat disisinya selain puteri bungsunya itu.

Demikian besar rasa cinta Rasul Allah s.a.w. kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan

hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut hadits tersebut Rasul Allah s.a.w. berkata

kepada Imam Ali r.a. demikian:

"Wahai Ali! Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah

hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan siapa yang menyenangkan dia,

ia menyenangkan aku…"

Pernyataan beliau itu bukan sekedar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya,

bahwa puteri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah

ummatnya.

Di kala masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. menyaksikan sendiri cobaan yang dialami

oleh ayah-bundanya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun penganiayaan-penganiayaan

yang dilakukan orang-orang kafir Qureiys. Ia hidup di udara Makkah yang penuh dengan debu

perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwaah, keluarga yang menjadi pusat iman,

hidayah dan keutamaan. Ia menyaksikan ketangguhan dan ketegasan orang-orang mukminin

dalam perjuangan gagah berani menanggulangi komplotan-komplotan Qureiys. Suasana perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sitti Fatimah Azzahra r.a. dan

memainkan peranan penting dalam pembentukan pribadinya, serta mempersiapkan kekuatan

mental guna menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.

Setelah ibunya wafat, Sitti Fatimah Azzahra r.a. hidup bersama ayahandanya. Satu-satunya

orang yang paling dicintai. Ialah yang meringankan penderitaan Rasul Allah s.a.w. tatkala

ditinggal wafat isteri beliau, Sitti Khadijah. Pada satu hari Sitti Fatimah Azzahra r.a.

menyaksikan ayahnya pulang dengan kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan

oleh orang-orang Qureys, di saat ayahandanya itu sedang sujud. Dengan hati remuk-redam

laksana disayat sembilu, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkan kepala dan tubuh

ayahandanya. Kemudian diambilnya air guna mencucinya. Ia menangis tersedu-sedu

menyaksikan kekejaman orang-orang Qureisy terhadap ayahnya.

Kesedihan hati puterinya itu dirasakan benar oleh Nabi Muhammad s.a.w. Guna menguatkan

hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad s.a.w., sambil membelaibelai

kepala puteri bungsunya itu, berkata: "Jangan menangis..., Allah melindungi ayahmu dan

akan memenangkannya dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya"

Dengan tutur kata penuh semangat itu, Rasul Allah s.a.w. menanamkan daya-juang tinggi ke

dalam jiwa Sitti Fatimah r.a., dan sekaligus mengisinya dengan kesabaran, ketabahan serta

kepercayaan akan kemenangan akhir. Meskipun orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir

Qureiys itu senantiasa mengganggu dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi

Muhammad s:a.w. tetap melaksanakan tugas risalahnya.

Pada ketika lain lagi, Sitti Fatimah r.a. menyaksikan ayahandanya pulang dengan tubuh penuh

dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau najis ke

punggung Rasul Allah s.a.w. itu Uqbah bin Mu'aith, Ubaiy bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf.

Melihat ayahandanya berlumuran najis, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkannya dengan air

sambil menangis.

Nabi Muhammad rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Qureiys ini sudah keterlaluan.

Karena itulah maka pada waktu itu beliau memanjatkan doa kehadirat Allah s.w.t.: "Ya Allah

celakakanlah orang-orang Qureiys itu. Ya Allah, binasakanlah 'Uqbah bin Mu'aith. Ya Allah

binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf"

Masih banyak lagi pelajaran yang diperoleh Sitti Fatimah dari penderitaan ayahandanya dalam

perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi bekal hidup baginya untuk

menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh cobaan. Kehidupan yang serba berat dan

keras di kemudian hari memang memerlukan mental gemblengan.

Hijrah ke Madinah

Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan terror untuk

membunuh Rasul Allah s.a.w., Madinah telah siap menerima kedatangan beliau. Nabi

Muhammad meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau

bersama Abu Bakar Ash Shiddiq meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak

famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim as. dan Musa a.s.

Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad s.a.w. termasuk puteri kesayangan

beliau, Sitti Fatimah r.a. dan putera paman beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil,

yaitu Imam Ali r.a. yang selama ini menjadi pembantu terpercaya beliau.

Imam Ali r.a. sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khusus:

berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata komplotan Qureiys yang siap hendak

membunuh beliau. Sebelum Imam Ali r.a. melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi

Muhammad s.a.w. agar barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah s.a.w.,

segera menyusul berhijrah.

Imam Ali r.a. membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah

bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasul Allah s.a.w. terdiri dari

keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali r.a. Di dalam rombongan Imam Ali r.a.

ini termasuk Sitti Fatimah r.a., Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali r.a.), Fatimah binti

Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu

Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan.

Rombongan Imam Ali r.a. berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini tidak

dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai

para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali

r.a. segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua

penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik

matahari.

Imam Ali r.a., sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau

siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Qureiys terhadap

rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu ia siap

berlawan tiap saat.

Mendengar rombongan Imam Ali r.a. berangkat, orang-orang Qureiys sangat penasaran. Lebihlebih

karena rombongan Imam Ali r.a. berani meninggalkan Makkah secara terang-terangan di

siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap bahwa keberanian Imam Ali r.a. yang semacam itu

sebagai tantangan terhadap mereka.

Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk

mengejar Imam Ali r.a. dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup

atau mati. Delapan orang Qureiys itu, di sebuah tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati

rombongan Imam Ali r.a.

Setelah Imam Ali r.a. mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera

memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya.

Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari

punggung unta. Seterusnya ia maju seorang diri menghadapi gerombolan Qureisy dengan

pedang terhunus. Rupanya Imam Ali r.a. hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh

mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka.

Melihat Imam Ali r.a. mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu berteriak-teriak menusuk

perasaan: "Hai penipu, apakah kaukira akan dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu?

Ayo, kembali! Engkau sudah tidak berayah lagi."

Imam Ali r.a. dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys itu. Ia

bertanya: "Kalau aku tidak mau berbuat itu...?"

"Mau tidak mau engkau harus kembali," sahut gerombolan Qureiys dengan cepat.

Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali r.a. menghalangi usaha

mereka. Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul

Imam Ali r.a. dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman

pedang Imam Ali r.a. telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya terbelah menjadi dua,

sehingga pedang Imam Ali r.a. sampai menancap pada punggung kuda. Serangan-balas secepat

kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali r.a.

berkata: "Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!"

Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali r.a. untuk menyarungkan

kembali pedangnya. Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Aku hendak berangkat menyusul

saudaraku, putera pamanku, Rasul Allah. Siapa yang ingin kurobek-robek dagingnya dan

kutumpahkan darahnya, cobalah maju mendekati aku!"

Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini

mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan

agresi kafir Qureiys.

Di Dhajnan, rombongan Imam Ali r.a. beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman

(ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali r.a.

Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Keesokan

harinya rombongan Imam Ali r.a. beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan.

Imam Ali r.a. sudah rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasul Allah s.a.w.

Waktu itu Rasul Allah s.a.w. bersama Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sudah tiba dekat kota

Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan

rombongan Imam Ali r.a. Kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, Rasul Allah s.a.w. memberitahu,

bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya

sendiri datang.

Selama dalam perjalanan itu Imam Ali r.a. tidak berkendaraan sama sekali. Ia berjalan kakitelanjang

menempuh jarak kl 450 km sehingga kakinya pecah-pecah dan membengkak.

Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasul

Allah s.a.w. menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. melihat Imam Ali r.a. tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya

membengkak, beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis karena sangat terharu.

Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu diusapkan pada kaki Imam Ali r.a. Konon

sejak saat itu sampai wafatnya, Imam Ali r.a. tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.

Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasul Allah s.a.w. dan tak

terlupakan selama-lamanya. Berhubung dengan peristiwa itu, turunlah wahyu Ilahi yang

memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam Surah Ali 'Imran:195.

Ijab-Kabul Pernikahan

Sitti Fatimah Azzahra r.a. mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat

risalah yang dibawakan Nabi Muhammad s.a.w. sudah maju dengan pesat di Madinah dan

sekitarnya. Ketika itu Sitti Fatimah Azzahra r.a. benar-benar telah menjadi remaja puteri.

Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang

menggantungkan harapan ingin mempersunting puteri Rasul Allah s.a.w. itu. Beberapa orang

terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran

itu, Nabi Muhammad s.a.w. mengemukakan, bahwa beliau sedang menantikan datangnya

petunjuk dari Allah s.w.t. mengenai puterinya itu.

Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khatab r.a. dan Sa'ad bin Mu'adz

bersama-sama Rasul Allah s.a.w. duduk dalam mesjid beliau. Pada kesempatan itu

diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasul Allah s.a.w. Saat itu beliau bertanya kepada

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.: "Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu

kepada Ali bin Abi Thalib?"

Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi Imam Ali r.a. Sewaktu Imam Ali r.a. melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan tergopoh-gopoh

dan terperanjat ia menyambutnya, kemudian bertanya: "Anda datang membawa berita apa?"

Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. segera menjelaskan

persoalannya: "Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya

serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada

dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat

terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri

beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan

puterinya diserahkan kepada Allah s.w.t. Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga sekarang

engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar

untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu."

Mendengar perkataan Abu Bakar r.a. mata Imam Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi katakata

itu, Imam Ali r.a. berkata: "Hai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang

semulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku

memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah

karena aku tidak mempunyai apa-apa."

Abu Bakar r.a. terharu mendengar jawaban Imam Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan

dan menguatkan hati Imam Ali r.a., Abu Bakar r.a. berkata: "Hai Ali, janganlah engkau berkata

seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan

belaka!"

Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar r.a. berhasil mendorong keberanian Imam Ali

r.a. untuk melamar puteri Rasul Allah s.a.w.

Beberapa waktu kemudian, Imam Ali r.a. datang menghadap Rasul Allah s.a.w. yang ketika itu

sedang berada di tempat kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu

Salmah bertanya kepada Rasul Allah s.a.w.: "Siapakah yang mengetuk pintu?" Rasul Allah s.a.w.

menjawab: "Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya,

dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!"

Jawaban Nabi Muhammad s.a.w. itu belum memuaskan Ummu Salmah r.a. Ia bertanya lagi: "Ya,

tetapi siapakah dia itu?"

"Dia saudaraku, orang kesayanganku!" jawab Nabi Muhammad s.a.w.

Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salmah di kemudian hari mengisahkan

pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Imam Ali r.a. kepada Nabi Muhammad s.a.w. itu:

"Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah pintu kubuka,

ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia

masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasul Allah s.a.w. Ia dipersilakan

duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai

maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya.

Rasul Allah mendahului berkata: "Hai Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan.

Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh

dariku!"

Mendengar kata-kata Rasul Allah s.a.w. yang demikian itu, lahirlah keberanian Ali bin Abi

Thalib untuk berkata: "Maafkanlah, ya Rasul Allah. Anda tentu ingat bahwa anda telah

mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku

masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa.

Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan anda, ya Rasul

Allah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan

akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah

tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri

anda, Fatimah. Ya Rasul Allah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku

dengan dia?"

Ummu Salmah melanjutkan kisahnya: "Saat itu kulihat wajah Rasul Allah nampak berseri-seri.

Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, apakah engkau mempunyai

suatu bekal maskawin?'' .

"Demi Allah", jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang, "Anda sendiri mengetahui

bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak

mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu," kata Rasul Allah s.a.w. menanggapi jawaban Ali bin Abi Thalib,

"engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu

engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau

memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya

atas dasar maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai

Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah 'Azza wajalla sebenarnya sudah lebih dahulu

menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!" Demikian versi riwayat

yang diceritakan Ummu Salmah r.a.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh

para sahabat, Rasul Allah s.a.w. mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya:

"Bahwasanya Allah s.w.t. memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas dasar

maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal

itu."

"Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik", jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dalam pernikahan itu.

Rumah Tangga Sederhana

Maskawin sebesar 400 dirham itu diserahkan kepada Abu Bakar r.a. untuk diatur

penggunaannya. Dengan persetujuan Rasul Allah s.a.w., Abu Bakar r.a. menyerahkan 66 dirham

kepada Ummu Salmah untuk "biaya pesta" perkawinan. Sisa uang itu dipergunakan untuk

membeli perkakas dan peralatan rumah tangga.

-sehelai baju kasar perempuan;

-sehelai kudung;

-selembar kain Qathifah buatan khaibar berwarna hitam;

-sebuah balai-balai;.

-dua buah kasur, terbuat dari kain kasar Mesir (yang sebuah berisi ijuk kurma dan yang sebuah

bulu kambing);

-empat buah bantal kulit buatan Thaif (berisi daun idzkir);

-kain tabir tipis terbuat dari bulu;

-sebuah tikar buatan Hijr;

-sebuah gilingan tepung;

-sebuah ember tembaga;

-kantong kulit tempat air minum;

-sebuah mangkuk susu;

-sebuah mangkuk air;

-sebuah wadah air untuk sesuci;

-sebuah kendi berwarna hijau;

-sebuah kuali tembikar;

-beberapa lembar kulit kambing;

-sehelai 'aba-ah (semacam jubah);

-dan sebuah kantong kulit tempat menyimpan air.

Sejalan dengan itu Imam Ali r.a. mempersiapkan tempat kediamannya dengan perkakas yang

sederhana dan mudah didapat. Lantai rumahnya ditaburi pasir halus. Dari dinding ke dinding

lain dipancangkan sebatang kayu untuk menggantungkan pakaian. Untuk duduk-duduk

disediakan beberapa lembar kulit kambing dan sebuah bantal kulit berisi ijuk kurma. Itulah

rumah kediaman Imam Ali r.a. yang disiapkan guna menanti kedatangan isterinya, Sitti Fatimah

Azzahra r.a.

Selama satu bulan sesudah pernikahan, Sitti Fatimah r.a. masih tetap di rumahnya yang lama.

Imam Ali r.a. merasa malu untuk menyatakan keinginan kepada Rasul Allah s.a.w. supaya

puterinya itu diperkenankan pindah ke rumah baru. Dengan ditemani oleh salah seorang

kerabatnya dari Bani Hasyim, Imam Ali r.a. menghadap Rasul Allah s.a.w. Lebih dulu mereka

menemui Ummu Aiman, pembantu keluarga Nabi Muhammad s.a.w. Kepada Ummu Aiman,

Imam Ali r.a. menyampaikan keinginannya.

Setelah itu, Ummu Aiman menemui Ummu Salmah r.a. guna menyampaikan apa yang menjadi

keinginan Imam Ali r.a. Sesudah Ummu Salmah r.a. mendengar persoalan tersebut, ia terus

pergi mendatangi isteri-isteri Nabi yang lain.

Guna membicarakan persoalan yang dibawa Ummu Salmah r.a., para isteri Nabi Muhammad

s.a.w. berkumpul. Kemudian mereka bersama-sama menghadap Rasul Allah s.a.w. Ternyata

beliau menyambut gembira keinginan Imam Ali r.a.

Suami-Isteri Yang Serasi

Sitti Fatimah r.a. dengan perasaan bahagia pindah ke rumah suaminya yang sangat sederhana

itu. Selama ini ia telah menerima pelajaran cukup dari ayahandanya tentang apa artinya

kehidupan ini. Rasul Allah s.a.w. telah mendidiknya, bahwa kemanusiaan itu adalah intisari

kehidupan yang paling berharga. Ia juga telah .diajar bahwa kebahagiaan rumah-tangga yang

ditegakkan di atas fondasi akhlaq utama dan nilai-nilai Islam, jauh lebih agung dan lebih mulia

dibanding dengan perkakas-perkakas rumah yang serba megah dan mewah.

Imam Ali r.a. bersama isterinya hidup dengan rasa penuh kebanggaan dan kebahagiaan. Duaduanya

selalu riang dan tak pernah mengalami ketegangan. Sitti Fatimah r.a. menyadari,

bahwa dirinya tidak hanya sebagai puteri kesayangan Rasul Allah s.a.w., tetapi juga isteri

seorang pahlawan Islam, yang senantiasa sanggup berkorban, seorang pemegang panji-panji

perjuangan Islam yang murni dan agung. Sitti Fatimah berpendirian, dirinya harus dapat

menjadi tauladan. Terhadap suami ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya (Sitti Khadijah

r.a.) terhadap ayahandanya, Nabi Muhammad s.a.w.

Dua sejoli suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu bekerja sama dan saling bantu dalam

mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk dengan kerja keras. Sitti Fatimah

r.a. menepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri. Ia membuat roti,

menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani

dengan tenaga sendiri.

Rasul Allah s.a.w. sendiri sering menyaksikan puterinya sedang bekerja bercucuran keringat.

Bahkan tidak jarang beliau bersama Imam Ali r.a. ikut menyingsingkan lengan baju membantu

pekerjaan Sitti Fatimah r.a.

Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukiskan betapa beratnya kehidupan

rumah-tangga Imam Ali r.a. Sebuah riwayat mengemukakan: Pada suatu hari Rasul Allah s.a.w.

berkunjung ke tempat kediaman Sitti Fatimah r.a. Waktu itu puteri beliau sedang menggiling tepung sambil melinangkan air mata. Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan

puterinya menangis, Rasul Allah s.a.w. ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau

menghibur puterinya: "Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di

akhirat kelak"

Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. datang menjenguk Sitti

Fatimah r.a., tepat: pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau

terus bertanya: "Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?"

"Fatimah! " Jawab Imam Ali r.a. Sitti Fatimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya

menggiling tepung bersama Imam Ali r.a.

Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa beratnya penghidupan dan kehidupan

rumah-tangga Imam Ali r.a. Semuanya itu hanya menggambarkan betapa besarnya kesanggupan

Sitti Fatimah r.a. dalam menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa

kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Ada sebuah riwayat lain yang menuturkan betapa repotnya Sitti Fatimah r.a. sehari-hari

mengurus kehidupan rumah-tangganya. Riwayat itu menyatakan sebagai berikut: Pada satu hari

Rasul Allah s.a.w. bersama sejumlah sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal

bin Rabbah, yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari.

Ketika Bilal terlambat datang, oleh Rasul Allah s.a.w. ditegor dan ditanya apa sebabnya. Bilal

menjelaskan:

"Aku baru saja datang dari rumah Fatimah. Ia sedang menggiling tepung. Al Hasan, puteranya

yang masih bayi, diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya "Manakah

yang lebih baik, aku menolong anakmu itu, ataukah aku saja yang menggiling tepung". Ia

menyahut: "Aku kasihan kepada anakku". Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling

gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!"

Mendengar keterangan Bilal itu Rasul Allah s.a.w. berkata: "Engkau mengasihani dia dan Allah

mengasihani dirimu!"

Hal-hal tersebut di atas adalah sekelumit gambaran tentang kehidupan suatu keluarga suci di

tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan keluarga yang penuh dengan semangat gotongroyong.

Selain itu kita juga memperoleh gambaran betapa sederhananya kehidupan pemimpinpemimpin

Islam pada masa itu. Itu merupakan contoh kehidupan masyarakat yang dibangun

oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq. Itupun merupakan pencerminan kaidahkaidah

agama Islam, yang diletakkan untuk mengatur kehidupan rumah-tangga.

Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. dan Sitti Fatimah r.a., ketiganya merupakan tauladan bagi

kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di dalam Islam. Hubungan antar

anggota keluarga memang seharusnya demikian erat dan serasi seperti mereka.

Tak ada tauladan hidup sederhana yang lebih indah dari tauladan yang diberikan oleh keluarga

Nubuwwah itu. Padahal jika mereka mau, lebih-lebih jika Rasul Allah s.a.w. sendiri

mengehendaki, kekayaan dan kemewahan apakah yang tidak akan dapat diperoleh beliau?

Tetapi sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi tauladan, sebagai seorang yang

menyerukan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan serta persamaan, sebagai orang yang hidup

menolak kemewahan duniawi, beliau hanya mengehendaki supaya ajaran-ajarannya benarbenar

terpadu dengan akhlaq dan cara hidup ummatnya. Beliau mengehendaki agar tiap orang,

tiap pendidik, tiap penguasa dan tiap pemimpin bekerja untuk perbaikan masyarakat. Masingmasing

supaya mengajar, memimpin dan mendidik diri sendiri dengan akhlaq dan perilaku

utama, sebelum mengajak orang lain. Sebab akhlaq dan perilaku yang dapat dilihat dengan nyata, mempunyai pengaruh lebih besar, lebih berkesan dan lebih membekas dari pada sekedar

ucapan-ucapan dan peringatan-peringatan belaka. Dengan praktek yang nyata, ajakan yang

baik akan lebih terjamin keberhasilannya.

Sebuah riwayat lagi yang berasal dari Imam Ali r.a. sendiri mengatakan: Sitti Fatimah pernah

mengeluh karena tapak-tangannya menebal akibat terus-menerus memutar gilingan tepung. Ia

keluar hendak bertemu Rasul Allah s.a.w. Karena tidak berhasil, ia menemui Aisyah r.a.

Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasul Allah s.a.w. datang, beliau

diberitahu oleh Aisyah r.a. tentang maksud kedatangan Fatimah yang hendak minta diusahakan

seorang pembantu rumah-tangga. Rasul Allah s.a.w. kemudian datang ke rumah kami. Waktu

itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata: "Kuberitahukan kalian

tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring

ucapkanlah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada

seorang pembantu yang akan melayani kalian."

Sambutan Nabi Muhammad s.a.w. atas permintaan puterinya agar diberi pembantu, merupakan

sebuah pelajaran penting tentang rendah-hatinya seorang pemimpin di dalam masyarakat

Islam. Kepemimpinan seperti itulah yang diajarkan Rasul Allah s.a.w. dan dipraktekan dalam

kehidupan konkrit oleh keluarga Imam Ali r.a. Mereka hidup setaraf dengan lapisan rakyat yang

miskin dan menderita. Pemimpin-pemimpin seperti itulah dan yang hanya seperti itulah, yang

akan sanggup menjadi pelopor dalam melaksanakan prinsip persamaan, kesederhanaan dan

kebersihan pribadi dalam kehidupan ini.

Putera-puteri

Sitti Fatimah r.a. melahirkan dua orang putera dan dua orang puteri. Putera-puteranya

bernama Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Sedang puteri-puterinya bernama Zainab r.a. dan

Ummu Kalsum r.a. Rasul Allah s.a.w. dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucucucunya.

Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau. Dua

orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum muslimin pada zaman hidupnya Nabi Muhammad

s.a.w. menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada Al Hasan r.a. dan Al

Husein r.a. Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua "putera" beliau itu dan berpegang

teguh pada pesan itu.

Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi umat Islam.

Al Husein r.a. gugur sebagai pahlawan syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah.

Semangatnya terus berkesinambungan, melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang

tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat Al Husein r.a.

merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.

Puteri beliau yang bernama Zainab r.a. merupakan pahlawan wanita muslim yang sangat

cemerlang dan menonjol sekali peranannya, dalam pertempuran di Karbala membela Al Husein

r.a. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa A1 Husein r.a.

beserta segenap anggota keluarganya. A1 Husein r.a. gugur dan kepalanya diarak sebagai

pameran keliling Kufah sampai ke Syam.

Setelah hidup bersuami isteri selama kurang lebih 10 tahun Sitti Fatimah r.a. meninggal dunia

dalam usia 28 tahun. Sepeninggal Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. beristerikan beberapa orang

wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah, hingga wafatnya Imam Ali r.a. menikah sampai 9

kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Dalam satu periode, tidak pernah lebih 4 orang isteri.

Wanita pertama yang dinikahi Imam Ali r.a. sepeninggal Siti Fatimah r.a. ialah Umamah binti

Abil 'Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Muhammad s.a.w., kakak

perempuan Sitti Fatimah r.a. Pernikahan dengan Umamah r.a. ini mempunyai sejarah tersendiri, yaitu untuk melaksanakan pesan Sitti Fatimah r.a. kepada suaminya sebelum ia

wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih-sayang yang besar dari Umamah ra. kepada

putera-puterinya.

Setelah nikah dengan Umamah r.a., Imam Ali r.a. nikah lagi dengan Khaulah binti Ja'far bin

Qeis. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud bin Khalid, Ummul Banin binti Hazzan bin

Khalid dan Ummu Walad. Isteri Imam Ali r.a. yang keenam patut disebut secara khusus, karena

ia tidak lain adalah Asma binti Umais, sahabat terdekat Sitti Fatimah r.a. Asma inilah yang

mendampingi Sitti Fatimah r.a. dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih-sayang

hingga detik-detik terakhir hayatnya.

Isteri-isteri Imam Ali r.a. yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah As-Shuhba, Ummu Sa'id binti 'Urwah bin

Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qeis. Dari 9 isteri, di luar Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a.

mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di

kalangan para penulis sejarah.

Al Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putera-puteri Imam Ali r.a. semuanya

berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak. Ibnu

Sa'ad dalam bukunya yang terkenal, "Thabaqat", menyebutnya 31 orang anak, dengan

perincian: 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putera-puteri Imam

Ali r.a. dari isterinya yang pertama.


Bab IV : PERANAN KEPAHLAWANAN

Masih ada sementara penulis sejarah yang dengan berbagai dalih dan alasan mengatakan,

bahwa Imam Ali r.a. bukan orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sebagai alasan dikatakan, bahwa hukum belum berlaku baginya, karena ketika ia memeluk

Islam usianya masih sangat muda, malahan dikatakan "masih kanak-kanak".

Alasan seperti itu tampak sekali dicari-cari. Sebab, seorang remaja yang berusia 13 tahun,

bukan seorang kanak-kanak lagi. Ia sudah mampu berfikir membedakan mana yang baik dan

mana yang buruk. Usia 13 tahun pada umumnya bisa dipandang sebagai tahap permulaan masa

akil baligh. Dalam usia akil baligh itu orang sudah dapat menerima penjelasan-penjelasan dan

keterangan-keterangan tentang sesuatu dengan baik. Fikiran dan perasaannya pun sudah

berada dalam tingkatan aktif, dapat membedakan mana hal-hal yang menyenangkan atau

menyedihkan, mana yang mengagumkan dan mana yang memuakkan, mana yang masuk akal

dan mana yang tidak.

Seperti diketahui, sejak Imam Ali r.a. berusia 6 tahun langsung diasuh, dibimbing dan dididik

oleh Nabi Muhammad s.a.w. Menurut sistem pendidikan modern, tingkat usia 6 tahun itu justru

yang paling tepat bagi seseorang anak memasuki sekolah dasar, yang akan berlangsung selama

6 tahun. Dari usia 6 tahun sampai 12 tahun dapatlah dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. telah

mendapat "pendidikan dasar" dari seorang guru yang paling bijaksana.

Selama periode "pendidikkan dasar" itu, Imam Ali r.a. telah dipersiapkan oleh gurunya untuk

menyongsong datangnya masa pancaroba yang akan menjadi ciri perobahan zaman. Ketika

Imam Ali r.a. menginjak usia 13 tahun, terjadilah bi'tsah Muhammad sebagai Nabi dan Rasul,

yang akan menjungkir-balikkan masa jahiliyah dan menggantinya dengan kecerahan masa

hidayah. Masa "pendidikkan dasar" dan persiapan yang sangat tepat waktunya itulah, yang

kemudian mewarnai sikap hidup dan kepribadian Imam Ali r.a. sebagai orang yang teguh

imannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Ketika berlangsung blokade ekonomi dan pemboikotan sosial yang dilancarkan orang-orang kafir

Qureiys terhadap semua keluarga Bani Hasyim, Imam Ali r.a. ikut langsung menghayati

kesengsaraan dan penderitaan yang menjadi akibatnya. Dengan mengikuti bimbingan serta

tauladan Rasul Allah s.a.w. beserta Sitti Khadijah r.a., dengan tangguh, tabah dan sabar, Imam

Ali r.a. ikut berjuang mempertahankan dan membela da'wah Islam.

Tidak hanya itu saja. Selama hampir empat tahun terkepung dalam Syi'ib, Imam Ali r.a.

memperoleh kesempatan yang luar biasa besarnya untuk menerima pendidikan tauhid dan ilmuilmu

Ilahiyah, langsung dari Rasul Allah s.a.w. Satu kesempatan yang tidak pernah didapat oleh

orang mukmin manapun. Dalam keadaan materiil serba kurang, Imam Ali r.a. yang masih

remaja itu fikirannya terbuka seterang-terangnya guna menerima hidayah llahi, dan dengan

tuntunan Rasul Allah s.a.w. ia dapat mengenal hakekat kebenaran Allah 'Azza wa Jalla.

Tentang kedinian Imam Ali r.a. beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w.

sendiri pernah menegaskannya. Penegasan itu disaksikan oleh para sahabat dekat dan

terkemuka, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khattab r.a. dan Abu Ubaidah r.a. Hal

itu tercantum dalam Kitab "Kanzul Ummal", jilid VI, hlm. 393. Riwayatnya berasal dari Ibnu

Abbas.

Umar Ibnul Khattab berkata: "....Aku, Abu Bakar dan Abu Ubaidah bersama beberapa orang

sahabat Nabi lainnya pernah datang ke rumah Ummu Salmah. Setiba disana aku melihat Ali bin

Abi Thalib sedang berdiri di pintu. Kami katakan kepadanya, bahwa kami hendak bertemu

dengan Rasul Allah s.a.w. Ia menjawab, sebentar lagi beliau akan keluar. Waktu beliau keluar,

kami segera berdiri. Kami lihat beliau bertopang pada Ali bin Abi Thalib dan menepuk-nepuk

bahunya sambil berucap: "Engkau unggul dan akan tetap unggul, orang pertama yang beriman,

seorang mukmin yang paling banyak mengetahui hari-hari Allah (hari-hari turunnya nikmat dan

cobaan), paling setia menepati janji, paling adil dalam bertugas melakukan pembagian

ghanimah, paling bercinta-kasih kepada rakyat, dan paling banyak menderita."

Membela Kebenaran

Di samping perjuangannya di bidang aqidah, ilmu dan pemikiran, Imam Ali r.a. juga terkenal

sebagai seorang muda yang memiliki kesanggupan berkorban yang luar biasa besarnya. Ia

mempunyai susunan jasmani yang sempurna dan tenaga yang sangat kuat. Sudah tentu, itu saja

belum menjadi jaminan bagi seseorang untuk siap mempertaruhkan nyawanya membela

kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Imannya yang teguh laksana gunung raksasa dan kesetiaannya

yang penuh kepada Allah dan Rasul-Nya, itulah yang menjadi pendorong utama.

Imam Ali r.a. tidak pernah menghitung-hitung resiko dalam perjuangan suci menegakkan Islam.

Dengan jasmani yang tegap dan kuat, serta iman yang kokoh dan mantap, Imam Ali r.a. benarbenar

mempunyai syarat fisik-materiil dan mental-spiritual untuk menghadapi tahap-tahap

perjuangan yang serba berat.

Di saat-saat Islam dan kaum muslimin berada dalam situasi yang kritis dan gawat, Imam Ali r.a.

selalu tampil memainkan peranan menentukan. Selama hidup ia tak pernah mengalami hidup

santai. Sejak muda remaja sampai akhir hayatnya, ia keluar masuk dari kesulitan ke kesulitan

lain, dan dari pengorbanan ke pengorbanan yang lain. Namun demikian ia tak pernah menyesali

nasib, bahkan dengan semangat pengabdian yang tinggi kepada Allah dan Rasul-Nya, ia

senantiasa siap menghadapi segala tantangan. Satu-satunya pamrih yang menjadi pemikirannya

siang dan malam hanya ingin memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kesenangan hidup

duniawi baginya bukan apa-apa dibanding dengan kenikmatan ukhrawi yang telah dijanjikan

Allah s.w.t. bagi hamba-hamba-Nya yang berani hidup di atas kebenaran dan keadilan.

berkali-kali imannya yang teguh diuji oleh Rasul Allah s.a.w. Tiap kali diuji, tiap kali itu juga

lulus dengan meraih nilai yang amat tinggi. Ujian pertama yang maha berat ialah yang terjadi

pada saat Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya berhijrah ke Madinah.

Seperti diketahui, di satu malam yang gelap-gulita, komplotan kafir Qureiys mengepung

kediaman Rasul Allah s.a.w. dengan tujuan hendak membunuh beliau, bilamana beliau

meninggalkan rumah. Dalam peristiwa ini Imam Ali r.a. memainkan peranan besar: Ia diminta

oleh Rasul Allah s.a.w. supaya tidur di atas pembaringan beliau menutup tubuhnya dengan selimut beliau guna mengelabui mata orang-orang Qureiys. Tanpa tawar-menawar Imam Ali r.a.

menyanggupinya. Ia menangis bukan mencemaskan nyawanya sendiri, melainkan karena ia

khawatir atas keselamatan Rasul Allah s.a.w. yang saat itu berkemas-kemas hendak hijrah

meninggalkan kampung halaman.

Melihat Imam Ali menangis, maka Rasul Allah bertanya: "Apa sebab engkau menangis, Apakah

engkau takut mati?".

Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Tidak, ya Rasul Allah! Demi Allah yang mengutusmu

membawa kebenaran! Aku sangat khawatir terhadap diri anda. Apakah anda akan selamat, ya

R,asul Allah?"

"Ya," jawab Nabi Muhammad s.a.w. dengan tidak ragu-ragu.

Mendengar kata-kata yang pasti dari Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. terus berkata: "Baiklah,

aku patuh dan kutaati perintah anda. Aku rela menebus keselamatan anda dengan nyawaku, ya

Rasul Allah!"

Imam Ali r.a. segera menghampiri pembaringan Rasul Allah s.a.w. Kemudian berselunjur

mengenakan selimut beliau untuk menutupi tubuhnya. Saat itu orang-orang kafir Qureiys sudah

mulai berdatangan di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. dan mengepungnya dari segala jurusan.

Dengan perlindungan Allah s.w.t. dan sambil membaca ayat 9 Surah Yaa Sin, beliau keluar

tanpa diketahui oleh orang-orang yang sedang mengepung dan mengintai. Orang-orang Qureiys

itu menduga, bahwa orang yang sedang berbaring dan berselimut itu pasti Nabi Muhammad

s.a.w. Mereka yang mengepung itu mewakili suku-suku qabilah Qureiys yang telah bersepakat

hendak membunuh Nabi Muhammad s.a.w. dengan pedang secara serentak. Dengan cara

demikian itu, tidak mungkin Bani Hasyim dapat menuntut balas.

Imam Ali r.a. mengerti benar kemungkinan apa yang akan diperbuat orang-orang kafir Qureiys

terhadap dirinya karena ia tidur di pembaringan Rasul Allah s.a.w. Hal itu sama sekali tidak

membuatnya sedih atau takut. Dengan kesabaran yang luar biasa, ia berserah diri pada Allah

s.w.t. Ia yakin, bahwa Dia-lah yang menentukan segala-galanya.

Menjelang subuh, Imam Ali r.a. bangun. Gerombolan Qureiys terus menyerbu ke dalam rumah.

Dengan suara membentak mereka bertanya: "Mana Muhammad? Mana Muhammad?"

"Aku tak tahu di mana Muhammad berada!" jawab Imam Ali r.a. dengan tenang.

Gerombolan Qureiys itu segera mencari-cari ke sudut-sudut rumah. Usaha mereka sia-sia

belaka. Gerombolan itu kecewa benar. Di dalam hati mereka bertanya-tanya: "Kemana ia

pergi?" Dalam suasana gaduh Imam Ali r.a. bertanya: "Apa maksud kalian?"

"Mana, Muhammad? Mana Muhammad?" mereka mengulang-ulang pertanyaan semula.

"Apakah kalian mengangkatku menjadi pengawasnya?" ujar Imam Ali r.a. dengan nada

memperolok-olok. "Bukankah kalian sendiri berniat mengeluarkannya dari negeri ini? sekarang

ia sudah keluar meninggalkan kalian!"

Ucapan Imam Ali r.a. sungguh-sungguh menggambarkan ketabahan dan keberanian hatinya.

Cahaya pedang terhunus yang berkilauan, samasekali tidak dihiraukan, bahkan orang-orang

Qureiys yang kalap itu dicemoohkan. Seandainya ada seorang saja dari gerombolan itu

mengayunkan pedang ke arah Imam Ali r.a., entahlah apa yang terjadi. Tetapi Allah tidak

menghendaki hal itu.

Keesokan harinya, Imam Ali r.a. berkemas-kemas mempersiapkan segala sesuatu untuk berangkat membawa beberapa orang wanita Bani Hasyim, terutama Sitti Fatimah r.a.,

menyusul perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. dalam hijrahnya ke Madinah.

Seperti telah diterangkan di muka, rombongan Imam Ali r.a. berangkat secara terang-terangan

di siang hari. Setibanya di Dhajnan ia membuka babak konfrontasi bersenjata antara kaum

muslimin dan kaum musyrikin.

Imam Ali r.a. yang ketika itu berusia 26 tahun, merupakan orang pertama yang menghunus

pedang untuk mematahkan agresi bersenjata orang-orang kafir Qureiys. Terbelahnya tubuh

Jenah menjadi dua dan larinya 7 orang pasukan berkuda Qureiys yang semula mengejar

rombongan, merupakan tonggak sejarah yang menandai akan datangnya masa cerah bagi kaum

muslimin dan masa suram bagi kaum musyrikin.

Bab IV-1 : Perang Badr

Perang Badr merupakan perang pertama yang terpaksa diarungi oleh kaum muslimin

menghadapi musuh yang jauh lebih besar jumlahnya. Perang ini merupakan demonstrasi

pertama dari ketangguhan kaum muslimin melawan serangan kaum musyrikin Qureiys. Untuk

pertama kalinya panji perang Rasul Allah s.a.w. berkibar di medan laga. Dan yang diberi

kepercayaan memegang panji yang melambangkan tekad perjuangan menegakkan agama Allah

s.w.t. itu, ialah Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Tanpa pengalaman perang sama sekali dan dengan kekuatan pasukan yang hanya sepertiga

kekuatan musuh, pasukan muslimin dengan kebulatan iman yang teguh berhasil menancapkan

tonggak sejarah yang sangat menentukan perkembangan Islam lebih lanjut. Perlengkapan dan

persenjataan kaum muslimin waktu itu boleh dibilang nol. Pasukan berkuda dan penunggang

unta, yaitu pasukan yang dipandang paling ampuh dan "modern" pada masa itu, praktis tidak

dipunyai oleh kaum muslimin. Demikian langkanya kuda dan unta dibanding dengan jumlah

pasukan yang ada, sampai-sampai seekor unta dikendarai oleh dua hingga empat orang secara

bergantian. Hanya ada seekor kuda yang tersedia, yaitu yang dikendarai oleh Al Miqdad bin Al

Aswad Al Kindiy. Itulah kekuatan "kavaleri" Rasul Allah s.a.w. di dalam perang Badr.

Dalam perang Badr itu pasukan muslimin tidak sedikit yang menerjang musuh hanya dengan

senjata-senjata tajam yang sangat sederhana. Sedangkan musuh yang dilawan mempunyai

persenjataan lengkap dengan kuda-kuda tunggang dan unta-unta. Tetapi sebenarnya kaum

muslimin mempunyai senjata yang lebih ampuh dibanding dengan lawannya, yaitu

kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. dan kepercayaan kuat bahwa Allah pasti akan memberikan

pertolongan-Nya. Allahu Akbar.

Perang Badr sebenarnya terjadi di luar rencana. Pada mulanya kaum muslimin di bawah

pimpinan Rasul Allah s.a.w. bermaksud hendak mencegat kafilah Abu Sufyan bin Harb yang

telah meninggalkan Makkah berangkat menuju negeri Syam, dan akan kembali ke Makkah lewat

sebuah tempat bernama 'Usyaira. Di tempat itulah kaum muslimin siap menghadang, tetapi

ternyata kafilah Abu Sufyan sudah lolos lebih dulu.

Ketika peperangan mulai berkobar, Imam Ali bersama Hamzah bin Abdul Mutthalib dan

beberapa orang lainnya, berada di barisan terdepan. Pada tangan Imam Ali r.a. berkibar panji

perang Rasul Allah s.a.w. Ia terjun ke medan laga menerjang pasukan musuh yang jauh lebih

besar dan kuat. Dalam perang ini untuk pertama kalinya kalimat "Allahu Akbar" berkumandang

membajakan tekad pasukan muslimin.

Saat itu terdengar suara musuh menantang: "Hai Muhammad suruhlah orang-orang yang

berwibawa dari asal Qureiys supaya tampil!"

Mendengar tantangan itu, laksana singa lapar Imam Ali r.a. meloncat maju ke depan mendekati

suara yang menantang-nantang. Terjadilah perang tanding (duel) antara Imam Ali r.a. dengan

Al Walid bin Utbah, saudara Hindun isteri Abu Sufyan. Dalam pertempuran yang seru itu, AlWalid mati di ujung pedang Imam Ali r.a.

Dalam perang Badr ini 70 orang pasukan kafir Qureiys mati terbunuh, dan hampir separonya

mati di ujung pedang Imam Ali r.a. Kecuali itu lebih dari 70 orang pemuka Qureiys berhasil

ditawan dan digiring ke Madinah. Perang Badr yang berakhir dengan kemenangan kaum

muslimin itu merupakan fajar pagi yang menandai pesatnya kemajuan agama Allah s.w.t.

Bab IV-2 : Perang Uhud

Dalam peperangan yang kedua ini, Rasul Allah s.a.w. menyerahkan panji kaum muhajirin

kepada Imam Ali r.a. Sedangkan panji kum Anshar diserahkan kepada salah seorang di antara

mereka sendiri. Peperangan Uhud terkenal dalam sejarah sebagai peperangan yang amat

gawat. 700 pasukan muslimin harus berhadapan dengan 3.000 pasukan kafir Qureiys yang

dipersiapkan dengan perbekalan dan persenjataan serba lengkap. Kecuali itu diperkuat pula

dengan pasukan wanita di bawah pimpinan Hindun binti 'Utbah, isteri Abu Sufyan bin Harb,

guna memberikan dorongan moril, agar orang-orang kafir Qureiys jangan sampai lari

meninggalkan medan tempur.

Untuk menghadapi kaum musyrikin yang sudah memusatkan kekuatan di Uhud, pasukan

muslimin di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. menuju ke tempat itu, dengan memotong jalan

sedemikian rupa, sehingga gunung Uhud berada di belakang mereka. Kemudian Rasul Allah

s.a.w. mulai mengatur barisan. 50 orang pasukan pemanah ditempatkan pada sebuah lembah di

antara dua bukit. Kepada mereka diperintahkan supaya menjaga pasukan yang ada di belakang

mereka. Ditekankan jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun

juga. Sebab hanya dengan senjata panah sajalah serbuan pasukan berkuda musuh dari belakang

dapat ditahan.

Perang Uhud mulai berkobar dengan tampilnya Imam Ali r.a. ke depan melayani tantangan

Thalhah bin Abi Thalhah yang berkoar menantang-nantang: "Siapakah yang akan maju berduel?"

Seperti api disiram minyak semangat Imam Ali r.a. membara. Dengan ayunan langkah tegap dan

tenang, serta sambil mengeretakkan gigi, ia maju dengan pedang terhunus. Baru saja Thalhah

bin Abi Thalhah menggerakan tangan hendak mengayun pedang, secepat kilat pedang Imam Ali

r.a. "Dzul Fikar" menyambarnya hingga terbelah dua. Betapa bangga Rasul Allah s.a.w.

menyaksikan ketangkasan putera pamannya itu. Ketika itu kaum muslimin yang menyaksikan

kesigapan Imam Ali r.a., mengumandangkan takbir berulang-ulang.

Dengan tewasnya Thalhah bin Ahi Thalhah, pertarungan sengit berkecamuk antara dua pasukan.

Sekarang Abu Dujanah tampil dengan memakai pita maut di kepala dan pedang terhunus di

tangan kanan yang baru saja diserahkan oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Ia seorang yang

sangat berani. Laksana harimau keluar dari semak belukar ia maju menyerang musuh dan

membunuh siapa saja dari kaum musyrikin yang berani mendekatinya. Bersama Abu Dujanah,

Imam Ali r.a. mengobrak-abrik barisan musuh.

Dalam pertempuran ini Hamzah bin Abdul Mutthalib tidak kalah semangat dibanding dengan

putera saudaranya sendiri, Imam Ali r.a., dan Abu Dujanah. Hamzah demikian lincah dan

tangkas melabrak pasukan musyrikin dan menewaskan tiap orang yang berani mendekat. Ia

terkenal sebagai pahlawan besar dalam menghadapi musuh. Sama seperti dalam perang Badr,

dalam perang Uhud ini Hamzah benar-benar menjadi singa dan merupakan pedang Allah yang

sangat ampuh. Banyak musuh yang mati di ujung pedangnya.

Dalam pertempuran antara 700 pasukan muslimin melawan 3000 pastikan musyrikin itu, kita

saksikan kejantanan trio Imam Ali r.a., Hamzah dan Abu Dujanah. Mereka merupakan tauladan

dan wujud dari kekuatan moril yang sangat tinggi. Suatu kekuatan yang membuat pasukan

Qureiys menderita kehancuran mental, mundur dan surut.

Tiap panji mereka lepas dari tangan pemegangnya dan diganti oleh pemegang panji yang lain, tiap kali itu juga dipangkas habis oleh tiga sejoli pahlawan Islam itu. Thalhah bin Abi Thalhah

kepalanya dibelah dua oleh Imam Ali r.a. Utsman bin Abi Thalhah dipotong gembungnya oleh

Hamzah, Abu Saad lolos dari ujung pedang Abu Dujanah dan berusaha merebut panji musyrikin

Qureiys yang sudah dirobek-robek oleh Abu Dujanah, tetapi keburu dipisahkan kepalanya dari

batang tubuhnya oleh Imam Ali r.a. Sembilan orang pemegang panji musyrikin Qureiys tewas

berturut-turut di ujung pedang Imam Ali r.a., Hamzah dan Abu Dujanah.

Mental pasukan Qureiys sudah patah sama sekali. Pasukan wanita mereka lari terbirit-birit.

Berhala-berhala yang mereka bawa untuk dimintai restu dalam peperangan, sekarang sudah

jatuh terpelanting dari punggung unta. Dalam keadaan masing-masing lari untuk

menyelamatkan diri, semua perbekalan yang mereka bawa dari Makkah ditinggalkan dan

senjata-senjata di buang di kiri-kanan jalan.

Alangkah banyaknya barang-barang itu. Hal ini membuat pasukan muslimin lengah dan lupa

daratan. Fikiran mereka sudah teralih kepada kekayaan duniawi. Pasukan pemanah yang di

wanti-wanti supaya jangan sampai meninggalkan tempat, walau dalam keadaan bagaimanapun

juga, sekarang mulai mengarahkan pandangan-mata kepada teman-teman yang sedang sibuk

mengangkuti barang-barang rampasan. Melihat barang-barang sedemikian banyaknya, mereka

tak dapat lagi menahan air liur. Bahkan khawatir kalau-kalau tak akan mendapat bagian!

Sebagian besar pasukan pemanah itu turun meninggalkan lereng gunung untuk ikut ambil

bagian dalam kesibukan mengumpulkan barang-barang peninggalan musuh. Pesan Rasul Allah

s.a.w. mereka lupakan. Apalagi yang harus dikerjakan, tokh peperangan sudah kita menangkan?

Begitulah fikir mereka. Pada saat itulah Khalid bin Al Walid, seorang komandan pasukan

berkuda Qureiys, mengambil kesempatan untuk menyerbu dari belakang kaum muslimin yang

sedang memperebutkan barang rampasan.

Khalid bin Al Walid melancarkan serangan sengit. Bencana berbalik menimpa kaum muslimin.

Setelah melihat situasi berubah, orang-orang kafir Qureiys yang lari kembali lagi dan melakukan

serangan dahsyat, hingga pasukan muslimin terpaksa melemparkan barang-barang dan senjata

rampasan yang baru dikumpulkan. Mau tidak mau kaum muslimin sekarang harus menghunus

pedang guna menangkis.

Sayang seribu sayang. Mereka hanya berjuang untuk menyelamatkan diri dari ancaman maut.

Iman mereka menjadi kendor, barisan tercerai-berai, terpisah dari pimpinan Rasul Allah s.a.w.

Keadaan mereka sudah sedemikian kacau dirangsek oleh serangan musuh, sehingga tak aneh

kalau sampai terjadi pedang seorang muslim tanpa disengaja mengenai saudaranya sendiri.

Di saat-saat yang genting seperti itu, Imam Ali r.a. dan para sahabat lainnya segera melindungi

Rasul Allah s.a.w. Dengan segenap kekuatan yang ada mereka menangkis tiap serangan yang

datang, guna menyelamatkan Rasul Allah s.a.w. Semua sudah bertekad hendak mati syahid,

lebih-lebih setelah melihat Rasul Allah s.a.w. terkena lemparan batu besar yang dicampakkan

oleh 'Utbah bin Abi Waqqash. Akibat lemparan batu itu geraham Rasul Allah s.a.w. patah,

wajahnya pecah-pecah, bibirnya luka parah, dan dua buah kepingan rantai topi besi yang

melindungi wajah beliau menembus pipinya.

Setelah dapat menguasai diri kembali, Rasul Allah s.a.w. berjalan perlahan-lahan dikelilingi

oleh sejumlah sahabat. Tiba-tiba beliau terperosok ke dalam sebuah liang yang sengaja digali

oleh Abu 'Amir untuk menjebak pasukan muslimin. Imam Ali r.a. bersama beberapa orang

sahabat lainnya cepat-cepat mengangkat beliau. Kemudian dibawa naik ke gunung Uhud untuk

diselamatkan dari pengejaran musuh. Di celah-celah bukit, Imam Ali r.a. mengambil air untuk

membasuh wajah Rasul Allah s.a.w. dan menyirami kepala beliau. Dua buah kepingan rantai

besi yang menancap dan menembus pipi beliau dicabut oleh Abu Ubaidah bin Al Jarrah dengan

giginya, sampai dua buah gigi-serinya tanggal.

Kaum musyrikin Quxeiys dengan kemenangan itu merasa sudah sungguh-sungguh berhasil

menebus kekalahan dalam perang Badr. Seperti yang dikatakan oleh Abu Sufyan: "Yang

sekarang ini untuk menebus peristiwa perang Badr. Sampai jumpa lagi tahun depan!"

Akan tetapi isterinya yang bernama Hindun binti 'Utbah belum merasa cukup dengan

kemenangan itu. Dan belum puas kalau hanya mendengar berita tentang tewasnya Hamzah bin

Abdul Mutthalib, yang telah membunuh seorang saudaranya dalam perang Badr. Bersama

beberapa orang wanita lain ia mencari-cari mayat kaum muslimin. Mereka memotongi telinga

dan hidung mayat-mayat itu dan dijadikan barang mainan. Tidak itu saja, mayat Hamzah

dibedah perutnya, dikeluarkan jantungnya (hatinya), lalu dikunyah-kunyah, tetapi ia tak

sampai dapat menelannya. Demikian kejam dan sadisnya Hindun itu, yang kemudian ditiru oleh

teman-temannya, bahkan tidak sedikit pula orang lelaki musyrikin Qureiys meniru sadisme

Hindun.

Dari sangat kejinya perbuatan mereka itu, sampai pemimpin mereka, yakni suaminya Hindun,

yaitu Abu Sufyan tidak mau bertanggung-jawab dan berusaha mencuci-tangan. Meskipun Abu

Sufyan telah mencuci-tangan, namun kekotoran dirinya tak dapat disembunyikan. Inilah katakata

Abu Sufyan: "Mayat-mayat kalian mengalami penganiayaan. Aku sungguh tidak senang,

tetapi juga tidak benci. Aku tidak memerintahkan, tetapi juga tidak melarang."

Perang Uhud benar-benar memberi pelajaran berharga kepada kaum muslimin. Daya tarik

keduniaan hampir saja menghancurkan kaum muslimin yang masih pada awal pertumbuhannya.

Bab IV-3 : Perang Ahzab (Kandhaq)

Perang ini menjadi abadi dan masyhur dalam sejarah Islam, antara lain karena diikuti dengan

turunnya firman Allah s.w.t. sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an (Surah Al-Ahzab). Untuk

pertama kalinya dalam usia yang masih muda, kaum muslimin di Madinah dikepung oleh kurang

lebih 10.000 orang pasukan musyrikin, yang terdiri dari berbagai suku dan qabilah. Pasukan itu

diperkuat lagi oleh kaum Yahudi Banu Quraidhah, yang mengkhianati perjanjian perdamaian

dengan Rasul Allah s.a.w. Mereka ini bergabung dengan pasukan musyrikin Qureiys yang

membeludak dari Makkah guna mengepung kota Madinah.

Peperangan tersebut dinamakan juga perang Khandaq (Parit), karena untuk menanggulangi

penyerbuan kaum musyrikin Qureiys atas usul dan prakarsa Salman Al Farisi, dengan

persetujuan Rasul Allah s.a.w., kaum muslimin menggali parit-parit yang cukup lebar dan

dalam di sekitar pinggiran kota Madinah

Di perang Khandaq ini keampuhan dan ketangkasan Imam Ali r.a. juga teruji dalam perang

tanding melawan seorang pendekar Qureiys yang terkenal ulung, yaitu 'Amr bin Abdu Wudd

Al'Amiri. 'Amr seorang prajurit berkuda yang gesit dan lincah bermain pedang atau tombak.

Dengan congkak dan sombong 'Amr bin Abdu Wudd berani maju ke depan menyeberangi parit

pertahanan kaum muslimin, lewat bagian yang agak dangkal dan sempit. Sambil membanggakan

kebolehannya mengendalikan kuda, ia berteriak menantang: "Hai . Apakah tak seorang pun

yang berani keluar untuk bertanding?"

Tantangan dari seorang jagoan yang garang itu tidak ditanggapi oleh pasukan muslimin. Kaum

muslimin banyak yang mengenal siapa 'Amr bin Abdu Wudd itu dan betapa tenar namanya

sebagai pendekar yang mahir berperang tanding.

Setelah melihat kenyataan tak ada seorang pun yang menanggapi tantangan 'Amr, Imam Ali r.a.

tidak tahan lagi menahan perasaan geramnya. Ia segera berdiri dan berkata kepada Rasul Allah

s.a.w.: "Ya Rasul Allah, biarlah saya yang menandingi dia!"

Rasul Allah s.a.w. yang mengetahui benar ' Amr itu seorang pendekar yang kenyang makan

"garam" perang tanding, beranggapan, bahwa 'Amr bukanlah tandingan bagi saudara misannya

yang baru berusia kurang dari 30 tahun. Karena itu maka beliau menyahut: "Duduk sajalah engkau, dia adalah 'Amr!"

Karena tidak ada juga jawaban dari fihak muslimin, maka 'Amr yang beringas itu berkoar lagi:

"Mana itu sorga yang akan kalian masuki bila kalian mati terbunuh, hah?!"

Ejekan itu terasa seperti sembilu yang sangat mengiris-iris hati kaum muslimin, tetapi mereka

tetap diam. Dengan darah muda yang mendidih laksana lahar yang menyembur dari kepundan,

Imam Ali r.a. tidak dapat lagi menahan gejolak hatinya mendengar penghinaan yang sangat

menyakitkan itu. Ia mendesak lagi kepada Rasul Allah s.a.w.: "Biarlah saya yang

menghadapinya; ya Rasul Allah!"

Tetapi Rasul Allah s.a.w. kembali memerintahkan supaya Imam Ali r.a. duduk dan tenang,

sebab yang akan dihadapinya bukan sembarang orang. Dengan perasaan yang sudah terbakar

dan dengan nada gemas, Imam Ali r.a. berusaha meyakinkan Rasul Allah s.a.w. bahwa ia

sanggup melawan dedengkot kaum musyrikin itu: "Biar 'Amr sekalipun ya Rasul Allah!"

Mengingat tekad Imam Ali r.a. yang begitu bulat, dan mengingat pula perlu membangkitkan

keberanian kaum muslimin, akhirnya Rasul Allah s.a.w. memberi izin dan restu kepada Imam

Ali r.a. untuk tampil ke depan. Imam Ali r.a. dengan hangat menyambut persetujuan dan idzin

Rasul Allah s.a.w. Ia segera meloncat ke depan menyongsong tantangan seorang lawan yang

bukan sembarangan. Dengan mengenakan baju besi dan menghunus pedangnya yang tersohor

dengan nama "Dzul Fiqar", Imam Ali r.a. maju dengan ayunan langkah yang tegap dan diiringi

doa Rasul Allah s.a.w.: "Ya Allah, dia adalah saudaraku dan putera pamanku. Janganlah

Kaubiarkan aku seorang diri tanpa dia. Sesungguhnya Engkau tempat aku berserah diri yang

sebaik-baiknya."

Setelah berhadap-hadapan dengan 'Amr, tanpa perasaan gentar sedikit pun Imam Ali r.a.

bertanya kepada 'Amr: "Hai 'Amr, bukankah engkau pernah berjanji, bahwa engkau akan

menerima ajakan seorang dari Qureiys untuk menempuh salah satu di antara dua jalan hidup?"

"Ya!" jawab 'Amr dengan singkat dan angkuh.

"Engkau kuajak. ke jalan Allah dan Rasul-Nya, ke jalan Islam", kata Imam Ali r.a. melanjutkan.

Kata-kata Imam Ali r.a. ini diucapkan dengan suara lantang yang memecahkan kesunyian garis

pertempuran. Hampir semua mata dua pasukan yang siap tempur tertuju kepada dua sosok

tubuh yang sedang berhadap-hadapan.

'Amr bin Abdu Wudd yang sudah cukup usia, garang dan banyak pengalaman menghadapi perang

tanding kini bertatap muka dengan seorang anak muda yang berdiri tegak di hadapannya.

Pemuda pemberani, jantan dan perkasa, berbaju besi dengan pedang terhunus di tangan.

Sungguh anggun kelihatannya. Konfrontasi antara dua orang itu melambangkan konfrontasi dari

dua kekuatan yang berlawanan. Kekuatan lama yang sudah lapuk dan kekuatan baru yang

sedang tumbuh, yaitu kekuatan jahiliyah dan kekuatan lslam.

Mendengar pertanyaan yang bernada desakan itu, dengan cepat 'Amr menyahut: "Aku tidak

membutuhkan itu!"

"Kalau begitu, mari kita mulai bertanding!" tantang Imam Ali r.a. sambil siaga menghadapi

gerakan 'Amr. Akan tetapi tantangan Imam Ali r.a. yang serius itu diremehkan saja oleh 'Amr:

"Aku tak suka menumpahkan darahmu. Ayahmu kan teman karibku!"

Tanpa memperdulikan ucapan 'Amr, Imam Ali r.a. dengan perasaan tak sabar lagi berucap:

"Tetapi, demi Allah, aku justru ingin membunuhmu!"

Ucapan seorang muda yang dianggap ketus oleh 'Amr itu, ternyata membangkitkan amarah dan meluapkan emosinya. Cepat saja darah perang yang mengalir dalam tubuh 'Amr mendidih.

Naluri keprajuritannya secara cepat menyentakkan gerak refleksi dan langsung seketika itu

juga Imam Ali r.a. diserang. Demikian gesit dan tangkasnya 'Amr mengayunkan pedang dengan

dorongan tenaga yang luar biasa. Tetapi Imam Ali r.a. tidak kalah tinggi nalurinya dan gerak

refleksinya.

'Amr yang sejak semula meremehkan lawan, ternyata sia-sia belaka dalam mengerahkan segala

kekuatan ototnya untuk menebas leher Imam Ali r.a. Kesempatan yang meleset itu

dipergunakan sebaik-baiknya oleh Imam Ali r.a. Ia mengelak, menangkis dan menyerang dalam

gerak beruntun secara kilat. Pada saat 'Amr kehilangan keseimbangan badan, Pedang Dzul Fiqar

yang diayun kuat-kuat oleh Imam Ali r.a. menyambar bahu kanan 'Amr sampai terbelah dua.

Pendekar kebanggaan Qureiys itu jatuh dari atas kuda menggelepar di tanah mandi darah dan

debu.

Perang tanding berlangsung demikian cepat dan selesai jauh lebih cepat dari yang diperkirakan

orang. Pada mulanya banyak yang menduga bahwa Imam Ali r.a. yang "masih hijau" itu akan

"dibelah dua" oleh pedang 'Amr. Oleh karena itu ketika jagoan Qureiys itu tersungkur tidak

bangkit kembali, banyak orang dari kedua pasukan terkesima. Hampir saja mereka, tidak

mempercayai apa yang sudah terjadi. Baru setelah Imam Ali r.a. menyerukan takbir, kaum

muslimin menyambutnya dengan mengumandangkan kebesaran Allah: Allaahu Akbar ...Allaahu

Akbar.... !

Tanpa perasaan sombong dan tinggi hati Imam Ali r.a. kemudian menuju ke tempat Rasul Allah

s.a.w. Dengan perasaan haru dan syukur ke hadirat Allah s.w.t., Rasul Allah s.a.w.

mengeluarkan pernyataan singkat: "Perang tanding yang dilaksanakan oleh Ali bin Abi Thalib

melawan 'Amr bin Abdu Wudd itu merupakan perbuatan paling mulia yang dilakukan umatku

sampai hari kiyamat."

Akan tetapi terbunuhnya jagoan Qureiys belum menyelesaikan jalannya perang Khandaq.

Namun terbunuhnya tokoh Qureiys itu menimbulkan kegoncangan yang hebat di kalangan

pasukan penyerbu. Semangat pasukan penyerbu makin merosot, setelah harapan mereka untuk

dapat menerobos parit makin tipis.

Dalam keadaan seperti itu terjadilah angin ribut dan hujan deras diiringi suara petir sambar-menyambar.

Kemah-kemah dan perkakas-perkakas masak kaum musyrikin beterbangan dilanda

angin kencang. Kubu pertahanan mereka menjadi porak poranda dan banyak sekali diantara

mereka yang tak tahan menghadapi tekanan udara dingin.

Di tengah-tengah hembusan angin puyuh seribut itu, Abu Sufyan yang dalam perang Khandaq ini

bertindak selaku rimpinan pasukan penyerbu, berkata kepada anak buahnya: "Saudara-saudara,

kita tak perlu lama lagi tinggal di tempat ini. Banyak kuda dan unta kita yang sudah binasa.

Bani Quraidah sudah tak menepati janjinya lagi dengan kita. Bahkan kita mendengar hal-hal

dari mereka yang tidak menyenangkan hati. Tambah lagi kita menghadapi angin kencang begini

ributnya. Maka itu lebih baik kita pulang saja. Aku sendiri akan berangkat pulang!"

Di tengah-tengah angin puyuh yang begitu kencangnya, Abu Sufyan dan rombongan secara

bergelombang meninggalkan tempat dan kembali ke Makkah. Keesokan harinya sudah tak ada

lagi seorang Qureiys atau Yahudi yang masih tinggal. Semuanya sudah jauh meninggalkan parit.

Rasul Allah bersama kaum muslimin lainnya dengan tenang kembali ke tempat kediaman

masing-masing. Semuanya memanjatkan syukur sedalam-dalamnya kepada Allah s.w.t. yang

telah menghindarkan mereka dari marabahaya.

Perjanjian Hudaibiyah

Beberapa waktu sesudah perang Ahzab (Khandaq), Rasul Allah s.a.w. berangkat membawa

kaum muslimin kurang lebih 1500 orang. Beliau berangkat ke Makkah bukan dengan maksud untuk berperang, melainkan untuk menunaikan ibadah haji. Tak ada sebilah pedang yang

terhunus.

Berita tentang keberangkatan Rasul Allah s.a.w. ini sampai juga kepada kaum Qureiys.

Mendengar berita itu kaum Qureiys segera membikin persiapan. Mereka khawatir kalau-kalau

keberangkatan Rasul Allah s.a.w. itu hanya merupakan tipu muslihat untuk menyerbu Makkah.

Khalid bin Al Walid dan pasukannya menghadang kaum muslimin di tempat beberapa mil

jauhnya di luar kota Makkah.

Rasul Allah s.a.w. setelah mendengar berita gerak-gerik pasukan Qureiys itu tetap melanjutkan

perjalanan. Untuk menghindari konflik senjata beliau dengan sejumlah sahabat menempuh

jalan lain, meskipun jalan itu agak sulit dilewati. Akhirnya beliau tiba di sebuah tempat

bernama Hudaibiyah.

Mengetahui perkembangan baru yang ditempuh oleh rombongan Rasul Allah s.a.w. Khalid bin

A1 Walid dan pasukannya segera kembali ke Makkah untuk mempertahankan kota. Ketika itu

semua orang Qureiys sudah dihinggapi kegelisahan dan khawatir menghadapi kaum muslimin.

Walaupun begitu mereka tetap bertekad hendak mencegah masuknya rombongan Rasul Allah

s.a.w. dengan cara apa saja.

Selang beberapa hari, fihak Qureiys mengirim utusan kepada Nabi Muhammad s.a.w. guna

mengetahui benar-benar apa yang sesungguhnya menjadi maksud kedatangan beliau dan

rombongan. Setelah melakukan dialog seperlunya, perutusan itupun kembali. Mereka percaya,

bahwa kedatangan kaum muslimin benar-benar hendak menunaikan ibadah haji. Sewaktu hal

itu dilaporkan, kaum musyrikin Qureiys tak mempercayainya. Malahan perutusan itu dituduh

berkhianat hendak membantu Rasul Allah s.a.w.

Kaum musyrikin mengirim utusan lagi dipimpin seorang gembong terkemuka. Hasilnya sama

saja dengan perutusan yang pertama: Kaum musyrikin Qureiys masih tak percaya. Kini dikirim

utusan seorang saja, yaitu 'Urwah bin Mas'ud Ats Tsaqafiy. Sekembalinya dari perundingan

dengan Nabi Muhammad s.a.w., 'Urwah mengemukakan kepada kaum musyrikin Qureiys, bahwa

"Rasul Allah s.a.w. menawarkan satu rencana yang baik, oleh sebab itu terimalah!"

Sejalan dengan itu Rasul Allah sendiri kemudian mengirim seorang utusan, yaitu Kharrasiy Al

Khuza'iy guna menemui orang Qureiys. Musyrikin Qureiys tidak mau menerima utusan itu.

Bahkan unta kendaraannya dibantai dan hampir saja ia dibunuh, kalau tidak dicegah oleh salah

seorang gembong Qureiys.

Rasul Allah s.a.w. berusaha terus. Kali ini yang dikirim Utsman bin Affan r.a. Ia baru masuk

Makkah setelah ada jaminan dari anak pamannya, Aban bin Sa'id Al Ash. Dalam pertemuannya

dengan orang-orang Qureiys, Utsman bin Affan menjelaskan maksud kedatangan Rasul Allah

s.a.w. dan rombongan tidak lain hanya ingin menunaikan ibadah haji.

Kaum musyrikin Qureiys memang kepala batu. Utsman bin Affan mereka tahan selama 3 hari. Di

kalangan kaum muslimin terdengar desas-desus bahwa Utsman bin Affan telah mati dibunuh.

Untuk menghadapi kemungkinan Utsman bin Affan r.a. benar-benar dibunuh oleh orang-orang

Qureiys, Nabi Muhammad berseru kepada para sahabatnya supaya menyatakan janji setia

(bai'at) guna melancarkan serangan menuntut bela melawan penghianatan Qureiys. Kaum

muslimin berlomba-lomba menyambut seruan beliau. Mereka siap memanggul senjata untuk

berperang melawan Qureiys.

Janji setia kaum muslimin kepada Rasul Allah s.a.w. yang bersejarah itu dilakukan oleh mereka

di bawah sebatang pohon. Peristiwa itu dikenal dengan nama "Bai'atur Ridhwan" (janji setia

yang diridhoi Allah). Satu peristiwa yang dipuji Allah s.w.t., seperti yang termuat dalam S. Al

Fath:l8 (A1 Qur'an).

Mendengarkan kebulatan tekad kaum muslimin di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. itu, kaum

musyrikin Qureiys merasa gentar. Mereka sudah mengenal betapa gigihnya kaum muslimin

berperang, seperti yang telah dibuktikan pada masa-masa yang lalu. Musyrikin Qureiys

mengirim utusan yang dipimpin oleh Suhail bin Amr. Setelah perutusan itu mengadakan

perundingan dengan Rasul Allah s.a.w., dua belah fihak sepakat untuk menanda-tangani sebuah

perjanjian gencatan senjata.

Nabi Muhammad s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya menuliskan nashah perjanjian

yang akan ditanda-tangani oleh kedua belah fihak. Sedangkan beliau sendiri mendiktekan

syaratsyarat yang telah disetujui bersama. Pertama-tama beliau berkata: "Tulislah: "Bismillaahi

ar-Rahman ar-Rahim . ."

Mendengar kalimat itu Suhail menukas: "Berhenti dulu. Aku tidak mengerti apa ar-Rahman ar-

Rahim" itu! Tulis saja "Dengan nama-Mu, ya Allah. ."

Tanpa menyangkal lagi Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya menulis apa

yang diminta oleh Suhail. Kemudian beliau meneruskan, "Tulislah: 'Inilah perjanjian yang

diadakan oleh Muhammad Rasul Allah dengan Suhail bin 'Amr'…"

Suhail memotong "Berhenti dulu. Kalau aku percaya engkau Rasul Allah, tentu aku tidak akan

memerangimu. Tuliskan saja namamu dan nama ayahmu...!"

Rasul Allah menuruti apa yang diminta oleh Suhail. Beliau memerintahkan Imam Ali r.a. supaya

menuliskan kalimat: "Inilah perjanjian yang telah disepakati Muhammad bin Abdullah..." dst.

Kemudian dilanjutkan dengan penulisan teks syarat-syarat perjanjian yang terdiri dari empat

pokok:

1. Perjanjian gencatan senjata antara kedua belah fihak berlaku selama masa 10 tahun.

2. Jika ada orang dari fihak Qureiys memeluk Islam kemudian bergabung dengan Rasul Allah

s.a.w. tanpa seizin Qureiys, orang itu akan dikembalikan oleh Rasul Allah kepada Qureiys.

Sebaliknya jika ada orang dari fihak Rasul Allah yang murtad dan kembali ke fihak Qureiys,

orang itu oleh Qureiys tidak akan dikembalikan kepada Rasul Allah.

3. Jika ada orang Arab ingin bersekutu dengan Rasul Allah, dibolehkan. Dan apabila ada orangorang

Arab lain ingin bersekutu dengan kaum Qureiys, ia bebas berbuat demikian.

4. Rasul Allah dengan para pengikutnya harus pulang meninggalkan Makkah. Mereka berhak

untuk kembali lagi ke Makkah pada musim haji yang akan datang untuk berziarah ke Baitul

Haram, dengan syarat: mereka hanya akan tinggal di Makkah selama 3 hari, dan tidak akan

mengeluarkan pedang dari sarungnya.

Tidak lama setelah "Perjanjian Hudaibiyah" itu ditandatangani, Banu Khuza'ah segera

menyatakan bersekutu dengan Rasul Allah s.a.w. Sedangkan Banu Bakr menyatakan bersekutu

dengan fihak Qureiys.

Dengan perjanjian tersebut kaum muslimin memperoleh kesempatan leluasa untuk menyiarkan

agama Islam kepada orang-orang Arab di luar kaum musyrikin Qureiys, dan memperoleh waktu

yang cukup untuk membangun dan memperkuat negeri.

Bab IV-4 : Perang Khaibar

Walaupun Rasul Allah s.a.w. telah mengadakan perjanjian perdamaian dengan musyrikin

Qureiys (Perjanjian Hudaibiyah), namun beliau berfikir, bahwa keamanan dan keselamatan

kaum muslimin belum terjamin, selama masih ada kekuatan-kekuatan anti Islam yang bercokol

di utara Madinah. Kekuatan itu ialah kaum Yahudi yang mempunyai beberapa benteng di Khaibar.

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, orang-orang Yahudi memang tidak dapat dipercaya

kejujurannya dalam melaksanakan perjanjian perdamaian. Peristiwa pengkhianatan itu telah

terjadi beberapa kali dilakukan oleh orang-orang Yahudi dari Banu Quraidah, Bani Qainuqa' dan

Bani Nadhir.

Sekarang tibalah saatnya untuk mematahkan kekuatan terakhir kaum Yahudi, yang selama ini

dirasakan sebagai duri di dalam daging. Tanpa membuang-buang waktu, Rasul Allah

mempersiapkan pasukan sebanyak 1600 orang dan 100 pasukan berkuda guna diberangkatkan ke

Khaibar. Setelah berjalan tiga hari tibalah pasukan muslimin di depan perbentengan Khaibar.

Mereka telah berada di depan benteng Natat.

Esok paginya pertempuran mati-matian mulai berkobar. 50 orang dari pasukan muslimin gugur

dan dari fihak Yahudi lebih banyak lagi, termasuk pemimpin Yahudi Khaibar, yaitu Salam bin

Misykam. Setelah Salam terbunuh pimpinan Yahudi dipegang oleh Harits bin Abi Zainab. Ia

keluar dari benteng Na'im bersama sejumlah pasukan dengan maksud hendak menggempur

kaum muslimin.

Pasukan Muslimin yang terdiri dari orang-orang Khazraj berhasil memukul mundur pasukan

Harits sampai mereka masuk ke dalam benteng. Pasukan muslimin makin memperketat

pengepungan atas beberapa benteng Khaibar. Pihak Yahudi bertahan mati-matian. Bagi

mereka, jika kali ini kalah, berarti penumpasan terakhir Bani Israil di negeri Arab.

Pengepungan itu berlangsung selama beberapa hari. Untuk melancarkan serangan, Rasul Allah

s.a.w. menyerahkan panji peperangan kepada Abu Bakar As Shiddiq r.a. Dengan tugas supaya

menyerbu dan merebut benteng Na'im. Setelah terjadi pertempuran, Abu bakar r.a. kembali

tanpa berhasil mendobrak benteng tersebut. Keesokan harinya, Rasul Allah s.a.w. menugaskan

Umar Ibnul Khattab r.a. Iapun mengalami nasib yang sama seperti Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.

Sekarang Imam Ali r.a. dipanggil oleh Rasul Allah s.a.w. seraya berkata: "Pegang panji ini dan

bawa terus sampai Allah memberikan kemenangan kepadamu!"

Imam Ali r.a. berangkat membawa panji Rasul Allah s.a.w. Setibanya dekat benteng, penghuni

benteng itu keluar serentak menghadapinya. Ketika itu juga terjadi pertempuran. Salah

seorang Yahudi berhasil memukul Imam Ali r.a. sampai perisai yang ada di tangannya terpental.

Tetapi dengan gerakan kilat Imam Ali r.a. segera menjebol salah sebuah daun pintu yang ada di

benteng dan dengan berperisaikan daun pintu itu terus menerjang dan menggempur. Akhirnya

benteng itu dapat didobrak, dan daun pintu yang dipegangnya dijadikan jembatan. Dengan

jembatan itu kaum muslimin menyeberang serentak dan menyerbu ke dalam benteng.

Kaum Yahudi bertahan mati-matian. Benteng Na'im itu baru jatuh sepenuhnya, setelah

komandan pasukan Yahudi, Harits bin Abi Zainab mati terbunuh.

Peristiwa pertempuran itu menunjukkan betapa uletnya kaum Yahudi bertahan, dan

menunjukan pula tingginya semangat juang kaum muslimin dalam perang Khaibar. Dengan

jatuhnva benteng Na'im, praktis tidak banyak lagi kesukaran bagi kaum muslimin untuk

menjebol dan mengobrak-abrik benteng-benteng Khaibar lainnya yang masih tinggal, seperti

benteng Qamus, benteng Sha'b dan lain-lain yang tidak seberapa kokoh.

Dengan jatuhnya semua benteng Yahudi di Khaibar, perasaan putus asa merayap di dalam hati

mereka, kemudian mereka minta damai. Semua harta benda yang ada di dalam perbentengan

diserahkan kepada Rasul Allah s.a.w. sebagai barang ghanimah, dengan syarat mereka

diselamatkan. Rasul Allah s.a.w. menerima usul dan menyetujui permintaan mereka itu.

Mereka dibiarkan tetap tinggal di kampung-halaman mereka, mengerjakan tanah yang kini

menjadi milik kaum muslimin. Sebagai imbalan mereka mendapat upah separuh dari hasil tanaman.

Jatuhnya Makkah

Belum sampai setahun Perjanjian Hudaibiyah berlaku, terjadi bentrokan senjata antara Bani

Khuza'ah yang bersekutu dengan Rasul Allah s.a.w. dan Banu Bakr yang bersekutu dengan fihak

Qureiys. Bentrokan itu terjadi akibat adanya seorang dari Banu Bakr yang mengejek-ejek Rasul

Allah s.a.w. di depan seorang dari Banu Khuza'ah. Oleh orang dari Banu Khuza'ah, orang dari

Banu Bakr itu dipukul. Gara-gara pemukulan itu, bergeraklah orang-orang Banu Bakr menyerang

orang-orang Banu Khuza'ah. Permusuhan lama di antara dua qabilah itu memang sudah ada.

Dalam serangan itu, Banu Bakr dibantu langsung oleh musyrikin Qureiys, hingga jatuh korban

tidak sedikit di kalangan Banu Khuza'ah.

Untuk menanggulangi serangan Banu Bakr yang mendapat bantuan Qureiys, Banu Khuza'ah

minta bantuan Rasul Allah s.a.w. Beliau menyatakan kesediaannya untuk membantu Banu

Khuza'ah.

Mendengar ketegasan sikap Rasul Allah s.a.w. yang akan membantu Banu Khuza'ah, orang-orang

Qureiys di Makkah cemas dan takut. Mereka mengirim Abu Sufyan ke Madinah untuk menghadap

Rasul Allah s.a.w. Tujuan Abu Sufyan ialah untuk memperbaiki keadaan dan mengokohkan

perjanjian Hudaibiyah.

Waktu Abu Sufyan menyampaikan permintaan untuk memperkokoh dan memperpanjang waktu

berlaku perjanjian, Rasul Allah s.a.w. menolak. Abu Sufyan belum putus harapan. Ia menemui

Abu Bakar r.a., kemudian Umar r.a. Dua-duanya juga menolak untuk membantu Abu Sufyan.

Abu Sufyan mencoba membujuk anak perempuannya sendiri, yang sudah menjadi isteri Nabi

Muhammad s.a.w. Baru saja Abu Sufyan masuk dan belum sempat duduk, tikar segera digulung

oleh Ummu Habibah, sambil berkata: "Ini tikar kepunyaan Rasul Allah. Ayah tidak boleh duduk

di atasnya, sebab ayah orang musyrik dan kotor…"

Abu Sufyan belum putus asa. Dicobanya menemui Sitti Fatimah r.a., isteri Imam Ali r.a. Sitti

Fatimah r.a. juga menolak untuk membantu Abu Sufyan. Persoalan datangnya Abu Sufyan itu

disampaikan Sitti Fatimah r.a. kepada suaminya. Waktu bertemu dengan Abu Sufyan, Imam Ali

r.a. berkata: "Mengenai persoalan itu Rasul Allah sudah mengambil pendirian tegas. Kami tidak

dapat mengajaknya berbicara tentang itu..."

Sekarang habislah harapan Abu Sufyan. Ia pulang ke Makkah dengan tangan kosong.

Di Madinah, Rasul Allah s.a.w. mempersiapkan kaum muslimin untuk siaga menghadapi

peperangan. Setelah semua persiapan selesai, beliau berangkat memimpin pasukan muslimin

berkekuatan 10.000 orang. Setibanya dekat Makkah kaum muslimin diperintahkan supaya setiap

orang menyalakan obor, sehingga waktu malam di tengah gurun pasir terang benderang seperti

siang.

Pada malam itu juga Abu Sufyan bersama sejumlah orang Qureiys berangkat ke luar kota

Makkah untuk mencari informasi tentang keadaan kaum muslimin. Sejak beberapa waktu yang

lalu ia tidak mendengarnya lagi, karena Rasul Allah s.a.w. dan para sahabatnya benar-benar

merahasiakan rencana keberangkatan, agar jangan sampai diketahui oleh Qureiys sebelum tiba

di Makkah.

Melihat ribuan obor menyala-nyala dari kejauhan, Abu Sufyan ketakutan. Ia berniat hendak

kembali masuk kota sambil mempercakapkan ribuan obor dengan teman-temannya. Mereka

sama sekali tidak mengerti maksudnya.

Pada malam hari itu juga Abbas bin Abdul Mutthalib keluar dari pemusatan pasukan muslimin

mencari orang-orang dari kaum musyrikin Qureiys, untuk diberi tahu tentang kedatangan kaum muslimin dengan kekuatan yang besar. Dengan cara itu Abbas bermaksud hendak menekan

kaum musyrikin Qureiys supaya menyerah sebelum kaum muslimin masuk ke dalam kota

Makkah.

Waktu itu dari kejauhan Abbas mendengar sayup-sayup suara Abu Sufyan sedang bercakapcakap

dengan teman-temannya tentang obor yang ribuan jumlahnya. Ia mengenal baik suara

Abu Sufyan. Dengan teriakan keras sekali Abbas memanggil-manggil: "Hai Abu Handhalah !"

Terdengar suara Abu Sufyan menyahut dengan teriakan bertanya: "Abu Fadhl…?"

"Ya," jawab Abbas.

"Demi ayah dan ibuku...., ada kabar apa? Tanya Abu Sufyan yang tampak agak terkejut

bercampur takut.

"Inilah Rasul Allah datang membawa pasukan yang tak mungkin dapat kalian hadapi!" Jawab

Abbas menakut-nakuti Abu Sufyan.

"Lantas apa yang kau perintahkan kepadaku ...?" Abu Sufyan bertanya untuk mencari tahu apa

yang diinginkan kaum muslimin. "Ayolah turut naik untaku!" teriak Abbas menghimbau.

Terdorong oleh ketakutannya, tanpa banyak berfikir lagi Abu Sufyan segera mendekati Abbas,

lalu naik ke atas unta, duduk di belakang Abbas. Setibanya di depan Rasul Allah s.a.w., Abbas

minta supaya beliau memberi jaminan keselamatan Abu Sufyan. Nabi Muhammad menjawab:

"Pergilah. Dia kujamin keselamatannya sampai datang lagi besok pagi!"

Pagi-pagi Abbas datang rnembawa Abu Sufyan menghadap Rasul Allah. Kepada Abu Sufyan

beliau bertanya setengah menegor dengan tandas: "Celakalah engkau, hai Abu Sufyan! Apakah

belum juga engkau mengerti bahwa tidak ada tuhan selain Allah!"

"Demi ayah-ibuku", jawab Abu Sufyan. " Itu samasekali tidak ada dalam fikiranku!"

Mendengar jawaban seperti itu Abbas membentak Abu Sufyan: "Celaka sekali engkau! Ucapkan

syahadat sebelum lehermu dipenggal!"

Melihat sikap Abbas sekeras itu barulah Abu Sufyan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia

mengucapkan dua kalimat syahadat pada saat kaum musyrikin Qureiys tidak berdaya lagi

melawan kaum muslimin. Ucapan yang keluar dari hati yang tidak tulus.

Meskipun begitu Rasul Allah s.a.w. tetap bijaksana. Beliau memerintahkan Abbas pergi

membawa Abu Sufyan, dan ditahan di sebuah lembah yang akan dilalui pasukan muslimin dalam

gerakan memasuki kota Makkah.

Gelombang demi gelombang, kelompok demi kelompok pasukan muslimin bergerak masuk ke

Makkah. Dengan suara gemuruh mereka mengumandangkan takbir, bertahlil dan bersyukur ke

hadirat Allah Tabaraka wa Ta'ala. Waktu Abu Sufyan melihat pasukan yang langsung dipimpin

Nabi Muhammad s.a.w. lewat, yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, ia bertanya kepada

Abbas tentang kelompok itu. Abbas menjelaskan: "Itu kelompok pasukan Rasul Allah..... Itulah

beliau, Rasul Allah s.a.w… dan itulah mereka kaum Muhajirin dan Anshar…!"

"Hai Abu Fadl", kata Abu Sufyan yang nampak kagum terhadap kelompok pasukan itu, "putera

saudaramu sudah menjadi raja yang hebat sekali!"

"Itu kenabian ....bukan kerajaan!" bentak Abbas menjelaskan.

"Oh . ya", sahut Abu Sufyan.

Pada saat itu ada dua orang dari kaum musyrikin Qureiys, Hakim bin Hizam dan Badil bin

Warqa, datang menjumpai Rasul Allah s.a.w. untuk menyatakan diri masuk Islam. Kemudian

mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau.

Pada saat mulai masuk kota Makkah, Rasul Allah s.a.w. mengeluarkan pernyataan yang berisi

jaminan keselamatan bagi kaum Qureiys. Antara lain dikatakan: "Barang siapa masuk ke rumah

Abu Sufyan (terletak di bagian atas kota Makkah), ia terjamin keselamatannya! Barang siapa

masuk ke rumah Hakim bin Hizam (terletak di bagian bawah kota Makkah), ia terjamin

keselamatannya. Barang siapa menutup pintu rumahnya dan tidak mengangkat senjata, ia

terjamin keselamatannya…!"

Untuk menyebar-luaskan pernyataan itu kepada orang-orang Qureiys, Rasul Allah mengutus Abu

Sufyan dan Hakim.

Setelah itu Rasul Allah s.a.w. masuk ke dalam kota Makkah. Semua pasukan muslimin yang

datang melalui berbagai jurusan dipusatkan dalam kota, guna menghindari terjadinya konflik

senjata dengan kelompok-kelompok musyrikin. Rasul Allah s.a.w. bertekad keras untuk jangan

sampai ada setetes darah pun yang mengalir. Oleh karena itu beliau cepat-cepat

memberhentikan Sa'ad bin Ubadah dari jabatannya sebagai komandan pasukan karena diketahui

Sa'ad telah mengeluarkan pernyataan hendak menumpas orang-orang Qureiys; "Hari ini hari

pertarungan. Hari ini wanita-wanita Qureiys boleh dirampas dan diperbudak!"

Sebagai gantinya, Rasul Allah s.a.w. mengangkat Imam Ali r.a. menjadi komandan pasukan.

Setibanya dekat Ka'bah Rasul Allah s.a.w. berdiri di depan pintu sambil berseru kepada orang

orang Qureiys:

"Tiada Tuhan selain Allah tanpa sekutu apa pun juga. Dia telah memenuhi janji-Nya. Dia telah

memenangkan hamba-Nya, dan Dia sendirilah yang telah mengalahkan pasukan Ahzab.

Ketahuilah, bahwa kemuliaan keturunan dan kekayaan terletak di bawah telapak kakiku.

Demikian pula pengurusan Ka'bah dan penyediaan air untuk jema'ah haji!"

"Hai orang Qureiys", kata Nabi Muhammad s.a.w. selanjutnya, "sesungguhnya Allah hendak

menghapuskan adat jahiliyah dari kalian termasuk kebiasaan mengagung-agungkan nenekmoyang.

Semua manusia berasal dari Adam dan Adam terbuat dari tanah."

"Hai manusia, Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, kemudian

kalian Kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa di antara kalian.

Sesungguhnya bahwa Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal…" (S. Alhujurat: 13).

Selesai mengucapkan ayat tersebut, Rasul Allah s.a.w. bertanya: "Hai orang-orang Qureiys,

apakah yang hendak kalian katakan? Apa yang kalian duga akan kuperbuat?"

Mereka menjawab serentak: "Kami harap kebaikan akan diperbuat oleh saudara yang mulia,

putera dari saudara yang mulia."

Menanggapi jawaban mereka, Rasul Allah s.a.w. berkata lagi: "Yang kukatakan sama seperti

yang dikatakan oleh saudaraku, Yusuf a.s.: Tak ada marabahaya menimpa kalian. Semoga Allah

megampuni kalian, karena Dia adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Pergilah, kalian semua

bebas merdeka!"

Dengan kebijaksanaan seperti itu Rasul Allah s.a.w. mengetuk hati manusia untuk berbondongbondong

memeluk agama Islam.

Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. menghancurkan berhala-berhala, dan menghapuskan dua

buah gambar yang ada pada dinding Ka'bah dengan baju beliau sendiri. Kepada orang-orang

Qureiys yang ada di sekitar tempat itu, beliau memerintahkan supaya menghancurkan berhala

mereka masing-masing. Saat itu beliau mengucapkan sebuah ayat Al Qur'an, yang artinya:

"Bilamana kebenaran telah tiba, musnahlah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti

musnah." (S. Al Isra:81).

Dalam pekerjaan menghancurkan berhala-berhala itu, Imam Ali r.a. menyertai beliau. Ketika

melihat sebuah berhala milik Banu Khuza'ah masih terletak di atas Ka'bah, Rasul Allah s.a.w.

memerintahkan Imam Ali r.a. supaya menghancurkannya. Untuk

dapat naik ke atas, Imam Ali r.a. beliau angkat. Kemudian berhala tersebut oleh Imam Ali r.a.

dijebol dan dibanting ke tanah sampai hancur berkeping-keping.

Tengah hari berbondong-bondong kaum pria dan wanita Qureiys menghadap Rasul Allah s.a.w.

untuk menyatakan diri memeluk Islam, dan berjanji akan taat dan setia kepada Allah dan

Rasul-Nya.

Dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan Rasul Allah s.a.w., berarti hancurlah sudah benteng

terkuat kaum musyrikin. Benteng yang paling keras dan paling gigih melancarkan

seranganserangan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Dengan jatuhnya Makkah, kini kota itu

telah masuk ke dalam pangkuan kaum muslimin.

Di Makkah, Rasul Ailah s.a.w. tinggal selama 15 hari untuk mengatur urusan pemerintahan

setempat. Beliau mengangkat Hubairah bin Asy Syibl sebagai kepala daerah Makkah. Sedangkan

Mu'adz bin Jabal ditugaskan mengajarkan A1 Qur'an dan hukumhukum Islam. Setelah selesai

semuanya, beliau bersama pasukan menuju ke Taif untuk menghabisi kantong terakhir

pertahanan kaum Musyrikin.

Bab IV-5 : Perang Hunain

Perang ini merupakan salah satu peperangan terbesar dan terpenting bagi kaum muslimin.

Setelah berhasil menguasai kota Makkah, pasukan muslimin yang sekarang sudah menjadi

sangat kuat, masih harus menyelesaikan tugas besar. Yaitu menghancurkan pasukan Malik bin

Auf yang terdiri dari qabilah Hawazin dan Tsaqif.

Untuk menumpas perlawanan Malik dan kawan-kawannya, Rasul Allah s.a.w. memimpin

pasukan terdiri dari 12.000 orang. 2000 diantaranya adalah orang-orang Qureiys yang baru

masuk Islam setelah jatuhnya kota Makkah. Pasukan ini merupakan pasukan terbesar yang

pernah dikerahkan oleh Rasul Allah s.a.w. ke medan perang. Di antara komandan-komandan

pasukan banyak yang baru saja memeluk agama lslam, termasuk Khalid bin Al-Walid.

Untuk menghadapi serangan kaum muslimin, Malik bin Auf menempatkan pasukannya pada

posisi yang sangat strategis, yaitu di lambung kiri dan kanan lembah Hunain yang merupakan

jalur lalu lintas sempit. Pada waktu pasukan Muslimin lewat lembah tersebut pasukan Malik

akan menghujani mereka dengan anak panah. Siasat itu nampak berhasil baik.

Di kala fajar mulai menyingsing, pasukan Islam yang berada di baris depan, di bawah komando

Khalid bin Al-Walid, benar-benar masuk perangkap Malik bin Auf. Dengan gencar dan tak hentihentinya

pasukan Malik menghujani pasukan muslimin dengan anak panah dan tombak. Karena

kalah posisi dan diserang secara mendadak dan besar-besaran, pasukan muslimin menjadi

kacau balau. Mereka lari terbirit-birit dan mundur tanpa teratur.

Rasul Allah s.a.w. sendiri yang waktu itu masih berada di barisan belakang tidak dapat

mencegah pasukan yang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Jerih payah Rasul Allah s.a.w.

yang selama ini dicurahkan untuk membina pasukan muslimin, hampir saja hancur berantakan

di lembah Hunain ini. Orang-orang munafik sejenis Abu Sufyan bin Harb, yang secara resmi sudaah memeluk Islam dan bergabung dalam pasukan Rasul Allah s.a.w. bersorak-sorai

kegirangan menyaksikan pasukan muslimin kocar-kacir. Demikian juga Syaibah bin Utsman.

Pasukan Malik bergerak terus mengejar pasukan muslimin yang lari mundur dalam keadaan

kacau dan berpencar-pencar. Keadaan menjadi gawat dan mengkhawatirkan. Rasul Allah s.a.w.

merasa sukar sekali mengendalikan pasukan yang sudah kehilangan pamor sama sekali. Namun

beliau tetap tenang dan tabah mengenderai kuda baghalnya yang berwarna putih. Orang-orang

yang tetap mantap menyertai beliau antara lain terdapat Imam Ali r.a., Abbas bin Abdul

Mutthalib r.a., Abu Bakar r.a. dan Umar r.a.

Berkat kegigihan dan ketangguhan para sahabat, berkat keberanian Imam Ali r.a. dan para

sahabat lainnya dalam memukul tiap serangan yang ditujukan terhadap Rasul Allah s.a.w.,

akhirnya kaum muslimin dapat dikendalikan dan diarahkan untuk melancarkan serangan

balasan. Berangsur-angsur situasi berubah dan berbalik, sehingga kemenangan yang sangat

mengesankan akhirnya dapat diraih oleh kaum muslimin.

Dari peristiwa-peristiwa di atas dapat dilihat dengan jelas peranan kepahlawanan Imam Ali r.a.

Tiap keadaan gawat dan genting ia selalu berada di samping Rasul Allah s.a.w.


Bab V : WAFATNYA RASUL ALLAH S.A.W.

Pada hari-hari terakhir hayatnya Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. telah sampai pada puncak

kematangannya, baik secara fisik, mental maupun pemikiran. Ketaqwaan dan imannya yang

kuat telah teruji dalam pengalaman membela kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Ilmu-ilmu

Ilahiyah yang diterimanya langsung dari Nabi Muhammad s.a.w. telah cukup untuk menghadapi

dan menanggulangi berbagai problem yang akan muncul di kalangan umat Islam. Tentang hal

itu Nabi Muhammad s.a.w. sendiri telah menegaskan: "Aku ini adalah kotanya ilmu, sedang Ali

adalah pintunya."

Penegasan Nabi Muhammad s.a.w. tentang kecerdasan dan kematangan fikiran Imam Ali r.a.

kiranya cukup menjadi ukuran sejauh mana ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dituangkan

beliau kepada putera pamannya itu.

Pandangan Nubuwwah

Adalah wajar bila Rasul Allah s.a.w. bangga mempunyai seorang keluarga yang telah dibekali

syarat-syarat untuk dapat meneruskan kepemimpinannya atas kaum muslimin. Berkat

ketajaman pandangan nubuwwahnya, Nabi Muhammad s.a.w. telah melihat akan terjadinya

hal-hal yang tidak menggembirakan sepeninggal beliau di masa mendatang.

Mengenai hal yang terakhir ini, Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid X

halaman 182-183 mengatakan: "Pada malam hari setelah mempersiapkan pasukan untuk

menghadapi rongrongan Romawi di Balqa --di bawah pimpinan Usamah bin Zaid-- Nabi

Muhammad s.a.w. berziarah ke makam Buqai'. Setibanya di makam itu beliau mengucapkan:

'Assalamu 'alaikum, ya ahlal-qubur'. Semoga tempat di mana kalian berada ini lebih tenang

daripada yang akan dialami oleh orang-orang yang masih hidup. Suatu malapetaka bakal terjadi

seperti datangnya malam yang gelap-gulita dari permulaan sampai akhir."

Setelah memohon pengampunan bagi para ahlil-qubur, beliau memberitahu para sahabat:

"Biasanya Jibril menghadapkan Al Qur'an kepadaku tiap tahun satu kali, tetapi tahun ini

menghadapkan kepadaku sampai dua kali, kukira itu karena ajalku sudah dekat."

Keesokan harinya Rasul Allah s.a.w. mengucapkan khutbah di hadapan jema'ah para sahabat.

Beliau berkata: " Hai orang-orang, sudah tiba saatnya aku akan pergi dari tengah-tengah kalian.

Barang siapa mempunyai titipan padaku hendaknya datang kepadaku untuk kuserahkan kembali

kepadanya. Barang siapa mempunyai penagihan kepadaku hendaknya ia datang untuk segera

kulunasi. Hai orang-orang, antara Allah dan seorang hamba, tidak ada keturunan atau urusan

apa pun yang dapat mendatangkan kebajikan atau menolak keburukan, selain amal perbuatan.

Janganlah ada orang yang mengaku-aku dan janganlah ada orang yang mengharap-harap. Demi

Allah yang mengutusku membawa kebenaran, tidak ada apa pun yang dapat menyelamatkan

selain amal perbuatan disertai cinta-kasih. Seandainya aku berbuat durhaka aku pun pasti

tergelincir. Ya Allah ..., amanat-Mu telah kusampaikan!"

Dari ucapan-ucapan Rasul Allah s.a.w. malam hari di makam Buqai' dan dari khutbah beliau

yang diucapkan keesokan harinya, jelaslah bagi kaum muslimin kesukaran-kesukaran yang bakal

dihadapi sepeninggal Rasul Allah s.a.w. Kesukaran-kesukaran yang hanya dapat ditanggulangi

dengan amal perbuatan yang disertai cinta-kasih, sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Secara tidak langsung pun beliau memperingatkan, bahwa barang siapa berbuat durhaka, ia

pasti akan tergelincir ke jalan yang tidak diridhoi Allah s.w.t.

Jatuh sakit

Canang dan peringatan Rasul Allah s.a.w. kepada ummatnya itu diucapkan di kala kaum

muslimin di seluruh jazirah Arab sudah dalam keadaan mantap. Hanya dalam waktu 10 tahun,

jazirah yang seluas itu telah bernaung di bawah kibaran panji-panji agama Allah. Untuk

pertama kalinya dalam sejarah, jazirah yang dihuni oleh qabilah-qabilah, suku-suku dan puakpuak

yang saling bertentangan, bersaingan dan bercerai-berai itu, kini telah berhasil

dipersatukan dalam satu agama, satu aqidah dan satu pimpinan. Agama Islam aqidahnya ialah

tauhid dan pimpinannya ialah Rasul Allah s.a.w.

Atas kehendak Allah s.w.t. dan rakhmat-Nya serta berkat kebijaksanaan Rasul-Nya, perjuangan

mengakhiri paganisme (agama keberhalaan) telah mencapai prestasi yang luar biasa besarnya.

Missi suci menyebarkan agama Islam, praktis telah diselesaikan dengan sukses oleh Nabi

Muhammad s.a.w.

Sekembalinya dari ibadah haji wada', Rasul Allah s.a.w. mengangkat Usamah bin Zaid bin

Haritsah sebagai panglima pasukan muslimin untuk menghadapi rongrongan Romawi di Balqa,

sebelah utara jazirah Arab. Pengangkatan Usamah yang baru berusia 22 tahun itu,

menimbulkan kekhawatiran di kalangan para sahabat terkemuka. Sebab, selain Usamah masih

terdapat panglima-panglima yang telah banyak makan garam peperangan dan pantas untuk

jabatan itu. Namun Rasul Allah s.a.w. tetap berpegang teguh pada kebijaksanaan yang telah

ditetapkan.

Secara psikologis pengangkatan Usamah bin Zaid adalah tepat. Ia seorang tokoh muda yang

cerdas dan penuh inisiatif. Lagi pula ayahnya, Zaid bin Haritsah, bukan nama yang kecil dalam

jajaran pahlawan-pahlawan Islam. Ia gugur di Mu'tah sebagai pahlawan syahid dalam

pertempuran melawan pasukan Romawi. Karena itu diharapkan Usamah akan mendapat

kesempatan baik untuk menuntut balas atas kematian ayahnya.

Pada waktu Usamah bin Zaid dan pasukannya yang besar itu sudah dalam keadaan siaga, tibatiba

Rasul Allah s.a.w. jatuh sakit. Baru kali ini beliau mengeluh tentang penyakitnya. Beliau

menderita penyakit demam tinggi. Tubuh yang selama hayatnya diabdikan kepada perjuangan

di jalan Allah s.w.t., kini tiba-tiba hampir tak bertenaga. Kaum muslimin sangat resah melihat

penyakit beliau yang tampak gawat.

Meskipun demikian, banyak juga para sahabat yang tidak percaya, bahwa jasmani seorang

manusia utusan Allah yang kekar dan kuat itu bisa dibuat tidak berdaya oleh penyakit. Lebihlebih

karena di masa sakit itu, beliau masih sibuk mengatasi keresahan fikiran sementara

sahabat yang kurang bisa menerima pengangkatan Usamah.

Mengenai Usamah ini, Nabi Muhammad s.a.w. cukup tegas. Putusan yang telah beliau ambil tak

dapat ditawar-tawar lagi. Usamah beliau perintahkan agar bertindak sebagai pemimpin

ekspedisi ke utara. Ketetapan yang beliau ambil itu besar artinya bagi kaum muda. Muhammad

Husein Haikal dalam bukunya "Hayat Muhammad" tentang hal itu mengatakan: "Timbul keyakinan di kalangan kaum muda bahwa mereka pun mampu mengemban tugas berat.

Kebijaksanaan beliau itu juga merupakan pendidikan bagi mereka agar membiasakan diri

memikul beban tanggung jawab yang besar dan berat."

Makin hari penyakit yang diderita-Rasul Allah s.a.w. makin gawat. Semula beliau tetap

berusaha agar dapat melaksanakan tugas sehari-hari, seperti mengimami shalat jama'ah. Akan

tetapi ketika dirasa penyakitnya bertambah berat, beliau memerintahkan Abu Bakar Ash

Shiddiq r.a. menggantikan beliau melaksanakan tugas yang amat mulia itu. Perintah Nabi

Muhammad s.a.w. kepada Abu Bakar Ash Shiddiq ra. itulah yang kemudian diartikan orang

sebagai petunjuk, bahwa Abu Bakar r.a. adalah orang yang layak menduduki kepemimpinan

ummat Islam sepeninggal Rasul Allah s.a.w.

Wasiyat

Dalam keadaan menderita sakit yang sedang gawat-gawatnya, Rasul Allah s.a.w. menyampaikan

pesan kepada para sahabatnya kaum Muhajirin, agar memelihara persaudaraan dan menjaga

hubungan baik dengan kaum Anshar. "Mereka itu", yakni kaum Anshar, kata Nabi Muhammad

s.a.w., "adalah orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi

perlindungan kepadaku. Hendaknya kalian berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan

memaafkan mereka bila ada yang berbuat salah."

Imam Al Bukhari dalam shahihnya mengetengahkan sebuah hadits, dengan sanad Ubaidillah bin

Abdullah bin Utbah dan berasal dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasul Allah s.a.w. sedang

mendekati ajal, berkata kepada para sahabat yang berada di sekelilingnya. Di antara mereka

itu terdapat Umar Ibnul Khattab r.a. Nabi Muhammad s.a.w. berkata:

"Marilah…, akan kutuliskan untuk kalian suatu kitab (secarik surat wasyiat) dengan mana kalian

tidak akan sesat sepeninggalku."

Mendengar itu Umar bin Ibnul Khattab r.a. berkata kepada sahabat-sahabat lainnya: "Nabi

dalam keadaan sangat payah dan kalian telah mempunyai Al-Qur'an. Cukuplah Kitab Allah itu

bagi kita."

Menanggapi perkataan Umar r.a. itu para sahabat berselisih pendapat. Ada yang minta supaya

segera disediakan alat tulis agar Rasul Allah s.a.w. menuliskan wasiyatnya yang terakhir. Ada

pula yang sependapat dengan Umar r.a. Terjadilah pertengkaran mulut, sehingga Rasul Allah

s.a.w. akhirnya menghardik: "Nyahlah kalian!"

Hadits itu tidak perlu lagi dipersoalkan kebenarannya. Sebab Al-Bukhari sendiri meriwayatkan

hadits tersebut di berbagai tempat dalam Shaihnya. Juga Muslim dalam Shahihnya pada bagian

"Wasiyat terakhir" meriwayatkan hadits tersebut dari Sa'ad bin Zubair yang berasal dari Ibnu

Abbas pula.

At-Thabrani dalam "Al-Ausath" mengemukakan: "Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menghadapi

ajal, beliau berkata: "Bawalah kepadaku lembaran dan tinta. Akan kutuliskan untuk kalian yang

dengan itu kalian tidak akan sesat selama-lamanya."

Mendengar ucapan Nabi Muhammd s.a.w. itu, para wanita yang menunggu di belakang tabir

(hijab) berkata kepada para sahabat Nabi yang berada di tempat itu: "Tidakkah kalian

mendengar apa yang dikatakan oleh Rasul Allah ?"

Umar Ibnul Khattab r.a. segera menyahut: "Kukatakan, kalian itu sama dengan wanita-wanita

yang mengelilingi Nabi Yusuf. Jika Rasul Allah sakit kalian mencucurkan air mata dan jika

beliau sehat kalian menunggangi lehernya!"

Mendengar ucapan Umar r.a. itu Rasul Allah s.a.w. kemudian berkata mengingatkan: "Biarkan mereka itu, mereka itu lebih baik daripada kalian."

Hadist yang diketengahkan oleh At-Thabrani itu terdapat dalam "Kanzul 'Ummal", jilid III, hlm

138.

Penyakit Rasul Allah s.a.w. mencapai puncaknya ketika beliau berada di kediaman Sitti

Maimunah r.a., salah seorang isteri beliau. Atas kesepakatan semua isterinya beliau meminta

supaya dibawa ke tempat kediaman Sitti Aisyah r.a. Dengan berikat kepala, beliau keluar dan

berjalan sambil bertopang pada Imam Ali r.a. dan pamannya, Abbas. Beliau tiba di tempat

kediaman Sitti Aisyah r.a. dalam keadaan lemah sekali.

Beberapa hari kemudian, di saat banyak orang sedang menunaikan shalat jama'ah yang diimami

oleh Abu Bakar r.a., tiba-tiba Nabi Muhammad s.a.w. muncul di tengah-tengah mereka dengan

bertopang pada Imam Ali r.a. serta Al Fadhl bin Abbas. Shalat subuh berjama'ah itu hampir saja

tertunda karena hal yang mengejutkan itu. Hal itu tak sampai terjadi, karena Rasul Allah s.a.w.

memerintahkan supaya shalat dilanjutkan.

Abu Bakar r.a. sendiri merasa rikuh, berniat mundur dan hendak menyerahkan imam shalat

kepada beliau, tetapi Nabi Muhammad s.a.w. mendorongnya dari belakang sambil berucap

setengah berbisik: "Teruskan mengimami shalat". Beliau kemudian mengambil tempat di

samping kanan Abu Bakar r.a. dan menunaikan shalat sambil duduk.

Seusai shalat Nabi Muhammad s.a.w. berbalik menghadap kebelakang dan bertatap-muka

dengan jama'ah yang memenuhi masjid. Semua bergembira melihat Rasul Allah s.a.w.

berangsur sehat. Lebih tertegun lagi tatkala beliau berkata: " Hai kaum muslimin, api neraka

sudah bertiup dan fitnahpun akan datang seperti malam gelap-gulita. Demi Allah, aku tidak

akan menghalalkan sesuatu selain yang dihalalkan oleh Al Qur'an. Aku pun tidak akan

mengharamkan sesuatu selain yang diharamkan oleh Al Qur'an. Terkutuklah orang yang

menggunakan perkuburan sebagai tempat bersujud (Masjid)."

Kesehatan Rasul Allah s.a.w. yang secara tiba-tiba tampak pulih kembali dengan cepat tersiar

luas dan disambut gembira sekali oleh seluruh kaum muslimin. Usamah bin Zaid, yang semula

sudah siap untuk membubarkan pasukan, karena Rasul Allah s.a.w. sakit keras, kemudian

menghadap beliau untuk minta izin menggerakkan pasukannya ke Syam. Bahkan Abu Bakar r.a.

sendiri pun yakin benar bahwa beliau sudah bisa kembali menjalankan tugas sehari-hari. Begitu

pula Umar Ibnul Khattab r.a. dan para sahabat dekat lainnya, sekarang sudah beranjak

meninggalkan masjid guna menyelesaikan keperluan masing-masing.

Wafat

Akan tetapi kondisi kesehatan beliau yang seperti itu ternyata hanya semu belaka. Beberapa

saat kemudian penyakitnya berubah menjadi gawat kembali. Detik-detik terakhir hayatnya tiba

dikala beliau berbaring di pangkuan isterinya, Sitti Aisyah r.a.

Agak lain dari itu, menurut Imam Ahmad bin Hanbal dalam Masnadnya jilid II, halaman 300, dan

menurut At-Thabariy dalam Dzakha'irul'Uqba' halaman 73, beliau wafat di atas pangkuan Imam

Ali r.a. Ucapan terakhir yang keluar pada detik kemangkatan beliau ialah "Ar Rafiqul A'laa.

minal jannah…"

Ada yang mengatakan beliau wafat pada bagian akhir bulan shafar tahun 11 hijriyah. Ada pula

sejarawan yang menyebut permulaan Rabi'ul Awwal sebagai hari wafat beliau. Kaum Syi'ah,

misalnya, mengatakan bahwa beliau wafat dua hari terakhir bulan shafar. Tetapi banyak

penulis sejarah lainnya mengatakan pada permulaan bulan Rabi'ul Awwal tahun 11 Hijriyah,

atau tanggal 8 Juni tahun 632 Masehi.

Tentang hari dan tanggal wafatnya Rasul Allah s.a.w. bukanlah suatu masalah yang perlu dipersoalkan. Yang penting dan yang sangat perlu ditekankan, bahwa pada saat-saat terakhir

hayatnya, beliau tidak mengatakan siapa yang akan meneruskan kepemimpinan atas

ummatnya. Hal ini di belakang hari akan menjadi titik perbedaan pendapat tentang

kepemimpinan ummat di kalangan kaum muslimin.

Rasul Allah s.a.w pulang keharibaan Allah Rabbul'alamin hanya meninggalkan Kitab Allah yang

berisi firman-firman-Nya, dan ajaran serta tauladan beliau yang kemudian dikenal sebagai

Sunnah Rasul Allah s.a.w. Beliau mangkat meninggalkan Islam sebagai buah risalah suci dalam

keadaan lengkap dan sempurna, yang kehadirannya di permukaan bumi akan melahirkan

peradaban baru dalam kehidupan manusia.

Nabi Muhammad s.a.w. wafat meninggalkan keluarga dan para sahabat, yang ketangguhan Iman

dan kesetiaannya kepada Islam bisa diandalkan untuk menjamin kelestarian agama Allah dan

mengembang-luaskan manusia pemeluknya. Kebenaran telah tiba dan kebatilan pasti lenyap.

Itulah motto perjuangan ummat Islam yang mau tidak mau harus diperhitungkan oleh kekuatankekuatan

kuffar di Barat dan kekuatan-kekuatan musyrikin di Timur.

Kemangkatan Rasul Allah s.a.w. merupakan peristiwa yang tidak diduga akan secepat itu.

Kejadian yang terasa sangat mengejutkan itu, mengakibatkan banyak kaum muslimin

terombang-ambing antara percaya dan tidak. Bahkan sahabat terdekat beliau sendiri, yaitu

Umar Ibnul Khattab r.a. masih juga tidak mau percaya mendengar berita tentang wafatnya

Rasul Allah s.a.w. Hingga saat ia sendiri menyaksikan jenazah suci terbaring di rumah Sitti

Aisyah r.a., masih tetap berseru kepada semua orang: "Rasul Allah tidak wafat! Beliau hanya

menghilang dan akan kembali lagi!"

Umar Ibnul Khattab r.a. tetap membantah, bahkan mengancam-ancam setiap orang yang

mengatakan bahwa Rasul Allah telah wafat. Apa yang diperlihatkan oleh Umar Ibnul Khattab

r.a. itu hanya menunjukkan betapa hebatnya goncangan kaum muslimin mendengar berita

tentang wafatnya Nabi Muhammad s.a.w.

Seorang sahabat lainnya, Al-Mughirah, berusaha meyakinkan Umar r.a. bahwa Rasul Allah

s.a.w. benar-benar wafat. Dengan geram Umar r.a. menuduhnya sebagai pembohong. Umar

r.a. menjawab: "Beliau hanya pergi menghadap Allah, sama seperti Musa bin Imran yang

menghilang dari tengah-tengah kaumnya selama 40 hari dan akhirnya kembali lagi kepada

mereka."

Banyak orang yang dituduh oleh Umar r.a. sebagai munafik, hanya karena memberitakan

kemangkatan Rasul Allah s.a:w. Kepada orang-orang yang sedang berkerumun di masjid

Nabawi, Umar r.a. meneriakkan ancaman: "Barang siapa berani mengatakan Rasul Allah telah

wafat, akan kupotong kaki dan tangannya!" Ancaman Umar r.a. yang seperti itu cukup

menambah bingungnya kaum muslimnin yang sedang dirundung duka cita.

Abu Bakar r.a. yang baru saja datang dari Sunh, ketika mendengar Umar r.a. melontarkan kata-kata

sekeras itu, berusaha meyakinkan dengan mensitir ayat 144 Surah Ali Imran, yang dalam

bahasa Indonesianya: "Muhammad itu tiada lain hanya seorang Rasul, sesungguhnya telah

berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu berbalik

ke belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang ia tak dapat mendatangkan mudharat

kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang

bersyukur."

Mendengar itu sadarlah Umar Ibnul Khattab atas kekhilafannya.

Pemakaman

Pada saat wafatnya Rasul Allah s.a.w. Imam Ali r.a. adalah orang pertama yang segera turun

tangan untuk merawat dan mempersiapkan pemakaman jenazah manusia terbesar di dunia, yang paling dicintai dan dikaguminya. Untuk pertama kali kaum muslimin menghadapi cara

pemakaman jenazah orang yang paling mereka hormati dan mereka cintai sebagai pemimpin

agung.

Seorang manusia pilihan Allah, Nabi dan Rasul-Nya. Seorang besar yang tak akan pernah ada

bandingannya dalam sejarah. Seorang arif bijaksana yang telah berhasil mengubah tatakehidupan

bangsanya. Seorang yang telah menunjukkan kesanggupan merombak secara

menyeluruh nilai-nilai lama dan menggantinya dengan nilai-nilai baru yang mulia dan luhur,

yaitu Islam. Seorang manusia agung yang jauh lebih mulia dibanding dengan kepala-kepala

qabilah, pemimpin-pemimpin golongan, bahkan raja-raja sekalipun. Seorang yang hanya dalam

waktu kurang lebih dua dasawarsa sanggup mengubah wajah dunia Arab dan mengangkat

derajat satu bangsa yang tadinya dipandang rendah menjadi sangat disegani oleh kekutankekuatan

raksasa seperti Romawi dan Persia. Jauh lebih besar lagi, karena Nabi Muhammad

s.a.w. datang ke tengah-tengah ummat manusia membawa agama besar untuk menegakkan

kebenaran dan keadilan di permukaan bumi.

Tata-cara yang direncanakan untuk memakamkan jenazah suci itu ternyata banyak

menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, terutama mengenai problema:

siapa yang berhak memandikan, siapa yang berhak menurunkan ke liang lahad dan lain

sebagainya.

Tentang di mana jenazah suci akan dikebumikan juga menimbulkan perbedaan pendapat di

kalangan para sahabat. Sebagian menuntut supaya jenazah Rasul Allah s.a.w. dimakamkan di

Makkah. Sebagai alasan dikatakan, di kota itulah beliau dilahirkan. Sebagian lain menuntut

supaya jenazah beliau dimakamkan di Madinah, di pemakaman Buqai', dengan alasan agar

beliau bersemayam bersama-sama pahlawan syahid yang gugur dalam perang Uhud. Akhirnya

perbedaan pendapat ini dapat disudahi, setelah Abu Bakar r.a. mengumumkan, bahwa ia

mendengar sendiri penegasan Rasul Allah s.a.w.: "Semua Nabi dimakamkan di tempat mereka

wafat". Berdasarkan itu bulatlah mereka memakamkan jenazah Nabi Muhammad s.a.w. di

rumah beliau di Madinah.

Tentang masalah siapa yang akan mengimami shalat jenazah secara berjama'ah juga terdapat

pertikaian. Pertikaian itu terjadi karena hal itu dipandang suatu kehormatan yang sangat tinggi

bagi seorang yang bertindak selaku Imam shalat jenazah bagi manusia agung seperti Nabi

Muhammad s.a.w. Karena tidak tercapai kesepakatan, akhirnya tiap orang melakukan shalat

jenazah sendiri-sendiri. Sementara itu terdapat riwayat lain yang mengatakan, bahwa di kala

itu Imam Ali r.a. mengusulkan shalat jenazah secara berjema'ah. Usul tersebut diterima oleh

kaum muslimin, bahkan disepakati ia bertindak sebagai imam.

Begitu pula, tentang siapa yang akan mendapat kehormatan menurunkan jenazah suci ke liang

lahad. Abbas bin Abdul Mutthalib, paman Rasul Allah s.a.w. mengusulkan supaya Abu Ubaidah

bin Al Jarrah saja yang menurunkan ke liang lahad. Sebagai alasan dikemukakan, bahwa dia

sudah biasa menggali lahad dan mengembumikan orang-orang Makkah. Imam Ali r.a.

berpendirian lain. Ia mengusulkan agar Abu Thalhah Al-Anshariy saja yang turun ke liang lahad.

Alasannya senada dengan paman Rasul Allah s.a.w. di atas, hanya kotanya lain: "Ia sudah biasa

menggali lahad dan memakamkan orang-orang Madinah."

Setelah melalui pertukaran pendapat beberapa lamanya, akhirnya terdapat saling pengertian

dan Abu Thalhah mendapat kehormatan menggali liang lahad. Kemudian timbul pula problema

baru. Siapa yang akan menyertai Abu Thalhah dalam melaksanakan tugas terhormat itu?

Problema-problema seperti di atas timbul, karena tidak ada seorang pun yang diakui

otoritasnya untuk mengatur dan menentukan tata-cara pemakaman. Juga karena tidak ada

wasiyat apa pun dari Rasul Allah s.a.w. tentang sesuatu yang perlu dilakukan kaum muslimin

pada saat beliau wafat. Soal-soal yang bagi orang zaman sekarang dianggap kurang penting, pada masa itu benar-benar dipandang sebagai satu soal yang besar. Lebih-lebih karena yang

dihadapi kaum muslimin ialah jenazah Rasul Allah s.a.w. Hal itu wajar. Rasanya tidak ada

kehormatan yang lebih tinggi dari pada memperoleh kesempatan memberikan pelayanan

terakhir kepada jenazah suci itu.

Akhirnya Imam Ali r.a. dengan terus terang dan tegas berkata: "Tidak ada orang yang boleh

turun ke liang lahad bersama Abu Thalhah selain aku sendiri dan Abbas."

Sungguh pun sudah ada ketegasan seperti itu dari Imam Ali r.a., namun dalam praktek ia

membolehkan juga Al-Fadhl bin Abbas dan Usamah bin Zaid turun ke liang lahad. Hal itu

menimbulkan rasa kurang enak di kalangan kaum Anshar. Mereka menuntut agar ada seorang

dari kaum Anshar yang ikut. Tuntutan yang adil itu akhirnya disepakati dan ditunjuklah

orangnya, Aus bin Khauliy. Aus dulu pernah ikut aktif dalam perang Badr melawan kaum

musyrikin Qureiys.

Dalam semua kegiatan membenahi pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. benarbenar

memainkan peranan yang sangat dominan. Bahkan waktu memandikan jenazah beliau,

Imam Ali r.a.lah satu-satunya orang yang menjamah jasad manusia agung itu. Hal itu

dimungkinkan karena sebelumnya banyak orang yang sudah mendengar, bahwa Rasul Allah

s.a.w. sendiri pernah menyatakan, hanya Imam Ali r.a. saja yang boleh melihat aurat beliau.

Kesan Imam Ali r.a. yang sangat mendalam dan selalu terkenang dari peristiwa memandikan

jenazah suci itu ialah: "…kubalikkan sedikit saja, jasad beliau sudah menurut. Sama sekali tidak

kurasakan berat. Seolah-olah ada tangan lain yang membantuku, bukan lain pasti tangan

Malaikat."

Riwayat lain mengatakan, bahwa yang memandikan jenazah Rasul Allah s.a.w. bukan hanya

Imam Ali r.a., tetapi juga Abbas bin Abdul Mutthalib serta dibantu oleh dua orang puteranya

yang bernama Al-Fadhl dan Qutsam, di samping Usamah bin Zaid. Usamah bin Zaid dan Syukran,

yang sampai saat terakhir menjadi pembantu Rasul Allah s.a.w., dua-duanya menuangkan air.

Jasad jenazah suci dimandikan tetap dalam mengenakan pakaian. Di saat memandikan Imam

Ali r.a. tertegun oleh keharuman bau semerbak dan sambil bergumam mengucapkan: "Demi

Allah, alangkah harumnya engka.u di waktu hidup dan setelah meninggal!"

Sementara riwayat mengatakan pula, hahwa pemakaman jenazah suci itu dilakukan pada

malam hari di bawah cahaya gemerlapan bintang-bintang di langit hening. Di tengah

keheningan malam itu terdengar detak-denting suara orang menggali lahad, bercampur suara

saling berbisik, seolah-olah jangan sampai mengusik ketenangan jenazah agung yang sedang

menuju ke pembaringan terakhir. Tidak jauh dari tempat pamakaman terdengar suara haru

para wanita tertahan mengendap-endap rintihan duka. Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun…


Bab VI : KHALIFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ

Di saat kaum muslimin sedang resah mendengar berita tentang wafatnya Rasul Allah s.a.w.,

sejumlah kaum Anshar menyelenggarakan pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah untuk

memperbincangkan masalah penerus kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. Ikut serta bersama

mereka seorang tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah.

Di dalam bukunya yang berjudul As Saqifah, Abu Bakar Ahmad bin Abdul Azis Al-Jauhary

mengetengahkan riwayat tentang terjadinya peristiwa penting di Saqifah (tempat pertemuan)

Bani Sa'idah. Antara lain dikemukakan, bahwa tokoh terkemuka Anshar, Sa'ad bin 'Ubadah,

dalam keadaan menderita sakit lumpuh sengaja digotong untuk menghadiri pertemuan

tersebut.

Karena tidak sanggup berbicara dengan suara keras, ia minta kepada anaknya, Qeis bin Sa'ad,

supaya meneruskan kata-katanya yang ditujukan kepada semua hadirin. Dengan suara lantang

Qeis meneruskan kata-kata ayahnya:

"Kalian termasuk orang yang paling dini memeluk agama Islam, dan Islam tidak hanya dimiliki

oleh satu qabilah Arab. Sesungguhnya ketika masih berada di Makkah, selama 13 tahun di

tengah-tengah kaumnya, Rasul Allah mengajak mereka supaya menyembah Allah Maha Pemurah

dan meninggalkan berhala-berhala. Tetapi hanya sedikit saja dari mereka itu yang beriman

kepada beliau. Demi Allah mereka tidak sanggup melindungi Rasul Allah s.a.w. Mereka tidak

mampu memperkokoh agama Allah Tidak mampu membela beliau dari serangan musuhmusuhnya.

"Kemudian Allah melimpahkan keutamaan yang terbaik kepada kalian dan mengaruniakan

kemuliaan kepada kalian, serta mengistimewakan kalian pada agama-Nya. Allah telah

melimpahkan nikmat kepada kalian berupa iman kepada-Nya, dan kesanggupan berjuang

melawan musuh-musuh-Nya. Kalian adalah orang-orang yang paling teguh dalam menghadapi

siapa pun juga yang menentang Rasul Allah s.a.w. Kalian juga merupakan orang-orang yang

lebih ditakuti oleh musuh-musuh beliau, sampai akhirnya mereka tunduk kepada pimpinan

Allah, suka atau tidak suka.

"Dan orang-orang yang jauh pun akhirnya bersedia tunduk kepada pimpinan Islam, sampai tiba

saatnya Allah menepati janji-Nya kepada Nabi kalian, yaitu tunduknya semua orang Arab di

bawah pedang kalian. Kemudian Allah memanggil pulang Nabi Muhammad s.a.w. keharibaan-

Nya dalam keadaan beliau puas dan ridho terhadap kalian. Karena itu pegang teguhlah

kepemimpinan di tangan kalian. Kalian adalah orang-orang yang paling berhak dan paling

afdhal untuk memegang urusan itu!"

Kata-kata Sa'ad bin 'Ubadah itu disambut hangat oleh pemuka-pemuka Anshar yang hadir

memenuhi Saqifah Bani Sa'idah. Apa yang dikemukakan oleh tokoh terkemuka kaum Anshar itu

memperoleh dukungan mutlak. "Kami tidak akan menyimpang dari perintahmu!" teriak mereka

hampir serentak. Engkau kami angkat untuk memegang kepemimpinan itu, karena kami merasa

puas terhadapmu dan demi kebaikan kaum muslimin, kami rela!"

Setelah menyatakan dukungan kepada Sa'ad bin 'Ubadah hadirin menyampaikan pendapatpendapat

tentang kemungkinan apa yang bakal terjadi. Ada yang mengatakan, sikap apakah

yang harus diambil jika kaum Muhajirin berpendirian, bahwa mereka itulah yang berhak atas

kepemimpinan ummat? Sebab mereka itu pasti akan mengatakan: Kami inilah sahabat Rasul

Allah dan lebih dini memeluk Islam. Mereka tentu juga akan menyatakan diri sebagai kerabat

Nabi dan pelindung beliau. Mereka pasti akan menggugat: atas dasar apakah kalian menentang

kami memegang kepemimpinan sepeninggal Rasul Allah? Bagaimana kalau timbul problema

seperti itu?

Pertanyaan itu kemudian dijawab sendiri oleh sebagian hadirin: "Kalau timbul pertanyaanpertanyaan

seperti itu kita bisa mengemukakan usul kompromi kepada mereka, dengan

menyarankan: Dari kami seorang pemimpin dari kalian seorang pemimpin. Kalau mereka bangga

dan merasa turut berhijrah, kami pun dapat membanggakan diri karena kami inilah yang

melindungi dan membela Rasul Allah s.a.w. Kami juga sama seperti mereka. Sama-sama

bernaung di bawah Kitab Allah. Jika mereka mau menghitung-hitung jasa, kami pun dapat

menghitung-hitung jasa yang sama. Apa yang menjadi pendapat kami ini bukan untuk

mengungkit-ungkit mereka. Karenanya lebih baik kami mempunyai pemimpin sendiri dan

mereka pun mempunyai pemimpin sendiri!"

"Inilah awal kelemahan," Ujar Sa'ad bin 'Ubadah sambil menarik nafas, setelah mendengar usul

kompromi dari kaumnya.

Nyata sekali pertemuan itu mengarah kepada keputusan yang hendak mengangkat Sa'ad bin

'Ubadah sebagai pemimpin kaum muslimin, yang bertugas meneruskan kepemimpinan Rasul

Allah s.a.w. Kesimpulan seperti itu segera terdengar oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Konon yang menyampaikan berita tentang hal itu kepada Umar r.a. ialah seorang yang bernama Ma'an bin

'Addiy. Ketika itu Umar r.a. sedang berada di rumah Rasul Allah s.a.w.

Pada mulanya Umar r.a. menolak ajakan Ma'an bin Adiy untuk menyingkir sebentar dari orang

banyak yang sedang berkerumun di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. Tetapi karena Ma'an terus

mendesak, akhirnya Umar r.a. menuruti ajakannya. Kepada Umar Ibnul Khattab r.a. Ma'an

memberitahukan segala yang sedang terjadi di Saqifah Bani Sa'idah. Dengan penuh kegelisahan

dan kekhawatiran Ma'an menyampaikan informasi kepada Umar r.a. Akhirnya ia bertanya:

"Coba, bagaimana pendapat anda?"

Tanpa menunggu jawaban Umar r.a. yang sedang berfikir itu, Ma'an berkata lebih lanjut:

"Sampaikan saja berita ini kepada saudara-saudara kita kaum Muhajirin. Sebaiknya kalian pilih

sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin kalian. Kulihat sekarang pintu fitnah sudah

ternganga. Semoga Allah akan segera menutupnya."

Umar r.a. sendiri ternyata tidak dapat menyembunyikan keresahan fikirannya mendengar berita

itu. Ia belum tahu apa yang harus diperbuat. Oleh karena itu ia segera menjumpai Abu Bakar

Ash Shiddiq r.a. yang sedang turut membantu membenahi persiapan pemakaman jenazah Rasul

Allah s.a.w. Menanggapi ajakan Umar r.a Abu Bakar r.a. menjawab: "Aku sedang sibuk. Rasul

Allah belum lagi dimakamkan. Aku hendak kauajak kemana?"

Umar r.a. terus mendesak, dan sambil menarik tangan Abu Bakar r.a. ia berkata: "Tidak boleh

tidak, engkau harus ikut. Insyaa Allah kita akan segera kembali!" Abu Bakar r.a tidak dapat

mengelak dan menuruti ajakan Umar r.a.

Abu Bakar r.a. & Umar r.a. ke Saqifah

Sambil berjalan Umar Ibnul Khattab r.a. menceritakan semua yang didengar tentang pertemuan

yang sedang berlangsung di Saqifah Bani Sa'idah. Abu Bakar r.a. merasa cemas dengan

terjadinya perkembangan mendadak, di saat orang sedang sibuk mempersiapkan pemakaman

jenazah Rasul Allah s.a.w. Dua orang itu kemudian mengambil keputusan untuk bersama-sama

berangkat menuju Saqifah Bani Sa'idah.

Setibanya di Naqifah, mereka lihat tempat itu penuh sesak dengan orang-orang Anshar. Di

tengah-tengah mereka terlentang tokoh terkemuka mereka, Sa'ad bin 'Ubadah, yang sedang

sakit. Setelah mengucapkan salam dan masuk ke dalam Saqifah, Umar r.a.

yang terkenal bertabiat keras itu ingin cepat-cepat berbicara. Abu Bakar r.a. yang sudah

mengenal tabiat Umar r.a, segera mencegah: "Boleh kau bicara panjang lebar nanti. Dengarkan

dulu apa yang akan kukatakan. Sesudah aku, bicaralah sesukamu, ujar Abu Bakar r.a. Umar r.a.

diam, tak jadi bicara.

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan penampilannya yang tenang dan berwibawa mulai berbicara.

Setelah mengucapkan salam, syahadat dan shalawat, dengan semangat keakraban ia berkata

dengan tegas dan lemah lembut.

"...Allah Maha Terpuji telah mengutus Muhammad membawakan hidayat dan agama yang

benar. Beliau berseru kepada ummat manusia supaya memeluk agama Islam. Kemudian Allah

membukakan hati dan fikiran kita untuk menyambut baik dan menerima seruan beliau. Kita

semua, kaum Muhajirin dan Anshar, adalah orang-orang yang pertama memeluk agama Islam.

Barulah kemudian orang-orang lain mengikuti jejak kita.

"Kami orang-orang Qureiys adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Kami adalah orang-orang Arab dari

keturunan yang tidak berat sebelah.

"Kalian (kaum Anshar) adalah para pembela kebenaran Allah. Kalian sekutu kami dalam agama

dan selalu bersama kami dalam berbuat kebajikan. Kalian merupakan orang-orang yang paling kami cintai dan kami hormati. Kalian merupakan orang-orang yang paling rela menerima takdir

Allah, dan bersedia menerima apa yang telah dilimpahkan kepada saudara-saudara kalian kaum

Muhajirin. Juga kalian adalah orang-orang yang paling sanggup membuang rasa iri-hati terhadap

mereka. Kalian orang-orang yang sangat berkesan di hati mereka, terutama di kala mereka

dalam keadaan menderita. Kalian juga merupakan orang-orang yang berhak menjaga agar Islam

tidak sampai mengalami kerusakan."

Demikian Abu Bakar r.a. menurut catatan Ibnu Abil Hadid, yang diketengahkannya dalam buku

Syarh Nahjil Balaghah, jilid VI, halaman 5 - 12.

Orang-orang Anshar kemudian menyambut: "Demi Allah kami sama sekali tidak merasa iri hati

terhadap kebajikan yang di limpahkan Allah kepada kalian (kaum Muhajirin). Tidak ada orang

yang lebih kami cintai dan kami sukai selain kalian. Jika kalian sekarang hendak mengangkat

seorang pemimpin dari kalangan kalian sendiri, kami rela dan akan kami bai'at. Tetapi dengan

syarat, apa bila ia sudah tiada lagi --karena meninggal dunia atau lainnya-- tiba giliran kami

untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan kami, kaum Anshar. Bila ia

sudah tiada lagi, tibalah kembali giliran kalian untuk mengangkat seorang pemimpin dari kaum

Muhajirin. Demikianlah seterusnya selama ummat ini masih ada.

"Itu merupakan cara yang paling kena untuk memelihara keadilan di kalangan ummat

Muhammad. Dengan demikian setiap orang Anshar akan menjaga diri jangan sampai

menyeleweng sehingga akan ditangkap oleh orang Qureiys. Sebaliknya orang Qureiys pun akan

menjaga diri untuk tidak sampai menyeleweng agar jangan sampai ditangkap oleh orang

Anshar."

Mendengar pendapat orang Anshar itu, Abu Bakar r.a. tampil lagi berbicara: "Pada waktu Rasul

Allah s.a.w. datang membawa risalah, orang-orang Arab bersikeras untuk tidak meninggalkan

agama nenek-moyang mereka. Mereka membangkang dan memusuhi beliau. Kemudian Allah

mentakdirkan kaum Muhajirin menjadi orang-orang yang terdahulu membenarkan risalah dan

beriman kepada beliau. Mereka tolong-menolong dalam membantu Rasul Allah dan bersama

beliau dengan tabah menghadapi gangguan-gangguan hebat yang dilancarkan oleh kaumnya

sendiri.

"Mereka tetap tangguh menghadapi musuh yang tidak sedikit jumlahnya. Mereka adalah

manusia-manusia pertama di permukaan bumi ini yang bersembah sujud kepada Allah.

Merekapun orang-orang pertama yang beriman kepada Rasul Allah. Mereka adalah orang-orang

kepercayaan dan sanak famili beliau. Mereka lebih berhak memegang kepemimpinan

sepeninggal beliau. Dalam hal itu tidak akan ada orang yang menentang kecuali orang yang

dzalim."

"Sesudah kaum Muhajirin, tak ada orang yang mempunyai kelebihan dan kedinian memeluk

Islam selain kalian. Oleh karena itu patutlah kalau kami ini menjadi pemimpin-pemimpin dan

kalian menjadi pembantu-pembantu kami. Dalam musyawarah kami tidak akan

mengistimewakan orang lain kecuali kalian, dan kami tidak akan mengambil tindakan tanpa

kalian."

Mendengar penjelasan Abu Bakar r.a. tersebut, seorang Anshar bernama Hubab bin Al Mundzir

bersitegang-leher. Ia berseru kepada kaumnya: Hai Orang-orang Anshar! Pegang teguhlah apa

yang ada di tangan kalian. Mereka itu (kaum Muhajirin) bukan lain hanyalah orang-orang yang

berada di bawah perlindungan kalian. Orang-orang Anshar tidak akan bersedia menjalankan

sesuatu, selain perintah yang kalian keluarkan sendiri. Kalianlah yang melindungi dan membela

Rasul Allah s.a.w. Kepada kalian mereka berhijrah. Kalian adalah tuan rumah lslam dan Iman.

Demi Allah, Allah tidak disembah secara terang-terangan selain di tengah-tengah kalian dan di

negeri kalian. Shalat pun belum pernah diadakan secara berjama'ah selain di masjid-masjid

kalian. Iman pun tidak dikenal orang di negeri Arab selain melalui pedang-pedang kalian. Oleh karena itu peganglah teguh-teguh kepemimpinan kalian. Jika mereka menolak, biarlah dari kita

seorang pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin!"

Sekarang tibalah saatnya Umar Ibnul Khattab r.a. berbicara. Dengan nada keras tertahan-tahan

ia berkata: "Alangkah jauhnya fikiran itu. Dua bilah pedang tak mungkin berada dalam satu

sarung! Orang-orang Arab tak mungkin rela menerima pimpinan kalian. Sebab, Nabi mereka

bukan berasal dari kalian. Orang-orang Arab tidak akan menolak jika kepemimpinan diserahkan

kepada golongan Qureiys. Sebab, baik kenabian maupun kekuasaan berasal dari mereka.

"Itulah alasan kami," kata Umar r.a. selanjutnya, "yang sangat jelas bagi orang-orang yang tidak

sependapat dengan kami. Dan itu pulalah alasan yang sangat gamblang bagi orang-orang yang

menentang pendapat kami. Tidak akan ada orang yang menentang pendapat kami mengenai

kepemimpinan Muhammad dan ahli warisnya. Tidak akan ada orang yang dapat membantah

bahwa kami ini adalah orang-orang kepercayaan dan sanak famili beliau. Hanyalah orang-orang

yang hendak menghidupkan kebatilan sajalah yang mau berbuat dosa, atau mereka sajalah

orang-orang yang celaka!"

Hubab bin Al-Mundzir berdiri lagi seraya berteriak: "Hai orang-orang Anshar, jangan kalian

dengarkan perkataan orang itu dan rekan-rekannya! Mereka akan merampas hak kalian. Jika

mereka tetap menolak apa yang telah kalian katakan, keluarkanlah mereka itu dari negeri

kalian, dan peganglah sendiri kepemimpinan atas kaum muslimin. Kalian adalah orang-orang

yang paling tepat untuk urusan itu. Hanya pedang kalian sajalah yang sanggup menyelesaikan

persoalan ini dan dapat menundukkan orang-orang yang tak mau tunduk. Biasanya pendapatku

sering berhasil menyelesaikan persoalan rumit seperti ini. Aku mempunyai cukup pengalaman

dan pengetahuan tentang asal mula terjadinya persoalan seperti ini. Demi Allah, jika masih ada

orang yang membantah apa yang kukatakan, akan kuhancurkan batang hidungnya dengan

pedang ini!" Hubab berkata demikian, sambil menghunus pedang dari sarungnya.

Abu Bakar r.a. di Bai'at

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya mengemukakan lebih lanjut tentang peristiwa debat di Saqifah

Bani Sa'idah itu sebagai berikut:

"Pada waktu Basyir bin Sa'ad Al-Khazrajiy melihat orang Anshar hendak bersepakat mengangkat

Sa'ad bin 'Ubadah sebagai Amirul Mukminin, ia segera berdiri. Basyir sendiri adalah orang dari

qabilah Khazraj. Ia merasa tidak setuju jika Sa'ad bin Ubadah terpilih sebagai Khalifah.

Berkatalah Basyir: "Hai orang-orang Anshar! Walaupun kita ini termasuk orang-orang yang dini

memeluk agama Islam, tetapi perjuangan menegakkan agama tidak bertujuan selain untuk

memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh membuat orang banyak berteletele,

dan kita tidak ingin keridhoan Allah dan Rasul-Nya diganti dengan urusan duniawi.

Muhammad Rasul Allah s.a.w. adalah orang dari Qureiys dan kaumnya tentu lebih berhak

mewarisi kepemimpinannya. Demi Allah, Allah s.w.t. tidak memperlihatkan alasan kepadaku

untuk menentang mereka memegang kepemimpinan ummat. Bertaqwalah kalian kepada Allah.

Janganlah kalian menentang atau membelakangkan mereka!"

Mendengar suara orang Anshar memberi dukungan kepada kaum Muhajirin, Abu Bakar r.a.

berkata lagi: "Inilah Umar dan Abu Ubaidah! Bai'atlah salah seorang, mana yang kalian sukai!"

Tetapi dua orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar r.a. menyahut dengan tegas: "Demi Allah, kami

berdua tidak bersedia memegang kepemimpinan mendahuluimu. Engkaulah orang yang paling

afdhal di kalangan kaum Muhajirin. Engkaulah yang mendampingi Rasul Allah di dalam gua, dan

engkau jugalah yang mewakili beliau mengimami shalat-shalat jama'ah selama beliau sakit.

Shalat adalah sendi agama yang paling utama. Ulurkanlah tanganmu, engkau kubai'at."

Tanpa berbicara lagi, Abu Bakar r.a. segera mengulurkan tangan dan kedua orang itu -- yakni

Umar r.a. dan Abu Ubaidah-- segera menyambut tangan Abu Bakar r.a. sebagai tanda membai'at. Kemudian menyusul Basyir bin Sa'ad mengikuti jejak Umar r.a. dan Aba Ubaidah.

Pada saat itu Hubab bin Al-Mundzir berkata kepada Basyir: "Hai Basyir, engkau memecah belah!

Engkau berbuat seperti itu hanya didorong oleh rasa iri hati terhadap anak pamanmu," yakni

Sa'ad bin 'Ubadah.

Begitu melihat ada seorang pemimpin qabilah Khazraj membai'at Abu Bakar r.a., seorang

terkemuka dari qabilah Aus, bernama Usaid bin Udhair, segera pula berdiri dan turut

menyatakan bai'atnya kepada Abu Bakar r.a. Dengan langkah Usaid ini, maka semua orang dari

qabilah Aus akhirnya menyatakan bai'atnya masing-masing kepada Abu Bakar r.a. dan Sa'ad bin

Ubadah terbaring tak mereka hiraukan.

Sampai hari-hari selanjutnya, Sa'ad bin 'Ubadah tetap tidak mau menyatakan bai'at kepada Abu

Bakar r.a. Hal itu sangat menimbulkan kemarahan Umar Ibnul Khattab r.a. Umar r.a. berusaha

hendak menekan Sa'ad, tetapi banyak orang mencegahnya. Mereka memperingatkan Umar r.a.

bahwa usahanya akan sia-sia belaka. Bagaimana pun juga Sa'ad tidak akan mau menyatakan

bai'atnya. Walau sampai mati dibunuh sekalipun. Ia seorang yang mempunyai pendirian keras

dan bersikap teguh. Kata mereka kepada Umar r.a.: "Kalau sampai Sa'ad mati terbunuh,

anggota-anggota keluarganya tidak akan tinggal diam sebelum semuanya mati terbunuh atau

gugur. Dan kalau sampai mereka mati terbunuh, maka semua orang Khazraj tidak akan

berpangku tangan sebelum mereka semua mati terbunuh. Dan kalau sampai orang Khazraj

diperangi, maka semua orang Aus akan bangkit ikut berperang bersama-sama orang Khazraj."

Pendapat Imam Ali r.a.

Ketika berlangsung proses pembai'atan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sebagai Khalifah untuk

meneruskan kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. atas ummat Islam, Imam Ali r.a. tidak ikut

terlibat di dalamnya. Ia masih sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w.

Hampir tidak ada ungkapan sejarah yang mengemukakan bagaimana sikap Imam Ali r.a. pada

waktu mendengar berita tentang terbai'atnya Abu Bakar r.a. secara mendadak sebagai

Khalifah. Tetapi isteri Imam Ali r.a., puteri Rasul Allah s.a.w. yang selalu bersikap terus terang,

sukar menerima kenyataan terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah. Sitti Fatimah Azzahra

r.a. berpendirian, bahwa yang patut memikul tugas sebagai Khalifah dan penerus

kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. hanyalah suaminya.

Pendirian Sitti Fatimah r.a. didasarkan pada kenyataan bahwa Imam Ali r.a. adalah satu-satunya

kerabat terdekat beliau. Bahwa seorang anggota ahlul-bait Rasul Allah s.a.w. lebih

berhak ketimbang orang lain untuk menduduki jabatan Khalifah. Selain itu Imam Ali r.a. juga

sangat dekat hubungannya dengan Rasul Allah s.a.w., baik dilihat dari sudut hubungan

kekeluargaan maupun dari sudut prestasi besar yang telah diperbuat dalam perjuangan

menegakkan agama Allah. Demikian pula ilmu pengetahuannya yang sangat kaya berkat ajaran

dan pendidikan yang diberikan langsung oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Itu merupakan

syarat-syarat terpenting bagi seseorang untuk dapat di bai'at sebagai penerus kepemimpinan

Rasul Allah s.a.w. atas ummatnya.

Dengan gigih Sitti Fatimah r.a. memperjuangkan keyakinan dan pendiriannya itu. Pada suatu

malam dengan menunggang unta ia mendatangi sejumlah kaum Anshar yang telah membai'at

Abu Bakar r.a. guna menuntut hak suaminya. Kaum Anshar yang didatanginya itu menanggapi

tuntutan Sitti Fatimah r.a. dengan mengatakan: "Wahai puteri Rasul Allah s.a.w., pembai'atan

Abu Bakar sudah terjadi. Kami telah memberikan suara kepadanya. Kalau saja ia (Imam Ali r.a.)

datang kepada kami sebelum terjadi pembai'atan itu, pasti kami tidak akan memilih orang

lain."

Imam Ali r.a: sendiri dalam menanggapi pembai'atan Abu Bakar r.a. hanya mengatakan:

"Patutkah aku meninggalkan Rasul Allah s.a.w. sebelum jenazah beliau selesai dimakamkan…, hanya untuk mendapat kekuasaan?"

Pembicaraan dan perdebatan mengenai masalah kekhilafan banyak dilakukan orang, termasuk

antara Imam Ali r.a. dan orang-orang Bani Hasyim di satu fihak, dengan Abu Bakar r.a. dan

Umar r.a. di lain fihak. Semuanya itu tidak mengubah keadaan yang sudah terjadi. Sebagai

akibatnya hubungan antara Sitti Fatimah r.a. dan Abu Bakar r.a. tidak lagi pernah berlangsung

secara baik.

Sebagai orang yang merasa dirinya mustahak memangku jabatan khalifah, Imam Ali r.a. tidak

meyakini tepatnya pembai'atan yang diberikan oleh kaum Muhajirin dan Anshar kepada Abu

Bakar r.a. Selama 6 bulan ia mengasingkan diri dan menekuni ilmu-ilmu agama yang

diterimanya dari Rasul Allah s.a.w.

Dalam masa 6 bulan ini muncullah berbagai macam peristiwa berbahaya yang mengancam

kelestarian dan kesentosaan ummat.

Demi untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya

perpecahan, akhirnya Imam Ali r.a. secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerjasama

dengan khalifah Abu Bakar r.a. Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang

menjadi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Sikap Imam Ali r.a. yang seperti itu tercermin

dengan jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain:

"Aku tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang meninggalkan

Islam dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama

Muhammad s.a.w. Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pemeluknya, akan kusaksikan

terjadinya perpecahan dan kehancuran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar

dibanding dengan hilangnya kekuasaan. Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain

hanyalah suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah

ada pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti lenyapnya

awan. Oleh karena itu, aku bangkit menghadagi kejadian itu, sampai semua kebatilan tersingkir

musnah, dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…"

Sejak saat itu suara Imam Ali r.a. berkumandang kembali di tengah-tengah kaum muslimin,

terutama pada saat-saat ia dimintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar r.a.

Kesempatan-kesempatan semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi pengarahan

kepada kehidupan Islam dan kaum muslimin, agar jangan sampai menyimpang dari ketentuanketentuan

Allah dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri'iyyah), eksekutif (tanfidziyyah),

maupun judikatif (qadha'iyyah).

Dialog Abu Bakar r.a. dengan Abbas r.a.

Dalam buku Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-100. Ibnu Abil Hadid mengetengahkan

suatu keterangan tentang situasi pada saat terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah.

Keterangan itu dikutipnya dari penuturan Al-Barra' bin Azib, seorang yang sangat besar

simpatinya kepada Bani Hasyim.

"Aku adalah orang yang tetap mencintai Bani Hasyim," kata Al-Barra' bin Azib. "Pada waktu

Rasul Allah s.a.w. mangkat, aku sangat khawatir kalau-kalau orang Qureiys sudah punya

rencana hendak menjauhkan orang-orang Bani Hasyim dari masalah itu, yakni masalah

kekhalifahan. Aku bingung sekali, seperti bingungnya seorang ibu yang kehilangan anak kecil.

Padahal waktu itu aku masih sedih disebabkan oleh wafatnya Rasul Allah s.a.w. Aku ragu-ragu

menemui orang-orang Bani Hasyim, yang ketika itu sedang berkumpul di kamar Rasul Allah

s.a.w. Wajah mereka kuamat-amati dengan penuh perhatian. Demikian juga air muka orangorang

Qureiys."

"Demikian itulah keadaanku ketika aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak berada di tempat itu.

Sementara itu ada orang mengatakan bahwa sejumlah orang sedang berkumpul di Saqifah Bani

Sa'idah. Orang lain lagi mengatakan bahwa Abu Bakar telah dibai'at sebagai Khalifah."

"Tak lama kemudian kulihat Abu Bakar bersama-sama Umar Ibnul Khattab, Abu Ubaidah bin Al-

Jarrah dan sejumlah orang lainnya. Mereka itu tampaknya habis menghadiri pertemuan yang

baru saja diadakan di Saqifah Bani Sa'idah. Kulihat juga hampir semua orang yang berpapasan

dengan mereka ditarik; dihadapkan dan dipegangkan tangannya kepada tangan Abu Bakar

sebagai tanda pernyataan bai'at. Saat itu hatiku benar-benar terasa berat.

"Kemudian malam harinya kulihat Al-Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit, Abul

Haitsam bin At Taihan, Hudzaifah dan 'Ammar bin Yasir. Mereka ini ingin supaya diadakan

musyawarah kembali di kalangan kaum Muhajirin. Berita tentang hal ini kemudian didengar

oleh Abu Bakar dan Umar."

"Berangkatlah Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan Al-Mughirah untuk menjumpai Abbas bin

Abdul Mutthalib di rumahnya, Setelah mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah s.w.t., Abu

Bakar berkata kepada Abbas:"Allah telah berkenan mengutus Muhammad s.a.w. sebagai Nabi

kepada kalian. Allah pun telah mengaruniakan rahmat-Nya kepada ummat dengan adanya Rasul

Allah di tengah-tengah mereka, sampai Dia menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-

Nya."

"Rasul Allah s.a.w. meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan sendiri siapa yang

akan diangkat sebagai waliy (pemimpin) mereka. Kemudian kaum muslimin memilih diriku

untuk melaksanakan tugas memelihara dan menjaga kepentingan-kepentingan mereka. Pilihan

mereka itu kuterima dan aku akan bertindak sebagai waliy mereka. Dengan pertolongan Allah

dan bimbingan-Nya, aku tidak akan merasa khawatir, lemah, bingung ataupun takut. Bagiku tak

ada taufiq dan pertolongan selain dari Allah. Hanya kepada Allah sajalah aku bertawakkal,

kepada-Nya jualah aku akan kembali."

"Tetapi, belum lama berselang aku mendengar ada orang yang menentang dan mengucapkan

kata-kata yang berlainan dari yang telah dinyatakan oleh kaum muslimin pada umumnya. Orang

itu hendak menjadikan kalian sebagai tempat berlindung dan benteng. Sekarang terserahlah

kepada kalian, apakah kalian hendak mengambil sikap seperti yang telah diambil oleh orang

banyak, ataukah hendak mengubah sikap mereka dari apa yang sudah menjadi kehendak

mereka."

"Kami datang kepada anda, karena kami ingin agar kalian ambil bagian dalam masalah itu. Kami

tahu bahwa anda adalah paman Rasul Allah s.a.w. Demikian juga semua kaum muslimin

mengetahui kedudukan anda dan keluarga anda di sisi Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu

mereka pasti bersedia meluruskan persoalan bersama-sama anda. Terserahlah kalian, orangorang

Bani Hasyim, sebab Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga."

Menurut Al-Barra', sampai di situ Umar Ibnul Khattab menukas perkataan Abu Bakar r.a. dengan

cara-caranya sendiri yang keras. Kemudian Umar r.a berkata kepada Abbas: "Kami datang

bukan kerena butuh kepada kalian, tetapi kami tidak suka ada orang-orang muslimin dari kalian

yang turut menentang. Sebab dengan cara demikian kalian akan lebih banyak menumpuk kayu

bakar di atas pundak kaum muslimin. Lihatlah nanti apa yang akan kalian saksikan bersamasama

kaum muslimin."

Menanggapi ucapan Abu Bakar r.a. serta Umar r.a. tadi, menurut catatan Al-Barra', waktu itu

Abbas menjawab:

"…Sebagaimana anda katakan tadi, benarlah bahwa Allah telah mengutus Muhammad s.a.w.

sebagai Nabi dan sebagai pemimpin kaum msulimin. Dengan itu Allah telah melimpahkan

karunia kepada ummat Muhammad sampai Allah menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-Nya. Rasul Allah s.a.w. telah meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan

sendiri urusan mereka dan memilih sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin

mereka.Mereka tetap berada di dalam kebenaran dan telah menjauhkan diri dari bujukan hawa

nafsu.

"Jika atas nama Rasul Allah s.a.w. anda minta kepadaku supaya aku turut ambil bagian,

sebenarnya hak kami sudah anda ambil lebih dulu. Tetapi jika anda mengatas-namakan kaum

muslimin, kami ini pun sebenarnya adalah bagian dari mereka."

"Dalam persoalan kalian itu, kami tidak mengemukakan hal yang berlebih-lebihan. Kami tidak

mencari pemecahan melalui jalan tengah dan tidak pula hendak menambah ruwetnya

persoalan. Jika sekiranya persoalan itu sudah menjadi kewajiban anda terhadap kaum

muslimin, kewajiban itu tidak ada artinya jika kami tidak menyukainya."

"Alangkah jauhnya apa yang telah anda katakan tadi, bahwa di antara kaum muslimin ada yang

menentang, di samping ada lain-lainnya lagi yang condong kepada anda. Apa yang anda katakan

kepada kami, kalau hal itu memang benar sudah menjadi hak anda kemudian hak itu hendak

anda berikan kepada kami, sebaiknya hal itu janganlah anda lakukan. Tetapi jika memang

menjadi hak kaum muslimin, anda tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan sendiri.

Namun jika hal itu menjadi hak kami,

kami tidak rela menyerahkan sebagian pun kepada anda. Apa yang kami katakan itu sama sekali

bukan berarti bahwa kami ingin menyingkirkan anda dari urusan kekhalifahan yang sudah anda

terima. Kami katakan hal itu semata-mata karena tiap hujjah memerlukan penjelasan."

"Adapun ucapan anda yang mengatakan 'Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga', maka beliau

sesungguhnya berasal dari sebuah pohon dan kami adalah cabang-cabangnya, sedangkan kalian

adalah tetangga-tetangganya."

"Mengenai yang anda katakan, hai Umar, tampaknya anda khawatir terhadap apa yang akan

diperbuat oleh orang banyak terhadap kami. Sebenarnya itulah yang sejak semula hendak

kalian katakan kepada kami. Tetapi hanya kepada Allah sajalah kami mohon pertolongan."

Kekhalifahan Abu Bakar r.a.

Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. kurang lebih hanya dua tahun. Dalam waktu yang

singkat itu terjadi beberapa kali krisis yang mengancam kehidupan Islam dan

perkembangannya. Perpecahan dari dalam, maupun rongrongan dari luar cukup gawat. Di

utara, pasukan Byzantium (Romawi Timur) yang menguasai wilayah Syam melancarkan berbagai

macam provokasi yang serius, guna menghancurkan kaum muslimin Arab, yang baru saja

kehilangan pemimpin agungnya.

Dekat menjelang wafatnya, Rasul Allah s.a.w. merencanakan sebuah pasukan ekspedisi untuk

melawan bahaya dari utara itu, dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Tetapi

belum sempat pasukan itu berangkat ke medan juang, Rasul Allah wafat.

Setelah Abu Bakar r.a. menjadi Khalifah dan pemimpin ummat, amanat Rasul Allah dilanjutkan.

Pada mulanya banyak orang yang meributkan dan meragukan kemampuan Usamah, dan

pengangkatannya sebagai Panglima pasukan dipandang kurang tepat. Usamah dianggap masih

ingusan. Lebih-lebih karena pasukan Byzantium jauh lebih besar, lebih kuat persenjataannya

dan lebih banyak pengalaman. Apa lagi pasukan Romawi itu baru saja mengalahkan pasukan

Persia dan berhasil menduduki Yerusalem. Di kota suci ini, pasukan Romawi berhasil pula

merebut kembali "salib agung" kebanggaan kaum Nasrani, yang semulanya sudah jatuh ke

tangan orang-orang Persia.

Dengan dukungan sahabat-sahabat utamanya, Khalifah Abu Bakar r.a. berpegang teguh pada

amanat Rasul Allah s.a.w. Dalam usaha meyakinkan orang-orang tentang benar dan tepatnya kebijaksanaan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. memainkan peranan yang tidak kecil. Akhirnya

Usamah bin Zaid tetap diserahi pucuk pimpinan atas sebuah pasukan yang bertugas ke utara.

Pengangkatan Usamah sebagai Panglima ternyata tepat. Usamah berhasil dalam ekspedisinya

dan kembali ke Madinah membawa kemenangan gemilang.

Bahaya desintegrasi atau perpecahan dalam tubuh kaum muslimin mengancam pula

keselamatan ummat. Muncul oknum-oknum yang mengaku dirinya sebagai "nabi-nabi". Muncul

pula kaum munafik menelanjangi diri masing-masing. Beberapa Qabilah membelot secara

terang-terangan menolak wajib zakat. Selain itu ada qabilah-qabilah yang dengan serta merta

berbalik haluan meninggalkan Islam dan kembali ke agama jahiliyah. Pada waktu Rasul Allah

masih segar bubar, mereka itu ikut menjadi "muslimin". Setelah beliau wafat, mereka

memperlihatkan belangnya masing-masing. Seolah-olah kepergian beliau untuk selama-lamanya

itu dianggap sebagai pertanda berakhirnya Islam.

Demikian pula kaum Yahudi. Mereka mencoba hendak menggunakan situasi krisis sebagai

peluang untuk membangun kekuatan perlawanan balas dendam terhadap kaum muslimin.

Tidak kalah berbahayanya ialah gerak-gerik bekas tokoh-tokoh Qureiys, yang kehilangan

kedudukan setelah jatuhnya Makkah ke tangan kaum muslimin. Mereka itu giat berusaha

merebut kembali kedudukan sosial dan ekonomi yang telah lepas dari tangan. Tentang mereka

ini Khalifah Abu Bakar r.a. sendiri pernah berkata kepada para sahabat: "Hati-hatilah kalian

terhadap sekelompok orang dari kalangan 'sahabat' yang perutnya sudah mengembang, matanya

mengincar-incar dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri.

Awaslah kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah kalian sampai

seperti dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian tetap

takut kepada Allah…"

Berkat kepemimpinan Abu Bakar r.a., serta berkat bantuan para sahabat Rasul Allah s.a.w.,

seperti Umar Ibnul Khattab r.a., Imam Ali r.a., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain, krisis-krisis

tersebut di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. Watak Abu Bakar r.a. yang demokratis,dan

kearifannya yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, seperti

Imam Ali r.a., merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru saja

kehilangan Pemimpin Agung, Nabi Muhammad s.a.w.

Dengan masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar r.a. berhasil mengkonsolidasi persatuan

ummat, menciptakan stabilitas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin

keamanan dan ketertiban di seluruh jazirah Arab.

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memang seorang tokoh yang lemah jasmaninya, akan tetapi ramah

dan lembut perangainya, lapang dada dan sabar.Sesungguhpun demikian, jika sudah

menghadapi masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak

segan-segan mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu.

Konon ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-tiba.

Menurut buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al 'Aqqad", sebenarnya

Abu Bakar r.a. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu setelah

hijrah ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak sembuh,

tetapi tiba-tiba kambuh kembali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar r.a. wafat pada

usia 63 tahun.


Bab VII : KHALIFAH UMAR IBNUL KHATTAB R.A.

Di samping ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, Umar Ibnul Khattab r.a. terkenal sebagai

orang yang bertabiat keras, tegas, terus terang dan jujur. Sama halnya seperti Abu Bakar Ash

Shiddiq r.a., sejak memeluk Islam ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan Islam

dan muslimin. Baginya tak ada kepentingan yang lebih tinggi dan harus dilaksanakan selain

perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan fisik dan mentalnya, ketegasan sikap dan keadilannya, ditambah lagi dengan

keberaniannya bertindak, membuatnya menjadi seorang tokoh dan pemimpin yang sangat

dihormati dan disegani, baik oleh lawan maupun kawan. Sesuai dengan tauladan yang diberikan

Rasul Allah s.a.w., ia hidup sederhana dan sangat besar perhatiannya kepada kaum sengsara,

terutama mereka yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain.

Bila Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menjadi Khalifah melalui pemilihan kaum muslimin, maka Umar

Ibnul Khattab r.a. dibai'at sebagai Khalifah berdasarkan pencalonan yang diajukan oleh Abu

Bakar r.a. beberapa saat sebelum wafat. Masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab r.a.

berlangsung selama kurang lebih 10 tahun.

Sukses dan Tantangan

Di bawah pemerintahannya wilayah kaum muslimin bertambah luas dengan kecepatan luar

biasa. Seluruh Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Sedangkan daerah-daerah kekuasaan

Byzantium, seluruh daerah Syam dan Mesir, satu persatu bernaung di bawah bendera tauhid.

Penduduk di daerah-daerah luar Semenanjung Arabia berbondong-bondong memeluk agama

Islam. Dengan demikian lslam bukan lagi hanya dipeluk bangsa Arab saja, tetapi sudah rnenjadi

agama berbagai bangsa.

Sukses gilang-gemilang yang tercapai tak dapat dipisahkan dari peranan Khalifah Umar Ibnul

Khattab r.a. sebagai pemimpin. Ia banyak mengambil prakarsa dalam mengatur administrasi

pemerintahan sesuai dengan tuntutan keadaan yang sudah berkembang. Demikian pula di

bidang hukum. Dengan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip ajaran Islam, dan dengan

memanfaatkan ilmu-ilmu yang dimiliki para sahabat Nabi Muhammad s.a.w., khususnya Imam

Ali r.a., sebagai Khalifah ia berhasil menfatwakan bermacam-macam jenis hukum pidana dan

perdata, disamping hukum-hukum yang bersangkutan dengan pelaksanaan peribadatan.

Tetapi bersamaan dengan datangnya berbagai sukses, sekarang kaum rnuslimin sendiri mulai

dihadapkan kepada kehidupan baru yang penuh dengan tantangan-tantangan. Dengan adanya

wilayah Islam yang bertambah luas, dengan banyaknya daerah-daerah subur yang kini menjadi

daerah kaum muslimin, serta dengan kekayaan yang ditinggalkan oleh bekas-bekas penguasa

lama (Byzantium dan Persia), kaum muslimin Arab mulai berkenalan dengan kenikmatan hidup

keduniawian.

Hanya mata orang yang teguh iman sajalah yang tidak silau melihat istana-istana indah, kotakota

gemerlapan, ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan.

Kaum muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam yang

hendak mencoba menghancurkan mereka, tetapi kali ini tantangan yang harus dihadapi jauh

lebih berat, yaitu tantangan nafsu syaitan, yang tiap saat menggelitik dari kiri-kanan, mukabelakang.

Tantangan berat itulah yang mau tidak mau harus ditanggulangi oleh Khalifah Umar Ibnul

Khattab r.a. Berkat ketegasan sikap, kejujuran dan keadilannya, dan dengan dukungan para

sahabat Rasul Allah s.a.w. yang tetap patuh pada tauladan beliau, Khalifah Umar r.a. berhasil

menekan dan membatasi sekecil-kecilnya penyelewengan yang dilakukan oleh sementara tokoh

kaum muslimin. Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan tegas dan

keras, cepat pula diambil terhadap oknum-oknum yang bertindak tidak jujur terhadap

kekayaan negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yang kuat dari semua kaum muslimin

yang jujur, sedangkan oknum-oknum yang berusaha keras memperkaya diri sendiri, keluarga

dan golongannya, pasti melawan dan memusuhinya.

Selama berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., musuh-musuh kaum

muslimin memang tidak dapat berkutik. Namun bahaya latent yang berupa rayuan kesenangan

hidup duniawi, tetap tumbuh dari sela-sela ketatnya pengawasan Khalifah.

Dalam menghadapi tantangan yang sangat berat itu, Khalifah Umar r.a. tidak sedikit menerima

bantuan dari Imam Ali r.a. Dalam masa yang penuh dengan tantangan mental dan spiritual itu,

Imam Ali r.a. menunjukkan perhatiannya yang dalam.

Dengan segenap kemampuan dan kekuatannya, Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. bersama para

sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w., berusaha keras mengendalikan situasi yang hampir

meluncur ke arah negatif.

Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk mengetahui kehidupan rakyat,

terutama mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri, ia memikul gandum yang

hendak diberikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang ditangisi oleh anakanaknya

yang kelaparan.

Jika Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru, anggota-anggota keluarganya justru yang

dikumpulkannya lebih dulu. Ia minta supaya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam

melaksanakan peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yang melakukan pelanggaran,

maka hukuman yang dijatuhkan kepada mereka pasti lebih berat daripada kalau pelanggaran

itu dilakukan oleh orang lain.

Dengan kekhalifahannya. itu, Umar Ibnul Khattab r.a. telah menanamkan kesan yang sangat

mendalam di kalangan kaum muslimin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang patut

dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yang tak

ada bedanya dengan cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat, sehingga rakyat

hanya makan roti kering, ia menolak diberi samin oleh seorang yang tidak tega melihatnya

makan roti tanpa disertai apa-apa. Ketika itu ia mengatakan: "Kalau rakyat hanya bisa makan

roti kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu

juga."

Memanggil calon pengganti

Kepemimpinan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. atas ummat Islam benar-benar memberikan

ciri khusus kepada pertumbuhan Islam. Sumbangan yang diberikan bagi kemantapan hidup

kenegaraan dan kemasyarakatan ummat, sungguh tidak kecil.

Umar Ibnul Khattab r.a. wafat, setelah menderita sakit parah akibat luka-luka tikaman senjata

tajam yang dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu'lu-ah. Dalam keadaan

kritis di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sempat meletakkan dasar prosedur

bagi pemilihan Khalifah penggantinya. Rasa tanggung jawabnya yang besar atas kesinambungan

kepemimpinan ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya, walaupun maut sudah berada di

ambang kehidupannya.

Dalam saat yang gawat itulah ia meminta pendapat para penasehatnya yang dalam catatan

sejarah terkenal dengan sebutan "Ahlu Syuro", tentang siapa yang layak menduduki atau

memegang pimpinan tertinggi ummat Islam.

Umar Ibnul Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yang memiliki jiwa kerakyatan.

Sehingga ketika di antara penasehatnya ada yang mengusulkan supaya Abdullah bin Umar,

putera sulungnya, ditetapkan sebagai Khalifah pengganti, dengan cepat Umar r.a menolak. Ia

mengatakan: "Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas itu.

Cukuplah sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung

resiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!" Demikian

kata Umar r.a. dengan suara berpacu mengejar tarikan nafas yang berat.

Sehabis mengucapkan kata-kata seperti di atas, Umar r.a. lalu mengungkapkan, bahwa sebelum

wafat, Rasul Allah s.a.w. telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Qureiys. Yaitu Ali bin Abi Thalib, 'Utsman bin Affan, Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair bin Al 'Awwam, Sa'ad bin Abi

Waqqash dan Abdurrahman bin 'Auf. "Aku berpendapat", kata Umar r.a. lebih jauh, "sebaiknya

kuserahkan kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan dipilih."

Kemudian seperti berkata kepada diri sendiri, ia berucap: "Jika aku menunjuk siapa orangnya

yang akan menggantikan aku, hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari

aku, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Kalau aku tidak menunjuk siapa pun, hal itu pun pernah

dilakukan oleh orang yang lebih afdhal daripada diriku, yakni Nabi Muhammad s.a.w."

Tanpa menunggu tanggapan orang yang ada disekitarnya, Khalifah Umar r.a. kemudian

memerintahkan supaya ke-enam orang (Ahlu Syuro) tersebut di atas segera dipanggil.

Kondisi fisik Khalifah Umar r.a. yang terbaring tak berdaya itu, tampak bertambah gawat pada

saat keenam orang yang dipanggil itu tiba. Ketika ia melihat ke-enam orang itu sudah penuh

harap menantikan apa yang bakal diamanatkan, dengan sisa-sisa

tenaganya Khalifah Umar r.a. berusaha memperlihatkan ketenangan. Tiba-tiba ia melontarkan

suatu pertanyaan yang sukar dijawab oleh enam orang sahabatnya. "Apakah kalian ingin

menggantikan aku setelah aku meninggal?"

Tentu saja pertanyaan yang dilontarkan secara tiba-tiba dan sukar dijawab itu sangat

mengejutkan semua yang hadir. Mula-mula mereka diam, tertegun. Dan ketika Khalifah Umar

r.a. menatap wajah mereka satu persatu, masing-masing menunduk tercekam berbagai

perasaan. Di satu fihak tentunya mereka itu sangat sedih melihat pemimpin mereka dalam

kondisi fisik yang begitu merosot. Tetapi di fihak lain, mereka bingung tidak tahu kemana arah

pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang yang arif dan bijaksana itu. Karena tak ada yang

menjawab, Khalifah Umar r.a. mengulangi lagi pertanyaannya.

Setelah itu barulah Zubair bin Al-'Awwam menanggapi. Ia menjawab: "Anda telah menduduki

jabatan itu dan telah melaksanakan kewajiban dengan baik. Dalam qabilah Qureiys sebenarnya

kami ini menempati kedudukan yang tidak lebih rendah dibanding dengan anda. Sedangkan dari

segi keislaman dan hubungan kekerabatan dengan Rasul Allah s.a.w., kami pun tidak berada di

bawah anda. Lalu, apa yang menghalangi kami untuk memikul tugas itu?"

Tampaknya kata-kata yang ketus itu dilontarkan Zubair karena menyadari bahwa tokoh yang

berbaring di hadapannya itu sudah dalam keadaan sangat gawat. Hal itu dapat kita ketahui dari

komentar sejarah yang dikemukakan oleh seorang penulis terkenal, Syeikh Abu Utsman Al

Jahidz. Ia mengatakan: "Jika Zubair tahu bahwa Khalifah Umar r.a. akan segera wafat di depan

matanya, pasti ia tidak akan melontarkan kata-kata seperti itu, dan bahkan tidak akan berani

mengucapkan sepatah kata pun."

Kata-kata Zubair bin Al 'Awwam itu tidak langsung ditanggapi oleh Khalifah Umar r.a. Seakanakan

kata-kata itu tak pernah didengarnya. Dengan tersendat-sendat Khalifah Umar r.a.

melanjutkan perkataannya: "Bisakah kuajukan kepada kalian penilaianku tentang diri kalian?"

Kembali Zubair menukas dengan nada sinis: "Katakan saja. Tokh kalau kami minta supaya kami

dibiarkan, anda akan tetap tidak membiarkan kami!"

Penilaian

Kata-kata Zubair ini tampaknya sangat menyakitkan telinga Khalifah Umar r.a. yang sabar itu.

Sambil memandang tajam ke arah Zubair, Umar r.a. berkata: "Tentang dirimu, Zubair…, kau itu

adalah orang yang lancang mulut, kasar dan tidak mempunyai pendirian tetap. Yang kausukai

hanyalah hal-hal yang menyenangkan dirimu sendiri, dan engkau membenci apa saja yang tidak

kausukai. Pada suatu ketika engkau benar-benar seorang manusia, tetapi pada ketika yang lain

engkau adalah syaitan! Bisa jadi kalau kekhalifahan kuserahkan kepadamu, pada suatu ketika

engkau akan menampar muka orang hanya gara-gara gandum segantang."

Khalifah Umar menghentikan perkataannya sebentar, seolaholah mengambil nafas untuk

mengumpulkan kekuatan dan mengendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: "Tahukah

engkau, jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yang akan melindungi orang-orang

pada saat engkau sedang menjadi syaitan? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang

kemarahan?"

Tanpa menunggu jawaban Zubair, Khalifah Umar r.a. menoleh kearah Thalhah bin Ubaidillah,

yang segera menundukkan kepala setelah melihat sorot mata pemimpin yang berwibawa itu.

Bukan rahasia lagi di kalangan kaum muslimin pada masa itu, bahwa sudah beberapa waktu

lamanya Khalifah Umar r.a. memendam rasa jengkel terhadap tokoh yang satu ini. Peristiwanya

bermula pada waktu Khalifah Abu Bakar r.a. masih hidup. Ketika itu Thalhah mengucapkan

suatu kata kepada Abu Bakar r.a yang sangat tidak mengenakkan perasaan Umar Ibnul Khattab

r.a

Setelah memandang Thalhah sejenak, Khalifah Umar r.a. bertanya: "Sebaiknya aku bicara atau

diam saja?"

"Bicaralah!" sahut Thalhah dengan nada acuh tak acuh. "Tokh anda tidak akan berkata baik

mengenai diriku!"

"Aku mengenalmu sejak jari-jarimu luka pada waktu perang Uhud," kata Khalifah Umar r.a.

kepada Thalhah. "Dan aku juga mengenal kecongkakan yang pernah muncul pada dirimu. Rasul

Allah wafat dalam keadaan beliau tidak senang kepadamu. Itu akibat kata-kata yang

kauucapkan ketika ayat Al-Hijab turun."

Menurut catatan yang dibuat oleh Syeikh Abu Utsman Al Jahidz, perkataan Thalhah yang

dimaksud ialah ucapan kepada salah seorang sahabat. Kata-kata Thalhah itu akhirnya sampai

juga ke telinga Rasul Allah s.a.w.: "Apa arti larangan itu baginya (yakni bagi Rasul Allah s.a.w.)

sekarang ini? Dia bakal mati. Lalu kita bakal menikahi permpuan-perempuan itu!"

Habis berbicara tentang pribadi Thalhah, Khalifah Umar r.a. melihat kepada Sa'ad bin Abi

Waqqash. Kepadanya Umar r.a. berkata: "Engkau seorang yang mempunyai banyak kuda

perang. Dengan kuda-kuda itu engkau telah berjuang dan berperang. Banyak sekali senjata

yang kau miliki, busur dan anak panahnya. Tetapi qabilah Zuhrah (asal Saad), kurang tepat

untuk memangku jabatan Khalifah dan memimpin urusan kaum muslimin."

Tibalah sekarang giliran Khalifah Umar r.a. menilai pribadi Abdurrahman bin 'Auf, yang rupanya

sudah siap mendengarkan penilaiannya. "Jika separoh kaum muslimin imannya ditimbang

dengan imanmu," kata Khalifah Umar r.a., "maka imanmulah yang lebih berat. Tetapi

kekhalifahan tidak tepat kalau dipegang oleh seorang yang lemah seperti engkau. Qabilah

Zuhrah (asal Abdurrahman bin 'Auf juga) kurang kena untuk urusan itu."

Abdurrahman tidak sepatah kata pun menanggapi penilaian Khalifah Umar r.a. atas dirinya. Ia

membiarkan Khalifah berbicara lebih lanjut mengenai diri Iman Ali r.a. "Ya Allah, alangkah

tepat dan baiknya kalau anda tidak suka bergurau!" kata Khalifah Umar r.a. dengan nada suara

yang agak meninggi. Kemudian dengan suara merendah dikatakan: "Seandainya anda nanti yang

akan memimpin ummat, anda pasti akan membawa mereka menuju kebenaran yang terang

benderang."

Imam Ali r.a. tampak terjengah dan tersipu-sipu mendengar ucapan orang yang sangat

dikaguminya. Juga ia tidak memberikan tanggapan terhadap penilaian yang positif atas dirinya.

Khalifah Umar r.a. akhirnya dengan serius menoleh kearah Utsman bin Affan r.a. Tangannya

sudah makin melemah dan tenaganya sudah sangat berkurang. Tetapi ia memaksakan diri untuk

menilai orang keenam yang ada di hadapannya itu. "Aku merasa seakan-akan orang Qureiys telah mempercayakan kekhalifahan kepada anda," kata Khalifah dengan suara lembut, "karena

besarnya rasa kecintaan mereka kepada anda."

Wajah Khalifah Umar r.a. mendadak kelihatan sendu, seolah-olah sedang menahan perasaan

getir yang menyelinap ke dalam kalbu. "Tetapi aku melihat nantinya anda akan mengangkat

orang-orang Bani Umayyah dan Bani Mu'aith di atas orangorang lain. Kepada mereka anda akan

menghamburkan harta ghanimah yang tidak sedikit." Suara Khalifah meninggi pula: "Akhirnya

akan ada segerombolan 'serigala' Arab datang menghampiri anda, lalu mereka akan membantai

anda di atas pembaringan."

Dengan nada peringatan yang sungguh-sungguh, Khalifah Umar r.a. mengakhiri kata-katanya:

"Demi Allah, jika anda sampai melakukan apa yang kubayangkan itu, gerombolan 'srigala' itu

pasti akan berbuat seperti yang kukatakan. Dan kalau yang demikian itu benar-benar terjadi,

ingatlah kepada kata-kataku ini! Semua itu akan terjadi"

Cara Pemilihan

Berbicara tentag wasyiat Khalifah Umar r.a. menjelang wafat nya, Syeikh Abu Utsman Al Jahidz

juga mengungkapkan keterangan Mu'ammar bin Sulaiman At Taimiy, yang diperol~h dari Ibnu

Abbas. Yang tersebut belakangan ini diketahui pernah mendengar apa yang pernah dikatakan

Umar Ibnul Khattab r.a. kepada para Ahlu Syuro menjelang wafatnya: "Jika kalian saling

membantu, saling percaya dan saling menasehati, maka kupercayakan kepemimpinan ummat

kepada kalian, bahkan sampai kepada anak cucu kalian. Tetapi kalau kalian saling dengki,

saling membenci , saling menyalahkan dan saling bertentangan, kepemimpinan itu akhirnya

akan jauth ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan!".

Perlu diketahui, bahwa ketika Khalifah Umar r.a. masih hidup, Muawiyah bin Abu Sufyan sudah

beberapa tahun lamanya menjabat sebagai kepala daerah Syam. Ia diangkat sebagai kepala

daerah oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Sejarah kemudian mencatat, bahwa yang diperkirakan

oleh Khalifah Umax r.a. menjelang akhir hayatnya menjadi kenyataan.

Klimaks dari penyampaian wasyiat oleh Khalifah Umar r.a. ialah memerintahkan supaya Abu

Thalhah A1 Anshariy datang menghadap. Waktu orang yang dipanggil itu sudah berada didekat

pembaringannya, berkatalah Khalifah Umar r.a. dengan tegas dan jelas, seolah-olah sedang

melepaskan sisa tenaganya yang terakhir:

"Abu Thalhah, camkan baik-baik! Kalau kalian sudah selesai memakamkan aku, panggillah 50

orang Anshar. Jangan lupa, supaya masing-masing membawa pedang. Lalu desaklah mereka (6

orang Ahlu Syuro) supaya segera menyelesaikan urusan mereka (untuk memilih siapa di antara

mereka itu yang akan ditetapkan sebagai Khalifah). Kumpulkan mereka itu dalam sebuah

rumah. Engkau bersama-sama teman-i;emanmu berjaga jaga di pintu. Biarkan mereka

bermusyawarah untuk memilih salah seorang di antara mereka.

"Jika yang Iima setuju dan ada satu yang menentang, penggallah leher orang yang menentang

itu! J'ika empat orang setuju dan ada dua yang menentang, penggallah leher dua orang itu! Jika

tiga orang setuju dan tiga orang lainnya menentang, tunggu dan lihat dulu kepada tiga orang

yang diantaranya termasuk Abdurrahman bin 'Auf. Kalian harus mendukung kesepakatan tiga

orang ini. Kalau yang tiga orang lainnya masih bersikeras menentang,penggal saja leher tiga

orang yang bersikeras itu!.

"Jika sampai tiga hari, enam orang itu belum juga mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan

urusan mereka, penggal saja leher enam orang itu semuanya. Biarlah kaum muslimin sendiri

memilih siapa yang mereka sukai untuk dijadikan pemimpin mereka !".

Dari sekelumit informasi sejarah tersebut di atas, kita mengetahui, betapa tingginya rasa

tanggung-jawab dan jiwa kerakyatan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Secara tertib dan terperinci, sampai detik-detik menjelang ajalnya, ia masih memikirkan caracara pengangkatan

seorang Khalifah yang akan mengantikannya. Sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka

tikaman sejata tajam, ia masih sempat berusaha menyinambungkan kepemimpinan ummat

Islam sebaik-baiknya.


Bab VIII : KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN R.A.

Setelah jenazah Umar Ibnul Khattab r.a. dimakamkan, Abu Thalhah Al Anshariy segera

mengumpulkan 6 orang Ahlu Syuro yang ditunjuk Umar r.a., di sebuah rumah. Sesuai dengan

wasiyat Khalifah Umar r.a. maka 50 orang Anshar lengkap dengan pedangnya rnasing-masing,

ditugaskan menjaga pintu-pintu rumah. Kepada 6 orang itu dipersilakan berunding untuk

memilih siapa di antara mereka yang akan ditetapkan sebagai Khalifah pengganti Umar Ibnul

Khattab r.a.

Pelaksanaan Pemilihan

Tentang pelaksanaan pemilihan Khalifah pengganti Umar r.a. terdapat beberapa riwayat.

Menurut Abu Utsman Al-Jahidz, pelaksanaannya sebagai berikut:

Keenam Ahlu Syuro itu mulai bermusyawarah dan berdebat. Thalhah bin Ubaidillah tampil

sebagai pembicara pertama. Ia langsung saja mengatakan mendukung Utsman bin Affan sebagai

calon Khalifah. Alasan yang diajukannya untuk bersikap demikian, karena ia yakin tidak akan

ada seorang pun yang akan mencalonkan dirinya (Thalhah) sebagai Khalifah, selama Imam Ali

r.a. dan Utsman bin Affan r.a. masih ada.

Kemudian tampil Zubair bin Al 'Awwam. Ia menentang pencalonan Utsman bin Affan r.a.,

seperti yang diajukan Thalhah. Ia memberikan dukungan kepada Imam Ali r.a. Orang

memperkirakan bahwa Zubair mencalonkan Imam Ali r.a. karena hubungan kekeluargaan.

Seperti diketahui Zubair adalah anak lelaki bibi Imam Ali Shafiyyah binti Abdul Mutthalib, dan

ayah Imam Ali r.a. sendiri adalah saudara ibu Zubair.

Setelah ini muncul usul ketiga, yang datangnya dari Sa'ad bin Abi Waqqash. Ia mengajukan

misanannya sendiri, anak pamannya, yaitu Abdurrahman bin 'Auf sebagai Khalifah. Usul Sa'ad ini

pun masih berbau fikiran kekerabatan. Kedua-duanya berasal dari qabilah Bani Zuhrah. Selain

itu Sa'ad sendiri pun sudah merasa kecil kemungkinannya untuk terpilih sebagai Khalifah.

Sekarang tinggal 3 orang yang belum mengajukan usul pencalonan. Abdurrahman kemudian

bertanya kepada Imam Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a.: "Siapa di antara kalian berdua yang

bersedia mengundurkan diri sebagai calon? Sebab, masalah pemilihan sekarang ini hanya

bergantung kepada kalian berdua."

Ternyata tak seorang pun di antara dua tokoh itu yang menanggapi pertanyaan Abdurahman bin

Auf. Setelah beberapa saat lamanya tidak ada jawaban dan semua mata tertuju kepada Imam

Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a. Abdurrahman bin Auf berkata lagi: "Sekarang aku menyatakan

menarik diri dari pencalonan." Seterusnya ditambahkan: "Dengan demikian aku dapat memilih

salah seorang di antara kalian berdua."

Pernyataan Abdurrahman ini pun tidak ditanggapi, baik oleh kedua orang calon, maupun orang

lainnya. Abdurrahman bin Auf kembali mengambil prakarsa untuk melancarkan jalannya

pemilihan. Kepada Imam Ali r.a. ia bertanya: "Bagaimana kalau aku membai'at anda untuk

bekerja berdasarkan Kitab Allah, Sunnah Rasul s.a.w. dan mengikuti jejak dua orang Khalifah

yang lalu?"

Menghadapi pertanyaan yang agak mendadak itu, dengan cepat Imam Ali r.a. menjawab:

"Tidak! Aku menerima (pembai'atan itu) jika didasarkan kepada Kitab Allah, Sunnah Rasul

s.a.w. dan ijtihadku sendiri."

Tanpa mengajukan pertanyaan lebih lanjut kepada Imam Ali r.a., Abdurrahman bin Auf mengajukan pertanyaan yang sama kepada Utsman bin Affan r.a. Dengan singkat dan tegas

Utsman bin Affan r.a. menjawab: "ya!"

Mendengar jawaban Utsman bin Affan r.a. itu, Abdurrahman masih tiga kali lagi mengajukan

pertanyaan yang sama kepada Imam Ali r.a. Imam Ali r.a. tetap pada jawaban semula. Akhirnya

Abdurrahman bin Auf mendekati Utsman bin Affan r.a. kemudian memegang tangannya. Ini

sebagai tanda pembai'atan yang diberikannya kepada Utsman bin Affan r.a. Prakarsa

Abdurrahman bin Auf ternyata berhasil menyelesaikan pembai'atan Khalifah baru, untuk

menggantikan Khalifah Tlmar r.a. yang telah wafat.

Di samping versi Abu Utsman Al Jahidz ini, ada pula versi lain tentang pemilihan Khalifah

Utsman r.a. Di dalam versi lain itu dikatakan, bahwa setelah beberapa hari melakukan

penjajagan, akhirnya pada suatu hari Abdurrahman bin Auf, meminta kepada kaum muslimin

supaya berkumpul di masjid Rasul Allah s.a.w. Dengan menggunakan sorban yang dahulu pernah

dipakai oleh Rasul Allah s.a.w., dan dengan berdiri di atas mimbar pada jenjang tempat Rasul

Allah s.a.w. dulu selalu berdiri, Abdurrahman bin Auf mengucapkan do'a dengan suara lirih.

Sebenarnya perbuatan Abdurrahman seperti di atas menimbulkan keheranan di kalangan

hadirin. Sebab, baik Khalifah Abu Bakar r.a. maupun Khalifah Umar r.a. sendiri, belum pernah

berbuat demikian.

Sambil memandang ke tempat Imam Ali r.a. duduk, Abdurrahman berseru dengan gaya penuh

wibawa: "Hai Ali, majulah engkau!"

Imam Ali r.a. segera memenuhi permintaan Abdurrahman bin Auf. Sebelum Imam Ali r.a.

mengetahui benar apa yang menjadi maksud sahabatnya itu, tiba-tiba Abdurrahman memegang

tangannya sambil mengucapkan kata-kata dengan suara keras. Isi kata-katanya sama dengan

apa yang telah dikemukakan oleh Abu Utsman Al-Jahidz di dalam bukunya. Begitu pula proses

seterusnya.

Hanya dalam versi ini ditambahkan, bahwa Abdurraman bin Auf menyambut kesanggupan

Utsman bin Affan r.a. yang sudah berusia lanjut itu dengan berkata : "Ya Allah, saksikanlah! Ya

Allah, saksikanlah!"

Imam Ali r.a., para sababat Rasul Allah s.a.w. lainnya, dan semua yang hadir dalam masjid itu

tanpa ragu-ragu menerima Usman bin Affan r.a. yang sudah berusia lanjut itu sebagai

pemimpin tertinggi mereka yang baru.

Pembai'atan seorang Khalifah melalui pemilihan salah satu di antara 6 orang Ahlu Syuro,

merupakan kejadian pertama dalam sejarah kekhalifahan ummat Islam. Khalifah Abu Bakar r.a.

dibai'at langsung oleh kaum muslimin. Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. ditetapkan berdasarkan

wasiyat Kahlifah Abu Bakar r.a.

Akan tetapi sejalan dengan pembai'atan Utsman bin Affan r.a. sebagai Khalifah, banyak sekali

orang bertanya-tanya tentang jawaban yang diberikan Imam Ali r.a. kepada Abdurrahman bin

Auf. Mengapa ia mengatakan "Tidak?"

Tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban pasti. Imam Ali r.a. sendiri tidak

pernah mengemukakan secara terbuka alasan apa yang melandasi jawabannya. Yang pasti,

Imam Ali r.a. tidak pernah menyesal karena ia gagal menjadi Khalifah disebabkan jawabannya

itu. Dengan ikhlas ia menerima Utsman bin Affan r.a. sebagai Amirul Mukminin.

Sementara itu ada yang menafsirkan, bahwa perkataan "Tidak!" itu bukan ditujukan kepada

pertanyaan Abdurrahman bin Auf yang berkaitan dengan keharusan berpegang kepada Kitab

Allah dan Sunnah Rasul Allah, melainkan tertuju kepada keharusan mengikuti jejak Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a.

Imam Ali r.a. tidak dapat membenarkan kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar r.a. dalam

mengambil keputusan tentang tanah Fadak. Yaitu tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w. yang

dicabut oleh Khalifah Abu Bakar r.a. sepeninggal beliau dan dijadikan hak milik kaum muslimin

(Baitul Mal). Demikian juga terhadap kebijaksanaan Khalifah Umar r.a. yang mengadakan

penggolongan-penggolongan dalam membagi-bagikan kekayaan Baitul Mal kepada kaum

muslimin.

Terbuka Kesempatan

Peristiwa yang berlangsung secara wajar menurut norma kaum muslimin pada masa itu,

ternyata ditanggapi secara lain oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah. Peristiwa terbai'atnya Utsman

bin Affan r.a. sebagai Khalifah, diartikan oleh mereka, sebagai awal kemenangan Bani Umayyah

atas orang-orang Bani Hasyim.

Padahal Rasul Allah s.a.w. sendiri tidak pernah memandang ummatnya dari kaum apa atau dari

keturunan mana. Semua kaum muslimin adalah saudara. Prinsip yang mulia itu nampaknya

tidak mudah direalisasi, karena adat istiadat dan tradisi kuat yang berabad-abad bercokol di

kalangan orang-orang Arab.

Waktu Utsman bin Affan r.a. terpilih sebagai Khalifah, penyakit sukuisme dan keqabilahan

muncul kembali dan malah dibesar-besarkan oleh orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a. dan

orang-orang dari Bani Hasyim lainnya, mereka nilai sebagai mengalami kekalahan dalam

persaingan melawan Utsman bin Affan r.a.; yang berasal dari Bani Umayyah.

Padahal Utsman bin Affan r.a. sendiri pada saat terbai'at sebagai Khalifah, sama sekali tidak

menyimpan fikiran seperti yang diteriakkan oleh kaum kerabatnya. Utsman bin Affan r.a.

seorang sahabat terdekat Rasul Allah s.a.w., bahkan sampai dua kali ia

menjadi menantu Nabi. Pertama kali ia nikah dengan Roqayah binti Muhammad Rasul Allah

s.a.w. Kemudian setelah Roqayah r.a. meninggal, ia nikah lagi dengan Ummu Kaltsum binti

Muhammad Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu Utsman bin Affan r.a. terkenal dengan sebutan

"Dzun Nurain" (pemilik dua cahaya). Ia memeluk Islam di tangan Abu Bakar r.a. dan setelah

menjadi orang beriman, ia sangat besar taqwanya kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Dalam perjuangan untuk kepentingan agama Allah dan perjuangan Rasul-Nya, Utsman bin Affan

r.a. tidak pernah menghitung-hitung untung rugi. Hampir semua kekayaannya, harta benda dan

jiwanya diserahkan untuk kepentingan menegakkan agama Allah. Ia terkenal pula dengan amal

perbuatannya, yang dengan uang dari kantong sendiri membeli sumber air jernih "Bir Romah"

untuk kepentingan semua kaum muslimin.

Utsman bin Affan r.a. jugalah yang dengan uangnya sendiri membayar harga tanah sekitar

masjid Rasul Allah s.a.w., ketika masjid itu sudah terlampau sempit untuk menampung jemaah

yang bertambah membeludak. Pada waktu kaum muslimin menghadapi paceklik hebat, pada

saat mana Rasul Allah s.a.w. telah mengambil keputusan untuk memberangkatkan pasukan

guna menghantam perlawanan Romawi, Utsman bin Affan r.a. lah yang mengeluarkan uang dari

koceknya untuk membeli senjata dan perlengkapan perang lainnya. Ia memang seorang

hartawan dan hartanya dihabiskan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Pada saat menerima tugas dan tanggung jawab sebagai Khalifah, Utsman bin Affan sudah lanjut

usia. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah yang ada di

sekelilingnya. Dalam hal ini yang paling menonjol peranannya ialah Marwan bin Al Hakam,

misanannya, yang menjadi pembantu utama paling dipercaya. Demikian juga Muawiyyah bin Abi

Sufyan, seorang Gubernur atau Kepala Daerah Syam, daerah yang sangat makmur dan subur di

sebelah utara jazirah Arab. Kedua tokoh Bani Umayyah itu mempergunakan peluang secara

maksimal ketika usia Khalifah Utsman r.a. makin lanjut dan tidak lagi aktif sepenuhnya mengatur kehidupan negara, pemerintahan dan ummat. Secara pandai orang-orang itu merebut

hati Khalifah, menanamkan pengaruh dan memperkuat posisi mereka di bidang kekuasaan.

Gejala individualisme, mementingkan diri sendiri dan golongan, yang pada masa Khalifah Umar

r.a. berhasil dipangkas tunas-tunasnya, ternyata tumbuh kembali dengan suburnya, terutama

pada masa-masa terakhir Khalifah Utsman r.a. Sistem pemerintahan yang sangat demokratis

yang telah dirintis oleh Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a.

setapak demi setapak digantikan dengan sistem oligarki (pemerintahan keluarga) oleh para

pembantu Khalifah Utsman r.a. Harta Baitul Mal yang seharusnya digunakan untuk

kemaslahatan ummat Islam, mulai banyak disalahgunakan. Muncullah penguasa-penguasa

hartawan yang mempunyai ratusan ekor unta, kuda dan hamba sahaya, serta rumah-rumah

indah di Bashrah, Kufah dan Iskandariyah.

Melihat perkembangan ummat meluncur ke bawah ini, Imam Ali r.a. tidak dapat berdiam diri.

Sebagai sahabat baik, dengan tulus ikhlas, diminta atau tidak diminta, ia menyampaikan saransaran,

nasehat-nasehat serta gagasan-gagasan kepada Khalifah Utsman r.a. Tentu saja sikap

dan tindakan yang diambil Imam Ali r.a. menimbulkan rasa tidak senang, bahkan sikap

permusuhan, dari mereka-mereka yang sedang menikmati hasil perjuangan ummat Islam untuk

kepentingan diri mereka sendiri.

Cara hidup yang mementingkan kesenangan duniawi di kalangan para penguasa pemerintahan

Khalifah, dan sistem kekuasaan yang berdasarkan kerabat dan keluarga, telah membangkitkan

rasa tidak puas yang semakin merata di kalangan ummat Islam, khususnya di kalangan qabilahqabilah

tertentu yang hidup merana.

Khalifah Utsman r.a. sendiri dalam batas kemampuan yang ada pada dirinya, telah berusaha

untuk mengatasi keadaan yang semakin kritis itu, karena ia menyadari bahayanya bilamana

dibiarkan begitu saja. Akan tetapi karena usianya yang telah lanjut

ia tidak berdaya menghadapi "permainan" Marwan bin Al-Hakam dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Khalifah Utsman praktis sudah tidak dapat lagi mengendalikan aparaturnya.

Dikorbankan

Apa yang di ramalkan oleh Khalifah Umar r.a. pada saat menjelang ajalnya, ternyata memang

benar-benar terjadi. Beberapa waktu setelah terbai'at sebagai Khalifah, Utsman bin Affan r.a.

mengangkat orang-orang dari kalangan Bani Umayyah dan di tempatkan pada kedudukankedudukan

penting atau lebih penting dibanding dengan orang-orang dari qabilah lain. Posisiposisi

penting dalam kekuasaan negara dibagi-bagikan kepada mereka. Kalau tidak sebagai

Kepala Daerah atau Gubernur, mereka diangkat sebagai panglima-panglima pasukan, atau

diserahi tanah-tanah yang sangat luas.

Salah satu prestasi besar selama kakhalifahan Utsman r.a., ummat lslam berhasil membebaskan

Afrika Utara dari kekuasaan Byzantium. Sayangnya, seperlima dari hasil harta jarahan

(ghanimah) yang didapat oleh kaum muslimin dari daerah-daerah Afrika Utara, banyak yang

dihadiahkan oleh Khalifah Utsman r.a. kepada para pembantunya, terutama Marwan bin Al

Hakam. Marwan ini adalah kerabatnya dan kemudian dipungut sebagai menantu.

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-152 telah

mengungkapkan kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a. yang dikendalikan oleh Marwan dan kawankawannya,

yang sangat meresahkan kaum muslimin.

Diantara tindakan-tindakan itu disebut pemberian uang sebanyak 400.000 dirham kepada

Abdullah bin Khalid bin Asid. Khalifah Utsman r.a. juga merehabilitasi dan membolehkan Al-

Hakam bin Al-Ash kembali bermukim di Madinah. Padahal Al-Hakam ini dahulu telah diusir oleh

Rasul Allah s.a.w. dari kota suci itu, karena penghianatannya terhadap kaum muslimin. Bahkan

oleh Khalifah ia diberi modal hidup berupa uang sebesar 100.000 dirham. Sedangkan Khalifah khalifah yang terdahulu tidak ada yang berani melanggar keputusan yang telah diambil oleh

Rasul Allah s.a.w. mengenai pengusiran Al-Hakam.

Masih ada lagi serentetan tindakan atau kebijaksanaan yang dilakukan oleh Khalifah Utsman

r.a. atas desakan para penasehat dan pembantunya. Yaitu tindakan atau kebijaksanaan yang

menyuburkan benih-benih ke-tidak-puasan di kalangan kaum muslimin. Sebuah tempat pusat

perdagangan di kota Madinah, yang waktu itu terkenal dengan nama "Mazhur", oleh Khalifah

Utsman dikuasakan kepada Al-Harits bin Al-Hakam, saudara Marwan bin Al-Hakam. Padahal

tempat itu dahulunya oleh Rasul Allah s.a.w. telah diserahkan kepada kaum muslimin sebagai

milik umum.

Begitu pula daerah Fadak, yang dahulunya berupa tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w.; oleh

Khalifah diserahkan kepada pembantu dekatnya. Padahal tanah Fadak ini menurut hukum di

bawah kekuasaan pribadi Rasul Allah s.a.w.

Dalam sejarah Islam, daerah Fadak ini menjadi sangat terkenal, karena tuntutan dan gugatan

yang diajukan oleh Sitti Fatimah r.a. kepada Khalifah Abu Bakar r.a., untuk memperoleh hak

atas tanah yang dahulu berada di bawah kekuasaan ayahandanya.

Khalifah Utsman r.a. juga mengeluarkan sebuah peraturan yang menggelisahkan penduduk

Madinah. Di dalam peraturan itu ditetapkan, bahwa padang ilalang sekitar kota, yang secara

tradisional sudah menjadi padang penggembalaan umum, dinyatakan tertutup kecuali bagi

ternak milik orang-orang Bani Umayyah.

Lebih dari itu, daerah Afrika Barat bagian utara, yang sekarang dikenal dengan wilayah-wilayah

Marokko, Aljazair, Tunisia, Libya dan terus ke timur sampai Mesir, dikuasakan seluruhnya

kepada Abdullah bin Abi Sarah dengan wewenang penuh. Abdullah adalah saudara sesusuan

dengan Khalifah. Dengan kekuasaan penuh itu Abdullah mempunyai posisi penguasa mutlak di

daerah itu, seolah-olah seorang penguasa negara di dalam negara.

Kepada Abu Sufyan bin Harb, yang dahulu terkenal peranannya sebagai salah seorang tokoh

paling getol memerangi Rasul Allah s.a.w., dan baru terpaksa masuk Islam setelah jatuhnya

kota Makkah ke tangan kaum muslimin, oleh Khalifah Utsman r.a. diberi hadiah sebesar 200.000

dirham. Uang itu diambil dari Baitul Mal. Sedangkan ketika Marwan bin Al-Hakam dipungut

sebagai menantu untuk dinikahkan dengan puterinya yang bernama Aban, Khalifah Utsman r.a.

membekalinya lagi dengan uang sebesar 100.000 dirham, juga diambil dari Baitul Mal.

Sebenarnya semua kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah Utsman r.a. merupakan pelaksanaan

imla (dikte) yang disodorkan para pembantu yang diberi kepercayaan penuh. Khalifah Utsman

r.a. menyadari bahwa pribadinya ditunggangi sedemikian rupa dan sedang digiring ke

marabahaya yang sangat fatal oleh orang-orang kepercayaannya. Seorang Khalifah yang kurang

lebih berusia 80 tahun itu, oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah dikorbankan untuk kepentingan

pribadi-pribadi, golongan dan qabilah.

Penyalahgunaan harta Baitul Mal seperti tersebut di atas, sudah tentu menimbulkan

kegelisahan masyarakat muslimin pada masa itu. Sebuah riwayat mengisahkan, ketika Khalifah

Utsman r.a. mengambil uang 100.000 dirham dari Baitul Mal untuk diserahkan kepada

menantunya, Marwan bin Al Hakam, datanglah pengurus Baitul Mal bernama Zaid bin Arqam,

menghadap Khalifah. Ia datang sambil menangis untuk menyerahkan kunci Baitul Mal.

Dengan keheran-heranan. Khalifah bertanya kepada Zaid bin Arqam: "Mengapa engkau

menangis? Apakah karena aku hendak memungut Marwan bin Al-Hakam jadi menantu?"

"Tidak", jawab Zaid sambil menundukkan kepala dan mengusap air mata. "Aku menangis karena

aku menduga anda mengambil harta Baitul Mal itu sebagai pengganti kekayaan anda yang dahulu anda infakkan di jalan Allah, yaitu pada masa Rasul Allah

s.a.w. masih hidup. Demi Allah, uang 100.000 dirham yang anda berikan kepada Marwan itu

sungguh terlampau banyak."

"Hai Ibnu Arqam, letakkan kunci itu!" hardik Khalifah dengan wajah merah padam. "Kami bisa

mendapatkan orang lain yang tidak seperti engkau."

Pada masa itu kaum muslimin benar-benar merasakan adanya perbedaan yang sangat menyolok

antara kebijaksanaan yang dilakukan Khalifah-khalifah terdahulu dengan penerusnya yang

sekarang ini. Aparatur pemerintahan Khalifah tidak mau menanggulangi, sehingga keamanan

dan ketertiban sangat terganggu. Ini menambah keresahan dan kecemasan penduduk.

Banyak para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang heran menyaksikan tindakan-tindakan Khalifah

Utsman r.a. Sebab mereka tahu, ia terkenal sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad.

Seorang mukmin yang taqwa dan shaleh, tidak pernah mementingkan diri sendiri atau

golongannya. Dermawan besar yang tak pernah menghitung-hitung untung-rugi dan resiko

dalam berjuang untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Abu Dzar dibuang

Abu Dzar Al-Ghifari adalah salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yang paling tidak disukai

oleh oknum-oknum Bani Umayyah yang mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a.,

seperti Marwan bin Al-Hakam, Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yang pada masa pra-Islam terkenal amat liar,

kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yang lewat daerah pemukiman mereka menjadi

sasaran penghadangan, pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin

terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani, terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu

yang menjadi pemikiran dan pendiriannya.

Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan

da'wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lebih

oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara

terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang kafir Qureiys. Sekembalinya ke daerah

pemukimannya dari Makkah, Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk

agama Islam. Bahkan qabilah lain yang berdekatan, yaitu qabilah Aslam, berhasil pula di

Islamkan.

Demikian gigih, berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam, sehingga Rasul

Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani

Aslam, Nabi Muhammad s.a.w. dengan bangga mengucapkan: "Ghifar…, Allah telah

mengampuni dosa mereka! Aslam…, Allah menyelamatkan kehidupan mereka!"

Sejak menjadi orang muslim, Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dengan

bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban untuk menegakkan

kebenaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap

penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan

kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai "cahaya terang benderang."

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan

dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau

orang lain, namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya,

Abu Dzar benar-benar serius, keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip

sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yang

akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yang mengangkangi

harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: "Demi Allah, yang

mengutusmu membawa kebenaran, mereka akan kuhantam dengan pedangku!"

Menanggapi sikap yang tandas dari Abu Dzar ini, Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yang

bijaksana memberi pengarahan yang tepat. Beliau berkata: "Kutunjukkan cara yang lebih baik

dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dengan aku di hari kiyamat kelak!" Rasul Allah

s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dengan senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w., Abu Dzar tetap berpegang teguh pada

nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yang dicanangkan

oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., berkat

ketegasan dan keketatannya dalam bertindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum

muslimin, penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan

masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan r.a.,

penyakit yang membahayakan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim

hujan. Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak berdaya menanggulanginya. Nampaknya

karena usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut, serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya

oleh para pembantunya sendiri yang terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yang hidup serba kekurangan, hanya

karena mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah

seorang di antara mereka yang menggadai, hanya sekedar untuk dapat membeli beberapa

potong roti. Padahal para penguasa dan orang-orang yang dekat dengan pemerintahan makin

bertambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum

muslimin banyak disalah-gunakan untuk

kepentingan pribadi, keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, para

sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti

ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yang bertentangan dengan ajaran Islam, Abu Dzar Al-Ghifari

sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak

betah lagi diam di rumah, walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat

menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan

menghunus pedang. Berjuang sajalah dengan lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngiang

terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesarungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dengan senjata lidah berjuang memperingatkan para penguasa dan

orang-orang yang sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka

kembali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di

Syam, ia selalu memperingatkan orang: "Barang siapa yang menimbun emas dan perak dan

tidak menginfaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan

mendapat siksa yang Pedih. Pada hari kiamat

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umumnya terdiri dari fakir miskin dan

orang-orang yang hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye

Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yang menuntut ditegakkannya kembali prinsipprinsip

kebenaran dan keadilan, sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan, yang menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam, memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yang dapat mengancam kedudukannya. Untuk

membendung kegiatan Abu Dzar, Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi

pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati

Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana, sambil berseru kepada setiap orang: "Aku sungguh

heran melihat orang yang di rurnahnya tidak mempunyai makanan, tetapi ia tidak mau keluar

menghunus pedang!"

Seruan Abu Dzar yang mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin

yang menjadi pendukungnya. Bersama dengan itu para penguasa dan kaum hartawan yang telah

memperkaya diri dengan cara yang tidak jujur, sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dengan pedang, tetapi

lidahnya pun dipergunakan untuk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajaranajaran

kemasyarakatan yang pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: "Semua

manusia adalah sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…," "Tak ada manusia yang lebih

afdhal selain yang lebih besar taqwanya…", "Penguasa adalah abdi masyarakat," "Tiap orang

dari kalian adalah penggembala, dan tiap penggembala bertanggung jawab atas

kegembalaannya...." dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yang bergelimang dalam kehidupan mewah

sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar,

tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nurani. Abu Dzar dimusuhi dan

kepadanya dilancarkan berbagai tuduhan. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh

Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dengan sengaja ia menghadap Muawiyah, penguasa daerah Syam. Dengan

tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yang ditinggalkan di

Makkah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dengan tanpa rasa takut sedikit pun

ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiyyah yang sekarang! Sambil menuding Abu Dzar

berkata: "Bukankah kalian itu yang oleh Al-Qur'an disebut sebagai penumpuk emas dan perak,

dan yang akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dengan api neraka?!"

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yang terus terang itu! Muaw iyah

bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat

berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis

sepucuk surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan

tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil

salah satu tindakan. Berikan kekayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar

menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya, kucilkan saja di pembuangan.

Khalifah Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada

Abu Dzar diajukan dua pilihan: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu,

Abu Dzar dengan singkat dan jelas berkata: "Aku tidak membutuhkan duniamu!"

Khalifah Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Dikemukakannya: "Tinggal sajalah di

sampingku!"

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: "Aku tidak membutuhkan duniamu!"

Sebagai orang yang hidup zuhud dan taqwa, Abu Dzar berjuang semata-mata untuk menegakkan

kebenaran dan keadilan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya menghendaki

supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan, seperti yang dulu telah dilaksanakan oleh

Rasul Allah s.a.w., Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru itulah yang

sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a., sebab ia harus memotong urat nadi para

pembantu dan para penguasa bawahannya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. Akhirnya, atas desakan dan tekanan

para pembantu dan para penguasa Bani Umayyah,Khalifah Utsman r.a. mengambil keputusan:

Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun

mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yang mengucapkan selamat jalan atau

mengantarkannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak, bahwa Allah s.w.t.

selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman r.a.

ia berkata: "Demi Allah, seandainya Utsman hendak menyalibku di kayu salib yang tinggi atau di

atas bukit, aku akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lebih baik

bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus berjalan dari kutub ke kutub lain, aku

akan taat, sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang, hal itu lebih baik bagiku. Dan

seandainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati, aku akan sabar dan

berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lebih baik bagiku."

Itulah Abu Dzar Ghifari, pejuang muslim tanpa pamrih duniawi, yang semata-mata berjuang

untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan

yang dengan gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yang

penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan

melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sangat mengejutkan kaum muslimin,

khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya.

Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yang mendalam

kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam bukunya As Saqifah, berdasarkan riwayat

yang bersumber pada Ibnu Abbas, menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan

Khalifah Utsman r.a. di atas:

Khalifah Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan

mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yang berani

mendekati Abu Dzar, kecuali Imam Ali r.a., Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali

r.a., yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya, Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu

Marwan bin Al-Hakam dengan bengis menegor: "Hai Hasan, apakah engkau tidak mengerti

bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dengan orang ini? Kalau belum mengerti,

ketahuilah sekarang!"

Melihat sikap Marwan yang kasar itu, Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya.

Sambil membentak ia mencambuk kepala unta yang dikendarai oleh Marwan: "Pergilah engkau

dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka."

Sudah tentu unta yang dicambuk kepalanya itu meronta-ronta kesakitan. Marwan sangat marah,

tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali

menghadap Khalifah untuk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap

karena merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota

keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata mendorong orang lain berani mendekati

Abu Dzar guna mengucapkan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama

Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa

yang dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar, Ali bin Abi Thalib mengatakan: "Hai Abu Dzar

engkau marah demi karena Allah! Orang-orang itu, yakni para penguasa Bani Umayyah, takut

kepadamu, sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh karena itu mereka mengusir dan

membuangmu. Demi Allah, seandainya langit dan bumi tertutup rapat bagi hamba Allah, tetapi

hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah, pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu

Dzar, tidak ada yang menggembirakan hatimu selain kebenaran, dan tidak ada yang

menjengkelkan hatimu selain kebatilan!"

Atas dorongan Imam Ali r.a., Aqil berkata kepada Abu Dzar: "Hai Abu Dzar, apa lagi yang

hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu, dan kami pun

tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sajalah sepenuhnya kepada Allah,

sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah, karena sabar sama dengan berbesar hati.

Ketahuilah, tidak sabar sama artinya dengan takut, dan mengharapkan maaf dari orang lain

sama artinya dengan putus asa. Oleh karena itu buanglah rasa takut dan putus asa."

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: "Jika seorang yang hendak mengucapkan selamat

jalan diharuskan diam, dan orang yang mengantarkan saudara yang berpergian harus segera

pulang, tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit, sedangkan sesal dan iba akan terus

berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri, banyak orang sudah datang menjumpaimu.

Buang sajalah ingatan tentang kepahitan dunia, dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah

perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam, dan gantikan saja dengan harapan masa

mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dengan Nabi-mu, dan beliau itu benar-benar

ridho kepadamu."

Setelah Al Hasan, kini berkatalah Al Husein: "Hai paman, sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa

mengubah semua yang paman alami. Tidak ada sesuatu yang lepas dari pengawasan dan

kekuasaan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa

butuhnya mereka itu kepada sesuatu yang hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah

s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama

artinya dengan sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mempercepat datangnya rizki dan

kebatilan tidak akan menunda datangnya ajal!"

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: "Allah tidak akan membuat senang orang

yang telah membuatmu sedih, dan tidak akan menyelamatkan orang yang menakut-nakutimu.

Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka, tentu mereka akan menyukaimu. Yang

mencegah orang supaya tidak mengatakan seperti yang kaukatakan, hanyalah orang-orang yang

merasa puas dengan dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong

kepada kelompok yang berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yang menang. Oleh

karena itu banyak orang "menghadiahkan" agamanya masing-masing kepada mereka, dan

sebagai imbalan, mereka memberi kesenangan duniawi kepada orang-orang itu. Dengan

berbuat seperti itu, sebenarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukankah itu

suatu kerugian yang senyata-nyatanya?!"

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: "Semoga Allah merahmati kalian, wahai Ahlu

Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di

Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat karena Utsman, dan di Syam aku

merasa berat karena Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudarasaudaraku

di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku, lalu aku diusir dan dibuang

ke satu daerah, di mana aku tidak akan mempunyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t.

Demi Allah, aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut

menghadapi kesulitan…"

Tutur Dzakwan lebih lanjut: Setelah semua orang yang mengantarkan pulang, Imam Ali r.a.

segera datang menghadap Khalifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah bertanya dengan hati gusar: "Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku --yakni

Marwan-- dan meremehkan perintahku?"

"Tentang petugasmu," jawab Imam Ali r.a. dengan tenang "ia mencoba menghalang-halangi

niatku. Oleh karena itu ia kubalas. Adapun tentang perintahmu, aku tidak meremehhannya."

"Apakah engkau tidak mendengar perintahku yang melarang orang bercakap-cakap dengan Abu

Dzar?" ujar Khalifah dengan marah.

"Apakah setiap engkau mengeluarkan larangan yang bersifat kedurhakaan harus kuturut?"

tanggap Imam Ali r.a. terhadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

"Kendalikan dirimu terhadap Marwan!" ujar Khalifah memperingatkan Imam Ali r.a.

"Mengapa?" tanya Imam Ali r.a.

"Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yang dikendarainya" jawab Khalifah.

"Mengenai untanya yang kucambuk," Imam Ali menjelaskan sebagai tanggapan atas keterangan

Khalifah Utsman r.a., "bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampal

memaki diriku, tiap satu kali dia memaki, engkau sendiri akan kumaki dengan makian yang

sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!"

"Mengapa dia tidak boleh memakimu?" tanya Khalifah Utsman r.a. dengan mencemooh. "Apakah

engkau lebih baik dari dia?!"

"Demi Allah, bahkan aku lebih baik daripada engkau!" sahut Imam Ali r.a. dengan tandas. Habis

mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu, Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh kaum

Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia

menyatakan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a., para pemuka yang beliau ajak berbicara

menasehatkan: "Anda adalah pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai, itu lebih baik."

"Aku memang menghendaki itu," jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa orang dari

pemuka muslimin itu mengambil prakarsa untuk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali

r.a. dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali

r.a. mereka bertanya: "Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan untuk

meminta maaf?"

"Tidak," jawab Imam Ali r.a. dengan cepat. "Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak

akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau

datang kepadanya."

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a. datang

bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah

s.w.t., Imam Ali r.a. berkata: "Yang kauketahui tentang percakapanku dengan Abu Dzar, waktu

aku mengantar keberangkatannya, demi Allah, tidak bermaksud mempersulit atau menentang

keputusanmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu

Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yang

telah diberikan Allah 'Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalanghalangi

Marwan, sama seperti dia menghalang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku

kepadamu, itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku, sehingga keluarlah marahku, yang sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya."

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut, Khalifah Utsman r.a. berkata

dengan nada lemah lembut: "Apa yang telah kau ucapkan kepadaku, sudah kuikhlaskan. Dan

apa yang telah kaulakukan terhadap Marwan, Allah sudah memaafkan perbuatanmu. Adapun

mengenai apa yang tadi engkau sampai bersumpah, jelas bahwa engkau memang bersungguhsungguh

dan tidak berdusta. Oleh karena itu ulurkanlah tanganmu....!"

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan, kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a. dan

dilekatkan pada dadanya.

Bagaimana keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembuangannya? Ia mati kelaparan bersama

isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan, sehingga batu pun bisa

turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraannya di tempat pembuangan,

dituturkan sebagai berikut:

Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya, ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari

sebelum akhir hayatnya, ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia mengajak

isterinya pergi ke sebuah bukit pasir untuk mencari tetumbuhan. Keberangkatan mereka berdua

diiringi tiupan angin kencang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak

menemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat, padahal udara

sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya, mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik.

Isterinya menangis, kemudian ditanya oleh Abu Dzar: "Mengapa engkau menangis?"

"Bagaimana aku tidak menangis," jawab isterinya yang setia itu, "kalau menyaksikan engkau

mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yang cukup untuk

dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yang akan mengurus

pemakamanmu!''

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia

berkata: "Cobalah lihat ke jalan di gurun pasir itu, barangkali ada seorang dari kaum muslimin

yang lewat!"

"Bagaimana mungkin?" jawab isterinya. "Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang

sudah lenyap!"

"Pergilah kesana, nanti engkau akan melihat," kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan

yang dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. "Jika engkau melihat ada orang lewat,

berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak

melihat seorang pun, tutup sajalah mukaku dengan baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila

kaulihat ada seorang lewat, katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar, sahabat Rasul Allah. Ia sudah

hampir menemui ajal untuk menghadap Allah, Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!"

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sanake

mari dan tidak menemukan apa pun juga, ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang

mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana, tiba-tiba melihat bayang-bayang

kafilah lewat, tampak benda-benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat

isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari kejauhan rombongan kafilah itu

melihat, lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya,

kemudian bertanya: "Hai wanita hamba Allah, mengapa engkau di sini?"

"Apakah kalian orang muslimin?" isteri Abu Dzar balik bertanya. "Bisakah kalian menolong kami

dengan kain kafan?"

"Siapa dia?" mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

"Abu Dzar Al-Ghifari!" jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mulanya mereka tidak percaya, bahwa

seorang sahabat Nabi yang mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. "Sahabat Rasul Allah?"

tanya mereka untuk memperoleh kepastian.

"Ya, benar!" sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: "Ya Allah...! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada

kita!"

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing, lalu segera menghampiri Abu Dzar.

Orangtua yang sudah dalam keadaan payah itu menatapkan pendangannya yang kabur kepada

orang-orang yang mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata:

"Demi Allah…, aku tidak berdusta…, seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan untuk

membungkus jenazahku dan jenazah isteriku, aku tidak akan minta dibungkus selain dengan

bajuku sendiri atau baju isteriku.....Aku minta kepada kalian, jangan ada seorang pun dari

kalian yang memberi kain kafan kepadaku, jika ia seorang penguasa atau pegawai."

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara

mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: "Hai paman, akulah yang

akan membungkus jenazahmu dengan bajuku sendiri yang kubeli dengan uang hasil jerihpayahku.

Aku mempunyai dua lembar kain yang telah ditenun oleh ibuku sendiri untuk

kupergunakan sebagai pakaian ihram…"

"Engkaukah yang akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!" Sahut

Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia

memejamkan mata, lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan

tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan

angin gurun sahara yang amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat

itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yang sedang dilanda tofan.

Selesai di makamkan, orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: "Ya

Allah, inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w., hamba-Mu yang selalu bersembah sujud

kepada-Mu, berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyrikin, tidak pernah merusak atau

mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dengan

lidah dan hatinya, sampai akhirnya ia dibuang, disengsarakan dan di hinakan sekarang ia mati

dalam keadaan terpencil. Ya Allah, hancurkanlah orang yang menyengsarakan dan yang

membuangnya jauh dari tempat kediamannya dan dari tempat suci Rasul Allah!"

Mereka mengangkat tangan bersama-sama sambil mengucapkan "Aamiin" dengan khusyu'.

Orang mulia yang bernama Abu Dzar Al-Ghifari telah wafat, semasa hidupnya ia pernah

berkata: "Kebenaran tidak meninggalkan pembela bagiku..."

Krisis politik dan pemberontakan

Krisis politik yang menggoncangkan pemerintahan Khalifah Utsman r.a. di Madinah prosesnya di

mulai dari Mesir. Dalam bukunya 'Aisyah was Siyasah, halaman 48, Said Al-Afghani, sejarawan

Islam terkemuka, menuturkan proses terjadinya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman r.a. sebagai berikut:

Abdullah bin Abi Sarah, yang dalam periode kekhalifahan Utsman r.a. menjadi Gubernur atau

Kepala Daerah Mesir dengan kekuasaan penuh, banyak rnelakukan tindakan yang menimbulkan

rasa tidak puas dan jengkel di kalangan penduduk. Keluhan penduduk Mesir itu mendapat

tanggapan baik dari Khalifah Utsman r.a. Tetapi Khalifah sendiri tidak dapat bertindak tegas.

Bahkan orang-orang Mesir yang mengadu kepada Khalifah, sekembalinya dari Madinah dibunuh

oleh Abdullah bin Abi Sarah.

Peristiwa semacam itu mengugah kemarahan rakyat yang semakin memuncak. Hampir 700

orang bersenjata meninggalkan Mesir. Mereka menuju Madinah untuk menghadap Khalifah.

Khalifah didesak supaya bertindak terhadap Abdullah bin Abi Sarah dan memecatnya dari

kedudukan sebagai Kepala Daerah.

Semua sahabat Rasul Allah s.a.w., termasuk Imam Ali r.a. dan Sitti 'Aisyah r.a. turut mendesak

Khalifah Utsman r.a. agar memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Bagaimana pun juga alasannya

tindakan Abdullah bin Abi Sarah itu bertentangan dengan hukum Islam dan tidak dapat

dipertanggung jawabkan oleh Khalifah. Khalifah Utsman. r.a. menyatakan persetujuannya dan

akan bertindak memecat Abdullah bin Abi Sarah.

Sejalan dengan pengangkatan Kepala Daerah baru (yang berangkat langsung dari Madinah ke

Mesir), berangkat juga kurir khusus membawa surat rahasia untuk diserahkan kepada Abdullah

bin Abi Sarah. Dalam surat rahasia itu terdapat tanda-tangan Khalifah Utsman r.a. Isinya

memerintahkan Abdullah bin Abi Sarah supaya segera membunuh Kepala Daerah baru setibanya

di Mesir. Kepala Daerah baru itu ialah Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq.

Celakanya, kurir yang membawa surat rahasia itu dipergoki di tengah jalan oleh iring-iringan

Kepala Daerah yang baru diangkat dan yang akan melakukan timbang terima jabatan dari

Kepala Daerah yang lama. Terbongkarlah permainan politik yang sangat curang dan kotor itu.

Kemarahan rakyat Mesir tambah meningkat dan mendidih.

Penduduk Mesir menuding bahwa Marwan Al-Hakam-lah biang keladi permainan politik yang

sangat berbahaya itu. Mereka menuntut agar Khalifah Utsman r.a. menyerahkan Marwan

kepada mereka atau menyingkirkan Marwan dari kekuasaan. Tetapi Khalifah bertahan. Banyak

yang memberi nasehat kepada Khalifah supaya Marwan dikeluarkan saja dari pemerintahan.

Nasehat para sahabat ini tidak dapat mengubah pendirian Khalifah yang tetap mempertahankan

Marwan. Ia mengakui, bahwa Marwan memang membikin kesalahan, tetapi tidak usah diambil

tindakan sejauh itu. Inilah yang mendorong timbulnya krisis politik yang dengan hebat akan

melanda kota Madinah.

Sikap Khalifah Utsman r.a. itu seolah-olah katup-lemah dari suasana tertekan yang siap

meledak. Dan benarlah, rasa tidak puas rakyat terhadap kepemimpinan Khalifah Utsman bin

Affan r.a. akhirnya menggelegar dalam bentuk pemberontakan.

Peristiwa penggantian Kepala Daerah Mesir sebenarnya hanya merupakan sinyal saja bagai

pecahnya pemberontakan terhadap Khalifah Utsman r.a. Api dalam sekam sudah lama

membara, menunggu hembusan angin yang bertiup dari kantong seorang kurir yang membawa

surat rahasia ke Mesir.

700 orang dari Mesir, berhasil memperoleh dukungan dari sebagian besar penduduk Madinah.

Dengan senjata di tangan masing-masing, mereka berbondong-bondong menuju tempat

kediaman Khalifah dan dengan ketat mengepungnya. Tindakan pengepungan ini pada mulanya

dimaksud untuk menekan Khalifah supaya cepat-cepat mengambil langkah yang tegas terhadap

orang-orang kepercayaannya, yang selalu menjadi biang keladi timbulnya keresahan dalam

masyarakat.

Pengepungan total dan ketat itu ternyata menimbulkan akibat yang dari hari ke hari makin

buruk bagi kehidupan keluarga Khalifah. Yang paling cepat terasa ialah kekurangan air minum.

Pada suatu hari dalam suasana kepungan rakyat itu masih berlangsung dan tambah keras,

Khalifah Utsman r.a. dari anjungan berteriak kepada kerumunan orang yang sedang gaduh dan

hirukpikuk: "Adakah Ali di antara kalian?"

"Tidak!" dijawab dengan singkat dan dengan nada kesal oleh kerumunan orang yang berada di

bawah anjungan.

"Apakah ada di antara kalian yang mau menyampaikan kepada Ali supaya kami bisa mendapat

air minum?" teriak Khalifah Utsman r.a. pula.

Teriakan Khalifah Utsman r.a. itu bermaksud hendak memberitahu kepada rakyat yang

memberontak, bahwa persediaan air minum bagi keluarganya. sudah habis. Teriakan terakhir

dari Khalifah ini tidak disahuti sama sekali.

Setelah Imam Ali r.a. diberi tahu oleh seseorang, bahwa Khalifah dan keluarganya sangat

membutuhkan air, tanpa ragu-ragu ia memerintahkan supaya kepada keluarga Khalifah yang

sedang terkepung itu dikirim air 3 qirbah (kantong wadah air terbuat dari kulit kambing atau

unta). Guna melaksanakan perintah itu, putera-putera Imam Ali r.a. sendiri, yaitu Al-Hasan dan

Al-Husein membawa air ke rumah Khalifah. Berkat kewibawaan Imam Ali r.a., tidak ada orang

yang berani menghalang-halangi pengiriman air itu.

Suasana yang tegang itu memang sangat menyulitkan kedudukan Imam Ali r.a. Di satu fihak ia

menghormati Khalifah Utsman r.a. sebagai pemimpin ummat yang telah dibai'at secara sah.

Khalifah Utsman r.a. adalah sahabat karibnya dan kawan seperjuangan dalam menegakkan

Islam, dalam waktu yang panjang mereka terikat oleh tali persaudaraan, karena masing-masing

pernah menjadi menantu Rasul Allah s.a.w. Tetapi di fihak lain, Khalifah yang telah lanjut usia

itu tidak berdaya mengendalikan pembantu-pembantunya. Bahkan kepada pembantupembantunya

ia memberikan kepercayaan penuh.

Berfihak kepada Khalifah berarti membela Marwan dan kawan-kawannya yang terang dibenci

oleh kaum muslimin. Berfihak kepada kaum muslimin yang memberontak, berarti melawan

Khalifah yang sah. Usahanya untuk menyadarkan Khalifah tentang gawatnya akibat perbuatan

pembantu-pembantunya, tidak pernah berhasil. Khalifah Utsman r.a. memang terkenal sejak

dulu sebagai orang yang keras dalam berpegang pada pendiriannya.

Pertentangan batin benar-benar bergolak dalam hati Imam Ali r.a. Ia merasa wajib

menyelamatkan keadaan dari bencana fitnah, tetapi apa daya jika fihak yang bersangkutan

sendiri tidak menghiraukan nasehat-nasehat. Bahkan dalam keadaan yang sangat kritis itu

Khalifah Utsman r.a. lebih dekat kepada pembantu-pembantunya. Sementara itu kaum

pemberontak makin hari makin hilang kesabarannya. Blokade terhadap rumah kediaman

Khalifah tidak berhasil mengubah pendirian pemimpin yang sudah lanjut usia itu.

Para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang lain, seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-'Awwam

dan Sa'ad bin Abi Waqqash, posisi mereka hampir sama dengan posisi Imam Ali r.a. Nasehatnasehat

mereka sudah tidak mempan bagi Khalifah. Padahal tuntutan kaum muslimin yang

berontak benar-benar adil dan masuk akal.

Setelah pengepungan makin hari makin berlarut dan Khalifah juga tidak bersedia memenuhi

tuntutan kaum pemberontak, akhirnya kaum pemberontak mengambil jalan pintas. Mereka

merencanakan pembunuhan diam-diam terhadap Khalifah Utsman r.a.

Rencana kaum pemberontak ini cepat tercium oleh Imam Ali r.a. Ia segera memerintahkan dua orang puteranya, guna melindungi keselamatan Khalifah: "Berangkatlah kalian ke rumah

Utsman. Bawa pedang dan berjaga-jagalah di ambang pintu rumahnya. Jaga, jangan sampai

terjadi suatu bencana menimpa Utsman!

Tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. diikuti oleh para sahabat Nabi

Muhammad s.a.w. yang lain. Thalhah dan Zubair juga memerintahkan puteranya masing-masing

untuk bersama-sama Al-Hasan r.a. dan Al-Husein r.a. melindungi Khalifah Utsman r.a.

Langkah-langkah pencegahan yang diambil oleh Imam Ali r.a. itu ditulis. oleh Said Al-Afghaniy

dalam bukunya Aisyah was Siyasah. Bahkan kata penulis ini, ketika kaum pemberontak makin

gusar dan menghujani rumah Khalifah dengan anak panah, beberapa putera sahabat Rasul Allah

s.a.w. yang berjaga-jaga itu ada yang terluka, antara lain Al-Hasan bin Ali dan Muhammad bin

Thalhah. Terlukanya putera-putera para tokoh Islam itu menimbulkan kekhawatiran kaum

pemberontak, yang nampaknya di pimpin oleh Muhammad bin Abu Bakar Ash shiddiq.

"Kalau orang-orang Bani Hasyim datang," kata Muhammad bin Abu Bakar , "dan melihat darah

mengalir dari tubuh Al-Hasan dan Al-Husein, mereka pasti akan bertindak terhadap kita.

Rencana kita akhirnya akan gagal." Berdasarkan jalan fikiran yang demikian, diusulkan kepada

teman-temannya agar Khalifah Utsman dibunuh saja secara diam-diam.

Gugur di tangan pemberontak

Proses terjadinya pembunuhan atas diri Khalifah Utsman r.a. ternyata banyak diteliti oleh para

sejarawan, terutama para penulis sejarah Islam. Ada beberapa versi yang muncul mengenai

siapa sebenarnya yang membunuh Khalifah Utsman r.a. Said Al-Afghaniy, yang bukunya

dianggap autentik oleh para sejarawan menunjuk bahwa Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiqlah

yang merencanakan pembunuhan itu, tetapi yang melaksanakan rencana dua orang

temannya.

Menurut Said Al-Afghaniy, Muhammad bin Abu Bakar bersama dua orang temannya memanjat

dinding belakang kamar Khalifah. Ketika itu Khalifah sedang membaca Al-Qur'an dan hanya

ditemani oleh isterinya yang bernama Na'ilah. Setelah berhasil memasuki kamar Khalifah,

Muhammad langsung menyerbu Khalifah. Lalu janggutnya yang sudah memutih dipegangnya

keras-keras. Khalifah dengan nada sedih berkata: "Lepaskan janggutku, hai putera saudaraku!

Jika ayahmu melihat perbuatan yang kau lakukan ini… aah, alangkah kecewanya dia!"

Hati Muhammad bin Abu Bakar justru terharu, cair dan luluh. Tanpa disadari, tangan yang

sedang memegang erat janggut memutih itu mengendor perlahan-lahan dan lepaslah. Tetapi

malang, dua orang teman Muhammad yang turut masuk menyerbu tidak dapat menguasai

hatinya masing-masing. Tombak pendek yang mereka pegang segera dihunjamkan ke lambung

Khalifah Utsman r.a. Seketika itu juga Khalifah gugur. Na'ilah yang menyaksikan adegan itu

melolong dan menjerit-jerit histeris bersamaan dengan melesatnya tiga orang pemuda itu lari

melompat jendela. Na'ilah terus menerus menjerit: "Amirul Mukminin terbunuh! Amirul

Mukminin terbunuh!"

Dalam versi yang sama, tetapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda, buku yang berjudul Al-

Iqdul Farid, jilid III, halaman 78-82, juga mengungkapkan proses pembunuhan atas diri Khalifah

Utsman r.a. Segera setelah mendengar berita tentang terbunuhnya Khalifah Utsman r.a., Imam

Ali r.a. termasuk orang pertama yang menuju ke kamar maut. Duka hatinya yang mendalam

terpancar terang sekali pada wajahnya ketika menyaksikan sahabatnya gugur secara

menyedihkan. Tetapi wajah sendu itu kemudian berubah merah padam waktu ia menoleh

kepada dua orang puteranya. "Bagaimana ia bisa terbunuh? Bukankah kalian berdua sudah

kuperintahkan supaya berjaga-jaga di depan pintu rumahnya?" tegor Imam Ali r.a. kepada dua

orang puteranya dengan suara membentak.

Tampaknya kemarahan Imam Ali r.a. demikian hebatnya, sampai kedua orang puteranya itu dipukulnya sendiri. Kemudian kepada Na'ilah, janda Khalifah Utsman r.a. yang sedang

dirundung malang ia bertanya tentang siapa sebenarnya yang membunuh Khalifah.

"Aku tak tahu," jawab Na'ilah. "Yang kulihat ada dua orang tak kukenal masuk bersama

Muhammad bin Abu Bakar…" ujarnya sambil menangis. Lalu diceritakan oleh Na'ilah apa yang

telah dilakukan oleh Muhammad bin Abu Bakar.

Ketika Imam Ali r.a. mengecek keterangan Na'ilah kepada Muhammad bin Abu Bakar, putera

Khalifah pertama itu hanya mengatakan: "Wanita itu tidak berdusta. Aku memang masuk ke

kamar itu dengan rencana hendak membunuh Utsman. Tetapi pada saat ia mengingatkan aku

tentang ayahku, aku sadar kembali dan bertaubat."

Dengan nada sungguh-sungguh dan penuh penyesalan, putera Khalifah Abu Bakar r.a itu

kemudian melanjutkan kata-katanya: "Demi Allah, aku tidak membunuhnya!"

Menanggapi keterangan Muhammad bin Abu Bakar itu, Na'ilah pada lain kesempatan berkata

kepada Imam Ali r.a.: "Bahwa apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar. Tetapi dialah

yang membawa masuk dua orang pembunuh itu."

Agak berbeda dengan dua riwayat tersebut di atas, versi lain lagi yang ditulis oleh sejarawan

terkemuka juga, At-Thabariy, dalam bukunya Tarikh, jilid III, mengatakan pada halaman 421

sebagai berikut:

Seorang demi seorang memasuki kamar Khalifah yang sedang membaca Al-Qur'an. Tapi orangorang

itu mundur kembali karena ragu-ragu hendak membunuh Khalifah yang sudah lanjut usia.

Kemudian masuklah Qutairah dan Saudan bin Hamran bersama seorang lagi yang dipanggil

dengan nama Al-Gafhiqiy. Dengan sebatang besi yang dibawanya, Al-Gafhiqiy menghantam

Khalifah Utsman. Qur'an yang sedang dibaca oleh Khalifah ditendang sampai jatuh di depan

orangtua itu, kemudian memerah dibasahi cucuran darah yang mengalir dari luka-luka Khalifah.

Saudan segera maju untuk menebas leher Khalifah, tetapi isterinya yang menyaksikan kejadian

itu cepat-cepat bergerak maju untuk menahan pedang yang sedang diayun, sehingga putuslah

jari-jarinya.

Habis melakukan pembunuhan kejam itu, tidak lupa mereka merampas benda-benda berharga

yang ada dalam ruangan. Bahkan mereka mencoba melucuti perhiasan yang sedang dipakai oleh

anak-anak dan isteri Khalifah Utsman. Tetapi ketika mereka mendengar pekik dan jerit para

wanita, terpaksa mereka buru-buru lari keluar. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 18

bulan Dzulhijjah, tahun 35 Hijriyah, yaitu waktu Khalifah Utsman genap berusia 82 tahun.

Terbunuhnya Khalifah ketiga ini merupakan alamat buruk yang menandai akan terjadinya krisis

baru yang lebih hebat lagi di kalangan ummat Islam masa itu. Bagi Imam Ali r.a. sendiri,

peristiwa itu menempatkan dirinya pada kedudukan yang serba sulit. Sebab terbunuhnya

Khalifah berarti terjadinya kekosongan pimpinan yang serius dan tak mudah diatasi. Sedang

wilayah Islam sudah sedemikian luasnya membentang dari barat sampai ke timur.

Tokoh-tokoh seperti Abu Sufyan bin Harb, Muawiyah bin Abi Sufyan, Marwan bin Al-Hakam,

Abdullah bin Abi Sarah dan lain-lain, itulah pada hakekatnya yang menggali liang kubur bagi

Khalifah Utsman r.a. Mereka itulah sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas terjadinya

malapetaka yang menimpa diri Khalifah itu. Tetapi rasa tanggung jawab itu tidak ada pada

mereka. Malahan setelah pemberontakan terjadi dan Khalifah mati terbunuh, mereka cepatcepat

membersihkan diri dan cuci tangan, serta menjadikan Imam Ali r.a. sebagai kambing

hitam.


Bab IX : DELAPAN HARI TANPA KHALIFAH

Dengan terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan r.a. tidaklah terselesaikan persoalan-persoalan

gawat yang dihadapi oleh kaum muslimin. Malahan muncul krisis politik yang sifatnya lebih gawat, yang menuntut penanggulangan secara tepat dan bijaksana. Beberapa waktu lamanya

kehidupan kaum muslimin tanpa pimpinan tertinggi dan situasi pemerintahan menjadi kosong.

Duniawi kontra Zuhud

Dalam situasi mengandung berbagai kemungkinan buruk itu, tokoh-tokoh Bani Umayyah yang

selama ini memperoleh kepercayaan penuh dari Khalifah Utsman r.a., justru tidak mengambil

tindakan apa pun juga. Marwan bin Al-Hakam dan kawan-kawannya lari meninggalkan Madinah.

Amr bin Al-Ash, pada saat-saat Khalifah Utsman r.a. dikepung kaum muslimin yang

memberontak, cepat-cepat pergi ke Palestina. Sedangkan Muawiyah bin Abi Sufyan sendiri,

tidak juga mengambil inisiatif apa pun. Begitu pula Abdullah bin Abi Sarah yang sedang menjadi

penguasa daerah Mesir. Semuanya diam, seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa politik

yang besar dan gawat.

Orang bertanya-tanya: Mengapa para penguasa Bani Umayyah yang berkuasa di Mesir dan di

Syam tidak segera memberi pertolongan kepada Khalifah Utsman r.a.? Kemudian setelah

Khalifah Utsman r.a. terbunuh, mengapa mereka tak segera mengirimkan pasukan untuk

bertindak tegas terhadap kaum pemberontak dan menangkap oknum-oknum yang

merencanakan dan melaksanakan pembunuhan atas diri Khalifah itu? Kenapa mereka berpangku

tangan, padahal mereka mempunyai kekuatan cukup untuk melakukan tindakan hukum,

sebelum Khalifah yang baru di angkat?

Pertanyaan-pertanyaan serupa itu adalah wajar. Sebab, para penguasa Bani Umayyah dan

tokoh-tokohnya bukan orang-orang yang baru dilahirkan kemarin. Mereka cukup makan garam

politik, terutama pada waktu mereka dulu mengorganisasi dan memimpin orang-orang kafir

Qureiys melancarkan perlawanan bersenjata terhadap Rasul Allah s.a.w. dan kaum muslimin.

Nampaknya mereka bukan tidak bertindak, tetapi ada perhitungan lain.

Pada masa itu tokoh Bani Umayyah yang paling terkemuka ialah Muawiyah bin Abi Sufyan. Akan

tetapi sejarah keislamannya tidak memungkinkan dirinya dapat dipilih sebagai Khalifah

pengganti Khalifah Utsman bin Affan r.a. Ia memeluk Islam setelah tidak ada jalan lain untuk

menyelamatkan diri dengan jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum muslimin. Ia masuk Islam

kurang lebih dua tahun sebelum wafatnya Rasul Allah s.a.w. Sebelum itu ia sangat gencar

memerangi kaum muslimin dalam usaha memukul Islam.

Dengan kata lain, selama masih ada sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w. yang sejak dulu sampai

sekarang masih gigih membela kebenaran agama Allah, seperti Imam Ali r.a. dan lain-lain,

harapan bagi Muawiyah untuk dapat dibai'at sebagai Khalifah penerus Utsman r.a. tidak

mungkin dapat terlaksana.

Usaha merebut atau mewarisi kekhalifahan Utsman r.a. lebih dipersulit lagi oleh dua

kenyataan:

1. Khalifah Utsman r.a. wafat akibat terjadinya konflik politik yang gawat dengan rakyatnya

sendiri.

2. Ia wafat meninggalkan warisan situasi pemerintahan yang sudah tidak disukai oleh kaum

muslimin.

Konflik politik dan warisan situasi yang tidak menguntung kan orang-orang, Bani Umayyah itu

perlu "dibenahi" lebih dulu untuk dapat meraih kedudukan sebagai pengganti Khalifah Utsman

r.a.

Muawiyah harus dapat menciptakan situasi baru, di mana konflik politik yang sedang panas itu

bisa dialihkan kepada sasaran baru. Untuk ini harus pula dicari "kambing hitam" yang "tepat".

Dalam hal ini ialah orang yang mempunyai kemungkinan paling besar akan dibai'at oleh kaum

muslimin sebagai Khalifah. Imam Ali r.a. merupakan seorang tokoh yang paling banyak mempunyai syarat untuk dibai'at. Ia bukan hanya anggota Ahlu-Bait Rasul Allah s.a.w.,

melainkan juga ia seorang genial, ilmuwan dan pahlawan perang.

Sudah sejak dulu, tokoh-tokoh Bani Umayyah selain Utsman r.a. memandang Imam Ali r.a.

dengan perasaan benci dan murka. Mereka tidak bisa melupakan betapa banyaknya korban kafir

Qureiys, termasuk sanak famili mereka, yang mati di ujung pedang Imam Ali r.a. dalam

pertempuran-pertempuran antara kaum musyrikin dan kaum muslimin di masa lalu.

Mereka juga tahu, bahwa di masa Khalifah Utsman r.a. masih hidup, Imam Ali r.a. satu-satunya

orang yang selalu mengingatkan Khalifah tentang besarnva bahaya yang akan timbul akibat

permainan para pembantunya yang terdiri dari orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a.

jugalah yang selalu menasehati Khalifah Utsman r.a. supaya mencegah berlarut-larutnya

pacuan memperebutkan harta kekayaan secara tidak sah, yang sedang terjadi di kalangan

sementara lapisan ummat lslam. Bahkan Imam Ali r.a. jugalah yang bila perlu melancarkan

kritik-kritik secara terbuka dan jujur terhadap kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a.

Tokoh-tokoh Bani Umayyah tahu benar, bahwa Imam Ali r.a. adalah juru bicara yang paling

mustahak mewakili jeritan sebagian besar kaum muslimin, yang ingin dipulihkan kembali

suasana kehidupan seperti yang pernah terjadi pada zaman hidupnya Rasul Allah s.a.w.

Golongan Bani Umayyah memandang Imam Ali r.a. sebagai penghambat dan selalu menjadi

perintang bagi mereka dalam usaha meraih kedudukan dan keuntungan-keuntungan materil.

Seandainya Khalifah Utsman r.a. sebelum wafatnya berwasyiat supaya Imam Ali r.a. dibai'at

sebagai Khalifah penggantinya, golongan Bani Umayyah sudah pasti tidak akan

melaksanakannya.

Pertentangan antara Muawiyah dan pendukung-pendukungnya dengan Imam Ali r.a. dan

pendukung-pendukungnya, pada hakekatnya bukanlah pertentangan antar-golongan, melainkan

pertentangan antara kehidupan yang terangsang oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dengan

kehidupan zuhud. Hal ini akan terbukti kebenarannya pada babak-babak terakhir dari proses

pertentangan antara keduabelah fihak.

Mencari Calon Pengganti

Dalam situasi tidak menentu, kaum pemberontak dan penduduk Madinah berpendapat, bahwa

hanya salah seorang di antara 5 orang sahabat dekat Rasul Allah s.a.w. yang patut dibai'at

sebagai Khalifah pengganti. Mereka itu ialah yang dulu bersama-sama Utsman bin Affan r.a.

pernah dicalonkan oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. sebelum wafatnya. Namun dari yang 5

orang itu, hanya 4 orang saja yang masih hidup. Abdurrahman bin A'uf sudah tiada.

Tragedi pembunuhan Khalifah Utsman r.a. sangat menggoncangkan dan memilukan Sa'ad bin

Abi Waqqash. Karena sebelum itu, Khalifah Umar r.a. juga mati terbunuh, sungguhpun

pembunuhnya bukan seorang muslim (tetapi majusi) dan terjadinya bukan akibat konflik politik

di antara sesama kaum muslimin. Oleh karena itu Sa'ad bin Abi Waqqash mengambil keputusan

untuk menjauhkan diri sama sekali dari kegiatan politik kenegaraan dan kemasyarakatan. Ia

tidak mau melibatkan diri atau dilibatkan dalam proses pembai'atan seorang Khalifah baru.

Dengan demikian dari 4 orang sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang masih hidup, kini hanya

tinggal 3 orang saja yang dapat dicalonkan.

Jalan mennuju terbai'atnya Khalifah ke 4 ternyata tidak selicin seperti yang diperkirakan orang.

Dalam proses permulaan saja sudah menghadapi kesukaran berat. Karena ketiga orang calon

tersebut sudah tidak ada yang bersedia dibai'at sebagai Khalifah. Usaha pendekatan yang

dilakukan oleh kaum muslimin yang memberontak terhadap Khalifah Utsman r.a. sukar diterima

oleh tiga orang sahabat Rasul Allah s.a.w. itu. Kemacetan berlangsung selama 8 hari.

Sedangkan kaum muslimin, baik yang tinggal di kota Madinah maupun yang di daerah-daerah,

cemas-cemas gelisah menantikan adanya pimpinan yang baru.

Tragedi pembunuhan kejam terhadap Khalifah Utsman r.a., dikuasainya ibukota oleh kaum

pemberontak, macetnya pemilihan Khalifah baru, semuanya merupakan kerawanan yang amat

berbahaya. Pasukan-pasukan muslimin yang sedang bertugas di luar daerah dengan gelisah

menunggu adanya instruksi-instruksi baru. Jika krisis itu berlarut-larut, mereka sangat khawatir

kalau-kalau musuh Islam akan memanfaatkan krisis kepemimpinan itu sebagai peluang yang

baik untuk melancarkan serangan-serangan.

Di Mesir, seorang Kepala Daerah yang tidak disukai oleh penduduk dan dituntut

pemberhentiannya (Abdullah bin Abi Sarah) masih tetap berkuasa. bersama dengan itu, seorang

Kepala Daerah yang terkenal cakap dan erat hubungannya dengan Khalifah Utsman r.a., yakni

Muawiyah, hanya sibuk dalam kegiatan meningkatkan kedudukannya.

Kaum pemberontak menyadari, tanpa kerjasama dan bantuan aktif kaum Muhajirin dan Anshar,

mereka tidak akan berhasil menentukan pengganti Khalifah Utsman r.a. Setelah mengadakan

pembahasan secara mendalam tentang situasi gawat yang akan timbul akibat tidak adanya

pemerintahan pusat, dan dengan dukungan kaum Muhajirin dan Anshar, para sahabat Rasul

Allah s.a.w., sepakat untuk secepat mungkin mengadakan pemilihan seorang calon, yang akan

dibai'at sebagai Khalifah baru. Calon itu ialah Imam Ali r.a.

Imam Ali r.a. di Bai`at

Menurut penuturan Abu Mihnaf, sebagaimana tercantum dalam Syarh Nahjil Balaghah, jilid IV,

halaman 8, dikatakan, bahwa ketika itu kaum Muhajirin dan Anshar berkumpul di masjid Rasul

Allah s.a.w. Dengan harap-harap cemas mereka menunggu berita tentang siapa yang akan

menjadi Khalifah baru. Masjid yang menurut ukuran masa itu sudah cukup besar, penuh sesak

dibanjiri orang. Di antara tokoh-tokoh muslimin yang menonjol tampak hadir Ammar bin Yasir,

Abul Haitsam bin At Thaihan, Malik bin 'Ijlan dan Abu Ayub bin Yazid. Mereka bulat

berpendapat, bahwa hanya Ali bin Abi Thalib r.a. lah tokoh yang paling mustahak dibai'at.

Diantara mereka yang paling gigih berjuang agar Imam Ali r.a. dibai'at ialah Ammar bin Yasir.

Dalam mengutarakan usulnya, pertama-tama Ammar mengemukakan rasa syukur karena kaum

Muhajirin tidak terlibat dalam pembunuhan Khalifah Utsman r.a.

Kepada kaum Anshar, Ammar menyatakan, jika kaum Anshar hendak mengkesampingkan

kepentingan mereka sendiri, maka yang paling baik ialah membai'at Ali bin Abi Thalib sebagai

Khalifah. Ali bin Abi Thalib, kata Ammar, mempunyai keutamaan dan ia pun orang yang paling

dini memeluk Islam.

Kepada kaum Muhajirin, Ammar mengatakan: kalian sudah mengenal betul siapa Ali bin Abi

Thalib. Oleh karena itu aku tak perlu menguraikan kelebihan-kelebihannya lebih panjang lebar

lagi. Kita tidak melihat ada orang lain yang lebih tepat dan lebih baik untuk diserahi tugas itu!

Usul Ammar secara spontan disambut hangat dan didukung oleh yang hadir. Malahan kaum

Muhajirin mengatakan: "Bagi kami, ia memang satu-satunya orang yang paling afdhal!"

Setelah tercapai kata sepakat, semua yang hadir berdiri serentak, kemudian berangkat

bersama-sama ke rumah Imam Ali r.a. Di depan rumahnya mereka beramai-ramai minta dan

mendesak agar Imam Ali r.a. keluar. Setelah Imam Ali r.a. keluar, semua orang berteriak agar

ia bersedia mengulurkan tangan sebagai tanda persetujuan dibai'at menjadi Amirul Mukminin.

Pada mulanya Imam Ali r.a. menolak dibai'at sebagai Khalifah. Dengan terus terang ia

menyatakan : "Aku lebih baik menjadi wazir yang membantu daripada menjadi seorang Amir

yang berkuasa. Siapa pun yang kalian bai'at sebagai Khalifah, akan kuterima dengan rela.

Ingatlah, kita akan menghadapi banyak hal yang menggoncangkan hati dan fikiran."

Jawaban Imam Ali r.a. yang seperti itu tak dapat diterima sebagai alasan oleh banyak kaum

muslimin yang waktu itu datang berkerumun di rumahnya. Mereka tetap mendesak atau

setengah memaksa, supaya Imam Ali r.a. bersedia dibai'at oleh mereka sebagai Khalifah.

Dengan mantap mereka menegaskan pendirian: "Tidak ada orang lain yang dapat menegakkan

pemerintahan dan hukum-hukum Islam selain anda. Kami khawatir terhadap ummat Islam, jika

kekhalifahan jatuh ketangan orang lain…"

Beberapa saat lamanya terjadi saling-tolak dan saling tukar pendapat antara Imam Ali r.a.

dengan mereka. Para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan para pemuka kaum Muhajirin dan

Anshar mengemukakan alasannya masing-masing tentang apa sebabnya mereka mempercayakan

kepemimpinan tertinggi kepada Imam Ali r.a. Betapapun kuat dan benarnya alasan yang

mereka ajukan Imam Ali r.a. tetap menyadari, jika ia menerima pembai'atan mereka pasti akan

menghadapi berbagai macam tantangan dan kesulitan gawat.

Baru setelah Imam Ali r.a. yakin benar, bahwa kaum muslimin memang sangat menginginkan

pimpinannya, dengan perasaaan berat ia menyatakan kesediaannya untuk menerima

pembai'atan mereka. Satu-satunya alasan yang mendorong Imam Ali r.a. bersedia dibai'at, ialah

demi kejayaan Islam, keutuhan persatuan dan kepentingan kaum muslimin. Rasa tanggung

jawabnya yang besar atas terpeliharanya nilai-nilai peninggalan Rasul Allah s.a.w.,

membuatnya siap menerima tanggung jawab berat di atas pundaknya. Sungguh pun demikian,

ia tidak pernah lengah, bahwa situasi yang ditinggalkan oleh Khalifah Utsman r.a. benar-benar

merupakan tantangan besar yang harus ditanggulangi.

Keputusan Imam Ali r.a. untuk bersedia dibai'at sebagai Amirul Mukminin disambut dengan

perasaan lega dan gembira oleh sebagian besar kaum muslimin.

Kepada mereka Imam Ali r.a. meminta supaya pembai'atan dilakukan di masjid agar dapat

disaksikan oleh umum. Kemudian Imam Ali r.a. juga memperingatkan, jika sampai ada seorang

saja yang menyatakan terus terang tidak menyukai dirinya, maka ia tidak akan bersedia

dibai'at. Mereka dapat menyetujui permintaan Imam Ali r.a., lalu ramai-ramai pergi menuju

masjid.

Setibanya di Masjid, ternyata orang pertama yang menyatakan bai'atnya ialah Thalhah bin

Ubaidillah. Menyaksikan kesigapan Thalhah itu, seorang bernama Qubaisah bin Dzuaib Al Asadiy

menanggapi: "Aku Khawatir, jangan-jangan pembai'atan Thalhah itu tidak sempurna!" Ia

mengucapkan tanggapannya itu karena tangan Thalhah memang lumpuh sebelah. Orang lain

membiarkan komentar itu lewat begitu saja.

Zubair bin Al-'Awwam segera mengikuti jejak Thalhah menyatakan bai'at kepada Imam Ali r.a.

Sesudah itu barulah kaum Muhajirin dan Anshar menyatakan bai'atnya masing-masing. Yang

tidak ikut menyatakan bai'at ialah Muhammad bin Maslamah, Hasan bin Tsabit, Abdullah bin

Salam, Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Saad bin Abi Waqqash, dan Ka'ab bin Malik.

Tata cara pembai'atan dilakukan menurut prosedur sebagaimana yang lazim berlaku atas diri

Khalifah-khalifah sebelumnya. Sesuai dengan tradisi pada masa itu, sesaat setelah dibai'at

Amirul Mukminin Imam Ali r.a. menyampaikan amanatnya yang pertama. Antara lain

mengatakan:

"Sebenarnya aku ini adalah seorang yang sama saja seperti kalian. Tidak ada perbedaan dengan

kalian dalam masalah hak dan kewajiban. Hendaknya kalian menyadari, bahwa ujian telah

datang dari Allah s.w.t. Berbagai cobaan dan fitnah telah datang mendekati kita seperti

datangnya malam yang gelap-gulita. Tidak ada seorang pun yang sanggup mengelak dan

menahan datangnya cobaan dan fitnah itu, kecuali mereka yang sabar dan berpandangan jauh.

Semoga Allah memberikan bantuan dan perlindungan.

"Hati-hatilah kalian sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah s.w.t. kepada kalian, dan

berhentilah pada apa yang menjadi larangan-Nya. Dalam hal itu janganlah kalian bertindak

tergesa-gesa, sebelum kalian menerima penjelasan yang akan kuberikan.

"Ketahuilah bahwa Allah s.w.t. di atas 'Arsy-Nya Maha Mengetahui, bahwa sebenarnya aku ini

tidak merasa senang dengan kedudukan yang kalian berikan kepadaku. Sebab aku pernah

mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. berkata: "Setiap waliy (penguasa atau pimpinan)

sesudahku, yang diserahi pimpinan atas kaum muslimin, pada hari kiyamat kelak akan

diberdirikan pada ujung jembatan dan para Malaikat akan membawa lembaran riwayat

hidupnya. Jika waliy itu seorang yang adil, Allah akan menyelamatkannya karena keadilannya.

Jika waliy itu seorang yang dzalim, jembatan itu akan goncang, lemah dan kemudian lenyaplah

kekuatannya. Akhirnya orang itu akan jatuh ke dalam api neraka…"

Demikianlah tutur Abu Mihnaf yang uraian riwayatnya tidak berbeda jauh dari versi sejarah

yang ditulis oleh beberapa penulis lain. Lebih jauh Abu Mihnaf mengatakan, bahwa orang-orang

yang tidak ikut serta menyatakan bai'at, diminta oleh Imam Ali r.a. supaya menemuinya secara

langsung pada lain kesempatan.

Pada suatu hari ketika Abdullah bin Umar diminta pernyataan bai'atnya, ia menolak. Ia baru

bersedia membai'at Imam Ali r.a., kalau semua orang sudah menyatakan bai'atnya. Melihat

sikap Abdullah yang sedemikian itu, Al Asytar, seorang sahabat setia Imam Ali r.a. dan terkenal

sebagai pahlawan perang, tidak dapat menahan kemarahannya. Kepada Imam Ali r.a., Al-Asytar

berkata: "Ya Amiral Mukminin, pedangku sudah lama menganggur. Biar kupenggal saja

lehernya!"

"Aku tidak ingin ia menyatakan bai'at secara terpaksa," ujar Imam Ali r.a. dengan tenang

menanggapi ucapan Al-Asytar. "Biarkanlah!"

Setelah Abdullah, datanglah Sa'ad bin Abi Waqqash atas panggilan Imam Ali r.a. Ketika diminta

pernyataan bai'atnya, ia menjawab supaya dirinya jangan diganggu dulu. "Kalau sudah tidak ada

orang lain kecuali aku sendiri, barulah aku akan membai'at anda."

Mendengar keterangan Sa'ad itu, Imam Ali r.a. berkata kepada seorang sahabatnya: "Sa'ad bin

Abi Waqqash memang tidak berdusta. Biarkan saja dia!" Imam Ali r.a. kemudian

memperbolehkan Sa'ad meninggalkan tempat.

Waktu tiba giliran Usamah bin Zaid, ia mengatakan: "Aku ini kan maula anda. Aku sama sekali

tidak mempunyai persoalan atau niat hendak menentang anda. Pada saat semua orang sudah

menjadi tenang kembali aku pasti akan menyatakan bai'at kepada anda."

Usamah lalu diperbolehkan meninggalkan tempat. Tampaknya Usamah bin Zaid merupakan

orang terakhir yang dipanggil untuk menyatakan bai'at. Sebab, setelah itu tidak ada orang lain

lagi yang dipanggil untuk diminta bai'atnya.

Delapan hari sepeninggal Khalifah Utsman bin Affan r.a., kini kaum muslimin telah mempunyai

Khalifah baru. Menurut catatan sejarah, jangka waktu 8 hari itu merupakan waktu terpanjang

dalam usaha penetapan seorang Khalifah. Satu keadaan yang cukup menggambarkan betapa

resahnya fikiran kaum muslimin pada saat itu. Delapan hari lamanya kaum muslimin hidup

tanpa pimpinan.

Kota Madinah yang sejak masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. menjadi pusat kepemimpinan agama

dan pemerintahan, selama delapan hari itu berada dalam keadaan serba tak menentu. Tidak

ada kemantapan dan tidak ada ketertiban hukum. Kaum pembangkang yang datang dari luar

Madinah, banyak yang berusaha mengadakan kegiatan pengacauan di kota tersebut. Beberapa

kelompok kaum Muhajirin dan Anshar mengalami berbagai hambatan dalam menentukan sikap.

Sedangkan pemuka-pemuka Bani Umayyah, secara diam-diam mulai "mengkambing-hitamkan"

Imam Ali r.a. Mereka melancarkan tuduhan, bahwa Imam Ali r.a. lah yang "membunuh Utsman"

atau "melindungi kaum pemberontak". Dengan tuduhan itu mereka mengharap Imam Ali r.a.

akan ditinggalkan oleh para pendukungnya dan dengan demikian ia bisa terguling dari

kedudukannya sebagai Amirul Mukminin.


Bab X : BENIH-BENIH PEPERANGAN SAUDARA

Tidak berapa lama sesudah Imam Ali r.a. mengucapkan amanatnya yang pertama, muncullah

persoalan baru. Waktu itu hanyak orang sedang berkerumun untuk menerima pembagian harta

ghanimah dari Baitul Mal.

Kepada seorang jurutulis, Ubaidillah bin Abi Rafi', Amirul Mukminin memerintahkan supaya

pembagian dimulai dari kaum Muhajirin, dengan masing-masing diberi 3 dinar. Kemudian

menyusul kaum Anshar. Semuanya mendapat jumlah yang sama, yaitu 3 dinar.

Waktu itu, seorang bernama Sahl bin Hanif bertanya: apakah dua budaknya yang baru

dimerdekakan hari itu, juga akan menerima jumlah yang sama? Dengan tegas Imam Ali r.a.

mengatakan, bahwa semua orang menerima hak yang sama yaitu 3 dinar.

Ketika pembagian ghanimah berlangsung, beberapa orang tokoh penting tidak hadir. Di antara

yang tidak hadir itu ialah Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Al-'Awwam, Abdullah bin Umar,

Said bin Al-Ash.

Perubahan Drastis

Beberapa waktu setelah pembagian ghanimah dilaksanakan, timbullah ketegangan antara Imam

Ali r.a. dengan sekelompok orang-orang Qureiys. Peristiwanya terjadi di masjid Madinah,

sehabis shalat subuh. Selesai mengimami shalat, Amirul Mukminin duduk seorang diri.

Kemudian ia didekati oleh Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu'aith.

Atas nama teman-temannya (termasuk yang tidak hadir pada saat pembagian ghanimah) ia

mengatakan kepada Imam Ali: "Ya Abal Hasan (nama panggilan Imam Ali ra.), hati kami semua

sudah pernah anda sakiti. Tentang aku sendiri, ayahku telah anda tewaskan dalam perang Badr,

tetapi aku tetap dapat bersabar. Lalu dalam peristiwa lain, anda tidak mau menolong

saudaraku. Tentaug Sa'id, dalam perang Badr juga ayahnya telah anda tewaskan. Sedang

mengenai Marwan, anda juga pernah menghina ayahnya di depan Khalifah Utsman bin Affan,

yaitu ketika Marwan diangkat sebagai pembantunya."

Setelah berhenti sejenak untuk mengubah gaya duduknya, Al-Walid melanjutkan: "Mereka itu

semuanya adalah kaum kerabat anda sendiri dan di antara mereka itu bahkan terdapat

beberapa orang terkemuka dari Bani Abdi Manaf. Sekarang kami telah membai'at anda, tetapi

kami mengajukan syarat. Yaitu agar anda tetap memberikan kepada kami jumlah pembagian

ghanimah yang selama ini sudah diberikan oleh Khalifah Utsman kepada kami."

Setelah berfikir sejenak, Al-Walid meneruskan: "Selain itu, anda harus dapat menjatuhkan

hukuman mati kepada orang yang telah membunuh Utsman bin Affan. Ketahuilah, jika kami ini

merasa takut kepada anda, tentu anda sudah kami tinggalkan dan kami bergabung dengan

Muawiyah di Syam."

Kalimat yang terakhir ini jelas merupakan intimidasi politik yang dapat dikaitkan dengan

rencana gelap Muawiyah bin Abi Sofyan di Syam.

Tanpa ragu-ragu Imam Ali r.a. secara terus terang menjawab intimidasi politik Al-Walid itu. Ia

berkata: "Tentang tindakan-tindakan yang kalian sebut sebagai menyakiti hati kalian,

sebenarnya kebenaran Allah-lah yang menyakiti hati kalian. Tentang jumlah pembagian harta

yang selama ini kalian terima dari Khalifah Utsman, kutegaskan, bahwa aku tidak akan mengurangi atau menambah hak yang telah ditetapkan Allah bagi kalian dan bagi orang-orang

lain. Adapun mengenai keinginan kalian supaya aku menjatuhkan hukuman mati kepada orang

yang membunuh Utsman, jika aku memang wajib membunuhnya, tentu sudah kubunuh sejak

kemarin-kemarin. Jika kalian takut kepadaku, akulah yang akan menjamin keselamatan kalian.

Tetapi jika aku yang takut kepada kalian, kalian akan kusuruh pergi!"

Mendengar jawaban Imam Ali r.a. yang begitu tegas, Al-Walid beranjak meninggalkan tempat,

kemudian mendekati teman-temannya yang sedang bergerombol di sudut lain dalam masjid.

Kepada mereka Al-Walid menyampaikan apa yang baru didengarnya sendiri dari Amirul

Mukminin. Tampaknya mereka tidak mempunyai persamaan pendapat tentang bagaimana cara

menunjukkan sikap menentang Imam Ali r.a. dan bagaimana cara menyebarkan rasa

permusuhan terhadapnya.

Perbedaan pendapat di antara kelompok Al-Walid itu didengar oleh Ammar bin Yasir, yang

kemudian segera menyampaikannya kepada teman-temannya. Ammar mengajak beberapa

orang temannya untuk menentukan tindakan sendiri terhadap kelompok Al-Walid, guna

membuktikan kesetiaannya kepada Imam Ali r.a. Akan tetapi setelah dipertimbangkan masakmasak,

akhirnya mereka berpendapat lebih baik melaporkan kejadian itu kepada Amirul

Mukminin.

Bersama-sama dengan Abul Haitsam, Abu Ayub bin Hanif dan beberapa orang lainnya lagi,

Ammar bin Yasir mendatangi Imam Ali r.a. Setelah melaporkan apa yang didengarnya, ia

mendorong agar Imam Ali r.a. cepat bertindak untuk memperkokoh kepemimpinannya. Kata

Ammar kepada Imam Ali r.a.

"Marahilah kaum anda itu. Mereka itu ialah orang-orang Qureiys yang telah menciderai janji

setia kepada anda. Secara diam-diam mereka membisikkan supaya kami melawan anda. Mereka

tidak menyukai anda, hanya karena anda menjalankan kebijaksanaan sesuai dengan tauladan

yang telah diberikan Rasul Allah s.a.w. Mereka merasa kehilangan sesuatu yang selama ini

dirasakan enak dan menguntungkan mereka. Pada saat anda memperlakukan mereka sama

dengan orang-orang lain, mereka menentang. Kemudian mereka mengadakan hubunganhubungan

dengan musuh-musuhmu dan memuji-mujinya. Secara terang-terangan mereka telah

mengambil sikap yang berlainan dengan orang banyak. Mereka ikut-ikut menuntut balas atas

kematian Utsman bin Affan. Mereka bersekongkol dengan orang-orang sesat. Sekarang

bagaimana sikap anda?"

Mendengar apa yang dikatakan Ammar dan kawan-kawannya, Imam Ali r.a. langsung keluar

menuju masjid. Dengan menyandang pedang dan bertongkat busur, ia naik ke mimbar

menghadapi orang banyak yang sedang berkumpul. Setelah mengucap syukur atas nikmat yang

dilimpahkan Allah s.w.t., Amirul Mukminin memperingatkan kepada semua yang hadir, bahwa

nikmat yang diterima oleh manusia dari Al Khalik sekaligus juga merupakan ujian: apakah kita

bersyukur atau berkufur.

Barang siapa bersyukur, kata Imam Ali r.a., akan memperoleh tambahan nikmat lebih banyak

lagi. Sedang siapa yang berkufur, ia pasti akan mendapat siksa berat. Orang yang paling mulia

di sisi Allah dan yang terdekat hubungannya dengan Dia, ialah orang yang paling taqwa dan

patuh kepada perintah dan larangan-Nya, yang paling setia kepada-Nya, yang paling ikhlas

mengikuti Sunnah Rasul-Nya dan yang paling teguh melaksanakan Kitab-Nya.

Di antara kita, kata Imam Ali r.a. seterusnya, tidak ada orang yang memperoleh kelebihan dan

keutamaan, kecuali mereka yang paling taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Untuk memperkuat kata-katanya itu Imam Ali r.a. memperingatkan hadirin kepada bunyi Surah

Al-Hujurat ayat 13, yang artinya: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari

seorang pria dan seorang wanita, kemudian menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku agar kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di

sisi Allah, ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu."

Selanjutnya dengan nada keras Amirul Mukminin memperingatkan kelompok-kelompok kaum

Muhajirin dan Anshar yang sudah tergiur oleh harta kekayaan dan kesenangan-kesenangan

duniawi lainnya. Ia menegaskan, bahwa masalah pembagian harta ghanimah, kepada seorang

tidak akan diberikan lebih banyak dari yang lain. Dikatakannya juga: "Allah telah mengizinkan

harta tersebut dibagi-bagi. Harta itu adalah milik Allah, sedang kalian adalah hamba-hamba-

Nya yang berserah diri kepada-Nya."

Seusai menjelaskan prinsip kebijaksanaannya, Amirul Mukminin memerintahkan Ammar bin

Yasir dan Abdurrahrnan bin Hazal Al-Qureysiy supaya memanggil Thalhah dan Zubair yang

waktu itu duduk agak jauh. Sambil memandang tajam kepada kedua orang tersebut, setelah

berada dekatnya, Imam Ali r.a. berkata: "Katakan terus terang, bukankah kalian telah

membai'atku dan berjanji setia kepadaku? Bukankah kalian telah minta kepadaku agar aku

bersedia dibai'at, padahal waktu itu aku sendiri tidak berminat?"

"Ya, benar," jawab kedua orang itu.

"Benarkah waktu itu kalian tidak dipaksa oleh siapa pun? Bukankah dengan pernyataan bai'at

kalian itu, kalian telah menyatakan janji setia dan taat kepadaku?" tanya Imam Ali r.a. lagi.

"Ya, benar," jawab kedua orang itu pula.

"Lantas, sesudah semuanya itu apakah yang membuat kalian sampai bersikap seperti yang

kuketahui itu?" tanya Imam Ali r.a. lagi untuk mendapat jawaban pasti.

"Kami membai'atmu dengan syarat," jawab kedua orang itu. "Bahwa anda tidak akan mengambil

keputusan atau tindakan tanpa persetujuan kami, dan anda akan selalu mengajak kami

bermusyawarah, serta tidak akan memaksakan sesuatu kepada kami. Sebab sebagaimana anda

ketahui, kami ini mempunyai kelebihan dibanding dengan orang lain. Tetapi anda

melaksanakan pembagian harta ghanimah berdasarkan keputusan sendiri tanpa bermusyawarah

dan tanpa sepengetahuan kami."

"Kalian sebenarnya dendam karena soal yang amat kecil dan mengharapkan sesuatu yang sangat

besar," kata Amirul Mukminin sambil menekan perasaan, menanggapi jawaban Thalhah dan

Zubair tadi. "Mohonlah pengampunan kepada Allah, Dia akan mengampuni kalian! Bukankah

dengan ucapan itu kalian bermaksud hendak mengatakan, bahwa aku ini telah menghapus hak

kalian dan aku berlaku dzalim terhadap kalian mengenai hal itu? Apakah aku meremehkan atau

menutup muka terhadap hukum atau terhadap sesuatu yang sudah menjadi hak kaum

muslimin?"

"Na'udzubillah," sela Thalhah dan Zubair.

"Lantas, apa sebab kalian tidak menyukai perintahku dan mempunyai pendirian lain?" tanya

Imam Ali r.a. pula sebelum meneruskan penjelasannya.

"Kami tidak sependapat dengan anda," ujar kedua orang itu, "karena anda tidak melaksanakan

pembagian seperti yang telah dilakukan oleh Utsman bin Affan.Hak kami anda samakan saja

dengan hak orang lain. Kami ini anda sama-ratakan dengan orangorang yang tidak seperti kami,

sedang kami ini adalah orang-orang yang sudah berjuang dengan pedang, tombak dan senjatasenjata

lainnya. Kami telah berjuang sampai da'wah risalah berhasil ditegakkan dan

dimenangkan. Kami telah berhasil pula menundukkan mereka yang tidak menyukai Islam…"

Demikian tangkisan dua orang itu, terhadap desakan pertanyaan bertubi-tubi yang diajukan Imam Ali r.a. Dengan tidak menanggapi secara langsung pembicaraan tentang jasa-jasa

mereka, Imam Ali r.a. berkata lebih jauh:

"Setelah kepemimpinan itu kuterima, aku selalu berpegang dan tidak pernah berpaling dari

Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Kujalankan dan kuikuti apa saja yang ditunjukkan oleh

kedua-duanya. Apa yang sudah ditunjukkan oleh Allah dan Rasul-Nya, aku tidak memerlukan

pendapat kalian. Jika ada masalah hukum yang tidak kutemui penjelasannya, baik di dalam

Kitab Allah maupun dalam Sunnah Rasul-Nya, dan hal itu memang perlu dimusyawarahkan,

kalian tentu kuajak bermusyawarah.

"Tentang pembagian harta ghanimah secara merata, bukan aku yang mula-mula menetapkan

hukumnya. Aku dan kalian berdua sama-sama menyaksikan bahwa Rasul Allah s.a.w. sendirilah

yang menetapkannya. Kitab Allah juga menyebutkan hal itu, yaitu Kitab Suci yang tidak

mengandung kebatilan sedikitpun, baik secara terang maupun samar.

"Adapun pernyataan kalian yang mengatakan kalian berhak menerima pembagian lebih banyak

dari orang lain, karena kalian telah berjuang dengan pedang dan tombak, ketahuilah…, bahwa

sebelum kalian sudah ada orang-orang yang memeluk Islam lebih dahulu. Mereka pun berjuang

membela Islam dengan pedang dan tombak. Walaupun demikian, Rasul Allah s.a.w. tidak

memberi kepada mereka jumlah yang lebih banyak daripada orang lain. Rasul Allah s.a.w. tidak

memberi keistimewaan kepada mereka hanya karena memeluk Islam lebih dini. Allah sendirilah

pada hari kiyamat kelak akan melimpahkan pahala kepada mereka."

Penjelasan Imam Ali r.a. yang dramatis itu didengarkan oleh semua yang berada di dalam

masjid. Mengakhiri penjelasannya, Imam Ali r.a. berkata: "Kalian berdua dan juga orang lain,

dari aku tidak akan memperoleh lebih dari yang sudah menjadi hak masing-masing. Semoga

Allah s.w.t. berkenan membuka hatiku dan hati kalian untuk dapat menerima kebenaran.

Semoga pula Ia melimpahkan kesabaran kepadaku dan kepada kalian. Allah akan memberikan

rahmat-Nya kepada setiap orang yang setelah mengetahui kebenaran lalu bersedia

membelanya, dan yang setelah mengetahui kedzaliman lalu bersedia menolaknya…"

Dialog tersebut kami kutip dari tulisan salah seorang tokoh kaum Mu'tazilah, Abu Ja'far Al-

Iskafiy, yang berasal dari Bagdad. Dalam tanggapannya, Al-Iskafiy mengungkapkan, bahwa

pembagian harta ghanimah yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. itu sama seperti yang dahulu

dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar r.a. Al-Iskafiy bertanya: Mengapa Thalhah dan kawankawannya

itu dulu tidak pernah menolak? Perbedaan apakah yang mereka tentang sekarang ini?

Al-Iskafiy kemudian menjawab pertanyaan sendiri:

"Apa yang dulu dilakukan oleh Abu Bakar r.a. sepenuhnya sesuai dengan kebijaksanaan yang

telah ditempuh oleh Rasul Allah s.a.w. semasa hidupnya. Tetapi pada masa Khalifah Umar Ibnul

Khattab, ia melaksanakan pembagian yang berbeda. Yaitu memberi kepada segolongan orang

lebih banyak daripada yang diberikan kepada golongan lain. Dengan demikian mereka yang

menerima lebih banyak itu menjadi terbiasa dimanjakan, sampai lupa kepada cara pembagian

sebelumnya.

"Masa pemerintahan Umar r.a. relatif lama, sehingga fikiran orang-orang itu cukup terpengaruh

oleh kesenangan akan harta yang mendatangkan kenikmatan duniawi. Sementara itu orang lain

yang menerima lebih sedikit, menjadi terbiasa pula menerima apa adanya. Tidak ada di antara

dua golongan itu yang menduga bakal dikembalikannya sistim pembagian seperti yang dulu

dilakukan oleh Rasul Allah s.a.w. dan Abu Bakar r.a. Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman

bin Affan, ia melaksanakan sistim pembagian sama seperti yang dilaksanakan Khalifah Umar.

Oleh karena itu kaum muslimin bertambah yakin tentang benarnya sistim pembagian yang

dilaksanakan oleh Umar dan Utsman r.a.

"Dengan mengembalikan sistim pembagian seperti yang berlaku pada masa Rasul Allah s.a.w. dan Abu Bakar, sama artinya Imam Ali telah menghapuskan sistim pembagian yang dilakukan

Khalifah Umar dan Khalifah Utsman. Sebagaimanan diketahui, kurun waktu yang memisahkan

antara kekhalifahan Abu Bakar dan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ialah 22 tahun. Jadi hampir

satu generasi! Itulah sebabnya mengapa perubahan drastis yang dilakukan oleh Imam Ali r.a.

sangat menyentak hati mereka yang sudah terbiasa menerima pembagian lebih banyak selama

22 tahun."

Masalah pembagian harta ghanimah tersebut, ternyata telah mencuramkan jurang

pertentangan antara Imam Ali r.a. di satu fihak dengan Thalhah Zubair dan kawan-kawannya di

fihak lain. Perselisihan mengenai hal itu kemudian berkembang menjadi pertentangan politik,

sehingga meningkat sedemikian rupa tajamnya, sampai membahayakan keutuhan persatuan

ummat Islam. Terutama setelah perselisihan itu ditunggangi oleh Muawiyah bin Abu Sufvan dari

Syam, yang berhasil mengalihkan persoalan dari masalah sistim pembagian harta ghanimah,

menjadi menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman r.a.

Pertentangan terbuka

Kehidupan kenegaraan dan tata kemasyarakatan yang ditinggalkan Khalifah Utsman bin Affan

r.a. memang berada dalam situasi dan kondisi yang tidak menguntungkan Imam Ali r.a. sebagai

Khalifah. Sejak sebelum dibai'at Imam Ali r.a. sudah membayangkan adanya kesulitan-kesulitan

besar yang bakal dihadapi. Berbagai macam problema sosial, politik dan ekonomi ternyata

muncul dalam waktu yang bersamaan.

Langkah pertama untuk membenahi keadaan yang serba tak mantap, tentu saja memulihkan

ketertiban, khususnya di ibukota, Madinah. Ribuan kaum pemberontak yang bertebaran di

ibukota berhasil dihimbau dan dijinakkan sampai mereka berhasil dipulihkan kembali ke dalam

kehidupan normal. Bagi Imam Ali r.a. tidak ada kemungkinan untuk bertindak terhadap ribuan

kaum pemberontak yang telah mengakibatkan terbunuhnya Khalifah Utsman r.a. Bertindak

terhadap mereka, berarti menyulut api perang saudara.

Bagi Imam Ali r.a. memang tidak ada pilihan lain yang lebih baik. Daripada bermusuhan dengan

kaum muslimin yang menuntut terlaksananya kebenaran dan keadilan, lebih baik berhadap

hadapan dengan tokoh-tokoh Bani Umayyah, betapa pun besarnya resiko yang akan dipikul.

Dan ternyata, tidak bertindaknya Imam Ali r.a. terhadap kaum mulimin yang memberontak

terhadap Khalifah Utsman r.a., dijadikan alasan dan dalih oleh lawan-lawan politiknya untuk

menggerakan kekuatan oposisi dan perlawanan. Kemungkinan itu pun telah diperhitungkan oleh

Imam Ali r.a.

Ada lagi tindakan dan langkah Imam Ali r.a: yang sangat menjengkelkan lawan-lawan

politiknya. Yaitu tindakan menertibkan aparatur pemerintahan. Penguasa-penguasa daerah

yang selama 6 tahun terakhir masa pemerintahan Khalifah Utsman r.a. terbukti telah

menyalah-gunakan wewenang untuk kepentingan pribadi dan golongan, digeser seorang demi

seorang. Banyak pejabat tinggi yang tidak dipakai lagi. Di antara mereka ialah Marwan bin Al

Hakam, seorang pembantu Khalifah Utsman r.a. yang sangat dominan kekuasaannya, yang

kemudian lari meninggalkan Madinah. Juga Abdullah bin Abi Sarah digeser dari kedudukkannya

sebagai penguasa daerah Mesir. Imam Ali r.a. juga berniat hendak mengganti penguasa daerah

Syam yang berpengaruh itu, Muawiyah bin Abi Sufyan.

Sebelum bertindak melaksanakan penertiban, Imam Ali r.a. telah mengadakan pertukaran

pendapat dengan para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar. Ia yakin, bahwa hanya dengan

aparatur yang bersih dan sepenuhnya mengabdi kepentingan agama dan ummat saja,

pemerintahnya akan dapat berjalan dengan lancar dan kebenaran serta keadilan dapat

ditegakkan. Imam Ali r.a. tidak tanggung-tanggung dalam bertindak menjalankan penertiban.

Siapa saja yang terbukti tidak mengabdikan amalnya kepada agama Allah dan ummat Islam,

digeser tanpa tawar-menawar. Satu persatu tokoh-tokoh yang tidak atau kurang jujur tersingkir tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk membela diri.

Tetapi ada seorang tokoh dan pejabat teras yang pantang menyerah. Ia adalah Muawiyah bin

Abi Sufyan, yang dalam waktu relatif panjang menjadi seorang penguasa di daerah Syam. Ia

bukan hanya membangkang, bahkan menentang kekhalifahan Imam Ali r.a. secara terangterangan.

Sejak mendengar Imam Ali r.a. terbai'at sebagai Amirul Mukminin, Muawiyah telah memasang

kuda-kuda untuk menjegal kepemimpinan Imam Ali r.a. Apa yang disiapkan oleh Muawiyah

bukannya tidak dimengerti oleh Amirul Mukminin, dan justru itulah motivasinya hendak

menggeser Muawiyah.

Banyak sahabat Imam Ali r.a. yang mengemukakan kekhawatiran bila Imam Ali r.a.

melaksanakan niatnya. Mereka menasehatkan agar Imam Ali r.a. tidak cepat-cepat mengambil

tindakan terhadap Muawiyah. Mereka mengatakan: "Kami yakin Muawiyah tidak akan tinggal

diam bila dia disingkirkan dari kedudukannya. Sebaliknya, ada kemungkinan ia merasa cukup

puas jika sementara dibiarkan memegang jabatan itu."

Tetapi Imam Ali r.a. sebagai seorang pemimpin yang selalu bersikap prinsipal, tak mau mundur

sejengkal pun. Ia menegaskan pendiriannya: "Aku tidak dapat lagi memakai Muawiyah,

sekalipun hanya untuk dua hari! Aku tidak akan mempergunakannya dalam tugas apa pun juga.

Bahkan ia tidak akan kuperbolehkan menghadiri peristiwa upacara penting. Ia juga tidak akan

mendapat kedudukan dalam pasukan muslimin!"

Pendirian Imam Ali r.a. sudah tidak dapat ditawar lagi, Keputusan diambil: mengganti

Muawiyah dengan Sahl bin Hunaif, seorang dari kaum Anshar.

Tindakan yang diambil Imam Ali r.a. ini mengawali pertentangan terbuka dengan Muawiyah bin

Abi Sufyan. Pada waktu Sahl bin Hunaif tiba di Damsyik, Muawiyah secara terang-terangan

menolaknya. Malahan ia berani memerintahkan agar Sahl cepat kembali ke Madinah. Peristiwa

ini membuat para sahabat Imam Ali r.a. bertambah khawatir.

Penolakan dan pembangkangan Muawiyah ternyata sama sekali tidak menggetarkan fikiran

Imam Ali r.a. Ia berpegang teguh pada firman Allah yang menegaskan, bahwa tiap muslim wajib

taat kepada Waliyyul Amri (pemegang kekuasaan) selama Waliyyul Amri tidak berlaku durhaka

terhadap Allah dan Rasul-Nya. Bagi Imam Ali r.a., perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya adalah di

atas segala-galanya.

Untuk melaksanakan dan membela perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya ia tidak menghitung

untung rugi. Di saat banyak sekali orang yang merasa gelisah, ia tetap tenang menghadapi

pembangkangan Muawiyah. Ia mengirim utusan ke Damsyik, membawa surat perintah, agar

seterimanya surat itu Muawiyah datang ke Madinah untuk menyatakan bai'atnya kepada Amirul

Mukminin.

Kampanye keji

Menyadari kekuatannya sendiri, Muawiyah tidak gugup menerima surat perintah Amirul

Mukminin. Selesai dibaca, dengan sengaja surat itu dibiarkan begitu saja. Utusan Imam Ali r.a.

dibiarkan menunggu sampai tidak tentu batas waktunya. Tiga bulan kemudian barulah

Muawiyah membalas surat Imam Ali r.a.

Seorang dari Bani 'Absy diperintahkan berangkat membawa surat jawaban untuk Imam Ali r.a.

di Madinah. Untuk memperlihatkan sikapnya yang tidak mengakui Imam Ali r.a. sebagai

Khalifah dan Amirul Mukminin, pada sampul surat jawaban itu ditulis: "Dari Muawiyah bin Abi

Sufyan kepada Ali bin Abi Thalib."

Sebelum utusan itu berangkat ke Madinah, Muawiyah berpesan agar setibanya di kota tujuan,

sampul surat itu diperlihatkan dulu kepada orang banyak, sebagai pemberitahuan bahwa ia

tidak mengakui Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin.

Pesan Muawiyah itu dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh orang dari Bani 'Absy. Secara

demonstratif sampul surat Muawiyah diperlihatkan kepada orang banyak. Semua orang ingin

tahu apa yang terjadi akibat pembangkangan Muawiyah. Orang beramai-ramai mengikuti

perjalanan kurir itu menuju ke tempat kediaman Imam Ali r.a. Mereka juga ingin tahu apa

sesungguhnya isi surat tersebut. Kedatangan kurir Muawiyah disambut dengan tenang oleh

Imam Ali r.a. Setelah dibuka, ternyata dalam sampul itu hanya terdapat secarik kertas yang

bertuliskan "Bismillaahhir Rahamanir Rahim".

"Apa maksud ini?" tanya Amirul Mukminin kepada kurir dengan heran. "Selain ini apakah ada

berita lain?"

Setelah didesak beberapa kali, akhirnya kurir mengatakan, bahwa ia ingin memperoleh jaminan

atas keamanan dan keselamatannya lebih dulu, sebelum memberikan keterangan. Permintaan

itu dikabulkan oleh Amirul Mukminin.

Setelah itu barulah kurir menceritakan apa yang sedang terjadi di Syam. Katanya: "Penduduk

Syam telah bersepakat hendak menuntut balas atas kematian Utsman bin Affan… Mereka telah

mengeluarkan jubah Khalifah Utsman yang berlumuran darah dan jari isterinya, Na'ilah, yang

terpotong pada saat berusaha menahan ayunan pedang. Semuanya itu dipertontonkan kepada

penduduk Syam. Melihat kenyataan ini penduduk di sana menangisi kematian Khalifah Utsman

sambil mengelilingi jubahnya."

Dari keterangan kurir itu dapatlah ditarik kesimpulan, bahwa atas usaha Muawiyah, penduduk

Syam sekarang telah menuduh Imam Ali r.a. sebagai pelaku makar terhadap Khalifah Utsman

r.a. dan mereka tidak akan membiarkan peristiwa terbunuhnya Khalifah Utsman r.a.

Apa yang dikatakan kurir Muawiyah benar-benar membangkitkan kemarahan semua orang yang

hadir. Hanya karena kebijaksanaan Imam Ali r.a. saja kurir itu terjamin keselamatannya.

Orang-orang Madinah sangat gusar mendengar fitnah yang dilancarkan Muawiyah terhadap

Amirul Mukminin. Lebih-lebih mereka yang dulu memberontak terhadap Khalifah Utsman r.a.

Semua yang dilakukan Muawiyah di Damsyik merupakan muslihat politik yang dirajut bersama

seorang penasehatnya yang terkenal kaya dengan tipu-daya: Amr bin Al-Ash. Sejak Imam Ali

r.a. terbai'at sebagai Khalifah, dua sejoli itu telah bertekad hendak menempuh segala cara

guna menggagalkan usaha Imam Ali r.a. memantapkan kedudukannya sebagai Amirul Mukminin.

Sebab Muawiyah yakin benar, bahwa Imam Ali r.a. tidak akan memberi kesempatan sedikit pun

kepadanya untuk terus berkuasa di daerah. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan satu dalih

yang dapat menjatuhkan martabat Imam Ali r.a.

Guna keperluan itu Muawiyah dengan sengaja mendatangkan jubah Khalifah Utsman r.a. dan

kepingan-kepingan jari Na'ilah dari Madinah ke Damsyik. Hanya sekedar untuk dipertontonkan

kepada khalayak ramai. Jubah Khalifah yang berlumuran darah itu digantungkan dalam masjid

Damsyik, sebagai bukti kematian Khalifah yang sangat mengerikan. Sedangkan kepingankepingan

jari Na'ilah, isteri Khalifah Utsman r.a., diletakkan dekat jubah sebagai saksi bisu.

Bersamaan dengan itu dikampanyekan secara besar-besaran kepada penduduk, bahwa orang

yang membunuh Khalifah Utsman r.a. bukan lain hanyalah Imam Ali r.a. sendiri! Muslihat politik

yang dijalankan oleh Muawiyah dan Amr bin Al-Ash itu ternyata berhasil mengelabui fikiran

penduduk yang tidak memahami seluk beluk politik. Dengan cepat Syam dilanda suasana anti

Imam Ali r.a. Ini merupakan awal persiapan pemberontakan bersenjata yang tak lama lagi akan

dicetuskan Muawiyah.

Untuk menanggulangi fitnah sekeji itu, Imam Ali r.a. segera mengambil langkah-langkah

seperlunya. Ia segera mengumpulkan kaum Muhajirin dan Anshar. Diantara mereka itu hadir

dua orang tokoh terkemuka yang sedang beroposisi, yaitu Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin

Al-'Awwam. Setelah menjelaskan kegiatan fitnah yang dilakukan Muawiyah di Syam, Imam Ali

r.a. mengemukakan gagasan untuk mencegah meluasnya fitnah yang berbahaya itu.

Gagasan yang dikemukakan Imam Ali r.a. ternyata mendapat sambutan dingin. Bahkan Thalhah

dan Zubair, yang merupakan tokoh-tokoh terdini membai'at Imam Ali r.a., dengan alasan

hendak berangkat umrah ke Makkah, menyatakan tak dapat memenuhi ajakan Imam Ali r.a.

Persiapan Thalhah & Zubair

Penolakan terselubung yang dikemukakan Thalhah dan Zubair ternyata mempunyai ekor yang

panjang dan tambah merawankan kedudukan Imam Ali r.a. sebagai Amirul Mukminin.

Sejak terbai'atnya Imam Ali r.a. kini kota Makkah menjadi tempat berkumpulnya tokoh-tokoh

yang terkena tindakan penertiban Amirul Mukminin, terutama mereka yang berasal dari

kalangan Bani Umayyah. Di antara mereka termasuk Marwan bin Al-Hakam yang cepat-cepat

meninggalkan Madinah. Kini Thalhah dan Zubair berangkat pula ke Makkah.

Ketika itu, Sitti Aisyah r.a. juga berada di Makkah setelah menunaikan ibadah haji. Beberapa

waktu sesudah terbunuhnya Khalifah Utsman ia mendengar desas-desus, bahwa Thalhah bin

Ubaidillah terbai'at sebagai Khalifah pengganti Utsman r.a. Mendengar selentingan itu ia segera

mengambil putusan untuk cepat-cepat kembali ke Madinah.Tetapi di tengah perjalanan, ia

menerima kabar pasti, bahwa yang terbai'at sebagai Khalifah bukannya Thalhah, melainkan Ali

bin Abi Thalib r.a. Begitu mendengar kepastian demikian; ia membatalkan rencana pulang ke

Madinah. Ia kembali ke Makkah. Hatinya sangat masgul mendengar berita itu.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sejak terjadinya peristiwa yang dalam sejarah dikenal

dengan nama Haditsul ifk, Sitti Aisyah sukar berbaik-baik kembali dengan Imam Ali r.a.

Peristiwa itu terjadi ketika Rasul Allah s.a.w. melancarkan ekspedisi terhadap kaum kafir dari

Banu Musthaliq. Dalam ekspedisi itu beliau mengajak isterinya, Sitti Aisyah. Dalam perjalanan

pulang ke Madinah, Sitti Aisyah ketinggalan dari rombongan, gara-gara mencari barang

perhiasannya yang hilang di perjalanan.

Untunglah ketika itu ia dijumpai oleh Shafwan bin Mu'atthal, yang berangkat pulang lebih

belakangan. Bukan main terkejutnya Shafwan melihat Ummul Mukminin seorang diri di tengahtengah

padang pasir. Isteri Rasul Allah s.a.w. itu dipersilakan naik ke atas unta, sedangkan

Shafwan sendiri berjalan kaki sambil menuntun. Siang hari mereka berdua baru memasuki kota

Madinah dengan disaksikan oleh orang banyak. Semuanya heran mengapa Ummul Mukminin

mengendarai unta seorang pemuda yang tampan itu.

Mengenai kejadian itu Rasul Allah s.a.w. pada mulanya tidak pernah berfikir lebih jauh. Akan

tetapi secara diam-diam peristiwa itu menjadi pembicaraan orang ramai dan menjadi buah

bibir yang dibisik-bisikkan orang dalam tiap kesempatan. Sumber utama yang menyiarkan

desas-desus tuduhan Sitti Aisyah berbuat serong ialah seorang munafik bernama Abdullah bin

Ubaiy. Desas-desus itu akhirnya sampai ke telinga Rasul Allah s.a.w. Berita santer tentang hal

itu sangat menggelisahkan hati beliau. Kemudian beliau minta pendapat para sahabat mengenai

hal itu.

Konon Usamah bin Zaid sama sekali tidak dapat mempercayai benarnya desas-desus itu. Sedang

Imam Ali r.a. waktu itu mengatakan: Ya Rasul Allah, masih banyak wanita lain! Imam Ali r.a.

mengucapkan kata-kata itu hanya sekedar untuk berusaha menenangkan perasaan Rasul Allah

s.a.w. yang tampak gelisah.

Ucapan itulah yang kemudian menjadi sebab retaknya hubungan baik antara Sitti Aisyah dengan

Imam Ali r.a. Ucapan tersebut oleh Sitti Aisyah r.a. dirasakan sangat menusuk hati, sedang

Imam Ali r.a. sendiri selama itu tidak pernah berubah sikap terhadap Sitti Aisyah r.a. Ia

senantiasa hormat kepada Ummul Mukminin. Lebih-lebih setelah peristiwa Ifk itu terselesaikan

dengan tuntas berdasarkan turunnya firman Allah s.w.t. yang menegaskan, bahwa Sitti Aisyah

bersih dari perbuatan nista seperti yang dituduhkan orang.

Gara-gara Haditsul Ifk itulah, Sitti Aisyah r.a. sangat kecewa mendengar Ali bin Abi Thalib r.a.

dibai'at sebagai Khalifah oleh penduduk Madinah. Setibanya di Makkah ia berniat hendak

menentang pembai'atan Ali bin Abi Thalib r.a. Ia berkata: "Utsman mati terbunuh secara

madzlum. Oleh karena itu adalah kewajiban kaum muslimin untuk menuntut balas atas

kematiannya."

Menurut Ummul Mukminin itu, Khalifah pengganti Utsman r.a. harus dilakukan pembai'atannya

dalam suasana tertib dan damai. Ini sama artinya dengan mengatakan, bahwa Imam Ali r.a.

dipilih hanya oleh kaum pemberontak yang telah membunuh Khalifah.

Pendirian Sitti Aisyah ini lebih diperkuat lagi oleh kedatangan Thalhah dan Zubair. Dua orang

itu di Makkah mengadakan kampanye menentang pembai'atan Imam Ali r.a. Pada mulanya

banyak orang bertanya-tanya tentang pendirian aneh kedua orang itu. Bukankah mereka telah

menyatakan bai'atnya kepada Imam Ali r.a.? Tanda-tanya di hati orang-orang itu mereka jawab

dengan mengatakan, bahwa bai'atnya dilakukan karena terpaksa. Dipaksa oleh kekuatan

bersenjata kaum pemberontak.

Bagaimana pun juga kini di Makkah telah tersusun kekuatan penentang Imam Ali r.a. Kekuatan

ini makin hari makin bertambah. Mereka bertekad hendak memaksa Imam Ali r.a. melepaskan

kekhalifahannya. Dengan bantuan bekas-bekas pejabat yang terkena penggeseran dan

penertiban; dengan dukungan orang-orang Qureiys yang masih menyimpan rasa sakit hati; di

perkuat lagi oleh kehadiran Ummul Mukminin, sekarang Thalhah dan Zubair berhasil

mengorganisasi pasukan bersenjata kurang lebih berkekuatan 3.000 orang.

Kekuatan anti Imam Ali r.a. ini mempunyai tujuan ganda: menuntut balas atas kematian

Khalifah Utsman r.a. dan menggulingkan Imam Ali r.a. dari kedudukannya sebagai Amirul

Mukminin. Mereka berpendirian, setelah dua tujuan itu tercapai barulah diadakan pemilihan

Khalifah baru dalam suasana bebas dari tekanan dan paksaan.

Dua tantangan besar yang sedang dihadapi Imam Ali r.a. mewarnai kehidupan kaum muslimin

pada tahun empat-puluhan Hijriyah. Damsyik dan Makkah menuduh Imam Ali r.a. sebagai orang

yang setidak-tidaknya ikut bertanggungjawab atas terbunuhnya Khalifah Utsman r.a. Dalam

periode itu praktis ummat Islam terpecah dalam tiga kelompok besar:

1. Kelompok Madinah di bawah pimpinan Imam Ali r.a.

2. Kelompok Damsyik di bawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan.

3. Kelompok Makkah di bawah pimpinan trio Thalhah, Zubair dan Sitti Aisyah r.a.

Masing-masing kelompok ditunjang oleh kekuatan bersenjata yang cukup tangguh dan

berpengalaman.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, terjadi satu krisis politik sangat gawat yang

mengarah kepada peperangan besar antara sesama kaum muslimin. Inilah gejala nyata dari apa

yang pernah dikemukakan Rasul Allah s.a.w. semasa hidupnya, bahwa pada satu ketika akan

terjadi fitnah besar di kalangan ummatnya, laksana datangnya malam gelap-gulita yang

berlangsung dari awal sampai akhir.

Dalam menghadapi kelompok Madinah, tampaknya seakan-akan kelompok Damsyik berdiri di belakang kelompok Makkah. Mengenai hal ini kitab Ali wa'Ashruhu, halaman 970-971,

mengemukakan sebuah fakta sejarah. Fakta itu berupa sepucuk surat Muawiyah yang

dikirimkan kepada Zubair melalui seorang dari Bani 'Amir. Dalam surat itu Muawiyah antara lain

menulis:

"Bismillaahir Rahmanir Rahim. Kepada hamba Allah Zubair Amirul Mukminin, dari Muawiyah bin

Abi Sufyan. Salamun' alaika, ammaa ba' du: penduduk Syam telah kuajak bersama-sama

membait'at anda. Mereka menyambut baik dan semuanya taat. Begitu taatnya seperti ternak.

Sekarang hanya tinggal Kufah dan Bashrah saja yang belum anda dapatkan. Hendaknya anda

jangan sampai kedahuluan Ali bin Abi Thalib. Sesudah kedua kota itu berada di tangan anda, Ali

tidak akan mempunyai apa-apa lagi. Aku juga sudah membai'at Thalhah bin Ubaidillah sebagai

pengganti anda di kemudian hari. Oleh karena itu hendaknya kalian supaya terang-terangan

menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman, dan kerahkanlah semua orang ke arah itu.

Kalian supaya sungguh-sungguh giat dan cepat bergerak. Allah akan memenangkan kalian dan

tidak akan membantu musuh-musuh kalian."

Surat tersebut oleh Zubair diperlihatkan kepada Thalhah, bahkan dengan dibacakan sekaligus.

Tanpa disadari dua orang itu sudah masuk perangkap Muawiyah. Dengan siasat itu Muawiyah

hendak melemahkan posisi Imam Ali r.a. dan menghabiskan kekuatan orang-orang lain yang

mengincar kursi kekhalifahan.

Ke Bashrah

Untuk melaksanakan rencana kelompok Makkah, yaitu menuntut balas atas kematian Khalifah

Utsman r.a. dan menggulingkan Imam Ali r.a. dari kedudukannya sebagai Khalifah, Thalhah,

Zubair dan Sitti Aisyah r.a. berangkat ke Bashrah.

Pada saat Sitti Aisyah r.a. hendak berangkat, orang-orang mencarikan seekor unta yang kuat

guna mengangkut haudaj-nya Ya'laa bin Ummayyah menyerahkan unta kepunyaannya yang

sangat besar, bernama "Askar". Sitti Aisyah r.a. kagum sekali melihat unta itu. Akan tetapi

ketika serati memanggil-manggil untanya dengan berulang-ulang menyebut "Askar", ia mundur

dan berkata kepada serati unta itu: "Kempalikan dia. Aku tidak membutuhkan unta itu!"

Sewaktu ditanya apakah sebabnya Ummul Mukminin menyuruh unta "Askar" dikembalikan, Sitti

Aisyah r.a. menjawab, bahwa Rasul Allah s.a.w. pernah menyebut-nyebut nama unta itu dan ia

dilarang mengendarainya. Ummul Mukminin minta dicarikan unta lain. Orang tak berhasil

mencarikan unta seperti "Askar". Agar jangan diketahui oleh Ummul Mukminin, bahwa unta

yang akan dikendarainya adalah tetap unta "Askar", maka jilal-nya "Askar" diganti dengan jilal

lain, tanpa sepengetahuan Sitti A.isyah r.a. Ummul Mukminin merasa puas dengan unta yang

dikatakan bukan "Askar" itu.

Sementara itu Al-Asytar dari Madinah mengirim sepucuk surat kepada Sitti A.isyah r.a. Tulis Al-

Asytar: "Ibu adalah isteri Rasul A.llah s.a.w. Beliau telah memerintahkan Ibu supaya tetap

tinggal di rumah. Jika Ibu menuruti perintah beliau, bagi Ibu itu lebib baik. Tetapi jika Ibu

tetap tidak mau selain hendak memegang pentung, menanggalkan baju kerudung dan

menampakkan kesucian diri di depan mata orang banyak, Ibu akan kami perangi, sampai kami

dapat memulangkan Ibu kembali ke rumah, tempat yang sudah diridhoi Allah bagi Ibu."

Sebagai jawaban atas surat Al-Asytar itu, Sitti Aisyah r.a. menulis: "Engkau adalah orang Arab

pertama yang melancarkan fitnah, menganjurkan perpecahan dan membelakangi para Imam,

yakni para Khalifah. Engkau mengerti bahwa dirimu tidak akan dapat melemahkan Allah.

Engkau akan menerima pembalasan dari Allah atas perbuatanmu yang dzalim terhadap seorang

Khalifah, yakni Utsman bin Affan. Suratmu sudah kuterima dan aku sudah memahami apa yang

ada di dalamnya. Allah sajalah yang akan melindungi diriku dari perbuatanmu. Akan lumpuhlah

semua orang yang sesat dan durhaka seperti engkau itu, insyaa Allah!"

Waktu perjalanan Sitti Aisyah r.a. sampai di Hau'ab, yaitu tempat sumber air kepunyaan Bani

Amir Sha'sha'ah, ia digonggong banyak anjing, sampai unta yang dikendarainya lari kencang

sukar dikendalikan. Waktu itu terdengarlah suara orang berteriak: "Hai, tahukah kalian, betapa

banyaknya anjing di Hau'ab ini dan alangkah keras gonggongannya!"

Mendengar teriakan itu, Sitti Aisyah r.a. menarik tali kekang sekeras-kerasnya sambil berteriak

kuat: "Itu anjing-anjing Hau'ab! Kembalikan aku! Aku mendengar sendiri Rasul Allah pernah

mengatakan...," ia menyebut apa yang pernah dikatakan oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya.

Saat itu Sitti Aisyah mendengar suara orang lain mengatakan: "Pelan-pelan! Kita sudah

melewati Hau'ab!"

"Apakah ada saksi yang membenarkan perkataanmu?" tanya Sitti Aisyah r.a. mengejar suara

tadi.

Kemudian beberapa orang Badui yang menjadi pengawal meneriakkan sumpah, bahwa benarbenar

tempat itu sudah bukan Hau'ab lagi. Oleh karena itu Sitti Aisyah r.a. lalu melanjutkan

perjalanan.

Ketika Sitti Aisyah r.a. tiba di Harf Abi Musa, dekat Bashrah, penguasa daerah Bashrah yang

diangkat oleh Khalifah Imam Ali r.a., bernama Utsman bin Hanif, mengirim Abul Aswad Ad

Dualiy guna menemui rombongan. Abul Aswad bertemu dengan Sitti Aisyah r.a. dan

menanyakan maksud perjalanannya. Kepada Abul Aswad, Sitti Aisyah r.a. menjelaskan, bahwa

ia datang untuk menuntut balas atas kematian Khalifah Utsman bin Affan.

Menanggapi keterangan Sitti Aisyah r.a. itu, Abul Aswad mengatakan, bahwa di Bashrah tidak

ada seorang pun yang ikut ambil bagian dalam peristiwa pembunuhan Utsman bin Affan.

Engkau benar, kata Sitti Aisyah r.a. menukas. Tetapi ada orang-orang yang bersama-sama Ali

bin Abi Thalib di Madinah. Aku datang untuk mengerahkan penduduk Bashrah supaya bangkit

memerangi dia. Kalau kami bisa marah karena kalian dicambuk oleh Utsman, mengapa kami tak

bisa marah terhadap mereka yang mengangkat pedang terhadap Utsman?

Menjawab pernyataan Sitti Aisyah r.a. tadi, Abul Aswad berkata: Ibu adalah wanita pingitan

Rasul Allah s.a.w. Beliau memerintahkan Ibu supaya tetap tinggal di rumah dan membaca Kitab

Allah. Tidak ada kewajiban perang bagi wanita. Wanita juga tidak layak menuntut balas atas

terbunuhnya seseorang. Bagi Utsman, Ali sebenarnya lebih baik dari pada Ibu. Ia lebih dekat

hubungan silaturahminya, karena dua-duanya sama-sama putera keturunan Abdi Manaf.

Sitti Aisyah r.a. tak memperdulikan kata-kata Abul Aswad itu. Ia tetap menyatakan kebulatan

tekadnya: Aku tidak akan pergi sebelum melaksanakan maksudku. Hai Abul Aswad, tanya Sitti

Aisyah r.a., apakah engkau mengira akan ada orang di Bashrah ini yang hendak memerangi aku?

Demi Allah, kata Abul Aswad, perang yang hendak Ibu cetuskan itu akan sangat hebat.

Waktu Abul Aswad beranjak hendak meninggalkan tempat, datanglah Zubair bin Al-'Awwam.

Kepadanya Abul Aswad berkata: "Hai Abu Abdullah --nama panggilan Zubair-- banyak orang

yang menyaksikan, waktu Abu Bakar dahulu dibai'at sebagai Khalifah engkau mengangkat

pedangmu sambil berkata: "Tidak ada orang yang lebih afdhal untuk memegang kepempimpinan

ummat selain Ali bin Abi Thalib. Bagaimana keadaanmu sekarang dengan pernyataanmu itu?"

"Datanglah engkau menemui Thalhah dan dengarkan sendiri apa yang dikatakan olehnya!" kata

Zubair, menanggapi pertanyaan Abul Aswad tadi.

Abul Aswad terus pergi menemui Thalhah. Dari dialog yang berlangsung antara dia dengan Thalhah, Abul Aswad mengetahui, bahwa Thalhah sudah bertekad bulat melancarkan

pemberontakan bersenjata.

Waktu Sitti Aisyah r.a. mendengar, bahwa pasukan Imam Ali r.a. sudah tiba dekat Bashrah, dari

jurusan lain, ia segera menulis surat kepada Zaid bin Shuhan Al-Abdiy: "Dari Aisyah binti Abu

Bakar Ash Shiddiq, isteri Nabi s.a.w., kepada ananda yang setia Zaid bin Shuhan. Hendaknya

engkau tetap tinggal di rumah. Cegahlah orang-orang jangan sampai membantu Ali. Kuharap

dapat segera menerima kabar tentang yang kuinginkan darimu. Bagiku, engkau adalah seorang

kerabat yang paling dapat dipercaya. Wassalam."

Menjawab surat Sitti Aisyah r.a. di atas, Zaid bin Shuhan menulis: "Dari Zaid bin Shuhan kepada

Aisyah binti Abu Bakar. Sesungguhnya Allah telah memberi perintah kepada Ibu dan kepadaku.

Ibu diperintahkan supaya tetap tinggal di rumah, dan aku diperintahkan supaya berjuang. Surat

Ibu sudah kuterima. Ibu memerintahkan supaya aku menjalankan sesuatu yang berlainan dari

pada apa yang diperintahkan Allah kepadaku. Aku akan berbuat seperti apa yang diperintahkan

Allah kepadaku dan hendaknya Ibu pun berbuat seperti yang diperintahkan Allah kepada Ibu.

Perintah Ibu tidak dapat kupatuhi, dan surat Ibu tidak akan terjawab lagi. Wassalam."

Menurut Abu Bikrah, ketika Asy Syi'biy menceritakan pengalamannya dalam perang "Jamal"

(Unta) mengatakan, bahwa waktu Thalhah dan Zubair datang menjumpai Sitti Aisyah, kulihat

semua perintah dan larangan berada di tangannya. Waktu itu aku segera teringat kepada

sebuah hadits yang kudengar berasal dari Rasul Allah s.a.w. yang mengatakan: "Sesuatu kaum

tidak akan berhasil jika urusannya dipimpin oleh seorang wanita."

Teringat itu aku cepat-cepat menjauhkan diri. Dalam peperangan tersebut, unta yang bernama

"Askar" (yang dikendarai Siti Aisyah r.a.) merupakan lambang satu-satunya bagi pasukan

Thalhah.

Waktu pasukan Thalhah dan pasukan Imam Ali r.a. masing-masing telah siaga untuk bertempur,

Sitti Aisyah r.a. mengucapkan pidato. Pidatonya juga ditujukan kepada pengikut-pengikut Imam

Ali r.a.: "…Kita telah bertekad hendak menuntut balas atas kematian Utsman melalui jalan

kekerasan. Ia adalah seorang Amirul Mukminin, tempat bernaung dan tempat berlindung yang

terbaik. Bukankah dulu kalian minta kepadanya supaya ia bersedia memenuhi keinginan kalian?

Hal itu sudah ia penuhi. Tetapi setelah kalian memandangnya sebagai orang yang suci bersih

seperti baju yang baru dicuci, kemudian kalian memusuhinya. Lantas kalian berdosa dengan

menumpahkan darahnya secara haram. Demi Allah, ia adalah orang yang jauh lebih bersih dan

lebih bertaqwa kepada Allah dibanding kalian…!"

Hampir dalam waktu yang bersamaan, Imam Ali r.a. selaku Amirul Mukminin, juga

mengucapkan pidato, sambil memberi instruksi-instruksi: "…Janganlah kalian memerangi

mereka sebelum mereka menyerang lebih dulu. Alhamdulillah, kalian berada di atas hujjah

(alasan) yang benar. Kalian harus berhenti memerangi mereka jika mereka mengajukan hujjah

lain kepada kalian. Tetapi jika kalian terpaksa harus berperang, janganlah kalian menganiaya

orang-orang yang luka parah.

"Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah kalian mengejar mereka dengan cara-cara

yang licik. Janganlah membuka hal-hal yang memalukan mereka dan janganlah sampai

mencincang orang yang sudah tewas."

"Jika kalian tiba di tempat pemukiman mereka, janganlah kalian melanggar kesopanan,

janganlah kalian memasuki rumah, janganlah kalian mengambil hak milik mereka walau sedikit,

jangan sekali-sekali menggelisahkan dan mengganggu wanita, walau mereka itu mencaci-maki

kalian atau mencerca pemimpin-pemimpin dan orang-orang shaleh yang ada di tengah-tengah

kalian. Sebab mereka itu adalah manusia-manusia yang lemah jasmani, jiwa dan fikiran. Kita

semua telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya supaya membiarkan kaum wanita, sekalipun mereka itu orang-orang musyrik. Jika sampai ada lelaki yang memukul mereka dengan tongkat

atau dengan pelepah kurma, lelaki itu sungguh amat tercela dan akan menerima hukuman di

kemudian hari…"

Sebelum salah satu fihak menyulut api peperangan, Ali bin Abi Thalib r.a. menulis sepucuk

surat kepada Thalhah dan Zubair. Isinya sebagai berikut:

"Kalian maklum bahwa aku tidak pernah minta dibai'at oleh mereka, tetapi mereka sendirilah

yang membai'at diriku. Kalian berdua termasuk orang-orang yang memilih dan membai'a't

diriku. Orang tidak membai'at diriku untuk suatu kekuasaan istimewa. Jika kalian membai'atku

karena terpaksa, aku mempunyai alasan untuk bertindak terhadap kalian, sebab kalian

berpura-pura taat, tetapi sebenarnya menyembunyikan rasa permusuhan. Namun jika kalian

membai'atku benar-benar karena taat, hendaklah kalian segera kembali ke jalan Allah."

"Hai Zubair, engkau dahulu adalah seorang pasukan berkuda Rasul Allah s.a.w. dan pembela

beliau. Dan engkau hai Thalhah, engkau adalah salah seorang kami-tua kaum Muhajirin.

Seandainya dulu kalian tidak mau membai'atku, itu akan lebih mudah bagi kalian untuk keluar

dari bai'at yang sudah kalian ikrarkan sendiri.

"Kalian menuduh aku telah membunuh Utsman. Padahal aku, kalian dan penduduk Madinah

semua mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Kalian menuduh aku melindungi para

pembunuh Utsman. Padahal anak-anak Utsman sendiri semuanya menyatakan taat kepadaku

dan mengadukan orang-orang yang membunuh ayah mereka kepadaku. Tetapi kalau ternyata

Utsman memang mati terbunuh karena madzlum atau dzalim, misalnya, lantas kalian berdua

mau apa?! Kalian berdua telah mengikrarkan bai'at kepadaku, tetapi sekarang kalian melakukan

dua perbuatan yang amat tercela: menciderai bai'at kalian sendiri dan menghasut Ummul

Mukminin hingga meninggalkan rumah."

Sedang kepada Ummul Mukminin, Sitti Aisyah r.a., Imam Ali r.a. mengirim sepucuk surat. Isinya

antara lain:

"Bunda telah keluar meninggalkan rumah dengan perasaan marah demi Allah dan Rasul-Nya.

Bunda menuntut suatu persoalan yang bukan menjadi urusan Bunda. Apa urusan kaum wanita

dengan peperangan atau pertempuran? Bunda menuntut balas atas kematian Utsman, demi

Allah, orang-orang yang menghadapkan Bunda kepada marabahaya serta menghasut Bunda

supaya berbuat pelanggaran, jauh lebih besar dosanya terhadap diri Bunda dibanding dengan

pembunuh-pembunuh Utsman bin Affan. Aku tidak marah jika Bunda tidak marah, dan aku

tidak membuat kegoncangan jika Bunda tidak membuat kegoncangan. Kuharap supaya Bunda

tetap bertaqwa kepada Allah dan pulang kembali ke rumah Bunda."

Sebagai jawaban terhadap surat Imam Ali r.a., Thalhah dan Zubair menulis: "Engkau telah

menempuh jalan seperti yang kau tempuh sepeninggal Utsman sekarang ini; dan engkau tidak

akan kembali lagi selama engkau merasa perlu menempuh jalan yang sedang kautempuh.

Jalankanlah apa yang menjadi kemauanmu. Engkau tidak akan merasa puas selama kami belum

taat, dan kami tidak akan taat kepadamu untuk selama-lamanya. Lakukanlah apa saja yang

hendak kau perbuat."

Sedangkan Ummul Mukminin, Sitti Aisyah r.a. hanya menulis jawaban singkat: "Persoalannya

sudah jelas. Engkau tidak perlu menyalahkan lagi. Wassalam."

Perang Unta

Sekalipun sebenarnya peperangan sudah tak dapat dihindarkan lagi, namun Imam Ali r.a. masih

tetap berusaha untuk dapat mencegah berkobarnya peperangan sesama muslimin. Ia teringat

kenangan lama yang indah, ketika bersama Thalhah dan Zubair berjuang bahu membahu

menegakkan Islam di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w.

Imam Ali r.a. berusaha bertemu muka dengan dua tokoh bekas sahabatnya, yang saat itu telah

mengangkat senjata untuk menentangnya. Pada pertemuan muka dengan Thalhah, Imam Ali

r.a. berkata: "Sahabatku Thalhah! Engkau menyimpan isterimu sendiri di rumahmu, tetapi

engkau datang ke tempat ini membawa isteri Rasul Allah s.a.w. Dengan mempergunakan diakah

engkau berperang?"

Pertanyaan Imam Ali r.a. ini nampaknya sangat mengenai hati Thalhah. Ia tak bisa

menjawabnya sama sekali dan hanya dapat menundukkan kepala untuk kemudian pelan-pelan

menarik diri dari barisan yang dipimpinnya.

Ketika Marwan bin Al-Hakam melihat Thalhah memisahkan diri dari pasukan dan meninggalkan

medan pertempuran (ia tergabung dalam pasukan Thalhah), segera mengikuti sambil berkata:

"Demi Allah, aku tak akan melepaskan tekadku untuk menebus darah Utsman. Aku tidak akan

membiarkan dia (Thalhah) lolos. Akan kubunuh dia, karena dia juga turut membunuh Utsman!"

Beberapa saat kemudian ia membidikkan anak panahnya ke arah Thalhah. Ketika anak panah

itu lepas dari busurnya, lambung Thalhah menjadi sasaran. Gugurlah salah seorang sahabat

Rasul Allah s.a.w. tertembus panah yang dilepaskan oleh anggota pasukannya sendiri.

Sementara itu ketika Imam Ali r.a. berhasil bertemu muka dengan Zubair, ia bertanya: "Hai

Abdullah, apakah yang mendorongmu sampai datang ke tempat ini?"

"Untuk menuntut balas atas kematian Utsman," jawab Zubair dengan terus terang.

"Engkau menuntut balas atas kematian Utsman?" tanya Imam Ali r.a. menanggapi jawaban

Zubair tadi. "Allah mengutuk orang yang membunuhnya! Hai Zubair, engkau kuingatkan.

Ingatkah dahulu ketika engkau berjalan bersama Rasul Allah s.a.w. waktu itu beliau bertopang

pada tanganmu, melewati aku, kemudian beliau tersenyum padaku, lalu menoleh kepadamu

sambil berkata: "Hai Zubair, engkau kelak akan memerangi Ali secara dzalim!"

"Oh, ya," jawab Zubair, setelah beberapa saat mengingat-ingat.

"Mengapa engkau sekarang memerangi aku?" tanya Imam Ali r.a. pula.

"Demi Allah," sahut Zubair, "aku lupa. Seandainya aku ingat aku tidak akan keluar untuk

memerangimu."

Selesai mengucapkan kata-kata itu, Zubair cepat-cepat keluar meninggalkan pasukan dengan

air mata membasahi pipi. Tetapi malang bagi Zubair. Salah seorang anggota pasukan Imam Ali

yang bernama Ammar bin Jarmuz ketika melihat Zubair terpisah dari pasukannya, segera diikuti

dan kemudian dibunuh.

Perang Unta, atau Waq'atul Jamal, antara sesama kaum muslimin, sudah tak dapat dihindarkan

lagi. Dalam tulisannya tentang Waq'atul Jamal, Al-Madainiy dan Al-Waqidiy antara lain

mengatakan, bahwa dua pasukan saling berhadapan, pasukan Thalhah dan penduduk Bashrah,

terus menerus dibakar semangatnya dengan syair-syair agitasi. Mereka dikerahkan untuk

mengarungi pertempuran sengit melawan Imam Ali r.a. dan pasukannya.

Di tengah-tengah pertempuran sedang berlangsung sengit, muncul Auf bin Qhatan Adh Dhabiy.

Ia berteriak: "Tidak ada pihak yang harus dituntut atas kematian Utsman selain Ali bin Abi

Thalib dan anak-anaknya!" Sejalan dengan itu ia menarik tali kekang unta yang dikendarai Sitti

Aisyah r.a. sambil bersyair:

Hai ibu…, hai ibu, tanah air telah lepas dariku

Aku tak ingin kuburan dan tak ingin kain kafan

Disinilah medan laga bagi Auf bin Qhatan

Jika Ali lepas dari tangan, matilah aku

Atau jika dua anaknya, Hasan dan Husein, lepas...

Baiklah aku mati merintih bagaikan pahlawan!

Dengan pedang teracung di tangan ia maju menerjang. Belum sempat pedangnya menjatuhkan

korban di fihak lawan, ia sendiri sudah tersungkur terbelah setengah badan dan menggelepar

bergumul dengan pasir. Tali kekang yang lepas dari tangannya, segera diambil oleh Abdullah

bin Abza. Ketika itu barang siapa yang benar-benar berani bertempur sampai mati, ia pasti

maju mendekati unta Sitti Aisyah r.a. dan memegang tali kekangnya. Sambil mendendangkan

syair Abdullah bin Abza tampil menghunus pedang dan mulai menyerang pasukan Imam Ali r.a.

Dengan syair juga ia menantang Imam Ali r.a. :

Mereka kuserang, tetapi tak kulihat ayah si Hasan

Aduhai....itu merupakan kesedihan di atas kesedihan

Mendengar tantangan Abdullah bin Abza, Imam Ali r.a. segera keluar dari barisan untuk

melakukan serangan dengan tombak. Beberapa saat perang tanding berlangsung. Setelah

beberapa kali ayunan pedang Abdullah bin Abza gagal menyentuh tubuh Imam Ali r.a., tiba-tiba

ujung tombak yang runcing mengkilat sudah menancap di tengah-tengah dada Abdullah bin

Abza. Ia jatuh tersungkur. Beberapa detik sebelum Abdullah menarik nafas terakhir, Imam Ali

r.a. menghampirinya sambil bertanya: "Sudahkah engkau melihat ayah si Hasan? Bagaimana

engkau lihat dia?" Habis mengucapkan pertanyaan itu Imam Ali r.a. kembali ke pasukan.

Sementara pasukan kedua belah fihak sedang bergulat mengadu senjata, banyak kepala dan

tangan berjatuhan terpisah dari batang tubuhnya, Sitti Aisyah r.a. turun dari unta. Ia

mengambil segenggam kerikil, lalu dicampakkan kepada pengikut-pengikut Imam Ali r.a. seraya

berteriak: "Hancurlah muka kalian!" Hal semacam itu dilakukan Sitti Aisyah r.a., meniru

perbuatan Rasul Allah s.a.w. dalam perang Hunain.

Melihat peperangan semakin dahsyat, bersama regu pasukan yang mengenakan serban hijau,

terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar, Imam Ali r.a. maju memimpin serangan. Ia diapit oleh

tiga orang puteranya: Al Hasan, Al Husein dan Muhammad Al Hanafiyah. Sebelum tampil sendiri

memimpin serangan, Imam Ali r.a. bermaksud hendak menguji ketangguhan puteranya yang

bernama Muhammad Al Hanafiyah. Sambil menyerahkan panji pasukan, Imam Ali r.a. berkata

kepada puteranya itu: "Majulah dengan panji ini dan pancangkanlah di depan mata unta itu!

Jangan berhenti di tempat lain!"

Baru saja Muhammad mengayunkan kaki beberapa langkah, ia sudah dihujani anak-panah yang

beterbangan dari arah lawan. Melihat itu, ia memerintahkan regunya supaya berhenti sejenak:

"Tunggu dulu, sampai mereka kehabisan anak-panah!"

Mengetahui hal itu, Imam Ali r.a. segera menyuruh orang lain guna mendekati puteranya.

Kepada orang yang disuruhnya itu, dipesan agar mendorong Muhammad Al Hanafiyah maju

terus melancarkan serangan terbuka dan besar-besaran. Karena gerak Muhammad lamban,

Imam Ali menghampirinya sendiri dari belakang. Sambil menepukkan tangan kiri ke bahu

puteranya, Ia membentak: "Hayo maju!"

Meskipun sudah dibentak ayahnya agar maju terus, namun Muhammad Al Hanafiyah masih juga

lamban bergerak. Sebagai seorang ayah, Imam Ali r.a. merasa kasihan. Kemudian panji yang di

tangan puteranya diambil kembali dengan tangan kiri, sedang pedang yang terkenal dengan

nama "Dzul Fiqar" terhunus di tangan kanannya. Tanpa membuang-buang waktu Imam Ali r.a.

memimpin serbuan ke tengah pasukan "Jamal". Setelah melakukan serangan beberapa saat

lamanya, menangkis dan memukul musuh, Imam Ali r.a. kembali ke induk pasukan. Sahabat-sahabat dan putera-puteranya berkerumun.

"Ya Amirul Mukminin," desak Al Asytar, "cukuplah kami saja yang melaksanakan tugas itu!"

Desakan Al Asytar itu tak ditanggapi oleh Imam Ali r.a. Menoleh saja pun tidak, darahnya masih

mendidih. Sedemikian meluapnya sampai semua orang yang ada di sekitarnya ketakutan.

Pandangan matanya yang berapi-api tetap mengarah ke pasukan musuh. Tak lama kemudian ia

menyerahkan kembali panji pasukan kepada puteranya, Muhammad A1 Hanafiyah.

Segera ia maju lagi menyerang musuh untuk kedua kalinya. Dengan gagah berani Imam Ali r.a.

menerjang pasukan lawan sambil memainkan pedang dengan gesit dan cekatan. Anggotaanggota

pasukan Thalhah yang menjadi sasaran serangannya lari terbirit-birit menyelamatkan

diri. Banyak yang mati terbunuh di ujung pedangnya. Tanah menjadi merah dibasahi darah.

Selesai melancarkan serangan kedua, Imam Ali r.a. kembali lagi ke induk pasukan.

"Kalau anda sampai gugur," puji sahabatnya, setelah Imam Ali r.a. berada di tengah barisannya,

"barangkali akan lenyap agama Islam. Berhentilah, cukup kami saja yang menyerang dan

bertempur!"

"Demi Allah," jawab Imam Ali r.a. atas pujian sahabat-sahabatnya itu. "Aku sangat tidak setuju

dengan fikiran kalian.

Yang kuinginkan bukan lain hanyalah keridhoan Allah dan kampung akhirat!"

Selanjutnya kepada Muhammad Al Hanafiyah ia berkata: "Seperti akulah seharusnya engkau

berbuat!"

Muhammad Al Hanfiyah tidak menjawab sepatah kata pun ucapan ayahnya itu. Dari orang-orang

yang berkerumun di sekitar Imam Ali r.a. terdengar sura bergumam: "Siapa orangnya yang

sanggup berbuat seperti Amirul Mukminin!"

Ketika sedang sengit-sengitnya pertempuran, unta yang di kendarai Sitti Aisyah r.a. terputarputar

sedemikian rupa seperti penggilingan gandum. Pasukan kedua belah fihak berjubel dan

saling mendesak beradu senjata di sekitarnya. Unta sampai meringkik-ringkik keras sekali

karena tali kekangnya ditarik ke sana ke mari.

Pasukan Imam Ali r.a. makin maju menerjang untuk lebih mendekat kepada unta. Gerakan

pasukan Imam Ali r.a. terhambat tumpukan manusia yang berada di sekelilingnya. Setiap

anggota pasukan yang mati, penggantinya datang berlipat ganda.

Melihat situasi itu Imam Ali r.a. berteriak memberi perintah: "Celakalah kalian! Tembak saja

unta itu dengan panah! Bantailah unta celaka itu!"

Unta yang dikendarai Sitti Aisyah r.a. itu segera dihujani anak-panah. Tetapi tak sebuah pun

anak-panah yang menembus, karena di sekujur badannya dipasang tijfaf. Semua anak panah

menancap pada tijfaf sampai unta itu kelihatan seperti seekor landak raksasa.

Terdengar lagi suara orang berteriak: "Hai penuntut balas darah Utsman!" Yang berteriak ialah

Al Azd dan Dhabbah. Kalimat itu diulang-ulang dan akhirnya menjadi semboyan yang

diteriakkan pasukan Thalhah.

Semboyan pasukan Thalhah itu dijawab Imam Ali r.a. dengan semboyan: "Hai Muhammad!"

Nama putera Imam Ali r.a. yang memegang panji pasukan. Pasukan Imam Ali r.a. segera

mengikuti semboyan yang diserukan Imam Ali r.a.

Pasukan kedua belah fihak sekarang makin tambah bergumul mengadu senjata.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari kedua perang Unta. Semboyan yang diserukan Imam Ali

r.a. ternyata besar sekali pengaruhnya di kalangan pasukannya, sehingga mereka berhasil

menggoyahkan sendi-sendi kekuatan lawan.

Pasukan Thalhah makin payah menghadapi tekanan-tekanan berat yang terus-menerus

dilancarkan pasukan Imam Ali r.a. Namun demikian mereka samasekali tidak berusaha

melarikan diri atau meletakkan senjata. Pasukan yang makin lama makin mengecil itu

kemudian bergerak memusat di sekitar unta yang ditunggangi Sitti Aisyah r.a. Mereka telah

bertekad, pasukan Imam Ali r.a. baru akan berhasil merebut Sitti Aisyah r.a. sesudah melewati

mayat-mayat mereka.

Perlawanan yang diberikan oleh pasukan Makkah dan Bashrah itu sungguh dahsyat sekali.

Nyawa, sudah tidak mereka pedulikan. Dengan semangat berkobar-kobar penuh fanatisme

mereka rela menghadapi maut. Demikian banyaknya korban sehingga di sekitar unta yang besar

itu bergelimpangan tumpuk-menumpuk manusia yang luka dan mati. Padang pasir yang kering

menjadi basah oleh darah dan bau anyir menyengat hidung.

Melihat keadaan yang mengerikan itu, Imam Ali r.a. mengambil suatu keputusan cepat untuk

merobohkan unta tersebut. Pelaksanaan keputusan dipercayakan kepada Al Asytar dan Ammar.

Kepada kedua orang sahabatnya itu, Imam Ali r.a. memerintahkan: "Cepat bantai unta itu!

Peperangan belum selesai, apinya masih berkobar. Unta itulah yang dijadikan semacam kiblat

oleh mereka!"

Dua orang yang diperintah itu segera maju bersama beberapa orang lainnya dari Bani Murad.

Seorang di antaranya bernama Umar bin Abdullah. Bersama Umar binAbdullah Al Muradiy

mereka mendekati unta, lalu ponok dekat lehernya dipukul dengan pedang oleh Al Muradiy.

Unta itu meronta-ronta, meringkik keras-keras, dan akhirnya rebah.

Pendukung-pendukung Sitti Aisyah r.a. melihat gelagat itu cepat lari menjauhkan diri. Imam Ali

r.a. berteriak memberi perintah: "Potong tali pengikat Haudaj!"

Setelah itu Imam Ali r.a. menyuruh Muhammad bin Abu gakar Ash Shiddiq (saudara Sitti Aisyah

r.a.): "Ambillah saudara perempuanmu!" Sitti Aisyah kemudian dibawa oleh Muhammad bin Abu

Bakar dan dimasukkan ke dalam sebuah rumah milik Abdullah bin Khalaf Al Khuza'iy.

Selanjutnya Imam Ali r.a. memerintahkan Abdullah bin Abbas supaya menemui Sitti Aisyah dan

memintanya agar bersedia pulang ke Madinah. Mengenai hal ini Abdullah bin Abbas

menceritakan pengalamannya sebagai berikut:

Aku datang menemui Sitti Aisyah. Aku tidak diberi sesuatu untuk duduk. Kuambil saja sebuah

bantal yang dibawa olehnya selama perjalanan, lalu duduk di atasnya. Kepadaku ia berkata:

"Hai Ibnu Abbas, engkau sudah menyalahi peraturan. Engkau berani duduk di atas bantalku dan

dalam rumahku tanpa seizin aku?!"

"Ini bukan rumah bunda," jawabku, "bukan rumah yang oleh Allah bunda diperintahkan supaya

tetap tinggal di dalamnya. Jika ini rumah bunda, aku tidak berani duduk di atas bantal bunda

tanpa seizin bunda!"

"Melalui aku," kataku meneruskan, "Amirul Mukminin minta supaya bunda berangkat pulang ke

Madinah."

Tiba-tiba ia menyahut: "Mana ada Amirul Mukminin?"

"Dulu memang Abu Bakar," jawabku dengan sabar dan hormat, "kemudian Umar lalu Utsman

dan sekarang Ali!"

"Tidak, aku tidak mau!" sahut Sitti Aisyah.

"Bunda sekarang bukan lagi orang yang dapat memerintah atau melarang," kataku terpaksa

menegaskan, "Tidak bisa mengambil dan tidak bisa memberi."

Sitti Aisyah kemudian menangis, sampai suaranya kedengaran dari luar rumah. Lalu ia berkata:

"Aku akan segera pulang ke tempat kediamanku, insyaa Allah Ta'aalaa. Demi Allah, tidak ada

suatu negeri yang kubenci seperti negeri di mana kalian berada sekarang ini."

"Mengapa begitu?" tanyaku. "Demi Allah, kami tetap memandang bunda sebagai Ummul

Mukminin. Kami tetap memandang ayahnya bunda, Abu Bakar, sebagai seorang shiddiq."

Sehabis pertemuan dengan Ummul mukminin aku segera menghadap Amirul Mukminin.

Kepadanya kulaporkan semua yang kukatakan kepada Sitti Aisyah dan apa yang dikatakannya

kepadaku. Mendengar laporanku itu, Amirul Mukminin merasa lega. Menanggapi laporanku ia

berucap: "Waktu aku menyuruhmu sudah kuduga ia akan memberi jawaban jawaban seperti

itu."

Sudah lazim terjadi, tiap kelompok masyarakat atau pasukan, ssusai menghadapi peperangan

muncul anasir-anasir ekstrim. Demikian juga pasukan Imam Ali r.a. Ada yang menuntut agar

semua orang yang terlibat dalam pasukan lawan yang sudah kalah itu dijadikan tawanan,

diperlakukan sebagai budak dan dibagi-bagikan.

Menjawab tuntutan ekstrim itu dengan tegas Imam Ali r.a. mengatakan: "Tidak!"

"Mengapa anda melarang kami?" tanya fihak ekstrim itu, "untuk menjadikan mereka sebagai

hamba-hamba sahaya, padahal anda dalam peperangan menghalalkan darah mereka?!"

"Bagaimana kalian boleh berbuat seperti itu," ujar Imam Ali r.a. menjelaskan. "Mereka itu

dalam keadaan tidak berdaya, lagi pula mereka itu berada di dalam daerah hijrah dan daerah

Islam. Bukankah mereka itu juga kaum muslimin seperti kalian? Adapun tentang apa saja yang

dipergunakan pasukan musuh untuk melawan kalian, boleh kalian rampas sebagai barang

ghanimah. Tetapi semua yang berada di dalam rumah penduduk Bahsrah, apalagi yang pintunya

tertutup rapat, semua itu adalah milik mereka sendiri. Kalian tidak mempunyai hak apa pun

atas kesemuanya itu!"

Anasir-anasir ekstrim tidak puas dengan penjelasan itu. Mereka tetap bersitegang leher dalam

mendesakkan tuntutannya. Malahan berani mengucapkan kata-kata yang bernada menggertak.

Tetapi Imam Ali r.a. tidak mau tunduk kepada hukum yang batil. Dengan muka merah padam

dan mata membelalak, Imam Ali r.a. menjawab dengan tantangan: "Coba, siapa dari kalian

yang berani merampas Sitti Aisyah…? Coba, siapa yang berani merampas dia dan berani

menjadikannya hamba sahaya?! Ayoh, jawab… Dia akan kuserahkan!"

Mendengar tantangan Imam Ali r.a. yang sekeras itu mereka mundur sambil minta maaf dan

beristighfar kepada Allah s.w.t.

Di saat Abdullah Ibnu Abbas sedang melaksanakan perintah menghubungi Sitti Aisyah r.a., Imam

Ali r.a. menerima laporan dari salah seorang anggota pasukan yang baru saja melihat jenazah

Thalhah bin Ubaidillah tergeletak di tempat terjadi.


BAB XI : PERANG SHIFFIN

Selesai menumpas pemberontakan Thalhah dalam perang "Jamal" di Bashrah, Imam Ali r.a.

tidak berniat pulang ke Madinah. Ia hendak memanfaatkan ketinggian mental pasukannya yang baru menang perang guna menghadapi pasukan Muawiyah (Syam) yang sudah mulai

memusatkan kekuatan di Shiffin, yang letaknya tak seberapa jauh dari Kufah.

Kufah pada waktu itu berada di bawah seorang penguasa daerah yang dahulu diangkat oleh

Khalifah Utsman bin Affan r.a., yaitu Abu Musa Al-Asy'ariy. Untuk mengerahkan dukungan dari

penduduk Kufah, diperlukan usaha-usaha meyakinkan lebih dahulu. Sebab, bagaimana pun juga

kota itu tak mungkin dapat dijadikan tempat pemusatan pasukan Imam Ali r.a., selama

penduduknya belum benar-benar meyakini benarnya perjuangan menumpas kaum pemberontak

yang digerakkan dari Syam.

Sikap Kufah

Setibanya dekat perbatasan Kufah, Imam Ali r.a. mengutus Ammar bin Yasir dan Muhammad bin

Abu Bakar menemui Abu Musa Al-Asy'ariy, penguasa daerah Kufah. Perutusan itu bertugas

mengajak penduduk berjuang bersama Imam Ali r.a. dan pasukannya dalam menumpas

pemberontakan Muawiyah.

Sore harinya, setelah mengadakan pembicaraan dengan perutusan Imam Ali r.a., Abu Musa

dihujani pertanyaan oleh sejumlah penduduk yang masih bingung. Mereka bertanya-tanya

tentang sikap apa yang harus diambil. Mendukung perjuangan Imam Ali r.a. atau tidak.

Jawaban yang diberikan Abu Musa atas pertanyaan sejumlah penduduk itu secara kebetulan

didengar oleh perutusan Imam Ali r.a. Perutusan Imam Ali r.a. menegor Abu Musa karena

jawabannya yang tidak jelas kepada rakyat. Abu Musa tidak menyerah begitu saja atas tegoran

perutusan Imam Ali r.a., sehingga terjadi perdebatan. Abu Musa dalam membela pendiriannya

mengatakan:

"Hai saudara-saudara, kalian adalah para sahabat Rasul Allah s.a.w. yang sering menemani

beliau dalam berbagai kejadian. Kalian tentu lebih tahu kehendak Allah dan Rasul-Nya

dibanding dengan orang-orang lain yang tidak pernah menemani Rasul Allah s.a.w. Aku wajib

menyampaikan sabda Rasul Allah, bahwa fitnah akan datang, orang yang tidur lebih baik dari

yang melek, orang yang duduk lebih baik dari pada yang berdiri, orang yang berdiri lebih baik

daripada yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada yang menunggang kuda!

Oleh karena itu masukkanlah pedang-pedang kalian ke dalam sarung, dan tunggu dulu sampai

fitnah itu meletus dengan jelas!"

Karena kata-kata Abu Musa itu juga didengar oleh sejumlah penduduk Kufah, maka Ammar bin

Yasir segera mengatakan: "Hai saudara-saudara. Abu Musa melarang kalian mencampuri urusan

dua fihak yang sedang bertikai. Demi Allah, apa yang dikatakan olehnya itu sama sekali tidak

bisa dibenarkan. Allah tidak akan ridho terhadap hamba-Nya yang mengikuti perkataan Abu

Musa! Allah telah berfirman, (artinya): "Jika ada dua golongan dari kaum muslimin berperang,

maka damaikanlah dua-duanya. Jika salah satu dari dua golongan itu berbuat dzalim terhadap

yang lain, maka perangilah fihak yang berbuat dzalim itu sampai mereka kembali patuh kepada

perintah Allah. Bila fihak itu sudah mematuhi perintah Allah, maka damaikanlah dua-duanya

dengan adil, dan hendaknya kalian benar-benar berlaku adil. Sesungguhnyalah bahwa Allah

menyukai orang-orang yang berlaku adil." (S. Al-Hujurat:9).

Seterusnya Ammar bin Yasir berkata pula: "Juga Allah telah berfirman, (artinya) "Dan

perangilah mereka agar jangan sampai terjadi suatu bencana, dan supaya agama itu sematamata

hanya untuk Allah. Jika mereka telah berhenti, maka sesungguhnya Allah Maha

Mengetahui apa yang mereka perbuat." (S. Al Anfal:39).

"Jelaslah," kata Ammar bin Yasir, "bahwa Allah tidak akan meridhoi para hamba-Nya tetap

duduk berpangku tangan di rumah, memencilkan diri dan membiarkan kaum muslimin saling

menumpahkan darah. Oleh karena itu hai saudara-saudara, keluarlah mendatangi orang-orang

yang sedang bertikai, dan dengarkan sendiri apa yang menjadi alasan mereka masing-masing.

Lalu pertimbangkanlah baik-baik fihak mana yang harus dibela dan diikuti. Jika mereka sudah

berdamai, kalian dapat pulang ke rumah masing-masing membawa pahala, sebab kalian sudah

memenuhi kewajiban Allah. Tetapi jika ada fihak yang berlaku dzalim terhadap fihak lain,

perangilah fihak yang dzalim itu, sampai mereka patuh kembali kepada Allah. Itulah yang

diperintahkan Allah kepada kalian."

Setelah perdebatan itu selesai Ammar bin Yasir dan Muhammad bin Abu Bakar pergi menghadap

Imam Ali r.a. untuk menyampaikan laporan tentang apa yang telah dikatakan Abu Musa.

Seterimanya laporan itu Imam Ali r.a. menulis surat panjang lebar ditujukan kepada penduduk

Kufah. Surat itu akan dibawa langsung oleh 4 orang utusan yang terdiri dari Al Hasan bin Ali

r.a., Abdullah bin Abbas, Ammar bin Yasir dan Qies bin Sa'ad. Surat itu antara lain berbunyi:

"…kuberitahukan kepada kalian tentang persoalan Utsman bin Affan, agar orang yang

mendengar dapat berfikir seperti orang menyaksikan sendiri terjadinya peristiwa itu. Aku

adalah seorang muhajir yang paling jarang menyalahkan Utsman dan bahkan paling banyak

memberi nasehat kepadanya."

Selanjutnya dalam surat tersebut dijelaskan tentang proses terjadinya pemberontakan

terhadap Khalifah Utsman, proses pembai'atan dirinya sebagai Khalifah, dan kegiatan-kegiatan

yang dilakukan Thalhah dan Zubair yang pergi ke Makkah lalu mengajak Ummul Mukminin Sitti

Aisyah r.a. untuk dijadikan alat pengobar fitnah dan bencana.

Empat orang utusan Imam Ali r.a. itu kemudian menemui Abu Musa Al Asy'ariy. Kepadanya surat

Imam Ali r.a. itu diserahkan dan Abu Musa sendiri diminta membai'at Imam Ali r.a. dan

memberikan dukungan. Setelah membaca surat Imam Ali r.a. dan mengadakan pertukaran

fikiran beberapa saat lamanya, akhirnya Abu Musa menyatakan bai'atnya kepada Imam Ali r.a.

di depan para utusan. Setelah itu ia berseru kepada penduduk Kufah supaya memberikan

dukungan dan berjuang bersama-sama Imam Ali r.a. Untuk lebih memantapkan keyakinan

penduduk Kufah, Al Hasan r.a., Ammar bin Yasir dan Qeis bin Sa'ad berbicara sesudah Abu

Musa.

Sebagai sambutan atas pembicaraan-pembicaraan di atas, maka Syarih bin Hani, atas nama

kaum muslimin kota Kufah menyatakan: "Kami sebenarnya sudah berniat hendak berangkat ke

Madinah untuk dapat mengetahui bagaimana sebenarnya persoalan terbunuhnya Utsman bin

Affan. Tetapi sekarang kita telah menerima berita langsung dari Imam Ali, dan kami percaya

berita itu benar. Oleh karena itu, hai saudara-saudara, janganlah kalian menolak seruan dan

ajakannya. Demi Allah, seandainya ia tidak minta dukungan pun kami akan membela dan taat

kepadanya."

Sikap penduduk Kufah yang pada mulanya ragu-ragu mendukung perjuangan Imam Ali r.a., dan

baru bersedia setelah menerima penjelasan yang meyakinkan, hal itu mudah dimengerti,

mengingat:

1. Mereka berada di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan, Madinah. Dengan begitu ada

kemungkinan berita-berita yang mereka dengar tentang tragedi yang menimpa Khalifah Utsman

r.a. agak bersimpang siur.

2. Mereka tidak menyaksikan sendiri proses pembai'atan kaum muslimin Madinah kepada Imam

Ali r.a. Dengan demikian mereka mudah dikacaukan fikirannya oleh berita-berita yang sengaja

dilancarkan dari Damsyik.

3. Mereka adalah penduduk satu daerah kaya dan subur. Mempunyai syarat-syarat penghidupan

yang jauh lebih baik dibanding dengan kaum Muslimin yang bertempat tinggal di Madinah,

Makkah atau daerah-daerah Hijaz lainnya. Mau tidak mau, kebiasaan hidup senang dan

berkecukupan bisa mengakibatkan orang lamban dalam memenuhi panggilan perjuangan.

Dalam rangka persiapan menghadapi perlawanan pasukan Syam di Shiffin, Imam Ali r.a. berseru

kepada penduduk Kufah agar siap-siaga untuk tiap waktu berangkat ke Shiffin. Dalam salah satu

khutbahnya Imam Ali r.a. antara lain menyerukan: "Saudarasaudara, siap-siaplah untuk

berangkat melanjutkan perjuangan melawan musuh, sebagai ibadah mendekatkan diri kepada

Allah s.w.t. dan sebagai wasilah untuk dapat diterima di sisi-Nya. Siapkanlah kekuatan sebatas

kesanggupan kalian seperti kuda-kuda perang dan lain sebagainya. Kemudian bertawakkallah

kalian kepada Allah dan serahkan segera sesuatu kepada-Nya."

Mesir Sebagai Imbalan

Sehabis pasukan "Jamal" terkalahkan, kini komplotan anti Imam Ali r.a. memusat ke Syam.

Gembong Bani Umayyah, Muawiyah bin Abi Sufyan, lebih meningkatkan kegiatannya dalam

usaha mencari dukungan dan mengerahkan orang-orang dalam rangka rencana perlawanan

bersenjata yang hendak dilancarkan terhadap Imam Ali r.a. di Kufah. Tidak sedikit dana dan

tenaga yang dikeluarkan untuk kepentingan itu.

Semangat mengejar kekayaan dan kedudukan yang sedang menguasai fikiran orang banyak,

oleh Muawiyah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tanpa menghitung-hitung berapa banyaknya

harta Baitul Mal yang harus dikeluarkan, dan tanpa memandang cakap atau tidaknya seseorang

yang akan diangkat sebagai pejabat bawahan, Muawiyah menggunakan terus kekuasaannya

sebagai penguasa daerah Syam, untuk menghimpun pengikut sebanyak mungkin. Ia sangat

menginginkan rencana perlawanannya terhadap Imam Ali r.a. segera berhasil.

Kepada Amr bin Al-Ash, Muawiyah menulis surat mengajak bekerjasama merebut kekuasaan

dari tangan Imam Ali r.a. Setelah Amr bin Al Ash membaca surat Muawiyah itu, ia tampak

berfikir-fikir menghitung untung rugi. Ia memanggil dua orang anak lelakinya yang bernama

Abdullah dan Muhammad untuk diminta pendapatnya.

Terhadap persoalan yang diajukan ayahnya, Abdullah menyarankan: "Ayah, Rasul Allah s.a.w.

wafat dalam keadaan ridho terhadap ayah. Begitu juga Abu Bakar dan Umar, dua-duanya wafat

dalam keadaan ridho terhadap ayah. Jika hanya karena ingin mendapat sedikit keutungan

duniawi lalu ayah hendak merusak agama ayah sendiri, kelak ayah akan berbaring bersama

Muawiyah dalam neraka!"

Dengan hati kecut, Amr menoleh kepada Muhammad sambil bertanya: "Bagaimana

pendapatmu?"

"Ayah jangan sampai ketinggalan dalam urusan itu. Jadilah kepala lebih dulu sebelum menjadi

ekor!" jawab Muhammad.

Amr tampak belum puas mendengar pendapat dua orang anaknya yang saling bertentangan itu.

Ia masih bingung. Keesokan harinya ia memanggil maulanya yang bernama Wardan, dan

diperintahkan supaya mempersiapkan bekal perjalanan dan memuatkannya ke punggung unta.

Tetapi baru saja selesai disiapkan, Wardan diperintahkan menurunkannya kembali. Ini terjadi

berulang kali. Akhirnya Wardan memberanikan diri untuk berbicara: "Hai Abu Abdullah, anda

tampak bingung sekali! Jika anda membolehkan, aku bisa menebak apa yang sedang anda

fikirkan."

"Baik, cobalah!" sahut Amr.

"Dunia dan akhirat sekarang dua-duanya sedang dihadapkan di depan hati anda," kata Wardan.

"Tetapi rupanya hati anda menyatakan: Ali mendapat akhirat tanpa dunia, sedangkan Muawiyah

mendapat dunia tanpa akhirat. Pendapat yang tepat ialah sebaiknya anda tinggal saja di

rumah. Jika para pembela agama yang menang, anda akan hidup di bawah naungan mereka.

Tetapi jika para pembela dunia yang menang, anda akan tetap dibutuhkan!"

Akan tetapi karena janji-janji yang telah diberikan Muawiyah untuk mengangkatnya kembali

menjadi Gubernur Mesir, apabila kemenangan dapat diraih dalam perjuangan melawan Imam

Ali r.a. sangat menggiurkan hati Amr bin Al Ash, maka akhirnya ia bertekad memenuhi ajakan

Muawiyah dan orang-orang Bani Umayyah lainnya.

Amr bin Al Ash sebenarnya lebih cerdik, lebih tangkas serta lebih cermat berfikir dibanding

dengan Muawiyah. Ia bekas panglima di masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Ia juga bekas

penguasa daerah Mesir dan ia sendirilah yang memimpin perlawanan pasukan muslimin

mengusir kekuasaan Byzantium dari negeri itu. Ia seorang ahli strategi dan taktik menurut

ukuran zamannya. Dengan sendirinya ia seorang politikus dan diplomat. Jadi tidaklah aneh,

kalau bagi Imam Ali r.a., Amr bin Al Ash, sebenarnya lebih berbahaya dibanding dengan

Muawiyah.

Menjadi pertanyaan: apakah ada faktor lain yang mendorong Amr bin Al Ash mau bekerjasama

dengan Muawiyah?

Dilihat dari kecenderungannya sejak dulu, ia memang dekat sekali hubungannya dengan para

penguasa. Bani Umayyah, terutama pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan r.a. Benar,

bahwa ia digeser dari kedudukannya sebagai penguasa Mesir oleh Khalifah Utsman r.a. dan

digantikan dengan Abdullah bin Abi Sarah, tetapi Khalifah Utsman r.a. masih bertindak

bijaksana terhadap Amr. Ia diberi kedudukan sebagai salah seorang penasehat dan memperoleh

fasilitas-fasilitas tertentu.

Ketika itu memang ia agak jengkel terhadap Khalifah, tetapi ia tahu benar, bahwa tetap dekat

dengan para penguasa Bani Umayyah akan lebih menguntungkan daripada menjauhi mereka.

Harapan untuk bisa menjadi orang penting masih bisa digantungkan kepada orang-orang Bani

Umayyah.

Itulah pamrih keduniaan yang menyelinap di dalam benak Amr bin Al Ash, dan yang

mendorongnya giat membantu Muawiyah melawan Imam Ali r.a. Tetapi selain itu, masih ada

hal lagi yang membuat Amr dekat kepada Muawiyah khususnya dan tokoh-tokoh Bani Umayyah

pada umumnya. Yaitu adanya hubungan kekeluargaan yang misterius. Siapa sebenarnya Amr bin

Al Ash itu?

Tentang siapa sebenarnya Amr bin Al Ash, Zamakhsyariy dalam bukunya Rabi'ul Abrar

memberikan keterangan terperinci sebagai berikut:

Ibu Amr yang bernama Nabighah dahulunya adalah seorang hamba sahaya milik seorang dari

qabilah Anazah. Dalam suatu peperangan perempuan itu dirampas, dan tetap budak, Kemudian

dibeli oleh Abdullah bin Jud'an di Makkah. Karena ia seorang perempuan yang diragukan

kejujurannya, akhirnya dimerdekakan oleh tuannya. Setelah merdeka ia mempunyai hubungan

"gelap" dengan Abu Lahab bin Abdul Mutthalib, Umayyah bin Khalaf Al Jamhiy, Hisyam bin

Mughirah Al Makhzumiy, Abu Sufyan bin Harb dan Ash bin Wail. Lama-lama ia hamil dan

melahirkan Amr.

Lelaki-lelaki yang mengadakan hubungan dengan Nabighah itu semuanya mengaku, bahwa Amr

adalah anaknya. Tetapi Nabighah sendiri memutuskan, bahwa Amr adalah anak hasil

hubungannya dengan Ash bin Wail. Nabighah mengambil keputusan seperti itu, karena Ash bin

Wail merupakan lelaki yang paling banyak memberi nafkah kepadanya untuk penghidupan

sehari-hari. Walaupun begitu, semua lelaki itu mengatakan bahwa Amr sangat mirip dengan

Abu Sufyan bin Harb. Abu Sufyan sendiri dalam salah satu bait dari syair-syairnya mengatakan:

"Tak diragukan, ayahmu ialah Abu Sufyan

banyak tanda yang jelas tampak pada dirimu!"

Itulah keterangan yang diberikan oleh Zamakhsyariy. Akan tetapi Abu Umar dalam bukunya Al

Isti'ab mengemukakan versi yang sama dengan sedikit perbedaan variasi. Abu Umar

mengatakan, bahwa pada satu peristiwa ada seorang dijanjikan hadiah sebesar 1.000 dirham

jika ia berani menanyakan kepada Amr bin Al Ash di saat ia sedang berada di atas mimbar,

tentang siapa sebenarnya ibu Amr itu.

Untuk memperoleh hadiah sebesar itu, orang yang bersangkutan memberanikan diri bertanya

kepada Amr. Dari atas mimbar pertanyaan itu dijawab oleh Amr: "Ibuku ialah Salma binti

Harmalah, mempunyai nama julukan Nabighah, berasal dari Bani Anazah dan dari seorang Bani

Jillan. Dalam satu peperangan ia dirampas, dijadikan budak, dibawa pergi oleh orang-orang

Arab, lantas dijual di pasar 'Ukadz (di Makkah). Yang membeli Fakih bin Al Mughirah. Kemudian

oleh Fakih dijual lagi kepada Abdullah bin Jud'an. Selanjutnya ia jatuh ke tangan Ash bin Wail.

Lalu melahirkan aku."

Setelah menjelaskan seperti itu, kepada orang yang bertanya Amr mengatakan: "Jika engkau

dijanjikan sesuatu, ambillah!" Tampaknya Amr sudah tahu tentang maksud dan tujuan orang

yang bertanya.

Abu Ubaidh Muamamar bin Al Mutsanna dalam bukunya Al Ansab mengemukakan, bahwa pada

waktu Amr lahir terjadi pertengkaran antara Ash bin Wail dengan Abu Sufyan bin Harb.

Akhirnya ada orang yang memberi nasehat biarlah ibunya saja yang memutuskan. Akhirnya ibu

Amr mengatakan: "Dia dari Ash bin Wail!"

Setelah ada penegasan dari ibunya Abu Sufyan berkata: "Tidak diragukan lagi, aku inilah yang

menempatkan dia dalam rahim ibunya, tetapi ibunya menolak selain Ash bin Wail."

Pernah ada yang berkata kepada Nabighah, bahwa silsilah Abu Sufyan sebenarnya lebih

terhormat. Tetapi perkataan orang itu ditanggapi Nabighah dengan penjelasan: "Ash bin Wail

banyak memberi nafkah kepadaku, sedang Abi Sufyan, kikir!"

Dari beberapa catatan riwayat di atas dapat diambil kesimpulan pokok sebagai berikut:

Menurut pengakuan Abu Sufyan bin Harb, Amr adalah anak lelakinya sendiri hasil hubungan

"gelap" dengan Nabighah. Menurut Nabighah, Amr adalah anak lelaki Ash bin Wail, dengan

keterangan, ia mengambil keputusan itu karena Ash bin Wail banyak memberi nafkah.

Berdasarkan nada pengakuan Nabighah, seandainya Abu Sufyan, tidak kikir tentu akan disebut

sebagai ayah Amr yang sebenarnya. Memang Amr sendiri tidak pernah menyebut Abu Sufyan

sebagai ayahnya. Yang disebut sebagai ayahnya ialah Ash bin Wail. Ini sesuai dengan keputusan

yang diambil oleh ibunya pada waktu Amr lahir.

Jadi kalau Abu Sufyan sendiri ngotot dalam pengakuan bahwa Amr itu anak lelakinya sendiri,

bukankah berarti ia mengatakan bahwa Amr itu saudara seayah dengan Muawiyah? Kalau

memang benar demikian, apakah masih perlu diherankan bila Amr sangat dekat hubungannya

dengan orang-orang Bani Umayyah, terutama Muawiyah bin Abu Sufyan?

Usaha mendamaikan

Sekarang pasukan kedua belah fihak telah sama memusatkan kubu-kubu pertahanannya masingmasing

di lembah Shiffin. Jalan damai nampaknya sudah buntu. Mengkompro-mikan dua

pendirian yang berlawanan sangat sulit. Dua belah fihak sama berkeyakinan, bahwa satusatunya

jalan penyelesaian yang bisa di tempuh ialah perang. Yang satu berjuang untuk

kekuasaaan dan keduniaan dan yang lainnya berjuang untuk kepentingan agama dan kehidupan

akhirat.

Keadaan yang sangat tragis itu benar-benar membingungkan kaum muslimin dalam memilih

fihak. Mereka sudah pasti menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat. Tentang kebahagiaan akhirat sudah tidak menjadi persoalan lagi, karena Islam telah memberikan penjelasan dengan

gamblang. Yang sulit ialah bagaimana menetapkan definisi (pembatasan-pembatasan) tentang

kebahagiaan dunia. Fihak Syam berusaha meraihnya lewat jalan kekuasaan dan kekayaan.

Sedang fihak Kufah berusaha mencapainya melalui jalan taqwa kepada Allah s.w.t. dan patuh

kepada tauladan RasulNya.

Bagaimana menserasikan dua jalan itu tidak ditemukan pemecahannya oleh kaum muslimin

pada zaman yang sedang kita bicarakan. Tetapi bagaimana pun juga, semua kaum muslimin

adalah saudara. Semua ingin hidup rukun tentram, damai dan sejahtera.

Fikiran seperti itu tetap menjiwai kehidupan kaum muslimin sepanjang zaman, tetapi

realisasinya tidak semudah seperti yang didambakan. Namun usaha ke arah itu tak boleh

berhenti. Pegangan pokok sudah diletakkan oleh Islam, yaitu Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Siapa yang teguh berpegang pada dua-duanya pasti selamat, dan siapa yang meninggalkan duaduanya

pasti sesat.

Itulah rupanya yang menjadi pemikiran Abu Hurairah dan Abu Darda untuk mencoba

mendamaikan dua fihak yang berhadapan siap perang.

Diriwayatkan, bahwa Abu Hurairah dan Abu Darda sengaja datang dari Himsh untuk bertemu

dengan Muawiyah di Shiffin. Kepada Muawiyah dua orang itu mengingatkan: "Hai Muawiyah,

mengapa anda memerangi Ali bin Abi Thalib, padahal engkau tahu ia lebih berhak memegang

kekhalifahan daripada anda, baik disebabkan karena keutamaan pribadinya, maupun oleh

kediniannya memeluk Islam. Ia seorang dari kaum Muhajirin yang pertama, dan terdahulu pula

dalam hal iman dan ihsan. Sedang anda seorang dari kaum thulaqa, dan ayah anda pun dulu

seorang pemimpin kaum musyrikin dalam perang Ahzab melawan kaum muslimin. Demi Allah,

aku ingin berkata terus terang kepada anda, bahwa kami ini lebih menyukai Iraq daripada

Syam. Tetapi kelestarian hidup, lebih kami sukai daripada kehancuran, dan kebaikan lebih kami

sukai daripada kerusakan."

Terhadap pernyataan yang serba blak-blakan dari dua orang sahabat Rasul Allah s.a.w. itu,

Muawiyah memberikan tanggapan: "Aku tidak menganggap diriku lebih berhak daripada Ali

untuk memegang kekhalifahan. Aku memerangi dia hanya supaya ia mau meyerahkan orangorang

yang membunuh Utsman bin Affan kepadaku!"

"Seandainya Ali bin Abi Thalib mau menyerahkan mereka kepada anda," tanya Abu Hurairah dan

Abu Darda, "lantas apakah yang kira-kira akan anda lakukan?"

"Aku akan bersikap seperti kaum muslimin yang lain," jawab Muawiyah." Cobalah kalian datang

kepada Ali bin Abi Thalib. Jika ia menyerahkan para pembunuh Utsman itu kepada kalian,

masalah kekhalifahan akan kuserahkan kepada kaum muslimin!"

Abu Hurairah dan Abu Darda memang bukan diplomat dan bukan pula orang-orang politik

seperti Muawiyah atau Amr bin Al Ash. Mereka berdua itu orang-orang bertaqwa, lugu dan

polos. Tampaknya mereka tidak dapat meraba apa-apa yang ada dibalik ucapan Muawiyah.

Mungkin dua orang itu menganggap Muawiyah sama dengan diri mereka, jujur, terus terang dan

tidak bermain lidah.

Pergilah dua orang itu meninggalkan kubu-kubu pertahanan Muawiyah menuju ke kubu-kubu

pertahanan Imam Ali r.a. Setibanya di sana, mereka diterima oleh Al Asytar, yang ketika itu

bertindak selaku Panglima pasukan Kufah.

Setelah Abu Hurairah dan Abu Darda menjelaskan maksud kedatangan mereka dan

menyampaikan apa yang menjadi pendirian Muawiyah dan pendirian mereka sendiri, Al Asytar

memberi jawaban: "Hai Abu Hurairah dan Abu Darda, kalian datang kepada orang-orang Syam bukan karena kalian menyukai Muawiyah. Kalian mengatakan Muawiyah hanya menuntut

diserahkannya pembunuh-pembunuh Utsman. Dari siapa kalian bisa mengetahui para pembunuh

itu? Apakah dari mereka yang melakukan pembunuhan itu sendiri, ataukah dari mereka yang

memberi bantuan dalam pembunuhan? Atau kalian mendapat keterangan dari mereka yang

memisahkan diri dari Utsman karena mereka tahu dosanya Utsman? Atau kalian mencari

penjelasan dari Muawiyah yang menuduh bahwa pembunuh Utsman ialah Ali?"

"Wahai kawan-kawan," kata Al Asytar lebih lanjut, "bertaqwalah kalian kepada Allah. Kami

inilah yang menyaksikan sendiri, sedang kalian tidak mengetahui terjadinya peristiwa itu.

Kamilah yang lebih dapat menetapkan hukumnya dibanding dengan orang-orang lain yang tidak

menyaksikan sendiri terjadinya peristiwa itu!"

Setelah menerima penjelasan panjang lebar dari Al Asytar, keesokan harinya mereka bertemu

dengan Imam Ali r.a. Kepada Imam Ali r.a., Abu Hurairah dan Abu Darda menerangkan: "Anda

memang mempunyai keutamaan yang tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Anda telah

menempuh cara gagah berani dalam menghadapi orang-orang yang buruk perangai. Muawiyah

minta supaya anda mau menyerahkan para pembunuh Utsman kepadanya. Jika anda sudah

berbuat itu dan Muawiyah masih tetap memerangi anda, kami akan bersama-sama anda

melawan dia."

"Apakah engkau tahu siapa-siapa yang membunuh Utsman?" tanya Imam Ali r.a. sambil

tersenyum.

"Ya," jawab kedua orang itu dengan tak ragu-ragu.

"Silakan ambil mereka itu!" sahut Imam Ali r.a. melanjutkan.

Mereka keluar. Lalu menghampiri Muhammad bin Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan Al Asytar

yang sedang duduk bersama. Kepada mereka, dua orang itu berkata dengan lantang: "Kalian

termasuk orang-orang yang membunuh Utsman. Aku mendapat perintah untuk mengambil

kalian!"

Pada saat itu lebih 1.000 orang datang berduyun-duyun mengerumuni Abu Hurairah dan Abu

Darda sambil berteriak-teriak: "Kami semua inilah yang membunuh Utsman!"

Karena semuanya mengaku membunuh Utsman, dua orang itu kebingungan. Abu Hurairah dan

Abu Darda mencoba mencari keterangan siapa-siapa sebenarnya yang telah membunuh Utsman.

Tetapi tiap-tiap bertanya selalu dijawab: "Kami inilah yang membunuh Utsman!"

Dua orang itu tak dapat berbuat apa-apa. Cepat-cepat minta diri, lalu masing-masing pulang ke

rumahnya di Himsh.

Meletus

Sama seperti di medan-medan tempur lainnya, tiap tempat strategis pasti menjadi incaran

pertama dari suatu gerakan militer. Dalam perang Shiffin, sungai Al Furat mempunyai nilai

strategi yang sangat vital. Lebih-lebih dalam peperangan di zaman itu, di mana peperangan

benar-benar merupakan adu tenaga dan kelincahan bermain senjata. Bukan hanya anggotaanggota

pasukan saja yang membutuhkan air, melainkan ternak-ternak kendaraan seperti untaunta

dan kuda-kuda perang bahkan lebih banyak menghabiskan air daripada manusia. Datam

perang Shiffin fihak yang menguasai sungai Al Furat pasti akan dapat bertahan lebih lama

dibanding dengan fihak yang tidak memperoleh air cukup.

Oleh karena itu pasukan Muawiyah yang datang lebih dulu di Shiffin, segera berusaha

menduduki dan memperkuat posisi di daerah-daerah sekitar sungai Al Furat. Dengan tujuan

untuk menguasai perbekalan air.

Dengan berhasil menguasai sungai itu, pasukan Syam yang berjumlah puluhan ribu orang tidak

hanya terjamin kebutuhan airnya, tetapi sekaligus juga mereka akan dapat membuat pasukan

lawan mati kehausan.

Setelah pasukan Syam menguasai sungai Al Furat, Muawiyah memerintahkan kepada semua

anggota pasukan supaya jangan membiarkan ada seorang pun dari pasukan Imam Ali r.a.

mengambil air dari sungai itu.

Dugaan memang tidak meleset. Pasukan Imam Ali r.a. yang belum lama tiba dari Kufah sudah

mulai kekurangan air minum. Mereka berusaha mendapatkan perbekalan air dari sungai.

Alangkah terkejutnya mereka, karena pasukan Syam dengan ketat sekali menjaganya agar

pasukan Imam Ali r.a. tidak menginjakkan kaki di sepanjang tepi sungai itu.

Ketika melihat ada beberapa orang pasukan Kufah mendekati sungai untuk mengambil air,

pasukan Syam yang mengawal sungai itu berteriak-teriak melarang: "Tidak! Demi Allah, kalian

takkan kami biarkan mengambil air barang setetes pun. Biarlah kalian mampus kehausan!"

Sambil berkata seperti itu ia menyiapkan busur dan anak panahnya. Anak buah Imam Ali r.a.

segera mundur, kembali ke induk pasukan, dan melapor kepada Imam Ali r.a.

Imam Ali r.a. menyadari benar, bahwa air sungai Al Furat sangat dibutuhkan oleh pasukannya

dan hewan-hewan tunggangan. Jika pasukannya sampai tidak mendapat air berarti sudah kalah

sebelum bertempur dan semua hewan tunggangan akan mati kehausan.

Cepat-cepat Imam Ali r.a. mempersiapkan pasukan untuk melancarkan serangan kilat dan

terbatas guna merebut lokasi yang sangat strategis itu. Tak berapa lama kemudian terjadi

pertempuran sengit antara kedua pasukan memperebutkan sungai Al-Furat. Dengan serangan

kilat pasukan Syam terusir dari posisinya yang strategis dan pasukan Kufah bersama hewan

tunggangannya dapat minum sepuas-puasnya.

Pasukan Syam kini menghadapi keadaan sebaliknya. Sekarang mereka menderita kepanasan dan

kehausan setengah mati. Beberapa sahabat Imam Ali r.a. mengusulkan supaya pasukan Syam

jangan diberi kesempatan sama sekali mengambil air sungai: "Biar mereka mampus digorok

kehausan! Kita tidak perlu susah-susah memerangi mereka."

Menanggapi usul tersebut Imam Ali r.a. berkata: "Demi Allah, tidak! Aku tak akan membalas

dengan perbuatan seperti yang mereka lakukan terhadap kita. Berilah mereka kesempatan

mengambil air minum. Keberanian kita mengadu pedang tidak membutuhkan perbuatan

semacam itu!"

Orang-orang yang mendengar jawaban Imam Ali r.a. setegas itu merasa kagum terhadap sifat

ksatriaannya.

Sewaktu pasukan Syam datang mengambil air dari sungai, dengan penuh disiplin tak ada

seorang pun dari pasukan Imam Ali r.a. yang menghalang-halangi. Pasukan Imam Ali r.a. yang

bertugas mengawal tepi sungai, sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan karena

menang. Banyak di antara anggota-anggota pasukan Muawiyah karena rasa kagumnya ingin

menyeberang ke fihak Imam Ali r.a. Hanya saja mereka tidak mempunyai keberanian untuk

melakukannya. Khawatir, kalau-kalau para anggota keluarga yang ditinggalkan di Syam akan

mengalami tekanan dan berbagai kesulitan.

Pada tahap pertama pertempuran antara kedua pasukan itu hanya berlangsung secara kecilkecilan

saja, yaitu satu lawan satu, kelompok lawan kelompok. Pertempuran belum melibatkan

seluruh pasukan.

Beberapa ahli sejarah menaksir pasukan yang berada dibawah pimpinan Imam Ali r.a.

berjumlah kurang lebih 100.000 orang. Pasukan ini dikenal sebagai "pasukan Iraq". Sedang

pasukan Muawiyah yang disebut sebagai "pasukan Syam" berjumlah kurang lebih 75.000 orang.

Jadi di medan perang Shiffin pada akhir tahun 36 Hijriyah itu telah terkumpul tidak kurang

175.000 orang prajurit Islam.

Yang menarik bukan hanya karena besarnya jumlah pasukan tersebut. Sebab, sebelum itu

pasukan Islam yang besar jumlahnya telah pernah bergerak dalam pertempuran menghadapi

pasukan musuh, yang bukan Islam. Sedang kali ini 175.000 orang pasukan muslimin itu saling

bertempur di antara mereka sendiri.

Sampai pada akhir bulan Haji tahun itu, di medan perang Shiffin hanya terjadi pertempuran

kecil-kecil. Sedang pada bulan Muharram --bulan suci-- sebagai sesama pasukan muslimin,

kedua pasukan itu dengan kesadaran masing-masing hanya saling berhadapan tanpa melakukan

pertempuran. Setelah bulan Safar tiba berkobar lagi pertempuran kecil-kecilan.

Melihat hal ini Imam Ali r.a. tidak bisa bersabar lagi. Keadaan ini hanya mengulur-ulur waktu

dan bisa berlarut-larut. Yang untung hanya Muawiyah, yang mempergunakan kesempatan itu

guna menyebar fitnah untuk mematahkan semangat pasukan Imam Ali r.a.

Imam Ali r.a. segera mengeluarkan perintah serangan umum. Muawiyah yang juga telah

menyiapkan pasukan segera bangkit menghadapi serangan besar itu. Pertengahan bulan Syafar

tahun 37 Hijriyah ditandai oleh suatu pertempuran dahsyat antara dua pasukan yang

berlangsung penuh sepanjang hari. Pada hari keduanya terjadi pertempuran yang paling hebat,

yang sebelumnya tak pernah dikenal dalam sejarah Islam. Menurut kebiasaan bila senja tiba,

pertempuran dihentikan, tetapi kali ini pertempuran diteruskan di kegelapan malam. Darah

membasahi bumi Shiffin. Prajurit dan komandan berguguran. Bapak melawan anak, saudara

bertempur melawan saudara, muslim membunuh muslim. Malam dilewatkan dengan

pertumpahan darah yang tiada hentinya hingga fajar menyingsing.

Setelah beberapa hari bertempur dan Muawiyah melihat pasukannya mulai kewalahan, ia

berpaling kepada Amr bin Al Ash selaku penasehatnya agar dapat memberikan saran-saran. Amr

bin Al Ash muncul dengan tipu muslihatnya. Ia perintahkan kepada semua anggota pasukan

supaya menancapkan lembaran-lembaran Al Qur'an di ujung senjata masing-masing dan

mengangkatnya setinggi mungkin agar mudah diketahui oleh pasukan Kufah. Sejalan dengan itu

terdengarlah mereka berseru:

"Inilah Kitab Allah. Inilah Al Qur'an yang dari awal hingga akhir tetap berada di antara kita.

Allah, Allah, jaga dan lindungilah bangsa Arab. Allah, Allah, jaga dan lindungilah agama Islam.

Allah, Allah, lindungilah negeri kami. Siapakah yang akan menjaga Syam dari serangan musuh

(Romawi) apabila tentara Syam binasa? Dan siapa pulakah yang akan melindungi Iraq apabila

tentaranya musnah?"

Tujuan dari gerak-tipu itu ialah agar pasukan Kufah mengira, bahwa pasukan Syam sekarang

telah bersedia menerima penyelesaian secara damai berdasarkan hukum Allah.

Imam Ali r.a. Ditekan

Melihat pasukan Syam mengacung-acungkan lembaran Al Qur'an, fikiran pasukan Imam Ali r.a.

terpecah dalam berbagai pendapat. Yang tinggi kewaspadaan politiknya memperkirakan bahwa

itu hanya tipu-muslihat belaka. Guna mengelabui pasukan Imam Ali r.a. sehingga situasi buruk

yang mereka alami dapat diubah menjadi baik. Sedang yang dangkal pengertian politiknya

menganggap, bahwa perbuatan pasukan Syam itu bukan tipu muslihat, melainkan benar-benar

bermaksud jujur, mengajak kembali kepada ajaran dan perintah agama. Karena itu harus

disambut dengan jujur. Ini jauh lebih baik daripada perang berkobar terus sesama kaum

muslimin.

Selain itu ada pula kelompok yang hendak menunggangi situasi itu agar peperangan cepat

dihentikan. Mereka sudah jemu dengan peperangan dan sangat merindukan perdamaian.

Tidak selang berapa lama datanglah berduyun-duyun sejumlah orang kepada Imam Ali r.a.

Mereka menuntut supaya peperangan segera dihentikan. Tuntutan mereka itu ditolak oleh

Imam Ali r.a., karena ia yakin, bahwa apa yang diperbuat oleh orang-orang Syam itu hanya

tipu-muslihat. Karena itu kepada mereka yang menuntut dihentikannya peperangan, Imam Ali

r.a. menegaskan:

"Itu hanya tipu-daya dan pengelabuan! Aku ini lebih mengenal mereka daripada kalian! Mereka

itu bukan pembela-pembela Al-Qur'an dan agama Islam. Aku sudah lama mengenal mereka dan

mengetahui soal-soal mereka, mulai dari yang kecil-kecil sampai yang besar-besar. Aku tahu

mereka itu meremehkan agama dan sedang meluncur ke arah kepentingan duniawi. Oleh sebab

itu janganlah kalian terpengaruh oleh perbuatan mereka yang mengibarkan lembaran-lembaran

Al-Qur'an. Bulatkanlah tekad kalian untuk berperang terus sampai tuntas. Kalian sudah berhasil

mematahkan kekuatan mereka. Mereka sekarang sudah loyo dan tidak lama lagi akan hancur!"

Mereka tetap tidak mau mengerti, bahwa itu hanya tipu-muslihat. Mereka mendesak terus agar

perang dihentikan dan mengancam tidak mau mendukung Imam Ali r.a. lagi bila perang

diteruskan. Mereka bukan hanya sekedar menggertak dan mengintimidasi, bahkan mereka

sampai berani "memerintahkan" Imam Ali r.a. supaya mengeluarkan instruksi penghentian

perang dan menarik semua sahabatnya yang masih berkecimpung di medan tempur.

Benar-benar terlalu! Imam Ali r.a. sampai "diperintah" supaya cepat-cepat menarik .Al-Asytar

yang sedang memimpin pertempuran! Lebih dari itu. Mereka juga mengancam akan menangkap

dan menyerahkan Imam Ali r.a. kepada Muawiyah, jika ia tidak mau memenuhi tuntutan

mereka! Tidak sedikit jumlah pasukan Imam Ali r.a. yang berbuat sejauh itu. Mereka

bersumpah tidak akan meninggalkan Imam Ali r.a. dan akan terus mengepungnya, sebelum

Imam Ali r.a. melaksanakan "perintah" mereka.

Kedudukan Imam Ali r.a. benar-benar sulit, bahkan rawan dan gawat. Melanjutkan peperangan

berarti membuka lubang perpecahan. Menghentikan peperangan juga berarti membangkitkan

perlawanan kelompok yang lain, yang tidak percaya kepada tipumuslihat musuh. Ini juga

berarti perpecahan. Imam Ali r.a. benar-benar "tergiring" ke posisi sulit akibat muslihat politik

"tahkim" yang dilancarkan Muawiyah dan Amr.

Setelah kaum pembelot tak dapat diyakinkan lagi, Imam Ali r.a. terpaksa memanggil Al Asytar

dan memerintahkan supaya menghentikan peperangan. Pada mulanya Al Asytar menolak,

karena ia tidak mengerti sebabnya Imam Ali r.a. sampai bertindak sejauh itu. Kepada suruhan

Imam Ali r.a., Al Asytar berkata: "Bagaimana aku harus kembali dan bagaimana peperangan

harus kuhentikan, sedangkan tanda-tanda kemenangan sudah tampak jelas! Katakan saja

kepada Imam Ali, supaya ia memberi waktu kepadaku barang satu atau dua jam saja!"

Al Asytar membantah, sebab suruhan Imam Ali r.a. tidak menerangkan sama sekali sebabsebabnya

Imam Ali r.a. mengeluarkan perintah seperti itu dan tidak dijelaskan juga bagaimana

keadaan yang sedang dihadapi Imam Ali r.a. di markas-besarnya.

Waktu suruhan Imam Ali r.a. kembali dan melaporkan jawaban Al Asytar, orang-orang yang

sedang mengepungnya marah, gaduh, ribut dan berniat buruk terhadap Imam Ali r.a. Mereka

berprasangka jelek. Kemudian mereka bertanya kepada Imam Ali r.a.: "Apakah engkau

memberi perintah rahasia kepada Al Asytar supaya tetap meneruskan peperangan dan melarang

dia berhenti? Jika engkau tidak segera dapat mengembalikan Al Asytar, engkau akan kami

bunuh seperti dulu kami membunuh Utsman!"

Suruhan itu diperintahkan kembali untuk menemui Al Asytar. Agar ia cepat kembali, suruhan itu

melebih-lebihkan keterangan kepada Al Asytar: "Apakah engkau mau menang dalam

kedudukanmu ini, sedang Ali sekarang lagi dikepung 50.000 pedang?"

"Apa sebab sampai terjadi seperti itu?" tanya Al Asytar yang ingin mendapat keterangan lebih

jauh.

"Karena mereka melihat lembaran-lembaran Al Qur'an dikibarkan oleh pasukan Syam," jawab

suruhan.

Sambil bersiap-siap untuk kembali menghadap Imam Ali r.a., Al Asytar berkata: "Demi Allah,

aku sudah menduga akan terjadi perpecahan dan malapetaka pada waktu aku melihat

lembaran-lembaran Al Qur'an dikibarkan orang!"

Al Asytar segera pulang. Setiba di markas-besar ia melihat Imam Ali r.a. dalam keadaan

bahaya. Anggota-anggota pasukan yang mengepung sedang mempertimbangkan apakah Imam

Ali r.a. dibunuh saja atau diserahkan kepada Muawiyah. Saat itu tidak ada orang lain yang

memberi perlindungan kepada Imam Ali r.a. kecuali dua orang puteranya sendiri Al Hasan r.a.

dan Al Husein r.a. serta Abdullah Ibnu Abbas dan beberapa orang lain, yang jumlah kesemuanya

tak lebih dari 10 orang.

Ketika melihat situasi yang sangat kritis itu, A1 Asytar segera menerobos kepungan sambil

memaki-maki mereka yang sedang mengancam-ancam: "Celaka kalian! Apakah setelah

mencapai kemenangan dan keberhasilan lantas kalian mau menghentikan dukungan dan

menciptakan perpecahan. Sungguh impian yang sangat kerdil. Kalian itu memang perempuan!

Sungguh busuk kalian itu!"

Datanglah Al Asy'ats bin Qeis kepada Imam Ali r.a. lantas berkata : "Ya Amiral Mukminin, aku

melihat orang-orang sudah menerima dan menyambut baik ajakan mereka (pasukan Syam)

untuk mengadakan penyelesaian damai berdasarkan hukum Al Qur'an. Kalau engkau setuju, aku

akan datang kepada Muawiyah untuk menanyakan apa sesungguhnya yang dimaksud dan apa

yang diminta olehnya."

"Pergilah, kalau engkau mau…!" jawab Imam Ali r.a.

Dalam pertemuannya dengan Muawiyah, Al Asy'ats bertanya: "Untuk apa engkau mengangkat

lembaran-lembaran Al Qur' an pada ujung-ujung senjata pasukanmu?"

Muawiyah menerangkan: "Supaya kami dan kalian semuanya kembali kepada apa yang

diperintahkan Allah dalam Al-Qur' an. Oleh karena itu utuslah seorang yang kalian percayai, dan

dari fihak kami pun akan mengutus seorang juga. Kepada kedua orang itu kita tugaskan supaya

bekerja atas dasar Kitab Allah dan jangan sampai melanggarnya. Kemudian, apa yang

disepakati oleh dua orang itu kita taati bersama…"

Al Asy'ats menanggapi keterangan Muawiyah itu dengan ucapan: "Itu adalah kebenaran!"

Setelah itu Al Asy'ats dan beberapa orang ulama Al-Qur'an berkata kepada Imam Ali r.a.: "Kita

telah menerima baik tahkim berdasar Kitab Allah…, dan kami sepakat untuk memilih Abu Musa

Al Asy'ariy sebagai utusan!"

Imam Ali r.a. menolak: "Aku tidak setuju Abu Musa ditetapkan sebagai utusan. Aku tidak mau

mengangkat dia!"

Al Asy'ats menyanggah: "Kami tidak bisa menerima orang selain dia. Dialah yang telah

mengingatkan kita mengenai kejadian yang sedang kita hadapi sekarang ini, yakni peperangan…"

Imam Ali r.a. masih tetap menolak: "Ya, tetapi aku tidak dapat menyetujui dia. Ia dulu

meninggalkan aku dan berusaha mencegah orang supaya tidak membantuku. Kemudian ia lari,

tetapi sebulan setelah itu ia kembali dan kujamin keselamatannya. Inilah Ibnu Abbas, orang

yang akan kuangkat sebagai utusan!"

Al Asy'ats menolak sambil berdalih: "Demi Allah, kami tidak peduli. Kami menginginkan seorang

yang netral, tidak condong kepadamu dan tidak condong kepada Muawiyah!"

Imam Ali r.a. mengajukan usul lain: "Kalau begitu, aku akan mengangkat Al Asytar!"

Dengan sinis Al Asy'ats bertanya: "Apakah bumi ini akan terbakar jika bukan Al Asytar yang kau

angkat? Apakah kami hendak kau tempatkan di bawah kekuasaan Al Asytar?"

Imam Ali r.a. ingin mendapat penjelasan, lalu bertanya: "Kekuasaan yang bagaimana?"

Al Asy'ats menyahut: "Kekuasaan dia ialah hendak mendorong kaum muslimin terus menerus

mengadu pedang sampai terlaksana apa yang diinginkan olehmu dan olehnya!"

Imam Ali r.a. masih berusaha menyakinkan: "Muawiyah tidak menyerahkan tugas itu kepada

siapa pun selain orang yang dipercaya benar-benar olehnya, yaitu Amr bin Al Ash. Bagi orang

Qureisy itu (Muawiyah) memang tidak ada yang paling baik baginya kecuali orang seperti Amr…!

Kalian akan diwakili oleh Abdullah bin Abbas. Biarlah dia yang menghadapi Amr. Abdullah

mampu mengatasi kesulitan yang akan dihadapkan oleh Amr kepadanya, sedangkan Amr tidak

akan sanggup mengatasi kesulitan yang akan dihadapkan oleh Abdullah kepadanya. Abdullah

mampu menangkis hujjah-hujjah yang diajukan oleh Amr, sedangkan Amr tidak akan mampu

menangkis hujjah-hujjah yang diajukan oleh Abdullah!"

Al Asy'ats tetap berkeras kepala. Ia berganti dalih: "Demi Allah, tidak…! Sampai kiyamat pun

masalah tahkim itu tidak boleh dirundingkan oleh dua orang sama-sama berasal dari Bani

Mudhar. Angkatlah orang yang dari Yaman (Abu Musa), sebab mereka sudah mengangkat orang

dari Mesir (Amr)…!"

Imam Ali mengingatkan: "Aku khawatir kalu-kalau kalian akan terkelabui. Sebab kalau Amr

sudah menuruti hawa nafsunya dalam urusan tahkim itu, ia sama sekali tidak takut kepada

Allah!"

Dengan bersitegang leher Al Asy'ats berkata: "Demi Allah, kalau salah seorang dari dua

perunding itu berasal dari Yaman, lalu mengambil beberapa keputusan yang tidak

menyenangkan kita, itu lebih baik bagi kita daripada kalau dua orang perunding itu sama-sama

berasal dari Bani Mudhar, walau mereka ini mengambil beberapa keputusan yang

menyenangkan kita!"

Imam Ali r.a. minta ketegasan terakhir: "Jadi…, kalian tidak menghendaki selain Abu Musa?"

"Ya!" jawab Al Asy'ats.

"Kalau begitu, kerjakanlah apa yang kalian inginkan!" kata Imam Ali r.a. dengan hati masgul.

Beberapa orang pengikut Imam Ali r.a. kemudian berangkat untuk menemui Muawiyah guna

mengadakan persetujuan tertulis mengenai prinsip disetujuinya tahkim oleh kedua belah fihak.

Wakil fihak Kufah (Imam Ali r.a.) menuliskan dalam teks perjanjian sebuah kalimat: "Inilah yang

telah disetujui oleh Amirul Mukminin…"

Baru sampai di situ Muawiyah cepat-cepat memotong: "Betapa jeleknya aku ini, kalau aku

mengakui dia sebagai Amirul Mukminin tetapi aku memerangi dia!"

Amr bin Al Ash menyambung: "Tuliskan saja namanya dan nama ayahnya. Dia itu Amir

(penguasa) kalian dan bukan Amir kami!"

Wakil-wakil fihak Kufah kembali menghadap Imam Ali r.a. untuk minta pendapat mengenai

penghapusan sebutan "Amirul Mukminin". Ternyata Imam Ali r.a. memerintahkan supaya

sebutan itu dihapus saja dari teks perjanjian. Tetapi Al Ahnaf cepat-cepat mengingatkan:

"Sebutan Amirul Mukminin jangan sampai dihapus. Kalau sampai dihapus, aku khawatir

pemerintahan (imarah) tak akan kembali lagi kepadamu untuk selama-lamanya. Jangan...,

jangan dihapus, walau peperangan akan berkecamuk terus!"

Setelah mendengar naselat Al Ahnaf itu untuk beberapa saat lamanya Imam Ali r.a. berfikir

hendak mempertahankan sebutan "Amirul Mukminin" dalam teks perjanjian, tetapi keburu Al

Asy'ats datang lagi dan mendesak supaya sebutan itu dihapuskan saja.

Dengan perasaan amat kecewa Imam Ali r.a. berucap: "Laa llaaha Illahllaah . Allaahu Akbar!

Sunnah yang dulu sekarang disusul lagi dengan sunnah baru. Demi Allah, bukankah persoalan

seperti itu dahulu pernah juga kualami? Yaitu waktu diadakan perjanjian Hudaibiyyah?!

"Waktu itu atas perintah Rasul Allah s.a.w. aku menulis dalam teks perjanjian "Inilah perjanjian

yang dibuat oleh Muhammad Rasul Allah dan Suhail bin Amr." Ketika itu Suhail berkata: "Aku

tidak mau menerima teks yang berisi tulisan 'Rasul Allah'. Sebab kalau aku percaya bahwa

engkau itu Rasul Allah, tentu aku tidak akan memerangimu! Adalah perbuatan dzalim kalau aku

melarangmu bertawaf di Baitullah, padahal engkau itu adalah Rasul Allah! Tidak, tuliskan saja

'Muhammad bin Abdullah', baru aku mau menerimanya…!"

"Waktu itu Rasul Allah memberi perintah kepadaku: 'Hai Ali, aku ini adalah Rasul Allah dan aku

pun Muhammad bin Abdullah. Teks perjanjian dengan mereka yang hanya menyebutkan

Muhammad bin Abdullah tidak akan menghapuskan kerasulanku. Oleh karena itu tulis saja

Muhammad bin Abdullah !' Waktu itu beberapa saat lamanya aku dibuat bingung oleh kaum

musyrikin. Tetapi sekarang, di saat aku sendiri membuat perjanjian dengan anak-anak mereka,

pun mengalami hal-hal yang sama seperti yang dahulu dialami oleh Rasul Allah s.a.w.…"

Teks perjanjian itu akhirnya ditulis juga tanpa menyebut kedudukan Imam Ali r.a. sebagai

Amirul Mukminin. Al Asytar kemudian dipanggil untuk menjadi saksi. Sebagai reaksi Al Asytar

berkata pada Imam Ali: "Anda akan kehilangan segala-galanya bila perjanjian ditulis seperti itu.

Bukankah anda ini berdiri di atas kebenaran Allah? Bukankah anda ini benar-benar yakin bahwa

musuhmu itu orang yang memang sesat? Kemudian ia berkata kepada mereka: "Apakah kalian

tidak melihat kemenangan sudah diambang pintu seandainya kalian tidak berteriak minta belas

kasihan kepada musuh?!"

Al Asy'ats menyahut: "Demi Allah, aku tidak melihat kemenangan dan tidak pula meminta belas

kasihan kepada musuh. Ayohlah berjanji, bahwa engkau akan taat! Akuilah apa yang tertulis

dalam teks perjanjian ini!"

Al Asytar menjawab: "Demi Allah, dengan pedangku ini Allah telah menumpahkan darah orangorang

yang menurut penilaianku lebih baik daripada engkau, dan aku tidak menyesali darah

mereka! Aku hanya mau mengikuti apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin. Apa yang

diperintahkan, akan kulaksanakan, dan apa yang dilarang akan kuhindari, sebab perintahnya

selalu benar dan tepat!"

Pada saat itu datanglah Sulaiman bin Shirid menghadap Amirul Mukminin, sambil membawa

seorang yang luka parah akibat pukulan pedang. Waktu Imam Ali r.a. menoleh kepada orang yang luka parah itu, Sulaiman berkata mengancam: "Ada orang yang sudah menjalani nasibnya

dan ada pula yang sedang menunggu nasib! Dan... engkau termasuk orang-orang yang sedang

menunggu nasib seperti orang ini!"

Ada lagi yang datang menghadap, lalu berkata: "Ya Amirul Mukminin, seandainya engkau masih

mempunyai orang-orang yang mendukungmu, tentu engkau tidak akan menulis teks perjanjian

seperti itu. Demi Allah, aku sudah berkeliling ke sana dan ke mari untuk mengerahkan orangorang

supaya mau melanjutkan peperangan. Tetapi ternyata hanya tinggal beberapa gelintir

saja yang masih sanggup melanjutkan peperangan!"

Ada orang lain lagi datang menghadap, lalu berkata: "Ya Amirul Mukminin, apakah tidak ada

jalan untuk membatalkan perjanjian itu? Demi Allah, aku sangat khawatir kalau-kalau

perjanjian itu akan membuat kita hina dan nista!"

Imam Ali r.a. menjawab: "Apakah kita akan membatalkan perjanjian yang sudah ditulis itu? Itu

tidak boleh terjadi!"

Imam Ali r.a. terpaksa menyetujui adanya perjanjian dengan Muawiyah mengenai prinsip

penyelesaian damai berdasarkan hukum Al Qur'an. Banyak di antara pengikutnya yang merasa

kecewa dan menyesal, tetapi sikap tersebut sudah terlambat.

Karena sangat kecewa dan menyesal, mereka lalu berteriak kepada semua orang di mana saja:

"Tiada hukum selain hukum Allah! Hukum di tangan Allah dan bukan di tanganmu, hai Ali! Kami

tidak rela ada orang-orang yang akan menetapkan hukum terhadap agama Allah! Hukum Allah

bagi Muawiyah dan pengikut-pengikutnya sudah jelas, yaitu mereka harus kita perangi atau

harus kita tundukkan kepada pemerintahan kita! Kita telah terperosok dan tergelincir pada saat

kita menyetujui tahkim! Sekarang kita telah bertaubat dan tidak mau lagi mengakui perjanjian

itu! Dan engkau, hai Ali, tinggalkanlah perjanjian itu dan bertaubatlah kepada Allah seperti

yang sudah kita lakukan. Kalau tidak, kita tidak turut bertanggung jawab!"

Imam Ali r.a. bukanlah orang yang biasa menciderai perjanjian, walau perjanjian itu akan

mengakibatkan dirinya harus menanggung resiko kedzaliman orang lain. Kepada orang-orang

yang menuntut supaya ia menciderai perjanjian dan segera bertaubat, ia menjawab:

"Celakalah kalian! Apakah setelah kita sendiri mau menyetujui perjanjian itu lantas sekarang

harus berbuat cidera? Bukankah Allah telah memerintahkan supaya kita menjaga baik-baik dan

memenuhi perjanjian? Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya):

"Tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan

sumpah-sumpahmu sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai

saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat" (S. An Nahl: 91).

Beberapa hari setelah peperangan berhenti, dalam salah satu khutbahnya Imam Ali r.a.

berkata: "Perintahku masih kalian ikuti terus seperti yang kuinginkan sampai saat kalian dilanda

perpecahan fikiran. Demi Allah, kalian tahu bahwa peperangan itu sama sekali tidak

menghilangkan kekhalifahanku. Itu masih tetap ada. Bahkan peperangan itu sebenarnya lebih

memporak-porandakan musuh kalian. Di tengah-tengah kalian, kemarin aku masih memerintah,

tetapi hari ini aku sudah menjadi orang yang diperintah. Kemarin aku masih menjadi orang

yang bisa melarang, tetapi hari ini aku menjadi orang yang dilarang. Kalian ternyata sudah

menjadi orang-orang yang lebih menyukai hidup, dan aku tidak dapat lagi mengajak kalian

kepada apa yang tidak kalian sukai…"

Penyimpangan Abu Musa

Beberapa bulan kemudian, bertemulah dua orang perunding di sebuah tempat yang letaknya

tidak jauh dari Shiffin. Amr bin Al Ash mewakili Muawiyah, dan Abu Musa Al Asy'ariy mewakili Imam Ali r.a. Dalam perundingan itu Amr dengan gigih bertahan membela Muawiyah, sedangkan

Abu Musa berpendirian "asal damai" dan "asal selamat". Dengan berbagai siasat dan muslihat,

akhirnya Amr berhasil menyeret Abu Musa kepada suatu konsepsi yang meniadakan

kekhalifahan Imam Ali r.a.

Berdasarkan prinsip "asal damai" dan "asal selamat", Abu Musa mengusulkan supaya fihak Amr

bersedia menerima Abdullah bin Umar Ibnul Khattab sebagai calon Khalifah yang akan

menggantikan Imam Ali. Usul Abu Musa itu dijawab oleh Amr: "mengapa anda tidak

mengusulkan anak lelakiku yang bernama Abdullah? Anda kan tahu sendiri anakku itu seorang

yang shaleh!"

Pembicaraan berlangsung terus. Setelah lama berunding akhirnya dua orang itu sepakat untuk

memberhentikan Imam Ali r.a. sebagai Khalifah dan memberhentikan Muawiyah sebagai

pemimpin di Syam dan menyerahkan kepada ummat Islam untuk memilih Khalifah lain yang

disukainya.

Begitu licinnya Amr mengelabui Abu Musa, sampai Abu Musa sendiri merasa adil dalam

melaksanakan tugas sebagai wakil Imam Ali r.a. Selain itu Abu Musa sedikit pun tidak

mempunyai kecurigaan bahwa Amr akan menyimpang dari kesepakatan.

Selesai berunding, Amr dan Abu Musa sepakat akan mengumumkan hasil perundingan itu di

depan khalayak ramai. Untuk merealisasinya, oleh Amr diminta kepada Abu Musa supaya lebih

dulu mengumumkan pemberhentian Imam Ali, kemudian barulah Amr akan mengumumkan

pemberhentian Muawiyah. Seperti orang terkena sihir Abu Musa mengiakan saja apa yang

diminta oleh Amr, kendatipun ia telah diperingatkan oleh Ibnu Abbas agar jangan bicara lebih

dulu.

Di depan orang banyak Abu Musa mengumumkan, bahwa dua orang perunding telah bersepakat

untuk memberhentikan imam Ali dan Muawiyah, demi kerukunan dan perdamaian di antara

kaum muslimin. Setelah memberi penjelasan sedikit, dengan lantang Abu Musa berkata:

"Sekarang aku menyatakan pemberhentian Ali sebagai Khalifah!"

Selesai Abu Musa, tampillah Amr bin Al Ash. Ia tidak berbicara seperti Abu Musa. Ia tidak

mengumumkan bahwa dua orang perunding telah sepakat memberhentikan Imam Ali dan

Muawiyah. Amr hanya mengatakan: "Abu Musa tadi telah menyatakan dengan resmi

pemberhentian Ali bin Abi Thalib dari kedudukannya sebagai Khalifah. Mulai saat ini ia tidak

lagi menjadi Khalifah! Sekarang aku mengumumkan bahwa aku mengukuhkan kedudukan

Muawiyah sebagai Khalifah, pemimpin kaum muslimin!"

Mendengar kata-kata Amr, Abu Musa sangat marah. Ia tak mungkin lagi menjilat ludah yang

suda jatuh. Abu Musa pergi meninggalkan tempat perundingan. Sejak itu namanya tidak pernah

disebut-sebut lagi dalam sejarah.

Beberapa waktu sebelum Abu Musa menghilang, ia masih menerima sepucuk surat dari Abdullah

bin Umar Ibnul Khattab, sebagai reaksi terhadap usul pencalonannya, yang diucapkan Abu Musa

dalam perundingan. Surat Abdullah tersebut sebagai berikut:

"Hai Abu Musa, engkau membawa-bawa diriku ke dalam persoalan yang engkau sendiri tidak

mengetahui bagaimana fikiranku mengenai hal itu. Apakah engkau mengira bahwa aku akan

bersedia mencampuri urusan yang engkau mengira aku ini lebih terkemuka dibanding Ali bin Abi

Thalib? Bukankah sudah sangat jelas bahwa ia jauh lebih baik daripada diriku? Engkau sungguh

sia-sia, dengan begitu engkau sendirilah yang menderita rugi. Aku sama sekali bukan orang yang

mengambil sikap permusuhan. Engkau benar-benar telah membuat marah Ali bin Abi Thalib dan

Muawiyah karena ucapanmu mengenai diriku.

"Lebih-lebih Ali bin Abi Thalib, karena melihat engkau telah tertipu oleh Amr. Padahal engkau

itu seorang pengajar Al Qur'an, seorang yang pernah menjadi utusan penduduk Yaman untuk

menghadap Rasul Allah s.a.w., seorang yang pernah diberi kepercayaan membagi-bagikan

ghanimah pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar. Ternyata sekarang telah tertipu oleh

ucapan-ucapan Amr bin Al Ash, sampai engkau lancang dan memecat Ali sebelum memecat

Muawiyah!"

Menanggapi surat Abdullah bin Umar Ibnul Khattab tersebut, Abu Musa menulis: "Aku bukannya

hendak mendekatimu dengan jalan mendudukkan dirimu atau membai'atmu sebagai Khalifah.

Yang kuinginkan hanyalah keridhoan Allah s.w.t. Kesediaanku memikul tugas ummat ini bukan

suatu hal yang buruk atau tercela. Sebab ummat ini seolah-olah sedang berada di ujung

pedang. Selama hidup sampai mati aku akan tetap mengatakan, bahwa yang kuinginkan ialah

agar ummat ini selalu damai. Sebab jika tidak, ummat ini tidak akan dapat kembali kepada

kebesaran semula."

Seterusnya Abu Musa mengatakan: "Adapun mengenai ucapanku tentang dirimu yang dapat

membuat marah Ali dan Muawiyah, sebenarnya dua orang itu sudah lebih dulu marah kepadaku.

Tentang tipu muslihat Amr terhadap diriku, demi Allah, tipu muslihatnya itu tidak merugikan

Ali bin Abi Thalib dan juga tidak menguntungkan Muawiyah. Sebab syarat yang sudah kami

tetapkan bersama ialah, bahwa kami hanya terikat oleh apa yang sudah disepakati bersama,

dan bukan terikat oleh apa yang kami perselisihkan. Adapun mengenai apa yang engkau

dilarang melakukannya oleh ayahmu, demi Allah, seandainya persoalan ini dapat diselesaikan,

engkau akan terpaksa menerimanya!"

Dari surat jawaban Abu Musa kepada Abdullah itu jelaslah, bahwa Abu Musa benar-benar

fikirannya dicekam rasa rindu perdamaian. Dan demi perdamaian ia tidak segan-segan

menyimpang jauh dari tugas yang dipikulnya dan rela menjebloskan pemimpinnya sendiri.


Bab XII : GERAKAN KHAWARIJ

Imam Ali r.a. adalah seorang yang tidak pernah berbuat sesuatu yang berlainan antara ucapan

dan perbuatan. Ia menolak keras hasil perundingan antara Abu Musa dengan Amr, tetapi karena

ia telah menyatakan kesediaan menerima "tahkim" --walaupun hanya karena ia ditekan oleh

pengikutnya-- prinsip itu dipertahankan dengan konsekuen, selama fihak lawan benar-benar

hendak mencari penyelesaian berdasarkan hukum Al-Qur'an.

Hal ini dapat dibuktikan dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan kepada beberapa orang

pengikutnya yang mengajukan pertanyaan. Dalam penjelasannya itu Imam Ali r.a. mengatakan:

"Kami menerima tahkim. Oleh karena itu tahkim harus didasarkan kepada Kitab Allah, Al-

Qur'an. Al Qur'an itu tertulis pada lembaran-lembaran. Al-Qur'an tidak berbicara dengan lisan

dan tidak bisa tidak memerlukan penafsiran. Penafsiran itu sudah tentu keluar dari ucapan

orang. Setelah mereka minta kepada kami supaya kami mengadakan penyelesaian berdasarkan

tahkim Al-Qur'an, kami tidak mau menjadi fihak yang berdiri di luar Al-Qur'an. Sebab Allah

'Azaa wa Jalla telah berfiman, artinya: "Jika kalian bertengkar mengenai sesuatu, maka

kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya." (S. An Nisa: 59).

"Mengembalikan persoalan kepada Allah," kata Imam Ali r.a. seterusnya, "berarti kami harus

mencari penyelesaian hukum di dalam Kitab Allah. Dan mengembalikan persoalan kepada

Rasul-Nya, berarti kami harus mengambil sunnah Rasul Allah. Jika persoalan benar-benar

hendak diselesaikan berdasar hukum yang ada dalam Kitab Allah, sesungguhnyalah kami lebih

berhak berbuat daripada orang lain. Dan kalau hendak diselesaikan berdasarkan sunnah Rasul

Allah, pun kami jugalah yang lebih berhak daripada orang lain."

"Adapun ucapan mereka yang mengatakan: 'mengapa diadakan tenggang waktu (gencatan

senjata) dalam menempuh jalan tahkim?' Kata Imam Ali r.a. lebih lanjut, hal itu kami lakukan

agar menjadi jelas bagi orang yang tidak mengerti, dan agar menjadi mantap bagi orang yang sudah mengerti. Mudah-mudahan selama gencatan senjata itu Allah akan memperbaiki keadaan

ummat, agar menjadi terang, dan awal kesesatan itu dapat segera diluruskan."

"Sesungguhnya yang paling afdhal di sisi Allah," kata Imam Ali r.a. pula, "ialah orang yang lebih

menyukai berbuat kebenaran walau kebenaran itu mendatangkan kesukaran dan kerugian

baginya. Yaitu orang yang pantang berbuat kebatilan, walau kebatilan itu akan mendatangkan

kemudahan dan keuntungan baginya. Jadi, bagaimanakah kalian sampai menjadi bingung, dan

dari manakah keraguan yang menghinggapi fikiran kalian?"

Imam Ali r.a. Digugat

Sekarang, setelah ternyata politik tahkim itu benar-benar hanya tipu muslihat Muawiyah,

kelompok kontra tahkim yang terdapat dalam pasukan Imam Ali r.a. menggugat, mengungkit

dan melemparkan segala kesalahan kepada pundak Imam Ali r.a. Lebih aneh lagi karena banyak

yang tadinya pro tahkim, setelah kelompok kontra tahkim bergerak, mereka ikut-ikutan

menentang Imam Ali r.a. dan bergabung dengan kelompok kontra tahkim.

Kelompok kontra tahkim itu dalam sejarah dikenal dengan nama Khawarij (orang-orang yang

keluar meninggalkan barisan Imam Ali r.a.). Pada suatu hari kelompok ini berkumpul di rumah

Abdullah bin Wahb Ar Rasibiy. Di tempat pertemuan ini tampil tokoh-tokoh mereka bergantian

beragitasi membakar semangat perlawanan terhadap Imam Ali r.a.

Abdullah Ar Rasibiy dalam pidatonya mengatakan: "Saudara-saudara, bagi kaum yang beriman

kepada Allah Ar Rahman, yang patuh kepada hukum Al-Qur'an, kehidupan dunia ini harus diisi

dengan amr ma'ruf dan nahi mungkar, serta dengan perkataan yang benar walau pahit dan

berbahaya. Sekalipun pahit dan berbahaya, tetapi pada hari kiyamat kelak orang akan

memperoleh keridhoan Allah dan kekal menikmati kehidupan sorga. Oleh karena itu marilah

kita keluar meninggalkan negeri yang penduduknya sudah menjadi dzalim ini dan pergi ke

daerah lain! Kita harus menolak bid'ah yang sesat ini (yakni: tahkim) dan menentang hukum

yang durhaka!"

Sedang Hurqush bin Zuhair berkata: "Saudara-saudara, kesenangan di dunia ini sungguh amat

sedikit. Tidak ayal lagi, kita ini pasti akan berpisah dengan dunia. Oleh karena itu kalian jangan

sampai merasa terikat oleh keindahan dan kegemerlapannya, atau ingin tetap hidup selamalamanya!

Janganlah kalian lengah dari kewajiban menuntut kebenaran dan menentang

kebatilan. Sesungguhnya Allah senantiasa beserta orang yang bertawa dan orang-orang yang

berbuat kebajikan. Hai saudara-saudara, kita sudah bersepakat bulat mengenai kebenaran itu.

Sekarang angkatlah salah seorang dari kalian sebagai pemimpin. Sebab bagaimana pun juga

kalian tetap memerlukan tiang untuk bersandar, dan membutuhkan adanya suatu lambang di

mana kalian akan berhimpun di sekitarnya dan kembali kepadanya."

Habis berkumpul di rumah Abdullah Ar Rasibiy, mereka pergi bersama-sama ke rumah Zafr bin

Hushn At Tha'iy. Di rumah ini Zafr beragitasi dengan hebatnya: "Hai saudara-saudara,

sebenarnya kita ini telah berjanji setia kepada Allah s.w.t. untuk berbuat amr ma'ruf dan nahi

mungkar, berkata benar dan berjuang menegakkan jalan yang lurus. Allah sudah

memerintahkan kepada Rasul-Nya, Daud: "Hai Daud, engkau telah kami jadikan Khalifah di

bumi, maka laksanakanlah hukum dengan adil di antara sesama manusia, dan janganlah engkau

menuruti hawa nafsu, sebab hal itu akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Orang-orang

yang sesat dari jalan Allah akan memperoleh siksa amat berat" (As Shad:26).

"Juga Allah telah berfirman," kata Zafr: "Barang siapa tidak menetapkan hukum menurut apa

yang telah diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang kafir." (Al-Ma'idah: 44).

"Oleh karena itu", kata Zafr selanjutnya, "bersumpahlah kalian untuk melawan orang yang dulu

kita dukung ajarannya. Orang itu sekarang sudah mengikuti hawa nafsu, mengabaikan hukum

Allah, berlaku dzalim dalam menetapkan hukum dan melaksanakannya. Oleh karena itu perjuangan melawan orang-orang seperti itu adalah wajib bagi kaum mukminin.

"Aku bersumpah, demi Allah, seandainya tak ada seorang pun yang mau berjuang menghapus

kemungkaran itu, atau tidak ada orang yang mau membantu perjuangan melawan orang-orang

bathil dan durhaka itu, aku akan memerangi mereka seorang diri sampai aku berjumpa dengan

Allah s.w.t. Biarlah Allah sendiri yang menjadi saksi, dengan lidah aku telah berjuang

memperbaiki keadaan sesuai dengan kehendak-Nya dan menurut keridhoan-Nya."

"Saudara-saudara, hantamlah muka dan kepala mereka dengan pedang, sampai Allah 'Azaa wa

Jalla ditaati oleh mereka. Jika orang itu sudah mau taat kepada Allah sebagaimana yang kalian

inginkan, Allah akan mengaruniakan pahala kepada kalian sebagai orang-orang yang telah

membuktikan ketaatan dan telah melaksanakan perintah-Nya. Jika kalian mati terbunuh,

apakah yang lebih penting daripada berjalan menuju keridhoan Allah dan sorga-Nya?

"Ketahuilah saudara-saudara, mereka sekarang sudah siap untuk mempertahankan hukum yang

sesat. Marilah kita semua keluar menuju ke sebuah daerah yang telah kita sepakati dalam

pertemuan kita ini. Kalian telah menjadi pembela-pembela kebenaran di tengah-tengah ummat

manusia. Sebab kalian sudah mengumandangkan kebenaran dan tetap bertekad hendak berkata

benar."

"Marilah kita pergi ke Madain yang telah kita sepakati itu, kita buka pintunya dan kita kerahkan

penduduknya, kemudian kita kirimkan utusan kepada saudara-saudara kita di Bashrah, agar

mereka mau bergabung dengan kita!"

Sesudah agitasi Zafr ini, tampil Zaid bin Hushn At Tha'iy, saudara Zafr, dengan kata-kata: "Di

daerah itu nanti akan ada orang-orang yang merintangi kalian masuk, dan mereka pun akan

mencegah kalian menduduki daerah itu. Oleh karena itu sebaiknya kita segera menulis surat

kepada saudara-saudara kita di Bahsrah. Beritahukan mereka tentang keluarnya kalian sekarang

ini. Setibanya di sana, berhentilah kalian di Nehrawan!"

Semua pidato itu mendapat sambutan hangat dan yang hadir menyatakan persetujuan bulat.

Kemudian ditulislah sepucuk surat kepada teman-teman mereka di Bashrah. Isinya sebagai

berikut : "…Orang-orang yang dulu kami dukung seruannya (yakni Imam Ali) sekarang sudah

mengangkat orang untuk menetapkan tahkim terhadap agama Allah. Mereka membiarkan

orang-orang durhaka menguasai hamba-hamba Allah. Oleh sebab itu kami sekarang menentang

mereka dan sudah meninggalkan mereka. Dengan cara itu kami hendak mendekatkan diri

kepada Allah, dan sekarang kami sudah berada di jembatan Nehrawan. Kami ingin memberi

tahukan kalian, agar kalian dapat ikut ambil bagian untuk memperoleh pahala. Wassalaam."

Jawaban dari teman-teman mereka di Bashrah mengatakan, bahwa mereka mendukung dan

membenarkan tekad mereka, serta siap menjalankan perintah Allah dan bersedia ambil bagian

dalam perjuangan melawan Imam Ali r.a. dan pendukungnya. Surat itu diakhiri dengan katakata:

"Kami sudah bersepakat untuk segera berangkat guna bergabung dengan kalian."

Menurut rencana, mereka hendak berangkat pada malam Kamis. Sebelum berangkat mereka

berkumpul sekali lagi di rumah Hurqush bin Zuhair. Setelah mengadakan pembicaraan sejenak,

akhirnya mereka sepakat mengundurkan waktu keberangkatan

menjadi malam Jum'at. Kesepakatan itu berubah lagi berdasarkan saran Hurqush: "Malam

Jum'at sebaiknya kalian tinggal di sini saja dulu untuk banyak-banyak beribadah kepada Allah,

dan pergunakanlah sebagai kesempatan untuk meninggalkan wasiyat-wasiyat. Malam Sabtu

barulah kalian berangkat, seorang-seorang atau dua-dua, agar jangan sampai menyolok mata

orang banyak."

Ke Nehrawan

Untuk berusaha menginsyafkan kaum Khawarij yang sudah mulai berangkat ke Nehrawan guna mempersiapkan pemberontakan bersenjata, Imam Ali r.a. cepat-cepat menulis surat kepada

mereka, dibawa oleh seorang kurir. Dalam surat tersebut Imam Ali r.a. menjelaskan seperti

yang sudah pernah dikemukakan dalam khutbah-khutbahnya. Sebelum menutup suratnya

dengan kata-kata "Wassalaam", Imam Ali r.a. menegaskan ajakannya: "Seterimanya surat ini,

hendaknya kalian segera kembali kepada kami. Kami sudah siap untuk berangkat menghadapi

musuh kami dan musuh kalian, dan kami tetap memegang pimpinan seperti semula!"

Surat Imam Ali r.a. itu cepat dijawab oleh kaum Khawarij dengan penuh ejekan dan tuduhan

tak semena-mena: "Engkau marah bukan karena Allah. Engkau marah hanya karena dirimu

sendiri! Allah tidak akan menyelamatkan tipu-daya orang-orang yang berkhianat!"

Setelah membaca surat jawaban Khawarij yang seperti itu, Imam Ali r.a. putus harapan

mengajak mereka bersatu kembali. Tadinya ia berniat hendak berangkat menghadapi pasukan

Muawiyah di Shiffin, tetapi sekarang..., apa boleh buat! Daripada tertusuk dari belakang, lebih

baik kaum Khawarij "dibenahi" lebih dahulu. Usaha memberi pengertian sudah ditempuh.

Mengajak bersatu kembali telah dicoba. Ajakan untuk berjuang lagi melawan pasukan Syam

sudah ditolak. Bahkan mereka sekarang siap mengacungkan pedang. Bahaya harus ditanggulangi

satu demi satu. Yang lebih ringan perlu disingkirkan lebih dulu.

Sekarang Imam Ali r.a. merobah niat semula. Menangguhkan perlawanan terhadap pasukan

Syam dan menumpas kaum Khawarij lebih dulu. Pasukan disiapkan untuk berangkat mengejar

kaum Khawarij. Lalu Imam Ali r.a. mengucapkan amanat yang berisi petunjuk dan komando:

"Barang siapa meninggalkan perjuangan dan menjauhi perintah Allah, ia berada di tepi jurang

bahaya, sampai Allah sendiri menyelamatkan dengan rahmat-Nya. Oleh karena itu, hai para

hamba Allah, bertaqwalah kalian semua kepada-Nya. Perangilah orangorang yang bertindak

memerangi kaum pengemban Amanat Allah. Perangilah mereka yang mengubah agama Allah,

orang-orang yang tidak mau mengerti Kitab Allah, dan tidak mau mengerti isyarat-isyarat Al-

Qur'an, yaitu mereka yang tidak mau melihat persoalan dari sudut agama. Mereka itu

sesungguhnya orang-orang yang belum begitu lama memeluk agama Islam."

"Demi Allah," kata Imam Ali r.a. seterusnya, "seandainya mereka itu sampai dapat menguasai

kalian, mereka pasti akan berbuat seperti Kisra dan Kaisar (raja-raja Persia dan Romawi).

Berangkatlah sekarang dan siap bertempur. Aku sudah mengirim utusan ke Bashrah agar

saudara-saudara yang ada di sana bergabung dengan kalian. Insya Allah, mereka akan segera

datang!"

Waktu Imam Ali r.a. bersama sejumlah pasukan pengejar berangkat, kaum Khawarij sudah

sampai di sebuah pedusunan yang bernama Harura. Walaupun segalanya telah siap untuk

menumpas pemberontakan bersenjata, tetapi Imam Ali r.a. masih tetap ingin supaya orangorang

Khawarij itu dapat diajak bersatu kembali dan berjuang bersama-sama melawan pasukan

Syam.

Orang-orang yang tergabung dalam kelompok Khawarij itu banyak berasal dari prajurit-prajurit

berpengalaman. Mereka mempunyai keyakinan yang sangat teguh dan keras sekali terhadap

lawan. Lebih-lebih karena mereka semua adalah bekas pengikut Imam Ali r.a. sendiri. Dengan

ketangguhan luar biasa mereka telah menyumbangkan andil besar dalam perjuangan

mematahkan pemberontakan Thalhah dan Zubair. Dalam menghadapi pemberontakan Muawiyah

mereka pun telah memberikan jasanya, walau belum sepenuhnya.

Sudah menjadi kepribadian Imam Ali r.a., bahwa ia tidak melihat orang hanya dari segi

kekurangan dan kesalahannya saja, tetapi juga tidak melupakan kebaikan dan kebenarannya.

Selain itu, walau kelompok Khawarij sekarang berbalik menentang Imam Ali r.a., namun

mereka itu tidak menyeberang atau berfihak kepada Muawiyah. Harus disayangkan, dalam

keadaan sedang genting-gentingnya menghadapi lawan yang kuat, Syam, kelompok yang sangat ekstrim itu hendak menusuk dari belakang atau menggunting dalam lipatan.

Dengan berbagai perasaan yang serba resah seperti itu, Imam Ali r.a. masih ingin mencoba

sekali lagi mengembalikan mereka tanpa kekerasan. Mereka hendak diajak bertukar-fikiran

mengenai masalah gawat yang sedang mencekam perhatian mereka, yaitu "tahkim". Lewat

seorang kurir Imam Ali r.a. minta supaya kaum Khawarij mengirimkan seorang wakil untuk

diajak bertukar-fikiran, dengan jaminan bahwa wakil itu akan dilindungi keamanan dan

keselamatannya.

Dalam permintaannya itu Imam Ali r.a. menyatakan janji, jika hujjah (argumentasi) yang

dikemukakan oleh wakil mereka itu kuat dan benar, Imam Ali r.a. bersedia mohon

pengampunan kepada Allah dan bertaubat atas kesalahannya menerima "tahkim". Sebaliknya,

jika ternyata hujjah Imam Ali r.a. yang kuat dan benar, mereka pun harus bersedia mohon

pengampunan dan bertaubat kepada Allah s.w.t.

Permintaan Imam Ali r.a. dapat disetujui kaum Khawarij. Mereka mengirim Ibnul Kawwa

sebagai wakil. Berlangsunglah diskusi panjang lebar. Masing-masing mengemukakan alasan dan

hujjah untuk memperkuat dan membenarkan pendiriannya sendiri-sendiri. Tetapi akhirnya

dengan mengadu hujjah berdasar Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya, Ibnul Kawwa tergiring ke

sudut sampai tidak dapat lagi menemukan alasan untuk menyanggah hujjah-hujjah yang

dikemukakan Imam Ali r.a. secara terperinci.

Selesai diskussi, Ibnul Kawwa kembali kepada kaumnya. Dengan jujur Ibnul Kawwa

mengatakan, bahwa berdasar hujjah-hujjah yang dikemukakan, Imam Ali r.a. berada di fihak

yang benar menurut hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya. Semua hujjah Imam Ali r.a. wajib

diterima oleh mereka. Demikian kata Ibnul Kawwa kepada kaumnya.

Kaum Khawarij tak dapat menerima hasil diskusi yang telah berlangsung antara Imam Ali r.a.

dengan Ibnul Kawwa. Ibnul Kawwa dikatakan bukan imbangannya untuk berdiskusi dengan

Imam Ali r.a. Ibnul Kawwa tidak boleh diberi kesempatan lagi untuk menghadapi diskusi dengan

Imam Ali r.a., karena ia tidak akan mampu menghadapi hujjah, logika dan kesanggupan berfikir

Imam Ali r.a. Mereka menuntut pertukaran-fikiran seperti itu dihentikan saja.

Kaum Khawarij bersikeras untuk tetap melancarkan pemberontakan bersenjata dan tidak mau

menerima apa yang datang dari Imam Ali r.a. Mereka tetap memandang Imam Ali r.a. sebagai

orang yang sudah murtad dan menjadi kafir karena menerima "tahkim". Oleh karena itu mereka

memandang Imam Ali sebagai orang yang telah keluar dari rel agama dan harus diperlakukan

sebagai musuh Allah! Begitulah pendirian kaum Khawarij yang sudah tidak dapat berubah lagi.

Betapa pilu hati Imam Ali r.a. menghadapi pendirian orang-orang yang kemarin masih menjadi

pendukung dan pembelanya, tetapi hari ini sudah berbalik menjadi lawan yang sangat keras

kepala. Ia sangat menyesal karena mereka sekarang sudah dikuasai oleh fikiran kacau, sampai

mereka buta melihat kebenaran.

Jalan Kekerasan

Akhirnya Imam Ali r.a. yakin tak ada jalan lain lagi yang bisa ditempuh, selain terpaksa harus

menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Lebih-lebih setelah ada kenyataan bahwa mereka

ketika meninggalkan Kufah telah banyak merenggut nyawa kaum muslimin yang tidak berdosa.

Tiap orang yang tidak sependapat dengan mereka dicap "kafir". Setiap orang yang sudah

terkena cap itu, oleh mereka dihalalkan darahnya, harta bendanya dan keluarganya.

Abdullah bin Khabbab bersama isterinya yang sedang hamil tua mereka bantai di tepi sungai

bersama seekor babi, hanya karena waktu ditanya tentang sebuah hadits menjawab: "Ayahku

menyampaikan sebuah hadits berasal dari Rasul Allah s.a.w.: 'Sepeninggalku akan terjadi suatu

fitnah (bencana). Dalam fitnah itu hati orang akan menjadi mati, sama seperti tubuhnya yang juga mati. Sore hari ia menjadi orang yang beriman dan di pagi hari ia menjadi orang kafir'…"

Sebelum membantai dua orang suami isteri itu mereka sudah membantai lebih dulu 3 orang

wanita, hanya karena tidak sependapat dengan mereka. Salah seorang di antara tiga wanita itu

ialah: Ummu Saman, yang pada masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. pernah menjadi sahabat

setia.

Sekalipun sudah sejauh itu tindakan kaum Khawarij, Imam Ali r.a. tidak meninggalkan

kebiasaannya, yaitu lebih suka bersikap baik sebelum diserang. Kepada para sahabat dan

pasukannya ia berpesan: "Janganlah kalian menyerang lebih dulu sebelum kalian diserang!"

Kini Imam Ali r.a. dan pasukannya telah tiba di Nehrawan. Sebelum pasukan Imam Ali r.a.

datang, kaum Khawarij sudah tiba lebih dahulu dan terus siaga untuk mengangkat senjata.

Jumlah anggota pasukan Khawarij lebih kurang 1.500 orang, termasuk anggota-anggota pasukan

penunggang kuda. Orang-orang yang sekarang menjadi komandan mereka sejak dulu terkenal

cekatan, pemberani, gigih dan pantang mundur dalam pertempuran.

Imam Ali r.a. telah mengatur pasukannya. Pimpinan sayap kanan diserahkan kepada Hujur bin

Addiy, sedang pimpinan sayap kiri diserahkan kepada Syabatah bin Rab'iy. Pimpinan pasukan

berkuda diserahkan kepada Ayyub Al Anshariy, sedang pasukan infantri (pejalan kaki)

pimpinannya diserahkan kepada Abu Qatadah. Pengikut lainnya pimpinannya diserahkan kepada

Qeis bin Sa'ad bin Ubadah. Imam Ali r.a. sendiri berada di bagian tengah memimpin pasukan

Bani Mudhar.

Bendera tanda-aman kemudian ditancapkan tiangnya oleh Ayyub Al Anshariy sambil berseru

kepada pasukan Khawarij yang sudah berada di hadapan pasukan Imam Ali r.a.: "Barang siapa

dari kalian yang mendekati bendera ini, dijamin keselamatannya. Barang siapa pergi masuk

kota atau berangkat ke Iraq (Kufah) dan keluar dari gerombolan, akan dijamin keselamatannya!

Kami dilarang menumpahkan darah kalian, selama kalian tidak menumpahkan darah kami!"

Pasukan berkuda Imam Ali r.a. kemudian maju menjadi barisan terdepan. Sedang pasukan

pejalan kaki memecah diri menjadi dua barisan, berjalan di belakang pasukan berkuda.

Pasukan panah mengatur barisannya sendiri secara berlapis. Imam Ali r.a. masih tetap

mengingatkan perintahnya: "Jangan menyerang sebelum kalian diserang!"

Pasukan Khawarij mulai bergerak maju. Setelah agak dekat dengan pasukan Imam Ali r.a.,

pasukan Khawarij berteriak-teriaka: "Tidak ada hukum selain Allah." Sahut menyahut, silih

berganti sampai sedemikian hiruk pikuk dan gaduh.

Mendengar teriakan-teriakan itu Imam Ali r.a. berkata kepada beberapa orang sahabat: "Katakata

benar diartikan secara bathil. Yang mereka maksud sebenarnya tidak perlu ada imarah.

Imarah (pemerintahan) tidak bisa tidak harus ada. Soalnya apakah imarah itu baik atau tidak!"

Pasukan Khawarij berganti teriakan. Sekarang yang satu berteriak kepada yang lain: "Mari

berangkat ke sorga! Mari berangkat ke sorga!"

Di tengah-tengah gemuruhnya teriakan itu mereka serentak bergerak menyerang pasukan Imam

Ali r.a. Mereka juga menempatkan pasukan berkuda di barisan depan dan di belakangnya

pasukan pejalan kaki. Serangan serempak mereka itu disambut dengan hujan anak panah yang

dilepaskan pasukan pemanah Imam Ali r.a. yang diatur secara berlapis. Pasukan Khawarij

terpaksa mundur meninggalkan banyak korban.

Menurut Ats Tsa'labiy, ketika ia menceritakan pengalamannya sendiri mengatakan: "Waktu

kulihat Khawarij dihujani anak panah, mereka kelihatan seperti iring-iringan kambing yang

berusaha menghalangi hujan dengan tanduk. Pasukan berkuda Imam Ali kemudian menikung dari arah kanan ke kiri. Imam Ali sendiri bersama sejumlah pasukan yang dipimpinnya

melancarkan serangan menerobos ke jantung pasukan Khawarij dengan pedang dan tombak.

Demi Allah, kulihat belum sempat kaum Khawarij menyelesaikan serangan serentaknya, banyak

sekali dari mereka yang sudah jatuh bergelimpangan."

Masing-masing fihak bertempur mati-matian. Ketangguhan mental kaum Khawarij ternyata

memang tinggi. Sungguhpun demikian tidak sanggup menangkis serangan pasukan Imam Ali r.a.

Peperangan ini berakhir dengan kemenangan di fihak pasukan Imam Ali r.a. Kurang lebih

pasukan Khawarij yang masih hidup sebanyak 400 orang. Semuanya dalam keadaan luka parah.

Mereka itu orang-orang yang sangat keras dan berpendirian teguh. Semboyan "Menang atau

Mati" sudah menjadi perhiasan mereka sehari-hari.

Imam Ali r.a. tidak sampai hati membiarkan mereka dalam keadaan luka parah dan tidak

berdaya. Ia memerintahkan anggota-anggota pasukannya, supaya semua mereka itu diserahkan

kepada sanak famili atau handai tolannya, agar cepat memperoleh pengobatan dan perawatan.

Semua yang ditinggalkan oleh kaum Khawarij diambil oleh pasukan Imam Ali r.a. Senjatasenjata

dan hewan tunggangan dibagi-bagi, sedang barang-barang lain yang jelas dirampas oleh

kaum Khawarij pada waktu lari dari Kufah, dikembalikan kepada para pemiliknya semula.


Bab XIII : WAFATNYA IMAM ALI R.A.

Sementara Imam Ali r.a. menanggulangi pemberontakan Khawarij di Nehrawan, Muawiyah

meningkakan terus kekuatannya, mengkonsolidasi barisan serta mengokohkan kedudukannya.

Mereka memperoleh waktu yang sangat cukup untuk mempersiapkan peperangan lebih lama

lagi, berkat politik "tahkim" yang disusun oleh arsiteknya, Amr bin Al Ash.

Sebaliknya, dengan muslihat "tahkim" itu, kekuatan Imam Ali r.a. sekarang menjadi berkurang.

Ia ditinggalkan, bahkan dilawan oleh pengikut-pengikutnya sendiri, yang sudah memisahkan diri

sebagai kaum Khawarij. Dalam menumpas gerakan Khawarij, Imam Ali r.a. telah kehilangan

beberapa anggota pasukan yang cukup merugikan, walaupun berhasil mencapai kemenangan.

Imbangan kekuatan yang sekarang sangat menguntungkan fihak Muawiyah difahami benar-benar

oleh para pengikut Imam Ali r.a. Secara diam-diam banyak di antara mereka yang sudah

kejangkitan penyakit putus asa. Belum lagi kita sebutkan besarnya dana yang dihamburkan

Muawiyah untuk membeli pengikut sebanyak-banyaknya. Bagaimana pun juga hal ini besar

pengaruhnya di kalangan para pengikut Imam Ali r.a. yang kurang teguh iman dan

pendiriannya. Kepada para pengikut Imam Ali r.a. yang mau menyeberang, Muawiyah

mengiming-imingkan hadiah berlipat ganda.

Perlawanan terhenti

Selesai perang melawan kaum Khawarij dan sebelum meninggalkan Nehrawan untuk berangkat

melanjutkan perang melawan Muawiyah, Imam Ali r.a. mengucapkan pidato di depan para

pengikutnya. Antara lain ia berkata: "Cobaan Allah yang kalian hadapi telah berakhir dengan

baik. Allah telah memenangkan kalian dengan pertolongan-Nya. Sekarang marilah kita

berangkat untuk menghadapi Muawiyah dan para pendukungnya yang durhaka itu. Mereka yang

meninggalkan Kitab Allah di belakang punggung dan telah menjual-belikannya dengan harga

murah. Alangkah buruknya apa yang telah mereka beli dengan Kitab Allah itu!"

Bagaimana sambutan pengikut Imam Ali r.a. Kali ini Imam Ali r.a. terbentur lagi pada ranjau

yang dipasang oleh Al Asy'ats bin Qeis. Asy'ats ternyata sudah berhasil mempengaruhi banyak

anggota pasukan Imam Ali r.a. supaya meninggalkan barisan, dengan jalan mencari tempattempat

peristirahatan di daerah-daerah yang berdekatan. Alasan yang digunakan dalam

kampanye itu ialah mereka sudah terlampau letih dan sangat perlu beristirahat, untuk

memulihkan tenaga lebih dulu, sebelum bergabung dalam pasukan.

Jasa Asy'ats nampaknya tidak kecil bagi Muawiyah. Tidak keliru rasanya kalau ada sementara

penulis yang mengatakan, bahwa bukan hanya Abu Musa dan kaum Khawarij saja yang berberjasa kepada Muawiyah, tetapi juga Al Asy'ats bin Qeis.

Waktu Imam Ali r.a. mengajak anggota-anggota pasukannya berangkat memerangi Muawiyah,

mereka menjawab sesuai dengan garis yang sudah diletakkan Al Asy'ats: "Ya Amiral Mukminin,

anak panah kami sudah habis, tangan kami sudah terlalu payah, pedang kami banyak yang

patah dan tombak kami sudah tumpul! Biarkanlah kami pulang dulu agar kami dapat

mempersiapkan perbekalan dan perlengkapan yang lebih baik. Mungkin Amirul Mukminin akan

memberi tambahan senjata kepada kami, agar kami lebih kuat dalam menghadapi musuh!"

Sulit mencari orang yang bertabiat keras seperti Imam Ali r.a. tetapi juga sangat sulit mencari

orang yang sabar seperti dia. Sukar mencari orang yang waspada seperti Imam Ali r.a., tetapi

juga sangat sukar mencari orang yang mempercayai sahabat sepenuh hati seperti dia.

Bagaimana harus dibantah, bukankah mereka itu benar-benar baru saja menyelesaikan

peperangan? Jadi alasan mereka itu memang masuk akal! Imam Ali r.a. setuju mereka

beristirahat, tetapi tidak pulang ke rumah masing-masing. Mereka harus diistirahatkan bersama

di suatu tempat, agar setiap saat dapat dikerahkan bila dipandang perlu.

Mereka kemudian diajak oleh Imam Ali r.a. ke sebuah tempat bernama Nakhilah. Selain

menjadi tempat istirahat, Nakhilah juga dijadikan tempat pemusatan pasukan. Kepada semua

pasukan diperintahkan supaya jangan sampai ada yang meninggalkan tempat. Semua pasukan

harus selalu dalam keadaan siaga untuk melanjutkan peperangan melawan pasukan Syam. Jika

anak isteri tidak seberapa jauh dari Nakhilah, boleh saja menjenguk mereka, tetapi jangan

terlalu sering. Masing-masing anggota pasukan diminta supaya selalu siap menantikan saat

keberangkatan ke Shiffin.

Apa yang terjadi?

Ternyata hanya beberapa hari saja mereka tinggal bersama Imam Ali r.a. di Nakhilah. Banyak

sekali yang tanpa izin menyelinap pergi ke Kufah untuk bersenang-senang dengan anak isteri

mereka. Tidak sedikit yang bertebaran ke daerah-daerah sekitar Nakhilah untuk mencari

hiburan dan kesenangan. Imam Ali r.a. ditinggal bersama beberapa orang sahabat terdekat dan

sejumlah pengikut. Akhirnya Imam Ali r.a. dan para sahabat terdekat itu terpaksa

meninggalkan Nakhilah dalam keadaan kosong.

Sejak saat itu perlawanan terhadap Muawiyah praktis terhenti. Kesetiaan pendukungnya sudah

tak dapat diandalkan lagi. Banyak di antara mereka yang mulai terpikat hatinya oleh

kepentingan duniawi yang dinikmati oleh kaum muslimin di Syam. Selain itu banyak juga yang

patah semangat dan kejangkitan penyakit putus asa.

Terhentinya perlawanan menumpas pemberontakan Muawiyah bukan disebabkan ketidak

mampuan Imam Ali r.a., melainkan karena sikap massa yang dipimpinnya sudah goyah dan tidak

mantap, terutama mereka yang berasal dari Kufah. Tanda-tanda akan terjadinya hal yang harus

disayangkan itu, sudah nampak sejak Imam Ali r.a. memasuki kota tersebut. Bahkan beberapa

bulan sebelum itu pun di Madinah Imam Ali r.a. sudah menghadapi bermacam-macam kesulitan,

yaitu sejak pembai'atannya sebagai Khalifah.

Ajakan ke medan juang

Setelah ditinggal oleh banyak pengikutnya dan hanya tingal para sahabat yang setia saja,

melalui Hujur bin Addiy, Amr bin Al Humuq dan sejumlah sahabat lainnya, Imam Ali r.a.

mengeluarkan sebuah pernyataan tertulis untuk disampaikan kepada kaum muslimin Kufah,

terutama bekas pendukungnya. Dalam pernyataan tertulis itu Imam Ali r.a. membeberkan

semua persoalan dan mengungkapkan latar belakang sejarahnya.

"Bahwasanya Allah s.w.t. telah mengutus Muhammad, Rasul Allah s.a.w. untuk mengingatkan

ummat manusia di seluruh dunia. Beliau menerima wahyu dan mengemban amanat yang

diturunkan kepadanya, dan menjadi saksi bagi ummat ini. Hai orang-orang Arab, kalian pada masa itu dalam keadaan tidak mempunyai agama. Satu sama lain saling memakan harta secara

bathil. Kemudian Allah melimpahkan kurnia-Nya kepada kalian dengan mengutus Muhammad

s.a.w. datang ke tengah-tengah kalian dan berbicara dengan bahasa kalian. Kalian mengenal

wajah beliau dan mengetahui benar asal-usul keturunannya.

"Beliau telah mengajarkan hikmah, sunnah dan fara'idh kepada kalian. Beliau menyuruh kalian

supaya selalu menjaga baik-baik hubungan silaturrahmi, memelihara kerukunan dan saling

memperbaiki keadaannya masing-masing. Kalian juga diperintahkan supaya menunaikan amanat

kepada fihak yang berhak, memenuhi janji, saling bercinta-kasih dan sayang menyayangi.

Beliau pun memerintahkan kalian supaya berlaku jujur, dan jangan sampai mencatut timbangan

atau takaran. Beliau datang kepada kalian juga antara lain untuk melarang kalian jangan

sampai berbuat zina dan jangan makan harta milik anak yatim secara dzalim."

"Kebajikan akan menghindarkan kalian dari siksa neraka. Dan beliau mendorong kalian supaya

senantiasa berbuat kebajikan. Tiap perbuatan buruk dan jahat akan menjauhkan kalian dari

sorga, dan beliau mencegah supaya kalian jangan sampai berbuat seperti itu. SetelahAllah

s.w.t. memandang masa hidupnya sudah cukup, beliau dipanggil pulang ke sisi-Nya, dalam

keadaan beliau patut menerima pujian dan memperoleh keridhoan-Nya. Beliau s.a.w. telah

memperoleh pengampunan atas segala kekhilafannya dan benar-benar telah mendapat

kedudukan mulia di sisi Allah s.w.t.

"Tetapi alangkah besarnya musibah yang terjadi sepeninggal beliau, terutama yang menimpa

kaum kerabatnya dan kaum mukminin pada umumnya. Setelah beliau tidak ada lagi kaum

muslimin mempertengkarkan pimpinan dan kekuasaan. Demi Allah, aku tidak pernah merasa

khawatir dan tidak pernah membayangkan bahwa orang-orang Arab akan menggeser

kepemimpinan dari tanganku. Tetapi waktu itu ternyata orang-orang Arab mengangkat Abu

Bakar. Mereka datang berbondong-bondong kepadanya. Aku diam tidak mengulurkan tangan,

sebab aku yakin bahwa akulah yang sebenarnya lebih berhak meneruskan kepemimpinan Rasul

Allah s.a.w. daripada orang lain yang akan memimpin aku. Beberapa waktu lamanya aku tetap

bersikap seperti itu.

"Kemudian aku melihat banyak orang meninggalkan agama Islam, kembali kepada kepercayaan

mereka semula, bahkan berani berseru kepada orang-orang lain supaya menghapuskan agama

yang dibawakan oleh Muhammad s.a.w. dan Ibrahim as. Aku menjadi sangat khawatir, kalau

aku tidak membela Islam dan kaum muslimin, aku bakal menyaksikan kerusakan dan

keruntuhan Islam. Bagiku, itu merupakan bencana yang jauh lebih besar daripada lepasnya

kepemimpinan dari tanganku. Sebab masalah kepemimpinan hanyalah suatu hiasan hidup

belaka yang tidak kekal dan tidak lama, yang akhirnya akan lenyap seperti fatamorgana."

"Aku lalu pergi menjumpai Abu Bakar. Ia kubai'at, kemudian bersama dia aku bergerak

menanggulangi kejadian tersebut di atas tadi, sampai kebathilan itu musnah dan kalimat Allah

tetap unggul dan mulia walau orang-orang kafir tidak menyukai. Abu Bakar tetap memegang

pimpinan pemerintahan. Ia berlaku adil, baik, benar, rendah hati dan hidup sederhana. Aku

mendampingi dia sebagai penasehat. Ia kutaati sungguh-sungguh selama ia taat kepada Allah

s.w.t."

"Beberapa saat menjelang wafatnya, Abu Bakar menunjuk Umar Ibnul Khattab untuk

meneruskan kepemimpinannya. Itu pun kutaati. Umar kubai'at dan kepadanya kuberikan

nasehat-nasehat. Selama memegang pimpinan pemerintahan, Umar bersikap baik dan semasa

hidupnya ia berperilaku terpuji. Menjelang wafatnya, aku berkata dalam hatiku: 'Ia tentu tidak

akan menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada orang lain. Tetapi ternyata ia minta supaya

masalah kekhalifahan itu dimusyawarahkan, dan aku menjadi salah seorang calon sekaligus

peserta musyawarah. Namun orang lainnya tidak suka kalau kepemimpinan jatuh ke tanganku,

sebab mereka mendengar bahwa aku pernah menentang Abu Bakar'…"

"Dulu aku memang pernah mengatakan: 'Hai orang-orang Qureisy, aku ini lebih berhak daripada

kalian untuk memegang pimpinan, sebab tidak ada seorang pun di antara kalian yang terdini

mengenal Al Qur'an dan mengerti sunnah Rasul!' Karena aku berkata seperti itu, mereka merasa

khawatir kalau sampai aku terbai'at menjadi pemimpin ummat, tidak akan ada kesempatan lagi

bagi mereka. Akhirnya mereka membai'at Utsman bin Affan, menyingkirkan diriku dari

kepemimpinan dan menyerahkannya kepada Utsman. Aku dijauhkan dari kepemimpinan karena

mereka mengharap akan memperoleh giliran."

"Aku terpaksa menyatakan bai'at. Aku menyabarkan diri sambil bertawakkal kepada Allah.

Kemudian ada salah seorang berkata kepadaku: 'Hai Ibnu Abu Thalib, mengapa engkau ngotot

ingin memegang pimpinan?' Aku menjawab: 'Kalian lebih ngotot. Yang kuminta adalah hak waris

putera pamanku! Waktu kalian mencampuri urusanku dengan Utsman, kalian berbuat

menampar mukaku dan tidak menampar mukanya!' Aku berdoa memohon perlindungan kepada

Allah s.w.t. dalam menghadapi orang-orang Qureiys itu. Mereka memutuskan silaturrahmiku

dengan Rasul Allah s.a.w. Mereka meremehkan kedudukan dan keutamaanku. Mereka

bersepakat merebut hak yang sebenarnya aku ini lebih berwenang dibanding mereka. Mereka

telah memperkosa hakku."

"Mereka lalu berkata lagi: 'Sabarlah engkau menahan kepedihan itu! Dan sabarlah hidup dalam

kekecewaan itu!' Aku melihat-lihat dan ternyata tidak ada teman atau orang lain yang bersedia

membantu selain keluargaku sendiri. Tetapi aku tidak mau menjerumus-kan keluargaku ke

dalam bahaya. Kupejamkan mataku untuk menahan sakitnya kelilip, dan kutelan ludahku

dengan perasaan sedih. Aku sabar menahan kejengkelan, sehingga terasa olehku kepahitan

yang melebihi jadam dan kesakitan yang melebihi tusukan pisau."

"Akhirnya kalian dendam terhadap Utsman. Ia kalian datangi, lalu kalian bunuh. Setelah itu

kalian datang kepadaku untuk menyatakan bai'at. Aku menolak, tetapi kalian tetap bersikeras

menghendaki aku. Kalian mendesak dan mendorong-dorong datang kepadaku untuk mendesak

terus, sampai kukira kalian akan saling bunuh-membunuh atau hendak membunuhku. Kepadaku

kalian mengatakan: 'Kami tidak menemukan orang selain engkau dan kami tidak menyukai

orang lain. Kami seia-sekata dan dengan tekad bulat membai'atmu'…"

"Pembai'atan kalian kemudian kuterima. Lalu kalian mengajak orang-orang lain untuk

membai'atku. Orang-orang yang menyatakan bai'at karena taat, kuterima. Sedangkan yang

tidak mau menyatakan bai'at, kubiarkan. Orang yang pertama-tama menyatakan bai'at

kepadaku ialah Thalhah dan Zubair. Seandainya dua orang itu tidak mau membai'atku, mereka

tidak akan kupaksa, sama halnya seperti orang lain yang tidak mau membai'atku. Tidak lama

kemudian aku mendengar dua orang itu berangkat ke Bashrah membawa sejumlah orang

bersenjata. Tidak seorang pun dari mereka itu yang belum pernah menyatakan bai'at kepadaku.

Di Bashrah mereka mengobrak-abrik pegawaiku, menggedor tempat-tempat penyimpanan harta

kaum muslimin dan memperkosa penduduk yang taat kepadaku. Mereka memecah belah dan

merusak kerukunan, mencerai-beraikan persatuan dan menyerang tiap orang yang mengikuti

serta mencintaiku. Beberapa kelompok dari pencintaku dibunuh secara gelap dan dianiaya. Di

antara mereka itu ada yang sanggup membela diri, ada yang hanya bersabar, dan ada pula yang

dengan gigih terpaksa mengacungkan pedang. Para pencintaku itu bangkit melawan tindakan

jahat mereka sampai banyak yang mati terbunuh dalam keadaan bertawakkal kepada Allah

s.w.t.

"Demi Allah, seandainya hanya seorang saja dari para pencintaku yang sengaja mereka bunuh,

sudah halal bagiku untuk bertindak menumpas habis gerombolan bersenjata itu! Apalagi karena

ternyata mereka itu telah membunuh banyak kaum muslimin. Tetapi, Allah s.w.t. sudah

membalas perbuatan mereka, dan sekarang binasalah sudah kaum yang dzalim itu."

"Kemudian aku melihat kepada orang-orang Syam. Mereka itu adalah orang-orang Arab yang

berperangai kasar, terdiri dari macam-macam golongan yang serakah dan liar, datang dari berbagai pelosok. Mereka itu adalah orang-orang yang masih perlu diajar, dipimpin dan

dibimbing. Mereka bukan kaum Muhajirin atau Anshar, dan bukan pula orang-orang yang

memasuki agama dengan itikad baik. Mereka kudatangi, kuajak supaya mau bersatu dan

bersedia taat, tetapi mereka menolak. Mereka menginginkan perpecahan, permusuhan dan

kemunafikan. Mereka bergerak melawan kaum Muhajirin, kaum Ansor dan orang-orang yang

masuk agama Islam dengan niat ikhlas dan jujur. Mereka melepaskan anak-panah dan

melempar tombak. Di saat itulah aku bangkit dan bergerak melawan mereka. Mereka

kuperangi.

"Setelah mereka kekurangan senjata dan merasakan sakitnya luka, mereka kibarkan lembaranlembaran

Al-Qur'an dan berseru kepada kalian supaya berpegang teguh kepadanya. Waktu itu

kalian sudah kuberi tahu, bahwa mereka itu bukan orang-orang yang patuh kepada ajaran

agama dan Al-Qur'an. Mereka mengibarkan lembaran-lembaran Al-Qur'an hanya sekedar tipudaya

dan muslihat. Kalian sudah kuperintahkan supaya terus memerangi mereka, tetapi kalian

menuduh diriku dan kalian berkata kepadaku: "Terimalah apa yang mereka usulkan. Kalau

mereka benar-benar mau melaksanakan apa yang ada dalam Al-Qur'an dan sunnah, pasti

mereka akan bersatu dengan kita dalam kebenaran yang selama ini kita pertahankan. Jika

mereka tidak mau, kita mempunyai alasan kuat untuk terus berlawan terhadap mereka."

"Keinginan kalian itu kusetujui, aku lalu mundur, tidak menyerang mereka lagi. Kemudian

terjadilah persetujuan antara kalian dengan mereka untuk mengangkat dua orang perunding

guna mencari penyelesaian damai berdasar Kitab Allah. Dua orang itu diharuskan patuh

menjunjung tinggi perintah Al Qur'an dan menjauhkan apa yang dilarangnya. Tetapi dua orang

itu berselisih pendapat, dan hukum yang diambil ternyata berlain-lainan. Dua orang itu

mengabaikan Al Qur'an dan menyalahi isinya. Dua-duanya tanpa hidayat Allah terjerumus

mengikuti hawa nafsu sendiri-sendiri. Oleh Allah dua orang itu dijauhkan dari kebajikan dan

diperosokkan dalam kesesatan. Dua-duanya memang pantas menjadi orang seperti itu."

"Setelah semua itu terjadi, ada sekelompok orang meninggalkan kami. Mereka pun kami

tinggalkan. Kami bersikap sama seperti mereka. Tetapi kemudian mereka berkeliaran di bumi

membuat kerusakan.Orang-orang muslimin mereka bunuh tanpa dosa. Mereka kami datangi,

lalu kami katakan kepada mereka: 'Serahkan kepada kami orang-orang yang membunuh

saudara-saudara kami'. Mereka menjawab: 'Kami semua inilah yang membunuh. Kami halal

menumpahkan darah mereka dan darah kalian'…"

"Mereka lalu pergerak mengerahkan pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk menyerang kami.

Tetapi akhirnya mereka dihancurkan oleh Allah, nasibnya sama seperti orang-orang dzalim

lainnya. Setelah itu kuperintahkan kalian supaya berangkat ke Shiffin untuk menghadapi

musuh, tentara Syam. Sebab pendadakan seperti itu akan membuat hati mereka kecut dan

akan menggagalkan tipu daya mereka. Waktu itu kalian ternyata menjawab: 'Pedang kita sudah

banyak yang patah, kita kehabisan anak panah, dan ujung tombak kita sudah banyak yang

tumpul. Izinkanlah kita pulang dulu untuk mempersiapkan perlengkapan dan perbekalan yang

lebih baik. Kiranya engkau pun akan menambah perlengkapan kita dengan senjata-senjata yang

ditinggalkan teman-teman kita yang telah tewas dan senjata-senjata bekas kepunyaan musuh.

Itu akan merupakan tambahan kekuatan bagi kita dalam menghadapi musuh'..."

"Permintaan kalian itu kami terima. Selama beberapa waktu menunggu, kalian kuperintahkan

supaya jangan meninggalkan kubu pertahanan, supaya lebih merapatkan barisan, siap siaga

menghadapi peperangan, dan jangan terlalu sering menengok anak isteri, sebab itu akan

melemahkan hati kalian dan dapat membelokkan fikiran kalian. Pasukan yang sedang

menghadapi peperangan tidak semestinya mengeluh, meratap atau jemu bergadang di malam

hari. Tidak semestinya pasukan itu mengeluh kehausan atau lapar, sebelum mencapai sasaran

dan tujuan yang diinginkan."

"Tetapi kenyataannya, ada sekelompok orang dari kalian yang meminta kelonggaran dengan bermacam-macam alasan. Kelompok lainnya lagi menyelinap masuk ke dalam kota lalu

membelot. Mereka ini tidak ada yang datang kembali kepadaku. Setelah kuperiksa, ternyata

pasukan yang masih tetap tinggal bersamaku hanya berjumlah 50 orang. Setelah aku melihat

perbuatan kalian seperti itu, kalian kudatangi, tetapi sampai hari ini kalian masih tetap tidak

sanggup keluar untuk menghadapi musuh bersama-sama kami."

"Ya Allah, kasihan benar orang-orangtua kalian! Apalagi sebenarnya yang kalian fikirkan?

Tidakkah kalian menyadari bahwa kekuatan kalian sekarang sudah berkurang? Tidakkah kalian

dapat melihat negeri kalian ini sudah diserang? Apa sebab kalian masih berpaling muka?

Bukankah musuh-musuh kalian itu sudah bersatu, bekerja keras dan bertukar-fikiran, sedang

kalian sekarang bercerai-berai, bertengkar dan saling mengelabui satu sama lain? Jika kalian

bersatu, kalian pasti selamat."

"Oleh karena itu bangunkanlah orang-orang yang sedang tidur nyenyak. Semoga Allah

memberikan rahmat-Nya kepada kalian. Yang kalian perangi itu bukan lain adalah kaum thulaqa

dan keturunan orang-orang thulaqa, yaitu orang-orang yang memeluk Islam hanya karena

terpaksa. Orang-orang yang dahulu memerangi Rasul Allah s.a.w., orang-orang yang memusuhi

Al Qur'an dan Sunnah, orang-orang yang dahulu bergabung dan bersekutu dalam perang Ahzab

melawan kaum muslimin, orang-orang ahli bid'ah yang banyak menimbulkan keonaran, orangorang

yang ditakuti karena kejahatannya, orang-orang yang menyeleweng dari agama, pemakan

barang yang bathil dan budak-budak dunia!"

"Amr bin Al Ash itu sebenarnya condong kepadaku. Ia berfihak pada Muawiyah hanya setelah

menerima janji akan diberi kekuasaan besar atas Mesir. Ia tidak segan-segan menjual agamanya

untuk mendapatkan kepentingan dunia! Muawiyah membelinya dengan menghamburkan uang

kekayaan kaum muslimin! Di antara orang fasik itu ada yang pernah dihukum cambuk karena

meneguk minuman haram. Mereka itulah yang sekarang sedang menjadi pemimpin kaumnya.

Orang-orang yang tidak kusebutkan perbuatan buruknya, banyak yang lebih jahat dan lebih

berbahaya. Yaitu orang-orang yang jika sudah berpisah dari kalian, memperlihatkan

kebenciannya terhadap kalian. Mereka membangga-banggakan diri, menindas orang lain

sewenang-wenang, congkak, dengki dan banyak berbuat kerusakan di bumi. Mereka mengikuti

hawa nafsu dan memerintah dengan korup dan jalan suap (rasywah). Sedangkan kalian,

walaupun tidak saling bantu dan bertawakkal secara keliru, namun kalian masih jauh lebih

benar daripada jalan mereka."

"Di antara kalian terdapat orang-orang arif bijaksana (hukama), alim ulama, fuqaha (para ahli

hukum syariat), pengajar-pengajar Al-Qur'an, orang-orang yang hidup zuhud di dunia, orangorang

yang gemar mengunjungi masjid dan orang-orang ahli membaca Al Qur'an."

"Apakah kalian rela dan tidak marah kalau orang-orang berperangai jahat, bengis dan kerdil

seperti mereka itu hendak memaksakan kekuasaan kepada kalian? Dengarkanlah kata-kataku

dan taatilah perintahku bila kuperintahkan. Fahamilah nasihatku jika aku beri nasihat.

Percayailah ketegasanku bila aku sudah bertindak. Ikutilah kebulatan tekadku bila aku sudah

berniat! Bangunlah mengikuti kebangkitanku dan seranglah orang-orang yang kuserang! Jika

kalian membangkang, kalian tidak akan mendapatkan petunjuk yang benar dan kalian tidak

akan dapat bersatu. Terjunilah peperangan dan siapkan semua perlengkapan. Perang sudah

berkobar dan apinya masih menyala-nyala. Orang-orang yang dzalim itu hendak membasmi

kalian melalui peperangan dengan tujuan untuk dapat leluasa memadamkan cahaya Allah."

"Demi Allah, seandainya aku seorang diri menjumpai mereka berada di tengah-tengah penghuni

bumi ini, lantas aku menaruh perhatian kepada mereka, atau aku lantas lari menjauhi mereka

karena takut, itu berarti aku sudah sama sesatnya seperti mereka! Jalan hidayat yang selama

ini kupegang teguh, benar-benar kuhayati dengan penuh kesadaran dan keyakinan serta

berdasarkan petunjuk Allah Tuhanku. Aku sungguh-sungguh sudah sangat rindu ingin berjumpa

dengan Allah, dan aku benar-benar menunggu serta mengharap-harap keindahan pahala dan karunia-Nya."

"Tetapi kerisauan dan kekecewaan meresahkan hatiku dan kekhawatiran menggelisah-kan

fikiranku, karena aku takut kalau-kalau ummat ini akan dikuasai oleh manusia-manusia jahat

dan durhaka. Kemudian mereka itu akan menggunakan kekayaan Allah sebagai alat kekuasaan,

menjadikan hamba-hamba Allah sebagai budak belian, menjadikan orang-orang saleh sebagai

umpan peperangan, dan menjadikan orang-orang yang berlaku adil sebagai golongan terpencil."

"Demi Allah, kalau bukan karena semuanya itu, aku tidak akan terus menerus mengajak kalian,

mempersatukan kalian dan mendorong kalian supaya berjuang. Kalian pasti sudah kutinggalkan.

Demi Allah aku ini berada di atas jalan yang benar, dan aku sungguh-sungguh ingin mati syahid.

Insyaa Allah, aku akan berangkat ke medan juang bersama-sama kalian. Berangkatlah kalian,

baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat. Berjuanglah di jalah Allah dengan

harta dan nyawa kalian. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar."

Pernyataan tertulis Imam Ali r.a. tersebut di atas, secara keseluruhan menggambarkan betapa

sulit dan beratnya persoalan yang dihadapinya sepeninggal Rasul Allah s.a.w., terutama setelah

dibai'at oleh kaum muslimin sebagai Khalifah dan Amirul Mukminin.

Serbuan Muawiyah ke Mesir

Setelah perang Shiffin berhenti dan Muawiyah bin Abi Sufyan melihat tidak ada lagi serangan

yang dilancarkan Imam Ali r.a., ia mengumpulkan para penasehatnya untuk dimintai pendapat

tentang rencana merebut wilayah Mesir dari kekuasaan Imam Ali.

Kepada para penasehatnya itu Muawiyah antara lain berkata: "Kalian telah menyaksikan sendiri

kemenangan yang telah dilimpahkan Allah kepada kita. Pada mulanya mereka tidak ragu-ragu

hendak menghancurkan kalian, menduduki negeri kalian dan menguasai kalian. Akan tetapi

Allah telah menggagalkan niat jahat mereka. Dengan pertolongan Allah kalian telah berhasil

mengalahkan mereka. Kalian mohon keadilan (tahkim) kepada Allah, dan Allah sekarang telah

menjatuhkan hukum-Nya atas mereka. Allah telah memperkokohkan persatuan kita,

mempererat persaudaraan kita, membuat musuh kita berpecah-belah, saling kafir

mengkafirkan dan saling bunuh membunuh. Demi Allah aku mengharap mudah-mudahan Allah

akan lebih menyem-purnakan lagi kemenangan kita. Sekarang aku sedang berfikir untuk

menyerbu Mesir. Bagaimana pendapat kalian…?"

Menanggapi pertanyaan Muawiyah itu, para penasehatnya menjawab, bahwa mengenai hal itu

mereka mendukung apa yang menjadi pendapat Amr Ibnul Ash.

Berdasarkan pernyataan para penasehatnya itu, Muawiyah menjelaskan: "Amr memang sudah

mempunyai pendapat tegas dan bertekad hendak menyerbu Mesir, tetapi ia belum menjelaskan

langkah-langkah apa yang harus kita lakukan!"

Untuk menjelaskan langkah-langkah apa yang harus dilakukan itu, Amr bin Al Ash berkata: "Aku

sekarang hendak menjelaskan apa yang sebaiknya harus engkau lakukan. Aku berpendapat,

sebaiknya engkau mengirim pasukan yang besar di bawah pimpinan seorang kuat, tegas dan

mendapat kepercayaan penuh. Bila sudah masuk ke Mesir ia pasti akan mendapat dukungan

penduduk yang sependirian dengan kita. Sedangkan terhadap orang-orang yang memusuhi kita,

mereka harus kita tundukkan dengan kekerasan. Kalau pasukan dan para pengikutmu sudah

bulat sepakat untuk memerangi musuh-musuhmu, kuharap Allah s.w.t. akan memenangkan

engkau…"

"Selain itu, bagaimana pendapatmu tentang apa yang perlu kita lakukan sebelum menyerang

mereka?" tanya Muawiyah kepada Amr bin Al-Ash.

"Aku belum tahu…," sahut Amr.

"Aku mempunyai pendapat lain," ujar Muawiyah melanjutkan perkataannya. "Kufikir, sebaiknya

kita menyurati dulu pendukung-pendukung kita dan musuh-musuh kita di Mesir. Kepada para

pendukung kita anjurkan supaya mereka tetap sabar dan tabah menunggu kedatangan pasukan

kita. Sedangkan kepada musuh-musuh kita, sebaiknya mereka itu kita ajak berdamai lebih dulu,

sambil kita gertak dengan kekuatan angkatan perang kita. Jika mereka menyambut baik ajakan

kita sehingga tidak terjadi peperangan, itulah yang kita inginkan. Tetapi jika mereka menolak,

kita tidak menemukan cara lain kecuali harus kita perangi…"

"Kalau begitu, baiklah," jawab Amr. "Kaulaksanakanlah pendapat itu. Demi Allah,

bagaimanapun juga akhirnya pasti terjadi peperangan…"

Selesai pertemuan, Muawiyah segera menulis surat kepada dua orang tokoh pendukung-nya di

Mesir, yaitu Maslamah bin Makhlad dan Muawiyah bin Hudaij Al-Kindiy. Dua orang tokoh

tersebut adalah penentang Imam Ali r.a. Dalam suratnya Muawiyah bin Abi Sufyan antara lain

mengatakan: "Allah s.w.t. telah memikulkan tugas besar di atas pundak kalian. Dengan tugas

itu kalian akan mendapat pahala sangat besar dan Allah akan mengangkat kedudukan serta

martabat kalian. Kalian menuntut balas atas terbunuhnya Khalifah yang madzlum (yakni

Utsman bin Affan). Ketika kalian melihat hukum Allah dibiarkan, kalian marah, kemudian kalian

berjuang melawan orang dzalim yang memusuhi Utsman. Hendaknya kalian tetap teguh

berpendirian seperti itu dan teruskan perjuangan melawan musuh kalian. Tariklah orang-orang

yang masih menjauhi kalian berdua agar mereka mau mengikuti pimpinan kalian. Sebuah

pasukan akan datang untuk memperkuat kalian, dan setelah itu akan tersingkirlah semua yang

tidak kalian sukai, dan apa yang kalian inginkan akan terwujud. Wassalaam."

Surat Muawiyah tersebut dibawa oleh seorang maula, bernama Subai, ke Mesir, untuk

diterimakan kepada dua tokoh pendukung Muawiyah tersebut di atas tadi.

Setelah dibaca oleh Maslamah bin Makhlad, surat itu diteruskan kepada Muawiyah bin Hudaij

disertai pemberitahuan, bahwa surat itu akan dibalasnya sendiri dan juga atas nama Muawiyah

bin Hudaij. Muawiyah bin Hudaij menyatakan persetujuannya agar Maslamah menulis jawaban

kepada Muawiyah bin Abi Sufyan.

Dalam surat jawabannya Maslamah antara lain mengatakan: "…Perintah yang dipercayakan

kepada kami berdua untuk terus melawan musuh, merupakan kewajiban yang akan kami

laksanakan, dengan harapan semoga Allah akan melimpahkan pahala kepada kita. Mudahmudahan

Allah akan memenangkan kita atas orang-orang yang menentang kita, dan akan

mempercepat pembalasan terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat memusuhi pemimpin

kita, dan yang hendak menginjak-injak negeri kita.

"Di negeri ini (Mesir) kami telah menyingkirkan orang-orang dzalim dan telah membangkitkan

orang-orang yang bersikap adil. Engkau telah menyebut-nyebut dukungan dan bantuan kami

untuk mempertahankan kekuasaan yang ada di tanganmu. Demi Allah, kami telah bangkit

melawan musuhmu bukan dengan niat untuk memperoleh kekayaan. Bukan itu yang kami

inginkan, meskipun Allah mungkin akan melimpahkan imbalan pahala di dunia dan akhirat.

Kirimkanlah segera kepada kami pasukan berkuda dan pejalan kaki. Sebab musuh sudah siap

hendak menyerang kami, sedang kekuatan kami sangat kecil dibanding dengan mereka. Pada

saat bantuanmu tiba, Allah pasti akan menjamin kemenangan bagimu..."

Surat Maslamah dan Ibnu Hudaij itu diterima Muawiyah di saat ia sedang berada di Palestina.

Para penasehatnya menyarankan supaya Muawiyah cepat-cepat mengirimkan pasukan ke Mesir.

Mereka mengatakan: "Insyaa Allah, engkau pasti akan berhasil menaklukannya…"

Muawiyah kemudian memerintahkan Amr bin Al Ash supaya segera memobilisasi pasukan.

Setelah siap segala-galanya, Amr diperintahkan berangkat ke Mesir memimpin pasukan berkekuatan 6.000 orang. Waktu mengantar keberangkatannya, Muawiyah bin Abi Sufyan

berpesan: "Kupesankan supaya engkau tetap bertaqwa kepada Allah. Hendaknya engkau

berkasih-sayang dan jangan terburu-buru. Sebab sikap seperti itu adalah dorongan setan.

Hendaknya engkau mau menerima baik siapa saja yang datang kepadamu, dan berikanlah maaf

kepada orang-orang yang menjauhi dirimu. Berilah kesempatan kepada mereka untuk kembali

dan bertaubat. Bila mereka sudah kembali dan bertaubat, engkau harus bersedia menerima dan

memaafkan perbuatan mereka. Tetapi jika mereka tetap menolak, engkau harus bersikap

keras. Sebab, kekerasan yang diambil setelah melalui peringatan lebih dulu, akan lebih baik

akibatnya. Hendaknya engkau menyerukan dan mengajak orang untuk berdamai dan rukun

serta bersatu. Sehingga apabila engkau menang, engkau akan mempunyai pendukungpendukung

yang terbaik. Oleh karena itu bersikaplah baik-baik kepada semua orang…"

Setibanya dekat Mesir, Amr bin Al Ash dan pasukannya berhenti. Di tempat itu orang-orang dari

penduduk Mesir yang menjadi pengikut Utsman bin Affan r.a. datang bergabung. Kemudian Amr

mengirim surat kepada Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Isinya antara lain: "Hai Ibnu Abu

Bakar…, serahkanlah kedudukanmu kepadaku, karena tanganmu berlumuran darah (Utsman).

Aku tidak ingin melihat engkau celaka di tanganku. Di negeri ini banyak orang yang sudah

bertekad hendak melawanmu, menolak perintahmu, dan menyesal pernah menjadi

pengikutmu. Mereka hendak menyerahkan dirimu kepadaku di waktu keadaan sudah menjadi

genting. Kunasehatkan, sebaiknya kautinggalkan saja negeri ini...!"

Bersamaan dengan surat itu, oleh Amr juga dilampirkan surat Muawiyah yang ditujukan kepada

Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Surat Muawiyah bin Abi Sufyan itu isinya antara lain:

"Apabila kedzaliman dan kedurhakaan sudah merajalela, pasti besarlah akibat buruk yang

ditimbulkan. Orang yang telah menumpahkan darah secara tidak sah, tak akan terhindar dari

pembalasan di dunia dan siksa berat di akhirat. Aku belum pernah melihat orang yang melebihi

engkau dalam berbuat jahat, mencerca dan menentang Utsman bin Affan. Bersama-sama orang

lain engkau berusaha dan saling bantu untuk menumpahkan darahnya. Lantas, apakah engkau

mengira bahwa aku akan melupakan perbuatanmu itu?"

Seterusnya dikatakan: "Sekarang engkau tinggal di sebuah negeri dengan aman dan tenteram,

padahal di negeri itu banyak sekali pengikut dan pendukungku. Mereka itu ialah orang-orang

yang sependirian dengan aku, menolak semua omonganmu, dan berteriak minta tolong

kepadaku. Aku telah mengerahkan sebuah pasukan untuk memerangimu, dan mereka itu adalah

orang-orang yang sangat dendam terhadap dirimu. Mereka akan menumpahkan darahmu, dan

akan bertaqarrub kepada Allah melalui perjuangan melawanmu. Mereka telah bersumpah

hendak membunuhmu. Seandainya mereka tidak sampai dapat memenuhi sumpah masingmasing,

Allah pasti akan mencabut nyawamu, entah melalui tangan mereka atau tangan para

hamba-Nya yang lain. Engkau kuperingatkan, bahwa Allah tetap menuntut balas kepadamu atas

terbunuhnya Utsman, yang disebabkan oleh kedzalimanmu, kedurhakaanmu dan tusukan

tombakmu. Walaupun begitu…, aku tidak ingin membunuhmu. Aku tidak mau berbuat seperti

itu terhadap dirimu. Allah tidak akan menyelamatkan dirimu dari pembalasan, di mana pun

engkau berada dan sampai kapan pun juga. Oleh karena itu, lepaskanlah kedudukanmu dan

selamatkan dirimu sendiri. Wassalaam."

Setelah dua surat tersebut dibaca oleh Muhammad bin Abu Bakar, kemudian dilipat untuk

diteruskan kepada Amirul Mukminin Imam Ali r.a., dengan disertai pengantar sebagai berikut:

"Ya Amirul Mukminin, si durhaka Ibnul Ash kini telah tiba dekat Mesir. Orang dari penduduk

Mesir yang sependirian dengan dia berhimpun di sekelilingnya. Ia datang membawa sebuah

pasukan besar. Kulihat ada tanda-tanda patah semangat di kalangan orang-orang yang menjadi

pendukungku. Jika engkau masih tetap hendak mempertahankan Mesir, harap segera

mengirimkan beaya dan pasukan. Wassalamu'alaika wa rahmattullahi wabarakaatuh."

Sesudah Imam Ali r.a. membaca surat-surat yang dikirimkan oleh Muhammad bin Abu Bakar, ia

segera menulis jawaban: "Utusanmu telah datang membawa suratmu kepadaku. Dalam surat tersebut engkau mengatakan, bahwa Ibnul Ash sekarang telah datang di Mesir membawa

sebuah pasukan besar, dan bahwa orang-orang yang sependirian dengan dia telah bergabung

kepadanya. Keluarnya orang-orang yang sependirian dengan dia dari barisanmu itu lebih baik

daripada kalau mereka tetap tinggal bersamamu. Engkau menyebutkan juga, bahwa ada orangorang

yang tampak patah semangat. Tetapi engkau sendiri jangan sampai patah semangat.

Pertahankanlah wilayah negerimu, himpunlah semua pendukungmu, perkuat pengawasan dalam

pasukanmu, dan angkatlah Kinanah bin Bisyir sebagai pimpinan pasukan. Ia seorang yang

terkenal bijaksana, berpengalaman dan pemberani. Dalam keadaan sulit rakyat kupercayakan

kepadamu. Oleh karena itu hendaknya engkau tetap tabah menghadapi musuh dan senantiasa

tetap waspada. Perangilah mereka dengan keteguhan tekadmu, dan lawanlah mereka sambil

bertawakkal kepada Allah s.w.t."

Selanjutnya Imam Ali r.a. mengatakan: "Sekalipun fihakmu lebih sedikit jumlahnya, namun

Allah berkuasa menolong fihak yang sedikit dan mengalahkan fihak yang berjumlah banyak. Aku

sudah membaca dua pucuk surat yang dikirimkan kepadamu oleh dua orang durhaka yang

berpelukan mesra dalam perbuatan maksiyat, bergandeng-tangan dalam kesesatan, saling suap

dalam pemerintahan, dan sama-sama sombongnya terhadap para ahli agama. Janganlah engkau

gentar menghadapi dua orang itu, dan jawablah mereka, engkau boleh menggunakan 'bahasa'

apa saja menurut kehendakmu. Wassalaam."

Selesai menulis surat, Imam Ali r.a. segera mengumpulkan para pengikutnya kemudian

mengucapkan khutbah: "Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan saudara-saudara kalian di

Mesir sekarang menjerit minta bantuan, karena anak si Nabighah (yakni Amr) sekarang sudah

bergerak membawa pasukan besar hendak menyerang mereka. Anak si Nabighah itu ialah

musuh Allah, musuh orang-orang yang hidup di bawah pimpinan Allah, dan pemimpinnya orangorang

yang memusuhi Allah. Oleh karena itu hai para saudara kita di Mesir, Mesir jauh lebih

besar daripada Syam, penduduknya pun lebih baik. Janganlah kalian sampai terkalahkan di

Mesir. Adalah suatu kehormatan bagi kalian jika Mesir tetap berada di tangan kalian. Itu pun

sekaligus merupakan pukulan hebat bagi musuh kalian. Berangkatlah kalian ke Jara'ah dan kita

semua besok akan berkumpul di sana. Insyaa Allah."

Keesokan harinya Imam Ali r.a. berangkat ke Jara'ah. Setibanya di sana ia berhenti menunggu

sampai tengah hari. Ternyata hanya 100 orang saja yang datang hendak mengikuti. Melihat

gelagat seperti itu, Imam Ali r.a. pulang ke Kufah. Malam harinya ia mengumpulkan sejumlah

pengikut terkemuka. Dalam pertemuan itu Imam Ali r.a. tampak sedih dan sangat kecewa. Ia

berkata: "Puji syukur ke hadirat Allah yang mengatur semua urusan menurut takdir-Nya, dan

yang menilai siapa-siapa berbuat kebajikan. Dialah yang memberi cobaan kepadaku dalam

menghadapi kalian. Hai saudara-saudara, kalian itu sebenarnya adalah kelompok orang-orang

yang tidak mau taat bila kuperintah, dan tidak mau menyambut bila kuajak. Celaka sekali

kalian itu! Kemenangan apa yang kalian tunggu jika kalian enggan berjuang membela hak-hak

kalian? Di dunia ini sesungguhnya mati lebih baik daripada hidup meninggalkan kebenaran!"

"Demi Allah," kata Imam Ali r.a. seterusnya, "seandainya maut datang kepadaku --dan biarlah ia

datang-- kalian akan melihat aku benar-benar marah menjadi teman bagi orang-orang seperti

kalian! Apakah kalian tidak mempunyai agama yang mewajibkan kalian bersatu? Apakah kalian

tidak bisa marah kalau kehormatan kalian diinjak-injak? Apakah kalian tidak mendengar bahwa

musuh kalian hendak mengurangi wilayah negeri kalian dan mereka sekarang sedang

melancarkan serangan terhadap kalian? Apakah tidak aneh kalau orang-orang durhaka dan

dzalim bisa menyambut baik ajakan Muawiyah dan bersedia dikerahkan kemana saja menurut

kehendaknya? Sedangkan kalian sendiri, tiap kuajak pasti bertengkar, lari bercerai-berai

menjauhi aku, mem-bangkang dan membantah…!"

Di Mesir, seterimanya surat yang berisi petunjuk dari Imam Ali r.a., Muhammad bin Abu Bakar

segera menulis jawaban kepada Amr bin Al Ash, yang isinya: "Aku sudah memahami isi suratmu

dan telah mengerti apa yang kausebutkan. Seolah-olah engkau tidak suka melihatku celaka di tanganmu, tetapi aku bersaksi, demi Allah, bahwa engkau itu adalah salah seorang yang hidup

bergelimang dalam kebatilan. Seolah-olah engkau memberi nasehat kepadaku, tetapi aku

bersumpah, bahwa sesungguhnya bagiku engkau adalah musuh yang harus dicurigai. Engkau

mengatakan bahwa penduduk negeri ini emoh kepadaku dan menyesal pernah jadi pengikutku,

tetapi orang-orang yang seperti itu sebenarnya hanyalah mereka yang bersekutu dengan setan

terkutuk. Aku berserah diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, karena hanya Dia-lah tempat

orang berserah diri yang sebaik-baiknya."

Bersamaan dengan itu, Muhammad bin Abu Bakar juga menulis jawaban kepada Muawiyah bin

Abi Sufyan. Isinya antara lain: "Suratmu sudah kuterima. Engkau menyebut-nyebut persoalan

Utsman bin Affan, suatu persoalan yang aku tidak perlu minta maaf kepadamu. Seolah-olah

engkau hendak memberi nasehat kepadaku dengan menggertak supaya aku menyerahkan

kedudukan kepadamu. Dengan menakut-nakuti aku, engkau sekaligus juga berpura-pura

menunjukkan belas kasihan kepadaku. Padahal sebenarnya aku sendiri sangat mengharapkan

bencana menimpa kalian. Mudah-mudahan Allah akan menghancurkan kalian dalam peperangan

sehingga kalian akan menjadi orang-orang hina yang lari tunggang langgang. Kalau sampai

engkau berkuasa di dunia ini, demi Allah, betapa banyaknya orang dzalim yang akan kaubela.

Betapa banyaknya orang mukmin yang akan kaubunuh dan kaucincang! Hanya kepada Allah

sajalah semua persoalan kembali. Sesungguhnya Dia-lah Maha Pengasih dan Penyayang…"

Seterimanya surat jawaban dari Muhammad bin Abu Bakar, Amr bin Al Ash dan pasukannya

mulai bergerak memasuki Mesir. Mendengar berita tentang gerakan Amr tersebut, Muhammad

bin Abu Bakar berpidato di depan umum:

"Hai orang-orang yang beriman, ketahuilah bahwa kaum yang sudah biasa melanggar

kehormatan, yang tenggelam dalam kesesatan, dan yang terus menerus berbuat sewenangwenang

sekarang sudah terang-terangan menyatakan permusuhan terhadap kalian. Mereka

sedang bergerak menuju negeri kalian ini dengan membawa pasukan bersenjata. Oleh karena

itu, barang siapa yang menginginkan sorga dan pengampunan dari Allah s.w.t., ia harus berani

keluar dan berjuang melawan mereka dengan niat semata-mata untuk memperoleh keridhoan

Allah. Majulah menggempur mereka bersama-sama Kinanah bin Bisyir!"

Kinanah bin Bisyir kemudian diserahi tugas memimpin pasukan sebesar 2.000 orang, sedangkan

Muhammad bin Abu Bakar bertahan di belakang dengan 2.000 orang pengikut. Amr bin Al Ash

bergerak terus menghadapi pasukan Kinanah yang mengambil posisi di depan pasukan

Muhammad. Ketika sudah mendekati

pasukan Kinanah, Amr menggerakkan pasukannya regu demi regu. Tiap regu Syam yang berani

mendekat, selalu berhasil dipukul mundur oleh pasukan Kinanah. Ini terjadi sampai berulang

kali.

Ketika Amr melihat pasukannya dalam keadaan meresahkan cepat-cepat ia mengirim kurir

kepada Muawiyah bin Hudaij untuk minta bantuan. Permintaan Amr itu segera dipenuhi

Muawiyah bin Hudaij dengan mengerahkan pasukan besar. Melihat pasukan musuh yang

berjumlah sangat banyak itu, Kinanah dan sejumlah anggota pasukannya turun dari kuda, lalu

melancarkan serangan keras terhadap musuh dengan pedang. Dengan gigih ia menyerang terusmenerus,

dan akhirnya gugur di medan tempur sebagai pahlawan syahid.

Setelah Kinanah mati terbunuh, Muawiyah bin Hudaij maju ke depan barisan untuk mencari-cari

Muhammad bin Abu Bakar. Waktu itu para pendukung Muhammad sudah lari bercerai-berai

meninggalkannya. Muhammad keluar berjalan kaki pelahan-lahan sampai tiba di sebuah rumah

tua yang sudah rusak. Lalu masuk ke dalam untuk berlindung. Saat itu Amr rnasih bergerak

terus sampai ke Fusthat, sedangkan Ibnu Hudaij masih terus mencari-cari Muhammad bin Abu

Bakar. Akhirnya ia berjumpa dengan orang-orang yang sedang lari untuk menyelamatkan diri.

Waktu Ibnu Hudaij bertanya apakah ada orang yang mencurigakan lewat, mereka menjawab:

"Tidak!"

Tetapi kemudian salah seorang di antara mereka menambahkan: "Aku tadi masuk ke dalam

rumah tua itu, dan kulihat di dalamnya ada seorang lelaki sedang duduk."

Seketika itu juga Muawiyah bin Hudaij berteriak: "Nah…, itu mesti dia…, demi Allah!" Bersama

beberapa temannya ia masuk ke dalam, lalu Muhammad bin Abu Bakar diseret keluar dalam

keadaan hampir mati kehausan, kemudian di bawa ke Fusthat.

Ketika melihat saudaranya diseret-seret oleh Ibnu Hudaij, Abdurrahman bin Abu Bakar segera

lari menemui Amr, kemudian berkata: "Demi Allah, saudaraku jangan sampai dibunuh perlahanlahan.

Perintahkan orang supaya melarang Ibnu Hudaij berbuat seperti itu!"

Atas permintaan Abdurrahman, Amr memerintahkan supaya Muhammad bin Abu Bakar dibawa

kepadanya. Akan tetapi Ibnu Hudaij menjawab: "Kalian telah membunuh anak pamanku,

Kinanah bin Bisyir. Apakah aku harus membiarkan Muhammad hidup? Tidak!"

Dalam suasana sangat tegang itu Muhammad minta diberi air seteguk untuk menghilangkan

dahaga. Permintaan Muhammad itu ditolak Ibnu Hudaij dengan kata-kata: "Setetespun engkau

tidan akan kuberi air. Engkau dulu menghalang-halangi Utsman bin Affan sampai tidak bisa

mendapatkan air minum, kemudian ia kau bunuh dalam keadaan "berpuasa" kehausan. Hai Ibnu

Abu Bakar, demi Allah, engkau akan kubunuh dalam keadaan haus kekeringan. Biarlah Allah

nanti memberi minum kepadamu dengan air mendidih dari neraka Jahim dan nanah!"

Muhammad bin Abu Bakar yang sudah hampir kehilangan tenaga masih menjawab dengan penuh

semangat: "Hai anak perempuan Yahudi, pada hari itu nanti tidak ada urusan denganmu atau

Utsman. Itu hanya semata-mata urusan Allah. Dia-lah yang akan memberi minum kepada

hamba-hamba-Nya yang shaleh, dan membuat musuh-musuh-Nya haus kekeringan! Yaitu orangorang

seperti engkau, teman-temanmu, orang yang mengangkatmu sebagai pemimpin, dan

orang yang kau pimpin! Demi Allah, seandainya pedang masih ada di tanganku, orang-orangmu

tidak akan dapat menyentuhku!"

"Tahukah engkau," tanya Muawiyah bin Hudaij, "apa yang akan kuperbuat atas dirimu? Engkau

akan kujejalkan ke dalam perut bangkai keledai itu, lantas akan kubakar sampai hangus!"

"Kalau engkau berbuat seperti itu," ujar Muhammad bin Abu Bakar, "perbuatan itu

sesungguhnya kaulakukan terhadap seorang hamba Allah yang shaleh. Demi Allah, mudahmudahan

Allah akan membuat api yang kau gunakan untuk menakut-nakuti itu menjadi sejuk

dan tidak berbahaya. Sama seperti api yang digunakan membakar Nabi Ibrahim a.s. dahulu. Dan

mudah-mudahan Allah akan membuatmu dan membuat pemimpin-pemimpinmu sama seperti

Namrud dan orang-orang kepercayaannya. Semoga Allah akan membakarmu, membakar

pemimpin-pemimpinmu, Muawiyyah dan orang itu (ia menunjuk dengan jari ke arah Amr bin Al

Ash)…, dengan api neraka yang berkobar-kobar. Tiap hampir padam akan lebih dikobarkan lagi

oleh Allah!"

"Aku tidak membunuhmu secara dzalim," jawab Muawiyah bin Hudaij. "Aku membunuhmu

karena engkau telah membunuh Utsman!"

"Apa urusanmu dengan Utsman, orang yang telah berbuat dzalim dan mengganti hukum Allah,"

sahut Muhammad bin Abu Bakar dengan tegas. "Pada hal Allah telah berfirman (yang artinya):

"Barang siapa menetapkan hukum tidak menurut apa yang telah diturunkan Allah, mereka

adalah orang-orang kafir, orang-orang dzalim, orang-orang durhaka. Kami bertindak keras

terhadapnya karena hal-hal yang telah diperbuat olehnya. Kami menuntut supaya ia

melepaskan jabatan, tetapi ia menolak, dan akhirnya ia dibunuh orang!"

Mendengar jawaban Muhammad itu, Muawiyah bin Hudaij naik pitam. Pedang diayun dan Muhammad bin Abu Bakar dipenggal lehernya. Jenazahnya dijejalkan ke dalam perut keledai,

kemudian dibakar sampai hangus.

Mendengar saudaranya mengalami nasib malang, Sitti Aisyah r.a. tersayat-sayat hatinya dan

sangat sedih. Tiap selesai shalat ia selalu mohon kepada Allah s.w.t. supaya menjatuhkan

adzab kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, Amr bin Al Ash, Muawiyah bin Hudaij. Keluarga yang

ditinggalkan Muhammad di pelihara oleh Sitti Aisyah r.a., termasuk Al-Qasim bin Muhammad.

Menurut berbagai sumber riwayat, sejak terjadinya peristiwa sangat kejam itu Sitti Aisyah r.a.

tidak mau lagi makan panggang daging sampai akhir hayatnya. Tiap teringat kepada

saudaranya, ia menyumpah-nyumpah: "Binasalah Muawiyah bin Abi Sufyan, Amr bin Al Ash,

Muawiyah bin Hudaij!"

Sedangkan Asma binti 'Umais, ibu Muhammad, ketika mendengar kemalangan menimpa anak

kandungnya, ia muntah darah dalam mushalla, akibat menahan marah dan dendam.

Waktu Imam Ali r.a. mendengar berita tewasnya Muhammad bin Abu Bakar, ia sangat pilu dan

sedih. Tindakan buas terhadap Muhammad itu terbayang-bayang di pelupuk matanya. Dalam

suatu khutbahnya sesudah kejadian itu ia mengatakan: "Mesir sekarang telah ditaklukkan oleh

orang-orang durhaka dan pemimpin-pemimpin dzalim lagi bathil. Mereka itu ialah orang-orang

yang selama ini berusaha membendung jalan menuju kebenaran Allah, dan orang-orang yang

hendak menyelewengkan agama Islam. Muhammad bin Abu Bakar telah gugur sebagai pahlawan

syahid. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. Perhitungan tentang kematiannya itu

kita serahkan kepada Allah."

"Demi Allah," kata Imam Ali r.a. selanjutnya, "sebagaimana kuketahui ia memang seorang yang

penuh tawakkal kepada Allah dan rela menerima takdir Ilahi. Ia telah berbuat untuk

memperoleh pahala. Ia seorang yang sangat benci kepada segala bentuk kedurhakaan, dan

sangat mencintai jalan hidup orang-orang beriman."

"Demi Allah, aku tidak menyesali diriku karena tidak sanggup berbuat. Aku tahu benar

bagaimana beratnya resiko penderitaan dalam peperangan. Aku sanggup dan berani

menghadapi perang, aku mengerti bagaimana harus bertindak tegas, dan aku pun mempunyai

pendapat yang tepat. Oleh karena itu aku berseru kepada kalian untuk memperoleh

balabantuan dan pertolongan. Tetapi kalian tidak mau mendengarkan perkataanku, tidak mau

mentaati perintahku, sehingga urusan yang kita hadapi ini berakibat sangat buruk.

"Kurang lebih 50 hari yang lalu, kalian kuajak membantu saudara-saudara kalian di Mesir, tetapi

kalian maju mundur. Kalian merasa berat seperti orang-orang yang memang tidak mempunyai

niat berjuang, yaitu orang-orang yang tidak pernah berfikir ingin memperoleh imbalan pahala."

"Akhirnya aku hanya dapat menghimpun pasukan kecil, jumlahnya sangat sedikit, lemah dan

tidak kompak. Mereka ini seolah-olah hanya untuk digiring menghadapi maut yang ada di depan

mereka! Alangkah buruknya kalian itu!"

Selesai mengucapkan khutbah yang pedas didengar itu, ia turun dan pergi.

Teror Abdul Rahman bin Muljam

Sekelompok orang-orang Khawarij berkumpul memperbincangkan nasib sanak famili dan temanteman

mereka yang telah mati terbunuh dalam berbagai peperangan. Mereka berpendapat,

bahwa tanggung-jawab atas terjadinya pertumpahan darah selama ini harus dipikul oleh tiga

orang: Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan dan Amr bin Al Ash. Tiga orang itu oleh

mereka disebut dengan istilah "pemimpin-pemimpin yang sesat".

Salah seorang di antara yang sedang berkumpul itu, bernama Albarak bin Abdullah. Ia bangkit berdiri sambil berkata: "Akulah yang akan membikin beres Muawiyah bin Abi Sufyan!"

Teriakan Albarak itu diikuti oleh Amr bin Bakr dengan kata-kata: "Aku yang membikin beres

Amr bin Al Ash!"

Abdurrahman bin Muljam tak mau ketinggalan. Ia berteriak: "Akulah yang akan membikin beres

Ali bin Abi Thalib!"

Tiga orang tersebut kemudian bersepakat untuk melaksanakan pembunuhan dalam satu malam

terhadap tiga orang calon korban: Imam Ali r.a., Muawiyah bin Abi Sufyan dan Amr bin Al Ash.

Terdorong oleh kekacauan aqidah dan semangat balas dendam, tiga orang Khawrij itu bertekad

hendak cepat-cepat melaksanakan rencana mereka.

Berangkatlah Abdurrahman bin Muljam meninggalkan Makkah menuju Kufah. Setibanya di

Kufah, ia singgah di rumah salah seorang teman-lamanya. Di situ ia bertemu dengan seorang

gadis bernama Qitham binti Al Akhdar. Paras gadis ini elok dan cantik. Tidak ada gadis lain di

daerah itu yang mengungguli kecantikan parasnya. Ayah dan saudara lelaki Qitham adalah

orang-orang Khawarij yang mati terbunuh dalam perang Nehrawan.

Waktu melihat kecantikan gadis itu, Abdurrahman bin Muljam sangat terpesona dan tergiur

hatinya. Dengan terus terang ia bertanya kepada Qitham, bagaimana pendapat gadis jelita itu

kalau ia mengajukan lamaran untuk dijadikan isteri. Qitham ketika itu menyahut: "Maskawin

apa yang dapat kauberikan kepadaku?"

"Terserah kepadamu, apa yang kauinginkan," jawab Abdurrahman bin Muljam.

"Aku hanya minta supaya engkau sanggup memberi empat macam," sahut gadis itu

menjelaskan: "Uang sebesar 3.000 dirham, seorang budak lelaki dan seorang budak perempuan

dan kesanggupanmu membunuh Ali bin Abi Thalib!"

Mengenai permintaanmu yang berupa uang 3.000 dirham, seorang budak lelaki dan seorang

budak perempuan, aku pasti dapat memenuhinya," jawab Abdurrahman, "tetapi tentang

membunuh Ali bin Abi Thalib, bagaimana aku bisa menjamin?"

"Engkau harus bisa mengintai kelengahannya," ujar Qitham. "Jika engkau berhasil membunuh

dia, aku dan engkau akan bersama-sama merasa lega dan engkau akan dapat hidup disampingku

selama-lamanya!"

Sebenarnya, sebelum Abdurrahman bertemu dengan Qitham binti Al Akhdar, ia sudah mulai

bimbang melaksanakan niat membunuh Imam Ali r.a. Sebab, tidaklah mudah bagi dirinya

melaksanakan pembunuhan itu. Perbuatan itu merupakan tindakan petualangan yang

berbahaya bagi keselamatan jiwanya. Tetapi suratan takdir rupanya mengendaki supaya

Abdurrahman lebih bertambah berani, hilang keraguannya dan nekad berbuat dosa yang amat

jahat. Tampaknya takdir membiarkan tangan Abdurrahman nyelonong bagaikan anak-panah

terlepas dari busurnya. Secara kebetulan ia seolah-olah digiring singgah ke rumah teman

lamanya dan dipertemukan dengan seorang gadis bernama Qitham! Setelah terjadi

pembicaraan tentang maskawin, akhirnya Abdurrahman

mernberikan jawaban terakhir: "Permintaanmu tentang pembunuhan Ali bin Abi Thalib akan

kupenuhi."

Sebagaimana tersebut di atas tadi Al-Barak bin Abdullah, Amr bin Bakr dan Abdurrahman bin

Muljam, telah sepakat hendak melasanakan pembunuhan serentak dalam satu malam, pada

waktu subuh. Tetapi terjadi satu kebetulan yang agak aneh juga, karena tragedi yang

ditimbulkan oleh tiga orang komplotan tersebut ternyata berakhir dengan akibat yang

berlainan.

Amr bin Al-Ash secara kebetulan tidak mengalami nasib seperti yang dialami temannya. Cerita

tentang peristiwanya itu sebagai berikut: "Pada malam terjadinya peristiwa itu, Amr bin Al-Ash

merasa terganggu kesehatannya. Ia tidak keluar bersembahyang di masjid dan tidak juga untuk

keperluan lainnya. Ia memerintahkan seorang petugas keamanan, bernama Kharijah bin

Hudzafah, supaya mengimami shalat subuh jama'ah sebagai penggantinya. Amr bin Bakr

menduga, bahwa Kharijah itu adalah Amr bin Al-Ash. Amr bin Bakr segera menyelinap dan

mendekat, kemudian Kharijah ditikam dengan senjata tajam. Seketika itu juga Kharijah

meninggal dan Amr bin Bakr sendiri tertangkap basah. Waktu dihadapkan kepada Amr bin Al-

Ash, ia (Amr bin Al Ash) berkata kepadanya : 'Engkau menghendaki nyawaku, tetapi Allah

ternyata menghendaki nyawa Kharijah bin Hudzafah!' Setelah itu ia memerintahkan supaya Amr

bin Bakr segera dibunuh."

Adapun Muawiyah yang menjadi sasaran Al-Barak bin Abdullah, pada saat ia sedang lengah,

ditikam oleh Al-Barak. Mujur bagi Muawiyah. Ia tidak mati, sebab tikaman itu hanya mengenai

samping pantatnya. Hal itu dimungkinkan karena sejak terbukanya permusuhan antara Imam Ali

r.a. dengan dirinya, Muawiyah selalu mengenakan baju berlapis besi. Al-Barak tertangkap dan

ia dihadapkan kepada Muawiyah.

Mengenai peristiwa ini terdapat penulisan sejarah yang agak berlainan. Abu Faraj Al-Ashfahaniy

mengatakan: "Waktu Al-Barak dihadapkan kepada Muawiyah, ia berkata: "Aku membawa berita

untukmu." Muawiyah bertanya: "Berita Apa?"

Al-Barak lalu menceritakan apa yang pada malam itu dilakukan oleh dua orang temannya.

"Malam itu…," katanya, "…Ali bin Abi Thalib akan mati dibunuh. Biarlah aku kau tahan dulu. Jika

benar ia mati terbunuh, terserahlah apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku. Tetapi jika

ternyata ia tidak berhasil dibunuh, aku berjanji kepadamu, akulah yang akan membunuhnya.

Lantas aku akan kembali lagi kepadamu menyerahkan diri. Selanjutnya terserah hukuman apa

yang akan kau jatuhkan atas diriku!"

Al-Barak lalu ditahan oleh Muawiyah. Setelah terdengar berita tentang terbunuhnya Imam Ali

r.a., Al-Barak dibebaskan.

Sumber riwayat lain mengatakan dengan pasti, bahwa waktu Al-Barak dihadapkan kepada

Muawiyah, seketika itu juga Muawiyah memerintahkan supaya Al-Barak segera dibunuh.

Wafat

Allah s.w.t. rupanya telah mentakdirkan bahwa Imam Ali r.a. harus meninggal karena

pembunuhan pada waktu subuh tanggal 17 Ramadhan, tahun 40 Hijriyah. Ketika Imam Ali r.a.

sedang menuju masjid, sesudah mengambil air sembahyang untuk melakukan shalat subuh,

tiba-tiba muncul Abdurrahman bin Muljam dengan pedang terhunus. Imam Ali r.a. yang

terkenal ulung itu tak sempat lagi mengelak. Pedang yang ditebaskan Abdurrahman tepat

mengenai kepalanya. Luka berat merobohkannya ke tanah. Imam Ali r.a. segera diusung

kembali ke rumah.

Saat itu semua orang geram sekali hendak melancarkan tindakan balas dendam terhadap Ibnu

Muljam. Tetapi Imam Ali r.a. sendiri tetap lapang dada dan ikhlas, tidak berbicara sepatahpun

tentang balas dendam. Tak ada isyarat apa pun yang diberikan ke arah itu. Semua orang yang

berkerumun di pintu rumahnya merasa sedih. Mereka berdoa agar Imam Ali r.a. dilimpahi

rahmat Allah yang sebesar-besarnya dan dipulihkan kembali kesehatannya. Semua mengharap

semoga ia dapat melanjutkan perjuangan menghapus penderitaan manusia.

Beberapa orang sahabat Imam Ali r.a. mendatangkan tabib terbaik di Kufah. Seorang tabib yang

berpengalaman mengobati luka, bernama Atsir Ibnu Amr bin Hani. Setelah memeriksa luka-luka

di kening, dengan hati cemas dan suara putus asa, Atsir memberi tahu: "Ya Amiral Mukminin, berikan sajalah apa yang hendak anda wasiyatkan. Pukulan orang terkutuk itu mengenai

selaput otak anda."

Imam Ali r.a. tidak mengeluh. Ia menyerahkan nasib sepenuhnya kepada Allah s.w.t. Ia

memanggil dua orang puteranya: Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Dari seluruh hidupnya yang

penuh dengan pengalaman-pengalaman pahit dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah

dan Rasul-Nya, Imam Ali r.a. menarik pelajaran-pelajaran yang sangat tinggi nilainya. Hal itu

dituangkan dalam wasiyat yang diberikan kepada putera-puteranya beberapa saat sebelum

meninggalkan dunia yang fana ini.

Abu Ja'far Muhammad bin Jarir At Thabariy dalam Tarikh-nya dan Abu Faraj Al Ashfahaniy

dalam Maqatilut Thalibiyyin masing-masing mengetengahkan wasiyat Imam Ali r.a. sebagai

berikut:

"Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu apapun bagi-Nya, dan

bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, diutus membawa hidayat dan agama

yang benar, untuk dimenangkan atas agama-agama lain, walau kaum musyrikin tidak

menyukainya. Kemudian shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semuanya kupersembahkan

kepada Allah, Tuhan penguasa alam semesta, tanpa sekutu apa pun bagi-Nya. Itulah yang

diperintahkan kepadaku, dan aku ini adalah orang muslim pertama.

"Kuwasiyatkan kepada kalian berdua supaya tetap bertaqwa kepada Allah. Janganlah kalian

mengejar-ngejar dunia walau dunia mengejar kalian, dan janganlah menyesal jika ada sebagian

dunia itu lepas meninggalkan kalian. Katakanlah hal-hal yang benar dan

berbuatlah untuk memperoleh pahala akhirat. Jadilah kalian penentang orang dzalim dan

pembela orang madzlum."

"Kuwasiyatkan kepada kalian berdua, kepada semua anak-anakku, para ahlu-baitku, dan kepada

siapa saja yang mendengar wasiyatku ini, supaya senantiasa bertaqwa kepada Allah. Hendaknya

kalian mengatur baik-baik urusan kalian dan jagalah hubungan persaudaraan di antara kalian.

Sebab aku mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. mengatakan: Memperbaiki dan menjaga baikbaik

hubungan persaudaraan antara sesama kaum muslimin lebih afdhal daripada sembahyang

dan puasa umum. Ketahuilah, bahwa pertengkaran itu merusak agama, dan ingatlah bahwa tak

ada kekuatan apa pun selain atas perkenaan Allah. Perhatikanlah keadaan sanak famili kalian

dan eratkan hubungan dengan mereka, Allah akan melimpahkan kemudahan kepada kalian di

hari perhitungan kelak."

"Allah…, Allah, perhatikanlah anak-anak yatim. Janganlah mereka itu sampai kelaparan dan

jangan sampai kehilangan hak. Aku mendengar sendiri Rasul Allah s.a.w. berpesan: Barang

siapa mengasuh anak yatim sampai ia menjadi kecukupan, orang itu pasti akan dikaruniai sorga

oleh Allah. Sama halnya seperti siksa neraka yang pasti akan ditimpakan Allah kepada orang

yang memakan harta anak yatim."

"Allah…, Allah, perhatikanlah Al-Qur'an, jangan sampai kalian kedahuluan orang lain dalam

mengamalkannya. Allah…, Allah…, perhatikanlah tetangga-tetangga kalian, sebab mereka itu

adalah wasiyat Nabi kalian. Sedemikian sungguhnya beliau mewasyiatkan, sampai kami

menduga bahwa beliau akan menetapkan hak waris bagi mereka. Allah…, Allah…, perhatikanlah

rumah Allah, masjid Al-Haram, janganlah kalian tinggalkan selama kalian masih hidup. Sebab

jika sampai kalian tinggalkan, kalian tidak akan dipandang orang. Barang siapa selalu dekat

kepadanya, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Allah…, Allah…, peliharalah

shalat baik-baik, sebab shalat itu amal perbuatan yang paling mulia dan merupakan tiang

agama kalian. Allah…, Allah…, tunaikanlah zakat sebagaimana mestinya, sebab zakat itu

meniadakan murka Allah. Allah…, Allah…, laksanakanlah puasa bulan Ramadhan, sebab puasa

itu merupakan penutup jalan ke neraka."

"Allah…, Allah…, berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Hanya ada dua

macam saja orang yang berjuang di jalan Allah, yaitu seorang pemimpin yang memberikan

bimbingan dan orang yang patuh kepada pemimpin serta mengikuti kebenaran pimpinannya.

Allah..., Allah…, jagalah baik-baik keturunan Nabi kalian, jangan sampai mereka dianiaya orang

di depan mata kalian. Jagalah baik-baik para sahabat Nabi yang tidak mengada-adakan bid'ah

mungkar, dan yang tidak melindungi orang yang mengada-adakan bid'ah mungkar. Sebab Rasul

Allah s.a.w. telah memberi wasiyat tentang mereka itu, dan mengutuk orang dari mereka atau

orang yang bukan mereka, yang mengada-adakan bid'ah mungkar dan mengutuk pula orangorang

yang memberi perlindungan kepada mereka."

"Allah…, Allah…, perhatikanlah para fakir miskin. Ikut sertakan mereka dalam kehidupan kalian.

Allah…, Allah…, jagalah baik-baik wanita kalian dan para hamba sahaya kalian, sebab Rasul

Allah s.a.w. mewasiyatkan supaya kalian menaruh perhatian kepada dua golongan lemah itu,

yaitu kaum wanita dan para hamba sahaya."

Setelah berhenti sebentar untuk memulihkan tenaga yang semakin melemah, Imam Ali r.a.

melanjutkan:

"Dalam menjalankan kewajiban terhadap Allah, janganlah kalian takut dicela orang lain. Allah

akan melindungi dan menyelamatkan kalian dari orang-orang yang hendak berbuat jahat

terhadap kalian. Berkatalah baik-baik kepada semua orang sebagaimana telah diperintahkan

Allah kepada kalian. Janganlah kalian lengah meninggalkan amr ma'ruf dan nahi mungkar, agar

Allah tidak melimpahkan kekuasaan kepada orang-orang yang berperangai jahat. Sebab dalam

keadaan seperti itu doa kalian tidak akan dikabulkan lagi."

"Hendaknya kalian saling berhubungan erat, saling tolong-menolong dan saling bercinta-kasih.

Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, saling bertolak belakang atau bercerai-berai.

Hendaknya kalian saling bantu-membantu dalam kebajikan dan taqwa, dan janganlah salingbantu

dalam berbuat dosa dan permusuhan."

"Bertaqwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya siksa Allah itu sangat berat. Semoga

Allah senantiasa menjaga dan memelihara kalian, hai para ahlul-bait. Allah melestarikan Nabi

s.a.w. melalui kalian. Kuucapkan selamat tinggal sebaik-baiknya kepada kalian dan kuucapkan

pula Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wabarakaatuh…"

Ibnul Atsir meriwayatkan, bahwa sesudah Imam Ali r.a. menyampaikan wasiyat tersebut kepada

Al Hasan r.a. dan Al Husin r.a., ia menoleh kepada puteranya yang lain, Muhammad Ibnul

Hanafiyah, lalu bertanya: "Apakah engkau sudah memahami benar-benar apa yang

kuwasiyatkan kepada kedua orang saudaramu?"

"Ya," jawab Muhammad Ibnul Hanafiyah.

"Kepadamu juga kuwasiyatkan," kata Imam Ali r.a. meneruskan: "hal yang sama seperti itu.

Kuwasiyatkan juga supaya engkau selalu menghormati dua orang saudaramu yang besar itu.

Janganlah mereka kautinggalkan dalam urusan apa pun."

Selesai menekankan hal itu kepada Muhammad Ibnul Hanafiyah, Imam Ali r.a. menambahkan

wasiyatnya kepada Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. "Kuwasiyatkan kepada kalian berdua supaya

menjaga dia (Muhammad Ibnul Hanafiyah) dengan baik. Sebab dia itu saudara kalian sendiri dan

putera ayah kalian. Kalian tahu benar, bahwa ayah kalian juga mencintai dia…"

Imam Ali r.a. mengulangi ucapannya tentang Abdurrahman bin Muljam. Kepada Al Hasan r.a.

Imam Ali r.a. berkata: "Perhatikanlah orang yang memukulku. Berilah ia makan seperti

makananku dan minuman seperti minumanku!"

Ibnu Abil Hadid menambahkan.


Bab XIV : KEUTAMAAN IMAM ALI R.A.

Zaman kelahiran Islam dan pertumbuhannya ditandai oleh ciri khusus dalam suatu kurun waktu

tertentu. Yaitu sepeninggal Rasul Allah s.a.w. ummat Islam dipimpin oleh 4 orang Khalifah yang

sangat terkenal dan diakui serta dihormati oleh segenap kaum muslimin di dunia. Di antara

empat orang Khalifah itu, terdapat seorang yang mempunyai kedudukan istimewa dalam

sejarah, yaitu Imam Ali r.a.

Banyak sekali hal-hal yang memberikan keistimewaan kepadanya. Antara lain sebagian ummat

Islam di dunia sampai sekarang ini mengidentifikasikan diri sebagai pengikut Imam Ali bin Abi

Thalib r.a., yaitu yang terkenal dengan sebutan kaum Syi'ah.

Selain itu, Imam Ali r.a.memang lebih masyhur disebut "Imam", daripada disebut Khalifah.

Sedangkan Khalifah-khalifah lainnya, tak seorang pun yang disebut sebagai Imam. Sudah pasti

hal itu disebabkan oleh adanya keistimewaan-keistimewaan yang melatar-belakangi kehidupan

Imam Ali r.a., sehingga ia mempunyai identitas tersendiri dalam sejarah kehidupan ummat

Islam.

Gelar Imam

Gelar "Imam" adalah khusus bagi Khalifah Ali bin Abi Thalib di samping gelar "Amirul Mukminin"

yang lazim dipergunakan orang pada masa itu, untuk menyebut seorang pemangku jabatan

sebagai pemimpin tertinggi dan Kepala Negara Islam.

Tentang ta'rif (definisi) dari perkataan "imamah" (keimaman) oleh para ahli ilmu kalam,

dirumuskan: "Imamah ialah kepemimpinan umum dalam segala urusan agama dan keduniaan

yang ada pada seseorang…"

Jadi menurut ta'arif tersebut, maka yang dimaksud dengan "Imam" ialah seorang pemimpin atau

seorang ketua yang ditaati dan memiliki kekuasaan yang menyeluruh atas semua orang

muslimin dalam segala urusan mereka, baik di bidang keagamaan maupun di bidang keduniaan.

Menurut mazhab "Imamiyah", imamah merupakan keharusan objektif dalam kehidupan

masyarakat muslimin, yang dalam keadaan bagaimana pun tak dapat diabaikan. Dengan adanya

imamah, semua yang tidak lurus dalam tata pelaksanaan agama dan tata kehidupan dunia,

dapat diluruskan. Dengan imamah pula, keadilan yang dikehendaki Allah harus berlaku di muka

bumi, dapat diusahakan realisasinya. Sebab terpenting perlunya diadakan imamah, ialah untuk

mendorong masyarakat supaya dengan benar menjalankan ibadah kepada Allah s.w.t., untuk

menyebar luaskan ajaran agama-Nya, untuk menanamkan jiwa keimanan serta ketakwaan di

kalangan anggota-anggota masyarakat.

Dengan demikian manusia akan mampu menghindarkan diri dari hal-hal yang buruk dan

menghayati hal-hal yang baik, sebagaimana yang dikehendaki Allah s.w.t. Untuk itu, ummat

Islam wajib mentaati seseorang Imam dan melaksanakan perintah-perintahnya selama imam itu

taat dan tidak menyimpang dari perintah-perintah Allah s.w.t. Sebab hanya dengan ketaatan

kaum muslimin, seorang Imam dapat membereskan keadaan yang tidak beres, mempererat

persatuan dan kerukunan ummat, dan memberikan bimbingan ke jalan yang lurus dan benar.

Banyak sekali tugas dan kewajiban yang terpikul di pundak seorang Imam. Antara lain ialah

menjaga dan memelihara pelaksanaan perintah serta larangan agama; menjaga keselamatan

Islam dan kemurniannya dari perbuatan orang-orang yang mengabaikan nilai-nilai susila dan

moral; melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum agama; menjamin pengayoman dan

kesentosaan wilayah Islam; menjamin terlaksananya keadilan bagi orang-orang yang teraniaya

(madzlum); memimpin ummat dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah dan lain

sebagainya.

Untuk dapat menjadi Imam, orang harus memiliki syaratsyarat. Antara lain ia harus mempunyai

pengetahuan yang luas; mempunyai rasa keadilan yang tinggi; berani karena benar, mampu

memberikan pertolongan dan menanggulangi kesukaran, serta yang terpenting di atas segalagalanya

ialah kebersihan pribadi.

Semua kaum muslimin menyadari, bahwa kebersihan pribadi ini merupakan karunia Allah yang

dilimpahkan kepada hamba-Nya yang sempurna. Dengan kebersihan dan kesucian pribadi itu

orang sanggup menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa dan maksiyat, baik yang

mungkin dilakukan dengan sengaja atau tidak. Sifat luhur seperti itu sudah tentu lebih terjamin

adanya pada para Imam yang berasal dari Ahlu-Bait Rasul Allah s.aw., yaitu orang-orang yang

sanggup menjadi benteng dan pengawal agama Islam, atau orang-orang yang hidup sepenuhnya

mendambakan keridhoan Allah semata-mata.

Dalam kaitannya dengan masalah tersebut, Imam Ali r.a. menegaskan: "Barang siapa yang

hendak menjadikan diri sebagai Imam di kalangan masayarakat, maka ia harus mengajar dirinya

sendiri lebih dulu sebelum mengajar orang lain. Ia harus mendidik dirinya dengan perilaku yang

baik lebih dulu sebelum mendidik orang lain dengan ucapan. Orang yang sanggup mengajar dan

mendidik diri sendiri lebih berhak dihormati daripada orang yang hanya pandai mengajar dan

mendidik orang lain."

Diantara empat orang Khalifah Rasyidun, hanya Khalifah Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sajalah

yang disandangi gelar "Imam" oleh kaum muslimin. Gelar ini tidak dikenakan kepada orang lain

yang menjadi pemimpin kaum muslimin. Mengapa? Bukankah Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. juga

seorang Imam seperti Khalifah Ali? Bukankah Umar Ibnul Khattab r.a. juga seorang Imam seperti

Ali? Bukankah Utsman bin Affan r.a. juga seorang Imam seperti Khalifah Ali? Bukankah Khalifah-

Khalifah itu juga Khalifah Rasyidun seperti Imam Ali? Bukankah juga Khalifah-Khalifah itu

penerus kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. sepeninggal beliau?

Bila pengertian "imamah" hanya terbatas pada kekhalifahan saja, tentu tiga orang Khalifah itu

semuanya adalah Imam-Imam juga seperti Imam Ali r.a. Bahkan mereka memegang "imamah"

lebih dulu daripada Imam Ali r.a.

Mengenai hal itu, seorang penulis modern berkebangsaan Mesir, Abbas Al Aqqad, berpendapat,

bahwa kalau yang disebut "imamah" pada masa itu hanya terbatas pengertiannya di bidang

hukum, tentu persamaan antara empat orang Khalifah itu tidak perlu disangkal lagi. Tetapi,

demikian kata Aqqad seterusnya, tiga orang Khalifah Rasyidun di luar Imam Ali r.a., tak ada

seorang pun diantara mereka itu mengibarkan bendera imamah untuk menghadapi tantangan

kekuasaan duniawi yang muncul di kalangan ummat. Tak ada yang menghadapi adanya dua

pasukan bersenjata yang saling berlawanan di dalam satu ummat. Dan tidak ada yang menjadi

lambang imamah dalam menghadapi masalah-masalah rumit, yang penuh dengan berbagai

problema yang menimbulkan syak dan keraguan di kalangan ummat.

Al Aqqad menambahkan, bahwa dalam keadaan tidak adanya problema-problema seperti itu,

tiga orang Khalifah sebelum Imam Ali r.a., boleh saja disebut Imam. Tentu saja pengertian

"Imam" itu sangat berlainan dengan gelar "Imam" yang ada puda Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Ia

adalah seorang Imam yang menghadapi berbagai kejadian dan peristiwa yang banyak

menimbulkan keragu-raguan berfikir di kalangan ummat. Oleh karena itulah gelar Imam

diberikan kaum muslimin secara khusus kepada khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. Begitu luasnya

gelar itu dikenal orang sampai menjadi buah bibir. Hingga anak-anak pun mengenal Imam Ali

lewat sanjungan-sanjungan yang dikumandangkan orang di jalan-jalan, tanpa perlu disebut

nama orang yang menyandang gelar itu sendiri.

Seterusnya Al Aqqad menjelaskan, bahwa "kekhususan imamah yang ada pada Ali bin Abi Thalib

r.a. ialah bahwa ia seorang Imam yang tidak ada persamaannya dengan Imam-Imam lainnya.

Sebab Imam Ali mempunyai kaitan langsung dengan mazhab-mazhab yang ada di kalangan kaum muslimin, bahkan dimulai semenjak kelahiran mazhab-mazhab itu sendiri pada masa

pertumbuhan Islam. Jadi sebenarnya Imam Ali adalah pendiri mazhab-mazhab, atau dapat juga

disebut sebagai poros di sekitar mana golongan mazhab itu berputar. Hampir tak ada satu

golongan madzhab pun yang tidak berguru kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Hampir tidak ada

satu golongan madzhab pun yang tidak memandang Imam Ali sebagai pusat pembahasan ilmu

agama."

Menurut kenyataannya, Imam Ali r.a. adalah Imam yang benar-benar memiliki semua syarat

yang diperlukan. Satu keistimewaan yang paling menonjol dan tidak dipunyai oleh Khalifahkhalifah

lainnya, ialah penguasaannya di bidang-bidang ilmu agama. Tentang hal ini akan kita

bicarakan di bagian lain buku ini.

Di sini kami hanya ingin mengemukakan, bahwa Abdullah bin Abbas, seorang ulama yang

terkenal luas ilmu pengetahuannya sampai diberi sebutan "habrul ummah" (pendekar ummat)

dan "juru tafsir Al Qur'an," mengatakan dengan jujur, bahwa dibanding dengan ilmu Imam Ali,

ilmunya sendiri ibarat setetes air di tengah samudera. Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. juga

mengatakan: "Hai Abal Hasan (nama panggilan Imam Ali r.a.) mudah-mudahan Allah s.w.t. tidak

membiarkan aku terus hidup di bumi tanpa engkau!"

Zahid

Sebagai seorang Zahid yang berpegang teguh pada perintah Allah s.w.t. dan tauladan serta

ajaran ajaran Rasul-Nya, Imam Ali r.a. dengan konsekuen berani menghadapi gangguan besar

yang dialami dalam kariernya sebagai pemimpin masyarakat dari kepala pemerintahan. Berkalikali

ia ditinggalkan oleh para pendukung dan pengikutnya, tetapi tidak pernah patah hati.

Seperti dikatakan oleh Ali bin Muhammad bin Abi Saif Al Madainiy bahwa tidak sedikit orang

Arab yang meninggalkan Imam Ali karena sikap mereka yang terlalu mengharapkan keuntungankeuntungan

material. Demikian juga tokoh-tokoh yang berpamrih ingin mendapat kedudukan,

jangan harap mereka itu bisa bersahabat baik dan lama dengan Imam Ali. Seorang pemimpin

besar seperti Imam Ali yang taqwanya kepada Allah sedemikian tinggi, dan sedemikian

patuhnya bertauladan serta melaksanakan ajaran Rasul Allah s.a.w., tidak mencari teman

dengan mengobral harta dan kedudukan. Ia sendiri memandang manusia bukan dari kekayaan

dan kedudukan sosialnya, bukan pula dari asal-usul keturunannya, melainkan dari keimanannya

kepada Allah s.w.t. dan kesetiaannya kepada ajaran Rasul-Nya.

Imam Ali tidak pernah memberikan perlakuan istimewa kepada seorang karena keturunan,

kedudukan atau kekayaannya. Ia selalu memberikan perlakuan yang sama kepada semua orang,

kaya atau miskin, orang yang berpangkat ataupun rakyat jelata. Itulah antara lain yang menjadi

sebab mengapa setelah ia menjadi Khalifah, dijauhi oleh kepala-kepala qabilah dan tokohtokoh

masyarakat yang berambisi dan hendak mendahulukan kepentingan pribadi atau

golongan.

Tentang mengapa Imam Ali r.a. sampai ditinggal oleh para pengikut dan pendukungnya, Al-

Madainiy dalam riwayat yang ditulisnya, antara lain mengemukakan, bahwa Al-Asytar pernah

berkata kepada Innam Ali r.a.: "…Anda bertindak adil, baik terhadap mereka yang mempunyai

kedudukan terhormat maupun mereka yang tidak mempunyai kedudukan. Di hadapan anda

orang-orang yang terhormat itu tidak memperoleh perlakuan istimewa atau lebih dari

perlakuan yang anda berikan kepada orang biasa. Akhirnya ada kelompok pengikut yang ribut

dan heboh kalau keadilan dan kebenaran diterapkan atas diri mereka. Mereka sakit hati kalau

pemerataan keadilan diterapkan atas diri mereka. Mereka lalu membanding-bandingkan betapa

enaknya perlakuan Muawiyah terhadap orang-orang kaya dan terkemuka… Mereka lebih senang

membeli kebatilan dengan kebenaran dan tergiur oleh kesenangan duniawi."

Setelah mendengar baik-baik ucapan Al Asytar, dengan tenang rmam Ali r.a. berkata: "Apa yang

kau katakan mengenai perilaku dan keadilanku, bukankah Allah Azza wa Jalla telah berfirman (yang artinya): "Barang siapa berbuat baik, maka pahala bagi dirinya sendiri, dan barang siapa

yang berbuat buruk, maka dosanya pun akan menimpa dirinya sendiri. Dan Tuhanmu tidak

berlaku dzalim terhadap para hamba-Nya" (S. Fushshilat: 46).

Kemudian Imam Ali r.a. berkata pula: "Sebenarnya Allah mengetahui, bahwa mereka itu

menjauhi kami bukan karena kami berlaku dzalim. Mereka menjauhi kami bukan karena hendak

mencari perlindungan keadilan. Yang mereka kejar hanyalah dunia, yang akhirnya akan lenyap

juga dari mereka. Pada hari kiyamat mereka itu akan ditanya: 'apakah mereka hanya

menginginkan dunia? Apakah yang telah mereka perbuat untuk Allah?'…"

Tentang pengobralan harta milik ummat untuk mendapatkan pengikut seperti yang dilakukan

Muawiyah di Syam, Imam Ali r.a. berkata: "Kami tidak dapat memberikan pembagian harta

ghanimah kepada seseorang melampaui ketentuan yang sudah menjadi haknya…"

Tentang banyak atau sedikitnya pengikut, Imam Ali r.a. mengemukakan contoh kehidupan Rasul

Allah s.a.w.: "Allah mengutus Muhammad s.a.w. seorang diri. Kemudian Allah membuat

pengikut beliau menjadi banyak, padahal mulanya sangat sedikit. Ummatnya yang pada

mulanya hina kemudian diangkat menjadi ummat yang mulia. Jadi jika Allah hendak

melimpahkan hal seperti itu kepadaku, semua kesulitan pasti akan dipermudah oleh-Nya,

sedang segala yang berat akan diringankannya."

Menurut Hasan Al Bashriy: "Imam Ali r.a. adalah orang rahbaniy (orang suci) dari ummat ini."

Orang suci dari ummat ini menghayati kehidupan yang amat sederhana. Ia bersembah sujud

kepada Allah seperti para wali atau orang suci lainnya. Ia memikul tanggung jawab atas negara

dan ummatnya dengan tekad seperti Nabi.

Di Kufah, Imam Ali r.a. melarang keras orang memaki-maki Muawiyah. Kepada sahabatsahabatnya

ia berkata: "Ucapkanlah: Ya Allah, hindarkanlah kami dari pertumpahan darah

dengan mereka, dan perbaikilah hubungan persaudaraan kami dengan mereka!"

Padahal di Syam, Muawiyah mendorong-dorong penduduk supaya mencerca dan mencaci-maki

Imam Ali r.a.

Di Kufah Imam Ali r.a. memakai baju seharga tiga dirham, menelan makanan serba kasar dan

kering. Kekayaan kaum muslimin dibagi di antara mereka semua berdasarkan keadilan tanpa

pilih kasih. Ia hidup taqwa dan zuhud tidak mengenal kesenangan hidup sama sekali!

Padahal di Syam Muawiyah tinggal di istana megah dan menikmati hidup serba mewah.

Kekayaan datang dari mana-mana dalam jumlah yang sukar dihitung. Tetapi kekayaan itu

dihamburkan untuk tujuan mencapai kepentingan ambisinya.

Di Kufah kepada para utusan muslimin yang datang, baik yang mencari kebenaran untuk

dijadikan pegangan hidup, maupun yang mencari kekayaan atau kesempatan memperoleh

kedudukan, oleh Imam Ali r.a. diingatkan kepada ayat Al-Qur'an (S. Yunus: 108), yang artinya:

"Barang siapa memperoleh hidayat, maka hidayat itu sesungguhnya untuk kebaikan dirinya

sendiri. Dan barang siapa yang sesat, maka kesesatan itu pun akan mencelakakan dirinya

sendiri."

Selain kalimat tersebut tidak ada harapan atau janji-janji muluk, tidak ada suap, dan tidak ada

penghamburan uang milik ummat, betapa pun besarnya akibat yang akan dihadapi oleh Imam

Ali r.a.

Sedang di Syam, Muawiyah memberi harapan dan janji-janji muluk serta mengobral harta dan

hadiah-hadiah.

Di Kufah Imam Ali r.a. diminta oleh kaum muslimin supaya tinggal di sebuah istana besar dan

megah. Waktu melihat istana itu Imam Ali ra. membuang muka sambil berkata: "Itu istana

celaka! Sampai kapan pun aku tak sudi tinggal di sana!"

Penduduk Kufah tetap menghimbau dan mendesak supaya Imam Ali r.a. bersedia menempati

istana itu, sebab dianggap patut dan sesuai, tetapi Imam Ali r.a. tetap menolak keras: "Aku

tidak membutuhkan itu! Umar Ibnul Khattab sendiri dulu tidak menyukainya!"

Di Kufah, Imam Ali r.a. sering berjalan kaki ke pasar-pasar, padahal ia seorang Amirul

Mukminin. Di sana ia menunjukan orang yang sesat jalan dan membantu orang yang lemah. Ia

berjumpa dengan seorang yang sudah sangat lanjut usia. Segera ia membantu membawakan

barang jinjingannya.

Melihat perbuatan Imam Ali r.a. seperti itu ada sahabatnya yang tidak rela, lalu mendekati,

kemudian berkata kepadanya: "Ya Amirul Mukminin ....!"

Imam Ali r.a. tidak membiarkan sahabat itu berkata sampai selesai. Segera ia menukas dengan

mengucapkan firman Allah, yang artinya: "Kampung akhirat itu kami sediakan bagi orang-orang

yang tidak menyombongkan diri di bumi dan tidak berbuat kerusakan. Kesudahan yang baik bagi

orang-orang yang bertaqwa." (S. Al-Qishash:83).

Ia membeli kebutuhan-kebutuhan keluarganya dan membawanya sendiri. Jika ada salah seorang

dari pengantarnya yang hendak membawakan jinjingannya, ia menjawab sambil tersenyum:

"Kepala keluarga lebih berhak membawanya sendiri!"

Walaupun ia seorang Khalifah, ia menunggang keledai dengan dua kaki tergelantung seolah-olah

tak ada bedanya lagi dengan seorang badui miskin. Para sahabatnya berusaha mengganti hewan

kendaraan itu dengan seekor kuda yang pantas bagi seorang Amirul Mukminin. Tetapi Imam Ali

r.a. malah menjawab: "Biarkan aku meremehkan dunia ini!"

Imam Ali r.a. sanggup menaklukkan rayuan kesenangan duniawi dan menundukkan megahnya

kekuasaan. Di dunia ini ia hidup untuk menunggu akhirat, dan bukannya takluk kepada dunia.

Nyata benar bedanya antara Imam Ali r.a. di Kufah dengan Muawiyah di Syam. Imam Ali r.a.

hidup zuhud dan suci, sedang Muawiyah hidup serba mewah meniru raja-raja Persia dan

Romawi. Salah seorang dinasti Bani Umayyah sendiri yang terkenal jujur, Umar bin Abdul Azis,

mengakui terus terang: "Ali bin Abi Thalib r.a. adalah orang yang paling zuhud di dunia."

Imam Ali r.a. seperti diketahui pernah berselisih pendapat dengan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.

tentang kekhalifahan. Tetapi sebagai seorang zahid tidak mau mengingkari keutamaan Abu

Bakar r.a. Sewaktu menyatakan belasungkawa atas wafatnya Abu Bakar r.a sambil menyeka air

mata, Imam Ali r.a. berkata:

"Hai Abu Bakar, Allah telah melimpahkan rahmat kepadamu. Demi Allah, engkau adalah orang

Islam pertama dari ummat ini. Orang yang paling ikhlas imannya dan orang yang paling lurus

keyakinannya. Engkau adalah orang yang membenarkan dan mempercayai Rasul Allah s.a.w. di

saat orang-orang lain mendustakannya. Engkaulah yang membantunya di saat orang-orang lain

menggenggamkan tangan (kikir). Engkaulah yang tegak berdiri di sampingnya di saat orangorang

lain duduk berpangku tangan."

"Demi Allah, engkaulah yang menjadi pelindung Islam di saat orang-orang kafir hendak

menghancurkannya. Hujahmu (dalam membela Islam) tak pernah lemah, pandanganmu

senantiasa tajam, dan engkau tidak pernah berjiwa penakut."

"Demi Allah, engkau adalah seperti yang dikatakan Rasul Allah s.a.w.: badanmu lemah, tetapi agamamu kuat dan selalu bersikap rendah hati. Semoga Allah melimpahkan ganjaran

kepadamu, dan semoga pula Allah tidak akan membiarkan aku tersesat sepeninggalmu."

Banyak sekali riwayat yang mengisahkan kezuhudan Imam Ali r.a. Sikapnya yang selalu menolak

kekayaan dan harta benda sangat menonjol. Salah seorang tokoh pada zamannya, Asy Syi'biy

misalnya, sangat terkesan oleh suatu peristiwa yang disaksikannya sendiri di masa kanak-kanak.

Katanya: "Bersama anak-anak lain aku pernah masuk ke sebuah tempat yang sangat luas di

Kufah. Di sana aku melihat Imam Ali sedang berdiri di depan dua onggok emas dan perak. Ia

memegang sebilah pedang untuk membubarkan orang banyak yang berkerumun di tempat itu.

Setelah itu ia kembali menghampiri onggokan emas dan perak untuk menghitungnya. Kemudian

memanggil orang-orang supaya mendekat dan kulihat semua emas dan perak habis dibagibagikan

sampai tak ada lagi sisanya."

"Waktu aku pulang," kata Asy Syi'biy seterusnya, "bertanya kepada ayah: 'Yang kusaksikan hari

ini orang yang paling baik ataukah orang yang paling bodoh?' Sambil keheran-heranan ayah balik

bertanya: 'Siapa dia, anakku?' Kujawab: 'Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.' Kemudian

kuceritakan kepada ayah apa yang kusaksikan tadi. Mendengar ceritaku itu ayah terharu dan

sambil melinangkan air mata menjawab: 'Yang kaulihat tadi itu orang yang paling baik,

anakku'…"

Riwayat yang membuktikan tentang tidak senangnya Imam Ali r.a. kepada harta kekayaan

diceritakan juga oleh Muhammad bin Fudhail, Harun bin Antarah dan Zadan. Ketika itu

Muhammad bin Fudhail bepergian bersama pelayan Imam Ali r.a. yang bernama Qanbar. Di

tengah jalan mereka bertemu dengan Imam Ali r.a. Kepada tuannya Qanbar memberitahu

bahwa ia mempunyai barang simpanan yang khusus disembunyikan untuknya. Pemberitahuan

Qanbar itu menimbulkan tanda-tanya di hatinya. Kemudian ia minta penjelasan. Tanpa

memberi jawaban apapun Qanbar terus mengajak Imam Ali r.a. pergi ke tempat tinggalnya.

Setibanya di rumah, Qanbar menghampiri sebuah tempat dan mengambil sebuah kantong.

Waktu kantong dibuka dan dikeluarkan ternyata berisi beberapa piala penuh dengan kepingankepingan

emas dan perak.

Dengan wajah berseri-seri Qanbar berkata: "Kulihat tuan tak pernah membiarkan barang apa

pun yang tidak tuan bagikan kepada orang-orang lain sampai habis. Oleh karena itu semuanya

ini kusembunyikan dari Baitul Mal, khusus untuk tuan."

Dengan mata membelalak, Imam Ali membentak: "Celaka engkau, hai Qanbar! Apakah engkau

ingin memasukkan kobaran api ke dalam rumahku?" Tanpa banyak bicara lagi Imam Ali segera

menghunus pedang lalu dihantamkan kuat-kuat ke kantong yang berisi piala-piala penuh emas

dan perak. Piala-piala itu hancur berkeping-keping dan emas serta perak tertebar

berhamburan.

Habis itu Imam Ali r.a. mengumpulkan orang banyak. Kepada mereka ia berkata: "Bagilah

semuanya itu dengan adil!"

Belum puas dengan sikap yang memukaukan orang banyak itu, Imam Ali r.a. cepat-cepat

menuju Baitul Mal. Semua yang tersimpan dalam balai harta kaum muslimin itu dibagi-bagikan

begitu saja kepada orang-orang. Setelah terbagi rata, ia masih melihat ada beberapa kerat

jarum dan benda-benda kecil lain yang kurang berharga. Kepada orang-orang yang masih

tinggal ia menganjurkan supaya benda-benda kecil itu.dibagi juga. Apa jawab mereka: "… Kami

tidak membutuhkan itu…!"

Imam Ali r.a. tersenyum meninggalkan Baitul Mal seraya bergumam: "Yang jelek sebenarnya

harus diambil juga bersama-sama yang baik!" Ia pergi tanpa sekeping pun melekat di

tangannya.

Sikap Hidup

Sikap dan cara hidup Imam Ali r.a. benar-benar telah manunggal dengan kezuhudan dan

ketinggian tingkat taqwanya kepada Allah s.w.t. Pernah terjadi, ada seorang telah melakukan

suatu kesalahan. Untuk menutupi kesalahannya, ia menyanjung-nyanjung Imam Ali r.a. Sebagai

orang yang sudah tahu duduk persoalannya, Imam Ali r.a. menjawab: "Aku ini sebenarnya tidak

setinggi seperti yang kaukatakan itu, tetapi aku ini sebenarnya memang lebih tinggi daripada

apa yang ada pada dirimu."

Perkataan itu diucapkannya dengan wajar, di samping menunjukkan bahwa ia tidak mabok

sanjung-puji, sekaligus pula mengeritik orang yang bersangkutan, bahwa perbuatan buruk

berakibat memerosotkan martabat.

Lain contoh lagi tentang kesederhanaan sikapnya. Dalam satu peperangan, lawan-lawan yang

dihadapinya semua berseragam tempur, lengkap dengan baju dan topi besi. Tidak dimilikinya

seragam tempur seperti itu, tidak membuat Imam Ali r.a. malu dan gentar. Ia terjun ke kancah

pertempuran tanpa mengenakan baju besi atau topi pelindung. Sikap Imam Ali r.a. yang seperti

itu mencerminkan kewajaran dan kesederhanaannya, walau dalam keadaan menghadapi bahaya

menantang. Prinsip kesederhanaan yang tidak dibuat-buat itulah yang melahirkan sikap polos,

jujur dan terus terang, baik dalam ucapan maupun perbuatan, dalam keadaan sulit atau pun

tidak.

Kepolosan dan kewajaran dalam menghadapi lawan seperti di atas tadi, sering disalah-artikan

atau disalah-gunakan orang untuk mengecap Imam Ali r.a. sebagai orang yang sombong dan

sok. Benarlah apa yang pernah dikatakan salah seorang sahabatnya: "Ali bin Abi Thalib r.a.

adalah orang yang mengenal perang hanya dengan modal keberanian. Ia tidak kenal bagaimana

dalam peperangan orang harus mendaya-gunakan tipu-muslihat."

Benarnya ucapan itu tampak jelas pada kata-kata Imam Ali r.a. sendiri, yang dengan gamblang

menegaskan: "Bukti keberanian ialah engkau harus mengutamakan kejujuran dan bukannya

kebohongan, walau kejujuran itu akan mengakibatkan kerugian, dan kebohongan akan

mengakibatkan keberuntungan. Dalam berbicara dengan orang lain hendaknya engkau tetap

selalu taqwa dan patuh kepada Allah s.w.t."

Dibanding dengan Khalifah-khalifah sebelumnya, memang tak ada seorang pun yang sedemikian

zuhudnya dalam menghindari nikmatnya kekuasaan dan kekayaan atau kesenangan-kesenangan

duniawi lainnya. Ia makan roti yang terigunya berasal dari cucuran keringat isterinya sendiri,

Sitti Fatimah r.a.

Tiap kali isterinya selesai menumbuk gandum, ia sendirilah yang turun tangan menggaruki

ujung antan (alu) dengan jari jemarinya guna mengumpulkan sisa-sisa tepung yang melekat.

Sambil mengerjakan hal itu Imam Ali r.a. berkata kepada isterinya: "Aku tak ingin perutku ini

dimasuki sesuatu yang aku tak tahu dari mana asalnya…"

Bagaimana lugu dan cara hidupnya yang berada di bawah tingkat sederhana itu diungkapkan

oleh Uqbah bin Alqamah, yang mengisahkan pengalaman sendiri, sebagai berikut: "Pada satu

hari aku berkunjung ke rumah Ali bin Abi Thalib r.a. Kulihat ia sedang memegang sebuah

mangkuk berisi susu yang sudah berbau asam. Bau sengak susu itu sangat menusuk hidungku.

Kutanyakan kepadanya: "Ya Amiral Mukminin, mengapa anda sampai makan seperti itu?"

"Hai Abal Janub," jawabnya, "Rasul Allah s.a.w. dulu minum susu yang jauh lebih basi dibanding

dengan susu ini. Beliau juga mengenakan pakaian yang jauh lebih kasar daripada bajuku ini

(sambil menunjuk kepada baju yang sedang dipakainya). Kalau aku sampai tidak dapat

melakukan apa yang sudah dilakukan oleh beliau, aku khawatir tak akan dapat berjumpa

dengan beliau di hari kiyamat nanti."

Imam Ali r.a. sebagai seorang shaleh, zuhud, tahan menderita dan sanggup membebaskan diri

dari kesenangan duniawi, belum pernah makan sampai merasa kenyang. Makanannya bermutu

sangat rendah dan pakaiannya pun hampir tak ada harganya. Abdullah bin Rafi' menceritakan

penyaksiannya sendiri sebagai berikut: "Pada suatu hari raya aku datang ke rumah Imam Ali r.a.

Ia sedang memegang sebuah kantong tertutup rapat berisi roti yang sudah kering dari remuk.

Kulihat roti itu dimakannya. Aku bertanya keheran-heranan: "Ya Amiral Mukminin, bagaimana

roti seperti itu sampai anda simpan rapat-rapat?"

"Aku khawatir," sahut Imam Ali r.a., "kalau sampai dua orang anakku itu mengolesinya dengan

samin atau minyak makan."

Tidak jarang pula Imam Ali r.a. memakai baju robek yang ditambalnya sendiri. Kadang-kadang

ia memakai baju katun berwarna putih, tebal dan kasar. Jika ada bagian baju yang ukuran

panjangnya lebih dari semestinya, ia potong sendiri dengan pisau dan tidak perlu dijahit lagi.

Bila makan bersama orang lain, ia tetap menahan tangan, sampai daging yang ada di

hadapannya habis dimakan orang. Bila makan seorang diri dengan lauk, maka lauknya tidak lain

hanyalah cuka dan garam. Selebihnya dari itu ia hanya makan sejenis tumbuh-tumbuhan.

Makan yang lebih baik dari itu ialah dengan sedikit susu unta. Ia tidak makan daging kecuali

sedikit saja. Kepada orang lain ia sering berkata: "Janganlah perut kalian dijadikan kuburan

hewan!"

Sungguh pun tingkat penghidupannya serendah itu, Imam Ali r.a. mempunyai kekuatan jasmani

yang luar biasa. Lapar seolah-olah tidak mengurangi kekuatan tenaganya. Ia benar-benar

bercerai dengan kenikmatan duniawi. Padahal jika ia mau, kekayaan bisa mengalir kepadanya

dari berbagai pelosok wilayah Islam, kecuali Syam. Semuanya itu dihindarinya dan sama sekali

tidak menggiurkan seleranya.

Ibadah

Imam Ali r.a. merupakan orang yang paling tekun dan banyak beribadah. Ia pun paling sering

berpuasa. Kepadanya banyak orang yang minta petunjuk tentang cara-cara yang terbaik dalam

menunaikan sembahyang malam, berwirid, berzikir dan beribadah lainnya. Bila sedang

menghadap ke hadhirat Allah 'Azaa wa Jalla, Imam Ali r.a. sedemikian khusyu' dan khidmatnya,

tak ada sesuatu yang dapat menggoyahkan kebulatan fikiran dan perasaannya.

Dalam situasi sedang berkobarnya pertempuran di Shiffin, habis menunaikan shalat, Imam Ali

r.a. tekun berwirid, tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk orang yang sedang mengadu tenaga dan

senjata. Di malam yang sangat mengerikan itu, Imam Ali r.a. bersembah sujud di hadapan Allah

s.w.t., padahal tidak sedikit anak panah yang beterbangan di kanan-kirinya dan ada pula yang

berjatuhan di depannya. Ia tidak gentar sedikit pun dan tidak.bangun meninggalkan tempat

ibadah sebelum menyelesaikannya dengan tuntas. Demikian banyaknya ia bersembah sujud

setiap hari, siang dan malam, sampai kulit keningnya menebal dan keras kehitam-hitaman.

Ia selalu bermunajat kepada Allah dan mengagungkan-Nya, menyatakan ketundukan dan

penyerahan hidup-matinya kepada Allah. Dengan patuh ia melaksanakan semua perintah dan

menghindari larangan-Nya. Semuanya itu dilakukan dengan sepenuh hati, jujur dan ikhlas.

Hatinya, perbuatannya dan ucapannya sedemikian utuhnya menjadi satu perpaduan yang tak

kenal garis pemisah.

Konon Ali bin Al Husein r.a. --cucu Imam Ali r.a.-- pernah ditanya orang tentang "bagaimana

perbandingan antara ibadah yang anda lakukan dengan ibadah yang dilakukan datuk anda?"

Ali bin Al Husein r.a. yang terkenal sebagai orang shaleh dan tekun beribadah itu menjawab:

"Perbandingan antara ibadahku dengan ibadah datukku, sama seperti perbandingan antara

ibadah datukku dengan ibadah Rasul Allah s.a.w."

Tentang ibadah Imam Ali r.a. ini, 'Urwah bin Zubair mengemukakan sebuah riwayat yang

berasal dari Abu Darda sebagai berikut:

Pada suatu hari aku menyaksikan Ali bin Abi Thalib r.a. berada di halaman rumah seorang yang

penuh dengan pepohonan. Ia mengasingkan diri dari orang lain dan bersembunyi di sela-sela

batang kurma yang sangat lebat: "Aku mencari-cari dia sampai agak jauh. Kukira pasti ia sudah

berada di rumahnya lagi. Tibatiba aku mendengar

suara ratap sedih: 'Ya Allah, Tuhanku, betapa banyaknya dosa yang karena kebijaksanaan-Mu

tidak Engkau balas dengan murka-Mu. Betapa pula banyaknya dosa yang karena kemurahan-Mu

tidak Engkau gugat. Ya Allah, Tuhanku, bila sepanjang umur aku berbuat dosa kepada-Mu dan

sangat banyak dosaku tercatat dalam shuhuf, maka aku tidak mengharap sesuatu selain

pengampunan-Mu dan aku tidak mendambakan sesuatu kecuali keridhnan-Mu'…"

"Suara ratap sedih itu sangat menarik perhatianku. Jejaknya kutelusuri. Ternyata suara itu

adalah suara Ali bin Abi Thalib r.a. Aku lalu bersembunyi dan menunduk agar jangan sampai

diketahui olehnya. Kulihat ia sedang berruku' beberapa kali di tengah kegelapan malam.

Kemudian ia berdoa sambil menangis dan mengeluh sedih ke hadhirat Allah s.w.t. Di antara

munajat yang diucapkannya ialah: "Ya Allah, Tuhanku, tiap kurenungkan keampunan-Mu, terasa

ringanlah kesalahanku. Dan tiap kuingat murka-Mu yang dahsyat, terasa sangat besarlah dosa

kesalahanku."

Kata Abu Darda lebih lanjut: "Ia lalu tenggelam di dalam tangis. Makin lama suaranya tidak

kudengar lagi. Kufikir mungkin ia tertidur nyenyak karena terlalu banyak bergadang. Dini hari ia

hendak kubangunkan untuk shalat subuh. Ia kudekati, ternyata ia tergeletak seperti sebatang

kayu. Ia kugerak-gerakkan dan kubalik-balik, tetapi sama sekali tidak berkutik. Kuduga ia

wafat. Lalu aku mengucap: Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Aku cepat-cepat lari ke

rumahnya untuk memberi tahu keluarganya."

Setelah mendengar keteranganku, Sitti Fatimah r.a. hanya bertanya: "Hai Abu Darda, dia

kenapa dan bagaimana keadaannya?"

Sesudah kujelaskan keadaan Imam Ali r.a., Sitti Fatiinah r.a. memberitahu kepadaku, bahwa

"…dia sedang pingsan, karena sangat takut kepada Allah!"

Keluarganya lantas mendatangi Imam Ali r.a. dengan membawa air, kemudian mengusapusapkan

pada wajahnya. Tak lama setelah itu ia siuman dan sadarkan diri kembali. Ia

memandang kepadaku dan aku menangis. Ia bertanya: "Hai Abu Darda, mengapa engkau

menangis?"

"Karena melihat sesuatu yang menimpa dirimu," jawabku.

"Hai Abu Darda," ujar Imam Ali r.a. lebih lanjut, "bagaimanakah kiranya kalau engkau melihat

aku dipanggil untuk menghadapi perhitungan (hisab), melihat sendiri orang-orang yang berbuat

dosa sedang menderita siksa adzab, melihat aku dikelilingi sejumlah Malaikat yang bengis dan

keras di hadapan Allah Maha Perkasa, sedang para pencintaku sudah tiada lagi dan para ahli

dunia pun sudah meninggalkan diriku. Seandainya engkau melihat itu semua, engkau pasti akan

lebih mengasihi diriku di hadapan Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu betapa pun

kecilnya."

"Aku tidak pernah melihat hal itu terjadi pada sahabat Rasul Allah s.a.w. yang lain…," sahut

Abu Darda.

Itulah keistimewaan Imam Ali r.a. dalam menghadapkan diri kepada Allah s.w.t. dengan

kekhusyu'an seluruh jiwa-raganya. Suatu hal yang sudah biasa disaksikan sendiri oleh semua Ahlul Bait. Mereka tidak terkejut ketika diberitahu oleh Abu Darda tentang keadaan Imam Ali

r.a. Bahkan Sitti Fatimah r.a. menceritakan, bahwa apa yang disaksikan oleh Abu Darda itu

sudah biasa dialami oleh Imam Ali r.a. tiap saat menghadapkan diri kepada Allah s.w.t. di

tengah malam.

Mengenai banyaknya ibadah yang dilakukan Imam Ali r.a. di waktu malam, Nauf Al Bikally

menceritakan penyaksiannya sebagai berikut:

"Pada satu hari aku menginap di rumah Imam Ali r.a. Sepanjang malam ia bersembahyang.

Sebentar-sebentar ia keluar, mengarahkan pandangan ke langit, dan membaca Al-Qur'an. Di

malam yang sunyi senyap itu ia bertanya kepadaku: 'Hai Nauf, engkau tidur ataukah melek?'…"

"Aku melek dan melihatmu dengan mataku, ya Amiral Mukminin," jawabku.

"Hai Nauf," ujar Imam Ali r.a. meneruskan, "bahagialah orang yang hidup zuhud di dunia, orangorang

yang merindukan akhirat. Mereka itulah orang-orang yang menjadikan bumi ini sebagai

hamparan, menjadikan pasirnya sebagai kasur, menjadikan airnya sebagai nikmat, menjadikan

doa sebagai syi'ar, menjadikan Al-Qur'an sebagai selimut, dan meninggalkan dunia ini dengan

cara seperti Isa bin Maryam as.!"

Selama hidupnya Imam Ali r.a. tidak pernah putus sembahyang malam. Tentang hal ini, Abu

Ya'laa meriwayatkan, bahwa Imam Ali r.a. pernah menegaskan: "Aku tidak pernah

meninggalkan shalat malam semenjak kudengar Rasul Allah s.a.w. mengatakan, bahwa shalat

malam itu adalah cahaya."

Berdasarkan keterangan yang diterima dari ibunya, Sulaiman bin Al-Mughirah mengatakan:

"Bulan Ramadhan atau pun Syawal, bagi Imam Ali r.a. adalah sama saja. Tiap malam ia

bergadang untuk beribadah."

Begitu agungnya kedudukkan Allah 'Azza wa Jalla dalam jiwa Imam Ali r.a. Ia beribadah karena

dorongan rasa cinta dan rindu kepada-Nya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Allah sajalah yang

berhak disembah. Ia bersembah sujud semata-mata hanya karena merasa keterikatan hidupnya

dengan Allah. Ia hidup bertauladan kepada Mahagurunya, yaitu Rasul Allah s.a.w.

Suatu ibadah yang lebih besar artinya daripada hanya sekedar berdasar keyakinan, dan lebih

mulia daripada hanya sekedar dorongan iman! Dengan ucapannya yang abadi, ia pernah

menegaskan: "Orang-orang yang beribadah kepada Allah karena pamrih, sama seperti

ibadahnya kaum pedagang. Orang-orang yang beribadah karna takut, sama seperti ibadahnya

seorang budak. Orang yang beribadah karena syukur, itulah ibadahnya manusia merdeka!"

Di samping Imam Ali r.a. sendiri selalu menjaga baik-baik kewajiban shalat, ia pun terusmenerus

mengingatkan para pengikutnya supaya selalu menunaikan shalat tepat pada

waktunya. Shalat itu ibarat sebuah pisau yang dapat mengupas daki dan kotoran manusia.

Hanya shalatlah yang dapat membersihkannya sama sekali. Oleh Rasul Allah s.a.w. shalat

diibaratkan sebagai mata air panas yang tersedia di depan pintu rumah tiap muslim. Bila tiap

sehari semalam seorang muslim mandi dengan air panas itu lima kali, kotoran apakah yang

tidak terbuang dari badannya?!

Sekalipun Rasul Allah s.a.w. telah menjanjikan nikmat kepada Imam Ali r.a., namun kewajiban

shalat tetap dijaga kuat-kuat olehnya, sesuai dengan perintah Allah s.w.t. dalam firman-Nya

yang berarti: "Perintahkanlah keluargamu bersembahyang dan hendaknya bersabar dalam

menunaikannya…" (S. Thaha: 132).

Tidaklah aneh kalau orang Zahid seperti Imam Ali r.a. itu pantang diperlakukan lebih daripada

orang lain. Walau ia seorang anggota Ahlu Bait Rasul Allah s.a.w. dan seorang ilmuwan, namun tidak menyukai perlakuan istimewa.

Diriwayatkan, bahwa pada suatu hari ada orang mengadukan Imam Ali r.a. kepada Khalifah

Umar Ibnul Khattab r.a. tentang suatu perkara. Waktu itu Imam Ali r.a. sudah siap dan duduk.

Tak lama kemudian Khalifah Umar r.a. menoleh kepadanya sambil berkata: "Bangunlah, ya Abal

Hasan, duduklah bersama lawan perkara anda!"

Imam Ali r.a. bangun, lalu duduk berhadapan dengan orang yang mengadukannya. Setelah

perkaranya selesai, orang yang mengadu pergi meninggalkan tempat, Imam Ali r.a. pindah

duduk di tempat semula. Ketika itu Khalifah Umar r.a. melihat wajah Imam Ali r.a. berubah,

lalu bertanya: "Ya Abal Hasan, mengapa kulihat wajah anda berubah? Apakah anda tidak senang

terhadap apa yang baru terjadi?"

"Ya, benar!" jawab Imam Ali r.a. "Sebab anda memanggilku dengan nama kehormatan di depan

lawan perkara!"

Mendengar jawaban Imam Ali r.a. yang seperti itu, Khalifah Umar r.a. dengan rasa terharu

merangkulnya seraya berkata: "Ya Allah, kalian itu…! Dengan kalian (Ahlul Bait) Allah memberi

hidayat kepada kami, dan dengan kalian pula Allah mengeluarkan kami dari kegelapan ke

cahaya terang…!"

Kezuhudannya, kesederhanaannya, keshalihannya serta ketaqwaannya kepada Allah s.w.t.

tidak membuat Imam Ali r.a. menjadi orang yang berwajah angker. Ia seorang yang anggun,

bermuka cerah dan ramah. Bahkan tidak jarang ia bergurau untuk menyenangkan hati orang

lain. Ia tidak pernah tampak angkuh, memberengut dan suram.

Sifat Imam Ali r.a. yang ramah, terbuka dan jika perlu dapat bergurau, sering dilebih-lebihkan

oleh lawan-lawannya untuk menjatuhkan nama baik dan mengurangi martabatnya. Terutama

oleh Amr bin Al-Ash secara berlebih-lebihan disebar-luaskan. Lawan Imam Ali r.a. itu

mengatakan kepada penduduk Syam, bahwa Ali bin Abi Thalib seorang yang "gemar bercanda".

Jujur dan Adil

Bukanlah suatu hal yang mengherankan bila seseorang jujur dan adil terhadap sesama kawan.

Tetapi bila ada orang yang jujur dan adil terhadap lawan, ini sungguh suatu keluar-biasaan.

Justru inilah yang menjadi salah satu sifat istimewa Imam Ali r.a.

Dalam kedudukkannya sebagai Khalifah, pada satu hari Imam Ali r.a. melihat baju besi yang

pernah dimilikinya berada di tangan seorang penduduk beragama Nasrani. Karena merasa

yakin, bahwa barang itu memang miliknya, untuk mendapatkan kembali secara baik ia mengadu

kepada hakim setempat. Dalam sidang khusus untuk menyelesaikan tuntutannya itu, di depan

peradilan Imam Ali r.a. mengatakan bahwa baju besi itu benarbenar miliknya. Ia menegaskan:

"Belum pernah aku menjual baju besi itu. Sepanjang ingatanku, belum pernah barang itu

kuhadiahkan kepada orang lain."

Sungguhpun demikian, orang Nasrani yang menjadi tergugat itu tetap bertahan, bahwa baju

besi itu miliknya yang sah. Tanpa ragu-ragu ia menjawab: "Baju besi ini milikku sendiri. Aku

yakin Amirul Mukminin tidak akan berbuat bohong."

Mendengar keterangan yang berlawanan itu, hakim menoleh kepada Imam Ali r.a. dan bertanya

sekali lagi: "Apakah anda mempunyai keterangan tambahan?"

Beberapa saat lamanya Imam Ali r.a. diam, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Namun ia

yakin bahwa barang itu memang miliknya. Akhirnya pertanyaan hakim itu dijawab sambil

tersenyum: "Apa yang anda tanyakan itu memang perlu, tetapi aku tidak mempunyai

keterangan tambahan."

Setelah mengadakan pertimbangan secukupnya, hakim memutuskan bahwa barang yang

dipersengketakan itu menjadi milik sah orang Nasrani yang menjadi tergugat dalam perkara itu.

Oleh hakim, orang Nasrani yang bersangkutan diperkenankan pulang membawa barang

tersebut. Dengan wajah berseri-seri mencerminkan keikhlasan hatinya Imam Ali r.a. melihat

orang Nasrani itu beranjak dari tempatnya sambil mengangkat baju besi.

Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba orang Nasrani itu balik kembali menghampiri Imam

Ali r.a. dan hakim yang masih duduk di tempat masing-masing. Kepada Imam Ali r.a. orang

Nasrani itu berkata: "Apa yang kusaksikan mengenai diri anda, benar-benar sama seperi hukum

yang berlaku bagi para Nabi!" Kemudian dengan khidmat ia berkata lebih lanjut: "Sekarang aku

bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah. Ya Amiral Mukminin,

memang benarlah baju besi ini kepunyaan anda. Waktu anda berangkat ke Shiffin dulu, aku

mengikuti kafilah anda. Baju besi ini jatuh kemudian diambil oleh salah seorang anggota

pasukan yang sedang kekurangan bekal."

Dengan tenang Imam Ali r.a. menjawab pernyataan orang Nasrani yang sudah mengikrarkan

syahadat itu: "Karena anda sekarang sudah memeluk agama Islam, barang itu sekarang sudah

menjadi kepunyaan anda!"

Percakapan antara dua orang itu disaksikan oleh hakim dan hadirin lainnya. Mereka ramai

membicarakan kejadian yang sangat mengesankan itu. Benarlah bahwa hanya orang muslim

yang menghayati Islam sepenuhnya sajalah, yang dapat bersikap seperti Imam Ali r.a. Tetapi

tak ada orang lain yang lebih terkesan dalam hatinya selain orang Nasrani yang sekarang sudah

jadi muslim itu. Kenyataan ini dibuktikan pada hari-hari selanjutnya. Sejarah kemudian

mencatat, bahwa bekas Nasrani itu ternyata seorang muslim yang sangat gigih membela Imam

Ali r.a. dalam perjuangan menegakkan kebenaran Islam dan menumpas pemberontakan

Khawarij di Nehrawan.

Peristiwa tersebut merupakan petunjuk nyata tentang betapa tingginya tingkat ketaqwaan,

kejujuran dan keadilan Imam Ali r.a. Semua ibadah jasmaniah dan rohaniyahnya bukan lagi

dirasa sebagai kewajiban yang harus dilaksanakan, melainkan sudah menjadi kenikmatan dan

kebahagiaan hidupnya sehari-hari. Semua yang dilakukan semata-mata berdasarkan dorongan

cinta kepada Allah 'Azza wa Jalla dan kegairahan melaksanakan tauladan hidup yang diberikan

oleh putera pamannya, Nabi Muhammad s.a.w.

Dalam hal melaksanakan keadilan, Imam Ali r.a. benar-benar tidak pandang bulu. Yang benar

dinyatakan benar, yang salah dinyatakan salah, tak peduli siapa saja yang dihadapinya. Apakah

yang dihadapinya itu orang lain, keluarga sendiri, orang kaya atau miskin, orang yang

berkedudukan atau pun tidak. Dalam pandangan Imam Ali r.a. sebagai penegak hukum Allah,

semua manusia adalah hamba Allah yang sama derajat.

Dalam suatu kesempatan, Aqil bin Abi Thalib --kakak Imam Ali r.a.-- menceritakan

penyaksiannya sendiri tentang keadilan saudara kandungnya itu, sebagai berikut: "Waktu

berkunjung ke rumah Imam Ali r.a., Aqil melihat Al Husein r.a. sedang kedatangan seorang

tamu. Ia meminjam uang satu dirham untuk membeli beberapa potong roti. Uang itu belum

cukup untuk keperluan lauk. Kepada pelayan rumahnya, Qanbar, Al Husein r.a. minta supaya

dibukakan kantong kulit berisi madu yang dibawa orang dari Yaman. Qanbar mengambil madu

setakar."

"Waktu Imam Ali r.a. datang dan minta supaya Qanbar mengambilkan kantong madu untuk

dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berhak, ia melihat madu sudah berkurang. Imam Ali

r.a. bertanya: 'Hai Qanbar, kukira sudah terjadi sesuatu dengan wadah madu ini!' Sebagai

jawaban Qanbar menjelaskan bahwa ia disuruh Al Husein mengambilkan madu setakar dari

wadah itu. Mendengar itu bukan main marahnya Imam Ali r.a.: 'Panggil Husein!'…"

Waktu Husein tiba di depannya, Imam Ali r.a. segera mengambil cambuk, tetapi Al Husein

cepat-cepat berkata: "Demi hak pamanku, Ja'far!"

Biasanya bila nama Ja'far disebut-sebut, marah Imam Ali r.a. segera menjadi reda. Kepada

Husein, Imam Ali r.a. bertanya: "Apa sebab engkau berani mengambil lebih dulu sebelum

dibagi?" Puteranya menjawab: "Kami semua mempunyai hak atas madu. Kalau nanti kami

menerima bagian, akan kami kembalikan."

Dengan suara melunak Imam Ali r.a. menasehati puteranya: "Ayahmu yang akan mengganti!

Tetapi walaupun engkau mempunyai hak, engkau tidak boleh mengambil hakmu lebih dulu

sebelum orang-orang muslim lain mengambil hak mereka. Seandainya aku tidak pernah melihat

sendiri Rasul Allah s.a.w. mencium mulutmu, engkau sudah kusakiti dengan cambuk ini!"

Imam Ali r.a. menyerahkan uang satu dirham dan diselipkan dalam baju Qanbar sambil berkata:

"Belikan dengan uang ini madu yang baik dan yang sama banyaknya dengan yang telah diambil!"

"Demi Allah…, demikian kata Aqil, "…seolah-olah sekarang ini aku sedang melihat tangan Ali

memegang mulut kantong madu itu dan Qanbar sedang menuangkan madu ke dalamnya!"

Aqil sendiri pernah mengalami suatu peristiwa pahit dengan saudaranya itu. Menurut

penuturannya: "Waktu itu aku sedang mengalami kesulitan penghidupan yang amat berat. Aku

minta bantuan kepadanya (Imam Ali r.a.). Semua anakku kukumpulkan dan kuajak ke

rumahnya. Anak-anakku itu benar-benar sedang menderita kekurangan makan. Waktu tiba di

sana Ali berkata: 'Datanglah nanti malam, engkau akan kuberi sesuatu'…"

Malam hari itu aku datang lagi bersama anak-anakku. Mereka menuntunku bergantian.

Setibanya di sana anak-anakku disuruh menyingkir. Kepadaku Ali berkata: "Hanya ini saja

untukmu!"

Aku cepat-cepat mengulurkan tangan karena ingin segera menerima pemberiannya, dan kuduga

itu sebuah kantong. Ternyata yang kupegang ialah sebatang besi panas yang baru saja dibakar.

Besi itu kulemparkan sambil berteriak meraung seperti lembu dibantai. Ali tenang-tenang saja

berkata kepadaku: "Itu baru besi yang dibakar dengan api dunia. Bagaimana kalau kelak aku

dan engkau dibelenggu dengan rantai neraka jahanam?!"

Setelah ia membaca ayat 71-72 S. Al Mukmin, Imam Ali r.a. berkata meneruskan: "Dariku

engkau tidak akan memperoleh lebih dari hakmu yang sudah ditetapkan Allah bagimu… selain

yang sudah kau rasakan sendiri itu! Pulanglah kepada keluargamu."

Memang luar biasa. Muawiyah sendiri ketika mendengar cerita tentang peristiwa itu

berkomentar: "Terlalu! Terlalu! Kaum wanita akan mandul dan tidak akan melahirkan anak

seperti dia!"

Aqil bin Abi Thalib ternyata berusia lebih panjang daripada saudara-saudaranya. Di kalangan

orang-orang Qureiys ia terkenal sebagai salah satu di antara empat orang ahli yang dapat

dimintai keterangan tentang ilmu silsilah dan sejarah Qureiys. Empat orang itu ialah Aqil bin

Abi Thalib, Makramah bin Naufal Azzuhriy, Abul Jaham bin Hudzaifah Al Adwiy, dan Huwairits

bin Abdul Uzza Al Amiriy Aqil sanggup memberi keterangan terperinci mengenai soal-soal

silsilah dan sejarah Qureiys. Selain itu ia pun seorang periang dan mudah tertawa keras.

Ibnul Atsir meriwayatkan pengalaman Aqil yang lain dengan Imam Ali r.a. Pada suatu hari Aqil

datang kepada Imam Ali r.a. untuk meminta sesuatu. Kepada Imam Ali r.a. ia berkata: "Aku ini

orang butuh, orang miskin… berilah pertolongan kepadaku."

"Sabarlah dan tunggu sampai tiba waktunya pembagian bersama kaum muslimin lainnya," jawab

Imam Ali r.a.: "Engkau pasti kuberi."

Aqil tidak puas dengan jawaban itu. Ia mendesak terus dan merajuk. Akhirnya Imam Ali r.a.

memerintahkan seorang: "Bawalah dia pergi ke toko-toko di pasar. Katakan kepadanya supaya

mendobrak pintu toko-toko itu dan mengambil barang-barang yang ada di dalamnya!"

Mendengar perintah Imam Ali r.a. yang seperti itu, Aqil menyahut: "Apakah engkau ingin aku

menjadi pencuri?"

"Dan engkau, apakah ingin supaya aku mencuri milik kaum muslimin dan memberikannya

kepadamu?" jawab Imam Ali r.a.

"Kalau begitu aku mau datang kepada Muawiyah," kata Aqil dengan nada mengancam.

"Terserah," jawab Imam Ali r.a. dengan kontan.

Aqil lalu pergi ke Syam untuk meminta bantuan kepada Muawiyah. Oleh Muawiyah ia diberi

uang sebesar 100.000 dirham, dengan syarat Aqil harus bersedia naik ke atas mimbar dan

berbicara dengan orang banyak tentang apa yang telah diberikan oleh Imam Ali kepadanya dan

tentang apa yang telah diberikan Muawiyah. Dari atas mimbar Aqil berkata dengan lantang:

"Hai kaum muslimin, kuberitahukan kepada kalian, bahwa aku telah meminta kepada Ali supaya

memilih: 'aku atau agamanya'. Ternyata ia lebih suka memilih agamanya. Kepada Muawiyah aku

pun minta seperti itu. Ternyata ia lebih suka memilih aku daripada agamanya!"

Tentang kejujuran dan keadilan Imam Ali r.a. orang tidak segan-segan mengatakan terus

terang, sekalipun di depan Muawiyah. Beberapa waktu setelah Imam Ali r.a. wafat, Muawiyah

bertanya kepada Khalid bin Muhammad: "Apakah sebab anda lebih menyukai Ali daripada kami?"

"Disebabkan oleh tiga hal," jawab Khalid bin Muhammad dengan terus terang. "Ia sanggup

menahan sabar bila sedang marah. Jika berbicara ia selalu berkata benar. Dan jika menetapkan

hukum ia selalu adil." Demikian diriwayatkan oleh Ibnu Hajar dalam bukunya Ash Shawa'iqul

Muhriqah."

Al Haitsamiy dalam bukunya Majma, jilid IX, halaman 158 menyajikan sebuah riwayat yang

berasal dari Rab'iy bin Hurasy sebagai berikut: Pada suatu hari Muawiyah dikerumuni oleh

pemuka-pemuka Qureiys, termasuk Sa'id bin Al Ash, yang waktu

itu duduk di sebelah kanannya. Tak lama kemudian datanglah ibnu Abbas. Ketika melihat Ibnu

Abbas masuk, Muawiyah berkata kepada Sa'id: "demi Allah, aku akan mengajukan pertanyaanpertanyaan

kepada Ibnu Abbas yang kira-kira ia tidak akan mampu menjawabnya."

Menanggapi keinginan Muawiyah itu, Sa'id mengingatkan: "Hai Muawiyah, orang seperti Ibnu

Abbas tak mungkin tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanmu."

Setelah Ibnu Abbas duduk, Muawiyah bertanya: "Apakah kiranya yang dapat kaukatakan tentang

Ali bin Abi Thalib?"

Dengan serta merta Ibnu Abbas menjawab: "Abul Hasan rahimahullah adalah panji hidayat;

sumber taqwa; tempat kecerdasan berfikir; puncak ketinggian akal; cahaya keutamaan

manusiawi di tengah kegelapan; orang yang mengajak manusia ke jalan lurus; mengetahui isi

Kitab-kitab suci terdahulu; sanggup menafsirkan dan mentakwilkan dengan berpegang teguh

pada hidayat; menjauhkan diri dari perbuatan dzalim yang menyakiti hati orang; menghindari

jalan yang sesat; seorang mukmin dan bertakwa yang terbaik; orang yang paling sempurna

menunaikan ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya; orang yang paling mempunyai tenggangrasa

serta memperlakukan semua orang secara adil dan sama, orang yang paling pandai berkhutbah di dunia ini…" dan seterusnya sampai kepada kata-kata: "…seorang suami dari

wanita yang paling mulia, dan seorang ayah dari dua cucu Rasul Allah s.a.w."

Seterusnya Ibnu Abbas mengatakan: "Mataku belum pernah melihat ada orang seperti dia dan

tidak akan pernah melihatnya sampai hari kiyamat. Barang siapa mengutuk dia, orang itu akan

dikutuk selama-lamanya oleh Allah dan oleh seluruh ummat manusia sampai hari kiyamat."

Mendengar keterangan itu, tentu saja Muawiyah menjadi beringas, tetapi ia dapat menguasai

diri di depan seorang ilmuwan seperti Ibnu Abbas. Harun bin Antarah menceritakan penyaksian

ayahnya dengan mengatakan: "Pada suatu hari aku datang ke rumah Imam Ali. Ia sedang duduk

di balai-balai berselimut kain kumal. Waktu itu musim dingin. Kukatakan kepadanya: "Ya Amiral

Mukminin, Allah telah memberi hak kepada anda dan kepada keluarga anda untuk menerima

sebagian dari harta Baitul Mal. Mengapa anda berbuat seperti itu terhadap diri anda sendiri?"

"Demi Allah," sahut Imam Ali r.a., "Aku tidak mau mengurangi hak kalian walau sedikit. Ini

adalah selimut yang kubawa sewaktu keluar meninggalkan Madinah."

'Ashim bin Ziyad pernah bertanya kepada Imam Ali r.a.: "Ya Amiral Mukminin, pakaian anda itu

terlalu kasar dan makanan anda pun terlampau buruk! Mengapa anda berbuat seperti itu?"

"Celaka benar engkau itu," jawab Imam Ali r.a. "Allah s.w.t. mewajibkan para pemimpin supaya

menempatkan dirinya masing-masing di bawah ukuran orang lain, agar tidak sampai

memperkosa penderitaan si miskin."

Suwaid bin Ghaflah juga menyaksikan cara hidup Imam Ali r.a. Ia menceritakan penyaksiannya

sendiri: "Pada suatu hari aku datang ke rumah Imam Ali. Di dalamnya tidak terdapat perkakas

apapun selain selembar tikar yang sudah koyak. Ia sedang duduk di tempat itu. Aku segera

bertanya setengah mengingatkan: 'Ya Amiral Mukminin, mengapa rumah anda seperti ini? Anda

adalah seorang penguasa kaum muslimin, yang memerintah mereka dan yang menguasai Baitul

Mal. Banyak utusan datang menghadap anda, sedang di rumah anda ini tidak ada perkakas

selain tikar'…"

"Ya Suwaid," jawab Imam Ali r.a., "dalam rumah yang bersifat sementara ini tidak perlu ada

perkakas, sebab di depan kita ada rumah yang kekal. Semua perkakas sudah kami pindahkan ke

sana, dan tak lama lagi kami akan kembali ke sana."

Harun bin Sa'id juga menceritakan penyaksiannya, bahwa pada suatu hari Abdullah bin Ja'far

bin Abi Thalib datang kepada Imam Ali untuk meminta pertolongan. Abdullah berkata: "Ya

Amiral Mukminin, suruhlah orang mengambilkan uang dari Baitul Mal bekal belanja untukku.

Demi Allah, aku tidak mempunyai uang sama sekali selain harus menjual ternakku."

"Tidak," jawab Imam Ali r.a., "demi Allah, aku tidak dapat memberi apa-apa kepadamu, kecuali

jika engkau menyuruh pamanmu mencuri agar bisa memberi apa yang kau minta."

Imam Ali r.a. memperlakukan semua sanak keluarganya dengan perlakuan sama seperti

terhadap orang lain. Ia tidak mengistimewakan mereka dengan pemberian apa pun juga, dan

tidak pula memberikan fasilitas khusus betapa pun kecilnya. Olehnya, semua sanak keluarga

dilatih dan dipersiapkan mentalnya supaya membiasakan diri berakhlaq seperti dirinya. Bahkan

kadang-kadang ia mengambil sikap keras dalam membiasakan mereka hidup menurut cara-cara

yang diajarkan.

Muslim bin Shahib Al Hanna meriwayatkan, bahwa seusai perang "Jamal" Imam Ali r.a. pergi ke

Kufah. Di sana ia masuk ke dalam Baitul Mal sambil berkata: "Hai dunia, rayulah orang selain

aku!" Ia lalu membagi-bagikan semua yang ada di dalamnya kepada orang banyak. Waktu itu

datang anak perempuan Al Hasan atau Al Husein r.a. lalu turut mengambil sesuatu dari Baitul Mal. Melihat itu Imam Ali mengikuti cucunya dari belakang, kemudian genggaman anak

perempuan itu dibuka dan diambillah barang yang sedang dipegang. Kami katakan kepadanya:

"Ya Amiral Mukminin, biarlah! Dia mempunyai hak atas barang itu!" Ternyata Imam Ali

menjawab: "Jika ayahnya sendiri yang mengambil hak itu, barulah ia boleh memberikan kepada

anak ini sesuka hatinya!"

Sejak sebelum memangku jabatan Khalifah, Imam Ali pada prinsipnya memang tidak suka

melihat banyak kekayaan kaum muslimin tertimbun dalam Baitul Mal. Salah sebuah catatan

sejarah yang ditulis oleh Abu Ja'far At Thabariy mengatakan, bahwa dalam suatu musyawarah

Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. meminta pertimbangan tentang bagaimana sebaiknya yang

perlu dilakukan terhadap harta benda yang ada di dalam Baitul Mal. Dalam musyawarah itu

Imam Ali r.a. mengemukakan pendapatnya: "Sebaiknya harta yang sudah terkumpul itu

dibagikan saja tiap tahun dan tidak usah disisakan sedikitpun."

Kejujuran dan keadilan seorang yang hidup zuhud, taqwa dan tekun beribadah seperti Imam Ali

r.a. itu memang sukar sekali dijajagi. Keistimewaan hukum yang berlaku pada masa

pemerintahannya ialah persamaan hak dan kewajiban bagi semua orang. Kebijaksanaannya

tidak berat sebelah kepada fihak yang kuat dan tidak merugikan fihak yang lemah.

Tanah-tanah garapan yang pada masa pemerintahan sebelumnya dibagi-bagikan kepada sanak

famili dan orang-orang terkemuka yang dekat dengan para penguasa Bani Umayyah, dicabut

dan dikembalikan kepada status semula sebagai milik umum kaum muslimin. Setelah itu

barulah dibagi-bagikan lagi kepada orang-orang yang berhak berdasarkan prinsip persamaan.

Mengenai kekayaan milik umum kaum muslimin, Imam Ali r.a. sendiri dengan tegas menyatakan

kebijaksanaannya: "Demi Allah, seandainya ada sebagian dari kekayaan itu yang sudah

dipergunakan orang untuk beaya pernikahan atau untuk membeli hamba sahaya perempuan,

pasti aku tuntut pengembaliannya!" Dijelaskan pula olehnya: "Sesungguhnya keadilan itu sudah

merupakan kesejahteraan. Maka barang siapa masih merasakan kesempitan di dalam suasana

adil, ia pasti akan merasa lebih sempit lagi dalam suasana dzalim."

Di antara beberapa pesan yang diamanatkannya kepada para penguasa daerah ialah:

"Berlakulah adil terhadap semua orang. Sabarlah dalam menghadapi orang-orang yang hidup

kekurangan, sebab mereka itu sesungguhnya adalah juru bicara rakyat. Janganlah kalian

menahan-nahan kebutuhan seseorang dan jangan pula sampai menunda-nunda permintaannya.

Untuk keperluan melunasi pajak janganlah sampai ada orang yang terpaksa menjual ternak

atau hamba sahaya yang diperlukan sebagai pembantu dalam pekerjaan. Janganlah sekali-kali

kalian mencambuk seseorang hanya karena dirham!"

Salah satu dari pesan-pesan khusus yang ditujukan kepada para petugas pemungut pajak, zakat

dan lain-lainnya, ialah : "Datangilah mereka dengan tenang dan sopan. Jika engkau sudah

berhadapan dengan mereka, ucapkanlah salam. Hormatilah mereka itu dan katakanlah: 'Hai

para hamba Allah, penguasa Allah dan Khalifah-Nya mengutus aku datang kepada kalian untuk

mengambil hak Allah yang ada pada kekayaan kalian. Apakah ada bagian yang menjadi hak

Allah itu dalam harta kekayaan kalian? Jika ada, hendaknya hak Allah itu kalian tunaikan

kepada Khalifah-Nya'…"

"Jika orang yang bersangkutan menjawab 'tidak', janganlah kalian ulangi lagi. Tetapi jika orang

itu menjawab 'ya', pergilah engkau bersama-sama untuk memungut hak Allah itu. Janganlah

kalian menakut-nakuti dia, janganlah mengancam-ancam dia, dan jangan pula membentak atau

bersikap kasar. Ambillah apa yang diserahkan olehnya kepada kalian, emas atau pun perak.

Jika orang yang bersangkutan mempunyai ternak berupa unta atau lainnya, janganlah kalian

masuk untuk memeriksa tanpa seizin dia, walaupun orang itu benar-benar mempunyai banyak

ternak. Jika orang itu memberi izin kepada kalian untuk memeriksanya, janganlah kalian masuk

dengan lagak seperti orang yang berkuasa. Jangan berlaku kasar, jangan menakut-nakuti dan jangan sekali-kali menghardik binatang-binatang itu. Jangan kalian berbuat sesuatu yang akan

menyusahkan pemiliknya."

"Kemudian apabila harta kekayaan diperlihatkan kepada kalian, persilakan pemiliknya memilih

dan menentukan sendiri mana yang menjadi hak Allah. Jika ia sudah menentukan pilihannya,

janganlah kalian menghalang-halangi dia mengambil bagian yang menjadi haknya. Hendaknya

kalian tetap bersikap seperti itu, sampai orang yang bersangkutan menetapkan mana yang

menjadi hak Allah yang akan ditunaikan. Tetapi ingat, jika kalian diminta supaya meninggalkan

orang itu, tinggalkanlah dia!"

Begitu jelasnya Imam Ali r.a. mengemukakan pesan dan amanatnya secara terperinci agar

jangan sampai terjadi penyalahgunaan dan perkosaan terhadap kaum muslimin dan rakyatnya.

Sedemikian tingginya rasa keadilan yang menghiasi kehidupan Imam Ali r.a., sampai pernah

terjadi, bahwa pada waktu ia menerima setoran pajak dari penduduk Isfahan, ditemukan

sepotong roti kering terselip dalam wadah. Roti itu oleh Imam Ali r.a. dipotong-potong menjadi

tujuh keping, sama seperti uang setoran itu juga yang dibagi menjadi tujuh bagian. Pada tiap

bagian dari uang itu ditaruh sekeping roti kering.

Ksatria

Kesatriaan dan keperwiraan Imam Ali r.a. bukan dibuat-buat, melainkan sudah menjadi sifat

dan tabiatnya sendiri. Hal itu ditumbuhkan dan diperkuat oleh lingkungan hidupnya sejak kecil

dan oleh ajaran serta tauladan yang diterimanya langsung dari Rasul Allah s.a.w. Ia bukan

orang yang suka mabok kemenangan dan bukan pula seorang pedendam. Ketangguhan dan

ketangkasannya sebagai pelaku perang-tanding yang banyak disegani orang, sama sekali tidak

membuatnya besar kepala. Ia tidak pernah mulai mengajak berkelahi atau berduel, apalagi

menantang-nantang. Bahkan dalam menghadapi saat-saat gawat, masih tetap berusaha agar

pertumpahan darah dapat dihindarkan.

Ada orang yang menilai sikapnya itu sebagai tanda kelemahan. Ada pula yang menafsirkannya

sebagai tanda kegentaran. Penilaian dan penafsiran itu tidak tepat sama sekali. Sikap Imam Ali

r.a. semacam itu benar-benar keluar dari hati yang tulus ikhlas. Kemanusiaannya sangat tinggi.

Lawan yang ditundukkannya diperlakukan dengan sikap manusiawi dan dihormati sesusi dengan

harkat martabatnya sebagai manusia.

Kepada puteranya sendiri, Al Hasan r.a., tidak jemu jemunya ia berpesan agar jangan sekalikali

menantang orang berkelahi atau berperang-tanding. "Tetapi jika orang itu menantang,

jawab tantangan itu dan hadapilah. Seba orang yang berbuat seperti

itu ialah orang dzalim, dan tiap orang dzalim wajib dilawan," demikian ujar Imam Ali r.a.

dengan tandas.

Sering juga orang tidak dapat memahami sifat keksatriaannya. Bagi para ahli perang modern,

pendirian Imam Ali r.a. itu dianggap tidak tepat. Sebab, menurut faham mereka, pertahanan

yang terbaik ialah melancarkan serangan mengejutkan terhadap lawan. Tetapi watak

keksatriaan Imam Ali r.a. tidak seperti itu. Ia hanya akan menyerang bila benar-benar sudah

diserang. Jadi serangan hanya dipandang sebagai langkah mempertahankan diri.

Ketika salah seorang sahabatnya menyaksikan persiapan kaum Khawarij dan kemudian

dilaporkannya kepada Imam Ali r.a. dan disertai usul supaya mendahului gerakan musuh dengan

suatu serangan kilat; Imam Ali r.a. dengan tegas mengatakan: "Aku tidak mau menyerang

mereka sebelum mereka melancarkan serangan lebih dahulu terhadap kita. Biarlah mereka

berbuat lebih dulu." Padahal secara normal usul sahabatnya itu tepat dan benar.

Peristiwa yang sama juga terjadi sebelum itu. Ialah dalam "Perang Unta". Demikian juga dalam

perang Shiffin. Mengawali pecahnya peperangan antar sesama kaum muslimin itu, Imam Ali r.a. selalu berusaha lebih dulu agar dapat diciptakan perdamaian, selagi masih ada peluang untuk

itu, betapa pun kecilnya. Jalan inilah yang menurut Imam Ali r.a. sebaiknya harus ditempuh.

Prinsip ini olehnya dipegang teguh. Tidak pandang apakah yang sedang dihadapinya itu perang

terbuka atau terselubung, besar atau kecil. Ia selalu mengajak lawan untuk memecahkan

persengketaan dan pertikaian melalui jalan damai. Kepada pasukannya ia pun memerintahkan

supaya tidak mengambil tindakan lebih dulu yang akan mengakibatkan bencana jatuhnya

banyak korban.

Pada dasarnya ia tidak menghunus pedang sebelum menyerukan perdamaian kepada lawan

lebih dulu. Tetapi sikapnya yang seperti itu bukannya tidak dilandasi dengan kesiap-siagaan di

kalangan pasukannya. Inilah rupanya yang menjadi rahasia keunggulannya dalam menghadapi

peperangan demi peperangan.

Satu contoh tentang keksatriaannya yang sangat menarik ialah pada waktu menghadapi kaum

Khawarij. Orang-orang Khawarij yang terkenal sangat benci kepada Imam Ali r.a., pada satu

ketika berteriak mengkafirkan dan memaki-maki dirinya. Imam Ali r.a. tetap tenang dan

dengan lapang dada menghadapi semuanya itu. Sedangkan pasukannya sudah tak tahan lagi

mendengar pimpinannya dihina orang. Mereka bangkit hendak melancarkan serangan serentak.

Tetapi dengan cepat Imam Ali r.a. berteriak untuk menghentikan niat mereka: "Jangan! Itu

hanya sekedar makian! Kita harus menjawab mereka dengan memberi maaf!" Demikian

perintahnya.

Kebijaksanaan seperti itu ada kalanya menimbulkan salah faham dan gerutu dalam pasukannya

sendiri. Ya, itulah Imam Ali r.a., seorang pemimpin yang berjiwa besar lagi arif bijaksana.

Imam Ali r.a. tersohor sebagai pendekar perang dan tangkas dalam perang-tanding. Namun ia

benar-benar baru mau mengangkat senjata bila telah terpaksa harus mempertahankan diri. Bila

sudah sampai ke tingkat itu, maka tinggal dua pilihan saja bagi dirinya, ia mati di tangan

lawan, atau lawan yang harus mati di tangannya. Berlandaskan ketenangan dan kemantapan.


Bab XV : PINTU ILMU

Dalam riwayat yang ditulisnya, Ibnu Abbas mengatakan: "Demi Allah, Rasul Allah s.a.w. telah

memberi kepada Imam Ali sembilan-persepuluh dari semua ilmu yang ada, dan demi Allah,

Imam Ali masih juga mengetahui sebagian dari sepersepuluh ilmu sisanya yang ada pada kalian

atau pada mereka."

Mengenai hal itu cukuplah dikemukakan saja ucapan Rasul Allah s.a.w. yang menegaskan: "Aku

ini adalah kotanya ilmu atau kotanya hikmah, sedangkan Ali adalah pintu gerbangnya. Barang

siapa ingin memperoleh ilmu hendaknya ia mengambil lewat pintunya."

Allah s.w.t. telah melimpahkan nikmat tiada terhingga kepada Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

berupa ilmu dan hikmah, sehingga ia menjadi orang yang paling banyak mengetahui dan

menguasai isi A1 Qur'an serta ajaran-ajaran Rasul Allah s.a.w. Dengan sendirinya ia pun

merupakan orang yang paling mampu menetapkan fatwa hukum Islam. Sebenarnya hal itu

bukan merupakKan satu kejutan, karena dia adalah satu-satunya orang muslim yang terdini

memeluk Islam dan hidup langsung di bawah naungan wahyu sejak masa kanak-kanak sampai

dewasa.

Sebuah riwayat hadits yang berasal dari Mu'adz bin Jabal mengatakan bahwa Rasul Allah s.a.w.

berkata kepada Imam Ali r.a.: "Engkau mengungguli orang lain dalam tujuh perkara. Tak ada

seorang Qureisy pun yang dapat menyangkalnya. Yaitu:

-Engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah,

-Engkau orang yang terdekat dengan janji Allah,

-Engkau orang yang termampu menegakkan perintah Allah,

-Engkau orang yang paling adil mengatur pembagian (ghanimah),

-Engkau orang yang paling berlaku adil terhadap rakyat,

-Engkau paling banyak mengetahui semua persoalan,

-dan Engkau orang yang paling tinggi nilai kebaikan sifatnya di sisi Allah."

Jadi, kalau Rasul Allah s.a.w. sendiri sudah menilai Imam Ali r.a. sedemikian lengkapnya,

tidaklah keliru kalau dikatakan, bahwa Imam Ali r.a. merupakan kualitas pilihan di kalangan

ummat Islam.

Fashahah dan Balaghah

Al Mas'udiy meriwayatkan, bahwa lebih dari 480 khutbah yang diucapkan oleh Imam Ali r.a.

tanpa dipersiapkan lebih dahulu, dihafal oleh banyak orang. Syarif Ar-Ridha mengatakan dalam

kitab Khutbah Nahjil Balaghah, bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib adalah pencipta dan

pengajar ilmu Fashahah dan juga merupakan orang yang melahirkan ilmu Balaghah.

Dari dialah munculnya aturan-aturan ilmu tersebut dan dari dia juga orang mengambil kaidahkaidah

dan hukum-hukumnya. Tiap orang yang berbicara sebagai khatib, pasti mengambil

pepatah atau kata-kata rnutiara dari dia, dan tiap orang yang pandai mengingatkan orang lain

pasti mencari bantuan dengan jalan mengutip kata-kata Imam Ali. Demikian kata Syarif Ar

Ridha.

Tentang hal itu Muawiyah sendiri juga terpaksa harus mengakui keunggulan lawannya, ketika ia

berkata terus terang kepada Abu Mihfan: "Seandainya semua mulut dijadikan satu, belum juga

dapat menyamai kepandaian Ali bin Abi Thalib. Demi Allah, tidak ada orang Qureiys yang cakap

berbicara seperti dia!"

Banyak sekali ungkapan dan kata-kata mutiara Imam Ali r.a. tercantum dalam kitab Nahjul

Balaghah, yang dibelakang hari diuraikan oleh Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarah Nahjil

Balaghah, yang terdiri dari 20 jilid. Buku Nahjul Balaghah kiranya cukuplah menjadi bukti,

bahwa dalam hal menyusun kalimat dan memilih kata-kata bermutu, memang tidak ada orang

lain yang dapat menyamai atau melebihi Imam Ali r.a. selain Rasul Allah s.a.w. sendiri. Salah

satu contoh ialah kata-katanya: "Tiap wadah bila diisi menyempit kecuali wadah ilmu, ia

bahkan makin bertambah luas."

Dalam kitab Al Bayan wat Tabyin, Al Jahidz mengetengahkan ucapan Imam Ali r.a. yang

mengatakan: "Nilai seseorang ialah perbuatan baiknya." Dalam memberikan tanggapan terhadap

ucapan Imam Ali r.a. tersebut, Ibnu Aisyah mengatakan: "Selain kalam Allah dan Rasul-Nya, aku

tidak pernah menemukan sebuah kalimat yang lebih padat maknanya dan lebih umum

kemanfaatannya dibanding dengan ucapan-ucapan Imam Ali."

Pernah ada orang bertanya kepada Imam Ali r.a. tentang berapa jauhnya jarak antara langit

dan bumi. Imam Ali dengan mudah saja menjawab: "Jauhnya secepat doa yang terkabul!" Orang

itu masih bertanya lagi tentang jauhnya jarak antara timur dan barat. Dijawab oleh Imam Ali

r.a.: "Sejauh perjalanan matahari sehari!"

Nahwu

Ilmu Nahwu yang merupakan salah satu cabang pokok ilmu bahasa Arab pun sejarah

pertumbuhannya tak dapat dipisahkan dari pemikiran Imam Ali r.a. Dialah yang meletakkan

dasar-dasar fundamental ilmu tersebut. Tokoh pertama yang terkenal sebagai penyusun ilmu

Tata Bahasa Arab, Abul Aswad Ad Dualiy, di imla (didikte) oleh Imam Ali r.a. dalam meletakkan

dasar-dasar ilmu Nahwu dan kaidah-kaidahnya. Antara lain Imam Ali r.a.-lah yang membagi

jenis kata-kata dalam tiga kategori secara sistematik. Yaitu kata benda (ism), kata kerja (fi'il)

dan kata penghubung (harf). Ia jugalah yang membagi kata benda ke dalam dua sifat. Ma'rifah,

yaitu kata benda yang jelas maksudnya dalam hubungan kalimat, dan Nakirah, yaitu lawan kata

benda Ma'rifah. Demikian juga yang berkaitan dengan jenis-jenis I'rab, seperti rafa', nasb, jarr dan jazm.

Keistimewaannya ialah dalam meletakkan kaidah-kaidah tata-bahasa Arab itu, Imam Ali r.a.

seolah-olah seperti berbuat mu'jizat. Sebab sebelum itu, belum pernah ada orang Arab yang

mengenal sistematisasi penyusunan tata-bahasa. Rumus-rumus tata-bahasa belum pernah

dikenal orang sama sekali. Padahal bahasa Arab adalah bahasa yang sangat tua, kaya dan

rumit. Bangsa-bangsa Eropa yang dalam abad modern sekarang ini menguasai peradaban dunia,

waktu itu masih tenggelam dalam vandalisme dan pengembaraan liar. Jadi tidaklah keliru kalau

dikatakan Imam Ali r.a. itu adalah bapak bahasa Arab modern. Sebab rumus-rumus dan kaidahkaidah

yang diletakkan olehnya, membuat bahasa Arab mudah dipelajari oleh orang asing.

Khutbah

Kecakapannya berkhutbah bukan asing lagi bagi para penulis sejarah Islam. Imam Ali r.a. bukan

hanya dikenal sebagai Bapak bahasa Arab, tetapi dalam hal penggunaan dan penerapan bahasa

pun ia dikenal sebagai seorang ahli terkemuka. Keunggulannya dalam kecakapan berbahasa dan

bersastra membuat orang menarik kesimpulan, bahwa nilai perkataan Imam Ali r.a. berada di

bawah firman Allah Al Khaliq dan tutur-kata Rasul-Nya. Pada masa hidupnya tidak sedikit orang

datang kepadanya untuk menimba ilmu berkhutbah dan ilmu menulis.

Abdul Hamid bin Yahya, seorang ilmuwan dan penulis Islam yang masyhur itu, sampai berkata

sambil membanggakan diri, bahwa ia mempunyai kumpulan khutbah-khutbah Imam Ali

sebanyak 70 perangkat. "Dan itu masih bertambah terus," katanya. Akan tetapi Abdul Hamid itu

masih kalah unggul dibanding dengan Ibnu Nubatah, yang nama sebenarnya ialah Abdurrahman

bin Muhammad bin Ismail Al-Fariqiy Al-dudzamiy. Ia mengatakan: "Aku menyimpan setumpuk

khutbah-khutbahnya. Sampai sekarang masih bertambah terus jumlahnya. Aku menyimpan 100

bab dari wejangan-wejangan Imam Ali bin Abi Thalib."

Kecakapan Imam Ali r.a. menyusun pidato sangat membantu para peneliti sejarah Islam,

khususnya sejarah perjuangan Imam Ali r.a. sendiri, dalam menghimpun data-data dan faktafakta.

Dibanding dengan khutbah-khutbahnya, khutbah-khutbah yang pernah diucapkan oleh

para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. lainnya, belum ada sepersepuluhnya, seandainya semua

itu hendak dikumpulkan. Seorang penulis dan sejarawan klasik Islam, Abu Utsman Al-Jahidz

menegaskan hal tersebut dalam bukunya yang berjudul Al-Bayan wat Tabyin.

Tauhid

Ilmu Tauhid atau ilmu Kalam adalah ilmu yang paling banyak dikejar dan diselami oleh kaum

muslimin yang berminat mendalami hakikat Islam. Ilmu Tauhid merupakan induk ilmu-ilmu

agama Islam, karena ilmu tersebut menyangkut masalah ke-Tuhan-an. Kecuali itu, karena luhur

dan tingginya nilai suatu ilmu pengetahuan terletak pada sasaran ilmu itu sendiri.

Ilmu ke-Tuhan-an yang sasarannya adalah Dzat Yang Maha Agung, tidak bisa tidak pasti

merupakan ilmu yang paling tinggi mutu dan nilainya. Kaum awam dan para ahli yang menekuni

ilmu yang mulia itu, hampir tak ada yang meragukan bahwa ilmu tersebut dikuasai dengan baik

sekali oleh Imam Ali r.a. Bahkan pribadinya sendiri di belakang hari dijadikan sumber

penggalian dan pembahasan ilmu tersebut, yakni ilmu Tauhid.

Kaum Mu'tazilah yang juga dikenal dengan sebutan Ahlut Tauhid Wal 'Adl, para ahli ilmu qalam,

dan para ahli fikir lainnya, jika diusut sumber ilmu pengetahuannya masing-masing, akhirnya

pasti akan bertemu pada pribadi dan pemikiran Imam Ali r.a. Sebagai ilustrasi dan sekaligus

pembuktian dapat dikemukakan, bahwa tokoh utama kaum Mu'tazilah yang bernama Washil bin

'Atha, dasar-dasar ilmu pengetahuannya berasal dari Imam Ali r.a. Sebab tokoh Mu'tazilah itu

menimba ilmu dari Abu Hasyim Abdullah bin Muhammad Ibnul Hanafiyah. Hasyim memperoleh

ilmu dari ayahnya sendiri, yaitu Muhammad Ibnul Hanafiyah. Sedang Muhammad Ibnul

Hanafiyah bukan saja murid, melainkan ia adalah putera Imam Ali r.a. sendiri, yakni saudara Al

Hasan dan Al Husein r.a. dari lain ibu.

Kaum Asy'ariy yang asalnya adalah para siswa Abul Hasan Ali bin Ismail bin Abi Bisyr Al Asy'ariy,

ilmu pengetahuan mereka didapat dari Abul Aliy Al-Juba-iy. Bagi orang yang mendalami ilmu

Tauhid dan meneliti asal-usul sejarahnya, pasti mengetahui bahwa Abul Aliy Al-Juba-iy itu ialah

seorang tokoh sangat terkenal di kalangan kaum Mu'tazilah. Sedang kaum Mu'tazilah itu

memperoleh ilmu mereka dari Imam Ali r.a., seperti yang kami sebutkan di atas tadi. Mengenai

kaum Syi'ah, baik golongan Zaidiyyah maupun golongan Imamiyyah, sumber ilmu pengetahuan

mereka tak usah dipersoalkan lagi. Sudah pasti dari tokoh pujaan mereka yang paling utama,

yaitu Imam Ali bin Abi Thalib r.a

Fiqh

Orang yang paling lembut hatinya dan paling ramah di kalangan ummatku ialah Abu Bakar.

Demikian diungkapkan oleh Rasul Allah s.a.w. Sedang yang paling keras membela agama ialah

Umar Ibnul Khattab. Yang paling pemalu adalah Utsman bin Affan. Adapun Ali, ajar Rasul Allah

s.a.w. seterusnya, ialah yang paling tahu tentang hukum.

Pernyataan Rasul Allah s.a.w. tersebut merupakan masnad bagi uraian Abu Ya'la, sebagaimana

tercantum dalam kitab karya seorang penulis kenamaan As-Sayuthiy, yang berjudul Al Jami'us

Shaghir (jilid I halaman 58). Yang dimaksud dengan hukum bukan lain ialah hukum Islam, yaitu

Fiqh. llmu Fiqh merupakan salah satu cabang penting dari ilmu agama Islam.

Ilmu yang bersangkut-paut dengan semua ketentuan hukum Islam itu jelas sekali berpangkal

antara lain dari Imam Ali r.a. Boleh dibilang semua ahli Fiqh di kalangan kaum muslimin

menimba dan mengambil dasar-dasar ilmu pengetahuannya masingmasing dari Fiqh Imam Ali.

Rekan-rekan dan para pengikut Imam Abu Hanifah, seperti Abu Yusuf, Muhammad dan

sebagainya, semua berguru kepada Abu Hanifah.

Seorang ahli Fiqh terkemuka yang madzhabnya dianut oleh ummat Islam Indonesia, Imam

Syafi'iy, adalah murid Muhammad bin Al Hasan yang ilmunya berasal dari Abu Hanifah.

Tokoh pertama madzhab Hanbaliy, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, adalah murid kinasih dan

terkemuka dari Imam Syafi'iy. llmu pengetahuan yang ditimbanya sudah tentu sama seperti

ilmu yang didapat oleh Imam Syafi'iy sendiri, yaitu berasal dari Imam Abu Hanifah.

Tokoh besar ilmu Fiqh, Abu Hanifah, menimba ilmu pengetahuan dari Ja'far bin Muhammad

Ibnul Hanafiyah. Ja'far adalah murid ayahnya sendiri, sedangkan ayahnya itu ialah murid dan

putera Imam Ali.

Tokoh pertama madzhab Malikiy, yaitu Imam Malik bin Anas, pun demikian juga. Ia menimba

ilmu pengetahuan tentang Fiqh dari Abdullah Ibnu Abbas. Sedangkan Abdullah Ibnu Abbas

sendiri diketahui dengan pasti bukan lain adalah murid Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Kalau ada

yang mengatakan bahwa ilmu Fiqh Imam Syafi'iy berasal dari Imam Malik, pangkal dan sumber

pokoknya berasal juga dari Imam Ali.

Fakta-fakta tersebut mengungkapkan kenyataan, bahwa 4 orang Imam Fiqh atau tokoh-tokoh

pertama empat madzhab Fiqh di seluruh dunia Islam sekarang ini, ilmu pengetahuan Fiqhnya

masing-masing berasal dari Imam Ali r.a. Tentu saja tak perlu diragukan lagi, bahwa ilmu Fiqh

yang ada di kalangan kaum Syi'ah pasti berasal dari Imam Ali. Seorang tokoh besar Islam

lainnya, Umar Ibnul Khattab r.a., dikenal dan diakui sebagai seorang yang banyak memecahkan

masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum Islam. Namun ia tidak lepas dari pemikiran

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Hal ini diakui sendiri olehnya ketika mengatakan: "Tanpa Ali

celakalah Umar!" Bahkan Khalifah yang terkenal keras, tegas, tetapi bijaksana dan arif itu

pernah juga mengucap-kan "Tidak ada kesukaran (hukum) yang tak dapat dipecahkan oleh Abul

Hasan (Imam Ali)."

Waktu melukiskan bagaimana wibawa dan wewenang Imam Ali dalam menetapkan fatwa

hukum, Khalifah Umar r.a. juga menegaskan: "Tidak ada seorang pun di dalam masjid yang

dapat memberikan fatwa hukum, bila Ali hadir."

Penguasaan, penafsiran dan penerapan hukum Islam oleh Imaln Ali r.a. dilakukan secara tepat

dan diakui kebenarannya oleh Rasul Allah s.a.w. Hal itu dibuktikan dengan diangkatnya Imam

Ali --pada masa itu-- sebagai qadhi (hakim) di Yaman. Ketika melepas saudara misan

kesayangannya itu Rasul Allah s.a.w. sempat berdoa: "Ya Allah, bimbinglah hatinya dan

mantapkanlah ucapannya." Sebagai tanggapan terhadap harapan Rasul Allah s.a.w. itu Imam Ali

r.a. berkata: "Mulai saat ini aku tidak akan ragu-ragu lagi mengambil keputusan hukum yang

menyangkut dua belah fihak."

Di antara banyak yurisprudensi, keputusan-keputusan hukum, yang dilahirkan oleh pemikiran

Imam Ali r.a. ialah yang menyangkut kasus perkara sebagai berikut: Kasus seorang isteri yang

melahirkan anak, padahal ia baru enam bulan menikah dengan suaminya. Yaitu suatu

penetapan hukum yang dilakukan oleh Imam Ali r.a. berdasarkan Surah Al-Ahqaf ayat 15. Juga

Imam Ali-lah yang menetapkan fatwa hukum Islam tentang wanita hamil karena perbuatan

zina. Memecahkan masalah hukum Faraidh yang pelik dan rumit, yaitu hukum tentang

pembagian harta waris, Imam Ali r.a. sanggup melakukannya dengan cepat dan tepat.

Yurisprudensi ini lahir dari satu kasus yang terkenal dalam sejarah Fiqh dengan nama "Kasus

Minbariyyah". Kasus ini menarik para ahli hukum Islam maupun non Islam. Peristiwa ini terjadi

ketika Imam Ali r.a. sedang berkhutbah di atas mimbar, tiba-tiba ada seorang bertanya tentang

hukum yang berkaitan dengan pembagian waris antara dua orang anak perempuan, dua orang

ayah dan seorang perempuan. Seketika itu juga dan hanya dalam waktu beberapa detik saja,

tanpa ragu-ragu Imam Ali r.a. menjawab: "Seperdelapan yang menjadi hak perempuan itu

berubah menjadi sepersembilan!"

Dihitung secara matematik dan ditinjau dari sudut keadilan dan kebijaksanaan berdasarkan Al-

Qur'an, fatwa hukum Imam Ali r.a. tersebut mencapai record dalam memecahkan kasus

pembagian harta waris yang amat pelik dan rumit. Seorang ahli hukum Faraidh sendiri, walau

dengan bantuan alat kalkulator, baru dapat menemukan angka yang disebutkan oleh Imam Ali

r.a. kalau sudah menghitung-hitung dahulu selama beberapa saat. Masalah itu memang

merupakan masalah matematika yang cukup ruwet. Tetapi menurut kenyataan, fatwa Imam Ali

r.a. yang diambil dalam waktu beberapa detik itu setelah diuji dan diteliti secermat-cermatnya

berdasarkan hukum Al-Qur'an dan sunnah Rasul Allah s.a.w., terbukti benar dan tepat. Jelaslah

hanya orang yang betul-betul menguasai dasar-dasar hukum Fiqh sampai sedalam-dalamnya

sajalah yang dapat memberikan jawaban secepat itu!

Tafsir

Bagi orang awam, bahkan kaum ahli sekalipun, selalu menjumpai kenyataan bahwa tafsir Al-

Qur'an banyak sekali kaitannya dengan nama seorang ulama besar, Abdullah Ibnu Abbas. Ulama

ini memang terkenal sekali sebagai seorang ahli tafsir Al Qur'an. Abdullah Ibnu Abbas juga

seorang ulama yang dipercaya oleh Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. untuk

memberikan penafsiran tentang sesuatu ayat Al-Qur'an.

Sungguhpun demikian, ketika Abdullah Ibnu Abbas ditanya orang, bagaimana perbandingan ilmu

pengetahuan yang dimilikinya dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh "putera paman anda"

(Imam Ali r.a.), jawabnya sederhana saja: "Perbandingannya seperti setetes air hujan dengan

air samudera!" Jawaban itu tidak mengherankan. Bukan hanya karena ia rendah hati, melainkan

juga karena ia adalah murid Imam Ali r.a. sendiri. Dalam ilmu tafsir, nama dua orang itu

hampir tak pernah pisah sama sekali.

Benar sekali penyaksian Abu Fudhail yang mendengar sendiri Imam Ali r.a. berkata dari atas

mimbar: "Tanyakanlah kepadaku selama aku ada. Apa saja yang kalian tanyakan, aku sanggup

menjawab. Tanyakanlah tentang Kitab Allah. Demi Allah, tak ada satu ayat pun yang aku tidak mengetahui, apakah ayat itu turun di waktu siang ataukah di waktu malam, di datarankah atau

di pegunungan."

Kata-kata Imam Ali r.a. itu bukan menunjukkan kesombongan, tetapi karena ia tampak jengkel

melihat ada orang yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan semena-mena. Dan apa yang

diucapkannya itu bukan kata-kata hampa yang tidak berbukti.

Menurut Ibnu Abil Hadid, Al-Madainiy meriwayatkan, bahwa dalam salah satu khutbahnya Imam

Ali r.a. pernah berkata: "Seandainya ada yang mengadu kepadaku karena bantalnya dirobek

orang, aku akan mengambil keputusan hukum. Bagi ahli Taurat berdasarkan Tauratnya, bagi

ahli Injil berdasarkan Injilnya, dan bagi ahli Al-Qur'an berdasarkan Qur'an-nya!"

Sungguh besarlah nikmat Allah yang dilimpahkan kepada putera Abu Thalib yang telah

menerima asuhan dan pendidikan manusia terbesar sepanjang sejarah, Nabi besar Muhammad

s.a.w.! Tidak keliru kalau tiga orang Khalifah sebelumnya memandang Imam Ali r.a. sebagai

penasehat ahli yang sama sekali tak dapat ditinggalkan fatwa-fatwanya.

Tilawatil Qur'an

Bagi Imam Ali r.a. ilmu Tilawatil Al-Qur'an merupakan ilmu yang paling pertama kali diteguk

dan diperolehnya langsung dari Rasul Allah s.a.w. sejak berusia muda belia. Ialah orang yang

paling tahu bagaimana Rasul Allah s.a.w. membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Sejak Rasul Allah

s.a.w. masih hidup, Imam Ali r.a. sudah dikenal sebagai orang pertama dan yang paling dini

menghafal Al-Qur'an. Kedudukannya yang sangat dekat dengan Rasul Allah s.a.w. dan

kecerdasannya membuat Imam Ali r.a. dapat menguasai dengan sempurna ilmu Tilawatil

Qur'an.

Ada kesepakatan di kalangan para penyusun riwayat, bahwa di samping menguasai pengertian

dan tafsir Al-Qur'an secara baik, Imam Ali r.a. juga diakui sebagai seorang ahli ilmu Tilawah.

Keahlian dan kecakapannya di bidang ini sangat membantu usaha menghimpun ayat-ayat suci

Al-Qur'an di kemudian hari. Dalam pekerjaan yang maha besar itu sumbangan dan peranan

Imam Ali r.a. sangat menentukan keberhasilannya.

Sebagaimana diketahui, setelah Rasul Allah s.a.w. wafat, Abu Bakar Ash Shiddiq meneruskan

kepemimpinan beliau atas ummat Islam. Di kala itu terjadi peperangan-peperangan untuk

menumpas kaum pembangkang zakat dan gerakan kaum murtad, serta oknum-oknum petualang

yang mengaku diri sebagai "nabi". Dengan terjadinya konflik-konflik tersebut para sahabat yang

hafal ayat-ayat suci Al-Qur'an makin berkurang jumlahnya karena banyak yang gugur di medan

tempur. Terdorong oleh kekhawatiran habisnya para sahabat yang hafal ayat-ayat Al-Qur'an,

atas usul Umar Ibnul Khattab r.a., Khalifah Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit supaya

segera mengkodifikasi wahyu suci. Tugas raksasa ini memerlukan ketekunan, kesabaran,

ketelitian, kecermatan dan kejujuran. Dalam pekerjaan mulia ini, Zaid bin Tsabit dimudahkan

antara lain oleh sumbangan Imam Ali r.a. yang tak ternilai besarnya.

Jika ditelusuri sejarah ilmu Tilawatil Qur'an, maka akan ditemukan kenyataan bahwa para

Imam dan para ahli Tilawah semuanya menimba ilmu dari sumbernya yang pertama, yaitu Imam

Ali r.a. Ambil saja sebagai misal, Abu Umar bin Al-A'laa, 'Ashim bin Najd dan sebagainya.

Mereka semua berasal dari perguruan Abu Abdurrahman As-Sulamiy Al-Qari. Sedangkan Abu

Abdurrahman ini tak lain adalah murid Imam Ali r.a. sendiri, yang belajar langsung dari gurunya

itu.

Sebagai orang yang hidup taqwa dan menguasai Al-Qur'an baik lafadz maupun maknanya, Imam

Ali r.a. memandang Al-Qur'an sebagai satu-satunya juru selamat bagi manusia dalam kehidupan

dunia dan akhirat. Ketika menjelaskan pandangannya terhadap Al-Qur'an, Imam Ali r.a. antara

lain berkata:

"Kalian wajib mengetahui, bahwa Al-Qur'an itu adalah nasehat yang tak pernah palsu,

pembimbing yang tak pernah sesat, dan pembicara yang tak kenal dusta. Tiap orang yang

duduk membaca Al-Qur'an, ia pasti memperoleh tambahan atau pengurangan, yaitu tambahan

hidayat atau pengurangan ketidak-tahuan. Ketahuilah bahwa tidak ada yang lebih unggul dan

lebih tinggi bagi seseorang daripada Al-Qur'an."

"Oleh karena itu sembuhkanlah penyakit kalian dengan Al-Qur'an, dan dengan Al-Qur'an

mohonlah pertolongan kepada Allah untuk mengatasi kesukaran kalian. Dalam Al-Qur'an

terdapat obat penyembuh bagi penyakit yang paling parah, yaitu penyakit

kufur, kemunafikan dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah dengan Al-Qur'an dan dengan

mencintai Al-Qur'an hadapkanlah diri kalian ke hadirat-Nya. Janganlah dengan Al-Qur'an kalian

meminta sesuatu kepada makhluk Allah. Semua hamba Allah tidak dapat menghadapkan diri

kepada-Nya melalui sesama makhluk.

"Dan ketahuilah, bahwa Al-Qur'an adalah pemberi syafa'at yang benar-benar dapat diharapkan.

Juga merupakan pembicara terpercaya. Barang siapa memperoleh syafa'at dari Al-Qur'an pada

hari kiyamat, berarti ia memperoleh syafa'at yang sejati. Dan Barang siapa yang dinilai buruk

oleh Al-Qur'an, pada hari kiyamat ia tidak akan dipercaya. Pada hari kiyamat akan terdengar

suara berseru: 'Bukankah orang yang berbuat akan diuji dengan perbuatannya sendiri dan akan

diuji pula oleh akibat dari perbuatannya itu, kecuali orang yang berbuat menurut ajaran Al-

Qur'an?'…"

"Oleh sebab itu jadilah kalian orang-orang yang berbuat sesuai dengan Al-Qur'an dan mengikuti

ajaran-ajarannya. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai penasehat bagi diri kalian. Jadikanlah Al-Qur'an

sebagai pembimbing fikiran dan pendapat kalian, dan jadikanlah Al-Qur'an sebagai pencegah

hawa nafsu!"

Demikianlah pandangan hidup seorang bapak ilmu Tilawatil Qur'an, Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Ilmunya menghayati pandangan hidupnya dan pandangan hidupnya mengarahkan penerapan

ilmunya. Dan itulah yang menjadi hakekat dasar ilmu Tilawatil Qur'an.

Tarikat

Ilmu Tarikat pun tidak lepas kaitannya dengan Imam Ali r.a. sebagai sumber sejarahnya. Di

kalangan para ahli Tarikat, Imam Ali r.a. diakui sebagai tokoh puncaknya. Semua ilmu Tarikat,

Hakikat dan Tashawuf bersumber pada pemikiran-pemikiran Imam Ali r.a.

Sebagai putera asuhan, sejak berusia 6 tahun, Imam Ali r.a. selalu berada di dekat Rasul Allah

s.a.w., hampir tak pernah pisah. Sedangkan Rasul Allah s.a.w. sendiri pada saat menerima Ali

bin Abi Thalib dalam tanggung jawabnya, tengah mengalami satu proses yang luar biasa. Dari

segi kemanusiaannya, terutama kerohaniannya, beliau sedang diproses oleh Al-Khaliq untuk

diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Pada saat itulah Muhammad s.a.w. melakukan kontemplasi

(tafakur), perenungan dan dialog dalam fikiran batin.

Beliau melakukan penyepian (khalwat) di bukit-bukit dan gua-gua sekitar kota Makkah. Suatu

proses yang berlangsung hebat sekali dalam hati nurani beliau. Dengan prihatin dan jiwa yang

bersih disertai pula dengan pandangan batin yang tajam beliau menyaksikan ketidak-benaran

dan ketimpangan-ketimpangan tata kehidupan masyarakat dan keagamaan yang dihayati oleh

masyarakat jahiliyah masa itu. Hatinya terketuk melihat kerusakan-kerusakan dan dekadensi

yang menimpa kehidupan masyarakat. Tetapi kalau hanya menyalah-nyalahkan atau mencela

saja tidak akan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat yang sedang sesat dan bobrok itu.

Alternatif lain, penggantinya, harus ada. Semuanya itu berkecamuk dalam hati beliau s.a.w.

Sejak usia dini beliau sudah kritis dalam memandang kehidupan lingkungannya. Sejak kecil

beliau belum pernah hanyut terbawa oleh arus adat, kebiasaan dan kepercayaan jahiliyah.

Imam Ali r.a. menyaksikan sendiri saudara pengasuhnya itu menempuh cara hidup keduniawian dan kerohanian yang sangat jauh berbeda dari kebiasaan umum yang lazim berlaku pada masa

itu.

Dengan kepatuhan seorang anak yang ditanggapi secara tepat oleh seorang dewasa, terjadilah

suatu jalinan perpaduan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muhammad s.a.w. dalam periode

beliau sedang menghadapi proses pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul pembawa kebenaran

Allah s.w.t. Tak ada bagian-bagian proses itu yang lewat dari penyaksian Imam Ali bin Abi

Thalib. Ia selalu mengikuti ke mana saja saudara pengasuhnya itu pergi dan memperhatikan

benar-benar apa saja yang dilakukan oleh beliau s.a.w. Ia mencontoh gaya hidup jasmani dan

rohani, termasuk cara-cara beribadah sebelum kenabian beliau.

Suara yang berupa ajaran dan wejangan Rasul Allah s.a.w. dan cahaya kebenaran Allah s.w.t.

yang menerangi jiwa beliau diserap oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Hakekat kebenaran Allah

'Azza wa Jalla yang ditemukan dan difahami oleh saudara pengasuhnya selama prosesnya yang

bertahun-tahun itu, diikuti, diterima dan dihayati oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Itulah antara lain

yang memperkuat dasar mengapa Imam Ali r.a. berhak menyandang gelar sebagai Bapak ilmu

Tarikat, Hakekat, atau Tashawuf.

Mengenai ilmu di bidang ini, tokoh-tokoh terkemuka kaum Tarikat seperti Asy Syibliy, Al-

Junaid, Al-Asyariy, Abu Yazid Al-Bistamiy, Abu Mahfudz yang terkenal dengan nama Al-Khurqiy,

dan lain sebagainya, semua mengakui Imam Ali r.a. sebagai tokoh puncak mereka.

Cara dan gaya hidup Rasul Allah s.a.w., mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesarbesarnya,

hampir seluruhnya dijadikan tauladan oleh Imam Ali r.a. Oleh karena itulah ia bukan

saja hidup sebagai seorang ilmuwan yang mencakup banyak bidang, melainkan juga seorang

yang hidup penuh taqwa dan menempuh cara hidup zuhud. Ia tidak risau atau terpengaruh oleh

kesenangan-kesenangan duniawi. Bahkan sampai menjadi Khalifah pun cara hidup yang seperti

itu dipertahankan sebagai sesuatu yang sudah manunggal dengan keimanan dan ketaqwaannya

kepada Allah Rabbul'alamin.

Al-Kahfi

Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300),

mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut

berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi, yang terjemahannya sebagai berikut: "Ingatlah

ketika pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung di dalam gua, kemudian mereka berdoa:

"Wahai Allah, Tuhan kami, berilah rahmat kepada kami dari sisi-Mu…" Dengan panjang lebar

kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang

kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah

Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami

hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi

jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar

dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi

jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."

"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.

"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya

pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang

adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada

kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia

bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat

berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu

atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang

berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan

oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang

meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika

ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui

jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri

melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad

memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta

Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal

Hasan, selamatkanlah agama Islam!"

Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab.

Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai

burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w. Ketika

Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru

memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu

kupanggil!"

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu,

Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul

Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai

seribu macam cabang ilmu!"

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum

menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu

jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada

di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"

"Ya baik!" jawab mereka.

"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.

Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"

"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba

Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik

sampai ke hadhirat Allah!"

Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu

langit?"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan

selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah

kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"

"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi

Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk

yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan

bukan jin!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud

alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam

tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam

keadaan mereka tidak sadar!"

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima

jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhlukmakhluk

itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga,

Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma

menjadi seekor ular)."

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta

penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada

tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai

Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan

mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan

kepada anda."

"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.

"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama

309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?"

Tanya pendeta tadi.

Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat

tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau,

akan kubacakan kisah mereka itu."

Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika

engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah

mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua

mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"

Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu

ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi,

Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi

di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus.

Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang,

kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki).

Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal

dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan

pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota

kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."

Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau

benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan

ruangan-ruangannya!"

Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat

megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu

farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampulampu

yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu

bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan

dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang

cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak

mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah

singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia

80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di

sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan

penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota

di atas kepala."

Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar

tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"

"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingankepingan

emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya

laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang

pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju

sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya

dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari

emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang,

terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantupembantunya.

Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lehih dulu

dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di

sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar,

coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"

Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w.

menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing

bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di

sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding

dengan mereka mengenai segala urusan.

Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para

punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala

emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari

bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini

kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari

bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta

bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.

Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula.

Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya,

burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam

piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara

lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua

sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu

ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut,

demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan

sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak

mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat

dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa

yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh

sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua

orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan

menyembah Allah s.w.t.

Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan

mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada

balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak

melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa

disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh

terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --

seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh

fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan

sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air

kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang

dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima

orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi

Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha,

mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"

"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak

ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."

Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"

"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada

diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan

terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah?

Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu

dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang

membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan

gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali

memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku?

Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada

yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil

berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam

hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"

"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain

harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"

"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil

mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu

berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.

Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudarasaudara,

kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah

kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan

urusan kita serta memberikan jalan keluar."

Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki

mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu

mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"

"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah

kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba

beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"

"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh

berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"

"Ya," jawab penggembala itu.

Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka.

Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil

menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada

dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambingkambing

itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk

mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan

kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."

Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi

sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu

dan siapakah namanya?"

"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul

Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama

Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata

kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita!

Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki

belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orangorang,

mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah,

tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat

demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."

Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik

ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata:

"Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"

Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di

sebut juga dengan nama Kheram!"

Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan

berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang

tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua.

Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua

kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan

Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah

s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah

lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam

gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan

mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang

pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat

gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam

orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat

enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak

ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan

kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka

sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"

Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan

batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para

pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu

tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka

dikeluarkan dari tempat itu."

Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka.

Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun

dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa

beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mataair!"

Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mataair itu sudah mengering kembali

dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka

mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan

bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa niendapatkan makanan? Tetapi yang

akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak

dengan lemak-babi."

Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk

mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah

bajuku ini!"

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia

melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang

belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia

melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah

Roh Allah."

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata

seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamatamati

bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang

membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di

sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota

kalian ini?"

"Aphesus," sahut penjual roti itu.

"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.

"Kalau yang kaukatakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah

uang ini dan berilah makanan kepadaku!"

Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang

zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib:

"Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang

lama itu dibanding dengan uang baru!"

Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku,

bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama

sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"

Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai,

alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang

itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan kuhadapkan kepada raja!"

"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini kudapat tiga hari yang lalu

dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena

orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"

Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih

juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebutnyebut

seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati

lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang

yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa

Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?"

"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya

kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu

kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."

Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah

penduduk kota ini!"

Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"

"Ya. Benar," sahut Tamlikha.

"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.

"Ya, ada," jawab Tamlikha.

"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.

Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang

dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua

itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau

mempunyai rumah di kota ini?"

"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha

mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana,

Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang

alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena

sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang:

"Kalian ada perlu apa?"

Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah

rumahnya!"

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya:

"Siapa namamu?"

"Aku Tamlikha anak Filistin!"

Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"

Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki

Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orangorang

yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara

haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa

as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka

itu akan hidup kembali!"

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan

menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di

rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja

Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan

dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan temantemanmu?"

Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam

dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya

masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan

ceritanya.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua,

Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau

sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka

pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti

saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha

datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada

Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari

Diqyanius!"

Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah

kalian tinggal di sini?"

"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.

"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama

meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu

sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan

kalian!"

Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini

orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"

"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.

"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab mereka.

Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan

kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami

alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"

Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut

kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang

bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh

hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan

masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang

betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa

yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada

mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku!

Akan kudirikan sebuah tempat ibadah di pintu guha itu."

Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk

agamaku! Akan kudirikan sebuah biara di pintu gua itu."

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya

bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya

peristiwa tersebut, maka Allah berfirman, yang artinya: "Orang-orang yang telah memenangkan urusan mereka berkata: 'Kami hendak mendirikan sebuah rumah peribadatan di atas mereka'…"

(S. Al Kahfi: 21).

Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua.

Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa

yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu,

apakah semua yang kuceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"

Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi,

walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab

aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah

serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan

ummat ini!"

Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul

Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid

Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang

diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.

Penanggalan Hijriyah

Selain ilmu pengetahuan yang mencakup berbagai bidang, Imam Ali r.a. juga banyak

melahirkan prakarsa-prakarsa yang dipersembahkan kepada kepentingan kaum muslimin dan

kejayaan Islam. Ada satu prakarsanya yang tak mungkin dapat dilupakan sepanjang sejarah oleh

seluruh generasi ummat Islam sampai hari akhir kelak. Meskipun hampir tiap hari hasil prakarsa

itu dimanfaatkan oleh kaum muslimin, tetapi banyak di antara mereka sendiri yang belum

mengetahui, bahwa yang dimanfaatkannya itu berasal dari Imam Ali r.a. Yaitu penanggalan

Hijriyah.

Dalam kitab Tarikh yang ditulis oleh At-Thabariy disajikan sebuah riwayat yang berasal dari

Sa'id bin Al-Mushib, yang menyatakan, bahwa pada satu hari Khalifah Umar Ibnul Khattab

mengumpulkan sejumlah pemuka kaum muslimin untuk merundingkan masalah penanggalan

Islam. Kaum muslimin dan Khalifah Umar r.a. berpendapat tentang perlunya diadakan

penanggalan tersendiri, agar kaum muslimin tidak lagi mengikuti penanggalan kaum Nasrani

dan Yahudi. Betapa tragisnya kalau kaum muslimin yang sudah dewasa itu masih juga

mempergunakan penanggalan Ahlul Kitab. Tetapi keinginan yang baik itu terbentur pada jalan

buntu karena tidak berhasil menemukan kapan penanggalan Islam itu harus dimulai.

Di saat mereka sedang menghadapi kesukaran itu datanglah Imam Ali r.a. Bukan main

gembiranya Khalifah Umar r.a. melihat Imam Ali r.a. datang. Segera saja disambut, kemudian

kepadanya diajukan pertanyaan tentang bagaimana sebaiknya penanggalan Islam itu dimulai.

Tanpa banyak fikir lagi Imam Ali r.a. menjawab: "Tetapkan saja mulai hari hijrahnya Rasul

Allah s.a.w., yaitu hari beliau meninggalkan tanah syirik!"

Mendengar jawaban Imam Ali r.a. yang cepat dan tepat itu Khalifah Umar r.a. dengan serta

merta memeluk Imam Ali r.a. diiringi oleh gegap gempitanya sambutan gembira kaum muslimin

yang hadir. Khalifah Umar r.a. menerima sepenuhnya pendapat Imam Ali r.a. tersebut, dan

mulai hari itu jugalah ditetapkan berlakunya penanggalan Hijriyah bagi kaum muslimin.


SEBUAH KENANGAN

Malam semakin kelam dan gelap bertambah pekat… Seorang pemimpin besar, Imam Ali bin Abi

Thalib r.a., tak lama lagi, akan meninggalkan lawan-lawannya, membiarkan mereka

berkeliaran merusak kehidupan di muka bumi.

Di belahan bumi sana ia hidup menyendiri dirundung kepedihan; hidup disayat-sayat kesunyian

kejam yang belum pernah dialaminya selama ini. Hidup terpisah menjauhkan diri dari bencana kesesatan yang sedang melanda kaumnya. Terpisah bersama hati parah dicekam duka lara.

Seorang diri terjauhkan dari zamannya, seakan-akan terhempas keluar dari permukaan bumi.

Namun bumi ini selesai sudah mencatat semua ucapan dan tutur katanya... ya, bahkan bumi itu

sendiri menjadi saksi abadi atas semua amal perbuatannya yang serba luar biasa.

Di permukaan bumi ini ia hidup tiada tara… memberi tanpa meminta… dimusuhi namun tak

pernah menyiksa… sanggup melawan tetapi lebih suka menyebar maaf sebanyak-banyaknya.

Tak pernah menusuk hati pembencinya dan tidak pula mengecewakan para pencintanya.

Penolong bagi si lemah, teman bagi yang hidup terasing, dan bapak bagi si yatim. Dekat dari

manusia tertekan yang mengharap uluran tangan untuk menghapus kemungkaran dan

penderitaan. Kaya ilmu dan berlimpah-limpah kearifannya. Hatinya tenggelam dalam banjir air

mata derita insan, di gunung-gunung dan di tiap dataran. Mengayun pedang mematahkan

kedzaliman dan kegelapan, namun cinta kasihnya tetap tertumpah kepada orang teraniaya. Di

kala sinar mentari memancar terang ia sibuk menegakkan kebenaran dan keadilan… dan di

masa malam mulai kelam airmatanya berlinang menangisi derita ummat di hari-hari

mendatang…

Di bumi ia hidup tiada tara… Tiap mendengar rintihan si madzlum, suaranya menggeledek

menggoncang pautan si dzalim. Tiap mendengar jerit orang meminta pertolongan tanpa ayal

lagi ia menghunus pedang berkilau memudarkan mata berniat jahat. Tiap mendengar teriakan

fakir kelaparan lubuk hatinya digenang airmata kasih, menggelegak laksana air bah menerjang

tanah gersang...

Selagi masih hidup di bumi ini, ia lain dari yang lain. Logika dan penalarannya tepat dan benar.

Cara hidupnya amat sederhana. Berbusana kain kasar… dan senantiasa bersikap rendah hati. Di

saat banyak manusia tergelincir menukik ke bawah, ia justru rnenjulang tinggi meraih awan…

Sungguh aneh ia hidup di bumi ini. Di saat orang lain bergelimang kenikmatan, ia bahkan

terbenam dalam penderitaan… tetapi, tahukah saudara… Siapakah orang yang gagah berani,

genial, aneh, berpandangan jauh, dan selalu dibebani penderitaan oleh orang-orang yang justru

diinginkan olehnya supaya mereka itu menikmati kehidupan dunia dan kebahagiaan akhirat?

Siapakah pria jantan itu… Ya, siapakah orang genial dan aneh itu? Bukankah ia seorang yang

dibenci lawan hanya karena mereka dengki dan irihati? Bukankah ia seorang yang dijauhi oleh

para sahabat hanya karena mereka takut menghadapi ancaman lawannya? Dan, akhirnya ia

seorang diri berjuang menentang kemungkaran dan kebatilan, menghadapi manusia-manusia

dzalim dengan sikap tegak berdiri di atas jalan kebenaran. Ia tidak mabok di saat menang dan

tidak patah di saat kalah, sebab ia yakin kebenaran akhirnya pasti akan menemukan tempatnya

yang hilang, walau banyak orang takut dan lari memejamkan mata. Siapa lagi orang sedemikian

genialnya itu kalau bukan Imam Ali bin Abi Thalib? Seorang Khalifah yang berasal dari Ahlu Bait

Rasul Allah s.a.w., seorang Amirul Mukminin, yang tak pernah hidup tanpa derita, dan yang

akhirnya menjadi korban pengkhianatan Abdurrahman bin Muljam.

* * * *

Malam itu malam penuh tanda-tanya. Awan tebal menyelimuti udara di langit tinggi, berarak

pelahan-lahan, kadang dikoyak sambaran petir mengkilat, teriring hembusan angin lembut. Di

sana-sini tampak burung-burung gagak tua hinggap di sarangnya masing-masing, dengan kepala

terangguk-angguk berat menunduk, seolah-olah tak berdaya lagi mengicaukan suara gaduh

menyongsong datangnya hari esok, seakan-akan tak sanggup lagi menegakkan kepala

menghadapi intaian Elang Raksasa!

Imam Ali terjaga sepanjang malam tak dapat mengenyam nikmatnya tidur. Ia membayangkan

hari-hari mendatang yang penuh manusia tersiksa kedzaliman dan hidup tertekan teraniaya.

Tetapi di samping mereka ada manusia-manusia lain yang serakah, menanjak dan meninggi,

kuat dan congkak, menghardik dan menelan orang-orang yang lemah. Ia membayangkan lawan-lawannya sedang saling-bantu berbuat kemungkaran, orang-orang durhaka yang sedang bahumembahu

bergandeng tangan mengejar maksiat. Bersamaan dengan itu ia pun membayangkan

para pendukung dan pengikutnya sedang berlomba-lomba mundur meninggalkan kebenaran

yang kemarin dibela dan dipertahankan oleh mereka sendiri!

Imam Ali terjaga sepanjang malam, tak dapat mengenyam nikmatnya tidur. Terbayang keadilan

sedang diinjak-injak dan kebajikan sedang dilumur noda. Segala yang suci sudah digadai oleh

manusia-manusia yang hidup tanpa arah dan hampa. Kemuliaan hidup kini hanya tergantung

dan ditentukan oleh kemauan manusia-manusia yang sedang berbuat kerusakan di bumi, dan…

kemunafikan merajalela di mana-mana!

Imam Ali terjaga sepanjang malam, tak dapat mengenyam nikmatnya tidur. Terkenang

hidupnya selama ini. Sejak lahir di permukaan bumi dirinya telah menjadi kekuatan pembela

kebenaran dan keadilan, menjadi saudara bagi semua orang yang hidup sengsara, teraniaya dan

terlunta-lunta. Ia seolah-olah bagaikan geledek menyambar kepala orang-orang durhaka. Tidak

hanya lidahnya yang berbicara tentang mereka, tetapi pedangnya, si Dzul Fiqar, pun ikut

menggemerincingkan suara.

Di malam itu terbayang pada alam khayalnya lembaran-lerabaran sejarah hidupnya sendiri di

masa silam dan masa kini. Ia teringat pada kehidupan di masa muda, menghunus pedang di

depan hidung kaumnya, kaum musyrikin Qureiys! Ia heran bercampur bangga, mengapa sampai

sanggup berbuat seperti itu, menarikan pedang di depan muka mereka untuk membela risalah

agama. Ia bangga turut menyebar berita gembira kepada mereka yang hidup mendambakan

kebenaran, dan pedih mengingatkan mereka yang berkecimpung di lumpur kebatilan. Ia

teringat, di kala itu orang-orang Qureiys mengkeret mundur sambil melontarkan ejekan sia-sia.

Dan ia tetap maju menempuh jalan hidupnya sendiri, rela mengorbankan nyawa dan segala

yang berharga dalam menghadapi tantangan mereka, demi pengabdian kepada Allah dan

agama-Nya yang benar.

Terbayang olehnya kenangan lama, ketika berselunjur di pembaringan putera pamannya,

Muhammad Rasul Allah s.a.w., pada malam hijrah. Kala itu ia terbaring di bawah bayangan

puluhan pedang yang haus darah. Betapa resah dan gelisah hatinya, bukan karena takut binasa,

melainkan khawatir kalau-kalau Abu Sufyan dengan bantuan kaum musyrikin Qureiys dan

tengkulak-tengkulak nyawa lainnya, akan berhasil mengganggu Rasul Allah s.a.w. di tengah

jalan. Ternyata di bawah lindungan Ilahi beliau lolos dengan selamat, dan cahaya agama yang

dibawanya berhasil menembus kegelapan jahiliyah!

Ia masih terus mengenangkan kehidupannya di masa lalu. Teringat olehnya ketika mengarungi

peperangan-peperangan adil sebagai pahlawan. Dengan semangat kecintaan kepada Allah dan

Rasul-Nya ia berhasil meruntuhkan benteng-benteng musuh dan menumpas kaum durhaka.

Teringat pula ketika ia sedang dikerumuni oleh kaum fakir miskin dan orang-orang lemah

lainnya. Ia melihat mereka bersembah sujud ke hadhirat Allah memanjatkan syukur, tiap kali

mereka menyaksikan tangannya mengayuri pedang di atas kepala musuh-musuh mereka.

Dengan mata kepala sendiri mereka melihat orang-orang Qureiys durhaka lari tungganglanggang

menyelamatkan nyawa laksana belalang terbang berserakan tertiup angin kencang.

Ia teringat kepada putera pamannya, Muhammad Rasul Allah s.a.w. sedang menatap mukanya

dengan sinar mata penuh kasih sayang, kemudian memeluk sambil berucap: "Inilah saudaraku!"

Ia juga teringat ketika beliau datang berkunjung ke rumahnya di saat ia sedang tidur. Waktu

isterinya --Fatimah Azzahra binti Muhammad Rasul Allah s.a.w.-- hendak membangunkan, tibatiba

beliau berkata: "Biarkan dia! Mungkin sepeninggalku ia akan 'bergadang' lama sekali!"

Mendengar ucapan ayahandanya seperti itu Sitti Fatimah menangis terisak-isak! Lebih dari itu

semua, ia pun teringat ketika Rasul Allah s.a.w. berkata kepadanya: "Allah telah menghiasi

hidupmu dengan perhiasan yang paling disukai oleh-Nya. Yaitu bahwa engkau telah dikaruniai

rasa cinta kasih kepada kaum yang lemah dan merasa senang mempunyai pengikut-pengikut seperti mereka. Sedang mereka juga merasa senang mempunyai pemimpin seperti engkau!"

Kemudian terbayang olehnya peristiwa wafatnya Rasul Allah s.a.w. di hadapannya, yaitu saat

beliau mengarahkan pandangan mata terakhir kepadanya. Kini bayangan wajah isterinya yang

telah lama mendahului --Siti Fatimah r.a.-- terpampang di pelupuk mata, yang pada saat itu

tampak sangat sedih. Dikarenakan kehancuran hati dan perasaannya, belum sampai seratus hari

isteri tercinta itu menyusul ayahandanya dalam usia belum mencapai 30 tahun. Kini Imam Ali

sedang teringat sewaktu mengantar kemangkatan isterinya menghadap Allah Rabbul'alamin,

yaitu saat ia berdiri di atas makamnya sambil menangis tersedu-sedu, kemudian pulang ke

rumah di petang hari dengan hati yang hancur luluh. Kesedihan abadi di malam pudar!

Terlintas pula dalam ingatannya, ketika Umar Ibnul Khattab r.a. menolehkan muka kepadanya

seraya berkata: "Demi Allah, bila engkau yang memimpin mereka --ummat muslimin-- engkau

pasti akan membawa mereka ke jalan yang benar dan ke cahaya yang terang benderang!" Di

telinga Imam Ali sekarang sedang mengiang-ngiang suara para sahabatnya, yaitu ketika mereka

berkata: "Pada masa hidupnya Rasul Allah s.a.w. kami mengenal orang-orang munafik dari sikap

mereka yang membenci anda!"

Ya…, bahkan Rasul Allah s.a.w. sendiri berkali-kali memperdengarkan ucapan: "Hai Ali, tidak

ada yang membencimu selain orang munafik!"

Saat itu Imam Ali teringat kepada kawan-kawan seperjuangan, ketika berjuang bersama-sama

dan bahu-membahu serta saling bantu di bawah pimpinan Rasul Allah s.a.w. Sekarang di antara

mereka ada yang masih terus berjuang dan ada pula yang sudah berkomplot melawan dia,

hanya karena didorong oleh ambisi hendak merebut kekuasaan dan kepemimpinan. Tetapi

mereka yang masih tetap menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, dan mereka yang masih

tetap setia membela kebajikan… alangkah bahagianya dan berkahnya mereka itu. Walaupun

mereka hidup terasing di dunia, dicampakkan oleh musuh-musuh kebenaran dan keadilan dan

dirintangi oleh kedzaliman berselimut ribuan cara.

Imam Ali sekarang sedang membayang-bayangkan wajah Abu Dzar, yang ketika itu mengenakan

serban kumal mencari-cari Rasul Allah s.a.w. untuk dapat mengabdikan diri kepada kebenaran

Allah s.w.t. Setelah itu Abu Dzar mencurahkan seluruh isi hati, fikiran dan perasaan serta

segenap jiwa raga kepada perjuangan membela kebenaran melawan kebatilan. Tetapi

perjuangannya yang gigih membela kaum madzlum, yang hidup sengsara, ternyata berakhir

dengan tragedi menyedihkan yang dibuka sumbatnya oleh Marwan bin Al-Hakam pada zaman

kekhalifahan Utsman bin Affan r.a. Ia kemudian diusir, dibuang dan dipencilkan sampai datang

ajal menjemput nyawa, dan sesudah semua puteranya mati lebih dulu di depan matanya. Isteri

Abu Dzar, seorang wanita baik hati, sewaktu menghadapi kemangkatan suaminya, ingin mati

lebih dulu agar tidak sampai "mengalami kematian dua kali!" Yaitu mati dalam hidup dan mati

sesudah hidup. Abu Dzar mati kelaparan dalam cengkeraman buas beberapa orang Bani

Umayyah yang sedang berdiri di atas hamparan emas.

Betapa sedihnya Imam Ali teringat kepada Ammar bin Yasir; seorang sahabat setia yang pada

hari-hari belum lama berselang mati terbunuh. Ammar benar-benar seperti saudara kandung

Imam Ali sendiri. Seorang yang hidup amat sederhana, penuh taqwa, jujur dan berani. Ia mati

terbunuh melawan gerombolan pemberontak Muawiyah di Shiffin.

Ya, dimanakah sekarang sahabat-sahabat Imam Ali? Teman-teman dan para sahabat yang dulu

menempuh jalan yang sama dan berdiri tegak bersama-sama memadu tekad untuk membela

kebenaran? Teman dan sahabat yang dulu tak pernah meninggalkan dia, tak pernah

mempergunjingkan dia, dan tak pernah berlaku buruk terhadap dirinya? Dimanakah mereka itu

semua? Mereka sekarang sudah banyak sekali yang bertolak belakang. Namun Imam Ali masih

tetap terus berkecimpung dalam perjuangan sengit melawan kedzaliman dan pelaku-pelakunya.

Imam Ali sekarang melaksanakan tugas perjuangan seorang diri, setelah dahulu dikerumuni oleh banyak sahabat dan pendukung setia. Perjuangan membela kebenaran dan keadilan melawan

suatu kaum yang mempunyai anak-anak liar dan pemuda-pemuda dekaden, sedangkan para

orang tua mereka tidak mendorong supaya mereka berbuat baik dan meninggalkan

kemungkaran. Suatu kaum yang hanya disegani oleh orang-orang yang takut berbicara, tidak

dihormati selain oleh orang-orang yang mengharapkan pemberiannya.

Alangkah kejamnya kehidupan ini, sehingga Imam Ali sampai detik-detik akhir hayatnya hanya

mengenal perjuangan dan penderitaan! Alangkah teganya kehidupan ini, sampai membiarkan

orang-orang yang baik hidup tersingkir satu demi satu, dan sampai bumi ini penuh dengan

kedzaliman dan kebathilan!

Aduhai, alangkah parahnya hari esok yang dibayangkan oleh Imam Ali dengan fikiran dan

perasaannya pada malam itu. Setelah malam itu lewat, apakah gerangan yang akan dialami

oleh pemimpin besar kaum muslimin itu? Seorang pemimpin yang dirugikan oleh kejujurannya,

tetapi ia tidak sudi berdusta walau akan memperoleh keberuntungan. Setelah malam itu lewat,

apalagi yang akan dialami oleh seorang pernimpin yang menjadi bapak orang banyak itu?

Seorang pemimpin yang lebih suka menderita di dalam kebenaran daripada hidup senang di

dalam kebatilan. Ya, setelah malam itu lewat, apalagi yang akan dialami oleh seorang

pemimpin yang berfikir dan berperasaan adil terhadap sesama manusia; dan seorang pemimpin

yang bekerja mengabdi kebenaran tak peduli apakah gunung-gunung akan runtuh ataukah bumi

akan longsor.

Alangkah gelapnya hari esok di mana si pandir akan merangkak berlagak pandai dalam suasana

penuh kedzaliman, agar orang-orang yang berkuasa mau menarik-narik ekornya dengan bangga.

Sedangkan kaum cerdik pandai yang tak mau mengikuti jejak orang-orang itu akan digilas

sampai pipih, kering dan remuk, kehabisan nafas dan tinggal saja merasakan siksa dunia.

Pendukung kedzaliman yang memerangi Imam Ali dengan otak, hati, lidah dan pedang, akan

dapat menjadi manusia yang hidup senang. Suasana sungguh sudah terjungkir balik, siang

disulap menjadi malam, dan kiri disulap menjadi kanan. Adapun pendukung keadilan yang

membela Imam Ali dengan otak, hati, lidah dan pedang, pasti akan menjadi orang-orang

sengsara, teraniaya dan dikepung penderitaan dari segenap jurusan!

Terbayang semuanya itu Imam Ali melinangkan airmata sambil mengusap-usap janggut.

Keheningan malam yang sunyi senyap seolah-olah ikut menangis teriring suara hembusan angin

sepoi-sepoi. Mata Imam Ali sampai membengkak karena terlampau banyak memeras airmata. Ia

kemudian mengarahkan pandangan ke bintang-bintang dan awan di cakrawala. Remang-remang

cahaya malam tanpa pandang bulu meratai kemegahan rumah-rumah kaum yang dzalim dan

gubuk-gubuk reyot kaum yang madzlum. Tanpa pilih kasih kegelapan malam itu menggenangi

orang-orang berhati dengki dan orang-orang berbaik hati yang sedang dirundung derita. Semua

mendapat perlakuan sama.

Setelah itu Imam Ali teringat kepada sikapnya sendiri terhadap kekayaan duniawi, kemudian

berucap: "Hai dunia…, hai dunia, rayulah orang selain aku!" Ya, benar-benar ia telah

menjungkir-balikan dunianya di depan wajah dunia!

Malam semakin kelam dan gelap bertambah pekat… Ia merasa hidup di dunia seolah-olah sudah

sampai di suatu tempat dimana ia harus berada seorang diri. Betapa sedihnya hidup di

permukaan bumi ini dalam sebuah rumah seorang diri, rumah yang sunyi senyap lagi terpencil.

Matanya dipejamkan sejenak, seolah-olah sedang menangkap desiran malam yang mengerikan.

Ia terkantuk mimpi melihat Rasul Allah s.a.w. Dalam mimpi ia bertanya kepada putera

pamannya itu: "Ya Rasul Allah, apakah yang harus kuperbuat terhadap ummatmu yang serong

dan saling bermusuhan?" Beliau menjawab: "Mohonlah pembalasan buruk bagi mereka hepada

Allah!" Imam Ali kemudian berdoa: "Ya Allah, gantilah mereka itu dengan orang-orang yang baik

bagiku, dan gantilah aku dengan orang yang lebih buruk bagi mereka!"

Dalam mimpinya itu ia pun melihat kaum fakir miskin dan kaum lemah lainnya bersama-sama

orang-orang yang kuat sedang berada di dalam sebuah bahtera oleng terpukul badai di tengah

lautan. Semua orang yang ada dalam bahtera itu cemas ketakutan menghadapi marabahaya di

kegelapan malam. Mereka dihempaskan ke sana dan ke mari oleh angin ribut.

Itulah akhir mimpi dan kenangan hidupnya menjelang subuh dini hari yang mengantar Abdur

Rahman bin Muljam datang menyelinap ke dalam masjid dengan senjata tajam di tangan. Dua

hari kemudian ia wafat, dan Ibnu Muljam bukannya berhasil membayar maskawin yang diminta

oleh perempuan jalang bernama Qitham binti Al Akhdar, melainkan ia harus membayar

petualangannya dengan nyawa sendiri!


PENUTUP

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. telah meninggal dunia. Di masa hidupnya, ia telah menempati

kedudukan tinggi dan terhormat dalam kehidupan ummat manusia. Pada dirinya terhimpun

nilai-nilai kebenaran, keadilan, keimanan, kepahlawanan, kebajikan dan kemuliaan.

Suatu thiraz (type) yang jarang terdapat di kalangan ummat manusia. Thiraz yang mempunyai

bobot abadi dan tak mungkin ditiadakan atau terlupakan. Karena ia mencerminkan hati nurani

kemanusiaan. Pada segala zaman dan di semua negeri, sejarah hidupnya selalu

mengumandangkan berita tentang kesetiaan yang sangat mengagumkan terhadap kebenaran.

Baik di masa kanak-kanak, di masa muda, maupun di masa tua, ia senantiasa tetap setia

kepada kebenaran. Kesetiaannya adalah kesetiaan seorang ahli ibadah, seorang prajurit,

seorang patriot, seorang penguasa. Kesetiaan yang tak pernah goyah dalam segala tingkat usia,

sungguh pun dalam keadaan yang berbeda-beda.

Kesetiaannya kepada kebenaran bukanlah kesetiaan yang dibuat-buat, tetapi kesetiaan

fithriyyah. Kesetiaan yang berdasarkan keyakinan, bukan kesetiaan karena keinginan

memperoleh manfaat. Kesetiaannya kepada kebenaran tercermin sekali dari sikapnya yang

sanggup mengalahkan keduniawian dan menundukkan bujuk-rayu serta rongrongannya.

Lihatlah ia menepung gandum sendiri! Lalu menggaruki ujung antan agar jangan ada sisa

tepung yang ketinggalan! Ia makan roti kering bercampur katul. Ia menjauhkan diri dari istana

imarah (pemerintahan) di Kufah. Ia lebih suka tinggal di gubuk terbuat dari tanah liat!

Mengapa?

Karena kesetiaannya kepada kebenaran tidak bisa disatukan dengan kemewahan duniawi!

Kegemarannya yang paling besar ialah meremehkan keduniawian dan menaklukan bujukrayunya

yang sangat dahsyat. Ia tidak sudi menyentuhkan tangan pada keduniawian dan tidak

tertarik sama sekali! Kepada rayuan duniawi ia senantiasa berkata tegas "Tidak!"

Setelah memegang urusan kaum muslimin, menjadi seorang Khalifah, kegemarannya itu

berubah menjadi kewajiban. Ia pernah berkata: "Apakah aku harus merasa puas disebut Amirul

Mukminin, sedangkan aku tidak menyertai kaum mukminin dalam masa kesusahan? Demi Allah,

seandainya aku mau, aku dapat memperoleh madu murni, gandum pilihan dan pakaian serba

halus. Tetapi, jauh nian aku bisa dikalahkan oleh hawa nafsu! Aku tidak sudi kekenyangan,

sedang di sekitarku banyak perut kelaparan, menderita dan sengsara."

Rasul Allah s.a.w. pernah mengatakan, bahwa kemiskinan mendekatkan orang kepada

kekufuran. Bertolak dari sini pulalah Imam Ali bin Abi Thalib r.a. muncul dengan sebuah

kalimat cemerlang: "Seandainya kemiskinan itu berupa orang, tentu ia sudah kubunuh!"

Sungguhpun Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sudah meninggal dunia, namun ia senantiasa hidup

dalam semua nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkannya sepanjang umur. Ia tetap akan hidup sebagai tauladan.

Merupakan keharusan bagi kaum muslimin, terutama bagi yang masih ada keturunan darah

Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. untuk bertauladan dari keutamaan kehidupan Imam Ali bin Abi

Thalib r.a.: kezuhudannya, kejujurannya, keadilannya, keksatriaannya, kerendahan hatinya,

kedermawanannya dan sembah sujudnya kepada Allah s.w.t.

Malahan bagi keturunan Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. dituntut lebih keras lagi bertauladan

kepada kehidupan Imam Ali r.a. Mereka tinggal mengikuti garis yang telah ada. Akan

merupakan penyimpangan, bila keturunan Ahlul-Bait Rasul Allah s.a.w. tidak berbuat demikian.

Bertauladan kepada keutamaan kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. berarti berjuang

menegakkan kebenaran dan keadilan, serta melawan kebathilan dan kedzaliman, dengan kata

lain beramar ma'ruf nahi mungkar. Menyerukan supaya orang berbuat benar dan adil sudah

merupakan satu perjuangan. Perjuangan mencegah kemungkaran, nahi mungkar, adalah lebih

berat daripada menyerukan orang berbuat benar dan adil. Sebab tantangan akan muncul dari

fihak yang hendak dicegah!

Sepanjang usianya enam puluh tiga tahun, Imam Ali bin Abi Thalib r.a. senantiasa ber-amar

ma'ruf nahi mungkar.

Akhirnya kami tutup tulisan ini dengan kesadaran, bahwa bila terdapat kekeliruan atau

kekurangan, itu adalah kekeliruan dan kekurangan kami. Sedangkan kebenaran buku ini kepada

Allah s.w.t. jua kembalinya.

Wa maa taufiqi illa billah alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib… Mudah-mudahan Allah s.w.t.

mengampuni dosa-dosa kami dan semoga Allah s.w.t., senantiasa memberi bimbingan, hidayah

dan taufiq-Nya kepada kami.

Amin ya Robbal 'alamin.


BIBLIOGRAFI

01. Al-Qur'anul Karim.

02. Al-Hadits Asy-Syarif (Shahih Bukhari & Muslim).

03. Ahlul-Bait (Taufiq).

04. Al-Mustadrak (Al-Hakim).

05. Al-Kamil (Ibnul Atsir).

06. Al-Isti'ab (Abu 'Umar Abdul Birr).

07. Al-Ansal (Abu 'Ubaidah Al-Mutsanna).

08. 'Abqariyyatu 'Ali ('Abbas Al 'Aqqad).

09. 'Aisyah Wa As-Siyasah (Sa'id Al-Afghani).

10. As-Sufyaniyyah (Abu 'Utsman Al Jahidz).

11. As-Saqifah (Abu Bakar Al-Jauhari).

12. As-Shawa'iqul Muhriqah (Ibnu Hajar).

13. Al-Ma'arij (Ibnu Qubaidah).

14. Al-Bayan Wat Tabyin (Al Jahidz).

15. Al-Jami'ush Shaghir (As-Sayuthi).

16. Abu Thalib ('Abdullah Al Khunaizi).

17. Al-Ausath (At-Thabrani).

18. Al-Khulafa-ur Rasyidun (Abdulwahhab An-Najjar).

19. Al-Fitnatul Kubra (Dr. Toha Husein).

20. Al-Husein bin 'Ali r.a. (HMH Al-Hamid).

21. 'Ali Wa Ashruhu (George Jordan).

22. Aalu Bait Ar-Rasul (Muhammad Kamil Al-Banna).

23. Al-Imam 'Ali (George Jordan).

24. Asadul Ghabah (Ibnul Atsir).

25. Al-Imamah Was Siyasah (Ibnul Qutaibah).

26. Fathimah Az-Zahra (HMH Al-Hamid).

27. Dzakha'ir Al-'Uqba (At-Thabariy).

28. Fi Rihab 'Ali (Khalid Muhammad Khalid).

29. Hayat Muhammad (Dr. Husein Haikal).

30. Maqatil At Thalibiyyin (Abu Faraj Al-Ashfahani).

31. Muruj Adz-Dzahab (Al-Mas'udiy).

32. Ksyful Ghammah (Asy-Sya'raniy).

33. Madhariyyatul Imamah (Dr. Ahmad Shubhiy).

34. Syarh Nahjil Balaghah (Ibnu Abil Hadid).

35. Sirah Al-Mushthafa (Hasyim Ma'ruf Al-Huseini).

36. Rabi'ul Abraz (Zamakhsyariy).

37. Thabaqat (Ibnu Sa'ad).

38. Tarikh (Ibnu Jarir).

***


Tentang penulis:

H.M.H. ALHAMID ALHUSAINI, dilahirkan di Tuban, Jawa Timur, pada tanggal 16 Agustus

1914. Setelah menyelesaikan pendidikan pertama melanjutkan pendidikan Agama di INAT,

Yaman Selatan pada tahun 1932-1935. Pada jaman penjajahan Belanda, Pendiri dan

Penerbit majallah "ALIRAN BARU" di Surabaya (1939-1941).

Seorang wiraswasta dan peneliti sejarah Islam, terutama tentang Ahlul-Bait. Bukunya

yang pertama Sitti Fatimah Azzahra diterbitkan pada tahun 1977. Buku kedua Al-Husain

bin Ali r.a. dan Kehidupan Islam Pada Zamannya cetakan pertama diterbitkan pada tahun

1978. Cetakan kedua pada tahun 1980. Bukunya yang ketiga Imam Ali bin Abi Thalib r.a

terbit pada tahun 1981 .


Table of Contents

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a. 1

Oleh. 1

H.M.H. Al Hamid Al Husaini 1

M U Q A D D I M A H.. 2

Bab I : Masa Asuhan. 10

Putera Ka'bah. 10

Nama dan Gelarnya. 13

Di bawah Naungan Wahyu. 14

Masa Kanak-kanak. 17

Masa Remaja. 19

Bab II : Lingkungan Keluarga  23

Ibunda. 24

Ayahanda. 25

Datukanda. 35

Bab III : Rumah Tangga Serasi 41

Puteri Kesayangan. 42

Hijrah ke Madinah. 44

Ijab-Kabul Pernikahan. 49

Rumah Tangga Sederhana. 53

Suami-Isteri Yang Serasi 55

Putera-puteri 60

Bab IV : PERANAN KEPAHLAWANAN   63

Membela Kebenaran. 65

Bab IV-1 : Perang Badr 70

Bab IV-2 : Perang Uhud. 72

Bab IV-3 : Perang Ahzab (Kandhaq) 78

Perjanjian Hudaibiyah. 84

Bab IV-4 : Perang Khaibar 88

Jatuhnya Makkah. 91

Bab IV-5 : Perang Hunain. 99

Bab V : WAFATNYA RASUL ALLAH S.A.W. 102

Pandangan Nubuwwah. 102

Jatuh sakit 104

Wasiyat 106

Wafat 110

Pemakaman. 113

Bab VI : KHALIFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ   118

Abu Bakar r.a. & Umar r.a. ke Saqifah. 122

Abu Bakar r.a. di Bai'at 127

Pendapat Imam Ali r.a. 129

Dialog Abu Bakar r.a. dengan Abbas r.a. 132

Kekhalifahan Abu Bakar r.a. 137

Bab VII : KHALIFAH UMAR IBNUL KHATTAB R.A. 141

Sukses dan Tantangan. 141

Memanggil calon pengganti 145

Penilaian. 148

Cara Pemilihan. 151

Bab VIII : KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN R.A. 154

Pelaksanaan Pemilihan. 154

Terbuka Kesempatan. 158

Dikorbankan. 162

Abu Dzar dibuang. 166

Krisis politik dan pemberontakan. 184

Gugur di tangan pemberontak. 190

Bab IX : DELAPAN HARI TANPA KHALIFAH   194

Duniawi kontra Zuhud. 194

Mencari Calon Pengganti 198

Imam Ali r.a. di Bai`at 200

Bab X : BENIH-BENIH PEPERANGAN SAUDARA   207

Perubahan Drastis. 207

Pertentangan terbuka. 217

Kampanye keji 220

Persiapan Thalhah & Zubair 224

Ke Bashrah. 229

Perang Unta. 238

BAB XI : PERANG SHIFFIN.. 249

Sikap Kufah. 249

Mesir Sebagai Imbalan. 254

Usaha mendamaikan. 260

Meletus. 265

Imam Ali r.a. Ditekan. 269

Penyimpangan Abu Musa. 281

Bab XII : GERAKAN KHAWARIJ  286

Imam Ali r.a. Digugat 287

Ke Nehrawan. 292

Jalan Kekerasan. 297

Bab XIII : WAFATNYA IMAM ALI R.A. 301

Perlawanan terhenti 301

Apa yang terjadi?. 304

Ajakan ke medan juang. 304

Serbuan Muawiyah ke Mesir 316

Teror Abdul Rahman bin Muljam.. 333

Wafat 337

Bab XIV : KEUTAMAAN IMAM ALI R.A. 343

Gelar Imam.. 343

Zahid. 348

Sikap Hidup. 357

Ibadah. 361

Jujur dan Adil 368

Ksatria. 381

Bab XV : PINTU ILMU.. 385

Fashahah dan Balaghah. 386

Nahwu. 388

Khutbah. 389

Tauhid. 390

Fiqh. 391

Tafsir 395

Tilawatil Qur'an. 396

Tarikat 400

Al-Kahfi 402

Penanggalan Hijriyah. 424

SEBUAH KENANGAN.. 426

PENUTUP. 438

BIBLIOGRAFI 441

Tentang penulis: 443