Kisah Kehidupan Imam Khomeini ra
Pengelompokan Sejarah & Biografi
sang penulis irib indonesia
Bahasa buku اندونزیایی
tahun cetak 1404

Kisah Kehidupan Imam Khomeini ra

 

 

 

 

 

 

 

 

Menurut Penuturan Sang Kakak, Ayatullah Sayid Morteza Pasandideh


 

Mengenal Ayah dan Kakek Imam Khomeini ra

 

Buyut Imam Khomeini

 

Ada baiknya terlebih dahulu kita membahas tentang buyut kami sebelum membahas yang lainnya. Buyut kami adalah Sayid Din Ali Shah. Beliau adalah keturunan Rasulullah dan bertempat tinggal di Kashmir. Tambahan kata ?Shah? di akhir namanya berarti ?Sayid?. Sebelumnya saya tidak mengetahuinya. Tapi teman-teman kami yang berasal dari Kashmir mengatakan, ?Kakek anda mencapai syahadah di sana. Beliau merupakan ruhaniwan dan tokoh agama di sana.? Teman-teman kami ini mengatakan bahwa para ulama dan masyarakat Kashmir mengetahui tentang masalah ini.

 

Kakek Imam Khomeini

 

Kakek kami bernama Sayid Ahmad putera Sayid Din Ali Shah. Beliau dikenal dengan sebutan Sayid Ahmad Hindi. Kira-kira pada tahun 1254 Hq atau tahun 1217 Hs Almarhum Sayid Ahmad Hindi dari Najaf dan Karbala pergi ke Khomein dan tinggal di sana atas permintaan para peziarah Khomein, khususnya Yusuf Khan Farfahani, salah seorang tuan tanah desa Khomein dan penduduk Farfahani, sebuah daerah di dekat Khomein.

 

 

Pernikahan Sayid Ahmad

 

Ketika Sayid Ahmad datang ke Khomein, beliau menikah dengan Sakinah Khanum, saudari perempuan Yusuf Khan. Ayah Sakinah Khanum bernama Mohammad Hossein Beig.

 

Anak-Anak Sayid Ahmad

 

Dari pernikahan Sayid Ahmad dengan Sakinah Khanum, Allah menganugerahi tiga putri dan satu putra. Ketiga putrinya lebih besar dari putrannya. Putranya bernama Sayid Mostafa. Sayid Mostafa adalah ayah kami.

 

Selain itu Sayid Ahmad juga memiliki seorang putra dari istri lainnya. Putranya lebih besar dari semua anaknya. Namanya Sayid Morteza. Ia dikenal dengan sebutan Sayid Agha. Ia meninggal dunia ketika masih muda dan masih lajang. Sayid Morteza dilahirkan di rumah besar tempat tinggal kami di Khomein dan meninggal dunia di sana sebelum tahun 1288 Hq.?? Kami tidak pernah melihat beliau.

 

Bila melihat tanda tangan paman kami Sayid Morteza, beliau adalah orang yang berilmu dan pandai. Beliau memiliki stempel tanda tangan yang biasa di pakai untuk menandatangani. di stempel tersebut tertulis ?Ar-Raajii Ilaa Allahi al-Ghina Morteza bin Ahmad al-Mousavi?. Dari situ kelihatan bahwa beliau adalah orang yang berilmu dan berpendidikan. Tahun wafat Sayid Morteza 1287 Hq atau 1288 Hq.

 

Seseorang bernama Khajeh Naser Mahallati dalam sebuah buku menuduh paman kami Sayid Morteza. Ia menulis dalam bukunya bahwa Sayid Agha melanggar fatwa Mirza Shirazi yang mengharamkan rokok dan ia menghirup keliyun di pasar Qazvin. Padahal paman kami meninggal sepuluh tahun sebelum dikeluarkannya fatwa haramnya tembakau. Ketika muncul fatwa diharamkannya tembakau, paman saya sudah meninggal.

 

Tiga putri bibi kami antara lain; Soltan Khanum, Saheb Khanum dan Agha Banu Khanum.

 

 

Istri Sayid Ahmad

 

Almarhum Sayid Ahmad, selain memiliki istri yang bernama Sakineh Khanum, nenek kami. Beliau juga memiliki dua istri lainnya. Yang satu bernama Shirin Khanum putri Agha Abid Golpaygani dan satunya lagi Bibi Jan Khanum putri Karbalai Sabze Ali Khomeini.

 

Di antara dua istri ini saya tidak tahu yang mana ibunya Sayid Morteza? Tapi saya tahu ibunya Almarhum Syahid Agha Sayid Mostafa adalah Sakineh Khanum.

 

 

Wasiat Sayid Ahmad, Kakek Imam Khomeini

 

Kakek kami berwasiat agar seluruh harta kekayaannya, kecuali satu bagian, dibagikan kepada putranya (dua bagian) dan putrinya (sepertiga). Untuk bagian putra paling besarnya Sayid Morteza ada dalam catatan lain.

 

Dua bagian untuk ayah kami dan untuk bibi-bibi kami, masing-masing mendapat satu bagian. Semantara kakek sendiri hanya mengambil satu bagian. Bila setelah itu Allah memberikan anak kepadanya maka beliau akan memberikan kepada anaknya dan bila tidak lagi mendapatkan anak, maka bagiannya akan digunakan untuk biaya prosesi kematiannya nanti.

 

Wasiat lainnya, hendaknya jenazahnya dibawa ke Karbala dan dimakamkan di sana dan biaya pemindahan jenazah ke Karbala sangat besar. Karena diangkut dengan kuda dan sebagainya. Bahkan memerlukan waktu selama satu bulan pulang pergi.

 

Selain itu beliau menyisahkan uang sebanya 23 Toman untuk biaya pembayaran shalat dan puasa qadha dan tidak ditentukan untuk berapa tahun.

 

Alhasil, surat wasiat itu sampai saat ini masih ada. Biaya pengangkutan jenazah ke Karbala sebesar 1o Tuman.

 

Almarhum Sayid Ahmad sangat memperhatikan masalah-masalah keagamaan. Suatu hari ada orang pemerintahan Khomein hendak mencelakakan seorang pemuda. Melihat itu, kakek kami datang dengan membawa pedang untuk menyelamatkan pemuda tersebut.

 

Sayid Ahmad meninggal dunia sekitar akhir tahun 1285 atau 1286 Hq dan pada masa itu semua anaknya masih hidup.

 

Ayah Imam Khomeini

 

Ayah kami Syahid Agha Mostafa lahir ketika matahari terbit pada hari Kamis 29 Rajab 1278 Hq bertepatan dengan tanggal 10 Bahman 1241 Hs di Khomein, di rumah yang nantinya saya dan Imam Khomeini serta yang lainnya dilahirkan. Ayahnya (kakek kami) meninggal dunia ketika beliau masih berusia 8 tahun.

 

Almarhum Agha Mostafa adalah anak bungsu Sayid Ahmad.

 

 

Pendidikan Ayah

 

Ayah kami belajar di sekolah kuno yang disebut dengan Maktab Khaneh. Setelah menyelesaikan pelajaran di Maktab Khaneh, beliau belajar bersama almarhum Agha Mirza Ahmad Khansari yang bertempat tinggal di Khomein dan putra almarhum Akhond Haj Mulla Hossein Khansari. Setelah itu beliau pergi ke Isfahan dan belajar bersama ulama Isfahan.

 

Beliau menikah dengan putri Agha Mirza Ahmad yang bernama Hajieh Agha Khanum.

 

Saudara-saudara laki Hajieh Agha Khanum antara lain almarhum Mirza Mohammad Mahdi dan Agha Mirza Abdul Hossein. Keduanya adalah mujtahid lulusan Najaf dan merupakan pimpinan ulama Khomein dan sekitarnya.

 

Saudara laki-laki lainnya sebagai imam shalat jamaah di Khomein dan yang lainnya bekerja sebagai penghulu di kantor catatan sipil kota Kamareh.

 

Kemudian Ayah dan ibu bersama putri sulungnya yang bernama Auliya Khanum yang lahir pada tahun 1305 Hq pergi ke Najaf. Beliau melanjutkan pendidikan ilmiahnya di sana.

 

Almarhum Agha Mostafa, ayah kami dari Hajieh Agha Khanum hanya memiliki 3 putri dan 3 putra. Dari sisi usia bila diurut antara lain; Auliya Khanum, Fathimah, Morteza, Nuruddin, Aghazadeh Khanum, Rouhullah. Dari dua istri lainnya tidak punya anak. Saudara-saudara perempuan kami menikah dengan ulama dan keturunan Rasulullah di Khomein dan Imamzadeh Yujan Khomein. Sebagian dari ipar kami adalah seorang ulama dan mujtahid,? satu lagi keturunan Rasulullah dan orang terhormat, dan ipar ketiga kami adalah almarhum Mirza Baqirkhan Mostoufi. Semuanya adalah penduduk Khomein dan desa Kamareh, hanya Agha Baqir Shams saja yang penduduk Imamzadeh Yujan.

 

Berdasarkan pelbagai dokumen, data dan buku ayah kami (sayangnya pasca kebangkitan semuanya dicuri dan tidak ada lagi), ayah kami telah mencapai derajat mujtahid dan mendapat gelar Fakhrul Mujtahidin dan punya ijazahnya. Gelar-gelar semacam ini dicantumkan di dalam sertifikat.

 

 

Kembalinya Ayah Imam ke Khomein

 

Yang jelas pada tahun 1312 sampai 1320 Hq almarhum Agha Mostafa berada di Khomein. Selama berada di Khomein, beliau sangat berpengaruh. Beliau memiliki banyak pembantu dan pengikut serta menjadi rujukan masyarakat dalam menyelesaikan urusan dan permasalahan mereka. Beliau tidak saja menjadi rujukan untuk menyelesaikan urusan duniawi, tapi juga urusan pengadilan. Dalam menyelesaikan urusan pengadilan beliau bersikap adil seperti yang dilakukan oleh keseluruhan ulama zaman itu; salah satunya adalah almarhum Akhond Mulla Mohammad Javad, paman ibu kami.

 

 

Sebab Syahadahnya Ayah

 

Ayah kami senantiasa mencegah dan melawan pelbagai bentuk kezaliman para pezalim dan sangat serius dalam masalah ini. Para kepala suku dan anak-anak raja memiliki kekuatan. Di seluruh penjuru Iran mereka memiliki kekuatan, senjata dan bersikap diktator. Mereka senantiasa memaksakan kehendaknya kepada para pejabat dan selanjutnya para pejabat pun memaksakan kehendaknya kepada masyarakat. Siapa saja yang berhasil memaksakan kehendaknya, maka ia akan melakukannya.

 

Ayah kami senantiasa menghadapi dan melawan para diktator, para pembunuh dan penyerang. Beliau tidak mengizinkan mereka berbuat semaunya sendiri. Suatu hari salah satu pembantu ayah kami yang bernama Haj Qambar Ali ditangkap oleh para pezalim itu. Ayah kami mempertahankannya dan dengan paksa berhasil membebaskan Haj Qambar Ali. Kemudian ayah kami berhadap-hadapan dengan mereka. Karena tuntutan masyarakat salah satu dari pezalim yang bernama Bahram Khan ditangkap oleh Heshmat al-Dawlah dan dimasukkanya ke penjara. Setelah beberapa lama di penjara akhirnya ia meninggal dunia.

 

Setelah kejadian itu para kepala suku menciptakan kerusuhan dan kejahatan, namun ayah kami tetap melawannya. Yang membuat mereka mentang-mentang adalah karena mereka memiliki hubungan famili dengan Shadr ul-Ulama, karena Abbas Khan adalah menantu Shadr ul-Ulama dan pamannya termasuk kepala suku di Khomein. Abbas Khan, Agha Mirza Abd ul-Husein (paman kami dari ibu) dan Agha Nadim at-Tujjar adalah para menantu almarhum Shadr ul-Ulama. Dengan demikian, para pembunuh ayah kami yakni Ja'far Qouli Khan dan Reza Qouli Soltan (ayah dan paman Abbas Khan) memiliki hubungan dekat dengan Shadr ul-Ulama.

 

Wakil al-Ri'aya dan Amin al-Ri'aya juga memiliki hubungan famili dengan mereka. Oleh karena itu, para kepala suku yang diketuai oleh Bahram Khan, Reza Qouli Soltan dan Ja'far Qouli Khan hanya memiliki satu musuh yaitu ayah kami almarhum Agha Mostafa. Mereka ingin memusnahkan beliau. Mereka berpikir bahwa dengan membunuh ayah kami, maka kami tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Karena kami dan saudara-saudara yang lain masih berusia di bawah tujuh sampai delapan tahun dan Agha Khomeini saat itu masih? berusia empat bulan dan para wanita pun tidak bisa berbuat apa-apa. Para ulama yang lainnya termasuk almarhum Akhond Mulla Mohammad Javad meski tidak ada hubungan famili dengan mereka tapi tetap hati-hati serta tidak melawan kezaliman mereka. Dengan demikian tidak ada seorangpun yang berani melawan mereka. Sehingga dengan memusnahkan Agha Mostafa, dengan mudah mereka bisa berbuat semaunya sendiri terhadap masyarakat.

 

 

Kisah Terbunuhnya Ayah Imam Khomeini ra

 

Tahun itu adalah tahun 1320 Hq. Adhudassoltan pada waktu adalah gubernur Soltan Abad Arak. Khomein, Golpaigan, Khansar dan sekitarnya juga berada di bawah kekuasaan Adhudassoltan.

 

Untuk menyampaikan berita dan kondisi kacau Khomein dan desa-desa sekitarnya, ayah kami Sayid Mostafa pergi menemui Adhudassoltan. Sekelompok pasukan berkuda dan bersenjata juga pergi bersamanya. Satu lagi rombongan yang mendampingi ayah adalah keponakannya yang bernama almarhum Imam Qouli Khan bersama pasukan berkuda dan bersenjatanya. Dan satu rombongan yang lainnya adalah pembantu beliau yang bernama Karbalai Mirza Agha dan Karbalai Mohammad Taqi.

 

Para pembunuh ayah kami adalah Jakfar Qouli Khan dan Reza Qouli Soltan. Sebelumnya, mereka berdua berada di Khomein dan mengabarkan kepada ayah bahwa mereka akan ikut bersama beliau untuk menemui Adhudassoltan. Mereka berdua mau mengajukan lamaran kerja sebagai pegawai pemerintah.

 

Kepada mereka ayah berkata, ?Kalian tidak perlu ikut! Saya yang akan menentukan kerja pemerintahan untuk kalian!?

 

Secara lahir mereka menampakkan persetujuannya untuk tidak pergi.

 

Tampaknya istri Abbas Khan (putri Sadr ul-Ulama) atau perempuan lain yang memberitahukan kepada ayah dan berkata, ?Mereka berniat jahat terhadap anda. Berhati-hatilah!?

 

Ayah berkata, ?Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa! Memangnya mereka anjingnya siapa mau melakukan hal itu??

 

Kemudian ayah berangkat pergi ke Arak bersama almarhum Sarim Lashkar, keponakannya dan beberapa pasukan bersenjatanya dengan perjalanan yang ditempuh selama dua hari. Tujuan ayah adalah ingin menjelaskan kepada pemerintah bahwa kondisi di Khomein tidak aman dan pemerasan merajalela di mana-mana dan hal ini harus dicegah dan diberantas.

 

Rombongan ayah berjalan di bagian belakang beliau. Hanya dua orang yang mendampingi beliau di bagian depan. Salah satunya adalah Karbalai Mirza Agha, ayah perempuan yang mengasuh Imam Khomeini dan satunya lagi adalah Karbalai Mohammad Taqi.

 

Ketika sampai di sebuah penampungan air yang ada di dekat sebuah desa, muncul dua orang penunggang kuda. Ketika keduanya mendekat, ternyata keduanya adalah Jakfar Qouli Khan dan Reza Qouli Soltan.

 

Dikatakan kepada mereka, ?Bukannya sudah diputuskan bahwa kalian tidak boleh datang? Mengapa kalian sekarang datang??

 

Mereka berkata, ?Kami tidak tahan berpisah dari anda. Kami datang untuk membantu anda!? selain itu mereka juga membawa permen dan menawarkannya kepada ayah. Seketika itu juga salah satu dari keduanya mengambil senjata dari pundak Mirza Agha (saat itu tidak ada yang memegang senjata selain Mirza Agha) dan langsung menembakkan peluru ke arah dada ayah dan mengena tepat pada jantungnya. Ayah langsung jatuh dari atas kuda. Al-Quran yang ada di saku ayah juga berlubang karena tembakan peluru itu.

 

Setelah itu para pembunuh langsung melarikan diri.

 

Tanggal syahadah ayah kami, Agha Mostafa 12 Dzulqa'dah 1320 Hq atau 21 Bahman 1281 Hs.

 

Rombongan para pendamping yang masih ada di belakang saat mendengar suara tembakan langsung mendekati ayah dan membawa pulang jenazahnya ke Arak. Para ulama dan penduduk Arak bersama almarhum Haj Mu'tamadussaadat seorang penduduk Khomein yang tinggal di Arak datang dan melawat jenazah ayah sampai ke Arak. Di sana diumumkan libur umum. Jenazah ayah dimakamkan untuk sementara di dekat makam almarhum Haj Agha Mohsen sampai ketika dipindahkan ke Najaf.

 

Syahid Sayid Mostafa ketika mencapai syahadah berusia tidak lebih dari 42 tahun dan pada waktu itu Imam Khomeini masih berusia 4 bulan 22 hari dan saya sendiri berusia 7 tahun 20 hari.

 

Alhasil, setelah itu diadakanlah acara duka baik di Khomein, Isfahan, Golpaigan maupun di Tehran. Najmul Wa'idin seorang mubaligh terkenal Tehran juga ikut hadir dalam acara duka. Saya ingat ketika itu usia saya belum sampai delapan tahun dan saya naik ke atas rumah dan saya duduk di sana menyaksikan banyak orang hadir berduyun-duyun datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Mereka datang berkelompok-kelompok dalam barisan duka.

 

Masyarakat betul-betul marah sehingga mereka membakar rumah para pembunuh ayah. Saya sendiri waktu itu berada di atas menara rumah menyaksikan rumah mereka terbakar dan asapnya mengepul ke udara.

 

 

Kisah Para Pembunuh Ayah Imam Khomeini ra

 

Dua pelaku pembunuhan; Jakfar Qouli Khan dan Reza Qouli Soltan setelah menembakkan peluru, melarikan diri ke salah satu desa Aligudarz dan meminta perlindungan kepada Said Khan tapi ditolak. Sepertinya mereka pergi ke rumah Khan Baba Khan atau Said Khan, tapi ditolak. Akhirnya mereka kembali ke Khansar dan pergi ke rumah seorang mujtahid besar kota itu yaitu Marhum Haj Mirza Muhammad Mah di Khansari, salah seorang ulama besar dan berpengaruh. Tapi mujtahid ini juga tidak menerima mereka. Mereka terpaksa kembali dan pergi ke benteng Yujan yang berjarak dua farsakh dari Khomein dan bersembunyi di sana. Benteng dan apa yang ada di dalamnya adalah milik mereka sendiri.

 

Pada waktu itu Sardar Heshmat putra Heshmat Dauleh mendapatkan perintah dari Perdana Menteri Atabak untuk menangkap para pelaku pembunuhan. Sardar Heshmat mengajak para pasukan penunggang kuda dan penembak pergi ke desa Imamzadeh Yujan. Nosratullah Mirza Sardar Heshmat di Imamzadeh Yujan pergi ke rumah almarhum Shamsul Ulama, salah satu famili ibu kami dan di sana dijamu dengan baik. Dari sana ia mau pergi ke benteng Yujan yang jaraknya kira-kira tidak sampai 20 meter dari Imamzadeh. Sampai saat ini bangunan benteng besar beserta dinding-dinding dan pintu gerbangnya masih ada dan utuh.

 

Ketika para pasukan berkuda memasuki Imamzadeh Yujan, para pelaku pembunuhan ini menembaki mereka dari atas menara benteng, namun tidak sampai terkena masyarakat dan hanya terkena tanah dan barang-barang yang ada.

 

Beberapa hari berlalu, Sardar Heshmat memerintahkan penggalian terowongan untuk masuk ke benteng menangkap mereka. Ketika itu peluru mereka habis dan tidak lagi bisa menembak. Karena pintu benteng tertutup, pasukan Sardar Heshmat memasang tangga dan naik ke atas benteng lalu menangkap Jakfar Qouli Khan di sana. Selain itu salah satu istri pelaku pembunuhan ini juga berada di sana dan ditangkap juga. Mereka dirantai dan dibawa ke Tehran dipenjara dan harta kekayaannya disita. Reza Qouli Khan mati sebelum ditangkap sementara Jakfar Qouli Khan ditangkap dan dipindahkan ke Tehran lalu dipenjara di sana.

 

Menteri Istana Mozaffaruddin Shah asal Tabriz adalah pendukung para pelaku pembunuhan dan berkata, ?Yang lalu biarlah berlalu dan mereka tidak boleh dibunuh.? Dan pada hari Asyura 1322 Hq ia memerintahkan para penduka Turki datang untuk membebaskan pelaku pembunuhan. Dari sisi lain, Atabak memerintahkan agar pelaku pembunuhan dipindahkan ke penjara besar supaya tidak ada orang yang bisa membebaskannya.

 

Kemudian berdasarkan hukum yang ditetapkan oleh para ulama Arak kepada imam shalat Jumat Tehran almarhum Agha Sayid Abolqassem dan saudaranya almarhum Zahirul Islam dan saudaranya itu, almarhum Sayid Mohammad, semuanya bergerak untuk menghukum mati para pelaku pembunuhan dan diselenggarakan juga pertemuan di Tehran. Dalam pertemuan itulah masalah pembunuhan ayah kami dibicarakan.

 

Menuntut Hukuman Mati Para Pembunuh Ayah Imam Khomeini ra

 

Pada tahun 1322 saya dan adik laki-laki saya pergi ke Tehran, tapi Imam Khomeini tidak ikut, karena usianya belum sampai dua tahun. Di Tehran di daerah Abbas Abad kami menyewa sebuah rumah. Dari sanalah kami melakukan tuntutan kepada para pejabat istana dan Ainud Dauleh dan yang lain-lainnya.

 

Bahkan suatu hari kami sempat berkunjung ke rumah almarhum Haj Mirza Abulqassem, imam Jumat Tehran. Para pengabdi kami juga menyertai kami. Doktor Imami Ma'ruf, putra Haj Mirza Abolqassem juga berada di sana dan seusia dengan saya. Seorang ibu juga duduk di kursi, tampaknya ia merupakan keluarga imam Jumat. Di sana kami berbincang-bincang, sementara almarhum imam Jumat dan saudara-saudara lakinya sangat banyak membantu kami.

 

Najmul Vaezin dalam acara duka membicarakan tentang syahadah ayah kami (karena waktu itu Muharram dan Shafar) dan masyarakat juga mendukungnya. Sebagaimana sudah dikatakan, hanya satu orang saja dari para pejabat istana yaitu menteri istana Mozaffaruddin Shah yang menentang hukuman untuk para pelaku pembunuhan. Namanya Amir Bahador Jang dan anak saudara lakinya menjadi penyambung antara Mohammad Reza Shah dan Shariatmadari. Ia disebut dengan Bahadori.

 

Bagaimanapun juga Amir Bahador Jang tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak berhasil mewujudkan konspirasinya membebaskan para pelaku pembunuhan.

 

Suatu hari saya bersama adik laki saya dan para pendamping antara lain; bibi, ibu, ibu tiri, almarhum Agha Mirza Sayid Mohammad Kamareh-i, Najmul Vaezin dan Haj Sheikh Fazlollah Rajai pergi ke pekarangan milik Ainud Dauleh. Sebuah pekarangan yang sangat luas. Kemudian kami melihat Ainud Dauleh keluar dari penjara. Ia berjalan dibarengi banyak pendamping. Kami maju ke arah Ainud Dauleh. Kepada Ainud Dauleh saya diperintahkan untuk berbicara, ?Bila anda adil, kami tidak adil! Kami sendiri yang akan membunuh pelaku pembunuhan! Serahkan kepada kami pelaku pembunuhan!?

 

Waktu itu saya masih kecil dan umur saya tidak lebih dari tujuh-delapan tahun. Bagaimanapun juga saya bersama ibu dan bibi-bibi saya maju ke depan. Kepada para pembantunya Ainud Dauleh memerintahkan, ?Mundurlah kalian ke belakang, supaya para wanita dan saudari-saudari ini mendekat dan menyampaikan kata-katanya!?

 

Mereka minggir dan saya memegang qabanya (pada tahun-tahun itu memakai baju panjang) dan meyampaikan ucapan yang diajarkan kepada saya. Dia menjawab, ?Saya akan membunuh pelaku pembunuhan, percayalah! Tapi Shah (raja) sendiri saja tidak membunuh pelaku pembunuhan ayahnya di bulan Muharram dan Shafar. Oleh karena itu, bersabarlah sampai Muharram dan Shafar, maka saya akan membunuh pelaku pembunuhan!?

 

Kami tidak menerima dan berkata, ?Kami tidak akan pergi dari pekarangan ini dan berunjuk rasa di sini sampai para pelaku pembunuhan dihukum mati!?

 

Dia berkata, ?Saya berjanji kepada kalian dan bila kalian menerima ucapan saya, kalian tidak akan menyianyiakan waktu saya dengan kaki saya yang sakit ini. Saya berjanji kepada kalin, percayalah!?

 

Kami berkata, ?Kami tidak akan pergi dari sini!?

 

Dia berkata, ?Baiklah!?

 

Kemudian ia memerintahkan, ?Beritahu Zahirul Islam agar datang ke sini dan menyediakan tempat untuk mereka.? Dan memberi isyarat dengan tangan kanannya ke sebuah gedung yang kelihatan dari tempat itu dan berkata, ?Rapikan tempat itu untuk mereka.? Dan dia sendiri pergi.

 

Zahirul Islam datang. Perawakannya tinggi. Jenggotnya kuning dan usinya mungkin tidak lebih dari 40 tahunan. Ia datang dan meyakinkan kami untuk tinggal di sana dan menjanjikan bahwa pelaku pembunuhan pasti akan dihukum mati. Kamipun keluar dari pekarangan dan pergi ke rumah itu dan menunggu.

 

Tidak berapa lama akhirnya Mozaffaruddin Shah memerintahkan putranya Mohammad Ali Mirza (putra mahkota) untuk datang ke Tehran dari Tabriz. Rencananya ia akan pergi ke Eropa. Mohammad Ali Mirza datang ke Tehran dan Ainud Dauleh bersama Mozaffaruddin Shah pergi ke Eropa serta wakilnya Ainud Dauleh yakni Mashirus Soltaneh.

 

Mashirus Soltaneh adalah seorang darwis dan bagian dari darwis-darwisnya tempat peribadatan Shah Nikmatullah.

 

Di bulan Rabiul Awal 1323 Hq, kami diberitahu agar datang ke Shamsul Imareh tempat tinggal Mohammad Ali Mirza. Kami dibawa ke dalam ruangan kaca yang keseluruhannya berhias kaca-kaca cermin kecil, ruang tamu putra mahkota. Ketika kami masuk ke ruangan kaca, Mohammad Ali Mirza sendiri tidak ada. Tapi para sekretaris dan pejabat lainnya duduk di sana sibuk bekerja. Kami melewati lorong depan kamar-kamr sampai ke ruangan kaca tersebut. Kami duduk di sana. Tidak seberapa lama kemudian datanglah seseorang dan berkata, ?Yang Mulia Mohammad Ali Mirza berkata, ?Bilang sama Agha Morteza dan Agha Nuruddin (saya dan adik laki saya) untuk datang, saya ingin menemui mereka, tapi jangan ada yang membarengi.?

 

Kami berdua pergi kepada Mohammad Ali Mirza di Shamsul Imareh. Kami sampai di sebuah kolam renang besar, setelah itu sebuah bunderan besar penuh dengan pepohonan dan di sanalah Mohammad Ali Mirza berdiri. Kami dibawa mendekati dia dan sudah ditetapkan bahwa pelaku pembunuhan akan didatangkan dan dihukum mati. Ketika Mohammad Ali Mirza melihat kami, ia memerintahkan supaya kami kembali.

 

Pelaku pembunuhan dibawa ke halaman Shamsul Imareh dalam keadaan dirantai. Ia sangat gemuk. Ia bersumpah, ?Saya tidak membunuh dan saya difitnah.? Dan lain sebaginya. Kami pergi bersama Mir Ghazab dan pelaku pembunuhan ke bunderan Tubkhaneh. Saya dan adik laki-laki saya tidak diizinkan, tapi yang lain pergi. Kemudian ternyata pelaku pembunuhan sudah dibawa ke bunderan Baharestan. Tempat kepala kepolisian dekat bunderan Baharestan dan di sanalah Mir Ghazab memenggal leher pelaku pembunuhan. Kemudian Mir Ghazab membawa kepala pelaku pembunuhan dan pergi ke pasar meminta hadiah dari para pemilik toko.

 

Setelah hukuman mati dilaksanakan, kami kembali ke Khomein. Tanggal hukuman mati pelaku pembunuhan 4 Rabiul Awal 1323 Hq (19 Ordebehesht 1284 Hs)

 

 

Menyita Harta Kekayaan Pelaku Pembunuhan

 

Pemerintah memerintahkan agar harta kekayaan pelaku pembunuhan disita. Kemudian Agha Sayid Mohammad Kamareh-i, saudara perempuan, ibu dan ibu tiri dan bibi saya meminta supaya harta kekayaan mereka dikembalikan kepada ahli waris pelaku pembunuhan dan keluar dari penyitaan.

 

Koran Adab dan Berita Syahadahnya Ayah Imam Khomeini ra

 

Koran Adab adalah sebuah surat kabar tentang sastra dan politik. Koran ini dicetak di bawah pengawasan Adib al-Mamalik. Pada edisinya tanggal 10 Rabiul Awal 1323 Hq koran ini mengeluarkan sebuah artikel tentang peristiwa syahadah ayah kami. Artikel itu ditulis secara rinci oleh Almarhum Mujiddul Islam Kermani dengan judul ?Ruh-e Tadayyun va Jauhar-e Tamaddun? (ruh keberagamaan dan inti peradaban).

 

Di sini perlu saya peringatkan terkait sebuah buku yang ditulis oleh Rabbani Khalkhali tentang kisah-kisah syuhada seratus tahun terakhir. Dalam buku itu disebutkan juga tentang kisah syahadah ayah kami. Penulis buku menukil dari Agha Haj Sheikh Ali Akbar Masoudi Khomeini bahwa Fulan (yakni saya) mengatakan, ?Bahram Khan adalah pembunuh ayahnya.?? Padahal Bahram bukan pembunuh ayah bahkan dia sendiri saat itu juga terbunuh.

 

Kesalahan lainnya juga ada dan sebaiknya dibetulkan dalam cetakan selanjutnya. Di antaranya adalah di situ ditulis bahwa Shahib Khanum adalah saudara perempuan Ayatullah al-Udzma Imam Khomeini, padahal ia adalah bibinya Imam (bibi dari ayah) bukan saudara perempuannya.


 

Kelahiran Imam Khomeini ra

 

 

Tanggal Kelahiran Imam Khomeinie ra

 

Sebelumnya telah kita sebutkan tentang tempat kelahiran Imam Khomeini ra. Intinya di rumah dan kamar tempatnya Imam Khomeini dilahirkan, saya dan almarhum saudara kami, Agha Hindi dan saudara-saudara perempuan kami juga dilahirkan di sana. Kecuali saudara perempuan kami yang paling tua Maulud Khanum, saya tidak tahu apakah ia lahir di Najaf ataukah di Khomein.

 

Di dalam KTP Imam Khomeini yang bernomor 2744, tanggal lahirnya tertulis 1279 Hs, tapi sebenarnya beliau lahir pada tanggal 20 Jumadil Tsani 1320 Hq. Kendati di buku Jannaat al-Khuluud, tertulis 18 Jumadil Tsani, dan ini adalah salah.

 

Yang benar adalah Imam Khomeini lahir pada tanggal 20 Jumadil Tsani 1320 Hq. Identitas ini juga tercatat dalam surat kelahirannya: Nama Famili: Mostafavi, nama Ayah: Agha Mostafa, nama Ibu: Khanum Hajar

 

KTP ini dikeluarkan di Golpaygan oleh Jafari Nejad, Kepala Kantor Catatan Sipil dan tahun dikeluarkannya adalah 1305 Hs.

 

Di Balik Penamaan Famili yang Berbeda antara Imam Khomeini ra dan Saudara-Saudaranya

 

Pada tahun 1304 Hs, pejabat kantor catatan sipil datang ke rumah kami untuk menetapkan nama famili kami.

 

Kepala kantor cacatan sipil Hossein Ali Bani Adam adalah seorang pribadi bijak, beragama dan santun. Kepada saya ia berkata, ?Pilihlah nama famili yang belum pernah dipakai orang di Iran, karena tidak boleh memiliki nama famili yang sama dengan orang lain.?

 

Kami bermaksud memilih nama famili berdasarkan nama ayah kami yaitu ?Mostafavi?. Namun mereka berkata, ?Tidak bisa?. Oleh karena itu saya memilihi nama famili ?Hindi? dan adik laki-laki kami yang paling kecil Nuruddin juga menyetujuinya. Tapi karena ?Hindi? punya unsur ketergantungan kepada orang-orang Inggris, mereka berkata, ?Ganti saja nama famili ini!? Saya pun menyetujuinya dan mengusulkan nama famili paman dari ibu kami yaitu ?Ahmadi?. Mereka berkata, ?Tidak bisa, karena tidak boleh memakai nama Arab.?

 

Saya memilih lima sampai enam nama famili Persia dan saya kirimkan ke Tehran. Di Tehran, di antara nama-nama itu ?Pasandideh? yang dipilih. Dengan demikian nama famili saya adalah ?Pasandideh? dan nama famili saudara laki-laki kami yang lain tetap ?Hindi?. Dan nama famili Imam Khomeini sejak awal adalah Mostafavi. Oleh karena itu, kami bertiga memiliki nama famili yang berbeda.

 

 

Masa Kanak-Kanak Imam Khomeini ra

 

Imam Khomeini melewati masa kanak-kanaknya di Khomein. Seorang wanita mukmin bernama Khavar yang sering kita panggil dengan Naneh Khavar (Mama Khavar) adalah pengasuh dan yang menyusui Imam Khomeini. Naneh Khavar merupakan seorang wanita yang sangat layak dan pemberani. Suaminya bernama Karbalai Mirza Agha, seorang penembak dan pembantu ayah kami. Ia juga sangat pemberani. Ia seorang penunggang kuda? yang mahir dan ahli menembak. Rumah mereka tidak jauh dari rumah kami.

 

 

Pendidikan

 

Imam Khomeini belajar di Maktab Khaneh (sekolah)nya Akhond Mulla Abulqassem. Mulla Abulqassem adalah seorang lelaki tua pemilik Maktab Khaneh di dekat rumah kami. Saya juga belajar kepada beliau. Di Maktab Khaneh, setiap hari setiap murid membaca setengah juz dari al-Quran. Dan siapa saja yang berhasil mengkhatamkan al-Quran, maka ia akan menyelenggarakan syukuran dengan memberikan jamuan makan siang kepada murid-murid yang lainnya dan Mulla.

 

Imam Khomeini berhasil mengkhatamkan al-Quran pada usia tujuh tahun. Setelah itu beliau belajar satra Persia dan bahasa Arab kepada Syeikh Jakfar, sepupu ibu kami. Setelah itu, beliau belajar pendidikan umum kepada Mirza Mahmoud Iftikharul Ulama. Kemudian memulai pelajaran pendahuluan hauzah kepada Almarhum Haj Mirza Mohammad Mahdi, paman kami dari ibu. Kemudian memulai belajar mantiq (logika) kepada Almarhum Mirza Reza Najafi (ipar kami). Selanjutnya beliau belajar kepada saya Mantiq, Muthawwal dan Suyuthi. Tulisan beliau sangat mirip dengan tulisan saya. Tulisan nasta'liq saya sangat bagus. Suatu hari saya menulis setengah dari lembaran kertas dan setengahnya lagi beliau yang melanjutkan. Karena saking miripnya tidak seorang pun bisa membedakan tulisan ini.

 

Intinya, Imam Khomeini berada di Khomein sampai usia 16 atau 17 tahunan. Dan kebanyakan beliau belajar pelajaran pendahuluannya kepada saya. Kemudian pada tahu 1339 beliau pergi ke Arak. Pada masa itu Almarhum Haj Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi, pendiri hauzah ilmiah Qom berada di Arak. Almarhum Haj Agha Nurullah Iraqi menurut pandangan masyarakat lebih tinggi dari Haj Sheikh Hairi. Pada masa itu Imam pergi ke Soltanabad, Arak dan belajar Syarh Lum'ah kepada Almarhum Sheikh Mohammad Golpaygani dan Almarhum Agha Abbas Araki.

 

Pada bulan Rajab tahun 1340 Hq (tahun baru 1300 Hs), Almarhum Ayatullah Haj Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi dari Arak pindah dan berhijrah ke Qom. Imam juga menyusul beliau pindah ke Qom. Yakni pulang terlebih dahulu ke Khomein kemudian pergi ke Qom.

 

Di Qom, Imam Khomeini belajar Muthawwal kepada seorang sastrawan asal Tehran. Namanya Almarhum Mirza Mohammad Ali. Beliau belajar tingkat Suthuh (tingkat menengah hauzah) kepada Haj Sayid Muhammad Taqi Khansari dan sebagian besarnya beliau belajar kepada Almarhum Sayid Ali Yatsribi Kashani salah satu ulama besar (saudaranya imam jumat Kashan masa itu). Sebagian besar Bahts Kharej (kuliah tingkat mujtahid) beliau belajar kepada Almarhum Ayatullah Haj Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi. Sedangkan untuk ilmu-ilmu irfan beliau belajar kepada Almarhum Mirza Muhammad Ali Shahabadi.

 

Selama Almarhum Ayatullah Haj Sheikh Abdolkareem Hairi Yazdi masih hidup (1355 Hq) Imam Khomeini senantiasa hadir di kelas pelajaran ulama besar ini. Sementara tingkat keilmuan ImamKhomeini sudah sangat tinggi dan beliau sendiri juga mengajar fiqih dan ushul. Beliau juga mengajar irfan dan filsafat secara privat kepada sebagian murid-muridnya yang pandai.

 

Setelah wafatnya Ayatullah Haj Sheikh Abdolkareem Hairi, Ayatullah Boroujerdi datang ke Qom. Meski tingkat keilmuan Imam Khomeini sangat tinggi, beliau tetap ikut hadir di pelajaran Ayatullah Boroujerdi karena ingin memasyhurkan beliau dan berkata, ?Saya sangat banyak mendapatkan pelajaran dari beliau.?

 

Sekalipun demikian, atas desakan Almarhum Syahid Murtadha Mutahhari dan yang lainnya, Imam Khomeini mulai mengajar pelajaran fikih dan ushul di masjid Salmasi dan tidak meninggalkan mengajar pelajaran irfan. Pelajaran kuliah yang diajarkan oleh Imam Khomeini banyak di hadiri ulama.

 

Imam Khomeini memiliki kejeniusan dan kecerdasan yang luas biasa. 20 tahun pertama dari usianya dipergunakan untuk belajar dan mendalami sastra. Dari tahun 1340-1347, beliau mengalami peningkatan keilmuan yang sangat tinggi bahkan telah menyelesaikan kitab Asfar al-Arbah dan terhitung sebagai ulama yang hebat di hauzah ilmiah.


 

Keluarga Imam Khomeini ra

 

Pernikahan Imam Khomeini ra

 

Imam Khomeini ra pada tahun 1308 menikah dengan Khadijah Khanum putri almarhum Hujjatul Islam Agha Saqafi. Istri Imam Khomeini lahir pada tahun 1292 Hs. Acara pernikahan diselenggarakan di Tehran. Pada waktu itu kami menginap di rumah salah satu teman kami. Ia seorang perwira yang sangat baik. Setelah selesai acara pernikahan, Imam Khomeini bersama istrinya kembali ke Qom.

 

 

Anak-Anak Imam Khomeini ra

 

Anak sulung Imam Khomeini ra adalah almarhum Haji Agha Mostafa yang dilahirkan pada tahun 1309 Hs. Dia adalah seorang laki-laki yang sangat rapi, punya keberanian, faqih, pemberani dan menguasai masalah-masalah politik dan sosial.

 

Selain itu Imam Khomeini juga memiliki tiga orang putri antara lain; Seddigheh Khanum, Farideh Khanum dan Fahimeh Khanum. Dua putri lainnya telah meninggal dunia bernama Latifeh Khanum dan Saideh Khanum.

 

Seorang putra lainnya Imam Khomeini adalah Haj Ahmad Agha. Dia juga menguasai masalah-masalah politik dan sosial. Pendidikannya juga baik.


 

Orang-orang yang Seusia dengan Imam Khomeini ra

 

 

Dalam segala urusan Imam Khomeini senantiasa lebih hebat dan lebih unggul dari semua orang yang seusia dengannya meski dalam permainan anak-anak, urusan hiburan dan olah raga. Saat ini tidak lebih dari tiga orang yang seusia dengan Imam Khomeini yang masih hidup.

 

1.  Agha Mirza Asadollah? Sabiri.

Dalam beberapa waktu ia menjabat sebagai ketua baladiyeh Khomein.

 

2.  Agha Mirza Hasan Khan Mostoufi.

Ia adalah putra bibi (saudari ibu) kami. Dia tinggal di Tehran dan mendapat tugas penting dari para pejabat sebelumnya.

 

3.  Seseorang yang bertetanggaan dengan kami di Khomein.

Menurut saya dia bernama Agha Salimi. Sampai saat ini juga setiap saya pergi ke Khomein dia selalu menyampaikan rasa simpatinya ingin menziarahi Imam Khomeini. Tiga orang ini banyak memiliki informasi tentang masa-masa bermain dan sekelas dengan Imam Khomeini ra.


 

Perjuangan Politik Imam Khomeini ra

 

Sikap-sikap politik Imam Khomeini ra dan perjuangannya bukan hal yang baru dan terjadi secara tiba-tiba, akan tetapi sejak dahulu beliau senantiasa mengetahui masalah politik. Hal ini bisa disaksikan pada pesan-pesan Imam Khomeini sejak lebih dari empat puluh tahun yang lalu. Buku Kasyf al-Asyrar juga merupakan salah satu bukti lain dari pengertian ini. Pada masa-masa ketika almarhum Agha Boroujerdi memegang kepemimpinan hauzah, beliau senantiasa bermusyawarah dan berbicara dengan Imam Khomeini terkait masalah-masalah politik dan menanyakan pendapat Imam. Pada intinya Imam Khomeini melakukan perjuangan politik sejak dahulu dan dengan berani beliau menentang program-program yang bertentangan dengan syariat Islam.

 

Terkait perjuangan Imam Khomeini di bidang keilmuan, meski banyak ditulis dalam buku-buku sejarah tapi boleh jadi dalam masalah ini terjadi beberapa kesalahan. Oleh karena itu, saya akan menyampaikan beberapa kenangan.

 

Pada saat Doktor Ali Amini menjabat sebagai perdana menteri atas dukungan Amerika, sebenarnya Shah Pahlevi dan Inggris tidak menyetujuinya. Doktor Amini telah terpilih sebagai perdana menteri dan istilahnya dia harus melakukan Reformasi Tanah dan menyerahkan tanah-tanah kepada para petani di dareah-daerah Iran. Oleh karenanya, ia menemui para marji di Qom dan rencanaya juga akan menemui Imam Khomeini. Pada waktu saya juga berada di sana.

 

Agha Said putra almarhum Haj Mirza Abdullah Chehelsotouni juga berada di sana. Ia datang bersama salah satu mubalig terkenal Tehran yang juga memiliki hubungan dengan Amini untuk memaksa Imam Khomeini agar menghormati Amini.

 

Agha Mohammad Gilani juga berada di ruang tamu menemui Imam Khomeini. Kedua tangannya dikeluarkan dari Aba (jubah)nya dan duduk dengan sangat sopan. Kepada Agha Gilani saya berkata, ?Ketika Doktor Amini datang, jangan duduk seperti itu dan jangan keluarkan tangan anda dari Aba!?

 

Imam Khomeini berkata:

 

?Agha Mohammadi Gilani senantiasa seperti ini. Beliau selalu duduk seperti ini dan sangat sopan.?

 

Sampai sekarang beliau juga tetap demikian, selalu rapi dalam berpakaian dan berakhlak mulia.

 

Alhasil, Doktor Amini datang. Ketika dia sampai di pintu ruang tamu, Agha Said putra almarhum Haj Mirza Abdullah memaksa Imam Khomeini seraya berkata, ?Bangun! Berdirilah dan lakukan penghormatan!?

 

Imam tidak mempedulikannya. Amini pun saat tiba di depan pintu membuka tali sepatunya sambil mengulur-ulur waktu supaya agak lama berharap Imam Khomeini berdiri bangun dan melakukan penghormatan kepadanya. Namun Imam tidak melakukan itu.

 

Amini datang bersama Shariful Ulama Khorasani dan masuk ke ruang tamu. Ketika keduanya masuk dan duduk, Imam Khomeini baru berdiri dan kemudian segera duduk kembali.

 

Sebelumnya Agha Masoudi bertanya, ?Apakah kita perlu menyiapkan kue??

 

Imam tidak menyetujui dan berkata:

 

?Suguhi Gaz (kue khas kota Isfahan Iran) satu wadah saja dan letakkan di depannya. Tidak perlu kue lainnya!?

 

Ketika Amini duduk, ia ingin membuka pembicaraan. Namun Imam tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk berbicara dan Imam sendiri yang memulainya dengan nasihat. Kemudian Imam mengakhirinya dan mengucapkan selamat tinggal dan kemudian mereka pergi.


 

Reza Shah Melarang Acara Peringatan Asyura

 

Ketika Reza Pahlevi melarang acara peringatan Asyura, pejabat Khomein mendatangi rumah kami dan berkata, ?Kalian tidak boleh memperingati Asyura!?

 

Saya bersama Imam Khomeini pergi jalan-jalan ke sebuah pekarangan milik Haj Morteza (salah satu pedagang Khomein). Di sana diadakan acara peringatan Asyura. Saya berdiri di sebelah kanan dan petugas rezim Pahlevi ini saya posisikan di sebelah kiri saya. Hanya saya yang bisa melihat acara duka itu. Petugas itu hanya bisa melihat sungai saja dan tidak melihat acara duka itu.

 

Ketika kami pergi ke desa Dambareh, petugas rezim Pahlevi berkata, ?Di sini ada acara duka?? Kami membuka pintu pekarangan dan masuk ke dalamnya, baru saja acara duka selesai. Pejabat ini tahu bahwa telah diadakan acara duka di pekarangan itu. Namun dia tidak banyak mempermasalahkan.

 

Pada masa itu juga, di Qom di rumah Haj Mirza Abdullah Chehelsotouni Maruf ada acara duka. Saya bersama Imam Khomeini pergi ke rumah beliau. Ketika sampai di gang, Imam Khomeini berjalan lebih cepat daripada saya. Saya merasa takjub. Di depan pintu rumah ada seorang petugas rezim Pahlevi dan berkata, ?Di sini tidak ada acara duka.?

 

Imam Khomeini menjawab:

 

?Saya tahu tidak ada acara duka. Kami datang untuk menemui Haj Mirza Abdullah dan tidak ada urusan dengan acara duka. Kami datang untuk menemui beliau.?


 

Penangkapan Imam Khomeini ra

 

Satu di antara malam-malam memuncaknya aktivitas politik dan perlawanan Imam Khomeini terhadap pemerintah, saya berada di rumah beliau. Kepada saya Imam Khomeini berkata:

 

?Malam ini Anda jangan tinggal di sini. Ada kemungkinan malam ini mereka akan menangkap saya. Oleh karena itu sebaiknya anda pergi saja ke rumah saudara kita Agha Hindi!?

 

Akhirnya saya pergi juga ke rumah saudara kami Agha Hindi, tapi kami sangat khawatir apa yang akan terjadi pada Imam Khomeini. Pagi pun tiba dan kami balik kembali ke rumah Imam dan alhamdulillah, malam itu tidak terjadi apa-apa dan tidak ada orang yang datang ke rumah beliau.

 

Beberapa hari berikutnya, bertepatan dengan 12 Muharram 1383 Hq/15 Khordad 1342 Hs. Petugas pemerintah datang ke Qom dan menangkap Imam Khomeini kemudian membawanya ke gedung tempat para perwira Tehran dan sore hari itu juga beliau diserahkan ke asrama tentara Qasr. Setelah 19 hari berada di asrama tentara Qasr, beliau dipindahkan ke asrama Eshrat Abad dan dipenjarakan di sana.

 

Perlu disebutkan bahwa ketika Imam Khomeini berada di asrama tentara, banyak ulama dari Qom dan kota-kota lainnya datang ke Tehran untuk menyambangi Imam dan semua itu sangat menguntungkan beliau. Selain ulama Qom, dari Mashad almarhum Agha Milani, dari Hamedan almarhum Mulla Ali Hamedani sebagai pelopor ulama Hamedan, dari Ahvaz Agha Ramhormozi Behbahani (termasuk ulama besar di sana), dari Isfahan, Shiraz dan kota-kota dan daerah-daerah lainnya banyak ulama besar datang ke Tehran terkait masalah ini.

 

Almarhum Agha Haj Sayid Ali Ramhormozi yang dikenal juga dengan sebutan Ayatullah Behbahani datang ke rumah almarhum Haj Agha Reza Zanjani (saudara Sayid Abul Fazl Zanjani). Saya juga datang menemui beliau. Beberapa ulama lainnya juga ada di sana. Ketika kami berkumpul di sana, para petugas pemerintah datang dan meminta Agha Behbahani untuk pergi dari sana. Beliau menjawab, ?Tidak ada ucapan yang perlu saya sampaikan.? Agha Shariatmadari juga berada di sana sedang berbicara melalui telpon dengan salah satu pejabat tinggi yang kelihatannya dari Lembaga Keamanan, ?Agha Behbahani akan pergi dengan sendirinya. Sampaikan kepada para petugas pemerintah untuk tidak mengganggu beliau.? Akhirnya petugas itu diminta oleh mereka untuk tidak mengganggu Agha Behbahani. Para petugas pemerintah itupun akhirnya pergi dan Agha Behbahani masih tetap tinggal kemudian pergi juga dari sana.

 

Agha Shariatmadari dan yang lainnya juga pergi. Hanya saya, Syahid Haj Syeikh Fazlollah Mahallati, almarhum Agha Behbahani Ramhormozi dan Agah Haj Agha Reza Zanjani yang tinggal dan duduk di ruangan. Saat itu saya melihat ada seorang ruhaniwan turun dari tangga balkon rumah Haj Agha Reza Zanjani mendatangi kami. Agha Haj Syeikh Fazlollah Mahallati yang duduk tepat di samping saya berkata, ?Sebaiknya anda pergi dan jangan berada di sini.?

 

Saya berkata, ?Lalu bagaimana, orang itu sedang menuju ke sini.?

 

Beliau berkata, ?Orang itu tidak seharusnya datang ke sini. Dia adalah salah satu keluarga Behbahani yang punya hubungan dekat dengan pemerintah. Pertemuannya dengan anda tidak memberikan kebaikan sama sekali.?

 

Sayapun bangun berdiri dan pergi dari sana. Alhasil pertemuan-pertemuan seperti ini sering diadakan dan kamipun ikut serta di dalamnya. Selain itu kami juga punya hubungan dengan Imam secara rahasia. Terkadang kami mengirimkan pesan untuk Imam dan sebaliknya beliau juga mengirimkan pesan untuk kami. Almarhum saudara kami Agha Hindi juga bisa bertemu dengan Imam melalui perantara-perantara tertentu. Saya meminta untuk bertemu dengan Imam Khomeini, tapi tidak diizinkan. Tapi ketika Imam Khomeini ditahan di Eshrat Abad, saya berhasil menemui Imam Khomeini melalui seorang perantara, keponakan Nasiri (Kepala Polisi waktu itu). Pada saat itu saya meminta untuk menemui Imam Khomeini dan Nasiri pun mengizinkan. Saya bersama salah satu teman pergi menemui Imam Khomeini di Eshrat Abad.

 

Ketika kami sampai di depan pintu asrama tentara, mereka mengatakan, mobil tidak boleh masuk ke halaman asrama. Kami turun dari mobil dan berjalan melalui halaman asrama. Halaman pertama bagian kiri adalah gedung tempat tinggal para polisi. Ketika kami sampai di dalam, hanya ada dua kursi. Satu kursi diduduki oleh kepala asrama dan satunya lagi saya duduki. Saya meminta kepadanya untuk bisa bertemu dengan Imam Khomeini. Dia berkata, ?Tunggu dulu sampai putra Agha Mahallati keluar. Ia sedang menemui ayahnya kemudian giliran anda menemui Imam Khomeini.?

 

Begitu sampai pada giliran kami, kepala asrama mendamping kami menemui Imam. Kepada saya dia berkata, ?Anda hanya bisa berbicara tentang keadaan dan kondisi kalian dan jangan berbicara tentang masalah politik dengan Imam Khomeini!?

 

Saya menjawab, ?Baiklah. Saya sendiri tahu.?

 

Ketika kami masuk menemui Imam, di sana ada sebuah halaman yang terpisah dengan halaman sebelumnya hanya saja tidak ada dindingnya. Para penjaga mendatangi Imam dan mengabarkan kalau kami datang. Mereka kembali dan berkata, ?Imam sedang shalat.?

 

Kepala Asrama berkata, ?Kami pergi ke salah satu ruangan menunggu sampai Imam selesaikan shalatnya.?

 

Tidak lama mereka mengabarkan, ?Imam sudah selesai shalat.?

 

Kemudian kami masuk ke ruangan Imam dan Imam turun dari amben dan duduk di kursi dekat saya. Kepala asrama berdiri bersama dua orang penjaga. Saya berbicara dengan Imam dan menyampaikan semua yang harus saya sampaikan. Selain itu saya berkata, ?Agha Shariatmadari ingin bertemu dengan anda, anda setuju ataukah tidak??

 

Beliau berkata, ?Tidak masalah.?

 

Saya berkata, ?Agha Najafi Marashi juga menyampaikan salam untuk anda.?

 

Beliau berkata, ?Memangnya beliau datang ke Tehran??

 

Saya berkata, ?Iya. Baru saja datang dan sekarang berada di rumah Ayatullah Khansari.?

 

Beliau berkata, ?Mengapa beliau datang??

 

Saya berkata, ?Ada urusan.?

 

Kemudian saya berkata, ?Agha Yavari dan Agha Bahrul Ulum juga datang dari Rasht. Ayatullah Amoli (waktu itu berada di Tehran) juga menyampaikan salam. Agha Milani juga datang dan menyampaikan salam.?

 

Dan saya menyebutkan satu persatu nama-nama ulama sehingga beliau tahu bahwa semuanya sedang berkumpul di Tehran. Kemudian saya bertanya, ?Apakah anda mengizinkan saya untuk membagikan uang bulanan para pelajar hauzah Qom secara teratur??

 

Beliau menjawab, ?Iya.?

 

Saya berkata, ?Kelihatannya Agha Amoli meminta anda untuk menginzinkan pasar-pasar Tehran dan pasar-pasar kota lainnya yang selama ini tutup dibuka kembali.?

 

Imam berkata, ?Memangnya libur??

 

Saya berkata, ?Iya, libur.?

 

Beliau berkata, ?Bukalah! Tidak masalah.?

 

Saya berkata, ?Hauzah ilmiah juga libur. Anda menginzinkan pelajaran dimulai lagi??

 

Beliau berkata, ?Iya.?

 

Tujuan saya dalam perbincangan ini adalah ingin memberitahukan kepada Imam tentang kondisi negara yang paling penting dan dampak penangkapan beliau. Imam betul-betul mengetahui kondisi yang ada, kemudian kami berpisah dan kembali ke rumah untuk ikut hadir dalam pertemuan-pertemuan.

 

Agha Milani punya sebuah pekarangan dan rumah di jalan Amirieh. Kami datang menemuinya. Kepada putranya dia berkata, ?Telpon Pakravan (Kepala SAVAK saat itu) dan sampaikan bahwa saya ingin berbicara dengannya!?

 

Putranya pergi kemudian datang kembali dan berkata, ?Pakravan tidak ada.?

 

Agha Milani berkata, ?Bilang, suruh cari Pakravan! Aku harus berbicara dengannya.?

 

Akhirnya Pakravan berhasil ditemukan dan dia berkata, ?Saya akan datang pada hari... (menentukan hari pertemuan).?

 

Kemudian kepada saya Agha Milani berkata, ?Ketika dia datang ke sini, pada hari itu Anda juga harus datang ke sini!?

 

Saya berkata, ?Pada hari dan jam itu, Agha Khansari berjanji akan datang ke rumah saya.?

 

Dia berkata, ?Saya juga akan menelpon Agha Khansari supaya datang juga ke sini bersama Anda.?

 

Akhirnya pada hari yang telah ditentukan itu, Agha Khansari datang bersama Agha Rasouli ke rumah saya dan Agha Milani menelpon, kemudian kami bertiga pergi ke rumah Agha Milani.

 

Datanglah hari yang ditunggu-tunggu. Kami berada di rumah Agha Milani berkumpul di sebuah ruangan. Agha Amoli, Agha Alavi (menantu Agha Boroujerdi), Agha Shariatmadari dan Agha Jazairi juga berada di sana. Tiba-tiba Pakravan datang. Bapak-bapak ini sangat menghormatinya. Ia duduk dengan sombong di antara Agha Milani dan Agha Shariatmadari.

 

Sambil marah-marah ia menghadap ke bapak-bapak dan berkata, ?Mengapa kalian datang ke Tehran? Mengapa kalian tidak kembali? Keluarlah kalian dari Tehran! Di sini adalah pemerintahan militer dan mengadakan pertemuan dilarang oleh pemerintahan militer. Kalian harus kembali ke rumah masing-masing! Bila kalian tidak mau kembali ke rumah masing-masing, maka pemerintahan militer akan melakukan kewajibannya!?

 

Mereka diam. Agha Shariatmadari membisiki Agha Milani, ?Silahkan Anda berbicara!?

 

Agha Milani tidak berbicara. Seketika itu juga Agha Alavi menantu Agha Boroujerdi dengan penuh rasa marah balik membalas ucapan Pakravan dan berkata, ?Kondisi apakah yang Anda ciptakan ini? Apa yang mau Anda lakukan? Anda tidak akan bisa mengasingkan Imam Khomeini ke tempat tertentu! Perkara ini mustahil untuk Anda lakukan. Jauhi perbuatan-perbuatan buruk Anda...!?

 

Setelah itu, Agha Jazairi juga berbicara kepada Pakravan dengan penuh rasa marah. Akhirnya Pakravan keluar dan pergi dari rumah Agha Milani.

 

Tidak lama kemudian, keluarlah hukum pembebasan Imam Khomeni, Agha Qommi dan Agha Mahallati. Kedua orang ini telah dibebaskan dan Imam Khomeini juga rencananya akan dibebaskan.

 

Melalui Agha Panahi (menantu saudari kami, ia tinggal di Eshrat Abad sebagai seorang guru dan bukan militer, tapi gurunya para militer) kami mengirim surat kepada Imam Khomeini.

 

Saya menulis surat itu demikian:

 

?Rencananya anda akan dibebaskan hari ini. Pakravan akan datang ke sana untuk membebaskan Anda dan akan membawa Anda ke rumah Nejati. Nejati bukan orang yang baik dan tidak baik bila Anda ke sana. Oleh karena itu jangan mau.?

 

Saya berikan kertas surat itu kepada Panahi dan dia memberikannya kepada Imam Khomeini. Jawaban Imam:

 

?Kita tidak punya jalan lain kecuali harus pergi ke rumah Nejati. Tapi di sana tidak akan lebih dari semalam. Setelah itu kita harus mencari rumah. Untuk sementara pergi ke sana tidak masalah.?

 

Ketika Imam Khomeini sebentar lagi akan dibebaskan, saya menyuruh menantuku almarhum Ir. Keshavarz untuk pergi ke Eshrat Abad bersama saudara kami Agha Hindi menunggu Imam Khomeini di depan pintu masuk. Namun para petugas pemerintah tidak mengizinkan mereka untuk menunggu di sana, akhirnya mereka kembali.

 

Tidak lama kemudian mereka membebaskan Imam Khomeini dan membawanya ke rumah Nejati. Kamipun menyusul ke sana. Ketika sampai di sana, masyarakat memenuhi jalan itu. Polisi-polisi baik yang berkendaraan maupun jalan kaki melakukan penjagaan kepada masyarakat, tapi mereka tidak sampai mengganggu seorang pun.

 

Ketika sampai di sana, saya masuk rumah menemui Imam. Beliau duduk dan sejumlah orang berada di sana antara lain, Agha Falsafi, Agha Qommi dan Agha Mahallati. Beberapa saat saya berada di sana. Begitu waktu shalat tiba, saya ingin mengambil wudhu, namun karena airnya di sana tidak sampai satu kur, (dan saya sendiri menurut istilah orang-orang termasuk waswas) maka saya pamitan dan kembali ke rumah.

 

Untuk yang kedua kalinya ketika saya mau kembali menjenguk Imam, para petugas pemerintah melarang saya. Akhirnya terpaksa saya harus pergi bersama anak saudari Dr. Nasiri dan teman kerjanya, Ir. Mohtashami. Saya pergi bersama mereka naik mobil keponakan Dr. Nasiri. Keponakan Nasiri sendiri tidak akur dengan Nasiri, tapi mereka punya kerjasama dengan Ir. Mohtashami. Karena saya tahu mobil mereka tidak akan dihalangi, makanya saya naik mobil bersama mereka.

 

Ketika sudah turun dari mobil, para petugas pemerintah tetap melarang. Akhirnya Ir. Mohtashami dan yang lainnya sepertinya Ir. Keshavarz kembali. Saya sendiri tidak menghiraukan ucapan para petugas dan tetap masuk menemui Imam.

 

Setelah itu, rencananya Imam harus keluar dari rumah itu dan mencari rumah di Qeitariyeh. Agha Haj Roughani meminta agar Imam Khomeini tinggal di rumahnya. Akhirnya Imam Khomeini dipindahkan ke sana. Kami hanya berempat diberi izin bisa menemui Imam, sementara yang lainnya tidak diizinkan. Para petugas pemerintah berdiri berjaga-jaga di depan gedung agar masyarakat tidak mendekat.?

 

Setelah tinggal di rumah Agha Haj Roughani, Imam tinggal di rumah lainnya dan di sana kami melakukan pertemuan dengan beliau. Sampai akhirnya setelah beberapa lama Imam dibebaskan dan kembali ke Qom.

 

Perlu saya sebutkan bahwa tanggal dipindahkannya Imam Khomeini dari penjara ke rumah Nejati adalah hari pembebasan Imam Khomeini dari penjara yaitu 12 Rabiul Awal 1382 Hq bertepatan dengan 11 Mordad 1342 Hs.


 

Rencana Pembunuhan Imam Khomeini ra

 

Ketika yang pertama kalinya Imam Khomeini ditangkap dan ditahan di penjara Qasr kemudian dipindahkan ke penjara Eshrat Abad, dalam bentuk apapun Shah Pahlevi ingin membunuh Imam Khomeini. Namun sebagian orang-orang dekatnya menentang.

 

Salah satu dari mereka adalah Alam. Abbas Mirza putra Sardar Heshmat yang memiliki hubungan dengan Muhammad Reza Shah dan juga kenal dekat dengan kami, kepada Alam dia berkata, ?Pembunuhan Ayatullah Khomeini pada masa Shah, untuk Anda dan ayah Anda merupakan sebuah noda sejarah dan kenangan buruk ini akan abadi selamanya. Ini perbuatan yang salah. Jangan biarkan Shah melakukan kesalahan ini.?

 

Alam berkata kepada Shah, ?Perbuatan ini tidak baik.?

 

Shah berkata, ?Tidak. Pokoknya pembunuhan ini harus dilaksanakan.?

 

Kemudian Pakravan menemui Shah dan berkata, ?Jangan lakukan perbuatan ini!?

 

Shah marah dan kepada Pakravan sembari berkata, ?Lakukan apa saja sesukamu!?

 

Akhirnya masalah pembunuhan dibatalkan.


 

Pengasingan Imam Khomeini ra ke Turki

 

Setelah Imam Khomeini ra kembali ke Qom, beliau tidak menyia-nyiakan waktunya dan langsung memulai kembali aktivitas pengabdiannya. Kendati beliau sibuk mengajar, di sisi lain tetap melakukan penentangan terhadap kondisi yang ada. Karena tujuan dari kabinet pemerintahan saat itu untuk melemahkan ulama dan Islam serta menentang Islam. Oleh karena itu, Imam Khomeini selalu memantau masalah ini dan tetap menentangnya. Sehingga akhirnya pemerintah bertindak lain, yaitu mengasingkan Imam Khomeini ra ke Turki.

 

Kejadian ini terjadi pada tahun 1343 Hs, ketika draf kekebalan hukum warga Amerika atas nama kapitulasi diratifikasi secara rahasia oleh pemerintah. Kemudian, draf ini diserahkan secara rahasia juga kepada anggota parlemen dan disepakati oleh Majlis Syura Nasional dan Senat.

 

Saya mendapatkan kabar bahwa masalah ini sedang dibicarakan secara rahasia di pemerintahan dan majlis. Oleh karena itu, saya mengutus Agha Haj Sheikh Ali Sohrabi Reihani Khomeini untuk menemui Imam Khomeini ra. Saya mengirimkan surat untuk beliau bahwa masalah kapitulasi telah dibicarakan secara rahasia di majlis dan pemerintahan dan mereka juga ingin meratifikasinya. Saya juga mengirim surat kepada Ayatullah Golpaygani dengan perantara Agha Sohrabi.

 

Imam Khomeini ra membalas surat itu demikian:

 

?Kirimkan kepada saya teks draf yang sedang dibicarakan supaya saya mengetahuinya dan saya tidak akan membiarkannya tetap tersembunyi. Tapi saya akan bertindak dan membongkarnya.?

 

Saya menjawabnya bahwa saya tidak berhasil mendapatkan teks drafnya, namun saya hanya mendapatkan kabarnya saja. Dalam surat selanjutnya Imam Khomeini menjawab:

 

?Saya sendiri telah mendapatkan draf itu dan saya tidak akan membiarkan masalah ini dibicarakan secara rahasia.?

 

Oleh karena itu, pada hari Rabu bulan Aban tahun 1343 Hs bertepatan dengan tanggal 20 Jumadi Tsani 1384 Hq, hari kelahiran Sayidah Fathimah az-Zahra as, yang juga hari kelahiran Imam Khomeini, dengan rasa khawatir beliau berpidato secara rinci membongkar masalah kapitulasi dan memberitahukannya kepada masyarakat.? Beliau menjelaskan masalah kapitulasi dengan gamblang dan berapi-api. Kaset rekaman pidato beliau disebarkan ke seluruh Iran.

 

Beberapa hari berikutnya tepat pada tanggal 13 Aban 1343 Hs, para petugas rezim Pahlevi mengepung rumah dan menangkap Imam Khomeini. Mereka mengendarai mobil Cevrolet dan membawa Imam Khomeini ke Tehran. Ketika matahari terbit 13 Aban, beliau diasingkan ke Turki didampingi oleh Kolonel Afzali petugas SAVAK.

 

Radio mengumumkan berita pengasingan Imam Khomeini ra. Koran-koran juga menulis berita pengasingan ini. Begitu masyarakat mendengar berita ini, seketika itu juga mereka meliburkan pasar-pasar, tapi tidak keluar dan berkumpul ke jalan-jalan untuk menghindari agar tidak terjadi konflik yang mengakibatkan pembunuhan massal.

 

Pemerintah benar-benar marah sehingga memaksa para petugasnya untuk menyegel toko-toko para pedagang terkenal Tehran. Tapi di sisi lain mereka masuk ke dalam sebagian toko-toko melalui atap dan merampok harta kekayaan orang-orang Mukmin.

 

 

Penangkapan Ayatullah Haj Agha Mostafa

 

Di hari pengasingan Imam Khomeini (13 Aban) putra tertua Imam, almarhum Haj Agha Mostafa pergi ke rumah Ayatullah Marashi atas permintaan sebagian bapak-bapak agar berbicara dengan beliau. Pintu rumah Ayatullah Marashi dan semua ulama tertutup rapat. Beliau mengetuk pintu. Setelah dibukakan pintu, beliau masuk dan menutup kembali pintu rumah. Tidak seberapa lama para komando masuk ke rumah Ayatullah Marashi melalui dinding dan menangkap Haj Agha Mostafa kemudian membawanya ke kantor kepolisian Qom. Setelah itu membawanya ke penjara Qezel Qaleh Tehran.

 

Haj Agha Mostafa berada di dalam penjara selama 57 hari. Setelah itu beliau dibebaskan dari penjara pada tanggal 20 Syaban 1384 Hq bertepatan dengan tanggal 8 Dey 1343 Hs. Tapi kepada beliau mereka mengatakan, ?Anda harus pergi ke Turki dan bertemu dengan ayah Anda!? maksud mereka adalah agar Haj Agha Mostafa tidak berada di Iran. Mereka mengasingkan beliau dengan alasan bertemu dengan ayahnya.

 

Ketika almarhum Haj Agha Mostafa dibebaskan dari penjara, beliau tahu bahwa saya berada di Tehran di rumah Ir. Keshavarz. Oleh karena itu beliau datang ke sana kemudian kami bersama-sama pergi ke Qom.

 

Kepada saya beliau berkata, ?Kita pergi ke Qom bersama-sama dan saya akan tinggal semalam untuk berziarah dan mengucapkan selamat tinggal kemudian saya akan langsung kembali lagi ke Tehran kemudian saya harus pergi ke Turki untuk menemui ayahku.? Saya juga sangat gembira. Kemudian beliau pergi ke rumah Agha Saqhavi, dan keesokan harinya ketika matahari terbit, beliau pergi ke rumah Ir. Keshavarz dan kami bersama-sama ke jalan Shoush dan dari sana kami menyewa mobil dan bergerak menuju Qom.

 

Ketika kami sampai di Qom, beliau berziarah ke makam Sayidah Fathimah Maksumah as. Pada saat itu masyarakat sedang membawa jenazah ke makam dan sibuk bertakziah. Namun begitu mereka melihat Haj Agha Mostafa mereka langsung meletakkan jenazah itu kemudian mendekati beliau dan mengantarkannya sampai ke rumah beliau. Di pertengahan jalan ketika beliau sampai di masjid Mouzeh, Ayatullah Marashi yang sedang sibuk mengajar langsung meliburkan pelajarannya. Almarhum Haj Agha Mostafa pun duduk beberapa menit di tangga kedua mimbar tempat Ayatullah Marashi mengajar supaya para pelajar agama bisa melihatnya kemudian berjalan kembali menuju ke rumahnya dan di sanalah orang-orang melakukan pertemuan dan kunjungan dengan beliau.

 

Keesokan harinya beliau harus sudah berada di Tehran, tapi beliau masih tetap berada di Qom. Akhirnya beliau ditelpon dari Lembaga Keamanan. Dengan kasar dan marah kepada beliau mereka berkata, ?Mengapa Anda tidak pergi??

 

Haj Agha Mostafa menjawab, ?Ibuku tidak mengizinkan aku dan aku tidak akan berbuat sesuatu yang bertentangan dengan keinginan ibuku.?

 

Mereka mengeluarkan ucapan caci maki kepada beliau, kemudian Badi'i datang menangkap beliau dan membawanya ke Tehran dan menaikkannya ke pesawat untuk diasingkan ke Turki.

 

 

Kemungkinan Kepergian Kami Ke Turki

 

Pada sepuluh hari pertama atau kedua bulan Syaban tahun itu juga (1384 Hq) Ayatullah Amoli salah satu ulama besar Tehran dan selalu shalat di masjid Majd, mengirim surat kepada saya sebagai berikut:

 

Pihak istana kerajaan memerintahkan Anda dan Agha Fazlollah Khansari (menantu Ayatullah Haj Sayid Ahmad Khansari) untuk pergi ke Turki menemui Imam Khomeini. Oleh karena itu, bergegaslah datang ke Tehran dan dari Tehran pergilah ke Turki bersama Agha Fazlollah! ?

 

Saya sendiri sangat gembira karena mau pergi ke Turki bertemu dengan Imam Khomeini. Oleh karena itu, saya berangkat ke Tehran dan menuju rumahnya Ayatullah Amoli. Sudah ditetapkan akan diadakan pertemuan perpisahan di rumah Ayatullah Haj Sheikh Ahmad Ashtiyani dan para ulama Tehran akan berkumpul di sana untuk melakukan perpisahan dengan saya dan Agha Fazlollah.

 

Malam itu adalah malam 15 Syaban. Di Tehran, di mana-mana dipasang lampu-lampu hiasan dan mengadakan acara pesta peringatan 15 Syaban. Bersama Haj Sheikh Fazlollah Mahallati saya pergi ke masjid Agha Fazlollah Khansari. Di sana ada acara pesta dan jamuan kue dan sebagainya untuk masyarakat yang hadir. Di masjid itu hadir pula seorang kolonel dan dia banyak bercakap-cakap dengan saya dan berkata, ?Anda mau pergi ke Turki, jangan lupa bawakan oleh-oleh baqlava (kue khas Iran) untuk Imam Khomeini. Saya di Turki bersama beliau. Karena di sana beliau sendiri, saya mengajaknya untuk keliling kota mengendarai mobil. Saya membelikan beliau baqlava (orang-orang Turki menyebut baqlava ?lukmeh'). Ketika saya menyuguhkan kepada Imam Khomeini, beliau berkata, ?makanan ini adalah makanan yang sangat tidak enak dan tidak lezat.?

 

Saat itu saya tidak tahu siapa kolonel itu. Setelah itu saya baru paham bahwa ia adalah kolonel Afzali yang dulu datang ke Qom dan menangkap Imam kemudian membawanya ke Tehran.

 

Alhasil malam itu sudah ditetapkan bahwa Agha Morvarid yang akan ceramah. Setelah dia, salah satu mubalig terkenal Tehran juga akan ceramah dan saya tidak akan menyebutkan namanya. Agha Morvarid naik mimbar dan berbicara sangat menarik. Dia berbicara anti pemerintahan dan menyampaikan ucapan yang sangat menarik tentang pembelaan terhadap Imam Khomeini. Tapi mubalig terkenal Tehran itu akhirnya tidak mau berceramah. Karena acaranya sangat tepat dan banyak orang yang hadir, saya meminta kepada Agha Haj Sheikh Fazlollah Mahallati untuk naik mimbar. Beliau berkata, ?Saya tidak siap!?

 

Saya berkata, ?Tidak perlu kesiapan. Kesempatan akan berlalu. Sebaiknya Anda naik mimbar.?

 

Diapun akhirnya naik mimbar dan berbicara anti pemerintahan dengan baik dan mengungkap masalah pengasingan Imam Khomeini ke Turki dan ceramahnya sangat tepat dan baik. Di bagian akhir dari ceramahnya dia mengenalkan kami dan masyarakatpun sangat menghormati kami.

 

Ketika acara selesai dan kami akan kembali ke rumah, kepada Haj Sheikh Fazlollah Mahallati saya berkata, ?Kita kembali bersama sebagaimana berangkat bersama.?

 

Beliau berkata, ?Mereka akan menangkap saya dan tidak tepat bila saya kembali bersama Anda.? Dan memang demikianlah adanya. Para petugas kerajaan datang menangkap beliau dan Agha Morvarid lalu membawa keduanya.

 

Pertemuan selanjutnya adalah pertemuan perpisahan dan rencananya akan diadakam di rumah Ayatullah Haj Sheikh Ahmad Ashtiyani. Kamipun bersama-sama pergi ke rumahnya dan kebetulan Haj Sheikh Ahmad Ashtiyani sakit dan tidak bisa ikut acara perpisahan itu. Akan tetapi semua ulama hadir di sana dan ikut serta acara perpisahan. Kemudian beliau mengabarkan kepada saya bahwa Pakravan tidak tahu tentang kepergian Anda dan Agha Fazlollah. Masalah ini telah disampaikan kepada Shah Pahlevi dan dia mengatakan, ?Tidak tepat bila Pasandideh pergi. Agha Fazlollah saja yang pergi sendiri.?

 

Oleh karena itu, Agha Fazlollah pergi sendirian dan pada saat dia pergi ke Turki untuk bertemu Imam Khomeini dan menyampaikan kabar, pada saat itu juga Agha Mostafa berada di penjara. Ketika dikatakan kepada Imam Khomeini bahwa Agha Mostafa telah ditangkap dan dipenjara, Imam berkata:

 

?Sebuah tindakan yang sangat bagus. Agar supaya Agha Mostafa terlatih.?


 

Pengasingan Imam Khomeini ra ke Najaf

 

Di antara orang-orang yang mendapatkan izin untuk menemui Imam Khomeini ra di Turki adalah dua orang warga Kermanshah. Salah satunya adalah Agha Jalili. Dia bekerja di tempatnya Agha Shariatmadari. Satunya lagi adalah Jalil Jalili. Ia bertempat tinggal di Kermanshah.

 

Apalagi masa-masa itu banyak telegram dari berbagai daerah dan negara seperti Iran, Irak dan Eropa dan lain-lain yang dikirim ke kedutaan Turki di Tehran dan disampaikan kepada para pejabat Turki. Telegram-telegram itu berisi protes atas pengasingan Imam dan meminta agar beliau dibebaskan tanpa syarat.?

 

Saya mendengar bahwa Agha Jalili yang bekerja di tempatnya Agha Shariatmadari memberitahukan kepada pemerintah bahwa tidak baik bila Imam Khomeini harus berada di Turki. Menurut kami juga tidak baik bila kita menahan beliau di Turki. Harus dipikirkan dan beliau harus dikembalikan. Mereka juga tidak ingin Imam Khomeini kembali ke Iran. Setelah itu mereka melakukan perundingan dan musyawarah dengan Pirasteh, Duta Besar Iran di Irak (Shah sendiri sangat percaya pada Pirasteh). Pirasteh berpendapat bahwa Imam Khomeini lebih baik diasingkan ke najaf. Kepada Shah ia mengatakan, ?Bila Imam Khomeini datang ke Najaf, beliau akan jatuh ke dalam mulut harimau! Di sini ada Agha Hakim! Imam Khomeini tidak bisa berbuat sesuatu lebih dari hanya seorang talabeh (santri)!?

 

Oleh karena itulah mereka sangat gembira dan memerintahkan untuk membawa Imam Khomeini ra dan Haj Agha Mostafa ke Baghdad dengan pesawat. Kedatangan Imam Khomeini ke Baghdad dan kepergian beliau dari sana menuju Kazhimain benar-benar mendapatkan sambutan luar biasa dari para ulama dan masyarakat negara itu. Kemudian, setelah bertempat tinggal di najaf, beliau melanjutkan kembali mengajar (Darse Kharej) kuliah tingkat ijtihad dan aktifitas politiknya di sana. Semua program acara berjalan dengan baik. Akhirnya Shah benar-benar memrotes Pisrasteh dan mengatakan, ?Mana ada mulut harimau?!?

 

Upaya Amerika Mencari Perantara untuk Membebaskan Tawanan

 

Seorang dari menantu laki-laki kami berada di Amerika. Ia menulis penjelasan panjang mengenai aksi penawanan personel Kedutaan Besar Amerika di Tehran, pasca kemenangan revolusi. Ia menulis:

?

?Amerika memahami bahwa Iran memiliki kekuatan dan telah meraih kemajuan. Dengan demikian, mereka setuju mengirim beberapa orang untuk menemui Imam Khomeini dan demi dibebaskannya para tawanan, mereka siap menyerahkan Mohammad Reza Shah, Gholam Ali Oveisi dan sejumlah orang lain kepada Iran. Bila Imam Khomeini setuju, maka ada beberapa orang Amerika yang akan menemui beliau. Kalau bisa juga beliau mengirim orang ke Amerika untuk menyelesaikan masalah ini dan ini jalan yang terbaik.?

?

Saya memberikan catatan di surat itu dan mengirimkannya kepada Imam Khomeini ra dan presiden waktu itu (Bani Sadr).

?

Imam Khomeini tidak setuju dan berkata, ?Ini hanya omongan dan saya tidak melihat ada maslahat bila kalian ingin melakukan sesuatu.?

?

Kami juga tidak melakukan apa-apa. Hal lain yang dilakukan oleh Amerika adalah menulis penjelasan atau menelpon saya agar mengirim Ir. Reza Pasandideh (anak laki-laki saya) untuk pergi ke Amerika, Inggris atau Perancis guna menyelesaikan masalah ini.

?

Saya menemui Imam Khomeini ra dan beliau mengatakan, ?Jangan. Itu bukan maslahat bila Reza Pasandideh pergi ke sana.? [IRIB Indonesia]

 

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra, 1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh.


 

Daftar isi

Kisah Kehidupan Imam Khomeini ra? 1

Menurut Penuturan Sang Kakak, Ayatullah Sayid Morteza Pasandideh? 1

Mengenal Ayah dan Kakek Imam Khomeini ra? 2

Buyut Imam Khomeini 2

Kakek Imam Khomeini 2

Pernikahan Sayid Ahmad. 2

Anak-Anak Sayid Ahmad. 3

Istri Sayid Ahmad. 4

Wasiat Sayid Ahmad, Kakek Imam Khomeini 4

Ayah Imam Khomeini 5

Pendidikan Ayah. 6

Kembalinya Ayah Imam ke Khomein. 7

Sebab Syahadahnya Ayah. 7

Kisah Terbunuhnya Ayah Imam Khomeini ra. 9

Kisah Para Pembunuh Ayah Imam Khomeini ra. 12

Menuntut Hukuman Mati Para Pembunuh Ayah Imam Khomeini ra? 14

Menyita Harta Kekayaan Pelaku Pembunuhan. 18

Koran Adab dan Berita Syahadahnya Ayah Imam Khomeini ra? 18

Kelahiran Imam Khomeini ra. 20

Tanggal Kelahiran Imam Khomeinie ra. 20

Di Balik Penamaan Famili yang Berbeda antara Imam Khomeini ra dan Saudara-Saudaranya. 20

Masa Kanak-Kanak Imam Khomeini ra. 21

Pendidikan. 22

Keluarga Imam Khomeini ra. 25

Pernikahan Imam Khomeini ra. 25

Anak-Anak Imam Khomeini ra. 25

Orang-orang yang Seusia dengan Imam Khomeini ra? 26

1.????????????????????????????????????? Agha Mirza Asadollah? Sabiri. 26

2.??????????????????????????????????????????????? Agha Mirza Hasan Khan Mostoufi. 26

3.?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????? Seseorang yang bertetanggaan dengan kami di Khomein. 26

Perjuangan Politik Imam Khomeini ra? 27

Reza Shah Melarang Acara Peringatan Asyura? 30

Penangkapan Imam Khomeini ra? 31

Rencana Pembunuhan Imam Khomeini ra? 41

Pengasingan Imam Khomeini ra ke Turki 42

Penangkapan Ayatullah Haj Agha Mostafa. 44

Kemungkinan Kepergian Kami Ke Turki 46

Pengasingan Imam Khomeini ra ke Najaf 50

Upaya Amerika Mencari Perantara untuk Membebaskan Tawanan? 51