IMAN DAN KUFUR

Markaz Risalah


PENGANTAR PENERBIT

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam-Nya semoga terlimpahkan kepada Rasul-Nya yang terpercaya, Muhammad Al-Mushthafa dan keluarganya yang suci a.s.

Pembahasan mengenai iman bukanlah pembahasan ulangan yang menjemukan sebagaimana isu-isu yang disebarkan oleh kaum materialis yang saat kini sedang berada dalam masa keemasannya dan sedang membangun asas tersendiri. Karena itu isu-isu tersebut secara langsung berhadapan dengan nilai dan tuntunan-tuntunan iman yang tinggi. Kesimpulan ini diambil dari pengalaman-pengalaman hidup yang membuktikan bahwa propaganda-propaganda mereka hanya terbatas pada ide yang tidak memiliki realita.

Karena itu mereka ingin menciptakan manusia yang bukan manusia yang ada sekarang ini atau mereka menyangka bahwa agama hanyalah khayalan belaka. Akan tetapi ketika mereka melihat bahwa kenyataan bukan seperti yang mereka bayangkan, mereka menyadari selama ini mereka hidup dalam khayalan. Mereka mengatakan bahwa manusia hanyalah sekumpulan daging, darah dan tulang yang hanya hidup di alam ini.

Pemikiran semacam ini dengan sendirinya akan hancur menghadapi realita bahwa manusia adalah makhluk dwi-dimensi dan tidak mungkin mematikan salah satu dimensinya.

Atas dasar ini, iman bukanlah khayalan belaka, akan tetapi iman adalah sebuah realita yang membahas alam manusia dan mengisi kehidupannya.

Dari sisi lain, ketika berbicara tentang iman, Al Qur’an membahasnya dari berbagai sisi dan dimensi, dan tidak menjadikan imam hanya sekedar sarana yang hanya digunakan hari ini demi ketenangan di hari esok sebagaimana keyakinan para pengikut aliran sufi.

Al Qur’an ―pada satu sisi― mengungkapkan bahwa iman adalah sebuah alat individu untuk bertemu Tuhannya dan kebahagiaan di kehidupan akhirat. Allah swt berfirman :

﴿إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات اولئك هم خير البرية﴾

(Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, mereka adalah yang paling baik)

Dalam ayat yang lain Allah berfirman :

﴿أفمن کان مؤمنا کمن کان فاسقا لا يستوون﴾

(Apakah manusia yang beriman sama seperti orang fasiq? Tentu mereka tidak sama)

﴿کنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنکر و تؤمنون بالله﴾

(Kamu adalah umat terbaik yang telah dilahirkan demi man usia. (Tugas kamu adalah) amar ma’ruf - nahi munkar dan beriman kepada Allah)

Dan Al Qur’an pada sisi yang lain mengungkapkan bahwa iman adalah perangkat masyarakat dan umat yang memiliki peranan penting dalam merancang masa depannya dan membangun eksistensinya di muka bumi ini. Allah berfirman:

﴿ولو استقاموا علی الطريقة لأسقيناهم ماء غدقا﴾

(Seandainya mereka istiqamah memegang jalan (agama) ini, niscaya Kami akan memberikan minuman mereka air yang sejuk)

﴿ولو أن اهل القری آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم برکات من السماء والأرض ولکن کذبوا فأخذناهم بما کانوا يکسبون﴾

(Jika penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan menurunkan berkah yang berlimpah kepada mereka dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, lalu Kami siksa mereka karena ulah mereka sendiri)

Begitu juga ia membahas iman sebagai norma-norma kemanusiaan agung yang menjamin terbentuknya sebuah masyarakat ideal. Allah berfirman:

﴿تلك الدّارُ الآخرة نجعلها ببذين لايريدون علوا في الأرض ولا فسادا والعاقبة للمتقين﴾

(Itulah kediaman (abadi) di akhirat. Kami peruntukkan kediaman itu untuk orang-orang yang tidak menyombongkan di muka bumi ini dan tidak berbuat kerusakan. Akibat (kemenangan terakhir) akan dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa)

Ini adalah gambaran, hakekat dan dimensi-dimensi iman menurut Al Qur’an.

Iman bukanlah sekedar “cinta sufi” yang menganjurkan setiap manusia menyembunyikan dirinya di puncak-puncak gunung yang tinggi (untuk beribadah) dan bukan sekedar kata-kata yang manis diucapkan. Iman adalah sebuah cakrawala luas yang meliputi pemikiran, suluk dan hubungan manusia dengan sesamanya. Iman adalah sebuah lautan dalam yang sui it untuk diselami, apalagi mengungkapkannya. Iman adalah rahasia kebangkitan dan berkembangnya sebuah umat, sedang kufur adalah rahasia kehancuran dan kemusnahannya.

Atas dasar ini, ketika kita mempelajari hakekat iman dan kufur, bukan hanya sekedar untuk menggembirakan jiwa kita dengan harapan-harapan dan menakut-takutinya dengan siksaan-siksaan, sebagaimana yang dibayangkan oleh sebagian orang. Akan tetapi, tujuan kita sebenarnya adalah untuk menyeimbangkan kehidupan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat.

Maka dari itu, ketika kami memilih tema ini sebagai bahan kajian, bukan berarti kami telah mengkaji seluruh tema tersebut dari segala sisi dan dimensinya. Paling tidak kami telah menambah khazanah dalam pembahasan keimanan dan sedikit menyingkap hakekatnya.

Tujuan sebenarnya bukan untuk memperluas wawasan pembaca dalam bidang ini, ataupun membebani pikiran dengan pembahasan yang ―sebenarnya― berat, akan tetapi tujuan utama kami adalah supaya pengetahuan tersebut menjadi sebuah penggerak yang dapat mewarnai kehidupan manusia, baik secara individu atau sosial masyarakat dengan tuntunan-tuntunan iman yang murni.

Akhirnya hanya Allahlah tempat kita meminta pertolongan, dan Ialah satu-satunya penunjuk ke jalan yang lurus.

Mu’assasah Ar-Risalah


MUKADIMAH

Segala puji bagi Allah yang telah menanam benih iman dalam hati hamba-hamba-Nya dan menghiasai hati mereka dengannya serta memberikan rasa benci terhadap kekufuran, kefasikan dan maksiat. Salawat dan salam-Nya semoga terlimpahkan kepada Penunjuk jalan dan kiblat mukminin, pembasmi orang-orang kafir dan para pengikut mereka, Muhammad Al-Musthafa dan keluarganya yang suci.

Amma ba’du. Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab dan para rasul-Nya adalah inti akidah yang hak dan agama yang mulia ini. Keyakinan ini harus direalisasikan oleh muslimin dalam setiap masa dan generasi dan hendaknya mereka menjadikan iman sebagai tolok ukur hakiki dalam mengukur keistimewaan seseorang, bukan tolok ukur lain yang tidak ada nilainya menurut penilaian Al Qur’an.

Iman bukanlah sekedar syi’ar yang hanya enak digembar-gmborkan. Akan tetapi iman adalah suluk, tata krama dan akhlak yang harus diterjemahkan dalam kehidupan individu yang menghendaki kebaikan dan membenci kejelekan.

Jika bayi yang baru dilahirkan mempunyai keimanan secara fitrah akan tetapi ayah-ibunyalah yang memiliki peranan utama menjadikannya pengikut agama Yahudi, Kristen atau Majusi, fitrah semata tidak cukup dengan sendirinya untuk mengantarkan manusia mencapai tujuan iman seperti yang telah digariskan oleh Alquran, selama tidak disertai dengan pengajaran yang benar dan pendidikan yang tepat.

Jika tidak demikian, tuntunan-tuntunan iman yang tinggi ini akan musnah secara perlahan dan tidak akan membekas dalam sanubari manusia.

Sara tidak menemukan orang berakal yang tidak meyakini peranan iman dalam kehidupan individu dan sosial masyarakat. Jika kita menengok kemenangan dan keberhasilan umat-umat terdahulu dalam bidang materi, seperti menundukkan alam, kedokteran dan industri, hal ini adalah bukti terbaik atas apa yang kami katakan itu. Karena kemajuan dan keberhasilan-keberhasilan itu, dengan sendirinya tidak memiliki pengaruh positif dalam jiwa mereka, dan akibatnya, mereka tidak akan menemukan ketenanganjiwa dan kedamaian sejati hingga masa kita.sekarang ini.

Oleh karena itu, mereka akan menghadapi gelombang keraguan, kebimbangan dan ketakutan dalam menghadapi masa depan yang menyebabkan mereka lari dari realita atau bunuh diri yang merupakan fenomena hangat yang sedang dihadapi oleh masyarakat Barat. Oleh karena itu, para pemikir telah membunyikan lonceng bahaya sebagai peringatan atas bahaya yang sedang mengancam ini.

Begitu juga, kemajuan dan keberhasilan-keberhasilan secara materi ini, dengan sendirinya tidak memiliki pengaruh positif bagi sisi etika mereka. Hal ini dapat kita lihat dati menggejalanya dekadensi moral, meningkatnya kriminalitas dan penggunaan obat-obat terlarang secara bebas yang menimpa mayoritas negara dunia ini.

Lebih dari itu, tidak adanya gambaran yang benar bagi manusia mengenai tujuan wujud dan kehidupannya adalah hasil negatif lain dari keberhasilan-keberhasilan tersebut.

Yang sangat menakjubkan adalah munculnya model-model kekufuran baru yang didukung oleh yayasan-yayasan bergengsi, yang berusaha memerangi Islam, memusnahkan tuntunan-tuntunan dan menyimakan kedudukannya. Dengan bermunculannya golongan-golongan baru yang tersebar di seantero dunia, ruang lingkup kekufuran ini makin meluas dan secara terang-terangan mengajak manusia untuk meyembah syetan.

Untuk merealisasikan tujuannya tersebut, mereka menciptakan ritus-ritus keagamaan baru dan tempat-tempat peribadatan khusus yang dilengkapi dengan sarana-sarana media massa modem yang digunakan untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka.

Atas dasar ini, kita sangat perlu membahas problema iman dan kufur, karena problema ini adalah salah satu problema hayati dan primer yang semestinya harus kita perhatikan.

Betul, ada sebagian orang yang sempit pemikirannya dan tidak memiliki hasrat untuk membahas problema iman dan kufur (secara tuntas). Karena mereka menganggap problema ini sebagai problema sampingan yang tidak penting. Mereka menganggap di dunia ini ada problema-problema lain yang lebih penting dan hayati.

Mereka lupa bahwa problema iman dan kufur adalah salah satu problema yang menentukan masa depan individu dan sebuah masyarakat. Lebih-lebih, karena iman adalah sumber kebaikan dan kufur adalah sumber kerusakan bagi manusia.

Kekufuran telah memenuhi akal manusia dengan khurafat, memusnahkan etika dan mendatangkan permusuhan dan percekcokan.

Oleh karena itu, supaya dapat menyampaikan apa yang menjadi tujuan kami (dari penulisan buku ini), kami membagi pembahasan buku ini dalam empat pasal.

Kami berharap semoga buku kecil ini dapat membantu pembaca dalam membedakan kekufuran dan iman serta pengaruh-pengaruhnya atas kehidupan individu dan masyarakat. Setidaknya ini sebagai satu langkah yang penuh berkah ―insya-Allah― demi menguatkan dan menjaga fitrah manusia yang condang kepada iman dan tidak terjerumus ke dalam jurang kehidupan material dan menuntun mukminin untuk mencapai faktor-faktor yang dapat menguatkan iman dan mengangkat derajat mereka.

Akhirnya kepada Allah swt kami memohon pertolongan dan taufik.


PASAL IV

PENGARUH IMAN DAN KUFUR ATAS KEHIDUPAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT

Iman adalah sumber segala keutamaan sementara kufur adalah sumber segala kehinaan. Seseorang yang telah berlumuran dosa, syirik dan menjadi hamba hawa nafsu, patung-patung sesembahan dan kekuatan-kekuatan sosial yang dimilikinya, berkat iman ia akan tersucikan dari noda-noda kotor itu.

Dengan iman pula ia mampu menguasai hawa nafsunya dan menemukan jalan yang benderang untuk mengikis karakter-karakter jahiliyahnya.

Kita dapat saksikan pada masyarakat jahiliyah yang terpecah belah menjadi beberapa kabilah dan golongan dan tidak ada keadilan dalam hidup mereka, ketika mereka beriman dan akidah tauhid terpatri kokoh di dalam sanubari mereka, mereka menjadi umat yang bersatu atas dasar kebenaran dan keadilan.

Bukti sejarah yang menjelaskan dengan tegas .terjadinya revolusi budaya atas kehidupan individu dan masyarakat yang dikobarkan oleh iman, adalah dialog antara Ja’far bin Abi Thalib dengan Najasyi, raja Habasyah ketika ia ditanya tentang sebab hijrah dan ‘murtad’ dari agama kaumnya.

Ia berkata: “Wahai Raja, (sebelum datangnya Islam) kami adalah masyarakat jahiliyah yang menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan segala kejahatan dan kehinaan, memutuskan hubungan dengan kerabat, mengganggu tetangga. Yang terkuat di antara kami menindas yang lemah. Keadaan ini berjalan sehingga Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami yang kami kenal nasab keturunannya, jujur, amanat dan punya harga dirinya.

Ia mengajak kami untuk mengesakan Allah dan menyembah-Nya serta meninggalkan patung-patung yang disembah oleh kami dan nenek moyang kami.

Ia memerintahkan kami untuk berkata benar, menyampaikan amanat kepada pemiliknya, menyambung tali persaudaraan dengan kerabat, menghormati tetangga dan menghentikan seluruh perbuatan haram serta melarang menumpahkan darah orang yang tak berdosa.

Ia melarang kami dari berbuat keji, berkata bohong, memakan harta anak yatim dan menuduh berzina perempuan yang telah bersuami.

Ia memerintahkan kami untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya...”.[1]

Dengan ini terungkaplah bagi Najasyi revolusi budaya yang dikobarkan oleh Islam dalam waktu yang relatif singkat. Hal itu disebabkan Islam memiliki pengaruh yang kuat terhadap kehidupan individu dan sosial masyarakat. Kita akan lebih memahami realita di atas melalui pembahasan-pembahasan berikut.


Pengaruh Iman atas Kehidupan Individu

Islam adalah titik pennulaan kelahiran satu generasi baru yang cinta akan nilai-nilai luhur dan hikrnah, mengarungi samudra ilmu dan pengetahuan, tampil dengan penuh percaya diri dan rasa kemanusiaan yang tinggi.

Perubahan drastis ini tidak timbul dari kehampaan dan secara kebetulan, akan tetapi hal itu didasari oleh tuntunan-tuntunan iman yang menyimpan nilai-nilai peradaban yang tinggi. Dalam kesempatan ini selayaknya kita membahas tuntunan-tuntunan yang tersimpan dalam iman melalui pengaruhnya yang besar dalam beberapa segi dan dimensi kehidupan manusia.

1. Pengaruh ilmiah (intelektual)

Dengan cahayanya yang cemerlang, Islam telah berhasil membuka pintu-pintu ilmu dan pengetahuan yang tertutup rapat di hadapan masyarakat jahiliyah yang tidak mengenal ilmu dan pengetahuan samawi.

Islam telah membentuk cara berpikir masyarakat yang positif. Ia merangsang mereka untuk merenungkan segala kekuatan dan rahasia alam yang tersembunyi di dunia yang luas ini.

Hal ini dilandasi oleh tujuan-tujuanyang bermacam-macam. Yang terpenting adalah mengenal Allah Ta’ala dan keberadaan-Nya melalui apa yang dapat dirasakan dan dilihat oleh manusia. Begitu juga, dengan perenungan tersebut, agar mereka dapat mengungkap hukum dan aturan-aturan yang mengatur alam semesta ini dengan teliti dan jitu. Hal ini membantu tumbuhnya satu gerakan ilmiah yang dapat dimanfaatkan oleh ulama dan para ilmuwan ilmu alam dari sejak munculnya Islam hingga sekarang ini.

Pengaruh iman tidak hanya terbatas sampai di sini. Terdapat pengaruh-pengaruh iman dalam bidang ekonomi, politik, ilmu sosial, sejarah, filsafat dan teologi yang digunakan oleb para ahli sebagai bahan rujukan dalam penelitian-penelitian mereka.

Lebih dari itu, Alquran juga memiliki aturan, perintah dan hukum-hukum politik yang tersusun secara teliti.

Ringkasnya, peradaban Islam yang dikagumi oleh bangsa-bangsa Eropa selama beberapa abad terakhir, muncul oleh dinamisme iman yang merangsang para pengikutnya untuk selalu berusaha keras dalam menimba ilmu pengetahuan.

Hal ini dapat kita lihat dengan jelas dalam usaha membasmi buta huruf semenjak Islam berkembang. Rasulullah saw meminta dari para tahanan perang Badar agar mengajar muslimin jika mau bebas.

Hal ini dikarenakan buta huruf adalah wahab penyakit yang dapat menghancurkan satu umat. Oleh karena itu, telah sampai kepada kita himbauan Islam agar orang-orang pintar bersedia mengajar orang-orang bodoh.

Amirul Mu’minin a.s. berkata: “Allah tidak memerintahkan orang-orang bodoh untuk belajar kecuali sebelum itu telah memerintahkan orang-orang alim untuk mengajarkan ilmunya”.[2]

Dan satu sisi, Islam juga menganjurkan para pengikutnya untuk menambah ilmu yang bermanfaat dan dapat mendekatkan dirinya kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda: “Jika aku berada di suatu hari dan pada hari itu aku tidak dapat menambah ilmu yang dapat mendekatkan diriku kepada Alia Ta’ala, maka hari itu bukanlah hari yang memiliki berkah bagiku”.[3]

Dalam sebuah hadits, Imam Ali a.s. menyebutkan hasil-hasil positif iman dan peran pentingnya dalam kemajuan dan kebahagiaan manusia. Beliau berkata : “Tuntutlah ilmu, niscaya ilmu tersebut akan memberikan kehidupan kepada kalian”.[4]

Menurut Islam, ilmu memiliki peran yang sangat penting (dalam segala bidang). Atas dasar ini, ilmu lebih utama dari ibadah.

Rasulullah saw bersabda: “Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaanku dibanding dengan orang yang terendah derajatnya dari kalian”.

Abu Hamzah meriwayatkan dari Abu Ja’far a.s., beliau berkata: “Seorang alim yang bermanfaat ilmunya lebih utama dari tujuh puluh orang ahli ibadah”.[5]

Hadits-hadits di atas memberikan gambaran kepada kita betapa Islam selalu mendorong setiap individu untuk berlomba-lomba dalam menggali ilmu pengetahuan. Karena pengetahuan adalah satu kepandaian dan kearifan, dan kepandaian adalah satu kekuatan.

2. Pengaruh amaliah

Pengaruh iman dapat dilihat dengan jelas dalam akhlak dan perilaku seorang mu’min. Orang kafir akan menggunakan segala cara dan perantara tanpa mempertimbangkan nilai dan norma-norma akhlak untuk menggapai satu tujuan. Sedangkan orang mu’min, demi mencapai tujuannya, ia akan meniti jalan yang dilandasi oleh norma-norma akhlak yang mulia.

Atas dasar ini, orang yang sempurna imannya, akan sempurna pula akhlaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya”.[6] Oleh karena itu, kita melihat tuntunan-tuntunan etik tersebar luas di dalam ajaran-ajaran agama kita, hal itu tak lain karena adanya hubungan antara iman dan akhlak.

Atas dasar ini, orang-orang yang hidup di dalam masyarakat yang tak beriman, akan mengalami dekadensi moral yang dahsyat (dengan tercerabutnya rasa malu dari hati mereka). Karena rasa malu adalah cabang iman, bahkan dalam hadits Nabi saw: “Rasa malu dan iman adalah dua sejoli yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya musnah, maka yang lainnyapun akan musnah”.[7]

Di samping itu, iman menganjurkan setiap individu untuk beramal dan bekerja yang halal. Iman mencegah setiap pengikutnya untuk bermalas-malasan dan menengadahkan tangan kepada orang lain.

Di antara wasiat Imam Ash-Shadiq a.s. kepada muslimin secara umum dan kepada pengikut beliau: “Janganlah kalian malas untuk mencari rezeki demi kehidupan kalian. Karena kakek-kakek kami giat dalam mencari rezeki (demi memakmurkan kehidupan mereka)”. Beliau telah merealisasikan wasiatnya tersebut dalam bentuk amal.

Al-Faudlail bin Abi Qurrah berkata: “Kami masuk ke rumah Abu Abdillah a.s. dan beliau sedang bekerja di halaman. Kami berkata berkata beliau: ‘Biarlah kami atau pembantu yang mengerjakannya untuk anda!” Beliau menyanggah seraya berkata: ‘Jangan! Biarlah aku yang mengerjakannya. Karena aku ingin Allah melihatku bekerja dengan kedua tanganku dan mencari rezeki halal dengan jalan melelahkan diriku”.[8]

Selain menuntun para pengikutnya dengan perkataan, Imam Ash-Shadiq a.s. juga menuntun mereka melalui praktek amaliah. Inilah metode mendidik yang digunakan oleh Ahlul Bayt a.s. Hal ini dikarenakan praktek amaliah memiliki peranan yang besar dalam membentuk arah pandang dan kepribadian (seseorang), di samping itu, amal dan praktek amaliah lebih kuat pengaruhnya dari perkataan.[9]

Dari pembahasan di atas jelaslah bahwa iman mampu mendorong setiap individu untuk berperilaku ideal yang terjelmakan dalam akhlak yang terpuji dan amal saleh.

3. Pengaruh rohani (kejiwaan)

Ketika seorang mu’min mengingat Allah dan mengadakan interaksi dengan kekuatan Ilahi yang agung, maka akan sirnalah rasa takut dan kelemahannya, dengan demikian hatinya menjadi tenang.

Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tentram”. Dalam ayat yang lain Ia juga berfirman: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang yang mendapatkan keamanan dan petunjuk”.[10]

Iman membawa ketenangan jiwa dan memusnahkan rasa takut seseorang ketika cobaan-cobaan hidup datang silih berganti.

Dalam sejarah, banyak kita temukan bukti-bukti kesimpulan ini. Qanbar, pembantu yang sangat mencintai Amirul Mu’minin a.s., selalu membuntuti beliau dari belakang secara diam-diam sambil menenteng pedang.

Suatu malam Imam Ali a.s. melihatnya sedang membuntutinya. Beliau bertanya: “Wahai Qanbar, apa yang sedang kau lakukan?” Ia menjawab: “Wahai Amirul Mu’minin, aku ingin mengawal anda dari belakang. Karena masyarakat ―sebagaimana yang anda ketahui―, memusuhi anda. Aku khawatir akan keselamatan anda”. Beliau bertanya kembali: “Apakah kamu ingin menjagaku dari bahaya penghuni langit atau penghuni bumi?” “Dari bahaya penghuni bumi”, jawabnya. Beliau berkata: “Sesungguhnya penghuni bumi tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap diriku tanpa izin Allah azza wa jalla dari langit. Karena itu, pulanglah!”.[11]

Ya’Ia bin Murrah berkata: “Sudah menjadi kebiasaan Imam Ali a.s. keluar malam menuju ke masjid untuk melaksanakan shalat sunnah. Kami datang berkumpul untuk menjaga beliau. Setelah beliau selesai melaksanakan shalat, beliau menghampiri kami seraya berkata: “Mengapa kalian duduk di sini?” “Kami sedang menjaga anda”, jawab kami. “Apakah kalian menjagaku dari (bahaya) penghuni langit atau penghuni bumi?”, tanya beliau kembali. “Kami menjaga anda dari (bahaya) penghuni bumi”, jawab kami. Beliau berkata: “Tidak akan terjadi suatu peristiwa di bumi kecuali jika sudah ditentukan di langit. Setiap orang dijaga oleh dua malaikat yang selalu menyertainya hingga datang ajalnya. Jika ajalnya telah tiba, mereka akan pergi darinya. Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan sebuah perisai kokoh kepadaku. Jika ajalku telah tiba, Allah akan mencabutnya dariku... Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman sehingga ia meyakini bahwa sesuatu yang telah ditentukan akan menimpanya, tidak akan meleset dan sesuatu yang telah ditentukan tidak akan menimpanya, hat itu tidak akan terjadi alas dirinya”.[12]

Iman akan mendorong orang mu’min untuk pasrah penuh terhadap qadla’ dan qadar IIahi. Dengan itu, jiwanya akan teramankan dari perasaan takut dan khawatir.

Atas dasar ini, iman adalah satu unsur penting yang dapat menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa. Hal ini telah diakui oleh mayoritas ahli psikologi, antara lain Dr. Ernest Adolf, seorang asisten dosen di universitas Sant Jhon’s, Amerika Serikat.

Ketika ia ditanya tentang faktor-faktor utama stres ia berkata: “Faktor-faktor utama penyakit ini adalah rasa berdosa atau bersalah, dengki, takut, khawatir, kesedihan, kebimbangan, keraguan dan kejemuan.

Yang sangat disayangkan, para ahli pengobatan penyakit jiwa sebetulnya mampu mendeteksi faktor-faktor kegoncangan jiwa yang menyebabkan stres itu, akan tetapi mereka gagai total dalam usaha mengobatinya. Hal ini dikarenakan mereka tidak menanamkan keimanan pada Tuhan di dalam sanubari para penyandang penyakit ini ketika mengobatinya”.[13]

Atas dasar ini, poin penting yang dapat membantu penyembuhan penyakit-penyakit jiwa seseorang adalah kita harus membantunya untuk mengakui kesalahan-kesalahannya. Karena mengakui semua kesalahan yang pernah dilakukannya akan mengembalikan keseimbangan dan ketenangan kepada jiwanya yang goncang itu.

Secara teori, Alquran mengakui keabsahan cara pengobatan ini. Akan tetapi Alquran menegaskan supaya pengakuan tersebut dilakukan di hadapan Tuhan di saat seseorang menyendiri dengannya, bukan di hadapan orang lain.

Ketika seseorang berkata dalam qunut shalatnya:

﴿ربّنا ظلمتا أنفسنا وأن لم تغفر لنا وترحمنا لنکوتنّ من الخاسرين﴾

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi”.[14] ia akan merasa lega dan terbebas dari tekanan perasaan berdosa.

Alquran telah menukil beberapa pengakuan dari hamba-hamba saleh dan para nabi. Seperti pengakuan Nabi Musa a.s. ketika beliau membunuh seseorang tanpa sengaja:

﴿رب انی ظلمت نفسی فاغفرلی﴾

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu, ampunilah aku”.[15]

Lebih dari itu, keyakinan manusia bahwa ia tidak sendiri dan Allah selalu menyertainya, akan menimbulkan suatu ketenangan dan rasa percaya diri serta membasmi rasa takut, bimbang dan kesendirian darinya. Hal ini dikarenakan Allah sendirilah yang menenangkannya.

Ia berfirman: “Dan Ia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.[16]

Ringkasnya, iman akan memadamkan api ketakutan, kebimbangan dan kegundahan seseorang. Sebagai gantinya, iman tersebut akan memberikan kesehatan jiwa dan jasmani kepadanya.

Psikologi menegaskan bahwa ketika manusia ditimpa oleh ketakutan, kesusahan atau kemarahan, akan terjadi perubahan dan kegoncangan-kegoncangan psikologis yang berbahaya baginya jika hal itu telah kronis.

Kegundahan yang telah mengeras dan kontinyu kadang-kadang bisa menyebabkan luka lambung atau usus dua betas jari. Sedang kebencian yang terpendam dalam waktu yang panjang dapat menyebabkan tekanan darah.[17]

Di samping itu, iman juga mendatangkan ketentraman dan ketenangan bagi jiwa seseorang sehingga ia tidak pernah merasa hidup sendiri. Amirul Mu’minin a.s. berkata: “Ya Allah, Engkau adalah teman yang terbaik bagi para kekasih-Mu. Jika mereka mereka dilanda kesepian, mereka akan tenteram dengan mengingat-Mu. Dan ketika mereka ditimpa musibah, mereka akan berlindung di bawah naungan-Mu. Karena mereka meyakini bahwa tali kendali segala urusan ada di tangan-Mu”.[18]

4. Pengaruh iman dalam membentuk kepribadian seorang mu’min

Iman adalah titik tolak manusia untuk mencapai kemuliaan. Karena iman membekalinya dengan etika dan budi pekerti yang luhur, dan membantunya untuk selalu percaya diri dan berjalan menuju tujuan akhirnya dengan langkah yang pasti.

Lukman Al-Hakim pernah ditanya: “Bukankah kamu pembantu keluarga orang itu?”

“Ya”, jawabnya. Kemudian ia ditanya kembali: “Apakah yang menyebabkan kamu sampai kepada derajat yang kau miliki sekarang ini?”

Ia menjawab: “Berkata benar, memegang amanat, meninggalkan sesuatu yang tidak kubutuhkan, menjaga mataku (dari melihat hal-hal yang dilarang), menjaga mulutku, dan makan yang halal. Barang siapa yang mengerjakan sebagian dari apa yang telah aku sebutkan itu, maka ia berada di bawahku. Barang siapa yang melakukan lebih dari itu, niscaya ia berada di atasku. Dan barang siapa yang mengerjakan segala apa yang telah kusebutkan tadi, maka kedudukannya seperti kedudukanku”.[19]

Iman akan memberikan kemuliaan dan kedudukan yang tinggi kepada manusia, dan dengan itu, kehinaan tidak akan pernah menghampirinya. Dalam hal ini Allah berfirman: “Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mu’min. Tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui”. Imam Ash-Shadiq a.s. juga berkata: “Sesungguhnya Allah telah menyerahkan kepada orang mu’min semua urusannya (yakni, ia bisa melakukan segala yang ia sukai). Akan tetapi, Allah tidak rela jika ia hina”.[20]

Iman juga menjadikan seseorang berwibawa sehingga orang lain akan memandangnya dengan penuh hormat dan pengagungan. Seseorang pernah berkata kepada Imam Hasan bin Ali a.s.: “Anda memiliki keagungan”. Beliau membalas: “Tidak! Aku memiliki kemuliaan. Allah berfirman: ‘Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan mu’minin”.[21]

Iman juga menimbulkan satu revolusi besar dalam kehidupan manusia yang dapat membebaskannya dari perbudakan maksiat menuju ketaatan. Dari iman itu ia akan mencapai anugerah-anugerah Ilahi yang tidak dapat diperkirakan harganya.

Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Ketika Allah azza wa Jalla telah menyelamatkan seorang hamba dari perbudakan maksiat menuju kemuliaan takwa, maka Allah telah membuatnya kaya tanpa harta, memuliakannya tanpa kerabat dan menenteramkannya tanpa manusia lain”.[22]

Atas dasar ini, penghambaan kepada Allah adalah sumber kemuliaan, kebanggan dan ketinggian derajat. Amirul Mu’minin a.s. berkata: “Tiada kemuliaan yang lebih tinggi dari pada Islam dan tiada kemuliaan yang lebih mulia dari takwa”. Ketika bermunajat kepada Allah, beliau berkata:

الهي، کفی بي عزّا أن أکون لك عبدا وکفی بي فخرا أن تکون لي ربّا

“Ya Tuhanku, alangkah mulianya aku ketika aku sebagai hamba-Mu, dan alangkah bangganya aku ketika Engkau sebagai Tuhanku”.[23]

Ringkasnya, iman akan meninggikan kedudukan manusia (di mata manusia) dan mengangkat tingkat spiritualitasnya yang tercennin dalam kekokohan dan keagungan pribadinya.

5. Pengaruh-pengaruh iman yang lain:

a. Memperkuat kontrol diri

Iman dapat memberikan kemampuan kepada seseorang untuk mengontrol dirinya sehingga ia mampu menyembunyikan segala musibah, kesusahan, penyakit yang menimpanya dan amal-amal baik yang pernah dilakukannya karena takut riya’.

Allah swt memuji orang-orang yang dapat menguasai diri dan memendam amarahnya. Ia berfirman: “... Dan orang-orang yang menahan amarahnya”.[24]

Begitu juga iman akan memberikan kemampuan kepadanya untuk mengontrol lidahnya sehingga ia tidak akan mengucapkan sesuatu yang mengundang amarah Allah, karena ia hidup dengan penuh perhitungan, baik dalam perkataan atau amal.

Berbeda dengan orang kafir. Dalam sebuah hadits termaktub: “Lidah orang mu’min berada di belakang hatinya. Jika ia ingin mengucapkan sesuatu, ia akan merenungkannya terlebih dahulu kemudian mengucapkannya. Dan lidah orang munafik berada di depan hatinya. Jika ia ingin mengucapkan sesuatu, ia akan mengucapkannya tanpa perenungan sebelumnya”.[25]

b. Keteguhan dan Keberanian

Iman dapat menwnbuhkan keberanian dan keteguhan dalam diri orang mu’min ketika ia berada di medan jihad. Dengan keberanian dan keteguhan itu, ia akan mampu menguasai hawa nafsunya yang condong kepada kehidupan dunia dan tidak mau sulit.

Pada peristiwa perang Badar, muslimin yang berjumlah sedikit, dengan bekal dan persenjataan yang tidak memadai mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang bersenjata lengkap dengan kekuatan iman mereka.

Seorang orientalis modern, Jack Reizler, penulis buku Yaqdhatul Islam (Kebangkitan Islam) dan Al-Hadlarah Al-‘Arabiyah (Peradaban Arab) yang telab dicetak di Perancis pada tabun 1962 M menulis: “Dengan munculnya agama Islam, peradaban Arab mulai berkembang pesat. Perkembangan dan tersebaruya peradaban ini (di seantero dunia) disebabkan oleh beberapa faktor, yang terpenting adalah meningginya semangat spiritual di dada muslimin sebagai hadiah agama baru ini.

Semangat spiritual inilah yang memberikan keberanian kepada mereka sehingga mereka tidak takut mati dijalan Allah”.[26]

c. Waspada dan mawas diri

Iman dapat memberikan kepada seseorang suatu kemampuan untuk memandang kehidupan di sekitarnya dengan teliti.

Ia tidak akan tertipu oleh rayuan-rayuan dunia yang menggiurkan. Ia akan mencari harta dunia hanya sekedar dapat hidup dan tidak tergiurkan oleh kekayaan (yang menjadi dambaan mayoritas manusia).

Amirul Mu’minin a.s. berkata: “Orang mu’min memandang dunia demi mengambil pelajaran (‘ibrah), berbekal harta dunia hanya sekedar dapat hidup dan (dalam sanubari) ia tidak mencintai dunia sedikitpun”.[27]

Suwaid bin Ghaflah berkata: “Setelah Amirul Mu’minin dibai’at menjadi khalifah, aku bertamu ke rumah beliau. (Ketika aku masuk), beliau sedang duduk di atas tikar yang terbuat dari pelepah kurma. Aku tidak melihat perabotan lain dalam rumah itu selain tikar tersebut.

Aku berkata (dengan penuh keheranan): ‘Wahai Amirul Mu’minin, harta Baitul Mal ada di tangan anda, tapi aku tidak melihat perabotan di rumah ini yang layak dimiliki oleh sebuah rumah!’. Beliau menjawab: ‘Wahai putera Ghaflah, orang yang berakal dan cerdik tidak akan memenuhi rumah sementaranya dengan perabotan yang berwarna-warni. Kami memiliki satu rumah abadi nan tenteram dan kami telah memindahkan perabotan yang terbaik ke rumah tersebut, dan tidak lama lagi kami akan pergi menuju ke sana”.[28]


Pengaruh Iman atas Kehidupan Sosial

Iman adalah salah satu unsur utama dalam kesatuan dan persatuan sebuah masyarakat, karena iman tersebut akan mendorong setiap individu yang hidup di masyarakat itu untuk saling tolong-menolong antara yang satu dengan yang lain dan mencegah permusuhan.

Kita dapat melihat pengaruh iman dan kufur atas kehidupan masyarakat melalui poin-poin berikut ini:

Pertama, rasa persaudaraan, saling menghormati dan menasehati

Iman memainkan peranan penting dalam mewujudkan interaksi yang sehat antar manusia. Ia akan membebaskan manusia dari jeratan permusuhan dan kebencian menuju dunia persaudaraan dan cinta.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu”.[29]

Allah mengingatkan mu’minin atas nikmat persaudaraan yang telah berhasil mengubah wajah kehidupan mereka dari kekufuran dan permusuhan menjadi kehidupan yang berlandaskan iman dan persaudaraan.

Dalam kaitannya dengan ini Ia berfirman: “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai. Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (di masa jahiliyah) saling bermusuhan, lalu Allah menjinakkan hatimu, kemudian karena nikmat Allah itu kamu menjadi bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatknmu darinya”.[30]

Di samping itu, Islam juga memerintahkan para pengikutnya untuk menghormati dan mencintai saudaranya yang lain dan menjanjikan pahala yang besar bagi orang yang melaksanakannya.

Abu ‘Ubaidah berkata: “Aku pernah mendengar Abu Ja’far a.s. berkata: “Jika dua orang mu’min berjumpa kemudian mereka berjabat tangan, niscaya Allah akan memperhatikan mereka dan dosa-dosa yang mereka miliki akan terhapus selama mereka berjabatan tangan hingga berpisah”. Islam tidak hanya menganjurkan mereka untuk menghormati dan mencintai saudara mereka yang lain, akan tetapi juga menganjurkan mereka untuk saling menasehati.

Rasulullah saw bersabda: “Mu’min adalah saudara mu’min yang lain. Hendaknya ia selalu menasehatinya dalam setiap situasi dan kesempatan”.[31]

Rasa persaudaraan ini dapat terealisasikan dalam bentuk sikap dan perilaku yang dapat disimpulkan dalam poin-poin berikut ini:

a. Membahagiakan orang mu’min

Membahagiakan orang lain adalah salah satu amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Rasulullah saw bersabda: “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah membahagiakan mu’minin”. Oleh karenanya, amal ini memiliki pahala yang sangat besar.

Berkenaan dengan hal di atas, Abu Abdillah a,s. berkata: “Barang siapa yang membahagiakan seorang mu’min, maka Allah akan membahagiakannya pada hari kiamat”.[32]

b. Menjaga rahasia orang mu’min

Menyebarkan rahasia saudara seiman kepada khalayak ramai adalah perbuatan yang dapat mengeruhkan kejernihan hubungan persaudaraan dan bahkan dapat memutuskan tali persaudaraan. Hal ini akan menyebabkan sirnanya rasa saling mempercayai atara seorang mu’min dengan saudara seimannya.

Demi menghindari efek-efek negatif tersebut, iman, melalui wasita-wasiat yang diberikan kepada pengikutnya, mencegah keras perbuatan tersebut. Abdullah bin Sinan berkata kepada Abu Abdillah a.s.: “Apakah aurat seorang mu’min atas mu’min yang lain adalah haram”. “Ya”, jawab beliau. Aku bertanya kembali: “Apakah maksudnya adalah kemaluannya?” Beliau menjawab: “Maksudnya bukan seperti yang kamu katakan. Maksudnya adalah (haram bagi seorang mu’min ) menyebarkan rahasianya”.[33]

c. Menolong sesama mu’min

Iman mendorong para pengikutnya untuk saling tolong menolong. Semangat saling tolong menolong inilah yang dapat mencegah perpecahan dalam kehidupan manusia.

Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Jika seorang mu’min menolong mu’min yang dizalimi, maka amal ini lebih utama dari berpuasa satu bulan penuh dan i’tikaf di Masjidil Haram. Jika seorang mu’min menolong saudara seimannya dan ia memang mampu untuk menolongnya, maka Allah akan menolongnya di dunia dan akherat.

Dan jika seorang mu’min menelantarkan saudara seimannya sedangkan ia mampu untuk menolongnya, maka Allah akan menelantarkannya di dunia dan akherat”.[34]

d. Berbuat baik

Orang mu’min sejati akan melihat saudara-saudaranya yang membutuhkan pertolongan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Allah pun menganjurkan mu’minin untuk selalu peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan, dan akan memberikan pahala atas kepedulian sosial tersebut.

Abu Harnzah Ats-Tsumali meriwayatkan bahwa Ali bin Husein a.s. berkata: “Barang siapa yang menyelamatkan seorang mu’min dari kelaparan, maka Allah akan mengenyangkannya dengan buah surga. Barang siapa yang menyelamatkan seorang mu’min dari dahaga, maka Allah akan memberikannya air minum dari Rahiqul Makhtum. Dan barang siapa yang memberikan pakaian kepada seorang mu’min, maka Allah akan memberikan kepadanya pakaian-pakaian surga yang berwarna hijau”.[35]

Di antara bukti-bukti yang menunjukkan bahwa para imam Ahlul Bayt a.s. sebagai tauladan utama dalam berbuat baik terhadap orang lain, menganjurkan supaya rasa kepeduliaan sosial ini menjadi (budaya masyarakat muslim), adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s. bahwa beliau berkata: “Memberi makan kepada seorang mu’min yang membutuhkan, lebih aku senangi daripada bertamu ke rumahnya, dan berkunjung ke rumahnya lebih aku senangi daripada membebaskan sepuluh budak”.[36]

Dari hadits ini, dapat diambil kesimpulan bahwa perbuatan baik memiliki keutamaan yang berbeda dan pahala tertentu sesuai dengan kadar khidmat kepada orang yang ditolong tersebut.

Yang pantas diperhatikan di sini, Imam Ash-Shadiq a.s. memandang bahwa orang yang menerima perbuatan baik lebih utama dari orang yang berbuat baik.

Perhatikanlah percakapan beliau dengan Husein bin Na’im Ash-Shahhaf di bawah ini. Beliau berkata kepadanya: “Wahai Husein, apakah kamu mencintai saudara-saudara (seimanmu)?” “Ya”, jawabku. Beliau berkata kembali: “Apakah kamu membantu orang-orang miskin?” “Ya”, jawabku kembali. Beliau menimpali: “Memang sudah selayaknya kamu mencintai orang yang mencintai Allah. Dan demi Allah, kamu tidak akan dapat membantunya (dengan sepenuh hati) kecuali jika kamu mencintainya.

Apakah kamu mengundang mereka ke rumahmu?” Aku menjawab: “Ya. Aku tidak akan makan kecuali dua atau tiga dari mereka makan bersamaku, bahkan kadang-kadang lebih atau kurang”. Beliau berkata: “Ketahuilah, mereka lebih utama darimu”. Aku bertanya: “Aku memberi makan kepada mereka dan menerima mereka di rumahku, bagaimana mereka lebih agung dan keutamaanku?” Beliau menjawab: “Ya. Karena mereka ketika masuk ke rumahmu, mereka masuk dengan membawa ampunan bagimu dan keluargamu. Dan ketika mereka keluar dari rumahmu, mereka keluar dengan membawa dosa-dosamu dan dosa-dosa keluargamu”.[37]

Berbuat baik kepada saudara-saudara seiman tidak hanya terbatas pada satu amal (seperti mengundang mereka ke rumah kita). Akan tetapi lebih dari itu, seperti memberikan pinjaman, sedekah kepada mereka dan lain-lain. Karena mu’min adalah berkah bagi mu’min yang lain, dan berkahnya tidak akan terfokus dalam satu amal saja. Imam Al-Jawad a.s. berkata: “Orang mu’min adalah berkah bagi mu’min yang lain dan hujjah bagi orang kafir”.[38]

Berkenaan dengan memberikan pinjaman kepada saudara seiman yang membutuhkan pahalanya sangat besar, Abu Abdillah a.s. berkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘Barang siapa yang memberikan pinjaman kepada seorang mu’min dengan harapan semoga terselesaikan kesulitannya, maka ia mendapatkan pahala zakat dan para malaikat mengirimkan shalawat kepadanya sehingga orang mu’min tersebut membayarnya”.[39]

Imam Ash-Shadiq a.s. menegaskan bahwa berbuat baik kepada orang lain selain memiliki dimensi individu, seperti yang di katakan oleh beliau: “Jika seorang hamba mu’min berbuat baik (kepada orang lain), Allah akan melipat gandakan setiap perbuatan baiknya tujuh ratus kali lipat. Dan inilah arti firman Allah: “Dan Allah melipat gandakan (pahala) bagi siapa yang Ia kehendaki”,[40] juga memiliki dimensi sosial yang terjelmakan dalam bentuk hak-hak (yang harus dipenuhi oleh seorang mu’min ).

Abul Ma’mun Al-Haritsi berkata: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah a.s.: “Apakah hak seorang mu’min atas mu’min yang lain?” Beliau menjawab: “Di antara hak-hak seorang mu’min atas mu’min yang lain, hendaklah mencintainya dengan sepenuh hati, menolongnya dengan hartanya, membantu dan menjaga keluarganya sepeninggalnya, menolongnya atas orang yang menzaliminya, jika ada harta (seperti ghanimah perang) yang sedang dibagi di kalangan muslimin sedangkan ia tidak hadir, hendaknya ia mengambilkan bagiannya, jika ia meninggal dunia, hendaklah ia berziarah ke kuburnya.

Janganlah ia menzalimi, menipu, mengkhianati, menelantarkan dan membohonginya. Janganlah ia mencacinya, karena jika ia berkata begitu kepadanya, wilayah antara keduanya akan sirna.

Jika ia berkata kepadanya: ‘Kamu adalah musuhku’, maka salah satunya telah kafir. Dan jika ia menuduhnya (dengan sebuah tuduhan), maka imannya akan musnah sebagaimana garam larut di dalam air”.[41]

Ahlul Bayt a.s. menganggap bahwa memenuhi hak-hak orang, mu’min adalah ibadah yang paling utama. Dalam kaitannya dengan ini, Imam Ash-Shadiq a.s. berkata:

ما عبدالله بشيئ أفضل من أداء حق المؤمن

“Amal yang paling utama sebagai penjelmaan ibadah kepada Allah adalah memenuhi hak-hak orang mu’min”.[42]

e. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan mu’min

Iman menganjurkan setiap mu’min untuk berk11idmat kepada saudara-saudara seimannya. Imam Ash-Shadiq a.s. berkata: “Mu’minin adalah pembantu saudaranya yang lain”. Salah seorang sahabat bertanya: “Bagaimana mereka membantu saudaranya yang lain?” Beliau menjawab: “Saling memberikan manfaat kepada yang lain”.[43]

Oleh karena itu, persaudaraan yang terjalin antara mu’minin menuntut mereka untuk memenuhi kebutullan-kebutuhan saudara-saudara mereka yang lain.

Kepedulian sosial semacam ini lebih besar pahalanya dari ibadah-ibadah yang lain, seperti memerdekakan budak, jihad dan lain-lainnya. Abu Abbdiniah a.s. berkata: “Memenuhi kebutuhan orang mu’min lebih bakt daripada memerdekakan seribu budak dan menghadiahkan seribu kuda di jalan Allah”. Begitu juga memenuhi kebutuhan-kebutuhan orang mu’min lebih dicintai oleh beliau dari pada ibadah haji.

Shafwan Al-Jammal berkata: “Aku duduk bersama Abu Abdillah a.s., tiba-tiba seorang penduduk Makkah yang bernama Maimun masuk. Ia mengadu kepada beliau sulitnya pembayaran ongkos (sewa onta yang telah ia sewakan kepada salah seorang penduduk kota itu). Beliau berkata kepadaku: ‘Pergi dan tolonglah saudararnu ini’. Lantas aku pergi bersamanya, dan Allah memudahkan urusan pembayaran ongkos sewa onta itu.

Setelah itu aku kembali ke tempatku semula. (Setelah sampai), beliau bertanya kepadaku: ‘Apa yang kau lakukan untuk saudaramu itu?’ ‘Demi ayah dan ibuku, Allah telah menyelesaikan melunasinya, jawabku. Beliau berkata: “Saya lebih suka kamu menolong saudara seagamamu dari pada berthawaf selama seminggu di Baitullah”.[44]

Ada beberapa hadits lain dari Ahlul Bayt a.s. yang menegaskan berlipat gandanya pahala orang yang berjalan demi memenuhi kebutuhan saudaranya. Imam Ash-Shadiq a.s. berkata:

ما من مؤمن يمشي لأخيه المؤمن في حاجة إلا کتب الله عزوجل له بکل خطوة حسنة وحط بها عنه سيئة ورفع له بها درجة وزيد بعد ذلك عشر حسنات وشفع في عشر حاجات

“Seorang mu’min yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudara seimannya, maka Allah akan menulis baginya satu hasanah, menghapuskan darinya satu kejelekan, menganugerahkan kepadanya satu derajat untuk setiap langkahnya, dan ditambahkan baginya sepuluh hasanah serta dikabulkan sepuluh hajatnya”.

Dalam kesempatan yang lain beliau juga berkata:

من قضی لأخيه المؤمن حاجة قضی الله له يوم القيامة ماة ألف حاجة

“Barang siapa yang memenuhi satu hajat saudara seimannya, niscaya Allah akan mengabulkan seratus ribu hajatnya pada hari kiamat”. Beliaujuga berkata: “... Allah akan selalu menolong seorang mu’min selama ia menolong saudaranya”.[45]

Ahlul Bayt a.s. mencela orang-orang yang tidak peduli terhadap kebutuhan dan musibah-musibah yang menimpa saudara-saudara mereka.

Al-Hasan bin Katsir berkata: “Aku mengutarakan hajatku kepada Abu Ja’far, Muhammad bin Ali a.s., dan aku juga mengadukan ketidakpedulian saudara-saudara seimanku terhadap hajat tersebut.

Beliau berkata: “Saudara yang paling jelek adalah, jika kamu kaya, ia selalu bersamamu dan jika kamu telah miskin, maka ia meninggalkanmu”. Setelah berkata begitu, beliau memanggil pembantu beliau dan memberikan sebuah kantong uang yang berisi 700 Dirham kepadanya seraya berkata: “Infakkanlah uang ini. Jika uang itu telah habis, beritahukan kepadaku”.[46]

Atas dasar ini, kita memahami bahwa rasa persaudaraan dan saling tolong menolong sebagai konsekuensi rasa persaudaraan tersebut, menjadi perhatian utama para imam a.s. Ini dikarenakan hal ini adalah satu-satunya jaminan bagi terbentuknya sebuah masyarakat yang bersatu. Oleh karena itu, mereka menganjurkan para pengikutnya untuk merealisasikan rasa kepedulian sosial ini.

Imam Al-Bagir a.s. berkata kepada salah seorang sahabat beliau: “Wahai Ismail, apakah pada masa-masa sebelum ini kamu melihat seseorang yang tidak memiliki jubah sedang sebagian saudara seimannya memiliki sebuah jubah, kemudian ia memberikan jubah tersebut kepadanya dan mengharap jubah yang lain?” “Tidak”, jawabku.

Beliau bertanya kembali: “Apakah kamu melihat jika ia memiliki pakaian sedangkan yang lain tidak memilikinya, kemudian ia memberikannya kepadanya dan mengharapkan pakaian yang lain?” “Tidak”, jawabku lagi. Lalu beliau menepuk pahanya seraya berkata: “(Ketahuilah) mereka bukan saudara”.[47]

Dalam sebuah hadits Sa’id bin Al-Hasan meriwayatkan bahwa Abu Ja’far a.s. berkata: “Apakah pernah terjadi seseorang dari kalian datang kepada saudara seimannya, kemudian ia memasukkan uang ke saku temannya tersebut untuk menyelesaikan kesulitannya dan si saudaranya itu membiarkannya melakukan hal itu?” Aku menjawab: “Aku tidak pernah melihat itu terjadi di antara kami”. Beliau berkata: “Jika begitu, persaudaraan di antara mereka masih belum kuat”.[48]

Ringkasnya, iman mendorong para anggota sebuah masyarakat untuk selalu berbuat baik kepada sesama dan saling tolong menolong. Kepeduliaan sosial ini adalah hasil terpenting yang dibuahkan oleh iman.

Adapun orang-orang kafir, karena tidak meyakini tuntunan agama dalam kehidupan, mereka selalu kikir. Lebih parah dari itu, mereka mengajak orang lain untuk kikir.

Alquran telah menceritakan kepada kita tentang sikap mereka ini melalui sebuah percakapan yang pernah terjadi antara mu’minin dan mereka. Ia berfirman:

﴿وإذا قيل لهم أنفقوا مما رزقکم الله قال الذين کفروا للذين آمنوا أنطعم من لو يشاء الله أطعمه إن أنتم إلا في ضلال مبين

“Dan jika dikatakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebagian dari rezeki yang diberikan Allah kepadamu”, maka orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Ia akan memberi mereka makan? Kamu adalah dalam kesesatan yang nyata”.[49]

Berkaitan dengan hal di atas pula, Alquran juga menceritakan sebuah percakapan yang terjadi di antara mereka yang menggambarkan kepada kita mengapa orang-orang kafir masuk ke neraka. Ia berfirman: “Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqar? Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan tidak pula memberi makan orang miskin”.[50]

Rasulullah saw bersabda: “Pada hari kiamat kelak, orang-orang kafir alan ditanya: ‘Seandainya di dunia kamu memiliki emas seluas bumi, apakah kamu rela untuk memberikannya kepada orang lain?’ Mereka alan mejawab: ‘Ya’. Pada saat itu (ada suara) yang berkata kepada mereka: ‘Bohong, kamu pernah diminta untuk memberikan sesuatu yang lebih sedikit dari emas itu kepada orang lain dan menolak untuk memberikannya”.[51]

Kedua, perubahan sistem hubungan sosial

Ketika kufur melandasi hubungan sosial mereka dengan fanatisme golongan, pertalian darah, kerabat, warna kulit, tempat tinggal dan lain sebagainya, sebagaimana yang telah termaktub di dalam Al Qur’an:

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu kesombongan Jahiliah)...”.[52] sebaliknya, kita dapati iman membuka wawasan baru dalam membentuk hubungan sosial antara sesama manusia yang berlandaskan persaudaraan dan persamaan hak.

Tolok ukur utama keistimewaan salah satu anggota masyarakat itu atas yang lain adalah iman dan takwa. Allah berfirman:

﴿يا أيها الناس إنا خلقناکم من ذکر وأنثی وجعلناکم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أکرمکم عند الله أتقاکم﴾

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenai mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa”.[53]

Rasulullah saw dalam kegiatan-kegiatan dakwah beliau berusaha sekuat tenaga untuk memusnahkan fanatisme dan budaya-budaya Jahiliah dari hati sahabat-sahabat beliau.

Sebagai bukti atas realitas ini, Salman Al-Farisi yang telah diangkat oleh imannya dari kedudukan sosial yang rendah menjadi seorang sahabat utama; sebelumnya ia adalah budak Persia kemudian ia dimerdekakan setelah beriman dan menjadi salah seorang anggota Ahlul Bayt a.s., muslimin menghormati dan mengagungkannya.

Hal ini membangkitkan kedengkian sebagian sahabat yang masih memiliki rasa fanatisme dan budaya-budaya jahiliah, seperti Umar bin Khattab.

Suatu hari Salman memasuki Mesjid Rasulullah saw. Hadirin menyambutnya dengan penuh penghormatan lalu mendudukkannya (di depan masjid), demi menghargai hak, menghormati usia dan keistimewaannya di sisi Rasulullah dan keluarga beliau a.s.

Tidak lama kemudian Umar juga memasuki masjid dan melihat kepada Salman seraya berteriak: “Siapakah orang ‘Ajam yang berani lancang duduk membelakangi bangsa Arab ini?” Pada saat itu, Rasulullah naik ke atas mimbar seraya berkata: “Sesungguhnya manusia dari sejak zaman Adam hingga zaman kita sekarang ini bagaikan gigi-gigi sisir. Tidak ada keistimewaan bagi orang Arab atas orang ‘Ajam, dan bagi orang yang berkulit merah atas orang yang berkulil hitam kecuali dengan takwa”.[54]

Islam telah membekali orang mu’min dengan cara pandang dan pemikiran yang benar sehingga ia tidak akan terjerumus ke dalam fanatisme dan membanggakan keturunan, Sebagai bukti realita ini, ketika bangsa Quraisy berbangga diri di hadapan Salman Al-Farisi, ia hanya berkata: “Aku telah diciptakan dari air sperma yang kotor dan menjijikkan. Setelah itu, aku akan menjadi bangkai yang menebarkan bau menyengat hidung dan kelak aku akan dihadirkan di hari pertimbangan amal. Jika timbangan amal baikku berat, maka aku akan mulia dan jika ringan, maka aku akan hina”.[55]

Bukti jelas adanya perubahan sistem hubungan sosial yang dibawa oleh iman ini, ada individu-individu dari halangan bawah (sebelum beriman), lalu setelah masuk Islam mereka memiliki kedudukan yang tinggi sehingga mereka berani mengawini wanita-wanita kelas atas (di kalangan bangsa mereka).

Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:

إنما زوجت مولاي زيد بن حارثة زينب بنت جحش وزوجت المقداد ضباعة بنت زبير لتعلموا أن أکرمکم عندالله أحسنکم إيمانا

“Sesungguhnya aku mengawinkan budakku, Zaid bin Haritsah dengan Zainab binti Jahsy dan Miqdad dengan Dlaba’ah binti Zubair supaya kamu mengetahui bahwa orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling baik imannya”.[56]

Begitu juga ada sebagian sahabat yang telah menduduki kedudukan yang mulia dalam Islam, seperti Bilal Al-Habasyi sebagai muazzin Rasulullah saw dan Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang masih belia kala itu memegang tampuk kepemimpinan tentara beliau yang sedang menuju Mu’tah demi menghadapi serangan Romawi, dan beliau menjadikan Abu Bakar, Umar, sahabat-sahabat besar Muhajirin dan Anshar di bawah kepemimpinannya.

Di samping itu, iman telah berhasil mengubah adat dan kebiasaan-kebiasaan yang lebih mementingkan harta dan ketenaran yang berlaku kala itu secara total dengan adat dan kebiasaan-kebiasaan baru yang berlandaskan kepada takwa, khususnya adat perkawinan yang kala itu bertolok ukur pada harta dan kedudukan.

Dalam kaitannya dengan ini Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang mengawinkan anakknya dengan orang fasiq, maka ia telah memutus rahimnya sendiri”.[57]

Seseorang datang kepada Imam Hasan a.s. untuk meminta pendapat beliau tentang perkawinan puterinya. Beliau berkata:

زوجها من رجل تقي، فإنه إن أحبها أکرمها وإن أبغضها لم يظلمها

“Kawinkanlah dengan seorang yang bertakwa. Karena jika ia mencintainya, maka ia akan Memuliakannya, dan jika ia membencinya, maka ia tidak akan menzaliminya”.[58]

Islam juga memerangi kebiasaan-kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan anjuran kesederhanaan, tidak mendatangkan manfaat sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan dan penghalang spiritual atau sosial antara penguasa dan rakyat kecil.

Imam Ali a.s. adalah seorang pemimpin Islam ideal yang menyukai kesederhanaan dan rasa rendah hati serta membenci suatu pekerjaan yang dipaksa-paksa.

Ketika beliau menuju ke Syam (Syiria), di tengah perjalanan beliau bertemu dengan para pembesar kota Al-Anbar. Mereka turun dari tunggangan mereka dan bersimpuh di hadapan beliau. Beliau berkata: “Apa yang sedang kalian kerjakan ini?” Mereka menjawab: “Kami diciptakan untuk mengagungkan para pemimpin kami”. Beliau berkata lagi: “Demi Allah, para pemimpinmu tidak akan mendapatkan faedah dari kelakuanmu ini. (Dengan pekerjaan ini), kamu hanya melelahkan dirimu sendiri di dunia dan akherat”.[59]

Ketiga, iman mendatangkan berkah dan kekuatan

Iman mendorong para pengikutnya untuk selalu maju dan pantang mundur.

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang dua harinya sama, maka ia rugi, dan barang siapa yang hari esoknya lebih jelek dari hari sekarangnya, maka ia terlaknat. Barang siapa yang tidak meneliti kekurangan dirinya, maka ia berada dalam kekurangan, dan barang siapa yang berada dalam kekurangan, maka mati lebih utama baginya”.

Ali bin Husein a.s. berkata: “Pada suatu hari ketika Amirul Mu’minin a.s. sedang duduk-duduk bersama sahabat dan menggerakkan hati mereka untuk berperang, datanglah seorang tua menghampiri beliau seraya berkata: “Aku datang dari Syam dan aku telah mendengar keutamaanmu yang tidak terhitung. Aku yakin sebentar lagi kamu pasti akan dibunuh. Oleh karena itu, ajarkanlah kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu!” Beliau berkata: “Wahai orang tua. Barang siapa yang dua harinya sama, maka ia rugi... Dan barang siapa yang berada dalam kekurangan (yaitu tidak dapat memperoleh manfaat lebih baik dari hari kemarinnya), maka mati lebih utama baginya”.[60]

Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa iman selalu mendorong para anggota masyarakat untuk selalu maju ke depan dan menggunakan kemampuannya demi mencapai kesempurnaan.

Atas dasar ini, efek-efek iman kepada Allah akan terjelmakan dalam lingkungan yang didiami oleh seorang mu’min.

Dengan izin Allah, lingkungan tersebut akan terpenuhi segala kebaikan dan berkah. Hal ini berpengaruh dalam bertambahnya kekuatan lingkungan tersebut, baik dalam bidang ekonomi, sosial dan lain sebagainya.

Di antara bukti-bukti Alquran atas realita ini adalah perkataan Nabi Daud a.s. kepada masyarakatnya yang kala itu sedang ditimpa paceklik dahsyat yang disebabkan oleh kekufuran mereka. Berkenaan dengan hal ini Allah berfirman :

﴿ويا قوم الستغفروا ربکم ثم توبوا اليه يرسل السماء عليکم مدرارا ويزدکم قوة الی قوتکم ولا تتولوا مجرمين﴾

“Dan (ia berkata): “Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Ia akan menurunkan hujan yang amat deras atasmu dan akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”.[61]

Dari ayat di atas jelaslah, Nabi Hud a.s. memberitahukan kepada kaumnya bahwa iman akan mendatangkan kebaikan dan berkah bagi masyarakat dengan turunnya hujan yang deras dari langit dan basil bumi yang melimpah, yang secara otomatis akan menambah kekuatan mereka dua kali lipat.

Adapun berpaling dari jalan iman, akan menghapus berkah yang telah dimiliki oleh sebuah masyarakat yang pada akhirnya akan menghancurkan masyarakat tersebut.

Dalam kaitannya dengan hal ini Allah berfirman: “Dan Allah telah memberikan perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman nan tenteram, rezekinya datang melimpah ruah dari segala tempat. Lalu penduduk negeri tersebut mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah menimpakan kelaparan dan ketakutan kepada mereka karena perbuatan mereka tersebut. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, lalu mereka mendustakannya. Oleh karena mereka dimusnahkan oleh siksa, dan mereka adalah orang-orang zalim”.[62]

Atas dasar ini, kufur adalah faktor utama musnahnya sebuah masyarakat. Dan Allah telah memusnahkan umat-umat terdahulu yang kafir melalui macam-macam siksaan.

Allah Ta’ala memperingatkan orang-orang kafir untuk tidak berbangga diri dengan merasa aman dan tenang terhadap janji ini. Karena kebiasaan Allah swt adalah menunda turunnya siksa.

Allah berfirman kepada mereka: “Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersamamu atau Ia meniupkan (angin keras yang menerbangkan) batu-batu kerikil, kemudian kamu tidak akan menemukan seorang pelindungpun bagi dirimu? Atau apakah kamu merasa aman jika Allah mengembalikanmu ke laut sekali lagi, lalu Ia mengirimkan angin topan, kemudian Ia menenggelamkanmu disebabkan oleh kekafiranmu, dan selanjutnya kamu tidak akan mendapatkan seorang penolongpun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami?”.[63]

Dan barang siapa yang membaca (dan menelaah) surat Hud, ia akan menemukan rentetan cerita kebinasaan yang pernah menimpa masyarakat-masyarakat kafir, dimulai dari cerita kaum ‘Add hingga Fir’aun.

Selanjutnya surat di atas menyimpulkan sebuah pelajaran penting dan berharga bagi kita bahwa kezaliman adalah faktor utama kehancuran masyarakat-masyarakat tersebut.

Allah berfirman:

﴿وکذلك أخذ ربك إذا أخذ القری وهي ظالمة أن أخذه أليم شديد﴾

“Begitulah azab Tuhanmu apabila Ia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat kelaliman. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras”.[64]

Sebaliknya iman, berkah dan buahnya tidak hanya terbatas pada kehidupan si mu’min belaka, bahkan berkah dan buah itu dapat dinikmati oleh anak cucu dan keturunannya.

Di antara wasiat-wasiat atau pesan-pesan abadi Rasulullah saw kepada Abu Dzar: “Wahai Abu Dzar, dengan kesalehan seorang hamba Allah akan memperbaiki (kehidupan) anak dan cucu-cucunya, dan menjaganya di sisi-Nya. Namanya akan selalu dikenang selama anak cucunya masih hidup”.[65]

Ringkasnya, iman adalah sebuah tembok pengaman yang menjaga sebuah masyarakat dari kehancuran, sedang kufur serta yang sejenisnya, seperti kelaliman adalah sumber kehancuran sebuah mayarakat.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam dan salawat serta salam-Nya semoga terlimpahkan kepada makhluk terbaik-Nya, Muhammad dan keluarganya yang suci a.s.


RUJUKAN

1. Al Qur’an

2. Nahjul Balaghah, Shubhi Shaleh, Entesyarat-e Hejrat, Qom.

3. Tafsir Al-Mizan, Allamah Thabathaba’i, Mu’assasah Al-A’lami, Beirut 1393 H, cetakan ke 2.

4. Tuhaful ‘Uqul, Ibnu Syu’bah Al-Harani, Mu’assasah An-Nasyrul Islami, Qom, cetakan ke 2.

5. Ushulul Kafi, Al-Kulaini, Dar Sha’b, Beirut 1401 H, cetakan ke 4.

6. Ma’anil Akhbar, ash-Shaduq, Mansyurat Jama’atil Mudarrisin, Qom 1379 H.

7. Kanzul ‘Ummal, Al-Muttaqiy Al-Hindi, Mu’assasah Ar-Risalah 1405 H, cetakan ke 5.

8. Adz-Dzari’ah ila Makarimisy Syari’ah, Ar-Raghib Al-Ishfahani, Maktabah Al-Kulliyat Al-Azhariyah, Mesir 1393 H, cetakan ke 1.

9. At-Tafsir Al-Kabir, Al-Fakhrur Razi, cetakan ke 3.

10. Mufradat Alfadhil Quran, Ar-Raghib Al-Ishfahani, Al-Maktabah Al-Murtadlawiyah.

11. Al-Khishal, Syeikh Shaduq, Mansyurat Jama’atil Mudarrisin, Qom 1403 H.

12. Makarimul Akhlaq, Ath-Thabarsi, Mu’assasah Al-A’lami, Beirut 1392 H, cetakan ke 6.

13. Al-Amali, Syeikh Shaduq, Mu’assasah Al-A’lami, Beirut 1400 H, cetakan ke 5.

14. Al-Irsyad, Syeikh Mufid, Mansyurat Bashirati, Qom.

15. Al-Ikhtishash, Syeikh Mufid, Intisyarat Maktabah Az-Zaura’, Qom 1402 H.

16. Al-Fushulul Mukhtarah minal ‘Uyun wal Mahasin, Sayyid Al-Murtadla, Mansyurat Maktabah Ad-Dawari, Qom 1397 H, cetakan ke 4.

17. Raudlatul Wa’idhin, Al-Fattal An-Naisaburi, Mansyurat Ar-Radli, Qom.

18. Al-Mahajiatul Baidla’, Al-Muhaqqiq Al-Kasyani, Muassasah Al-A’lami, Beirut 1403, cetakan ke 2.

19. Tanbihul Khawathir yang lebih dikenal dengan nama Majmu’ah Warram, Dar Sha’b.

20. Fi Dhilal Ash-Shahifah As-Sajjadiyah, Syeikh Mughniah, Darut Ta’aruf Beirut, cetakan ke 2.

21. Akhlaq Ahlil Bayt as, Sayyid Mahdi ash-Shadr.

22. Syarh Nahjul Balaghah, Ibnu Abil Hadid, Dar Iya’it Turats Al-‘Arabi, cetakan ke 2.

23. At-Tauhid, Syeikh Shaduq, Mu’assasah An-Nasyril Islami, Qom.

24. Al-Mukmin. Asy-Syeikh ats-Tsiqah Husein bin Sa’id Al-Kufi Al-Ahwazi, Madrasah Al-Imam Al-Mahdi as, Qom 1404 H

25. Furu’ Al-Kafi, Al-Kulaini, Dar Sha’b, Beirut 1401 H, cetakan ke 4.

26. Raudlur Riyahin fi Hikayaat Ash-Shalihin, Abdullah bin As’ad Al-Yafi’i Al-Yamani, Mu’assasah ‘Imaduddin, Cyprus.

27. Fi Rihab Ahlil Bayt as, Sayyid Muhsen Al-Amin, Darut Ta’aruf Mathbu’at, Beirut 1400 H.

28. Wasail Asy-Syi’ah, Al-Hur Al-‘Amili, Dar Ihya’it Turats Al-‘Arabi, Beirut 1403 H, cetakan ke 5.

29. Al-Manaqib, Al-Kharazmi, Maktabah Nainawa Al-Haditsah, Teheran, Nasher Khosrou.

30. Asy-Syi’ah bainal Haqa’iq wal Awham, Sayyid Muhsin Al-Amin, Muassasah Al-A’lami, cetakan ke 2.

31. Qishashul Quran, Muhammad Ahmad Jadal Maula, Dar Ar-Ra’id Al-‘Arabi, Beirut 1406 H.

32. Majma’ul Bahrain, Syeikh Ath-Thuraihi, Al-Maktabah Al-Murtadlawiyah, Teheran.

33. Al-Amtsal fil Quran, Dr. Mahmud bin Syarif, Dar Maktabah Al-Hilal, Beirut, cetakan ke 5.

34. Tsawabul A’mal wa ‘Iqabul A’mal, Shaduq, Mu’assasah Al-A’lami, Beirut, cetakan ke 4.

35. At-Tafsirul Kasyif. Syeikh Mughniah, Darul ‘Ilm lil Malayin, Beirut, cetakan ke 3.

36. As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, Darul Fikr, Kairo.

37. Man laa Yahdluruhul Faqih, Syeikh Shaduq, Dar Sha’b, Beirut 1981 M.

38. Ushul ‘Ilmin Nafs, Dr. Ahmad ‘Izzat Rajih, Al-Maktabul Mishri Al-Hadits, Alexandria 1970 M, cetakan ke 8.

39. Al-Khathaya fil Islam, ‘Afif Abdul Fattah Thabarah, Darul ‘Ilm lil Malayin, Beirut, cetakan ke 1.

40. Sunan Abi Dawud, Darul Fikr, dikoreksi kembali oleh Muhammad Muhyiddin.

41. Shahih Muslim, Dar Ihya’it Turats Al-‘Arabi, cetakan ke 1.

42. Ash-Shahifah As-Sajjadiyah Al-Jami’ah, Mu’assasah Al-Imam Al-Mahdi, Qom 1411 H, cetakan ke 1.


Daftar Isi

IMAN DAN KUFUR 1

Markaz Risalah 1

PENGANTAR PENERBIT 2

MUKADIMAH 7

PASAL IV 11

PENGARUH IMAN DAN KUFUR ATAS KEHIDUPAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT 11

Pengaruh Iman atas Kehidupan Individu 13

Pengaruh Iman atas Kehidupan Sosial 28

RUJUKAN 49



[1] As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam 1 : 349, Darul Fikr, Kairo.

[2] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 559, Hikmah : 478.

[3] Kanzul ‘Ummal 10 : 136/28687.

[4] Ghurarul Hikam.

[5] Kanzul ‘Ummal 10 : 145/28740; UshululKafi 1 : 33/8, kitab fadlul ‘ilm.

[6] Kanzul ‘Ummal 1 : 38/77.

[7] Ibid. 2 : 120/5766.

[8] Man la Yahdluruhul Faqih 3: 95, Dar Sha’b, Beirut 1981 M; Ibid. 3 : 99.

[9] Ushul ‘Ilmin Nafs, Dr. Ahmad Izzat Rajih : 120, Al-Maktab Al-Mishri Al-Hadits, Alexandria 1970 M, cetakan ke 8.

[10] Surah Ar-Ra’d 13 : 28; Al-An’am 6: 82.

[11] Tauhid Ash-Shaduq : 338.

[12] Kanzul ‘Ummal 1 : 347/1564.

[13] Al-Khathaya fil Islam, Latif Abdul Fattah Thabarah : 22-23, Darul ‘Ilm lil Malayin, Beirut, cetakan ke 1.

[14] Surah Al-A’raf 7 : 23.

[15] Surah Al-Qashash 28 : 16.

[16] Surah Al-Hadid 57 : 4.

[17] Ushul ‘Ilmin Nafs : 12.

[18] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih: 349, Khotbah: 227.

[19] Tanbihul Khawathir, Amir Warram 2 : 230.

[20] Surah Al-Munafiqun 63 : 8; at-Tahdzib, Syeikh Tuhsi 6 : 179; Biharul Anwar 100 : 93.

[21] Tuhaful ‘Uquul : 234.

[22] Ushulul Kafi 2 : 86/8.

[23] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 540, Hikmah : 371; Al-Khishal, Shaduq: 420, Bab at-Tis’ah.

[24] Surah Ali Imran 3 : 134.

[25] Al-Mahajjah Al-Baidla’ 5: 195.

[26] At-Tafsir Al-Kasyif, Syeikh Mughniah 6: 265, Darul ‘Ilm lil Malayin, Beirut 1981 M, cetakan ke 2.

[27] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 539, Hikmah : 376.

[28] Tanbihul Khawathir : 275; Al-Bihar 70 : 321-322.

[29] Surah Al-Hujurat 49 : 10.

[30] Surah Ali Imran 3 : 103.

[31] UshululKafi 2 : 182/17; Kanzul ‘Ummal 142/687.

[32] Ushulul Kafi 2 : 189; Tsawabul A’mal, Shaduq : 181.

[33] Ma’anil Akhbar : 255.

[34] Tsawabul A’mal, Shaduq : 179.

[35] Ibid. : 166.

[36] Ushulul Kafi 2 : 203/18, kitab al-iman wal kufr.

[37] Ibid. 2 : 201-202/8.

[38] Tuhaful ‘Uquul : 489.

[39] Tsawabul A’mal : 168.

[40] Ibid. : 202; Surah Al-Baqarah 2 : 261.

[41] Ushulul Kafi 2 : 171/7, kitab al-iman wal kufr.

[42] Ibid. 2 : 170/4.

[43] Ibid. 2 : 167/9.

[44] Ibid. 2 : 193/2; Ibid. 2 : 198.

[45] Ibid. 2 : 197/5; 2 : 192-193/1; 2 : 200/5.

[46] Al-Irsyad, Syeikh Mufid : 266.

[47] Tanbihul Khawathir 2 : 85.

[48] Ushulul Kafi 2 : 173-174/13, kitab al-iman wal kufr.

[49] Surah Yasiin 36: 47.

[50] Surah Al-Muddatstsir 74 : 42-44.

[51] Tanbihul Khawathir 2 : 226.

[52] Surah Al-Fath 48 : 26.

[53] Surah Al-Hujurat 49 : 13.

[54] Al-Ikhtishash, Syeikh Mufid : 341.

[55] Tanbihul Khawathir 1 : 203.

[56] Kanzul ‘Ummal 1 : 78/313.

[57] Makarimul Akhlaq, Thabarsi : 204.

[58] Makarimul Akhlaq, Thabarsi : 204.

[59] Nahjul Balaghah, Shubhi Shalih : 475, Hikmah : 37.

[60] Tanbihul Khawathir 2 : 229; Ibid. 2 : 173.

[61] Surah Hud 11: 52.

[62] SurahAn-Nahl 16: 112-113.

[63] Surah Al-Isra’ 17 : 68-69.

[64] Surah Hud 11 : 102.

[65] Makarimul Akhlaq, Thabarsi : 456, Mansyurat Al-A’lami, Beirut 1403 H, cetakan ke 5.