PESAN SANG IMAM

(Bagian 8)

Penerjemah : Tim AI-Jawad

Penerbit : AI-Jawad Publisher

Tahun Penerbitan : Shafar 1421 H/Mei 2000 M

Khomeini, Ruhullah al-Musawi


UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kepada Ilahi Rabbi yang dengan izinnya, saya dapat menyelesaikan penyusunan buku ini. Shalawat serta salam saya haturkan kepada junjunganku Rasulullah Saww beserta Ahlibaitnya yang disucikan, karena dengan bimbingan mereka telah memberikan jalan lurus kepada Sumber Pencipta.

Sebelumnya saya meminta maaf, karena buku ini hanyalah merupakan kumpulan khutbah-khutbah maupun tulisan Imam Khomeini yang dipilih dan dipilah dari beberapa buletin Islam, jurnal-jurnal lslam dan referensi-referensi lain. Dengan demikian, ini bukanlah karya utuh beliau. Akan tetapi, benang merah yang terjalin dalam pikiran-pikiran Sang Matahari Persia ini tetaplah akan memberikan citra beliau sebagai insan yang sempurna. Meskipun sedikit.

Besarnya kecintaan saya -untuk sekadar mewakili para pembela keadilan dan penegak kebenaran- kepada Imam Khomeini atas segala perjuangan dan pengorbanan yang dilakukannya dalam menegakkan Islam di tengah-tengah kezaliman abad ini memotivasi saya memberanikan diri menyusun buku ini. Sekadar mempublikasikan kepada khalayak ramai mengenai perjuangan Imam Khomeini agar kita dapat bercermin dan mengambil hikmah serta mengaplikasikannya dalam kehidupan kita untuk menegakkan Islam selaku umat Rasul dan para Imam suci.

Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya saya ucapkan kepada Yayasan AI-Jawad berkenaan dengan penerbitan buku ini; kepada ustadz Husein Alkaff, dan rekan-rekan staff AI-Jawad yang senantiasa membantu baik secara moral maupun spiritual. Khususnya terimakasih saya ucapkan sedalam-dalamnya kepada isteri dan anak saya tercinta Muhammad Mahdi Ruhullah, yang selalu memberikan dorongan untuk segera merampungkan buku ini.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada para penerjemah dan beberapa penulis khutbah Imam Khomeini yang saya ambil dari beberapa buku, karena tidak meminta izin atau permohonan sebelumnya untuk memuat khutbah-khutbah Imam. Saya semata-mata ingin menampilkan sosok Imam Khomeini dari berbagai sudut pandang perjuangan dan pengorbanan dengan keterbatasan sumber pustaka yang saya miliki.

Harapan saya yang utama adalah mudah-mudahan buku ini bisa membuka wawasan baru kepada umat Islam, khususnya para pemuda, yang memiliki ghirah tinggi sehingga mampu mengambil hikmah dari sejarah yang baru saja terjadi di abad XX.

Imam Khomeini adalah sosok yang sesuai sekali dengan gambaran Imam ‘Ali as. yaitu sebagai: “Orang yang menarik dan menolak”. Di satu sisi dia disanjung dan dicinta karena dia berada pada satu jalan baik keyakinan maupun prinsip-prinsipnya. Namun di lain pihak juga ditolak oleh kelompok-kelompok yang tidak sesuai dengan pinsip dan keyakinannya. Imam Khomeini sangat mencintai kebenaran dan amat murka terhadap kezaliman. Hal ini dapat kita ketahui dari khutbah-khutbahnya.

Terakhir, saya mohon maaf atas ketidaksempurnaan buku ini dan berharap para pembaca budiman bisa menyempurnakannya dengan buku-buku sejenis. Semoga ikhtiar kecil ini mulia di hadapan Allah dan diridhai Hazhrat Shahibuzzaman afs.

Bandung, Muharram 1420 H/Mei 1999 M

Sandy Alison


SEKAPUR SIRIH

Oleh : Husein Alkaff

Imam Khomeini, Siapa dia?

Sejak runtuhnya khilafah (imperium) Otsmaniyah di Turki, tepatnya setelah perang dunia pertama tahun 1919. Negara Turki secara drastis menjadi negara sekuler pertama di negeri-negeri Islam dibawah pimpinan seorang budak Zionis-Yahudi, Mushthofa Kamal Attaturk. Konsekuensi dari tegaknya pemerintahan sekuler adalah jilbab diharamkan, huruf Arab diganti dengan huruf latin, kumandang adzan yang berpahasa Arab dirubah dengan bahasa Turki dan kebijakan-kebiajakan lainnya uhtuk menghilangkan ciri-ciri Islami dari dataran pantai Meditarian dan pesisir Kaspia. Seorang orientalis kontemporer, John L. Esposito berkata, “Semenjak tahun 1924 sampai kepada wafatnya pada tahun 1938, Mustafa Kemal melaksanakan rangkaian pembaharuan yang bersifat sekuler, yang secara tuntas menciptakan negara bercirikan pemisahan agama dan politik sepanjang kelembagaan. (Islam dan Politik, hal. 133)

Sejak itu, nasib kaum muslimin makin terpuruk. Karena tidak ada imperium Islam yang kuat setelah itu. Wilayah kaum muslimin yang terbentang dari Tanja (Maroko) sampai Jakarta (Indonesia) yang meliputi benua hitam Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah dan beberapa dataran Eropa, seperti Albania, Bosnia, Sayajevo dan Ciprus, sampai Timur Jauh (negara-negara Asia Tenggara) menjadi wilayah kolonial bangsa Eropa. Negara-negara mereka bak kue lezat yang diperebutkan dan dibagi-dibagi oleh bangsa-bangsa Eropa yang telah lama menyimpan rasa dendam dan kebencian terhadap Islam. Saya teringat dengan ucapan guru saya yang sangat saya cintai, almarhum ustadz Husein bin Abubakar Alhabsyi, dihadapan beberapa santrinya, “Lihatlah benua Afrika (sambil menunjukkan benua Afrika dalam peta dunia) yang berwarna warni dan compang-camping. Itu adalah peninggalan kaum kolonialis Eropa”. Maksud beliau, negara-negara di Afrika yang tadinya satu dibawah dominasi Turki kemudian dijajah oleh bangsa-bangsa Eropa (Inggris, Italia dan Perancis) terpecah menjadi negara-negara yang kecil.

Terdapat usaha-usaha dari kaum muslimin untuk bangkit menghadapi dominasi Eropa. Sayyid Jamaluddin Asad Abadi (atau AI-Afghani) dengan semangat Pan-Islaminya berkeliling ke negeri-negeri Islam dan berupaya menggugah para pemimpin dan ulama Islam untuk bersatu melawan barat dan para pemimpin Islam yang terbaratkan. Kesadaran kebangkitan Islam juga muncul dari tokoh-tokoh lain seperti Abula’la al-Maududi, Hasan al-Banna, Iqbal Lahore dan yang lainnya. Mereka menjadi kekuatan yang cukup ditakuti oleh para lawan. Meski, mereka tidak berhasil menegakkan pemerintahan Islam yang independen. Apalagi gerakan-gerakan yang mereka pimpin itu surut setelah ditinggalkan oleh para pendirinya.

Memang hampir di setiap zaman dan negeri Islam terdapat gerakan-gerakan yang ber-amar makruf - nahi munkar. Namun semua itu tidak banyak merubah penetrasi Barat di negeri mereka. Sebagian darinya terbatas dengan teritorial negeri mereka, yang lain sebatas penyadaran spirit Islami dan yang lain lagi hanya merubah kedewasaan berpikir saja. Dunia Islam secara umum dirundung rasa frustasi. Harapan untuk bangkit menampakkan identitas diri makin jauh dan kabur.

Di tengah kelesuan dan pudarnya harapan, dunia Islam dikejutkan dengan revolusi Islam Iran pada tahun 1979, yang secara radikal dan total merubah tatanan politik Iran, dalam maupun luar negeri Iran. Dominasi Barat (baca: Amerika) yang begitu kuat hilang serta merta tanpa bekas sama sekali. Sistem pemerintahan Pahlevi yang monarkis tumbang. Imam Khomeini ra. dengan revolusi yang spektakuler ingin menyatakan kepada dunia bahwa Iran yang Islami bisa hidup tanpa bersandar pada dua kekuatan besar dunia, Amerika Serikat dan Uni Soviet (laa syarqiyyah laa gharbiyyah). Dia menganggap Amerika Serikat sebagai si Setan Akbar, yang rakus dalam menguasai dunia dengan cara-cara yang licik dari jahat. Yang lebih menarik adalah sistem pemerintahan Iran sangat unik bagi Barat dan kebanyakan politisi dunia. Sistem pemerintahan wilayatul faqih tidak ada dalam kamus politik mereka. Jadi, Imam Khomeini benar-benar merubah sebuah pemerintahan yang tadinya sangat tergantung pada Barat, menjadi sebuah pemerintahan yang secara total lepas dari Barat. Hal itu memberikan wacana baru bagi dunia Islam, dan bahwa di dunia yang mungkin ini tidak ada yang tidak mungkin. Bagi kebanyakan manusia, termasuk di negeri kita juga, bahwa tidak mungkin sebuah bangsa berkembang dan maju tanpa mendekati Barat. Ternyata itu hanya perasaan bangsa yang inferior dan rendah diri. Imam Khomeini ingin menyatakan bahwa kemajuan sebuah negera tergantung kepada Barat itu hanya sekedar mitos yang mengada-ada, dan beliau ingin menghancurkan mitos tersebut. Beliau berkali-kali mengatakan ingin menegakkan Islam Muhammadi yang orisinil. Islam yang belum terkontaminasi dan terkooptasi oleh pemikiran-pemikiran yang membuat Islam kerdil dan tidak relevan dengan dunia modern.

Imam Khomeini ra., sebagai Man of The Year pada tahun 1979, berhasil menumbangkan boneka Amerika, Syah Reza Pahlevi, dan memotong tangan Amerika. Orangpun memujinya dengan menyebutnya sebagai seorang politikus ulung, seorang ulama fakih, seorang filosof dan seorang a’rif (baca: sufi).

Lantas apa yang melatar belakangi keberhasilan Imam Khomeini ra.?

Beliau berhasil menumbangkan rezim yang zalim dan menegakkan pemerintahan Islam bukan karena dia seorang politikus, karena banyak politikus lain yang lebih hebat darinya. Juga bukan karena beliau seorang ulama fakih karena banyak ulama yang barangkali lebih afqah darinya. Juga bukan karena dia seorang filosof dan a’rif, karena banyak filosof dan a’rif tetapi tidak seperti beliau.

Imam Khomeini ra. adalah, seperti yang sering dia katakan olehnya sendiri, hanya seorang santri kecil yang melaksanakan taklif-nya terhadap Allah Swt. B.eliau dalam menjalankan kehidupannya tidak punya cita-cita dan program yang muluk dan shofisticated. Beliau hanya menjalankan perintah Allah Swt. sebaik mungkin dan itu, menurutnya, sebuah keberhasilan. Adapun beliau telah berhasil menegakkan pemerintahan Islam, itu hanya karunia Allah Swt. semata. Beliau tidak pernah mengatakan atau beranggapan, bahwa revolusi Islam berhasil karena usahanya semata. Keberhasilan beliau terletak pada penyerahan dirinya secara total kepada Allah Swt. Sahabat dekatnya dan juga seorang ulama fakih besar, Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir Shadr, yang mati syahid, beberapa bulan setelah revolusi Islam di Iran dibunuh oleh rezim Ba’ath di Iraq, pernah memerintahkan kepada para pengikutnya, “Meleburlah kalian di dalam Khomeini sebagaimana dia telah melebur di dalam Islam”.

Keberhasilan dalam pandangan Islam bukan ditilik dari sejauh mana seseorang telah menarik massa yang banyak, membangun sekolah, menduduki pemerintahan dan meraih materi, walaupun memperoleh semacam itu tidak selalu tercela. Karena andaikan itu yang dijadikan sebagai ukuran, maka perjuangan para nabi dan rasul terdahulu dianggap tidak berhasil. Dan Adolf Hitler, Stalin, Lenin dan yang lain berhasil dalam menegakkan pemerintahan dan menarik massa. Keberhasilan dalam pandangan Islam dilihat dari sisi sejauh mana seseorang mengabdikan dan menyerahkan dirinya kepada Allah Swt. Dan itulah tugas manusia. Imam ‘Ali as. disaat kepala sucinya ditebas secara spontanitas berkata, “Demi Tuhannya Ka’bah, aku sungguh telah beruntung”. Mati syahid di atas kebenaran merupakan keberuntungan dan keberhasilan.

Para nabi, rasul, imam dan orang saleh hanya melihat Allah Swt. sebagai target dan tujuan. Mereka terilhami wahyu Ilabi yang berbunyi “Sesungguhnya kepada Tuhanmu perjalanan berujung”. (QS. an-Najm, 53: 42), dan ayat yang lainnya. Keberhasilan dalam bidang materi tidak begitu berarti bagi mereka, dan kegagalan di dalam bidang yang sama juga tidak membuat mereka kecewa. Karena materi tidak lain dari esensi itu sendiri (al-Mahiyyah) yang, dengan meminjam istilah filsafat Transendental (al-Hikmah Muta’aliyah)-nya Mulla Sadra ra., ada dan tidak ada baginya sama” (Iihat, Bidayah al-Hikmah, Allamah Thaba’thabai ra.). Yang mereka cari adalah haqiqat sebagai haqiqat. Keterkaitan mereka dengan materi hanya karena mereka diciptakan di alam materi an sich. Hubungan mereka dengan alam materi sebatas hubungan bagian wujud mereka yang materil. Sedangkan bagian yang non materi tidak bersentuhan dengan materi. Tentang mereka, Imam ‘Ali as. berkata, “Jasad mereka berada di alam dunia, tetapi ruh mereka bergelantungan di tempat yang sangat tinggi”. (al-Hikamah 143, Syarah Nahj al-Balaqhah).

Perjalanan menuju Allah Swt, sebagaimana Imam Khomeini ra. lakukan, merupakan taklif setiap manusia. Amat sangat indah, filosof Ilahi Muhammad Shadruddin al-Syirazi atau yang lebih dikenal dengan Mulla Sadra dalam karya monumentalnya, al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al Asfaar al Aqliyyah al Arba’ah, menjabarkan perjalananmenuju Allah Swt. dalam empat tahapan. Beliau dalam kata pengantarnya mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya para pesuluk dari kalangan ‘urafa dan auliya’ mempunyai empat perjalanan: pertama, perjalanan dari makhluk menuju al-Haq. Kedua, perjalanan dengan al-Haq di dalam al-Haq. Ketiga, kebalikan dari yang pertama, perjalanan dari al-Haq menuju makhluk dengan al-Haq, dan keempat, kebalikan dari yang kedua, perjalanan dengan al-Haq di tengah makhluk”.

Yang dilakukan Imam Khomeini ra. hanya berjalan dan bergerak menuju Allah Swt.dan yang menjadi fokus perhatian beliau adalah perjalanan akal dan ruh, bukan materi, kekuasaan dan popularitas. Untuk mencari materi, kekuasaan dan popularitas tidak diperlukan menempuh perjalanan spiritual. Beliau tidak ingin materi, karena sampai akhir hayatnya pun beliau tidak meninggalkan kekayaan kecuali beberapa jilid buku, karpet yang kusam dan beberapa helai pakaian. Menjadi wali faqih pun bukan karena ambisi kekuasaan, melainkan karena panggilan tanggung jawab dan tugas di hadapan Allah Swt. Seperti halnya Nabi Yusuf as.:“Jadikanlah aku menguasai kekayaan-kekayaan bumi. Sesungguhnya aku orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan”. (QS. Yusuf, 12: 55)

Menurut Ayatullah Jawadi Amuli, seperti yang dikutip oleh Sayyid Kamal al-Haydari dalam kuliah filsafat dan kalamnya di Qum, bahwa Imam Khomeini dalam perjalanan spiritualnya telah sampai di tahapan yang ketiga. Penilaian tersebut, tentu, berlaku bagi orang yang sekelas Imam Khomeini atau orang yang punya kompetensi di bidang ‘irfan.

Sekapur sirih ini tidak ingin lebih jauh menjelaskan tentang Imam Khomeini ra., karena beliau adalah cahaya. Cahaya (nur) itu jelas dengan dirinya sendiri tanpa bantuan yang lain. Untuk mengetahui cahaya hanya diperlukan membuka mata. Karya-karya tulisnya, muri,d-muridnya dan revolusi yang beliau pimpin adalah kredit point yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, beliau besar bukan karena orang-orang yang membesarkannya, dan beliaupun tidak merasa besar dengan itu. Beliau besar dengan Sang Maha Besar. Beliau besar karena pengabdiannya kepada Sumber Kebesaran.

Bandung, 5 Shafar 1421 H/9 Mei 2000 M

Wassalam,

Husein Alkaff


PENGANTAR PENERBIT

Ayatullah Ruhullah al-Musawi al-Khomeini adalah sosok agung yang muncul pada abad XX dalam menegakkan agama Rasulullah Saww dan para Imam Suci -‘alaihimussalam- di tengah penindasan dan tirani yang kejam. Revolusi Islam Iran yang terjadi antara tahun 1978 sampai 1979 telah menumbangkan kekuasaan monarki absolut Dinasti Pahlevi, satu rezim terkuat di Dunia Ketiga yangsemuanya dibantu oleh Amerika Serikat dan Inggris. telah berhasil ditumbangkan oleh gerakan rakyat yang dipimpinnya.

Tidaklah mengherankan kalau hal ini menjadi pembicaraanyang banyakdan menyeluruh di seantero dunia, dan menjadi penelitian penting bagi pakar sosial politik karena sangatlah di luar dugaan, ulama yang sudah tua dan selalu berada di pengasingan dapat menumbangkan rezim yang sangat absolut dan totaliter, kemudian menggantinya dengan Republik Islam. Perbedaan yang sangat bertolak belakang di mana Iran prarevolusi bisa disebut sebagai negara sekuler. maka Iran pascarevolusi bisa disebut sebagai negara teo-demokrasi yang sangat didominasi oleh kaum Mullah (Ulama Syi’ah).

Revolusi Islam merupakan hasil dari proses akumulasi ketidakadilan rakyat Iran terhadap kebijakan-kebijakan Syah di segala bidang baik ekonomi, politik, agama, dan sosial budaya. Semua ketidakpuasan itu telah dialami oleh rakyat Iran selama beratus-ratus tahun. Kunci sukses dari Revolusi Islam Iran adalah : (i) di satu sisi terbentuknya persatuan di antara kelompok-kelompok penentang Syah, baik berpaham nasionalis dan Islamis; (ii) di sisi yang lain muncul Sang Imam yang dapat menyatukan mereka semua menjadi kekuatan besar dan tak dapat dibendung oleh penguasa tiran. Hal ini besar kemungkinan karena tradisi dan ideologi Syi’ah yang sangat kuat berakar di hati rakyat Iran.

Revolusi besar Iran dalam banyak hal memiliki perbedaan-perbedaan dengan beberapa revolusi yang terjadi di dunia. la berbeda dengan gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang sangat menitikberatkan kepada pendidikan individu (perorangan), juga berbeda dengan gerakan Jami’ati Islam Pakistan yang menitikberatkan pada tantangan intelektual. Bahkan Revolusi Iran berbeda jauh dengan Revolusi Prancis serta Revolusi Rusia. Revolusi Islam Iran mempunyai sejumlah keistimewaan di antaranya adalah revolusi yang dilandasi pada dasar keagamaan, keyakinan Islamis serta tujuan-tujuan hidup agamais dan Qurani. Juga tidak terlepas dari partisipasi ulama yang sangat bertanggung jawab di seluruh negara yang bertujuan untuk membentuk suatu bangsa Islami.

Perjuangan Imam Khomeini secara umum bertujuan untuk merombak tatanan sosial, politik, dan ekonomi yang sudah berubah 180 derajat dari jalan kebenaran. Penggunaan sistem pemerintahan yang dilandasi oleh konsep Wilayat al-Faqih (perwalian fakih) yang dipublikasikan secara umum oleh Imam, merupakan konsep yang dikembangkan dari keyakinannya. Partisipasi dari kalangan ulama untuk menentukan arah politik di Iran berangkat dari keyakinan bahwa Islam tidak memisahkan antara agama dan politik. Kedua-duanya merupakan satu kesatuan, sehingga peran ulama di kalangan masyarakat tidak hanya sebagai pembimbing ruhani, namun juga sebagai tokoh politik yang menentukan arah bangsa.

Banyak tokoh dunia yang angkat topi dengan Imam, baik itu dari golongan Islam sendiri, Sunni maupun Syi’ah, Bahkan juga rasa kagum dan hormat dari orang-orang luar Islam. Tak terkecuali kalangan orientalis pun kagum atas kepribadian beliau. Kepribadian yang dimiliki Imam begitu bersahaja. Kesederhanaannya telah melekat mendarah daging. Namun keteguhan sikap serta ketegarannya dalam menentang kezaliman merupakanteladan yang patut dicontoh bagi semua tokoh Islam yang menginginkan kebebasan bangsanya dari penindasan dan ketidakadilan. Orang mengira dengan menguasai Iran secara keseluruhan Imam Khomeini mendapat keuntungan materi, tetapi semua itu sirna bila kita mengetahui lebih mendalam lagi mengenai sosok beliau. Banyak tokoh tercengang dan seakan tidak percaya ketika melihat kediamannya di Jamaran, Teheran. Rumah sederhana yang luasnya tidak lebih dari 100 m2 dan hanya dilengkapi perabot sederhana untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Itupun bukan rumah pribadi melainkan rumah kontrakan.

Begitu banyak teladan mulia dari kepribadian beliau yang tidak dapat kami gambarkan di sini. Akan tetapi pembaca dapat merenungkan kepribadian beliau dari beberapa khutbahnya di buku ini yang bisa Anda tarik sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam kehidupan. Walaupun sekarang sudah tidak bersama kita lagi, namun perjuangan dan pengorbanan beliau untuk menegakkan Islam, sangatlah inspiratif dalam memperkukuh semangat juang kaum muslimin selama kita tetap berpegang kepada AI-Quran, Rasulullah dan Ahlibaitnya yang suci.

Begitu banyak cerita yang dapat kita ambil hikmahnya dan manfaatnya dari perjalanan orang-orang suci. Khususnya Rasulullah dan para Imam, juga para wali Allah baik perjuangan dan pengorbanannya. Namun tokoh sejarah yang sudah dicatat yang dekat dengan kita adalah sejarah Imam Khomeini yang masih membekas dalam ingatan kita. Artinya perjuangan seorang hamba Allah, pengikut setia Rasulullah dan Imam Suci dapat menghasilkan pribadi yang agung dan perubahan yang begitu memukau umat manusia. Apalagi sesuatu yang dihasilkan oleh guru sekaligus pembimbing utamanya yaitu RasuJullah dan para Imam Suci, tentulah jauh lebih besar lagi dari apa yang kita lihat pada sosok Imam Khomeini.

Buku ini berisi beberapa khutbah dan wasiat-wasiat Imam Khomeini menjelang wafatnya, yang akan memberikan hikmah kepada kita dalam melaksanakan kebenaran dan menentang kezaliman.

Akhir kata, kami tutup buku ini dengan Bibiografi Imam Khomeini tentang kehidupan dan perjuangannya. Semoga kontribusi kecil ini mampu menggairahkan kembali semangat ber-lslam yang benar di saat bangsa kita dilanda berbagai krisis untuk diteladani perjuangannya dalam menengakkan panji-panji Islam. Amin.

Bandung, Shafar 1421 H/Mei 2000 M

AI-Jawad Publisher


DO’A DAN PENYUCIAN JIWA

Do’a di Bulan Sya’ban Cermin Persiapan Jihad

Dalam hadis-hadis yang mulia memberikan perintah supaya membaca do’a ini pada setiap hari bulan Sya’ban. adakah saudara melakukannya?

Dan adakah saudara mengambil faedah dari peringatan yang penuh nilai keimanan dan kesucian itu? !

Do’a Amirul Mukminin ‘Ali kw. ini juga merupakan do’a Ahlibait yang dibaca pada bulan Sya’ban (riwayat Ibnu Khaluwih). Kita dapatkan dalam riwayat-riwayat yang lain bahwa Amirul Mukminin ‘Ali kw. dan para ulama sesudahnya senantiasa membaca do’a ini untuk tujuan yang khusus. Oleh sebab itu mereka mendapat kesejahteraan di sisi Allah karena mereka senantiasa membaca do’a ini. Mereka membaca do’a ini dengan suara yang mengharukan.

Sesungguhnya do’a ini pada hakikatnya mendorong dan menggerakkan manusia untuk bangun dan beramal pada bulan ,Ramadhan yang penuh dengan berkat itu. Faktor inilah yang menjadi sebab tumpuan utama do’a ini. Dengan tujuan menjadikan seseorang melakukan persiapan dan persediaan untuk mengambil faedah yang besar dari kewajiban berpuasa. Oleh karena itu, para ulama Ahlibait rh. menjelaskan berbagai masalah-masalah yang berhubungan dengan do’a ini. Cara-cara berdo’a dengan cara menerangkan hukum-hukum.

Masalah-masalah keimanan, kaidah dan semua masalah yang mendalam memang mempunyai ikatan dalam usaha mengenal dan mendekatkan kepada Allah Swt. Mereka menerangkan do’a-do’a dan cara-cara melaksanakannya. Adalah menyedihkan kalau kita membaca do’a-do’a ini tanpa mengetahui apakah dikehendaki oleh ulama Ahlibait keluarga Rasulullah Saww. itu.

Cobalah kita perhatikan do’a berikut ini: "

“Tuhanku, karuniakanlah kepadaku kesempurnaan memutuskan (dengan yang lain dari-Mu) hanya kepada-Mu dan pancarkanlah kepada penglihatan hati kami dengan cahaya yang menuju kepada-Mu. sehingga penglihatan kami sampai kepada perbendaharaan yang agung. Dan kembalikanlah ruh-ruh kami bergantung kepada kebesaran dan kesucian-Mu”.

Sesungguhnya seorang mukmin yang sadar wajib menerima kedatangan bulan Ramadhan yang berkah itu dengan menjauhkan diri dari kelezatan dunia (usaha menjauhkan diri sampai ke puncaknya. setelah memutuskan hubungan dengan yang lain daripada Allah Swt.). Persediaan dan persiapan diri sampai ke tahap kesempurnaan dengan membekali iman yang kokoh pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya usaha memutuskan hubungan dengan selain dari Allah Swt. tidak akan tercapai dengan mudah. la memerlukan latihan ruhani dan pengerahan tenaga dan sikap istiqamah serta melaksanakannya. Tanpa usaha-usaha sedemikian rupa, adalah mustahil bagi seseorang untuk memutuskan hubungan dengan yang lain selain daripada Allah Swt.

Sesungguhnya semua sifat-sifat keimanan yang nyata dan setiap ketakwaan yang murni akan menjadi kokoh dan tetap dengan memutuskan ketergantungan dan pengharapan selain daripada Allah Swt. Dalam memperkokoh usaha untuk menyampaikan ke tahap ini, hendaklah seseorang sampai ke puncak kebahagian yang hakiki. Akan tetapi adalah mustahil bagi seseorang untuk mencapai tahap setinggi ini tanpa mengikis habis sedikit pun walau sebesar zarrah kecintaan kepada dunia. Seseorang yang ingin menjalankan amal-amal pada bulan Ramadhan sebagaimana yang dituntut hendaklah memastikan dirinya memutuskan ketergantungan dan hubungan kepada yang lain selain daripada Allah. Kalau tidak, seseorang tidak akan mencapai kebesaran Yang Menerima Tamu. Tidak mungkin ia dapat mencapai pengembaraan indah bersama-Nya dan mengambil juadah atau hidangan dari-Nya.


Do’a Sya’ban Membuka Tabir Kegelapan

Menghadapkan atau menyerahkan diri kepada selain Allah itu telah membuat tabir atau dinding yang menutup manusia dari cahaya (hidayah) kepada kegelapan (kesesatan). Sebagaimana dimaklumi bahwa urusan-urusan dunia akan menjadikan manusia lalai terhadap akhirat. Kerakusan terhadap dunia ini telah menimbulkan tabir gelap. Akan tetapi ketika dunia menjadi wasilah atau landasan untuk menghadapkan diri kepadaAllah dan mengantarkan kepadaakhirat, yang merupakan negeri taubat, maka tabir kegelapan itu akan menjadi cahaya hidayah.

Pemutusan hubungan yang sempurna kepada selain Allah, sebagaimana yang tercatat dalam do’a Sya’ban bahwa jika seseorang mampu menghapuskan kegelapan atau kesesatan akan memperoleh cahaya petunjuk. Selain itu, dia juga mempunyai kemampuan untuk sampai ke tahap menjadi tamu Allah yang merupakan suatu perbendaharaan yang agung. Dari sini kita dapat melihat bahwa doa ini menjadi tumpuan yang menerangkan mata hati (bashirah) dan cahaya hati, sehingga ia menjadi kokoh dan berwibawa dengan mendapat cahaya hidayah serta mencapai perbendaharaan yang agung. Mata hatinya telah membakar tabir yang menutupi cahaya hidayah dan menghantarkannya kepada perbendaharaan yang agung. Sebaliknya, manusia yang senatiasa menutupi hatinya dengan kegelapan atau tertutup oleh alam kebendaan tabi’i di sekelilingnya dari mengenal hidayah, na’udzubillah, adalah manusia yang menyimpang dari Allah. Dia tidak mengetahui sesuatu apa pun Kecuali alam kebendaan yang ada di sekelilingnya semata-mata.

Dia hanyalah cerminan dari alam sekeliling yang di lihat dan tidak lebih dari itu. Sementara teramat jauh dia dari kekuatan ruhani untuk menghapuskan debu-debu yang menyelaputi hatinya dari kegelapan dosa. Sesungguhnya manusia yang berada dalam keadaan seperti ini adalah di tempat yang paling rendah, yang menggambarkan betapa tebalnya tabir kegelapan yang menyelubungi seluruh kehidupannya. Firman Allah Swt.:

“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. (QS. At-Tiin, 95: 5)

Martabat dan kedudukan ini telah menimpa manusia setelah Allah menciptakan manusia pada kedudukan yang tertinggi dengan firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tiin, 95: 4)

Ya, memang manusia yang mengikuti hawa nafsu tidak mempunyai tujuan untuk mengenal dirinyasendirinya melainkan hanya mengikuti alam sekeliling yang gelap gulita dengan kejahilan. Dia tidak berfikir sama sekali tentang alam yang lain daripada yang dilihatnya ini, ada atau tidak ada. Oleh karena itu, penglihatannya tenggelam pada alam duniawi yang dilihatnya saja. Manusia jenis ini telah dijelaskan oleh Allah:

“...dia cenderung kepada dunia dan menurunkan hawa nafsunya yang rendah ...”. (QS. al-A’raaf, 7: 176)

Sesungguhnya manusia seperti ini telah jauh dari Allah, karena hatinya diliputi oleh dosa-dosa dan diliputi oleh kegelapan yang menyesatkan. Dalam pada itu ruhnya telah berkarat akibat terlalu banyak melakukan maksiat. Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu, cinta dunia dan kedudukan, membuat akal pikiran dan mata. Dalam keadaan seperti ini tidak mungkin seseorang akan dapat membersihkan dirinya dari tabir kegelapan. Malah lebih sulit baginya untuk menghapus tabir yang menutupi bahaya dan hidayah serta tidak dapat menghasilkan suatu pencapaian memutuskandiri dari segala yang lain selain dari Allah Swt.

Memang, manusia dalam bentuk ini berada dalam keadaan sesat dan bingung, dia bukan saja menafikan kedudukan wali-wali Allah tetapi lebih jauh dari itu, dia mengingkari Allah. Dia akan mengingkari shirat, alam barzakh (titian shirat, pent), jalan kembali kepada Allah, hari kiamat, perhitungan Allah dan AI-Quran. Malah tidak ada sama sekali baginya tertantang surga dan neraka, malah menganggapnya sebagai kepercayaan khurafat dan tahayul, tidak lebih dari itu.

Inilah manusia yang terlalu banyak maksiat kepada Allah. Pada saat yang sama dia terlalu terikat dengan kepentingan dunia, sehingga menafikan kebenaran dan menolaknya secara langsung. Sesungguhnya dia menafikan kedudukan penolong Allah dengan kedudukan mereka yang begitu jelas. lnilah kesimpulan atau rumusan dari apa yang disebutkan tadi.


Kesucian Akhlak Untuk Mencapai Makrifatullah

Sebenarnya bidang pengkajian ilmu pengetahuan Islam (Hauzah Ilmiah) sangat diperlukan untuk pengajaran ilmu-ilmu akhlak, pengkajian ruhaniah dan maknawiah. Pengkajian-pengkajian ini saling mengisi dalam bidang ilmu pengetahuan Islam yang lain dan yang telah ada. Karena begitu renting dan utama bimbingan akhlak, tarbiah dan pembentukan keimanan, majelis-majelis nasehat dan pengajaran.

Program pembentukan akhlak dan pengkajian yang bertujuan untuk membersihakan jiwa serta pelajaran tentang mengenal Allah merupakan tujuan pokok kebangkitan para Nabi as. Semua bidang ini hendaklah menjadi pokok bagi mata pelajaran para santri dan siswa.

Apa yang sangat mengharukan ialah tidak ada atau sedikitnya perhatian yang serius terhadap masalah pokok yang begitu penting untuk disampaikan. Sehingga ilmu-ilmu akhlak semakin pupus dan lenyap. Yang lebih mengkhawatirkan lagi ialah pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan kita tidak lagi bertumpu pada pendidik ruhani atau pembimbing kejiwaan. Pembahasan dan penekanan dalam bidang ini tidak pernah dipandang utama. Padahal masalah ini mestinya mendapat perhatian yang serius, karena ia merupakan masalah pokok dan asasi untuk disorot serta bentuk titik fokus pada AI-Quran dan Rasulullah Saww. Bahkan persoalan ini mendapat perhatian serius oleh para Nabi dan wali Allah.

Amatlah penting para ulama dan para pendidik yang memberi pangajaran berhasil memusatkan padapendidikan akhlak di sepanjang pengajaran dan penelitian mereka, sehingga mereka dapat mencurahkan tenaga yang bersungguh-sungguh dalam bidang ini.

Para santri hendaklah mengorbankan tenaga mereka untuk berusaha mencapai akhlak yang mulia dan pembersihan ruhani. Walhasil, menjadi kewajiban bagi mereka untuk memikul tugas penting ini dalam bidang kajian yang sedang mereka tempuh. Wahai saudara-saudara yang hari ini sedang mengikuti studi di madrasah-madrasahdan pusat-pusat pengkajian Islam (pesantren), mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk menduduki pucuk pimpinan umat Islam demi masa depan. Janganlah saudara-saudara membayangkan bahwa semua kewajiban yang saudara pelihara dan pelajari hanya berkisar pada masalah sekumpulan istilah semata-mata, tetapi sesungguhnya saudara mempunyai kewajiban yang telah lebih jauh dari itu.

Menjadi kewajiban anda untuk membina kepribadian Anda sendiri, sekiranya Anda ingin membawa hidayah dan bimbingan kepada umat manusia di desa-desa atau di kota-kota yang Anda masuki; adalah menjadi suatu urusan yang perlu mendapat perhatian mendalam selagi saudara masih berada di pesantren atau madrasah, yakni berusahamendidik dah membina diri terlebih dahulu bila saudara berkeinginan untuk memberi tarbiah dan pendidikan kepada orang lain.

Semua usaha pembersihan akhlak dan pembentukan kepribadian itu hendaklah senantiasa berlandaskan hukum-hukum dan ajaran Islam. Sekiranya saudara tidak berusaha membina diri terlebih dahulu, niscaya Allah tidak melapangkan dan membuka jalan dalam mendapatkan pendidikan yang benar.

Demikian juga akhlak dan ruhani, niscaya saudara akan menyesatkan seluruh umat manusia dan jika hal ini terjadi, hendaklah saudara mohon perlindungan dari Allah. Dengan keadaan saudara yang demikian itu, saudara akan membawa bayangan dan gambaran yang buruk kepada orang lain tentang Islam dan ulama Islam.


Munajat Sya’baniyah

Penyuci Jiwa Kotor

(Disampaikan di depan sejumlah ulama dan ruhaniawan yang mengunjungi Imam Khomeini pada tanggal 16 Urdibehesyt 1364 H.S./6 Mei 1985)

Atas tibanya hari yang mulia ini, saya ucapkan selamat kepada hadirin, rakyat Iran, kaum muslimin dan segenap mustadh’afin dunia. Mudah-mudahan kita dapat menemui hari yang dijanjikan itu dan tidak lama lagi orang-orang yang tertindas akan menguasai dunia ini.

Demikianlah janji Allah Swt. dan itu pasti terjadi. Hanya saja, apakah kita dapat menemuinya atau tidak, hal itu hanya tergantung padaAllah. Boleh jadi, jika dalam waktu dekat semua persyaratan untuk itu telah siap, kita dapat menyaksikan keagungan al-Imam.

Namun yang lebih penting bagi kita sekarang ini ialah, apa yang dapat kita lakukan? Kita semua menunggu kedatangan aI-Imam, tapi menunggu oleh sebagian orang itu sama sekali bukan sikap menunggu namun kita harus terus melakukan kewajiban-kewajiban syar’iy (agama) kita.

Seseorang yang melakukan sesuatu karena Allah, tidak boleh merasa semua orang akan sepakat dengannya. Tidak ada satu pun masalah yang disepakati semua orang, bahkan terhadap Nabi sekalipun. Para Nabi tidak pernah berputus asa meski banyak pihak yang tidak mau mendengarkan perkataan mereka.

Kita juga seharusnya demikian, apa yang menjadi kewajiban kita harus kita kerjakan meskipun banyak orang yang tidak suka atau malah memusuhi kita. Lebih-lebih kaum ruhaniawan, karena tanggung jawab mereka lebih dari yang lain.

Semakin dekat seseorang kepada Islam maka semakin besar pula tanggung jawabnya. Oleh sebab itulah para Nabi mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dari siapa pun, namun mereka tidak pernah meninggalkan kewajiban mereka sebagai hamba Allah Swt.

Ulama juga memiliki tanggung jawab dan tanggung jawab mereka lebih besar dari pihak manapun 6, bahkan tidak ada keringanan bagi mereka. Boleh jadi banyak pihak yang mendapatkan keringanan karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan mereka, tetapi tidak demikian dengan para uIama. Tidak ada keringanan bagi mereka sebab mereka memiliki kemampuan dan tersedia jalan yang jelas untuk itu.

Saat ini musuh-musuh Islam menyerang kita dan mereka tidak pernah berdiam diri. Karena itu kita mesti waspada. Kalian mesti menjaga persatuan kalian, kaum ruhaniawan mesti dapat memelihara persatuan dan persaudaraan di antara mereka. Persaudaraan Islam harus tercipta pada semua pihak, lebih-lebih dikalangan ruhaniawan. Jika kaki seorang ruhaniawan pincang, maka mereka mengecap kaki semua ruhaniawan pincang dan mereki tidak akan mengatakan kaki ruhaniawan Fulan pincang. Tidak demikian halnya jika seorang pedagang menjual barang dengan harga mahal, mereka tidak akan mencap bahwa semua pedagang menjual mahal. Tapi hanya pedagang Fulan.

Demikianlah cara berfikir mereka yang mengakibatkan tanggung jawab ruhaniawan amat besar. Sedemikian besarnya sehingga jika seorang saja ruhaniawan berbuat salah maka semua ruhaniawan kena getahnya. Kesalahan yang dilakukan seorang ruhaniawan tidak ditimpakan kepada ruhaniawan fulan yang melakukannya, tapi keseluruh ruhaniawan. Kesalahan seorang dapat merusak citra semuanya. Karena itu, selain sebagai tanggung jawab pribadi hendaklah hal ini dijadikan tanggung jawab kemanusiaan, tanggung jawab sosial dan tanggung jawab golongan.

Kaum ruhaniawan tidak boleh menganggap dirinya sama seperti orang banyak, bahkan para pelajar agama pun tidak boleh merasa dirinya sama dengan orang biasa. Artinya, jika ia yang berbuat salah maka ia sendiri yang akan menanggung. Tidak demikian adanya. Mereka akan menimpakan kesalahan kepada semua ruhaniawan dan tanggung jawab besar ini tidak dapat diwujudkan kecuali melalui pembinaan diri dan persatuan dengan semua pihak, kawan-kawan dan dengan semua orang.

Di kalangan ruhaniawan, para Imam Jum’at mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Mereka lebih banyak berhubungan dengan masyarakat ketimbang ruhaniawan lain, karena itu mereka harus ekstra hati-hati. Jika terjadi sesuatu maka harus diatasi dengan cara keruhanian dan kebapakan.

Sikap mengejar kekuasaan dalam bentuk apa pun akan berakibat pada kerugian. Bagaimanapun polanya, maka semuanya berasal dari setan. Apakah itu dari seorang presiden Amerika, pelajar agama atau dari seorang Imam Jum’at. Jika sikap ini yang justru mewarnai pekerjaan, maka tidak ada bedanya antara seorang yang tampak di permukaan sebagai penguasa dunia dan terus mengejar kekuasaan dengan seorang zahid yang hidup di pojok rumah ibadah. Keduanya adalah sama, karena keduanya berasal dari setan. Bahkan yang ini lebih jelek dari yang lain.

Egoisme memang selamanya membawa malapetaka dan semua malapetaka yang terjadi di dunia ini berasal dari sikap egoisme, yaitu rasa cinta kedudukan, cinta kekuasaan, cinta harta, dan sebagainya. Semua itu bermuara pada ras cinta diri (hubbun nafs).

Inilah patung paling besar dan paling sulit dihancurkan. Jika kalian tidak dapat menghancurkannya secara total, maka mulailah menghancurkannya dari tangannya, kakinya dan seterusnya. Jangan biarkan ia bebas bergerak, sebab ia akan mencelakakan kita. Dia tidak akan membiarkan kita dan akan terus diburunya sampai sedikit demi sedikit agama ini lepas dari diri kita.

Ini bukanlah barang aneh, inilah pekerjaan dari setan. Baik setan batini maupun setan-setan yang menjadi panutan orang-orang ini.

Hal penting yang harus dilakukan para ruhaniawan ialah mereka harus hidup sederhana, karena cara hidup sederhana inilah yang telah mengangkat derajat kaum ruhaniawan dan memelihara eksistensi mereka selama ini. Mereka yang hidup sederhana inilah yang selalu menjadi sumber aspirasi, dihormati, dan di dengar oleh rakyat.

Sebagian yang hadir mungkin masih ingat, ketika untuk pertama kalinya kita datang ke kota suci Qum, siapa yang menguasai Qum? Mereka adalah orang-orang yang hidup zuhud dan penuh takwa, yaitu orang-orang seperti Syekh Abul-Qasim Qummi, Syekh Mahdi, Mirza Sayyid Muhammad Barqaiy, Mirza Muhammad Arbab dan lain-lain. Saya kira tidak ada seorang pelajar agama sekali pun yang hidup seperti Syekh Abul-Qasim ini. Paling tidak, jika tidak lebih sederhana, mereka tidak kurang sederhananya dari pelajar agama.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan mereka. Syekh Muhammad Arbab misalnya, ia tinggal di sebuah rumah yang hanya memiliki 2-3 (dua sampai tiga) kamar sederhana dan tidak lebih dari itu. Demikian pula Syekh Mahdi dan lain-lain. Padahal siapa mereka? Qum berada di tangan mereka.

Hidup dalam lingkungan seperti itu dan menyaksikan orang-orang semacam ini adalah pelajaran yang sangat berharga bagi setiap orang. Oleh karena itu, semakin tinggi tuntutan kalian maka semakin kalian menuntut rumah yang lebih baik di lain pihak sebanyak itu pula nilai-nilai maknawi berkurang dari diri kalian.

Nilai manusia tidak dilihat dari rumah yang dihuninya, tidak dari kebun yang dimilikinya, juga tidak dari kendaraan yang ditumpanginya. Jika ini adalah nilai manusia maka para Nabi pasti sudah mengejarnya, tetapi para Nabi tidak demikian sebab nilai manusia tidak lihat dari sisi ini. Tidak dari berapa kendaraan yang dimilikinya, juga tidak dari seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuhnya.

Nilai Keruhanian juga demikian. Tidak di lihat dari tempat tinggal, kantor kerja, atau fasilitas yang dimilikinya. Maka dalam menuntut ilmu, kalian tidak boleh mengejar nilai-nilai formal. Semakin kalian mengejar nilai-nilai formal semakin ilmu kalian berkurang.

Mereka yang mampu menulis buku-buku besar dan melahirkan karya-karya yang sahgat bernilai, misalnya Syekh Anshari. adalah orang-orang yang kehidupannya tidak lebih dari kehidupan pelajar agama biasa. Dengan cara seperti ini mereka mampu menjaga Islam, mampu mengangkat fikih dan mampu mengangkat ajaran-ajaran Islam. Keberhasilan itu dicapai Karena mereka tidak menjadikan rumah sebagai ukuran.

Sebanyak apa pun seseorang menuntut rumah tetap tidak akan membuatnya puas. Bahkan jika ia mendapatkan dunia ini sekalipun, ia pasti tidak akan merasa puas boleh jadi ia akan mencari dunia lain lagi. Hal ini sudah menjadi fitrah manusia, fitrah menuntut kepuasan. Setiap kali mendapatkan apa yang dikejarnya, maka di balik itu masih terdapat sesuatu yang belum ia raih. Manusia tidak akan pernah merasa puas. Karena itu, orang-orang yang menuntut kekuasaan akan terus mengejarnya sampai ia mendapatkan kekuasaan yang mutlak.

Kekuasaan yang mutlak hanyalah Allah Swt. Demikian juga orang yang menuntut ilmu. la menginginkan ilmu yang mutlak. Tapi ilmu yang mutlak adalah Allah.

Pernahkah kalian membaca Munajat Sya’baniyah? Kalian mesti membacanya, sebab ia merupakan munajat yang jika di baca dengan mendalam dan penuh penghayatan akan mengantar orang yang membacanya ke suatu tingkat keutamaan tertentu.

Yang melantunkan munajat ini adalah orang suci. Diriwiyatkan bahwa seluruh Imam membaca munajat ini, padahal mereka adalah orang-orang yang suci dari segala hal. Tapi masih juga bermunajat kepada Allah sedemikian rupa. Mengapa bisa terjadi demikian? Jawabannya adalah karena mereka tidak pernah bercermin pada diri mereka sendiri. Apa yang ada pada mereka bukan sesuatu yang harus mereka lihat.

Sekalipun demikian, rupanya masih ada orang-orang yang merasa bahwa dirinya telah mencapai tingkat Imam ash-Shadiq as. tapi tidak demikian dengan Imam ash-Shadiq as. Beliau adalah seorang yang ketika bermunajat kepada Allah merasa seakan dirinya bergelimangan dengan dosa. Sebab ia melihat dirinya bukan apa-apa, serba kekurangan. Apa saja yang ada berasal pasti dari-Nya semata. Semua kesempurnaan berasal dari Dia, sedang dirinya tidakada apa-apanya. Siapa pun tidak ada apa-apa, Nabi pun tidak ada apa-apa. Semua tunduk kepada-Nya. Disebabkan kita terhalang oleh tirai yang menutupi kita maka kita tidak sadar bahwa mereka tunduk pada-Nya. Mereka yang sadar bahwa mereka tunduk pada-Nya akan terus berupaya mensucikan diri mereka dan berupaya mencapai makna ini.

Inilah kamalul-inqita’ (ketidakbergantungan) yang mereka kejar yaitu melepaskan diri dari semuanya kecuali kepada-Nya dan semata-mata terikat kepada-Nya. Allah Swt. berfirman,

“Sesungguhnya Kami tawarkan amanah itu kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tapi mereka menolaknya. Lalu diterima oleh manusia. Sesungguhnya manusia bersifat zalim dan jahil”. (QS. al-Ahzab, 33: 72)

Sebagian ulama mengatakan bahwa kata zaluman dan jahulan pada ayat di atas merupakan pujian tertinggi Allah kepada manusia. Zaluman berarti memecahkan semua patung-patung atau memecahkan segala sesuatu. Sedangkan jahulan mengandung makna tidak menghiraukan segala sesuatu, Iupa dari segala sesuatu kecuali Dia.

Kita tidak mampu seperti ini, bahkan kita juga tidak mampu memikul amanah ini. Kita hanya mampu berada di jalan menujunya.

Kalian yang menyeru ke jalan akhirat; yang menyeru masyarakat supaya memiliki sifat-sifat terpuji, harus lebih dahulu memiliki sifat-sifat yang kalian serukan itu supaya seruan kalian betul-betul merupakan seruan kebenaran. Jika tidak, maka ia akan menjadi seruan syaitani. Jangan sampai pada saat kalian menyeru kepada kebaikan, kalian sendiri penuh dengan kotoran.

Kita sekarang ini sedang berhadapan dengan dunia dan kekuatan dunia. Belum pernah dalam sejarah Iran menghadapi cobaan yang begini berat. Dahulu Iran adalah laksana seekor sapi perah yang menyerahkan susunya untuk diperah orang lain. Dan sudah barang tentu hal ini menghasilkan “keamanan” bagi Iran, tapi keamanan model dahulu. Keamanan seekor sapi yang menyerahkan susunya untuk di perah orang lain tanpa sedikitpun melakukan protes. Ketika Iran memberikan semua harta kekayaannya kepada orang lain, sudah pasti mereka melindunginya dan menjamin kedamaiannya. Tapi kedamaian yang bagaimana? Kedamaian seekor binatang oleh manusia.

Sekarang tidak lagi demikian. Iran tidak mau lagi dijadikan sapi perahan. la akan mengembalikan harkat dan martabatnya. Namun semua memusuhinya Timur memusuhinya. Barat memusuhinya, regional memusuhinya. Di dalam pun masih ada pihak-pihak buta yang mempunyai penyakit hati ikut memusuhinya. Oleh karena itu, kalian harus maju terus. jaga persatuan dan berleburlah bersama rakyat yaitu dengan cara menuntun dan merasa memiliki mereka.

Rakyatlah yang telah melepaskan kalian semua dari belenggu-belenggu itu dan belenggu-belenggu itu sudah tidak lagi menghimpit kalian. Sudah tidak ada lagi yang mengikat kita. Iran satu-satunya negeri yang tidak terikat oleh belenggu apa pun. Tidak ada negara di dunia ini yang betul-betul lepas dari belenggu seperti Iran. Semua ini berkat penghuni para gubuk itu, berkat lapisan rakyat yang tertindas inilah yang telah mempersembahkan pemuda-pemuda mereka. Mari kita lihat, berapa banyak dari lapisan masyarakat berduit dan dari lapisan yang selalu mengecam Republik Islam yang ikut serta dalam perang serta mempersembahkan anak-anak mereka sebagai syuhada. Kalau toh ada hanya sedikit sekali, itupun karena yang bersangkutan telah melepaskan diri dari mereka dan menjadi hizbullah. Tapi mereka sedikit sekali.

Setiap kali kalian menyaksikan seseorang syahid, pasti berasal dari lapisan yang tertindas ini. Tentu saja lapisan tertindas bukan hanya para penghuni gubuk, kaum Bazari 7 juga termasuk lapisan tertindas, para buruh, para petani pun demikian. Semua ini adalah lapisan tertindas dan semuanya berasal dari mereka. Yang sekarang mengabdi di front adalah mereka, yang bersusah payah menjaga negeri ini dan Islam adalah mereka. Mereka adalah tuan-tuan kita dan kita berhutang budi kepada mereka. Kalian harus memperlakukan mereka dengan rendah hati.

Ya, sekarang Iran sedang menghadapi cobaan yang paling berat. Semua menentangnya dan propaganda dunia berusaha menghancurkan Islam oleh karena itu kita harus bersatu, harus lebih memperat persatuan kita. Semakin mereka menentang kita semakin itu pula kita memperkokoh persatuan kita, semakin gencar mereka melakukan provokasi terhadap kita semakin kita perlu memperkuat diri kita.

Mereka berusaha mewujudkan perpecahan di negeri ini yang menyebabkan mereka melakukan propokasi yang tidak pernah lakukan terhadap negeri lain. Kalian lihat sendiri, sudah hampir setahun ini terjadi pemogokan di Inggris. Namun tidak ada berita. Tapi jika diumpamakan terjadi pemogokan di negeri ini yang hanya dilakukan oleh empat orang, mereka terus dan tidak henti-hentinya memberikan memberitakan bahwa terjadi pemogokan di Iran, pabrik-pabrik ditutup dan sebagainya. Mereka sengaja lakukan ini supaya pada hari Buruh terjadi sesuatu. Mereka pikir para buruh akan simpati pada mereka, ternyata mereka tertipu sediri. Hari buruh datang tapi tidak terjadi apa-apa, malah para buruh yang sangat kita hormati itu lebih aktif dan menyatakan bahwa mereka akan terus mengabdi.

Para buruh tidak mengabdi kepada saya melainkan mereka mengabdi kepada Allah, mengabdi kepada negara mereka sendiri. Negara yang dulunya berasal dari orang lain tapi sekarang mereka aktif memperbaiki keadaan. Aktif membangun, mengejar ketinggalan, dan mereka mampu.

Saya berharap pada bulan Ramadhan, bulan Allah yang penuh berkah, hendaknya kita semua mendoakan Islam. Doa bagi kejayaan Islam hendaknya menjadi prioritas kita semua. Demikian pula doa untuk kelanggengan Republik Islam ini.

Pengabdian yang telah diberikan oleh Republik Islam ini terhadap Islam selama 4-5 tahun ini belum pernah diberikan siapa pun sepanjang sejarah selain para Nabi. Sedemikian besarnya pengabdian yang telah dipersembahkan oleh Republik Islam untuk Islam, sehingga musuh-musuh Islam pun tidak dapat menghitungnya.

Coba bandingkan dengan apa yangterjadi pada masa Qajar, bahkan pada masa yang paling baiknya sekalipun. Bandingkan apa yang terjadi masa itu dengan yang ada sekarang. Apalagi jika dibandingkan dengan masa Pahlevi, yang semua orang tahu bagaimana keadaan masa itu. Tapi masih ada saja orang-orang yang tidak tahu diri mengatkan bahwa tidak ada bedanya antara dulu dan sekarang, bahkan sekarang lebih jelek. Ini karena kebodohan dan kekerasan hati mereka. Jika hati seseorang Keras, maka dia sendiri bahkan tidak tahu apa yang dilakukannya.

Diriwayatkan, ketika pada suatu waktu api neraka tenang sebentar, dan sekelompok penghuni neraka bertanya-tanya apa yang terjadi. Dijawablah, bahwa Nabi Muhammad Saww. sedang lewat. Mengetahui bahwa ketentraman itu disebabkan oleh Nabi, mereka malah tidak senang. Mereka menyuruh supaya pintu neraka ditutup. Dikarenakan mereka lebih senang di siksa ketimbang melihat Nabi Muhammad Saww. meskipun Keberadaan Nabi Muhammad Saww. dapat meringankan beban mereka. Beginilah manusia neraka. Azab lebih baik bagi mereka ketimbang Nabi Muhammad Saww. Bagi manusia seperti ini, kebejatan lebih baik dari Republik Islam. Bagi mereka, biarkanlah kebejatan merajalela asal jangan Republik Islam berdiri. Biarlah kebejatan merajalela dengan terbuka asal jangan Republik Islam. Ini adalah penyakit yang hanya bisa diobati oleh malaikat Izrail.

Mudah~mudahan Allah menghilangkan penyakit-penyakit semacam ini dan memberkati kita agar dapat terus berada di jalan-Nya dan menuntut ridha-Nya. Kita mohon kepada Allah supaya selalu memelihara Republik Islam ini dan memberikan kesempatan kepada kita untuk berjumpa dengan Imam Zaman, salamulah alaih.


Langkah Awal Kesucian Diri

Jika tertutup waktu saudara untuk kembali kepada Allah, saudara akan tenggelam dalam melakukan kerusakan dan kelalaian. Bertakwalah kepada Allah dan takutlah kepada-Nya. Takutlah terhadap akibat perbuatan saudara sendiri, bangunlah dari tidur yang panjang dan singkirkanlah kelalaian itu dari diri saudara. Ambillah langkah awal.

Sesungguhnya langkah pertama adalah senantiasa sadar dan bangkit dari kesadaran, akan tetapi hingga saat ini saudara masih tidur nyenyak. Mata saudara terbuka, tetapi hati saudara terlena dalam tidur yang berkepanjangan. Sekiranya bukan karena sebab banyaknya melakukan dosa, niscaya tidak demikianlah akibatnya. Saudara tidak berhati-hati dalam hidup ini. Bagaimana mungkin saudara dapat terus menerus begitu tanpa merasakan suatu tanggung jawab dan menjauhkan diri dari bahaya, seandainya berfikir sedikit saja tentang urusan akhirat, dan akibat-akibat yang akan menimpa, niscaya akan memberikan perhatian yang serius terhadap tanggung jawab yang diberikan di atas bahu.

Hal ini disebabkan adanya Zat Yang Maha Mengetahui, yang melakukan perhitungan di sisi saudara. Apakah tidak berfikir bahwa semua benda yang maujud ini akan kembali dan di hisab?

Kenapa tidak merenungkannya?

Kenapa tidak bangkit dan sadar?

Kenapa?

Saudara telah mencegah dari mengumpat dan dari perkataan nista terhadap sesama dalam Islam. Mengapa saudara berbuat demikian atau mendengar setiap yang membawa bahaya?

Adakah saudara mengetahui bahwa mengumpat dan mencela adalah perangai ahli neraka (sebagaimana yang terdapat di dalam hadis Rasulullah Saww.). Adakah saudara berfikir tentang akibat buruk dari perbuatan dusta, nista, perpecahan, permusuhan, hasut, dengki dan buruksangka, sikap keakuan, lalai dan takabur?

Adakah saudara mengetahui kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpa amalan-amalan keduniaan ini, yaitu kekekalan dalam neraka jahanam?

Tidak ada kelonggaran di sisi Allah. Di antara kebahagian insan adalah bahwa ia tidak diuji dengan penyakit yang tidak dirasakannya. Sebenarnya penyakit yang telah dirasakan sakitnya mendorong seseorang untuk berusaha dengan segera menemui dokter atau pergi segera ke rumah sakit. Adapun penyakit yang tidak disertai rasa sakit dan tidak dirasakan oleh seseorang (yang wujudnya hanya kesan zahir) merupakan sesuatu yang amat berbahaya, karena ia membawa kesan yang buruk. Seseorang tidak merasakan melainkan setelah penyakitnya menjadi begitu berat dan parah. Penyakit-penyakit hati atau jiwa hampir-hampir bersifat seperti ini. Sekiranya saudara ditimpa penyakit yang dirasakan kesakitannya, niscaya saudara segera mengobati dan menyembuhkannya. Akan tetapi bagaimana kita dapat bertindak untuk melakukan sesuatu jika penyakit tersebut tidak kita rasakan rasa sakitnya?

Kelalaian, keahgkuhan dan setiap maksiat yang merusak hati dan ruh tidak dirasakan rasa sakitnya oleh tubuh, padahal penyakit ini lebih parah, tetapi tidak kita rasakan sakit dan deritanya, malah kadang-kadang kita merasa enak. Sesungguhnya mengumpat, menggunjing dan memfitnah merupakan majelis yang mengasyikkan. Cinta dunia dan cinta diri sendiri adalah sumber asasi dari setiap dosa.

Sesungguhnya cinta dunia adalah pokok setiap kejahatan, pintu setiap malapetaka, lubang setiap fitnah dan penyeru setiap kedurjanaan yang dirasakan oleh manusia dengan perasaan nyaman dan enak. Rasa dahaga yang ikuti dengan meminum air adalah memuaskan, tetapi rasa lezat dan enak itu dirasakan puasnya di akhir setiap menghela nafas.

Penyakit yang tidak dirasakan sakitnya bahkan menjadikan orang yang sakit tersebut merasa enak dan tidak menggerakkan upaya untuk menyembuhkan serta tidak diketahui pula marabahayanya. Jika dikatakan kepadanya bahwa sebenarnya dia sakit, niscaya dia akan membantahnya dan menganggap dirinya dalam keadaan baik. Apabila seseorang ditimpa oleh terlalu cinta kepada dunia dan mengikuti kehendak hawa nafsunya, menyebabkan dunia menguasai diri dan hatinya. Sehingga dia hanya berpaling dari Allah -na’udzubillah-. Dia juga berpaling dari hamba-hamba Allah, para nabi as., wali-wali dan para malaikat. Segala pembawaannya menuntun kepada sifat dendam kesumat dan bermusuhan.

Manakala tiba ajal mautnya, lalu datang malaikat Allah Kepadanya untuk mematikannya, barulah dia merasa bagaimana siksaannya. Para malaikat merasa benci terhadap sikapnya yang cenderung terhadap dunia, akibatnya dia dikeluarkan dari dunia dalam Keadaan terhina, dan sebenarnya dialah musuh Allah.

Saya telah mendengar sesuatu peristiwa tentang seorang pembesar dari Qizrit yang menghadiri suatu majelis dan berkata, “Sesungguhnya kezaliman telah mengenai diriku. Dialah Allah yang menzalimi diriku yang tidak pernah aku rasakan, karena aku telah menghabiskan tenaga dan harta benda untuk mendidik anak-anakku, akan tetapi Dia menjauhkan aku dari mereka, adakah kezaliman yang lebih dari itu?”

Sesungguhnya apa yang ditakutinya adalah akibat yang buruk, sebab apabila manusia tidak pernah mendidik dirinya dan tidak luput dalam dirinya kecenderungan duniawi, maka dia akan merasa takut meninggalkan dunia. Hatinya penuh dengan dendam terhadap Allah dan penolong-penolong agama-Nya. Ya, sesungguhnya akibat buruk ini akan senantiasa menanti seseorang yang menganggap dirinya sebaik-baik makhluk. Dia amat takut menghadapi perjumpaan dengan Allah. Maka, apakah manusia semacam ini merupakan sebaik-baiknya makhluk, ataukah seburuk-buruknya makhluk?

Allah berfirman:

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati dalam hal kesabaran”. (QS. al-‘Ashr, 103: 1-3)

Pengecualian yang terdapat dalam surat ini adalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Amal saleh merupakan amal yang dilaksanakan dengan ruh (keikhlasan). Akan tetapi kebanyakan yang kita lihat dari amal-amal manusia hanya dilakukan dengan anggota panca indera tanpa mengandung pesan-pesan seperti yang disebut di dalam surat al-Ashr yang penuh berkah itu. Amal-amal tersebut tidak membawa kesan yang baik. Sekiranya saudara melaksanakan suatu urusan atas dasar cinta dunia dan kepentingan diri, niscaya ia akan menguasai diri dan urusan saudara.

Pengikat yang kokoh di antara amal-amal saudara dengan Allah adalah melakukannya dengan ikhlas karena Allah, yakni amal-amal yang dilaksanakan atas dasar saling mengingatkan kepada jalan kebenaran dan kesabaran. Sekiranya saudara membangun benteng yang memisahkan saudara dengan hidayah Allah, niscaya saudara akan ditimpa kerugian yang nyata, sebagaimana firman Allah: "

“Rugi dunia dan akhirat”. (QS. al-Haji, 22: 11)

Jika demikian keadaannya, berarti saudara telah menyia-nyiakan waktu muda dari mendapatkan nikmat akhirat, malah sekaligus menyia-nyiakan keduanya, dunia dan akhirat. Golongan lain yang tidak mempunyai jalan ke surga adalah golongan yang membuat benteng dan menghalangi mereka dari pintu rahmat Allah. Mereka hanya berhak mendapat kedudukan yang kekal di dalam neraka, barangkali mereka hanya merasakan keenakan di dunia ini saja, bagaimana pula dengan saudara?

Ingatlah, jangan sekali-kali menambah kerakusan cinta kepada dunia dan kepentingan diri serta melalaikan diri saudara sendiri, mintalah perlindungan dari Allah Swt. Setan telah merampok iman yang ada pada diri saudara. Sebenarnya untuk tujuan inilah setan berupaya. Sesungguhnya semua usaha dan tipu daya setan dan semua jalan yang diikuti adalah bertujuan untuk membinasakan keimanan manusia. Bila saudara tidak berusaha memperkokoh keimanan saudara, niscaya keimanan itu akan lumpuh. Setan berusaha untuk menghapuskannya.

Dengan itulah saudara berada di dunia ini, senantiasa dalam keadaan menentang Allah dan peno!ong-penolong agama-Nya setelah saudara menghabiskan usia dengan merasakan nikmat Allah dan berhadapan dengan hidangan aI-Imam Sahibuz Zaman as. (Imam Mahdi).

Sebaliknya, saudara menjadi musuh-musuh Allah.

Berusahalah dan carilah penyelesaian dengan bersungguh-sungguh bila saudara mendapati diri saudara mempunyai ikatan yang terlalu kuat dengan dunia serta selalu mencintainya. Berusahalah untuk memutuskan ikatan yang seperti itu. Sesungguhnya dunia dengan segala perbendaharaannya telah menarik manusia untuk mencintainya. Keadaan seperti itu menyebabkan kita amat sukar untuk tidak terikat dengannya.

Segala sesuatu dari anasir dunia, yang mengikat hati saudara kepadanya adalah dlsebabkan tarikannya. Hadapilah dunia dengan mendekatkan diri kepada masjid, pengkajian ilmu di madrasah atau kumpulan mudzakarah di rumah. Kemudian, apakah pantas pendekatan-pendekatan yang saudara lakukan tersebut membawa perselisihan yang mengakibatkan rusaknya umat?

Apakah saudara menjadikan dunia ini seperti golongan yang mempergunakan dan memperalatnya?

Sesungguhnya saudara telah menghabiskan usia dengan kelezatan. Kemudian apabila saudara memperhatikan usia terhenti, bagaimanakah dengan kelezatan itu?

Setiap kehidupan yang kita lalui inisangat cepat pergerakannya, akan tetapi kewajiban dan akibat-akibatnya tetap dibebankan di atas bahu-bahu saudara.

Adakah kehidupan yang binasa dan melalaikan ini lebih bernilai (padahal dunia adalah fana) jika dibandingkan dengan siksa neraka yang kekal dan tidak ada batas dan pemberhentiannya itu?

Sesungguhnya siksaan penghuni dunia lebih ringan dibanding azab di akhirat yang kekal dan tanpa ukuran itu. Orang-orang yang menganggap bahwa mereka menguasai dan berkuasa di dunia ini, adalah karena begitu banyak kelezatan yang membawa niercka kepada kelalaian dan berbuat kesalahan. Sekarang, setiap orang dapat melihat urusan-urusan yang dilakukannya di masa lalu, dan dapat menggambarkan dunia sebagaimana yang dia lihat itu.

Sedungguhnya alam yang sebesar ini dapat digambarkan oleh manusia. Mereka daat menguasai dan membongkar perbendaharaan dunia ini dengan segala perjalanan dan keajaibannya, sebagaimana digambarkan oleh sebuah hadis: “Bahwa Allah melihat kepadanya dengan pandangan rahmat.”

Oleh karena itu, bagaimana kita melihat dunia ini sebagaimana Allah memandangnya dengan pandangan rahmat?

Bagaimana keadaan yang sebenarnya perbendaharaan agung, yang diseru oleh Allah kepada manusia itu?

Sekalipun sebenarnya manusia sangat kerdil untuk memahami nilai perbendaharaan yang agung itu. Sekiranya saudara memiliki niat ikhlas serta amal yang baik, sudah tentu saudara mampu mengeluarkan kecintaan dan kerakusan kepada dunia dari dalam hati. Begitu juga saudara ak:an mampu menghapuskan keinginan kepada kekuasaan dan keduduk:an. Sebab kedudukan yang tertinggi dan agung senantiasa menunggu dan disediakan untuk saudara, jika saudara mempunyai pendirian demikian.

Sebenarnya dunia ini dengan segala perbendaharannya, tidak bernilai jika dibanding dengan sehelai rambut sekalipun dengan janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. Oleh sebab itu, hendaklah saudara beramal untuk mencapai maqam yang tinggi ini. Sekiranya saudara mampu membina diri dan kepribadian, hendaklah saudara bersungguh-sungguh dan gigih agar dapat mencapai kdudukan yang tinggi. Tetapi jangan saudara beribadat kepad Allah hanya sekedar untuk sampai kepada kedudukan ini, tetapi lebih jauh dari itu hendaklah saudara beribadat kepada llah sebagai ahli ibadah yang sejati. Sujudlah kepada llah dan letakkanlah dahi saudara di atas bumi. Ketika itulah saudara telah membakar dinding cahaya hidayah dan sampai kepada perbendaharaan yang agung.

Maka, adakah saudara akan sampai kepada kedudukan ini jika dibandingkan dengan amalan-amalan saudara sehari dan perjalanan hidup saudara sekarang?

Adakah saudara membayangkan bahwa untuk melepaskan dan membebaskan diri merupakan usaha yang mudah?

Apakah usaha membebaskan diri dari azab neraka jahanam cukup dengan usaha yang mudah?

Adakah saudara membayangkan bahwa tangisan ulama yang suci dan rintihan al-Imam as-Sajjad as. telah memberikan pengajaran kepada kita?

Karena kedudukan mereka yang sungguh besar dan tinggi itu, maka maqam mereka tidak dapat dihitung lagi di sisi Allah. Mereka menangis karena takut kepada Allah, karena mengetahui hanya jalan yang penuh ranjau sajalah yang akan mendapat ganjaran. Bahkan mereka melalui semua jalan yang penuh ranjau dan duri kesusahan serta cobaan.

Ya, jalan yang berada di ujung dunia dan di ujung yang lain adalah akhirat. Mereka menginsyafi adanya alam kubur, alam barzakh, kiamat dan pembalasan-pembalasan Allah. Keadaan yang demiklan itu menyebabkan kedudukan mereka begitu kokoh. Mereka senantiasa berharap dan memohon kepada Allah agar dibebaskan dari azab pada hari kiamat.

Sudah siapkah dan bersedia saudara menghadapi akibat juga pembalasan ini. Balasan yang tidak lagi dituturkan dengan kata-kata.

Jalan manakah yang saudara pilih untuk membebaskan diri daripadanya?

Kapankah lagi saatnya saudara akan memperhatikan diri, membersihkan dan mendidiknya?

Ya, sekarang ini, sekali saudara masih muda dan memiliki sebagai pemuda, bagaimana bila kekuatan ini telah lewat?

Apakah saudara tidak akan kehilangan kekuatan dan menjadi lemah pada hari-hari mendatang?

Sebab kalau sekarang ini saudara tidak bersungguh-sungguh membersihkan dan membina diri, maka bagaimanakah saudara dapat melakukannya esok, ketika saudara telah kehilangan kekuatan dan menjadi lemah karenanya, dan dengan penuh penyesalan. Ketika itu azam saudara telah pupus dan keinginan semakin lumpuh.

Pada saat yang sama dosa semakin berat dan hati semakin bertambah gelap. bagaimana mungkin saudara akan mampu membina dan mendidik diri saudara lagi?

Sesungguhnya setiap diri akan berlalu, setiap langkah bergerak ke depan dan setiap nafas yang saudara hela dari usia ini, menambah kesulitan saudara untuk memperbaiki diri, tetapi pada saat yang sama semakin bertambah pula kegelapan hati dan kelalaiannya. Manakala usia manusia meningkat, akan semakin bertambah pula kesulitan dan halangan untuk mencapai kebahagiaan dan semakin lemah kekuatannya untuk melakukan kebaikan. Apalagi jika saudara mencapai usia lanjut, maka semakin jauh pula saudara dari usaha mencapai kemuliaan dan takwa. Semakin sukar pula bagi saudara untuk bertaubat, karena taubat tidak cukup hanya sekedar mengatakan “Saya bertaubat kepada Allah”, tetapi saudara harus menyesali perbuatan buruk yang telah melakukan dan berazam untuk meninggalkan dosa yang telah dilakukan.

Penyesalan dan azam tidak berguna bagi seseorang yang menghabiskan usianya dengan mengumpat dan berdusta serta putih rambutnya dalam keadaan mengerjakan maksiat selama lima puluh tahun, karena mereka terlena dalam melakukan dosa hingga akhir usianya.

Bergeraklah wahai pemuda sebelum rambut saudara memutih. Setelah saudara sampai ke peringkat ini, kami telah beritahu kesulitan yang akan saudara hadapi. Seandainya saudara menyesal ketika usia masih muda belia, tentu mampu berbuat sesuatu. Karena pada saat itu saudara mempunyai azam (tekad) sebagai anak muda yang mempunyai kemampuan dan kemauan untuk berupaya menjauhkan diri dari hawa nafsu dan dorongan kehewanan.

Sebaliknya, jika saudara tidak berbuat pada masa-masa seperti ini dan tidak bersungguh-sungguh memperbaiki diri sekarang, maka keadaan seperti ini akan merupakan pukulan dan tamparan hebat bagi saudara, sedangkan usia sudah lanjut.

Pikirkanlah diri saudara, menyesallah ketika masih muda dan jangan sampai saudara telah beruban, tua dan lemah. Hati anak muda adalah hati yang lembut dan mudah dibentuk, yang kecenderungan ke arah kerusakannya masih lemah, tetapi ketika usianya bertambah, akan melekat di hatinya debu-debu maksiat. Apabila hal ini terjadi, agak mustahil baginya untuk membersihkannya. Imam ‘Ali as. berkata,

“Sesungguhnya sesuatu golongan yang beribadah kepada Allah karena suatu kepentingan adalah ibadahnya seorang pedagang. Sedangkan golongan yang beribadah dengan penuh ketakwaan adalah ibadah seorang ‘abid dan ibadah yang penuh kesyukuran adalah ibadah para hamba Allah.” (Nahjul Balaghah)

Sebagaimana diriwayatkan oleh Zurarah dari Abu Ja’far rh. berkata,

“Hati setiap hamba pada asalnya adalah putih. Ketika ia melakukan dosa lahit; lembaran itu bernoda hitam, kalau dia bertaubat noda itu menjadi putih-kehitam-hitaman. Sebaliknya, jika dosa semakin bertambah, noda hitam itu semakin kentara dengan menghilangnya terus ciri-ciri keputihannya. Maka apabila keputihannya tidak kembali lagi kepada seseorang, ia pun akan berlanjut.”

Allah berfirman :

“Sebenarnya apa yang mereka selalu usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS. al-Muthaffifiin, 83: 14)

Manusia seperti ini senantiasa melakukan maksiat siang dan malam. Maka sukar baginya untuk menyucikan hatinya sementara usia sudah semakin tua, tidak sebagaimana sewaktu masih muda. Jika saudara tidak membersihkan diri, niscaya hati saudara akan menjadi hitam di saat saudara ke luar dari dunia ini. Katakanlah telinga dan lidah diliputi oleh dosa, maka bagaimana mungkin saudara dapat diterima oleh Allah. Ini adalah amanah dari Allah yang diserukan oleh Allah kepada saudara agar melakukan pembersihan diri dan melepaskan diri dari kehinaan serta celaan.

Mata, tangan dan telinga ini adalah di bawah usaha ikhtiar saudara, begitupun lidah, dan juga seluruh panca indera ini. Merupakan amanah Allah Yang Maha Kuasa. Semua ini dikaruniakan kepada saudara supaya sempurna serta selamat dan suci keadaannya. Jika ia dicermati dengan dosa dan maksiat, bagaimana saudara akan mempertanggungjawabkan amanah yang dipikulkan kepada saudara ketika di pertanyakan kepada saudara?

Beginikah saudara menjaga amanah AIlah?

Adakah dengan cara ini saudara menyelamatkan amanah tersebut?

Beginikah keadaan hati yang diberi amanah itu?

Mata yang dikaruniakan menjadi begini rupa?

Seluruh panca indera yang diamanahkan untuk menjaganya menjadi begitu cemar?

Dengan apa saudara akan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

Bagaimana saudara dapat menghadap kepada Allah apabila saudara mengkhianati amanah-Nya, sehingga saudara menjadi seorang pengkhianat?

Sekarang, wahai para pemuda, ingin kami tekankan kepada saudara bahwa saudara telah membinasakan masa muda. Dengan jalan demikian, yang tidak akan memberi manfaat kepada saudara sekalipun di dunia ini, karena saudara menghabiskan waktu yang berharga itu dengan perbuatan seperti ini. Semestinya waktu muda yang cemerlang itu saudara isi pada jalan Allah dengan tujuan yang sudah pasti dan suci. Dengan demikian niscaya saudara tidak akan rugi baik didunia ataupun di akhirat.

Sebaliknya, jika saudara menghabiskan waktu dengan sia-sia. saudara pasti dapat melihat akibatnya. Sekiranya saudara menyia-nyiakan usia muda dan menghabiskan waktu yang penuh kesempatan itu, niscaya akan menghabiskan waktu yang penuh dengan kesempatan. Niscaya saudara akan enghadapi tanggung jawab yang besar di alam akhirat di hadapan Allah kelak. Niscaya pembalasan yang tiada batasnya akan diterima terhadap amal-amal saudara yang rusak itu. Bahkan saudara akan melihat diri di dunia telah menemui bala bencana yang hebat dan dada akan merasa sempit. Akan terlihat malapetaka dan bencana timpa-menimpa pada diri saudara. Bahkan musuh-musuh penuh mengelilingi pinggang. Saudara sedang menghadapi malapetaka fitnah yang sungguh dahsyat dan jahanam menimpa saudara.

Ketika saudara berada di pusat pengkajian agama, saudara berada dalam keadaan melaksanakan amal saleh. Sesungguhnya saudara berada di bawah tabir yang menyelubungi Islam. Sekiranya saudara meletakkan rencana-rencana selagi tidak melakukan pembenahan diri dan tandzim (penyusunannya), saudara tidak akan mampu membebaskan diri dari rancangan dan rencana-rencana setan. Persiapan yang cukup, akan menjadikan mempunyai upaya tinggi untuk menghadapi rencana para penjahat yang keji itu.

Sungguh sekarang saya sedang melalui hari-hari yang terakhir dari usia ini. Saya akan berpisah dengan saudara sesudah waktu yang sungguh singkat atau panjang. Akan tetapi saya ingin menegaskan kepada saudara bahwa saudara akan menghadapi hari-hari yang suram apabila tidak lagi memperbaiki diri dan ruhani.


Tazkiyah Nafs

Jika manusia ingin memahami AI-Quran, acapkali dia harus membacanya. Jiwanya akan bertambah sempurna mendekati mabda’ Nur8 serta mabda’ yang Mahatinggi. Dia harus mengangkat tabir yang menutupi dirinya. dan tabir tersebut ialah sifat ego yang terdapat pada dirinya (ananiyah) agar dapat memperoleh serta merasakan cahaya kesempurnaan yang universal. Salah satu tujuan AI-Quran ialah mengajarkan hikmah serta tazkiyah nafs (penyucian diri). Allah berfirman dalam surat al-Alaq ayat 6-7:

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia bertindak melampaui batas, disebabkan dia merasa dirinya serba cukup (merasa tidak memerlukan)”.

Ayat ini menerangkan bahwa sifat melampaui batas adalah sifat perusak jiwa manusia yang paling buruk, penafikan sifat tersebut tidak akan sempurna kecuali dengan mempelajari al-Hikmah serta membersihkan diri.

Manusia menurut tabiatnya akan melampaui batas ketika ia mendapatkan suatu kesempurnaan pada dirinya. Seandainya dia mendapatkan harta, ilmu atau suatu kedudukan tanpa disertai tujuan yang bersifat Ilahi, maka dia akan mengkufuri (melampaui batas) dengan apa yang telah diperolehnya. Karena itu salah satu sebab mengapa Firaun menjadi kufur ialah kedudukan dunia yang telah didapatinya dan dia sama sekali tidak mempunyai tujuan yang bersifat Ilahi, maka kedudukan tersebut menariknya ke dalam kekufuran.

Sungguh setiap orang yang mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi tanpa disertai tazkiyah nafs (penyucian diri) maka dia akan mengingkari dan mengkufurinya. Bahkan semakin bertambah kesempurnaan tersebut akan semakin bertambah pula kekufurannya.

Maka tujuan Bi’tsah Rasul adalah pembersihan diri kita untuk mengeluarkannya dari kegelapan, jika seluruh alam semesta menjadi cahaya yang maha tinggi seperti AI-Quran.

Seluruh perselisihan yang terdapat di antara manusia, khususnya yang terdapat di antara penguasa berasal dari kekufuran jiwa mereka. Kekufuran tersebut bersumber ketika manusia mendapati dirinya pada suatu kedudukan yang maha tinggi. la akan kufur dan tidak merasa cukup dengan kedudukan yang tinggi, sehingga kekufuran itu menariknya untuk berbuat zalim yang menimbulkan perselisihan tersebut.

Tidak ada perbedaan atas perselisihan yang dilakukan oleh individu- individu yang mempunyai kedudukan ataupun tidak, semua itu dihasilkan oleh kekufuran. Ucapan Firaun “Saya adalah Tuhan yang maha tinggi” juga kekufuran ketika dia diberi suatu kesempurnaan.

Apabila umat manusia membersihkan diri mereka serta mempelajari al-Kitab dan al-Hikmah, maka jiwa-jiwa mereka tidak akan kufur karena setiap individu yang telah membersihkan diri tidak akan mendapati dirinya merasa cukup untuk memperoleh suatu kedudukan dan melihat dirinya kemudian mengaguminya. Maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim.

Seluruh persoalan dan perselisihan yang bersifat duniawi bersumber dari kezaliman diri manusia yang berasal dari hawa nafsunya. Jika manusia membina untuk membersihkan dirinya maka hilanglah perpecahan tersebut. Seandainya seluruh para Nabi berkumpul di suatu tempat, kota atau negeri maka mereka tidak akan berselisih karena mereka telah membina diri mereka berikut memahami al-Kitab dan al-Hikmah serta menerimanya.

Sesungguhnya problema kita bersumber dari kekosongan jiwa dari tazkiyah nafs, dan yang lebih berbahaya bagi umat manusia ialah orang yang telah meridapatkan kesempurnaan dalam segi keilmuan yaitu bidang agamis. Orang seperti itu jelas kehilangan kesucian pada dirinya. Kekufuran orang-orang yang telah meraih kedudukan, jauh lebih luas dampaknya daripada kekufuran orang-orang awam. Ketika seorang awam berbuat kufur maka dampak kekufuran tersebut hanya sebatas mereka, keluarga atau lingkungannya, tapi ketika seorang penguasa berbuat kufur maka dampak kekufuran tersebut tidak hanya sebatas keluarga atau lingkungannya, tapi mencakup seluruh negeri atau dunia yang menyebabkan kerusakannya. Coba kita bandingkan kekufuran yang dilakukan oleh Firaun dengan kekufuran yang dilakukan oleh orang awam.

Bagi mereka yang mempunyai kedudukan, bila ingin memperbaiki statusnya maka harus memulai dari kalangan atas dengan mengoreksi pribadi mereka masing-masing dan menganggap kecil dirinya. Mereka yang meyakini bahwa agama Islam ialah suatu agama yang mengangkat derajat manusia serta mempercayai bahwa Bi’tsah Nabi sebagai petunjuk bagi umat manusia, maka mereka harus memperhatikan masalah ini yang sudah menjadi salah satu ajaran agama Islam.

“Sesungguhnya manusia bertindak melampaui batas, disebabkan dia merasa dirinya cukup [tidak memerlukan]. (QS. aI-‘Alaq, 96: 6-7)

Jadi tazkiyah nafs merupakan suatu pengantar untuk menerima dan menggapai cahaya Ilahi. Barang siapa yang tidak memperhatikannya maka ilmu dan kedudukan yang telah dia peroleh akan membahayakan, bahkan lebih bahaya dari kesempumaan (karunia) yang lain yaitu membuat kehancuran di dunia dan akhirat.

Perhatikan hal tersebut dan nikmat-nikmat Ilahi yang dengannya kita dapat menyambung hidup hingga saat sekarang di bulan suci ini, serta perhatikanlah makna tujuan yang akan terjadi jika seseorang melalaikannya?

Sesungguhnya harapan saya atas kalian sangat besar. Agar kalian menjaga diri dengan rasa rendah hati dan berusaha membersihkannya. serta berikanlah semangat kalian untuk Islam agar tercapai tujuannya.

(AI-Ghadir; terjemahan Alwi al-Idrus dari kitab Mukhtarat min Aqua aI-Imam)


Bersihkan Diri Jika Ingin Memahami AI-Quran

Saya ucapkan selamat kepada seluruh umat Islam, khususnya umat Islam Iran, atas tibanya hari Mab’ats, hari diutusnya Rasulullah Saww. sebagai nabi terakhir. Semoga kita semua dapat terus mengikuti jalannya. Pada kesempatan ini saya ingin sedikit menyinggung masalah pengangkatan Rasul, tujuannya, hasilnya, dan tugas kita terhadapnya.

Rasulullah Saww. diutus dengan tujuan sebagaimana diungkap oleh AI-Quran, yakni:

“Dia-lah yang mengutus pada orang-orang yang ummi seorang Rasul dari mereka sendiri; membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka, mengajarkan mereka al-Kitab dan al-Hikmah, meskipun mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al-Jumu’ah, 62: 2)

Allah menegaskan bahwa Rasulullah Saww. diutus dengan tugas membacakan ayat-ayat Allah, yang dimaksud dalam ayat di atas adalah AI- Quran. Meskipun tidak hanya AI-Quran, tetapi ayat yang paling agung dan mencakup tujuan pengutusan para Rasul hanyalah AI-Quran. Dengan demikian, Nabi Saww. menyampaikan kitab yang agung ini dan membacakannya kepada umat manusia.

AI-Quran adalah sajian yang diturunkan Allah kepada seluruh umat manusia melalui Rasul Saww. agar mereka menarikmanfaat darinya, masing-masing sesuai dengan orang, semua lapisan masyarakat, dari dahulu hingga hari kiamat, dari Barat sampai ke Timur, apakah yang berilmu, awam, filosof, arif atau fakih, semuanya menarik manfaat dari AI-Quran.

Meskipun AI-Quran turun dari alam gaib ke alam nyata, dari posisi yang sangat tinggi ke posisi yang kita fahami, meskipun demikian di dalam AI- Quran terdapat tema-tema yang dapat difahami oleh semua orang baik oleh arif, awam, alim, maupun oleh yang tidak terpelajar. Tapi dalam AI-Quran juga terdapat tema-tema yang hanya difahami oleh kalangan tertentu, yakni para anbiya’, auliya’, ulama, filosof, dan urafa’ saja. sementara kita memahaminya melalui penjelasan mereka. Di samping itu, di dalam AI-Quran terdapat penjelasan-penjelasan mengenai politik, sosial, pendidikan, bahkan militer dan sebagainya. Semua ini untuk difahami dan ditarik manfaatnya oleh umat manusia sesuai kapasitas masing-masing.

Tapi sarang, kita umat manusia dan para ulama masih belum mampu menarik manfaat sebagaimana mestinya. Oleh karena itu adalah keharusan bagi kita semua untuk mengkaji AI-Quran lebih dalam, menggunakan daya pikir dan semua kemampuan yang ada pada kita, agar dapat memahaminya dengan baik sehingga semua orang dapat menarik manfaat dari AI-Quran. Sebab AI-Quran diturunkan untuk semua orang sesuai Kapasitasnya masing-masing.

Dengan demikian, maka salah satu tujuan pengutusan Rasul adalah penurunan AI-Quran dari alam gaib; dari ilmu Allah dan kegaiban yang gaib, melalui pribadi agung yang mempunyai hubungan erat dengan al- Ghaib karena mujahadahnya luar biasa dan fitrah Tauhidnya yang murni, yang karena itu AI-Quran turun padanya dari alam gaib, bahkan melalui beberapa tahapan hingga sampai ke alam syuhud 9 dan alam alfaz 10, sehingga kita dapat memahami serta mengerti maknanya sedikit dan menarik manfaat darinya.

Allah Swt. befirman dalam surat al-Baqarah,129:

“Membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka, mengajarkan mereka al-Kitab dan al-hikmah.”

yakni menjelaskan kepada mereka al-Quran supaya mereka mensucikan diri dan mengeIuarkan kegelapan-kegelapan yang meliputi mereka, sehingga ketika jiwa sudah bersih dan akal pikiran serta ruhani telah siap, barulah dapat menyerap al-Kitab dan al-Hikmah. Jadi, tujuannya ialah penyucian jiwa,tazkiyatun-nafs, supaya memiliki kesiapan memahami al-Kitab dan mendapatkan al-Hikmah. Tidak semua orang dapat menangkap cahaya yang bertajalli 11, menjelma, dan turun dari alam gaib ke alam syuhud ini, kecuali orang-orang yang telah mensucikan jiwanya dari semua kotoran, terutama kotoran akibat mengikuti hawa nafsu.

AI-Quran adalah nur atau cahaya sebagaimana ungkapan AI-Quran sendiri, sedangkan kotoran yang ada dalam diri seseorang adalah tirai atau hijab yang menghalanginya memahami AI-Quran. Oleh karena itu, selama hijab ini belum terurai atau terbuka maka mustahil ia dapat memahami AI-Quran karena selamanya tirai menghalangi masuknya cahaya.

Boleh jadi seseorang merasa bahwa ia telah memahami AI-Quran, tetapi selama ia belum keluar dari kegelapan hijab yang menutup hatinya karena masih menjadi tawanan hawa nafsu, rasa ujub, dan sifat-sifat buruk lain yang ada dalam dirinya, dia tidak akan mampu menerima pantulan cahaya itu ke dalam hatinya. Karena itu jika seseorang ingin memahami hakikat AI-Quran (bukan sekedar pemahaman lahiriah) tapi betul-betul pemahaman hakiki sehingga setiap kali membaca AI-Quran semakin meningkat ke tangga kesempurnaan dan semakin dekat ke sumber cahaya dan sumber tertinggi, maka ia harus mengangkat tirai itu. Dan kalian adalah tirai bagi diri kalian sendiri, karena itu kalian harus mengangkatnya supaya dapat memahami nur ini sebagaimana yang dapat dipahami oleh anak manusia. Dengan demikian, salah satu tujuan pengutusan Rasul ialah pengajaran al-Kitab dan al-Hikmah sesudah takziyatun-nafs atau penyucian diri.

Ayat pertama yang turun pad Nabi Saww adalah firman Allah “iqra’ bismi rabbika”, bacalah dengan nama Tuhanrnu. Ayat ini telah menyeru belajar dan membaca sejak dari pertama. Dalam ayat ini juga tercantum:

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia ketika melihat dirinya berkecukupan akan melampaui batas (tagha).” (QS. al-‘Alaq, 96: 6)

Ini artinya bahwa sikap melampui batas atau tughyan, merupakan salah satu K:ejahatan utama. la harus dihilangk:an dengan cara hanya melalui penyucian diri serta mempefajari al-Kitab dan al-Hikmah.

Dalam diri manusia terdapat suatu watak bahwa ketika ia mendapatkan dirinya berkecukupan dalam satu masalah, ia cenderug bersikap melampaui batas atau tughyan dalam masalah itu. Misalnya ketika ia merasa berkecukupan dalam masalah harta, muncul dalam dlrinya sikap tughyan dalam masalah harta. Demikian pula ketika ia me rasa berkecukupan dalam masalah ilmu atau kedudukan, maka sikap tughyan-nya terjadi pada masalah keilmuannya dan kedudukannaya.

Firaun bersikap tughyan, sebagaimana diungkapkan langsung oleh Allah, karena dia mencapai posisi duniawi tanpa kesucian diri dan tanpa didasarkan pada tujuan Ilahi. Dan memang, setiap orang yang mencapai posisi duniawi tanpa didasari oleh kesucian diri akan melakukan tughyan ini. Semakin tinggi posisi duniawinya semakin tinggi tughyan-nya. Karena itu Nabi di utus untuk menyelamatkan manusia dari sikap tughyan ini, membersihkan jiwa mereka dan mengeluarkan mereka dari kegelapan. Maka jika semua orang berhasil disucikan, seluruh alam ini akan menjadi nur.

Perselisihan dan pertentangan yang terjadi di antara anak manusia dan di antara para penguasa bersumber pada tughyan ini. Seseorang yang mencapai suatu posisi duniawi tertentu muncul dalam dirinya tughyan; ia tidak puas dengan posisinya sekarang dan ingin lebih tinggi lagi; Ini mendorongnya melakukan tindakan kejahatan terhadap orang lain, yang dengan sendirinya melahirkan perselisihan dan pertentangan. Tidak berbeda, apakah perselisihan itu pada tingkat tinggi dan atau tingkat rendah, apakah antara kalangan pedesaa,n atau tingkat kekuasaan tinggi. Semuanya adalah karena tughyan. Dan semakin tinggi posis seseorang semakin tinggi pula tughyan-nya.

Tughyan yang ada pada Firaun, sampai-sampai ia mengklaim dirinya sebagai Tuhan, “ana rabbukuml-a’la”, aku tuhanmu tertinggi, kata Firaun. Pada dasarnya ada pada semua orang bukan khas Firaun saja. Manusia memang seperti itu, ketika pengaturan urusan umat diserahkan padanya, muncul dalam dirinya dikatakan Firaun, “ana rabbukuml-ala”.

Adanya tughyan ini adalah salah satu masalah besar yang dihadapi umat man usia. Karena itu Nabi diutus untuk memberantas sifat tughyan ini dengan cara mensucikan mereka. Jika mereka suci, sikap tughyan tidak akan muncul dan mereka akan memahami al-Kitab serta mendapatkan al-Hikmah. Sebab seseorang yang mensucikan dirinya tidak akan merasa dirinya cukup; dengan demikian tidak akan muncul tughyan dalam dirinya. Dan jika tughyan tidak muncul maka tidak akan terjadi perselisihan dan pertengkaran di antara anak manusia. Jika seandainya semua Nabi dikumpulkan dalam satu kota atau satu negeri, tidak akan terjadi pertentangan di antara mereka sama sekali. Sebab mereka telah mesucikan diri mereka dan mendapat ilmu serta al-Hikmah. Problem kita adalah ketiadaan kesucian pada diri kita dan tidak terdidiknya kita.

Seorang yang berilmu, bahkan mungkin memiliki kemampuan luar biasa tapi jika tidak berakhlak, orang semacam ini sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia. Bahkan lebih berbahaya dari ancaman Mongol. Karena itu penyucian diri merupakan tujuan utama diutusnya para Rasul. sesudah itu baru pengajaran.

Orang-orang yang tidak tersucikan dirinya dan tidak mampu melepaskan diri untuk mendapatkan pengaruh Tauhid. dunia ketuhanan, filsafat, fikih, ijtihad, politik dan sebagainya akan menjadi ancaman yang sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia. Karena itu adalah keharusan bagi orang-orang yang memegang tanggung jawab pendidikan terhadap orang lain untuk mensucikan dirinya dan membinanya terlebih dahulu. Demikian juga para penguasa dan pemimpin-pemimpin negeri. mereka harus mensucikan diri mereka dahulu supaya tidak tughyan dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan setan.

Penyucian semua orang adalah tujuan diutusnya para Rasul. Penyucian diri bagi para penguasa, para pejabat, para raja, dan para kepala pemerintahan jauh lebih penting dari masyarakat lain. Tughyan yang muncul karena ketiadaan kesucian diri dari seorang masyarakat biasa adalah tughyan pada ruang yang kecil. Tughyan yang dilakukan oleh seorang masyarakat biasa di pasar atau di desa. Kerusakan yang diakibatkannya terbatas pada lingkungannya saja.

Tapi tughyan yang muncul dari seorang yang mempunyai pengaruh luas, misalnya ulama yang dihormati orang banyak, raja yang dicintai rakyatnya, atau pemimpin yang di terima oleh umum, dapat merusak seluruh negeri. Tughyan yang merusak negeri terjadi karena ketiadaan penyucian diri oleh para pemegang kekuasaan.

Sebagai contoh dapat dibandingkan tughyan yang dilakukan oleh seorang seperti Saddam dengan tughyan yang dilakukan oleh seorang warga biasa. Tughyan seorang warga biasa hanya merusak beberapa orang di sekitarnya saja, tapi tughyan yang dilakukan Saddam telah merusak sebuah atau dua buah negeri. Bahkan kawasan Timur Tengah ini. Demikian pula jika tughyan ini muncul pada kepala negara seperti Amerika; maka tughyan yang terjadi pada mereka dapat menghancurkan sekian banyak negeri. Peperangan-peperangan yang terjadi di dunia kedua terjadi karena munculnya tughyan ini pada kepala-kepala negara yang tidak dapat mensucikan diri sehingga mereka merusak negeri-negeri yang banyak. Demikian pula jika pemerintahan di Soviet (sebelum jatuhnya Soviet); maka pengaruhnya tidak terbatas pada Soviet saja, tapi seluruh dunia.

Kepada para seluruh pejabat tinggi maupun rendah, jika mereka menginginkan keamanan dan kesejahteraan negeri ini maka hendaknya mereka mengatasi terlebih dahulu persoalan diri mereka. Jika persoalan diri mereka dapat diatasi dengan sendirinya persoalan negeri dapat diatasi. Tapi jika tughyan muncul dari mereka, maka negeri pun akan hancur.

Mereka yang mencintai negeri ini, yang mencintai Islam, dan percaya bahwa Islam penyelamat manusia, hendaknya betul-betul memperhatikan ajaran yang sangat penting ini dalam Islam yang tercermin dalam firman Allah,

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia ketika melihat dirinya berkecukupan akan melampaui batas.” (QS. al-‘Alaq. 96: 6)

Mereka yang percaya pada kebangkitan yang bersifat Ilahi dan mengetahui bahwa sesungguhnya tujuan dari kebangkitan itu adalah menunjukkan jalan kebenaran kepada umat manusia, harus betul-betul memperhatikan masalah ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam ayat di atas. Karena penyucian diri adalah mukadimah bagi penerimaan cahaya hidayah. Selama kalian tidak mensucikan diri kalian. niscaya kalian akan selalu bersikap tughyan. Selama kalian tidak mensucikan diri kalian, maka ilmu akan berbahaya buat kalian, bahkan bahayanya melebihi apa pun juga. Selama kalian belum mensucikan diri kalian pada kecelakaan dunia dan akhirat.

Renungilah hari Mab’ats. Renungilah nikmat Ilahi yang agung di mana kita saat ini memperingatinya. Renungilah apa tujuan dari pengangkatanm apa maksudnyam dan jika seseorang menjauhkan diri dari tujuan itu apa akibat yang bakal diterimanya?

Renungkan semua ini. Tujuan dari pengutusan Rasul adalah penyucian diri, dan penyucian diri tidak akan dapat dilakukan kecuali dengan menghilangkan ananiyah (keakuan), ujub, cinta kepemimpirian, mengejar dunia dan mengganti semua itu dengan kecintaan kepada Allah. Tujuan diutusnya Rasul untuk menancapkan kekuasaan Ilahi dalam hati sebelum dalam masyarakat.

Selama kesucian diri belum terwujud pada tingkat tinggi, maka negeri ini dan negeri-negeri lainnya tidak akan menjadi baik. Orang-orang yang melihat revolusi sebagai revolusi yang berguna buat masyarakat banyak, mendukungnya dan menganggapnya sebagai Revolusi Rakyat akan berusaha untuk mewujudkan cita-citanya mereka dengan mensucikan diri mereka. Penyucian diri ini harus dimulai dari tingkat atas. Selama diri mereka belum suci dan tidak mampu melepaskan diri dari ananiyah, ujub, dan hawa nafsu, maka tidak akan terjadi kebaikan.

Kita semua harus mensucikan diri dan tidak ada kecuali dalam hal ini. Supaya kita dapat menerangi hidup ini dengan nur Ilahi dan nur AI-Quran.


Daftar Isi :

PESAN SANG IMAM 1

(Bagian 8) 1

Penerjemah : Tim AI-Jawad 1

Penerbit : AI-Jawad Publisher 1

Tahun Penerbitan : Shafar 1421 H/Mei 2000 M 1

Khomeini, Ruhullah al-Musawi 2

UCAPAN TERIMA KASIH 3

SEKAPUR SIRIH 6

Imam Khomeini, Siapa dia? 6

PENGANTAR PENERBIT 13

DO’A DAN PENYUCIAN JIWA 17

Do’a di Bulan Sya’ban Cermin Persiapan Jihad 17

Do’a Sya’ban Membuka Tabir Kegelapan 20

Kesucian Akhlak Untuk Mencapai Makrifatullah 23

Munajat Sya’baniyah 26

Penyuci Jiwa Kotor 26

Langkah Awal Kesucian Diri 38

Tazkiyah Nafs 52

Bersihkan Diri Jika Ingin Memahami AI-Quran 56