PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN
Najmuddin Thabasi
Penerjemah: Muhammad Habibi
Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang
Pusaka dan peninggalan berharga Ahlul Bait as. yang sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam khazanah mereka merupakan universitas lengkap yang mengajarkan berbagai ilmu Islam. Universitas ini telah mampu membina jiwa-jiwa yang berpotensi untuk menguasai pengetahuan dari sumber tersebut. Mereka mempersembahkan kepada umat Islam ulama-ulama besar yang membawa risalah Ahlul Bait as., ulama-ulama yang mampu menjawab secara ilmiah segala kritik, keraguan dan persoalan yang dikemukakan oleh berbagai mazhab dan aliran pemikiran, baik dari dalam maupun luar Islam.
Berangkat dari misi dan tugas yang diemban, Lembaga Internasional Ahlul Bait (Majma‘ Jahani Ahlul Bait) berusaha mempertahankan kemu-liaan risalah dan hakikatnya dari serangan tokoh-tokoh firqah (kelompok), mazhab, dan berbagai aliran yang memusuhi Islam. Dalam hal ini, kami berusaha mengikuti jejak Ahlul Bait as. dan penerus mereka yang sepanjang masa senantiasa tegar dalam menghadapi tantangan dan tetap kokoh di garis depan perlawanan.
Khazanah intelektual yang terdapat dalam karya-karya ulama Ahlul Bait as. tidak ada bandingannya, karena buku-buku tersebut berpijak pada landasan ilmiah dan didukung oleh logika dan argumentasi yang kokoh, serta jauh dari pengaruh hawa nafsu dan fanatik buta. Karya-karya ilmiah yang dapat diterima oleh akal dan fitrah yang sehat tersebut juga mereka peruntukkan kepada para ulama dan pemikir.
Dengan berbekal sekian pengalaman yang melimpah, Lembaga Internasional Ahlul Bait berupaya mengetengahkan metode baru kepada para pencari kebenaran melalui berbagai tulisan dan karya ilmiah yang disusun oleh para penulis kontemporer yang mengikuti dan mengamalkan ajaran mulia Ahlul Bait as. Di samping itu, lembaga ini berupaya meneliti dan menyebarkan berbagai tulisan bermanfaat dari hasil karya ulama Syi‘ah terdahulu. Tujuannya adalah agar kekayaan ilmiah ini menjadi sumber mata air bagi setiap pencari kebenaran di seluruh penjuru dunia. Perlu dicatat bahwa era kemajuan intelektual telah mencapai kematangannya dan relasi antarindividu semakin ter-jalin demikian cepatnya. Sehingga pintu hati terbuka untuk menerima kebenaran ajaran Ahlul Bait as.
Kami mengharap kepada para pembaca yang mulia kiranya sudi menyampaikan berbagai pandangan berharga dan kritik konstruktifnya demi kemajuan Lembaga ini di masa mendatang. Kami juga mengajak kepada berbagai lembaga ilmiah, ulama, penulis, dan penerjemah untuk bekerja sama dengan kami dalam upaya menyebarluaskan ajaran dan budaya Islam yang murni. Semoga Allah swt. berkenan menerima usaha sederhana ini dan melimpahkan taufik-Nya serta senantiasa menjaga Khalifah-Nya (Imam Al-Mahdi as.) di muka bumi ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Najmuddin Thabasi yang telah berupaya menulis buku ini. Demikian juga kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Sdr. Muhammad Habibi yang telah bekerja keras menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia, juga kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan buku ini.
Divisi Kebudayaan Lembaga Internasional Ahlul Bait
Segera setelah negeri Shush—tempat Nabi Daniel as. dimakamkan—lepas dari kekuasaan orang-orang partai Baath, penduduk di sana secara bertahap kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Dan ketika itulah saya mendapat kehormatan untuk hadir bersama para pejuang. Di masjid jami kota bersejarah itu, saya menyampaikan rangkaian kuliah seputar Imam Zaman af. dengan mengacu kepada kitab Bihar al-Anwar karya ‘Allamah Majlisi ra.
Pada waktu itu, saya menyadari bahwa meskipun banyak sekali permasalahan telah dibahas seputar Imam Mahdi af. seperti: panjangnya usia beliau, falsafah keghaibannya, berbagai faktor penyebab kemunculannya, dan lain sebagainya, namun pembahasan tentang bagaimana imam Mahdi af. bangkit; bagaimana pemerintahannya dan seperti apa ia memimpin, belum menjadi obyek kajian yang memadai. Atas dasar itu, saya bermaksud untuk membahas masalah ini, sehingga barangkali saya dapat menemukan berbagai jawaban untuk beragam pertanyaan yang seringkali mengemuka dan menjadi bahan pikiran khalayak.
Di antara pertanyaan-pertanyaan itu ialah bagaimana Imam Mahdi af. kelak akan menggugurkan berbagai sistem sosial yang memiliki kemampunan dan kekuatan beragam di muka bumi, lalu menggantikannya dengan sebuah sistem pemerintahan global dan mendunia? Bagaimana sistem dan agenda pemerintahan imam Mahdi af., sehingga ketika ia memerintah, tak lagi tersisa kezaliman dan kerusakan sedikit pun di dunia, tak akan pula ditemukan seorang pun yang hidup kelaparan?
Berangkat dari berbagai pertanyaan semacam inilah saya terdorong selama empat tahun untuk melakukan penelitian. Dan tampaknya mulai menemukan hasil; yaitu berupa buku yang ada di hadapan para pembaca yang budiman ini.
Bagian pertama buku membahas kondisi dunia sebelum kemunculan Imam Mahdi af.; kondisi yang berkecamuk dengan peperangan, pembunuhan, kekeringan, kehancuran, kematian, tersebarnya wabah penyakit, kezaliman, ketakutan, dan kekacauan. Kelak kita akan menyimak bahwa pada masamasa itu, umat manusia akan merasa putus asa dan kecewa terhadap keberadaan berbagai sistem pemikiran dan pemerintahan yang semuanya mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia dan menjanjikan kebahagiaan serta keselamatan. Mereka merasa putus asa akan pulihnya situasi dan membaiknya kondisi dunia. Semua pihak ketika itu menanti kedatangan seorang juru penyelamat yang akan membimbing mereka menuju keselamatan.
Bagian kedua, mengupas seputar bagaimana kebangkitan dan revolusi global Imam Mahdi af. Inilah gerakan yang akan dimulai dari dekat Ka’bah dengan diumumkannya kemunculan beliau. Ketika itu, para pengikut sejati beliau dari segala penjuru dunia bergabung dengannya. Pasukan yang luar biasa terbentuk dengan teratur, para pemimpin ditentukan, dan dimulailah berbagai aksi global dalam tingkatan yang semakin meluas.
Imam Mahdi af. akan datang dan melenyapkan kezaliman dan orang-orangnya dari tengah-tengah umat manusia sampai ke akar-akarnya. Umat manusia yang dimaksud di sini tidak hanya terbatas pada mereka yang hidup di kawasan Hijaz, Timur Tengah, dan Asia saja, bahkan meliputi seluruh dunia.
Memperbaiki masyarakat yang dipenuhi berbagai kezaliman dan kerusakan seperti ini adalah pekerjaan yang sangat sulit. Setiap orang yang mengaku akan melakukannya, berarti ia juga mengaku telah memiliki mukjizat yang sangat besar. Sesungguhnya mukjizat seperti ini memang ada dan akan terwujud di tangan Imam Mahdi af.
Adapun bagian ketiga buku ini membahas pemerintahan Imam terakhir kita itu. Untuk menata dunia yang telah dipenuhi kezaliman dan kerusakan, juga mewujudkan legitimasi Islam, pemerintahan yang kuat dan kompeten, Imam Mahdi af. akan membentuk sebuah pemerintahan yang adil yang dibantu para sahabat terbaik di zamannya. Selain itu, ia pun dibantu para pembesar kekasih Allah seperti Nabi Isa as., Salman Al-Farisi, Malik al-Asytar, dan orang-orang baik lainnya yang merupakan al-salaf al-shaleh. Meskipun peran mereka dalam menggulingkan pemerintahan zalim tidak bisa diabaikan, amun peran sejati mereka adalah membangun dan membenahi dunia pada masa pemerintahan Imam Mahdi af.
Apa yang telah dijelaskan secara sederhana dalam pendahuluan ini merupakan pembahasan yang telah memanfaatkan berbagai literatur dari puluhan kitab terkemuka baik dari kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, dengan mengkaji ratusan riwayat dan disajikan secara sistematis dalam format buku yang kami anggap dapat dipertanggungjawabkan argumentasinya.
Walaupun tidak secara sempurna, semoga buku ini dapat melukiskan kondisi umat Islam setelah munculnya sang ratu adil. Mudah-mudahan buku ini dapat diterima oleh Imam Mahdi af. dan bermanfaat bagi seluruh lapisan kaum Muslimin dan orang-orang yang teguh menanti kemunculannya. Dan semoga saja buku ini dapat menambah kesiapan mereka untuk menyambut kedatangan sang Imam.
Kami memohon kepada Allah; Tuhan semesta alam, untuk membangkitkan Imam Khumaini—orang yang telah menampilkan sebuah contoh pemerintahan Imam Mahdi af di negeri Persia—bersama para Nabi dan manuisa-manuisa maksum. Semoga Allah mengaruniai keberhasilan bagi para pecinta Islam yang berkhidmat kepada Ahlul Bait as. dan tanah airnya, dan semoga Allah mengokohkan diri mereka dalam menjaga tanah air ibu kota Islam ini.
Di sini, rasanya penting sekali bagi saya untuk memberikan beberapa penjelasan sebelum Anda membaca buku ini:
Kami tidak mengklaim telah membawakan pembahasan baru dalam buku ini, karena rangkaian riwayat yang dikemukakan merupakan riwayat yang telah dikumpulkan oleh ulama Islam terdahulu, dan dalam beberapa bagian mereka pun telah menyampaikan kesimpulannya. Tampaknya, kekhususan buku ini tidak terjebak pada berbagai istilah teknis yang sulit. Dengan metode baru, pembahasan disampaikan secara mudah dan gamblang, sehingga dapat dipahami oleh banyak orang.
Berbagai kesimpulan yang ditarik dari riwayat tertentu yang tidak disebutkan sumber rujukannya adalah pendapat pribadi penulis. Oleh karena itu, mungkin saja dengan penelitian yang lebih mendalam atas berbagai riwayat tersebut akan ditemukan kesimpulan lain.
Kami juga tidak mengklaim bahwa semua riwayat yang disajikan dalam buku ini adalah riwayat sahih yang tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, sebagaimana permasalahan ini telah dibahas secara terperinci dalam jurnal Entezar. Walaupun demikian, kami berusaha menukilkan apa-apa yang disampaikan oleh ulama hadis dan para penulis ternama dalam berbagai karya mereka. Selain itu, hanya dalam beberapa tempat saja kami membahas kebenaran sanad suatu riwayat; karena kami tidak bermaksud melakukannya dalam buku ini. Lagi pula, kebanyakan riwayat-riwayat yang kami gunakan pada umumnya dapat dipercaya, khususnya riwayat-riwayat dari jalur Ahlul Bait as.
Riwayat-riwayat dalam buku ini telah dikumpulkan sebelum diterbitkannya kitab Mu’jam Ahadits Al-Imam Al-Mahdi.[1] Oleh karenanya, dalam sebagian tempat, kami mempersilahkan para pembaca untuk merujuk kepada kitab tersebut—yang terlebih dahulu disusun sebelum buku ini—untuk melihat hasil penelitian yang lebih terperinci.
Dalam beberapa riwayat, kata al-sa’ah (waktu) dan alqiyamah (kiamat) telah ditafsirkan sebagai kemunculan Imam Mahdi af. Oleh karenanya, riwayat-riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda-petanda dekatnya kejadian as-sa’ah dan al-qiyamah kami bawakan sebagai riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda kemunculan Imam Mahdi af.
Sebagian materi pembahasan dalam buku ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, meskipun telah ada usaha sebelumnya untuk meneliti berbagai permasalahan tersebut. Semoga Allah mengizinkan kami untuk memberikan catatan tambahan hasil penelitian yang lebih baik dalam buku ini pada cetakan berikutnya.
Sebelum mengakhiri kata pengantar ini, sebagaimana riwayat yang menyebutkan, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesama makhluk, maka ia tidak berterima kasih kepada Sang Khaliq”, sepatutnya saya sampaikan banyak terima kasih kepada saudara-saudara dan teman-teman, khususnya dua saudara besar saya, yaitu Hujjatul Isam Muhammad Jawad dan Muhammad Ja’far Thabasi atas saransaran mereka, demikian juga kepada Hujjatul Islam Ali Rafi’i dan Sayid Muhammad Husaini Shahrudi atas bantuannya dalam menyusun buku ini.
Najmuddin Thabasi Qom, 1378 HS.
Bab 4
KEAMANAN DI AKHIR ZAMAN
Kolonialisme yang dikibarkan negara adidaya merenggut keamanan negara kecil dan pemerintahan yang lemah. Di sini, kebebasan dan keamanan tidak pernah terwujud. Negara adikuasa pada zaman itu terus-menerus menekan dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa-bangsa lain, sehingga mereka tidak bisa menghirup udara segar sekalipun.
Rasulullah Saw. menggambarkan situasi di hari itu dalam sabdanya, “Tak lama lagi, kaum yang memusuhi kalian akan memerangi kalian, seperti orang-orang yang kelaparan menyerang makanan.” Salah seorang sahabat berkata, “Apakah karena jumlah kami sangat sedikit di waktu itu, sehingga kami akan diperangi sedemikian rupa?” Rasulullah Saw. menjawab, “Jumlah kalian di waktu itu banyak sekali. Tetapi, kalian bagaikan berangkal yang terbawa banjir. Allah melenyapkan wibawa dan keagungan kalian dari hati musuh-musuh kalian. Dalam hati kalian akan tertanam kelemahan.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang menyebabkan tertanamnya kelemahan ini?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”[2]
Kedua karakter buruk yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw. itu menyebabkan sebuah bangsa tidak bisa mencapai kebebasan dan kemandiriannya. Selain itu, hal itu juga mengakibatkan mereka tidak berdaya dalam membela hak-haknya. Mereka sudah terbiasa dengan hidup terhina dalam berbagai kondisi, sekalipun harus melepaskan agama dan ajaran-ajaran luhurnya.
Rasulullah Saw. bersabda, “Al-Mahdi af. akan muncul pada saat dunia dipenuhi dengan kerusuhan; dimana suatu kelompok menyerang kelompok lainnya;[3] orang yang besar tidak mengasihi yang kecil; orang yang kuat juga tidak menyayangi orang-orang yang lemah. Dalam kondisi seperti inilah Allah Swt. memberikan izin kepadanya untuk bangkit.”[4]
Situasi yang kacau dan tidak aman terjadi ke mana-mana, hingga merambah ke jalan-jalan. Secara kasatmata, kekerasan terlihat semakin menjalar ke segala penjuru. Pada zaman seperti inilah Allah Swt. akan menghadirkan Al-Mahdi. Di tangannya benteng kegelapan dihancurkan. Al-Mahdi af. tidak hanya mendobrak pintu-pintu gerbang kezaliman, bahkan juga ditugaskan untuk membuka pintu-pintu hati yang tertutup dari cahaya hakikat dan spiritualitas sehingga mereka dapat menerima kebenaran.
Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada putri tercintanya, “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya Al-Mahdi af. umat ini adalah orang yang berasal dari keturunan Hasanain as (Imam Hasan dan Imam Husein as).
Ia akan muncul ketika dunia telah dipenuhi dengan kerusuhan, kekacauan dan berbagai musibah yang terjadi secara beruntun dan kasatmata. Jalanan tak lagi aman. Sebagian orang tega menyerang sebagian yang lain. Yang lebih besar tidak lagi menyayangi yang kecil dan yang kecil tidak lagi menghormati yang besar. Dalam kondisi seperti ini, Allah akan menampakkan seseorang yang berasal dari keturunan Hasan dan Husein as. Ia akan menghancurkan pintu gerbang kesesatan.. Ia juga akan membuka hati-hati umat manusia yang selama itu tertutupi kebodohan, sehingga mereka dapat memahami kebenaran. Di akhir zaman, ia akan bangkit, sebagaimana aku bangkit di awal zaman, sehingga bumi penuh dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi telah dipenuhi dengan kezaliman.”[5]
Berbagai kejahatan para algojo yang haus darah sepanjang sejarah sangatlah mengerikan. Halaman sejarah kehidupan umat manusia dipenuhi beragam kejahatan yang dilakukan oleh para penguasa zalim terhadap bangsa yang tertindas. Di antara mereka tampak Jengis Khan dan Hitler. Namun, kejahatan yang akan terjadi di akhir zaman kelak adalah kejahatan yang kekejiannya belum pernah dibayangkan sebelumnya. Pada zaman itu, anak-anak kecil akan digantung di tiang-tiang gantungan yang terbuat dari kayu. Mereka akan dibakar dan dimasukkan ke dalam air mendidih. Orang-orang yang tak bersalah akan dipotong-potong dengan geraji atau benda tajam lainnya, kemudian dimasukkan ke dalam penggilingan. Berbagai kejadian tersebut adalah beberapa contoh peristiwa yang kelak akan menimpa umat manusia sebelum berdirinya pemerintahan Al-Mahdi af. Inilah kekerasan penguasa yang mengaku dirinya sebagai pembela hak-hak asasi manusia. Dengan memahami kondisi yang mengerikan seperti ini, kita menyadari betapa pentingnya pemerintahan Al-Mahdi af.; yang dalam riwayat disebut sebagai pelindung orang-orang lemah.
Imam Ali as. menggambarkan kondisi hari itu seperti ini, “Sesungguhnya orang Sufyani akan memerintahkan sekelompok orang untuk mengumpulkan anak-anak kecil di suatu tempat. Kemudian mereka sibuk memanaskan minyak yang akan digunakan untuk menggoreng mereka. Anak-anak kecil itu berkata, ‘Jika ayah-ayah kami menentang kalian, maka apa dosa kami sehingga kalian harus membunuh kami?’ Ia menyeret dua orang anak lelaki yang bernama Hasan dan Husain lalu menggantung mereka. Kemudian, ia pergi ke Kufah dan melakukan hal yang sama terhadap anak-anak kecil di sana. Ia menyeret dua anak yang bernama Hasan dan Husain lalu menggantung mereka di masjid Kufah. Saat ia keluar dari kota itu, ia tetap melakukan perbuatan keji tersebut berkali-kali. Suatu ketika, di tangannya terdapat tombak yang tajam. Ia menangkap seorang wanita yang sedang mengandung. Lalu, ia memerintahkan anak buahnya untuk berbuat semena-mena terhadap diri wanita tersebut. Setelah itu, ia merobek perutnya dan mengeluarkan bayi tak berdosa secara paksa. Ketika itu, tak seorang pun orang yang mampu merubah buruknya kondisi umat manusia.”[6]
Pada suatu kesempatan, Imam Shadiq as. berkata, “Allah menyempurnakan rahmat-Nya dengan perantara anak lelaki dari putri Rasulullah Saw. Ia memiliki kesempurnaan Musa as, kewibawaan Isa as, dan kesabaran serta kegigihan Ayyub as. Di akhir zaman sebelum kemunculannya, sahabatsahabatku akan dihinakan dan kepala mereka bak kepala para bajingan yang dipenggal lalu diarak dan dijadikan sebagai hadiah kerajaan. Mereka akan dibunuh dan dibakar dan hidup dengan dipenuhi rasa takut dan cemas. Bumi akan memerah dengan darah mereka dan lengkingan jerit tangis keluarga mereka menggema. Sungguh mereka adalah sahabat sejatiku. Bersama merekalah Al-Mahdi af. akan memadamkan api fitnah buta dan mengembalikan keamanan dunia lalu merekalah yang akan melepaskan tali kekang yang diikat di tangan dan kaki para tawanan. Salam Allah atas mereka! Sungguh mereka adalah orang-orang yang benar-benar mendapatkan hidayah.”[7]
Ibnu Abbas berkata: “Sufyani dan si Fulan akan keluar dan berperang bersama-sama. Sufyani merobek-robek perut wanita yang sedang mengandung dan merebus anak-anak kecil dalam tungku raksasa.”[8]
Urthat berkata: “Sufyani membunuh siapa saja yang menentangnya. Mereka membelah para penentangnya dengan gergaji. Lalu mereka dimasukkan kedalam tungku raksasa. Kekejian ini akan berlangsung selama enam bulan.”[9]
Rasulullah Saw. bersabda, “Aku bersumpah demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya usia dunia tidak akan berakhir kecuali dengan tibanya suatu masa dimana seorang lelaki melewati pemakaman lalu ia mengguling-gulingkan tubuhnya di atas makam itu seraya berkata, ‘Andai aku yang mati dan berada di tempatmu!’ Padahal masalah yang ia hadapi bukanlah hutang, akan tetapi kesusahan hidup dan tekanan-tekanan zaman yang disebabkan oleh kezaliman.”[10]
Dari pemakaian kata rajul (lelaki) dalam riwayat di atas, kita dapat menarik dua hal; pertama, kesulitan hidup di zaman itu menyebabkan banyak orang yang mengharap cepat mati. Kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh beberapa orang atau kelompok tertentu saja, tetapi semua orang pun merasakannya. Kedua, penggunaan kata ‘lelaki’ dalam riwayatitu menunjukkan betapa beratnya problema kehidupan di zaman itu. Karena, pada umumnya para lelaki memiliki daya tahan yang lebih besar di hadapan kesulitan hidup daripada kaum perempuan. Maka, ketika para lelaki saja tidak mampu menahan berbagai kesulitan di zaman itu, kita dapat membayangkan betapa berat kehidupan zaman itu.
Abu Hamzah Tsumali menuturkan bahwa Imam Baqir as. berkata, ‘Wahai Abu Hamzah! Sesungguhnya Imam Mahdi af. tidak akan muncul sebelum rasa takut, kekhawatiran, musibah dan fitnah menyebar di tengah kehidupan umat manusia. Sesungguhnya ia tidak akan muncul sebelum bala bencana yang beraneka ragam menimpa umat manusia, penyakit menular menyebar ke mana-mana, peperangan antara kaum Arab terjadi, semua orang bersengketa, keterikatan umat terhadap agamanya mulai hilang, dan segalanya berubah. Bahkan setiap orang berangan-angan di siang dan malam hari untuk cepat mati, karena begitu banyak kezaliman, penyiksaan, dan pembunuhan yang telah ia saksikan.’”[11]
Hudzaifah sang sahabat menukil dari Rasulullah Saw., “Pasti akan datang suatu hari di mana manusia mengharapkan kematian; meskipun dirinya tidak fakir, tidak miskin, dan tidak mendapatkan tekanan apa pun.”[12]
Ibnu Umar berkata, “Sesungguhnya akan datang suatu hari akibat banyaknya cobaan dan bala yang menimpa umat manusia di muka bumi; seorang yang beriman mengharap untuk pergi bersama keluarganya ke tengah lautan dengan menaiki perahu, lalu hidup di sana.”[13]
Hudzaifah bin Yaman menuturkan, “Ketika Rasulullah Saw. sedang menyebutkan satu per satu kesulitan yang akan menimpa kaum Muslimin, beliau bersabda, ‘Karena berbagai kesulitan hidup yang menimpa, mereka rela menjual orangorang yang sebenarnya bebas; para lelaki dan wanita akhirnya menjadi budak, orang-orang musyrik menjadikan orang-orang yang beriman sebagai budak dan pesuruhnya. Bahkan, mereka menjualnya ke kota-kota dan tak seorang pun yang merasa kasihan, baik orang-orang yang baik maupun orangorang yang buruk.
“Wahai Hudzaifah! Bencana yang menimpa orang-orang di zaman itu terus berlangsung, sehingga mereka putus asa dan menganggap buruk kelapangan hidup. Pada zaman seperti inilah Allah akan mengirim seorang lelaki dari keturunanku; orang yang adil, diberkahi, suci, dan tidak akan membiarkan adanya kebatilan sekecil apa pun. Allah akan memuliakan Islam dan al-Qur’an beserta orang-orang yang kelak membelanya. Begitu pula, Dia akan menghinakan kesyirikan sehinahinanya. Al-Mahdi af. selalu takut kepada Tuhannya dan tidak pernah merasa sombong hanya karena ia dari keturunanku. Ia tak akan melempar seorang pun dengan batu dan tidak akan menyabetnya dengan pecut melainkan atas dasar kebenaran dan demi menjalankan hukum Allah. Allah akan menghapus bid’ah-bid’ah dengan menghadirkannya. Ia juga akan melenyapkan fitnah-fitnah yang ada. Ia akan membuka pintu kebenaran dan menutup pintu kebatilan, lalu membebaskan kaum Muslimin yang berada di mana saja dan mengembalikan mereka ke tempat tinggalnya masingmasing.”[14]
Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya umatku akan mengalami suatu zaman dimana mereka saling bertanya kepada sesamanya, baik siang maupun malam, tentang siapakah yang ditelan bumi hari itu dan siapakah yang masih hidup pada hari itu. Di antara mereka saling bertanya, ‘Apakah orang yang hari ini masih hidup?’”[15]
Tampaknya, ucapan beliau mengisyaratkan betapa sengitnya peperangan yang akan terjadi di akhir zaman. Dengan senjata pembunuh masal tercanggih, setiap harinya banyak nyawa melayang. Barangkali, karena dosa umat manusia di akhir zaman yang begitu besar, bumi menelan sebagian orang yang berjalan di atasnya.
Rasulullah Saw. bersabda, “Salah satu petanda dekatnya Hari Kiamat adalah tersebarnya penyakit kelumpuhan dan kematian secara tiba-tiba.”[16] Beliau juga mengatakan, “Hari Kiamat tak akan tiba sampai datangnya kematian putih.” Orang-orang bertanya, “Ya Rasulullah! Apakah kematian putih itu?” Beliau menjawab, “Kematian secara tiba-tiba.”[17]
Imam Ali as. berkata, “Sebelum Imam Mahdi muncul, sering terjadi kematian merah dan kematian putih … kematian putih adalah tha’un (sejenis wabah—pent.).”[18]
Imam Muhammad Baqir as. berkata, “Al-Qaim (Imam Mahdi af.) tidak akan muncul kecuali tibanya suatu zaman dimana rasa takut melanda setiap orang dan sebelumnya penyakit tha’un menyebar ke mana-mana.”[19]
Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Ali! Al-Mahdi kelak akan muncul ketika kota-kota telah berubah, hamba-hamba Allah menjadi lemah dan putus asa akan kedatangannya. Pada kondisi seperti inilah Al-Mahdi dari keturunanku akan muncul.”[20]
Abu Hamzah Tsumali menuturkan bahwa Imam Muhammad Baqir as. berkata, “Al-Mahdi akan muncul ketika semua orang telah berputus asa dari pertolongan Allah dengan kedatangannya.”[21]
Mengenai hal ini, Imam Ali as. mengatakan, “Sesungguhnya akan datang seseorang dari Ahlul Baitku yang akan menempati kedudukanku. Periode kepemimpinannya akan berjalan setelah melewati masa-masa yang sangat sulit dan penuh musibah; yaitu masa ketika bala dan bencana mencapai puncaknya dan harapan telah hilang dari hati manusia.”[22]
Rasulullah Saw. bersabda, “Begitu dasyatnya bala dan bencana yang menimpa umat ini, sehingga mereka tidak menemukan tempat berlindung dan penolong yang dapat melindungi mereka dari kezaliman.”[23]
Beliau juga bersabda, “Kelak, akan datang bala dan bencana kepada umatku dari arah para penguasa mereka, sehingga seorang mukmin tidak menemukan tempat berlindung dan penolong baginya dari kezaliman mereka.”[24]
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Aku sampaikan berita gembira kepada kalian, yaitu kedatangan Al-Mahdi putra Fathimah az-Zahra. Ia akan datang dari arah barat dan akan memenuhi dunia dengan keadilan.” Lalu, seseorang bertanya, “Ya Rasulullah! Kapankah ia akan datang?” Beliau menjawab, “Ketika para hakim menerima harta suap dan umat manusia menjadi pendosa.” Lalu, seseorang bertanya, “Seperti apakah Al-Mahdi?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ia terpisah dari keluarga dan kerabatnya, berikhtiar sendiri, jauh dari kampung halamannya, dan tinggal dalam keterasingan.”[25]
Imam Muhammad Baqir as. berkata, “Orang yang kalian nantikan tidak akan datang kecuali kalian telah menjadi domba-domba yang mati dalam cabikan cakar-cakar binatang buas, yang tidak membedakan siapakah yang mereka terkam. Pada saat itu, kalian tidak akan menemukan daerah yang jauh dari penyerangan yang dapat mengamankan diri di sana. Kalian pun tidak menemukan persembunyian yang aman sebagai tempat berlindung.”[26]
Dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa sebelum kemunculan Imam Mahdi af, segala penjuru bumi dilanda peperangan dan pertumpahan darah. Sebagian riwayat mengungkapkan berbagai musibah. Dalam riwayat lainnya diceritakan terjadinya peperangan yang berturut-turut. Sebagian yang lain membicarakan kematian umat manusia yang disebabkan peperangan dan wabah penyakit seperti tha’un dan lain sebagainya.
Rasulullah Saw. bersabda, “Setelahku, muncul empat musibah yang akan menimpa kalian. Pada musibah pertama, darah menjadi mubah dan pertumpahan darah terjadi di mana-mana. Pada fitnah kedua, darah dan harta menjadi halal, lalu pembunuhan dan perampokan terjadi di manamana. Pada musibah ketiga, darah, harta, dan wanita dianggap mubah. Ketika itu, selain pembunuhan dan perampokan yang terjadi di mana-mana, kehormatan manusia pun tidak lagi aman. Pada musibah keempat, sebagaimana musibah tuli dan buta, bagaikan perahu yang dihempas ombak di tengah lautan luas, semua orang tidak dapat berlindung darinya. Musibah itu terbang dari Syam, lalu menyebar di Irak dan menjejakkan kaki di Hijaz. Segala musibah dan bencana menyiksa umat manusia dan tak seorang pun yang mampu menghindarinya. Setiap kali seseorang menghindarinya, maka musibah itu datang dari arah yang lain.”[27]
Dalam hadis yang lain beliau bersabda, “Setelahku akan datang beberapa musibah, ketika itu tidak ada jalan keluar bagi umat manusia untuk menghindarinya. Pada waktu itu, peperangan dan kerusakan terlihat di mana-mana. Setelah itu datang musibah yang lebih berat dari pada yang terjadi sebelumnya. Belum usai musibah di suatu tempat, terjadi musibah lainnya. Sehingga, tak satu pun rumah-rumah bangsa Arab yang aman dari musibah tersebut. Tidak seorang muslim pun yang tidak terkena bencana ini. Maka, pada waktu itulah seorang lelaki dari keluargaku akan muncul.”[28]
Beliau juga bersabda, “Sungguh setelahku akan muncul berbagai musibah. Ketika suatu musibah mulai sirna, datang musibah dari arah yang lain, hingga terdengar teriakan dari langit, ‘Pemimpin kalian adalah Al-Mahdi!’”[29]
Berbagai riwayat di atas menjelaskan banyaknya musibah sebelum kemunculan Imam Mahdi af. Namun, dalam riwayat lainnya dengan jelas menerangkan terjadinya peperangan dasyat di akhir zaman.
Ammar Yasir berkata, “Pesan dan perintah Rasulullah Saw. dan Ahlul Bait as. untuk kalian di akhir zaman adalah menjauhi peperangan dan pertumpahan darah sampai pada saat para pemimpin Ahlul Bait kalian lihat; yang mana pada waktu itu orang-orang bangsa Turki dan Romawi saling bersengketa dan peperangan terjadi di mana-mana.”[30]
Beberapa riwayat menerangkan pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di akhir zaman sebelum nampaknya Imam Mahdi af. Sebagian riwayat ini ada yang menjelaskan pembunuhan dan pertumpahan darah itu sendiri, dan sebagian yang lain menerangkan maraknya perbuatan itu dilakukan.
Imam Ridha as bersabda, “Sebelum munculnya Imam Mahdi af, akan terjadi pembunuhan dan pertumpahan darah yang berkelanjutan tanpa henti.”[31]
Abu Hurairah berkata, “Di kota Madinah, akan terjadi pertumpahan darah. Ketika itu daerah Ahjaruz Zait[32] akan porak-poranda. Kejadian itu belum pernah terjadi sebelumnya dan kejadian Harrah[33] jika dibandingkan dengannya, tidak lebih dari sekedar sabetan cemeti biasa. Setelah kejadian itu, ketika mereka menjauh dari kota Madinah sejauh 10 Farsakh, Imam Mahdi af. mulai dibaiat.”[34]
Abu Qubail berkata, “Seseorang dari Bani Hasyim akan memegang tampuk pemerintahan. Ia hanya membunuh Bani Umayah secara besar-besaran dan tak ada yang selamat dari antara mereka kecuali beberapa orang saja. Setelah itu keluarlah seseorang lelaki dari Bani Umayah dan membunuh banyak orang, sehingga tak ada yang tersisa kecuali para wanita.”[35]
Rasulullah Saw. bersabda, “Aku bersumpah demi Allah yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya. Dunia tidak akan berakhir sebelum datangnya suatu hari, ketika pembunuh tidak mengetahui untuk apa dirinya membunuh dan orang yang mati terbunuh pun tidak mengetahui sebab kematiannya. Huru-hara terjadi di mana-mana. Pada zaman seperti itulah orang yang membunuh dan yang dibunuh memasuki neraka.”[36]
Imam Ali as. bersabda, “Sebelum Al-Mahdi muncul, dunia akan dilanda dua jenis kematian: kematian putih dan kematian merah. Kematian merah adalah kematian dengan pedang dan kematian putih adalah kematian dengan Tha’un.”[37]
Imam Baqir as. bersabda, “Terdapat dua keghaiban untuk AlQaim af., salah satunya lebih panjang dari yang lain. Pada zaman itu, umat manusia ditimpa dengan bencana kematian dan pertumpahan darah.”[38] Jabir berkata, “Aku bertanya kepada Imam, ‘Kapankah Al Mahdi akan muncul?’ Imam menjawab, ‘Wahai Jabir! Bagaimanakah ia akan muncul, sedangkan saat ini di antara Hirah[39] dan Kufah masih jarang mayat-mayat yang bergelimpangan?’”[40]
Imam Ja’far Shadiq as. bersabda, “Sebelum Al-Mahdi af. muncul, akan ada dua macam kematian, yaitu kematian merah dan kematian putih. Banyak orang yang mati karenanya, sehingga kira-kira di antara tujuh orang, ada lima orang yang mati.”[41]
Imam Ali as. bersabda, “Imam Mahdi tidak akan muncul, kecuali sepertiga umat manusia mati terbunuh, sepertiga yang lain meninggal biasa, dan sepertiga yang lainnya tersisa.”[42]
Seseorang bertanya kepada Imam Ali as, “Apakah ada tanda dan pertanda untuk kemunculan Al-Mahdi af.?” Beliau menjawab: “Na’am. Qatlun fadzi’, mautun sari’, wa tha’unun syani’.”[43]
Menurut penjelasan Irsyadul Qulub[44] , “qatlun dzari’” yakni pembunuhan yang cepat dan terjadi di mana-mana.
Dalam kitab Madinatul Ma’ajiz[45] , “qatlun radli’” berarti hina.
Menurut Hilyatul Abrar[46] , “qatlun fadli’” berarti pahit dan menyakitkan.
Makna riwayat di atas adalah, “Ya, kemunculan Al-Mahdi af. memiliki tanda dan pertanda antara lain: pembunuhan yang terjadi di mana-mana, menyakitkan, hina, cepat, terusmenerus dan menyebarnya penyakit Tha’un.”
Muhammad bin Muslim menuturkan bahwa Imam Shadiq as. bersabda, “Imam Zaman af. tidak akan muncul kecuali dua pertiga penduduk dunia telah binasa.” Kemudian beliau ditanya, ‘Jika dua pertiga penduduk dunia biasa, lalu berapa yang tersisa?’ Beliau menjawab, ‘Apakah engkau tidak suka jika engkau termasuk dari sepertiga penduduk dunia yang tersisa?’”[47]
Imam Shadiq as. bersabda, “Kemunculan Imam Mahdi af. tidak akan terwujud kecuali sembilan persepuluh penduduk dunia telah binasa.”[48]
Imam Ali as bersabda, “… Pada waktu itu, umat manusia yang tersisa hanya sepertiga jumlah yang sebenarnya.”[49]
Rasulullah Saw. bersabda, “Dari sepuluh ribu nyawa, sebanyak sembilan ribu sembilan ratus nyawa yang melayang. Sungguh hanya sedikit sekali yang selamat dan terus hidup.”[50]
Ibnu Sirin berkata, “Imam Mahdi af. tidak akan muncul kecuali dari sembilan orang manusia, tujuh orang dari mereka mati terbunuh.”[51]
Dari sekumpulan riwayat-riwayat di atas, kita dapat manarik kesimpulan di bawah ini:
o Sebelum Imam Mahdi af. muncul, akan terjadi banyak pertumpahan darah. Ketika itu, begitu banyak nyawa manusia yang melayang. Adapun, orang-orang yang tersisa dan selamat, lebih sedikit jumlahnya dari pada yang terbunuh.
o Sebagian orang yang terbunuh dalam peperangan. Sebagian lainnya mati akibat ganasnya wabah penyakit menular yang menyebar di zaman itu. Besar kemungkinan bahwa penyakit ini timbul dari mayat-mayat yang bergeletakan korban peperangan. Ada kemungkinan mereka meninggal dunia akibat senjata-senjata kimia yang menyebarkan bakteria penyebab munculnya berbagai penyakit.
o Di antara orang-orang yang tersisa dan selamat dari kematian, terdapat para pecinta Imam Mahdi af, karena merekalah yang akan membaiat beliau. Sebagaimana telah diungkapkan oleh Imam Shadiq As dalam sabda beliau: “Apakah engkau tidak suka, jika engkau termasuk dari sepertiga penduduk dunia yang tersisa?”[]
Bab 5 KESEJAHTERAAN DI AKHIR ZAMAN
Berdasarkan berbagai riwayat dalam pembahasan ini, akibat meluasnya berbagai kerusakan dan kebatilan yang merajalela, hilangnya rasa kasih sayang dan, terjadinya peperangan, perekonomian dunia berada pada kondisi yang terburuk. Selain langit yang tidak lagi mencurahkan rahmatnya, turunnya hujan yang sebenarnya rahmat Ilahi berubah menjadi azab dan bencana.
Ya, di akhir zaman, hujan sangat jarang turun. Jika turun pun, itu tidak pada musimnya, sehingga menyebabkan rusaknya berbagai lahan pertanian. Sungai-sungai dan danau menjadi kering dan para petani tak lagi dapat menuai hasil panennya. Begitu juga jual beli, tidak sesemarak dulu lagi. Kefakiran dan kelaparan melanda penduduk dunia, sehingga sebagian orang rela membawa anak-anak perempuan dan para wanita mereka ke pasar, lalu ditukar dengan beberapa suap makanan.
Rasulullah Saw. bersabda, “Akan datang suatu zaman, ketika itu Allah mengharamkan hujan untuk turun pada musimnya dan hujan sama sekali tidak turun, lalu turun bukan pada musimnya.”[52]
Imam Ali as. bersabda, “… hujan akan turun di musim panas, pada cuaca yang panas.”[53]
Mengenai hal ini Imam Shadiq as. bersabda, “Sebelum Imam Mahdi af. muncul, akan datang suatu masa dimana hujan turun dengan sangat lebat sehingga buah-buahan menjadi rusak dan begitu juga kurma-kurma. Maka janganlah sampai kalian terjebak dengan keraguan dan syubhat di zaman itu!”[54]
Imam Ali as. bersabda, “… hujan menjadi sedikit, sehingga tanah tak lagi menumbuhkan tumbuhan dan langit menurunkan airnya. Di saat seperti inilah Mahdi akan muncul.”[55]
Atha’ bin Yasar berkata, “Salah satu pertanda Hari Kiamat adalah datangnya suatu masa ketika hujan tetap turun, namun ladang tidak dapat menumbuhkan tanaman.”[56]
Imam Shadiq as. bersabda, “… ketika Imam Mahdi af. dan pasukannya bangkit, air di bumi sangat langka. Orangorang yang beriman merintih memohon air dari Allah, lalu Allah pun menurunkan air dan mereka meminumnya.”[57]
Rasulullah Saw. bersabda, “Kota-kota di Mesir akan hancur, karena keringnya sungai Nil.”[58]
Arthat menuturkan, “Ketika itu, Furat dan sungai-sungai serta dan mata air dilanda kekeringan.”[59]
Disebutkan pula, “Danau Tabristan mengering dan pohonpohon kurma tidak memberikan buahnya. Mata air Za’r yang berada di Syam, lenyap ditelan bumi.”[60]
Dijelaskan juga, “… sungai-sungai mengering, kekeringan yang biasa terjadi tiga tahunan menjadi panjang, dan barang-barang pun melonjak mahal.”[61]
Seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah! Kapankah Kiamat itu tiba?” Beliau menjawab, “Sungguh orang yang ditanya (beliau sendiri) tidak lebih tahu dari pada orang yang bertanya. Tetapi, Kiamat memiliki beberapa pertanda, seperti rusaknya pasar.” Orang itu bertanya lagi, “Apa maksud dari kerusakan pasar?” Rasulullah Saw. menjawab, “Pasar dan perdagangan tanpa laba, sebagaimana turunnya hujan yang tidak menyebabkan tumbuhtumbuhan berbuah.”[62]
Imam Ali as. bersabda kepada Ibnu Abbas, “Perdagangan dan jual beli meningkat, namun masyarakat hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Setelah itu, dilanda paceklik dan kekeringan.”[63]
Muhammad bin Muslim menuturkan bahwa ia mendengar Imam Shadiq as. bersabda, “Sebelum kemunculan Imam Mahdi af., terdapat beberapa pertanda dari Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman.” Ia bertanya, ‘Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu. Apakah pertanda itu?’ Beliau menjawab, “Pertanda itu adalah firman Allah Swt. yang berbunyi, ‘Sungguh kami akan menguji kalian dengan sesuatu dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buahbuahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar .’”[64] Kemudian beliau bersabda, “Allah menguji hambahamba yang beriman di hari itu, mereka takut akan pemerintahan bani fulan di akhir masa kekuasaannya. Maksud dari kelaparan, adalah mahalnya harga. Sedangkan yang dimaksud dengan kekurangan harta, adalah rendahnya daya beli dan minimnya pendapatan. Adapun yang dimaksud dengan berkurangnya nyawa, adalah kematian yang cepat dan terusmenerus. Pengertian dari kurangnya buah-buahan, adalah sedikitnya hasil panen pertanian. Maka kabarkanlah berita gembira kepada orang-orang yang bersabar, yakni berita mengenai kedatangan Al-Mahdi (af.) di masa itu.’”[65]
Berdasarkan keterangan dari kitab A’lamul Wara’, maksud dari rendahnya transaksi adalah perdagangan yang merugi dan jual beli yang tidak adil.[66]
Imam Shadiq as. bersabda, “… di waktu itu, ketika Sufyani muncul, bahan pangan menipis, musim paceklik datang, dan hujan jarang turun.”[67]
Ibnu Mas’ud berkata, “Ketika perdagangan telah hancur dan jalanan menjadi rusak, pada saat itu Imam Mahdi akan muncul.”[68]
Nampaknya, kondisi perdagangan yang buruk di zaman itu disebabkan oleh rusaknya berbagai pusat produksi di beragam sektor industri, minimnya sumber daya manusia, berkurangnya daya beli, kekeringan, tak amannya jalanan, dan berbagai kendala lainnya.
Dalam Musnad Ahmad disebutkan, “Sebelum kemunculan Imam Mahdi (af.), manusia akan dilanda kelaparan yang sangat berat selama tiga tahun.”[69]
Abu Hurairah berkata, “Betapa malang orang-orang Arab atas bahaya-bahaya yang mendekati mereka. Kelaparan yang sangat parah akan dirasakan banyak orang, ibu-ibu menangis akibat anak-anaknya yang kelaparan.”[70]
Kekeringan dan kelaparan di akhir zaman sangatlah sulit dihadapi, sehingga sebagian orang rela menjual anak-anak perempuannya demi mendapatkan sedikit makanan.
Abu Muhammad meriwayatkan dari seorang lelaki yang berasal dari Maghrib,[71] “Mahdi tidak akan muncul, sebelum datang suatu masa di mana seorang lelaki membawa anak perempuan dan budak perempuan cantiknya ke pasar seraya berkata, ‘Siapakah yang mau membeli anak ini, dengan imbalan memberikan beberapa makanan kepadaku?’ Dalam kondisi seperti inilah Imam Mahdi af. akan muncul.”[72] []
Bab 6 SECERCAH HARAPAN
Pada beberapa pembahasan yang lalu, kita telah menyimak berbagai riwayat yang menggambarkan kondisi dunia sebelum kemunculan Imam Mahdi af. Di satu sisi, berbagai riwayat itu melaporkan kehancuran dan malapetaka bagi umat manusia di akhir zaman, yang menuai rasa pesimis bagi umat manusia. Namun di sisi lain, terdapat beberapa riwayat yang menyulut obor penerang dan secercah harapan, bagi para pengikut kebenaran dan orang-orang yang beriman.
Sebagian dari riwayat ini bercerita tentang adanya orang-orang yang beriman. Dunia tak sekejap mata pun kosong dari mereka. Pada masa sebelum kemunculan Imam mahdi af., mereka tersebar di segala penjuru dunia dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Beberapa riwayat, menjelaskan peran para ulama Islam pada zaman keghaiban. Dalam riwayat-riwayat tersebut, mereka diperkenalkan sebagai para penjaga agama. Menurut sebagian riwayat dari para Maksum as., terdapat penjelasan tentang peranan kota Qom sebelum kemunculan Imam Mahdi af. Selain itu, terdapat beberapa riwayat yang menggambarkan peran aktif orang-orang Iran sebelum dan sesudah Imam Mahdi af. muncul.
Terkadang kita menemukan beberapa riwayat yang menepis berbagai prasangka bahwa di akhir zaman kelak, bumi akan kosong dari keberadaan orang-orang yang beriman. Para Imam menepis sangkaan demikian dan memberitakan adanya sekelompok orang-orang yang beriman pada setiap zaman.
Zaid Zarra’ menuturkan bahwa ia berkata kepada Imam Shadiq as., ‘Aku takut tidak termasuk orang-orang yang beriman.’ Imam bertanya, ‘Mengapa kamu berpikiran seperti itu?’ Ia menjawab, ‘Karena menurutku, tidak ada seorang pun di antara kami yang mendahulukan saudaranya dari uang. Namun, justru kami mendahulukan uang dari pada saudara seiman.’ Imam bersabda, ‘Itu tidak benar, kalian adalah orang-orang yang beriman. Tetapi, iman kalian tidak akan sempurna sebelum Al-Mahdi af. muncul dan menyempurnakan akal kalian ketika itu, sehingga kalian menjadi orangorang beriman yang sempurna. Demi Allah yang nyawaku berada tangan-Nya, di dunia ini pasti ada orang-orang yang menganggap dunia, tidak lebih berharga dari sayap lalat.’”[73]
Ketika tirai kebodohan dan kegelapan telah menyelimuti pandangan umat manusia pada setiap zaman. Maka, ulama pada masa itulah yang mengemban tugas, dengan menyingkirkan tirai kebodohan dan kegelapan tersebut. Dari beberapa riwayat, kita dapat memahami bahwa ulama di akhir zaman pun menjalankan peran mulia ini.
Imam Ali Hadi as. bersabda, “Jika di zaman keghaiban Imam Mahdi af. tidak ada ulama yang membimbing umat Islam, tidak membela serta melindungi agamanya, tidak membebaskan pengikut agama ini dari cengkraman tipu setan lalu menyelamatkan mereka dari para musuh. Niscaya, tak seorang pun yang tetap dalam agamanya dan semuanya akan murtad. Tapi, tetap ada orang-orang yang membimbing hati para pecinta kebenaran yang lemah dan menjaganya, dengan kekuatan yang ada ditangannya. Laksana nahkoda sebuah kapal yang mengatur laju kapal tersebut. Maka, mereka adalah orang yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah.”[74]
Mengenai orang-orang yang menghidupkan agama pada setiap zaman, Rasulullah Saw. bersabda: “Allah Swt. akan menghidupkan seseorang pada setiap permulaan setiap kurun bagi umat Islam, untuk menghidupkan agamanya.”[75]
Dua riwayat itu, di samping berbagai riwayat sejenisnya, dengan jelas menerangkan peran aktif para ulama pada masa keghaiban. Selain itu, mereka juga berperan dalam melemahkan tipu daya setan dan menghidupkan agama Allah.
Pada masa kini, sudah cukup jelas untuk menetapkan pentingnya peranan ulama Islam. Karena, sosok Imam Khomaini adalah salah seorang ulama yang telah melenyapkan berbagai tipu daya musuh-musuh Allah di zaman ini; kiprahnya telah diketahui semua orang. Tidak diragukan lagi, sebenarnya kemuliaan yang diraih Islam dan kaum muslimin kini adalah berkat Revolusi Islam Iran dengan bapak pendirinya Imam Khomaini.
Ketika umat manusia telah terjangkiti wabah kebatilan dan kesesatan, masih ada saja secercah harapan bagi orang-orang yang senantiasa memegang bendera cahaya di hati dalam kegelapan. Kota Qom pada akhir zaman, menjadi salah satu tempat yang mengambil peran penting tersebut.
Banyak sekali riwayat yang memuji kota suci ini dan juga orang-orang bermukim di sana, yang telah mereguk air telaga hikmah ajaran suci Ahlul Bait serta menyebarkannya.
Berbagai riwayat di bawah ini menunjukkan peranan penting kota Qom dalam menciptakan perubahan pola pikir umat manusia sedunia di akhir zaman kelak. Sebagaimana yang dapat kita rasakan sendiri saat ini.
Para Imam maksum as. pernah menyampaikan berbagai hadis mengenai peranan kota ini di akhir zaman nanti, dalam melakukan berbagai gerakan kultural pada zaman keghaiban Imam Zaman af. Di sini, akan disebutkan beberapa di antaranya sebagai berikut:
Menurut beberapa riwayat yang sampai ke tangan kita, Qom dan penghuninya adalah simbol dan model kecintaan dan wilayah terhadap Ahlul Bait. Maka dari itu, siapapun yang menyatakan dirinya sebagai pecinta Ahlul Bait disebutnya sebagai qomi.
Sekelompok orang mendatangi Imam Shadiq as. seraya berkata, “Kami adalah penduduk kota Ray.” Lalu, Imam bersabda, “Bagus, wahai saudara-saudaraku dari Qom!” Mereka berulang kali mengatakan ucapan yang sama, “Kami datang dari Ray untuk bertemu denganmu.” Imam pun mengulangi ucapan pertamanya. Kemudian beliau kembali bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki tanah suci (haram), yaitu Mekah. Rasulullah juga memilikinya, yaitu di Madinah. Kufah adalah haram Imam Ali. Sedangkan tanah suci kami (Ahlul Bait) adalah Qom. Tak lama lagi, salah satu wanita dari keturunan kami yang bernama Fathimah akan dimakamkan di sana. Barang siapa menziarahinya (dengan pengetahuan dan kecintaan), maka surga wajib untuknya.”
Sang perawi menuturkan, “Imam Shadiq as. mengucapkan perkataan ini, padahal Imam Musa as. waktu itu masih belum lahir.”[76]
Shafwan berkata, “Pada suatu hari, aku tengah berada di dekat Abul Hasan (Imam Kadzim as.). Perbincangan kami sampai pada perbahasan orang-orang Qom dan kecintaan mereka terhadap Imam Mahdi af. Lalu Imam Ketujuh ini kembali bersabda, “Semoga Allah merahmati dan meridhai mereka hingga berlanjut terus menerus. Sesungguhnya surga memiliki tujuh pintu, salah satu pintu tersebut untuk orangorang Qom. Dari berbagai negara dan kota-kota yang ada, penduduk kota Qom adalah pengikut dan pecinta kami yang terbaik. Allah telah menjadikan kecintaan dan keteguhan kepada kami menyatu dengan diri mereka.”[77]
Dari riwayat di atas kita dapat memahami bahwa Imam menganggap kota Qom sebagai pusat para pecinta Ahlul Bait dan Imam Mahdi af. Mungkin yang dimaksud salah satu pintu surga telah dikhususkan untuk penduduk Qom, adalah Babul Mujahidin atau Babul Akhyar. Sebagaimana beberapa riwayat yang lainnya menyebut orang-orang Qom sebagai orang-orang yang baik (Akhyar).
Di setiap zaman, Allah memiliki hamba-hamba khusus yang menjadi hujjah bagi selainnya. Karena, mereka selalu melangkahkan kakinya di jalan Allah, dan selalu berjihad demi mengangkat kalimat Allah. Maka Allah Swt. yang menjadi penolong dan pelindung mereka dari bahaya musuh. Pada zaman keghaiban Imam Mahdi af, orang-orang Qom merupakan hujjah bagi orang-orang yang lain.
Imam Shadiq as. bersabda, “Musibah dan bencana berada jauh dari Qom dan penduduknya. Dan akan datang suatu masa dimana penduduk Qom menjadi hujjah bagi orang yang lain. Masa itu adalah hari-hari keghaiban Imam Mahdi af. yang terus berlanjut sampai kemunculannya. Jika tidak demikian, niscaya bumi akan menelan penduduknya. Sungguh para malaikat akan menjauhkan bala dan bencana dari Qom dan penduduknya. Tidak ada satu pun penguasa zalim yang bertujuan untuk menghancurkan Qom kecuali Allah akan mematahkan pinggangnya lalu menimpakan bencana kepadanya, baik berupa penyakit atau musuh-musuh yang memerangi mereka. Allah akan melenyapkan nama Qom dan penduduknya dari pikiran para penguasa yang zalim, sebagaimana mereka telah menghapus nama Allah dari pikiran mereka sendiri.”[78]
Dalam riwayat disebutkan bahwa selama masa keghiban, Qom menjadi pusat penyebaran dan dakwah ajaran-ajaran Islam kepada kaum mustadh’afin di penjuru dunia, sedangkan ulamanya merupakan hujjah bagi seluruh penduduk dunia.
Dalam hal ini, Imam Shadiq as. berkata, “Tak lama lagi, Kufah akan kosong dari orang-orang yang beriman. Ilmu serta hikmah lenyap di sana, bagaikan ular yang terbelit di suatu sudut, ilmu dan hikmah tersebut menjadi terbatas. Namun, ilmu dan hikmah tersebut akan menyembur keluar dari sebuah kota yang disebut dengan Qom, lalu kota tersebut menjadi pusat ilmu pengetahuan dan sumber hikmah serta kesempurnaan, sehingga tiada seorang pun mustadh’af (tidak mengetahui kebenaran Islam) yang hidup di muka bumi melainkan memahami agama yang benar, meskipun para wanita yang hidup di gurun dan sahara. Ketika itu, adalah waktu yang sudah dekat dengan kemunculan Qaim (Imam Mahdi af.).
“Allah menjadikan Qom dan penduduknya sebagai pengganti Imam Mahdi af. (sebelum ia muncul). Jika tidak, niscaya bumi akan menelan penduduknya dan tidak ada hujjah yang tersisa di muka bumi. Oleh karenanya, ilmu dan hikmah mengalir dari Qom ke barat dunia dan juga ke timur. Kemudian hujjah menjadi sempurna bagi umat manusia. Karena pada waktu itu, tak seorang pun yang tidak pernah mendengar kebenaran dan agama yang benar. Maka, muncullah Qaim (af.) yang akan mengazab orang-orang kafir dengan tangannya. Karena, sesungguhnya Allah tidak akan mengazab umat manusia, kecuali hujjah telah sempurna bagi mereka.”[79]
Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Jika orang-orang Qom sudah tidak ada, maka agama akan binasa.”[80]
Berdasarkan penjelasan beberapa riwayat, kita memahami bahwa para Imam telah membenarkan jalur dan pola pikir para ulama Qom.
Mengenai hal ini, Imam Shadiq as. bersabda, “Terdapat malaikat yang mengepakkan kedua sayapnya di atas kota Qom. Tak akan ada satu pun penguasa zalim yang berniat buruk terhadapnya kecuali Allah menjadikan mereka seperti garam yang larut dalam air.”
Kemudian Imam mengisyaratkan tangannya kepada Isa bin Abdullah Qomi, lalu bersabda, “Salam Allah bagi Qom! Tuhan semesta alam akan mengenyangkan penduduknya dengan air hujan dan Ia akan menurunkan berkah-Nya melalu air hujan tersebut, lalu merubah dosa-dosa mereka menjadi kebaikan. mereka ahli ibadah, yang menunaikan rukuk, sujud, qiyam dan qu’ud. Mereka pun faqih dan ilmuwan yang cakap. Mereka adalah ahli dirayah, riwayat, hikmah, dan merupakan hamba-hamba Allah yang baik.”[81]
Pada suatu hari ada seseorang lelaki yang bertanya kepada beliau, “Aku ingin bertanya kepadamu mengenai sesuatu yang belum pernah ditanyakan oleh orang lain sebelumku dan tidak akan ditanyakan oleh orang lain setelahku.” Imam berkata, “Mungkin engkau ingin bertanya mengenai Hari Kebangkitan.”
Ia menjawab, “Ya, benar, demi Allah yang telah mengutus Nabi Muhammad Saw. sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”
Imam menjawab, “Dibangkitkannya semua orang adalah menuju Baitul Maqdis, kecuali orang-orang yang meninggal di suatu tanah yang disebut dengan Qom dan pengampunan Ilahi akan mencakup mereka semua.”
Orang itu membungkuk dan berkata, “Wahai putra Rasulullah! Apakah hal ini khusus untuk penduduk Qom?” Imam Menjawab, “Ya, untuk mereka dan orang-orang yang memiliki akidah yang sama dengan mereka dan mengatakan apa yang mereka katakan.”[82]
Salah satu poros pembahasan yang menarik adalah penjelasan berbagai riwayat tentang orang-orang Qom yang disebut sebagai kaum yang kelak akan membantu Imam Mahdi af dan bangkit merebut hak Ahlul Bait.
Afan Bashri menuturkan bahwa Imam Shadiq as. bersabda kepadanya, “Tahukah engkau kenapa Qom disebut sebagai Qom?’ Ia menjawab, ‘Allah, Rasul-Nya dan engkau lebih mengetahuinya.’ Beliau menjawab, ‘Tempat itu disebut dengan Qom, karena penduduknya kelak akan bangkit memerangi kebatilan bersama Qaim ali Muhammad (Imam Mahdi af). Dengan jalan ini, mereka menunjukkan kegigihan dirinya dalam menolong beliau (af).’”[83]
Imam Shadiq as. dalam kesempatan lain juga pernah bersabda, “Tanah Qom adalah tanah suci. Penduduknya adalah dari kami (pecinta kami) dan kami adalah dari mereka. Tak seorang pun penguasa zalim yang berniat buruk terhadapnya, kecuali Allah mempercepat azab bagi mereka. Hal tersebut akan terus seperti itu kecuali jika mereka mengkhianati saudaranya sendiri. Jika mereka seperti itu, Allah akan menjadikan penguasa zalim yang keji berkuasa terhadap mereka. Tetapi sesungguhnya penduduk Qom adalah para prajurit Qaim dan para penyeru hak-hak kami.”
Tak lama kemudian, Imam menghadapkan wajahnya ke langit lalu berdoa seperti ini, “Ya Allah! Jagalah mereka dari segala fitnah dan selamatkan mereka dari segala kebinasaan.”[84]
Riwayat mengenai Qom telah dijelaskan. Paling tidak, hal ini memperjelas peran orang-orang Iran di muka bumi, sebelum dan menjelang kemunculan Imam Mahdi af. Namun, ketika kita meneliti berbagai riwayat maksumin as. lebih jauh, maka kita akan mendapati perhatian Imam as. yang lebih terhadap Iran dan masyarakatnya. Dalam berbagai kesempatan, dijelaskan berbagai peranan orang-orang Iran dalam mempertahankan agama serta mempersiapkan dunia demi menyambut kedatangan Imam Mahdi af.
Dalam pembahasan ini, hanya akan dibawakan beberapa riwayat yang mengungkapkan berbagai pujian para Imam terhadap orang-orang Iran:
Ibnu Abbas berkata, “Suatu saat, kami tengah memperbincangkan bangsa Persia. Ketika itu, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Penduduk Fars (orang-orang Iran) termasuk dari kami; Ahlul Bait.’”[85]
Ketika mawali dan orang-orang Ajam2 dibicarakan, Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Allah, aku lebih percaya kepada mereka dari pada kalian.”[86]
Ibnu Abbas berkata, “Ketika bendera-bendera hitam dikibarkan ke arah kalian, maka muliakanlah orang-orang Persia; karena mereka yang memegang pemerintahan kalian.”[87]
Suatu hari, Asy’ats dengan nada protes berkata kepada Imam Ali as., “Wahai Ali, mengapa orang-orang Ajam ini berkumpul di sekitarmu dan mendahului kami?” Imam Ali as. marah dan menjawab, “Siapakah yang akan memaafkanku jika aku menuruti orang-orang seperti kalian? Apakah kalian memerintahkanku untuk menjauhkan mereka dariku? Tidak akan pernah! Aku tidak akan menjauhkan mereka dariku,[88] sehingga aku menjadi seperti orang-orang yang jahil. Demi Allah yang menumbuhkan biji-bijian dan menciptakan segalanya. Mereka akan mengembalikan kalian kepada agama Islam. Mereka akan berperang dengan kalian, sebagaimana kalian menghunuskan pedang untuk membuat mereka menjadi Muslim.”[89]
Sebagian besar riwayat yang menerangkan berbagai peristiwa sebelum kemunculan Imam Mahdi af. dan para prajurit serta penolong beliau, seringkali membicarakan Iran dan orangorang Iran dengan ungkapan yang bermacam-macam, seperti: Ahlul Fars, Ajam, Ahlu Khurasan, Ahlu Thalighan, Ahlu Ray, dan lain sebagainya.
Dengan menganalisis keseluruhan riwayat-riwayat tersebut, kita mengetahui bahwa sebelum kemunculan Imam Mahdi af., Iran akan menjadi sebuah negara dengan struktur kenegaraan Ilahi yang membela para Imam Maksum as. dan berada di bawah pengawasan Imam Zaman af. Begitu pula penduduk negara ini, mereka memiliki peranan yang penting dalam kebangkitan Imam Mahdi af. Hal ini, akan kita kupas lebih jauh pada pembahasan “Kebangkitan Imam Mahdi af”. Di sini, hanya akan disebutkan beberapa riwayat saja.
Rasulullah Saw. bersabda, “Orang-orang dari arah timur akan bangkit dan mempersiapkan kemunculan Imam Mahdi af.”[90]
Beliau juga bersabda, “Bendera-bendera berwarna hitam dari arah timur akan berkibar. Hati mereka kuat, laksana baja. Maka barang siapa melihat mereka hendaknya menghampiri lalu membaiatnya, meski harus berjalan melewati es untuk menuju ke sana.”[91]
Imam Baqir as. bersabda, “Seakan-akan aku melihat suatu kaum yang bangkit dari Timur dan menuntut haknya. Namun, hak tersebut tidak mereka peroleh. Kemudian mereka menuntut kembali, tetapi tetap tidak diberikan. Pada saat itulah, pedang-pedang dihunuskan dan dipikul di atas bahu. Kemudian musuh menerima permintaan mereka, namun mereka tidak menerimanya. Lalu mereka bangkit dan tidak memberikan hak kecuali kepada pemiliknya (shahib amr). Orang-orang yang mati diantara mereka adalah syahid. Jika aku hidup sezaman dengan mereka, niscaya aku akan menyiapkan diri untuk menjadi Shahib Amr ini.[92]
Imam Muhammad Baqir as. bersabda, “Para prajurit dan penolong Imam Mahdi af. berjumlah tiga ratus tiga belas orang yang berasal dari keturunan Ajam.”[93]
Meskipun Ajam merupakan sebuah istilah yang artinya adalah orang-orang non-Arab. Tetapi, dengan melihat riwayat-riwayat yang lain, akan didapati bahwa kebanyakan pasukan khusus Imam Mahdi tersebut adalah orang-orang Iran.
Rasulullah Saw. bersabda, “Tak lama lagi akan datang suatu kaum setelah kalian, bumi berada di bawah kaki-kakinya. Mereka mampu melakukan Thayul Ardh dan pintu-pintu dunia terbuka bagi mereka lalu orang-orang Fars baik laki-laki maupun perempuan berkhidmat kepada mereka. Bumi berada di bawah kekuasaan mereka. Jika setiap orang di antara mereka ingin menempuh jarak dari barat sampai timur bumi, maka mereka hanya membutuhkan waktu satu jam saja. Mereka tidak menjual diri untuk dunia, dan bukan pencinta dunia. Di mata mereka, dunia pun tidak berharga yang hilang daya tariknya.”[94]
Imam Ali as. bersabda, “Betapa mulianya Thalighan! Karena Allah menganugerahkan banyak harta karun di sana yang tidak berupa emas dan tidak pula perak. Tetapi berupa orangorang yang beriman, mereka mengenal Allah dengan selayaknya dan mereka adalah para pasukan Imam Mahdi af. di akhir zaman kelak.”[95]
Rasulullah Saw. juga bersabda mengenai Khurasan, “Di Khurasan terdapat banyak harta karun. Tetapi, tidak berupa emas dan bukan perak, melainkan para lelaki yang dicintai Allah dan rasul-Nya.”[96] []
DAFTAR ISI:
PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN 1
Najmuddin Thabasi 1
Penerjemah: Muhammad Habibi 1
PRAKATA PENERBIT 2
PENDAHULUAN 5
Bab 4 11
KEAMANAN DI AKHIR ZAMAN 11
A. Kerusuhan Merajalela 11
B. Jalan yang Tak Aman 13
C. Kejahatan Terkeji 14
D. Mengharap Kematian Segera 17
E. Kaum Muslimin Banyak Ditawan 19
F. Ditelan Bumi 20
G. Meningkatnya Kematian Mendadak 21
H. Putus Asa akan Keselamatan 22
I. Tiada Tempat Berlindung dan Penolong 23
J. Perang, Pertumpahan Darah dan Petaka 25
Bab 5 KESEJAHTERAAN DI AKHIR ZAMAN 32
A. Hujan Langka dan Turun Tidak Pada Musimnya 33
B. Danau dan Sungai Kering 35
C. Kelaparan, Kemiskinan dan Sepinya Perdagangan 36
D. Para Wanita Ditukar Bahan Pangan 39
Bab 6 SECERCAH HARAPAN 40
A. Mukmin Sejati 41
B. Peranan Ulama Syiah 42
C. Peranan Qom di Akhir Zaman 44
Qom: Tanah Suci Ahlul Bait 45
Qom: Hujjah bagi yang Lain 47
Pusat Penyebaran Kebudayaan Islam 48
Garis Pemikiran Ulama Qom yang Dibenarkan Imam 50
Para Prajurit Imam Mahdi af 52
Persia: Negeri Imam Zaman 54
Pujian untuk Bangsa Iran 55
Kaum yang Mempersiapkan Kemunculan Imam Mahdi af 57
[1] Dengan bantuan beberapa orang dari Hauzah Ilmiyah Qom, saya berhasil menyusun kitab yang tebalnya lima jil. ini. Buku ini dicetak oleh Bonyad-e Ma’aref-e Eslami (Lembaga Pemikiran Islami) Qom, pada tahun 1411 H. Insya Allah, akan dilakukan revisi dalam waktu dekat.
[2] Thayalisi, Musnad, hal. 133; Sunan Abi Dawud¸ jil. 4, hal. 111; AlMu’jamul Kabir, jil. 2, hal. 101.
[3] Bihar al-Anwar, jil. 36, hal. 335 dan jil. 52, hal. 380.
[4] Ibid, jil. 52, hal. 154.
[5] Aqdud Durar, hal. 152; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 154 dan 266; Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 116; Al Arba’una Hadisa, (Abu Na’im) Dzakhairul Uqba, hal. 135; YaNabi’ul Mawaddah, hal. 426.
[6] Aqdud Durar, hal. 94; As-Syi’ah wa Ar-Raj’ah, jil. 1, hal. 155.
[7] Kamaluddin, jil. 1, hal. 311; Ibn Shahr Asyub, Manaqib, jil. 2, hal. 297; I’lamum Wara, hal. 371; Itsbatul Wasiyah, hal. 226.
[8] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 83; Ibnu Thawus, Malahim, hal. 51.
[9] Hakim, Mustadrak, jil. 4, hal. 520; Al-Hawi lil Fatawa, jil. 2, hal. 65; Montakhab Kanzul Ummal, jil. 6, hal. 31 (Hasyiyah Musnad Ahmad); Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 293.
[10] Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 636; Shahih Muslim, jil. 4, hal. 2241; Al Mu’jamul Kabir, jil. 9, hal. 410; Masabhihus Sunnah, jil. 2, hal. 139; Aqdud Durar, hal. 136.
[11] Nu’mani, Ghaibah, hal. 235; Thusi, Ghaibah, hal. 274; A’lamul Wara, hal. 428; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 348; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 540; Hilyatul Abrar, jil. 2, hal. 626; Bisyaratul Islam, hal. 82.
[12] Ibnu Abi Syaibah, Mushannif, jil. 15, hal. 91; Malik, Muwata’, jildi 1, hal. 141; Shahih Muslim, jil. 8, hal. 182; Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 236; Shahih Bukhari, jil. 9, hal. 73; Firdausul Akhbar, jil. 5, hal. 221.
[13] Aqdud Durar, hal. 334.
[14] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 132.
[15] Al Mathalibul Aliyah, jil. 4, hal. 348.
[16] Syajari, Al-Amali, jil. 2, hal. 277.
[17] Al-Faiq, jil. 1, hal. 141.
[18] Nu’mani, Ghaibah, hal. 277; Thusi, Ghaibah, hal. 267; A’lamul Wara, hal. 427; Kharaij, jil. 3, hal. 1152; Aqdud Durar, hal. 65; Al Fushulul Muhimmah, hal. 301; Shiratul Mustaqim, jil. 2, hal. 249; Bihar alAnwar, jil. 52, hal. 211.
[19] Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 348.
[20] Yanibi’ul Mawaddah, hal. 440; Ihqaqul Haqq, jil. 13, hal. 125.
[21] Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 348.
[22] Ibnul Munadi, Al Malahim, hal. 64; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 1, hal. 276, Al Mustarsyid, hal. 75; Mufid, Irsyad, hal. 128; Kanzul Ummal, jil. 14, hal. 592; Ghayatul Maram, hal. 208; Bihar al-Anwar, jil. 32, hal. 9; Ihqaqul Haqq, jil. 13, hal. 314; Montakhab Kanzul Ummal, jil. 6, hal. 35.
[23] Syafi’i, Al Bayan, hal. 108.
[24] Aqdud Durar, hal. 43.
[25] Ihqaqul Haqq, jil. 19, hal. 679.
[26] Al Kafi, jil. 8, hal. 213; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 246.
[27] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 21; Kamaluddin, jil. 2, hal. 371.
[28] Aqdud Durar, hal. 50.
[29] Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 295; Musnad Ahmad, jil. 2, hal. 371
[30] Thusi, Ghaibah, cetakan baru, hal. 441; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 212.
[31] Qurbul Isnad, hal. 170; Nu’mani, Ghaibah, hal. 271.
[32] Suatu tempat di kota Madinah yang mana di tempat itu pernah diadakan shalat Istiqsha; Mu’jamul Buldan, jil. 1, hal. 109.
[33] Setelah peristiwa terbunuhnya Imam Husain as, orang-orang Madinah memberotak dan melawan pemerintahan Yazid. Akan tetapi setelah itu orang-orang Madinah justru malah dibantai besar-besaran dan lebih dari 10.000 orang yang meninggal dunia dalam peristiwa itu. Tempat terjadinya peristiwa tersebut adalah Harrah Waqim; Mu’jamul Buldan, jil. 2, hal. 249.
[34] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 58.
[35] ر
[36] Firdausul Akhbar, jil. 5, hal. 91.
[37] Nu’mani, Ghaibah, hal. 277; Dalailul Imamah, hal. 293; Taqribul Ma’arif; hal. 187; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 211.
[38] Ibid: hal. 173; Dalailul Imamah, hal. 293; Taqribul Ma’arif, hal. 187; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 156.
[39] Adalah suatu tempat yang berjarak 6 km dari kota Kufah; Mu’jamul Buldan, jil. 2, hal. 328.
[40] Thusi, Ghaibah, cetakan baru, hal. 446; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 728; Buharul Anwar, jil. 52, hal. 209.
[41] Kamaluddin, jil. 2, hal. 665; Al Adadul Qawiyah, hal. 66; Bihar alAnwar, jil. 52, hal. 207.
[42] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 58; Ihqaqul Haqq, jil. 13, hal. 29.
[43] Hushaini, Hidayah, hal. 31.
[44] Irsyadul Qulub, hal. 286.
[45] Madinatul Ma’ajiz, hal. 133.
[46] Hilyatul Abrar, hal. 601.
[47] Thusi, Ghaibah, cetakan baru, hal. 339; Kamaluddin, jil. 2, hal. 655; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 510; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 207; Ilzamun Nashib, jil. 2, hal. 136; Ibnu Hammad, Fitan, hal. 91; Kanzul Ummal, jil. 14, hal. 587; Muttaqi Hindi, Burhan, hal. 111.
[48] Ilzamun Nasib, jil. 2, hal. 136 dan 187; Aqdud Durar, hal. 54, 59, 63 sampai 65, dan 237; Nu’mani, Ghaibah, hal. 274; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 242.
[49] Hushaini, Hidayah, hal. 31; Irsyadul Qulub, hal. 286.
[50] Majma’uz Zawaid, jil. 5, hal. 188.
[51] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 78.
[52] Jami’ul Akhbar, hal. 150; Mustadrakul Wasail, jil. 11, hal. 375.
[53] Dauhatul Anwar, hal. 150; As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 151; Kanzul Ummal, jil. 14, hal. 241.
[54] Mufid, Irsyad, hal. 361; Thusi, Ghaibah, hal. 272; A’lamul Wara, hal. 427; Kharaij, jil. 3, hal. 1164; Ibnu Thawus, Malahim, hal. 125; Bihar al-Anwar; jil. 52, hal. 214.
[55] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 134.
[56] Abdur Razzaq, Mushannif, jil. 3, hal. 155.
[57] Dalailul Imamah, hal. 245.
[58] Bisyaratul Islam, hal. 28.
[59] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 148.
[60] Bisyaratul Islam, hal. 191; Ilzamun Nashib, hal. 161.
[61] Bisyaratul Islam, hal. 98.
[62] At-Targhib wa At-Tarhib, jil. 3, hal. 442.
[63] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 125.
[64] Al Baqarah: 155
[65] Kamaluddin, jil. 2, hal. 650; Nu’mani, Ghaibah, hal. 250; Mufid, Irsyad, hal. 361; A’lamul Wara, hal. 456; Ayasyi, Tafsir, jil. 1, hal. 68.
[66] A’lamul Wara’, hal. 456.
[67] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 133.
[68] Al Fatawil Hadisiyah, hal. 30; Muttaqi Hindi, Burhan, hal. 142; Aqdud Durar, halamn 132.
[69] Sunan ibnu Majah, jil. 2, hal. 1363.
[70] Kanzul Ummal, jil. 11, hal. 249.
[71] Yang dimaksud dengan Maghrib di sini adalah kawasan yang mencakup negara-negara seperti Spanyol, Maroko, Aljazair.
[72] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 59.
[73] Bihar al-Anwar, jili 67, hal. 351.
[74] Tafsir Imam Askari As, hal. 344; Ihtijaj, jil. 2, hal. 260; Munyatul Murid, hal. 35; Mahajjatul Baidha’, jil. 1, hal. 32; Hilyatul Abrar, jil. 2, hal. 255; Bihar al-Anwar, jil. 2, hal. 6; Al Awalim, jil. 3, hal. 295.
[75] Sunan Abi Dawud, jil. 4, hal. 109; Mustadrak Hakim, jil. 4, hal. 552; Tarikh Baghdadi, jil. 2, hal. 61; Jami’ul Ushul, jil. 12, hal. 63; Kanzul Ummal, jil. 12, hal. 193. Meski kami telah mencari, tetapi kami tidak menemukan kitab-kitab Syiah yang memuat riwayat ini.
[76] Bihar al-Anwar, jil. 60, hal. 217.
[77] Ibid, hal. 216.
[78] Ibid, hal. 213.
[79] Ibid, jil. 60, hal., 213; Safinatul Bihar, jil. 2, hal. 445.
[80] Bihar al-Anwar, jil. 60, hal., 217.
[81] Ibid.
[82] Ibid.
[83] Ibid, hal. 216.
[84] Ibid, hal. 218.
[85] Dzikr Isbahan, hal. 11.
[86] Mawali dan Mawla, dalam segi bahasa memiliki arti banyak. Allamah Amini dalam jil. pertama Al-Ghadir menukilkan dua puluh arti bagi kata tersebut. Dan dari segi peristilahan, dalam hadis dan ayat kata ini memiliki lima arti: Wala’ ‘Itq, Wala’ Islam, Wala’ Halaf, Wala’ Qabilah, Wala’, yang merupakan lawan dari kata Arab, yakni maksudnya adalah orang-orang yang bukan Arab. Dan seringnya, maksud makna ini adalah para ulama ilmu Rijal; Silahkan rujuk At Taqrib wa At Taysir, jil. 2, hal. 333. Poin mengapa yang dimaksud kata ini adalah orang-orang Iran, mungkin dikarenakan disebabkan mayoritas atau memang selalu digunakan untuk makna itu. Sebagaimana banyak yang mengakui bahwa kata tersebut memiliki makna yang sedemikian rupa. Lebih dari itu, dalam tulisan-tulisan para ulama di zaman dahulu, katakata tersebut juga ditafsirkan seperti ini dan kami juga menafsirkannya sebagaimana yang telah mereka tafsirkan, akan tetapi kita tidak bersikeras dengan hal itu. Yang dimaksud dengan Fars adalah wilayah kekuasaan yang berhadapan dengan Romawi. Pada zaman itu, Fars mencakup Iran dan negara-negara lain di sekitarnya yang merupakan daerah kekuasaan imperium Persia.
[87] Ramuz al Ahadits, hal. 33.
[88] Waktu itu pasar Kufah memang dipenuhi dengan orang-orang Persia dan mereka saling berbicara dengan bahasa Persia di sana (Sebagaimana yang dapat dipahami dari Mustadrakul Wasail, jil. 13, hal. 250, hadis 4). Dengan demikian, para Mawali yang dimaksud oleh Asy’ats di atas adalah orang-orang Persia.
[89] Al Gharat, jil. 24, hal. 498; Safinatul Bihar, jil. 2, hal. 693; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 20, hal. 284.
[90] Sunan Ibnu Majah, jil. 2, hal. 1368; Al Mu’jamul Awsath, jil. 1, hal. 200; Majma’uz Zawaid, jil. 7, hal. 318; Kasyful Ghummah, jil. 3, hal. 268; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 599; Bihar al-Anwar, jil. 51, hal. 87.
[91] Aqdud Durar, hal. 129; Syafi’i, Bayan, hal. 490; YaNabi’ul Mawaddah, hal. 491; Kasyful Ghummah, jil. 3, hal. 263; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 596; Bihar al-Anwar, jil. 51, hal. 84.
[92] Nu’mani, Ghaibah, hal. 373; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 243; Sunan Ibnu Majah, jil. 2, hal. 1366; Hakim, Mustadrak, jil. 4, hal. 464.
[93] Ibid, hal. 315; Itsbatul Hudat, jil. 2, hal. 547; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 369.
[94] Firdausul Akhbar, jil. 3, hal. 440.
[95] Syafi’i, Bayan, hal. 106; Muttaqi Hindi, Burhan, hal. 150; Kanzul Ummal, jil. 14, hal. 591; YaNabi’ul Mawaddah, hal. 491; Kasyful Ghummah, jil. 3, hal. 286.
[96] Kanzul Ummal, jil. 14, hal. 591.