Masjid dalam kultur dan pemikiran Islam dianggap sebagai sebuah tempat dan bangunan yang suci. Masjid berfungsi sebagai tempat menuju Allah Swt dan membuat keputusan-keputusan yang berhubungan dengan politik, pergerakan dan bahkan urusan militer. Masjid merupakan warisan budaya, seni, dan peradaban Islam, dan juga basis persatuan umat dalam mengatur urusan sosial dan kerjasama di antara mereka. Ia adalah rumah Allah (Baitullah) dan tempat penghambaan di hadapan-Nya.
Dengan memperhatikan kedudukan masjid di Dunia Islam dan perannya di era sekarang, kami ingin menelisik kembali fungsi-fungsi masjid seperti disebutkan dalam al-Quran, riwayat, serta sirah Nabi Muhammad Saw, dan para imam maksum.
Sejarah umat manusia sarat dengan budaya penghambaan dan kegiatan ibadah kepada Tuhan. Meski ditemukan ragam bentuk ibadah di tengah berbagai kelompok masyarakat, namun mereka membawa spirit yang sama yaitu; membangun interaksi dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta dan pemilik kekuatan mutlak. Agama Islam – sebagai agama terakhir dan yang paling sempurna – menawarkan ritual dan kegiatan ibadah yang khas sebagai media keintiman dengan Allah Swt.
Di antara ritual suci itu, shalat memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan dapat disebut sebagai menifestasi penghambaan dan kepasrahan mutlak seorang hamba kepada Sang Khalik. Di semua agama samawi dan bahkan di kebanyakan aliran kepercayaan bumi, sebuah tempat ditetapkan sebagai situs suci untuk pelaksanaan amal ibadah dan ritual-ritual khusus.
Kehadiran tempat khusus itu sangat penting untuk pelaksanaan ritual keagamaan dan bahkan para penyembah berhala juga punya sebuah tempat untuk menggelar seluruh acara keagamaan termasuk penyembahan, nazar, berkurban, doa, dan lain sebagainya, dan tradisi itu masih berlaku sampai sekarang. Umat Kristen punya Gereja sebagai tempat ibadah, kaum Yahudi punya Sinagoq (Kanisah), dan demikian juga dengan Zoroaster yang memiliki Kuil Api.
Islam – sebagai agama Allah Swt yang terakhir dan paling sempurna – menjadikan masjid sebagai tempat untuk ibadah dan kegiatan keagamaan kaum Muslim. Masjid adalah tempat/bagungan untuk sujud dan ketundukan di hadapan Allah Swt. Shalat merupakan ibadah terpenting yang mendapat banyak penekankan dalam Islam dan salah satu gerakannya adalah bersujud sebagai bentuk ketundukan seorang hamba.
Sujud adalah meletakkan dahi ke tanah dan menunjukkan puncak kerendahan diri seorang hamba di hadapan keagungan Sang Pencipta. Semua makhluk hidup bersujud di hadapan keagungan Allah Swt. Ayat 49 surat an-Nahl berkata, "Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri."
Sujud merupakan manifestasi penghambaan dan ia memiliki kedudukan khusus di antara semua ibadah dan bahkan di antara gerakan-gerakan lain shalat. Oleh karena itu, masjid adalah tempat untuk sujud dan ibadah, dan sebenarnya merupakan tempat untuk mengingat Allah Swt. Dalam budaya agama, masjid dikenal sebagai Baitullah atau Rumah Allah.
Semua yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah Swt. Namun, Dia menamakan masjid – secara lahiriyah hanya sebuah bangunan biasa – sebagai Baitullah sehingga dengan penisbatan ini, manusia bisa memahami dengan lebih baik tentang pentingnya situs suci itu, dan kemudian berkumpul di sana untuk memperoleh rahmat Ilahi. Oleh sebab itu, manusia akan merasa lebih dekat dengan Tuhan saat mereka berada di masjid atau tempat ibadah.
Kedudukan semua masjid tentu saja tidak sama, dan sebagian masjid memiliki posisi yang istimewa dan tinggi. Dalam riwayat disebutkan masjid yang paling utama adalah Masjidil Haram, dan kemudian Masjid Nabawi, dan selanjutnya Masjid al-Aqsha, Masjid Kufah, dan kemudian Masjid Jami' (Masjid Agung) di setiap kota dan kemudian masjid di lingkungan sekitar dan masjid di kompleks pasar. Masjidil Haram memiliki keutamaan yang luar biasa di mana kaum Muslim dalam shalatnya wajib memalingkan wajahnya ke arah Masjidil Haram dan Ka'bah.
Shalat di Masjidil Haram akan diganjar pahala seribu kali shalat di masjid-masjid lain. Rasulullah Saw bersabda, "Shalat seorang hamba di rumahnya akan dihitung satu pahala shalat, di masjid lingkungannya akan diganjar 25 pahala shalat, di Masjid Jami' dengan 500 pahala shalat, di Masjid al-Aqsha dengan 50.000 pahala, dan di masjidku (Masjid Nabawi) dengan 50.000 pahala, dan di Masjidil Haram dengan 100.000 pahala shalat." (Kanzul Ummal, jilid 7)
Berkenaan dengan keutamaan Masjidil Haram, Imam Muhammad al-Baqir as juga berkata, "Barang siapa yang menunaikan shalat fardhu di Masjidil Haram, Allah akan menerima semua shalat yang diwajibkan atasnya sejak memasuki usia baligh dan juga shalat-shalat yang ditunaikan hingga akhir hayatnya." (Wasail al-Shia, jidil 3)
Di samping bangunan-bangunan kebanggan umat Islam itu, masjid-masjid lain juga menyimpan keutamaan sendiri. Sebuah hadis Qudsi berkata, "Allah berfirman bahwa rumah-rumah-Ku di bumi adalah masjid yang menyinari penduduk langit, sama seperti bintang-bintang yang menyinari penduduk bumi. Alangkah beruntung mereka yang menjadikan masjid sebagai rumahnya. Alangkah beruntung seorang hamba yang mengambil wudhu di rumahnya dan kemudian mengunjungi-Ku di rumah-Ku. Ketauhilah bahwa pemilik rumah wajib memuliakan tamunya dan berlaku baik kepadanya. Berilah berita gembira kepada orang-orang yang mendatangi masjid di tengah malam dengan cahaya yang bersinar pada hari kiamat." (Wasail al-Shia, jidil 1)
Pada bagian ini, kami akan memperkenalkan masjid-masjid penting di dunia termasuk Masjidil Haram sebagai masjid yang paling utama. Bangunan yang terletak di kota Makkah ini merupakan masjid yang paling kuno dan paling terkenal dalam sejarah Islam. Ia dinamakan Masjidil Haram karena berada di tanah haram, di mana sejumlah perbuatan dilarang dilakukan di wilayah itu seperti berburu, mengangkat senjata, mematahkan tumbuhan dan seterusnya.
Masjidil Haram merupakan tujuan utama dalam pelaksanaan ibadah haji dan ia sangat dimuliakan oleh umat Islam. Dalam banyak riwayat disebutkan seluruh penjuru bumi dipenuhi air pada masa awal penciptaan, dan daratan pertama yang muncul di permukaan tanah adalah tempat bangunan Ka'bah dan dari tempat inilah Allah memperluas daratan dan dengan demikian, Makkah disebut sebagai Ummul Qura (ibu, tempat berasalnya negeri-negeri). Dalam al-Quran, surat al-Imran ayat 96, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."
Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Tempat yang paling dicintai di bumi adalah Makkah. Di sisi Allah, tidak ada tanah yang lebih dicintai dari tanah Makkah, tidak ada batu yang lebih dicintai dari batu Makkah, tidak ada pohon yang lebih dicintai dari pohon-pohon di Makkah, tidak ada gunung yang lebih dicintai dari gunung-gunung di Makkah, dan tidak ada air yang lebih dicintai dari air di sana." Seorang 'arif besar Islam, Muhyiddin ibn Arabi mengenai Makkah berkata, "Tiada ada seorang nabi dan wali pun yang tidak terikat dengan rumah dan kota haram itu. Jadi dapat dipastikan bahwa rumah itu akan menjadi lokasi munculnya wali Allah dan juru selamat."
Menurut sejumlah riwayat, Nabi Adam as merupakan nabi yang pertama kali mendirikan Ka'bah. Setelah bangunan suci itu rusak, Nabi Ibrahim as bersama anaknya, Ismail as kembali membagun Baitullah. Ketika Nabi Muhammad Saw berusia sekitar 35 tahun atau sebelum kenabiannya, kaum Quraisy membangun Ka'bah karena telah rusak akibat banjir di Makkah. Sejak masa itu sampai sekarang, Ka'bah dan Masjidil Haram sudah beberapa kali mengalami renovasi dan pemugaran.
Saat ini, Masjidil Haram sedang mengalami renovasi besar-besaran dan ditargetkan akan memiliki empat lantai untuk para jamaah haji dan umrah. Dengan renovasi baru ini, Masjidil Haram akan memiliki kapasitas hingga 114 ribu jamaah per jam untuk ditampung dalam masjid. Namun, pembangunan menara-menara megah dan mall-mall di sekitar Masjidil Haram telah merusak nuansa sakralitas bangunan suci ini.
Masjid – sebagai Baitullah dan tempat ibadah – merupakan tempat yang paling istimewa dan mulia di bumi. Masjid adalah poros cahaya yang bersumber dari cahaya Ilahi yang menyinari seluruh penjuru bumi.
Rasulullah Saw bersabda, "Masjid adalah cahaya Allah." Masjid adalah poros ikatan hati dan jiwa manusia dengan Tuhan dan tempat untuk mendengarkan seruan-Nya menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan.
Ada banyak anjuran yang menyeru individu Muslim untuk sesering mungkin mengunjungi masjid dan menunaikan shalat-shalat wajib di sana. Sudah menjadi tugas kita sebagai seorang Muslim untuk memenuji seruan itu dan mengerjakan segala bentuk ibadah di masjid. Hal ini karena Allah Swt telah menjadikan masjid sebagai tempat untuk bertemu dan bercengkrama dengan-Nya. Dia akan memberi perlakuan khusus kepada orang-orang yang bertamu ke Baitullah.
Masjid adalah rumah Allah Swt di muka bumi dan sudah menjadi hak tuan rumah untuk memulikan orang-orang yang mengunjungi dan memakmurkan masjid. Para pengunjung ingin mendapat perhatian khusus dari pemilik rumah dengan cara mengerjakan amal ibadah dengan ikhlas.
Bumi memiliki berbagai belahan dan tempat. Namun di antara semua belahan itu, masjid adalah sebuah tempat yang sangat istimewa dan mulia di bumi ini. Disebutkan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw bertanya kepada Malaikat Jibril, "Bagian bumi yang mana yang lebih dicintai di sisi Allah?" "Masjid," jawab Jibril singkat. Masjid adalah sebaik-baik tempat di muka bumi ini. Ia merupakan tempat peribadatan seorang hamba kepada Allah Swt dan memurnikan ibadahnya hanya untuk Allah semata.
Manusia tentu saja akan mendapat kasih sayang Tuhan ketika memasuki tempat yang paling dicintai di muka bumi ini. Dalam banyak hadis disebutkan, "Barang siapa mengambil wudhu dan pergi ke masjid serta melaksanakan adab berkunjung, maka ia akan termasuk dari para pengunjung rumah Allah." Sangat penting bagi orang yang ingin berkunjung ke masjid untuk mempelajari adab-adab memasuki tempat suci itu, karena setiap ibadah yang dilakukan dengan makrifat, tentu akan memiliki nilai yang lebih besar.
Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Barang siapa yang masuk ke sebuah masjid, maka ketahuilah bahwa ia telah datang ke rumah Sang Maha Raja, di mana tidak ada yang menginjakkan kakinya di sana kecuali dalam keadaan suci dan hanya orang-orang yang jujur yang pantas memasukinya… di hadapan-Nya, jadilah seperti orang-orang yang paling miskin dan bersihkanlah hatimu dari hal-hal yang telah membuat engkau berpaling dari-Nya dan menciptakan tirai antara dirimu dan Dia, karena Dia tidak akan menerima kecuali hati yang paling suci dan paling ikhlas." (Misbah al-Shari'ah)
Rasulullah Saw pernah memberikan nasihat kepada sahabat setianya, Abu Dzar al-Ghifari tentang adab dan tata cara mengunjungi masjid. Beliau bersada, "Wahai Abu Dzar! Siapa saja yang menjawab seruan Allah dan berusaha memakmurkan masjid, maka ia akan memperoleh balasan surga dari sisi Allah." Kata memakmurkan bisa meliputi pembangunan awal masjid dan perawatannya, dan juga bisa mencakup kegiatan berkunjung dan beribadah di dalamnya.
Oleh karena itu Abu Dzar kemudian bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ayah dan ibuku menjadi tebusan engkau, Wahai Rasulullah! Bagaimana kami akan memakmurkan masjid?" Beliau menjawab, "Memakmurkan masjid berarti tidak meninggikan suara di dalamnya, meninggalkan perbuatan batil dan sia-sia, tidak melakukan jual-beli di sana. Selama engkau masih di masjid, maka jauhilah setiap (perkataan dan perbuatan) yang sia-sia dan jika tidak, maka pada hari akhirat janganlah mencela kecuali dirimu sendiri."
Dalam sabda itu, Rasulullah Saw memberitahu beberapa tata cara memasuki masjid kepada Abu Dzar; pertama, masjid adalah tempat ibadah dan meninggikan suara di dalamnya tentu akan mengganggu kekhusyukan orang lain. Mereka akan kehilangan konsentrasi dalam shalat dan ibadahnya. Berteriak di tengah kerumunan orang juga merupakan bentuk ketidaksopanan dan sudah sepantasnya kita bersikap sopan dan mulia di masjid serta meninggalkan perbuatan yang tidak pantas.
Jadi, salah satu bentuk memakmurkan masjid adalah kita harus bersikap tenang dan tidak riuh ketika berada di tempat suci itu. Jika ingin menyampaikan sesuatu, kita harus berbicara dengan nada rendah dan tidak mengganggu orang lain. Kedua, meninggalkan pembicaraan batil dan sia-sia yang merupakan bentuk pelecehan terhadap masjid. Dan ketiga, meninggalkan kegiatan jual-beli di dalam masjid. Karena jika transaksi perdagangan dilakukan di masjid, maka manusia tidak akan lagi mengingat Tuhan dan malah menyibukkan diri dengan perkara dunia di rumah Allah Swt.
Padahal, masjid adalah tempat untuk berzikir dan mengingat Allah Swt dan setiap pekerjaan yang dapat mengalihkan konsentrasi masyarakat kepada selain Tuhan harus ditinggalkan, sehingga benar-benar tercipta nuansa untuk berzikir dan beribadah. Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Pada suatu hari, Rasulullah melihat seseorang yang sedang mengasah anak panahnya di dalam masjid, beliau melarang perbuatan itu seraya bersabda, masjid tidak dibangun untuk pekerjaan-pekerjaan seperti itu." (Wasail al-Shia, jilid 3)
Pada segmen ini, kita akan kembali melanjutkan kajian tentang Masjidil Haram sebagai tempat yang paling suci di dunia ini. Literatur sejarah mencatat bahwa Nabi Ibrahim as bersama putranya Ismail as sedang sibuk membangun Ka'bah, dan ketika dindingnya makin tinggi hingga membuat Ibrahim as tidak mampu lagi menjangkaunya, maka Ismail membawakan sebuah batu untuk pijakan bagi Nabi Ibrahim. Ia kemudian berdiri di atas batu itu dan menyelesaikan pembangunan Ka'bah.
Mereka terus memindahkan posisi batu tersebut sehingga berada persis di depan pintu Ka'bah. Ibnu Abbas, ahli tafsir dan sejarah era permulaan Islam berkata, "Karena Ibrahim berdiri di atas batu itu, maka ia dikenal dengan sebutan Maqam Ibrahim. Karena batu ini menjadi tempat pijakan Ibrahim, maka dua telapak kakinya membekas di sana." Maqam Ibrahim dianggap sebagai salah satu titik yang paling suci di Masjidil Haram karena ada bekas telapak kaki Nabi Ibrahim as.
Bentuk jejak kaki di Maqam Ibrahim memiliki kedalaman yang berbeda. Satu bagian sedalam 10 sentimeter, sedangkan satu bagian lagi sedalam sembilan sentimeter. Panjang jejak adalah 22 sentimeter, sedangkan lebarnya 11 sentimeter. Warna Maqam Ibrahim menyerupai warna perunggu, agak kehitam-hitaman. Sejak masa Mahdi al-Abbasi dan setelahnya, Maqam Ibrahim telah dilapisi emas dan diletakkan di dalam kotak tembaga berbentuk persegi empat. Di atasnya terdapat kubah yang bertopang pada empat buah itiang.
Karena kubah itu memakan tempat yang cukup luas di samping Ka’bah, maka pada tahun 1385 Hijriyah (1956 Masehi), pemerintah Arab Saudi menghancurkan tempat tersebut dan kemudian menggantinya dengan sebuah kotak kaca. Meski sudah berusia ribuan tahun, Maqam Ibrahim masih tetap terjaga dari berbagai bencana alam dan peristiwa sejarah.
Maqam Ibrahim merupakan salah satu syi'ar Allah Swt dan dalam surat al-Baqarah ayat 125 disebutkan, "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian Maqam Ibrahim tempat shalat…" Posisi Maqam Ibrahim yang berada di samping Ka'bah merupakan bukti atas keagungan dan kemuliaan Nabi Ibrahim as, sang penyeru tauhid. Pada dasarnya, posisi istimewa ini merupakan keteladanan untuk mencapai derajat sebagai khalifatullah di muka bumi.
Salah satu bagian Ka'bah yang sangat dimuliakan adalah batu Hajar Aswad. Ia merupakan sebuah batu berwarna hitam agak kemerah-merahan yang terletak pada dinding Ka'bah di Masjidil Haram. Thawaf dimulai dan berakhir di Hajar Aswad dan disunahkan juga menyentuh Hajar Aswad dan mencium sekadarnya ketika memulai thawaf. Pada dasarnya, Hajar Aswad merupakan salah satu syi'ar besar agama dan rahasia antara Tuhan dan hamba-Nya. Menyentuh Hajar Aswad berarti memperbaiki bai'at dengan Allah Swt.
Orang yang pertama kali membangun Baitullah adalah Nabi Adam as dan kemudian memasang Hajar Aswad di sisi kiri Ka'bah. Nabi Ibrahim as membangun kembali Baitullah dan pada masa itu, Hajar Aswad ditemukan tergeletak di Jabal Abu Qubais di dekat Masjidil Haram. Nabi Ibrahim as kemudian memasang kembali Hajar Aswad di tempat semula.
Ketika Muhammad Saw berusia 35 tahun dan belum diutus sebagai rasul, kabilah Quraisy membangun kembali Ka'bah yang rusak akibat banjir. Mereka merenovasi bagian-bagian Ka'bah yang menjadi kewajibannya dan tidak timbul perselisihan. Hingga sampai pada masalah peletakan kembali Hajar Aswad ke tempatnya, masing-masing kabilah berebut dan merasa paling berhak untuk meletakkannya.
Dalam situasi yang tegang, Muhammad Saw – yang dikenal dengan sebutan al-Amin – membuka sehelai kain dan meletakkan Hajar Aswad di dalamnya dan memerintahkan kelompok yang berselisih untuk mengangkat ujung-ujung kain itu. Mereka pun mengangkatnya. Setelah sampai pada tempatnya, Rasulullah Saw mengangkat Hajar Aswad dan meletakkan pada posisinya.
Ritual dan kegiatan ibadah memilii kedudukan yang tinggi di semua agama samawi dan atas dasar ini, tempat ibadah juga memiliki posisi istimewa di tengah para pemeluk agama.
Dalam Islam, masjid adalah Baitullah dan pusat untuk kegiatan ibadah kaum Muslim. Ia adalah tempat untuk pertemuan dan membangun keintiman dengan Allah Swt. Surat at-Taubah ayat 108 menyebutkan, "… Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih."
Salah satu dari adab memasuki masjid adalah membersihkan diri dan bersuci. Banyak riwayat mencatat orang-orang yang berwudhu di rumahnya dan kemudian pergi ke masjid, mereka dianggap tamu Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda, "Apakah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang akan membuat dosa-dosa kalian terampuni dan kebaikan kalian bertambah? Iya wahai Rasulullah. Beliau lalu bersabda, 'Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci dan duduk di masjid menunggu shalat, para malaikat akan mendoakannya dan mereka berkata, 'Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah rahmatilah dia.'"
Mensucikan anggota badan merupakan fase awal menuju kesucian jiwa dan tazkiyah. Seorang Muslim harus dalam keadaan bersih dalam upaya untuk mensucikan jiwanya. Salah satu adab lain memasuki masjid adalah memakai pakaian yang indah. Dalam surat al-A'raf ayat 31, Allah Swt berfirman, "Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid." Sebagai bentuk adab bertamu, seseorang harus berpenampilan rapi dan memakai pakaian yang indah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, Imam Hasan al-Mujtaba as memakai pakaian yang paling bagus setiap kali ingin menunaikan shalat. Para sahabat bertanya, "Wahai putra Rasulullah! Mengapa engkau mengenakan pakaian terbaikmu dalam shalat?" Beliau menjawab, "Allah adalah indah dan mencintai keindahan. Dia memerintahkan untuk mengenakan pakaian yang paling indah setiap kali memasuki masjid, dan aku pun memperindah diriku untuk Tuhanku dan untuk itu, aku memakai pakaianku yang paling bagus."
Dalam riwayat lain, Imam Ali as berkata, "Memakai pakaian yang suci dan bersih akan menghilangkan kesuntukan dan kesedihan, dan juga lebih pantas untuk mengerjakan shalat." Jadi, dampak penting dari kesucian dan kebersihan adalah menghapus kesedihan dari manusia.
Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as senantiasa menggunakan wewangian khususnya ketika memimpin shalat berjamaah dan memasuki masjid. Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Shalat dengan memakai wewangian akan mendapat keutamaan 70 kali lebih besar dari shalat tanpa pewangi." Imam Shadiq juga menukil dari Rasulullah Saw yang bersabda, "Aroma harum akan memperkuat hati."
Memperindah diri tidak hanya terbatas pada penampilan fisik, namun keindahan tampilan fisik merupakan mukaddimah untuk mempercantik batin dan meraih keutamaan-keutamaan jiwa seperti, menjadi pribadi yang ikhlas, khusyuk, rendah diri dan selalu mengingat Allah Swt. Dalam riwayat disebutkan, Allah Swt berfirman kepada Isa bin Maryam as, "Katakanlah kepada Bani Israil agar tidak memasuki rumah-rumahku kecuali dengan hati yang suci, pandangan yang tunduk, dan tangan yang bersih." (al-Khisal, jilid 1)
Dapat kita katakan bahwa hiasan yang sesungguhnya menurut riwayat tersebut ada dalam tiga perkara; pertama, hati harus suci dari segala noda dan dosa. Kedua, pandangan harus dihiasi dengan ketundukan di hadapan Allah Swt dan meninggalkan segala bentuk pengkhianatan. Dan ketiga, tangan juga bersih dari barang haram dan meragukan.
Pada segmen ini, kami akan kembali memperkenalkan bagian terpenting lainnya yang terdapat di Masjidil Haram, sebagai tempat yang paling mulia bagi umat Islam. Hijir Ismail adalah sebuah lokasi yang masih termasuk bagian dari Ka'bah dan berbentuk setengah lingkaran. Ia merupakan salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Menurut sejumlah riwayat, Hijir Ismail merupakan tempat tinggal Ismail dan ibunya, Siti Hajar semasa hidup mereka dan kemudian menjadi lokasi pemakaman mereka berdua.
Jika seseorang ingin shalat di dalam Ka'bah, cukup shalat di dalam Hijir Ismail ini. Seperti yang diriwayatkan dari Siti Aisyah, "Aku pernah minta kepada Rasulullah agar diberi izin masuk ke Ka'bah untuk shalat di dalamnya. Lalu, beliau membawa aku ke Hijir Ismail dan bersabda, 'Shalatlah di sini kalau ingin shalat di dalam Ka'bah karena Hijir Ismail ini termasuk bagian Ka'bah."" Hadis ini menjadi dasar bagi para ulama bahwa tidak sah thawaf seseorang jika ia mengitari Ka'bah dengan memasuki pintu antara Hijir Ismail dan Ka'bah.
Bagian terpenting lainnya di Masjidil Haram adalah bangunan Ka'bah. Kiblat kaum Muslim ini dibangun dengan batu hitam dan keras. Batu-batu dinding Ka'bah memiliki ukuran yang berbeda sejak pembangunan kembali pada tahun 1040 Hijriyah. Ukuran terbesar memiliki panjang, lebar dan tinggi masing-masing 190, 50 dan 28 sentimeter, sementara ukuran terkecil dengan panjang dan lebar masing-masing 50 dan 40 sentimeter.
Menurut catatan sejarah, Nabi Ismail as adalah orang pertama yang memasang kiswah untuk menutupi Ka'bah agar dinding-dindingnya tidak tergores. Dalam beberapa abad terakhir, kain hitam dengan kaligrafi bersulam emas dan perak dipakai untuk menutup Ka'bah. Kiswah Ka'bah diganti setiap tahun pada bulan Dzulhijjah ketika para jamaah haji berwukuf di Arafah.
Zamzam (berarti banyak atau melimpah-ruah) merupakan sumur mata air yang terletak di kawasan Masjidil Haram, sebelah tenggara Ka'bah. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim as membawa Siti Hajar dan Ismail yang masih bayi ke suatu tempat yang saat ini bernama Makkah, di samping Baitullah. Saat itu, tempat tersebut adalah padang pasir yang sangat tandus, kering, dan tidak ada seorang pun di tempat tersebut. Siti Hajar dengan sabar berdiam di padang pasir yang tandus tempat Ibrahim meninggalkan mereka.
Siti Hajar kehabisan air dan makanan. Ismail yang ketika itu masih menyusu tak henti menangis karena air susu ibunya telah kering. Menurut riwayat, mata air tersebut ditemukan pertama kali oleh Siti Hajar setelah berlari-lari bolak-balik antara bukit Shafa dan bukit Marwah. Atas petunjuk Malaikat Jibril, Siti Hajar menaruh Ismail ke tanah, di tempat yang kini dikenal dengan sumur Zamzam. Mata air kemudian keluar dari hentakan kaki Ismail di tanah.
Setelah Siti Hajar memenuhi kebutuhannya terhadap air tersebut, mata air itu tidak berhenti mengalir. Air yang keluar bahkan makin lama makin melimpah. Siti Hajar kemudian berkata, "Zamzam (Berkumpullah!)," hingga akhirnya air yang berkumpul itu disebut Zamzam. Sejak itu berdatanganlah kabilah untuk menetap di samping mata air tersebut. Di antara kabilah yang pertama kali menetap di Makkah adalah Jurhum, kabilah yang berasal dari Yaman.
Pada awalnya, sumur Zamzam hanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat sekitar, namun secara perlahan sumur-sumur lain mulai bermunculan di sekitar Zamzam. Kehadiran para peziarah Baitullah telah menuntut upaya lebih untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Sebelum Islam, salah satu posisi penting di Makkah adalah komite penyedia air untuk peziarah. Ketika Islam datang, Abbas bin Abdul Muthalib memikul tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan air para jamaah haji. Ia kemudian membangun sebuah depot air Zamzam di dalam Masjidil Haram.
Depot air itu kemudian dipindahkan ke lokasi lain karena ada perluasan Masjidil Haram. Pada tahun 1955 sebuah pompa air dipasang di sumur Zamzam. Seiring dengan bertambahnya jumlah jamaah, pemugaran besar-besaran dilakukan di Masjidil Haram dan instalasi sumur Zamzam dipindahkan ke lantai bawah tanah untuk kenyamanan thawaf. Posisi saat ini sumur Zamzam terletak di kedalaman sekitar lima meter dari lantai Masjidil Haram.
Ada banyak riwayat yang berbicara tentang keutamaan dan khasiat air Zamzam. Rasulullah Saw bersabda, "Zamzam adalah sumur terbaik di antara sumur-sumur yang pernah ada di dunia ini." Beliau sendiri sering meminum air Zamzam dan juga menggunaan air itu untuk berwudhu dan bekal perjalanan. Sudah menjadi tradisi bahwa masyarakat Muslim setelah melaksanakan haji atau umrah, mereka akan membawa pulang air Zamzam untuk mendapatkan berkah.
Masjid merupakan institusi sosial pertama yang dibangun langsung oleh Rasulullah Saw sejak awal berdirinya pemerintahan Islam di kota Madinah. Sebuah bangunan suci yang melewati banyak pasang surut di sepanjang usianya lebih dari 1400 tahun.
Secara fisik masjid kadang dipoles habis-habisan hingga mirip istana raja, tapi ia tidak pernah kehilangan fungsi utamanya yaitu sebagai tempat suci untuk ibadah dan menghambakan diri kepada Allah Swt.
Masjid merupakan kepingan suci dari bumi yang mengarah ke kiblat untuk kepentingan shalat dan ibadah. Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw – langkah pertama untuk memperkuat pemerintahannya – membangun masjid sebagai pusat pemerintahan dan komando. Sebuah tempat yang dikenal oleh masyarakat sebagai pusat kegiatan ibadah, budaya, sosial dan politik. Tempat yang selalu dikunjungi oleh pemimpin dan masyarakat, di mana beliau menyampaikan hukum-hukum agama dan ajaran Ilahi.
Rasul Saw dan para sahabat selalu berkumpul di tempat suci itu. Di sana, beliau mengajarkan dan mempraktekkan hukum agama dengan penuh cinta sehingga tercipta kebahagiaan di masyarakat Muslim. Beliau selalu terdepan dalam pelaksanaan perintah agama dan memberikan keteladanan praktis kepada umat. Rasul Saw adalah teladan yang sempurna, yang mengajarkan umat dan memberikan contoh konkrit dalam semua aspek kehidupan.
Masyarakat akan datang ke masjid tersebut untuk menemui Nabi Muhammad Saw. Jika ada sebuah berita, beliau secara langsung atau melalui salah satu sahabatnya akan mengumumkan berita itu kepada masyarakat. Dengan kata lain, Masjid Nabawi berfungsi sebagai basis utama masyarakat Muslim untuk kegiatan keagamaan, sekaligus pusat untuk kegiatan ilmiah, politik dan sosial kebangkitan Islam. Pilar-pilar dasar pemerintahan Islam dibangun di masjid dan dari tempat itu pula, ajaran Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia.
Sejarah mencatat bahwa masjid pertama yang dibangun oleh Rasul Saw ketika hijrah dari Makkah ke Madinah adalah Masjid Quba. Sebelum tiba di kota Madinah, beliau membangun masjid di kampung Quba yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Quba. Menurut catatan sejarah, Rasul Saw tiba di kampung Quba pada hari Senin, tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi. Daerah ini terletak sekitar 5 kilometer dari sebelah tenggara pusat kota Madinah.
Quba dikenal sebagai daerah yang memiliki iklim yang baik dan terdapat banyak kebun kurma. Masyarakat Quba adalah orang pertama yang menyambut kedatangan Rasulullah Saw dari Makkah. Beliau singgah di Quba selama beberapa hari sambil menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib as dan rombongan dari Makkah termasuk Sayidah Fatimah as. Ketika semua sudah berkumpul, Rasul Saw dan rombongan bergerak ke Madinah atau yang disebut Yatsrib sebelum hijrah.
Selama empat hari singgah di kampung Quba, Rasul Saw membangun sebuah masjid di sebidang tanah setelah para sahabat mengumpulkan batu-batu sebagai materialnya. Beliau meletakkan batu pertama tepat di kiblatnya dan ikut menyusun batu-batu selanjutnya hingga terbentuk pondasi dan dinding masjid. Dengan demikian, Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Rasul Saw.
Salah satu yang menjadi keutamaan masjid ini ialah nilai ibadah yang dilakukan di dalamnya, setara dengan menjalankan umrah. Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang mendatangi masjidku yaitu Masjid Quba dan kemudian shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala umrah." (Man La Yahduruhu al-Faqih, jilid 1)
Setelah menetap di Madinah, Rasul Saw rutin setiap pekan mengunjungi Masjid Quba dan mendirikan shalat di sana. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada hari Sabtu atau Senin. Beliau tiba di Madinah pada hari Jumat setelah empat hari tinggal di Quba. Para pemimpin dari setiap kabilah menghendaki Rasul Saw menetap di tempat kediamannya. Mereka berebut memegang tali kekang unta yang ditungganinya, beliau bersabda, "Biarlah untaku yang menentukan tempat di mana aku tinggal. Tempat di mana ia berhenti, aku akan menetap di situ. Unta ini telah mendapat perintah dan ia tahu ke mana akan pergi."
Ada dua hikmah tersembunyi dalam peristiwa ini; pertama, lokasi pembangunan Masjid Nabawi adalah sebuah tempat yang dipilih oleh Allah Swt, Nabi Saw sendiri bahkan tidak punya peran dalam pemilihan itu. Dan kedua, manajemen langsung ini untuk menghindari segala bentuk kesalahpahaman antar kabilah di Madinah, di mana banyak dari mereka terlibat konflik.
Unta Nabi Saw terus bergerak hingga berhenti di tempat Bani Malik bin Najjar dan di sanalah beliau singgah. Rasul Saw kemudian memerintahkan pembangunan masjid di tempat tersebut. Beliau terlibat langsung dalam proses pembangunan dan bahkan bekerja melebihi orang lain. Usaha para sahabat membujuk Rasul Saw untuk istirahat juga tidak berhasil dan beliau tetap melanjutkan aktivitasnya. Keterlibatan ini mendorong para sahabat untuk bekerja lebih semangat dan lebih tekun.
Arsitektur bangunan Masjid Nabawi adalah sebuah desain yang istimewa, karena tidak ada tanda-tanda bahwa bangunan tersebut meniru gaya bangunan lain dan bahkan tempat ibadah agama lain. Bangunan itu memperlihatkan kemurnian dan kesesuaian penuh dengan roh agama Islam. Jelas Rasul Saw masih menyimpan memori tentang arsitektur bangunan gereja dan sinagog selama perjalanannya ke Syam. Tapi, pembangunan masjid tersebut sama sekali tidak meniru model bangunan lain.
Pada masa itu, dinding Masjid Nabawi terbuat dari tanah liat, pilar-pilarnya dari batang kurma, lantainya dari pasir, dan atapnya dari pelepah kurma. Ketika kaum Anshar mendatangi Rasulullah Saw dengan membawa harta untuk memperindah bangunan masjid, beliau bersabda, "Aku ingin seperti saudaraku Nabi Musa, masjidku cukup seperti arisy (gubuk tempat berteduh) Nabi Musa." Soal kesederhanaan arsitektur masjid, Rasul Saw menjelaskan bahwa usia manusia pendek dan kematian akan dengan cepat mendatangi mereka.
Sebagian dari beranda masjid digunakan untuk tempat tinggal orang-orang miskin. Kebanyakan mereka berasal dari kaum Muhajirin, yang telah meninggalkan semua harta bendanya di Makkah dan memilih hijrah ke Madinah demi membela kebenaran. Mereka kemudian dikenal dengan Ashabus Suffah (Orang-orang yang tinggal sementara di beranda Masjid Nabawi).
Bangunan yang didirikan bersamaan dengan pembangunan masjid adalah rumah Rasulullah Saw. Para sahabat kemudian juga membangun rumah-rumah di samping masjid, di mana pintu-pintunya memiliki akses langsung ke dalam masjid. Pada tahun ketiga Hijriyah, Rasul Saw memerintahkan penutupan semua pintu kecuali pintu rumah Ali bin Abi Thalib as.
Setelah Rasul Saw wafat, para khalifah memutuskan untuk memperluas Masjid Nabawi dan merenovasi bangunannya seiring bertambahnya jumlah populasi Muslim. Kegiatan ini dikerjakan dalam beberapa tahap dan berlanjut sampai berakhirnya Dinasti Abbasiyah. Ketika itu, luas Masjid Nabawi mencapai 9.000 meter persegi. Pada periode Utsmani, masjid ini mengalami beberapa kali perluasan dan renovasi, namun tindakan mendasar dimulai pada tahun 1265 H oleh Raja Abul Hamid I dan selama 13 tahun, Masjid Nabawi direnovasi dengan kokoh dan sangat menawan.
Hari ini, nama-nama para imam maksum, khalifah serta sejumlah sahabat dan tabiin yang terukir indah di dinding Masjid Nabawi, merupakan peninggalan era Utsmani. Salah satu dari nama itu adalah nama Imam Zaman yang ditulis Muhammad al-Mahdi. Kaligrafi nama Imam Mahdi bahkan menyimpan sebuah pesan tersembunyi. Dalam pahatan itu, huruf YA sengaja ditulis tidak sesuai dengan kaidah kaligrafi. Huruf YA itu akan menjadi sempurna jika disambungkan dengan huruf MIM yang terletak persis di atasnya. Dengan demikian terbentuk rangkaian huruf HA dan YA. Sehingga pahatan kaligrafi tersebut dapat dibaca Muhammad Al Mahdi Hayyun (Muhammad al-Mahdi masih hidup).
Pada periode Al Saud, Masjid Nabawi juga mengalami renovasi dan perluasan besar-besaran. Kota Madinah dengan adanya Masjid Nabawi memiliki sakralitas yang luar biasa. Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Makkah sebagai kota haram dan berdoa untuk warganya. Aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga."
Masjid merupakan basis utama sosial, tempat terbaik untuk mempertebal iman, dan pusat terpenting untuk mempromosikan kegiatan sosial, budaya dan politik kaum Muslim.
Masjid Nabawi yang dibangun Rasul Saw di Madinah berfungsi sebagai tempat ibadah dan pusat pemerintahan, pengadilan, dan pendidikan. Jelas bahwa fungsi utama masjid adalah untuk mempraktekkan syiar-syiar dan aturan agama, dan shalat lima waktu merupakan ritual ibadah terbesar yang dilaksanakan di masjid.
Pada permulaan Islam, kaum Muslim selalu mendatangi masjid dengan penuh antusias dan suka cita. Mereka mendirikan shalat di belakang Nabi Saw dan kemudian berdoa bersama-sama. Setelah pembangunan masjid rampung, Rasul Saw memerintahkan Bilal Habsyi mengumandangkan adzan sehingga masyarakat berkumpul di masjid untuk shalat. Bilal Habsyi – orang yang pertama kali diperintahkan Rasul untuk mengumandangkan adzan – dengan suara merdunya menebarkan aroma spiritual di kota Madinah.
Meski kala itu ada banyak orang yang memiliki suara merdu dan ucapan yang fasih, tapi kesucian hati, keimanan dan keikhlasan Bilal telah mengantarkannya ke derajat yang tinggi. Saat ini suara adzan – sebagai panggilan shalat – menggema setiap hari dari menara-menara masjid di seluruh penjuru bumi.
Adzan mengingatkan kita tentang tauhid, kenabian dan kewajiban mendirikan shalat. Adzan adalah sebuah syiar yang dimulai dengan nama Allah Swt dan penegasan akan keesaan-Nya, kemudian bersaksi atas kenabian Muhammad Saw, mengajak kepada keberuntungan dan perbuatan baik, dan ditutup dengan mengingat Allah Swt. Jadi, adzan dimulai dengan nama Tuhan dan diakhiri dengan nama-Nya juga. Namun semua kalimatnya serasi, seirama, singkat, penuh makna, dan sebagai pengingat.
Masjid dengan seluruh bagiannya memuji dan bertasbih kepada Allah Swt, sebagaimana semua yang berada di alam semesta bertasbih kepada-Nya. Orang yang menunaikan shalat di masjid memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Barang siapa yang pergi ke masjid, seluruh lapisan tanah bertasbih kepadanya untuk setiap langkah yang ia letakkan di tempat basah atau kering," (Wasail al-Syiah, jilid 5)
Pada seri ini, kami akan kembali memperkenalkan Masjid Nabawi sebagai tempat suci kedua bagi umat Islam. Arsitektur Masjid Nabawi benar-benar sederhana, dinding-dindingnya dibangun dari batu dan tanah liat, sementara pohon kurma dipakai sebagai tiang penopang bangunan. Masjid ini hanya beralaskan kerikil-kerikil kecil dan pasir sehingga tidak sampai becek ketika hujan.
Sejarah mencatat bahwa setelah masjid selesai dibangun, hujan deras turun dan mengenangi lantai tanah masjid. Seseorang kemudian menaburi kerikil-kerikil kecil di bawah telapak kakinya. Setelah Rasul Saw selesai menunaikan shalat dan menyaksikan itu, beliau bersabda, "Sungguh sebuah pekerjaan yang baik." Sejak hari itu lantai masjid dilapisi dengan kerikil-kerikil kecil dan pasir. Sekarang lantai Masjid Nabawi sudah ditutupi dengan karpet yang berkualitas dan indah.
Nabi Muhammad Saw membangun masjid dengan tiga pintu. Pertama, pintu yang berada di bagian selatan saat kiblat masih menghadap ke Baitul Maqdis dan pintu ini kemudian ditutup dan dibuka pintu lain di bagian utara setelah perubahan arah kiblat. Kedua, pintu di bagian barat yang dikenal dengan sebutan Bab Atikah. Atikah adalah seorang wanita Makkah dan berhijrah ke Madinah setelah memeluk Islam. Disebut Bab Atikah karena ia menghadap ke arah rumah wanita tersebut. Ia juga dikenal dengan pintu rahmat.
Diriwayatkan bahwa seseorang mendatangi Rasulullah Saw di Masjid Nabawi dan meminta beliau untuk berdoa meminta hujan. Rasul kemudian berdoa dan hujan pun turun deras selama tujuh hari berturut-turut. Karena takut terjadi banjir besar, orang tersebut kembali mendatangi Rasulullah dan meminta beliau berdoa agar hujan berhenti. Mengingat hujan adalah rahmat Allah Swt, maka pintu tersebut dikenal dengan Bab Ar-Rahmah. Pintu itu juga disebut dengan Bab An-Nabi, karena Rasul menggunakan pintu itu untuk masuk ke masjid.
Pintu ketiga terletak di bagian timur Masjid Nabawi dan disebut Bab Jibril. Pada masa Perang Bani Quraizhah, Rasul Saw menemui malaikat Jibril di pintu tersebut. Ia juga dikenal dengan Bab Utsman, karena menghadap langsung ke rumah Khalifah Utsman. Bab As-Salam juga bisa dipakai untuk masuk ke Masjid Nabawi dan jumlah pintu semakin banyak seiring berlalunya waktu. Beberapa sahabat membangun rumah mereka di sekitar masjid dan biasanya mereka menyediakan satu pintu untuk menuju ke sana. Praktek ini terus dilakukan sampai pada tahun ketiga hijriah, Rasulullah Saw memerintahkan penutupan semua pintu rumah yang terbuka ke masjid kecuali pintu rumah Ali bin Abi Thalib as. Saat ini Masjid Nabawi memiliki tujuh buah pintu utama dan 81 pintu biasa.
Raudhah al-Mutahharah adalah satu tempat yang memiliki banyak keutamaan di dalam Masjid Nabawi. Rasul Saw menyebut tempat itu sebagai taman dari taman-taman surga. Makam suci Rasulullah, mimbar, dan mihrab beliau merupakan tempat-tempat suci di Raudhah al-Mutahharah. Jasad suci Rasulullah dimakamkan di tempat tersebut dan disampingnya digunakan sebagai lokasi pemakaman khalifah pertama dan kedua.
Di bagian utara Raudhah, ada sebuah tempat yang diyakini sebagai lokasi makam Sayidah Fatimah az-Zahra as. Tempat itu dibangun berdasarkan beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa Sayidah Fatimah dimakamkan di rumahnya. Sebagian riwayat menyebut lokasi pemakaman Sayidah Fatimah berada di Baqi' dan riwayat ini lebih populer di kalangan Ahlu Sunnah.
Salah satu tempat suci di Masjid Nabawi adalah lokasi mimbar Nabi Saw. Dalam riwayat ditulis bahwa beliau pada awalnya bersandar di pohon kurma ketika menyampaikan khutbah. Salah seorang sahabat kemudian mengusulkan pembangunan sebuah mimbar sehingga Rasulullah bisa menatap masyarakat dan sebaliknya, dan beliau juga menerima gagasan itu. Mimbar dibangun dengan tiga anak tangga dan sebuah tempat duduk. Menurut beberapa riwayat, Rasulullah Saw memerintahkan upacara pengambilan sumpah dilakukan di sisi mimbar dan bersabda, "Barang siapa bersumpah di samping mimbarku ini dengan sumpah palsu walaupun untuk mendapatkan satu siwak, maka ia telah mempersiapkan tempatnya di neraka."
Mimbar Nabi masih digunakan selama masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Demi meningkatkan citranya di tengah publik, Muawiyah ingin memindahkan mimbar nabi ke negeri Syam, tapi warga Madinah melakukan protes dan menentang rencana itu.
Pada masa Dinasti Abbasiyah, mimbar nabi mengalami beberapa kali perbaikan dan pada tahun 654 hijriah, Masjid Nabawi dilalap api dan mimbar nabi pun hangus terbakar. Sejarah mencatat bahwa abu dari mimbar nabi yang terbakar ditanam di sebuah lokasi tempat mimbar sekarang berada. Mimbar baru yang ada di Masjid Nabawi adalah sebuah mimbar yang terbuat dari marmer dan dipoles dengan emas. Mimbar ini memiliki 12 anak tangga dan merupakan hadiah dari salah seorang penguasa Dinasti Ustmani pada tahun 999 hijriyah.
Pada masa Rasulullah Saw, masyarakat Muslim tidak mengenal lokasi yang disebut mihrab selain ungkapan-ungkapan al-Quran seputar mihrab Sayidah Maryam as, Nabi Zakariya as, dan Nabi Dawud as. Pada masa Umar bin Abdulaziz, dibangun sebuah mihrab di lokasi yang dipakai oleh Rasulullah Saw sebagai tempat shalat dan sujud. Mihrab Masjid Nabawi telah mengalami banyak perubahan seiring dengan pemugaran bangunan.
Selain mihrab utama, juga dibangun beberapa mihrab lain di Masjid Nabawi dan salah satunya adalah Mihrab Tahajud. Mihrab ini terletak di belakang rumah Sayidah Fatimah as dan Rasulullah Saw menggunakan tempat itu untuk shalat tahajud dan munajat. Mihrab lain adalah Mihrab Fatimah dan ia terletak di dalam maqshurah yaitu di tempat yang dahulu merupakan letak rumah beliau. Mihrab Fatimah sekarang terletak di dalam kamar Nabi Saw.
Membangun masjid adalah bagian dari keteladanan praktis Rasulullah Saw. Budaya tradisi memakmurkan masjid kembali pada seruan al-Quran di mana dalam surat an-Nur ayat 36 disebutkan, "Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang."
Masjid adalah rumah Allah Swt dan orang-orang yang rajin mengunjungi tempat suci ini, mereka akan memperoleh rahmat khusus dari-Nya.
Allah Swt akan mencurahkan kebaikan dan berkah kepada masyarakat karena kemuliaan masjid dan ahli masjid. Seperti sabda Rasulullah Saw ini, "Barang siapa yang mendatangi masjid, ia adalah tamu Allah dan Dia akan menjamu tamunya dengan anugerah spiritual dan meterial." Masyarakat Muslim pada awal permulaan Islam memperlihatkan minat yang luar biasa dalam pembangunan masjid. Minat yang besar ini terilhami dari keteladanan perilaku Rasulullah Saw.
Sejak awal hijrah ke Madinah, Rasul Saw membangun Masjid Quba dan Masjid Nabawi dengan tangannya sendiri. Setelah itu beliau juga mendirikan masjid lain di kampung-kampung para kabilah. Sosok mulia ini mendatangi tempat tinggal mereka untuk membangun masjid dan menentukan arah kiblat. Acara peresmian masjid biasanya diisi dengan mendirikan shalat berjamaah yang dipimpin oleh Rasulullah Saw.
Rasul Saw selalu memilih tempat tertentu untuk mendirikan shalat kemana saja beliau pergi. Dengan keteladanan ini, beliau ingin menggalakkan budaya pembangunan masjid. Tapi, jangan mengira bahwa masjid-masjid yang dibangun oleh Rasulullah Saw adalah sebuah bangunan yang megah dan mewah. Beliau mendirikan pusat kegiatan umat Islam ini dengan sangat sederhana dan memakai material bangunan biasa seperti, batu, pohon kurman, dan tanah liat.
Jabir bin Usamah berkata, "Suatu hari aku menyaksikan Rasul Saw bersama sekelompok sahabat di pasar Madinah. Kemudian aku bertanya kepada salah seorang dari mereka, 'Dari mana kalian datang?' Ia menjawab, 'Kami baru saja kembali dari kampungmu. Rasul Saw pergi ke sana untuk membangun sebuah masjid dan menentukan arah kiblat.' Ketika aku kembali ke kampungku, aku menyaksikan masjid itu dengan sebatang kayu sebagai petunjuk arah kiblat." (Asadul Ghabah fi Makrifati Shahabah)
Rasul Saw telah membangun banyak masjid dengan tangannya sendiri atau menentukan lokasi pembangunan dan menentukan arah kiblatnya dan mendirikan shalat di sana. Oleh karena itu, masjid adalah manifestasi dan identitas utama Islam dan kaum Muslim. Semua kegiatan Rasulullah Saw ini sejalan dengan misi Islam untuk memupuk persatuan dan kesolidan kaum Muslim.
Ketika Rasulullah Saw mengetahui ada sekelompok orang munafik yang membangun masjid untuk tujuan memecah belah kaum Muslim, beliau memerintahkan untuk menghancurkan dan membakar bangunan itu. Menurut al-Quran, masjid ini dibangun dengan tujuan untuk memecah belah kaum Muslim dan sebuah basis untuk memerangi Nabi Saw. Al-Quran menyebut bangunan itu sebagai masjid dhirar karena membawa kemudharatan dan kerugian bagi kaum Muslim.
Mengenai motivasi pembangunan masjid tersebut, Allah Swt dalam surat at-Taubah ayat 107 berfirman, "Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah, 'Kami tidak menghendaki selain kebaikan.' Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)."
Sekelompok orang yang berpura-pura Islam ingin mendirikan sebuah basis untuk memerangi agama Islam dan berniat merusak Islam dari dalam. Namun tindakan berani Rasulullah Saw dalam menghancurkan masjid dhirar, menunjukkan bahwa simbol-simbol kebatilan harus dihancurkan meskipun ia tampak suci dan sakral secara lahiriyah.
Pada awal pembangunan, Masjid Nabawi benar-benar sangat sederhana dan jauh dari segala kemewahan. Dinding-dingingnya terbuat dari batu dan tanah liat, sementara atapnya ditopang oleh pohon-pohon kurma. Ada delapan pilar yang sangat populer di antara tiang-tiang lain, karena ia memiliki nilai historis dan keutamaan sejak periode Rasulullah Saw. Saat ini pilar-pilar tersebut dicat warna putih sebagai pembeda dari pilar-pilar baru yang dibangun untuk pemugaran masjid.
Salah satu pilar yang terkenal dan memiliki keutamaan adalah Pilar Taubat atau pilar Abu Lubabah. Karena pengkhianatannya terhadap Rasulullah Saw dalam peristiwa Bani Quraidhah, akhirnya Abu Lubabah Abu bin Abdul Mundzir mengikat dirinya di tiang Masjid Nabawi sampai akhirnya turunlah surat al-Anfal ayat 28 dan Allah Swt menerima taubatnya.
Pada tahun kelima hijriah, kaum musyrik menyerang kota Madinah dan mendapati parit yang digali oleh umat Islam untuk melindungi kota. Mereka kemudian berniat membangun persekutuan dengan Yahudi Bani Quraidhah, yang tinggal di bagian selatan kota tersebut dan membujuk mereka untuk membuka gerbang kota. Yahudi Bani Quraidhah terikat perjanjian dengan Rasulullah Saw, tapi tetap bersekutu dengan kaum musyrik dan ingkar janji.
Setelah perang usai, Rasulullah Saw mendatangi Bani Quraidhah dan mengepung mereka. Abu Lubabah bin Mundzir kemudian diutus untuk berbicara dengan kaum Yahudi tersebut. Ia memiliki hubungan persahabatan dengan Bani Quraidhah dan bersimpati dengan mereka serta memerintahkan mereka untuk membangkang. Menurut Abu Lubabah, ketika itu menyadari kesalahannya dan kakinya tidak beranjak dari tempatnya karena merasa berdosa.
Untuk membebaskan dirinya dari beban dosa, Abu Lubabah langsung lari ke Masjid Nabawi tanpa terlebih daluhu memberi laporan kepada Rasulullah Saw. Ia mengikat dirinya di salah satu pilar masjid dan bertahan di sana sampai Allah Swt mengampuninya. Ketika ada orang yang menyampaikan berita tentang pengampunan dirinya, Abu Lubabah berkata, "Tidak. Aku tidak akan membuka ikatanku sebelum Rasulullah datang membukanya."
Sejak masa itu, Pilar Abu Lubabah mulai dikenal dengan tiang taubat. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan tentang keutamaan mendirikan shalat dan beribadah di samping pilar tersebut. Saat ini Pilar Taubah termasuk pilar kedua dari arah kamar dan pusara suci Rasulullah Saw.
Pilar al-Mukhalqah sebagai tempat shalat Nabi Saw dan pilar yang paling dekat dengan mihrab beliau. Makna dari al-Mukhalqah adalah al-Muthayyabah yang diberi minyak wangi. Dari kata al-khaluq yang artinya parfum. Jabir bin Abdullah ra berkata, “Nabi Saw bersandar pada sebatang pohon kurma (yang awalnya terletak pada tempat di mana tiang ini berada) ketika melakukan khutbah Jumat, kaum Ansar dengan hormat menawarkan sebuah mimbar, jika beliau menyetujuinya."
Kemudian ada Pilar Aisyah yang terletak di tengah tiang-tiang utama Masjid Nabawi. Pilar ini juga disebut Pilar al-Qur’ah atau tiang undian. Tiang ini juga disebut dengan tiang Muhajirin. Karena orang-orang Muhajirin sering duduk di dekatnya. Rasulullah Saw bersabda, “Ada tempat yang sangat penting di dalam Masjid Nabawi yang mulia, jika seorang mengetahuinya, mereka akan mengadakan undian untuk mendapatkan kesempatan agar bisa shalat di sana."
Pilar Tahajud, di mana Rasulullah Saw selalu berdiri di samping pilar tersebut untuk melaksanakan shalat malam atau tahajud dan pada abad-abad berikutnya, dibangunlah sebuah mihrab di sana untuk mengenang dan menghormati Nabi Saw, yang populer dengan Mihrab Tahajud. Pilar ini terletak di belakang rumah Sayidah Fatimah as.
Pilar Murabba’ah al-Qabr yang bermakna segi empat di dekat makam, karena pilar ini terletak di barat laut kamar Rasulullah Saw. Ia juga dikenal dengan Pintu Jibril dan sebagai akses untuk menuju ke rumah Ali as dan Fatimah as. Mengenai keutamaan pilar tersebut, Abi al-Hamra' berkata, "Aku menyaksikan Rasulullah mendatangi pintu rumah Ali, Fatimah, Hasan dan Husein selama 40 hari dan bersabda, 'Salam atas kalian Ahlul Bait' dan membacakan surat al-Ahzab ayat 33, 'Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.'"
Pilar Sarir yang menempel dengan jendela kamar Nabi Saw dari arah selatan. Disebut Pilar Sarir karena beliau melakukan ibadah di samping tiang tersebut pada hari-hari i'tikaf seperti sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau juga menggunakan tempat itu sebagai alas tidur.
Pilar lain di Masjid Nabawi adalah Pilar al-Mahras atau al-Hars atau dikenal juga dengan Pilar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Dikatakan bahwa pada awal kehadiran Rasulullah Saw di Madinah, karena dikhawatirkan ada yang hendak mencederai beliau, Imam Ali as duduk di samping pilar tersebut untuk mengawal Rasulullah Saw. Imam Ali as juga sering mendirikan shalat di samping pilar tersebut.
Dan terakhir adalah Pilar Wufud; sebuah tiang yang menempel dengan jendela kamar Nabi Saw. Wufud artinya ‘tamu utusan’ karena dulu Nabi Saw duduk di dekat pilar itu ketika menerima utusan dari kabilah-kabilah Arab yang datang menemuinya.
Ibadah dan penghambaan memiliki kedudukan yang tinggi di semua agama samawi dan atas dasar ini, tempat-tempat ibadah juga punya keistimewaan yang besar.
Dalam Islam, masjid adalah rumah Allah Swt serta pusat untuk kegiatan ibadah dan berdoa. Tetapi hal yang penting adalah bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang menetapkan ajarannya pada basis sosial kemasyarakatan, dan hukum dan aturan-aturannya dijabarkan dalam konteks sosial ini.
Prinsip shalat – sebagai tiang agama – juga dibangun atas landasan berjamaah. Namun tidak ada larangan jika seseorang ingin mendirikannya sendirian. Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersama Imam Ali dan Sayidah Khadijad ra – sebagai Muslim pertama – melakukan shalat secara berjamaah. Pada suatu hari, Afif al-Kindi datang ke Makkah dan melihat sebuah pemandangan unik ketika warga lain asyik menyembah berhala di sekitar Ka'bah. Tiga orang berdiri menghadap ke arah Masjid al-Aqsa untuk beribadah.
Afif al-Kindi kemudian bertanya kepada Abbas Ibn Abdul Muthallib, “Wahai Abbas, siapa mereka dan apa yang sedang mereka lakukan?" Abbas menjawab, "Sosok yang berdiri di depan adalah Muhammad, keponakanku, sementara anak laki-laki yang berdiri di samping kanannya adalah Ali, keponakanku yang lain, dan wanita yang ikut shalat bersama mereka adalah Khadijah, istri dari Muhammad. Di kolong bumi ini, hanya ada tiga orang yang mengamalkan ajaran itu."
Salah satu fungsi masjid adalah untuk pelaksanaan shalat berjamaah dan shalat Jumat. Shalat berjamaah dilakukan dengan irama keteraturan dan mengikuti gerakan imam. Kaum Muslim berdiri dalam barisan yang rapi dan bahu mereka saling bersentuhan. Seakan mereka ingin berkata bahwa kami sedang berada dalam satu gerbong untuk menuju penghambaan Allah Swt.
Kaum Muslim bersama-sama mengangkat tangan di hadapan Allah Swt dan melakukan ruku' dan sujud di hadapan-Nya. Hati mereka menyatu untuk tujuan yang sama dan mereka semakin sadar bahwa kita semua bersaudara. Barisan shalat berjamaah tidak mengenal antara kaya dan miskin, semua orang berdiri sejajar dan hanya kadar ketakwaan yang membedakan mereka. Dalam kondisi ini, solidaritas, persaudaraan, dan semangat gotong royong kian menguat di antara mereka.
Memakmurkan masjid dan mendirikan shalat berjamaah memiliki keutamaan yang besar dan Allah Swt berjanji, "Jika jumlah peserta yang shalat berjamaah lebih dari 10 orang, dan seandainya laut menjadi tinta dan pohon-pohon di bumi menjadi pena, sementara jin, manusia, dan malaikat menjadi juru tulis, maka mereka tidak akan mampu menulis pahala satu raka'at darinya." Ketika orang buta mendatangi Rasulullah Saw untuk meminta keringanan agar bisa absen shalat berjamaah di masjid, beliau bersabda, "Bentangkanlah seutas tali antara rumahmu dan masjid dan dengan itu, berangkatlah untuk shalat berjamaah."
Ada banyak ayat al-Quran yang berbicara tentang keistimewaan shalat berjamaah. Shalat berjamaah bahkan tidak akan gugur sekali pun kaum Muslim sedang berperang dengan musuh. Dalam surat An-Nisa ayat 101, Allah Swt berfirman, "Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu menqashar sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu."
Pada ayat 102 surat An-Nisa, Allah berfirman, "Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata."
Ayat tersebut menjelaskan tentang tata cara shalat khauf kepada Rasulullah Saw dan para sahabat, dan tidak mentolerir mereka untuk meninggalkan shalat berjamaah, tapi memberikan solusi bagi kaum Muslim untuk tetap shalat berjamaah.
Pada segmen ini, kita akan berkenalan dengan Masjid al-Aqsa sebagai tempat suci ketiga umat Islam. Pada suatu hari, Abu Dzar Al-Ghifari bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, "Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali dibangun di muka bumi?" Rasul menjawab, "Masjidil Haram." Kemudian aku kembali bertanya, lalu masjid yang mana lagi wahai Rasulullah? Beliau menjawab, "Masjid al-Aqsa."
Menurut sejumlah riwayat, Nabi Adam as membangun pondasi Masjid al-Aqsa 40 tahun setelah pembangunan Baitullah Al-Haram. Hampir 2000 tahun Sebelum Masehi, Nabi Ibrahim as dan kemudian putra-putranya Ya'qub dan Ishak as, merenovasi bangunan tersebut. Bertahun-tahun kemudian, Nabi Sulaiman as kembali merenovasi Masjid al-Aqsa.
Pada tahun 636 Masehi, Khalifah Umar Ibn Khattab – setelah penaklukan Quds – datang ke wilayah itu dan mendirikan shalat di sebuah tempat di Kompleks al-Haram al-Sharif dan disitu kemudian dibangun sebuah masjid yang dikenal dengan Jami’ al-Qibli sebagai inti dari Masjid al-Aqsha. Pada era Dinasti Umayyah, bangunan Qubbatu Shakhrakh (Dome of The Rock) dibangun dan Jami' al-Qibli juga direnovasi.
Oleh karena itu, Masjid al-Aqsa adalah masjid kedua yang dibangun di muka bumi setelah Masjidil Haram di Makkah, sebagai salah satu tempat yang paling suci milik umat Islam. Masjid al-Aqsa juga pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya datang perintah untuk mengubah arah kiblat ke Baitullah (Ka'bah) di Makkah. Alasan lain kesucian Masjid al-Aqsa karena ia pernah disinggahi oleh Rasulullah Saw dalam perjalanan Isra dan Mi'raj.
Allah Swt dalam firmannya menceritakan peristiwa Isra dan Mi'raj pada ayat pertama surat Al-Isra, "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Nama Masjid al-Aqsa berasal dari keterangan dalam al-Quran pada surah Al-Isra' ayat pertama. Kata Qusa berarti jauh dan Aqsa bermakna yang paling jauh. Ini karena masjid tersebut terletak sangat jauh dari kota Makkah dan Masjid al-Haram. Mi'raj Nabi Muhammad Saw dimulai dari Masjid al-Aqsa dan mengandung sebuah poin penting yaitu tujuan Mi'raj adalah untuk memperoleh makrifat dan perkembangan spiritual, dan masjid dapat menjadi landasan terbaik untuk perjalanan spiritual seorang mukmin.
Proses pembangunan dan perbaikan yang dilakukan di komplek Masjid al-Aqsa al-Mubarak berlangsung selama 30 tahun, mulai dari tahun 685 sampai 715 Masehi. Perbaikan itu membentuk bangunan komplek Masjid al-Aqsa al-Mubarak seperti yang kita lihat saat ini. Komplek bangunan itu mencakup; al-Jami’ al-Qibli (memiliki kubah berwarna kehitaman atau perunggu) berada di titik paling ujung bagian selatan al-Aqsa al-Mubarak dari arah kiblat.
Qubbatu Shakhrakh (kubah warna emas) berada di tengah-tengah komplek Masjid al-Aqsa al-Mubarak, dan Mushalla al-Marwani yang terletak di sebelah tenggara al-Aqsa al-Mubarak, serta Masjid al-Buraq, dan ada sekitar 2000 situs tempat suci lainnya, yang mencakup masjid, bangunan, kubah, menara, dan gerbang.
Mengenai kedudukan Masjid al-Aqsa, Rasulullah Saw bersabda, "Jika seseorang mendirikan shalat di rumahnya, ia hanya memperoleh satu pahala shalat. Jika di masjid, ia akan menerima pahala 25 shalat dan jika di masjid jami', ia akan diganjar dengan pahala 500 shalat. Namun, jika ia mendirikan shalat di Masjid al-Aqsa al-Mubarak, ia akan memperoleh pahala 50 ribu shalat."
Di hadis lain, Rasulullah bersabda, "Janganlah memaksakan perjalanan kecuali dengan tujuan tiga masjid ini; Masjidil Haram, Masjidku (Masjid Nabawi), dan Masjid al-Aqsa."
Salah satu rukun dasar agama-agama samawi khususnya Islam adalah ibadah dan salah satu bagian penting ibadah tidak lain kecuali berdoa dan bermunajat kepada Allah Swt serta bercengkrama dengan-Nya. Aspek penting dalam munajat ini adalah kekhusyukan hati dan kehadiran jiwa yang sepenuhnya fokus kepada Allah Swt.
Tentu tidak mudah untuk bisa khusyu' dan membutuhkan banyak syarat dan faktor untuk mencapai kondisi itu; salah satunya adalah tempat ibadah dan tentu tidak ada tempat yang lebih baik dari masjid.
Oleh sebab itu, setiap kali al-Quran berbicara tentang masjid, maka ia akan menekankan aspek-aspek ibadah sebagai fungsi utama bangunan suci itu. Dalam surat al-'Araf ayat 29, Allah Swt berfirman, "Katakanlah: 'Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.' Dan (katakanlah): 'Luruskanlah wajah (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya…'"
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa masjid adalah poros penghambaan secara tulus dan simbol penghambaan ini adalah mendirikan shalat. Para pemuka agama juga sangat menekankan fungsi masjid sebagai tempat ibadah. Hukum dan adab yang terkait masjid bertujuan untuk menghadirkan dan memelihara kekhusyukan dalam beribadah kepada Allah di tempat suci tersebut. Jadi, Islam menganggap setiap tindakan yang menghalangi masjid memainkan fungsi utamanya sebagai perbuatan tercela.
Salah satu hukum dan adab masjid adalah menunaikan shalat tahiyatul masjid yang bertujuan untuk menghormati dan memuliakan rumah Allah. Setelah memasuki masjid dan sebelum duduk, individu Muslim akan mengerjakan dua rakaat shalat tahiyatul masjid. Dalam hal ini, kebanyakan fuqaha berkata bahwa maksud dari shalat tahiyat adalah untuk menghindari pelecehan masjid akibat langsung duduk tanpa mengerjakan shalat." Jadi, dapat disimpulkan bahwa duduk di masjid dan menyibukkan diri dengan perkara duniawi adalah perbuatan tercela.
Hal utama yang perlu dilakukan setelah memasuki masjid dan sebelum duduk adalah mengerjakan shalat; apakah itu shalat wajib atau shalat sunnah. Namun, alangkah utamanya jika kita memulai dengan shalat tahiyatul masjid dan kemudian baru menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah lain. Abu Dzar al-Ghifari berkata, "Suatu hari aku bertemu Rasulullah di masjid dan beliau bersabda, 'Wahai Abu Dzar! Masjid memiliki salam dan tahiyat yang khusus untuknya.' Aku lalu bertanya, 'Apa itu tahiyat masjid?' Beliau bersabda, 'Menunaikan shalat dua rakaat.'"
Sebenarnya, shalat tahiyatul masjid merupakan salam seorang mukmin kepada masjid, dan ia dianggap sebagai puncak penghormatan dan pemuliaan rumah Allah Swt. Dengan perbuatan ini, orang yang shalat seakan ingin menunjukkan bahwa masjid adalah makhluk yang memiliki akal dan perasaan dan tidak seperti tempat-tempat lain, di mana manusia bisa berlalu-lalang sesuka hati.
Pada bagian ini, kita akan kembali berkenalan dengan Masjid al-Aqsa sebagai tempat suci ketiga umat Islam. Masjid al-Aqsa terletak di sebuah bukit kecil di sudut tenggara kota tua al-Quds, dengan pagar dinding berbentuk poligon yang tidak teratur. Di bagian selatan bukit, terdapat sebuah masjid dengan kubah agak kehijau-hijauan yang populer sekarang sebagai Masjid al-Aqsa. Seperti yang kami katakan, tempat itu meskipun populer dengan sebutan Masjid al-Aqsa, namun ia sama sekali bukan keseluruhan Masjid al-Aqsa, ia hanya sebagian dari Masjid al-Aqsa yang dianggap suci dalam Islam.
Salah satu bangunan suci lain yang terletak di komplek Masjid al-Aqsa adalah Masjid Kubah Shakhrah (Kubah Batu). Kubah Shakhrah adalah sebuah bangunan persegi delapan (oktagonal) berkubah emas yang terletak persis di sebelah kiri Masjid al-Aqsa dan termasuk bangunan tertinggi di komplek tersebut. Masjid ini disebut dengan Kubah Shakhrah karena keberadaan batu yang diyakini sebagai tempat pijakan Nabi Muhammad Saw saat melakukan mi'raj.
Di bawah batu tersebut terdapat sebuah lubang berbentuk gua batu yang bisa dipakai untuk mendirikan shalat dan oleh sebab itu, ia disebut Masjid Shakhrah. Ada 12 tiang yang berfungsi sebagai penopang kubah emas. Kubah tersebut memiliki tinggi hampir 35 meter dengan diameter 20 meter. Kubah ini berdiri di atas batu yang diyakini menjadi tempat Rasulullah berdiri sebelum peristiwa Isra Mi'raj. Di bagian dalam kubah dihiasi ayat-ayat al-Quran. Adapun di bagian luar kubah dilapisi logam khusus yang memancarkan warna kuning keemasan.
Masjid Kubah Shakhrah merupakan salah satu dari peninggalan warisan arsitektur Islam yang bernilai seni tinggi. Masjid Kubah Shakhrah memiliki empat pintu masuk. Pada umumnya pintu barat merupakan pintu masuk dan keluarnya jamaah shalat dan di bagian selatan terdapat Babul Mekkah.
Di sebelah timur Kubah Shakhrah berdiri sebuah bangunan yang disebut Kubah Silsilah atau Kubah Rantai. Sebelumnya terdapat sebuah batu besar di tempat tersebut yang diyakini sebagai singgasana Nabi Daud as untuk menemui masyarakat dan menangani berbagai permasalahan mereka serta menjelaskan hukum-hukum syariat. Kebiasaan Nabi Daud ini digambarkan dengan jelas dalam surat Sad ayat 26.
Kubah Mi'raj adalah sebuah kubah mandiri yang dibangun di sebelah utara Kubah Shakhrah. Kubah ini didirikan sebagai monumen untuk mengenang perjalanan Rasulullah Saw menuju langit. Tempat ini diyakini sebagai titik di mana Nabi Muhammad Saw naik ke langit (mi'raj).
Bagian lain yang terdapat dalam komplek Masjid al-Aqsa adalah Tembok Buraq. Tembok ini disebut Tembok Buraq karena diyakini sebagai tempat untuk mengikat Buraq pada malam mi'raj. Oleh karena itu, kaum Muslim membangun sebuah masjid dengan nama Masjid al-Buraq di tempat tersebut. Namun, warga Yahudi mengklaim bahwa Tembok Buraq merupakan bagian dari sisa-sisa Kuil Sulaiman. Warga Yahudi belum memberikan bukti apapun untuk membuktikan klaimnya itu.
Warga Yahudi menggunakan Tembok Buraq sebagai tempat untuk meratapi dan menyesali pembangkangan kaum Yahudi terhadap perintah Nabi Musa as di masa lalu. Mereka menamainya dengan "Tembok Ratapan" atau "Dinding Nudbah."
Pada tahun 1922 hingga 1948, kaum Yahudi mengklaim memiliki tempat tersebut di era imperialisme Inggris. Dengan alasan itulah mereka menduduki Palestina. Klaim ini membangkitkan kemarahan rakyat Palestina dan pecahlah Kebangkitan Buraq pada tahun 1929. Dalam kebangkitan itu, 116 warga Muslim gugur syahid dan sekitar 232 lainnya terluka dan lebih dari 1000 warga Palestina ditangkap.
Pembantaian terhadap rakyat Palestina telah mendorong lahirnya sebuah komite internasional investigasi independen. Di akhir misinya pada Januari 1930, komite tersebut mengumumkan Tembok Buraq sebagai milik kaum Muslim. Namun, rezim Zionis tetap mengklaim bahwa Masjid al-Aqsa telah dibangun di atas reruntuhan Kuil Sulaiman dan terus melakukan konspirasi untuk menghancurkan kiblat pertama kaum Muslim dan membangun kembali Kuil Sulaiman.
Ibadah merupakan salah satu rukun agama, sementara tempat terbaik dan paling mulia untuk berhubungan dengan Allah Swt adalah masjid. Di masjid, manusia dapat lebih mudah untuk membangun kontak dengan Allah dibanding tempat-tempat lain.
Oleh karena itu, masyarakat Muslim memilih beri'tikaf di Masjid dan menyibukkan diri dengan kegiatan ibadah seperti, mengerjakan shalat, berpuasa, membaca al-Quran, dan berdoa.
Spirit seluruh ajaran Islam menyeru kepada perkumpulan dan hidup bersosial, sementara mengasingkan diri dan menjauhkan dari masyarakat tidak ada tempat dalam Islam. Tapi, agama ini juga memperkenalkan i'tikaf sebagai sebuah kesempatan untuk kembali mengenali diri dan Allah Swt sehingga manusia bisa kembali merekatkan hubungan batinnya dengan Sang Pencipta.
I'tikaf adalah sebuah kesempatan untuk memeriksa kembali dan mengevaluasi kondisi jiwa dan batin manusia, dengan fokus pada kapasitas, perilaku, hati, dan pikirannya. Mereka harus merenungkan kembali bagaimana kualitas hubungannya dengan Tuhan. I'tikaf mencakup shalat, puasa, membaca al-Quran, bertaubat, dan beristighfar. Semua jenis ibadah ini memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Namun setiap jenis ibadah juga memiliki tujuan masing-masing, seperti shalat yang akan mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar, dan puasa akan memperbesar tingkat kesabaran dan mengontrol emosi. I'tikaf sendiri juga memiliki tujuan yang spesifik yaitu melatih pemutusan kontak dari segala hal selain Allah dan memfokuskan diri kepada-Nya.
Pelaku i'tikaf – selama berdiam diri di masjid – memutuskan hubungannya dengan semua perkara duniawi dan seluruh waktunya digunakan untuk ibadah. Ia tidak akan berkelana ke rumah orang lain saat sedang berada di rumah Allah, dan tidak akan menggerakkan lisannya kecuali untuk membaca firman Tuhan dan berdoa.
Pelaku i'tikaf akan menempatkan kehendaknya di jalan kehendak Allah Swt dan di sepanjang hari, ia meninggalkan makan-minum demi ridha-Nya dan menyibukkan diri dengan shalat. Ia benar-benar larut dalam penghambaan Tuhan sehingga ia berkata, "Ya Allah, berilah aku kesempurnaan perpisahan dari makhluk untuk mencapai diri-Mu."
I'tikaf adalah sebuah amalan yang dianggap bagian dari kegiatan ibadah dalam syariat Nabi Ibrahim as, dan para pengikut beliau sudah terbiasa dengan i'tikaf. Nabi Sulaiman as juga melakukan i'tikaf di Baitul Maqdis dan memfokuskan diri untuk ibadah. Nabi Musa as – di tengah tanggung jawab besar dan kesibukannya membimbing umat – meninggalkan masyarakat untuk beberapa waktu demi berkhalwat dengan Allah Swt di Bukit Tursina.
Nabi Zakaria as – sosok yang bertanggung jawab untuk mengurusi masyarakat – juga melakukan i'tikaf di Baitul Maqdis, termasuk merawat Sayidah Maryam as. Rasulullah Saw seperti para kakeknya, mengamalkan syariat Nabi Ibrahim dan salah satu ritual agama Ibrahim adalah i'tikaf. Beliau memilih Gua Hira' sebagai tempat berkhalwat dengan Allah Swt. Setelah diutus menjadi nabi dan hijrah ke Madinah, Rasul melakukan i'tikaf di Masjid Nabawi dan menyibukkan diri dengan ibadah.
Tempo dulu, sekelompok masyarakat Hijaz – yang berpegang pada agama yang lurus – juga melakukan i'tikaf dengan berkhalwat dan meninggalkan keramaian untuk beberapa waktu. Mereka menyibukkan diri dengan ibadah dan memikirkan keagungan ciptaan Tuhan dan terus berjuang mencari kebenaran.
Dalam ajaran Islam, i'tikaf adalah menetap di sebuah tempat yang suci untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. I'tikaf merupakan sebuah kesempatan emas sehingga manusia menemukan jati dirinya setelah tenggelam dalam kemegahan dunia. Para pelaku i'tikaf akan melepaskan dirinya dari belenggu materi untuk meraih rahmat, ampunan, dan kasih sayang Tuhan.
Pada akhir bulan Ramadhan, masyarakat muslim secara serentak melakukan i'tikaf dan mereka memilih tempat-tempat istimewa sebagai lokasi untuk berkhalwat seperti, Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Kufah.
Pada bagian ini, kita akan berkenalan dengan Masjid Agung Kufah, Irak yang sangat populer di tengah kaum muslim. Masjid Kufah adalah sebuah masjid besar di Dunia Islam. Bagi kaum muslim Syiah, masjid ini merupakan masjid penting keempat setelah Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqsa. Menurut beberapa riwayat, orang pertama yang mendirikan Masjid Kufah adalah Nabi Adam as dan kemudian direkonstruksi oleh Nabi Nuh as setelah badai.
Pada tahun 17 Hijriyah, pasukan Islam menduduki Madain. Saat itu kondisi air dan udara di sana sangat buruk hingga membuat tidak nyaman para tentara. Melihat kondisi tersebut, Hudzaifah melaporkannya kepada khalifah lewat sepucuk surat. Khalifah kemudian memerintahkan Sa'ad bin Abi Waqash supaya mengutus Salman dan Hudzaifah untuk mencari daerah baru yang lebih layak. Salman menelusuri daerah sebelah barat Sungai Furat sedangkan Hudzaifah sebelah timurnya. Setelah lama tidak menemukan daerah yang bagus, akhirnya mereka sampai di Kufah. Mereka sepakat bahwa Kufah adalah daerah yang tepat untuk dijadikan pangkalan militer. Mereka lalu salat dua rakaat dan berdoa pada Allah Swt agar menjadikan daerah tersebut sebagai tempat yang tenang dan kokoh.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ali as berkata kepada masyarakat Kufah, "Allah telah memberikan sesuatu kepada kalian di mana tidak diberikan kepada siapapun, Dia menganugerahkan kedudukan khusus untuk tempat ini (Masjid Kufah). Masjid ini adalah rumah Adam as, tempat Nuh, tempat tinggal Idris, tempat ibadah Ibrahim dan saudara saya, Khidr, dan salah satu dari empat masjid yang dipilih oleh Allah untuk umat-Nya. Akan datang suatu masa di mana masjid ini akan menjadi tempat shalat Imam Mahdi dan setiap orang mukmin."
Sejak awal pembangunannya, Masjid Kufah menjadi salah satu pusat penting politik dan budaya kota Kufah. Sepanjang sejarah, Masjid Kufah telah didatangi para nabi dan imam maksum di antaranya Imam Ali as, Imam Hasan, Imam Husein dan sebagian imam lainnya.
Pada tahun 36 Hijriyah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as datang ke Masjid Kufah dan beliau berkali-kali shalat dan menyampaikan ceramah di tempat mulia itu. Imam Ali as juga menggunakannya sebagai pengadilan dan pusat pemerintahan, dan pada akhirnya beliau menjemput kesyahidannya di mihrab masjid tersebut.
Begitu menetap di Kufah, Imam Ali as mengajarkan tafsir al-Quran dan ilmu-ilmu lainnya. Di sana beliau memiliki banyak murid di antaranya adalah Kumail bin Ziyad dan Ibnu Abbas. Mihrab Imam Ali as di Masjid Kufah menjadi salah satu tempat istimewa bagi kaum muslim khususnya para pecinta Ahlul Bait. Mihrab itu menjadi tempat Imam Ali mendirikan shalat dan bermunajat kepada Allah Swt.
Masjid Kufah memiliki banyak Maqam (kedudukan/tempat yang digunakan untuk beribadah) dan tempat-tempat penting yang populer di masyarakat antara lain; Rahbah Amirul Mukminin, ini adalah tempat yang dulu digunakan Imam Ali as untuk menjawab pertanyaan umat tiap sebelum shalat atau pada kesempatan lain. Dakkatul Qadza, ia adalah tempat yang digunakan Imam Ali as untuk memutuskan perkara hukum masyarakat.
Maqam Nabi Adam as. Tiang ketujuh Masjid Kufah dikenal dengan Maqam Nabi Adam. Di sana dulu Nabi Adam as bertaubat dan Allah Swt menerima taubatnya. Kemudian ada Maqam Malaikat Jibril as. Tiang kelima Masjid Kufah ditetapkan sebagai Maqam Jibril. Pada Malam Mi'raj, saat Nabi Muhammad Saw diberangkatkan oleh Allah dari Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsa, ketika melewati Kufah, Malaikat Jibril as berkata kepada Nabi Saw, “Ya Rasulallah, saat ini engkau ada di depan Masjid Kufah,” atas izin Allah Swt di sana Nabi Saw melakukan dua rakaat salat."
Maqam Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as. Tiang ketiga Masjid Kufah adalah tempat shalat Imam Sajjad. Abu Hamzah al-Tsumali berkata, “Aku melihat Ali bin Husein as memasuki Masjid Kufah dan melakukan shalat dua rakaat lalu berdoa. Saat akan kembali ke Madinah beliau ditanya seseorang, ‘Untuk apa engkau kemari? Imam menjawab, ‘Aku meziarahi ayahku dan shalat di masjid ini.'"
Tempat istimewa lain di Masjid Kufah adalah lokasi terdamparnya kapal Nabi Nuh as. Menurut sejumlah riwayat, bahtera Nabi Nuh as terdampar di Masjid Kufah setelah sekian lama melewati terjangan badai.
Salah satu ibadah khusus yang dilakukan di masjid adalah i'tikaf. Ibadah dan mengingat Allah Swt tentu saja baik dilakukan di setiap tempat dan waktu, tapi menurut sejumlah ayat dan riwayat, sebagian tempat memiliki keutamaan khusus yang punya pengaruh besar dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt dan terkabulkannya doa. Masjid – sebagai rumah Allah dan tempat paling mulia – ditetapkan sebagai satu-satunya tempat untuk i'tikaf.
I'tikaf adalah sebuah ibadah yang istimewa dan ibadah ini tidak dianjurkan untuk dilakukan di setiap masjid. I'tikaf biasanya dilaksanakan di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Kufah, dan jika tidak berkesempatan melakukan di tempat-tempat tersebut, maka ia bisa dikerjakan di Masjid Jami' di setiap daerah. Maksud dari Masjid Jami' di setiap kota atau daerah adalah tempat yang menjadi konsentrasi mayoritas masyarakat untuk menunaikan shalat dan jumlah pengunjungnya melebihi dari masjid-masjid lain di kota tersebut.
I'tikaf merupakan salah satu ritual ibadah yang paling komplit dan indah, di mana dilakukan pada kondisi dan tempat khusus. Hukum i'tikaf adalah sunnah dan seseorang boleh memilih antara melakukannya atau tidak, namun statusnya bisa berubah menjadi wajib setelah seseorang memulai dan melanjutkan i'tikaf, di mana ia tidak bisa meninggalkannya di tengah jalan.
Para fuqaha berbeda pendapat tentang waktu minimal untuk beri'tikaf. Imam Maliki dan Imam Abu Hanifah – dari fuqaha Ahlu Sunnah – berpendapat bahwa waktu minimal untuk beri'tikaf adalah satu hari satu malam. Akan tetapi, para fuqaha Syiah mengatakan i'tikaf dilakukan dalam waktu minimal tiga hari tiga malam.
Dari segi waktu, i'tikaf tidak terbatas pada waktu tertentu dan satu-satunya keharusan dari i'tikaf adalah melakukan puasa, maka ritual ini secara syariat harus dikerjakan pada waktu yang dibolehkan berpuasa. Oleh karena itu, orang yang tidak dapat berpuasa seperti musafir, sakit, atau sengaja tidak berpuasa, maka i'tikaf mereka tidak sah. Ibadah ini juga tidak bisa dilakukan pada hari-hari seperti hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, di mana puasa diharamkan.
Namun, waktu terbaik untuk melakukan i'tikaf adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Waktu lain yang baik untuk beri'tikaf adalah Ayyaamul Bidh (hari-hari putih) yaitu pada tanggal ke-13, 14, dan 15 di setiap bulan Hijriyah, di mana memiliki keutamaan untuk berpuasa.
Salah satu syarat sah i'tikaf adalah berkesinambungan hadir di masjid. Dalam hal ini, Imam Ali as berkata, "Pelaku i'tikaf tidak boleh keluar dari masjid kecuali untuk keperluan mendesak dan langsung kembali setelah ia terpenuhi." (Kitab Ushul al-Kafi, jilid 4) Beberapa dari keperluan darurat yang membolehkan pelaku i'tikaf keluar dari masjid adalah shalat Jumat, menyertai (tasyi') jenazah, besukan mendesak kepada orang sakit, memenuhi kebutuhan orang mukmin dan semisalnya.
Perlu diingat bahwa setelah kebutuhan darurat terpenuhi, pelaku i'tikaf tidak boleh berdiam diri di luar dan harus segera kembali ke tempat i'tikaf. Masalah pemenuhan kebutuhan seorang mukmin benar-benar sangat penting di mana pelaku i'tikaf diperbolehkan untuk keluar dari masjid dan langsung kembali setelah tugas tersebut selesai. Tugas mulia ini dianggap bagian dari i'tikaf dan tidak terpisah darinya.
Maimun bin Mehran mengisahkan bahwa suatu hari aku bersama Imam Hasan as melakukan i'tikaf di masjid dan aku duduk di sampingnya ketika seorang laki-laki datang dan berkata, "Wahai putra Rasulullah Saw, aku punya utang pada seseorang dan ia ingin menyeretku ke penjara." Imam Hasan menjawab, "Sekarang aku tidak punya uang untuk melunasi utangmu." Orang tersebut lalu berkata, "Ikutilah aku untuk berbicara dengannya."
Imam Hasan as kemudian memakai sepatunya dan langsung bergerak. Aku (Maimun bin Mehran) berkata kepada beliau, "Wahai putra Rasulullah, apakah engkau telah melupakan i'tikafmu?" Imam menjawab, "Aku tidak lupa, tapi aku mendengar ayahku berkata bahwa Rasul Saw bersabda, 'Barang siapa yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan saudaranya seagama, maka ia seperti telah beribadah kepada Allah selama seribu tahun, di mana hari-harinya diisi dengan puasa dan malam-malamnya dengan shalat.'"
Pada kesempatan ini, kita akan mengenal lebih jauh tentang Masjid Kufah sebagai salah satu dari empat masjid agung di dunia Islam. Diriwayatkan bahwa suatu hari, Imam Jakfar Shadiq as turun dari tunggangannya ketika sudah mendekati Masjid Kufah. Para sahabat lalu bertanya kepada beliau seputar alasan dari tindakan itu, Imam Shadiq as berkata, "Di sini adalah batas Masjid Kufah dan batasan ini ditentukan oleh Nabi Adam as, dan aku tidak suka masuk ke batasan ini dengan tunggangan."
Perawi kemudian bertanya, "Jika batas Masjid Kufah seperti yang engkau jelaskan, lalu apa yang membuat ia berubah?" Imam Shadiq menjawab, "Penyebab utama perubahan ini adalah badai pada masa Nabi Nuh as. Kemudian raja-raja Khosrow, Nu'man bin Munzir, dan kemudian Ziyad bin Abu Sufyan melakukan beberapa perubahan." (Man la yahduruhu al-Faqih, jilid 1)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Masjid Kufah sudah ada sejak zaman Nabi Adam as sebagai tempat ibadah. Namun terjadi perubahan di sepanjang sejarah dan dilakukan pemugaran di berbagai periode. Masjid Kufah memiliki luas lebih dari 11.000 meter persegi dan dindingnya setinggi 10 meter. Halaman terbuka masjid adalah 5.642 meter persegi, dan luas shabistan (ruang utama shalat pada malam hari) adalah 5.520 meter persegi.
Masjid ini dipercantik dengan 187 buah pilar dan empat menara dengan ketinggian 30 meter. Ia memiliki lima gerbang dengan nama masing-masing Bab al-Sudda (atau lebih dikenal Bab Amirul Mukminin), Bab Kinda, Bab al-Anmat, Bab al-Fil, dan Bab al-Thu'bān.
Masjid Kufah menjadi tempat di mana Imam Ali as terluka parah oleh pukulan pedang beracun Abdurrahman Ibnu Muljam saat bersujud dalam shalat subuh. Imam Ali aktif melakukan shalat di masjid tersebut dan menyampaikan khutbah, dan pada akhirnya beliau gugur syahid di tempat suci ini. Di luar masjid terdapat makam Muslim ibn 'Aqil, Hani bun Urwah, dan Mukhtar al-Thaqafi.
Sejak awal berdiri, Masjid Kufah merupakan pusat pendidikan dan kebudayaan kota. Ketika Imam Ali as datang ke Kufah pada tahun 36 Hijriyah, pertama kali yang dikunjunginya adalah Masjid Kufah. Di sana beliau menyampaikan ceramah kepada masyarakat. Begitu menetap di Kufah, Imam Ali as mengajarkan tafsir al-Quran dan ilmu-ilmu lainnya di tempat tersebut. Di sana beliau memiliki banyak murid di antaranya Kumail bin Ziyad dan Ibnu Abbas.
Muslim ibn 'Aqil adalah cucu Abu Thalib dan sepupu Imam Husein as dari kabilah Bani Hasyim. Pada masa Imam Husein, Muslim ditunjuk sebagai wakilnya untuk mengevaluasi situasi dan pengambilan baiat dari masyarakat Kufah. Ia berangkat ke kota tersebut dan mampu mengumpulkan 18.000 orang yang menyatakan kesetiaan kepada Imam Husein as.
Namun, situasi berubah seketika dengan pengangkatan dan pelantikan Ubaidillah bin Ziyad sebagai penguasa Kufah. Pengangkatan ini membuat penduduk Kufah ketakutan sehingga mencabut dukungan mereka kepada Muslim bin 'Aqil. Tidak lama kemudian, Muslim bin Aqil berhasil ditangkap dan atas perintah Ubaidillah ia dibunuh pada hari Arafah tahun 60 Hijriyah.
Pasca kesyahidan Muslim bin Aqil, Ibnu Ziyad juga memerintahkan untuk membunuh Hani bin ‘Urwah. Kepala kedua orang tersebut yang telah dipisahkan dari tubuhnya, kemudian dibawa ke Syam untuk diperlihatkan kepada Yazid bin Muawiyah.
Daftar Isi:
Fungsi dan Peran Masjid 1
Fungsi dan Peran Masjid (1) 2
Fungsi dan Peran Masjid (2) 8
Fungsi dan Peran Masjid (3) 14
Fungsi dan Peran Masjid (4) 20
Fungsi dan Peran Masjid (5) 26
Fungsi dan Peran Masjid (6) 31
Sejarah Masjid Nabawi 33
Fungsi dan Peran Masjid (7) 37
Sejarah Singkat Masjid al-Aqsa 39
Fungsi dan Peran Masjid (8) 43
Bagian-bagian Penting Masjid al-Aqsa 44
Fungsi dan Peran Masjid (9) 48
Keutamaan Masjid Kufah 50
Fungsi dan Peran Masjid (10) 54
Mengenal Masjid Kufah 56