Filosofi Hukum dalam Islam
Bagian(2)
Hari ini tanggal 15 Ramadhan bertepatan dengan hari kelahiran salah satu cucu Rasulullah Saw, Imam Hasan Mujtaba as, akan manyajikan topik mengenai puasa yang memiliki sejarah panjang dan bukan hanya khusus untuk umat Islam, tapi juga sudah ada sejak umat terdahulu.
Allah Swt berfirman di surah al-Baqara ayat 183 yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Ayat ini juga menunjukkan bahwa puasa juga termasuk ibadah agama besar Ilahi lainnya. Dengan mempelajari Taurat dan Injil yang ada juga disebutkan ibadah puasa telah diwajibkan di antara umat Yahudi dan Nasrani serta umat-umat lainnya.
Di Taurat disebutkan, Ketika saya datang ke gunung, di mana saya diberi lauh (tablet batu), yaitu lauh perjanjian yang Allah buat dengan kalian, saya tinggal di gunung selama empat puluh hari dan empat puluh malam, tidak makan atau minum air.
Selain itu juga disebutkan, Kebanyakan orang Yahudi berpuasa pada saat mereka ingin menunjukkan ketidakberdayaan mereka kepada Allah untuk mengakui dosa-dosa mereka. Dan dengan bertaubat mereka meraih keridhaan Allah Swt.
Puasa setahun sekali telah menjadi tradisi di antara umat Yahudi. Ada juga puasa harian dan wakut singkat untuk memperingati bencana Jerusalem serta kasus serupa.
Selain dari ajaran Yahudi, puasa juga menjadi tradisi di kaum Nasrani. "Ketika Isa diperintahkan Tuhan pergi ke padang belantara dan iblis meminta supaya dapat mengujinya...Kemudian ia berpuasa selama 40 hari. (Injil Matta, bab 4) Hawariyun , setelah Nabi Isa, juga berpuasa. Seperti disebutkan di Injil:"Mereka mengatakan bahwa bagaimana murid Yahya senantiasa berpuasa, namun murid dan pegikutmu makan dan minum?...Tapi akan datang suatu hari mereka juga berpuasa." (Injil, Bab 5)
Hal ini juga patut dicatat bahwa meski puasa seperti yang dijelaskan oleh al-Quran juga ada di umat sebelum Islam dan juga sebuah kewajiban, namun tidak ada kesamaan di tata caranya mengingat kondisi geografi dan waktu. Dapat dikatakan bahwa etika puasa di Islam tidak dapat disamakan dengan agama Samawi yang lain dan etika ini khusus untuk agama Islam. Misalnya di antara pengikut agama sebelumnya berpuasa terbatas pada menghindari memakan daging atau susu atau tidak makan dan minum secara total. Al-Quran juga menyebutkan kisah puasa Nabi Zakaria dan Sayidah Maryam (puasa tidak berbicara).
Kita juga mengetahui bahwa pengikut agama sebelumnya dan di antara kaum di berbegai belahan dunia seperti Mesir dan Yunani serta Romawi kuno, puasa juga marak dan bahkan penyembah berhala pun juga meyakini puasa serta saat ini mereka tetap menjalankan puasa menurut keyakinannya. Dengan demikian puasa dan berpuasa sebuah ibadah yang ada di seluruh agama Ilahi dan bahkan agama non Ilahi. Namun pertanyaannya adalah apa filosofi puasa dan berpuasa?
Di fase terakhir ayat 183 Surah al-Baqara yang sebelumnya telah kami sebutkan, dan setelah Allah berfirman Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu...disebutkan alasan terpenting kewajiban puasa yakni supaya kamu bertakwa.
Meski ada banyak alasan untuk efek spiritual dan pendidikan dari puasa dalam teks dan riwayat Islam, namun al-Quran sangat menekankan efek takwa dari yang lainnya. Hal ini karena, jika takwa Ilahi telah tertanam pada seseorang, seluruh nilai moral dan manusiawi akan termanifestasi di manusia seperti ini dan mereka akan terhindar dari mereka.
Untuk memahami seberapa penting posisi dan peran menentukan takwa, kita cukup memahami bahwa di al-Quran kalimat takwa disebutkan sebanyak 17 kali. Pertanyaan pertama yang muncul adalah, apa arti takwa? Takwa adalah kekuatan spiritual yang muncul dari pergulatan terus-menerus dengan hawa nafsu dan godaan setan. Kondisi ini membuat spiritual semakin kuat dan terlindungi.
Rasulullah Saw bersabda, "Siapa saja yang menjadikan takwa sebagai kondisi hariannya, maka ia mendapat kebaikan dunia dan akhirat." Imam Ali berkata, "Takwa kunci kebaikan dan cadangan hari Kiamat, faktor kebebasan dari segala bentuk perbudakan dan juga faktor keselamatan dari kehancuran."
Oleh karena itu, takwa memainkan peran penting di seluruh perilaku dan sikap individu serta masyarakat di seluruh bidang. Melalui takwa, para wali Allah meraih derajat tinggi malakuti.
Imam Ali as berkata,"Takwa Ilahi membuat para Wali Allah berada di bawah lindungan Tuhan serta mencegah mereka melanggar larangan-Nya dan hati mereka takut melanggar perintah-Nya."
Allah Swt di Surah Yunus ayat 62-64 berfirman, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar."
Mengingat ajaran ini akan jelas bahwa mengapa Tuhan menyebutkan takwa sebagai salah satu alasan terpenting dan filosofi kewajiban puasa. Yakni supaya kita mampu meraih derajat tinggi seperti wali Allah melalui rahmat Ilahi ini.
Puasa jamak dilakukan di antara seluruh agama langit, kaum dan bangsa-bangsa, bahkan di kalangan para penyembah berhala, tetapi tidak diragukan bahwa puasa dalam Islam memiliki kelebihan tersendiri dalam dimensi kuantitas dan kualitas, sehingga membuatnya berbeda dari yang dilakukan di luar Islam.
Sebelumnya, kita telah mengingatkan bahwa puasa jamak dilakukan di antara seluruh agama langit, kaum dan bangsa-bangsa, bahkan di kalangan para penyembah berhala, tetapi tidak diragukan bahwa puasa dalam Islam memiliki kelebihan tersendiri dalam dimensi kuantitas dan kualitas, sehingga membuatnya berbeda dari yang dilakukan di luar Islam. Untuk mengetahui lebih lanjut dari posisi ini, akan dikutip sejumlah hadis. Allah Swt untuk menunjukkan keagungan puasa di sisi-Nya berfirman, "Puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahalanya." (Al-Kafi: 6/63/4)
Perlu diperhatikan bahwa Allah tidak pernah menyampaikan ungkapan seperti ini terkait ibadah yang lain. Dalam menganalisa masalah ini akan dibeberkan dua pandangan; pertama, semua ungkapan seperti shalat, khususnya shalat berjamaah dan jumat, atau ibadah haji memiliki tampilan lahiriah, di mana hama bernama riya bisa saja mempengaruhinya, sehingga merusak keikhlasan dan bahkan bercampur kesyirikan. Tetapi dalam puasa, munculnya kemungkinan seperti ini sangat kecil, karena tidak ada penampakan lahiriahnya. Dalam ibadah puasa prosentase keikhlasan dalam melaksanakannya sangat kuat. Karena Allah hanya menerima perbuatan yang didasari keikhlasan, Allah menisbatkan puasa kepada diri-Nya.
Pandangan kedua yang dapat disampaikan dalam masalah ini bahwa tidak ada perbuatan ibadah lain seperti puasa di mana manusia menunjukkan tahapan penghambaannya dengan menjaga semua keharusan dan ketidakharusa di sisi Allah. Seorang yang berpuasa akan melaksanakan apa saja yang diperintahkan Allah tanpa ada yang kurang. Karenanya dapat dikatakan bahwa bulan suci Ramadhan adalah bulan di mana manusia melatih dirinya melakukan ibadah dan penghambaan kepada Allah. Bahkan mungkin juga dengan alasan ini, Allah menisbatkan puasa kepada dirinya dan berfirman, "Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus." (QS. Yasin: 61)
Berpuasa yang seperti ini dengan meletakkan kepala pada penghambaan ilahi mendapat pujian para malaikat, khususnya ketika mereka menyaksikan ada sekelompok manusia yang bermaksiat dan keluar dari lingkaran penghambaan kepada Allah.
Rasulullah Saw dalam hal ini bersabda, "Tidak ada orang berpuasa yang melewati sekelompok orang yang menyepelekan kesucian bulan Ramadhan, yang sedang menyantap makanan, kecuali seluruh anggota badannya mengucapkan tasbih dan malaikat mengucapkan salam kepadanya. Salam mereka adalah memohon ampunan di sisi Allah." (Tsawab al-A'mal, 1/7701/75)
Dalam suasana yang begitu membangkitkan semangat dan penuh harapan, bagian spiritual, yang memiliki warna dan aroma surgawi, menemukan semua pencitraan khusus dan menunjukkan tahapan penghambaan manusia dalam seluruh perilaku manusia yang berpuasa yang dilakukan dengan keikhlasan dan tanpa dibuat-buat atau riya.
Berdasarkan cara pandang ini, Imam Shadiq as berkata, "Orang yang berpuasa, tidurnya terhitung ibadah, diammnya termasuk tasbih dan perbuatannya diterima serta doanya akan dikabulkan." (Al-Faqih: 2/76/1783)
Dalam sistem alam dan syariat ilahi, setiap perbuatan baik layak mendapat pahala dan Allah yang Maha Pengasih terkadang memberikan pahala kepada manusia lebih dari apa yang dilakukan dan kelayakannya berdasarkan keutaman dan kedermawanan-Nya. Rasulullah Saw yang merupakan perwujudan dari rahmat Allah yang tak terbatas, bersabda, "Siapa pun yang berpuasa suatu hari dengan cinta dan motivasi ilahi, jika ia diberi emas sebanyak seluruh (tambang) bumi, ia tidak akan menerima pahalanya secara penuh dan hanya di hari perhitungan (dan kiamat) dia akan menerima hadiah penuhnya." (Ma'ani al-Akhbar, 91/409)
Manifestasi lain dari janji-janji pasti Allah kepada orang beriman yang telah melakukan amal saleh adalah memasuki surga yang dijanjikan dan kekal. Surga di mana kita hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang semua dimensi kuantitatif dan kualitatifnya, dan setiap manusia ingin memasukinya di akhirat dan cita-cita ini terkait orang yang berpuasa akan menjadi kenyataan.
Dalam hal ini Imam Shadiq as berkata, "Manusia yang berpuasa sehari karena menginginkan pahala dari Allah, dengan sebab itu, Allah akan memasukannya ke surga." (Al-Kafi, 5/63/4)
Meskipun memberikan pahala dari Allah kepada manusia memotivasi, mengilhami dan menghibur mereka, tetapi sekelompok manusia yang berpikir mendalam yang memiliki tujuan dan cita-cita besar, motivasi mereka melampaui penyembahan surga dan semua daya tariknya, dan tujuan utama mereka adalah untuk mendapatkan keridhaan ilahi. Yaitu, mereka tidak menyembah Tuhan dengan keserakahan surga dan sifat-sifatnya yang unik dan langgeng, juga tidak melaksanakan aturan penghambaan di hadapan Allah karena takut akan neraka dan api yang menyala-nyala, tetapi semua perhatian mereka adalah untuk mencapai posisi tinggi dari keridhaan Allah. Posisi agung yang ideal bagi semua orang suci ilahi yang istimewa.
Sekaitan dengan hal ini, al-Quran mengatakan, "Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS. Al-Taubah: 72)
Oleh karena itu, dengan pandangan yang tinggi ini, kita harus mencoba untuk memberikan tujuan dari semua tindakan ibadah kita, terutama di bulan suci Ramadhan, yang merupakan bulan Allah, didedikasikan kepada-Nya, seperti puasa, ibadah di malam hari, membaca doa dan bermunajat, membaca al-Quran dan bertadabur dan seluruh perilaku dan ucapan kita harus mendapat keridhaan Allah. Bila kita berhasil mencapainya, menurut al-Quran kita sampai pada kemenangan, kesuksesan dan keberhasilan besar.
Pandangan dunia tauhid mengajarkan kepada kita untuk selalu memikirkan tujuan-tujuan transenden dan menghindari pandangan yang dangkal. Ini adalah indikator penting yang harus menjadi parameter dalam menyusun program kehidupan kita, khususnya hal-hal yang menyangkut perbuatan ibadah.
Dalam urusan ibadah, kita harus berusaha mencapai Dzat yang kita sembah dan kedekatan khusus dengan-Nya. Allah Swt berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (Al-Inshiqaq, ayat 6)
Jelas bahwa untuk mencapai tujuan yang tinggi, manusia membutuhkan tekad yang kuat dan kerja keras. Tentu mereka tidak memiliki posisi yang sejajar dalam masalah ini dan tekad setiap orang berbeda-beda.
Di jalan penghambaan Tuhan, sebagian orang hanya puas dengan ibadah lahiriyah dan sebatas melaksanakan kewajiban, namun sebagian yang lain juga menaruh perhatian pada aspek batiniyah ibadah dan melalui cara ini, mereka berusaha mencapai derajat yang paling tinggi dan kedekatan dengan Tuhan.
Atas dasar ini, tingkatan berpuasa dapat dibagi menjadi tiga tahap: Pertama, puasa yang dilakukan oleh orang awam dan hanya menghindari larangan lahiriyah yang bisa membatalkan puasa seperti, meninggalkan makan dan minum serta tidak berhubungan badan.
Imam Ali as mengenai golongan ini berkata, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Tidak diragukan lagi bahwa tujuan Tuhan mewajibkan ibadah adalah supaya manusia tidak hanya merasa cukup pada aspek lahiriyah, tetapi tujuan utamanya adalah memperhatikan roh dan kualitas ibadah. Allah Swt berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adh-Dhariyat, ayat 56)
Pada ayat lain, Allah berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Al-Mulk, ayat 2)
Allah Swt tidak berfirman bahwa siapa yang paling banyak beramal (kuantitas), tetapi berkata bahwa Aku ingin menguji kalian siapa yang paling baik amalnya (kualitas). Salah satu cara efektif untuk meningkatkan kualitas ibadah adalah memahami dengan baik filosofi dan hakikat penghambaan Tuhan, yang biasanya luput dari perhatian orang-orang awam.
Imam Ali as berkata, “Ibadah yang tidak disertai dengan pengetahuan dan makrifat, maka tidak ada kebaikan di dalamnnya.” (Kitab Tuhaf al-Uqul, hal 204)
Namun, jangan salah mengambil kesimpulan sehingga meninggalkan kewajiban syar’i dengan alasan Tuhan menginginkan kualitas ibadah dari manusia. Di sini, kita diminta untuk berusaha meningkatkan kualitas ibadah secara terus-menerus.
Kedua, orang-orang yang berpuasa yang tidak hanya merasa puas dengan mengerjakan lahiriyah ibadah, tetapi mereka juga berusaha untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditetapkan untuk orang yang berpuasa.
Rasulullah Saw dalam khutbah Sya’baniah yang disampaikan untuk menyambut bulan Ramadhan, menyebut beberapa tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh orang yang berpuasa.
Rasulullah dalam khutbahnya berkata, “Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin, muliakanlah orang-orang tuamu, kasihanilah anak-anak kecil, dan sambunglah tali persaudaraanmu.
Jagalah lisanmu. Tahan pandanganmu dari yang tidak halal kami memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kami mendengarnya. Kasihanilah anak-anak yatim orang lain, seperti menyayangi anak-anak yatim kalian.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah kedua tanganmu untuk memanjatkan do’a dalam setiap waktu shalat, karena itu adalah waktu yang paling utama, di saat Allah memandang hamba-Nya dengan penuh rahmat. Dia menjawab mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai Manusia! Sesungguhnya jiwa-jiwa kalian tergadaikan dengan amal perbuatan kalian, maka tebuslah dengan istighfar. Tulang punggung kalian berat karena dosa, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujud…”
Ketiga, puasa hati yaitu selain memenuhi kewajiban lahiriyah puasa dan meninggalkan larangannya, manusia juga memenuhi hatinya dengan iman kepada Allah Swt dan menenangkan hatinya dengan berzikir kepada-Nya.
Mereka membersihkan hatinya dari segala bentuk syirik dan pemikiran kotor. Hati mereka adalah manifestasi dari kesucian, keutamaan, serta nilai-nilai luhur akhlak dan kemanusiaan. Hati yang bersih ini akan diterima oleh Tuhan dan mendapat perhatian khusus dari-Nya.
Imam Ali as berkata, “Barang siapa yang membersihkan hatinya, Allah akan memandangnya dengan kasih sayang.”
Nabi Musa as dikenal dengan munajat irfani dan dialog-dialognya dengan Tuhan. Pada suatu hari, ia bertanya kepada Allah Swt, “Wahai Tuhanku, siapakah orang yang akan Engkau lindungi pada hari ketika tidak ada lagi tempat berlindung kecuali perlindungan-Mu?” Tuhan berfirman kepadanya, “Orang-orang yang bersih hatinya.”
Oleh karena itu Rasulullah Saw dalam khutbah Sya’baniyah berkata, “Maka mintalah kepada Allah Rabbmu di hari-hari tersebut dengan niat yang tulus dan hati yang suci. Semoga Allah membimbingmu dalam menjalankan puasa-Nya dan membaca kitab suci-Nya.”
Orang-orang yang berpuasa dengan hati yang suci, berarti mereka telah memperhatikan aspek lahiriyah dan batiniyah puasa sekaligus. Mereka tidak hanya menjaga anggota badannya dari perbuatan dosa, tetapi tidak pernah memikirkan dosa dan memanfaatkan momentum Ramadhan dengan maksimal sehingga dengan bekal takwa, mempererat kedekatannya dengan Allah Swt.
Tingkatan puasa yang ketiga ini disebut sebagai puasa khawasul khawas yaitu puasa yang dilakukan oleh orang-orang khusus dan para ‘arif.
Pada artikel sebelumnya telah disampaikan beberapa tema seperti puasa adalah ibadah yang telah lama ada di tengah umat manusia, khususnya di antara pengikut agama-agama samawi dan kaum yang lain, dan posisi puasa dalam budaya Islam serta derajat puasa.
Pada kesempatan kali ini, kita akan membicarakan mengenai pengaruh konstruktif dan pendidikan puasa. Salah satu kelebihan pengaruh puasa yang paling penting adalah menciptakan budaya penghambaan ilahi. Yakni, orang yang berpuasa selama sebulan telah melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhkan dirinya dari larangan-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Swt berfirman, "Wahai hamba-Ku, taatilah Aku agar engkau kujadikan seperti-Ku. Aku berkehendak maka jadilah dan engkau juga seperti Aku ketika engkau berkehendak, maka jadilah." (Mizan al-Hikmat, 47/1176)
Tidak diragukan lagi, bila seorang hamba mencapai posisi seperti itu, ia harus memiliki karakteristik khusus dan menonjol. Rasulullah Saw dalam hal ini mengatakan, "Hamba hakiki Allah adalah seorang yang menaati dan melaksanakan perintah Allah menjadi manis di jiwanya dan tidak ada kelezatan yang lebih tinggi dari menyampaikan cinta kepada Allah. Ia menyampaikan hajatnya hanya kepada Allah yang tidak membutuhkan apa dan siapapun dan membuka hikayat hatinya kepada Allah serta bertawakal kepada-Nya." (Al-Bihar, 1/225)
Bulan Ramadhan yang merupakan bulan latihan penghambaan di hadapan Allah dapat memiliki peran efektif dalam membentuk ciri khas ini. Imam Husein as berkata, "Barangsiapa yang melaksanakan hak ibadah Allah, niscaya Allah akan memberikan lebih dari apa yang diinginkannya." (Al-Bihar, 68/184)
Putri Rasulullah Saw yang tumbuh dan dididik pusat kenabian dan imamah berkata, "Seseorang yang mengirimkan ibadahnya yang ikhlas kepada Allah, niscaya Allah yang Pengasih akan mengirimkan maslahat terbaik kepadanya. ('Iddah al-Da'i, 233)
Efek konstruktif lain dari puasa selama bulan suci Ramadhan adalah peran ajaran agama, terutama ajaran agama Islam. Dalam sistem Marxis, agama menjadi candu masyarakat. Beberapa orang yang mengenal agama-agama yang telah terdistorsi atau berbagai aliran yang dibuat manusia mempertanyakan mempertanyakan peran agama, yang dalam hal ini, bulan suci Ramadhan, sebagai contoh yang jelas dan menonjol dan tidak dapat disangkal, membatalkan semua kesalahpahaman yang anti-agama. Karena kenyataan bahwa di bulan ini, di samping berkembangnya spiritualisme, semangat empati dan kepatuhan terhadap nilai-nilai moral dan manusia yang tinggi serta penghindaran hal-hal yang anti nilai dalam semua perilaku individu dan sosial, dan sebagai hasilnya, statistik dari banyak kejahatan dan berbagai kerugian sangat berkurang dan mewujudkan peran agama lebih dari sebelumnya.
Lord Avibury, penulis Perancis menggambarkan peran agama dalam tulisannya, "Agama memberi tahu kita untuk bermartabat, terhormat, dan suci dalam hidup kita. Jangan menyerahkan ikhtiar kita pada hawa nafsu dan jangan membakar jiwa kita dalam api ketamakan dan jangan menghancurkan asa orang lain dengan penindasan. Agama mengajarkan kepada kita, "Mari kita habiskan hidup kita dengan kebajikan dan menjadikan kesalehan sebagai panduan kita, sehingga jiwa kita bisa tenang dan hati nurani kita bisa tenang, dan kita bisa disirami oleh sumber kebahagiaan."
Memperkuat kehendak dan kesabaran adalah efek pendidikan lain dari puasa. Dalam setiap kasus, ketika dua faktor ini ada, hasilnya selalu cemerlang dan memberikan harapan. Dalam urgensi keduanya, cukuplah ketika Allah berfirman kepada Nabi-Nya, "Maka bersabarlah kamu seperti para nabi Ulul Azmi bersabar." (QS. Al-Ahqaf: 35)
Sebenarnya, puasa adalah praktik kemauan dan kesabaran. Karena orang yang berpuasa secara sukarela memutuskan untuk menolak semua keinginannya selama dia berpuasa dengan menunggu. Menurut hierarki kesabaran yang digambarkan oleh Rasulullah Saw sebagai berikut, "Kesabaran untuk tugas, kesabaran untuk kepatuhan dan kesabaran untuk dosa."
Di satu sisi, orang yang berpuasa menaati perintah ilahi selama bulan Ramadhan, dan di sisi lain, ia menghindari dosa dan ketidaktaatan kepada Allah, yang membutuhkan kesabaran dari keduanya. Sebagaimana al-Quran menyebutkan, "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 153)
Pada hari setelah kebangkitan, ketika perhitungan perbuatan baik akan dipertimbangkan untuk semua manusia, salah satu kelompok yang akan diberi ganjaran oleh Tuhan tanpa memperhitungkannya adalah yang bersabar. Allah Swt dalam al-Quran berfirman, "Sesungguhnya Allah memberikan pahala orang-orang yang bersabar tanpa dihitung." (QS. Al-Zumar: 10)
Tentu saja, persyaratan dari imbalan semacam itu adalah menanggung kesulitan atas kepatuhan dan menghindari segala jenis dosa dan maksiat, di mana orang yang berpuasa harus memiliki dua sifat ini.
Imam Baqir as berkata, "Surga tersembunyi di antara kesulitan dan kesabaran dan seseorangyang menunjukkan kesabarannya dalam menghadapi berbagai masalah di dunia akan memasuki surga."
"Hancurkan rantai kebiasaan" termasuk salah satu dari capaian lain puasa. Puasa faktor paling berpengaruh yang dapat membebaskankita dari berbagai rantai kebiasaan. Puasa mengajarkan manusia bahwa segala kebiasaannya tidak pernah menjadi hal yang prinsip dan alami, sehingga manusia tidak bisa meninggalkannya, tetapi semua itu adalah urusan yang dipaksakan kepada manusia.
Puasa menunjukkankepada manusia bahwa bila seseorang telah mengambil keputusan dan punya kehendak serius, ia dapat melepaskan rantai kebiasaan dari pundaknya tanpa mengalami kerugian. Ketika perubahan ini telah tampak dalam diri manusia, secara perlahan-lahan ia akan melangkah lebih di atas kebiasaan pribadi dan mampu untuk mengobati kebiasaan salah masyarakat dan sebabnya. Kebiasaan salah, terpolusi dosa dan khurafat merupakan kelemahan akan kehendak dan kesadaran serta hati nurani yang telah dipaksakan oleh sistem rusak arogan.
Waktu subuh di Masjid Kufah hari ini, pedang kebodohan dan fanatisme membabi buta milik kelompok orang berpikiran dangkal itu, menebas kepala suci Imam Ali as, manifestasi iman dan keadilan, kesucian dan keutamaan, jihad dan keberanian, pengetahuan dan kesadaran, sehingga ratusan kali penyesalan muncul akibat aliran pemikiran menyimpang, dan membahayakan mereka sepanjang sejarah.
Kebodohan itu juga telah memberikan pukulan telak ke tubuh Dunia Islam, yang salah satu bukti paling jelas di masa kini adalah kelompok Takfiri dan Daesh yang mengaku suci, dan mendapat dukungan musuh Islam, mereka melakukan semua kejahatan, dan menumpahkan darah ribuan manusia tak bersalah.
Sebagaimana diketahui dalam sistem ideal dan adil Islam, tidak boleh ada sedikitpun tanda-tanda ketidakadilan, diskriminasi, dan kesejangan sosial, tidak boleh ada sedikitpun jejak kemiskinan, dan kesengsaraan dari kelompok tidak mampu. Lalu mengapa justru yang kita saksikan bertolak belakang dengan program dan kebijakan makro serta strategis Islam, mengapa kita tidak melihat tujuan dan cita-cita luhur Ilahi dan manusiawi di dunia Islam ?
Untuk menjawab pertanyaan ini harus kita katakan bahwa dalam sistem ekonomi Islam yang adil, dengan sejumlah banyak aturan yang telah ditetapkan Allah Swt dalam hal kekayaan dan aset berlimpah orang-orang kaya, jika mereka mengamalkan kewajiban agama dan kemanusiaannya, dapat dipastikan tidak akan tampak sedikitpun jejak kemiskinan dalam masyarakat Islam.
Namun disayangkan hari ini, dikarenakan sifat menumpuk kekayaan yang dilakukan para konglomerat tak berperasaan, para penguasa otoriter yang menduduki kekuasaan secara tidak sah, melanggar hak kaum tertindas dan merampok aset publik, telah tercipta kesenjangan sosial yang dalam dan mengerikan di tengah masyarakat, sehingga menyebabkan segelintir orang berada di puncak kesejahteraan, dan kenikmatan materi, sementara mayoritas masyarakat hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan.
Pada kondisi mengenaskan, anti-Islam dan anti-kemanusiaan seperti ini, orang-orang beriman yang sedang berpuasa ingin membantu fakir miskin. Puncak kepedulian terhadap sesama ini muncul di bulan suci Ramadhan, ketika orang-orang yang berpuasa dengan sebenarnya merasakan tanggung jawab lebih besar dari sebelumya, dan terjun membantu orang-orang yang membutuhkan.
Agama Islam menggambarkan kewajiban praktis setiap manusia yang beriman sebagai berikut,
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّـهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَـٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al Baqarah ayat 177)
Oleh karena itu, perbuatan dan kewajiban ibadah akan bernilai ketika manusia merasa bertanggung jawab atas orang-orang lapar, orang-orang telanjang, orang-orang yang terlilit utang, dan tanpa perlindungan, bukan saja tidak tinggal diam, mereka juga membantu sesuai kemampuan. Jelas bahwa tanggung jawab ini berada di pundak orang-orang kaya, lebih dari kalangan masyarakat lainnya.
Jika seseorang tidak merasakan tanggung jawab agama dan kemanusiaan ini, maka ia tidak layak disebut Muslim. Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad Saw, barangsiapa bangun dari tidur, dan tidak berpikir untuk menyelesaikan permasalahan umat Islam, maka ia bukan Muslim.
Benar bahwa berpuasa menahan lapar dan haus selama sebulan penuh juga harus merasakan penderitaan orang-orang yang kelaparan dengan segenap wujudnya, dan bersegera menolong mereka. Rasulullah Saw bersabda, pekerjaan paling terpuji di sisi Allah Swt ada tiga, mengenyangkan Muslim yang lapar, membayarkan utang orang-orang yang dililit utang, dan menyingkirkan kesedihan mereka. (Al Mahasin, 294)
Terlepas bahwa memenuhi kebutuhan orang-orang fakir terutama mereka yang hidup secara terhormat adalah kewajiban agama dan kemanusiaan setiap Muslim, namun bagi orang-orang kaya yang diberikan nikmat oleh Allah Swt, hal itu adalah ujian Ilahi, dan sebagai bentuk rasa syukur, mereka menginfakkan, menyedakahkan dan membantu orang-orang yang membutuhkan yang terpaksa mengulurkan tangannya kepada orang lain karena sulitnya kehidupan.
Dikutip dari Imam Baqir as, dalam sebuah munajat, Allah Swt berfirman kepada Nabi Musa as, Hai Musa hormatilah para peminta-minta dengan pemberian sedikit, dan perlakuan yang indah. Karena orang-orang yang memohon bantuan kepadamu, bukanlah manusia atau jin, mereka adalah para malaikat yang datang dari sisi Allah Swt, agar mereka mengujimu dengan apa yang sudah Kami berikan kepadamu, dan mereka meminta kepadamu sesuatu yang sudah Kami berikan. Maka dari itu wahai Putera Imran, berhati-hatilah bagaimana engkau memperlakukan mereka. (Al Kafi jilid 2 hlmn 15)
Salah satu bukti nyata dari munajat itu adalah kisah nazar Ahlul Bait as yang berpuasa selama tiga hari berturut-turut demi kesembuhan Imam Hassan dan Imam Hussein as. Dua hari pertama saat tiba waktu berbuka datang seorang miskin yang meminta bantuan. Saat itu Imam Ali, Sayidah Fatimah Zahra as dan kedua puteranya memberikan roti kepadanya, dan menjalani puasa dengan perut lapar.
Di hari kedua, saat tiba waktu berbuka, seorang yatim datang dan meminta bantuan, dan Ahul Bait as kembali memberikan roti yang akan mereka makan untuk berbuka, kepadanya. Hari ketiga kejadian serupa terjadi, seorang tawanan perang mendatangani Ahlul Bait as dan meminta bantuan saat berbuka, dan Ahlul Bait memberikan roti kepadanya.
Nabi Muhammad Saw di akhir peristiwa itu mendatangi Ahlul Bait as, dan menyaksikan mereka dalam keadaan yang sangat lapar sehingga tampak begitu pucat, saat itu turun Surat Al Insan kepada Rasulullah Saw, yang ayat 8-9 surat ini dikhususkan untuk kisah Ahlul Bait as yang memberikan makanan berbukanya kepada orang miskin, yatim dan tawanan perang.
Poin penting yang bisa kita petik dari ayat 9 surat Al Insan adalah Ahlul Bait as bersabda, kami memberikan makanan kepadamu hanya demi ridha Allah Swt, dan kami sama sekali tidak mengarapkan balasan atau terimakasih.
Hari-hari dan malam-malam ini bertepatan dengan malam Lailatul Qadr yang salah satu artinya adalah perencanaan dan penetapan tujuan, sehingga dengan indikator yang berprinsip dan logis, kita dapat secara sadar menentukan nasib kita dengan bantuan Tuhan.
Salah satu parameter paling penting dalam budaya Islam adalah prinsip keseimbangan dan moderat di semua stragi dan aplikasi. Sebagai contoh, Islam dari satu sisi dengan mencermati keotentikan jiwa dalam ajaran ibadah, spiritual dan moral, dengan menjadikan Allah dan Ma'ad sebagai fokus, dan di sisi lain, sangat mementingkan kesehatan dan keselamatan badan.
Sebuah contoh jelas dari sikap seimbang ini adalah puasa selama bulan suci Ramadhan, yang disempurnakan dengan shalat, doa dan munajat, ibadah di malam hari, melaksanakan perintah ilahi, menghindari dosa-dosa pribadi dan sosial, dan mengekspresikan simpati kepada yang membutuhkan. Kenyataan ini terus membuat manusia semakin dekat dengan Allah dan ketika hari Idul Fitri tiba, manusia merayakan keberhasilannya ini.
Tentu saja, Islam, bertentangan dengan cara sufi salah dan sesat yang hanya peduli pada kesehatan jiwa dan tidak menghargai kesehatan tubuh, memiliki pedoman yang signifikan dalam hal ini dan tidak hanya memperhatikan kesehatan mental, tetapi juga kesehatan pribadi dan sosial untuk menjaga kesehatan tubuh.
Rasulullah Saw bersabda, "Berpuasalah agar kalian sehat." (Al-Da'wah, 76/170) Dan dalam bimbingan yang lain, beliau berkata, "Setiap segala sesuatu ada zakatnya dan zakat badan adalah puasa."
Dengan demikian, puasa selain untuk kesehatan jiwa, juga kesehatan fisik.
Dalam beberapa teks Islam, sejalan dengan permintaan untuk sukses dalam urusan spiritual, dari sudut pandang ilahi, kesehatan dan kesejahteraan juga telah dibahas. Di sebagian paragraf doa Kumail, Imam Ali as berkata, "Ya Allah! Berikan kekuatan pada anggta badanku, agar aku bisa melangkah di jalan penghambaan." Terlepas dari hal ini, adab seperti berwudhu, mandi, gosok gigi, pakaian bersih, menggunakan parfum dan memakan makanan yang sehat dan suci serta hal-hal lain yang semuanya itu menunjukkan Islam sangat mementingkan jiwa dan fisik. Inilah prinsip menjaga keseimbangan yang memberi perhatian pada keselamatan jiwa ddengan tanpa melalaikan kesehatan badan.
Sekarang kita beralih untuk membahas tentang pengaruh kesehatan puasa. Penelitian dan percobaan baru menunjukkan bahwa puasa memiliki efek menguntungkan untuk mengusir racun tubuh dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yang merupakan salah satu faktor terbaik dalam meremajakan jaringan tubuh. Selain itu, puasa telah lama digunakan sebagai pengobatan untuk beberapa penyakit yang disebut "terapi puasa." Ini termasuk puasa dan minum sedikit air atau jus selama tiga atau tujuh hari atau lebih, yang dapat ditoleransi hingga tiga puluh hari.
Jenis perawatan ini telah digunakan sejak zaman kuno, di India dan Yunani dan Mesir kuno, yang telah dilupakan sejak abad ke-15 di Eropa. Tetapi pada tahun 1880-an, efeknya yang bermanfaat pada pengobatan beberapa penyakit kembali terbentuk dan secara bertahap menjadi luas, dan telah diresepkan secara teratur selama beberapa dekade. Ini sangat populer di Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Penggunaan jenis perawatan ini lebih umum pada penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme. Seperti rematik kronis, banyak dari penyakit ginjal, penyumbatan pembuluh darah, alkoholik kronis dan beberapa penyakit saraf dan mental lainnya. (Rouzeh dar Eslam, 4-23)
Bagaimanapun, kita semua tahu bahwa banyak penyakit disebabkan oleh makan berlebihan, dan karena bahan-bahan tambahan yang tidak dapat diserap, mereka tetap sebagai lemak yang mengganggu di berbagai bagian tubuh, atau kelebihan lemak dan gula tetap ada dalam darah, akibatnya, bahan tambahan di berbagai bagian tubuh memberikan lingkungan yang baik untuk menumbuhkan berbagai mikroba patogen, dan salah satu cara terbaik untuk memerangi penyakit ini adalah dengan berpuasa.
Selain itu, puasa membakar zat berlebih dan tidak terserap dalam tubuh, dan pada dasarnya menyebabkan perubahan pada tubuh. Selain manfaatnya, puasa memberikan banyak istirahat bagi sistem pencernaan, dan mengingat organ-organ ini adalah bagian tubuh yang paling sensitif dan bekerja terus menerus sepanjang tahun, istirahat ini sangat diperlukan bagi mereka. Jelas bahwa orang yang berpuasa, sesuai dengan ajaran Islam dan pengobatan baru dan lama, tidak boleh makan berlebihan selama berbuka puasa dan sahur sehingga ia bisa mendapatkan hasil yang diinginkan dari efek kesehatan yang bermanfaat dan konstruktif. (Rouzeh Ravesh-e Nouvin Baraye Darman Bimari-ha, 65)
Dalam sebuah hadis terkenal dari Nabi Saw dinukil, "Lambung adalah rumah bagi semua penyakit dan tidak makan obat paling efektif."
Nabi Isa as berkata, "Puasa mengeluarkan penyakit dari tubuh."
Dinukil dari Luqman al-Hakim yang mengatakan, "Karena lambung sudah penuh, akal tertidur dan kebijaksanaan tidak bekerja, sementara anggota badan tidak mau melakukan ibadah."
Dan pada akhirnya, seorang psikolog Eropa mengatakan, "Berpuasa menyebabkan daya tarik spiritual." (Rouzeh dar Eslam, 4)
Hari ini 21 Ramadhan bertepatan dengan hari syahadah Imam Ali bin Abi Thalib as. Imam Ali di akhir khutbah Jumat bulan Ramadhan terakhir bertanya kepada Rasulullah Saw, apa amal perbuatan terbaik di bulan suci Ramadhan? Rasul menjawab, Wahai Abul Hasan! Sebaik-baiknya amal perbuatan di bulan ini adalah wara', takwa dan menghindari hal-hal yang diharamkan Tuhan...
...Kemudian Rasul menangis. Imam Ali bertanya mengapa Rasul menangis. Nabi menjawab, "...Aku melihat ketika kamu tengah khusu' menjalankan shalat dan berdoa kepada Tuhanmu, orang paling celaka memukulkan pedangnya ke kepalamu dan jenggotmu berlumuran darah." Imam Ali berkata, Wahai Rasulullah, apakah ketika aku syahid, agamaku selamat? Rasul menjawab, agamamu tetap selamat.
Rasul menambahkan, Wahai Ali siapa saja yang membunuhmu, ia sama halnya dengan membunuhku dan siapa saja yang membuat kamu marah, maka ia juga membuat Aku murka serta siapa saja yang menghinamu, maka ia juga menghinaku. Karena kamu adalah bagian dari jiwaku, ruh dan jiwamu dari ruhku dan tanahmu (penciptaan) adalah dari tanahku juga. Sungguh, Tuhan Yang Mahakuasa menciptakan aku bersamamu, memilihku bersamamu, dan memilihku menjadi nabi, dan memilihmu sebagai imam. Siapa saja yang mengingkari imamahmu, i ajuga mengingkari kenabianku. Perintahmu adalah perintahku dan laranganmu adalah laranganku. Saya bersumpah demi Tuhan yang memilih saya sebagai nabi dan menjadikan saya yang terbaik dari umatnya, kamu setia pada kebenaran, hujjah-Nya dan Kamu bisa dipercaya atas rahasia dan misteri-Nya, dan Anda adalah khalifah atas hamba-hamba-Nya. (Iqbalul A'mal: 15/19- Uyunul Akhbar al-Ridha: 1/295)
Hari ini kami akan mengkaji filsafat haji. Mengingat ahri ini bertepatan dengan peringatan hari gugur syahidnya Imam Ali bin Abi Thalib as, maka perlu dicatat bahwa Imam Ali meninggalkan wasiat komprehensif dan berharga di mana sebagiannya berkenaan dengan ibadah haji. Di wasiat ini disebutkan, ...Jagalah keagungan Baitullah dan selama kalian hidup jangan tinggalkan tempat suci ini, karena jika kalian lalai maka kalian akan terhina. (Nahjul Balaghah: surat ke 46)
Dari ucapan singkat ini ada sejumlah poin mendasar terkait filsafat haji. Pertama, pesan untuk menjaga posisi dan keagungan Baitullah. Tak diragukan tujuan dari ucapan ini bukan zhahir Ka'bah, tapi spirit Baitullah yang Tuhan bersumpah dengannya dan menyebutnya sebagai tanah yang aman (Surah at-Tin: 3) serta menjadikannya sebagai kiblat Nabi Saw dan seluruh pengikutnya serta berfirman, Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (Al-Baqara: 149)
Di awal ayat 150 Surah al-Baqara, Allah Swt memerintahkan semua orang untuk memalingkah wajahnya ke arah Masjid al-Haram demi menjelaskan urgensitas Ka'bah dan kemudian menjelaskan filosofi perintah ini dengan berfirman, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.( Al-Baqara: 150)
Di kelanjutan wasiatnya, Imam Ali berkata, Selama kalian hidup jangan membuat Ka'bah sepi. Dari ucapan ini dapat ditemukan filosofi lain ibadah haji adalah selama hidup dan mampu, umat Islam jangan meninggalkan Ka'bah dan membuatnya sepi. Dan setiap tahun mereka memamerkan keagungan Ka'bah, persatuan dan kekuatannya melalui ritual haji. Ini adalah epik yang membuat pemimpin kafir dan syirik sangat khawatir.
Gladstone, politikus Inggris mengatakan, "Selama umat Muslim membaca al-Quran dan tawaf di sekitar Ka'bah serta nama Muhammad pagi dan malam dikumandangkan para muazain di masjid, maka Kristen dalam bahaya besar. Kalian harus berusaha membakar al-Quran, menghancurkan Ka'bah dan menghapus nama Muhammad dari azan. (Tasir Nemoneh: 4/437)
Namun berbeda dengan tujuan busuk musuh Islam yang ingin menghancurkan Ka'bah dan dengan beragam konspirasi atau bahkan pembantaian massal para peziarah, berusaha menghancurkan keagungan ibadah haji. Allah Swt di al-Quran berkata kepada Nabi Ibrahim as, " Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.... supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka...(al-Hajj: 27-28)
Imam Ali di akhir wasiatnya memperingatkan, "Jika kalian lalai dan membiarkan Baitullah sepi maka kalian akan dipermalukan, dan sejumlah pensyarah Nahjul Balaghah mengatakan bahwa maksud dari dipermalukan adalah kalian akan mendapat azab Ilahi.
Peringatan ini dapat menjelaskan filosofi haji lainnya yakni jika kehormatan Ka'bah tidak dijaga dengan kehadiran luas Muslim maka dunia Islam akan kehilangan kekuatan dan kesolidannya serta terpaksa menelan kehinaan dan juga dimurkai Tuhan. Oleh karena itu, menurut al-Quran yang berkata, berbondong-bondonglah menuju Ka'bah baik berjalan kaki maupun berkendaraan supaya kalian menyaksikan manfaat besar di seluruh bidang maknawi dan materi, budaya dan politik. Kita harus berusaha melindungi keagungan Ka'bah dan menjaga kehormatan dunia Islam serta menghidupkan dan menyemarakkan Baitullah dengan kehadiran kita.
Sesuai dengan bimbingan manusia pilihan Allah, kemungkinan malam 23 bulan suci Ramadhan sebagai Lailatul Qadr lebih dari malam-malam lainnya.
Malam Lailatul Qadr bukan untuk tidak tidur, tetapi untuk bangun agar kita dapat memiliki wawasan dan kesadaran berdasarkan peta jalan dan rencana pemberian hidup yang telah ditarik al-Quran untuk kita. Tidak hanya nasib satu tahun kita tetapi juga nasib kekal kita. Malam Lailatul Qadr adalah malam untuk mengenal lebih banyak sifat Jalal dan Jamal Allah Swt yang menjadi filosofi dari pengutusan seluruh nabi ilahi. Mereka diutus oleh Allah dengan risalah untuk membebaskan masyarakat manusia dari cengkeraman semua sesembahan palsu dari pusat-pusat kekuasaan dan kekayaan serta dualisme agama-agama surgawi yang telah diubah dan sekte kolonial, dan untuk menabur benih-benih iman kepada Allah yang Esa dalam hati manusia
Salah satu parameter manifestasi terpenting dari percaya kepada Allah dan keterpusatan pada Tuhan adalah melaksanakan dengan meriah manasik haji yang agung, yang merupakan filosofi terpenting dan mendasar haji. Sebenarnya, haji adalah sebuah arena dan pemandangan di mana jutaan umat Islam telah melewati kerangka tauhid teoretis dalam dimensi-dimensi teologis dan filosofis serta mewujudkan semua ritual haji praktis dalam praktik. Allah Swt memperkenalkan Ka'bah sebagai rumah manusia dan ketika menggambarkan posisinya, Allah berfirman, "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud." (QS. Al-Baqarah: 125)
Dalam konteks pemikiran dan pandangan dunia tauhid, ada dua jenis penolakan atau penegasan, penolakan terhadap manifestasi emas, kekuatan dan kemunafikan, penolakan iblis, penolakan hawa nafsu dan penolakan berhala dan pencipta berhala yang berusaha keras untuk berkomplot dan menipu bangsa dan menjarah kekayaan masyarakat yang dianugerahi oleh Allah. Para jamaah haji melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah dengan visi yang sama, sehingga dengan ide yang berpusat pada Allah, mereka bukan hanya tidak kembali ke istana kekuasaan dan kekayaan, tetapi juga bangkit melawannya dan menghancurkan penindas. Sebagaimana Allah yang Esa berfirman, "Allah telah menjadikan Ka'bah sebagai tempat kebangkitan manusia." QS. Al-Maidah: 97)
Sumber cara pandang kebangkitan para nabi yang al-Quran menggambarkan filosofi pengutusan mereka seperti ini, "Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu." (QS. Al-Nahl: 36) Dengan demikian, Ka'bah mengajarkan kepada mereka yang melaksanakan ibadah haji agar bangkitlah dan dengan mengambil inspirasi dari para nabi serta dengan dukungan penyembahan dan penghambaan ilahi menghapus kekuasaan para taghut.
Penolakan dan penegasan ini termaktub dalam slogan La Ilaaha (tidak ada Tuhan) Illa Allah (selain Allah) yang termanifestasikan setiap hari dalam shalat di seluruh dunia. Al-Quran menunjukkan keaslian pemikiran tauhid ini dengan mengatakan, "Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 256)
Inilah filosofi yang ditegakkan oleh para pelaksana haji di Ka'bah, sehingga dengan tawaf mengelilingi Ka'bah yang dilakukan, dengan rujuk dan sujudnya, dengan Sa'i dari Shafa dan Marwahnya, dengan Ramy al-Jamarat melempar setan dan penyembah setan, dengan Wuquf di Masy'ar, Arafah dan Mina serta dengan semua munajat yang dilakukan, menunjukkan mereka hanya tunduk di hadapan Allah, hanya pelaksanan perintah Allah dan hanya menerima wilayah dan kekuasaan-Nya.
Imam Ali as yang lebih dahulu dari semua membuktikan komitmen dan loyalitasnya pada piagam tauhid ini, mengatakan, "Sesungguhnya Allah yang Maha Tinggi yang telah memilih Muhammad, salam Allah kepadanya dan keluarganya, dengan kebenaran risalah, di mana tujuannya agar manusia bebas dari ibadah dan penghambaan kekuasaan syirik dan mendorong manusia menuju penyembahan Allah serta mengeluarkan mereka dari perjanjian yang ada menuju perjanjian ilahi, mencegah mereka dari menaati mereka dan menaati Allah, dan menyelamatkan mereka dari kekuasaan taghut lalu memasukkan mereka di bawah wilayah dan kekuasaan Allah." ('Uyun Akhbar al-Ridha, 2/106)
Tidak diragukan lagi bahwa maksud Allah dari pensucian rumah-Nya yang dijelaskan dalam ayat 125 surat al-Baqarah mencakup pensucian lahiriah dan batiniah yang mencakup pensucian dari segala pemikiran dan tampilan lahiriah syirik, sehinggi para jamaah haji lebih memperhatikan semangat dan keaslian haji dari hal yang lain dan memastikan pemikiran dan keyakinan tauhid mereka terpatri dalam diri, lalu menghancurkan segala berhala yang hidup atau mati dengan kapak tauhid bak Ibrahim dan meruntuhkan Namrud zamannya, kemudian menyiapkan sarana untuk globalisasi pemikiran tauhidi.
Ini adalah janji pasti ilahi yang berfirman, "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Nur: 55)
Dalam banyak ayat al-Quran, di mana pun ada pembicaraan tentang shalat, segera disusul dengan zakat dan pembayarannya oleh orang beriman. Kenyataan ini menjelaskan bahwa dalam budaya Islam ada hubungan yang sangat dekat antara khalik dan makhluk. Allah yang Maha Esa kepada para hamba yang beribadah kepada-Nya berfirman, "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'." (QS. Al-Baqarah: 43)
Shalat dan zakat juga ada dalam agama-agama samawi. Allah Swt menyebut salah satu risalah para nabi adalah melaksanakan dan menghidupkan kembali dua kewajiban mendasar dan penting ini dan berfirman, "Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah." (QS. Al-Anbiya: 73)
Dengan demikian, melaksanakan shalat dan membayarkan zakat termasuk perintah Allah Swt dan dari sisi lain cara dan jalan para nabi yang menunjukkan ini adalah pesan mendasar bahwa mereka yang melaksanakan shalat dengan benar dan komitmen pada shalat dan munajat kepada Allah, tidak pernah melupakan orang miskin dan mereka yang membutuhkan dengan memberikan zakat kepada mereka. Al-Quran menjelaskan mereka demikian, "laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang." (QS. Al-Nur: 37)
Karena itu, selain percaya kepada Allah, prinsip kebangkitan harus dimasukkan, sehingga manusia dapat menjadi pendukung kuat kedua pilar akidah ini, hati akan mencuci dari semua ketergantungan finansial dan ekonomi, dan dengan motivasi ilahi, tanpa riya, pamrih dan gangguan dan pelecehan terhadap yang membutuhkan, martabat mereka akan dipertahankan dan mata pencaharian mereka akan disediakan. Tidak diragukan lagi, jika hak-hak yang Tuhan tempatkan pada harta orang kaya terpenuhi, tidak akan ada tanda-tanda kemiskinan dan kekurangan dalam masyarakat Islam. Imam Shadiq as berkata, "Zakat dijadikan ujian bagi yang mampu untuk membantu orang miskin. Bila orang kaya memberikan zakat hartanya, tidak ada lagi orang muslim yang membutuhkan dan dengan sebab itu, apa yang Allah wajibkan kepadanya, manusia tidak membutuhkan. Sesungguhnya manusia tidak akan lagi miskin, miskin dan telanjang, kecuali tanggung jawab dan dosanya ditanggung orang kaya."
Oleh karena itu, bagian dari filosofi zakat, ketaatan kepada Tuhan, mengikuti metode para nabi dan orang-orang pilihan Tuhan, menguji orang kaya, pengentasan kemiskinan dan menghilangkan perampasan dan akar diskriminasi dan kesenjangan ekonomi yang luas dan penyebaran penyimpangan dan korupsi yang disebabkan oleh kemiskinan dalam masyarakat harus dicari di harta orang kaya yang tidak punya nilai kemanusiaan dan agama.
Filosofi zakat lainnya adalah untuk memerangi penumpukan kekayaan yang disebutkan dalam berbagai surat dan ayat-ayat al-Quran sehingga tidak ada kelompok yang tenggelam dalam kemakmuran dan massa besar rakyat hidup dalam bencana. Allah yang Maha Pengasih telah mengancam para penyembah kekayaan dan berkata, "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: "Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu." (QS/ Al-Taubah: 34-35)
Perlu diperhatikan bahwa hak-hak harta tidak terbatas pada khumus dan zakat, dan dalam budaya ekonomi dan ajarah Islam termasuk jihad dengan harta, infak, sedekah, hutang, bantuan tanpa bunga, bantuan kemanusiaan dan pengorbanan berarti mendahulukan kebutuhan orang miskin dari kebutuhan diri sendiri dan hal-hal ini sangat ditekankan.
Abu Dzar al-Ghifari, sahabat besar Nabi Saw selalu memrotes upaya penumpukan kekayaan yang dilakukan Bani Umayah. Suatu hari Mu'awiyah bertanya kepadanya, apakah selain khumus dan zakat, adakah hak harta lain yang berada dalam tanggungan umat Islam? Ka'ab al-Ahbar seorang Yahudi menjawab, "Tidak hak yang lain." Abu Dzar berdiri dan berkata, "Engkau tidak perlu memberi pendapat dalam hal ini." Setelah itu menghadapi Mu'awiyah dan berkata, "Hak harta tidak terbatas pada khumus dan zakat, tetapi hak-hak yang lain yang menjadi tanggung jawab umat Islam." Mu'awiyah berkata, "Apa dalilmu?"
Abu Dzar kemudian membacakan ayat 177 dari surat al-Baqarah yang menyebutkan, "Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Manabi' al-Fiqh)
Menurut pedoman langit ini, konsentrasi kekayaan dapat dicegah dengan distribusi kekayaan, sehingga kebutuhan banyak orang yang membutuhkan di masyarakat akan terpenuhi, dan ini bisa menjadi filosofi lain untuk membayar zakat dan hak keuangan. Tentu saja, penerapan kebijakan semacam itu tidak menyenangkan bagi orang-orang kaya yang tidak memiliki banyak kepercayaan pada Tuhan dan Hari Penghakiman, sehingga mereka mencoba mengosongkan diri dari kewajiban agama dan manusia di bawah dalih mereka sendiri atau pembenaran palsu. Mengenai mereka, al-Quran mengatakan, "Dan apabila dikatakakan kepada mereka: "Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu", maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata". (QS. Yasin: 47)
Salah satu pertanyaan penting di benak sebagian orang adalah jika orang kaya mengeluarkan hartanya untuk pengentasan kemiskinan di masyarakat, maka mereka akan kehabisan dana untuk dipakai di sektor industri, pertanian, pendidikan, dan ekonomi?
Pandangan seperti ini tentu saja tidak punya tempat dalam sistem ekonomi Islam. Tujuan utama Islam adalah mencegah penumpukan harta, diskriminasi yang kejam, perbudakan, ketidakadilan, dan munculnya ketimpangan sosial yang tajam.
Untuk merealisasikan tujuan utama itu serta menggalakkan produksi dan etos kerja di semua sektor, menciptakan keadilan sosial, mengembangkan potensi ekonomi, mewujudkan motivasi yang sehat, dan mencapai kemandirian ekonomi, maka orang-orang yang mengelola urusan ekonomi di setiap negara harus memiliki keterampilan di berbagai bidang termasuk agama dan berkomitmen.
Ia juga harus memiliki perencanaan yang matang dan visioner untuk menyusun tujuan dan kebijakan makro ekonomi. Dengan demikian, Allah Swt berfirman, "Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan…" (QS. An-Nisa, ayat 5)
Imam Muhammad al-Baqir as – sosok yang menghidupkan kembali budaya pendidikan di masyarakat Islam – berkata, "Di antara penyebab tegaknya Islam dan kemuliaan kaum Muslim adalah menyerahkan manajemen keuangan dan sumber kekayaan publik kepada orang-orang yang amanah, berpegang pada kebenaran, dan terampil, di mana mampu menggunakan seluruh peluang dan kapasitas materi dan sumber daya manusia secara optimal.
Dan di antara faktor kesengsaraan kaum Muslim adalah menyerahkan tanggung jawab (atas kekayaan publik dan sumber ekonomi) kepada orang-orang yang tidak berkomitmen, tidak terampil, dan tidak memanfaatkan kapasitas yang ada. Dengan tata kelola yang buruk, ia menghancurkan semua peluang (sehingga menyebabkan sistem ekonomi Islam runtuh)."
Tidak diragukan lagi bahwa jika manajemen ekonomi dalam sistem Islam dipegang oleh orang-orang yang berkompeten, terampil, beriman, dan berkomitmen, maka kita tidak lagi menyaksikan praktik riba, suap, korupsi, pengkhianatan, dan berbagai perbuatan tercela yang merusak sendi-sendi ekonomi.
Dengan begitu, seluruh potensi akan berkembang di berbagai sektor ekonomi masyarakat dan menghapus kemiskinan, pengangguran, diskriminasi, ketidakadilan, praktik korupsi, dan pelanggaran norma-norma perilaku di tengah masyarakat.
Salah satu faktor kemunduran ekonomi adalah budaya konsumtif, berlebih-lebihan, dan mengejar kemewahan khususnya dalam hal makanan dan barang konsumtif, yang merusak struktur dan sendi-sendi ekonomi. Islam memberantas semua perilaku semacam ini.
Semua penyimpangan ini bersumber dari pemerintahan otoriter yang menganggap dirinya pemilik mutlak kekayaan dan mengira dapat menggunakan kekayaan bangsa sesuka hati mereka. Mereka berbuat sesuka hati dan mengejar ambisi-ambisi jahatnya.
Untuk melawan praktik menyimpang ini, Islam menawarkan solusi yang tepat berdasarkan pandangan dunia tauhid. Semua orang khususnya para kapitalis perlu tahu bahwa pemilik hakiki alam semesta adalah Tuhan dan apa yang diberikannya kepada manusia merupakan sebuah amanah. Jadi, kekayaan ini hanya sebuah titipan dan tidak berhak digunakan suka-suka. Semua harus menjaga prinsip keadilan dan proporsional.
Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Kekayaan adalah milik Tuhan dan ia merupakan titipan di tangan manusia. Dia berpesan kepada manusia, manfaatkanlah kekayaan ini secara proporsional, makanlah, minumlah, dan kenakanlah pakaian. Menikahlah dan sediakanlah sarana transportasi untuk dirimu dan jika ada kelebihan rezeki, berilah ia kepada orang-orang fakir yang beriman.
Barang siapa yang tidak mengambil jalan tengah dan bersikap berlebih-lebihan dalam hal makanan, pakaian, minuman, pernikahan, dan sarana transportasi, maka ia telah berbuat sesuatu yang haram dan tidak pantas." (Mustadrak al-Wasail, jilid 10, hal 423)
Jadi, orang yang beriman harus merasa bertanggung jawab dalam membelanjakan hartanya dan perlu mengingat bahwa semua yang dilakukan di alam fana ini, akan dimintai pertanggung jawaban pada hari kiamat.
Imam Ali as berkata, "Di dalam harta yang diperoleh dengan cara yang halal, maka ada hisab Ilahi di dalamnya, dan di dalam harta yang didapatkan dengan cara haram, maka ada azab Ilahi di dalamnya." (Nahjul Balaghah, khutbah 82).
Namun, ini tidak boleh membuat orang takut untuk mengumpulkan harta secara sah dan mengeluarkan hartanya di jalan yang benar, karena Allah Swt berfirman, "… Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-Anfal, ayat 60)
Sebelumnya, kita telah membahas posisi shalat, puasa, haji dan zakat dalam sistem Islam dan filosofinya. Pada kesempatan kali ini, kita akan mengulas filosofi Amar Makruf dan Nahi Mungkar.
Bila artikel berseri ini diumpamakan seperti sebuah bangunan, kebutuhan untuk melindungi dan menguatkan mereka dari hama dan kerusakan dirasakan dalam segala hal. Untuk mencapai tujuan penting dan krusial ini, setiap orang harus merasa bertanggung jawab dan membuat kehadiran yang efektif di semua bidang.
Dalam budaya konstruktif Islam, untuk tujuan ini, telah dibahas dua faktor penting di bawah tema "Amar Makruf", yaitu memerintahkan nilai-nilai dan "Nahi mungkar", yaitu mencegah anti-nilai. Untuk mengetahui lebih banyak tentang posisi kedua kategori ini, kita mulai pembahasan kita dengan firman ilahi. Allah Swt berfirman, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran: 104)
Poin terpenting dari ayat ini adalah memerintahkan nilai-nilai yang seharusnya termanisfestasi dalam masyarakat Islam dan perjuangan melawan anti-nilai merupakan perintah Allah. Dengan demikian, seperti semua kewajiban Allah yang lain, harus mendapat perhatian dan menghargainya. Allah Swt menilai berkomitmen pada dua kewajiban ini termasuk ciri khas paling menonjol dari sistem Islam dan berfirman, "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran: 110)
Tidak diragukan lagi bahwa selama umat Islam mempertahankan posisi ini, berarti mereka telah mengamalkan risalah besarnya dan melindungi kesucian nilai-nilai serta memerangi anti-nilai dengan keimanan kepada Allah. Sebagaimana al-Quran berbicara tentang pria dan wanita beriman membentuk satu front bersatu dengan ikatan akidah mereka dan berfirman, "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Taubah: 71)
Jelas dari isi dan pesan ayat tersebut bahwa jika orang-orang beriman menyeru masyarakat untuk menjaga nilai-nilai dan mencegah mereka dari melakukan perilaku yang melanggar norma-norma individu dan sosial, maka mereka yang seharusnya berada paling terdepan dan komitmen dengan semua dimensi praktis dan teoritis Islam sejati serta memunculkan semangat ketaatan kepada Allah dan Nabi. Karenanya, dengan ciri khas yang menonjol ini, mereka mendapat rahmat Allah.
Dalam pandangan umum, kami menyimpulkan bahwa Amar Makruf dan Nahi Mungkar memiliki tempat khusus dalam Islam. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang memerintahkan untuk menegakkan nilai-nilai dan mencegah terjadinya perilaku anti-nilai, ia menjadi pengganti allah dan Nabi-Nya di atas bumi." (Mustadrak al-Wasasil, 12/179/13817)
Imam Baqir as berkata, "Amar makruf dan nahi mungkar merupakan jalan dan perilaku para nabi ilahi dan cara dan kebijakan orang yang berbuat baik kedua kewajiban ini memiliki tempat yang agung dan menentukan yang di balik bayang-bayang kewajiban ini, semua kewajiban Allah yang lain dapat dilakukan. Jalan dan jalur lalu-lalang manusia menjadi aman (mencegah makan harta yang haram), pendapatan yang didapat menjadi halal, hak yang diinjak-injak dan harta yang diambil paksa akan dikembalikan kepada pemilik aslinya, tanah yang digunakan dengan paksa akan ditarik dari mereka dan digunakan agar masyarakat sejahtera, kemudian akan ada balas dendam kepada musuh Islam serta mengorganisir seluruh pekerjaan dan urusan masyarakat." (Al-Kafi: 5/56/1)
Dari riwayat ini dengan jelas dapat dipahami posisi amar makruf dan nahi mungkar yang sangat menentukan dan strategi dan mekanisme ini dapat membebaskan dunia Islam dari segala yang keluar dari norma, kelemahan, kemunduran dan kekacauan budaya, politik, ekonomi dan militer, kemudian mengembalikan kejayaan umat Islam yang hilang.
Rasulullah Saw dalam menggambarkan hakikat ini mengatakan, "Umatku selalu dalam kebaikan ketika mereka melakukan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar. Mereka bekerja sama satu dengan lainnya dalam perbuatan baik dengan dasar nilai-nilai agama dan manusia. Bila mereka tidak melakukan tanggung jawab besar ini, Allah akan mengangkat berkah-Nya dan perlahan-lahan satu kelompok mulai mendominasi kelompok yang lain. Dalam kondisi yang seperti ini, mereka tidak akan punya teman dan penolong baik di bumi maupun di langit." (Wasail, 11/398/18)
Ali as beriman kepada Muhammad di awal pengutusannya sebagai Nabi dan sepanjang pasang-surut sejarah Islam selalu bersama beliau dan menjelang syahadahnya di bagian dari surat wasiatnya, Imam Ali memperingatkan, "Jangan meninggalkan amar makruf dan nahi mungkar. Bila kalian tidak melaksanakan kedua perintah ini, orang-orang jahat akan menguasai kalian dan ketika kalian akan berdoa kepada Allah, doa kalian tidak akan dikabulkan." (Nahjul Balaghah, Surat 47)
Berbeda dengan pandangan dangkal sekelompok orang, perintah berbuat baik dan mencegah keburukan atau ammar makruf dan nahyi munkar, bukan hanya bagian dari ibadah dan akhlak, tapi mencakup seluruh masalah akidah, sosial, budaya, politik, ekonomi dan militer.
Poin penting lainnya, kita tahu ammar makruf dan nahyi munkar tidak hanya untuk kelompok masyarakat awam saja, ia bahkan harus dimulai dari kalangan elit seperti pemimpin politik dan pemimpin keagamaan yang memainkan peran determinan dalam perbaikan atau kerusakan sebuah masyarakat.
Rasulullah Saw bersabda, dua kelompok dari umatku yang jika diperbaiki, maka umatku akan baik, dan jika mereka rusak, umatku juga akan rusak. Rasulullah Saw kemudian ditanya, siapakah kedua kelompok itu, beliau berkata, para fakih dan penguasa. (Al Khisal jilid 12, hlmn 37)
Dari sabda Nabi Muhammad Saw di atas jelas bahwa peran pemuka agama dalam pengelolaan masyarakat lebih besar daripada para penguasa, pasalnya mereka dapat memberikan kesadaran pada masyarakat, dan mencegah terciptanya banyak penyimpangan terutama naiknya para penguasa otoriter, dan pembenci agama.
Salah satu contoh nyata yang dijelaskan Al Quran adalah para pemuka agama Yahudi dan Kristen yang kebungkamannya membuka jalan bagi sejumlah banyak penyimpangan dalam masyarakat.
Dalam surat Al Maidah ayat 62-63 Allah Sw berfirman, “Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.”
Imam Hussein bin Ali as saat berada di Mina, di hadapan sekitar 200 orang sahabat Nabi Muhammad Saw menyampaikan khutbah, dan dengan mengutip sejumlah ayat Al Quran beliau mengatakan, mengapa kalian tidak mengambil pelajaran dari kalam Ilahi, mengapa seperti para ulama Yahudi dan Nasrani, hanya diam dan tidak protes saat menyaksikan penyimpangan dan bid’ah yang bertentangan dengan teladan serta metode Nabi Muhammad Saw ?
Imam Hussein melanjutkan, kalian mengenal halal haram, kalian memiliki kedudukan yang diberkahi Tuhan di antara masyarakat awam dan kaum elit. Lalu mengapa hanya membisu, dan tidak melakukan apapun terhadap para penguasa tiran Bani Umayah ? Kalian pikir akan duduk bersama dengan Rasulullah Saw di surga dengan cara ini ? Sungguh bayangan yang keliru dan harapan kosong. (Tuhaful Uqul)
Dalam khutbah lainnya Imam Hussein as mengutip Rasulullah Saw dan berkata, siapapun yang menyaksikan ada penguasa dan sultan yang menghalalkan apa yang diharamkan Tuhan, mematahkan janjinya dengan Tuhan, menentang sunnah dan ajaran Nabi Muhammad Saw, serta berbuat dosa dan kejahatan di tengah hamba Allah Swt, namun ia tidak berbuat apapun dengan amal dan lisannya, maka Allah Swt akan melemparkan orang-orang semacam itu ke tengah api neraka bersama para penguasa lalim tersebut. (Tafsir Tabari jilid 7 hlmn 300)
Tidak diragukan, selain harus memiliki rasa tanggung jawab, para pemuka agama juga tidak boleh diam di hadapan penguasa otoriter, dan lalim, mereka harus bangkit dan memprotesnya, karena jika hanya diam mereka harus mempertanggung jawabkan sikapnya itu di hadapan Tuhan, dan layak mendapat hukuman.
Allah Swt berfirman tentang Bani Israel dalam Surat Al Maidah ayat 78-79, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”
Sebagian besar penyimpangan yang dilakukan Bani Israel sudah diketahui Rasulullah Saw bakal terulang di tengah umat Islam, di antaranya sikap pemuka agama yang bungkam, diam serta abai di hadapan kezaliman.
Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad Saw bersabda, sesungguhnya Tuhan membenci manusia-manusia beriman yang tak beragama, dan dimurkai oleh-Nya. Semua terkejut dan bertanya, Ya Rasulullah Saw siapakah manusia beriman yang tak beragama itu ? Rasulullah menjawab, orang yang tidak mencegah kemunkaran, dan keburukan. ( Al Kafi, jilid 5 hlmn 59)
Oleh karena itu, tidak mungkin ada orang yang benar-benar beragama tapi diam menyaksikan penyimpangan dengan semua pembenaran, cari aman dan sikap meremehkan. Dalam sebuah riwayat Imam Muhammad Baqir as berkata, di akhir zaman kelak, ada sekelompok masyarakat yang meninggalkan ammar makruf dan nahyi munkar karena takut bahaya. Orang-orang semacam ini jika kondisi masyarakat berubah sehingga ibadah seperti shalat dan puasa tidak lagi membahayakan, maka merekapun akan meninggalkannya.
Poin terakhir yang perlu diperhatikan adalah tahapan ammar makruf dan nahyi munkar. Nabi Muhammad Saw bersabda, siapapun yang menyaksikan perbuatan buruk dan tidak layak, maka ia harus mencegah dengan kekuatannya, jika tidak mampu, maka cegah dan ubahlah dengan lisannya dalam bentuk protes, jika itu tidak memungkinkan, maka kecamlah itu di dalam hatinya, dan ini adalah tahap keimanan paling lemah. (Al Taughib wa Al Tarhib, jilid 3 hlm 222)
Jika seseorang tidak mengamalkan satupun dari tiga tahapan ini, maka ia sebagaimana yang disampaikan Imam Ali as, barangsiapa yang tidak memprotes keburukan dengan tangan, lisan dan hatinya, ia seperti orang mati di tengah orang hidup (yang tidak memiliki semangat keagamaan dan kemanusiaan).
Hari ini kita akan mengkaji tentang jihad dan kedudukannya dalam Islam. Setelah diutus menjadi nabi, Rasulullah Saw memulai kegiatan dakwahnya secara diam-diam selama tiga tahun.
Kegiatan dakwah kemudian dilakukan secara terbuka dan Rasulullah mulai menghadapi ancaman dan gangguan dari para pembesar Quraisy, yang merasa kepentingannya terancam.
Kafir Quraisy meningkatkan tekanannya terhadap Muhammad Saw dan kaum Muslim. Mereka bahkan diembargo secara ekonomi dan sosial selama tiga tahun di sebuah lembah yang bernama Syi'ib Abu Thalib di Arab Saudi.
Tekanan kuat mendorong Rasulullah Saw memerintahkan sekelompok kaum Muslim untuk mengungsi ke Habasyah. Di tengah meningkatnya tekanan, Rasulullah memilih hijrah ke Madinah dan tidak lama kemudian mendirikan pemerintahan Islam di kota itu.
Pada tahun kedua Hijriyah, para pemimpin kafir Makkah mengobarkan perang dengan agenda menghancurkan Islam untuk selamanya. Dalam situasi seperti itu, apa yang harus dilakukan oleh Rasulullah dan kaum Muslim?
Apakah mereka harus menyerah dan melupakan cita-cita Islam atau bangkit melakukan jihad untuk mempertahankan eksistensi Islam? Dalam situasi yang menentukan ini, adakah jalan lain selain perang dan jihad?
Perang jelas tidak sejalan dengan ruh dan fitrah suci manusia. Islam memandang perang sebagai opsi terakhir setelah melakukan berbagai pendekatan dan mengambil langkah-langkah yang rasional, agama ini selalu mengedepankan jalan damai atas perang.
Namun ketika musuh-musuh bebal berniat menghancurkan Islam dan kaum Muslim, adakah opsi lain yang tersisa selain perang? Untuk menjawab pertanyaan ini, Allah Swt berfirman, "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah, ayat 216)
Ketika musuh telah menabuhkan genderang perang, sementara pihak yang ditantang memilih diam, maka mereka akan terhina dan dipaksa untuk menerima semua tuntutan musuh, situasi seperti ini benar-benar sangat menyakitkan dan menghancurkan harga diri.
Al-Quran menawarkan solusi untuk keluar dari kebuntuan seperti itu. "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. As-Saff, ayat 10-11)
Kalimat "Berjihad di jalan Allah" menunjukkan bahwa jihad dalam Islam tidak memiliki motivasi nasionalisme, wilayah geografi, ras, kabilah, balas dendam, fanatisme buta, dan tidak sebuah aksi yang tidak bertujuan.
Jihad memiliki ciri khas khusus dan ia berbeda dari semua perang lain. Jihad dipuji oleh Allah karena memiliki motivasi Ilahi, Dia berfirman, "Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (QS. As-Saff, ayat 4)
Imam Ali as berkata, "Jihad adalah salah satu pintu surga yang telah dibukakan Allah bagi sahabat-sahabat-Nya yang utama. la adalah baju takwa dan perisai pelindung dari Allah dan perisai terpercaya-Nya. Barang siapa meninggalkannya, maka Allah membusanainya dengan busana kehinaan dan baju bencana. la ditendang dengan hina dan ejekan, dan hatinya ditirai dengan layar [kelalaian]. Hak akan diambil dari dia karena meninggalkan jihad. la akan menderita kehinaan dan keadilan ditolak baginya." (Nahjul Balaghah, khutbah 27)
Oleh karena itu, kaum Muslim harus memperkuat dirinya untuk mencegah agresi musuh dan untuk mempertahankan kemerdekaan, kemuliaan, dan martabatnya. Konspirasi musuh dan syaitan harus dipatahkan sebelum terlaksana dan kaum Muslim harus membuat musuh tidak pernah berpikir untuk menyerang mereka dengan cara mendemonstrasikan kekuatannya.
Untuk tujuan ini, Allah Swt memerintahkan kaum Muslim dengan berfirman, "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya…" (QS. Al-Anfal, ayat 60)
Perlu dicatat bahwa perang memiliki biaya yang sangat besar dan di sini, orang-orang yang beriman dan berkomitmen harus melibatkan diri untuk memenuhi perlengkapan jihad.
Dalam kelanjutan ayat tersebut, Allah Swt berkata, "Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)."
Sekarang kita sudah sedikit mengetahui tentang filosofi jihad di jalan Allah dan budaya jihad dalam Islam. Jadi, jihad merupakan opsi terakhir yang dimiliki pemerintahan Islam dan mereka harus memperkuat diri untuk menghadapi ancaman dan gangguan dari musuh.
Edisi kali ini kita akan mengkaji tentang adab dan kaidah-kaidah berjihad dalam Islam. Perang dan jihad dalam Islam dilakukan dengan motivasi dan tujuan Ilahi serta bertujuan untuk mencegah dan melawan agresi musuh.
Jihad dalam Islam sama sekali tidak bisa disamakan dengan perang yang dikobarkan oleh para penguasa lalim dan mereka yang mengaku membela hak asasi manusia dan perdamaian.
Salah satu ayat al-Quran secara gamblang menjelaskan tentang empat kriteria jihad. Allah Swt berfirman, "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Baqarah, ayat 190)
Ayat ini menjelaskan empat landasan perang:
1. Opsi perang diambil jika pihak lain memerangi kita
2. Perang dilakukan atas motivasi Ilahi dan di jalan Allah
3. Tujuan perang adalah melawan serangan serta memelihara kemuliaan dan kekuatan Islam dan kaum Muslim
4. Dilarang melampaui batas-batas ketentuan Tuhan dalam perang.
Imam Jakfar Shadiq as berkata, "Setiap kali Rasulullah ingin mengirim sebuah pasukan untuk berjihad, beliau mengumpulkan pasukan Islam dan bersabda kepada mereka, 'Berjihadlah atas nama Allah dan bergeraklah di jalan-Nya, jika kalian menang, maka janganlah saling berkhianat dalam pembagian harta rampasan perang. Jangan memutilasi siapa pun yang telah terbunuh dan berkomitmenlah dengan janji yang telah kalian ucapkan.
Jangan membunuh para lelaki dan wanita tua dan anak-anak. Jangan menebang pohon manapun jika tidak darurat dan jika salah seorang tentara Islam memberikan jaminan kepada salah seorang tentara kafir untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, maka hormatilah ia. Jika ia menerima Islam dan menjadi Muslim, maka ia adalah saudara seagama kalian dan jika tidak, maka biarkanlah ia kembali ke barisan pasukannya dan mintalah pertolongan kepada Allah.'"
Dinukil dari Imam Ali as yang berkata, "Rasulullah Saw ketika ingin mengirim kami ke Yaman bersabda, 'Wahai Ali, sebelum engkau berperang dengan siapa pun, ajaklah ia kepada Islam. Aku bersumpah kepada Allah, jika Allah memberikan hidayah kepada satu orang lantaran engkau, itu lebih baik bagimu dari pada segala sesuatu yang tampak oleh matahari.'"
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as tahu betul bahwa misi jihad dalam Islam adalah memberikan hidayah kepada manusia dan membebaskan mereka dari syirik dan nifak sehingga mereka berjalan di jalan yang lurus.
Imam Shadiq as berkata, "Setiap kali perang pecah, Ali bin Abi Thalib selalu berusaha mengulur waktu agar mendekati terbenamnya matahari. Ketika ditanya alasan melakukan itu, ia menjawab, 'Pada masa itu pintu-pintu langit terbuka dan rahmat Tuhan turun bersama dengan pertolongan-Nya.
Masa itu lebih dekat dengan malam dan sungguh lebih baik jika orang-orang yang terbunuh lebih sedikit. Orang-orang yang mulai sadar dan menyesal, dapat memanfaatkan kegelapan malam dan meninggalkan jalan batil, sementara mereka yang kalah bisa melarikan diri dan meninggalkan medan perang.'"
Jadi, jelas bahwa perang dalam Islam bukanlah tujuan dan bukan prioritas utama. Islam selalu mengedepankan perdamaian, keamanan, keutamaan, dan kebebasan di tengah umat manusia sebagai sebuah prinsip yang abadi.
Jika musuh berhenti berperang dan memilih jalan damai, Allah Swt telah memberikan perintah dengan berfirman, "Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal, ayat 61)
Namun, para pemimpin Barat – yang mengaku mencari perdamaian dan membela HAM dan kebebasan – melancarkan propaganda untuk mencitrakan Islam sebagai agama pedang dan kekerasan. Padahal, mereka sendiri memainkan peran kunci dalam mengobarkan semua perang di dunia seperti, Perang Dunia I dan II.
Mereka juga menumpas semua gerakan kebebasan dan kebangkitan bangsa-bangsa dengan cara yang paling kejam. Darah ribuan dan bahkan jutaan manusia tak berdosa tumbah di tangan mereka.
Dalam Revolusi Aljazair, salah satu tindakan tragis yang dilakukan Prancis – yang menganggap dirinya sebagai pelopor kebebasan – selama periode 1954- 1962 adalah menggiring seluruh penduduk dari sebuah desa kecil ke sebuah kawah di padang pasir. Kawah ini telah disirami dengan bahan bakar untuk menyambut orang-orang yang ingin membebaskan dirinya dari imperialisme dan meraih kemerdekaan. Orang-orang Aljazair dilempar ke kawah tersebut dan kemudian disulut dengan api.
Selain pembantaian massal, pemboman desa-desa, dan aksi eksekusi terhadap tentara pembebasan Aljazair, pasukan Prancis juga melakukan penyiksaan terhadap masyarakat. Penyiksaan ini telah mengingatkan orang-orang pada kekejaman era inkuisisi Abad Pertengahan.
Selama Perang Vietnam, Amerika Serikat melanggar semua prinsip-prinsip moral dan kemanusiaan dan perjanjian-perjanjian internasional. Kekejaman dan pembantaian yang mereka lakukan bahkan menyasar rumah sakit, sekolah, pusat medis, apotek, gereja, rumah penduduk, dan semua fasilitas publik yang ada di Vietnam.
Jadi, jelas bahwa Islam selalu mengejar perdamaian dan keamanan bagi umat manusia, sementara kekuatan-kekuatan arogan senantiasa mengobarkan perang di dunia.
Edisi terakhir kajian Ramadhan ini kita tutup dengan mengkaji tema tawalli dan tabarri dalam Islam. Tawalli berarti kecintaan dan loyalitas, sementara tabarri bermakna menjauh dan berlepas diri dari musuh Tuhan, atau dengan kata lain daya tarik dan daya tolak.
Hukum tarik-menarik dan tolak-menolak dalam sistem penciptaan adalah sebuah hukum yang bersifat universal di alam semesta dan tidak ada partikel di alam semesta yang keluar dari ketentuan hukum ini.
Benda-benda di alam semesta mulai yang paling besar sampai yang terkecil memiliki daya tarik-menarik dan tolak-menolak. Hukum ini juga berlaku dalam interaksi manusia di semua aspek sosial, agama, budaya, dan politik. Oleh karena itu, individu dapat dikategorikan ke dalam empat kelompok berdasarkan hukum daya tarik dan daya tolak.
Sebagian orang hanya memiliki daya tarik dan menarik semua individu dengan berbagai latar belakang akidah, karakter, dan perilaku ke arahnya. Kelompok lain hanya memiliki daya tolak dan sama sekali tidak menyimpan daya tarik.
Sebagian orang benar-benar berkarakter cuek serta tidak memiliki daya tarik dan daya tolak. Dan golongan terakhir orang yang menyimpan daya tarik dan daya tolak.
Pertanyaan penting di sini, tipe manakah dari empat kategori tersebut yang sejalan dengan ajaran Islam?
Tidak diragukan lagi bahwa manusia yang memiliki ideologi rasional, berprinsip, dan berketuhanan, menyimpan kekuatan daya tarik dan juga daya tolak. Ia akan menarik kekuatan yang sejalan dan sepemikiran ke arahnya. Karismanya menembus hati orang-orang dan menolak mereka yang tidak memiliki kecocokan.
Seorang cendekiawan Muslim, Syahid Murtadha Mutahhari menuturkan, "Seorang mukmin harus memiliki daya tarik dan daya tolak serta memiliki batasan, yang menspesifikasikan kedudukannya terhadap ahli iman dan ahli nifak, kufur dan syirik. Dia harus memiliki daya tarik terhadap kaum mukmin dan non-mukmin yang tidak menentang kebenaran dan tidak tahu terhadap hal itu serta harus memiliki daya tolak terhadap selain mereka."
Al-Quran memperkenalkan Rasulullah Saw sebagai teladan dan berkata, "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath, ayat 29)
Jadi, daya tarik dan daya tolak ini bersumber dari landasan ideologi dan keyakinan agama. Imam Jakfar Shadiq as pernah ditanya oleh seseorang apakah kecintaan dan kebencian (daya tarik dan daya tolak) bersumber dari iman? Imam menjawab, "Adakah iman sesuatu selain kecintaan dan kebencian?" Kemudian beliau membacakan ayat berikut, "… Allah menjadikan kamu "cinta" kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus." (QS. Al-Hujurat, ayat 7)
Poin penting lainnya adalah bahwa daya tarik dan daya tolak dalam budaya Islam harus dilakukan atas motivasi Ilahi dan mengesampingkan segala bentuk sikap emosi, fanatisme buta, dan motif balas dendam.
Suatu hari Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabatnya tentang tanda iman yang paling kuat, sebagian menjawab shalat, sebagian yang lain berkata zakat, dan sebagian lagi meyakini puasa, yang lain menjawab haji, dan sisanya berkata jihad.
Rasulullah kemudian bersabda, "Semua nama yang kalian sebut tadi memiliki keutamaan masing-masing, tetapi tanda iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan mengikuti para auliya dan orang-orang yang dikasihi-Nya serta membenci musuh-musuh Allah."
Mengenai pentingnya daya tarik dan daya tolak, mari kita simak firman Allah Swt dalam surat al-Mumtahina ayat 1, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia…"
Allah kemudian mencela orang-orang yang melanggar perintah yang jelas ini dan berfirman, "Kalian menampakkan kasih sayang kepada mereka, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu."
Namun, orang-orang yang lemah imannya merasa takut kepada musuh dan dengan pemikiran dangkalnya mereka berpikir bahwa kita harus menampakkan kasih sayang kepada musuh agar kemuliaan kita terjaga.
Al-Quran menolak pemikiran yang hina ini yang bertentangan dengan ajaran tauhid dengan berkata, "(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah." (QS. An-Nisa, ayat 139)
Orang-orang yang lemah imannya telah terperdaya dengan kekuatan musuh dan mereka takut dengannya, padahal kekuatan mereka sangat rapuh dan ketika sebuah makhluk kecil yang disebut virus Corona mewabah, kelemahan mereka tampak jelas di mata seluruh masyarakat dunia.
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui." (QS. Al-Ankabut, ayat 41)
Daftar Isi :
Filosofi Hukum dalam Islam 1
Bagian(2) 1
Filosofi Hukum dalam Islam (15) 2
Filosofi Hukum dalam Islam (16) 6
Filosofi Hukum dalam Islam (17) 10
Filosofi Hukum dalam Islam (18) 15
Filosofi Hukum dalam Islam (19) 19
Filosofi Hukum dalam Islam (20) 24
Filosofi Hukum dalam Islam (21) 28
Filosofi Hukum dalam Islam (22) 32
Filosofi Hukum dalam Islam (23) 36
Filosofi Hukum dalam Islam (24) 41
Filosofi Hukum dalam Islam (25) 45
Filosofi Hukum dalam Islam (26) 49
Filosofi Hukum dalam Islam (27) 53
Filosofi Hukum dalam Islam (28) 57
Filosofi Hukum dalam Islam (29-Habis) 61