Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Oleh

H.M.H. Al Hamid Al Husaini


M U Q A D D I M A H

Usaha menyingkat sejarah kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dalam

lembaran-lembaran buku, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak semula telah

terbayang kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi. Betapa tidak!

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir,

sejak terbai'atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid,

bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain

daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan

syaraf istimewa pula.

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar

biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu

juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian.

Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah.

Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik

dalam memujinya maupun dalam mencacinya.

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau

secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: "Ada dua fihak

yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan

pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala

kebohongan tentang diriku."

Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: "Ada segolongan orang yang demi cintanya

kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya

kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka."

Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya pertentangan penilaian mengenai menantu dan

sekaligus saudara misan Rasul Allah s.a.w. itu. Dua faktor itu ialah sifat atau watak pribadi

Imam Ali r.a. sendiri dan situasi serta kondisi kehidupan Islam pada zaman hidupnya tokoh

penting Islam itu.

Faktor mana yang lebih dominan, sehigga pribadi Imam Ali r.a. mempunyai kedudukan yang

unik dalam sejarah Islam sulit dikatakan. Yang jelas kedua faktor itu memegang peran penting

dan memberi arti khusus yang pengaruhnya hingga kini masih terasa. Bahkan sejak

meninggalnya pada tahun 40 Hijriyah pendapat yang kontroversial mengenai dirinya itu tidak mereda, malahan makin berkembang sehingga sangat mewarnai sejarah Islam sampai abad ke-

15 Hijriyah sekarang ini.

Periode kehidupan Imam Ali r.a. ditandai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh

ummat Islam, terutama setelah wafatnya Rasul Allah s.a.w. Belum lagi jenazah Rasul Allah

s.a.w. dimakamkan telah muncul krisis. Dan krisis itu disusul pula oleh krisis-krisis lain.

Ancaman dari dalam dan dari luar sangat membahayakan kedudukan Islam yang masih muda

itu.

Pertentangan pribadi, qabilah, suku, golongan, bangsa dan antar-negara bermunculan hampir

secara simultan. Keseimbangan kehidupan rohani dan jasmani, masalah keagamaan dan

kenegaraan yang serasi dan seimbang di bawah satu pimpinan, yaitu di tangan Rasul Allah

s.a.w. semasa hidupnya, tiba-tiba saja mengalami kegoncangan, ketidak-seimbangan dan

ketidak-serasian.

Proses kristalisasi dan disintegrasi yang menyusul wafatnya Rasul Allah s.a.w. dihadapkan pada

tokoh-tokoh terkemuka ummat Islam, yang selama itu merupakan pembantu-pembantu

terdekat Rasul Allah s.a.w. Diantaranya Imam Ali r.a. sebagai salah satu tokoh yang menonjol

dan dekat sekali dengan Rasul Allah s.a.w. Dan dialah salah seorang yang paling merasa

berkepentingan terhadap kemaslahatan Islam dan ummatnya. Sebab dialah yang paling dini

melibatkan diri sebagai pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w.

Awal tahun Hijriyah ditandai oleh peranan Imam Ali r.a. Malam sebelum Rasul Allah s.a.w.

melakukan hijrah ke Madinah, yang sangat bersejarah itu, rumah kediaman beliau dikepung

rapat oleh para pemuda Qureiys: Mereka bertekad hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w.

Pada saat itulah Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya mengenakan mantel

hijau buatan Hadramaut dan agar saudara misannya itu berbaring di tempat tidur beliau. Imam

Ali r.a. dengan kebanggaan dan keberaniannya melaksanakan tugas tersebut.

Ketika para pemuda Qureisy yang berniat jahat itu mengintip, mereka mengira Rasul Allah

s.a.w. berada di dalam. Padahal sebenarnya saat itu Rasul Allah s.a.w. telah berhasil

menyelinap keluar menuju ke rumah Abu Bakar r.a.

Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya pada malam hijrah itu bukan

merupakan kasus tersendiri. Pada masa-masa hidupnya lebih lanjut, faktor keberanian ini

sangat mewarnai kehidupan Imam Ali r.a. Dasar-dasar keberanian ini tambah diperkuat oleh

keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah s.a.w. dan ketaqwaannya

pada Allah s.w.t.

Ketaatannya pada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya dalam membela serta menegakkan

kebenaran-kebenaran agama Allah merupakan pendorong utama, sehingga kemudian ia

diagungkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai pahlawan besar ummat Islam.

Hal itulah yang antara lain telah menimbulkan perbedaan penilaian yang hasilnya melahirkan

perselisihan pendapat. Yang menilai positif melambangkan Imam Ali r.a. sebagai contoh tokoh

yang paling ideal, pelanjut cita-cita dan perjuangan Rasul Allah. Kemudian eksesnya menjadi

berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak disukai oleh yang bersangkutan sendiri.

Sebaliknya mereka yang menilai negatif, Imam Ali r.a. mereka anggap sebagai tokoh yang amat

berambisi untuk mendapat kedudukan memimpin ummat Islam. Penilaian terakhir ini

mengundang sifat-sifat kebencian dan menjurus ke permusuhan, dan akhirnya memuncak dalam

bentuk peperangan melawan Imam Ali r.a.

Kepribadian dan watak Imam Ali r.a. yang unik itulah yang mengembangkan pendapat ekstrim

tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali r.a. akhirnya secara sadar atau tidak sadar

golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah s.a.w. Sebaliknya yang membenci Imam Ali

r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya.

Dua fihak yang sangat bertentangan penilaian terhadap Imam Ali r.a. tercermin pada dua

kelompok yang terkenal dalam sejarah Islam.

Kaum Rawafidh bukan saja pengagum Imam Ali r.a., malahan boleh dibilang sebagai "kaum

penyembah Imam Ali r.a." Semasa hidupnya, Imam Ali r.a. sendiri sudah berulang kali melarang

tindak dan sikap mereka yang sangat keliru itu, tetapi sikap Imam Ali r.a. yang tidak mau

disanjung dan disembah itu bahkan mereka nilai sebagai sikap yang agung. Imam Ali r.a.

sampai-sampai mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu syirik. Peringatan itu

sama sekali tidak menyurutkan pendirian mereka.

Begitu fanatiknya mereka kepada Imam Ali r.a. sehingga mereka bersedia mengorbankan

segala-galanya demi tegaknya pendirian itu. Bahkan ketika mereka dijatuhi hukuman dengan

dibakar hidup-hidup, hukuman itu mereka terima dengan penuh ketaatan. Di tengah kobaran

api unggun yang membakar diri mereka di depan umum, dengan penuh gairah mereka berseru:

"Dia (Imam Ali) adalah tuhan. (Sebab) dialah yang menetapkan adzab neraka ini". Mereka rela

mati dibakar dengan penuh keikhlasan. Mereka memandang layak hukuman demikian

dijatuhkan oleh "tuhan" mereka sendiri.

Sangat berlawanan dengan kaum Rawafidh ini, adalah pendirian golongan Nawasib dan

Khawarij yang sangat benci kepada Imam Ali r.a. Ironisnya, kaum Khawarij ini sebelumnya

justru merupakan pengikut Imam Ali r.a. yang paling setia dan taat. Mulamula mereka sangat

cinta, kagum, taat dan setia. Lalu berbalik 180 derajat menjadi muak, benci, mengutuk,

bahkan mengkafirkan Imam Ali r.a. Itu terjadi ketika tokoh yang mereka kagumi itu bersedia

menerima "perdamaian" dengan Muawiyah. Peristiwa yang dalam sejarah terkenal sebagai

"Tahkim bi Kitabillah".

Kaum Khawarij itu menuntut kepada Imam Ali r.a. agar ia bertaubat kepada Allah atas

perbuatan salah yang dilakukannya (mengadakan perdamaian dengan Muawiyah). Begitu

mendalamnya kebencian mereka sehingga pada kesempatan apa, kapan dan di mana saja

mereka melancarkan kecaman pedas dan memaki habis. Bahkan sejarah mencatat, Imam Ali

r.a. wafat akibat pembunuhan yang dilakukan golongan Khawarij.

Sulit untuk dicari bahan bandingan bagi seorang tokoh yang begitu hebat menimbulkan

pertentangan pendapat seperti yang ada pada diri Imam Ali r.a. Lebih sulit lagi untuk menarik

kesimpulan dari kenyataan ini. Apakah karena ia orang besar, maka timbul pertentangan

pendapat yang begitu hebat? Ataukah karena adanya pertentangan pendapat itu hingga ia

menjadi mitos. Kenyataan adanya pertentangan pendapat itu sendiri sudah mengungkapkan,

bahwa Imam Ali r.a. adalah tokoh potensial sekali, khususnya bagi ummat Islam.

Juga merupakan ironi sejarah, salah seorang yang pertama-tama berperan vital dalam membela

Islam, akhirnya dijatuhkan oleh seorang yang ayahnya justru paling memusuhi Islam ketika

Rasul Allah s.a.w. mulai dengan da'wahnya. Orang yang sejak masa anak-anak sudah

mempertaruhkan segala-galanya demi tegak dan berkembangnya Islam, kepemimpinannya

direbut oleh orang-orang yang pada awal Islam paling gigih menentang.

Lebih menyedihkan lagi karena orang yang melawan Imam Ali r.a. menempuh segala usaha dan

tipu-daya "dengan mengatas-namakan Islam". Lebih parah lagi karena dengan "mengatasnamakan

Islam" selama 136 tahun, kekuasaan Bani Umayyah, nama Imam Ali ditabukan,

direndahkan dan dihina. Pada setiap khutbah, pada setiap doa sehabis shalat tidak pernah

ditinggalkan cacian dan kutukan terhadap Imam Ali agar ia disiksa Allah.

Bahkan nama Imam Ali digunakan oleh dinasti Bani Umayyah untuk menegakkan kekuasaan

otoriter. Tiap orang atau kelompok yang berani menentang, atau tidak sependapat dengan

kebijaksanaan penguasa Bani Umayyah dapat ditindak dengan menggunakan dalih "pengikut

Imam Ali" (Pecinta Ahlulbait).

Siapa yang mempelajari sejarah Imam Ali r.a. dengan jujur, pasti akan menemukan pada

dirinya salah satu segi yang khas ada pada kehidupan tokoh legendaris itu. Nama Imam Ali r.a.

identik dengan sifat-sifat manusiawi yang mendalam. Baik sejarah sendiri, maupun sejarawan

tidak cukup mampu mengungkapkannya. Kaitan yang seperti itu biasanya oleh seorang penulis

terpaksa dikesampingkan saja dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.

Makin berkurangnya faktor-faktor kejiwaan yang menyulitkan pembahasan dan makin

dibatasinya segi-segi sejarah yang hendak ditulis, bisa jadi lebih mendekati objektivitas. Tetapi

apakah begitu jadinya?

Para sejarawan mengungkapkan bahwa pada ghalibnya makin lama seorang telah meninggal

akan lebih mudah ditemukan objektivitas untuk pengungkapan riwayat orang yang

bersangkutan. Akan tetapi kalau menyangkut Imam Ali r.a. hal itu masih dipertanyakan.

Dalam batas-batas pengungkapan yang demikianlah, buku "Imam Ali bin Abi Thalib r.a." ini

mengetengahkan riwayat kehidupan Imam Ali pada masa asuhan, keluarganya, rumahtangganya,

peranan kepahlawanannya semasa Rasul Allah masih hidup, wafatnya Rasul Allah

s.a.w., masa-masa kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., delapan hari tanpa

khalifah, Perang Unta, Perang Shiffin, Gerakan Khawarij, keutamaan, pintu ilmu dan sebuah

kenangan.


Bab VI : KHALIFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ

Di saat kaum muslimin sedang resah mendengar berita tentang wafatnya Rasul Allah s.a.w.,

sejumlah kaum Anshar menyelenggarakan pertemuan di Saqifah Bani Sa'idah untuk

memperbincangkan masalah penerus kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. Ikut serta bersama

mereka seorang tokoh Anshar, Sa'ad bin Ubadah.

Di dalam bukunya yang berjudul As Saqifah, Abu Bakar Ahmad bin Abdul Azis Al-Jauhary

mengetengahkan riwayat tentang terjadinya peristiwa penting di Saqifah (tempat pertemuan)

Bani Sa'idah. Antara lain dikemukakan, bahwa tokoh terkemuka Anshar, Sa'ad bin 'Ubadah,

dalam keadaan menderita sakit lumpuh sengaja digotong untuk menghadiri pertemuan

tersebut.

Karena tidak sanggup berbicara dengan suara keras, ia minta kepada anaknya, Qeis bin Sa'ad,

supaya meneruskan kata-katanya yang ditujukan kepada semua hadirin. Dengan suara lantang

Qeis meneruskan kata-kata ayahnya:

"Kalian termasuk orang yang paling dini memeluk agama Islam, dan Islam tidak hanya dimiliki

oleh satu qabilah Arab. Sesungguhnya ketika masih berada di Makkah, selama 13 tahun di

tengah-tengah kaumnya, Rasul Allah mengajak mereka supaya menyembah Allah Maha Pemurah

dan meninggalkan berhala-berhala. Tetapi hanya sedikit saja dari mereka itu yang beriman

kepada beliau. Demi Allah mereka tidak sanggup melindungi Rasul Allah s.a.w. Mereka tidak

mampu memperkokoh agama Allah Tidak mampu membela beliau dari serangan musuhmusuhnya.

"Kemudian Allah melimpahkan keutamaan yang terbaik kepada kalian dan mengaruniakan

kemuliaan kepada kalian, serta mengistimewakan kalian pada agama-Nya. Allah telah

melimpahkan nikmat kepada kalian berupa iman kepada-Nya, dan kesanggupan berjuang

melawan musuh-musuh-Nya. Kalian adalah orang-orang yang paling teguh dalam menghadapi

siapa pun juga yang menentang Rasul Allah s.a.w. Kalian juga merupakan orang-orang yang

lebih ditakuti oleh musuh-musuh beliau, sampai akhirnya mereka tunduk kepada pimpinan

Allah, suka atau tidak suka.

"Dan orang-orang yang jauh pun akhirnya bersedia tunduk kepada pimpinan Islam, sampai tiba

saatnya Allah menepati janji-Nya kepada Nabi kalian, yaitu tunduknya semua orang Arab di

bawah pedang kalian. Kemudian Allah memanggil pulang Nabi Muhammad s.a.w. keharibaan-

Nya dalam keadaan beliau puas dan ridho terhadap kalian. Karena itu pegang teguhlah

kepemimpinan di tangan kalian. Kalian adalah orang-orang yang paling berhak dan paling

afdhal untuk memegang urusan itu!"

Kata-kata Sa'ad bin 'Ubadah itu disambut hangat oleh pemuka-pemuka Anshar yang hadir

memenuhi Saqifah Bani Sa'idah. Apa yang dikemukakan oleh tokoh terkemuka kaum Anshar itu

memperoleh dukungan mutlak. "Kami tidak akan menyimpang dari perintahmu!" teriak mereka

hampir serentak. Engkau kami angkat untuk memegang kepemimpinan itu, karena kami merasa

puas terhadapmu dan demi kebaikan kaum muslimin, kami rela!"

Setelah menyatakan dukungan kepada Sa'ad bin 'Ubadah hadirin menyampaikan pendapatpendapat

tentang kemungkinan apa yang bakal terjadi. Ada yang mengatakan, sikap apakah

yang harus diambil jika kaum Muhajirin berpendirian, bahwa mereka itulah yang berhak atas

kepemimpinan ummat? Sebab mereka itu pasti akan mengatakan: Kami inilah sahabat Rasul

Allah dan lebih dini memeluk Islam. Mereka tentu juga akan menyatakan diri sebagai kerabat

Nabi dan pelindung beliau. Mereka pasti akan menggugat: atas dasar apakah kalian menentang

kami memegang kepemimpinan sepeninggal Rasul Allah? Bagaimana kalau timbul problema

seperti itu?

Pertanyaan itu kemudian dijawab sendiri oleh sebagian hadirin: "Kalau timbul pertanyaanpertanyaan

seperti itu kita bisa mengemukakan usul kompromi kepada mereka, dengan

menyarankan: Dari kami seorang pemimpin dari kalian seorang pemimpin. Kalau mereka bangga

dan merasa turut berhijrah, kami pun dapat membanggakan diri karena kami inilah yang

melindungi dan membela Rasul Allah s.a.w. Kami juga sama seperti mereka. Sama-sama

bernaung di bawah Kitab Allah. Jika mereka mau menghitung-hitung jasa, kami pun dapat

menghitung-hitung jasa yang sama. Apa yang menjadi pendapat kami ini bukan untuk

mengungkit-ungkit mereka. Karenanya lebih baik kami mempunyai pemimpin sendiri dan

mereka pun mempunyai pemimpin sendiri!"

"Inilah awal kelemahan," Ujar Sa'ad bin 'Ubadah sambil menarik nafas, setelah mendengar usul

kompromi dari kaumnya.

Nyata sekali pertemuan itu mengarah kepada keputusan yang hendak mengangkat Sa'ad bin

'Ubadah sebagai pemimpin kaum muslimin, yang bertugas meneruskan kepemimpinan Rasul

Allah s.a.w. Kesimpulan seperti itu segera terdengar oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Konon yang menyampaikan berita tentang hal itu kepada Umar r.a. ialah seorang yang bernama Ma'an bin

'Addiy. Ketika itu Umar r.a. sedang berada di rumah Rasul Allah s.a.w.

Pada mulanya Umar r.a. menolak ajakan Ma'an bin Adiy untuk menyingkir sebentar dari orang

banyak yang sedang berkerumun di sekitar rumah Rasul Allah s.a.w. Tetapi karena Ma'an terus

mendesak, akhirnya Umar r.a. menuruti ajakannya. Kepada Umar Ibnul Khattab r.a. Ma'an

memberitahukan segala yang sedang terjadi di Saqifah Bani Sa'idah. Dengan penuh kegelisahan

dan kekhawatiran Ma'an menyampaikan informasi kepada Umar r.a. Akhirnya ia bertanya:

"Coba, bagaimana pendapat anda?"

Tanpa menunggu jawaban Umar r.a. yang sedang berfikir itu, Ma'an berkata lebih lanjut:

"Sampaikan saja berita ini kepada saudara-saudara kita kaum Muhajirin. Sebaiknya kalian pilih

sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin kalian. Kulihat sekarang pintu fitnah sudah

ternganga. Semoga Allah akan segera menutupnya."

Umar r.a. sendiri ternyata tidak dapat menyembunyikan keresahan fikirannya mendengar berita

itu. Ia belum tahu apa yang harus diperbuat. Oleh karena itu ia segera menjumpai Abu Bakar

Ash Shiddiq r.a. yang sedang turut membantu membenahi persiapan pemakaman jenazah Rasul

Allah s.a.w. Menanggapi ajakan Umar r.a Abu Bakar r.a. menjawab: "Aku sedang sibuk. Rasul

Allah belum lagi dimakamkan. Aku hendak kauajak kemana?"

Umar r.a. terus mendesak, dan sambil menarik tangan Abu Bakar r.a. ia berkata: "Tidak boleh

tidak, engkau harus ikut. Insyaa Allah kita akan segera kembali!" Abu Bakar r.a tidak dapat

mengelak dan menuruti ajakan Umar r.a.

Abu Bakar r.a. & Umar r.a. ke Saqifah

Sambil berjalan Umar Ibnul Khattab r.a. menceritakan semua yang didengar tentang pertemuan

yang sedang berlangsung di Saqifah Bani Sa'idah. Abu Bakar r.a. merasa cemas dengan

terjadinya perkembangan mendadak, di saat orang sedang sibuk mempersiapkan pemakaman

jenazah Rasul Allah s.a.w. Dua orang itu kemudian mengambil keputusan untuk bersama-sama

berangkat menuju Saqifah Bani Sa'idah.

Setibanya di Naqifah, mereka lihat tempat itu penuh sesak dengan orang-orang Anshar. Di

tengah-tengah mereka terlentang tokoh terkemuka mereka, Sa'ad bin 'Ubadah, yang sedang

sakit. Setelah mengucapkan salam dan masuk ke dalam Saqifah, Umar r.a.

yang terkenal bertabiat keras itu ingin cepat-cepat berbicara. Abu Bakar r.a. yang sudah

mengenal tabiat Umar r.a, segera mencegah: "Boleh kau bicara panjang lebar nanti. Dengarkan

dulu apa yang akan kukatakan. Sesudah aku, bicaralah sesukamu, ujar Abu Bakar r.a. Umar r.a.

diam, tak jadi bicara.

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan penampilannya yang tenang dan berwibawa mulai berbicara.

Setelah mengucapkan salam, syahadat dan shalawat, dengan semangat keakraban ia berkata

dengan tegas dan lemah lembut.

"...Allah Maha Terpuji telah mengutus Muhammad membawakan hidayat dan agama yang

benar. Beliau berseru kepada ummat manusia supaya memeluk agama Islam. Kemudian Allah

membukakan hati dan fikiran kita untuk menyambut baik dan menerima seruan beliau. Kita

semua, kaum Muhajirin dan Anshar, adalah orang-orang yang pertama memeluk agama Islam.

Barulah kemudian orang-orang lain mengikuti jejak kita.

"Kami orang-orang Qureiys adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Kami adalah orang-orang Arab dari

keturunan yang tidak berat sebelah.

"Kalian (kaum Anshar) adalah para pembela kebenaran Allah. Kalian sekutu kami dalam agama

dan selalu bersama kami dalam berbuat kebajikan. Kalian merupakan orang-orang yang paling kami cintai dan kami hormati. Kalian merupakan orang-orang yang paling rela menerima takdir

Allah, dan bersedia menerima apa yang telah dilimpahkan kepada saudara-saudara kalian kaum

Muhajirin. Juga kalian adalah orang-orang yang paling sanggup membuang rasa iri-hati terhadap

mereka. Kalian orang-orang yang sangat berkesan di hati mereka, terutama di kala mereka

dalam keadaan menderita. Kalian juga merupakan orang-orang yang berhak menjaga agar Islam

tidak sampai mengalami kerusakan."

Demikian Abu Bakar r.a. menurut catatan Ibnu Abil Hadid, yang diketengahkannya dalam buku

Syarh Nahjil Balaghah, jilid VI, halaman 5 - 12.

Orang-orang Anshar kemudian menyambut: "Demi Allah kami sama sekali tidak merasa iri hati

terhadap kebajikan yang di limpahkan Allah kepada kalian (kaum Muhajirin). Tidak ada orang

yang lebih kami cintai dan kami sukai selain kalian. Jika kalian sekarang hendak mengangkat

seorang pemimpin dari kalangan kalian sendiri, kami rela dan akan kami bai'at. Tetapi dengan

syarat, apa bila ia sudah tiada lagi --karena meninggal dunia atau lainnya-- tiba giliran kami

untuk memilih dan mengangkat seorang pemimpin dari kalangan kami, kaum Anshar. Bila ia

sudah tiada lagi, tibalah kembali giliran kalian untuk mengangkat seorang pemimpin dari kaum

Muhajirin. Demikianlah seterusnya selama ummat ini masih ada.

"Itu merupakan cara yang paling kena untuk memelihara keadilan di kalangan ummat

Muhammad. Dengan demikian setiap orang Anshar akan menjaga diri jangan sampai

menyeleweng sehingga akan ditangkap oleh orang Qureiys. Sebaliknya orang Qureiys pun akan

menjaga diri untuk tidak sampai menyeleweng agar jangan sampai ditangkap oleh orang

Anshar."

Mendengar pendapat orang Anshar itu, Abu Bakar r.a. tampil lagi berbicara: "Pada waktu Rasul

Allah s.a.w. datang membawa risalah, orang-orang Arab bersikeras untuk tidak meninggalkan

agama nenek-moyang mereka. Mereka membangkang dan memusuhi beliau. Kemudian Allah

mentakdirkan kaum Muhajirin menjadi orang-orang yang terdahulu membenarkan risalah dan

beriman kepada beliau. Mereka tolong-menolong dalam membantu Rasul Allah dan bersama

beliau dengan tabah menghadapi gangguan-gangguan hebat yang dilancarkan oleh kaumnya

sendiri.

"Mereka tetap tangguh menghadapi musuh yang tidak sedikit jumlahnya. Mereka adalah

manusia-manusia pertama di permukaan bumi ini yang bersembah sujud kepada Allah.

Merekapun orang-orang pertama yang beriman kepada Rasul Allah. Mereka adalah orang-orang

kepercayaan dan sanak famili beliau. Mereka lebih berhak memegang kepemimpinan

sepeninggal beliau. Dalam hal itu tidak akan ada orang yang menentang kecuali orang yang

dzalim."

"Sesudah kaum Muhajirin, tak ada orang yang mempunyai kelebihan dan kedinian memeluk

Islam selain kalian. Oleh karena itu patutlah kalau kami ini menjadi pemimpin-pemimpin dan

kalian menjadi pembantu-pembantu kami. Dalam musyawarah kami tidak akan

mengistimewakan orang lain kecuali kalian, dan kami tidak akan mengambil tindakan tanpa

kalian."

Mendengar penjelasan Abu Bakar r.a. tersebut, seorang Anshar bernama Hubab bin Al Mundzir

bersitegang-leher. Ia berseru kepada kaumnya: Hai Orang-orang Anshar! Pegang teguhlah apa

yang ada di tangan kalian. Mereka itu (kaum Muhajirin) bukan lain hanyalah orang-orang yang

berada di bawah perlindungan kalian. Orang-orang Anshar tidak akan bersedia menjalankan

sesuatu, selain perintah yang kalian keluarkan sendiri. Kalianlah yang melindungi dan membela

Rasul Allah s.a.w. Kepada kalian mereka berhijrah. Kalian adalah tuan rumah lslam dan Iman.

Demi Allah, Allah tidak disembah secara terang-terangan selain di tengah-tengah kalian dan di

negeri kalian. Shalat pun belum pernah diadakan secara berjama'ah selain di masjid-masjid

kalian. Iman pun tidak dikenal orang di negeri Arab selain melalui pedang-pedang kalian. Oleh karena itu peganglah teguh-teguh kepemimpinan kalian. Jika mereka menolak, biarlah dari kita

seorang pemimpin dan dari mereka seorang pemimpin!"

Sekarang tibalah saatnya Umar Ibnul Khattab r.a. berbicara. Dengan nada keras tertahan-tahan

ia berkata: "Alangkah jauhnya fikiran itu. Dua bilah pedang tak mungkin berada dalam satu

sarung! Orang-orang Arab tak mungkin rela menerima pimpinan kalian. Sebab, Nabi mereka

bukan berasal dari kalian. Orang-orang Arab tidak akan menolak jika kepemimpinan diserahkan

kepada golongan Qureiys. Sebab, baik kenabian maupun kekuasaan berasal dari mereka.

"Itulah alasan kami," kata Umar r.a. selanjutnya, "yang sangat jelas bagi orang-orang yang tidak

sependapat dengan kami. Dan itu pulalah alasan yang sangat gamblang bagi orang-orang yang

menentang pendapat kami. Tidak akan ada orang yang menentang pendapat kami mengenai

kepemimpinan Muhammad dan ahli warisnya. Tidak akan ada orang yang dapat membantah

bahwa kami ini adalah orang-orang kepercayaan dan sanak famili beliau. Hanyalah orang-orang

yang hendak menghidupkan kebatilan sajalah yang mau berbuat dosa, atau mereka sajalah

orang-orang yang celaka!"

Hubab bin Al-Mundzir berdiri lagi seraya berteriak: "Hai orang-orang Anshar, jangan kalian

dengarkan perkataan orang itu dan rekan-rekannya! Mereka akan merampas hak kalian. Jika

mereka tetap menolak apa yang telah kalian katakan, keluarkanlah mereka itu dari negeri

kalian, dan peganglah sendiri kepemimpinan atas kaum muslimin. Kalian adalah orang-orang

yang paling tepat untuk urusan itu. Hanya pedang kalian sajalah yang sanggup menyelesaikan

persoalan ini dan dapat menundukkan orang-orang yang tak mau tunduk. Biasanya pendapatku

sering berhasil menyelesaikan persoalan rumit seperti ini. Aku mempunyai cukup pengalaman

dan pengetahuan tentang asal mula terjadinya persoalan seperti ini. Demi Allah, jika masih ada

orang yang membantah apa yang kukatakan, akan kuhancurkan batang hidungnya dengan

pedang ini!" Hubab berkata demikian, sambil menghunus pedang dari sarungnya.

Abu Bakar r.a. di Bai'at

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya mengemukakan lebih lanjut tentang peristiwa debat di Saqifah

Bani Sa'idah itu sebagai berikut:

"Pada waktu Basyir bin Sa'ad Al-Khazrajiy melihat orang Anshar hendak bersepakat mengangkat

Sa'ad bin 'Ubadah sebagai Amirul Mukminin, ia segera berdiri. Basyir sendiri adalah orang dari

qabilah Khazraj. Ia merasa tidak setuju jika Sa'ad bin Ubadah terpilih sebagai Khalifah.

Berkatalah Basyir: "Hai orang-orang Anshar! Walaupun kita ini termasuk orang-orang yang dini

memeluk agama Islam, tetapi perjuangan menegakkan agama tidak bertujuan selain untuk

memperoleh keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak boleh membuat orang banyak berteletele,

dan kita tidak ingin keridhoan Allah dan Rasul-Nya diganti dengan urusan duniawi.

Muhammad Rasul Allah s.a.w. adalah orang dari Qureiys dan kaumnya tentu lebih berhak

mewarisi kepemimpinannya. Demi Allah, Allah s.w.t. tidak memperlihatkan alasan kepadaku

untuk menentang mereka memegang kepemimpinan ummat. Bertaqwalah kalian kepada Allah.

Janganlah kalian menentang atau membelakangkan mereka!"

Mendengar suara orang Anshar memberi dukungan kepada kaum Muhajirin, Abu Bakar r.a.

berkata lagi: "Inilah Umar dan Abu Ubaidah! Bai'atlah salah seorang, mana yang kalian sukai!"

Tetapi dua orang yang ditunjuk oleh Abu Bakar r.a. menyahut dengan tegas: "Demi Allah, kami

berdua tidak bersedia memegang kepemimpinan mendahuluimu. Engkaulah orang yang paling

afdhal di kalangan kaum Muhajirin. Engkaulah yang mendampingi Rasul Allah di dalam gua, dan

engkau jugalah yang mewakili beliau mengimami shalat-shalat jama'ah selama beliau sakit.

Shalat adalah sendi agama yang paling utama. Ulurkanlah tanganmu, engkau kubai'at."

Tanpa berbicara lagi, Abu Bakar r.a. segera mengulurkan tangan dan kedua orang itu -- yakni

Umar r.a. dan Abu Ubaidah-- segera menyambut tangan Abu Bakar r.a. sebagai tanda membai'at. Kemudian menyusul Basyir bin Sa'ad mengikuti jejak Umar r.a. dan Aba Ubaidah.

Pada saat itu Hubab bin Al-Mundzir berkata kepada Basyir: "Hai Basyir, engkau memecah belah!

Engkau berbuat seperti itu hanya didorong oleh rasa iri hati terhadap anak pamanmu," yakni

Sa'ad bin 'Ubadah.

Begitu melihat ada seorang pemimpin qabilah Khazraj membai'at Abu Bakar r.a., seorang

terkemuka dari qabilah Aus, bernama Usaid bin Udhair, segera pula berdiri dan turut

menyatakan bai'atnya kepada Abu Bakar r.a. Dengan langkah Usaid ini, maka semua orang dari

qabilah Aus akhirnya menyatakan bai'atnya masing-masing kepada Abu Bakar r.a. dan Sa'ad bin

Ubadah terbaring tak mereka hiraukan.

Sampai hari-hari selanjutnya, Sa'ad bin 'Ubadah tetap tidak mau menyatakan bai'at kepada Abu

Bakar r.a. Hal itu sangat menimbulkan kemarahan Umar Ibnul Khattab r.a. Umar r.a. berusaha

hendak menekan Sa'ad, tetapi banyak orang mencegahnya. Mereka memperingatkan Umar r.a.

bahwa usahanya akan sia-sia belaka. Bagaimana pun juga Sa'ad tidak akan mau menyatakan

bai'atnya. Walau sampai mati dibunuh sekalipun. Ia seorang yang mempunyai pendirian keras

dan bersikap teguh. Kata mereka kepada Umar r.a.: "Kalau sampai Sa'ad mati terbunuh,

anggota-anggota keluarganya tidak akan tinggal diam sebelum semuanya mati terbunuh atau

gugur. Dan kalau sampai mereka mati terbunuh, maka semua orang Khazraj tidak akan

berpangku tangan sebelum mereka semua mati terbunuh. Dan kalau sampai orang Khazraj

diperangi, maka semua orang Aus akan bangkit ikut berperang bersama-sama orang Khazraj."

Pendapat Imam Ali r.a.

Ketika berlangsung proses pembai'atan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sebagai Khalifah untuk

meneruskan kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. atas ummat Islam, Imam Ali r.a. tidak ikut

terlibat di dalamnya. Ia masih sibuk mempersiapkan pemakaman jenazah Rasul Allah s.a.w.

Hampir tidak ada ungkapan sejarah yang mengemukakan bagaimana sikap Imam Ali r.a. pada

waktu mendengar berita tentang terbai'atnya Abu Bakar r.a. secara mendadak sebagai

Khalifah. Tetapi isteri Imam Ali r.a., puteri Rasul Allah s.a.w. yang selalu bersikap terus terang,

sukar menerima kenyataan terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah. Sitti Fatimah Azzahra

r.a. berpendirian, bahwa yang patut memikul tugas sebagai Khalifah dan penerus

kepemimpinan Rasul Allah s.a.w. hanyalah suaminya.

Pendirian Sitti Fatimah r.a. didasarkan pada kenyataan bahwa Imam Ali r.a. adalah satu-satunya

kerabat terdekat beliau. Bahwa seorang anggota ahlul-bait Rasul Allah s.a.w. lebih

berhak ketimbang orang lain untuk menduduki jabatan Khalifah. Selain itu Imam Ali r.a. juga

sangat dekat hubungannya dengan Rasul Allah s.a.w., baik dilihat dari sudut hubungan

kekeluargaan maupun dari sudut prestasi besar yang telah diperbuat dalam perjuangan

menegakkan agama Allah. Demikian pula ilmu pengetahuannya yang sangat kaya berkat ajaran

dan pendidikan yang diberikan langsung oleh Rasul Allah s.a.w. kepadanya. Itu merupakan

syarat-syarat terpenting bagi seseorang untuk dapat di bai'at sebagai penerus kepemimpinan

Rasul Allah s.a.w. atas ummatnya.

Dengan gigih Sitti Fatimah r.a. memperjuangkan keyakinan dan pendiriannya itu. Pada suatu

malam dengan menunggang unta ia mendatangi sejumlah kaum Anshar yang telah membai'at

Abu Bakar r.a. guna menuntut hak suaminya. Kaum Anshar yang didatanginya itu menanggapi

tuntutan Sitti Fatimah r.a. dengan mengatakan: "Wahai puteri Rasul Allah s.a.w., pembai'atan

Abu Bakar sudah terjadi. Kami telah memberikan suara kepadanya. Kalau saja ia (Imam Ali r.a.)

datang kepada kami sebelum terjadi pembai'atan itu, pasti kami tidak akan memilih orang

lain."

Imam Ali r.a: sendiri dalam menanggapi pembai'atan Abu Bakar r.a. hanya mengatakan:

"Patutkah aku meninggalkan Rasul Allah s.a.w. sebelum jenazah beliau selesai dimakamkan…, hanya untuk mendapat kekuasaan?"

Pembicaraan dan perdebatan mengenai masalah kekhilafan banyak dilakukan orang, termasuk

antara Imam Ali r.a. dan orang-orang Bani Hasyim di satu fihak, dengan Abu Bakar r.a. dan

Umar r.a. di lain fihak. Semuanya itu tidak mengubah keadaan yang sudah terjadi. Sebagai

akibatnya hubungan antara Sitti Fatimah r.a. dan Abu Bakar r.a. tidak lagi pernah berlangsung

secara baik.

Sebagai orang yang merasa dirinya mustahak memangku jabatan khalifah, Imam Ali r.a. tidak

meyakini tepatnya pembai'atan yang diberikan oleh kaum Muhajirin dan Anshar kepada Abu

Bakar r.a. Selama 6 bulan ia mengasingkan diri dan menekuni ilmu-ilmu agama yang

diterimanya dari Rasul Allah s.a.w.

Dalam masa 6 bulan ini muncullah berbagai macam peristiwa berbahaya yang mengancam

kelestarian dan kesentosaan ummat.

Demi untuk memelihara kesentosaan Islam dan menjaga keutuhan ummat dari bahaya

perpecahan, akhirnya Imam Ali r.a. secara ikhlas menyatakan kesediaan mengadakan kerjasama

dengan khalifah Abu Bakar r.a. Terutama mengenai hal-hal yang olehnya dipandang

menjadi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Sikap Imam Ali r.a. yang seperti itu tercermin

dengan jelas sekali dalam sepucuk suratnya yang antara lain:

"Aku tetap berpangku-tangan sampai saat aku melihat banyak orang-orang yang meninggalkan

Islam dan kembali kepada agama mereka semula. Mereka berseru untuk menghapuskan agama

Muhammad s.a.w. Aku khawatir, jika tidak membela Islam dan pemeluknya, akan kusaksikan

terjadinya perpecahan dan kehancuran. Bagiku hal itu merupakan bencana yang lebih besar

dibanding dengan hilangnya kekuasaan. Kekuasaan yang ada di tangan kalian, tidak lain

hanyalah suatu kenikmatan sementara dan hanya selama beberapa waktu saja. Apa yang sudah

ada pada kalian akan lenyap seperti lenyapnya bayangan fatamorgana atau seperti lenyapnya

awan. Oleh karena itu, aku bangkit menghadagi kejadian itu, sampai semua kebatilan tersingkir

musnah, dan sampai agama berada dalam suasana tenteram…"

Sejak saat itu suara Imam Ali r.a. berkumandang kembali di tengah-tengah kaum muslimin,

terutama pada saat-saat ia dimintai pendapat-pendapat oleh Khalifah Abu Bakar r.a.

Kesempatan-kesempatan semacam itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberi pengarahan

kepada kehidupan Islam dan kaum muslimin, agar jangan sampai menyimpang dari ketentuanketentuan

Allah dan Rasul-Nya, baik di bidang legislatif (tasyri'iyyah), eksekutif (tanfidziyyah),

maupun judikatif (qadha'iyyah).

Dialog Abu Bakar r.a. dengan Abbas r.a.

Dalam buku Syarh Nahjil Balaghah, jilid I, halaman 97-100. Ibnu Abil Hadid mengetengahkan

suatu keterangan tentang situasi pada saat terbai'atnya Abu Bakar r.a. sebagai Khalifah.

Keterangan itu dikutipnya dari penuturan Al-Barra' bin Azib, seorang yang sangat besar

simpatinya kepada Bani Hasyim.

"Aku adalah orang yang tetap mencintai Bani Hasyim," kata Al-Barra' bin Azib. "Pada waktu

Rasul Allah s.a.w. mangkat, aku sangat khawatir kalau-kalau orang Qureiys sudah punya

rencana hendak menjauhkan orang-orang Bani Hasyim dari masalah itu, yakni masalah

kekhalifahan. Aku bingung sekali, seperti bingungnya seorang ibu yang kehilangan anak kecil.

Padahal waktu itu aku masih sedih disebabkan oleh wafatnya Rasul Allah s.a.w. Aku ragu-ragu

menemui orang-orang Bani Hasyim, yang ketika itu sedang berkumpul di kamar Rasul Allah

s.a.w. Wajah mereka kuamat-amati dengan penuh perhatian. Demikian juga air muka orangorang

Qureiys."

"Demikian itulah keadaanku ketika aku melihat Abu Bakar dan Umar tidak berada di tempat itu.

Sementara itu ada orang mengatakan bahwa sejumlah orang sedang berkumpul di Saqifah Bani

Sa'idah. Orang lain lagi mengatakan bahwa Abu Bakar telah dibai'at sebagai Khalifah."

"Tak lama kemudian kulihat Abu Bakar bersama-sama Umar Ibnul Khattab, Abu Ubaidah bin Al-

Jarrah dan sejumlah orang lainnya. Mereka itu tampaknya habis menghadiri pertemuan yang

baru saja diadakan di Saqifah Bani Sa'idah. Kulihat juga hampir semua orang yang berpapasan

dengan mereka ditarik; dihadapkan dan dipegangkan tangannya kepada tangan Abu Bakar

sebagai tanda pernyataan bai'at. Saat itu hatiku benar-benar terasa berat.

"Kemudian malam harinya kulihat Al-Miqdad, Salman, Abu Dzar, Ubadah bin Shamit, Abul

Haitsam bin At Taihan, Hudzaifah dan 'Ammar bin Yasir. Mereka ini ingin supaya diadakan

musyawarah kembali di kalangan kaum Muhajirin. Berita tentang hal ini kemudian didengar

oleh Abu Bakar dan Umar."

"Berangkatlah Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan Al-Mughirah untuk menjumpai Abbas bin

Abdul Mutthalib di rumahnya, Setelah mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah s.w.t., Abu

Bakar berkata kepada Abbas:"Allah telah berkenan mengutus Muhammad s.a.w. sebagai Nabi

kepada kalian. Allah pun telah mengaruniakan rahmat-Nya kepada ummat dengan adanya Rasul

Allah di tengah-tengah mereka, sampai Dia menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-

Nya."

"Rasul Allah s.a.w. meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan sendiri siapa yang

akan diangkat sebagai waliy (pemimpin) mereka. Kemudian kaum muslimin memilih diriku

untuk melaksanakan tugas memelihara dan menjaga kepentingan-kepentingan mereka. Pilihan

mereka itu kuterima dan aku akan bertindak sebagai waliy mereka. Dengan pertolongan Allah

dan bimbingan-Nya, aku tidak akan merasa khawatir, lemah, bingung ataupun takut. Bagiku tak

ada taufiq dan pertolongan selain dari Allah. Hanya kepada Allah sajalah aku bertawakkal,

kepada-Nya jualah aku akan kembali."

"Tetapi, belum lama berselang aku mendengar ada orang yang menentang dan mengucapkan

kata-kata yang berlainan dari yang telah dinyatakan oleh kaum muslimin pada umumnya. Orang

itu hendak menjadikan kalian sebagai tempat berlindung dan benteng. Sekarang terserahlah

kepada kalian, apakah kalian hendak mengambil sikap seperti yang telah diambil oleh orang

banyak, ataukah hendak mengubah sikap mereka dari apa yang sudah menjadi kehendak

mereka."

"Kami datang kepada anda, karena kami ingin agar kalian ambil bagian dalam masalah itu. Kami

tahu bahwa anda adalah paman Rasul Allah s.a.w. Demikian juga semua kaum muslimin

mengetahui kedudukan anda dan keluarga anda di sisi Rasul Allah s.a.w. Oleh karena itu

mereka pasti bersedia meluruskan persoalan bersama-sama anda. Terserahlah kalian, orangorang

Bani Hasyim, sebab Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga."

Menurut Al-Barra', sampai di situ Umar Ibnul Khattab menukas perkataan Abu Bakar r.a. dengan

cara-caranya sendiri yang keras. Kemudian Umar r.a berkata kepada Abbas: "Kami datang

bukan kerena butuh kepada kalian, tetapi kami tidak suka ada orang-orang muslimin dari kalian

yang turut menentang. Sebab dengan cara demikian kalian akan lebih banyak menumpuk kayu

bakar di atas pundak kaum muslimin. Lihatlah nanti apa yang akan kalian saksikan bersamasama

kaum muslimin."

Menanggapi ucapan Abu Bakar r.a. serta Umar r.a. tadi, menurut catatan Al-Barra', waktu itu

Abbas menjawab:

"…Sebagaimana anda katakan tadi, benarlah bahwa Allah telah mengutus Muhammad s.a.w.

sebagai Nabi dan sebagai pemimpin kaum msulimin. Dengan itu Allah telah melimpahkan

karunia kepada ummat Muhammad sampai Allah menetapkan sendiri apa yang menjadi kehendak-Nya. Rasul Allah s.a.w. telah meninggalkan ummatnya supaya mereka menyelesaikan

sendiri urusan mereka dan memilih sendiri siapa yang akan diangkat menjadi pemimpin

mereka.Mereka tetap berada di dalam kebenaran dan telah menjauhkan diri dari bujukan hawa

nafsu.

"Jika atas nama Rasul Allah s.a.w. anda minta kepadaku supaya aku turut ambil bagian,

sebenarnya hak kami sudah anda ambil lebih dulu. Tetapi jika anda mengatas-namakan kaum

muslimin, kami ini pun sebenarnya adalah bagian dari mereka."

"Dalam persoalan kalian itu, kami tidak mengemukakan hal yang berlebih-lebihan. Kami tidak

mencari pemecahan melalui jalan tengah dan tidak pula hendak menambah ruwetnya

persoalan. Jika sekiranya persoalan itu sudah menjadi kewajiban anda terhadap kaum

muslimin, kewajiban itu tidak ada artinya jika kami tidak menyukainya."

"Alangkah jauhnya apa yang telah anda katakan tadi, bahwa di antara kaum muslimin ada yang

menentang, di samping ada lain-lainnya lagi yang condong kepada anda. Apa yang anda katakan

kepada kami, kalau hal itu memang benar sudah menjadi hak anda kemudian hak itu hendak

anda berikan kepada kami, sebaiknya hal itu janganlah anda lakukan. Tetapi jika memang

menjadi hak kaum muslimin, anda tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan sendiri.

Namun jika hal itu menjadi hak kami,

kami tidak rela menyerahkan sebagian pun kepada anda. Apa yang kami katakan itu sama sekali

bukan berarti bahwa kami ingin menyingkirkan anda dari urusan kekhalifahan yang sudah anda

terima. Kami katakan hal itu semata-mata karena tiap hujjah memerlukan penjelasan."

"Adapun ucapan anda yang mengatakan 'Rasul Allah dari kami dan dari kalian juga', maka beliau

sesungguhnya berasal dari sebuah pohon dan kami adalah cabang-cabangnya, sedangkan kalian

adalah tetangga-tetangganya."

"Mengenai yang anda katakan, hai Umar, tampaknya anda khawatir terhadap apa yang akan

diperbuat oleh orang banyak terhadap kami. Sebenarnya itulah yang sejak semula hendak

kalian katakan kepada kami. Tetapi hanya kepada Allah sajalah kami mohon pertolongan."

Kekhalifahan Abu Bakar r.a.

Masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. kurang lebih hanya dua tahun. Dalam waktu yang

singkat itu terjadi beberapa kali krisis yang mengancam kehidupan Islam dan

perkembangannya. Perpecahan dari dalam, maupun rongrongan dari luar cukup gawat. Di

utara, pasukan Byzantium (Romawi Timur) yang menguasai wilayah Syam melancarkan berbagai

macam provokasi yang serius, guna menghancurkan kaum muslimin Arab, yang baru saja

kehilangan pemimpin agungnya.

Dekat menjelang wafatnya, Rasul Allah s.a.w. merencanakan sebuah pasukan ekspedisi untuk

melawan bahaya dari utara itu, dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Tetapi

belum sempat pasukan itu berangkat ke medan juang, Rasul Allah wafat.

Setelah Abu Bakar r.a. menjadi Khalifah dan pemimpin ummat, amanat Rasul Allah dilanjutkan.

Pada mulanya banyak orang yang meributkan dan meragukan kemampuan Usamah, dan

pengangkatannya sebagai Panglima pasukan dipandang kurang tepat. Usamah dianggap masih

ingusan. Lebih-lebih karena pasukan Byzantium jauh lebih besar, lebih kuat persenjataannya

dan lebih banyak pengalaman. Apa lagi pasukan Romawi itu baru saja mengalahkan pasukan

Persia dan berhasil menduduki Yerusalem. Di kota suci ini, pasukan Romawi berhasil pula

merebut kembali "salib agung" kebanggaan kaum Nasrani, yang semulanya sudah jatuh ke

tangan orang-orang Persia.

Dengan dukungan sahabat-sahabat utamanya, Khalifah Abu Bakar r.a. berpegang teguh pada

amanat Rasul Allah s.a.w. Dalam usaha meyakinkan orang-orang tentang benar dan tepatnya kebijaksanaan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. memainkan peranan yang tidak kecil. Akhirnya

Usamah bin Zaid tetap diserahi pucuk pimpinan atas sebuah pasukan yang bertugas ke utara.

Pengangkatan Usamah sebagai Panglima ternyata tepat. Usamah berhasil dalam ekspedisinya

dan kembali ke Madinah membawa kemenangan gemilang.

Bahaya desintegrasi atau perpecahan dalam tubuh kaum muslimin mengancam pula

keselamatan ummat. Muncul oknum-oknum yang mengaku dirinya sebagai "nabi-nabi". Muncul

pula kaum munafik menelanjangi diri masing-masing. Beberapa Qabilah membelot secara

terang-terangan menolak wajib zakat. Selain itu ada qabilah-qabilah yang dengan serta merta

berbalik haluan meninggalkan Islam dan kembali ke agama jahiliyah. Pada waktu Rasul Allah

masih segar bubar, mereka itu ikut menjadi "muslimin". Setelah beliau wafat, mereka

memperlihatkan belangnya masing-masing. Seolah-olah kepergian beliau untuk selama-lamanya

itu dianggap sebagai pertanda berakhirnya Islam.

Demikian pula kaum Yahudi. Mereka mencoba hendak menggunakan situasi krisis sebagai

peluang untuk membangun kekuatan perlawanan balas dendam terhadap kaum muslimin.

Tidak kalah berbahayanya ialah gerak-gerik bekas tokoh-tokoh Qureiys, yang kehilangan

kedudukan setelah jatuhnya Makkah ke tangan kaum muslimin. Mereka itu giat berusaha

merebut kembali kedudukan sosial dan ekonomi yang telah lepas dari tangan. Tentang mereka

ini Khalifah Abu Bakar r.a. sendiri pernah berkata kepada para sahabat: "Hati-hatilah kalian

terhadap sekelompok orang dari kalangan 'sahabat' yang perutnya sudah mengembang, matanya

mengincar-incar dan sudah tidak bisa menyukai siapa pun juga selain diri mereka sendiri.

Awaslah kalian jika ada salah seorang dari mereka itu yang tergelincir. Janganlah kalian sampai

seperti dia. Ketahuilah, bahwa mereka akan tetap takut kepada kalian, selama kalian tetap

takut kepada Allah…"

Berkat kepemimpinan Abu Bakar r.a., serta berkat bantuan para sahabat Rasul Allah s.a.w.,

seperti Umar Ibnul Khattab r.a., Imam Ali r.a., Ubaidah bin Al-Jarrah dan lain-lain, krisis-krisis

tersebut di atas berhasil ditanggulangi dengan baik. Watak Abu Bakar r.a. yang demokratis,dan

kearifannya yang selalu meminta nasehat dan pertimbangan para tokoh terkemuka, seperti

Imam Ali r.a., merupakan, modal penting dalam tugas menyelamatkan ummat yang baru saja

kehilangan Pemimpin Agung, Nabi Muhammad s.a.w.

Dengan masa jabatan yang singkat, Khalifah Abu Bakar r.a. berhasil mengkonsolidasi persatuan

ummat, menciptakan stabilitas negara dan pemerintahan yang dipimpinnya dan menjamin

keamanan dan ketertiban di seluruh jazirah Arab.

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. memang seorang tokoh yang lemah jasmaninya, akan tetapi ramah

dan lembut perangainya, lapang dada dan sabar.Sesungguhpun demikian, jika sudah

menghadapi masalah yang membahayakan keselamatan Islam dan kaum muslimin, ia tidak

segan-segan mengambil tindakan tegas, bahkan kekerasan ditempuhnya bila dipandang perlu.

Konon ia wafat akibat serangan penyakit demam tinggi yang datang secara tiba-tiba.

Menurut buku Abqariyyatu Abu Bakar, yang di tulis Abbas Muhammad Al 'Aqqad", sebenarnya

Abu Bakar r.a. sudah sejak lama terserang penyakit malaria. Yaitu beberapa waktu setelah

hijrah ke Madinah. Penyakit yang dideritanya itu dalam waktu relatif lama tampak sembuh,

tetapi tiba-tiba kambuh kembali dalam usianya yang sudah lanjut. Abu Bakar r.a. wafat pada

usia 63 tahun.


Bab VII : KHALIFAH UMAR IBNUL KHATTAB R.A.

Di samping ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, Umar Ibnul Khattab r.a. terkenal sebagai

orang yang bertabiat keras, tegas, terus terang dan jujur. Sama halnya seperti Abu Bakar Ash

Shiddiq r.a., sejak memeluk Islam ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk kepentingan Islam

dan muslimin. Baginya tak ada kepentingan yang lebih tinggi dan harus dilaksanakan selain

perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan fisik dan mentalnya, ketegasan sikap dan keadilannya, ditambah lagi dengan

keberaniannya bertindak, membuatnya menjadi seorang tokoh dan pemimpin yang sangat

dihormati dan disegani, baik oleh lawan maupun kawan. Sesuai dengan tauladan yang diberikan

Rasul Allah s.a.w., ia hidup sederhana dan sangat besar perhatiannya kepada kaum sengsara,

terutama mereka yang diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain.

Bila Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menjadi Khalifah melalui pemilihan kaum muslimin, maka Umar

Ibnul Khattab r.a. dibai'at sebagai Khalifah berdasarkan pencalonan yang diajukan oleh Abu

Bakar r.a. beberapa saat sebelum wafat. Masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab r.a.

berlangsung selama kurang lebih 10 tahun.

Sukses dan Tantangan

Di bawah pemerintahannya wilayah kaum muslimin bertambah luas dengan kecepatan luar

biasa. Seluruh Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Sedangkan daerah-daerah kekuasaan

Byzantium, seluruh daerah Syam dan Mesir, satu persatu bernaung di bawah bendera tauhid.

Penduduk di daerah-daerah luar Semenanjung Arabia berbondong-bondong memeluk agama

Islam. Dengan demikian lslam bukan lagi hanya dipeluk bangsa Arab saja, tetapi sudah rnenjadi

agama berbagai bangsa.

Sukses gilang-gemilang yang tercapai tak dapat dipisahkan dari peranan Khalifah Umar Ibnul

Khattab r.a. sebagai pemimpin. Ia banyak mengambil prakarsa dalam mengatur administrasi

pemerintahan sesuai dengan tuntutan keadaan yang sudah berkembang. Demikian pula di

bidang hukum. Dengan berpegang teguh kepada prinsip-prinsip ajaran Islam, dan dengan

memanfaatkan ilmu-ilmu yang dimiliki para sahabat Nabi Muhammad s.a.w., khususnya Imam

Ali r.a., sebagai Khalifah ia berhasil menfatwakan bermacam-macam jenis hukum pidana dan

perdata, disamping hukum-hukum yang bersangkutan dengan pelaksanaan peribadatan.

Tetapi bersamaan dengan datangnya berbagai sukses, sekarang kaum rnuslimin sendiri mulai

dihadapkan kepada kehidupan baru yang penuh dengan tantangan-tantangan. Dengan adanya

wilayah Islam yang bertambah luas, dengan banyaknya daerah-daerah subur yang kini menjadi

daerah kaum muslimin, serta dengan kekayaan yang ditinggalkan oleh bekas-bekas penguasa

lama (Byzantium dan Persia), kaum muslimin Arab mulai berkenalan dengan kenikmatan hidup

keduniawian.

Hanya mata orang yang teguh iman sajalah yang tidak silau melihat istana-istana indah, kotakota

gemerlapan, ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan.

Kaum muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam yang

hendak mencoba menghancurkan mereka, tetapi kali ini tantangan yang harus dihadapi jauh

lebih berat, yaitu tantangan nafsu syaitan, yang tiap saat menggelitik dari kiri-kanan, mukabelakang.

Tantangan berat itulah yang mau tidak mau harus ditanggulangi oleh Khalifah Umar Ibnul

Khattab r.a. Berkat ketegasan sikap, kejujuran dan keadilannya, dan dengan dukungan para

sahabat Rasul Allah s.a.w. yang tetap patuh pada tauladan beliau, Khalifah Umar r.a. berhasil

menekan dan membatasi sekecil-kecilnya penyelewengan yang dilakukan oleh sementara tokoh

kaum muslimin. Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan tegas dan

keras, cepat pula diambil terhadap oknum-oknum yang bertindak tidak jujur terhadap

kekayaan negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yang kuat dari semua kaum muslimin

yang jujur, sedangkan oknum-oknum yang berusaha keras memperkaya diri sendiri, keluarga

dan golongannya, pasti melawan dan memusuhinya.

Selama berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a., musuh-musuh kaum

muslimin memang tidak dapat berkutik. Namun bahaya latent yang berupa rayuan kesenangan

hidup duniawi, tetap tumbuh dari sela-sela ketatnya pengawasan Khalifah.

Dalam menghadapi tantangan yang sangat berat itu, Khalifah Umar r.a. tidak sedikit menerima

bantuan dari Imam Ali r.a. Dalam masa yang penuh dengan tantangan mental dan spiritual itu,

Imam Ali r.a. menunjukkan perhatiannya yang dalam.

Dengan segenap kemampuan dan kekuatannya, Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. bersama para

sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w., berusaha keras mengendalikan situasi yang hampir

meluncur ke arah negatif.

Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang untuk mengetahui kehidupan rakyat,

terutama mereka yang hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri, ia memikul gandum yang

hendak diberikan sebagai bantuan kepada seorang janda yang sedang ditangisi oleh anakanaknya

yang kelaparan.

Jika Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru, anggota-anggota keluarganya justru yang

dikumpulkannya lebih dulu. Ia minta supaya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam

melaksanakan peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yang melakukan pelanggaran,

maka hukuman yang dijatuhkan kepada mereka pasti lebih berat daripada kalau pelanggaran

itu dilakukan oleh orang lain.

Dengan kekhalifahannya. itu, Umar Ibnul Khattab r.a. telah menanamkan kesan yang sangat

mendalam di kalangan kaum muslimin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yang patut

dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yang tak

ada bedanya dengan cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat, sehingga rakyat

hanya makan roti kering, ia menolak diberi samin oleh seorang yang tidak tega melihatnya

makan roti tanpa disertai apa-apa. Ketika itu ia mengatakan: "Kalau rakyat hanya bisa makan

roti kering saja, aku yang bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu

juga."

Memanggil calon pengganti

Kepemimpinan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. atas ummat Islam benar-benar memberikan

ciri khusus kepada pertumbuhan Islam. Sumbangan yang diberikan bagi kemantapan hidup

kenegaraan dan kemasyarakatan ummat, sungguh tidak kecil.

Umar Ibnul Khattab r.a. wafat, setelah menderita sakit parah akibat luka-luka tikaman senjata

tajam yang dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu'lu-ah. Dalam keadaan

kritis di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sempat meletakkan dasar prosedur

bagi pemilihan Khalifah penggantinya. Rasa tanggung jawabnya yang besar atas kesinambungan

kepemimpinan ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya, walaupun maut sudah berada di

ambang kehidupannya.

Dalam saat yang gawat itulah ia meminta pendapat para penasehatnya yang dalam catatan

sejarah terkenal dengan sebutan "Ahlu Syuro", tentang siapa yang layak menduduki atau

memegang pimpinan tertinggi ummat Islam.

Umar Ibnul Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yang memiliki jiwa kerakyatan.

Sehingga ketika di antara penasehatnya ada yang mengusulkan supaya Abdullah bin Umar,

putera sulungnya, ditetapkan sebagai Khalifah pengganti, dengan cepat Umar r.a menolak. Ia

mengatakan: "Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yang bakal meneruskan tugas itu.

Cukuplah sudah apa yang sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yang menanggung

resiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu, baik hidup ataupun mati!" Demikian

kata Umar r.a. dengan suara berpacu mengejar tarikan nafas yang berat.

Sehabis mengucapkan kata-kata seperti di atas, Umar r.a. lalu mengungkapkan, bahwa sebelum

wafat, Rasul Allah s.a.w. telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Qureiys. Yaitu Ali bin Abi Thalib, 'Utsman bin Affan, Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair bin Al 'Awwam, Sa'ad bin Abi

Waqqash dan Abdurrahman bin 'Auf. "Aku berpendapat", kata Umar r.a. lebih jauh, "sebaiknya

kuserahkan kepada mereka sendiri supaya berunding, siapa di antara mereka yang akan dipilih."

Kemudian seperti berkata kepada diri sendiri, ia berucap: "Jika aku menunjuk siapa orangnya

yang akan menggantikan aku, hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari

aku, yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Kalau aku tidak menunjuk siapa pun, hal itu pun pernah

dilakukan oleh orang yang lebih afdhal daripada diriku, yakni Nabi Muhammad s.a.w."

Tanpa menunggu tanggapan orang yang ada disekitarnya, Khalifah Umar r.a. kemudian

memerintahkan supaya ke-enam orang (Ahlu Syuro) tersebut di atas segera dipanggil.

Kondisi fisik Khalifah Umar r.a. yang terbaring tak berdaya itu, tampak bertambah gawat pada

saat keenam orang yang dipanggil itu tiba. Ketika ia melihat ke-enam orang itu sudah penuh

harap menantikan apa yang bakal diamanatkan, dengan sisa-sisa

tenaganya Khalifah Umar r.a. berusaha memperlihatkan ketenangan. Tiba-tiba ia melontarkan

suatu pertanyaan yang sukar dijawab oleh enam orang sahabatnya. "Apakah kalian ingin

menggantikan aku setelah aku meninggal?"

Tentu saja pertanyaan yang dilontarkan secara tiba-tiba dan sukar dijawab itu sangat

mengejutkan semua yang hadir. Mula-mula mereka diam, tertegun. Dan ketika Khalifah Umar

r.a. menatap wajah mereka satu persatu, masing-masing menunduk tercekam berbagai

perasaan. Di satu fihak tentunya mereka itu sangat sedih melihat pemimpin mereka dalam

kondisi fisik yang begitu merosot. Tetapi di fihak lain, mereka bingung tidak tahu kemana arah

pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang yang arif dan bijaksana itu. Karena tak ada yang

menjawab, Khalifah Umar r.a. mengulangi lagi pertanyaannya.

Setelah itu barulah Zubair bin Al-'Awwam menanggapi. Ia menjawab: "Anda telah menduduki

jabatan itu dan telah melaksanakan kewajiban dengan baik. Dalam qabilah Qureiys sebenarnya

kami ini menempati kedudukan yang tidak lebih rendah dibanding dengan anda. Sedangkan dari

segi keislaman dan hubungan kekerabatan dengan Rasul Allah s.a.w., kami pun tidak berada di

bawah anda. Lalu, apa yang menghalangi kami untuk memikul tugas itu?"

Tampaknya kata-kata yang ketus itu dilontarkan Zubair karena menyadari bahwa tokoh yang

berbaring di hadapannya itu sudah dalam keadaan sangat gawat. Hal itu dapat kita ketahui dari

komentar sejarah yang dikemukakan oleh seorang penulis terkenal, Syeikh Abu Utsman Al

Jahidz. Ia mengatakan: "Jika Zubair tahu bahwa Khalifah Umar r.a. akan segera wafat di depan

matanya, pasti ia tidak akan melontarkan kata-kata seperti itu, dan bahkan tidak akan berani

mengucapkan sepatah kata pun."

Kata-kata Zubair bin Al 'Awwam itu tidak langsung ditanggapi oleh Khalifah Umar r.a. Seakanakan

kata-kata itu tak pernah didengarnya. Dengan tersendat-sendat Khalifah Umar r.a.

melanjutkan perkataannya: "Bisakah kuajukan kepada kalian penilaianku tentang diri kalian?"

Kembali Zubair menukas dengan nada sinis: "Katakan saja. Tokh kalau kami minta supaya kami

dibiarkan, anda akan tetap tidak membiarkan kami!"

Penilaian

Kata-kata Zubair ini tampaknya sangat menyakitkan telinga Khalifah Umar r.a. yang sabar itu.

Sambil memandang tajam ke arah Zubair, Umar r.a. berkata: "Tentang dirimu, Zubair…, kau itu

adalah orang yang lancang mulut, kasar dan tidak mempunyai pendirian tetap. Yang kausukai

hanyalah hal-hal yang menyenangkan dirimu sendiri, dan engkau membenci apa saja yang tidak

kausukai. Pada suatu ketika engkau benar-benar seorang manusia, tetapi pada ketika yang lain

engkau adalah syaitan! Bisa jadi kalau kekhalifahan kuserahkan kepadamu, pada suatu ketika

engkau akan menampar muka orang hanya gara-gara gandum segantang."

Khalifah Umar menghentikan perkataannya sebentar, seolaholah mengambil nafas untuk

mengumpulkan kekuatan dan mengendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: "Tahukah

engkau, jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yang akan melindungi orang-orang

pada saat engkau sedang menjadi syaitan? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang

kemarahan?"

Tanpa menunggu jawaban Zubair, Khalifah Umar r.a. menoleh kearah Thalhah bin Ubaidillah,

yang segera menundukkan kepala setelah melihat sorot mata pemimpin yang berwibawa itu.

Bukan rahasia lagi di kalangan kaum muslimin pada masa itu, bahwa sudah beberapa waktu

lamanya Khalifah Umar r.a. memendam rasa jengkel terhadap tokoh yang satu ini. Peristiwanya

bermula pada waktu Khalifah Abu Bakar r.a. masih hidup. Ketika itu Thalhah mengucapkan

suatu kata kepada Abu Bakar r.a yang sangat tidak mengenakkan perasaan Umar Ibnul Khattab

r.a

Setelah memandang Thalhah sejenak, Khalifah Umar r.a. bertanya: "Sebaiknya aku bicara atau

diam saja?"

"Bicaralah!" sahut Thalhah dengan nada acuh tak acuh. "Tokh anda tidak akan berkata baik

mengenai diriku!"

"Aku mengenalmu sejak jari-jarimu luka pada waktu perang Uhud," kata Khalifah Umar r.a.

kepada Thalhah. "Dan aku juga mengenal kecongkakan yang pernah muncul pada dirimu. Rasul

Allah wafat dalam keadaan beliau tidak senang kepadamu. Itu akibat kata-kata yang

kauucapkan ketika ayat Al-Hijab turun."

Menurut catatan yang dibuat oleh Syeikh Abu Utsman Al Jahidz, perkataan Thalhah yang

dimaksud ialah ucapan kepada salah seorang sahabat. Kata-kata Thalhah itu akhirnya sampai

juga ke telinga Rasul Allah s.a.w.: "Apa arti larangan itu baginya (yakni bagi Rasul Allah s.a.w.)

sekarang ini? Dia bakal mati. Lalu kita bakal menikahi permpuan-perempuan itu!"

Habis berbicara tentang pribadi Thalhah, Khalifah Umar r.a. melihat kepada Sa'ad bin Abi

Waqqash. Kepadanya Umar r.a. berkata: "Engkau seorang yang mempunyai banyak kuda

perang. Dengan kuda-kuda itu engkau telah berjuang dan berperang. Banyak sekali senjata

yang kau miliki, busur dan anak panahnya. Tetapi qabilah Zuhrah (asal Saad), kurang tepat

untuk memangku jabatan Khalifah dan memimpin urusan kaum muslimin."

Tibalah sekarang giliran Khalifah Umar r.a. menilai pribadi Abdurrahman bin 'Auf, yang rupanya

sudah siap mendengarkan penilaiannya. "Jika separoh kaum muslimin imannya ditimbang

dengan imanmu," kata Khalifah Umar r.a., "maka imanmulah yang lebih berat. Tetapi

kekhalifahan tidak tepat kalau dipegang oleh seorang yang lemah seperti engkau. Qabilah

Zuhrah (asal Abdurrahman bin 'Auf juga) kurang kena untuk urusan itu."

Abdurrahman tidak sepatah kata pun menanggapi penilaian Khalifah Umar r.a. atas dirinya. Ia

membiarkan Khalifah berbicara lebih lanjut mengenai diri Iman Ali r.a. "Ya Allah, alangkah

tepat dan baiknya kalau anda tidak suka bergurau!" kata Khalifah Umar r.a. dengan nada suara

yang agak meninggi. Kemudian dengan suara merendah dikatakan: "Seandainya anda nanti yang

akan memimpin ummat, anda pasti akan membawa mereka menuju kebenaran yang terang

benderang."

Imam Ali r.a. tampak terjengah dan tersipu-sipu mendengar ucapan orang yang sangat

dikaguminya. Juga ia tidak memberikan tanggapan terhadap penilaian yang positif atas dirinya.

Khalifah Umar r.a. akhirnya dengan serius menoleh kearah Utsman bin Affan r.a. Tangannya

sudah makin melemah dan tenaganya sudah sangat berkurang. Tetapi ia memaksakan diri untuk

menilai orang keenam yang ada di hadapannya itu. "Aku merasa seakan-akan orang Qureiys telah mempercayakan kekhalifahan kepada anda," kata Khalifah dengan suara lembut, "karena

besarnya rasa kecintaan mereka kepada anda."

Wajah Khalifah Umar r.a. mendadak kelihatan sendu, seolah-olah sedang menahan perasaan

getir yang menyelinap ke dalam kalbu. "Tetapi aku melihat nantinya anda akan mengangkat

orang-orang Bani Umayyah dan Bani Mu'aith di atas orangorang lain. Kepada mereka anda akan

menghamburkan harta ghanimah yang tidak sedikit." Suara Khalifah meninggi pula: "Akhirnya

akan ada segerombolan 'serigala' Arab datang menghampiri anda, lalu mereka akan membantai

anda di atas pembaringan."

Dengan nada peringatan yang sungguh-sungguh, Khalifah Umar r.a. mengakhiri kata-katanya:

"Demi Allah, jika anda sampai melakukan apa yang kubayangkan itu, gerombolan 'srigala' itu

pasti akan berbuat seperti yang kukatakan. Dan kalau yang demikian itu benar-benar terjadi,

ingatlah kepada kata-kataku ini! Semua itu akan terjadi"

Cara Pemilihan

Berbicara tentag wasyiat Khalifah Umar r.a. menjelang wafat nya, Syeikh Abu Utsman Al Jahidz

juga mengungkapkan keterangan Mu'ammar bin Sulaiman At Taimiy, yang diperol~h dari Ibnu

Abbas. Yang tersebut belakangan ini diketahui pernah mendengar apa yang pernah dikatakan

Umar Ibnul Khattab r.a. kepada para Ahlu Syuro menjelang wafatnya: "Jika kalian saling

membantu, saling percaya dan saling menasehati, maka kupercayakan kepemimpinan ummat

kepada kalian, bahkan sampai kepada anak cucu kalian. Tetapi kalau kalian saling dengki,

saling membenci , saling menyalahkan dan saling bertentangan, kepemimpinan itu akhirnya

akan jauth ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan!".

Perlu diketahui, bahwa ketika Khalifah Umar r.a. masih hidup, Muawiyah bin Abu Sufyan sudah

beberapa tahun lamanya menjabat sebagai kepala daerah Syam. Ia diangkat sebagai kepala

daerah oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Sejarah kemudian mencatat, bahwa yang diperkirakan

oleh Khalifah Umax r.a. menjelang akhir hayatnya menjadi kenyataan.

Klimaks dari penyampaian wasyiat oleh Khalifah Umar r.a. ialah memerintahkan supaya Abu

Thalhah A1 Anshariy datang menghadap. Waktu orang yang dipanggil itu sudah berada didekat

pembaringannya, berkatalah Khalifah Umar r.a. dengan tegas dan jelas, seolah-olah sedang

melepaskan sisa tenaganya yang terakhir:

"Abu Thalhah, camkan baik-baik! Kalau kalian sudah selesai memakamkan aku, panggillah 50

orang Anshar. Jangan lupa, supaya masing-masing membawa pedang. Lalu desaklah mereka (6

orang Ahlu Syuro) supaya segera menyelesaikan urusan mereka (untuk memilih siapa di antara

mereka itu yang akan ditetapkan sebagai Khalifah). Kumpulkan mereka itu dalam sebuah

rumah. Engkau bersama-sama teman-i;emanmu berjaga jaga di pintu. Biarkan mereka

bermusyawarah untuk memilih salah seorang di antara mereka.

"Jika yang Iima setuju dan ada satu yang menentang, penggallah leher orang yang menentang

itu! J'ika empat orang setuju dan ada dua yang menentang, penggallah leher dua orang itu! Jika

tiga orang setuju dan tiga orang lainnya menentang, tunggu dan lihat dulu kepada tiga orang

yang diantaranya termasuk Abdurrahman bin 'Auf. Kalian harus mendukung kesepakatan tiga

orang ini. Kalau yang tiga orang lainnya masih bersikeras menentang,penggal saja leher tiga

orang yang bersikeras itu!.

"Jika sampai tiga hari, enam orang itu belum juga mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan

urusan mereka, penggal saja leher enam orang itu semuanya. Biarlah kaum muslimin sendiri

memilih siapa yang mereka sukai untuk dijadikan pemimpin mereka !".

Dari sekelumit informasi sejarah tersebut di atas, kita mengetahui, betapa tingginya rasa

tanggung-jawab dan jiwa kerakyatan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Secara tertib dan terperinci, sampai detik-detik menjelang ajalnya, ia masih memikirkan caracara pengangkatan

seorang Khalifah yang akan mengantikannya. Sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka

tikaman sejata tajam, ia masih sempat berusaha menyinambungkan kepemimpinan ummat

Islam sebaik-baiknya.


Daftar Isi:

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a 1

Oleh 1

H.M.H. Al Hamid Al Husaini 1

M U Q A D D I M A H 2

Bab VI : KHALIFAH ABU BAKAR ASH SHIDDIQ 10

Abu Bakar r.a. & Umar r.a. ke Saqifah 14

Abu Bakar r.a. di Bai'at 19

Pendapat Imam Ali r.a 21

Dialog Abu Bakar r.a. dengan Abbas r.a 24

Kekhalifahan Abu Bakar r.a 29

Bab VII : KHALIFAH UMAR IBNUL KHATTAB R.A 33

Sukses dan Tantangan 33

Memanggil calon pengganti 37

Penilaian 40

Cara Pemilihan 43