Imam Mahdi ajf dan Menjawab syubhat
Pengelompokan Imam Mahdi ajf
sang penulis Tim MuslimMenjawab.com
Bahasa buku اندونزیایی
tahun cetak 1404

Mengenal Imam Mahdi

Dan

Menjawab Syubhat

Tim Muslim Menjawab


Mukadimah Mengenal Mahdawiyah

Di dalam tulisan-tulisan sebelumnya, kita telah mengupas aliran Yamani, sebuah aliran yang mengklaim kalau pemimpinnya, Ahmad al-Hasan Bahsri mengaku sebagai Imam Mahdi. Seperti yang kita tahu, sedikit banyak kami telah menyanggah beberapa klaimnya dengan dalil-dalil yang jelas, yang bisa Anda baca di tulisan-tulisan sebelumnya.

Setelah membahas Imam Mahdi ‘palsu’, yaitu Ahmad al-Hasan Bashri, tentu kuranag afdal rasanya jika kita tak mengakaji juga Imam Mahdi yang sesungguhnya berikut dengan hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti apa tujuan ia gaib, dan kapan ia muncul dan sebagainya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang Imam Mahdi, alangkah baiknya kalau kita mengetahui apa makna dari kata Mahdi itu sendiri. Secara bahasa, Mahdi adalah kata dari bahasa Arab yang berarti yang dihidayahi. Kemudian, semakin ke sini, kata itu berkembang menjadi mahdawiyah, yang artinya hal-hal yang berkaitan dengan Imam Mahdi.

Setelah itu, makna dari kata al-mahdi semakin berkembang, yaitu sosok yang menolong. Salah satu tokoh yang memaknai al-Mahdi sebagai penolong adalah Abu Ishak bin Matah bin Haisu’ Hamiri[1] . Tak kita mungkiri, hal itu juga rupanya telah dipertegas dari hadis nabi yang cukup familiar, yang berbunyi begini,

الْمَهْدِی مِنْ وُلْدِی، وَجْهُهُ کالْکوْکبِ الدُّرِّی، وَ اللَّوْنُ لَوْنٌ عَرَبِی، وَ الْجِسْمُ جِسْمٌ إِسْرَائِیلِی، یمْلَأُ الْأَرْضَ عَدْلًا کمَا مُلِئَتْ جَوْراً، یرْضَی بِخِلَافَتِهِ أَهْلُ السَّمَاءِ وَ الطَّیرُ فِی الْجَو .

“Al-Mahdi adalah seseorang dari keturunanku. Wajahnya seperti bintang-gemintang yang berkilau. Warna (badannya) adalah warna badan orang-orang Arab. Perawakannya seperti orang-orang Yahudi. Ia akan memenuhi muka bumi ini dengan keadilan, sebagaimana bumi dipenuhi dengan ketidakadilan. Penduduk bumi dan burung-burung di udara rela dengan kekhilafahannya (kepemimpinannya)…”[2]

Di dalam banyak literatur, konsep Imam Mahdi tidak hanya dimiliki di dalam Islam, terlebih di dalam mazhab Syiah. Lebih dari itu, konsep tersebut juga ada di dalam agama-agama lain (yang akan dijelaskan lebih rinci di tulisan yang akan datang). Di dalam mazhab Syiah, Al-Mahdi adalah termasuk dari rentetan para imam Syiah.

Al-Mahdi di dalam mazhab Syiah adalah imam yang kedua belas, dan yang terakhir dari rentetan para Imam. Ayahnya bernama Hasan Al-Askari, dan ibunya bernama Nargis Khatun. Ia lahir pada 15 Syakban 255 Qamariyah di Samira, Irak. Di dalam keyakinan Syiah, Imam Mahdi sudah lahir dan di masa sekarang masih dalam keghaiban, sedang menurut keyakinan Sunni Imam Mahdi belumlah lahir, dan akan lahir di akhir zaman.

Itulah sedikit pengantar dari pembahasan Imam Mahdi atau mahdawiyah, yang insya Allah akan dibahas lebih rinci di tulisan-tulisan selanjutnya.


Injil Beritakan Kemunculan Juru Selamat Akhir Zaman

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa pembahasan Muslim Menjawab telah masuk pada tema baru. Dan pada seri sebelumnya telah dipaparkan pembahasan mukadimah mengenal mahdawiyah.

Hal ini mengingat bahwa kemunculan sosok yang dinanti ini bukan hanya menjadi topik pembicaraan ajaran agama Islam, akan tetapi juga menjadi tema ulasan dari konten kitab agama lain.

Melanjutkan pembahasan tersebut pada seri ini akan disebutkan pandangan agama selain Islam dalam melihat kemunculan juru selamat akhir zaman atau yang oleh kalangan Islam disebut sebagai Imam Mahdi tersebu.

Salah satu agama yang memuat ulasan kemunculan juru selamat akhir zaman tersebut adalah agama Kristen lewat Injilnya. Di mana di dalam Injil Lukas disebutkan berita kemunculannya dengan menyebutnya sebagai Anak Manusia:

Dan akan ada tanda-tanda pada matahari, dan bulan, dan bintang-bintang; dan di atas bumi kecemasan bangsa-bangsa dalam keputusasaan mereka karena menderunya laut dan gelombang.

Orang-orang terpingsan-pingsan oleh rasa takut dan penantian yang menimpa penduduk dunia sebab kuasa-kuasa langit akan digoncangkan.

Dan kemudian mereka akan melihat anak manusia yang datang dalam awan dengan kuasa dan kemuliaan yang besar[3]

Di dalam beberapa pesan di atas juga disebutkan tentang keadaan yang meliputi dunia saat menjelang kemunculanya, di mana semesta penuh dengan kejadian-kejadian alam dan ketidak tenangan.

Masih dengan sebutan Anak Manusia, demikian Injil Matius memberitakan kemunculan sang juru selamat akhir zaman tersebut:

Namun mengenai hari dan saat itu tidak seorang pun mengetahuinya, bahkan para malikat di surga pun tidak, kecuali Bapa-Ku saja.

Dan sebagaimana pada zaman Nuh, demikian pulalah kedatangan Anak Manusia akan terjadi[4]

Literatur di atas menjelaskan bahwa selain Allah Swt, tidak ada yang mengetahui secara persis kapan waktu kemunculan Anak Manusia yang dijanjikan tersebut. Namun yang pasti bahwa sosok agung tersebut akan datang pada waktunya.

Masih dalam Injil Matius, disebutkan bahwa manusia diperintah untuk selalu siaga dan bersiap-siap untuk menyambut kedatangan juru selamat agung tersebut:

Sebab itu kamu juga, bersiapsedialah, karena Anak Manusia datang pada waktu yang tidak kamu duga.[5]

Dari berbagai pesan-pesan Injil di atas dapat dipahami bahwa agama Kristen juga mengulas dan meyakini keberadaan sosok penyelamat akhir zaman dengan menyebutnya sebagai Anak Manusia.

Keadaan dunia saat kemunculannya digambarkan sebagai dunia yang penuh guncangan dan jauh dari ketentraman serta ketenangan.

Dan yang lebih krusial lagi, Injil berpesan kepada para pengikutnya untuk senntiasa memiliki persiapan untuk menyambut kedatangannya.


Sederet Poin Penting Terkait Mahdawiyah (Bagian 1)

Di dalam tulisan sebelumnya, kami telah mengulas tentang Imam Mahdi secara universal dengan judul Mukkadimah Mengenal Mahdawiyah. Di tulisan kali ini, penulis hendak memperluas pembahasan tersebut, melalui beberapa poin penting dan ringkas, yang mudah-mudahan dapat memberikan dampak positif di dalam pemahaman kita terkait konsep Mahdawiyah.

Pertama, sisi keyakinan (akidah). Seperti yang kita tahu, boleh dikata, keyakinan yang diyakini seseorang akan menentukan pada sikapnya. Dengan kata lain, baik-buruknya sikap seseorang bergantung pada keyakinan yang mereka punya. Dalam hal ini, jika keyakinan kita soal Islam kuat, maka sikap-sikap yang akan lahir dari diri kita adalah sikap yang terpuji, yang mencerminkan ajaran Islam, sebab Islam senantiasa mengajarkan kita pada kebaikan dan kebajikan.

Di dalam dasar keyakinan Syiah terdapat lima pilar penting yang menjadi pegangan, seperti tauhid, kenabian, hari akhir (ma’ad), kepemimpinan (imamah) dan keadilan (al’adalah). Kalau mau dirinci, tiga dasar keyakinan di atas, tauhid, kenabian dan hari akhir, di kalangan Syiah atau di dalam mazhab lain masyhur dengan sebutan ushul ad-din (dasar-dasar agama), yang artinya tiga pilar tersebut hampir ada di dalam agama-agama dengan istilah yang tentunya berdeda-beda.

Dasar kepemimpinan dan keadilan di dalam mazhab Syiah, disebutnya ushulul mazhab, yang artinya dasar-dasar yang terdapat di dalam mazhab Syiah dan sebagian mazhab yang lain. Di dalam mazhab Syiah, pembahasan Imam Mahdi atau mahdawiyah masuk dalam kategori dasar kepemimpinan. Nah, inilah alasannya, kenapa pemabahasan mahdawiyah memiliki kaitan dengan sebuah keyakinan.

Diutusnya para nabi, terlebih Nabi Muhammad Saw, salah satu tujuannya adalah untuk menyeru manusia agar pecaya kepada Allah Swt. Lebih dari itu, nabi adalah penyambung lidah Allah untuk menyampaikan pesan-pesan langit ke penduduk bumi. Di dalam keyakinan Syiah, para imam yang berjumlah 12 manusia suci adalah pengganti Nabi Saw, untuk menggantikan posisi mereka agar manusia di muka bumi ini tetap memiliki sosok penunjuk jalan kebenaran dan kesempurnaan.

Tugas para imam itu terus berlanjut hingga imam kedua belas, yaitu Imam Mahdi yang saat ini masih hidup dan dalam keadaan ghaib (tersembunyi). Di dalam pembahasan kepemimpinan, setidaknya ditekankan bagi orang Syiah untuk mengenal para imam, terlebih imam terakhir. Hal ini bukan tanpa alasan, pasalnya, hal ini telah disinggung di dalam ayat al-Quran dan banyak riwayat di antaranya adalah sebagai berikut.

“(Ingatlah) pada hari (ketika) Kami panggil setiap umat dengan pemimpin mereka.” (QS. Al-Isra’:71).

Di dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad Saw., juga pernah bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal imam zamannya, maka ia mati seperti orang jahiliyah.”[6]

Di dalam hadis lain, Imam Ja’far Shadiq berkata, “Bukanlah (termasuk) hamba mukmin, kecuali ia mengenal Allah dan rasu-Nya dan para imam secara keseluruhan serta imam zamannya dan (semua perkara) kembali kepadanya dan diserahkan kepadanya.”[7]

Dari ayat dan hadis di atas, sejatinya seorang Muslim ditekankan untuk mengenal imam mereka yang notabene sebagai kepanjangan tangan para nabi. Karena, bagaimanapun, di tangan merekalah kompas kebenaran ini digenggam. Sebagai manusia yang penuh keterbatasan, tiada cara lain untuk meraih kesempurnaan selain dengan patuh dan taat kepada mereka, di mana bagi keyakinan Syiah, di tangan Imam Mahdilah kompas kebenaran itu berada.


Sederet Poin Penting Terkait Mahdawiyah (Bagian 2)

Kedua, sisi sosial. Dengan meyakini konsep mahdawiyah, tentu akan sangat berefek positif dalam kehidupan manusia. Dengan meyakini kemunculan Imam Mahdi, kita akan selalu punya harapan hidup, bahwa sesusah dan sesulit apapun hidup kita, selama diniatkan untuk menyambut kemunculan al-Mahdi, hal itu tiada apa-apanya. Sebab kesusahan dan kesengsaaraan yang saat ini sedang kita pikul, akan terbayar kontan dengan sosok al-Mahdi yang bakal menegakkan bumi ini dengan seadil-adilnya. Karenanya, dialah harapan itu. Dialah yang akan menuntun kita kepada Allah Swt.

Mungkin, bisa kita bayangkan, apa jadinya jika kita tak punya sosok yang kita bisa harapkan di dalam kehidupan kita yang lebih baik, tentu hidup ini berubah menjadi tempat yang tak memiliki semangat dan dipenuhi dengan keputusasaan. Ibarat kita hendak pergi, namun tak punya tujuan, tentu hal itu akan melemahkan semangat kita sekaligus membuat kita bingung, lantaran tidak ada sesuatu yang hendak kita tuju dan raih.

Ketiga, sisi politik. Selama bertahun-tahun manusia telah mencicipi berbagai aliran politik. Namun, tak satu pun dari aliran politik tersebut yang memberikan sebuah kehangatan di balik selimut keadilan yang menyeluruh. Yang ada, semakin ke sini, ritme kehidupan kian dipenuhi kezaliman, yang diperagakan oleh orang-orang, yang katanya punya kedudukan tinggi, dan rakyat kecil yang menjadi korban kekejaman mereka.

Contoh yang paling gamblang adalah kezaliman Zionis Israel terhadap masyarakat Palestina; kerjaan Arab Saudi terhadap warga Yaman dan negara-negara besar seperti Amerika yang meluluhlantakan beberapa negara di dunia, terlebih negara di kawasan. Semua ini adalah potret dari perpolitikan kotor, yang selalu menindas kaum lemah demi kepentingan pribadi.

Manusia saat ini tengah mencari sebuah aliran politik yang pure demi kemanusiaan, yang di dalamnya tidak ada kezaliman dan kepentingan pribadi apapun. Dan inilah potret dari kepemimpinan Imam Mahdi yang bakal muncul kelak. Keadilan akan ditegakkan secara merata di muka bumi ini, tanpa tebang pilih. Di tengah kemunculannya, tiada lagi yang kuat menindas yang lemah dan bentuk kecurangan lainnya, yang saat ini sedang marak terjadi di sekeliling kita.

Keempat, sisi budaya. Di tengah keghaiban Imam Mahdi, ada beberapa budaya yang perlu ditanamkan di dalam diri seorang penanti. Pertama, menjelaskan pentingnya makna dari penantian. Penantian berarti menyiapkan diri untuk menyambut kemunculan Imam Zaman. Bukan hanya menyiapkan diri, lebih dari itu, sudah selazimnya bagi seorang penanti menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi. Kedua, mengenal bahaya dan musuh. Iya, di masa keghaibannya, sudah selayakanya bagi penanti untuk mengenal dan mencegah segala hal yang dapat menyelewengkan konsep mahdawiyah dengan beragam cara, seperti aliran-aliran yang mengaku Imam Mahdi, seperti Ahmad Hasan al-Bashri dan yang lainnya.

Itulah empat poin penting yang membahas tentang hal-hal berkaitan dengan Mahdawiyah. Semoga bermanfaat buat kita semua. Wallahu a’lam bi as-shawab.


Mahdawiyah dalam Al-Quran

Pembahasan tentang Mahdawiyah merupakan salah satu bahasan yang menarik nan istimewa. Tak ayal pembahasan mengenai juru selamat ini seperti magnet yang menyedot perhatian para ulama, para peneliti ataupun para cendikiawan.

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, bahasan mengenai Mahdawiyah, tidak hanya melingkupi satu mazhab atau satu agama saja. Mahdawiyah atau kemunculan juru selamat akhir zaman dibahas atau diteliti dalam lingkup berbagai agama dan mazhab-mazhab dalam Islam.

Sebelumnya kita telah bahas mengenai kemunculan juru selamat yang diberitakan dalam kitab Injil. Kali ini penulis ingin membahas mengenai Mahdawiyah dalam Alquran Al-Karim.

Penjelasan mengenai juru selamat akhir zaman atau dalam agama Islam dikenal dengan Imam Mahdi tidak dijelaskan secara gamblang dalam Al-Quran. Namun terdapat beberapa ayat dalam Alquran yang dinilai dan ditafsirkan berhubungan atau berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi di akhir zaman.

Para Mufassir Syiah mengkategorikan ayat-ayat yang berhubungan dengan konsep Mahdawiyah menjadi dua,

Pertama, ayat yang menggambarkan tentang kemestian adanya Imam atau sang pemberi petunjuk di setiap kaum, seperti yang tercantum dalam Surat Ar-Ra’d ayat 7.

إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

..Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.

Sekaitan dengan ayat diatas Imam Baqir As menafsirkan bahwa di setiap zaman terdapat Imam dari Ahlulbait yang memberi petunjuk pada setiap kaumnya. Sebagaimana yang termaktub dalam kitab Biharul Anwar karya Allamah Majlisi.

…Dari Ibnu Udzainah dan Buraid al-‘Ajali ia berkata: aku berkata pada Abu Ja’far As,( إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَاد ٍ ), Imam berkata: al-Mundzir adalah Rasulullah Saw dan Ali yang memberi petunjuk, dan di setiap zaman terdapat imam dari kami yang memberikan petunjuk pada mereka terhadap apa yang datang pada Rasulullah Saw.[8]

Kedua, ayat yang mengabarkan tentang kekuasaan atau kepemimpinan di muka Bumi yang diserahkan kepada Mustad’afin, orang-orang shaleh, dan beriman. Terdapat beberapa ayat yang menggambarkan hal tersebut. Diantaranya:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. (Q.S Al-Anbiya: 105)

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (Q.S Al-Qashash: 5)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi..(Q.S An-Nur: 55)

Sekaitan dengan ayat terakhir diatas, Syekh At-Thabrasi dalam tafsirnya Majma’ul Bayan menjelaskan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan Imam Mahdi dari keluarga Muhammad Saw. Beliau juga menuliskan sebuah riwayat tentang tafsir dari ayat tersebut yang dinukil dari Imam Ali Zainal Abidin As.

…Diriwayatkan dari Al-‘ayasyi yang bersumber dari Ali bin al-Husain As, bahwasannya ia membaca ayat tersebut, dan ia berkata, Demi Allah mereka yang dimaksud adalah Syiah kami, dan itu akan terealisasi berkat seorang laki-laki dari kami, Dia adalah Mahdi umat ini. Dialah yang Rasulullah Saw bersabda, jika usia dunia sudah tidak tersisa lagi kecuali satu hari, Allah SWT akan memanjangkan hari tersebut sampai seseorang dari keluarga ku muncul, namanya seperti namaku, dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi oleh kezaliman.[9]

Itulah mungkin sedikitnya bahasan mengenai Mahdawiyah yang ada dalam Al-Quran Al-Karim. Jika kita teliti dan gali lebih dalam lagi tentunya pembahasan seputar juru selamat ini akan lebih luas lagi.

Wallahu A’lam


Juru Selamat Akhir Zaman dalam Perjanjian Lama

Pada tulisan sebelumnya telah dimuat kajian seputar juru selamat akhir zaman atau dalam istilah Islam imam Mahdi menurut tinjauan injil, yang merupakan bagian dari Perjanjian Baru.

Melanjutkan kajian tersebut, pada seri kali ini akan disebutkan sebagian dari ulasan Perjanjian Lama terkait dengan sosok akhir zaman ini.

Satu hal yang perlu diingat bahwa dalam literatur berbagai agama kemenangan akhir kebenaran atas kebatilan dan tegaknya keadilan serta kedamaian di muka bumi merupakan tujuan dari diutusnya juru selamat tersebut.

Mengamini hal ini, perjanjian lama disamping menyebutkan hal-hal lainnya, juga mengangkat tema tersebut. Di dalam Yesaya[10] disebutkan:

Dari catatan di atas ada banyak hal yang dapat dipahami. Pertama: Juru selamat yang diyakini oleh Perjanjian Lama berasal dari keturunan (batang) Isai. Kedua: Sosok ini memiliki kelebihan berupa hikmah, pengertian, nasihat, kekuatan pengetahuan dan takut kepada Allah Swt. Ketiga: pengadilannya adalah kebenaran dan pembelaan atas hak-hak yang terzalimi. Keempat: Dengan kedatangannya seluruh dunia akan dipenuhi dengan kedamaian dan permusuhan disingkirkan.

Di tempat lainnya, tepatnya Zakhariya disbutkan bahwa:

Dan akan ada satu hari, hari itu diketahui Oleh TUHAN (Yahweh), bukan siang, dan bukan pula malam tetapi akan ada terang pada waktu senja. Dan akan terjadi pada hari itu, air kehidupan akan mengalir dari Yerusalem, setengahnya ke laut sebelah timur, dan setengahnya ke laut sebelah barat, hal itu akan terjadi pada musim panas dan pada musim dingin. Dan pada hari itu TUHAN (Yahweh) akan menjadi raja atas seluruh bumi, TUHAN (Yahwe-lah) satu-satunya dan nama-Nya pun satu.[11]

Penggalan-penggalan di atas memuat beberapa hal. Yang pertama: Disebutkan bahwa yang mengetahui waktu kemunculan juru selamat tersebut adalah Allah Swt, sama dengan apa yang disebutkan oleh kitab perjanjian baru, sebagaimana telah disebutkan pada tulisan sebelumnya.

Yang kedua: Dakwah juru selamat tersebut dimulai dari Yerusalem dan akan menyebar ke seluruh dunia. Yang ketiga: pada hari itu kerajaan Allah akan menguasai seluruh semesta.

Berita-berita ini, menunjukkan bahwa kabar tentang kemunculan juru selamat bukanlah monopoli agama Islam saja, akan tetapi agama-agama lain juga mewartakan kemunculannya. Dan kedatangannya diyakini sebagai akhir dari kezaliman dan ditegakkannya keadilan di seluruh jagat raya.


Mahdawiyah dalam Kitab-Kitab Hadis Ahlu Sunnah

Kemunculan seorang juru selamat yang akan memenuhi dunia dengan keadilan di akhir jaman merupakan sebuah kepercayaan dan keyakinan yang dimiliki oleh hampir setiap agama, sebagaimana sebagian diantaranya telah dijelaskan dalam tulisan yang lalu.

Di dalam kepercayaan Islam sosok tersebut disebutkan dalam beberapa riwayat dengan julukan Al-Mahdi atau Imam Mahdi. Oleh sebab itu, pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan sosok tersebutpun sering kali dinisbatkan kepada julukannya itu sehingga dalam bahasa arab diistilahkan dengan Mahdawiyah.

Seperti yang sudah diketahui dari pembahasan-pembahsan sebelumnya, bahwa kepercayaan ini bukanlah sebuah dogma yang tidak memiliki dasar, justru yang lebih mengejutkan adalah perihal ini tidak terbatas hanya pada satu agama melainkan dimiliki oleh hampir setiap agama dalam literaturnya masing-masing.

Secara khusus dalam litarur Islam, hal ini sudah disinggung dalam sumber utama syariatnya yaitu Al-Quran, tidak hanya itu bahkan banyak riwayat yang dapat kita temukan dalam berbagai kitab-kitab hadis yang berbicara seputar persoalan ini. Diantaranya adalah beberapa kitab yang tergolong dalam Kutubus Sittah (enam kitab), sebagai berikut:

Dalam Sunan at-Tirmidzi diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Dunia ini tidak akan berakhir sampai seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang namanya menyamai namaku menguasai Arab.”[12]

Diriwayatkan pula bahwasannya Nabi Saw bersabda: “Akan berkuasa seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang namanya menyamai namaku.” Berkata Ashim: dan aku Abu Shaleh dari Abu Hurairah, berkata: “Seandainya tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari, maka sungguh Allah akan memanjangkan hari itu hingga ia (al-Mahdi) berkuasa.”[13]

Sementara itu di dalam Sunan Abi Daud diriwayatkan, Nabi Saw bersabda: “Seandainya tidak tersisa dari dunia kecuali satu hari,-beliau menambahkan dalam perkataannya- maka sungguh Allah akan memanjangkan hari itu -kemudian (para ulama) sepakat- hingga Ia mengutus seorang laki-laki dariku atau dari Ahlulbaitku yang namanya menyamai namaku dan nama ayahnya adalah nama ayahku -beliau menambahkan dalam hadis Fithr- yang akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana (sebelumnya) telah dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan.” Dan dalam hadis Sufyan, Ia berkata: ”Dunia tidak akan binasa atau berakhir sampai seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang namanya menyamai namaku menguasai Arab.”[14]

Senada dengan riwayat sebelumnya, Rasulullah Saw bersabda: “Seandainya tidak tersisa dari waktu (masa) kecuali satu hari, maka sungguh Allah akan mengutus seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang akan memenuhinya dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kezaliman.”[15]

Dari beberapa hadis di atas dapat kita lihat bahwa riwayat tersebut secara jelas menggambarkan kemunculan sosok juru selamat yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan di akhir masa, bahkan hal itu ditegaskan dengan berbagai pernyataan yang menyebutkan bahwa bumi ini atau masa ini tidak akan berakhir sampai kemunculan sosok tersebut, jika tersisa satu hari maka akan dipanjangkan… dst, hal ini seolah menyampaikan pesan pada Mukhatab-nya (orang yang diajak bicara) bahwa kemunculan itu adalah sesuatu yang pasti terjadi dan tidak akan terlewatkan.

Oleh sebab itu kepercayaan ini merupakan sebuah kepercayaan yang memiliki akar yang mendasar dalam literatur Islam, khususnya dalam pembahasan kali ini adalah pada kitab-kitab hadis yang Mu’tabar di kalangan Ahlu Sunnah.


Siapa Al-Mahdi dalam Kitab-Kitab Hadis Ahlu Sunnah

Seperti yang telah disinggung dalam pembahasan-pembasahan sebelumnya bahwa kepercayaan terhadap kemunculan sosok juru selamat -khususnya dalam literatur Islam- merupakan sebuah keyakinan yang mempunyai dasar, baik itu di dalam al-Quran maupun hadis.

Berangkat dari hal tersebut, tentu banyak hal terkait yang diberitakan mengenai kemunculan sosok juru selamat tersebut -atau lebih tepatnya sosok al-Mahdi dalam pandangan Islam- khususnya di dalam ranah hadis.

Berbeda halnya dengan al-Quran yang secara lebih global memberitakan masalah ini, seperti halnya yang telah dibahas pada pembahasan yang lalu, mengenai kepastian adanya seorang pemberi petunjuk atau Imam di setiap kaum dan juga kondisi di akhir masa bahwa bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba yang saleh dsb. Sementara itu kandungan yang dimuat oleh hadis terkait masalah ini jauh lebih rinci, seperti misalnya menjelaskan asal-usul sosok juru selamat tersebut.

Al-Mahdi dari Ahlulbait

Terdapat beberapa hadis yang secara jelas menyebutkan bahwa sosok juru selamat akhir zaman atau al-Mahdi berasal dari Ahlulbait Rasulullah Saw, diantaranya:

Ibnu Majah mencatat sebuah riwayat yang mana Rasulullah Saw bercerita kepada para sahabatnya mengenai Ahlulbait yang akan ditimpa berbagai cobaan dan ujian dari masa ke masa hingga pada akhirnya muncul para penolong yang akan menyerahkan panji pada seorang laki-laki dari Ahlulbait Nabi Saw yang kemudian akan memenuhi bumi ini dengan keadilan.[16]

Pada riwayat yang lain ia juga mencatat bahwasannya Nabi Saw bersabda: “Al-Mahdi dari kami Ahlulbait, Allah akan mengembalikan ia (menghadirkannya) pada sebuah malam.”[17]

Dalam Sunan at-Tirmidzi diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Dunia ini tidak akan berakhir sampai seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang namanya menyamai namaku menguasai Arab.”[18]

Diriwayatkan pula bahwasannya beliau Saw bersabda: “Akan berkuasa seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang namanya menyamai namaku…”[19]

Sementara itu di dalam Sunan Abi Daud diriwayatkan, dalam hadis Sufyan, beliau Saw berkata: ”Dunia tidak akan binasa atau berakhir sampai seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang namanya menyamai namaku menguasai Arab.[20]

Dalam riwayat yang lain juga disebutkan, Rasulullah Saw bersabda: “Seandainya tidak tersisa dari waktu (masa) kecuali satu hari, maka sungguh Allah akan mengutus seorang laki-laki dari Ahlulbaitku yang akan memenuhinya dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kezaliman.”[21]

Al-Mahdi dari keturunan Fatimah

Dalam riwayat yang berbeda, Rasulullah Saw mengabarkan berita tentang sosok al-Mahdi dengan menisbatkannya pada putrinya Fatimah az-Zahra As, seperti beberapa riwayat berikut:

Sunan Ibnu Majah mencatat riwayat dari Said bin Musayyab yang berkata: Kami berada di dekat Ummu Salamah dan membicarakan tentang al-Mahdi, lalu ia (Ummu Salamah) berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Al-Mahdi dari keturunan Fatimah.”[22]

Sunan Abi Daud juga meriwayatkan riwayat serupa dari Ummu Salamah, berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw, bersabda: “Al-Mahdi dari keturunanku dari anak cucu Fatimah.”[23]

Berdasarkan beberapa riwayat di atas secara gamblang menjelaskan bahwa sosok juru selamat yang kelak akan muncul dan mengemban tugas menciptakan keadilan di seluruh muka bumi ini adalah sosok yang lahir dari keturunan Rasulullah Saw melalui putrinya Fatimah az-Zahra As.


Abu Al-Hasan Al-Aburi: Hadis-Hadis Tentang Al-Mahdi Diriwayatkan Secara Mutawatir

Kemunculan sosok al-Mahdi sang ratu adil pada akhir zaman yang akan mewujudkan keadilan di bumi, telah banyak disinggung dan disebutkan di dalam literatur Islam, khususnya dalam pembahasan kita kali ini adalah riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab hadis Ahlu Sunnah.

Pada beberapa tulisan yang lalu, kita telah banyak melihat riwayat-riwayat tersebut memberitakan beberapa hal terkait sosok al-Mahdi, diantaranya adalah mengenai asal-usulnya yang berasal dari keturunan Rasulullah Saw.

Dalam kasus ini terdapat sebagian pihak yang meragukan keabsahan serta kemu’tabaran riwayat-riwayat tersebut dan menganggap bahwa riwayat-riwayat itu tidak lain hanyalah sebatas riwayat-riwayat yang lemah, atau seandainya pun ada yang bisa diterima, puncaknya hanya mencapai derajat Hasan.

Sementara itu di sisi yang lain terdapat para ulama yang tidak melihat demikian, serta yang ada malah sebaliknya. Meraka melihat bahwa riwayat-riwayat tersebut bahkkan dikategorikan sebagai Mutawatir.

Salah satunya adalah Abu al-Hasan Muhammad bin al-Husein bin Ibrahim bin ‘Ashim al-Aburi (wafat 363 H) penulis kitab Manaqib al-Imam asy-Syafi’I. Ad-Dzahabi menyebutnya dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala sebagai seorang Imam, Hafiz serta Muhaddis dari Sijjistan (Sistan saat ini) setelah Ibnu Habban.[24]

Ia menyebutkan bahwa riwayat-riwayat dari Rasulullah Saw yang mengabarkan tentang al-Mahdi sangatlah banyak periwayatnya, bahkan ia juga menggunakan istilah mutawatir dalam pernyataannya tersebut.

Ungkapannya itu salah satunya dinukil oleh al-Qurtubi dalam kitabnya yang berjudul Kitab at-Tadzkirah, yang berkata: “Abu al-Hasan Muhammad bin al-Husein bin Ibrahim bin ‘Ashim al-Aburi al-Sajzi, berkata: Telah banyak periwayatan berita-berita (secara mutawatir) dan tersebar luas dengan banyak perawinya dari al-Musthafa Saw yakni (tentang) al-Mahdi, bahwasannya ia dari Ahlulbaitnya, dan ia memiliki tujuh tahun memenuhi bumi dengan keadilan, serta bahwasannya ia keluar bersama Isa As yang akan membantunya untuk membunuh Dajjal di pintu (kota) Lud di tanah Palestina, juga bahwasannya ia akan memimpin umat ini dan Isa As akan shalat di belakangnya sepanjang perjalanan dan urusannya.”[25]

Di dalamnya kitab tafsirnya yang berjudul al-Jami li Ahkami al-Quran, saat menjabarkan ayat berikut:

هُوَ الَّذِيْ اَرْسَلَ رَسُوْلَه بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَه عَلَى الدِّيْنِ كُلِّه وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ [3 ]

[26]

Sepakat dengan Abu al-Hasan al-Aburi ia mencatat:

Dan dikatakan: “ليظهره ” yakni menunjukkan agama, menampakkan agama Islam atas semua agama; Abu Hurairah dan al-Dhahhak berkata: Ini adalah ketika turunnya Isa As, dan berkata al-Suddi: Itu adalah ketika keluarnya al-Mahdi; tidak tersisa seorangpun melainkan masuk Islam atau membayar Jizyah.

Dan dikatakan: al-Mahdi hanyalah Isa As saja. Dan ini tidaklah benar; sebab berita-berita sahih telah banyak diriwayatkan secara mutawatir bahwasannya al-Mahdi dari keturunan Rasulullah Saw, maka tidak boleh dinisbatkan pada Isa. Adapun hadis yang menyatakan bahwa: “Tidak ada al-Mahdi melainkan Isa” Tidaklah sahih. Al-Baihaqi berkata di dalam kitab al-Ba’tsu wa an-Nusyur: Sebab perawi hadis itu adalah Muhammad bin Khalid al-Janadi -dia adalah Majhul (tidak diketahui)- ia meriwayatkan dari Aban bin Abi A’yyasy -dia adalah Matruk (yang diitinggalkan periwayatannya)- dari al-Hasan dari Nabi Saw, dan dia (Hasan) terputus jalurnya. Sementara hadis-hadis sebelumnya yang bercerita tentang keluarnya al-Mahdi -dan diantaranya ada penjelasan bahwasannya al-Mahdi dari keturunan Rasulullah Saw- lebih sahih secara sanad.

Aku berkata: Kami telah membahas persoalan ini serta menambahkan penjelasan dalam kitab kami “Kitab at-Tadzkirah” juga mengumpulkan berita-berita tentang al-Mahdi, walhamdulillah.[27]

Dari beberapa penjelasan panjang di atas dapat kita pahami bahwa sebagian ulama melihat riwayat-riwayat mahdawiyah ini (al-Mahdi dari keturunan Nabi Saw) sebagai riwayat yang mu’tabar dan diterima bahkan lebih dari itu. Kita melihat di sini bagaimana Abu al-Hasan al-Aburi yang memberikan kesaksian bahwa riwayat-riwayat tersebut dinukil atau diriwayatkan dan disebarluaskan dalam jumlah yang banyak hingga ia pun menggunakan istilah Mutawatir. Yang kemudian hal ini pun didukung oleh al-Qurtubi serta dinukil dalam beberapa kitabnya seperti yang telah kita saksikan di atas.


Siapa Al-Mahdi dalam Kitab-Kitab Hadits Ahlu Sunnah [2]

Melanjutkan tulisan sebelumnya seputar karakteristik Imam Mahdi yang termaktub di dalam kitab-kitab hadits Ahlu Sunnah, pada tulisan kali ini akan diajukan riwayat-riwayat lainnya yang menjelaskan tentang sosok juru selamat ini.

Yang pertama riwayat yang dimuat dalam kitab al-Mustadrak ala al-Shahihain:

“Dari Abu Said al-Khudri, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: tidak akan terjadi kiamat sebelum dunia dipenuhi oleh kezaliman, penindasan dan permusuhan, kemudian seorang dari ahlulbaitku akan keluar untuk memenuhi dunia dengan keadilan.”[28]

Karakter atau ciri-ciri Imam Mahdi yang disebutkan di dalam riwayat di atas adalah bahwa sosok Imam Mahdi merupakan keturunan Nabi Saw, dan bukan dari kalangan lain.

Senada dengan riwayat di atas, kitab al-Mu’jam al-Kabir juga memberitakan hal yang sama:

“dari Ibn Masud, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: malam dan siang tidak akan sirna (kiamat tidak akan terjadi) sehingga seorang laki-laki dari ahlulbaitku berkuasa, namanya sama dengan namaku.”

“dari Abdullah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: seandainya umur dunia tidak tersisa kecuali satu malam saja, seorang laki-laki dari Ahlulbait Nabi Saw akan berkuasa padanya.[29]

Di dalam dua riwayat di atas selain dinyatakan bahwa Imam Mahdi merupakan Ahlulbait Nabi Saw, disebutkan juga bahwa Imam Mahdi memiliki nama yang sama dengan nama Rasulullah Saw.

Dengan menggabungkan tulisan sebelumnya sejauh ini telah disebutkan tiga karakter yang menjadi ciri Imam Mahdi As yaitu: dari Ahlulbait Nabi, keturunan Fathimah dan memiliki nama yang sama dengan Nabi Saw.

karakter-karakter ini akan membantu kita dalam mengidentifikasi sosok Imam Mahdi yang akan muncul nantinya, sehingga kita tidak mencari sosok palsu yang keluar dari kategori yang telah disebutkan.


Allamah As-Syaukani: Hadis-hadis tentang Al-Mahdi Capai Derajat Mutawatir Tanpa Keraguan

Berita tentang kemunculan sang Juru Selamat atau Imam Mahdi telah banyak disebutkan dalam berbagai literatur Islam, baik itu dalam kitab-kitab Ahlussunnah, Syiah, ataupun yang lainnya.

Pada seri-seri sebelumnya kita telah sebutkan beberapa hadis mengenai kehadiran sang Imam berikut beserta karakteristik yang menjadi ciri dari beliau seperti dari Ahlulbait, atau dari keturunan Fathimah As.

Lantaran banyaknya hadis-hadis yang mengabarkan perihal kehadiran Imam Mahdi di akhir Zaman, maka tak sedikit dari para ulama Islam yang mengkategorikan hadis mengenai Imam Akhir Zaman tersebut sebagai hadis yang mutawatir.

Salah satu dari Ulama tersebut ialah Allamah Muhammad bin Ali As-Syaukani Al-Yamani. Ulama kenamaan Ahlussunnah ini dalam sebuah risalah yang dinamainya “At-Taudhih fi tawatur ma jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih” mengatakan bahwa hadis-hadis yang menjelaskan mengenai Imam Mahdi tanpa ragu dan Syubhat telah mencapai derajat Mutawatir.

Pernyataan tersebut dinukil oleh Abu Abdillah Muhammad bin Ja’far Al-Kitani dalam kitabnya Nazamul Mutanatsir minal Hadis Al-Mutawatir.

Dan qadhi/hakim Allamah Muhammad bin Ali As-Syaukani Al-Yamani Ra memiliki risalah yang bernama At-Taudhih fi tawatur ma jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih. Dalam risalah tersebut ia berkata: dan Hadis-hadis yang datang mengenai Al-Mahdi, diantaranya dapat ditemukan ada lima puluh hadis. Ada yang Shahih, Hasan, dan Dhaif Munjabir. Tanpa ragu dan syubhat, hadis-hadis tersebut Mutawatir. Bahkan hadis-hadis yang derajatnya lebih rendah darinya dapat diterapkan sifat tawatur berdasarkan istilah-istilah atau landasan dalam ilmu Ushul. Adapun riwayat-riwayat dari Sahabat yang menjelaskan tentang Al-Mahdi juga banyak, dan memiliki hukum Rafa’, karena tidak ada tempat untuk ijtihad dalam contoh yang seperti itu.[30]

Dari uraian diatas, sudah jelas bahwa menurut Allamah As-Syaukani hadis-hadis yang datang mengabarkan tentang Al-Mahdi telah mencapai derajat Mutawatir. Dan hal itu menurut beliau tidak diragukan dan tanpa ada Syubhat.

Pada seri-seri berikutnya, akan dipaparkan juga beberapa ulama-ulama lainnya yang menyatakan bahwa hadis-hadis tentang Imam Mahdi telah mencapai derajat Mutawatir. Insya Allah.

Wallahu A’lam


Siapa Al-Mahdi dalam Kitab-kitab Hadis Ahlu Sunnah (3)

Di dalam tulisan sebelumnya, kami telah mengulas seputar Imam Mahdi di dalam kitab-kitab Sunni. Sedikit banyak, kita jadi tahu apa dan siapa serta bagaimana kedudukan Imam Mahdi di dalam kitab-kitab tersebut.

Di sisi lain, hal itu sejatinya juga menegaskan, bahwa apa yang diyakini oleh penganut Syiah tentang Imam Mahdi tak berbeda dengan apa yang ada di dalam kitab-kitab Sunni. Mungkin, hanya sedikit saja perbedaan yang terjadi di dalamnya.

Masih di dalam pembahasan Imam Mahdi di dalam kitab-kitab Sunni, di sini penulis hendak memberikan ‘daya tekan’ atas bukti-bukti yang ada tentang Imam Mahdi yang termaktub di dalam kitab-kitab tersebut.

Kali ini, penulis mengutip tulisan dari ulama kesohor Sunni, yang dikenal sebagai ahli sejarah pada abad ketujuh Hijriah, Sibt i’bin Jawzi. Di dalam kitabnya yang berjudul, Tadzkiratul Khawwas, ia menulis terkait Imam Mahdi seperti ini.

هو محمد بن الحسن بن علي بن محمد بن علي بن موسى الرضا بن جعفر بن محمد ابن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب (ع)، و كنيته أبو عبد اللّه و أبو القاسم و هو الخلف الحجة صاحب الزمان، القائم و المنتظر، و التالي، و هو آخر الأئمة أنبأنا عبد العزيز بن محمود بن البزاز عن ابن عمر قال: قال رسول اللّه (ص) يخرج في آخر الزمان رجل من ولدي اسمه كاسمي و كنيته ككنيتي يملأ الارض عدلا كما ملئت جورا. فذلك هو المهدي، و هذا حديث مشهور .

Dia Muhammad bin Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa ar-Ridho bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, dan julukan nya adalah Abu Abdillah dan Abul Qasim dan dia adalah pengganti (para Imam), Sahibuz Zaman (pemilik zaman), al-Qoim (yang bangkit) , al-Muntadzar (yang dinanti) dan yang lainnya. Dia adalah imam terakhir.

Abdul Aziz bin al-Bazaz dari bin Amar mengabarkan kepada kita, “Rasulullah Saw., berkata, ‘Akan muncul di akhir zaman seorang lelaki dari keturunanku, namanya seperti namaku, julukannya seperti julukanku. Ia akan memenuhi muka bumi ini dengan keadilan, sebagaimana (bumi) dipenuhi dengan ketidakadilan. Dialah Mahdi, dan ini adalah hadis yang masyhur.[31]

Riwayat di atas menjadi titik persamaan antara Syiah dan Sunni dalam meyakini Imam Mahdi, yang hendak menegakkan keadilan di muka bumi ini dengan seadil-adilnya.


Imam Al-Safaraini: Hadits-hadits tentang Al-Mahdi Mutawatir Ma’nawi

Pada beberapa seri sebelumnya telah dipaparkan beberapa pernyataan dari para ulama Ahlussunnah tentang kemutawatiran hadits mahdawiyah. Melanjutkan pembahasan tersebut pada seri ini akan dimuat pernyataan lainnya dari seorang ulama Sunni bernama Ahmad al-Safaraini.

Beliau dalam catatanya, disamping menyinggung tentang kemunculan Imam Mahdi As sebagai salah satu tanda kiamat, juga menyebutkan bahwa hadits tentangnya cukup banyak dan mencapai derajat mutawatir:

“di antaranya, maksudnya di antara tanda-tanda kiamat yang disebutkan dalam banyak riwayat di mana kandungan atsar tersebut adalah mutawatir, maksudnya dari tanda-tanda yang besar, yang pertama adalah munculnya imam yang diikuti perkataan dan perbuatannya. Yang mengakhiri silsilah imamah; oleh karena itu tidak ada lagi imam setelahnya sebagaimana Nabi Muhammad Saw merupakan penutup kenabian dan risalah yang tidak ada nabi dan rasul setelahnya.[32]

Didalam catatan ini beliau menyatakan bahwa kandungan riwayat yang banyak tersebut masuk dalam kriteria mutawatir.

Mempertegas pernyataan di atas pada kesempatan lainnya di dalam kitab yang sama, beliau menyebutnya dengan istilah mutawatir ma’nawi:

“Sungguh banyak sekali pendapat seputar al-Mahdi, hingga ada yang berpendapat bahwa Imam Mahdi adalah Isa As. Pendapat yang absah yang merupakan pilihan orang-orang yang benar adalah, Imam Mahdi bukanlah Isa As. Sungguh banyak riwayat tentang kemunculannya (Imam Mahdi), bahkan sampai pada tingkat mutawatir ma’nawi. Hal itu telah menyebar secara luas di antara kalangan ulama Ahlussunnah. Hingga ia terhitung sebagai salah satu dari kepercayaan mereka. Imam hafiz Ibn al-Iskaf telah meriwayatkan dengan sanad yang diridhai sampai kepada Jabir bin Adullah Ra. Ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: barang siapa yang mendustakan kemunculan dajjal sungguh ia telah menjadi kafir. Dan barang siapa yang mendustakan al-Mahdi sungguh ia telah kafir.[33]

Di dalam pernyataan di atas al-Safaraini tidak hanya menyatakan bahwa hadits tentang Imam Mahdi sebagai hadits mutawatir ma’nawi, tapi lebih dari itu beliau juga menyatakan bahwa ia tidak sendirian dalam hal ini. Hal ini dengan menyatakan bahwa Ahlussunnah juga mengamini hal tersebut dan bahkan telah menyebar secara luas dikalangan para ulama.

Dan di akhir beliau memuat satu riwayat yang menyatakan kekafiran orang yang mengingkari kemunculan Imam Mahdi.


Muhammad Al-Kattani, Syekh Al-Adzim Abadi dan Pernyataan Kemutawatiran Hadis Al-Mahdi

Hadis-hadis mengenai kemunculan sosok al-Mahdi di akhir zaman yang akan membawa keadilan di akhir masa, sangatlah banyak dan beragam dalam periwayatannya. Hal ini menyebabkan sebagian ulama meyakini bahwa hadis ini tergolong kedalam hadis yang mutawatir.

Muhammad bin Jafar al-Kattani (1345 H) sekaitan dengan persoalan ini, mencatat beberapa pandangan para ulama yang menyatakan kemutawatiran hadis-hadis tentang al-Mahdi. Dari semua pernyataan itu, ia menceritakan kritikan Ibnu Khaldun terkait riwayat-riwayat tersebut serta jawaban dari mayoritas ulama terhadap kritikannya. Ia menulis:

Dalam pengantarnya, Ibnu Khaldun meneliti jalur-jalur dari hadis-hadis tentang kemunculannya (al-Mahdi), berusaha memahaminya sesuai dengan kapasitasnya, dan (menurutnya) hadis-hadis tersebut tidak terlepas dari suatu masalah, namun mereka (para ulama) menanggapinya bahwa hadis-hadis yang terkandung di dalamnya (persoalan al-Mahdi), berdasarkan perbedaan riwayatnya, sangat banyak, mencapai batas mutawatir, dan ini menurut Ahmad, al-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Tabarani, Abu Ya`la al-Mawsili, al-Bazzar serta yang lainnya dalam literatur-literatur Islam baik dari Sunan, kamus-kamus, dan musnad-musnad, dan mereka (para ulama) menyambungkannya dengan sekelompok sahabat.

Maka dari itu, pengingkaran terhadapnya (hadis-hadis tersebut), bagaimanapun itu, adalah sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, dan hadis-hadis itu saling menguatkan satu dengan lainnya dan hal ini diperkuat dengan bukti-bukti dan penelitian-penelitian. Hadis-hadis al-Mahdi, beberapa di antaranya adalah Sahih, beberapa di antaranya adalah Hasan dan beberapa diantaranya adalah Dhaif atau lemah, dan perkara ini (persoalan al-Mahdi) adalah masyhur (terkenal) di antara semua orang Islam di sepanjang masa, dan bahwa pada akhir zaman pasti muncul seorang pria dari keluarga Nabi Saw yang menolong agama dan menunjukkan keadilan dan muslimin mengikutinya serta berkuasa atas wilayah-wilayah Islam dan dia disebut dengan al-Mahdi.[34]

Terlihat dengan jelas dalam penggalan tulisannya tersebut, bahwa riwayat-riwayat tentang al-Mahdi dengan jumlah periwatannnya yang banyak serta kemasyhurannya dalam setiap generasi muslim, membuat riwayat tersebut diyakini sebagai mutawatir, meskipun secara terpisah setiap riwayat memiliki derajat yang berbeda seperti yang telah disebutkan tadi, namun satu dengan lainnya saling menguatkan, inilah pandangan dari jumhur ulama.

Sementara itu Muhammad Syamsul Haq al-Adzim Abadi (1329 H) mencatat dalam kitabnya Aunul Ma’bud, pernyataan as-Syaukani yang menyatakan kemutawatiran hadis-hadis yang mengabarkan tentang al-Mahdi, Dajjal serta Nabi Isa As. Ia menulis:

Dan as-Syaukani berkata dalam risalahnya yang dinamai dengan “at-Taudhih fi Tawaturi ma Ja’a fil al-Ahadits fi al-Mahdi wa ad-Dajjal wa al-Masih (penjelasan tentang kemutawatiran apa-apa yang datang dalam hadis-hadis al-Mahdi, Dajjal dan al-Masih)” : “Dan telah datang riwayat-riwayat tentang turunnya al-Masih sebanyak 29 hadis.” Kemudian ia menyebutkannya satu persatu, kemudian berkata lagi setelahnya: “Dan semua yang telah kami sebutkan ini mencapai derajat mutawatir sebagaimana yang sudah jelas bagi orang-orang yang memiliki keutamaan dalam pengetahuan, maka ditetapkan (dapat disimpulkan) dengan semua yang telah kami sebutkan bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan tentang al-Mahdi yang ditunggu adalah mutawatir, hadis-hadis tentang Dajjal adalah mutawatir, dan hadis-hadis tentang turunnya Isa juga adalah mutawatir.”[35]

Berangkat dari keterkaitan antara riwayat-riwayat yang bercerita tentang al-Mahdi, Dajjal juga Nabi Isa As, dalam sudut pandang yang digambarkan oleh as-Syaukani, kita akan melihat bahwa semuanya mencapai derajat mutawatir.


Pernyataan Al-Mas’udi dan Al-Fariqi Mengenai Al-Mahdi yang Sudah Lahir

Pada bahasan sebelumnya, kita telah paparkan beberapa pernyataan dari para ulama, khususnya ulama Ahlussunnah, mengenai kemutawatiran hadis tentang Imam Mahdi yang akan hadir di akhir zaman.

Secara Masyhur, para ulama Islam sepakat bahwa Imam Mahdi As akan hadir atau muncul di akhir zaman dan memenuhi dunia dengan keadilan. Dan hampir tidak ada perselihan dalam masalah tersebut kecuali sebagian kecil.

Adapun ketika berbicara mengenai kelahirannya As, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama Islam. Sebagian mengatakan bahwa Imam Mahdi As telah lahir dan saat ini mengalami keghaiban, dan sebagiannya lagi berpendapat bahwa Imam Mahdi As belum lahir.

Mereka yang berpendapat tentang belum lahirnya Imam Mahdi As, banyaknya datang dari ulama Ahlussunnah. Namun jika kita teliti dalam beberapa sumber literatur Ahlussunnah, terdapat beberapa ulama dari kalangan mereka yang menyatakan dan mengakui bahwa sang juru selamat telah lahir.

Di kesempatan kali ini, kita akan paparkan beberapa ulama Ahlussunnah yang memberikan pernyataan dan pengakuan tersebut. Diantara mereka ialah Ali bin al-Husain bin Ali al-Mas’udi as-Syafi’i dan Ibnul Azraq al-Fariqi.

Al-Mas’udi yang merupakan ulama kenamaan Mazhab Syafi’i, dalam kitabnya Muruj ad–Dzahab menuliskan bahwa Imam Hasan Askari adalah ayah dari Imam Mahdi Al-Muntazar. Hal tersebut menunjukkan bahwa Imam Mahdi As telah lahir.

Dan pada tahun 260 Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib As ditangkap pada masa Khalifah al-Mu’tamid, dia berusia 29 tahun, dan dia adalah ayah dari Al-Mahdi al-Muntazar.[36]

Selanjutnya ada Ibnul Azraq al-Fariqi, beliau juga merupakan ulama dari kalangan Ahlussunnah yang mengungkapkan kelahiran Imam Mahdi As. Dalam kitab tarikhnya al-Fariqi menyebutkan tanggal kelahiran Imam Mahdi As.

…bahwasannya Al-Hujjah (Imam Mahdi) telah lahir pada 9 Rabiul Awwal tahun 258 H. dan dikatakan juga pada 8 Sya’ban tahun 256 H. dan yang ini lebih shahih.[37]

Perlu diperhatikan bahwa yang menjadi sorotan dalam pernyataan di atas ialah perihal telah lahirnya Imam Mahdi As, adapun mengenai tanggal kelahirannya yang disebutkan, belum bisa dibenarkan.

Wallahu A’lam


Syekh Bin Baz: Riwayat Seputar Al-Mahdi Mutawatir

Di dalam beberapa tulisan sebelumnya, kami telah mengulas dan mengkaji tentang riwayat-riwayat seputar Imam Mahdi yang termaktub di dalam kitab-kitab Ahlusunnah. Semua dari kitab yang kami jadikan rujukan mengiyakan akan ke-mutawatir-an riwayat tentang al-Mahdi tersebut. dengan kata lain, Riwayat tersebut sahih dan dapat diterima.

Untuk menambah keyakinan kita tentang riwayat mutawatir yang dinisbahkan kepada Al-Mahdi, di sini penulis hendak membawakan tanggapan dari Bin Baz, salah satu ulama besar Wahabi. Di dalam kitabnya yang cukup masyhur, Majmu’ Al-Fatawa wa Al-Maqlah Mutanawi’ah, ia menanggapi soal riwayat Imam Mahdi sebagai berikut.

Sosok Al-Mahdi adalah perkara yang sudah jelas dan di dalamnya terdapat hadis-hadis yang mustaifidzah (hadis yang periwayatnya minimal terdiri dari tiga orang) bahkan (sampai pada derajat) mutawatir. Lebih dari seorang ulama mengkisahkan tentang ke-mutawati-ran riwayat al-Mahdi, sebagaimana seorang ustad yang membicarakannya di dalam ceramahnya, riwayat-riwayat tersebut mutawatir makanawi, dikarenakan banyaknya metode dan perbedaan di dalamnya, di antaranya para sahabat yang menukil tentang riwayat tersebut, dan para periwayat serta perbedaan di dalam lafaz-lafaznya. Maka, dengan benar menunjukkan bahwa sosok yang dijanjikan ini, kedatangannya adalah sebuah kepastian dan keluarnya dia (dari masa keghaiban) merupakan kebenaran.

Aku sudah sering mengkaji tentang perihal Mahdawiyat. Sebagaimana yang aku temui dari mereka, seperti Syaukani dan yang lainnya berkata, sebagaimana Qayim dan yang lainnya juga berkata, “Sebagian riwayat (tentang Mahdawiyat) termasuk sahih dan sebagian yang lainnya hasan. Begitu pula ada riwayat yang lemah (daif) di antara riwayat lemah tersebut, ada yang dapat diganti (baca: dipertanggungjawabkan), dan juga terdapat hadis-hadis palsu. Bagi kami, riwayat-riwayat yang sanadnya kuat, maka itu sudah cukup, baik itu sahih dengan sendirinya ataupun sahih karena yang lain; baik itu hadis hasan dengan sendirinya maupun hasan karena yang lainnya. Begitu juga, jika hadis tersebut lemah, dan dapat dipertanggungjawabkan, maka satu sama lain saling menguatkan. Dan menurut para ulama, semua hadis itu bisa menjadi bukti. Oleh karena itu, menurut para ulama sebuah riwayat dapat diterima dengan beberapa macam, pertama sahih dengan sendirinya atau karena yang lainnya dan hasan dengan sendirinya atau yang lainnya.”[38]

Apa yang tertulis di dalam kitab tersebut menjadi penegasan tentang ke-mutawatir-an riwayat al-Mahdi. Dengan berpegang pada riwayat tersebut, amat sulit bagi kita untuk dibohongi terkait dengan adanya al-Mahdi palsu, seperti yang sudah kami ulas di dalam tema Al-Yamani. Sejatinya, Al-Mahdi yang hakiki adalah yang lahir dari keturunan Sayyidah Fathimah az-Zahra.

Wallahu a’lam bi As-Shawab.


Ibn Shabbagh Al-Maliki dan Sibth Ibn Al-Jauzi Akui Imam Mahdi Telah Lahir

Hadis atau riwayat seputar kemunculan Imam Mahdi As atau juru selamat akhir zaman merupakan hadis mutawatir sebagaimana dikomentari oleh kalangan ulama Sunni pada beberapa pembahasan sebelumnya.

Kesamaan pahaman terkait Imam Mahdi tidak sampai pada poin ini saja, sebab, sebagaimana kalangan Syiah Imamiyah, sebagian dari kalangan ulama Ahlus Sunnah juga meyakini bahwa Imam Mahdi As telah lahir.

Di mana pada tulisan sebelumnya telah disebutkan komentar dua tokoh Ahlus Sunnah berkaitan dengan kelahiran Imam Mahdi tersebut.

Melanjutkan ulasan sebelumnya, pada tulisan kali ini akan diajukan fakta lainnya yang mengungkap bahwa masih ada ulama Ahlus Sunnah lainnya yang mengakui bahwa Imam Mahdi telah dilahirkan.

Ibn Shabbagh al-Maliki al-Makki, seorang ulama bermazhab Maliki adalah salah satu tokoh yang mengakui hal itu:

“telah dilahirkan Abu al-Qasim Muhammad al-Hujjah bin Hasan al-Khalish di Samerra malam nisfu Sa’ban tahun 255 Hijriah. Adapun garis keturunannya baik dari pihak ayah dan ibu, dia adalah Abu al-Qasim Muhammad al-Hujjah putra Hasan al-Khalish putra Ali al-Hadi putra Muhammad al-Jawad putra Ali al-Ridha putra Musa al-Kadzim putra Ja’far al-Shadiq putra Muhammad al-Baqir putra Ali Zainal Abidin putra al-Husain putra Ali bin Abi Thalib As. Adapun ibunya merupakan budak yang dimerdekakan, bernama Nargis dan merupakan budak terbaik.[39]

Ibn Shabbagh dalam tulisan ini dengan gamblang menyatakan kelahiran Imam Mahdi As lengkap dengan tanggal, tahun serta garis keturunannya.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Ibn Shabbagh di atas, Sibth Ibn al-Jauzi juga memberikan pendapat dan komentar yang sama. Di dalam kitabnya Tazkirat al-Khawash ia menyatakan:

“Ia adalah Muhammad bin Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa al-Ridha bin Ja’far bin Muhammad bin Ali binal-Husain bin Ali bin Abu Thalib As. Kuniahnya Abu Abdillah dan Abu al-Qasim. Disebut sebagai al-Khalaf al-Hujjah, Shahib al-Zaman, al-Qaim, al-Muntadzar dan al-Tali, dan merupakan imam terakhir.

Telah memberitakan kepada kami Abdul Aziz bin Mahmud al-Bazzaz, dengan sanadnya dari Ibn Umar, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: di akhir zaman akan muncul seorang dari keturunanku namanya sama dengan namaku (Muhammad) dan kuniahnya sama dengan kuniahku (Abu al-Qasim). Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi oleh kezaliman. Dia adalah al-Mahdi.[40]

Literatur yang ada ini juga dengan tegas menyatakan bahwa Imam Mahdi telah dilahirkan dan dengan gamblang menyebutkan garis keturunannya.

Tidak hanya sampai disitu, Sibth Ibn al-Jauzi juga melengkapi catatannya dengan hadis Nabi Saw yang mengabarkan berita kedatangan Imam al-Mahdi sebagai penopang apa yang telah ia sebutkan seputar kelahiran Imam Mahdi As. Di mana nama Imam Mahdi disebut sama dengan Rasulullah (sama-sama Muhammad) begitu juga dengan kuniah keduanya (sama-sama Abu al-Qasim).


Imaduddin Al-Isfahani, Fakhrurrazi dan Ibnul Atsir Al-Jazari Catat Kelahiran Al-Mahdi

Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa kemunculan seorang juru selamat di akhir zaman yang akan memenuhi muka bumi ini dengan keadilan atau al-Mahdi dalam literatur Islam, adalah sebuah kepercayaan yang memiliki dasar, khususnya dalam kitab-kitab hadis, bahkan hal ini pun dibenarkan oleh para ulama.

Dapat kita lihat dalam beberapa pembahasan yang lalu, bagaimana para tokoh tersebut memberikan kesaksian dan penilaian mereka terhadap riwayat-riwayat yang bercerita tentang kemunculan sosok juru selamat tersebut dengan menggolongkannya kedalam riwayat yang mutawatir.

Di sisi lain, terlepas pembahasan di atas, sosok juru selamat ini diperdebatkan oleh para ulama dari segi kelahirannya. Dimana sebagian beranggapan bahwa hingga saat ini beliau belum dilahirkan, sementara yang lainnya berpendapat bahwa beliau telah dilahirkan.

Dalam kitab al-Bustan al-Jaami’, sebuah kitab yang dinisbahkan pada Imaduddin Al-Isfahani (597 H), terdapat catatan yang menyebut bahwa tahun 259 H sebagai waktu kelahiran Abu al-Qasim Muhammad al-Muntadzar di sebuah kota yang bernama Samarra, pada hari Jumat, 12 Ramadhan.[41]

Hal serupa juga dicatat oleh Imam Fakhrurrazi (606 H) dalam kitab as-Syajarah al-Mubarakah. Ia menulis dalam sub bab yang berjudul “Anak-anak Imam al-Askari As”:

Imam Hasan al-Askari memiliki dua putra dan dua putri. Adapun dua putra, salah satunya adalah Shahib az-Zaman (Pemilik zaman yakni Imam Mahdi) Afs..[42]

Dan yang lainnya adalah Ibnul Atsir al-Jazari (630 H) dalam kitabnya al-Kamil fi at-Tarikh, saat menyebutkan berbagai peristiwa yang terjadi pada tahun 260 H, ia juga mencatat:

Dan pada tahun itu, meninggal dunia Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Jafar bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib As. Dan ia adalah Abu Muhammad al-Alawi al-Askari -ia adalah salah satu Imam 12 menurut madzhab Imamiah- dan ia adalah ayah dari Muhammad yang mana mereka menyakininya sebagai al-Muntadzar dari Sirdab (ruang bawah tanah) Samarra, dan Ia lahir pada tahun 232 H.[43]

Dari beberapa nukilan di atas meskipun secara rinci terdapat perbedaan dalam penentuan waktu kelahirannya, namun dari sisi yang lain terdapat hubungan dan keterkaitan dimana mereka telah memberikan kesaksian bahwa telah lahir sosok yang bernama Abu al-Qasim Muhammad (nama dan julukannya sama dengan Nabi Saw) putra dari Imam Hasan al-Askari As yang merupakan keturunan Rasulullah Saw.


Muhyiddin Ibnul Arabi dan Muhammad bin Yusuf Al-Ganji As-Syafi’i Isyaratkan Imam Mahdi Telah Lahir

Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya, terdapat beberapa dari ulama Ahlussunnah yang menyatakan dan meyakini bahwa sang Juru Selamat telah lahir. Bahkan diantara mereka ada yang mencatat tanggal-tanggal kelahirannya.

Melanjutkan bahasan perihal tersebut, kali ini kita akan ajukan lagi dua ulama lainnya dari kalangan Ahlussunnah yang menyebutkan hal senada. Mereka ialah Muhyiddin Ibnul Arabi dan Muhammad bin Yusuf al-Ganji as-Syafi’i.

Muhyiddin Ibnul Arabi merupakan seorang ulama dari kalangan Ahlussunnah. Pernyataan beliau yang menunjukkan atas telah lahirnya Imam Mahdi al-Muntazar As dinukil oleh Syekh Abdul Wahhab as-Sya’roni al-Hanafi dalam kitabnya Al-Yawaqit wal Jawahir. Dalam kitab tersebut beliau menuliskan:

Dan Syekh Muhyiddin pada bab ke 366 dalam kitab al-Futuhat mengatakan: ketahuilah bahwasannya sebuah keniscayaan dari munculnya Al-Mahdi As. Namun ia tidak akan muncul sampai dunia ini dipenuhi oleh kejahatan dan kezaliman, maka ia akan memenuhinya dengan keadilan, meskipun dunia ini hanya berumur satu hari, Allah Swt akan panjangkan sampai datangnya Khalifah tersebut. Dia termasuk Itrat Rasulullah Saw, dari keturunan Fathimah Ra, kakeknya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, ayahnya Hasan al-Askari bin Imam Ali an-Naqi bin Muhammad at-Taqi bin Imam Ali ar-Ridho bin Imam Musa al-Kazim bin Imam Ja’far as-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Zainal Abidin Ali bin Imam Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib Ra, Namanya sesuai seperti nama Rasulullah Saw.[44]

Berikutnya ada Muhammad bin Yusuf Al-Ganji As-Syafi’i. Beliau merupakan ulama kenamaan dari Mazhab Syafi’i yang mencatat dan mengisyaratkan perihal telah lahirnya Imam Mahdi As. Dalam kitabnya Kifayah at-Thalib beliau menuliskan dan menjelaskan tentang Imam Hasan al-Askari, dan di situ disebutkan bahwa pengganti dari imam Hasan al-Askari ialah putranya Imam al-Muntazar As.

Aba Muhammad al-Hasan (Askari) putra al-Hadi As, dia merupakan Imam setelahnya (al-Hadi), dia lahir di Madinah pada bulan Rabiul Akhir tahun 232, dan dia meninggal pada hari Jumat tanggal delapan bulan Rabiul Awwal tahun 260 di usia 28 tahun, dan dia dikuburkan di rumahnya secara rahasia, yaitu rumah yang sama dimana ayahnya dikuburkan. Dan penggantinya ialah putranya al-Imam al-Muntazar As.[45]

Catatan di atas menunjukkan bahwa kedua ulama tersebut telah mengisyaratkan perihal sudah lahirnya sang Juru Selamat. Dan keduanya juga menjelaskan bahwa ayah dari Imam Mahdi al-Muntazar ialah Imam Hasan al-Askari As.

Wallahu A’lam


Shalahuddin Shafadi, Ulama Sunni: Imam Mahdi Sudah Lahir

Setelah kita mengupas tentang Kemutawatiran hadis Imam Mahdi, terlebih yang termaktub di dalam literatur Ahlusunnah, ada pembahasan yang tak boleh kita lewatkan, yaitu tentang kelahiran Imam Mahdi itu sendiri.

Seperti yang diyakini oleh orang-orang Syiah, Imam Mahdi telah lahir ke dunia ini, dan sekarang dalam masa ghaib. Sementara orang-orang Sunni meyakini sebaliknya. Menurut sebagian mereka Imam Mahdi masih belum lahir.

Namun, meski begitu, tak sedikit ulama Ahlusunnah yang meyakini tentang kelahiran Imam Mahdi. Setidaknya, hal ini dapat kita ketahui melalui buku-buku mereka, yang sebagiannya sudah kami tulis di artikel sebelumnya.

Untuk memperbanyak bukti yang ada, tentang kelahiran Imam Mahdi, di sini penulis hendak menghadirkan pernyataan dari ulama kesohor Sunni, Shalahuddin Shafadi, yang ia tuangkan di dalam bukunya, yang berjudul, Al-Wafi bil Wafayat.

Di dalam buku tersebut, ia menulis begini.

Al-Hujjah Al-Mintazar Muhammad (Imam Mahdi) bin Hasan Askari bin Ali Al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridho bin Musa al-Kadzim bin Muhammad al-Baqir bin Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib RA. Al-Mahdi adalah imam kedua belas…

Ia (Imam Mahdi) lahir pada pertengahan bulan Syakban pada 55 (Hijriah)…[46]

Meski ada sedikit perbedaan dari sisi tahun kelahiran, di mana Syiah meyakini tahun kelahiran Imam Mahdi jatuh pada 255 Hijriah, sementara yang disebutkan di dalam kitab tersebut tahun 55, namun hal itu bukan masalah yang berarti.

Yang patut menjadi sorotan kita adalah tentang kelahiran Imam Mahdi itu sendiri, sebab di dalam tulisan ini yang menjadi titik fokus adalah kelahiran sosok Al-Mahdi, terlepas dari tahun kelahirannya yang berbeda.

Wallahu a’lam bi as-shawab.


Pernyataan Ibn Hajar Al-Haitami dan Al-Syabrawi al-Syafii Seputar kelahiran Imam Mahdi As

Pembahasan seri kali ini, masih berkutat pada topik seputar pengakuan para ulama Ahlussunnah atas kelahiran Imam Mahdi As.

Untuk memantapkan pembahasan yang telah digulirkan sebelumnya, pada tulisan kali ini akan disebutkan pernyataan dua ulama Ahlussunnah lainnya. Tokoh pertama yang memuat pernyataan tentang hal ini adalah Ibn Hajar al-Haitami.

Beliau di dalam kitabnya memberikan komentar berikut seputar kelahiran Imam Mahdi As:

“Imam Hasan al-Askari tidak meninggalkan anak selain Muhammad al-Hujjah, di mana ketika ayahnya meninggal dunia ia berumur lima tahun. Meski masih belia, Akan tetapi Allah Swt memberikan hikmah kepadanya. dan ia dijuluki dengan al-Qaim dan al-Muntazar[47]

Literatur di atas mencatat bahwa Ibn Hajar mengakui kelahiran Imam Mahdi As. Lebih dari itu, beliau juga menyebutkan keutamaan Imam Mahdi yang masih belia saat itu.

Tokoh besar lainnya yang juga ikut mengomentari kelahiran Imam Mahdi adalah Abdullah al-Syabrawi al-Syafii:

“al-Imam Muhamad al-Hujjah bin al-Imam al-Hasan al-Khalish dilahirkan di Samerra, pada malam pertengahan bulan Sya’ban tahun 265. Ayahnya menyembunyikannya semenjak kelahirannya. Ia merahasiakan hal tersebut karena situasi sulit serta ketakutannya dari para khalifah saat itu. Sebab pada saat itu mereka (khalifah) mencari keturunan Bani Hasyim dan bertujuan untuk memenjarakan atau membunuh mereka.

Pada halaman lainnya beliau menambahkan:

“dan Imam Muhammad al-Hujjah dijuluki juga dengan al-Mahdi, al-Qaim, al-Muntazar, al-Khalaf al-Shalih, Shahib al-Zaman. Dan yang paling masyhur adalah al-Mahdi.[48]

Dari pernyataan di atas dapat dipahami bahwa pengakuan atas kelahiran Imam Mahdi As bukan hanya diucapkan oleh kalangan Syiah, akan tetapi banyak dari kalangan ulama Ahlussunnah juga membuat pengakuan yang sama.


Daftar Isi:

Mengenal Imam Mahdi 1

Dan 1

Menjawab Syubhat 1

Tim Muslim Menjawab 1

Mukadimah Mengenal Mahdawiyah 2

Injil Beritakan Kemunculan Juru Selamat Akhir Zaman 4

Sederet Poin Penting Terkait Mahdawiyah (Bagian 1) 7

Sederet Poin Penting Terkait Mahdawiyah (Bagian 2) 10

Mahdawiyah dalam Al-Quran 13

Juru Selamat Akhir Zaman dalam Perjanjian Lama 17

Mahdawiyah dalam Kitab-Kitab Hadis Ahlu Sunnah 19

Siapa Al-Mahdi dalam Kitab-Kitab Hadis Ahlu Sunnah 22

Al-Mahdi dari Ahlulbait 22

Al-Mahdi dari keturunan Fatimah 24

Abu Al-Hasan Al-Aburi: Hadis-Hadis Tentang Al-Mahdi Diriwayatkan Secara Mutawatir 25

Siapa Al-Mahdi dalam Kitab-Kitab Hadits Ahlu Sunnah [2] 29

Allamah As-Syaukani: Hadis-hadis tentang Al-Mahdi Capai Derajat Mutawatir Tanpa Keraguan 31

Siapa Al-Mahdi dalam Kitab-kitab Hadis Ahlu Sunnah (3) 33

Imam Al-Safaraini: Hadits-hadits tentang Al-Mahdi Mutawatir Ma’nawi 35

Muhammad Al-Kattani, Syekh Al-Adzim Abadi dan Pernyataan Kemutawatiran Hadis Al-Mahdi 37

Pernyataan Al-Mas’udi dan Al-Fariqi Mengenai Al-Mahdi yang Sudah Lahir 40

Syekh Bin Baz: Riwayat Seputar Al-Mahdi Mutawatir 42

Ibn Shabbagh Al-Maliki dan Sibth Ibn Al-Jauzi Akui Imam Mahdi Telah Lahir 44

Imaduddin Al-Isfahani, Fakhrurrazi dan Ibnul Atsir Al-Jazari Catat Kelahiran Al-Mahdi 47

Muhyiddin Ibnul Arabi dan Muhammad bin Yusuf Al-Ganji As-Syafi’i Isyaratkan Imam Mahdi Telah Lahir 49

Pernyataan Ibn Hajar Al-Haitami dan Al-Syabrawi al-Syafii Seputar kelahiran Imam Mahdi As 53



[1] Tarikh Siyashi Gaibate Emom, Dawozdahum, Husian, hal. 34.

[2] Dalailul Imamah, Thabari Amuli Muhammad bin Jurair, hal. 441, penerbit Bunya-te Be’tsat, Qom Iran.

[3] Lukas 21. 25-27.

[4] Matius 24. 36- 37.

[5] Matius 24. 44.

[6] Kamaluddin wa Tamamu an-Ni’mah, Syekh Shaduq, jil. 2, hadis 9, hal. 409.

[7] Al-Kafi, Kulaini, jil. 1, hadis 2, hal 180.

[8] AlMajlisi, Muhammad Baqir, Biharul Anwar, Jilid 23 Hal. 5 Cet. Daru Ihya at-Turats al-Arabi

[9] At-Thabrasi, Abu Ali al-Fadl bin al-Hasan, Majma’ul Bayan fi Tafsiril Quran, Juz 7 Hal.239-240 Cet. Darul Ma’rifah

[10] Yesaya. 11. 1-9

[11] Zakhariya 14. 7-9.

[12] Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Fitan, Bab Ma Ja’a fil Mahdi, no: 2230, hal: 444-445, cet: Darul Hadharah.

[13] Ibid, no: 2231.

[14] Sunan Abi Daud, Kitab al-Mahdi, Bab 4, no: 4282, hal: 468.

[15] Ibid, no: 4283.

[16] Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Khurujil Mahdi, no: 4082, hal: 441.

[17] Ibid, no: 4085.

[18] Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Fitan, Bab Ma Ja’a fil Mahdi, no: 2230, hal: 444-445, cet: Darul Hadharah.

[19] Ibid, no: 2231.

[20] Sunan Abi Daud, Kitab al-Mahdi, Bab 4, no: 4282, hal: 468.

[21] Ibid, no: 4283.

[22] Sunan Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Khurujil Mahdi, no: 4086, hal: 441.

[23] Sunan Abi Daud, Kitab al-Mahdi, Bab 4, no: 4284, hal: 468.

[24] Ad-Dzahabi, Syamsuddin Muhammad bin Ahmad, Siyar A’lam an-Nubala, no: 5111, hal: 3396, cet: Bait al-Afkar al-Dauliyah.

[25] Al-Qurtubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, Kitab at-Tadzkirah, hal: 1205 – 1206, cet: Maktabah Dar al-Manhaj.

[26] At-Taubah: 33.

[27] Al-Qurtubi, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, al-Jami li Ahkami al-Quran, jil: 10, hal: 179 – 180, cet: Muassasah al-Risalah.

[28] Al-Naisaburi, Hafiz Abu Abdillah al-Hakim, al-Mustdrak Ala al-Shahihain, jil: 4, hal: 557, cet: Dar al-Ma’rifat, Beirut.

[29] Al-Thabrani, al-Hafiz Abu al-Qasim Sulaiman bin Ahmad, al-Mu’jam al-Kabir, jil: 10, hal: 56.

[30] Al-Kitani, Abu Abdillah, Muhammad bin Ja’far, Nazamul Mutanatsir minal Hadis Al-Mutawatir, Hal. 227 Cet. Darul Kutub As-Salafiyah

[31] Tadzkiratul Khawwas, Sibt bin Jawzi, jil. 1, hal. 230.

[32] Al-Safaraini, Muhammad bin Ahmad, Lawami’ al-Akhbar al-Bahiyah wa Sawathi’ al-Asrar al- Atsariayah, jil: 2, hal: 70-71.

[33] Al-Safaraini, Muhammad bin Ahmad, Lawami’ al-Akhbar al-Bahiyah wa Sawathi’ al-Asrar al- Atsariayah, jil: 2, hal: 84.

[34] Al-Kattani, Abu Abdillah Muhammad bin Ja’far, Nadzmu al-Mutanatsir min al-Hadits al-Mutawatir, hal: 227.

[35] Abadi, Abu al-Thayyab Muhammad Syamsul Haq al-Adzim, Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, jil: 11, hal: 458.

[36] Al-Mas’udi, Abul Hasan Ali bin al-Husain bin Ali, Muruj ad-Dzahab wa Ma’adinul Jauhar, Juz 4 Hal. 160 Cet. Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah – Beirut

[37] Al-Fariqi, Ahmad bin Yusuf bin Ali bin Al-Azraq, Tarikh Al-Fariqi, Hal. 26 Cet. Al-Idaratul ‘Ammah lis Tsaqofah Idarah Ihya At-Turats – Kairo

[38] Majmu’ Al-Fatawa wa Al-Maqlah Mutanawi’ah, Abdul Aziz bin Abdulah, hal 98-99, penerbit: Darul Qasim Linashr, Riyadh, Saudi Arabia.

[39] Ibn Shabbagh, Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Maliki al-Makki, al-Fushul al-Muhimmah fi Ma’rifat Ahwal al-Aimmah, hal: 282, cet: Dar al-Adwa, ke dua, 1988 M/ 1409 H.

[40] Sibth Ibn al-jauzi, Tazkirat al-Khawash, jil: 2, hal: 506- 507, cet: al-Majma’ alAlami li Ahl al-Bait, ke tiga, 1433 H.

[41] Al-Isfahani, Imaduddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad, al-Bustan al-Jaami’, hal: 190, cet: al-Maktabah al-Ashriyah, Beirut.

[42] Fakhrurrazi, as-Syajarah al-Mubarakah fi Ansab at-Thalibiyah, hal: 78-79.

[43] Al-Jazari, Ibnul Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, jil: 1, hal: 249-250, cet: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut.

[44] Abdul Wahhab as-Sya’roni al-Hanafi, Al-Yawaqit wal Jawahir fi Bayani ‘Aqoidil Akabir Juz 1 Hal. 562 Cet. Dar Ihya at-Turats al-Arabi – Beirut

[45] Abu Abdillah, Muhammad bin Yusuf al-Ganji as-Syafi’i, Kifayah at-Thalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib Hal. 458

[46] Salahuddin Shafadi, Al-Wafi Bil Wafayat, juz 2, hal. 249, Daru Ihya’ at-Thurats

[47] Ibn Hajar al-Haitami, Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali, al-Shawaiq al-Muhriqah, jil: 2, hal: 601, Dar al-Wathan, Riyad.

[48] Al-Syabrawi al-Syafii, Abdullah bin Muhammad, al-Ithaf Bi Hubb al-Asyraf, hal: 369, cet: Dar al-Kitab al-Islami