PSIKOLOGI ISLAM
Membangun Kembali Moral Generasi Muda
Sayyid Mujtaba Musavi Lari
Tentang Penulis
Sayyid Mujtaba Musawi Lari lahir pada tahun 1935 di Lar, ibu kota Iran utara propinsi Laristan. Ayah nya Sayyid Ali Asghar Musawi dan kakek nya Sayyid Abdul Husein Musawi, termasuk di antara ulama terkemuka dalam teologi lslam. Sayyid Abdul Husein adalah juga salah seorang revolusioner besar awal perjuangan Iran untuk menggulingkan tirani Qajar dan memulai langkah nya demi kebebasan dan kemakmuran rakyat Iran.
Penulis kita ini belajar di sekolah-sekolah di Lar dengan mengikuti program pendidikan klasik dan juga menguasai spesialisasi studi-studi Islam. Dalam usia delapan belas tahun beliau pindah ke kota suci Qum untuk melanjutkan studistudi nya di bawah bimbingan para profesor maupun guru, termasuk para marja’ (maraji'). Kota Qum terkenal dengan kubah emas, makam suci puteri dari Imam Musa Al-Kadzim, Fatimah Al-Ma'sumah, yang wafat pada tahun 816 sewaktu berada dalam perjalanan untuk mengunjungi saudara nya, Imam Ali Ar-Ridha di Tus. Di kota ini Mujtaba Musawi Lari mengikuti studi-studi teologi lslam selama sepuluh tahun di mana saat itu beliau telah mencapai kelas tertinggi.
Sayang sekali air di daerah Lar pada waktu itu tidak disuling dan memiliki tingkat polusi yang tinggi. sehingga beliau terjangkit gangguan pencernaan yang serius dan segala usaha pun dikerahkan untuk mengobati beliau. Pada usia dua puluh sembilan tahun, atas anjuran para dokter beliau masuk rumah sakit di Jerman. Beliau menetap lama di negeri itu dibawah perawatan medis untuk menghilangkan penyakit beliau. Tetapi dengan keteguhan hati beliau bangkit mengatasi kelemahan dan mengabdikan bakat besar beliau dalam intelektualisme, patriotisme dan dedikasi. Setelah kembali ke Iran beliau menulis sebuah buku yang berjudul The Face of Western Civilization. Buku ini memuat pembahasan komparatif tentang peradaban Barat dan lslam, dan di dalamnya beliau dengan cara komparatif, dalil dan perbandingan yang tepat, membuktikan keunggulan peradaban lslam yang luas dan multi dimensional dibandingkan dengan peradaban Barat. Buku ini telah dicetak sebanyak tujuh kali. Dalam tahun 1970 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang Orientalis Inggris, F.G. Goulding dan menarik perhatian di Eropa. Artikel-artikel mengenai buku ini muncul secara berkala di Barat, dan BBC pun mengadakan wawancara dengan penerjemah mengenai alasan nya menerjemahkan buku tersebut. Edisi Inggris nya hingga kini telah dicetak tiga kali di Inggris, lima kali di Iran dan dua kali di Amerika.
Sekitar tiga tahun setelah publikasi penerjemahan dalam bahasa Inggris, Rudolf Singler, seorang profesor universitas di Jerman, menterjemahkan nya ke dalam bahasa Jerman. Salah seorang pemimpin Partai Sosial Demokratik memberitahu penerjemah dalam surat nya bahwa buku tersebut telah memberi pengaruh yang mendalam p-ada dirinya sehingga menyebabkan nya merubah berbagai pandangan nya tentang lslam dan ia pun menganjurkan kepada teman-teman nya untuk membaca buku ini. Terjemahan dalam bahasa Jerman hingga kini telah dicetak sebanyak tiga kali.
Edisi Inggris dan Jerman dicetak ulang oleh Departemen Pembinaan lslam untuk disebarluaskan ke luar negeri melalui Departemen Urusan Luar Negeri dan Asosiasi-asosiasi pelajar lslam di luar negeri.
Pada saat cetakan pertama berbahasa Jerman diterbitkan, seorang Ulama Muslim India yang bernama Maulana Raushan Aji menterjemahkan nya ke dalam bahasa Urdu untuk dibagi-bagikan di India dan Pakistan. Terjemahan Urdu ini kini telah dicetak sebanyak lima kali.
Sayyid Mujtaba Musawi Lari juga telah menulis artikel untuk sebuah brosur tentang Tauhid, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan beberapa kali di Amerika.
Beliau adalah juga penyumbang tetap untuk majalah bulanan yang diterbitkan oleh para pemuka Islam di Qum, "Maktab-iIslam", dan juga untuk terbitan-terbitan berkala lainnya yang berkaitan dengan ajaran-ajaran .Islam. Beliau telah memprakarsai sejumlah yayasan lembaga umum dan memperoleh kepercayaan yang sangat besar dari masyarakat sehingga sejumlah besar dana mengalir kepada beliau untuk mendirikan yayasan-yayasan ini. Itu semua meliputi sekolahsekolah, klinik-klinik kesehatan, pusat-pusat pendidikan agama, dan masjid masjid; kebanyakan dana tersebut berasal dari penduduk asli Lar. Beliau juga mengorganisir suatu amanah yang bersifat amal bakti untuk membantu orang orang kekurangan, sakit, janda dan pelajar-pelajar miskin. Banyak yang telah terselamatkan melalui usaha-usaha beliau dan banyak orang yang telah ditolong untuk memajukan kehidupan mereka, dan melalui orang-orang yang bertanggung jawab dengan bantuan yang diberikan mereka melalui kepercayaan ini.
Beliau melanjutkan pembahasan nya tentang etika lslam dengan menulis artikel-artikel baru. Dalam tahun 1974 kumpulan artikel ini menjadi sebuah buku yang berjudul The Function of Ethics in Human Development. Buku ini telah dicetak ulang sebanyak enam kali.
Tahun 1978 beliau berkunjung ke Amerika atas undangan sebuah organisasi lslam di negeri itu. Kemudian beliau ke Inggris dan Perancis dan setelah itu kembali ke Iran dengan mulai menulis serangkaian artikel tentang Ideologi lslam untuk majalah Soroush. Artikel-artikel ini terkumpul dalam empat jilid berisi akidah lslam (tauhid, keadilan Ilahi, nubuwah, imamah, dan kebangkitan) dengan judul The Foundation of Islamic Doctrine.
Keempat jilid buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Arab, beberapa bagian telah dicetak ulang beberapa kali. Terjemahan bahasa Inggris dalam jilid pertama nya telah diterjemahkan dan dipublikasikan. Terjemahan dalam bahasa Urdu, India dan Perancis telah dikerjakan; dua jilid berbahasa Perancis pun telah terbit.
Dalam tahun 1980 Sayyid Mujtaba Musawi Lari mendirikan sebuah organisasi di kota suci Qum yang disebut Lembaga untuk Penyebaran Budaya lslam ke Luar Negeri. Lembaga ini membagi-bagikan terjemahan karya-karya beliau kepada orang-orang yang berminat di seluruh dunia. Lembaga ini juga membagi-bagikan AI-Quran kepada kaum Muslimin, lembaga-lembaga dan sekolah-sekolah keagamaan di Afrika.
Pendahuluan
Setiap orang di dunia ini berusaha untuk mencapai 'kebahagiaan' dan 'ketenangan'; siang malam mereka berjuang untuk meraih cita-cita ini di berbagai sudut kehidupan yang tampak seperti medan perang. Dalam banyak hal, ia rela bertarung dalam arena ini dengan mengorbankan segalanya, demi menyaksikan merpati kebahagiaan terbang di atas kepala nya, sehingga ia dapat hidup di bawah bayang-bayang kehidupan nya.
Adalah menyedihkan melihat banyak individu yang memiliki berbagai bakat yang dengan hal itu dapat merubah diri mereka kepada suatu kehidupan bahagia dan memuaskan, harus hidup menderita; jiwa mereka menjadi permainan rasa gelisah dan khawatir yang disebabkan oleh berbagai faktor yang berbeda. Akibatnya, individu-individu ini menjadi korban dari mimpi palsu, bahwa hidup bahagia itu tidak lain kecuali khayalan semata, dan akhir yang tak terelakkan pun terjadi bagai jerami yang terhempas oleh gelombanggelombang penderitaan dan kandas di dasar kubur kekecewaan dan kesengsaraan.
Rasa sakit dan penderitaan ini tidak lain merupakan akibat dari memilih bayang-bayang palsu di balik fakta dan kenyataan. Mereka tidak mengikuti sinar kebenaran, dan tidak mengambil bagian yang dapat dipercaya dari jalan kehidupan. Sesungguhnya pantulan baying-bayang yang diserap pikiran manusia ini berada dalam gelombang kegelisahan, dan cita-cita mereka yang kosong serta harapan mereka yang tidak realistis, merupakan faktor-faktor yang mengeluarkan manusia dari cahaya kepada kegelapan dan membuat mereka mengalami penderitaan yang membingungkan.
Manusia yang adalah makhluk tertinggi, diciptakan dari dua kekuatan yang berbeda, kekuatan rohani dan kekuatan mekanis. Selain karakteristik-karakteristik fisik yang terdapat pada hewan ini, manusia banyak memiliki kebutuhan rohani yang jika dipenuhi, akan memberi nya suatu kesempatan yang sangat besar dalam pencapaian kesempurnaan. Setiap salah satu dari dua sisi manusia menjadi lebih kuat dari yang lain, maka sisi yang satu nya akan melemah, dan karenanya terkalahkan.
Melihat kenyataan yang ada, adalah penting untuk dicatat bahwa industri benar-benar telah mengubah ciri-ciri kehidupan. Kemajuan industri, bersamaan dengan berbagai perubahan yang ditimbulkan nya dalam segala aspek kehidupan, telah memberi kejelasan atas berbagai ketidakpastian yang membingungkan, serta telah memecahkan persoalan-persoalan sulit yang tak terhitung jumlahnya. Kini, banyak bagian dari alam semesta, dari kedalaman laut sampai kepada kegelapan angkasa, telah menjadi wilayah-wilayah perjalanan dan petualangan manusia. Di lain pihak, berbagai kebutuhan rohani manusia menjadi lemah; di darat dan di laut pun timbul kerusakan akibat berbagai kejahatan yang dilakukan manusia di segala sudut kehidupan. Jumlah malapetaka dan kejahatan yang tidak manusiawi telah mencapai tingkat yang tidak dapat dipercaya. Faktor-faktor keselamatan telah menjadi lemah di hadapan gejala kerusakan dan kehancuran sosial, dan sisasisa kehidupan spiritual sedang terbakar di tengah-tengah api nafsu, kejalangan, dan kekotoran.
Hari ini secara jelas kita lihat, bahwa berbagai keuntungan materi merupakan prioritas utama di atas kebajikan. Manusia telah melengkapi dirinya dengan alat-alat industri dan ilmu pengetahuan eksperimental, dan telah menolak manfaatmanfaat baik yang diharapkan dan dibutuhkan untuk melindungi jiwa manusia dari kehancuran di bawah kaki kejahatan nafsu dan berbagai keinginan yang tidak terkendali. Bahkan emosi-emosi manusia sedang berjuang antara hidup dan mati.
Dusta, kikir, kemunafikan, penindasan, individualitas dan berbagai sifat rendah lainnya, menyerupai sebuah bendungan raksasa yang menghadang sungai kecil kebahagiaan dan kesempurnaan manusia; mereka telah merantai tangan-tangan manusia dan menjatuhkan nya ke dalam gelombang samudera kekotoran yang keras. Kemenangan para ksatria, kesepian, penderitaan pribadi, malapetaka sosial dan berbagai macam kesengsaraan pada umumnya, merupakan akibat dari jatuhnya nilai-nilai kebajikan manusia. Baik sosiolog maupun psikolog membuktikan suatu fakta, bahwa tanpa budi luhur dan bimbingan rohani, manusia akan menyimpang dari jalan keadilan yang menuntun nya ke puncak kebesaran dan kesempurnaan.
Individu-individu yang unggul di tengah masyarakat, dan yang namanya direkam dalam lembaran-lembaran tebal sejarah, semuanya memiliki berbagai kebajikan yang murni dan dihargai. Masyarakat yang tidak dilengkapi dengan senjata tatakrama yang baik, tidak dikendalikan oleh kaidahkaidah yang bermanfaat, sebenarnya tidak berhak menerima hidup sebagaimana mestinya seorang manusia. Karena alasan inilah, kehancuran peradaban-peradaban besar dahulu kala tidak terjadi atas dasar krisis politik atau ekonomi, tetapi disebabkan oleh kemerosotan tingkah laku yang baik.
Hukum dan sistem buatan manusia tidak mampu menembus jiwa manusia, dan tidak dapat menjamin hubungan yang konstruktif antara masyarakat dan bangsa yang berbedabeda, sebaik seperti yang dilakukan oleh cara-cara kerohanian. Hukum-hukum buatan manusia, yang merupakan perwujudan dari gagasan-gagasan manusia, tidak memenuhi syarat untuk menciptakan kebahagiaan yang sesungguhnya kepada umat manusia; hal ini karena manusia mempunyai kemampuan berpikir yang terbatas.
Jadi mereka tidak dapat memahami segala fenomena yang mengelilingi hidup mereka. Tambahan pula, bahkan jika manusia mengetahui kedalaman fenomena yang mengelilingi nya, ia selalu berada di luar pengaruh yang kemudian menjauhkan nya dari menerima kebenaran. Atas dasar ini kita amati bahwa hukum-hukum buatan manusia, selalu berubah bersama waktu dan kondisi-kondisi yang mengelilingi nya. Sebenarnya, timbul nya kerusakan dan
kesengsaraan tidak lain merupakan akibat dari lemah nya hukum-hukum semacam ini.
Di lain pihak, kita memiliki ajaran suci dari para Nabi yang diilhami dengan mata air indah dari sinar wahyu, yang bergantung kepada Ilmu Ilahi yang tidak terbatas. Karenanya, hukum ini tidak mudah diterpa oleh pasang surut nya waktu, perubahan atau transformasi. Karena keluasan realitas kehidupan dan keberadaan nya, ajaran kenabian menawarkan kepada manusia suatu sistem yang paling akurat untuk mencapai kesempurnaan dan keunggulan akhlak serta moral, dan menyeru umat manusia agar mengarahkan jiwa kepada kebesaran. Dampak-dampak keyakinan yang positif dan bernilai atas manusia tidak dapat dipungkiri lagi, karena jelas, bahwa jika manusia tidak memiliki motif yang kuat dalam diri mereka yang sanggup mencegah mereka untuk tidak menjadi korban nafsu dan berbagai keinginan yang tidak ada atasnya, maka setiap langkah yang ia ambil pun akan menuju kepada kerusakan. Dengan alasan itu, tidaklah mungkin membangun suatu masyarakat yang tenteram dan sempurna tanpa melengkapi para anggota nya dengan akhlak dan kerohanian.
Atas dasar apakah akidah lslam yang kekal itu dibangun? Pada pribadi besar di segala zaman, Nabi Besar Muhammad Saw., yang sejak hari pertama nya mengandalkan ketakwaan, terdapat kebahagiaan yang mampu membawa kepada ketenangan di dunia ini dan di akhirat kelak.
Sesungguhnya seruan lslam dibangun di atas dasar-dasar yang dibutuhkan manusia untuk mengangkat nilai rohani nya hingga titik tertinggi; menaikkan tingkat kepercayaan nya kepada suatu rantai kemurnian dan nilai-nilai yang patut dipuji. Secara keras lslam melarang manusia mengorbankan akhlak nya yang mulia demi nafsu dan keinginan nya. lslam berdiri tegak menentang orang-orang yang berakhlak rendah. dan memerangi mereka secara keras. Oleh karena itu suatu masyarakat yang berada dalam ikatan individu dan sosial yang dibangun atas dasar nilai-nilai lslam dapat merasakan ketenteraman. ketenangan dan kepercayaan dalam segala aspek kehidupan. Semua anggota nya menikmati hak-hak yang sama. dan menjalankan hubungan antar pribadi yang didasarkan pada iman. Maka berikan lah kepada masyarakat suatu kesempatan untuk mencapai hal yang sama, yang merupakan suatu langkah sempurna menuju revolusi rakyat oleh umat manusia.
Dalam buku ini kami menyajikan beberapa persoalan penting yang mempengaruhi kehidupan sosial manusia serta bagaimana lslam berurusan dengan mereka.
Adalah wajib bagi saya untuk menyebutkan, bahwa bagian dari isi buku ini sebelumnya telah diterbitkan dalam majalah The Islamic Ideology yang terbit dalam bahasa Persia di kota suci Qum. Saya serahkan kepada para pembaca yang budiman untuk menilai buku ini yang telah dipuji oleh banyak ulama. Saya berharap kita semua maju dalam mengembangkan diri kita di atas jalan para ulama lslam dan menyelamatkan jiwa kita agar tidak tenggelam ke dalam noda-noda nafsu yang menyesatkan.
Sayyid Mujtaba Musawi Lari
4. Dusta
• Kedudukan Akhlak Dalam Masyarakat
• Mudarat-mudarat Berdusta
• Berdusta Dilarang Agama
Kedudukan Akhlak dalam Masyarakat
Akhlak merupakan faktor terpenting dalam masyarakat dan dalam kesempurnaan bangsa-bangsa. Akhlak terlahir sebagai bagian dari kemanusiaan. Tiada seorang pun menyangkal peranan vital yang dimainkan oleh akhlak dalam membawa kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan rohani manusia; dan juga tiada seorang pun meragukan manfaat dan pengaruhnya yang menentukan dalam memperkuat fundamen-fundamen keterpaduan tingkah laku dan pemikiran, baik pada pergaulan maupun masyarakat. Dapatkah anda menemukan orang yang jujur dan benar mencari kebahagiaan di bawah bayang-bayang pengkhianatan dan dusta? Akhlak sedemikian pentingnya sehingga bahkan bangsa-bangsa yang tidak percaya kepada agama, menghormatinya dan merasakan bahwa akhlak itu penting bagi mereka untuk ditaati melalui beberapa ajaran etika agar mampu maju menembus jalan kehidupan yang berbelit-belit ini. Masyarakat, di mana pun dan dengan segala macam perilakunya, mempunyai beberapa kesamaan.
Seorang sarjana kenamaan Inggris, Samuel Smiles mengatakan:
Akhlak adalah salah satu kekuatan yang menggerakkan dunia ini. Dengan pengertiannya yang paling baik, akhlak merupakan suatu perwujudan fitrah manusia pada puncaknya yang tertinggi, karena akhlak adalah suatu anugerah dari fitrah manusia untuk kemanusiaan (humanity). Orangorang yang unggul dalam segala segi kehidupan berusaha untuk menarik perhatian manusia kepada mereka melalui setiap cara yang mulia dan terhormat. Masyarakat mempercayai orang-orang ini dan meniru kesempurnaan mereka, karana masyarakat percaya' bahwa mereka memiliki segala bakat dari kehidupan ini, dan jika tidak ada eksistensi orang-orang seperti ini, maka kehidupan tidak akan bernilai. Jika ciri-ciri genetika yang diwarisi menarik perhatian dan penghargaan manusia, maka akhlak menjadikan kepuasan dan kehormatan bagi orangorang yang berkelakuan baik. Hal ini karena perangkat karakteristik yang pertama adalah karya dari gen-gen, dan perangkat yang kedua adalah hasil dari pragmatisme dan kekuatan ber pikir, dan ini meni pakan akal (mind) yang menguasai kita serta mengatur berbagai urusan kita di sepanjang hidup kita.
Orang-orang yang telah mencapai puncak keunggulan dan kebesaran adalah seperti sinar terang yang membersihkan jalan bagi kemanusiaan dan membimbing manusia kepada jalan-jalan moral dan keluhuran. Jika para anggota masyarakat, di mana saja, kekurangan perilaku yang baik, mereka tidak akan mampu mencapai keunggulan meskipun banyak dari hak kebebasan dan hak politik yang mereka rasakan. Tidaklah penting bagi bangsabangsa untuk memiliki wilayah-wilayah daratan yang luas agar hidup secara terhormat, karena banyak bangsa-bangsa dengan populasi besar yang memiliki wilayah-wilayah' daratan yang luas, tetapi mereka jauh dari kesempurnaan dan kebesaran. Maka. jika moralitas suatu bangsa menjadi rusak, pada akhirnya bangsa itu akan punah.
Semua setuju dengan apa yang telah dikatakan sarjana ini, namun yang menjadi masalah adalah adanya suatu perbedaan besar antara mengenal fakta-fakta dengan bertindak atasnya. Banyak orang yang mengganti perilaku baik dengan kecenderungan-kecenderungan hewani nya. Mereka mengganti moralnya yang baik demi nafsu-nafsunya, seperti gelembung-gelembung yang tampak berkilauan di atas permukaan air.
Tak syak lagi, manusia telah keluar dari pabrik kehidupan dengan membawa serta hal-hal yang bertentangan dengan nalurinya. Kini manusia terus menerus menjadi ajang suatu perjuangan yang dahsyat antara sifat jahat dan baik. Langkah pertama untuk menghapus sifat jahat manusia adalah menanam nafsu-nafsu dan amarahnya dalam medan perang ini karena mereka adalah penyebab dari kekuatan hewani manusia, yaitu dengki. Adalah wajib bagi siapa saja yang berhasrat mencapai kesempurnaan, untuk menjauhi kemubaziran dan menghindarkan diri dari berbagai kecenderungan berbahaya yang muncul dari sifat-sifat semacam ini serta merubahnya menjadi perasaan-perasaan yang indah dan bermanfaat. Alasan untuk ini adalah bahwa sebagian besar manfaat manusia berasal dari perasaan ini, tetapi perasaan semacam ini hanya rampak baik jika ia patuh kepada perintah-perintah akal.
Menurut seorang psikolog:
Perasaan-perasaan manusia adalah seperti sebuah kontainer yang memiliki dua serambi. Serambi pertama menyerang dan yang kedua bertahan. Jika manusia dapat mengarahkan perasaan-perasaan ber tahannya agar berada di atas perasaan yang menyerang, maka ia akan memperoleh kendali atas eksistensinya dan membimbing perasaan ini sekehendaknya, tidak sekehendak perasaan perasaannya.
Orang-orang yang menyeimbangkan kekuatankekuatan batin dengan nafsu-nafsunya dan yang memiliki cita-cita yang lebih baik dan telah menciptakan suatu perasaan damai antara pikiran dan hatinya, tidak syak lagi ia telah menempuh jalan kebahagiaan di antara berbagai problema kehidupan dan mengikuti kehendak untuk bebas dari kelemahan, kegagalan atau kekalahan. Memang benar bahwa kemampuan manusia telah mencapai tingkat kegunaan, gerak dan kecepatan yang tinggi yang memberikan manusia kesempatan untuk mencapai ke kedalaman lautan dan samudera dengan menggunakan kekuatan berpikirnya. Namun apa yang kami amati sekarang kesengsaraan dan kegundahan yang terus-menerus di jantung peradaban telah mencapai tingkat seperti mainan di tangan sang problema dan penderitaan. Kesalahan ini terjadi karena penyimpangan yang dilakukan dari jalan yang mulia dan nilai-nilai rohani.
Dr. Roman menulis:
llmu pengetahuan telah maju dalam abad ini terapi akhlak dan perasaan terap masih primitif. Jika akhlak dan perasaan maju bersama dengan akal dan pikiran, maka mungkin kita dapat menyatakan bahwa manusia telah maju dalam kemanusiaannya juga.
Sesuai dengan hukum-hukum keseimbangan dan persamaan, nasib suatu peradaban yang kekurangan sifat-sifat mulia akan menghadapi kerusakan dan kepunahan. Alasan atas berbagai kesengsaraan dan ketidaksempurnaan yang terjadi di segala jenis masyarakat adalah suatu fenomena tentang berbagai kebutuhan manusia akan nilai-nilai moral, yakni nilai-nilai yang akan mengembangkan ruh kehidupan di dalam daging peradaban yang sedang sekarat dan memberinya suatu kekuatan yang memang ia butuhkan.
Mudarat-mudarat Berdusta
Banyaknya manfaat dari kejujuran sebanyak mudarat yang ada pada kedustaan. Jujur adalah salah satu sifat yang paling indah, dan dusta adalah salah satu sifat yang paling buruk. Lidah menerjemahkan perasaan-perasaan batin manusia keluar, oleh karena itu jika dusta itu berangkat dari dengki dan atau benci, maka ini merupakan salah satu tanda yang berbahaya dari amarah, dan jika dusta itu berangkat dari kebakhilan atau kebiasaan, maka sesungguhnya sifat ini berasal dari pengaruh-pengaruh nafsu manusia yang membara.
Jika lidah manusia telah teracuni oleh dusta, kotorannya akan tampak padanya, dampak-dampaknya adalah seperti angin musim gugur yang menghembus daun-daun pepohonan. Dusta memadamkan cahaya eksistensi manusia dan menyalakan api khianat dalam dada. Dusta juga memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menghancurkan ikatan persatuan dan keharmonisan di antara manusia serta mengembangkan kemunafikan. Sebenarnya, penyebab besar menyangkut kesesatan bersumber dari pernyataanpernyataan batil dan kata-kata yang kosong. Bagi manusia yang memiliki niat-niat jahat. dusta merupakan pintu yang terbuka untuk mencapai tujuan-tujuan pribadinya dengan menyembunyikan fakta-fakta di balik kata-kata magisnya, dan kemudian menerkam orang-orang yang tidak berdosa dengan dusta-dusta yang beracun.
Para pendusta tidak mempunyai waktu untuk berpikir atau merenung. Jarang sekali mereka berpikir untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan, mereka menyatakan bahwa "tidak akan pernah ada orang yang membongkar rahasia-rahasia mereka". Di dalam kata-kata mereka kita temukan banyak kesalahan dan kontradiksi, mereka akan terus diliputi oleh rasa malu, kegagalan dan aib. Oleh karena itu benarlah jika dikatakan bahwa "para pendusta itu mempunyai kenangankenangan yang buruk"
Salah satu faktor yang mengembangkan sifat benci yang meracuni akhlak masyarakat adalah ungkapan:
Dusta yang bersifat membangun itu lebih baik daripada kebenaran yang menyakitkan.
Ungkapan ini telah menjadi selubung untuk menutupi sifat tersebut dan banyak orang yang terpaksa mengambil jalan ini untuk membenarkan dusta-dusta mereka. Orang-orang ini jahil tentang dalil dan hukum berkenaan dengan persoalan itu. Islam dan akal memerintahkan bahwa jika jiwa, martabat seorang Muslim, atau hak miliknya yang penting terancam, adalah wajib untuk mempertahankannya dengan segala cara yang mungkin, termasuk dusta. Ada sebuah pepatah yang sah yang mengatakan, "berbagai kebutuhan menghalalkan yang diharamkan". Dusta seperlunya (necessary lying) memiliki batasan-batasan, ia harus berhenti di perbatasan keperluan. Jika manusia memperluas lingkaran "kepembangunan" (constructiveness) untuk melibatkan dambaan dan nafsu-nafsunya, tidak akan ada dusta tanpa sesuatu kebutuhan di baliknya Dalam hal ini salah seorang ulama besar mengatakan.
Ada alasan bagi segala sesuatu. Adalah mungkin bagi kita untuk membuat-buat faktor dan alasan-alasan atas segala tindakan kita. Bahkan para kriminal profesional pun mempunyai alasan bagi kejahatankejahatannya. Oleh karena itu, ada berbagai manfaat dan kebutuhan bagi setiap dusta yang dibuat. Dengan kata lain, setiap dusta yang diucapkan itu mempunyai suatu maksud, dan si pendusta itu baik jika ia tidak memperoleh apa-apa dari dustanya sehingga tidak ada alasan untuk menyembunyikan fakta. Ini berangkat dari kenyataan bahwa adalah fitrah manusia dalam memandang segalanya yang mungkin bermanfaat baginya itu baik. Jika manusia berprasangka bahwa kepentingan-kepentingan pribadinya mungkin terancam oleh kebenaran atau kejujuran atau membayangkan ada kebaikan di dalam dusta, maka dia akan berdusta tanpa adanya keraguan, karena ia melihat kejahatan di dalam kebenaran dan kebaikan di dalam dusta.
Sudah semestinya kita mengetahui fakta bahwa berdusta itu merupakan suatu kejahatan besar.
Kebebasan berbicara lebih penting daripada kebebasan berpikir, karana jika seseorang membuat suatu kesalahan ketika melaksanakan kebebasannya untuk berpikir, hanya orang itu saja yang dirugikan. Di lain pihak, ketika melaksanakan kebebasan berbicara, kesejahteraan masyarakat berada dalam bahaya. Manfaat dan mudarat
kebebasan berbicara mempengaruhi seluruh lapisan masyarakat.
Al-Ghozali telah berkata:
Lidah adalah anugerah yang bermanfaat. la adalah makhluk yang lembut, dengan tidak menghiraukan ukurannya yang kecil ia melaksanakan tugas yang sangat penting ketika ia ingin taat dalam keadaan tidak taat. Baik kafir maupun beriman, terejawantahkan melalui lidah, dan ia adalah ibadah atau keingkaran yang penghabisan.
Kemudian beliau menambahkan:
Hanya orang-orang yang dapat menahan lidahnya demi agama, yang mampu menghindari kejahatan. Orang-orang ini tidak pernah membebaskan lidahnya kecuali bija bermanfaat bagi kehidupan, iman dan tempat istirahat mereka yang kekal,
(Abu Hamid Al-Ghazali, Kimiya-e Sa'adat)
Adalah penting melarang berdusta dan menganjurkan kebenaran di depan anak-anak, sehingga sifat jahat ini tidak memasuki hati mereka. Anak-anak belajar bagaimana berbuat dan berbicara lewat keluarga dan orang-orang sekeliling mereka. Oleh karena itu, jika dusta dan atau menentang kebenaran merasuk ke dalam lingkungan keluarga, anak-anak akan terpengaruh dan mereka akan terjungkir oleh penyakit yang sama.
Morris T. Yash berkata:
Kebiasaan berpikir, berbicara dan berusaha untuk mendapatkan fakta-fakta hanya dipraktekkan oleh orang-orang yang dididik olehnya, demikian juga anak-anak.
Dusta Dilarang Agama
Secara eksplisit Al-Quran mengkategorikan para pendusta sebagai orang-orang kafir:
"Hanya mereka yang berdusta yang tidak percaya kepada firman-firman Allah, dan inilah para pendusta"
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang-orang beriman tidak menjadikan dirinya sebagai limbah kepalsuan.
Rasulullah Saw. menyatakan:
Ikutilah kebenaran, karena kebenaran membimbing ke Surga. Sesungguhnya manusia itu selalu berkata benar dan mencarinya hingga ia dicatat sebagai orang yang benar di sisi Allah. Dan hindarilah kebatilan, karena kebatilan membimbing ke neraka, Manusia selalu berdusta hingga ia dicatat sebagai seorang pendusta di sisi Allah.
(Nahj Al-Fashahah, hal. 418)
Di antara ciri-ciri pendusta adalah bahwa mereka hanya percaya setelah benar-benar sangat terdesak. Rasulullah Saw. berkata:
Sesungguhnya orang-orang yang paling sering dipercayai manusia adalah yang paling sering berkata benar; dan orang-orang yang paling ragu adalah orang-orang yang paling sering berdusta ".
Dr. Samuel Smiles menulis:
Beberapa orang menganggap bahwa watak mereka yang rendah itu wajar dibandingkan dengan watakwatak lainnya, sedangkan sebenarnya kita tahu bahwa manusia adalah cerminan dari tingkah laku mereka masing-masing. Oleh karenanya, baik dan buruk yang kita lihat pada diri orang lain tidak lain kecuali suatu cerminan dari apa yang ada dalam kesadaran kita.
Orang-orang yang memiliki keberanian atau keteguhan hati dengan akhlak dan tingkah Laku yang baik tidak dapat menerima kebatilan, mereka juga tidak ingin dikotori oleh kotoran semacam ini. Para pendusta itu menderita gangguan mental yang selaju menjauhkan diri mereka dari berkata benar. Orang-orang yang terpaksa berdusta dalam hari kecilnya merasa lemah dan hina, karena dusta berada di muka orang-orang yang lemah dan pengecut.
Sebagaimana dikutip, Imam Ali a.s. mengatakan:
jika kemanunggalan wujud (entity) itu terwujud, sesungguhnya kebenaran akan berdiri bersama keberanian; kekecutan akan berdiri bersama dusta.
(Ghurar Al-Hikam, hal. 605)
Dr. Raymond Peach berkata:
Dusta adalah senjata pertahanan terbaik dari orang yang lemah dan jalan tercepat untuk menghindari bahaya. Dalam banyak hal dusta merupakan suatu reaksi terhadap kelemahan dan kegagalan. Jika anda bertanya kepada seorang anak, 'Apakah kamu menyentuh gula-gula ini?' atau 'Apakah kamu yang memecahkan vas bunga ini?' Jika si anak mengetahui bahwa dengan mengakui kesalahan ia akan terkena hukuman, maka nalurinya berkata padanya untuk menyangkalnya.
Imam Ali a.s. menyatakan tentang berbagai manfaat yang jelas dari kebenaran, dalam suatu riwayat yang jelas:
Orang yang berkata benar memperoleh tiga hal: kepercayaan, kecintaan dan martabat (dari orang lain). Janganlah disesatkan oleh shalat dan puasa mereka, karena seseorang bisa saja kuat dalam shalat dan puasa sehingga jika ia akan meninggalkannya, ia merasa kesepian. Sebaiknya, cobalah mereka ketika hendak berkata benar dan memenuhi kepercayaan (amanah).
(Ushul Al-Kafi, jilid I, hal. 460)
Berkenaan dengan ini Imam Ali a.s. berkata:
Dusta adalah sifat yang paling buruk.
(Ghurar AI-Hikam. hal. 175)
Dr. Samuel Smiles menulis:
Di antara semua watak yang lemah. dusta adalah sifat yang paling buruk dan paling menjijikkan. Adalah penting bila manusia bercita-cita untuk menjadi benar dan jujur di seluruh tahap-tahap kehidupannya, dan bagaimana pun hal ini tidak meninggalkan maksud atau tujuan lainnya. Islam melandaskan semua proses perilaku dan koreksi pada iman dan menjadikannya sebagai dasar bagi kebahagiaan manusia.
Akhlak tanpa iman laksana sebuah istana yang dibangun di atas lumpur atau es. Atau sebagaimana pakar lainnya menjelaskan:
Akhlak tanpa iman laksana benih yang ditanam di atas batu atau di antara dedurian, pada akhirnya ia layu dan mati. Jika sifat-sifat mulia tidak dimotivasi oleh iman, ia laksana panen yang mati di dekat orang yang hidup.
Agama menguasai hati dan pikiran sekaligus! Ia adalah arena dalam membawa keharmonisan kepada mereka.
Perasaan-perasaan keagamaan mengurangi berbagai keinginan materi dan membangun sebuah tembok yang tidak dapat dilalui di antara iman dan kerendahan. Orang-orang yang mantap dengan keyakinannya selalu menetapkan berbagai tujuan dan perasaan dengan tenang.
"Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati merasa tenang."
(Al-Quran)
Islam menetapkan watak manusia sesuai dengan tingkat keyakinan dan sifat-sifat baiknya, dan lslam secara gigih berjuang untuk menguatkan kedua faktor ini. Misalnya, Islam telah menjadikan iman sebagai suatu jaminan bagi keabsahan pernyataan-pernyataan seseorang ketika ia mengangkat sumpah. Menurut hukum lslam, dalam keadaankeadaan tertentu sumpah seorang Muslim dapat merupakan bukti, sehingga ia dianggap menentukan dalam menyelesaikan perselisihan. Islam juga telah menjadikan kesaksian (syahadah) manusia sebagai cara untuk membuktikan hak-haknya.
Jadi, jika dusta tampak dalam bentuk rasa takut yang sangat dalam segala hal yang tersebut di atas- maka jelaslah seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan akibat perilaku semacam ini.
Dalam Al-Quran dusta dianggap sebagai dosa yang tidak dapat diampuni.
"Dan tidak pernah menerima kesaksian dari mereka".
(Al-Quran)
Dasar dari besarnya dosa berdusta secara jelas berhubungan dengan seberapa banyak kerusakan yang timbul karena dosa semacam ini. Maka dari itu, karena dusta di bawah sumpah dan kesaksian itu lebih merusak, hukuman bagi dosa ini pun lebih keras.
Dusta adalah suatu perbuatan yang mengarah kepada segala sifat jahat lainnya.
Imam Hasan Al-Askari a.s. berkata:
Semua sifat dengki ditempatkan di dalam sebuah rumah dan kunci untuk rumah ini adalah dusta.
(Jami’ Sa'adat, jilid II, hal. 318)
Untuk menjelaskan apa yang Imam Al-Askari a.s. katakan, kami bawa perhatian anda kepada riwayat Nabi berikut ini.
Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw. dan meminta beberapa nasehat kepada beliau. Nabi Saw. menjawab:
"Jauhilah dusta dan lengkapilah dirimu dengan kebenaran (amanah)."
Lelaki itu, si pelaku berbagai macam dosa, mengikrarkan janji untuk tidak pernah lagi melakukan pelanggaran lainnya.
Sebenarnya, orang yang bersahabat dengan orang yang jujur dan terbiasa berlaku benar, baik secara lisan maupun tindakan, akan hidup bebas dari kesedihan dan deprivasi, pikiran dan rohani mereka akan bercahaya dengan keyakinan, mereka jauh dari kegoncangan dan ketakutan, dan dari pemikiran yang kabur.
Renungan sesaat tentang akibat berdusta, apakah yang berhubungan dengan agama atau pendapatan materi, akan memberikan suatu hikmah yang sangat bernilai bagi siapa saja yang ingin sekali membina kehidupan yang mulia dan luhur. Dampak-dampak dari berdusta tidak lain kecuali cambukan-cambukan peringatan.
Sifat amanah hanya dapat dicapai di bawah bayang-bayang akhlak dan keyakinan. Sehingga ketika syarat-syarat ini tak terpenuhi, kebahagiaan manusia tidak akan memiliki suatu kesempatan untuk tetap hidup.
5. Kemunafikan
• Suatu Usaha Menghargai Kepribadian Anda
• Munafik: Sifat Yang Paling Buruk
• Bakar Habis Tempat-tempat Bersarangnya Kemunafikan
Suatu Usaha Menghargai Kepribadian Anda
Unsur terpenting dalam kebahagiaan dan watak tertinggi yang dapat dirasakan manusia adalah kesempurnaan. Permata rohani yang bernilai ini memberikan kebesaran dan kemurnian kepada kehidupan. dan membimbing manusia ke puncak kemuliaan dan keluhuran. Semua manusia secara manusiawi sama. Namun mereka berbeda dalam kemampuan untuk bernalar dan berpikir. Kebiasaankebiasaan rohani dan watak-watak perilaku manusia juga berbeda. Watak-watak seorang individu adalah semua yang membedakan individu-individu satu dengan lainnya dan ia menetapkan kemampuan dan kedudukan sosial setiap orang. Di samping itu. watak manusia secara langsung mempengaruhi kita lebih daripada faktor lainnya.
Manusia ditempatkan di alam semesta ini untuk berusaha mengembangkan berbagai kemampuannya dan memperluas wawasan berpikir dan kesadarannya yang riil; sehingga akan meningkatkan pengetahuannya dan memperkuat ruhnya untuk mencapai kesempurnaan. Dengan kata lain, manusia berada di dunia ini untuk membekali diri guna memenuhi berbagai tugas khususnya. Dengan mengingat hal ini, adalah tanggung jawab setiap individu untuk membangun suatu kepribadian yang sehat dan jujur, dan berbuat di atas jalan kebahagiaan. Seorang pekerja keras yang bekerja pada jalan ini lebih menyadari makna keberhasilan yang sesungguhnya. Tidak ada yang mampu memberinya kekuatan untuk terjun ke dasar lautan lebih daripada kepribadian yang sehat.
Menurut Schopenhaure:
Variasi-variasi di antara kepribadian merupakan peranan yang alami dalam membawa kesedihan dan kebahagiaan kepada kehidupan manusia lebih daripada apa yang dibawa oleh perbedaan di antara berbagai macam perbedaan manusia. Ini karena watak-watak suatu kepribadian (seperti pemikiran produktif dan kasih yang tulus) tidak pernah dapat dibandingkan dengan apa yang dapat diperoleh manusia dari barang-barang materi. Bagi seorang yang layak, mampu menciptakan kehidupan yang menyenangkan bagi dirinya bahkan bila ia hidup terpisah. Di lain pihak, orang yang jahil tidak dapat membuang kemalasan dari dirinya sekalipun ia dapat memperoleh segala kemewahan hidup, bahkan jika ia menghabiskan sejumlah besar uang untuk itu. Pemikiran, kepemimpinan, dan kemampuan untuk mengasihi, termasuk faktor penting yang membawa manusia lebih dekat untuk mencapai tujuan hidupnya dan membuka gerbang-gerbang kebahagiaan baginya. Oleh karena itu, adalah tugas kita untuk memberikan perhatian khusus bagi pengembangan faktor-faktor ini lebih daripada pengembangan pendapatan-pendapatan materi.
Semua watak dan kebiasaan ikut ambil bagian dalam menentukan masa depan manusia, dan setiap pemikiran dan perasaan sangat mempengaruhi watak dan kebiasaan ini. Terutama akhlak dan tingkah laku setiap orang secara terus menerus berubah menuju kesempurnaan, atau sebaliknya.
Langkah pertama dalam mengembangkan dan menyempurnakan kepribadian adalah mempelajari cara-cara menggali daya dan kemampuan tersembunyi di dalam diri, dan mempersiapkan diri untuk menghilangkan segala faktor yang dapat menimbulkan berbagai problema dalam jalan kesempurnaan. Maka manusia pun dapat mensucikan dirinya dari segala kerendahan. Jika seseorang tidak mampu menghargai diri sendiri, ia tidak akan pernah mampu membawa kehidupan kepadanya, ia juga tidak akan pernah mampu menciptakan segala perubahan yang bermanfaat baginya.
Kata-kata dan tindakan tidak memiliki nilai yang riil kecuali bila ia berangkat dari kedalaman eksistensinya sendiri. Katakata mengejawantahkan cerapan pikiran. Ketika kata-kata bertentangan dengan tindakan, ucapan-ucapan ini keluar dari kepribadian yang tidak stabil dan mengakibatkan kehancuran diri individu tersebut.
Munafik: Sifat yang Paling Buruk
Tidak syak lagi, sifat munafik adalah salah satu sifat yang menjijikkan. Adalah fitrah manusia untuk menerima kebahagiaan dan kebebasan; dan untuk meningkatkan diri kepada tingkat martabat yang paling tinggi. Namun ketika manusia terkotori oleh dusta, pengingkaran janji dan pelanggaran-pelanggaran persetujuan, kemunafikan menemukan sendiri suatu arena yang luas dan siap untuk merasuki watak-watak yang kotor seperti ini. Kemunafikan berkembang dalam keadaan-keadaan seperti ini hingga akhirnya ia menjadi suatu penyakit yang gawat. Kemunafikan tidak saja menghalangi seseorang dari mencapai kebenaran. bahkan mencoba untuk menutup-nutupinya , ia juga menjadi sebuah bendungan yang tidak dapat dihancurkan. yang berada di tengah jalan pencapaian watak-watak yang mulia. Tentu saja. untuk menghadapinya bergantung kepada perilaku yang bijaksana dan integritas psiko logis yang bersandar pada kesempurnaan rohani.
Sifat munafik adalah wabah penyakit berbahaya yang mengancam kemuliaan dan martabat manusia. ia mengarahkan kepada sifat-sifat yang tidak bertanggung jawab dan rendah, dan menggantikan kepercayaan diri dengan prasangka, pesimisme dan kegelisahan.
Orang-orang yang mencapai titik yang berbahaya ini, dalam perilaku jahat mereka tampak seolah mereka menginginkan yang terbaik bagi semua orang. Ketika pribadi yang kacau ini (munafik) berurusan dengan pasangan yang tidak harmonis, ia mengajukan diri sebagai seorang sahabat yang baik dan seorang penasehat yang setia, kemudian setelah itu ia berbalik dan menjatuhkan mereka, mengecamnya, padahal sebenarnya ia tidak mempunyai hubungan rohani atau moral dengan mereka.
Pujian-pujian yang keliru, penerimaan-penerimaan tanpa syarat atas berbagai ideologi dan penahanan diri dari membela yang benar ketika dibutuhkan, semua ini adalah watak orang-orang munafik.
Menurut seorang ulama besar, orang-orang munafik lebih berbahaya daripada musuh-musuh yang membelot:
Musuh mempunyai watak, baik itu musuh tersembunyi atau musuh terang-terangan; karena rasa benci hanya memiliki satu warna: Saya berharap bahwa teman itu seperti musuh sejauh adanya sifat pura-pura. Tak syak bahwa teman yang munafik adalah lebih buruk dari kemunafikan itu sendiri.
Karena orang yang munafik itu tidak mampu menarik hati orang yang berurusan dengannya, atau memperoleh cinta dan hormat darinya, kehidupannya pun penuh dengan kehinaan dan kebencian, Usaha-usahanya untuk menyembunyikan fakta membuat kehidupannya tidak aman, tidak stabil dan gelisah; karena ia berada dalam rasa takut yang terus menerus akan terbongkarnya kedok yang sesungguhnya.
Salah satu unsur penderitaan sosial adalah berkembangnya kemunafikan dan kurangnya kejujuran dan keikhlasan di antara lapisan masyarakat. Jika kemunafikan merasuki struktur masyarakat dan meliputi hati para anggotanya, ditambah dengan kebohongan dan kerendahan yang tampak di antara mereka; masyarakat semacam ini akan menghadapi kehancuran yang tidak dapat dielakkan.
Seorang sarjana Inggris, S. Smiles berkata:
Perilaku para politisi kontemporer berada pada jalan pengerusakan dan kekacauan. Berbagai pendapat yang mereka berikan dalam ruang-ruang resepsi berbeda dari apa yang mereka berikan dalam pidatopidato publik. Misalnya, politisi-politisi ini memuji orang karena perasaan-perasaan patriot is mereka dan kemudian pada saat yang sama berbalik dan tertawa dalam rapat-rapat pribadi mereka. Turun naik (fluktuasi) pemikiran yang ada di zaman kita lebih daripada yang ada di zaman mana pun di masa lalu, dan berbagai prinsip berubah dan berbeda-beda sebagaimana berubahnya berbagai kepentingan. Saya percaya bahwa kemunafikan lama kelamaan akan menjalar keluar dari tempurungnya dan pada akhirnya menjadi sifat yang patut dipuji; karena jika kelas atas dari suatu masyarakat menjadi munafik, semua kelas lainnya akan turut mengangkat pandangan-pandangan yang sama, sebab mereka mengambil berbagai kebiasaan dan perilaku mereka dari kelas yang lebih tinggi. Kemasyhuran yang diperoleh hari ini adalah ketika sifat-sifat jahat manusia dibeberkan, dengan melecehkan segala sifat yang mulia.
Ada seorang Rusia yang mempunyai pepatah bahwa:
Barangsiapa yang memiliki tulang punggung yang kuat, ia tidak dapat dipromosikan ke kedudukan yang lebih tinggi.
Tulang punggung orang-orang yang memuja kemasyhuran pada akhirnya menjadi lemah dan lemas karena mengikuti turun-naiknya reputasi dengan menipu manusia, menyembunyikan fakta-fakta dari publik dan berbicara persis seperti kelas-kelas rendah. Namun yang lebih buruk lagi adalah mengeksploitasi perselisihan dan kemunafikan yang mungkin terjadi di antara kelas masyarakat yang berbedabeda. Kemasyhuran semacam ini tidak dapat dianggap oleh orang yang bijak kecuali dengan kejijikan dan kebencian, dan para pena sehatnya pun tidak menaruh hormat alau kemuliaan.
Ketulusan dan kejujuran merupakan pengejawantahan dari kesadaran yang murni dan merupakan sifat-sifat kehidupan yang paling mulia. Sifat-sifat ini, yang ditemukan dalam jiwajiwa yang benar-benar suci, akan memadukan kepribadian dan membawa kedamaian, persatuan dan kekuatan kepada masyarakat. Sewajarnyalah bagi manusia untuk mencintai teman-temannya yang setia lebih daripada yang meragukan, dan karena kecintaan terhadap orang-orang yang beriman itu meningkat, kebencian terhadap orang-orang yang munafik pun meningkat pula.
Memberantas Tempat-tempat Bersarangnya Kemunafikan
Ketika Islam mulai berkembang pesat, partai orang-orang munafik yang merasa terancam lebih daripada partai oposisi lainnya, mencoba menghancurkan pilar-pilar pemerintahan Islam. Mereka membuat sumpah kepada Nabi Saw., kemudian menolak untuk memenuhi tugas-tugas ketika tiba saatnya bagi mereka untuk melaksanakannya. Mereka juga mengecam orang-orang yang beriman.
Kelompok minoritas yang destruktif dan merusak ini tidak sanggup untuk bersabar menghadapi orang-orang yang setia dan taat kepada Rasulullah Saw. Pemimpin orang-orang munafik ini ialah Abu Amir (seorang pendeta), yang adalah Ketua Masyarakat Al-Kitab di Madinah, di mana ia memperoleh reputasi di antara masyarakatnya karena menjadi seorang yang relijius. Ia meramalkan tentang datangnya Nabi Saw. terutama tentang risalah beliau dan selama tahap awal kenabian beliau. Kemudian ia tidak tahan menghadapi hancurnya reputasi karena berkembangnya Islam, sehingga ia hijrah ke Makkah dan menyertai orangorang munafik berperang melawan Nabi Saw. di Badar dan Uhud.
Kemudian Abu Amir melarikan diri ke Romawi dan mulai berkomplot untuk melenyapkan lslam. Adalah atas anjuran dia para sahabatnya membangun "Masjid Perselisihan (dzirar)" di Madinah. Pada saat itu Masjid ini didirikan, namun tidak ada seorang pun diperbolehkan untuk membangun sebuah masjid tanpa persetujuan dari Rasulullah Saw. Nabi Saw. memberi izin kepada mereka untuk membangun masjid tersebut dan ketika beliau kembali dari perang Tabuk, jamaah masjid itu memanggil Nabi Saw. untuk meresmikannya. Sebelum itu, Allah SWT telah memberitahukan kepada Rasul-Nya tentang adanya niat-niat jahat mereka dan Nabi menolak untuk pergi serta memerintahkan kepada pasukan beliau untuk menghancurkan masjid tersebut.
"Hanya yang hendak mengunjungi masjid-masjid Allah yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. maka merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk".
(QS. 9:10)
Dengan cara ini khianat mereka untuk berkomplot digagalkan, dan tempat pertama bagi orang munafik tersebut dibakar.
Dalam banyak ayat, AI-Quran sangat mengutuk kelompok ini dan mengecam mereka:
Dan ada beberapa orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah dan hari Kiamat.”, dan mereka bukan orang-orang yang sama sekali beriman, Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, dan mereka tidak merasa, ada penyakit di dalam hati mereka, maka Allah menambah penyakit mereka dan mereka akan mendapat hukuman yang pedih karena mereka berdusta. Dan ketika dikatakan kepada mereka, 'Janganlah membuat kerusakan di muka bumi', mereka berkata: 'Kami tidak lain adalah pembuat kedamaian.' Sekarang sesungguhnya mereka sendirilah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa.
(QS 2:8-J2)
Sifat munafik adalah penyakit rohani; inilah yang telah Imam Ali a.s. tunjukkan ketika beliau berkata:
Sadarlah akan orang-orang munafik karena mereka itu tersesat, menyesatkan, dan pemimpin kepada jalan yang batil. Hati mereka, sakit, namun penampilan mereka suci.
(Ghurar AI-Hikam, hal. 146)
Dr, H, Shakhter berkata:
Ada beberapa orang berdebat tentang, tidak adanya alasan lain kecuali menjadi orang yang terkenal. Orang-orang ini tidak percaya terhadap keyakinan mereka, juga terhadap apa yang mereka perdebatkan; mereka mengecam orang lain agar supaya tutup mulut karena sulit bagi mereka untuk bersabar terhadap orang lain yang berbeda dengan mereka. Jenis lain dari orang semacam ini adalah bahwa ketika mereka melihat ketidaksesuaian orang dengan mereka, mereka mengikuti cara yang munafik untuk menciptakan perselisihan sehingga akan membuktikan eksistensi mereka.
(Rushd Shakhsiyyat)
Imam Ali a.s. kata-katanya:
Seorang munafik: Kata-katanya indah dan batinnya (kesadarannya) sakit.
(Ghurar AI-Hikam, hal 60)
Orang munafik tidak mempunyai kelompok yang dapat dijadikan sandarannya, oleh karena itu secara terus menerus ia hidup dalam kebingungan. Rasulullah Saw. menggambarkan orang munafik dengan mengatakan:
"Seorang munafik adalah seperti seekor domba yang bingung di antara dua kawanan."
(Nahj Al-Fashahah, hal. 562)
Nabi Saw. memberitahukan kita tentang tiga tanda orang munafik ketika beliau berkata:
Dan ada beberapa orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah dan hari Kiamat”, dan mereka bukan orang-orang yang sama percaya mengkhianati”.
(Bihar AI-Anvar, jilid XV, hal. 30)
Imam AI-Baqir a.s. berkata:
Adalah suatu kejahatan bila seorang yang suka beribadah memiliki dua wajah dan dua lidah, memuji saudaranya di saat ada dan menghujatnya di saat ia tidak ada. Jika ia memberi kepada saudaranya, ia mendengkinya, dan jika saudaranya diuji, ia membiarkan (tidak menolongnya).
(Bihar AI-Anwar, jilid XV, hal. 172)
Imam Ali a.s. menunjukkan watak lain dari orang-orang munafik di mana beliau menyatakan bahwa mereka selalu bersikap defensif tetapi kritis terhadap orang lain:
Orang munafik adalah pemuja dirinya, dan pencemar nama baik orang lain.
(Ghurar AI-Hikam, hal. 88)
Dr. S. Smiles berkata:
Penyanjung dan orang-orang munafik selalu memikirkan diri sendiri dan tidak pernah prihatin terhadap orang lain. Mereka disibukkan oleh perbuatan dan urusan mereka sendiri hingga eksistensi mereka yang kecil dan rendah menjadi alam dan berhala mereka yang besar.
(Akhlaq)
Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s. menjelaskan tentang nasehat Luqman kepada puteranya:
Seorang munafik mempunyai tiga tanda: lidahnya bertentangan dengan hatinya, hatinya bertentangan dengan perilakunya, penampilannya bertentangan dengan batinnya (kepercayaannya).
(Bihar Al-Anwar, jilid XV, hal. 30)
Pemikiran-pemikiran manusia mengungkapkan dirinya yang sesungguhnya. Orang-orang yang mencoba menyembunyikan apa yang ada di dalam hati mereka di bawah kemunafikan dan penjilatan tidak akan pernah menjadi orang yang berhasil, karena realitas dan kebenaran mereka pada akhirnya akan terungkap. Seseorang berkata kepada Imam Ash-Shadiq a.s.:
Ketika seseorang berkata kepadaku: 'Aku suka padamu.' Bagaimana aku tahu kalau ia berkata benar?
Imam a.s. menjawabnya:
Periksalah hatimu, jika kamu menyukainya, maka ia menyukaimu. Perhatikanlah hatimu, jika ia menolak sahabatmu maka salah seorang di antara kamu telah berbuat sesuatu.
(AI-Wafi, jilid III, hal. 106)
Dr. Mardin berkata:
Jika anda benar-benar mengira bahwa anda dapat memperkenalkan diri anda dengan kata-kata, maka anda telah menipu diri anda sendiri. Karena orang lain tidak akan menghukum anda dengan normanorma yang anda harapkan untuk diterapkan. Mereka akan mengenal anda melalui perbuatan, kata-kata, kondisi, kesadaran dan batin anda sendiri. Orang-orang yang anda ajak bicara akan melihat kekuatan dan kelemahan gagasan-gagasan anda, kemunafikan dan realitas anda dari ucapan anda dan bahkan dalam diamnya anda. Orang-orang di sekeliling anda akan menemukan harapan dan niat anoa, kemudian mereka membentuk pendapat mereka tentang anda; bahkan jika anda berkeberatan terhadap beberapa pandangan mereka tentang anda, mereka tidak akan berkehendak untuk merubahnya. Kadang-kadang kita mendengar orang berkata: 'Saya bahkan tidak dapat melihat pribadi tertentu'. Orang-orang ini tidak dapat bersabar menghadapi orang-orang yang dibencinya, sekalipun mereka mungkin memiliki beberapa sifat yang patut dihargai atau memiliki penampilan yang menyenangkan. Orang-orang yang merasa seperti ini adalah karena mereka telah membaca berbagai pemikiran dan perasaan orang lain. Kita juga merasakan hal ini terhadap beberapa orang. Inilah dampak dari pemikiran. Semua pemikiran dan perasaan kira menyebar di sekeliling kita dan dengan sinar pemikirannya orang lain pun merasakannya.
Imam Ali a.s, berkata:
Kesadaran yang sehat lebih memiliki kesaksian yang benar daripada lidah-lidah yang mengesankan.
(Piruzi Fikr)
Ketika 'kami berkata munafik, maksud kami dalam pengertian yang luas ketimbang sekadar kemunafikan ideologis, tingkah laku, moral, atau lisan, karena lslam telah menyeru semua pengikutnya terhadap persatuan yang total dan luas, agar dapat membimbing mereka kepada kehidupan yang tulus, bebas dari kemunafikan, pertikaian dan pengkhianatan.
6. Fitnah
• Masyarakat yang Ternodai Fitnah
• Mudarat-mudarat Fitnah
• Apakah yang Membuat Fitnah Berkembang
• Agama Terhadap Akhlak yang Buruk
Masyarakat yang Ternodai Fitnah
Tidak syak lagi bahwa saat sekarang ini masyarakat manusia menderita berbagai macam penyelewengan rohani dan korupsi sosial dan telah lalai dalam mengembangkan akhlak mereka, pada langkah yang sama mereka mampu menjaga kemewahan-kemewahan materi bagi diri mereka: Hari demi hari masyarakat semacam ini menghadapi sejumlah besar penyakit gawat yang telah membanjiri lautan kehidupan dengan berbagai penderitaan yang fatal. Orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang untuk menghindari berbagai penderitaan pun menyudahi keracunan mereka dengan dosadosa dan' mencari tempat berlindung dalam pangkuan kerendahan guna mengurangi berbagai penderitaan rohani dan kegelisahan mereka. Namun sinar matahari kebahagiaan tidak akan pernah mengalihkan cahayanya yang menerangi kehidupan mereka.
Orang-orang ini telah menipu diri sendiri dengan meyakini bahwa mereka telah bebas dari segala pembatasan dan peraturan-peraturan, dan kini mereka berlomba-lomba di medan-medan kerendahan dan kelalaian, Bila secara hati-hati kita memeriksa kehidupan orang-orang yang tanpa akhlak ini, kita temukan bahwa mereka menggunakan caracara peningkatan materi yang cepat terhadap berbagai tujuan yang mereka ciptakan untuk kepentingan itu. Mereka telah menjadikan fenomena materi sebagai suatu poros bagi berbagai hasrat dan keinginan mereka, dan mendung dosadosa pun telah membayangi masyarakat mereka.
Akan lebih produktif lagi jika mereka menggunakan harta kekayaan mereka yang melimpah, yang mereka habiskan untuk penyelewengan dan kekacauan, di wilayah akhlak yang baik yang tidak dapat dirubah. Meskipun begitu normanorma perilaku yang mereka terima, secara terus menerus berubah.
Tiada gunanya untuk mengatakan bahwa kalau sifat-sifat yang mulia menjadi hakim bagi kepribadian-kepribadian yang baik, para anggota masyarakat tidak akan melaksanakannya melainkan akan selalu dipengaruhi oleh pikiran sosial yang mengarahkan mereka untuk meniru perbuatan-perbuatan masyarakat lain, mereka pun tidak tahu menahu tentang adanya kemungkinan pengaruh-pengaruh yang merugikan. Atas dasar ini kita harus menyadari bahwa peradaban kontemporer kurang mampu menciptakan watak-watak yang sehat dan mulia, mereka juga tidak dapat menjamin keselamatan atau kebahagiaan bagi masyarakat mana pun. Dr. Carl, seorang sarjana Perancis terkenal berkata:
Kira membutuhkan suatu dunia di mana setiap orang dapat menemukan suatu tempat yang pantas bagi dirinya tanpa membeda-bedakan antara kebutuhan materi atau kebutuhan rohani. Dengan ini kita mampu menyadari bagaimana kita bisa hidup, kemudian kita menyadari pula bahwa kemajuan pada jalan kehidupan tanpa suatu pedoman yang benar adalah suatu hal yang berbahaya. Kini kita menyadari bahaya ini, namun mengherankan betapa kita telah lalai untuk mencari cara-cara berpikir yang benar. Kenyataannya bahwa hanya sedikit yang benar-benar mengetahui bahaya ini. Kebanyakan manusia dikuasai oleh nafsu-nafsu mereka dan mereka begitu mabuk dengannya yang, tanpa menghiraukan seberapa tinggi teknologi mereka, mereka tidak berkehendak untuk menghentikan segala kesenangan yang haram itu demi suatu peradaban yang layak.
Kehidupan hari ini seperti sungai indah yang mengalir dari lereng yang curam, menghanyutkan harapan dan mimpimimpi kira ke dalam lautan kerusakan dan penyelewengan demi memuaskan keinginan-keinginan sementara dan kebutuhan-kebutuhan sesaat. Banyak orang telah menemukan kebutuhan-kebutuhan baru dan kini berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan ini. Di samping kebutuhan ini, ada hal-hal lainnya yang membawa kebahagiaan sementara kepada mereka, seperti fitnah, bergunjing, perbincangan tanpa arah tujuan, dan lain-lainnya yang sebenamya lebih berbahaya daripada alkohol terhadap kesehatan.
Salah satu penyelewengan sosial yang hendak kami uraikan adalah fitnah; tidaklah perlu untuk menjelaskan makna teknis dari fitnah, karena setiap orang telah mengetahuinya.
Mudarat-mudarat Fitnah
Mudarat fitnah yang paling berbahaya adalah pengrusakan kepribadian rohani dari kesadaran orang yang memfitnah. Orang-orang yang menyimpang dari jalan pemikiran alami mereka akan kehilangan keseimbangan berpikir dan sistem perilaku mereka yang mulia; di samping itu juga merusak perasaan-perasaan manusia dengan menyingkap rahasia dan kesalahan mereka.
Fitnah menghancurkan singgasana moralitas manusia dan merampas martabat dan sifat-sifatnya yang tinggi dengan kecepatan yang menakjubkan. Sebenarnya, fitnah membakar lapisan-lapisan moralitas di dalam hati pemfitnah hingga menjadi abu. Fitnah menggelapkan pemikiran yang jernih hingga akhirnya gerbang-gerbang akal dan pemahaman menjadi mati. Bila kita berpikir tentang bahaya fitnah terhadap masyarakat, kira temukan bahwa fitnah telah membuat kerusakan besar terhadap para anggota masyarakat.
Fitnah memainkan suatu peranan yang menghancurkan dalam menyebabkan terjadinya permusuhan dan kebencian di antara para anggota masyarakat yang berbeda-beda. Jika fitnah dibiarkan berkembang dalam masyarakat, akan merampas kebesarannya, reputasi baiknya dan menciptakan perselisihan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di antara anggota masyarakat.
Patut disayangkan bahwa kita harus mengakui kenyataan bahwa fitnah telah menemukan jalannya menuju semua kelas sosial. Hal ini menunjukkan suam kenyataan bahwa berbagai peristiwa kehidupan itu saling terkait, sehingga penyelewengan-penyelewengan psikologis yang mungkin timbul dalam suatu kelas sosial akan merasuk ke semua kelas lainnya. Sebagai akibat dari berkembangnya fitnah ini; sifat pesimis dan prasangka pun membayang-bayangi masyarakat; manusia kehilangan kepercayaan satu sama lain dan berubah menjadi kecurigaan. Mengingat hal ini, kita dengan aman dapat mengatakan bahwa tanpa mencerahkan diri dengan berpikir secara bersaudara dan dengan sifat-sifat yang mulia, masyarakat tidak akan pernah memperoleh keharmonisan atau persatuan di dalamnya. Sebuah masyarakat yang kurang akan karunia sifat-sifat yang mulia sudah pasti jauh dari watak-watak kehidupan yang sesungguhnya.
Apakah yang Membuat Fitnah Berkembang
Dengan tidak menghiraukan fakta bahwa fitnah merupakan suatu pengejawantahan dari dosa-dosa praktis, ia secara langsung berhubungan dengan rohani manusia. Fitnah adalah suatu tanda dari bahaya yang mendasari kekacauan jiwa, yang karena itu kita harus mencari alam rohani dan kejiwaan.
Para sarjana behavioris menyebutkan sejumlah alasan bagi berkembangnya fitnah. Hal terpenting adalah: dengki, amarah, sombong, egois dan prasangka. Tidak syak lagi, setiap perbuatan yang dilakukan individu berangkat dari keadaan tertentu yang berada dalam kesadarannya, dan sebagai akibat dari pengejawantahan keadaan-keadaan semacam ini, yang adalah seperti bara api di bawah abu yang dingin, yakni lidah; penerjemah perasaan-perasaan manusia, mengeluarkan fitnah.
Ketika watak-watak tertentu secara mendalam telah berakar dalam kesadaran manusia, ia membutakan matanya dan menguasai pemikirannya. Salah satu alasan fitnah yang berkembang luas adalah bahwa para pemfitnah tidak mempedulikan dampak-dampak bahaya sesudahnya. Kita melihat orang-orang yang menahan diri dari dosa-dosa lainnya tetapi tidak berpikir dua kali terhadap perbuatan jahat yang menyengsarakan ini. Pengulangan fitnah tanpa mempertimbangkan dampak-dampak sesudahnya akan merampas kendali kemampuan manusia Untuk menahan diri dari mengikuti nafsu-nafsunya tanpa menghiraukan pengetahuannya tentang realitasnya yang berbahaya. Orangorang ini berusaha untuk meraih integritas dan kesempurnaan. Orang-orang seperti ini melarikan diri dari realitas dan menolak untuk menanggung sedikit penderitaan dalam mencapai kebahagiaan. Dengan demikian mereka menjadi korban kekuasaan nafsu-nafsu mereka yang rendah.
Orang-orang yang tidak memperhatikan martabat dirinya sendiri atau orang lain, tidak patuh kepada hukum etika; dan seseorang yang membuat kehidupan sebagai arena bagi nafsu-nafsunya, akan menerima kesengsaraan akibat melanggar batas hak-hak orang lain.
Sifat akhlak yang miskin ini berasal dari keimanan yang lemah, sedangkan akhlak merupakan buah dari keimanan. Jika seseorang tidak mempunyai iman, ia tidak mempunyai motif untuk berkelakuan baik atau menjalankan moral yang mulia.
Setiap orang memiliki pendapat mengenai cara terbaik dalam menolong orang dari penyelewengan dan pengrusakan moral. Menurut pendapat saya cara yang paling efektif adalah mendorong, kehendak baik mereka dengan menyadarkan terhadap seruan-seruan kepada kebaikan dan berbagai naluri manusiawi serta mengarahkan mereka untuk menggali kekayaan pikiran manusia dalam meraih kebahagiaan. Dengan menarik perhatian manusia. kepada dampak-dampak akhlak yang buruk dan dengan memperkuat kehendak mereka, kita dapat mengalahkan segala watak buruk dan mengganti rel kegelapan dengan sifat-sifat yang mulia.
Dr. Jago menulis:
Bila kita berniat memerangi kebiasaan yang tidak baik pertama-tama kita harus menyadari akibatakibat buruknya. Kemudian kita harus mengakui kebiasaan tersebut dan akhirnya merenungkan kejadian-kejadian yang membuat kita menjadi korban kebiasaan semacam ini. Jika kita mengenal diri kita sendiri melalui tahap-tahap kebiasaan ini. kita akan mengalahkan niat buruk itu dan merasa senang dalam menyingkirkannya.
Dengan adanya benih-benih integritas dalam jiwa manusia dan dengan tersedianya cara-cara untuk bertahan, kita mampu menyadari sebab-sebab di balik kesesatan dan kebingungan serta menyingkirkannya dari jiwa dan kesadaran kita membangun tembok yang kuat dalam menghadapi berbagai keinginan dan nafsu yang tiada habis-habisnya.
Berbagai tindakan merupakan gambaran dari si pelaku dan oleh karenanya merupakan pencerminan dari martabat dan realitas mereka. Dengan alasan ini jika seseorang mendambakan kebahagiaan, ia harus. memilih tindakantindakan yang benar guna merubahnya menjadi benih-benih kebahagiaan yang berharga. Manusia juga harus menyadari bahwa Allah mengetahui semua tindakannya, tidak pandang seberapa pun kecilnya.
Menurut seorang filosof:
Janganlah mengatakan bahwa alam semesta ini tidak memiliki akal atau perasaan, karena dengan berkata demikian berarti anda menuduh diri anda sendiri tidak berakal dan atau berperasaan. Jika alam semesta tidak berakal atau berperasaan, maka anda juga tanpa perasaan dan akal.
Dengan cara yang sama, masyarakat membutuhkan barangbarang materi agar mampu untuk terus hidup, ia membutuhkan sejumlah keharmonisan tertentu untuk memelihara berbagai ikatan rohani di antara anggotanya. Suatu masyarakat yang dengan teliti mengamati beban yang berat di antara tugas-tugas sosialnya dapat memanfaatkannya dalam memperoleh integritas.
Bagi kita. untuk mengeluarkan jiwa kita dari kegelapan kepada cahaya, kita harus memperkuat segala pemikiran yang mulia di dalam hati kita guna menangkis berbagai gagasan atau niat yang merusak. Dengan menjaga lidah kita dari fitnah, berarti kita mengambil langkah pertama untuk kebahagiaan. Bagi kita, menangkis berkembang pesatnya pengrusakan adalah wajib untuk menciptakan suatu revolusi psikologis di antara umat ini. Kita dapat melaksanakan ini dengan memperhatikan hak-hak orang lain yang nantinya akan menumbuhkan akar-akar kemanusiaan dan kerohanian, kemudian mengambil langkah lagi untuk membela sifat-sifat yang mulia, yang kepadanyalah perjuangan hidup setiap masyarakat bergantung.
Agama Terhadap Akhlak yang Buruk
Al-Quran mengungkapkan realitas fitnah dalam sebuah ayat yang singkat namun mengesankan:
“Apakah salah seorang di antara kamu senang memakan daging mayat saudaranya? Tentu kamu tidak menyukainya.”
Oleh karena itu, sewajarnyalah jika manusia menolak memakan daging orang yang telah mati, akalnya pasti membenci fitnah. Para pemimpin agama begitu banyak memberikan perhatian kepada perbaikan perasaan dan watak kejiwaan manusia sebanyak yang mereka berikan kepada perjuangan untuk menyingkirkan politeisme dan ateisme.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Aku tidak diutus melainkan untuk menyempurnakan akblak yang mulia."
Manusia telah dibimbing kepada moralitas oleh mazhab besar lslam dan didukung dengan pemahaman yang kuat dan logis. lslam memandang segala pelanggaran batas dari sudut moralitas sebagai suatu dosa besar dan tercela.
Sesungguhnya, Islam tidak hanya berhenti pada penunjukan fitnah sebagai dosa yang mengerikan, tetapi juga mewajibkan kepada semua kaum Muslimin untuk mempertahankan martabat orang-orang yang terkena fitnah.
“Jika seseorang difitnah sementara kamu ada di sana, maka jadilah penolong orang tersebut, celalah pemfitnah dan asingkanlah kelompoknya.”
(Nahj Al-Fasahah, hal. 48)
Rasulullah Saw. bersabda:
"Barangsiapa yang mempertahankan martabat saudaranya di saat ketidakhadirannya, maka adalah haknya atas Allah untuk melindunginya dari api neraka."
(Nahj Al-Fasahah, hal. 613)
Rasulullah Saw. juga bersabda:
"Barangsiapa yang memfitnah seorang Muslim selama bulan Ramadhan, tidak akan ada pahala bagi puasanya."
(Bihar Al-Anwar, jilid XVI, hal. 179)
Rasulullah Saw. juga menggambarkan tentang kedudukan seorang Muslim sebagai berikut:
"Seorang Muslim adalah orang yang menjaga Muslim yang lain dari tangan dan lidahnya."
Jelaslah bahwa jika seseorang membiarkan lidahnya memfitnah saudara Muslimnya yang lain maka ia telah melanggar aturan-aturan moralitas dan menjadi seorang kriminal di mata kemanusiaan dan lslam. Semua mazhab Islam dengan suara bulat setuju bahwa fitnah merupakan dosa besar; karena pemfitnah melanggar perintah-perintah Ilahi dan melanggar hak-hak orang lain dan tidak mengindahkan perintah-perintah Sang Pencipta.
Sebagaimana seorang yang tidak hadir tidak dapat mempertahankan martabat dan kehormatannya, orang yang telah mati pun tidak dapat mempertahankan diri, oleh karena itu, adalah tugas setiap orang untuk menghormati hukum mengenai kehormatan orang yang telah mati.
Fitnah dan gunjingan adalah semacam tekanan rohani. Imam Ali a.s. berkata:
Fitnah adalah suara orang yang lemah.
(Ghurar Al-Hikam, hal. 38)
Dr. H. Shakhter berkata:
Kekecewaan dalam memperoleh berbagai kebutuhan mengakibakan siksaan rohani. Siksaan rohani ini menghasut kita untuk melukiskan suatu bentuk pertahanan. Dalam keadaan seperti ini manusia berbeda-beda dalam jenis perbuatan yang mereka lakukan. Jika seseorang merasa bahwa orang lain tidak memberinya perhatian yang ia harapkan, karena merasa takut akan ditolak, ia memilih jalan pengasingan dan penyendirian dari hidup bermasyarakat. Ia mungkin duduk di sudut suatu perkumpulan dengan berdiam diri dan terpisah, tidak berbicara kepada siapa pun, mengkritik mereka, atau tertawa sendiri tanpa ada alasan. Atau mungkin ia berdebat dengan orang lain, memfitnah yang tidak hadir dan mengecam sampai ia membuktikan kehadirannya dengan cara seperti ini.
(Rushd e Syakhshiat)
Dr. Mann dalam bukunya yang berjudul The Fundamentals of Psychology menulis:
Untuk memelihara martabat kita, kita mungkin mencoba untuk mengganti kekalahan atau kelemahan kita dengan mengecam orang lain. Misalnya, jika kira gagal dalam ujian, maka kita mengecam guru dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikannya; atau jika kita tidak diangkat ke suatu kedudukan, kita melepaskan kedudukan kita atau memfitnah orang yang mendapat kedudukan tersebut. Atau kira mungkin mengambil tanggung jawab orang lain karena ketidakmampuan kita.
Kesimpulannya, untuk mengembangkan sifat-sifat yang baik, kita harus memperhatikan diri kita dan memelihara niat-niat yang bersih kita harus memulai dari diri kita sendiri sehingga kita dapat memperoleh landasan yang tepat bagi kebahagiaan kita dan bagi kebahagiaan masyarakat kita di segala bidang.
DAFTAR ISI:
PSIKOLOGI ISLAM 1
Membangun Kembali Moral Generasi Muda 1
Sayyid Mujtaba Musavi Lari 1
Tentang Penulis 2
Pendahuluan 6
4. Dusta 12
Kedudukan Akhlak dalam Masyarakat 12
Mudarat-mudarat Berdusta 17
Dusta Dilarang Agama 21
5. Kemunafikan 27
Suatu Usaha Menghargai Kepribadian Anda 27
Munafik: Sifat yang Paling Buruk 30
Memberantas Tempat-tempat Bersarangnya Kemunafikan 34
6. Fitnah 41
Masyarakat yang Ternodai Fitnah 41
Mudarat-mudarat Fitnah 44
Apakah yang Membuat Fitnah Berkembang 46
Agama Terhadap Akhlak yang Buruk 50