PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN (4)

Buku ini sudah diperiksa oleh

pengarang: Najmuddin Thabasi
Imam Mahdi ajf

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN

Najmuddin Thabasi

Penerjemah: Muhammad Habibi


PRAKATA PENERBIT

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Pusaka dan peninggalan berharga Ahlul Bait as. yang sampai sekarang masih tersimpan rapi dalam khazanah mereka merupakan universitas lengkap yang mengajarkan berbagai ilmu Islam. Universitas ini telah mampu membina jiwa-jiwa yang berpotensi untuk menguasai pengetahuan dari sumber tersebut. Mereka mempersembahkan kepada umat Islam ulama-ulama besar yang membawa risalah Ahlul Bait as., ulama-ulama yang mampu menjawab secara ilmiah segala kritik, keraguan dan persoalan yang dikemukakan oleh berbagai mazhab dan aliran pemikiran, baik dari dalam maupun luar Islam.

Berangkat dari misi dan tugas yang diemban, Lembaga Internasional Ahlul Bait (Majma‘ Jahani Ahlul Bait) berusaha mempertahankan kemu-liaan risalah dan hakikatnya dari serangan tokoh-tokoh firqah (kelompok), mazhab, dan berbagai aliran yang memusuhi Islam. Dalam hal ini, kami berusaha mengikuti jejak Ahlul Bait as. dan penerus mereka yang sepanjang masa senantiasa tegar dalam menghadapi tantangan dan tetap kokoh di garis depan perlawanan.

Khazanah intelektual yang terdapat dalam karya-karya ulama Ahlul Bait as. tidak ada bandingannya, karena buku-buku tersebut berpijak pada landasan ilmiah dan didukung oleh logika dan argumentasi yang kokoh, serta jauh dari pengaruh hawa nafsu dan fanatik buta. Karya-karya ilmiah yang dapat diterima oleh akal dan fitrah yang sehat tersebut juga mereka peruntukkan kepada para ulama dan pemikir.

Dengan berbekal sekian pengalaman yang melimpah, Lembaga Internasional Ahlul Bait berupaya mengetengahkan metode baru kepada para pencari kebenaran melalui berbagai tulisan dan karya ilmiah yang disusun oleh para penulis kontemporer yang mengikuti dan mengamalkan ajaran mulia Ahlul Bait as. Di samping itu, lembaga ini berupaya meneliti dan menyebarkan berbagai tulisan bermanfaat dari hasil karya ulama Syi‘ah terdahulu. Tujuannya adalah agar kekayaan ilmiah ini menjadi sumber mata air bagi setiap pencari kebenaran di seluruh penjuru dunia. Perlu dicatat bahwa era kemajuan intelektual telah mencapai kematangannya dan relasi antarindividu semakin ter-jalin demikian cepatnya. Sehingga pintu hati terbuka untuk menerima kebenaran ajaran Ahlul Bait as.

Kami mengharap kepada para pembaca yang mulia kiranya sudi menyampaikan berbagai pandangan berharga dan kritik konstruktifnya demi kemajuan Lembaga ini di masa mendatang. Kami juga mengajak kepada berbagai lembaga ilmiah, ulama, penulis, dan penerjemah untuk bekerja sama dengan kami dalam upaya menyebarluaskan ajaran dan budaya Islam yang murni. Semoga Allah swt. berkenan menerima usaha sederhana ini dan melimpahkan taufik-Nya serta senantiasa menjaga Khalifah-Nya (Imam Al-Mahdi as.) di muka bumi ini.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih banyak dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Yth. Najmuddin Thabasi yang telah berupaya menulis buku ini. Demikian juga kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Sdr. Muhammad Habibi yang telah bekerja keras menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia, juga kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penerbitan buku ini.

Divisi Kebudayaan Lembaga Internasional Ahlul Bait


PENDAHULUAN

Segera setelah negeri Shush—tempat Nabi Daniel as. dimakamkan—lepas dari kekuasaan orang-orang partai Baath, penduduk di sana secara bertahap kembali ke tempat tinggalnya masing-masing. Dan ketika itulah saya mendapat kehormatan untuk hadir bersama para pejuang. Di masjid jami kota bersejarah itu, saya menyampaikan rangkaian kuliah seputar Imam Zaman af. dengan mengacu kepada kitab Bihar al-Anwar karya ‘Allamah Majlisi ra.

Pada waktu itu, saya menyadari bahwa meskipun banyak sekali permasalahan telah dibahas seputar Imam Mahdi af. seperti: panjangnya usia beliau, falsafah keghaibannya, berbagai faktor penyebab kemunculannya, dan lain sebagainya, namun pembahasan tentang bagaimana imam Mahdi af. bangkit; bagaimana pemerintahannya dan seperti apa ia memimpin, belum menjadi obyek kajian yang memadai. Atas dasar itu, saya bermaksud untuk membahas masalah ini, sehingga barangkali saya dapat menemukan berbagai jawaban untuk beragam pertanyaan yang seringkali mengemuka dan menjadi bahan pikiran khalayak.

Di antara pertanyaan-pertanyaan itu ialah bagaimana Imam Mahdi af. kelak akan menggugurkan berbagai sistem sosial yang memiliki kemampunan dan kekuatan beragam di muka bumi, lalu menggantikannya dengan sebuah sistem pemerintahan global dan mendunia? Bagaimana sistem dan agenda pemerintahan imam Mahdi af., sehingga ketika ia memerintah, tak lagi tersisa kezaliman dan kerusakan sedikit pun di dunia, tak akan pula ditemukan seorang pun yang hidup kelaparan?

Berangkat dari berbagai pertanyaan semacam inilah saya terdorong selama empat tahun untuk melakukan penelitian. Dan tampaknya mulai menemukan hasil; yaitu berupa buku yang ada di hadapan para pembaca yang budiman ini.

Bagian pertama buku membahas kondisi dunia sebelum kemunculan Imam Mahdi af.; kondisi yang berkecamuk dengan peperangan, pembunuhan, kekeringan, kehancuran, kematian, tersebarnya wabah penyakit, kezaliman, ketakutan, dan kekacauan. Kelak kita akan menyimak bahwa pada masamasa itu, umat manusia akan merasa putus asa dan kecewa terhadap keberadaan berbagai sistem pemikiran dan pemerintahan yang semuanya mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia dan menjanjikan kebahagiaan serta keselamatan. Mereka merasa putus asa akan pulihnya situasi dan membaiknya kondisi dunia. Semua pihak ketika itu menanti kedatangan seorang juru penyelamat yang akan membimbing mereka menuju keselamatan.

Bagian kedua, mengupas seputar bagaimana kebangkitan dan revolusi global Imam Mahdi af. Inilah gerakan yang akan dimulai dari dekat Ka’bah dengan diumumkannya kemunculan beliau. Ketika itu, para pengikut sejati beliau dari segala penjuru dunia bergabung dengannya. Pasukan yang luar biasa terbentuk dengan teratur, para pemimpin ditentukan, dan dimulailah berbagai aksi global dalam tingkatan yang semakin meluas.

Imam Mahdi af. akan datang dan melenyapkan kezaliman dan orang-orangnya dari tengah-tengah umat manusia sampai ke akar-akarnya. Umat manusia yang dimaksud di sini tidak hanya terbatas pada mereka yang hidup di kawasan Hijaz, Timur Tengah, dan Asia saja, bahkan meliputi seluruh dunia.

Memperbaiki masyarakat yang dipenuhi berbagai kezaliman dan kerusakan seperti ini adalah pekerjaan yang sangat sulit. Setiap orang yang mengaku akan melakukannya, berarti ia juga mengaku telah memiliki mukjizat yang sangat besar. Sesungguhnya mukjizat seperti ini memang ada dan akan terwujud di tangan Imam Mahdi af.

Adapun bagian ketiga buku ini membahas pemerintahan Imam terakhir kita itu. Untuk menata dunia yang telah dipenuhi kezaliman dan kerusakan, juga mewujudkan legitimasi Islam, pemerintahan yang kuat dan kompeten, Imam Mahdi af. akan membentuk sebuah pemerintahan yang adil yang dibantu para sahabat terbaik di zamannya. Selain itu, ia pun dibantu para pembesar kekasih Allah seperti Nabi Isa as., Salman Al-Farisi, Malik al-Asytar, dan orang-orang baik lainnya yang merupakan al-salaf al-shaleh. Meskipun peran mereka dalam menggulingkan pemerintahan zalim tidak bisa diabaikan, amun peran sejati mereka adalah membangun dan membenahi dunia pada masa pemerintahan Imam Mahdi af.

Apa yang telah dijelaskan secara sederhana dalam pendahuluan ini merupakan pembahasan yang telah memanfaatkan berbagai literatur dari puluhan kitab terkemuka baik dari kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, dengan mengkaji ratusan riwayat dan disajikan secara sistematis dalam format buku yang kami anggap dapat dipertanggungjawabkan argumentasinya.

Walaupun tidak secara sempurna, semoga buku ini dapat melukiskan kondisi umat Islam setelah munculnya sang ratu adil. Mudah-mudahan buku ini dapat diterima oleh Imam Mahdi af. dan bermanfaat bagi seluruh lapisan kaum Muslimin dan orang-orang yang teguh menanti kemunculannya. Dan semoga saja buku ini dapat menambah kesiapan mereka untuk menyambut kedatangan sang Imam.

Kami memohon kepada Allah; Tuhan semesta alam, untuk membangkitkan Imam Khumaini—orang yang telah menampilkan sebuah contoh pemerintahan Imam Mahdi af di negeri Persia—bersama para Nabi dan manuisa-manuisa maksum. Semoga Allah mengaruniai keberhasilan bagi para pecinta Islam yang berkhidmat kepada Ahlul Bait as. dan tanah airnya, dan semoga Allah mengokohkan diri mereka dalam menjaga tanah air ibu kota Islam ini.

Di sini, rasanya penting sekali bagi saya untuk memberikan beberapa penjelasan sebelum Anda membaca buku ini:

 Kami tidak mengklaim telah membawakan pembahasan baru dalam buku ini, karena rangkaian riwayat yang dikemukakan merupakan riwayat yang telah dikumpulkan oleh ulama Islam terdahulu, dan dalam beberapa bagian mereka pun telah menyampaikan kesimpulannya. Tampaknya, kekhususan buku ini tidak terjebak pada berbagai istilah teknis yang sulit. Dengan metode baru, pembahasan disampaikan secara mudah dan gamblang, sehingga dapat dipahami oleh banyak orang.

 Berbagai kesimpulan yang ditarik dari riwayat tertentu yang tidak disebutkan sumber rujukannya adalah pendapat pribadi penulis. Oleh karena itu, mungkin saja dengan penelitian yang lebih mendalam atas berbagai riwayat tersebut akan ditemukan kesimpulan lain.

 Kami juga tidak mengklaim bahwa semua riwayat yang disajikan dalam buku ini adalah riwayat sahih yang tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, sebagaimana permasalahan ini telah dibahas secara terperinci dalam jurnal Entezar. Walaupun demikian, kami berusaha menukilkan apa-apa yang disampaikan oleh ulama hadis dan para penulis ternama dalam berbagai karya mereka. Selain itu, hanya dalam beberapa tempat saja kami membahas kebenaran sanad suatu riwayat; karena kami tidak bermaksud melakukannya dalam buku ini. Lagi pula, kebanyakan riwayat-riwayat yang kami gunakan pada umumnya dapat dipercaya, khususnya riwayat-riwayat dari jalur Ahlul Bait as.

 Riwayat-riwayat dalam buku ini telah dikumpulkan sebelum diterbitkannya kitab Mu’jam Ahadits Al-Imam Al-Mahdi.[1] Oleh karenanya, dalam sebagian tempat, kami mempersilahkan para pembaca untuk merujuk kepada kitab tersebut—yang terlebih dahulu disusun sebelum buku ini—untuk melihat hasil penelitian yang lebih terperinci.

 Dalam beberapa riwayat, kata al-sa’ah (waktu) dan alqiyamah (kiamat) telah ditafsirkan sebagai kemunculan Imam Mahdi af. Oleh karenanya, riwayat-riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda-petanda dekatnya kejadian as-sa’ah dan al-qiyamah kami bawakan sebagai riwayat yang menjelaskan alamat dan petanda kemunculan Imam Mahdi af.

 Sebagian materi pembahasan dalam buku ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, meskipun telah ada usaha sebelumnya untuk meneliti berbagai permasalahan tersebut. Semoga Allah mengizinkan kami untuk memberikan catatan tambahan hasil penelitian yang lebih baik dalam buku ini pada cetakan berikutnya.

Sebelum mengakhiri kata pengantar ini, sebagaimana riwayat yang menyebutkan, “Barang siapa tidak berterima kasih kepada sesama makhluk, maka ia tidak berterima kasih kepada Sang Khaliq”, sepatutnya saya sampaikan banyak terima kasih kepada saudara-saudara dan teman-teman, khususnya dua saudara besar saya, yaitu Hujjatul Isam Muhammad Jawad dan Muhammad Ja’far Thabasi atas saransaran mereka, demikian juga kepada Hujjatul Islam Ali Rafi’i dan Sayid Muhammad Husaini Shahrudi atas bantuannya dalam menyusun buku ini.

Najmuddin Thabasi Qom, 1378 HS.


Bab 3

PASUKAN IMAM MAHDI AF.

Pasukan Imam Mahdi af. berasal dari bangsa yang beraneka ragam. Ketika beliau muncul, mereka akan dipanggil dengan berbagai cara khusus. Orang-orang yang sebelumnya telah dipilih sebagai pemimpin, akan memimpin sekelompok pasukan dan mengatur gerakan serta operasi-operasi militer yang akan dilakukan. Orang-orang yang diterima sebagai pasukan Imam Mahdi af. memiliki kriteria khusus.

Pada bagian ini, kami akan membawakan beberapa riwayat mengenai hal di atas.

A. Pemimpin Pasukan

Dalam beberapa riwayat, disebutkan adanya orang-orang tertentu yang bertugas memimpin dalam beberapa gerakan militer. Ada juga yang menjadi pemimpin sekelompok pasukan. Pada bagian ini, dikupas nama orang-orang tersebut beserta tugas-tugasnya.

1. Nabi Isa as.

Dalam sebuah khutbah, Imam Ali as. bersabda, “… Pada suatu saat, Imam Mahdi menjadikan Nabi Isa as. sebagai penggantinya dalam sebuah gerakan melawan Dajal. Nabi Isa as. bangkit untuk mengalahkan Dajal. Dajal yang telah menguasai bumi dan menghancurkan areal pertanian juga membinasakan manusia, senantiasa mengajak umat manusia mengikutinya. Setiap orang yang menerima ajakannya, diperlakukan dengan baik. Namun sebaliknya, di bunuh setiap orang yang menolaknya. Seluruh tempat selain Mekah, Madinah, dan Baitul Maqdis dihancurkannya. Semua anakanak haram dari Barat dan Timur dunia berkumpul di sekelilingnya.

“Dajal bergerak menuju Hijaz, dan Nabi Isa as. yang berada di sekitar Hirisya mendatanginya. Lalu ia berteriak lantang dan memukulnya dengan keras, kemudian memasukkannya ke dalam kobaran api. Dajal lenyap bagaikan timah yang meleleh terkena api.”[2]

Pukulan keras yang menyebabkan Dajal binasa barangkali karena dampak luar biasa senjata tercanggih di zaman itu. Mungkin juga hal ini menunjukkan mukjizat Nabi Isa as.

Tentang kekhususan Nabi Isa as., terdapat sebuah riwayat menyebutkan, “Nabi Isa as. memiliki wibawa yang sangat luar biasa, sehingga ketika musuh melihatnya, ia merasa gentar dan terlintas bayangan kematian di pikirannya, seakan-akan Nabi Isa as. berniat mencabut nyawanya.”[3]


2. Syu’aib bin Shaleh

Imam Ali as. bersabda, “Sufyani dan orang-orang yang mengibarkan bendera hitam saling berhadapan. Di antara mereka ada seorang pemuda dari Bani Hasyim dimana di telapak tangan kirinya terdapat bercak hitam. Adapun pemimpinnya adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang bernama Syu’aib bin Shaleh.”[4]

Hasan Bashri berkata, “Akan muncul seseorang bernama Syu’aib bin Shaleh di Ray. Ia adalah orang yang tak berjenggot. Bahunya indah. Ia memimpin empat ribu prajurit yang memakai pakaian putih dan memiliki bendera berwarna hitam. Mereka adalah pasukan barisan depan Al-Mahdi.”[5]

Ammar Yasir berkata, “Syu’aib bin Shaleh adalah pembawa bendera Imam Mahdi af.”[6]

Syablanji berkata, “Pemimpin pasukan barisan depan Imam Mahdi af. adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang memiliki sedikit janggut bernama Syu’aib bin Shaleh.”[7]

Muhammad bin Hanafiyah berkata, “Akan keluar pasukan dari Khurasan yang mengenakan sabuk hitam dan pakaian berwarna putih. Mereka adalah pasukan barisan terdepan yang dipimpin oleh orang yang bernama Syu’aib bin Shaleh atau Shaleh bin Syu’aib. Ia dari kabilah Bani Tamim. Mereka akan mengalahkan pasukan Sufyani, lalu pergi ke Baitul Maqdis dan mempersiapkan segalanya di sana, untuk menyam-but kedatangan Imam Mahdi af.”[8]


3. Ismail putra Imam Shadiq as. dan Abdullah bin Syuraik

Abu Khadijah berkata bahwa Imam Shadiq as. bersabda, “Aku pernah memohon kepada Allah untuk menjadikan anakku Ismail, sebagai penerus setelahku. Tetapi, Allah tidak mengabulkannya. Ia memberikan kedudukan yang lain untuknya. Ia adalah orang yang pertama yang akan muncul bersama sepuluh orang kawannya. Salah satu dari sepuluh orang tersebut adalah Abdullah bin Syarik. Ia adalah pemegang bendera pasukannya.’”[9]

Imam Baqir as. bersabda, “Seakan-akan aku sedang melihat Abdullah bin Syarik Amiri tengah memakai sorban hitam dan kedua ujungnya terjulur di kedua bahunya. Ia memimpin empat ribu orang yang menjadi pasukan garda depan Imam Mahdi af., dari kaki gunung menuju puncak gunung sambil mengucapkan Takbir.”[10]


4. Aqil dan Harits

Imam Ali as. bersabda, “… Imam Mahdi mengerahkan pasukannya dan terus bergerak sampai memasuki Irak. Ia berada di antara dua pasukan, pasukan barisan terdepan yang berada di hadapannya, dan pasukan yang berada di belakangnya. Pasukan barisan terdepan dipimpin oleh seorang lelaki bernama Aqil, dan pasukan di belakangnya dipimpin oleh Harits.

5. Jabir bin Khabur

Imam Shadiq as. menukil ucapan Imam Ali as., “Orang ini (Jabir) akan menunggu kedatangan al-Qaim (Imam Mahdi af.) di Jabal al-Ahwaz bersama empat ribu pasukannya dengan senjata di tangan mereka. Ia akan berperang bersama beliau af. melawan musuh-musuhnya.”[11]

6. Mufadhal bin Umar

Imam Shadiq as. berkata kepada Mufadhal, “Engkau bersama empat puluh empat orang lainnya akan bersama dengan alQaim af. Engkau akan berada di sisi kanan beliau melakukan amar makruf dan nahi munkar. Sesungguhnya orang-orang di zaman itu, lebih baik dari pada orang-orang di zaman ini dalam menaatimu.”[12]

7. Ashabul Kahfi

Imam Ali as. bersabda, “Ashabul Kahfi akan datang kembali untuk membantu Al-Mahdi (af).”[13]


B. Pasukan dari Berbagai Bangsa

Pasukan Imam Mahdi af. terbentuk dari orang-orang yang berasal dari berbagai negara. Dalam riwayat, banyak sekali ditemukan pembahasan tersebut. Terkadang disebutkan bahwa pasukan Imam Mahdi af. adalah orang-orang Ajam. Dalam sebagian riwayat disebutkan nama-nama negeri dan kota yang dari sana pasukan Imam Mahdi berdatangan. Disebutkan pula bahwa beberapa kaum kelak dibangkitkan kembali untuk menolong Imam Mahdi af., seperti kaum Bani Israil yang telah bertaubat, orang-orang Nasrani yang beriman, dan orang-orang mulia lainnya.

Dalam pembahasan ini, kami akan membawakan beberapa riwayat.

1. Bangsa Iran

Berdasarkan berbagai riwayat, sebagian dari anggota pasukan khusus Imam Mahdi af. adalah bangsa Iran. Mereka disebut dengan bermacam-macam panggilan, seperti sebutan orangorang Ray, orang-orang Khurasan, harta-harta dari Thaliqan, orang-orang Qom, bangsa Persia, dan sebutan lainnya.

Imam Baqir as. bersabda, “Akan datang pasukan berbendera hitam dari Khurasan ke kota Kufah. Ketika Imam Mahdi af. muncul, mereka akan membaiatnya.”[14]

Imam Baqir as. bersabda, “Pasukan al-Qaim (af.) berjumlah tiga ratus tiga belas orang yang berasal dari bangsa non-Arab (Ajam).”[15]

Abdullah bin Umar menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Allah Swt. meletakkan kekuatan kalian (kaum Muslimin) pada orang-orang Ajam. Mereka adalah harimau yang tak takut apa pun. Mereka akan menyeret kalian (orangorang Arab) dan membawa harta benda kalian.’”[16]

Ada kemungkinan bahwa riwayat ini mengisyaratkan tentang bersatunya kekuatan kafir dan serangan mereka terhadap Islam dan Muslimin. Hal ini tidak ada kaitannya dengan berbagai upaya menyambut kedatangan Imam Mahdi af.

Maka, kami mengeluarkan riwayat ini dari pembahasan sebenarnya. Paling tidak, kami kemukakan bahwa riwayat tersebut perlu dipertimbangkan kembali.

Hudzaifah juga menukilkan riwayat yang serupa dari Rasulullah saw.[17] Namun, sebenarnya perlu dipertanyakan kembali bagaimana signifikansinya tentang apakah orang-orang yang disebutkan dalam riwayat-riwayat di atas adalah orang Iran. Berdasarkan riwayat, akan datang suatu masa di mana bangsa Iran akan memerangi orang-orang Arab, agar mereka kembali memeluk Islam. Mereka pun menyebarkan agama mulia ini. Kondisi orang-orang Arab di zaman itu sangat memprihatinkan, dan mereka selalu menjalani hari-hari yang sulit.

Meskipun yang dimaksud dengan Ajam adalah orang-orang selain Arab, yang jelas bangsa Iran juga termasuk orang-orang Ajam. Menurut sebagian riwayat lainnya, disebutkan bahwa bangsa Iran memiliki peran penting dalam mempersiapkan dunia dalam menyambut kedatangan Imam Mahdi af. Sebagian besar dari korban perang adalah bangsa Iran.

Dalam beberapa khutbah yang diucapkan oleh Imam Ali as. mengenai prajurit Imam Mahdi af., nama beberapa kota di Iran disebutkannya.

Asbagh bin Nubatah menuturkan bahwa Imam Ali tengah berpidato dan menjelaskan kedatangan Imam Mahdi af. beserta orang-orang yang menjadi pasukannya. Beliau bersabda, “Dari Ahwaz satu orang; dari Syusytar satu orang; tiga orang dari Syiraz, yaitu Hafsh, Ya’qub, dan Ali; dari Isfahan empat orang, yaitu Musa, Ali, Abdullah, dan Ghulfan; satu orang dari Burujerd, yaitu Qadim; satu orang dari Nahavand, yaitu Abdur Razzaq; dari Hamadan[18] tiga orang, yaitu Ja’far, Ishaq, dan Musa; sepuluh orang dari Qom, di mana nama mereka sama seperti nama Ahlul Bait Rasulullah Saw. (dalam riwayat yang lain disebutkan delapan belas orang); satu orang dari Syiravan; satu orang dari Khurasan, yaitu Darid dan juga lima orang yang namanya sama dengan nama Ashabul Kahfi; satu orang dari Amul; satu orang dari Jurjan; satu orang dari Damaghan; satu orang dari Sarkhas; satu orang dari Saveh; dua puluh empat orang dari Thaleqan; dua orang dari Qazvin; satu orang dari Fars; satu orang dari Abhar; satu orang dari Ardabil; tiga orang dari Maraqe; satu orang dari Khuy; satu orang dari Salmas; tiga orang dari Abadan; dan satu orang dari Kazrun.’

Beliau as. kembali bersabda, ‘Rasulullah Saw. menyebutkan tiga ratus tiga belas orang dari pasukan Al-Mahdi (af.), sejumlah pasukan beliau di perang badar.’ Lalu beliau bersabda, ‘Allah akan mengumpulkan mereka dari Barat dan Timur bumi di Baitullah tidak lebih dari satu kedipan mata.’”[19]

Sebagaimana yang telah Anda simak, di antara tiga ratus tiga belas pasukan yang akan menyertai Imam Mahdi af. sejak awal, tujuh puluh dua orang di antaranya berasal dari kotakota yang kini terletak di Iran. Jika dihitung berdasarkan apa yang disebutkan dalam Dalailul Imamah karya Thabari, dengan menambahkan nama-nama kota yang pada masa itu berada dalam garis kekuasaan Iran, maka jumlahnya lebih besar lagi.

Dalam riwayat, terkadang nama sebuah kota disebutkan sebanyak dua kali. Adakalanya disebutkan nama beberapa kota dalam suatu negeri, lalu disebut juga nama negerinya.

Jika riwayat yang telah disebutkan adalah riwayat sahih, dapat dikatakan bahwa yang dijadikan tolak ukur adalah pembagian daerah di zaman itu. Pembagian daerah dari segi geografis, tidak dapat dijadikan sandaran untuk memahami riwayat tersebut. Karena, terkadang nama suatu kota diganti dengan nama lain, dan mengalami berbagai perubahan yang lain pula.

Hal penting yang juga perlu diperhatikan, ketika kita menyesuaikan nama-nama kota yang disebutkan dalam riwayat dengan apa yang terbentang dalam peta masa kini, mungkin kita dapat menarik kesimpulan bahwa para penolong Imam Mahdi af. bertebaran di dunia. Dari sini, barangkali yang dimaksud dengan kata Afranjah—yang disebutkan dalam riwayat—adalah suatu tempat di kawasan Barat. Jika hal ini benar, maka riwayat yang menerangkan bahwa bumi tidak akan kosong dari orang-orang baik akan memiliki makna yang jelas. Karena jika bumi kosong dari orang-orang yang baik, maka bumi akan hancur.

Dalam beberapa riwayat lainnya, disebutkan nama–nama kota tertentu seperti Qom, Khurasan dan Thaliqan.

Qom

Imam Shadiq as. bersabda, “Tanah Qom adalah tanah yang suci … bukankah penghuninya adalah para penolong Imam Mahdi af. dan termasuk orang-orang yang menyerukan kebenaran?”[20]

Affan Bashiri menuturkan bahwa Imam Shadiq as bersabda padanya, “Apakah engkau tahu mengapa Qom disebut dengan nama ini?’ Ia menjawab, ‘Allah, Rasul-Nya, dan engkau lebih mengetahuinya.’ Beliau bersabda, ‘Karena penduduk kota Qom akan berkumpul di sekitar Imam Mahdi af. dan tinggal bersamanya lalu menolongnya.’”[21]

Khurasan

Imam Ali as. menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘… di Khurasan, terdapat harta karun yang tidak berbentuk emas dan perak. Tetapi, para pria yang bersatu padu, karena ikatan keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya.’”[22]

Barangkali maksudnya adalah mereka memiliki keyakinan yang sama mengenai Allah dan utusan-Nya. Mungkin juga, pada suatu hari Allah akan mengumpulkan mereka bersamasama di Mekah.

Thaleqan

Imam Ali as. bersabda, “Betapa beruntungnya penduduk Thaleqan! Karena Allah memiliki harta berharga di sana yang tidak terbuat dari emas dan perak, melainkan orang-orang yang beriman. Mereka mengenal Allah dengan sebenarnya dan mereka adalah para penolong Imam Mahdi af. di akhir zaman.”[23]


2. Bangsa Arab[24]

Ada dua kategori riwayat yang menerangkan keberadaan bangsa Arab dalam kebangkitan Imam Mahdi af. Sebagian riwayat menerangkan ketidakikutsertaan bangsa Arab dalam revolusi Imam Mahdi af. Adapun sebagian lagi menjelaskan beberapa tempat di daerah Arab yang menjadi tempat para pendukung Imam Mahdi af.

Riwayat-riwayat yang menjelaskan ketidakikutan bangsa Arab dalam perjuangan Imam Mahdi af., jika sanadnya shahih, dapat ditafsirkan. Karena, mungkin saja orang-orang Arab tidak termasuk prajurit yang menyertai Imam Mahdi af. sejak awal perjuangannya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Hur Amili dalam kitab Itsbatul Hudat dalam rangka menafsirkan beberapa riwayat tersebut. Adapun, beberapa nama kota Arab yang disebutkan dalam riwayat, barangkali maksudnya adalah adanya sekelompok prajurit Ajam yang tinggal di sana dan datang untuk membantu Imam Mahdi af.; bukannya bangsa Arab yang tinggal di sana yang bergabung dengan Imam Mahdi af. Mungkin juga yang dimaksud adalah pemerintahan dan negara-negara Arab.

Perhatikan beberapa riwayat berikut ini:

Imam Shadiq as. bersabda, “Hindarilah bangsa Arab! Karena masa depan mereka suram. Bukankah tak seorang pun di antara mereka yang berjuang bersama Imam Mahdi af?”[25]

Syaikh Hur Amili berkata, “Mungkin maksud Imam Shadiq as. adalah ketidakikutan bangsa Arab dalam permulaan perjuangan Imam Mahdi af., atau mungkin juga karena sedikitnya orang-orang Arab yang ikut berjuang .…”

Rasulullah Saw. bersabda, “Akan datang orang-orang mulia dari Syam (Syiria) yang bergabung bersama Imam Mahdi af. Begitu juga orang-orang yang berasal dari kabilah-kabilah yang tinggal di sekitar Syam. Hati mereka bagaikan baja. Di malam hari, mereka takut kepada Tuhannya, dan di siang hari, mereka bagaikan harimau.”[26]

Imam Baqir as. bersabda, “Tiga ratus tiga belas orang, sebagaimana jumlah pasukan perang Badar, akan membaiat Al-Mahdi af. di antara rukun dan maqam Kabah. Di antara mereka adalah orang-orang bijak yang berasal dari Mesir, Syam, dan Irak. Ia akan memimpin sebagaimana yang dikehendaki Allah.”[27]

Mengenai kota Kufah, Imam as. juga bersabda, “Ketika alQaim af muncul dan bergerak menuju Kufah, Allah akan membangkitkan tujuh puluh ribu orang yang jujur di balik Kufah (Najaf). Mereka adalah para penolong Al-Mahdi af.”[28]


3. Pengikut dari Agama Lain

Mufadhal bin Umar menuturkan bahwa Imam Shadiq as. bersabda, ‘Ketika Imam Mahdi muncul, akan datang sejumlah orang dari belakang Ka’bah. Mereka adalah dua puluh tujuh orang dari kaum Nabi Musa as. (orang-orang yang menghukumi segalanya dengan benar), tujuh orang dari Ashabul Kahfi, Yusya’ penerus Musa as., orang-orang yang beriman dari keluarga Fir’aun, Salman Al-Farisi, Abu Dujanah Anshari[29] , dan Malik Asytar.”[30]

Imam Shadiq as. kembali bersabda, “Ruh orang-orang yang beriman akan melihat keluarga Muhammad Saw. di gunung Radhwa. Mereka memakan makanannya dan meminum minumannya. Mereka berkumpul dan berbincang-bincang dengannya sampai Imam Mahdi af. muncul. Ketika Allah membangkitkan mereka, secara berkelompok mereka menyambut ajakan Imam Mahdi af. dan menyertai beliau. Di zaman itu, orang-orang yang memiliki akidah yang batil akan mengalami keraguan. Kelompok-kelompok dan partai-partai akan berpecah belah, dan hanya orang-orang yang mendekatkan dirinya kepada Allah yang akan selamat.”[31]

Ibnu Juraih berkata, “Aku mendengar bahwa ketika dua belas kabilah Bani Israil telah membunuh nabi mereka sendiri, satu kabilah di antara mereka menyesali perbuatannya. Lalu, mereka memohon kepada Allah untuk dipisahkan dari kabilah-kabilah lainnya. Allah menciptakan sebuah terowongan bawah tanah untuk mereka, lalu mereka berjalan di sana selama satu setengah tahun, sehingga mereka sampai ke Cina. Sampai saat ini mereka ada di sana[32] dan mereka adalah kaum Muslimin dan mereka akan bergabung dengan kabilah kami.”[33]

Sebagian mengatakan, “Dalam peristiwa Mi’raj, Allah mengirim Rasulullah Saw. ke tempat mereka berada. Lalu, beliau membacakan sepuluh surah Makkiyah. Mereka mengimani Rasulullah Saw. dan membenarkan beliau. Beliau memerintahkan mereka untuk tetap tinggal di sana dan tidak bekerja di hari Sabtu (hari libur orang-orang Yahudi), dan sebagai gantinya, mereka harus melakukan shalat dan membayar zakat. Mereka menerima perintah ini dan menjalankannya.[34] Dan kewajiban-kewajiban yang lain tidak diwajibkan untuk mereka.”

Ibnu Abbas berkata, “Dalam tafsir ayat, “Dan kami telah berkata kepada Bani Israil untuk tinggal di tempat itu sampai datang apa yang dijanjikan Tuhan lalu membangkitkan kalian.[35] mereka berkata, ‘Maksud dari apa yang dijanjikan Allah adalah kemunculan Nabi Isa, dimana mereka akan berjuang bersamanya.’ Namun, sahabat-sahabat kami berkata bahwa yang dijanjikan itu adalah kedatangan Al-Mahdi af.”[36]

Dalam tafsir ayat, “Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan”[37] , Al-Majlisi berkata, “Mengenai siapakah yang dimaksud dengan umat di atas, banyak perbedaan pendapat. Sebagian orang seperti Ibnu Abbas berkata, ‘Mereka adalah kaum yang hidup di suatu tempat di Cina dan di antara tempat tinggal mereka dengan Cina terdapat gurun pasir. Mereka sama sekali tidak akan pernah melakukan perubahan pada hukum Allah.’”[38]

Ketika berbicara tentang mereka, Imam Baqir as. bersabda, “Mereka tidak menganggap harta bendanya khusus untuk diri sendiri. Mereka beranggapan bahwa saudara seimannya memiliki hak untuk menggunakannya. Mereka di malam hari beristirahat dan di siang harinya bekerja dan sibuk dengan bercocok tanam. Tak seorang pun dari kita yang dapat me-nuju ke sana dan tak seorang pun dari mereka yang dapat menuju ke sini. Sesungguhnya mereka berada dalam kebenaran.”[39]

Mengenai ayat, “Dan diantara orang-orang yang mengatakan, "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya …”[40] , Imam Shadiq as. bersabda, “Orang-oran Nasrani akan menyadari jalan ini dan sekelompok dari mereka akan bersama al-Qaim af.”[41]


4. Jabilqa dan Jabirsa[42]

Imam Shadiq as. bersabda, “Di belahan timur dunia, Allah memiliki sebuah kota yang bernama Jabilqa yang memiliki dua belas ribu pintu yang terbuat dari emas. Jarak antara satu pintu dengan pintu yang lain adalah satu farsakh. Di atas setiap pintu, terdapat satu menara yang memuat dua belas ribu tentara. Mereka selalu siap untuk menyambut kedatangan Imam Mahdi af. Allah juga memiliki sebuah kota yang bernama Jabirsa di sebelah barat dunia (dengan kriteria yang sama) dan aku adalah hujjah Allah bagi mereka.”[43]

Banyak juga riwayat yang menerangkan adanya beberapa tempat di dunia, di mana penduduknya tidak melakukan maksiat dan selalu menaati Allah. Untuk keterangan lebih lanjut, Anda bisa merujuk kitab Bihar al-Anwar; jil. 54.

Dengan membaca berbagai riwayat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Imam Mahdi af. memiliki banyak pasukan yang berada di segala penjuru dunia. Mereka siap memasuki medan perang, ketika beliau datang nanti. Dari beberapa riwayat, kita mengetahui bahwa orang-orang yang akan menjadi pengikut Imam Mahdi af., sebelumnya telah meninggal dunia. Mereka dibangkitkan dan hidup kembali untuk membantu Sang Imam af.[44]

Imam Shadiq as. bersabda, “Najm bin A’yan adalah salah satu orang yang akan mengalami Raj’ah dan hidup untuk kedua kalinya untuk berjihad.”[45] Mengenai Hamran dan Maisar, beliau juga bersabda, “Seakan-akan aku melihat Hamran dan Maisar menggenggam pedang dan berpidato di hadapan orang banyak, di antara Shafa dan Marwah.”[46]

Ayatullah Khui dalam Mu’jam Rijal al-Hadis menafsirkan kata “berpidato” sebagai membunuh dengan pedang.

Pada suatu saat Imam Shadiq as. memandang Dawud Ruqqay lalu mengatakan, “Barang siapa ingin melihat seseorang yang termasuk prajurit Al-Qaim af., maka lihatlah orang ini (yakni dia akan dihidupkan kembali sebagai prajurit Imam Mahdi af.).”[47]


C. Jumlah Pasukan

terdapat banyak riwayat yang menjelaskan jumlah pasukan Imam Mahdi af. Sebagian riwayat itu menyebutkan bahwa jumlah mereka sebanyak tiga ratus tiga belas orang. Sebagian riwayat yang lain menyebutkan bahwa jumlah mereka sebanyak sepuluh ribu orang, bahkan lebih. Di sini, kita harus menjelaskan dua masalah penting:

Pertama, tiga ratus tiga belas orang yang dimaksud dalam sebagian riwayat, adalah orang-orang khusus yang akan berjuang bersama Imam Mahdi af. sejak permulaan perjuangannya. Mereka akan menjadi para pejabat dalam pemerintahan global Imam Mahdi af. Almarhum Ardabili dalam Kasyfun Ni’mah menuturkan, “Berdasarkan riwayat yang menyebutkan bahwa prajurit Imam Mahdi af. lebih dari sepuluh ribu orang, kita mengatakan bahwa sesungguhnya pengikut Imam tidak hanya terbatas pada tiga ratus tiga belas orang saja. Karena tiga ratus tiga belas orang tersebut adalah orang-orang pilihan yang berjuang sejak awal kebangkitan Imam Mahdi af.”

Kedua, jumlah empat ribu, sepuluh ribu, dan lain sebagainya, bukan jumlah keseluruhan pasukan Imam Mahdi af. Bahkan jumlah tersebut adalah jumlah pasukan yang akan berjuang bersama Imam Mahdi af pada suatu zaman tertentu, atau pada suatu medan peperangan tertentu (tidak semuanya). Barangkali ada hal lainnya yang tidak kami ketahui dan kelak akan lebih jelas ketika Imam Mahdi af. muncul.

1. Orang-orang Pilihan

Yunus bin Dzibyan menuturkan, “Pada suatu hari aku berada di dekat Imam Shadiq as. Beliau menyebutkan nama-nama pengikut Imam Mahdi af seraya bersabda, ‘Jumlah mereka adalah tiga ratus tiga belas orang. Setiap orang dari mereka, melihat dirinya seorang yang berada di antara tiga ratus orang.’”[48]

Maksud dari kata “setiap orang dari mereka melihat dirinya seorang yang berada di antara tiga ratus orang” ada dua kemungkinan. Pertama, kekuatan tubuh setiap orang dari mereka, seperti kekuatan tiga ratus orang biasa; dan kedua, setiap orang dari mereka memiliki tiga ratus pengikut. Kemungkinan besar yang benar adalah kemungkinan kedua, yakni setiap orang memimpin tiga ratus orang, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama.

Imam Zainal Abidin as. bersabda, “Orang-orang yang kelak akan menjadi penolong Imam Mahdi af. berjumlah tiga ratus tiga belas orang. Mereka akan berkumpul di Mekah pada pagi esok harinya.”[49]

Imam Jawad as. menuturkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Imam Zaman akan muncul di negeri Tihamah (Mekah). Ia memiliki harta berharga yang tidak terbuat dari emas maupun perak, melainkan kuda-kuda (kendaraan-kendaraan) yang kuat dan prajurit yang jumlahnya sama dengan jumlah prajurit perang Badar. Jumlah mereka sebanyak tiga ratus tiga belas orang dan akan berkumpul mengelilinginya dari penjuru dunia. Beliau memiliki sebuah kitab yang tertulis di dalamnya nama-nama prajurit setianya lengkap dengan nama tempat tinggal, jenis keturunan, dan biografinya. Mereka semuanya senantiasa menaati Al-Mahdi af.”[50]

Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika ia (Imam Mahdi af.) muncul, orang-orang mengerumuninya, sampai datang tiga ratus tiga belas orang lelaki dan juga terdapat orang perempuan di

antara mereka. Ia akan memenangkan peperangan melawan semua orang yang zalim dan juga keturunannya. Ia akan menegakkan keadilan, sehingga orang-orang yang hidup berharap dihidupkannya kembali orang-orang yang telah mati, supaya mereka dapat merasakan keadilan.”[51]

Imam Baqir as. bersabda, “Imam Mahdi tiba-tiba akan muncul bersama tiga ratus tiga belas pasukannya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Mereka bersebaran bagaikan awan musim gugur dan singa di siang hari yang beribadah di malam harinya.”[52]

Aban bin Taghlib berkata menuturkan bahwa Imam Shadiq as. pernah bersabda, “Tak lama lagi akan datang tiga ratus tiga belas orang (yang adil) ke masjid kalian (Mekah). Orang-orang Mekah tahu bahwa mereka tidak memiliki tali keturunan dengan nenek moyangnya (mereka bukan orang Mekah). Mereka semuanya membawa pedang yang terukir di atasnya sejumlah kata-kata. Dari kata-kata tersebut, seribu kata (yang susah) akan terselesaikan.”[53]

Dalam beberapa riwayat, ada beberapa orang yang disebutkan namanya. Di sini, hanya menyebutkan dua riwayat saja:

Imam Shadiq as. berkata kepada Mufadhal bin Umar, “Engkau dan empat puluh empat orang yang lain, akan menjadi prajurit Al-Qaim af.”[54]

Barangkali yang dimaksud dengan empat puluh empat orang adalah mereka yang termasuk para sahabat Imam Shadiq as.

Beliau juga bersabda, “Ketika Yang Bangkit (Imam Mahdi) dari keluarga Muhammad Saw. muncul, akan keluar dua puluh tujuh orang dari balik Ka’bah dan dua puluh lima orang dari pengikut Nabi Musa as. Semuanya adalah orangorang yang menghukumi segalanya dengan benar, yang dihidupkan kembali dari matinya. Begitu juga dengan tujuh orang Ashabul Kahfi, Yusya’ pengganti Musa, Mu’min keluarga Fir’aun, Salman Al-Farisi, Abu Dujanah Anshari, dan Malik Asytar.”[55] Dalam sebagian riwayat nama Miqdad bin Al-Aswad juga disebutkan.

Menurut beberapa riwayat, ada malaikat yang bertugas untuk memindahkan mayat orang-orang yang baik ke tempat-tempat suci seperti Ka’bah.[56] Oleh karena itu, mungkin orang-orang yang muncul dari balik Ka’bah adalah orang-orang yang telah dipindah jasadnya ke sana oleh para malaikat. Lalu, Allah mengizinkan mereka untuk hidup kembali di dunia. Sebagian riwayat yang lainnya menjelaskan bahwa orang-orang tersebut akan muncul dari balik kota Kufah, yakni kota Najaf. Ini pun bisa dibenarkan, karena tidak bertentangan dengan riwayat tersebut.

Perlu dijelaskan bahwa orang-orang yang disebutkan di atas, memiliki pengalaman dalam perjuangan politik melawan orang-orang yang zalim. Khususnya Salman Al-Farisi, Abu Dujanah, Malik Asytar, dan Miqdad. Mereka pernah ikut serta dalam peperangan di zaman Rasulullah Saw. Mereka telah menunjukkan kemampuannya masing-masing, dan sebagian dari mereka pernah menjadi pemimpin.


2. Pasukan Imam Mahdi af.

Abu Bashir berkata, “Seorang lelaki dari Kufah bertanya kepada Imam Shadiq as., ‘Berapa orang yang akan berjuang bersama Imam Mahdi af?’ Orang-orang menjawab, ‘Jumlah prajurit Imam Mahdi sama seperti jumlah prajurti Rasulullah Saw. di perang Badar; yakni tiga ratus tiga puluh orang.’ Imam as. bersabda, ‘Al-Mahdi af tidak akan muncul, kecuali disertai oleh pasukan yang kuat. Ia memiliki lebih dari sepuluh ribu pasukan yang tangguh.’”[57]

Beliau juga bersabda, “Ketika Allah mengizinkan Al-Qaim muncul, akan ada tiga ratus tiga belas orang yang membaiatnya. Beliau berdiam di Mekah sampai terkumpul sepuluh ribu pasukannya, lalu berangkat menuju Madinah.”[58]

Imam Ali as. bersabda, “Al-Mahdi akan muncul paling sedikit dengan dua belas ribu pasukan dan paling banyak dengan lima belas ribu pasukan. Pasukan Al-Mahdi memiliki wibawa dan keagungan yang luar biasa. Tak satu pun musuh yang berhadapan dengan mereka, tidak terkalahkan. Beliau dan pasukannya tidak menghiraukan cacian orang-orang. Syi’ar pasukannya adalah ‘Gempurlah! Gempurlah!’”[59]

Imam Shadiq as. bersabda, “Imam Zaman tidak akan muncul sebelum pasukannya terkumpul dengan sempurna.” Perawi bertanya, “Berapakah jumlah pasukannya?” Imam menjawab, “Sepuluh ribu orang.”[60]

Syaikh Hur Amili berkata, “Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa jumlah keseluruhan pasukan Imam Mahdi af. adalah seratus ribu orang.”[61]


3. Pengawal dan Penjaga

Ka’ab berkata, “Seseorang dari Bani Hasyim tinggal di Baitul Maqdis. Jumlah pengawalnya sebanyak dua belas ribu orang. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa jumlah pengawalnya sebanyak tiga puluh enam orang. Di setiap jalan besar yang berhubungan dengan Baitul Maqdis, terdapat dua belas ribu orang dari mereka yang selalu siaga di sana.”[62]

Sebenarnya kata “حرس ” yang terdapat dalam riwayat di atas juga memiliki arti membantu dan menolong. Mungkin yang dimaksud adalah penolong dan pembantu Imam Mahdi af.


D. Pertemuan Anggota Pasukan

Sebagaimana yang telah dibicarakan sebelumnya, pasukan Imam Mahdi af. terbentuk dari kumpulan orang-orang yang berasal dari berbagai tempat. Banyak riwayat menerangkan bagaimana mereka mengetahui kemunculan Imam Mahdi af. dan bagaimana mereka mendatangi Mekah. Sebagian dari mereka, pada suatu malam tidur di ranjangnya dan pagi hari ketika terbangun sudah berada di sisi Imam Mahdi af. Sebagian ada yang mendatangi Imam Mahdi af. Dengan Thayul Ardh (ilmu melipat bumi: menempuh jarak yang jauh dalam waktu yang singkat). Sebagian dari mereka yang mengetahui kemunculan Imam Mahdi af., datang ke Mekah dengan mengendarai awan.”

Silahkan Anda perhatikan beberapa riwayat di bawah ini:

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi diberi izin untuk muncul dan berjuang, ia menyebut Allah dengan nama Ibrani-nya. Pada waktu itu pasukannya yang berjumlah tiga ratus tiga belas orang, bertebaran bagaikan awan musim gugur, mereka mempersiapkan dirinya masing-masing. Mereka adalah pembawa bendera dan para pemimpin. Sebagian dari mereka, setelah tertidur sejenak di tempat tidurnya, menghilang dan di pagi harinya mereka terjaga dan telah berada di Mekah. Sebagian yang lainnya, terlihat sedang menaiki awan dan datang menghampiri Imam Mahdi af di siang hari. Mereka dikenal dengan nama mereka sendiri, nama ayah, nama keluarga, dan gelarnya masing-masing.”[63]

Mufadhal bin Umar bertanya kepada Imam as., “Semoga aku menjadi tebusanmu. Siapakah yang memiliki keimanan tertinggi di antara mereka?’ Beliau as. menjawab, ‘Orangorang yang berjalan di atas awan. Mereka adalah orang-orang yang telah hilang. Dan, karena mereka, ayat ini turun, ‘Di mana pun kalian berada, Allah akan membawa (dan mengumpulkan) kalian.’”[64]

Rasulullah Saw. berkata, “Setelah kalian, akan datang suatu kaum yang bumi berada di bawah kaki mereka, dunia terbuka bagi mereka, serta lelaki dan perempuan Persia akan berkhidmat kepada mereka. Mereka akan mengitari bumi selama tak lebih dari satu kedipan mata. Dengan demikian, mereka mampu beranjak dari barat ke timur dengan cepat. Mereka tidak termasuk orang-orang dunia ini dan dunia tidak bernilai sedikit pun di mata mereka.”[65]

Imam Baqir as. bersabda, “Para Pemeluk Syi’ah dan pendukung Al-Mahdi af akan datang dari segenap penjuru dunia untuk menghampirinya. Dunia akan berada di bawah kedua kaki mereka. Dengan Thayul Ardh, mereka mendatangi Al-Mahdi af. lalu membaiatnya.”[66]

Abdullah bin Ajalan menuturkan bahwa pada suatu hari Imam Shadiq as. tengah membicarakan Imam Mahdi af. Ia bertanya kepada beliau as., “Bagaimana kami mengetahui kemunculan beliau?’ Beliau menjawab, ‘Ketika baru bangun tidur, kalian akan menemukan sebuah surat di bawah bantal yang berisi ‘Mengikuti Imam Mahdi adalah perbuatan baik dan terpuji.’”[67]

Imam Ridha as. bersabda, “Demi Allah, ketika Al-Qaim af. muncul, Allah akan mengumpulkan para pengikutnya di sekitar beliau.”[68]

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika para pemuda Syi’ah tertidur, tiba-tiba mereka dibawa kepada Al-Mahdi af. tanpa pemberitahuan sebelumnya. Kemudian di pagi harinya, mereka berkumpul di hadapan beliau.”[69]


E. Syarat dan Ujian Anggota Pasukan

Imam Ali as. pernah bersabda, “Para pengikut Al-Mahdi yang berjumlah tiga ratus tiga belas orang akan mendatangi beliau. Mereka menemukan seorang Imam yang selama ini tersembunyi. Mereka bertanya, ‘Apakah engkau adalah Al-Mahdi yang dinanti?’ Beliau menjawab, ‘Ya, wahai pengikutku.’ Kemudian beliau menyembunyikan diri untuk kedua kalinya dan pergi ke Madinah. Ketika para pengikut Imam Mahdi itu mengetahuinya, mereka pun bergegas menuju Madinah. Ketika mereka telah sampai di Madinah, Imam secara diamdiam kembali ke Mekah dan mereka pun akhirnya pergi ke sana. Ketika mereka sampai ke Mekah, Imam pergi ke Madinah. Ketika para pengikutnya sampai ke Madinah, beliau kembali ke Mekah. Hal ini terulang sebanyak tiga kali.”

Imam Mahdi af. menguji pengikutnya seperti ini supaya ia mengetahui batas kesetiaan para pengikutnya. Setelah itu, beliau muncul di antara Shafa dan Marwah (di Ka’bah). Lalu beliau berkata kepada para pengikutnya, “Aku hanya ingin kalian membaiatku dan menerima berbagai syaratnya. Aku ingin kalian berpegang erat dengan baiat itu dan juga tidak merubah apa pun. Aku juga akan berjanji untuk selalu berpegangan dengan delapan perkara.” Mereka semua menjawab, “Kami pasrah kepadamu dan kami menaati semua perintahmu. Kami menerima segala persyaratan yang engkau tentukan. Katakanlah apa saja persyaratan-persyaratan itu!”

Imam Mahdi af. berjalan ke arah gunung Shafa. Para pengikutnya pun berjalan mengikutinya. Di sana beliau bersabda, “Janganlah kalian lari dari medan pertempuran; jangan mencuri; jangan melakukan perbuatan tak senonoh; jangan melakukan perbuatan haram; jangan melakukan perbuatan buruk dan tercela; jangan memukul orang kecuali dengan alasan yang dibenarkan; jangan berlaku zalim; jangan menimbun gandum; jangan merusak dan merobohkan masjid; jangan menjadi saksi palsu; jangan menghina dan mencela orang yang beriman; jangan memakan uang riba; bertahanlah dalam kesusahan; jangan melaknat orang yang menyembah Allah dan bertauhid; jangan meminum minuman keras; jangan memakai pakaian yang disulam dengan emas; jangan mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra; jangan mengejar orang yang kabur; jangan menumpahkan darah yang haram (ditumpahkan); jangan berinfaq untuk orang kafir dan munafik; jangan memakai pakaian dari bulu binatang; dan jadikanlah tanah sebagai bantal (mungkin maksudnya agar rendah hati); hindarilah perbuatan sia-sia; lakukanlah amar makruf dan nahi munkar.

“Jika kalian bersedia melaksanakan itu semua, maka aku pasti menjadikan kalian sebaik-baiknya pengikutku. Jika kalian mematuhiku, maka aku tidak akan memakai pakaian kecuali pakaian yang kalian kenakan. Aku tidak makan, kecuali apa yang kalian makan, tidak mengendarai apa pun kecuali apa yang kalian kendarai. Di manapun kalian berada, aku akan berada di sana, aku merasa bangga, meskipun atas hal yang sedikit. Aku akan memenuhi dunia dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kebatilan. Aku akan menyembah Tuhanku, sebagaimana layaknya. Aku akan memenuhi semua janjiku dan kalian harus menjalankan semua persyaratan yang aku buat.”

Mereka berkata, “Kami rela atas semua itu, dan kami akan membaiatmu.” Lalu, Imam af. berjabat tangan dengan semuanya sebagai tanda baiat.[70]

Di sini, yang perlu diberi diperjelas bahwa Imam Mahdi af. melakukan perjanjian ini dengan prajurit-prajurit khususnya. Mereka, orang-orang yang menempati berbagai posisi dalam pemerintahan beliau. Dengan perilakunya yang baik, mereka memiliki peranan penting dalam penegakkan keadilan di muka bumi.

Nampaknya, riwayat di atas perlu ditinjau ulang. Karena, riwayat tersebut berasal dari Khutbah al-Bayan, yang sanadnya dipandang lemah oleh sebagian ulama, meskipun sebagian ulama yang lain membenarkannya.[71]

F. Karateristik Pasukan Imam Mahdi af.

Terdapat banyak riwayat yang menjelaskan karakteristik para prajurit Imam Mahdi af. Sebagian dari riwayat-riwayat tersebut antara lain:


1. Ibadah dan Ketakwaan

Imam Shadiq as. pernah menjelaskan karakteristik mereka, beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah. Mereka senantiasa berdiri di tengah malam untuk melakukan shalat dan berzikir seperti lebah yang berdengung. Pagi harinya, mereka mengendarai kuda dan pergi menjalankan tugasnya. Merekalah abid di malam hari dan bagai singa di siang hari. Karena takut kepada Allah, mereka berada dalam keadaan tertentu. Dengan perantara mereka, Allah menolong Imam af.”[72]

Beliau juga bersabda, “Seakan-akan aku melihat Al-Qaim dari keluarga Muhammad Saw. dan prajuritnya di balik gunung Kufah, seakan-akan burung-burung hinggap di atas kepala mereka (hinggap dan mengepakkan kedua sayapnya. Mungkin kiasan betapa tenang dan patuhnya mereka di hadapan Imam —pent). Bekal makanan mereka telah habis, pakaian mereka kumal, dan di kening mereka terdapat tanda bekas sujud. Ya, mereka adalah singa di siang hari dan abid di malam hari. Hati mereka bagai kepingan baja; kuat dan keras. Setiap orang dari mereka punya kekuatan empat puluh orang. Mereka tidak membunuh siapa pun, kecuali orang munafik dan kafir. Mengenai mereka, Allah berfirman, ‘Sesungguhnya itu adalah tanda kebesaran Tuhan bagi orang-orang yang mengerti .’[73] [74]


2. Cinta dan Taat

Imam Baqir as. bersabda, “Shahib amr (Imam Mahdi af.) akan mengalami keghaiban di lembah ini (Dzi Thuwa). Dua malam sebelum muncul, pelayan terdekat beliau mendatangi para pengikut yang selama itu senantiasa menantinya, ia bertanya, ‘Berapa orang kalian di sini?’ Mereka menjawab, ‘Empat puluh orang.’ Ia bertanya lagi, ‘Apa yang akan kalian lakukan, jika kalian melihat beliau?’ Mereka menjawab, ‘Demi Allah, meskipun ia hidup di pegunungan, kami akan hidup dengannya sebagaimana ia hidup.’”[75]

Imam Shadiq as. bersabda, “Para pengikut Imam Mahdi mengusapkan tangan mereka di atas tanah bekas langkah beliau demi mencari berkah. Mereka duduk mengelilinginya dan di setiap peperangan, mereka menjadikan diri mereka sebagai perisai untuk beliau. Mereka menjalankan setiap perintahnya.”[76]

Ketika menceritakan para pengikut setia Imam Mahdi af., Imam Shadiq as. bersabda, “Ia memiliki sahabat yang hatinya bagaikan kepingan besi .… Mereka lebih patuh kepada Imam, dari pada seorang budak terhadap hambanya. Mereka selalu pasrah terhadap apa yang diperintahkan.”[77]

Rasulullah Saw. bersabda, “Allah akan mendatangkan pasukan dari segala penjuru dunia untuk Al-Mahdi, yang jumlahnya sama seperti jumlah pasukan perang Badar. Mereka selalu berupaya menaati perintah sang Imam.”[78]

Imam Shadiq as. bersabda, “Seakan-akan aku melihat AlQaim (Imam Mahdi af.) dan pasukannya berada di Najaf (Kufah), seolah-olah burung-burung hinggap di atas kepala mereka (karena mereka tenang dan patuh di hadapan imamnya).”[79]

Ya, mereka sangat tenang dan tunduk patuh di hadapan pemimpinnya, sehingga mereka terlihat seperti orang yang di atas kepalanya terdapat burung yang sedang hinggap yang jika mereka bergerak sedikit pun, maka burung tersebut akan terbang.


3. Pasukan Muda yang Tangguh

Imam Ali as. bersabda, “Semua anggota pasukan Imam Mahdi adalah orang-orang yang berusia muda. Tidak ada orang yang berusia lanjut di tengah-tengah mereka, kecuali hanya sedikit sekali, seperti celak yang dioleskan untuk mata atau garam yang dibubuhkan kepada makanan ….”[80]

Imam Shadiq as. bersabda, “Nabi Luth as. pernah berkata kepada musuh-musuhnya, ‘Andaikan aku punya pasukan yang tangguh dan perlindungan yang kuat untuk melawan kalian!’ Pasukan yang ia maksud adalah pasukan Al-Mahdi yang sangat tangguh. Setiap orang dari mereka punya kekuatan yang sebanding dengan empat puluh orang biasa. Mereka memiliki hati yang lebih kuat dari potongan besi. Ketika diletakkan di hadapan gunung, batu-batu cadas pun bergetaran. Mereka tidak akan memasukkan pedang mereka ke dalam sarungnya sebelum Allah meridhainya.”[81]

Imam Ali Zainal Abidin as. bersabda, “Ketika al-Qaim af. muncul, Allah akan menjauhkan rasa lemah dari pengikut kami dan menguatkan hati mereka seperti kuatnya baja. Lalu, memberikan kekuatan empat puluh orang kepada setiap orang dari mereka. Mereka akan menjadi pembesar dan pemimpin di muka bumi.”[82]

Imam Shadiq as. bersabda, “Dalam pemerintahan Al-Mahdi af., pengikut kami adalah pembesar dan pemimpin di muka bumi. Setiap orang dari mereka, memiliki kekuatan yang setara empat puluh orang.”[83]

Imam Baqir as. bersabda, “Hari ini masih ada rasa takut dalam hati pengikut kami terhadap musuh-musuhnya. Tetapi, ketika pemerintahan jatuh di tangan kami dan Imam Mahdi af. muncul dari keghaibannya, pengikut kami akan menjadi orang yang lebih berani dari pada singa dan lebih tajam dari pada tombak. Mereka akan menendang musuh-musuh kami dengan kaki mereka dan menikamnya dengan tangan-tangan mereka.”[84]

Abdul Malik bin A’yan menuturkan ketika tengah menghadap Imam Baqir as., ia bersandar dengan tangannya seraya berkata, “Aku berangan-angan untuk mengalami kepemimpinan Imam Mahdi af dalam keadaan masih muda (dan dengan kekuatan masa muda).” Imam as. bersabda, “Apakah engkau tidak suka musuh-musuhmu saling membunuh dan kita berada di dalam rumah dengan aman? Jika Imam Mahdi af. muncul, kalian akan diberi kekuatan yang dimiliki oleh empat puluh orang. Lalu hati kalian menjadi kuat bagai potongan besi, yang jika hati tersebut dilemparkan ke gunung, maka gunung akan terbelah dan berpindah dari tempatnya. Kemudian kalian akan menjadi para pemimpin di dunia.”[85]

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika waktu didirikannya pemerintahan Imam Mahdi af. telah tiba, rasa takut akan hilang dari hati kalian dan berpindah ke hati musuh. Pada waktu itu, pengikut kami akan menjadi lebih tajam dari tombak dan lebih berani dari pada harimau. Seorang dari pengikut kami akan menikam musuhnya dengan tombak, menyayatnya dengan pedang, dan menginjak-injak dengan kedua kakinya.”[86]

Beliau juga bersabda, “Para pengikut Al-Mahdi memiliki hati yang kuat bagaikan baja. Jika diperintahkan untuk memindahkan gunung dari tempatnya, mereka akan menjalankan perintah ini dengan segera. Jika mereka diperintahkan untuk menghancurkan suatu kota, maka mereka akan menghancurkan kota tersebut dengan cepat bagaikan elang .…”[87]


4. Pasukan yang Disegani

Imam Baqir as. bersabda, “Seakan-akan aku melihat pasukan Al-Mahdi tengah menguasai langit dan bumi. Tak satu pun di langit dan di bumi yang tidak taat kepada mereka. Semua binatang buas di darat dan burung-burung di langit mematuhinya. Mereka sangat dicintai oleh siapapun, hingga tanah tempat mereka berdiri bangga dan berkata kepada selainnya, ‘Hari ini di atasku berdiri pasukan Al-Mahdi.’”[88]


5. Pecinta Kesyahidan

Imam Shadiq as. bersabda, “Mereka senantisa takut kepada Allah dan selalu menanti kesyahidan. Keinginan mereka adalah mati di jalan Allah. Mereka menjadikan penuntutan darah Imam Husain as. sebagai syiar. Ketika mereka bergerak sejauh jarak sebulan perjalanan, rasa takut menyelimuti hati musuh.[89]


API YANG BERKOBAR

Tujuan kebangkitan Imam Mahdi af. adalah menegakkan pemerintahan Ilahi dan menghancurkan kezaliman di segenap penjuru dunia. Tentu saja, beliau akan berhadapan dengan berbagai macam tantangan. Untuk itu, beliau melakukan berbagai gerakan pengamanan, dengan menyingkirkan duri yang merintangi sepanjang jalan tersebut. Beliau menguasai satu persatu negara yang terbentang dari Timur ke Barat dunia, sehingga pemerintahan Ilahi nan adil tegak di seluruh penjuru jagat raya. Pada bagian ini, kami akan membawakan beberapa riwayat seputar topik ini.

A. Pahala para Pejuang dan Syuhada

Peperangan yang dilakukan Imam Mahdi af. bertujuan menumpas orang-orang yang zalim dan para pelaku kerusakan di muka bumi, di bawah panji pemerintahan Islam. Maka, keikutsertaan dalam peperangan bersama Imam Mahdi af. pun memperoleh pahala yang melimpah. Ketika salah seorang prajurit Imam Mahdi af. berhasil membunuh seorang musuh, maka ia akan mendapatkan dua puluh atau dua puluh lima pahala orang yang mati syahid. Jika ia sendiri yang mati syahid, maka ia akan memperoleh pahala dua orang yang mati syahid. Demikian juga dengan orang-orang yang terluka, selain mendapatkan kedudukan spiritual yang tinggi, mereka juga akan diberi berbagai keistimewaan tersendiri dalam pemerintahan Imam Mahdi af. Begitu pula dengan keluarga orang-orang yang telah syahid.

Imam Baqir as. kepada pengikutnya bersabda, “Jika kalian menjalankan apa yang kami perintahkan dan meninggalkan apa yang kami larang, lalu kalian mati sebelum kedatangan Imam Mahdi af., maka kematian kalian adalah kesyahidan. Jika seorang dari kalian mengalami pemerintahan Imam mahdi af., lalu mati di bawah pimpinannya, maka ia akan mendapatkan pahala dua orang yang mati syahid. Jika salah seorang dari kalian (di zaman Imam Mahdi af) mampu membunuh seorang musuh, maka ia akan mendapatkan pahala dua puluh orang yang mati syahid.”[90]

Dalam riwayat di atas, nilai orang yang membunuh musuh Islam lebih tinggi derajatnya dari syuhada. Karena dengan terbunuhnya musuh, memetik keridhaan Allah, ketenangan hamba-hamba-Nya dan kemuliaan agama. Sedangkan mati syahid sendiri, menjadikan orang tersebut sempurna. Oleh karena itu, para pejuang diharapkan lebih fokus pada upaya menghancurkan musuh terlebih terdahulu, melampaui kesyahidannya.

Imam Baqir as. berkata, “Kesyahidan di bawah kepemimpinan Imam Mahdi af. memiliki dua pahala orang yang syahid biasa.”[91]

Dalam kitab Al-Kafi disebutkan, “Jika pejuang Imam af. membunuh seorang musuh, maka ia akan mendapatkan pahala dua puluh orang yang mati syahid. Barang siapa yang mati syahid di bawah kepemimpinan Imam Mahdi af., maka ia akan mendapatkan dua puluh lima pahala orang yang mati syahid.”[92]

Mengenai sikap Imam Mahdi af. terhadap orang-orang yang telah syahid dan keluarga mereka, Imam Ali as. bersabda, “(Setelah berjuang) Al-Qaim af., bergerak menuju Kufah, lalu tinggal di sana … dan tidak ada seorang pun yang syahid kecuali beliau membayarkan hutang-hutangnya dan memberikan bantuan kepada keluarga mereka secara terus-menerus.”[93]


B. Perlengkapan Perang

Hampir dipastikan, Imam Mahdi af. menggunakan persenjataan yang jauh berbeda dengan senjata yang digunakan oleh orang-orang di zaman itu. Mungkin saja, yang dimaksud dengan kata pedang dalam riwayat adalah senjata, bukan pedang itu sendiri. Karena, ketika Imam af. menggunakan senjatanya, dinding-dinding kota roboh dan menjadi debu. Dengan satu pukulan, musuh hancur bagaikan garam yang larut dalam cairan atau timah yang dipanaskan.

Berdasarkan penjelasan riwayat, senjata para prajurit Imam Mahdi af terbuat dari besi. Tetapi, ketika dipukulkan ke gunung, maka gunung itu akan terbelah.

Nampaknya, musuh-musuh Imam Mahdi af. pun menggunakan senjata api modern. Karena, pakaian yang dikenakan Imam Mahdi af. adalah pakaian anti panas. Malaikat Jibril, telah menurunkannya ke dunia untuk nabi Ibrahim as, yang menyelamatkannya dari api Namrud. Jika musuh-musuh beliau tidak menggunakan senjata seperti itu, maka Imam Mahdi af tidak perlu mengenakan pakaian tersebut.

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi muncul, pedang-pedang (senjata-senjata) akan digunakan untuk berperang. Di setiap senjata tersebut, tertulis nama dan nama ayah pejuang.

Mengenai para prajurit Imam Mahdi af., Imam Shadiq as. bersabda, “Para prajurit Imam Mahdi af. memiliki senjata yang tebuat dari besi. Tapi tidak dari jenis besi. Jika salah seorang dari mereka menggunakan senjatanya untuk membelah gunung, maka gunung itu akan terbelah. Dengan bala tentara dan perlengkapan pernangnya, Imam Mahdi af. akan menguasai India, Dailam, orang-orang Kurd, Romawi, Barbar, Fars, dan Jabirsa dan Jabilqa.”[94]

Alat perlidungan yang dipergunakan oleh para prajurit Imam Mahdi af. sangat kuat sekali, sehingga senjata musuh tidak berpengaruh terhadap mereka. Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika pasukan Imam Mahdi berhadapan dengan pasukan musuh yang menguasai Barat dan Timur, maka mereka akan melenyapkan musuh-musuh Allah itu dalam sekejap dan senjata para musuh tidak berpengaruh sedikit pun terhadap mereka.”[95]


C. Memimpin Dunia Untuk Umat Manusia

Ada dua macam riwayat mengenai penguasaan dan penaklukan yang dilakukan Imam Mahdi af. terhadap negara-negara dunia. Sebagian riwayat hanya secara umum mengisyaratkan bahwa ia akan menguasai barat, timur, kiblat, selatan bumi, dan seluruh tempat di dunia. Sebagian riwayat yang lain, mengisyaratkan dikuasainya beberapa tempat tertentu dengan disebutkan namanya.

Tidak ada keraguan bahwa Imam Mahdi af. akan menguasai seluruh dunia. Tetapi, penyebutan nama beberapa tempat yang akan dikuasai oleh beliau dalam beberapa riwayat, mungkin disebabkan karena pentingnya tempat tersebut di akhir zaman nanti. Maksudnya, barangkali saja tempat-tempat tersebut, kelak menjadi poros kekuatan besar, sehingga banyak negeri sekitar yang dikuasainya. Mungkin saja tempattempat itu merupakan kawasan yang luas terhampar, sehingga mampu menampung banyak penduduk. Mungkin juga daerah itu merupakan pusat suatu ajaran atau sekte tertentu, sehingga jika sekiranya tempat itu hancur, maka seluruh pengikut ajaran tersebut akan hancur pula. Atau mungkin pentingnya tempat-tempat itu disebabkan keberadaan kekuatan militer yang ada di sana. Jika sekiranya tempat-tempat tersebut lemah, maka kekuatan musuh akan melemah pula dan terciptalah kesempatan bagi pengikut Imam Mahdi af. untuk menyerangnya.

Dimulainya gerakan Imam Mahdi af. dari Mekah lalu bergerak menuju Irak dan Kufah untuk menciptakan pusat kekuatan di sana, kemudian bergerak menuju Syam dan menguasai Baitul Maqdis, merupakan hal yang dapat membenarkan pandangan ini. Karena, kini tak satu pun orang yang tidak mengetahui betapa pentingnya tiga tempat tersebut dari segi politik, agama dan militer.

Kelompok riwayat yang pertama membicarakan perkara penguasaan Imam Mahdi af. terhadap seluruh negara di dunia. Beberapa riwayat itu antara lain:

Imam Ali Ridha as. menukil dari ayahnya bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika aku dibawa untuk bermi’raj, aku berkata, ‘Wahai Tuhanku, apakah mereka (para Imam) adalah penggantiku setelahku?’ Lalu terdengar suara, ‘Ya mereka adalah orang-orang terpilih dan hujjahku bagi hamba-hambaku. Mereka adalah hamba-hambaku yang terbaik setelahmu dan sebaik-baiknya penggantimu. Demi kehormatan dan keagungan-Ku, aku akan memenangkan agamaku dengan tangan mereka. Aku akan meninggikan kalimatullah dengan perantara mereka. Dan dengan perantara orang yang terakhir dari mereka, aku akan membersihkan duniaku dari orangorang yang berbuat keji dan munkar. Lalu, aku akan menjadikannya pemimpin Barat dan Timur dunia.’”[96]

Dalam tafsir ayat, “Jika kami menempatkan mereka di dunia, mereka akan mendirikan shalat dan memberikan zakat .”[97] , Imam Baqir as. bersabda, “Ayat ini berkenaan dengan keluarga Muhammad dan Imam terakhir. Allah akan menyerahkan kekuasaan Barat dan Timur dunia ke tangan Imam Mahdi Saw. dan para pengikutnya.”[98]

Rasulullah Saw. berkata, “Mahdi adalah keturunanku. Allah akan menyerahkan Barat dan Timur dunia ke tangannya.”[99]

Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika Imam Mahdi af. muncul, Allah akan meletakkan agama pada tempatnya yang sebenarnya. Lalu Dia akan mengarunia kemenangan-kemenangan yang bersinar kepadanya. Di zaman itu, tidak aka ada manusia yang hidup di muka bumi, kecuali ia seorang Muslim dan mengikrarkan ucapan La ilaha illa Allah.”[100]

Imam Baqir as. bersabda, “Al-Mahdi adalah keturunan kami. Ia akan menguasai Barat dan Timur bumi.”[101]

Beliau juga mengatakan, “Ketika Imam Mahdi muncul, Allah akan memenangkan agama Islam terhadap agama-agama yang lainnya.”[102]

Pernah dinukil dari Rasulullah Saw., beliau bersabda, “Imam Mahdi akan mengerahkan seluruh pasukannya ke seluruh penjuru dunia.”[103]

Nabi Saw. bersabda, “Jika umur dunia tinggal satu hari saja Allah akan memunculkan Al-Mahdi dan mengembalikan kebesaran Islam. Lalu, Dia akan mengaruniainya kemenangan yang bersinar. Di zaman itu, tak ada seorang pun yang tinggal di muka bumi, kecuali ia mengucapkan La ilaha illa Allah.”[104]

Jabir bin Abdullah Anshari menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Zulkarnain adalah hamba yang shaleh, Allah menjadikannya hujah bagi hamba-hamba yang lain. Ia menyeru kaumnya untuk mengimani Allah dan memerintahkan mereka bertaqwa. Tetapi, mereka memukul kepalanya. Untuk beberapa saat ia tersembunyi, sehingga mereka mengira ia telah meninggal dunia. Namun, pada suatu saat, ia kembali kepada kaumnya. Tetapi kali ini mereka memukul sisi kepala yang lainnya.”

Rasulullah kembali bersabda, “Di antara kalian, ada seorang yang menjalankan sunnah. Allah Swt. memberikan kekuasaan dan kemuliaan kepada Zulkarnain, dengan menyerahkan barat dan timur dunia kepadanya. Hal tersebut, juga dilakukan oleh Allah terhadap Imam Mahdi af., yang berasal dari keturunanku, dengan menjadikannya penguasa barat dan timur dunia. Tak ada satu tempat pun yang telah dilewati oleh Zulkarnain, kecuali ia (Imam Mahdi af.) melewatinya. Allah akan menampakkan harta dan kekayaan bumi kepadanya dan menolongnya dengan cara menciptakan rasa takut di hati musuh-musuhnya. Dengan perantara Al-Mahdi, Allah akan memenuhi bumi degan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi dengan kezaliman dan kekejian.”[105]

Sebagian riwayat yang lain menerangkan dikuasainya beberapa kota tertentu oleh Imam Mahdi af. Di sini hanya menyebutkan beberapa riwayat saja.

Mengenai bergeraknya Imam Mahdi af. ke Syam, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. bersabda, “Atas perintah AlMahdi af., sarana transportasi untuk pasukannya telah siaga. Setelah perintah itu, empat ratus kapal dibuat dan berlabuh di pantai Akka. Dari arah yang lain, di Roma, terdapat seratus salib, yang setiap salibnya diiringi dengan sepuluh ribu tentara. Kemudian dengan senjata-senjata tersebut, mereka menguasai Tharsus. Imam Mahdi menuju tempat itu, lalu ia dan pasukannya membunuh banyak orang dari mereka. Ketika itu, air sungai Furat berubah memerah bersimbah darah dan tepinya dipenuhi dengan jasad mereka, sehingga menebarkan bau busuk yang menyengat. Dengan terdengarnya berita ini, sebagian orang yang berada di Roma, berpindah ke Anatolia.”[106]

Imam Shadiq as. bersabda, “Ketika Al-Qaim af. muncul ia mengirim sebagian pasukannya ke Constantinople. Ketika mereka sampai di suatu teluk, mereka menuliskan suatu kalimat di atas kedua kakinya, lalu dengan cara itu mereka berjalan di atas air.”[107]

Rasulullah Saw. bersabda, “Jika dunia tinggal satu hari saja, pasti Allah akan memunculkan seorang lelaki dari keturunanku yang namanya sama seperti namaku, keningnya bersinar, ia akan menguasai Constantinople dan Jabal Dailam.”[108]

Hudzaifah berkata, “Constantinople, Dailam, dan Tabrestan tidak akan dikuasai, kecuali dengan tangan seorang lelaki dari Bani Hasyim.”[109]

Imam Baqir as. bersabda, “Ketika Al-Qaim af. muncul, Constantinople, Cina[110] , pegunungan Dailam akan dikuasainya. Ia akan memerintah selama tujuh tahun.”[111]

Imam Ali as. bersabda, “Imam Mahdi dan pasukannya bergerak menuju Constantinople, lalu mendatangi tempat tinggal raja Romawi. Di sana, mereka mengeluarkan tiga harta; pertama harta berbentuk berlian, kedua adalah harta berbentuk emas, dan yang ketiga berupa perak. Imam Mahdi membagikan harta-harta tersebut kepada pasukannya.”[112]

Imam Baqir as. bersabda, “Imam Mahdi menggunakan tiga bendera untuk menjalankan tiga operasi militernya di tiga titik. Ia mengarahkan satu benderanya ke Constantinople[113] dan Allah mengaruniai kemenangan kepadanya dalam menguasai tempat itu. Bendera yang lain adalah untuk Cina, dan Imam Mahdi af. pun berhasil menguasainya. Ketiga, ia kirim pasukan untuk gunung-gunung Dailam[114] dan akhirnya tempat tersebut dikuasai oleh pasukannya.[115]

Hudzaifah berkata, “Balanjar[116] dan pegunungan Dailam tidak akan dikuasai, kecuali oleh tangan seorang lelaki dari keluarga Muhammad Saw.”

Imam Ali as. bersabda, “... kemudian Imam Mahdi af. menuju kota Quds dengan menggunakan seribu kapal. Lalu, ia memasuki Palestina melalui Akka, Shur, Ghaza, dan Ashqelon[117] dan mereka akan mengeluarkan harta dan kekayaan yang ada di sana. Kemudian, Imam Mahdi af. memasuki kota Quds dan tinggal di sana, sampai kemunculan Dajal.”[118]

Abu Hamzah Tsumali menuturkan bahwa ia mendengar Imam Baqir as. bersabda, ‘Ketika Imam Mahdi af. muncul, ia akan menghunuskan pedang yang telah dikeluarkan dari sarungnya. Kemudian, Allah akan memberikan kekuasaan Roma[119] , Cina, Turki[120] , Dailam, Sanad, India[121] , Kabul, Syam, dan Khazar kepadanya.”[122]

Ibnu Jarir menulis, “... bendera yang dikibarkan untu pertama kalinya oleh Imam Mahdi adalah bendera perang menuju Turki.”[123]

Mungkin yang dimaksud dengan pedang terhunus yang dikeluarkan dari sarungnya dalam riwayat Abu Hamzah, adalah senjata khusus yang dipergunakan oleh Imam Mahdi af. Karena, untuk menguasai seluruh negara di dunia, dibutuhkan senjata khusus yang kemampuannya berada di atas senjata-senjata biasa. Terlebih lagi, kebanyakan aktivitas beliau, dengan cara yang wajar dilakukan manusia.

Mengenai dikuasainya India, Ka’ab berkata, “Pemerintah yang berada di Baitul Maqdis, mengirimkan pasukannya ke India dan menguasainya. Ketika mereka memasuki India, mereka mengumpulkan kekayaan yang ada di sana dan mengirimkannya kepada pemimpin yang berada di Baitul Maqdis. Lalu, ia menghiasinya dan pasukan Imam Mahdi af. membawa raja India ke hadapan sang pemimpin dalam keadaan tertawan. Barat dan Timur bumi akan mereka kuasai. Mereka memperkuat kekuatannya di India dan tinggal si sana, sampai munculnya Dajal.”[124]

Hudzaifah menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ‘Thahir putra Asma’ berperang dengan Bani Israil, lalu menawan mereka dan membakar Baitul Maqdis serta membawa seribu tujuh ratus (atau sembilah ratus) kapal emas dan permata dari sana ke kota Rumiah. Pasti, Imam Mahdi af. akan mengeluarkannya dari kota itu dan mengembalikannya ke Baitul Maqdis.’”[125]

Meski Imam Mahdi af. memulai gerakannya dari Mekah, tetapi ia akan menguasai tanah air Hijaz[126] setelah itu. Kali ini, Imam Baqir as. bersabda, “Imam Mahdi af. akan muncul di Mekah dan Allah memberi beliau kekuatan untuk menguasai Hijaz. Lalu, beliau akan membebaskan orang-orang dari bani Hasyim yang ditawan.”[127]

Mengenai dikuasainya Khurasan, Imam Ali bersabda, “Imam Mahdi terus melanjutkan perjalanannya, sampai ia menguasai Khurasan[128] . Setelah itu, ia kembali lagi ke kota Madinah.”

Mengenai jatuhnya Armenia[129] di tangan Imam Mahdi af., beliau bersabda, “Imam Mahdi terus melanjutkan perjalanannya, hingga tiba di Armenia. Ketika masyarakat setempat melihat beliau, mereka mengirim seorang rahib terkemuka untuk berbicara dengannya.

Rahib bertanya, ‘Apakah engkau adalah Mahdi?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Aku adalah Mahdi. Namaku tertera dalam Injil dan diterangkan di sana bahwa aku akan datang di akhir zaman.’ Lalu sang rahib menayakan berbagai pertanyaan dan Imam menjawabnya. Rahib yang beragama Kristen itu bersedia memeluk agama Islam. Tetapi, penduduk Armenia tidak kejadian tersebut dan mereka memicu huru hara. Pasukan Imam Mahdi af. memasuki kota dan membinasakan lima ratus ribu pasukan Kristen. Lalu, dengan kekuasaan-Nya yang tak terbatas, Allah menggantung kota itu di antara langit dan bumi. Raja dan para menterinya yang sedang berada di luar kota, terbelalak saat melihat kotanya bergantung di antara langit dan bumi.

Raja merasa takut dan lari. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mencari perlindungan. Di tengah jalan, seekor singa menghadang mereka. Dalam keadaan takut, mereka melemparkan senjata dan segala apa yang mereka bawa, kemudian lari. Pasukan Imam Mahdi af. yang waktu itu mengejar mereka, mengumpulkan harta benda yang ditinggalkannya.

Setiap orang dari anggota pasukan, mendapatkan harta senilai seratus ribu dinar.”[130]

Imam Mahdi memperluas kekuasaannya dengan menaklukan kota Zanj. Tentang hal ini, Imam Ali as. Menuturkan, “Imam Mahdi af. meneruskan perjalanannya hingga mencapai kota Zanj besar. Di kota itu, terdapat seribu pasar dan di setiap pasarnya terdapat seribu toko. Beliau akan menguasai tempat tersebut.[131] Setelah menguasai tempat itu, Imam Mahdi af. bergerak menuju sebuah kota yang bernama Qati’, yang berbentuk sebuah pulau di tengah laut.”[132]

Mengenai pasukan Imam Mahdi af. yang diutus ke seluruh negara di dunia, Imam Ali as. bersabda, “Seakan-akan aku melihat Imam Mahdi af. mengutus pasukannya ke segala penjuru dunia.”[133]

Beliau juga pernah bersabda, “Imam Mahdi af mengutus pasukannya ke seluruh dunia untuk meminta baiat dan menumpas kezaliman. Allah menetapkan kota-kota tersebut untuknya. Dengan tangan Imam Mahdi af., Allah membuka kota Constantinople.”[134]


D. Pemberontakan yang Gagal

Setelah banyak negara dikuasai oleh Imam Mahdi af., sebagian kelompok masyarakat mencoba melakukan pemberontakan melawan Imam Mahdi af. Tetapi, gerakan tersebut berhasil ditumpas oleh pasukan Imam Mahdi af. Sebagian orang yang berpikiran miring, tidak menerima ucapan beliau dalam beberapa permasalahan. Lalu, mereka melakukan pemberontakan melawan Imam Mahdi af, namun berhasil ditumpas oleh pasukan Imam Mahdi af. Mari kita menyimak beberapa riwayat berikut ini:

Imam Shadiq as. bersabda, “Ada beberapa kabilah di tiga belas kota yang memerangi Imam Mahdi af. dan beliau pun memerangi mereka. Mereka adalah orang-orang Mekah, Madinah, Syam, Bani Umayah, Bashrah, Damnesyan, orangorang Kurd, dan kabilah-kabilah Arab yang diantaranya adalah: Bani Dhabbah[135] , Ghani[136] , Bahilah[137] , Azd, dan penduduk kota Ray.”[138]

Imam Baqir as. bersabda, “Ketika Imam Mahdi menerangkan beberapa permasalah hukum agama dan menegaskan beberapa sunah Nabi Saw, sekelompok orang memprotesnya dan menunjukkan rasa tidak suka dengan cara keluar dari masjid. Pasukan Imam Mahdi af. menangkap mereka, lalu membawanya ke hadapan Imam Mahdi. Kemudian beliau memerintahkan supaya kepala mereka semua dipenggal. Inilah akhir pemberontakan yang dilakukan terhadap Imam Mahdi af.”[139]

Mengenai pemberontakan di Ramilah dan ditangkapnya orang-orang yang memberontak di sana, putra Abu Ya’qub berkata, “Aku datang ke hadapan Imam Shadiq as. dan beberapa orang yang lain yang termasuk pengikutnya juga ada di dekat beliau. Beliau berkata kepadaku, ‘Apakah engkau telah membaca Al-Qur’an?’ Aku menjawab, ‘Ya, tetapi aku membaca sebagaimana orang-orang yang lain membacanya.’ Imam bersabda, ‘Maksudku adalah bacaan yang kamu maksud itu.’ Aku bertanya, ‘Apa maksud pertanyaan ini?’ Beliau menjawab, ‘Nabi Musa as. telah menjelaskan berbagai permasalahan kepada kaumnya, tetapi mereka tidak betah untuk mendengarkannya. Bahkan, di Mesir mereka memerangi Nabi Musa as. Beliau pun memerangi dan membunuh mereka semua.”

Imam Shadiq melanjutkan perkataannya, “Nabi Isa as. juga pernah menjelaskan berbagai permasalah kepada kaumnya. Namun, mereka tidak suka mendengarkannya. Bahkan di kota Tikrit, mereka memberontak terhadap Nabi Isa as. Beliau pun melawan dan menumpasnya. Inilah makna firman Allah yang berbunyi, “Sebagian kelompok dari Bani Israil mengimani dan sebagian lainnya tidak. Kami menolong orang-orang yang beriman dan kami menangkan mereka terhadap musuhmusuhnya .”[140]

Imam shadiq as. kembali bersabda,” Kondisi yang menimpa Imam Mahdi af. juga demikian. Ketika muncul, beliau menerangkan berbagai permasalahan, yang kalian tidak tahan mendengarkannya. Lalu, kalian melawan Imam Mahdi af, dan memeranginya di suatu tempat yang bernama Ramilah. Beliau pun menumpas dan membunuh kalian. Inilah pemberontakan terakhir yang dilakukan terhadap Imam Mahdi af.’”[141]


E. Peperangan Berakhir

Dengan berdirinya pemerintahan Ilahi nan adil, dibawah naungan Imam Mahdi af. Runtuhnya berbagai kekuatan setan, sedikit demi sedikit, gejolak peperangan mulai mereda dan tak ada lagi kekuatan yang mampu melawan pasukan Imam Mahdi af. Dengan demikian, peralatan dan senjata perang yang dijual di pasaran sudah tidak ada lagi harganya dan tidak ada pula pembelinya.

Imam Ali as. bersabda, “... peperangan itu akan berakhir.”[142]

Ka’ab berkata, “Hari-hari tak akan berakhir, kecuali dengan kedatangan seorang lelaki dari Quraisy, yang kemudian tinggal di Baitul Muqaddas dan peperangan berakhir.”[143]

Mengenai Dajal dan kematiannya, dalam sebuah pidatonya Rasulullah Saw bersabda, “... setelah itu, harga seekor kuda hanya beberapa dirham saja.”[144]

Ibnu Mas’ud berkata, “Salah satu tanda dekatnya hari kiamat, wanita dan kuda sangat mahal harganya. Kemudian, menjadi murah dan sampai hari kiamat tidak akan mahal lagi.”[145]

Mungkin maksud dari mahalnya wanita pada zaman sebelum kemunculan Imam Mahdi af., adalah tingginya biaya hidup. Sehingga, dari segi ekonomi sangat sulit sekali menjalin kehidupan rumah tangga dengan seorang wanita. Sebagaimana jika peperangan terus terjadi, maka banyak kebutuhan manusia terhadap berbagai peralatan, seperti kuda (kendaraan) dan perlengkapan militer, melonjak naik. Setelah peperangan usai (setelah kemunculan Imam Mahdi af.), kebutuhan hidup mudah didapatkan dan membina keluarga (pernikahan) mudah dijalankan, sehingga seolah-olah harga wanita menjadi turun.

Zamakhsyari menukilkan, “Salah satu kekhususan zaman pemerintahan Imam Mahdi af., sebagai ganti arit, para petani menggunakan pedang.”[146] Karena di zaman itu, tidak ada lagi yang namanya peperangan. Dengan demikian, banyak perlengkapan perang yang digunakan untuk alat bercocok tanam.

Kali ini Rasulullah Saw. bersabda, “... harga sapi mengalami kenaikan dan kuda tidak ada harganya.”[147]

Mungkin riwayat di atas juga dapat ditafsirkan seperti ini; karena sapi digunakan sebagai alat pertanian dan daging serta susunya dapat dimanfaatkan. Tetapi kuda, kebanyakan digunakan sebagai peralatan perang. []


DAFTAR ISI:

PEMERINTAHAN AKHIR ZAMAN 1

Najmuddin Thabasi 1

Penerjemah: Muhammad Habibi 1

PRAKATA PENERBIT 2

PENDAHULUAN 5

Bab 3 11

PASUKAN IMAM MAHDI AF 11

A. Pemimpin Pasukan 11

1. Nabi Isa as 11

2. Syu’aib bin Shaleh 13

3. Ismail putra Imam Shadiq as. dan Abdullah bin Syuraik 15

4. Aqil dan Harits 16

5. Jabir bin Khabur 16

6. Mufadhal bin Umar 17

7. Ashabul Kahfi 17

B. Pasukan dari Berbagai Bangsa 18

1. Bangsa Iran 18

2. Bangsa Arab 24

3. Pengikut dari Agama Lain 27

4. Jabilqa dan Jabirsa 31

C. Jumlah Pasukan 33

2. Pasukan Imam Mahdi af 38

3. Pengawal dan Penjaga 40

D. Pertemuan Anggota Pasukan 41

E. Syarat dan Ujian Anggota Pasukan 44

F. Karateristik Pasukan Imam Mahdi af 47

1. Ibadah dan Ketakwaan 48

2. Cinta dan Taat 49

3. Pasukan Muda yang Tangguh 51

4. Pasukan yang Disegani 54

5. Pecinta Kesyahidan 55

API YANG BERKOBAR 56

A. Pahala para Pejuang dan Syuhada 56

B. Perlengkapan Perang 59

C. Memimpin Dunia Untuk Umat Manusia 61

D. Pemberontakan yang Gagal 72

E. Peperangan Berakhir 75



[1] Dengan bantuan beberapa orang dari Hauzah Ilmiyah Qom, saya berhasil menyusun kitab yang tebalnya lima jil. ini. Buku ini dicetak oleh Bonyad-e Ma’aref-e Eslami (Lembaga Pemikiran Islami) Qom, pada tahun 1411 H. Insya Allah, akan dilakukan revisi dalam waktu dekat.

[2] As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 168.

[3] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 161.

[4] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 86; Aqdud Durar, 127; Kanzul Ummal, jil. 14, hal. 588.

[5] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 53; Aqdud Durar, hal. 130; As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 211.

[6] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 53; As-Syi’ah wa Ar-Raj’ah, jil. 1/211.

[7] Nurul Abshar, hal. 138; As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 211.

[8] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 84; Ibnul Munadi, hal. 47; Darmi, Sunan, hal. 98; Aqdud Durar, hal. 126; Ibnu Thawus, Fitan, hal. 49.

[9] Al Iyqadz minal Hij’ah, hal. 266. Lihat pula: Kasyi, Ikhtiyaru Ma’rifatir Rijal, hal. 217; Ibnu Dawud, Rujal, hal. 206.

[10] Al Iyqadz minal Hij’ah, hal. 266. Lihat pula: Bihar al-Anwar, jil. 53, hal. 67; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 561.

[11] Kharaij, jil. 1, hal. 185; Bihar al-Anwar, jil. 41, hal. 296; Mustadrakat Ilmi Rijal Al Hadis, 2: 118. Mengenai Jabir bin Khabur, meski telah dilakukan banyak penelitian oleh kalangan Syiah dan Ahli Sunnah, tetapi informasi yang didapat tidak terlalu banyak. Sebagian dari informasi itu adalah sebagai berikut: Imam Shadiq as. menuturkan, “Dahulu, Jabir bin Khabur adalah penjaga kekayaan Mu’awiyah. Ia memiliki seorang ibu yang sudah tua dan tinggal di Kufah. Pada suatu hari, Jabir berkata kepada Mu’awiyah, ‘Aku rindu kepada ibuku. Izinkan aku untuk pergi menemuinya, supaya aku dapat menunaikan tugasku sebagai seorang anak.’“ Mu’awiyah berkata, ‘Untuk apa kamu pergi ke kota Kufah? Di sana ada seorang penyihir yang bernama Ali bin Abi Thalib dan aku tidak yakin kalau kamu tidak dapat dibohonginya.’ Jabir menjawab, ‘Aku tidak punya urusan dengan Ali. Aku hanya ingin pergi melihat ibuku dan menunaikan kewajibanku berbakti kepadanya.’ Setelah meminta izin, Jabir pergi memulai perjalanannya. Ketika itu, Imam Ali as. baru saja memenangkan peperangan Shiffin dan meletakkan beberapa pengawas yang bertugas untuk mengawasi lalu lalang setiap orang di Kufah. Ketika Jabir sampai ke kota Kufah, ia ditangkap oleh pengawas tersebut, lalu ia dibawa ke kota. Ali berkata kepadanya, ‘Engkau adalah salah satu dari harta-harta Tuhan. Mu’awiyah telah berkata kepadamu bahwa aku adalah penyihir.’ Jabir berkata, ‘Demi Tuhan ia memang berkata demikian.’ “Imam Ali as. bersabda, ‘Engkau membawa harta dan sebagiannya engkau kubur di suatu tempat bernama Ainut Tamr.’ Jabir mengakui hal itu. Lalu Imam Ali as. meminta Imam Hasan as. untuk menjamunya. Esok harinya, Imam Ali berkata kepada prajuritnya, ‘Orang ini (Jabir) akan menunggu kedatangan Al-Mahdi af di Jabal al Ahwaz …’”

[12] Dalailul Imamah, hal. 248; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 573.

[13] Hushaini, Al Hidayah, hal. 31; Irsyadul Qulub, hal. 286; Hilyatul Abrar, jil. 2, hal. 601. Ada juga orang-orang lainnya yang akan dibangkitkan untuk membantu Imam Mahdi. Seperti Dawud Ruqaiy, Najm bin A’yan, Hamran bin A’yan, dan Maysar bin Abdul Aziz. Nama mereka disebut dalam beberapa riwayat; dan dikatakan bahwa mereka akan menyertai Imam Mahdi Aj dalam menegakkan kebenaran.

[14] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 85; Aqdud Durar, hal. 129; Al Hawi lil Fatawa, jil. 2, hal. 69.

[15] Nu’mani, Ghaibah, hal. 315; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 547; Bihar alAnwar, jil. 52, hal. 369.

[16] Firdausul Akhbar, jil. 5, hal. 366.

[17] Abdur Razzaq, Mushannif, jil. 11, hal. 358; Al Mu’jamul Kabir, jil. 7, hal. 268; Hilyatul Awliya’, jil. 3, hal. 24; Firdausul Akhbar, jil. 5, hal. 445.

[18] Mungkin yang dimaksud adalah kabilah Arab di Hamadan.

[19] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 146.

[20] Bihar al-Anwar, jil. 60, hal. 218.

[21] Ibid, jil. 60, hal. 216.

[22] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 148; Raudhatul Wa’idzin, hal. 310; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 304.

[23] Kasyful Ghummah, jil. 3, hal. 268; Kanzul Ummal, jil. 14, hal. 591; Syafi’i, Bayan, hal. 196; Yanabi’ul Mawaddah, hal. 91.

[24] Berdasarkan riwayat-riwayat yang menerangkan tentang siapa para pengikut Imam Mahdi af., dapat dikatakan bahwa orang-orang Arab adalah mayoritas pengikut khusus Imam Mahdi af. (313 orang). Apa lagi banyak riwayat yang menyebutkan bahwa pengikut khusus Imam berasal dari negara-negara Arab.

[25] Thusi, Ghaibah, hal. 284; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 518; Bihar alAnwar, jil. 52, hal. 333.

[26] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 142; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 304.

[27] Thusi,Ghaibah, cetakan baru, hal. 477; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 334; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 518.

[28] Ibnu Thawus, Malahim¸ hal. 43; Yanabi’ul Mawaddah, jil. 2, hal. 435; As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 456.

[29] Namanya adalah Samak bin Kharsyah. Al-Marhum Mamaqani berkata mengenai beliau: “Aku menganggapnya sebagai orang yang Husnul Hal… (Tanqihul Maqal, jil. 2, hal. 68)

[30] Raudhatul Wa’idzin, jil. 2, hal. 266.

[31] Kafi, jil. 3, hal. 131; Al-Iyqadz, hal. 290; Bihar al-Anwar, jil. 27, hal. 308.

[32] Jika tempat itu memang berada di Cina yang kini kita ketahui bersama, mungkin saja tempat tersebut terletak di sebuah pulau terpencil atau di tempat lain.

[33] Bihar al-Anwar, jil. 54, hal. 316.

[34] Ibid.

[35] Al Isra’ : 104.

[36] Bihar al-Anwar, jil. 54, hal. 316.

[37] Al A’raf: 159.

[38] Bihar al-Anwar, jil. 54, hal. 316.

[39] Ibid.

[40] Al Maidah: 14

[41] Kafi, jil. 5, hal. 352; At Tahdzib, jil. 7, hal. 405; Wasailus Syi’ah, jil. 14, hal. 56; Nurut Tsaqalain, jil. 1, hal. 601; Tafsir Burhan, jil. 1, hal. 454; Yanabi’ul Mawaddah, hal. 422.

[42] جابلقا dan جابرسا

[43] Bihar al-Anwar, Jil. 54, hal. 334; dan jil. 26, hal. 47.

[44] Syi’ah berkeyakinan bahwa setelah kedatangan Imam Mahdi af., sekelompok Imam Maksum, sekelompok orang yang beriman, dan juga sekelompok orang kafir akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali. Terdapat puluhan riwayat yang dapat menjadi argumentasi terhadap keyakinan ini. Dalam kitab As-Syi’ah wa Ar-Raj’ah, Almarhum Ayatullah Walid telah membahas permasalahan ini secara panjang lebar. Akhir-akhir ini, Hujjatul Islam wal Muslimin Mirsya Walad menerjemahkan kitab tersebut ke dalam bahasa Parsia dengan judul Setare e Derakhshan. Lima belas tahun yang lalu, saya juga pernah membuat karya tulis yang berjudul Raj’at az Nazar e Syi’e (Raj’ah menurut Syi’ah) dan juga telah dicetak dan disebarkan. Dalam tulisan itu, saya sering menukil ucapan-ucapan Almarhum Walid.

[45] Al-Iyqadz minal Haj’ah, hal. 269.

[46] Kasyi, Rijal, hal. 402; Al-Khulashah, hal. 98; Qabhai, Rijal, jil. 2, hal. 289; Al-Iyqadz, hal. 284; Bihar al-Anwar, jil. 54, hal. 4; Mu’jam Rijalil Hadis, jil. 6, hal. 259.

[47] Al-Iyqadz, hal. 264.

[48] Dalailul Imamah, hal. 320; Al-Mahajjah, hal. 46.

[49] Kamaluddin, jil. 2, hal. 654; Al-Ayashi, Tafsir Al-Asyashi, jil. 2, hal. 56; Nurut Tsaqalain, jil. 1, hal. 139 dan jil. 4, hal. 94; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 323.

[50] Uyun Akhbarir Ridha, jil. 1, hal. 59; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 310.

[51] Majma’uz Zawaid, jil. 7, hal. 315.

[52] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 64; Al Fatawi Al Hadisah, jil. 31.

[53] Kamaluddin, jil. 2, hal. 671; Bashairud Darajat, hal. 311; Bihar alAnwar, jil. 52, hal. 286.

[54] Dalailul Imamah, hal. 248; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 573.

[55] Raudhatul Wa’idzin, hal. 266; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 55.

[56] Durarul Akhbar¸ jil. 1, hal. 258.

[57] Kamaluddin, jil. 2, hal. 654; Ayashi, Tafsir, jil. 1, hal. 134; Nurut Tsaqalain, jil. 4, hal. 98, dan jil. 1, hal. 340; Al-Adadul Qawiyah, hal. 65; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 548.

[58] Al-Mustajad, hal. 511.

[59] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 65.

[60]

[61]

[62]

[63] Kamaluddin, jil. 2, hal. 672; Ayashi, Tafsir, jil. 1, hal. 67; Nu’mani, Ghaibah, hal. 315; Bihar al-Anwar, jil. 2, hal. 368; Kafi, jil. 8, hal. 313; Al Mahajjah, halamn 19.

[64] Al Baqarah: 148.

[65] Firdausul Akbar, jil. 2, hal. 449.

[66] Raudhatul Wa’idzin, jil. 2, hal. 623; Aqdud Durar, hal. 56; Muttaqi Hindi, Burhan, halamn 145.

[67] Bihar al-Anwar: jil. 52, hal. 324; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 582; Terjemahan jil. ke 13 Bihar al-Anwar, hal. 916.

[68] Majma’ul Bayan, jil. 1, hal. 231; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 524; Nurut Tsaqalain, jil. 1, hal. 140; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 291.

[69] Nu’mani, Ghaibah, hal. 316; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 198; Bisyaratul Islam, hal. 198.

[70] As-Syi’ah wa Ar-Raj’ah, jil. 1, hal. 157; Aqdud Durar, hal. 96.

[71] Tentang Khutbah Al Bayan, Almarhum Walid dalam catatan kaki kitab As-Syi’ah wa Ar-Raj’ah, menuturkan, “Kami menukil khutbah ini dari kitab Dauhatul Anwar karya Syaikh Muhammad Yazdi. Tetapi, tidak hanya terbatas pada kitab ini saja, bahkan tercantum dalam kitab-kitab yang lain pula. Agha Buzurg Tehrani menyebutkan beberapa kitab tersebut dalam kitab adz-Dzari’ah: jil. 7, antara lain :

1. Qadhi Sa’id Qomi, dalam syarah Hadis Ghamamah, 1103 H;

2. Muhaqqiq Qomi, Jami’ As Syatat, hal. 772;

3. Sebuah catatan dalam perpustakaan Imam Ridha as, 729 H;

4. Sebuah catatan yang ditulis oleh Ali bin Jamaluddin, 923 H;

5. Khulasatut Tarjuman;

6. Ma’alimut Tanzil. Dalam khutbah ini terdapat beberapa kalimat yang kandungannya tidak sesuai dengan Tauhid. Tapi kalimat-kalimat itu tidak ditemukan di semua teks khutbah. Oleh karena itu, pasti orangorang Ghulat yang telah menanmbahkannya. Tapi kalimat-kalimat seperti “Aku yang menunmbuhkan dedaunan dan aku juga yang membuahkan buah-buahan”, sering kali didapatkan dalam riwayat-riwayat lainnya. Seperti halnya kalimatkalimat “Karena kami pohon-pohon memberikan buahnya, buahbuahnya menjadi matang. Dan karena kami air sungai mengalir, hujan turun, dan tanah menumbuhkan tumbuhan-tumbuhannya.” Dalam doa-doa Ziarah Mutlaqah kita sering membaca seperti ini: “…karena kalian pohon-pohon tumbuh. Karena kalian pulalah pohon-pohon memberikan buahnya…” Oleh karena itu, jika kita menemukan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an, maka itu bukan dari para Maksumin. Tapi dengan palsunya beberapa kalimat dalam khutbah di atas, bukan berarti kita tidak menerima khutbah itu secara keseluruhan.

[72] Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 308.

[73] Al Hijr: 75.

[74] Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 386.

[75] Ayashi, Tafsir, jil. 2, hal. 56; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 341.

[76] Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 308.

[77] Ibid.

[78] Ibid, hal. 310.

[79] Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 585.

[80] Thusi, Ghaibah, hal. 284; Nu’mani, Ghaibah, hal. 315; Ibnu Thawus, Malahim, hal. 145; Kanzul Ummal, jil. 14, hal. 192; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 334; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 517.

[81] Kamaluddin, jil. 2, hal. 673; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 317, dan 327.

[82] Ibid, jil. 2, hal. 673; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 317, 327, 372; Yanabi’ul Mawadah, hal. 424; Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 346.

[83] Mufid, Ikhtishahs, hal. 24; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 372.

[84] Ibid, hal. 24; Bashairud Darajat, jil. 1, hal. 124; Yanabi’ul Mawaddah, hal. 448, dan 489; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 557; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 318, dan 372.

[85] Kafi, jil. 8, hal. 282; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 335.

[86] Kharaij, hal. 840; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 336. Lihat pula: “Hilyatul Awliya’, jil. 3, hal. 184; Kasyful Ghummah, hal. 345; Yanabi’ul Mawaddah, hal. 448. Riwayat senada juga diriwayatkan dari Imam Baqir as: Bashairud Darajat, hal. 24; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 189.

[87] Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 308.

[88] Kamaluddin, jil. 2, hal. 673; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 493; Bihar alAnwar, jil. 52, hal. 327.

[89] Mustadrak al-Wasail, jil. 11, hal. 114.

[90] Thusi, Amali, jil. 1, hal. 236; Bisyaratul Mustafha, hal. 113; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 529; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 123, 317.

[91] Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 490. Lihat pula: Thusi, Amali, jil. 1, hal. 236; Barqi, Mahasin, hal. 173; Nurut Tsaqalain, jil. 5, hal. 356.

[92] Kafi, jil. 2, hal. 222.

[93] Ayashi, Tafsir, jil. 2, hal. 261; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 224

[94] Bashairud Darajat, hal. 141; Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 523; Tabsiratul Wali, hal. 97; Bihar al-Anwar, jil. 27, hal. 41 dan jil. 54, hal. 334.

[95] Ibid.

[96] Kamaluddin, jil. 1, hal. 366; Uyun Akhbar ar-Ridha, jil. 1, hal. 262; Bihar al-Anwar, jil. 18, hal. 346.

[97] Al Hajj: 41.

[98] Tafsir Al-Burhan, jil. 2, hal. 96; Yanabi’ul Mawaddah, hal. 425; Bihar al-Anwar, jil. 51, hal. 1.

[99] Ihqaqul Haqq, jil. 13, hal. 259; Yanabi’ul Mawaddah, hal. 482; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 378; As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 218.

[100] Aqdud Durar, hal. 222; Fawaidul Fikr, hal. 9.

[101] Kamaluddin, jil. 1, hal. 331; Al Fushulul Muhimmah, hal. 284; As’afur Raghibin, hal. 140.

[102] Yanabi’ul Mawaddah, hal. 423.

[103] Al Qaulul Mukhtashar, hal. 23.

[104] Uyunu Akhbarir Ridha, hal. 65; Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 346; As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 218.

[105] Kamaluddin, jil. 2, hal. 394; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 323, 336; As Syi’ah wa Ar Raj’ah, jil. 1, hal. 218; Lihat pula: Ibnu Hammad, Fitan, hal. 95; Shiratul Mustaqim, jil. 2, hal. 250, 262; Mufid, Irsyad, hal. 362; A’lamul Wara, hal. 430.

[106] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 116; Aqdud Durar, hal. 189.

[107] Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 365.

[108] Firdausul Akhbar, jil. 3, hal. 83; Syafi’i, Al Bayan, hal. 138; Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 229 dan jil. 19, hal. 660.

[109] Ibnu Abi Syaibah, Mushanif, jil. 13, hal. 18.

[110] Cina, disebut dengan Asia Timur. Mencakup Soviet di zaman itu, India, Nepal, Birma, Vietnam, Jepang, Lautan Cina, dan Korea.

[111] Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 339; Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 352; AsSyi’ah wa Ar-Raj’ah, jil. 1, hal. 400.

[112] As-Syi’ah wa Ar-Raj’ah, jil. 1, hal. 162.

[113] Constantinople adalah sebuah kota di Turki yang dibagun pada abad ketujuh sebelum Masehi dan menjadi ibu kota kekaisaran Romawi untuk beberapa saat. Lihat Mu’jamul Buldan, jil. 4, hal. 348; A’lamul Munjid, hal. 28.

[114] Dailam adalah nama sebuah tempat di pegunungan Gilan yang berada di sebelah utara propinsi Qazvin; Mu’jamul Buldan, jil. 1, hal. 99; A’lamul Munjid, hal. 228; Burhan Qati’, jil. 1, hal. 570.

[115] Itsbatul Hudat, jil. 3, hal. 585; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 388; lihat pula: Bihar al-Anwar, jil. 54, hal. 332 hadis no. 1, 6,11,14,17, 18,19, 34, 35, 36, 46.

[116] Khazar (Uni Soviet); Mu’jamul Buldan, jil. 1, hal. 99; A’lamul Munjid, hal. 214.

[117] Adalah sebuah kota di Syam, termasuk daerah yang dimiliki Palestina. Tempat ini, berada di antara Ghaza dan Baitu Jabarain. Lihat Mu’jamul Buldan, jil. 3, hal. 673.

[118] Aqdud Durar, 201.

[119] Roma saat ini adalah ibu kota Italia. Di zaman itu Roma merupakan pusat pemerintahan yang dipimpin oleh raja-raja yang disebut dengan kaisar. Kaisar-kaisar yang memerintah di zaman itu, juga menguasai beberapa daerah sekitarnya. Begitu luas kekuasaan mereka, sehingga negara-negara yang berada di seberang lautan Mediterania, Afrika Utara, Yunani, Turki, Siria, Libanon, sampai Palestina, berada di bawah pengaruh kekuasaannya dan mereka menyebut negara-negara ini dengan sebutan Romawi.

[120] Turki adalah sebuah negara yang berada di benua Asia dan terbagi antara Cina dan Uni Soviet dan mencakup Sinkyangh dari Cina dan Turkmenistan, Uzbekistan, Tasykand, Tajikistan, Qaranjir, dan Kazakhstan; A’lamul Munjid, hal. 542.

[121] Mirip pulau yang berbentuk segi tiga dan terletak di selatan Asia dan mencakup republik India, Pakistan, Butan, dan Nepal; Burhan Qati’, jil. 1, hal. 703; A’lamul Munjid, hal. 542.

[122] Nu’mani, Ghaibah, hal. 108; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 348.

[123] Al Qaulul Mukhtashar, hal. 26.

[124] Aqdud Durar, hal. 97, 319; Ibnu Thawus, Malahim, hal. 81; Hanafi, Burhan, hal. 88.

[125] Aqdud Durar, hal. 201; Syafi’i, Bayan, hal. 114; Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 229.

[126] Batasan-batasan Hijaz adalah: Teluk Aqabah, Laut Merah, Najd, dan Asir; A’lamul Munjid, hal. 229; menurut Hamuaini, Hijaz adalah tempat yang lebarnya dari Shana di Yaman sampai Syam. Tabuk dan Palestina juga termasuk Hijaz; Mu’jamul Buldan.

[127] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 95; Muttaqi Hindi, Burhan, hal. 141; Ibnu Thawus, Malahim, hal. 64; Al Qaulul Mukhtashar, hal. 23.

[128] Di zaman itu, yang dimaksud dengan Khurasan adalah Iran, Afghanistan, dan Uni Soviet; A’lamul Munjid, hal. 267.

[129] Armenia, terletak di Asia Minor, memiliki perbatasan-perbatasan seperti pegunungan Ararat, Qafqaz, Iran, Turki, dan sungai Furat. Mulanya memiliki pemerintahan yang berdiri sendiri, tapi runtuhnya pemerintahan tersebut, daerah ini terbagi-bagi dan setiap bagiannya menjadi bagian dari Iran, Rusia, dan Kekhalifahan Ottoman. (Al Munjid, hal. 25)

[130] As-Syi’ah wa Ar-Raj’ah, hal. 162.

[131] Ibid, hal. 164.

[132] Ibid, hal. 164; lihat pula: Aqdud Durar, hal. 200; Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 229.

[133] Mufid, Irsyad, hal. 341; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 337.

[134] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 64; Al Fatawa Al Hadisah, hal. 31.

[135] Dhabbah adalah nama sebuah desa di Hijaz yang terletak di pinggir pantai dekat jalan menuju Syam. Di dekatnya, terdapat sebuah desa Nabi Ya’qub as yang bernama Bada. Bani Dhabbah adalah nama sebuah kabilah yang pernah membantu musuh-musuh Imam Ali as. di perang Jamal. Dalam perang tersebut, pertama kalinya syair-syair dan puisi-puisi peperangan yang dibacakan adalah milik Bani Dhabbah dan Azd. Mereka berada di sekeliling onta Aisyah dan melindunginya. Lihat Sam’ani, Ansab, jil. 4, hal. 12; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 9, hal. 320 dan jil. 1, hal. 253.

[136] Ghani adalah nama sebuah kabilah yang tinggal di Har, kawasan Jazirah Arab yang berada di antara Musel dan Syam. Mereka memiliki kaitan dengan orang yang bernama Ghani bin Ya’shur. Lihat Ansab, jil. 4, hal. 315.

[137] Bahilah adalan nama sebuah kabilah yang memiliki kaitan dengan Bahilah bin A’shar. Orang-oran g Arab padazaman dahulu enggan untuk berhubungan dengan kabilah ini. Karena, tidak ada orang yang mulia dan terhormat di antara mereka. Mereka adalah kabilah yang hina. Sebelum pergi ke Shiffin, Imam Ali as. pernah berkata kepada mereka, “Demi Tuhan! Aku membenci kalian dan kalian membenciku. Maka kemarilah dan ambillah hak-hak kalian lalu pergilah ke Dailam. Lihat Sam’ani, Anshab, jil. 1, hal. 275; Waq’ah Shiffin, hal. 116; An Nafy wa At Targhib, hal. 349; Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 3, hal. 272; Al Gharat, jil. 2, hal. 21.

[138] Nu’mani, Ghaibah, hal. 299; Bashairud Darajat, hal. 336; Hilyatul Abrar, jil. 2, hal. 632; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 363 dan jil. 48, hal. 48.

[139] Ayashi, Tafsir, jil. 2, hal. 61; Tafsir Burhan, jil. 2, hal. 83; Bihar alAnwar, jil. 52, hal. 345.

[140] Qs. as-Shaff: 14.

[141] Bashairud Darajat, hal. 336; Bihar al-Anwar, jil. 52, hal. 375, jil. 47, hal. 48, dan jil. 14, hal. 279.

[142] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 162; Al-Mu’jamus Saghir, hal. 150; Ihqaqul Haq, jil. 13, hal. 204.

[143] Aqdud Durar, hal. 166; lihat pula: Abdul Razzaq, Mushannif, jil. 11, hal. 401.

[144] Ibnu Thawus, Malahim, hal. 152.

[145] Al-Mu’jamul Kabir, jil. 9, hal. 342; kandungan serupa terdapat dalam Aqdud Durar, hal. 331, dinukil dari Kharjiah bin Shilat.

[146] Al-Faiq, jil. 1, hal. 354.

[147] Ibnu Hammad, Fitan, hal. 159; Ibnu Thawus, Malahim, hal. 82.