Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib as

Buku ini sudah diperiksa oleh

pengarang: H.M.H. ALHAMID ALHUSAINI
Imam Ali as

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a.

Oleh

H.M.H. Al Hamid Al Husaini


M U Q A D D I M A H

Usaha menyingkat sejarah kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. dalam

lembaran-lembaran buku, bukanlah pekerjaan yang mudah. Sejak semula telah

terbayang kesukaran-kesukaran yang bakal dihadapi. Betapa tidak!

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a., terutama pada tahap-tahap terakhir,

sejak terbai'atnya sebagai Khalifah sampai wafatnya sebagai pahlawan syahid,

bukankah satu kehidupan biasa. Ia merupakan satu proses kehidupan yang lain

daripada yang lain. Ia menuntut penalaran luar biasa, menuntut kekuatan

syaraf istimewa pula.

Kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. penuh dengan ledakan-ledakan luar

biasa, keagungan dan hal-hal mempesonakan. Tetapi bersamaan dengan itu

juga penuh dengan gelombang kekecewaan dan kengerian.

Oleh karena itu penulisan tentang semua segi kehidupannya menjadi benar-benar tidak mudah.

Ditambah pula dengan adanya pihak-pihak yang menilai beliau secara berlebih-lebihan. Baik

dalam memujinya maupun dalam mencacinya.

Imam Ali bin Abi Thalib r.a. sendiri tidak senang pada orang-orang yang menilai diri beliau

secara berlebih-lebihan. Hal itu tercermin dengan jelas dari kata-kata beliau: "Ada dua fihak

yang celaka karena berlebih-lebihan menilai sesuatu yang sebenarnya tidak kumiliki. Sedangkan

pihak yang lain ialah yang demikian bencinya kepadaku sehingga mereka melontarkan segala

kebohongan tentang diriku."

Dari sini pulalah maka Imam Ali r.a. mengatakan: "Ada segolongan orang yang demi cintanya

kepadaku mereka bersedia masuk neraka. Tetapi ada segolongan lain yang demi kebenciannya

kepadaku sampai-sampai mereka itu bersedia masuk neraka."

Ada dua faktor yang menyebabkan timbulnya pertentangan penilaian mengenai menantu dan

sekaligus saudara misan Rasul Allah s.a.w. itu. Dua faktor itu ialah sifat atau watak pribadi

Imam Ali r.a. sendiri dan situasi serta kondisi kehidupan Islam pada zaman hidupnya tokoh

penting Islam itu.

Faktor mana yang lebih dominan, sehigga pribadi Imam Ali r.a. mempunyai kedudukan yang

unik dalam sejarah Islam sulit dikatakan. Yang jelas kedua faktor itu memegang peran penting

dan memberi arti khusus yang pengaruhnya hingga kini masih terasa. Bahkan sejak

meninggalnya pada tahun 40 Hijriyah pendapat yang kontroversial mengenai dirinya itu tidak mereda, malahan makin berkembang sehingga sangat mewarnai sejarah Islam sampai abad ke-

15 Hijriyah sekarang ini.

Periode kehidupan Imam Ali r.a. ditandai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh

ummat Islam, terutama setelah wafatnya Rasul Allah s.a.w. Belum lagi jenazah Rasul Allah

s.a.w. dimakamkan telah muncul krisis. Dan krisis itu disusul pula oleh krisis-krisis lain.

Ancaman dari dalam dan dari luar sangat membahayakan kedudukan Islam yang masih muda

itu.

Pertentangan pribadi, qabilah, suku, golongan, bangsa dan antar-negara bermunculan hampir

secara simultan. Keseimbangan kehidupan rohani dan jasmani, masalah keagamaan dan

kenegaraan yang serasi dan seimbang di bawah satu pimpinan, yaitu di tangan Rasul Allah

s.a.w. semasa hidupnya, tiba-tiba saja mengalami kegoncangan, ketidak-seimbangan dan

ketidak-serasian.

Proses kristalisasi dan disintegrasi yang menyusul wafatnya Rasul Allah s.a.w. dihadapkan pada

tokoh-tokoh terkemuka ummat Islam, yang selama itu merupakan pembantu-pembantu

terdekat Rasul Allah s.a.w. Diantaranya Imam Ali r.a. sebagai salah satu tokoh yang menonjol

dan dekat sekali dengan Rasul Allah s.a.w. Dan dialah salah seorang yang paling merasa

berkepentingan terhadap kemaslahatan Islam dan ummatnya. Sebab dialah yang paling dini

melibatkan diri sebagai pengikut setia Nabi Muhammad s.a.w.

Awal tahun Hijriyah ditandai oleh peranan Imam Ali r.a. Malam sebelum Rasul Allah s.a.w.

melakukan hijrah ke Madinah, yang sangat bersejarah itu, rumah kediaman beliau dikepung

rapat oleh para pemuda Qureiys: Mereka bertekad hendak membunuh nabi Muhammad s.a.w.

Pada saat itulah Rasul Allah s.a.w. memerintahkan Imam Ali r.a. supaya mengenakan mantel

hijau buatan Hadramaut dan agar saudara misannya itu berbaring di tempat tidur beliau. Imam

Ali r.a. dengan kebanggaan dan keberaniannya melaksanakan tugas tersebut.

Ketika para pemuda Qureisy yang berniat jahat itu mengintip, mereka mengira Rasul Allah

s.a.w. berada di dalam. Padahal sebenarnya saat itu Rasul Allah s.a.w. telah berhasil

menyelinap keluar menuju ke rumah Abu Bakar r.a.

Ketaatannya kepada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya pada malam hijrah itu bukan

merupakan kasus tersendiri. Pada masa-masa hidupnya lebih lanjut, faktor keberanian ini

sangat mewarnai kehidupan Imam Ali r.a. Dasar-dasar keberanian ini tambah diperkuat oleh

keyakinannya yang makin teguh pada kebenaran ajaran Rasul Allah s.a.w. dan ketaqwaannya

pada Allah s.w.t.

Ketaatannya pada Rasul Allah s.a.w. dan keberaniannya dalam membela serta menegakkan

kebenaran-kebenaran agama Allah merupakan pendorong utama, sehingga kemudian ia

diagungkan oleh pengikut-pengikutnya sebagai pahlawan besar ummat Islam.

Hal itulah yang antara lain telah menimbulkan perbedaan penilaian yang hasilnya melahirkan

perselisihan pendapat. Yang menilai positif melambangkan Imam Ali r.a. sebagai contoh tokoh

yang paling ideal, pelanjut cita-cita dan perjuangan Rasul Allah. Kemudian eksesnya menjadi

berlebih-lebihan, sehingga sama sekali tidak disukai oleh yang bersangkutan sendiri.

Sebaliknya mereka yang menilai negatif, Imam Ali r.a. mereka anggap sebagai tokoh yang amat

berambisi untuk mendapat kedudukan memimpin ummat Islam. Penilaian terakhir ini

mengundang sifat-sifat kebencian dan menjurus ke permusuhan, dan akhirnya memuncak dalam

bentuk peperangan melawan Imam Ali r.a.

Kepribadian dan watak Imam Ali r.a. yang unik itulah yang mengembangkan pendapat ekstrim

tentang dirinya. Yang mengaguminya, kemudian memitoskan dan mendewakannya. Tidak jarang, karena ekses penyanjungan kepada Imam Ali r.a. akhirnya secara sadar atau tidak sadar

golongan ini mengaburkan peran agung Rasul Allah s.a.w. Sebaliknya yang membenci Imam Ali

r.a. melahirkan ekses mengkafirkannya.

Dua fihak yang sangat bertentangan penilaian terhadap Imam Ali r.a. tercermin pada dua

kelompok yang terkenal dalam sejarah Islam.

Kaum Rawafidh bukan saja pengagum Imam Ali r.a., malahan boleh dibilang sebagai "kaum

penyembah Imam Ali r.a." Semasa hidupnya, Imam Ali r.a. sendiri sudah berulang kali melarang

tindak dan sikap mereka yang sangat keliru itu, tetapi sikap Imam Ali r.a. yang tidak mau

disanjung dan disembah itu bahkan mereka nilai sebagai sikap yang agung. Imam Ali r.a.

sampai-sampai mengingatkan mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu syirik. Peringatan itu

sama sekali tidak menyurutkan pendirian mereka.

Begitu fanatiknya mereka kepada Imam Ali r.a. sehingga mereka bersedia mengorbankan

segala-galanya demi tegaknya pendirian itu. Bahkan ketika mereka dijatuhi hukuman dengan

dibakar hidup-hidup, hukuman itu mereka terima dengan penuh ketaatan. Di tengah kobaran

api unggun yang membakar diri mereka di depan umum, dengan penuh gairah mereka berseru:

"Dia (Imam Ali) adalah tuhan. (Sebab) dialah yang menetapkan adzab neraka ini". Mereka rela

mati dibakar dengan penuh keikhlasan. Mereka memandang layak hukuman demikian

dijatuhkan oleh "tuhan" mereka sendiri.

Sangat berlawanan dengan kaum Rawafidh ini, adalah pendirian golongan Nawasib dan

Khawarij yang sangat benci kepada Imam Ali r.a. Ironisnya, kaum Khawarij ini sebelumnya

justru merupakan pengikut Imam Ali r.a. yang paling setia dan taat. Mulamula mereka sangat

cinta, kagum, taat dan setia. Lalu berbalik 180 derajat menjadi muak, benci, mengutuk,

bahkan mengkafirkan Imam Ali r.a. Itu terjadi ketika tokoh yang mereka kagumi itu bersedia

menerima "perdamaian" dengan Muawiyah. Peristiwa yang dalam sejarah terkenal sebagai

"Tahkim bi Kitabillah".

Kaum Khawarij itu menuntut kepada Imam Ali r.a. agar ia bertaubat kepada Allah atas

perbuatan salah yang dilakukannya (mengadakan perdamaian dengan Muawiyah). Begitu

mendalamnya kebencian mereka sehingga pada kesempatan apa, kapan dan di mana saja

mereka melancarkan kecaman pedas dan memaki habis. Bahkan sejarah mencatat, Imam Ali

r.a. wafat akibat pembunuhan yang dilakukan golongan Khawarij.

Sulit untuk dicari bahan bandingan bagi seorang tokoh yang begitu hebat menimbulkan

pertentangan pendapat seperti yang ada pada diri Imam Ali r.a. Lebih sulit lagi untuk menarik

kesimpulan dari kenyataan ini. Apakah karena ia orang besar, maka timbul pertentangan

pendapat yang begitu hebat? Ataukah karena adanya pertentangan pendapat itu hingga ia

menjadi mitos. Kenyataan adanya pertentangan pendapat itu sendiri sudah mengungkapkan,

bahwa Imam Ali r.a. adalah tokoh potensial sekali, khususnya bagi ummat Islam.

Juga merupakan ironi sejarah, salah seorang yang pertama-tama berperan vital dalam membela

Islam, akhirnya dijatuhkan oleh seorang yang ayahnya justru paling memusuhi Islam ketika

Rasul Allah s.a.w. mulai dengan da'wahnya. Orang yang sejak masa anak-anak sudah

mempertaruhkan segala-galanya demi tegak dan berkembangnya Islam, kepemimpinannya

direbut oleh orang-orang yang pada awal Islam paling gigih menentang.

Lebih menyedihkan lagi karena orang yang melawan Imam Ali r.a. menempuh segala usaha dan

tipu-daya "dengan mengatas-namakan Islam". Lebih parah lagi karena dengan "mengatasnamakan

Islam" selama 136 tahun, kekuasaan Bani Umayyah, nama Imam Ali ditabukan,

direndahkan dan dihina. Pada setiap khutbah, pada setiap doa sehabis shalat tidak pernah

ditinggalkan cacian dan kutukan terhadap Imam Ali agar ia disiksa Allah.

Bahkan nama Imam Ali digunakan oleh dinasti Bani Umayyah untuk menegakkan kekuasaan

otoriter. Tiap orang atau kelompok yang berani menentang, atau tidak sependapat dengan

kebijaksanaan penguasa Bani Umayyah dapat ditindak dengan menggunakan dalih "pengikut

Imam Ali" (Pecinta Ahlulbait).

Siapa yang mempelajari sejarah Imam Ali r.a. dengan jujur, pasti akan menemukan pada

dirinya salah satu segi yang khas ada pada kehidupan tokoh legendaris itu. Nama Imam Ali r.a.

identik dengan sifat-sifat manusiawi yang mendalam. Baik sejarah sendiri, maupun sejarawan

tidak cukup mampu mengungkapkannya. Kaitan yang seperti itu biasanya oleh seorang penulis

terpaksa dikesampingkan saja dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan.

Makin berkurangnya faktor-faktor kejiwaan yang menyulitkan pembahasan dan makin

dibatasinya segi-segi sejarah yang hendak ditulis, bisa jadi lebih mendekati objektivitas. Tetapi

apakah begitu jadinya?

Para sejarawan mengungkapkan bahwa pada ghalibnya makin lama seorang telah meninggal

akan lebih mudah ditemukan objektivitas untuk pengungkapan riwayat orang yang

bersangkutan. Akan tetapi kalau menyangkut Imam Ali r.a. hal itu masih dipertanyakan.

Dalam batas-batas pengungkapan yang demikianlah, buku "Imam Ali bin Abi Thalib r.a." ini

mengetengahkan riwayat kehidupan Imam Ali pada masa asuhan, keluarganya, rumahtangganya,

peranan kepahlawanannya semasa Rasul Allah masih hidup, wafatnya Rasul Allah

s.a.w., masa-masa kekhalifahan Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., delapan hari tanpa

khalifah, Perang Unta, Perang Shiffin, Gerakan Khawarij, keutamaan, pintu ilmu dan sebuah

kenangan.


Bab I : Masa Asuhan

Dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal tokok-tokoh pembela

kebenaran dan keadilan: yang lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan

pribadi, tanpa pamrih dan bersedia mengorbankan diri untuk membela keyakinan yang dirasa

benar dan adil.

Juga dengan membaca buku-buku riwayat atau sejarah, kita akan mengenal orang-orang yang

senantiasa memusuhi kebenaran dan keadilan, yang lebih mementingkan kepentingan pribadi

daripada kepentingan umum dan hanya memikirkan keuntungan saja tanpa memperdulikan

halal atau haramnya sesuatu.

Dua macam sifat atau watak seperti di atas, tidak mungkin mendadak lahir setelah dewasa

saja. Sifat tersebut lahir melalui proses. Hal ini juga berlaku bagi Imam Ali r.a.

Untuk mengetahui bagaimana proses Imam Ali bin Abi Thalib r.a. menjadi seorang pahlawan

Islam yang tangguh, hingga dijadikan suri-tauladan oleh para pejuang Islam, marilah kita ikuti

sejak kelahirannya, masa kanak-kanaknya, masa remajanya dan kemudian setelah dewasa.

Putera Ka'bah

Telah menjadi keyakinan orang yang beragama, bahwa manusia dapat merencanakan sesuatu

dan berusaha mewujudkan rencananya. Akan tetapi apakah rencana tersebut akan tercapai

atau gagal, manusia yang merencanakan tadi tak dapat menentukannya. Penentuan terakhir di

tangan Allah s.w.t.

Banyak orang yang ingin agar isterinya dapat melahirkan putera atau puteri di tempat tertentu

dan disaksikan oleh keluarga yang lengkap. Apakah keinginan atau rencana orangtua itu akan

tercapai, Allah s.w.t. yang menentukan.

Bagaimana halnya dengan kelahiran Imam Ali r.a.? Di mana beliau dilahirkan? Di rumah Abu

Thalib atau di tempat lain?

Tentang tempat kelahiran Imam Ali r.a., A1 Hakim dalam buku "Al Mustadrak", jilid III, halaman

483, antara lain mengemukakan: Ketika itu hari Jum'at, 13 bulan Rajab, 12 tahun sebelum Nabi

Muhammad s.a.w. mendapat risalah. Seorang wanita, meskipun perutnya nampak besar sekali,

bersama suaminya melakukan tawaf mengelilingi Ka'bah. Wanita yang bernama Fatimah itu

tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Ketika rasa sakitnya bertambah, segera diberitahukan

kepada suaminya, Abu Thalib. Mendengar keluhan itu, Abu Thalib segera menggandeng

isterinya masuk ke dalam Ka'bah. Menurut perkiraan, isterinya kelelahan. Diharapkan dengan

beristirahat sebentar rasa sakitnya akan berkurang.

Kenyataannya tidak seperti yang diperkirakan Abu Thalib. Perut Fatimah bertambah sakit.

Fatimah yang sudah berkali-kali melahirkan, telah mengerti isyarat apa yang sedang

dialaminya. Sebagai seorang wanita yang shaleh, ia tidak mengungkapkan isyarat itu kepada

suaminya. Dia khawatir jika suaminya tahu, tentu maksud suaminya menyelesaikan tawaf akan

terganggu. Ia tidak ingin berbuat demikian. Suaminya tetap dianjurkan menyelesaikan

tawafnya.

Dalam keheningan dan keredupan Baitullah, rumah Allah, Fatimah merasa perutnya bertambah

mulas. Disaat itu yang teringat di hati Fatimah ialah bahwa rasa sakitnya akan berkurang

dengan datangnya pertolongan Allah. Fatimah segera mengangkat tangan, yang sebelumnya

memegang perut untuk menahan rasa sakit dan dengan suara sayu tersengal-sengal berucap:

"Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku bernaung kepada-Mu, kepada utusan-utusan-Mu dan Kitab-kitab

yang datang dari-Mu. Aku percaya kepada ucapan datukku Ibrahim, pendiri rumah ini. Maka

demi pendiri rumah ini dan demi jabang bayi yang ada di dalam perutku, aku mohon kepada-Mu

untuk dimudahkan kelahirannya".

Beberapa saat seusai mengucapkan doa, lahirlah bayi dengan selamat. Bayi ini adalah putra keempat

dari Fatimah. Sepanjang ingatan orang, inilah untuk pertama kali seorang wanita

melahirkan puteranya dalam Ka'bah. Kelahiran bayi ini hanya disaksikan oleh ayah bundanya

saja.

Kejadian yang luar biasa ini, beritanya segera tersiar ke berbagai penjuru. Berbondongbondonglah

mereka, terutama keluarga Bani Hasyim, datang ke Ka'bah, guna menyaksikan bayi

yang baru lahir. Di antara yang datang ialah Nabi Muhammad s.a.w. Bayi ini saudara misan

beliau sendiri. Beliau menggendong bayi tersebut, kemudian bersama ayah-ibunya pulang ke

rumah Abu Thalib.

Meskipun bayi ini merupakan putera keempat, namun oleh ayahnya dipandang sebagai kurnia

besar yang dilimpahkan Allah s.w.t. kepada keluarganya. Kegembiraan Abu Thalib ini tercermin

dari perintah yang segera dikeluarkan untuk menyelenggarakan pesta walimah. Guna

memeriahkan pesta itu, beberapa ekor ternak dipotong. Pemuka-pemuka Qureiys diundang

mengunjungi pesta itu, sebagai penghormatan atas kelahiran puteranya. Pada kesempatan

itulah Abu Thalib mengumumkan pemberian nama "Ali" kepada puteranya yang baru lahir. "Ali"

berarti "luhur".

Nama dan Gelarnya

Sesungguhnya, sebelum berlangsung pesta walimah, di mana Abu Thalib mengumumkan nama

"Ali" bagi puteranya yang keempat itu, Fatimah telah memberi nama "Haidarah", yang berarti

"Singa". Satu nama yang diambil persamaannya dari nama Asad, nama datuknya dari pihak ibu,

yang juga berarti "Singa".

Sementara orang mengatakan, bahwa yang memberi nama "Haidarah" ialah orang-orang

Qureiys. Tetapi sejarah membuktikan, bahwa nama "Haidarah" itu sesungguhnya pemberian

ibunya sendiri.

Bukti sejarah ini dapat diketahui dari peristiwa perang-tanding, seorang lawan seorang, antara

Imam Ali r.a. melawan Marhaban. Dalam perang-tanding itu Marhaban mengagul-agulkan diri

dengan bait syairnya: "Aku inilah yang diberi nama Marhaban oleh ibuku!" Imam Ali r.a. segera

menukas dan melanjutkan bait syair itu dengan kata-katanya: "Aku inilah yang diberi nama

Haidarah oleh ibuku!"

Hanya saja nama yang diberikan ibunya menjadi tenggelam sesudah pengumuman ayahnya

dalam pesta walimah, yaitu "Ali". Ia lebih terkenal dengan nama Ali bin Abi Thalib.

Ketika di bawah asuhan Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. pernah diberi julukan "Abu Turab",

yang artinya "Si Tanah". Pemberian julukan itu erat kaitannya dengan peristiwa ditemuinya

Imam Ali r.a. di satu hari sedang tidur berbaring di atas tanah. Yang menemuinya Nabi

Muhammad s.a.w. sendiri. Beliau menghampirinya dan duduk dekat kepalanya sambil

mengusap-usap punggungnya guna membuang debu-tanah. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w.

membangunkannya seraya berkata: "Duduklah, engkau hai Abu Turab!"

Nama Abu Turab ini paling disukai oleh Imam Ali r.a. Ia sangat bangga bila dipanggil dengan

nama itu. Menurut Al Bashri, nama Abu Turab ini di kemudian hari oleh orang-orang Bani

Umayyah dijadikan bahan ejekan guna merendahkan martabat Khalifah Imam Ali r.a. Mereka

mengatakan, bahwa pemberian nama Abu Turab" oleh Rasul Allah s.a.w. merupakan bukti

tentang kekurangan dan kelemahan fitrahnya.

Disamping nama-nama tersebut di atas, Imam Ali r.a. juga terkenal dengan panggilan Abul

Hasan. Ini terjadi, setelah kelahiran putera beliau, Al Hasan. Selain dari nama-nama tersebut di

atas; Imam Ali r.a. banyak sekali mendapat gelar dan yang paling populer hingga sekarang ialah

"Imam".

Di bawah Naungan Wahyu

Ketika Imam Ali r.a. menginjak usia 6 tahun, Makkah dan sekitarnya dilanda paceklik hebat.

Sebagai akibatnya, kebutuhan pangan sehari-hari sulit diperoleh. Bagi mereka yang berkeluarga

besar dan ekonomi lemah, seperti keluarga Abu Thalib, pukulan paceklik terasa parah sekali.

Pada masa paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. telah berumah tangga dengan Sitti Khadijah

binti Khuwalid r.a. Beliau tak dapat melupakan budi pamannya yang telah memelihara dan

mengasuh beliau sejak kecil hingga dewasa. Bertahun-tahun beliau hidup di tengah-tengah

keluarga Abu Thalib, mengikuti suka-dukanya dan mengetahui sendiri bagaimana keadaan

penghidupannya.

Dalam suasana paceklik ini, Nabi Muhammad s.a.w. menyadari betapa beratnya beban yang

dipikul pamannya, Abu Thalib, yang sudah lanjut usia. Hati beliau terketuk dan segera

mengambil langkah untuk meringankan beban pamannya.

Nabi Muhammad s.a.w. mengetahui, bahwa Abbas bin Abdul Mutthalib, juga paman beliau,

adalah seorang terkaya di kalangan Bani Hasyim. Dibanding dengan saudara-saudaranya, Abbas

mempunyai kemampuan ekonomis yang lebih baik. Dengan tujuan untuk meringankan beban

Abu Thalib, beliau temui Abbas bin Abdul Mutthalib. Kepada pamannya itu beliau kemukakan

betapa berat derita yang ditanggung Abu Thalib sebagai akibat paceklik. Kemudian, dalam

bentuk pertanyaan, Nabi Muhammad s.a.w berkata: "Bagaimana paman, kalau kita sekarang ini

meringankan bebannya? Kusarankan agar paman mengambil salah seorang anaknya. Aku pun

akan mengambil seorang."

Abbas bin Abdul Mutthalib menyambut baik saran Nabi Muhammad s.a.w. Setetah melalui

perundingan dengan Abu Thalib, akhirnya terdapat kesepakatan: Ja'far bin Abi Thalib

diserahkan kepada Abbas, sedang Ali bin Abi Thalib r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Sejak itu Imam Ali r.a. diasuh oleh Nabi Muhammad s.a.w. dan isteri beliau, Sitti Khadijah binti

Khuwailid r.a. Bagi Imam Ali r.a. sendiri lingkungan keluarga yang baru ini, bukan merupakan

lingkungan asing. Sebab Nabi Muhammad sendiri dalam masa yang panjang pernah hidup di

tengah-tengah keluarga Abu Thalib. Malahan yang menikahkan Nabi Muhammad s.a.w. dengan

Sitti Khadijah binti Khuwalid r.a., juga Abu Thalib.

Bagi Nabi Muhammad s.a.w., Imam Ali r.a. bukan hanya sekedar saudara misan, malahan dalam

pergaulan sudah merupakan saudara kandung. Lebih-lebih setelah dua orang putera lelaki

beliau, Al Qasim dan Abdullah, meninggal. Betapa besar kasih sayang yang beliau curahkan

kepada putera pamannya itu dapat diukur dari berapa besarnya kasih-sayang yang ditumpahkan

Abu Thalib kepada beliau. Bahkan pada waktu dekat menjelang bi'tsah, Nabi Muhammad s.a.w.

sering mengajak Imam Ali r.a. menyepi di gua Hira, yang terletak dekat kota Mekkah. Ada

kalanya Imam Ali r.a. diajak mendaki bukit-bukit sekeliling Makkah guna menikmati keindahan

dan kebesaran ciptaan Allah s.w.t.

Sejak usia muda Imam Ali r.a. sudah menghayati indahnya kehidupan di bawah naungan wahyu

Illahi, sampai tiba saat kematangannya untuk menghadapi kehidupan sebagai orang dewasa.

Selama masa itu beliau mengikuti perkembangan yang dialami Rasul Allah s.a.w. dalam

kehidupannya.

Sungguh merupakan saat yang sangat menguntungkan bagi pertumbuhan jiwa Imam Ali r.a.

dengan berada di dalam lingkungan keluarga termulia itu. Periode yang paling berkesan dalam

kehidupan Imam Ali r.a. adalah dimulai dari usia 6 tahun sampai Nabi Muhammad s.a.w.

menerima wahyu pertama dari Allah s.w.t. Imam Ali r.a. mendapat kesempatan yang paling

baik, yang tidak pernah dialami oleh siapa pun juga, ketika Nabi Muhammad s.a.w. sedang

dipersiapkan Allah s.w.t. untuk mendapat tugas sejarah yang maha penting itu.

Imam Ali r.a. menyaksikan dari dekat saudara misannya melaksanakan ibadah kepada Allah

s.w.t dengan cara yang berbeda sama sekali dari tradisi dan kepercayaan orang-orang Makkah

ketika itu. Imam Ali r.a. menyaksikan juga betapa saudara misannya menjauhi kehidupan

jahiliyah, menjauhi kebiasaan minum khamar, menjauhi perzinahan. Selain itu, dengan mata

kepala sendiri Imam Ali r.a. menyaksikan dan mengikuti perkembangan jiwa dan fikiran Nabi

Muhammad s.a.w.

Semua warisan yang telah diterima Imam Ali r.a. dari para orangtuanya, kini berkembang

mekar di hadapan seorang maha guru yang cakap dan bijaksana, yaitu putera pamannya

sendiri. Manusia terbesar di dunia itulah yang menghubungkan diri Imam Ali r.a. dengan Allah

s.w.t.

Masa Kanak-kanak

Tentang usia Imam Ali r.a. ketika Rasul Allah s.a.w. mulai melakukan da'wah risalah, terdapat

riwayat yang berlainan. Sebagian riwayat mengatakan, bahwa Imam Ali r.a. pada waktu itu

masih berusia 10 tahun. Sementara ahli sejarah lain mengatakan, Imam Ali r.a. ketika itu telah

berusia 13 tahun. Yang terakhir ini antara lain ditegaskan oleh Syeikh Abul Qasyim Al Balakhiy.

Masalah usia Imam Ali r.a. ini banyak dipersoalkan oleh penulis sejarah, karena ada kaitannya

dengan penilaian: apakah Imam Ali memeluk agama Islam di masa kanak-kanak ataukah setelah

akil baligh. Tampaknya riwayat yang lebih kuat mengatakan bahwa Imam Ali r.a. telah berusia

13 tahun pada waktu Rasul Allah s.a.w. memulai da'wahnya.

Pada waktu Nabi Muhammad s.a.w. menerima tugas da'wah Ilahiyah, Imam Ali r.a.

menyambutnya tanpa bimbang dan ragu. Hal itu dimungkinkan karena lama sebelumnya ia

telah langsung hidup di bawah naungan Rasul Allah s.a.w. Bila ada hal yang ketika itu tidak

mudah difahami Imam Ali r.a. hanyalah mengenai cara-cara pelaksanaan risalah dan beban

tanggung jawab yang harus dipikulnya sebagai orang beriman.

Pada waktu Rasul Allah s.a.w. menerima perintah Allah s.w.t. supaya melakukan da'wah secara

terbuka dan terang-terangan, Imam Ali r.a. ikut ambil bagian sebagai pembantu. Imam Ali r.a.

antara lain menyampaikan seruan-seruan Rasul Allah s.a.w. kepada sejumlah orang tertentu di

kalangan anggota-anggota keluarganya.

Tentang hal yang terakhir ini, ibnu Hisyam dalam riwayatnya mengemukakan, bahwa Imam Ali

r.a. pernah mengatakan dengan jelas, bahwa Rasul Allah s.a.w. secara rahasia memberi tahu

kepada siapa saja yang mau menerima dari kalangan anggota-anggota keluarga dan familinya,

mengenai nikmat kenabian yang dilimpahkan Allah kepada beliau dan kepada umat manusia

melalui beliau.

Untuk itu Rasul Allah s.a.w. menyampaikan da'wahnya lebih dahulu kepada anggota-anggota

keluarga yang paling dekat, yaitu isterinya sendiri Sitti Khadijah r.a. dan saudara misan

asuhannya, Imam Ali r.a. Setelah kepada dua orang itu, barulah kepada Zaid bin Haritsah,

putera angkatnya.

Imam Ali r.a. sendiri sebagai orang yang paling dini melakukan tugas da'wah membantu Rasul

Allah s.a.w. pernah menerangkan, bahwa pada masa itu tidak ada satu rumah pun yang

menghimpun anggota-anggota keluarga dalam agama Islam, selain rumah-tangga Rasul Allah

s.a.w. dan Khadijah r.a. "Dan akulah orang ketiga dalam rumah itu. Aku menyaksikan langsung

cahaya wahyu dan risalah serta mencium semerbaknya bau kenabian" demikian kata Imam Ali

r.a.

Ali bin Al Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Imam Ali r.a., melalui sebuah riwayat

memberitahukan kapan datuknya mulai memeluk agama Islam. Ia mengatakan: "Ia beriman

kepada Allah dan Rasul-Nya tiga tahun lebih dulu sebelum orang lain."

Masa Remaja

Dari sejarah hidupnya, sejak usia kanak-kanak langsung menerima asuhan Rasul Allah s.a.w.,

tidak ada keraguan lagi, bahwa Imam Ali r.a. merupakan orang yang paling dini menerima

hidayah Ilahi, paling dulu beriman dan bersujud kepada-Nya. Para peneliti buku-buku riwayat

akan menemukan kenyataan tersebut dan dapat mengetahuinya dengan jelas.

Dalam masa remaja, Imam Ali r.a. sudah aktif membantu da'wah Rasul Allah s.a.w. Menurut

Abdullah bin Abbas, Imam Ali r.a. sendiri pernah menceritakan tentang hal itu sebagai berikut:

"Setelah turun ayat 214 Surah Asy Syura (perintah Allah kepada Rasul-Nya supaya

memperingatkan kaum kerabat yang terdekat), beliau memanggil aku. Kemudian berkata: "Hai

Ali, Allah telah memerintahkan supaya aku memberi peringatan kepada kaum kerabatku yang

terdekat. Aku merasa agak sedih, sebab aku tahu, jika aku berseru kepada mereka

melaksanakan perintah itu, aku akan mengalami sesuatu yang tidak kusukai. Oleh karena itu

aku diam saja sampai datanglah Jibril yang berkata kepadaku, "Hai Muhammad, jika engkau

tidak berbuat seperti yang diperintahkan kepadamu, Tuhan akan menjatuhkan adzab

kepadamu." Oleh karena itu, hai Ali, buatlah makanan. Masaklah paha kambing dan sediakan

untuk kita susu sewadah besar. Setelah itu kumpulkan keluarga Bani Abdul Mutthalib. Mereka

hendak kuajak bicara dan akan kusampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadaku."

"Semua yang diperintahkan beliau kepadaku, kukerjakan segera. Kemudian anggota-anggota

keluarga Bani Abdul Muttalib kuundang supaya hadir. Jumlah mereka yang hadir kurang lebih 40

orang. Di antara mereka itu terdapat para paman Rasul Allah s.a.w., seperti Abu Thalib,

Hamzah, Abbas dan Abu Lahab. Setelah semuanya berkumpul, Rasul Allah s.a.w. memanggilku

dan memerintahkan supaya makanan segera dihidangkan. Hidangan itu kusajikan. Rasul Allah

s.a.w. mengambil sepotong daging, lalu diletakkan kembali pada tepi baki. Beliau

mempersilakan mereka mulai menikmati hidangan: 'Silakan kalian makan, Bismillah!' Mereka semua makan dan minum sekenyang-kenyangnya. Demi Allah, mereka masing-masing makan

dan minum sebanyak yang kuhidangkan."

"Ketika Rasul Allah s.a.w. hendak mulai berbicara beliau didahului oleh Abu Lahab. Abu Lahab

berkata kepada hadirin dengan sinis: "Kalian benar-benar sudah disihir oleh saudara kalian!"

"Karena ucapan Abu Lahab semua yang hadir pergi meninggalkan tempat. Keesokan harinya aku

diperintahkan lagi oleh Rasul Allah s.a.w. supaya mempersiapkan segala sesuatunya seperti

kemarin. Setelah semua makan minum secukupnya, Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepada

mereka: "Hai Bani Abdul Mutthalib. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui ada seorang

pemuda dari kalangan orang Arab, yang datang kepada kaumnya membawa sesuatu yang lebih

mulia daripada yang kubawa kepada kalian. Untuk kalian aku membawa kebajikan dunia dan

akhirat. Allah memerintahkan aku supaya mengajak kalian ke arah itu. Sekarang, siapakah di

antara kalian yang mau membantuku dalam persoalan itu dan bersedia menjadi saudaraku,

penerima wasiatku dan khalifahku?"

"Semua yang hadir bungkam. Hanya aku sendiri yang menjawab: "Aku !" Waktu itu aku seorang

yang paling muda usianya dan masih hijau. Kukatakan lagi: "Ya, Rasul Allah, akulah yang

menjadi pembantumu!" Beliau mengulangi ucapannya dan aku pun mengulangi kembali

pernyataanku. Rasul Allah s.a.w. kemudian memegang tengkukku, seraya berseru kepada

semua yang hadir: "Inilah saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku atas kalian!" Semua

yang hadir berdiri sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka berkata hampir serentak kepada Abu

Thalib: "Hai Abu Thalib! Dia (yakni Muhammad) menyuruhmu supaya taat kepada anakmu!"

Hadits yang senada dengan apa yang dikemukakan Abdullah bin Abbas, juga diriwayatkan oleh

Abu Ja'far At Thabary dalam bukunya "At Tarikh".

Itulah sekelumit riwayat tentang seorang muda remaja yang kemudian hari bakal menjadi

pemimpin ummat Islam. Seorang pemimpin yang dihormati tidak saja oleh kaum muslimin,

tetapi juga oleh para ahludz dzimmah, yaitu kaum Nasrani dan kaum Yahudi yang bersedia

hidup damai di bawah pemerintahan Islam.

Di depan Abu Lahab, orang yang selama ini selalu mengancam-ancam dan menuntut supaya

Rasul Allah s.a.w. menghentikan da'wahnya, Imam Ali r.a. yang masih remaja itu berani

menyatakan dukungan dan bantuannya kepada Nabi Muhammad s.a.w.


Bab II : Lingkungan Keluarga

Pemimpin, yang riwayatnya kita bicarakan ini berasal dari lingkungan keluarga terkemuka

qabilah Qureiys, yaitu Abul Hasan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdi

Manaf bin Qushaiy bin Kilab. Ayah Imam Ali r.a., yakni Abu Thalib, adalah saudara kandung

Abdullah bin Abdul Mutthalib, ayah Nabi Muhammad s.a.w. Jadi, Nabi Muhammad s.a.w. dan

Imam Ali r.a. sama-sama berasal dari satu tulang sulbi seorang datuk: Abdul Mutthalib bin

Hasyim. Jelasnya, baik Rasul Allah s.a.w. maupun Imam Ali r.a., dua-duanya termasuk keluarga

Bani Abdul Mutthalib. Atau jika ditarik lebih ke atas lagi, dua-duanya termasuk keluarga Bani

Hasyim. Dalam sejarah sebutan "keluarga Bani Hasyim" lebih populer dibanding dengan sebutan

"Bani Abdul Mutthalib".

Hingga akhir hayatnya, Abdul Mutthalib merupakan pimpinan tertinggi qabilah Qureiys di

Makkah. Sepeninggal Abdul Mutthalib, Abu Thalib menggantikan kedudukan ayahnya sebagai

pemimpin Qureiys dan kepala kota Makkah. Abu Thalib juga merangkap sebagai pemimpin

terkemuka Bani Hasyim.

Abdul Mutthalib mempunyai 10 orang putera. Tiga di antaranya ialah Abbas, Abu Thalib dan

Abdullah. Nabi Muhammad s.a.w., manusia termulia di dunia, adalah putera Abdullah bin Abdul

Mutthalib. Ia menjadi mundzir (juru ingat) bagi segenap

ummat manusia. Sedang Imam Ali r.a., seorang pemimpin kaum muslimin yang tiada taranya, adalah putera Abu Thalib bin Abdul Mutthalib. Ia jadi penuntun kaum muslimin sedunia.

Imam Ali r.a. mempunyai 3 orang saudara lelaki, yaitu Ja'far, 'Aqil dan Thalib. Di suatu medan

pertempuran di Tabuk, Ja'far gugur sebagai pahlawan dalam perjuangan membela Nabi

Muhammad s.a.w. dan Islam. 'Aqil dikurniai usia panjang hingga sempat mengalami zaman

kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan. Sedang Thalib, anak sulung Abu Thalib, wafat mendahului

saudara-saudaranya.

Ibunda

Nama lengkap ibunda Imam Ali r.a. ialah Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin

Qushaiy bin Kilab. Fatimah binti Asad adalah seorang puteri dari Bani Hasyim yang pertama

bersuamikan seorang berasal dari Bani Hasyim juga. Ia termasuk yang paling dini memeluk

agama Islam, serta memberikan dukungan kepada da'wah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad

s.a.w. Beliau sangat menghargai dan menghormati Fatimah binti Asad, bahkan memanggilnya

dengan sebutan "Bunda" dan dipandang sebagai ibu kandung beliau sendiri.

Pada waktu Fatimah binti Asad wafat, Nabi Muhammad s.a.w. bersembahyang untuk

jenazahnya. Di saat pemakamannya, Nabi Muhammad s.a.w. turun sendiri ke liang lahad dan

setelah jenazahnya diselimuti dengan baju beliau, beliau berbaring sejenak di samping

jenazahnya.

Mengetahui hal itu, beberapa orang sahabat sambil keheran-heranan bertanya: "Ya Rasul Allah,

kami tidak pernah melihat anda berbuat seperti itu terhadap orang lain!"

"Tak seorangpun sesudah Abu Thalib yang kupatuhi selain dia", jawab Nabi Muhammad s.a.w.

dengan segera. "Kuselimutkan bajuku, agar kepadanya diberi pakaian indah di dalam sorga, Aku

berbaring di sampingnya, agar ia terhindar dari jepitan dan tekanan kubur."

Ayahanda

Ayahanda Imam Ali r.a. adalah seorang pemimpin Qureisy. Ia sangat terpandang, dicintai,

dihormati dan disegani oleh penduduk Makkah. Beliau dihormati bukan semata-mata karena

kedudukannya, tetapi lebih-lebih karena budi pekertinya yang luhur, jiwanya yang besar,

kepribadiannya yang tinggi dan tindakannya yang senantiasa adil. Satu pribadi yang

mengungguli semua orang pada zamannya. Baik dalam soal kesanggupannya, kemantapannya

maupun dalam kegigihannya membela sesuatu yang diyakininya benar.

Tentang kesanggupan, kemantapan dan kegigihan Abu ThalIib dapat disaksikan dari

penampilan-penampilan beliau menghadapi orang-orang kafir Qureiys. Dengan kekuatan sendiri

ia memikul beban membela Nabi Muhammad s.a.w. dari tantangantantangan dan perlawanan

orang-orang Qureiys. Satu beban yang tak pernah dipikul oleh paman-paman serta keluarga

atau kerabat Nabi Muhammad s.a.w. yang lain. Penilaian yang semacam itu terhadap Abu

Thalib, diterima bulat oleh para sejarawan dari segala mazhab.

Abu Thalib adalah orang yang teguh berdiri membentengi Nabi Muhammad s.a.w. dari segala

bentuk rongrongan komplotan kafir Qureiys. Abu Thalib berbuat demikian didorong oleh

pandangannya yang luas, penglihatan hati dan fikirannya yang tajam, tekad serta semangatnya

yang tak terpatahkan.

Hal ini tercermin pula ketika untuk pertama kalinya Abu Thalib melihat puteranya, Imam Ali

r.a., secara diam-diam bersembahyang di belakang Rasul Allah s.a.w. Diamatinya putera yang

masih muda belia itu telah menjadi pengikut Nabi Muhammad s.a.w. Diperhatikan pula

puteranya itu tidak gelisah bersembahyang meskipun dilihat ayahnya.

Malahan Imam Ali r.a. setelah mengetahui ayahnya melihat ia bersembahyang di belakang Rasul

Allah, segera menghadap kepadanya, kemudian berkata: "Ayah, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku mempercayai dan membenarkan agama yang dibawa olehnya dan aku

bertekad hendak mengikuti jejaknya!"

Mendengar pernyataan puteranya yang terus terang tanpa dibikin-bikin, Abu Thalib berkata:

"Sudah pasti ia mengajakmu ke arah kebajikan, oleh karena itu tetaplah engkau bersama dia!"

Lain kali Abu Thalib melihat puteranya sedang berdiri di sebelah kanan Nabi Muhammad s.a.w.

yang siap menunaikan sembahyang. Dari kejauhan Abu Thalib melihat puteranya yang seorang

lagi yaitu Ja'far. Ja'far segera dipanggil, kemudian diperintahkan: "Bergabunglah engkau

menjadi sayap putera pamanmu di sebelah kiri, dan bersembahyanglah bersama dia!"

Abu Thalib seorang pemimpin yang mempunyai kebijaksanaan tinggi. Ia tidak bersitegang leher

mempertahankan kebekuan zaman dan tidak menghalang-halangi hadirnya masa mendatang

yang lebih cemerlang. Kebijaksanaan yang tinggi itu tercermin benar dari wasiyat yang

diucapkannya pada detik-detik menjelang ajalnya, ditujukan kepada orang-orang Qureiys:

"…Wahai orang-orang Qureiys. Kuwasiatkan agar kalian senantiasa mengagungkan rumah itu

(Ka'bah). Sebab di sanalah tempat keridhoan Tuhan dan sekaligus juga merupakan tiang

penghidupan… Eratkanlah hubungan silaturrahmi, janganlah sekali-kali kalian putuskan.

Jauhilah perbuatan dzalim… Betapa banyaknya sudah generasi-generasi terdahulu hancur

binasa karena dzalim...!

"Wahai orang-orang Qureiys. Sambutlah dengan baik orang yang mengajak ke jalan yang benar,

dan berikanlah pertolongan kepada setiap orang yang membutuhkan... Sebab dua perbuatan

terpuji itu merupakan kemuliaan bagi seseorang, selagi ia masih hidup dan sesudah mati…

Hendaknya kalian selalu berkata benar dan setia menunaikan amanat…!

"Kuwasiatkan kepada kalian supaya berlaku baik terhadap Muhammad. Sebab ia orang yang

paling terpercaya di kalangan Qureiys dan tidak pernah berdusta…!

"Apa yang kuwasiatkan kepada kalian, semuanya telah terhimpun padanya. Kepada kita ia

datang membawa missi yang sebenarnya dapat diterima oleh hati-sanubari, tetapi diingkari

dengan ujung lidah, hanya karena takut akan tidak disukai orang lain. Demi Allah, aku seakanakan

dapat melihat bahwa orang-orang Arab lapisan bawah, orang-orang yang hidup terluntalunta,

dan orang-orang yang lemah tidak berdaya, sudah siap menyambut baik seruannya,

membenarkan tutur-katanya, dan menjunjung tinggi missi yang di bawanya. Bersama mereka

itulah Muhammad mengarungi ancaman gelombang maut!

"Namun aku juga seolah-olah sudah melihat, bahwa orang-orang Arab akan dengan tulus hati

mengikhlaskan kecintaan mereka dan mempercayakan kepemimpinan kepadanya."

"Demi Allah, barang siapa yang mengikuti jejak langkahnya, ia pasti akan menemukan jalan

yang benar. Dan barang siapa yang mengikuti petunjuk serta bimbingannya, ia pasti selamat!"

"Seandainya aku masih mempunyai sisa umur, semua rong-rongan yang mengganggu dia, pasti

akan kuhentikan dan kucegah, dan ia pasti akan kuhindarkan dari tiap marabahaya yang akan

menirnpanya…"

Wasiat yang gamblang itu tidak memerlukan ulasan lagi. Dari wasiyat yang diucapkan sesaat

sebelum ajalnya datang, orang dapat mengambil kesimpulan sendiri, siapa sebenarnya Abu

Thalib itu, bagaimana sikapnya terhadap Nabi Muhammad s.a.w. dan sejauh mana pandangan

dan fikirannya terhadap Islam.

Sikap, pandangan dan fikiran yang sangat positif itulah yang memberi kesanggupan kepadanya

untuk mencurahkan seluruh hidupnya melindungi pembawa da'wah yang mengajak manusia ke jalan yang benar.

Abu Thalib bukan hanya mengenal kebenaran Nabi Muhammad s.a.w., tetapi juga mengenal

pribadi beliau dengan baik. Ia paman beliau, pengasuh dan pemelihara beliau sejak kanakkanak

sampai dewasa. Dalam waktu yang amat panjang, Abu Thalib menyaksikan sendiri

bagaimana praktek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w. sehari-hari. Abu Thalib rindu sekali ingin

melihat hakekat kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Hatinya pedih dan kesal

menyaksikan kaumnya menyia-nyiakan akal fikiran dan hidup mereka di depan tumpukan batu,

yang dianggapnya sebagai sesembahan dan tuhan-tuhan.

Dengan tangguh Abu Thalib menghadapi tantangan-tantangan kafir Qureiys serta menggagalkan

rencana-rencana jahat yang mereka tujukan terhadap Rasul Allah s.a.w. Ketika orang-orang

kafir Qureiys sudah merasa putus asa dan tidak sanggup lagi membendung da'wah risalah Nabi

Muhammad s.a.w., dan tidak berdaya lagi menggertak Abu Thalib supaya menghentikan

perlindungan dan pembelaannya kepada Rasul Allah s.a.w., maka tokoh-tokoh mereka

mengambil keputusan: melancarkan blokade dan pemboikotan total terhadap semua orang Bani

Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib.

Blokade dan pemboikotan total yang demikian itu adalah cara-cara yang di cela oleh tradisi dan

moral bangsa Arab sendiri. Tetapi bagi kaum kafir Qureiys, itu bukan soal. Yang penting, tujuan

harus tercapai. Segala cara atau jalan mereka halalkan demi tujuan.

Blokade kafir Qureiys itu ternyata lebih mendorong orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul

Mutthalib untuk bertambah cenderung dan berfihak kepada Abu Thalib. Orang-orang Bani

Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib berhimpun dalam sebuah Syi'ib (lembah di antara dua bukit).

Dengan semangat baja mereka hadapi kepungan ketat serta pemboikotan total di bidang

ekonomi dan sosial. Selama lebih kurang 3 tahun mereka menahan penderitaan dan kelaparan.

Mereka sampai terpaksa menelan dedaunan sekedar untuk mengganjel perut yang lapar.

Selama masa yang penuh derita dan sengsara itu, Abu Thalib tetap tegak berdiri laksana gunung

raksasa yang kokoh-kuat, tak tergoyahkan oleh gelombang badai dan tiupan angin ribut.

Dengan tegas Abu Thalib menolak setiap kompromi dan tawar-menawar yang diajukan oleh

orang-orang kafir Qureiys. Penolakkannya itu diucapkan dengan bait-bait syair. Inilah di antara

syair-syair tersebut :

"Sadarlah kalian, sadarlah,

sebelum banyak liang digali orang,

dan orang-orang tak bersalah diperlakukan sewenang-wenang.

Janganlah kalian ikuti perintah orang jahat tiada berakhlaq

untuk memutuskan tali persahabatan

dan persaudaraan dengan kita.

Demi Tuhan Penguasa Ka'bah,

Kami tak akan menyerahkan Muhammad ke dalam marabahaya

yang dirajut orang-orana penentang zaman,

sebelum terbedakan mana leher kami dan mana leher kalian,

dan sebelum tangan berjatuhan ditebas pedang mengkilat tajam!"

Ya… benarlah. Jika Abu Thalib sudah mempercayai suatu kebenaran, kepercayaannya itu benar benar

keras dan mantap. Sekeras dan semantap kepercayaan yang diwariskan kepada putera

bungsunya, Imam Ali r.a., bahkan sampai kepada anak cucu keturunan Imam Ali r.a.!

Abu Thalib bergerak membela Nabi Muhammad s.a.w. bukan disebabkan karena beliau putera

saudaranya sendiri. Abu Thalib menyingsingkan lengan baju, karena Nabi Muhammad s.a.w.

seorang yang menyerukan kebenaran dan mengajak manusia ke arah kebajikan! Ia membela kebenaran dan bukan membela kekerabatan. Ia menentang dan melawan saudaranya sendiri,

Abu Lahab, karena ia tahu, Abu Lahab berada di atas kebatilan.

Tentang betapa adil dan jujurnya Abu Thalib dapat pula disaksikan dari peristiwa berikut. Pada

suatu hari Rasul Allah s.a.w. memberitahukan kepada Abu Thalib, bahwa naskah pemboikotan

yang ditempelkan oleh orang-orang kafir Qureiys pada dinding Ka'bah sudah hancur di makan

rayap, sehingga tak ada lagi bagian yang tinggal selain yang bertuliskan: "Dengan Nama Allah."

Setelah mendengar keterangan Rasul Allah s.a.w., Abu Thalib segera mendatangi sejumlah

tokoh Qureiys. Kepada tokoh-tokoh kafir Qureiys itu, Abu Thalib berkata dengan lantang: "Hai

orang-orang Qureiys, putera saudaraku telah memberitahu kepadaku, bahwa naskah

pemboikotan yang kalian tulis dan kalian gantungkan pada Ka'bah, sekarang sudah hancur.

Tengoklah naskah kalian itu! Kalau benar terjadi seperti apa yang dikatakan oleh Muhammad,

hentikanlah pemboikotan kalian terhadap kami. Tetapi jika Muhammad ternyata berdusta, ia

akan kuserahkan kepada kalian!"

Abu Thalib mengatakan semuanya itu hanya berdasarkan kepercayaan yang penuh kepada Nabi

Muhammad s.a.w. Ia sendiri belum pernah melihat bagaimana keadaan naskah yang tergantung

pada dinding Ka'bah.

Tokoh-tokoh Qureiys merasa puas dengan kesediaan Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad

s.a.w., bila terbukti beliau berdusta. Mereka segera pergi menuju Ka'bah untuk menengok

naskah pemboikotan dan ternyata benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad s.a.w. Tokohtokoh

kafir Qureiys lemas, tak berdaya dan terpaksa mengumumkan penghentian pemboikotan

pada hari itu juga. Aksi komplotan mereka berakhir dengan kegagalan.

Dari peristiwa tersebut Abu Thalib memperoleh pembuktian langsung dari Allah s.w.t. tentang

benarnya kepercayaan yang selama ini dipertahankan dan dijaganya baik-baik. Pembuktian

yang didapatnya sebagai mu'jizat Rasul Allah s.a.w. itu datang dari kekuasaan Allah dan bukan

datang dari seorang famili yang harus diikuti.

Jauh sebelum kejadian di atas, orang-orang kafir Qureiys sudah berkali-kali menghimbau Abu

Thalib baik dengan bujuk rayu, maupun dengan ancaman kekerasan. Orang-orang kafir Qureiys

pernah mengancam Abu Thalib dengan kata-kata:

"Hai Abu Thalib, engkau orang yang sudah lanjut usia, terhormat dan mempunyai kedudukan

terpandang… Kami telah berkali-kali meminta kepadamu supaya engkau melarang putera

saudaramu terus menerus berda'wah, tetapi engkau tidak mau melarangnya… Kami tidak dapat

lagi menahan kesabaran mendengar orangtua kami dicerca, tuhan-tuhan kami dicela, dan

orang-orang arif kami dijelek-jelekkan... Silakan engkau pilih… Apakah engkau bersedia

mencegah Muhammad supaya tidak terus menerus menyerang kami, atau, kamilah yang akan

bertindak memerangi dia, termasuk engkau sekaligus, sampai salah satu fihak binasa…"

Mendengar ancaman itu, Abu Thalib bukannya menjadi mundur dalam membela kebenaran Nabi

Muhammad s.a.w., malahan justru bertambah teguh pendiriannya, semakin tinggi semangatnya

dan merasa lebih mampu memberikan tamparan keras terhadap muka orang Qureiys yang sudah

semakin nekad. Melalui syairnya dengan tegas Abu Thalib menjawab:

"Aku tahu bahwa agama Muhammad, agama terbaik bagi segenap manusia. Demi Allah, hai

Muhammad, mereka tak akan dapat menyentuhmu, sebelum aku terkapar berkalang tanah."

Pada suatu hari Abu Thalib sedang duduk santai di rumah. Tiba-tiba datang Rasul Allah s.a.w.

kelihatan sedih dan kesal. Setelah duduk, Rasul Allah s.a.w. segera menyampaikan

persoalannya. Mendengar keterangan beliau, Abu Thalib segera mengerti, bahwa orang-orang

kafir Qureiys telah berhasil membujuk salah seorang yang berperangai jahat di kalangan mereka melemparkan kotoran ternak dan gumpalan darah beku ke atas kepala Rasul Allah

s.a.w. Pelemparan itu dilakukan, di saat Nabi Muhammad s.a.w. sedang sujud bermunajat ke

hadirat Allah s.w.t.

Dengan tidak menunggu waktu lagi Abu Thalib bangkit. Dengan tangan kanan membawa pedang

terhunus dan tangan kiri menggandeng Nabi Muhammad s.a.w., ia berangkat mendatangi

gerombolan Qureiys yang telah mengganggu Nabi Muhammad s.a.w. Setiba di depan

gerombolan itu, Abu Thalib berhenti sejenak. Diperhatikannya gerak-gerik gerombolan itu.

Seorang demi seorang mereka mundur. Rupanya di luar perkiraan mereka, bahwa Nabi

Muhammad s.a.w. akan datang kembali bersama pamannya.

Abu Thalib terus berteriak kepada gerombolan itu: "Demi Allah, yang Muhammad beriman

kepada-Nya. Jika ada seorang dari kalian yang berani melawan, akan kupersingkat umurnya

dengan pedang ini!"

Setelah itu Abu Thalib dengan tangannya sendiri membersihkan tubuh Nabi Muhammd s.a.w.

dari kotoran ternak dan darah. Semua kotoran itu dikumpulkan, digenggam, lalu dilemparkan

ke wajah orang-orang Qureiys yang sedang siap hendak lari. Di hadapan Abu Thalib kelihatan

sekali kekerdilan gerombolan itu.

Dalam membela dan melindungi Rasul Allah s.a.w. dari marabahaya keteguhan Abu Thalib

dapat diandalkan benar. Keteguhannya itu tercermin juga dari syair-syair yang diucapkannya

sendiri:

Janganlah kalian sulut api pengobar perang,

Yang akibat-pahitnya akan ditelan semua orang!

Demi Allah, Muhammad tak nanti 'kan kuserahkan

Kepada tangan pencetus bencana mengerikan.

Kenalkah kalian siapa Hasyim,

Ksatria yang pernah berpesan,

Agar kami berani berperang dengan semangat jantan?

Kami bukan pejuang-pejuang yang jemu perang,

Tak'kan kami sesali yang gugur di medan juang!

Kubela Rasul, utusan Penguasa Maha Kuasa,

Pembawa amanat berkilauan laksana kilat bercahaya,

Kubela dan kulindungi utusan Tuhan Ilahi,

Karena ia manusia kesayanganku sendiri,

Kulindungi ia dari serangan musuh-musuhnya,

Laksana gadis kulindungi dari gangguan pria!

Hai Abu Ya'la,

Teguh dan sabarlah dalam agama Muhammad,

Nyatakan dirimu terang-terangan sebagai muslim yang mantap,

Bulatkan tekad mendampingi pembawa kebenaran Tuhan,

Betapa riang hatiku mendengar engkau beriman,

Janganlah engkau menjadi kafir tidak bertuhan,

Jadikan dirimu pembela Rasul dan pembela Tuhan,

Tunjukkan agamamu di mata Qureiys terang-terangan,

Katakanlah: Muhammad Saw bukan si tukang sihir!

Datukanda

Pada waktu jemaah haji berjubel tiap tahun di sekitar sumur Zamzam, tentu mereka teringat

kepada nama seorang terhormat yang dikagumi rakyatnya. Nama seorang yang dengan tangan

dan keringat sendiri menggali sumur itu hingga airnya memancar, setelah sekian abad lamanya

tertutup. Sumur Zamzam tak dapat dipisahkan dari nama Abdul Mutthalib.

Pada satu malam, di kala Abdul Mutthalib sedang tidur, jiwanya yang putih bersih menyongsong

suara orang berseru: "Galilah Thaibah!" Abdul Mutthalib terjaga. Ia tak mengerti takwil

mimpinya. Pada malam berikutnya orang yang bersuara itu muncul kembali dalam mimpi.

"Galilah barrah!".

Abdul Mutthalib terbangun. Ia masih tak dapat memahami apa yang harus dilakukan. Pada

malam ketiga, sekali lagi ia mendengar suara itu di dalam mimpi: "Galilah Zamzam!" Abdul

Mutthalib bertanya: "Apakah arti Zamzam?" orang yang berseru itu menjelaskan: "Ia tidak

kunjung kering dan tak berkurang airnya, sanggup memberi minum kepada jemaah haji betapa

pun besar jumlahnya!" Kemudian ditunjukkan tempatnya.

Pagi-pagi buta, dengan disertai puteranya, Al Harits, ia berangkat menuju letak sumur yang

ditunjuk dalam mimpi. Bersama puteranya ia bekerja menggali. Tak lama kemudian memancar

air dari sumber yang abadi. Sebenarnya tempat itu dahulunya merupakan sumur. Hanya dalam

kurun waktu yang panjang telah tertimbun oleh batu-batu besar dan pasir. Dahulu kala sumur

itu merupakan kurnia Allah s.w.t. kepada Nabi Isma'il a.s. bersama bundanya.

Abdul Mutthalib atau Syaibah (nama aslinya) adalah seorang yang mempunyai type cemerlang.

Sukar ditemukan bandingannya. Keharuman namanya menjadi buah bibir orang di segenap

penjuru gurun sahara Semenanjung Arabia. Karena banyak pekerjaan terpuji yang

dilakukannya, sehingga ia disebut dengan nama panggilan "Syaibatul Hamd". Bahkan banyak

yang menyebutnya sebagai "Pemberi makan manusia di dataran dan pengumpan margasatwa di

pegunungan!"

Abdul Mutthalib seorang yang memiliki kebijaksanaan yang luas dan iman yang dalam. Hal ini

tercermin dengan jelas, tatkala Abrahah datang ke Makkah membawa pasukan yang luar biasa

besarnya guna menghancurkan Ka'bah. Setelah Abdul Mutthalib mengetahui bahwa kaumnya

tidak sanggup menghadapi pasukan penyerbu, maka diperintahkan supaya masing-masing pergi

mengungsi ke daerah-daerah pegunungan. Tinggalkan kota Makkah sebagai kota kosong. Anak

dan isteri serta hak miliknya masing-masing supaya dibawa. Mengenai keselamatan Ka'bah

diserahkan kepada Pemilik rumah suci itu.

Pada suatu hari, Abdul Mutthalib pergi menemui Abrahah. Ketika Abdul Mutthalib ditanya oleh

Abrahah tentang maksud kedatangannya, Abdul Mutthalib dengan tegas menjawab: "Aku datang

kepada tuan untuk meminta kembali unta-untaku yang tuan ambil."

Abrahah menyatakan keheranannya karena Abdul Mutthalib sebagai penguasa Makkah tidak

memikirkan Ka'bah yang akan dihancurkannya itu, tetapi hanya memikirkan unta-untanya saja.

Guna menghilangkan keheranan Raja Yaman itu, Abdul Mutthalib dengan jelas mengatakan,

bahwa unta-unta yang kalian ambil adalah milikku, sedang Ka'bah yang hendak dihancurkan itu

mempunyai pemiliknya sendiri yang akan melindungi keselamatannya.

Itulah pendirian seorang yang benar-benar berketuhanan. Seorang yang hidup di tengah-tengah

gelombang penyembahan berhala. Jiwa dan hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh perasaan

halus yang tersembunyi, yang mengakui dengan haqqul yakin, bahwa di sana terdapat Tuhan

Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha Kuasa.

Kemurnian iman Abdul Mutthalib tampak jelas sekali. Walaupun ia tahu, bahwa di sekitar

Ka'bah bercokol 300 buah lebih berhala, tidak kepada sebuah berhala pun ia meminta

pertolongan guna menyelamatkan Ka'bah. Ia tidak meminta kepada si Hubal, tidak kepada Laat

dan tidak pula kepada si Uzza! Meskipun tidak ada jarak pemisah antara berhala-berhala itu

dengan Ka'bah, Abdul Mutthalib sama sekali tidak sudi meminta sesuatu kepada patung

sembahan jahiliyah itu!

Tidak lain ia hanya memohon kepada Allah, tunduk dan khusuk kepada-Nya, serta hanya mau

berlindung kepada Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, sesuai dengan isyarat yang diberikan oleh

perasaan halus yang tersembunyi di dalam hati nuraninya: "Ya Tuhan, tiap orang

mempertahankan rumahnya, oleh karena itu pertahankanlah Rumah-Mu!" Alangkah sederhana

dan mantapnya doa seperti itu.

Doa Abdul Mutthalib ternyata bukan seperti melempar batu ke lubuk. Pukulan yang mematikan

dialami oleh balatentara Abrahah. Dengan suatu "pasukan" yang paling lemah berupa burungburung

Ababil, Allah s.w.t. menghancurkan mereka. Burung-burung menyebarkan maut di

kalangan balatentara Abrahah. Bangkai mereka bergelimpangan menjadi cerita sejarah.

Sifat pasrah diri Abdul Mutthalib kepada Allah seperti di atas seakan-akan kekanak-kanakan.

Sungguh tidaklah demikian. Pasrah diri Abdul Mutthalib bukan pasrah diri orang yang sama

sekali tak berdaya, melainkan karena keyakinan imannya, bahwa di sana ada Allah Maha Kuasa,

Tuhan yang senantiasa berada di belakang setiap gerak dan perbuatan. Abdul Mutthalib yakin,

sesuatu yang tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan kebajikan yang ada pada manusia akan

ditentukan persoalannya oleh Dia sendiri Yang Maha Kuasa. Sungguh, suatu kepasrahan yang

sangat polos, indah dan murni.

Melalui Abdul Mutthalib Allah s.w.t. melimpahkan kemudahan dan keberkahan kepada

penduduk Makkah. Lebih dari satu kali langit dan udara Makkah sedemikian gersangnya. Tidak

setetes air hujan pun yang turun membasahi bumi. Hampir saja penduduk mati kekeringan dan

dilanda paceklik amat berat. Pada saat yang berat itu, penduduk mendatangi Abdul Mutthalib.

Abdul Mutthalib mengajak mereka berbondong-bondong menuju sebuah puncak bukit. Di

puncak bukit itulah dengan khusyu' Abdul Mutthalib berdoa: "Ya Tuhan, mereka itu adalah

hamba-hamba-Mu. Engkau mengetahui apa yang sedang menimpa kami semua. Oleh karena itu

jauhkanlah kegersangan dari kami, turunkanlah hujan membawa rahmat dan berkah,

menumbuhkan tetanaman, memberi kehidupan dan penghidupan."

Iman Abdul Mutthalib kelihatannya memang lain dari yang yang lain. Iman seorang yang hidup

di masa penyembahan berhala masih menjadi agama peribadatan di mana-mana. Namun Abdul

Mutthalib mengenal Allah melalui setiap nikmat yang terlimpah kepadanya dan dari tiap

langkah yang berhasil ditempuhnya.

Ketika ia mendengar kelahiran cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., segera diemban dan dibawa

masuk ke dalam Ka'bah. Disana ia memanjatkan puji syukur dalam bentuk syair:

"Puji syukur bagi Allah yang mengaruniakan kepadaku,

seorang anak yang baik susunan bentuknya ini,

selagi dalam buaian ia mengungguli anak yang lain.

Ia kulindungkan pada Tuhan Maha Perkasa

sampai kusaksikan masa dewasanya."

Abdul Mutthalib ditunjukkan oleh penglihatan batinnya sendiri, sehingga dapat mengetahui

bahwa anak yang baru lahir itu akan memainkan peranan besar di kemudian hari. Oleh karena

itu ia mencintai Nabi Muhammad s.a.w. melebihi kecintaan yang diberikannya kepada

siapapun.

Tiap kali Abdul Mutthalib bertemu dengan Abu Thalib, tangan puteranya itu selalu ditarik,

kemudian dilekatkan pada tangan cucunya, Nabi Muhammad s.a.w., sambil berkata: "Hai Abu

Thalib, di kemudian hari anak ini akan mempunyai kedudukan, oleh karena itu jagalah dia baikbaik.

Jangan kaubiarkan ada sesuatu yang tidak baik menyentuhnya!"

Amanat ayahnya dipenuhi dengan baik oleh Abu Thalib. Ia jaga dan pelihara putera saudaranya

itu sebagaimana mestinya. Ia mengasuh anak itu sesuai dengan kematangan berfikirnya, ketinggian martabat keturunannya dan kebesaran sifat keutamaannya.

Abdul Mutthalib adalah datukanda Nabi Muhammd s.a.w., juga datukanda Imam Ali r.a.

Setelah keluarga besar itu ditinggal wafat oleh Abdul Mutthalib dan Abu Thalib, Imam Ali r.a.

sebagai cucu Abdul Mutthalib dan putera Abu Thalib mewarisi budi pekerti luhur dan kebesaran

jiwa yang sukar ditemukan bandingannya. Ia benar-benar mewarisi dua hal sekaligus: akhlaq

utama dan darah mulia.


Bab III : Rumah Tangga Serasi

Lahirnya Sitti Fatimah Azzahra r.a. merupakan rahmat yang dilimpahkan llahi kepada Nabi

Muhammad s.a.w. Ia telah menjadi wadah suatu keturunan yang suci. Ia laksana benih yang

akan menumbuhkan pohon besar pelanjut keturunan Rasul Allah s.a.w. Ia satu-satunya yang

menjadi sumber keturunan paling mulia yang dikenal umat Islam di seluruh dunia. Sitti Fatimah

Azzahra r.a. dilahirkan di Makkah, pada hari Jumaat, 20 Jumadil Akhir, kurang lebih lima tahun

sebelum bi'tsah.

Sitti Fatimah Azzahra r.a. tumbuh dan berkembang di bawah naungan wahyu Ilahi, di tengah

kancah pertarungan sengit antara Islam dan Jahiliyah, di kala sedang gencar-gencarnya

perjuangan para perintis iman melawan penyembah berhala.

Dalam keadaan masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. sudah harus mengalami

penderitaan, merasakan kehausan dan kelaparan. Ia berkenalan dengan pahit getirnya

perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. Lebih dari tiga tahun ia bersama ayah

bundanya hidup menderita di dalam Syi'ib, akibat pemboikotan orang-orang kafir Qureiys

terhadap keluarga Bani Hasyim.

Setelah bebas dari penderitaan jasmaniah selama di Syi'ib, datang pula pukulan batin atas diri

Sitti Fatimah Azzahra r.a., berupa wafatnya bunda tercinta, Sitti Khadijah r.a. Kabut sedih

selalu menutupi kecerahan hidup sehari-hari dengan putusnya sumber kecintaan dan kasih

sayang ibu.

Puteri Kesayangan

Rasul Allah s.a.w. sangat mencintai puterinya ini. Sitti Fatimah Azzahra r.a. adalah puteri

bungsu yang paling disayang dan dikasihani junjungan kita Rasul Allah s.a.w. Nabi Muhammad

s.a.w. merasa tak ada seorang pun di dunia yang paling berkenan di hati beliau dan yang paling

dekat disisinya selain puteri bungsunya itu.

Demikian besar rasa cinta Rasul Allah s.a.w. kepada puteri bungsunya itu dibuktikan dengan

hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Menurut hadits tersebut Rasul Allah s.a.w. berkata

kepada Imam Ali r.a. demikian:

"Wahai Ali! Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dari aku. Dia adalah cahaya mataku dan buah

hatiku. Barang siapa menyusahkan dia, ia menyusahkan aku dan siapa yang menyenangkan dia,

ia menyenangkan aku…"

Pernyataan beliau itu bukan sekedar cetusan emosi, melainkan suatu penegasan bagi umatnya,

bahwa puteri beliau itu merupakan lambang keagungan abadi yang ditinggalkan di tengah

ummatnya.

Di kala masih kanak-kanak Sitti Fatimah Azzahra r.a. menyaksikan sendiri cobaan yang dialami

oleh ayah-bundanya, baik berupa gangguan-gangguan, maupun penganiayaan-penganiayaan

yang dilakukan orang-orang kafir Qureiys. Ia hidup di udara Makkah yang penuh dengan debu

perlawanan orang-orang kafir terhadap keluarga Nubuwaah, keluarga yang menjadi pusat iman,

hidayah dan keutamaan. Ia menyaksikan ketangguhan dan ketegasan orang-orang mukminin

dalam perjuangan gagah berani menanggulangi komplotan-komplotan Qureiys. Suasana perjuangan itu membekas sedalam-dalamnya pada jiwa Sitti Fatimah Azzahra r.a. dan

memainkan peranan penting dalam pembentukan pribadinya, serta mempersiapkan kekuatan

mental guna menghadapi kesukaran-kesukaran di masa depan.

Setelah ibunya wafat, Sitti Fatimah Azzahra r.a. hidup bersama ayahandanya. Satu-satunya

orang yang paling dicintai. Ialah yang meringankan penderitaan Rasul Allah s.a.w. tatkala

ditinggal wafat isteri beliau, Sitti Khadijah. Pada satu hari Sitti Fatimah Azzahra r.a.

menyaksikan ayahnya pulang dengan kepala dan tubuh penuh pasir, yang baru saja dilemparkan

oleh orang-orang Qureys, di saat ayahandanya itu sedang sujud. Dengan hati remuk-redam

laksana disayat sembilu, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkan kepala dan tubuh

ayahandanya. Kemudian diambilnya air guna mencucinya. Ia menangis tersedu-sedu

menyaksikan kekejaman orang-orang Qureisy terhadap ayahnya.

Kesedihan hati puterinya itu dirasakan benar oleh Nabi Muhammad s.a.w. Guna menguatkan

hati puterinya dan meringankan rasa sedihnya, maka Nabi Muhammad s.a.w., sambil membelaibelai

kepala puteri bungsunya itu, berkata: "Jangan menangis..., Allah melindungi ayahmu dan

akan memenangkannya dari musuh-musuh agama dan risalah-Nya"

Dengan tutur kata penuh semangat itu, Rasul Allah s.a.w. menanamkan daya-juang tinggi ke

dalam jiwa Sitti Fatimah r.a., dan sekaligus mengisinya dengan kesabaran, ketabahan serta

kepercayaan akan kemenangan akhir. Meskipun orang-orang sesat dan durhaka seperti kafir

Qureiys itu senantiasa mengganggu dan melakukan penganiayaan-penganiayaan, namun Nabi

Muhammad s:a.w. tetap melaksanakan tugas risalahnya.

Pada ketika lain lagi, Sitti Fatimah r.a. menyaksikan ayahandanya pulang dengan tubuh penuh

dengan kotoran kulit janin unta yang baru dilahirkan. Yang melemparkan kotoran atau najis ke

punggung Rasul Allah s.a.w. itu Uqbah bin Mu'aith, Ubaiy bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf.

Melihat ayahandanya berlumuran najis, Sitti Fatimah r.a. segera membersihkannya dengan air

sambil menangis.

Nabi Muhammad rupanya menganggap perbuatan ketiga kafir Qureiys ini sudah keterlaluan.

Karena itulah maka pada waktu itu beliau memanjatkan doa kehadirat Allah s.w.t.: "Ya Allah

celakakanlah orang-orang Qureiys itu. Ya Allah, binasakanlah 'Uqbah bin Mu'aith. Ya Allah

binasakanlah Ubay bin Khalaf dan Umayyah bin Khalaf"

Masih banyak lagi pelajaran yang diperoleh Sitti Fatimah dari penderitaan ayahandanya dalam

perjuangan menegakkan kebenaran Allah. Semuanya itu menjadi bekal hidup baginya untuk

menghadapi masa mendatang yang berat dan penuh cobaan. Kehidupan yang serba berat dan

keras di kemudian hari memang memerlukan mental gemblengan.

Hijrah ke Madinah

Tepat pada saat orang-orang kafir Qureiys selesai mempersiapkan komplotan terror untuk

membunuh Rasul Allah s.a.w., Madinah telah siap menerima kedatangan beliau. Nabi

Muhammad meninggalkan kota Makkah secara diam-diam di tengah kegelapan malam. Beliau

bersama Abu Bakar Ash Shiddiq meninggalkan kampung halaman, keluarga tercinta dan sanak

famili. Beliau berhijrah, seperti dahulu pernah juga dilakukan Nabi Ibrahim as. dan Musa a.s.

Di antara orang-orang yang ditinggalkan Nabi Muhammad s.a.w. termasuk puteri kesayangan

beliau, Sitti Fatimah r.a. dan putera paman beliau yang diasuh dengan kasih sayang sejak kecil,

yaitu Imam Ali r.a. yang selama ini menjadi pembantu terpercaya beliau.

Imam Ali r.a. sengaja ditinggalkan oleh Nabi Muhammad untuk melaksanakan tugas khusus:

berbaring di tempat tidur beliau, guna mengelabui mata komplotan Qureiys yang siap hendak

membunuh beliau. Sebelum Imam Ali r.a. melaksanakan tugas tersebut, ia dipesan oleh Nabi

Muhammad s.a.w. agar barang-barang amanat yang ada pada beliau dikembalikan kepada pemiliknya masing-masing. Setelah itu bersama semua anggota keluarga Rasul Allah s.a.w.,

segera menyusul berhijrah.

Imam Ali r.a. membeli seekor unta untuk kendaraan bagi wanita yang akan berangkat hijrah

bersama-sama. Rombongan hijrah yang menyusul perjalanan Rasul Allah s.a.w. terdiri dari

keluarga Bani Hasyim dan dipimpin sendiri oleh Imam Ali r.a. Di dalam rombongan Imam Ali r.a.

ini termasuk Sitti Fatimah r.a., Fatimah binti Asad bin Hasyim (ibu Imam Ali r.a.), Fatimah binti

Zubair bin Abdul Mutthalib dan Fatimah binti Hamzah bin Abdul Mutthalib. Aiman dan Abu

Waqid Al Laitsiy, ikut bergabung dalam rombongan.

Rombongan Imam Ali r.a. berangkat dalam keadaan terburu-buru. Perjalanan ini tidak

dilakukan secara diam-diam. Abu Waqid berjalan cepat-cepat menuntun unta yang dikendarai

para wanita, agar jangan terkejar oleh orang-orang kafir Qureiys. Mengetahui hal itu, Imam Ali

r.a. segera memperingatkan Abu Waqid, supaya berjalan perlahan-lahan, karena semua

penumpangnya wanita. Rombongan berjalan melewati padang pasir di bawah sengatan terik

matahari.

Imam Ali r.a., sebagai pemimpin rombongan, berangkat dengan semangat yang tinggi. Beliau

siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal dilakukan orang-orang kafir Qureiys terhadap

rombongan. Ia bertekad hendak mematahkan moril dan kecongkakan mereka. Untuk itu ia siap

berlawan tiap saat.

Mendengar rombongan Imam Ali r.a. berangkat, orang-orang Qureiys sangat penasaran. Lebihlebih

karena rombongan Imam Ali r.a. berani meninggalkan Makkah secara terang-terangan di

siang hari. Orang-orang Qureiys menganggap bahwa keberanian Imam Ali r.a. yang semacam itu

sebagai tantangan terhadap mereka.

Orang-orang Qureiys cepat-cepat mengirim delapan orang anggota pasukan berkuda untuk

mengejar Imam Ali r.a. dan rombongan. Pasukan itu ditugaskan menangkapnya hidup-hidup

atau mati. Delapan orang Qureiys itu, di sebuah tempat bernama Dhajnan berhasil mendekati

rombongan Imam Ali r.a.

Setelah Imam Ali r.a. mengetahui datangnya pasukan berkuda Qureiys, ia segera

memerintahkan dua orang lelaki anggota rombongan agar menjauhkan unta dan menambatnya.

Ia sendiri kemudian menghampiri para wanita guna membantu menurunkan mereka dari

punggung unta. Seterusnya ia maju seorang diri menghadapi gerombolan Qureisy dengan

pedang terhunus. Rupanya Imam Ali r.a. hendak berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh

mereka. Ia tahu benar bagaimana cara menundukkan mereka.

Melihat Imam Ali r.a. mendekati mereka, gerombolan Qureiys itu berteriak-teriak menusuk

perasaan: "Hai penipu, apakah kaukira akan dapat menyelamatkan perempuan-perempuan itu?

Ayo, kembali! Engkau sudah tidak berayah lagi."

Imam Ali r.a. dengan tenang menanggapi teriakan-teriakan gerombolan Qureiys itu. Ia

bertanya: "Kalau aku tidak mau berbuat itu...?"

"Mau tidak mau engkau harus kembali," sahut gerombolan Qureiys dengan cepat.

Mereka lalu berusaha mendekati unta dan rombongan wanita. Imam Ali r.a. menghalangi usaha

mereka. Jenah, seorang hamba sahaya milik Harb bin Umayyah, mencoba hendak memukul

Imam Ali r.a. dari atas kuda. Akan tetapi belum sempat ayunan pedangnya sampai, hantaman

pedang Imam Ali r.a. telah mendahului tiba di atas bahunya. Tubuhnya terbelah menjadi dua,

sehingga pedang Imam Ali r.a. sampai menancap pada punggung kuda. Serangan-balas secepat

kilat itu sangat menggetarkan teman-teman Jenah. Sambil menggeretakkan gigi, Imam Ali r.a.

berkata: "Lepaskan orang-orang yang hendak berangkat berjuang! Aku tidak akan kembali dan aku tidak akan menyembah selain Allah Yang Maha Kuasa!"

Gerombolan Qureiys mundur. Mereka meminta kepada Imam Ali r.a. untuk menyarungkan

kembali pedangnya. Imam Ali r.a. dengan tegas menjawab: "Aku hendak berangkat menyusul

saudaraku, putera pamanku, Rasul Allah. Siapa yang ingin kurobek-robek dagingnya dan

kutumpahkan darahnya, cobalah maju mendekati aku!"

Tanpa memberi jawaban lagi gerombolan Qureiys itu segera meninggalkan tempat. Kejadian ini

mencerminkan watak konfrontasi bersenjata yang bakal datang antara kaum muslimin melawan

agresi kafir Qureiys.

Di Dhajnan, rombongan Imam Ali r.a. beristirahat semalam. Ketika itu tiba pula Ummu Aiman

(ibu Aiman). Ia menyusul anaknya yang telah berangkat lebih dahulu bersama Imam Ali r.a.

Bersama Ummu Aiman turut pula sejumlah orang muslimin yang berangkat hijrah. Keesokan

harinya rombongan Imam Ali r.a. beserta rombongan Ummu Aiman melanjutkan perjalanan.

Imam Ali r.a. sudah rindu sekali ingin segera bertemu dengan Rasul Allah s.a.w.

Waktu itu Rasul Allah s.a.w. bersama Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sudah tiba dekat kota

Madinah. Untuk beberapa waktu, beliau tinggal di Quba. Beliau menantikan kedatangan

rombongan Imam Ali r.a. Kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, Rasul Allah s.a.w. memberitahu,

bahwa beliau tidak akan memasuki kota Madinah, sebelum putera pamannya dan puterinya

sendiri datang.

Selama dalam perjalanan itu Imam Ali r.a. tidak berkendaraan sama sekali. Ia berjalan kakitelanjang

menempuh jarak kl 450 km sehingga kakinya pecah-pecah dan membengkak.

Akhirnya tibalah semua anggota rombongan dengan selamat di Quba. Betapa gembiranya Rasul

Allah s.a.w. menyambut kedatangan orang-orang yang disayanginya itu.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. melihat Imam Ali r.a. tidak sanggup berjalan lagi karena kakinya

membengkak, beliau merangkul dan memeluknya seraya menangis karena sangat terharu.

Beliau kemudian meludah di atas telapak tangan, lalu diusapkan pada kaki Imam Ali r.a. Konon

sejak saat itu sampai wafatnya, Imam Ali r.a. tidak pernah mengeluh karena sakit kaki.

Peristiwa yang sangat mengharukan itu berkesan sekali dalam hati Rasul Allah s.a.w. dan tak

terlupakan selama-lamanya. Berhubung dengan peristiwa itu, turunlah wahyu Ilahi yang

memberi penilaian tinggi kepada kaum Muhajirin, seperti terdapat dalam Surah Ali 'Imran:195.

Ijab-Kabul Pernikahan

Sitti Fatimah Azzahra r.a. mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat

risalah yang dibawakan Nabi Muhammad s.a.w. sudah maju dengan pesat di Madinah dan

sekitarnya. Ketika itu Sitti Fatimah Azzahra r.a. benar-benar telah menjadi remaja puteri.

Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Tidak sedikit pria terhormat yang

menggantungkan harapan ingin mempersunting puteri Rasul Allah s.a.w. itu. Beberapa orang

terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran

itu, Nabi Muhammad s.a.w. mengemukakan, bahwa beliau sedang menantikan datangnya

petunjuk dari Allah s.w.t. mengenai puterinya itu.

Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq r.a., Umar Ibnul Khatab r.a. dan Sa'ad bin Mu'adz

bersama-sama Rasul Allah s.a.w. duduk dalam mesjid beliau. Pada kesempatan itu

diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasul Allah s.a.w. Saat itu beliau bertanya kepada

Abu Bakar Ash Shiddiq r.a.: "Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu

kepada Ali bin Abi Thalib?"

Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. Ia beranjak untuk menghubungi Imam Ali r.a. Sewaktu Imam Ali r.a. melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan tergopoh-gopoh

dan terperanjat ia menyambutnya, kemudian bertanya: "Anda datang membawa berita apa?"

Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. segera menjelaskan

persoalannya: "Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya

serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada

dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasul Allah s.a.w. Beberapa orang sahabat

terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri

beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan

puterinya diserahkan kepada Allah s.w.t. Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga sekarang

engkau belum pernah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar

untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu."

Mendengar perkataan Abu Bakar r.a. mata Imam Ali r.a. berlinang-linang. Menanggapi katakata

itu, Imam Ali r.a. berkata: "Hai Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang

semulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku

memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah

karena aku tidak mempunyai apa-apa."

Abu Bakar r.a. terharu mendengar jawaban Imam Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan

dan menguatkan hati Imam Ali r.a., Abu Bakar r.a. berkata: "Hai Ali, janganlah engkau berkata

seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan

belaka!"

Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar r.a. berhasil mendorong keberanian Imam Ali

r.a. untuk melamar puteri Rasul Allah s.a.w.

Beberapa waktu kemudian, Imam Ali r.a. datang menghadap Rasul Allah s.a.w. yang ketika itu

sedang berada di tempat kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu

Salmah bertanya kepada Rasul Allah s.a.w.: "Siapakah yang mengetuk pintu?" Rasul Allah s.a.w.

menjawab: "Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya,

dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya!"

Jawaban Nabi Muhammad s.a.w. itu belum memuaskan Ummu Salmah r.a. Ia bertanya lagi: "Ya,

tetapi siapakah dia itu?"

"Dia saudaraku, orang kesayanganku!" jawab Nabi Muhammad s.a.w.

Tercantum dalam banyak riwayat, bahwa Ummu Salmah di kemudian hari mengisahkan

pengalamannya sendiri mengenai kunjungan Imam Ali r.a. kepada Nabi Muhammad s.a.w. itu:

"Aku berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakiku terantuk-antuk. Setelah pintu kubuka,

ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. Aku lalu kembali ke tempat semula. Ia

masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasul Allah s.a.w. Ia dipersilakan

duduk di depan beliau. Ali bin Abi Thalib menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai

maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya.

Rasul Allah mendahului berkata: "Hai Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan.

Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh

dariku!"

Mendengar kata-kata Rasul Allah s.a.w. yang demikian itu, lahirlah keberanian Ali bin Abi

Thalib untuk berkata: "Maafkanlah, ya Rasul Allah. Anda tentu ingat bahwa anda telah

mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku

masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa.

Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan anda, ya Rasul

Allah, adalah tempat aku bernaung dan anda jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan

akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah

tangga; hidup bersama seorang isteri. Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri

anda, Fatimah. Ya Rasul Allah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku

dengan dia?"

Ummu Salmah melanjutkan kisahnya: "Saat itu kulihat wajah Rasul Allah nampak berseri-seri.

Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, apakah engkau mempunyai

suatu bekal maskawin?'' .

"Demi Allah", jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang, "Anda sendiri mengetahui

bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak

mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta."

"Tentang pedangmu itu," kata Rasul Allah s.a.w. menanggapi jawaban Ali bin Abi Thalib,

"engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Dan untamu itu

engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau

memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya

atas dasar maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai

Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah 'Azza wajalla sebenarnya sudah lebih dahulu

menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!" Demikian versi riwayat

yang diceritakan Ummu Salmah r.a.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh

para sahabat, Rasul Allah s.a.w. mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya:

"Bahwasanya Allah s.w.t. memerintahkan aku supaya menikahkan engkau Fatimah atas dasar

maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal

itu."

"Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik", jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dalam pernikahan itu.

Rumah Tangga Sederhana

Maskawin sebesar 400 dirham itu diserahkan kepada Abu Bakar r.a. untuk diatur

penggunaannya. Dengan persetujuan Rasul Allah s.a.w., Abu Bakar r.a. menyerahkan 66 dirham

kepada Ummu Salmah untuk "biaya pesta" perkawinan. Sisa uang itu dipergunakan untuk

membeli perkakas dan peralatan rumah tangga.

-sehelai baju kasar perempuan;

-sehelai kudung;

-selembar kain Qathifah buatan khaibar berwarna hitam;

-sebuah balai-balai;.

-dua buah kasur, terbuat dari kain kasar Mesir (yang sebuah berisi ijuk kurma dan yang sebuah

bulu kambing);

-empat buah bantal kulit buatan Thaif (berisi daun idzkir);

-kain tabir tipis terbuat dari bulu;

-sebuah tikar buatan Hijr;

-sebuah gilingan tepung;

-sebuah ember tembaga;

-kantong kulit tempat air minum;

-sebuah mangkuk susu;

-sebuah mangkuk air;

-sebuah wadah air untuk sesuci;

-sebuah kendi berwarna hijau;

-sebuah kuali tembikar;

-beberapa lembar kulit kambing;

-sehelai 'aba-ah (semacam jubah);

-dan sebuah kantong kulit tempat menyimpan air.

Sejalan dengan itu Imam Ali r.a. mempersiapkan tempat kediamannya dengan perkakas yang

sederhana dan mudah didapat. Lantai rumahnya ditaburi pasir halus. Dari dinding ke dinding

lain dipancangkan sebatang kayu untuk menggantungkan pakaian. Untuk duduk-duduk

disediakan beberapa lembar kulit kambing dan sebuah bantal kulit berisi ijuk kurma. Itulah

rumah kediaman Imam Ali r.a. yang disiapkan guna menanti kedatangan isterinya, Sitti Fatimah

Azzahra r.a.

Selama satu bulan sesudah pernikahan, Sitti Fatimah r.a. masih tetap di rumahnya yang lama.

Imam Ali r.a. merasa malu untuk menyatakan keinginan kepada Rasul Allah s.a.w. supaya

puterinya itu diperkenankan pindah ke rumah baru. Dengan ditemani oleh salah seorang

kerabatnya dari Bani Hasyim, Imam Ali r.a. menghadap Rasul Allah s.a.w. Lebih dulu mereka

menemui Ummu Aiman, pembantu keluarga Nabi Muhammad s.a.w. Kepada Ummu Aiman,

Imam Ali r.a. menyampaikan keinginannya.

Setelah itu, Ummu Aiman menemui Ummu Salmah r.a. guna menyampaikan apa yang menjadi

keinginan Imam Ali r.a. Sesudah Ummu Salmah r.a. mendengar persoalan tersebut, ia terus

pergi mendatangi isteri-isteri Nabi yang lain.

Guna membicarakan persoalan yang dibawa Ummu Salmah r.a., para isteri Nabi Muhammad

s.a.w. berkumpul. Kemudian mereka bersama-sama menghadap Rasul Allah s.a.w. Ternyata

beliau menyambut gembira keinginan Imam Ali r.a.

Suami-Isteri Yang Serasi

Sitti Fatimah r.a. dengan perasaan bahagia pindah ke rumah suaminya yang sangat sederhana

itu. Selama ini ia telah menerima pelajaran cukup dari ayahandanya tentang apa artinya

kehidupan ini. Rasul Allah s.a.w. telah mendidiknya, bahwa kemanusiaan itu adalah intisari

kehidupan yang paling berharga. Ia juga telah .diajar bahwa kebahagiaan rumah-tangga yang

ditegakkan di atas fondasi akhlaq utama dan nilai-nilai Islam, jauh lebih agung dan lebih mulia

dibanding dengan perkakas-perkakas rumah yang serba megah dan mewah.

Imam Ali r.a. bersama isterinya hidup dengan rasa penuh kebanggaan dan kebahagiaan. Duaduanya

selalu riang dan tak pernah mengalami ketegangan. Sitti Fatimah r.a. menyadari,

bahwa dirinya tidak hanya sebagai puteri kesayangan Rasul Allah s.a.w., tetapi juga isteri

seorang pahlawan Islam, yang senantiasa sanggup berkorban, seorang pemegang panji-panji

perjuangan Islam yang murni dan agung. Sitti Fatimah berpendirian, dirinya harus dapat

menjadi tauladan. Terhadap suami ia berusaha bersikap seperti sikap ibunya (Sitti Khadijah

r.a.) terhadap ayahandanya, Nabi Muhammad s.a.w.

Dua sejoli suami isteri yang mulia dan bahagia itu selalu bekerja sama dan saling bantu dalam

mengurus keperluan-keperluan rumah tangga. Mereka sibuk dengan kerja keras. Sitti Fatimah

r.a. menepung gandum dan memutar gilingan dengan tangan sendiri. Ia membuat roti,

menyapu lantai dan mencuci. Hampir tak ada pekerjaan rumah-tangga yang tidak ditangani

dengan tenaga sendiri.

Rasul Allah s.a.w. sendiri sering menyaksikan puterinya sedang bekerja bercucuran keringat.

Bahkan tidak jarang beliau bersama Imam Ali r.a. ikut menyingsingkan lengan baju membantu

pekerjaan Sitti Fatimah r.a.

Banyak sekali buku-buku sejarah dan riwayat yang melukiskan betapa beratnya kehidupan

rumah-tangga Imam Ali r.a. Sebuah riwayat mengemukakan: Pada suatu hari Rasul Allah s.a.w.

berkunjung ke tempat kediaman Sitti Fatimah r.a. Waktu itu puteri beliau sedang menggiling tepung sambil melinangkan air mata. Baju yang dikenakannya kain kasar. Menyaksikan

puterinya menangis, Rasul Allah s.a.w. ikut melinangkan air mata. Tak lama kemudian beliau

menghibur puterinya: "Fatimah, terimalah kepahitan dunia untuk memperoleh kenikmatan di

akhirat kelak"

Riwayat lain mengatakan, bahwa pada suatu hari Rasul Allah s.a.w. datang menjenguk Sitti

Fatimah r.a., tepat: pada saat ia bersama suaminya sedang bekerja menggiling tepung. Beliau

terus bertanya: "Siapakah di antara kalian berdua yang akan kugantikan?"

"Fatimah! " Jawab Imam Ali r.a. Sitti Fatimah lalu berhenti diganti oleh ayahandanya

menggiling tepung bersama Imam Ali r.a.

Masih banyak catatan sejarah yang melukiskan betapa beratnya penghidupan dan kehidupan

rumah-tangga Imam Ali r.a. Semuanya itu hanya menggambarkan betapa besarnya kesanggupan

Sitti Fatimah r.a. dalam menunaikan tugas hidupnya yang penuh bakti kepada suami, taqwa

kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Ada sebuah riwayat lain yang menuturkan betapa repotnya Sitti Fatimah r.a. sehari-hari

mengurus kehidupan rumah-tangganya. Riwayat itu menyatakan sebagai berikut: Pada satu hari

Rasul Allah s.a.w. bersama sejumlah sahabat berada dalam masjid menunggu kedatangan Bilal

bin Rabbah, yang akan mengumandangkan adzan sebagaimana biasa dilakukan sehari-hari.

Ketika Bilal terlambat datang, oleh Rasul Allah s.a.w. ditegor dan ditanya apa sebabnya. Bilal

menjelaskan:

"Aku baru saja datang dari rumah Fatimah. Ia sedang menggiling tepung. Al Hasan, puteranya

yang masih bayi, diletakkan dalam keadaan menangis keras. Kukatakan kepadanya "Manakah

yang lebih baik, aku menolong anakmu itu, ataukah aku saja yang menggiling tepung". Ia

menyahut: "Aku kasihan kepada anakku". Gilingan itu segera kuambil lalu aku menggiling

gandum. Itulah yang membuatku datang terlambat!"

Mendengar keterangan Bilal itu Rasul Allah s.a.w. berkata: "Engkau mengasihani dia dan Allah

mengasihani dirimu!"

Hal-hal tersebut di atas adalah sekelumit gambaran tentang kehidupan suatu keluarga suci di

tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan keluarga yang penuh dengan semangat gotongroyong.

Selain itu kita juga memperoleh gambaran betapa sederhananya kehidupan pemimpinpemimpin

Islam pada masa itu. Itu merupakan contoh kehidupan masyarakat yang dibangun

oleh Islam dengan prinsip ajaran keluhuran akhlaq. Itupun merupakan pencerminan kaidahkaidah

agama Islam, yang diletakkan untuk mengatur kehidupan rumah-tangga.

Rasul Allah s.a.w., Imam Ali r.a. dan Sitti Fatimah r.a., ketiganya merupakan tauladan bagi

kehidupan seorang ayah, seorang suami dan seorang isteri di dalam Islam. Hubungan antar

anggota keluarga memang seharusnya demikian erat dan serasi seperti mereka.

Tak ada tauladan hidup sederhana yang lebih indah dari tauladan yang diberikan oleh keluarga

Nubuwwah itu. Padahal jika mereka mau, lebih-lebih jika Rasul Allah s.a.w. sendiri

mengehendaki, kekayaan dan kemewahan apakah yang tidak akan dapat diperoleh beliau?

Tetapi sebagai seorang pemimpin yang harus menjadi tauladan, sebagai seorang yang

menyerukan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan serta persamaan, sebagai orang yang hidup

menolak kemewahan duniawi, beliau hanya mengehendaki supaya ajaran-ajarannya benarbenar

terpadu dengan akhlaq dan cara hidup ummatnya. Beliau mengehendaki agar tiap orang,

tiap pendidik, tiap penguasa dan tiap pemimpin bekerja untuk perbaikan masyarakat. Masingmasing

supaya mengajar, memimpin dan mendidik diri sendiri dengan akhlaq dan perilaku

utama, sebelum mengajak orang lain. Sebab akhlaq dan perilaku yang dapat dilihat dengan nyata, mempunyai pengaruh lebih besar, lebih berkesan dan lebih membekas dari pada sekedar

ucapan-ucapan dan peringatan-peringatan belaka. Dengan praktek yang nyata, ajakan yang

baik akan lebih terjamin keberhasilannya.

Sebuah riwayat lagi yang berasal dari Imam Ali r.a. sendiri mengatakan: Sitti Fatimah pernah

mengeluh karena tapak-tangannya menebal akibat terus-menerus memutar gilingan tepung. Ia

keluar hendak bertemu Rasul Allah s.a.w. Karena tidak berhasil, ia menemui Aisyah r.a.

Kepadanya diceritakan maksud kedatangannya. Ketika Rasul Allah s.a.w. datang, beliau

diberitahu oleh Aisyah r.a. tentang maksud kedatangan Fatimah yang hendak minta diusahakan

seorang pembantu rumah-tangga. Rasul Allah s.a.w. kemudian datang ke rumah kami. Waktu

itu kami sedang siap-siap hendak tidur. Kepada kami beliau berkata: "Kuberitahukan kalian

tentang sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta kepadaku. Sambil berbaring

ucapkanlah tasbih 33 kali, tahmid 33 kali dan takbir 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian daripada

seorang pembantu yang akan melayani kalian."

Sambutan Nabi Muhammad s.a.w. atas permintaan puterinya agar diberi pembantu, merupakan

sebuah pelajaran penting tentang rendah-hatinya seorang pemimpin di dalam masyarakat

Islam. Kepemimpinan seperti itulah yang diajarkan Rasul Allah s.a.w. dan dipraktekan dalam

kehidupan konkrit oleh keluarga Imam Ali r.a. Mereka hidup setaraf dengan lapisan rakyat yang

miskin dan menderita. Pemimpin-pemimpin seperti itulah dan yang hanya seperti itulah, yang

akan sanggup menjadi pelopor dalam melaksanakan prinsip persamaan, kesederhanaan dan

kebersihan pribadi dalam kehidupan ini.

Putera-puteri

Sitti Fatimah r.a. melahirkan dua orang putera dan dua orang puteri. Putera-puteranya

bernama Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Sedang puteri-puterinya bernama Zainab r.a. dan

Ummu Kalsum r.a. Rasul Allah s.a.w. dengan gembira sekali menyambut kelahiran cucucucunya.

Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hati beliau. Dua

orang cucunya itu beliau asuh sendiri. Kaum muslimin pada zaman hidupnya Nabi Muhammad

s.a.w. menyaksikan sendiri betapa besarnya kecintaan beliau kepada Al Hasan r.a. dan Al

Husein r.a. Beliau menganjurkan supaya orang mencintai dua "putera" beliau itu dan berpegang

teguh pada pesan itu.

Al Hasan r.a. dan Al Husein r.a. meninggalkan jejak yang jauh jangkauannya bagi umat Islam.

Al Husein r.a. gugur sebagai pahlawan syahid menghadapi penindasan dinasti Bani Umayyah.

Semangatnya terus berkesinambungan, melestarikan dan membangkitkan perjuangan yang

tegas dan seru di kalangan ummat Islam menghadapi kedzaliman. Semangat Al Husein r.a.

merupakan kekuatan penggerak yang luar biasa dahsyatnya sepanjang sejarah.

Puteri beliau yang bernama Zainab r.a. merupakan pahlawan wanita muslim yang sangat

cemerlang dan menonjol sekali peranannya, dalam pertempuran di Karbala membela Al Husein

r.a. Di Karbala itulah dinasti Bani Umayyah menciptakan tragedi yang menimpa A1 Husein r.a.

beserta segenap anggota keluarganya. A1 Husein r.a. gugur dan kepalanya diarak sebagai

pameran keliling Kufah sampai ke Syam.

Setelah hidup bersuami isteri selama kurang lebih 10 tahun Sitti Fatimah r.a. meninggal dunia

dalam usia 28 tahun. Sepeninggal Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a. beristerikan beberapa orang

wanita lainnya lagi. Menurut catatan sejarah, hingga wafatnya Imam Ali r.a. menikah sampai 9

kali. Tentu saja menurut ketentuan-ketentuan yang tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Dalam satu periode, tidak pernah lebih 4 orang isteri.

Wanita pertama yang dinikahi Imam Ali r.a. sepeninggal Siti Fatimah r.a. ialah Umamah binti

Abil 'Ashiy. Ia anak perempuan iparnya sendiri, Zainab binti Muhammad s.a.w., kakak

perempuan Sitti Fatimah r.a. Pernikahan dengan Umamah r.a. ini mempunyai sejarah tersendiri, yaitu untuk melaksanakan pesan Sitti Fatimah r.a. kepada suaminya sebelum ia

wafat. Nampaknya pesan itu didasarkan kasih-sayang yang besar dari Umamah ra. kepada

putera-puterinya.

Setelah nikah dengan Umamah r.a., Imam Ali r.a. nikah lagi dengan Khaulah binti Ja'far bin

Qeis. Berturut-turut kemudian Laila binti Mas'ud bin Khalid, Ummul Banin binti Hazzan bin

Khalid dan Ummu Walad. Isteri Imam Ali r.a. yang keenam patut disebut secara khusus, karena

ia tidak lain adalah Asma binti Umais, sahabat terdekat Sitti Fatimah r.a. Asma inilah yang

mendampingi Sitti Fatimah r.a. dengan setia dan melayaninya dengan penuh kasih-sayang

hingga detik-detik terakhir hayatnya.

Isteri-isteri Imam Ali r.a. yang ke-7, ke-8 dan ke-9 ialah As-Shuhba, Ummu Sa'id binti 'Urwah bin

Mas'ud dan Muhayah binti Imruil Qeis. Dari 9 isteri, di luar Sitti Fatimah r.a., Imam Ali r.a.

mempunyai banyak anak. Jumlahnya yang pasti masih menjadi perselisihan pendapat di

kalangan para penulis sejarah.

Al Mas'udiy dalam bukunya "Murujudz Dzahab" menyebut putera-puteri Imam Ali r.a. semuanya

berjumlah 25 orang. Sedangkan dalam buku "Almufid Fil Irsyad" dikatakan 27 orang anak. Ibnu

Sa'ad dalam bukunya yang terkenal, "Thabaqat", menyebutnya 31 orang anak, dengan

perincian: 14 orang anak lelaki dan 17 orang anak perempuan. Ini termasuk putera-puteri Imam

Ali r.a. dari isterinya yang pertama.


DAFTAR ISI:

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a 1

Oleh 1

H.M.H. Al Hamid Al Husaini 1

M U Q A D D I M A H 2

Bab I : Masa Asuhan 10

Putera Ka'bah 10

Nama dan Gelarnya 13

Di bawah Naungan Wahyu 14

Masa Kanak-kanak 17

Masa Remaja 19

Bab II : Lingkungan Keluarga 23

Ibunda 24

Ayahanda 25

Datukanda 35

Bab III : Rumah Tangga Serasi 41

Puteri Kesayangan 42

Hijrah ke Madinah 44

Ijab-Kabul Pernikahan 49

Rumah Tangga Sederhana 53

Suami-Isteri Yang Serasi 55

Putera-puteri 60

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib as

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib as

Buku ini sudah diperiksa oleh

pengarang: H.M.H. ALHAMID ALHUSAINI
: Tanpa Nama
: Abu Dzar Halawaji
Kategori: Imam Ali as
Halaman: 6